Anda di halaman 1dari 6

Judul Pratikum

: Oksidasi Reduksi

Tujuan

1. Mengamati bilangan oksidasi unsur dalam senyawa atau ion


2. Dapat menulis persamaan reaksi oksidasi reduksi
3. Menentukan deret elektromotif beberapa unsur

Diskusi
Dengan bilangan oksidasi akan mempermudah dalam pengerjaan reduksi atau
oksidasi dalam suatu reaksi redoks. Kita akan membuat contoh dari Vanadium. Vanadium
membentuk beberapa ion, V2+ dan V3+. Bagaimana ini bisa terjadi? Ion V2+ akan
terbentuk dengan mengoksidasi logam, dengan memindahkan 2 elektron:

Vanadium kini disebut mempunyai biloks +2.


Pemindahan satu elektron lagi membentuk ion V3+:

Vanadium kini mempunyai biloks +3.


Pemindahan elektron sekali lagi membentuk bentuk ion tidak biasa, VO2+.

Biloks vanadium kini adalah +4. Perhatikan bahwa biloks tidak didapat hanya dengan
menghitung muatan ion (tapi pada kasus pertama dan kedua tadi memang benar). Bilangan
oksidasi positif dihitung dari total elektron yang harus dipindahkan-mulai dari bentuk unsur
bebasnya. Vanadium biloks +5 juga bisa saja dibentuk dengan memindahkan elektron kelima
dan membentuk ion baru.

Setiap kali vanadium dioksidasi dengan memindahkan satu elektronnya, biloks


vanadium bertambah 1. Sebaliknya, jika elektron ditambahkan pada ion, biloksnya akan
turun. Bahkan dapat didapat lagi bentuk awal atau bentuk bebas vanadium yang memiliki
biloks nol. Bagaimana jika pada suatu unsur ditambahkan elektron? Ini tidak dapat dilakukan
pada vanadium, tapi dapat pada unsur seperti sulfur.

Ion sulfur memiliki biloks -2.

Biloks menunjukkan total elektron yang dipindahkan dari unsur bebas (biloks positif)
atau ditambahkan pada suatu unsur (biloks negatif) untuk mencapai keadaan atau bentuknya
yang baru.
Oksidasi melibatkan kenaikan bilangan oksidasi
Reduksi melibatkan penurunan bilangan oksidasi
Dengan memahami pola sederhana ini akan mempermudah pemahaman tentang
konsep bilangan oksidasi. Jika anda mengerti bagaimana bilangan oksidasi berubah selama
reaksi, anda dapat segera tahu apakah zat dioksidasi atau direduksi tanpa harus mengerjakan
setengah-reaksi dan transfer elektron.
Mengerjakan bilangan oksidasi
Biloks tidak didapat dengan menghitung jumlah elektron yang ditransfer. Karena itu
membutuhkan langkah yang panjang. Sebaliknya cukup dengan langkah yang sederhana,
dan perhitungan sederhana. E Biloks dari unsur bebas adalah nol. Itu karena unsur bebas
belum mengalami oksidasi atau reduksi. Ini berlaku untuk semua unsur, baik unsur
dengan struktur sederhana seperti Cl2 atau S8, atau unsur dengan struktur besar seperti
karbon atau silikon.
1. Jumlah biloks dari semua atom atau ion dalam suatu senyawa netral adalah nol.
2. Jumlah biloks dari semua atom dalam suatu senyawa ion sama dengan jumlah
muatan ion tersebut.
3. Unsur dalam senyawa yang lebih elektronegatif diberi biloks negatif. Yang kurang
elektronegatif diberi biloks positif. Ingat, Fluorin adalah unsur paling
elektronegatif, kemudian oksigen.
4. Beberapa unsur hampir selalu mempunyai biloks sama dalam senyawanya:

Unsure

Bilangan
Oksidasi

Pengecualian

Logam golongan
I
selalu +1
Group 2 metals

selalu +2

Oksigen

biasanya -2

Kecuali dalam peroksida dan F2O (lihat dibawah)

Hidrogen

biasanya +1

Kecuali dalam hidrida logam, yaitu -1 (lihat dibawah)

Fluorin

selalu -1

Klorin

biasanya -1

Kecuali dalam persenyawaan dengan O atau F (lihat

dibawah)

Alasan pengecualian
Hidrogen dalam hidrida logam
Yang termasuk hidrida logam antara lain natrium hidrida, NaH. Dalam senyawa ini,
hidrogen ada dalam bentuk ion hidrida, H-. Biloks dari ion seperti hidrida adalah sama
dengan muatan ion, dalam contoh ini, -1. Dengan penjelasan lain, biloks senyawa netral
adalah nol, dan biloks logam golongan I dalam senyawa selalu +1, jadi biloks hidrogen
haruslah -1 (+1-1=0).
a. Oksigen dalam peroksida
Yang termasuk peroksida antara lain, H2O2. Senyawa ini adalah senyawa
netral, jadi jumlah biloks hidrogen dan oksigen harus nol. Karena tiap hidrogen
memiliki biloks +1, biloks tiap oksigen harus -1, untuk mengimbangi biloks
hidrogen.
b. Oksigen dalam F2O
Permasalahan disini adalah oksigen bukanlah unsur paling elektronegatif.
Fluorin yang paling elektronegatif dan memiliki biloks -1. Jadi biloks oksigen adalah
+2.
c. Klorin dalam persenyawaan dengan fluorin atau oksigen
Klorin memiliