Anda di halaman 1dari 30

GANGGUAN BIPOLAR

I.

PENDAHULUAN
Gangguan bipolar merupakan suatu gangguan yang ditandai dengan perubahan
mood antara rasa girang yang ekstrem dan depresi yang parah. Pera penderita
gangguan bipolar tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosia
sehingga

menyebabkan

kualitas

hidup

mereka

rusak.

Mereka

sulit

mempertahankan suatu hubungan, memiliki kinerja kerja yang buruk, dan sulit
menjalankan fungsi sosial dengan baik.
Walapun tidak bisa kembali normal, seorang penderita bipolar mampu
mengusahakan agar dapat pulih. Coleman (2006) mengatakan pulih berarti
kemampuan seseorang untuk mempertahankan kondisi stabil agar tidak terlalu
tinggi ketiak manik atau terlalu rendah ketika memasuki episode depresi.

Kelainan fundamental pada kelompok gangguan ini ialah perubahan suasana


perasaan (mood) atau afek, biasanya ke arah depresi dengan atau tanpa anxietas
yang menyertainya, atau kea rah elasi (suasana perasaan yang meningkat).
Perubahan suasana perasaan ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada
keseluruhan tingkat aktivitas, dan kebanyakan gejala lainnyaadalah sekunder
terhadap perubahan itu atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan
tersebut. Sebagian besar dari gangguan ini cenderung berulang, dan timbulnya
episode tersendiri sering berkaitan dengan peristiwa atau situasi yang
menegangkan.
Hubungan antara etiologi, gejala, proses biokimia yang mendasarinya, respon
terhadap terapi dan akibat dari gangguan suasana perasaan (mood [afektif]) belum
cukup dipahami dengan baik untuk memungkinkan klasifikasinya disepakati
secara universal.
Kriteria utama untuk klasifikasi gangguan afektif dipilih berdasarkan alas an
praktis, yaitu untuk memungkinkan gangguan klinis yang lazim ditemukan mudah
diidentifikasi. Episode tunggal dibedakan dari gangguan bipolar dan gangguan
yang multipel lainnya oleh karena sebagian besar dari pasien hanya mengalami
satu episode penyakit dan keparahan ditonjolkan oleh karena implikasinya bagi

terapi dan penyediaan pelayanan yang berbeda tingkatannya. Pembedaan antara


kelas keparahan yang berbeda masih merupakan maslaah; ketiga kelas yaitu
ringan, sedang, dan berat ditentukan di sini oleh karena banyak klinisi
menginginkannya.
Istilah mania dan depresi berat digunakan dalam klasifikasi ini untuk
menunjukkan kedua ujung yang berlawanan dalam spectrum afektif; hipomania
digunakan untuk menunjukkan suatu keadaan pertengahan tanpa waham,
halusinasi atau kekacauan menyeluruh dari aktivitas normal, yang sering
(meskipun tidak semata-mata) dijumpai pada pasien yang berkembang ke arah
mania atau dalam penyembuhan dari mania.
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV), dua
gangguan mood utama adalah gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I.
kedua gangguan ini sseringkali dinamakan ganggaun afektif tetapi patologi utama
dalam gangguan ini adalah mood, yaitu keadaan emosional internal yang meresap
dari seseorang, dan bukan afek yaitu ekspresif eksternal dari ini emosional saat
itu. Pasien yang menderita hanya episode depresif dikatakan

mengalami

gangguan depresif berat. Pasien dengan episode manik dan depresif dan pasien
dengan manik saja dikatakan menderita gangguan bipolar I. gangguan bipolar II
ditandai oleh adanya episode depresfi berat yang berganti-ganti dengan episode
hipomania, yaitu episode gejala manik yang tidak memenuhi kriteria lengkap
untuk episode manik yang ditemukan pada gangguan bipolar I.
Suasana perasaan/mood mungkin normal, meninggi, atau terdepresi. Orang
normal mengalami berbagai macam mood dan memiliki ekspresi afektif yang
sama luasnya; mereka adalah suatu kelompok kondisi klinis yang ditandai oleh
hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat.
Pasien dengan mood meninggi (elevated) (yaitu mania), menunjukkan sikap
meluap-luap, gagasan yang meloncat-loncat (flight of ideas), penurunan
kebutuhan tidur, peninggian harga diri,dan gagasan kebesaran. Pasien dengan
mood terdepresi (yaitu depresi), merasakan hilangnya energy dan minat, perasaan
bersalah, kesulitan berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, dan pikiran tentang
kematian atau bunuh diri. Tanda dan gejala lain adalah perubahan tingkat
aktivitas, kemampuan kognitif, pembicaraan, dan fungsi vegetatif (seperti tidur,

nafsu makan, aktivitas seksual, dan irama biologis lainnya). Perubahan ini hampir
selalu menyebabkan gangguan fungsi interpersonal, sosial, dan pekerjaan.
II.

EPIDEMIOLOGI
Gangguan mood merupakan gangguan mental yang paling umum dalam
populasi dewasa dengan beberapa bukti yang mengarah pada peningkatan
prevalensinya. Diproyeksikan bahwa pada tahun 2020, depresi mayor merupakan
gangguan yang paling banyak, juga dari segi beban pada kesejahteraan manusia
yang paling besar. Sementara itu, bukti yang muncul menunjukkan bahwa
gangguan bipolar mulai lebih sering terdapat daripada yang diduga sebelumnya,
dalam lingkup gangguan spectrum bipolar. Laporan gangguan mood yang tersedi
dari studi klinis tidak dapat mencerminkan data yang ada di populasi, karena bias
seleksi, yaitu individu yang datang mencari pengobatan.
Penelitian epidemiologi untuk gangguan bipolar masih terbatas. Prevalensi
sepanjang hidup dilaporkan antara 0,5-1,6% dari berbagai penelitian. Sedangkan
prevalensi spektrum gangguan bipolar diperkirakan 3-6% pada berbagai negara
dan kultur. Onset gangguan antara 18-44 tahun dan pada umumnya risiko
menurun setelah umur 50 tahun. Nampaknya tidak terdapat perbedaan prevalensi
menurut jenis kelamin pada berbagai studi di berbagai negara dan berbagai kultur.
Korelasi dengan status ekonomi, ras, etnis, status marital dan tempat tinggal ruralurban mendapatkan hasil yang bervariasi dan belum dapat disimpulkan.
Komorbiditas pada gangguan bipolar menunjukkan hubungan yang sangat tinggi
dengan berbagai gangguan psikiatrik lain, bahkan gangguan bipolar murni tanpa
komorbiditas sangat jarang. Ada bukti yang kuat bahwa gangguan mood adalah
familial, walaupun tidak ada data hingga kini menunjukkan gen tertentu yang
bertanggung jawab untuk gangguan mood atau depresi mayor.
Individu dengan gangguan mood mempunyai risiko lebih tinggi untuk
bunuh diri. Banyak studi menunjukkan bahwa 90% dari korban bunuh diri
mempunyai gangguan psikiatrik saat melakukan bunuh diri. Kira-kira 60% dari
semua bunuh diri yang terjadi berkait dengan gangguan mood, baik itu percobaan

(attempt) maupun berhasil (completion). Walaupun demikian banyak pula


individu dengan gangguan mood tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri.

III.

ETIOLOGI
Menurut teori stress-vulnerability model, ada beberapa resiko atau factor
penyebab gangguan jiwa bipolar, yaitu:
1. Genetika dan riwayat keluarga. Penderita bipolar lebih sering dijumpai pada
penderita yang mempunyai saudara atau orang tua dengan gangguan bipolar.
Riwayat pada keluarga dengan penyakit bipolar bukan berarti anak atau saudara
akan pasti menderita gangguan bipolar. Penelitian menunjukkan bahwa pada
orang orang dengan riwayat keluarga penderita bipolar maka kemungkinannya
terkena bipolar akan sedikit lebih besar dibandingkan masyarakat pada umumnya.
Artinya ada factor predisposisi terhadap gangguan bipolar. Hanya saja, tanpa
adanya factor pemicu, maka yang bersangkutan tidak akan terkena gangguan
bipolar. Faktor

predisposisi gangguan bipolar bisa terjadi juga karena anak

meniru cara bereaksi yang salah dari orang tuanya yang menderita gangguan
bipolar.
2. Kerentanan psikologis (psychological vulnerability). Kepribadian dan cara
seseorang menghadapi masalah hidup kemungkinan juga berperanan dalam
mendorong munculnya gangguan bipolar..
3. Lingkungan yang menekan (stressful) dan kejadian dalam hidup (live events).
Riwayat pelecehan, pengalaman hidup yang menekan.
4. Gangguan neurotransmitter di otak.
5. Gangguan keseimbangan hormonal.
6. Factor biologis. Ada beberapa perubahan kimia di otak yang diduga terkait
dengan gangguan bipolar. Hal ini menunjukkan adanya factor biologis dalam
masalah gangguan bipolar.

IV.

KLASIFIKASI

V.

GAMBARAN KLINIS

VI.

DIAGNOSIS
Kriteria diagnosa gangguan bipolar
American Psychiatric Association telah mengeluarkan kriteria untuk menegakkan
diagnose depresi yang tertuang dalam Diagnostic and Statistical manual of
Mental Disorders (DSM).
Gangguan bipolar tipe I. Setidaknya mempunyai satu fase (episode) mania atau
satu episode campuran. Penderita bipolar mungkin mengalami depresi berat
(major depression) namun mungkin juga tidak karena gejala gangguan bipolar
bervariasi antara satu orang dengan lainnya. Ada beberapa sub-kategori
tergantung tanda dan gejalanya.
Gangguan bipolar tipe II. Setidaknya mempunyai satu fase (episode) depresi
dan satu episode hipomania (namun tidak mania penuh atau campuran/ mixed
episode). Ada beberapa sub-kategori tergantung tanda dan gejalanya. Gangguan
jiwa bipolar tipe II mempunyai gejala yang mengganggu atau membuat
sipenderita mengalami kesulitan dalam beberapa area kehidupannya, seperti
dalam hal kerja dan hubungan social.
Gangguan cyclothymic. Penderita mengalami beberapa episode hipomania dan
episode depresi, namun tidak pernah mengalami episode mania (full manic) atau
depresi berat (major depression) atau episode campuran. Diagnosa cyclothymic
disorder ditegakkan bila penyakit berlangsung selama 2 tahun atau lebih (setahun
pada anak anak dan remaja). Selama masa itu, gejala tidak pernah hilang
setidaknya selama 2 bulan. Gejala menimbulkan kesulitan atau gangguan dalam
kehidupan yang bersangkutan, misalnya dalam masalah sekolah atau hubungan
social.

VII.

DIAGNOSA BANDING

VIII. PENATALAKSANAAN

IX.

PROGNOSIS

X.

KESIMPULAN

PPDGJ III
F31 GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR
Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode)
dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu
terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau
hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan
energi dan aktivitas (depresi).

Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode.
Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu
sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata
sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut.
Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh
stress atau trauma mental lain (adanya stress tidak esensial untuk penegakan
diagnosis).
Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif
Tidak termasuk: gangguan bipolar, episode manik tunggal
F31.0 gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania (F30.0);
dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya episode afektif lain (hipomanik, manik,
depresif, atau campuran) di masa lampau.
F31.1 gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala
psikotik (F30.1); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif, atau campuran) di masa lampau
F31.2 gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan
gejala psikotik (F30.2); dan

(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,


manik, depresif, atau campuran) di masa lampau
F31.3 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
ringan (F32.0) ataupun sedang (F32.1); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau
F31.4 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat tanpa gejala psikotik (F32.2); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau
F31.5 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat dengan gejala psikotik (F32.3); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau
F31.6 gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanik, dan
depresif

yang

tercampur

atau

bergantian

dengan

cepat

(gejala

mania/hipomania dan depresi sama-sama mencolok selama masa terbesar

dari episode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung sekurangkurangnya 2 minggu); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau
F31.7 gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi

Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa


bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu
episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau dan
ditambah sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik,
depresif, atau campuran).

F31.8 gangguan afektif bipolar lainnya


F31.9 gangguan afektif bipolar ytt

MARAMIS
Epidemiologi
Gangguan mood merupakan gangguan mental yang paling umum dalam populasi
dewasa dengan beberapa bukti yang mengarah pada peningkatan prevalensinya.
Diproyeksikan bahwa pada tahun 2020, depresi mayor merupakan gangguan yang
paling banyak, juga dari segi beban pada kesejahteraan manusia yang paling
besar. Sementara itu, bukti yang muncul menunjukkan bahwa gangguan bipolar
mulai lebih sering terdapat daripada yang diduga sebelumnya, dalam lingkup
gangguan spectrum bipolar. Laporan gangguan mood yang tersedi dari studi klinis
tidak dapat mencerminkan data yang ada di populasi, karena bias seleksi, yaitu
individu yang datang mencari pengobatan.
Penelitian epidemiologi untuk gangguan bipolar masih terbatas. Prevalensi
sepanjang hidup dilaporkan antara 0,5-1,6% dari berbagai penelitian. Sedangkan

prevalensi spektrum gangguan bipolar diperkirakan 3-6% pada berbagai negara


dan kultur. Onset gangguan antara 18-44 tahun dan pada umumnya risiko
menurun setelah umur 50 tahun. Nampaknya tidak terdapat perbedaan prevalensi
menurut jenis kelamin pada berbagai studi di berbagai negara dan berbagai kultur.
Korelasi dengan status ekonomi, ras, etnis, status marital dan tempat tinggal ruralurban mendapatkan hasil yang bervariasi dan belum dapat disimpulkan.
Komorbiditas pada gangguan bipolar menunjukkan hubungan yang sangat tinggi
dengan berbagai gangguan psikiatrik lain, bahkan gangguan bipolar murni tanpa
komorbiditas sangat jarang. Ada bukti yang kuat bahwa gangguan mood adalah
familial, walaupun tidak ada data hingga kini menunjukkan gen tertentu yang
bertanggung jawab untuk gangguan mood atau depresi mayor.
Individu dengan gangguan mood mempunyai risiko lebih tinggi untuk bunuh diri.
Banyak studi menunjukkan bahwa 90% dari korban bunuh diri mempunyai
gangguan psikiatrik saat melakukan bunuh diri. Kira-kira 60% dari semua bunuh
diri yang terjadi berkait dengan gangguan mood, baik itu percobaan (attempt)
maupun berhasil (completion). Walaupun demikian banyak pula individu dengan
gangguan mood tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Gangguan bipolar
Perdebatan tentang subtype berpusat pada unipolar (hanya episode mania atau
hanya episode depresi) dan bipolar (dimana pada seorang didapatkan kedua
episode mania dan depresi); spektrum bipolar dan bipolar II, dimana Kraepelin
percaya bahwa mania dapat terjadi sepanjang kontinuitas dari keparahan; keadaan
nerotik atau psikotik, depresi psikotik digunakan untuk keadaan episode depresi
dengan gejala psikotik dan episode depresi berat baik dengan atau tanpa gejala
psikotik; dan endogen atau reaktif, depresi endogen (melankolia) disebabkan
karena faktor biologi internal individu dan reaktif yang disebabkan karena faktor
lingkungan eksternal. Depresi endogen diasumsikan mempunyai abnormalitas

biologi yang lebih besar, respons pada terapi somatik lebih baik, lebih banyak
faktor familial dan kurang angka kejadian stres kehidupannya, lebih kurang
gangguan kepribadian dan lebih episodik perjalanan penyakitnya.
Gangguan bipolar I bercirikan episode manik dan depresi mayor sedangkan
gangguan bipolar II bercirikan keadaan hipomanik dan episode depresi mayor.
Membedakan hipomania dengan keadaan mood normal pada DSM-IV-TR
dibatasi waktu 4 hari tanpa perubahan fungsi individu. Tidak jelas apakah bipolar
II adalah varian dari bipolar I, varian dari gangguan depresi mayor, perjalanan
penyakit dari kontinuitas antara gangguan bipolar I dan gangguan bipolar mayor
atau gangguan ketiga yang berbeda. Walaupun kurang literatur yang menulis,
namun nampaknya gangguan siklotimik secara familial berhubungan dengan
gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I mensyaratkan adanya periode yang
jelas dari perasaan yang abnormal minimal 1 minggu, gejala mania yang jelas dan
lengkap sekeras gejala depresi pada periode lainnya. Gangguan bipolar II dimana
terdapat syndrome depresi yang nyata tetapi hanya ada episode hipomanik.
Kontroversi tentang keadaan unipolar dan bipolar belum berakhir, Hagop Akiskal
et al. (2003) mendukung adanya spektrum luas dari bipolar. Spektrum ini mulai
dari bipolar I, bipolar II hingga cyclothymia dan bercampur dengan hipertimik
pada populasi normal. Temperamen hipertimik dicirikan dengan jovialitas,
sosiabilitas, optimisme, percaya diri dan suka berpetualang. Ada bukti-bukti yang
menguat bahwa paling tidak ada subgroup yang juga penting dari pasien dengan
gangguan kepribadian perbatasan (borderline personality disorder) yang
seharusnya masuk juga dalam spektrum dari gangguan bipolar ringan (soft
bipolar disorders).

KAPLAN
Diagnosis
Gangguan bipolar I

DSM-IV-TR berisi daftar kriteria terpisah episode manik. Kriteria DSM-IV-TR


membutuhkan adanya suatu periode mood abnormal yang khas dan bertahan
sedikitnya selama 1 minggu dan mencakup diagnosis gangguan bipolar I yang
terpisah untuk satu episode manik dan jenis episode berulang khusus, berdasarkan
gejala episode terkini.
Sebutan gangguan bipolar I sinonim dengan yang dikenal sebagai gangguan
bipolaryaitu suatu sindrom dengan seluruh gejala mania terjadi selama
perjalanan gangguan ini. DSM-IV-TR merumuskan kriteria diagnostik gangguan
bipolar II; gangguan ini ditandai dengan episode depresif dan episode hipomanik
selama perjalanan gangguan, tetapi episode gejala lir-manik tidak benar-benar
memenuhi kriteria seluruh sindrom manik.
DSM-IV-TR secara spesifik menyatakan bahwa episode manik yang dengan jelas
dicetuskan terapi antidepresan (contohnya, famakoterapi, terapi elektrokonvulsiff
[ECT] tidak menunjukkan adanya gangguan bipolar I.
Gangguan bipolar I, episode manik tunggal
Menurut DSM-IV-TR, pasien harus mengalami episode manik yang pertama
untuk memenuhi kriteria diagnostik gangguan bipolar I, episode manik tunggal.
Persyaratan ini berdasarkan fakta bahwa pasien yang mengalami episode pertama
gangguan bipolar I depresi tidak dapat dibedakan dengan pasien dengan gangguan
depresif berat.
Gangguan bipolar I, berulang
Persoalan mengenai penentuan akhir suatu episode depresi juga diterapkan untuk
menentukan akhir suatu episode mania. Dalam DSM-IV-TR, episode dianggap
terpisah jika dipisahkan selama setidaknya 2 bulan tanpa gejala mania atau
hipomania yang bermakna. DSM-IV-TR menentukan kriteria diagnostik
gangguan bipolar I berulang berdasarkan gejala episode terkini: gangguan bipolar
I, episode kini manik; gangguan bipolar I, episode terkini hipomanik; gangguan
bipolar I, episode terkini depresi; gangguan bipolar I, episode terkini campuran;
gangguan bipolar I, episode terkini tidak tergolongkan,

Gangguan bipolar II
Kriteria diagnostik gangguan bipolar II menentukan keparahan, frekuensi, serta
lama gejala hipomanik tertentu. Kriteria diagnostik episode hipomanik disusun
terpisah dengan kriteria gangguan bipolar. Kriteria ditetapkan untuk menurunkan
diagnosis berlebihan episode hipomanik serta penggolongan yang tidak benar
untuk pasien dengan gangguan depresif berat sebagai gangguan bipolar II. Secara
klinis, psikiater mungkin merasa sulit membedakan eutimia dengan hipomania
pada pasien depresi kronis selama beberapa bulan atau tahun. Seperti pada
gangguan bipolar I, episode hipomanik yang dicetuskan antidepresan tidak
bersifat diagnostik untuk gangguan bipolar II.
Gambaran klinis
Dua pola gejala dasar di dalam gangguan mood adalah gejala yang terdapat pada
depresi dan mania. Episode depresif dapat terjadi pada gangguan depresif berat
dan gangguan bipolar I. Pada banyak studi, para peneliti berupaya mencari
perbedaan yang dapat diandalkan antara gangguan bipolar I episode depresif dan
episode gangguan depresif berat, tetapi perbedaan tersebut sukar ditentukan. Pada
suatu situasi klinis, hanya riwayat pasien, riwayat keluarga, dan perjalanan
gangguan masa mendatang yang dapat membantu membedakan kedua keadaan
tersebut. Sejumlah pasien dengan gangguan bipolar I memiliki keadaan campuran
dengan ciri manik dan depresif, serta beberapa dari mereka tampaknya mengalami
episode singkatbeberapa menit sampai beberapa jamepisode depresi selama
episode manik.

Gangguan bipolar I
Perjalanan gangguan.
Riwayat alami gangguan bipolar I sedemikian rupa sehingga sering berguna untuk
menggambarkan gangguan pasien dan membuatnya tetap up to date seiring
berkembangnya

terapi.

Walaupun

gangguan

siklotimik

kadang-kadang

didiagnosis belakangan pada pasien dengan gangguan bipolar I, tidak ada cirri
kepribadian yang teridentifikasi yang dikaitkan dengan gangguan bipolar I.
Gangguan bipolar I sering dimulai dengan depresi (75% pada perempuan, 67%
pada laki-laki) dan merupakan gangguan berulang. Sebagian besar pasien
mengalami episode depresif dan manik, walaupun 10-20% hanya megalami
episode manik. Episode manik khususnya memiliki awitan cepat (jam atau hari)
tetapi dapat berkembang selama beberapa minggu. Episode manik yang tidak
diobati dapat bertahan selama 3 bulan; sehingga klinisi sebaiknya tidak
menghentikan obat sebelum waktu tersebut. Sembilan puluh persen orang yang
memiliki satu episode manik cenderung mengalaminya lagi. Ketika gangguan
berkeembang, waktu antarepisode sering berkurang. Meskipun demikian, setelah
sekitar lima episode interval antarepisode sering menjadi stabil antara 6 sampai 9
bulan. Lima hingga 15 persen orang dengan gangguan bipolar memiliki empat
episode atau lebih tiap tahun dan dapat diklasifikasikan sebagai siklus cepat.
Gangguan bipolar I pada anak dan orang tua
Gangguan bipolar I dapat terjadi baik pada orang tua atau orang yang sangat
muda. Insiden gangguan bipolar I pada anak dan remaja sekitar 1 persen dan
awitan bisa terjadi sedini 8 tahun. Diagnosis yang salah yang biasa ditegakkan
adalah skizifrenia dan gangguan defian oposisional.
Gangguan bipolar I dengan awitan yang sedemikian dini berkaitan dengan
prognosis buruk. Gejala manik lazim terdapat padaorang lanjut usia walaupun
kisaran penyebabnya luas dan mencakup keadaan medis nonpsikiatri, demensia,
delirium, serta gangguan bipolar I. Data yang tersedia saat ini menunjukkan
bahwa awitan gangguan bipolar I yang sesungguhnya pada orang lanjut usia
relative tidak lazim.
Prognosis
Pasien dengan gangguan bipolar I memiliki prognosis yang lebih buruk
dibandingkan pasien dengan gangguan depresif berat. Sekitar 40 sampai 50 persen
pasien gangguan bipolar I dapat mengalami episode manik kedua dalam 2 tahun

sejak episode pertama. Walaupun profilaksis litium (Eskalith) memperbaiki


perjalanan gangguan serta prognosis gangguan bipolar I, kemungkinan hanya 5060% pasien memperoleh kendali bermakna gejalanya terhadap litium. Satu studi
pemantauan lanjutan 4 tahun pada pasien dengan gangguan bipolar I menemukan
bahwa status pekerjaan pramorbid yang buruk, ketergantungan alkohol, ciri
psikotik, ciri depresif, ciri depresif antarepisode, serta jenis kelamin laki-laki
merupakan faktor yang membuat prognosis buruk. Lama episode manik yang
singkat, awitan pada usia lanjut, sedikit pikiran bunuh diri, serta sedikit masalah
medis atau psikiatri yang juga timbul bersamaan merupakan faktor yang membuat
prognosis baik.
Sekitar 7 persen pasien dengan gangguan bipolar I tidak kambuh; 45 persen
memiliki lebih dari satu episode dan 40 persen memiliki gangguan kronik. Pasien
dapat memiliki 2 samapi 30 episode manik walaupun rata-rata jumlahnya sekitar
sembilan.sekitar 40 persen pasien memiliki lebih dari sepuluh episode. Pada
pemantauan lanjutan jangka panjang, 15 persen pasien dengan gangguan bipolar I
membaik, 45 persen membaik tetapi mengalami kekambuhan beberapa kali, 30
persen dalam remisi sebagian, dan 10 persen sakit kronis. Sepertiga pasien dengan
gangguan bipolar I memiliki gejala kronik dan bukti adanya penurunan sosial
yang bermakna.
Gangguan bipolar II
Perjalanan gangguan dan prognosis gangguan bipolar II baru akan mulai
dipelajari.

Meskipun

demikian,

data

pendahuluan

menunjukkan

bahwa

diagnosisnya stabil, seperti yang ditunjukkan oleh kemungkinan tinggi bahwa


pasien dengan gangguan bipolar II akan memiliki diagnosis yang sama sampai
lima tahun kemudian. Dengan demikian, data menunjukkan bahwa gangguan
bipolar II adalah penyakit kronik yang memerlukan strategi terapi jangka panjang.

PPDGJ III
F31 GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR
Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode)
dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu
terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau
hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan
energi dan aktivitas (depresi).
Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode.
Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu
sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata
sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut.
Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh
stress atau trauma mental lain (adanya stress tidak esensial untuk penegakan
diagnosis).
Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif
Tidak termasuk: gangguan bipolar, episode manik tunggal
F31.0 gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(c) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania (F30.0);
dan
(d) Harus ada sekurang-kurangnya episode afektif lain (hipomanik, manik,
depresif, atau campuran) di masa lampau.
F31.1 gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik

Untuk menegakkan diagnosis pasti:


(c) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala
psikotik (F30.1); dan
(d) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif, atau campuran) di masa lampau
F31.2 gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(c) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan
gejala psikotik (F30.2); dan
(d) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif, atau campuran) di masa lampau
F31.3 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(c) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
ringan (F32.0) ataupun sedang (F32.1); dan
(d) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau
F31.4 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(c) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat tanpa gejala psikotik (F32.2); dan
(d) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau
F31.5 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotik
Untuk menegakkan diagnosis pasti:

(c) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat dengan gejala psikotik (F32.3); dan
(d) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau
F31.6 gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(c) Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanik, dan
depresif

yang

tercampur

atau

bergantian

dengan

cepat

(gejala

mania/hipomania dan depresi sama-sama mencolok selama masa terbesar


dari episode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung sekurangkurangnya 2 minggu); dan
(d) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau
F31.7 gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi

Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa


bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu
episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau dan
ditambah sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik,
depresif, atau campuran).

F31.8 gangguan afektif bipolar lainnya


F31.9 gangguan afektif bipolar ytt

MARAMIS
Epidemiologi

Gangguan mood merupakan gangguan mental yang paling umum dalam populasi
dewasa dengan beberapa bukti yang mengarah pada peningkatan prevalensinya.
Diproyeksikan bahwa pada tahun 2020, depresi mayor merupakan gangguan yang
paling banyak, juga dari segi beban pada kesejahteraan manusia yang paling
besar. Sementara itu, bukti yang muncul menunjukkan bahwa gangguan bipolar
mulai lebih sering terdapat daripada yang diduga sebelumnya, dalam lingkup
gangguan spectrum bipolar. Laporan gangguan mood yang tersedi dari studi klinis
tidak dapat mencerminkan data yang ada di populasi, karena bias seleksi, yaitu
individu yang datang mencari pengobatan.
Penelitian epidemiologi untuk gangguan bipolar masih terbatas. Prevalensi
sepanjang hidup dilaporkan antara 0,5-1,6% dari berbagai penelitian. Sedangkan
prevalensi spektrum gangguan bipolar diperkirakan 3-6% pada berbagai negara
dan kultur. Onset gangguan antara 18-44 tahun dan pada umumnya risiko
menurun setelah umur 50 tahun. Nampaknya tidak terdapat perbedaan prevalensi
menurut jenis kelamin pada berbagai studi di berbagai negara dan berbagai kultur.
Korelasi dengan status ekonomi, ras, etnis, status marital dan tempat tinggal ruralurban mendapatkan hasil yang bervariasi dan belum dapat disimpulkan.
Komorbiditas pada gangguan bipolar menunjukkan hubungan yang sangat tinggi
dengan berbagai gangguan psikiatrik lain, bahkan gangguan bipolar murni tanpa
komorbiditas sangat jarang. Ada bukti yang kuat bahwa gangguan mood adalah
familial, walaupun tidak ada data hingga kini menunjukkan gen tertentu yang
bertanggung jawab untuk gangguan mood atau depresi mayor.
Individu dengan gangguan mood mempunyai risiko lebih tinggi untuk bunuh diri.
Banyak studi menunjukkan bahwa 90% dari korban bunuh diri mempunyai
gangguan psikiatrik saat melakukan bunuh diri. Kira-kira 60% dari semua bunuh
diri yang terjadi berkait dengan gangguan mood, baik itu percobaan (attempt)
maupun berhasil (completion). Walaupun demikian banyak pula individu dengan
gangguan mood tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Gangguan bipolar
Perdebatan tentang subtype berpusat pada unipolar (hanya episode mania atau
hanya episode depresi) dan bipolar (dimana pada seorang didapatkan kedua
episode mania dan depresi); spektrum bipolar dan bipolar II, dimana Kraepelin
percaya bahwa mania dapat terjadi sepanjang kontinuitas dari keparahan; keadaan
nerotik atau psikotik, depresi psikotik digunakan untuk keadaan episode depresi
dengan gejala psikotik dan episode depresi berat baik dengan atau tanpa gejala
psikotik; dan endogen atau reaktif, depresi endogen (melankolia) disebabkan
karena faktor biologi internal individu dan reaktif yang disebabkan karena faktor
lingkungan eksternal. Depresi endogen diasumsikan mempunyai abnormalitas
biologi yang lebih besar, respons pada terapi somatik lebih baik, lebih banyak
faktor familial dan kurang angka kejadian stres kehidupannya, lebih kurang
gangguan kepribadian dan lebih episodik perjalanan penyakitnya.
Gangguan bipolar I bercirikan episode manik dan depresi mayor sedangkan
gangguan bipolar II bercirikan keadaan hipomanik dan episode depresi mayor.
Membedakan hipomania dengan keadaan mood normal pada DSM-IV-TR
dibatasi waktu 4 hari tanpa perubahan fungsi individu. Tidak jelas apakah bipolar
II adalah varian dari bipolar I, varian dari gangguan depresi mayor, perjalanan
penyakit dari kontinuitas antara gangguan bipolar I dan gangguan bipolar mayor
atau gangguan ketiga yang berbeda. Walaupun kurang literatur yang menulis,
namun nampaknya gangguan siklotimik secara familial berhubungan dengan
gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I mensyaratkan adanya periode yang
jelas dari perasaan yang abnormal minimal 1 minggu, gejala mania yang jelas dan
lengkap sekeras gejala depresi pada periode lainnya. Gangguan bipolar II dimana
terdapat syndrome depresi yang nyata tetapi hanya ada episode hipomanik.
Kontroversi tentang keadaan unipolar dan bipolar belum berakhir, Hagop Akiskal
et al. (2003) mendukung adanya spektrum luas dari bipolar. Spektrum ini mulai
dari bipolar I, bipolar II hingga cyclothymia dan bercampur dengan hipertimik
pada populasi normal. Temperamen hipertimik dicirikan dengan jovialitas,
sosiabilitas, optimisme, percaya diri dan suka berpetualang. Ada bukti-bukti yang

menguat bahwa paling tidak ada subgroup yang juga penting dari pasien dengan
gangguan kepribadian perbatasan (borderline personality disorder) yang
seharusnya masuk juga dalam spektrum dari gangguan bipolar ringan (soft
bipolar disorders).

KAPLAN
Diagnosis
Gangguan bipolar I
DSM-IV-TR berisi daftar kriteria terpisah episode manik. Kriteria DSM-IV-TR
membutuhkan adanya suatu periode mood abnormal yang khas dan bertahan
sedikitnya selama 1 minggu dan mencakup diagnosis gangguan bipolar I yang
terpisah untuk satu episode manik dan jenis episode berulang khusus, berdasarkan
gejala episode terkini.
Sebutan gangguan bipolar I sinonim dengan yang dikenal sebagai gangguan
bipolaryaitu suatu sindrom dengan seluruh gejala mania terjadi selama
perjalanan gangguan ini. DSM-IV-TR merumuskan kriteria diagnostik gangguan
bipolar II; gangguan ini ditandai dengan episode depresif dan episode hipomanik
selama perjalanan gangguan, tetapi episode gejala lir-manik tidak benar-benar
memenuhi kriteria seluruh sindrom manik.
DSM-IV-TR secara spesifik menyatakan bahwa episode manik yang dengan jelas
dicetuskan terapi antidepresan (contohnya, famakoterapi, terapi elektrokonvulsiff
[ECT] tidak menunjukkan adanya gangguan bipolar I.
Gangguan bipolar I, episode manik tunggal
Menurut DSM-IV-TR, pasien harus mengalami episode manik yang pertama
untuk memenuhi kriteria diagnostik gangguan bipolar I, episode manik tunggal.
Persyaratan ini berdasarkan fakta bahwa pasien yang mengalami episode pertama

gangguan bipolar I depresi tidak dapat dibedakan dengan pasien dengan gangguan
depresif berat.
Gangguan bipolar I, berulang
Persoalan mengenai penentuan akhir suatu episode depresi juga diterapkan untuk
menentukan akhir suatu episode mania. Dalam DSM-IV-TR, episode dianggap
terpisah jika dipisahkan selama setidaknya 2 bulan tanpa gejala mania atau
hipomania yang bermakna. DSM-IV-TR menentukan kriteria diagnostik
gangguan bipolar I berulang berdasarkan gejala episode terkini: gangguan bipolar
I, episode kini manik; gangguan bipolar I, episode terkini hipomanik; gangguan
bipolar I, episode terkini depresi; gangguan bipolar I, episode terkini campuran;
gangguan bipolar I, episode terkini tidak tergolongkan,
Gangguan bipolar II
Kriteria diagnostik gangguan bipolar II menentukan keparahan, frekuensi, serta
lama gejala hipomanik tertentu. Kriteria diagnostik episode hipomanik disusun
terpisah dengan kriteria gangguan bipolar. Kriteria ditetapkan untuk menurunkan
diagnosis berlebihan episode hipomanik serta penggolongan yang tidak benar
untuk pasien dengan gangguan depresif berat sebagai gangguan bipolar II. Secara
klinis, psikiater mungkin merasa sulit membedakan eutimia dengan hipomania
pada pasien depresi kronis selama beberapa bulan atau tahun. Seperti pada
gangguan bipolar I, episode hipomanik yang dicetuskan antidepresan tidak
bersifat diagnostik untuk gangguan bipolar II.
Gambaran klinis
Dua pola gejala dasar di dalam gangguan mood adalah gejala yang terdapat pada
depresi dan mania. Episode depresif dapat terjadi pada gangguan depresif berat
dan gangguan bipolar I. Pada banyak studi, para peneliti berupaya mencari
perbedaan yang dapat diandalkan antara gangguan bipolar I episode depresif dan
episode gangguan depresif berat, tetapi perbedaan tersebut sukar ditentukan. Pada
suatu situasi klinis, hanya riwayat pasien, riwayat keluarga, dan perjalanan
gangguan masa mendatang yang dapat membantu membedakan kedua keadaan

tersebut. Sejumlah pasien dengan gangguan bipolar I memiliki keadaan campuran


dengan ciri manik dan depresif, serta beberapa dari mereka tampaknya mengalami
episode singkatbeberapa menit sampai beberapa jamepisode depresi selama
episode manik.

Gangguan bipolar I
Perjalanan gangguan.
Riwayat alami gangguan bipolar I sedemikian rupa sehingga sering berguna untuk
menggambarkan gangguan pasien dan membuatnya tetap up to date seiring
berkembangnya

terapi.

Walaupun

gangguan

siklotimik

kadang-kadang

didiagnosis belakangan pada pasien dengan gangguan bipolar I, tidak ada cirri
kepribadian yang teridentifikasi yang dikaitkan dengan gangguan bipolar I.
Gangguan bipolar I sering dimulai dengan depresi (75% pada perempuan, 67%
pada laki-laki) dan merupakan gangguan berulang. Sebagian besar pasien
mengalami episode depresif dan manik, walaupun 10-20% hanya megalami
episode manik. Episode manik khususnya memiliki awitan cepat (jam atau hari)
tetapi dapat berkembang selama beberapa minggu. Episode manik yang tidak
diobati dapat bertahan selama 3 bulan; sehingga klinisi sebaiknya tidak
menghentikan obat sebelum waktu tersebut. Sembilan puluh persen orang yang
memiliki satu episode manik cenderung mengalaminya lagi. Ketika gangguan
berkeembang, waktu antarepisode sering berkurang. Meskipun demikian, setelah
sekitar lima episode interval antarepisode sering menjadi stabil antara 6 sampai 9
bulan. Lima hingga 15 persen orang dengan gangguan bipolar memiliki empat
episode atau lebih tiap tahun dan dapat diklasifikasikan sebagai siklus cepat.
Gangguan bipolar I pada anak dan orang tua
Gangguan bipolar I dapat terjadi baik pada orang tua atau orang yang sangat
muda. Insiden gangguan bipolar I pada anak dan remaja sekitar 1 persen dan

awitan bisa terjadi sedini 8 tahun. Diagnosis yang salah yang biasa ditegakkan
adalah skizifrenia dan gangguan defian oposisional.
Gangguan bipolar I dengan awitan yang sedemikian dini berkaitan dengan
prognosis buruk. Gejala manik lazim terdapat padaorang lanjut usia walaupun
kisaran penyebabnya luas dan mencakup keadaan medis nonpsikiatri, demensia,
delirium, serta gangguan bipolar I. Data yang tersedia saat ini menunjukkan
bahwa awitan gangguan bipolar I yang sesungguhnya pada orang lanjut usia
relative tidak lazim.
Prognosis
Pasien dengan gangguan bipolar I memiliki prognosis yang lebih buruk
dibandingkan pasien dengan gangguan depresif berat. Sekitar 40 sampai 50 persen
pasien gangguan bipolar I dapat mengalami episode manik kedua dalam 2 tahun
sejak episode pertama. Walaupun profilaksis litium (Eskalith) memperbaiki
perjalanan gangguan serta prognosis gangguan bipolar I, kemungkinan hanya 5060% pasien memperoleh kendali bermakna gejalanya terhadap litium. Satu studi
pemantauan lanjutan 4 tahun pada pasien dengan gangguan bipolar I menemukan
bahwa status pekerjaan pramorbid yang buruk, ketergantungan alkohol, ciri
psikotik, ciri depresif, ciri depresif antarepisode, serta jenis kelamin laki-laki
merupakan faktor yang membuat prognosis buruk. Lama episode manik yang
singkat, awitan pada usia lanjut, sedikit pikiran bunuh diri, serta sedikit masalah
medis atau psikiatri yang juga timbul bersamaan merupakan faktor yang membuat
prognosis baik.
Sekitar 7 persen pasien dengan gangguan bipolar I tidak kambuh; 45 persen
memiliki lebih dari satu episode dan 40 persen memiliki gangguan kronik. Pasien
dapat memiliki 2 samapi 30 episode manik walaupun rata-rata jumlahnya sekitar
sembilan.sekitar 40 persen pasien memiliki lebih dari sepuluh episode. Pada
pemantauan lanjutan jangka panjang, 15 persen pasien dengan gangguan bipolar I
membaik, 45 persen membaik tetapi mengalami kekambuhan beberapa kali, 30
persen dalam remisi sebagian, dan 10 persen sakit kronis. Sepertiga pasien dengan

gangguan bipolar I memiliki gejala kronik dan bukti adanya penurunan sosial
yang bermakna.
Gangguan bipolar II
Perjalanan gangguan dan prognosis gangguan bipolar II baru akan mulai
dipelajari.

Meskipun

demikian,

data

pendahuluan

menunjukkan

bahwa

diagnosisnya stabil, seperti yang ditunjukkan oleh kemungkinan tinggi bahwa


pasien dengan gangguan bipolar II akan memiliki diagnosis yang sama sampai
lima tahun kemudian. Dengan demikian, data menunjukkan bahwa gangguan
bipolar II adalah penyakit kronik yang memerlukan strategi terapi jangka panjang.

http://penelitian.unair.ac.id/artikel_dosen_Kelainan%20Neurokimiawi%20Otak%
20pada%20Gangguan%20Bipolar_4076_3284
http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads/bipolar-disorder.pdf
http://ajp.psychiatryonline.org/article.aspx?articleid=1151599 (AJP)

http://penelitian.unair.ac.id/artikel_dosen_Kelainan%20Neurokimiawi%20Otak%
20pada%20Gangguan%20Bipolar_4076_3284
http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads/bipolar-disorder.pdf
http://ajp.psychiatryonline.org/article.aspx?articleid=1151599 (AJP)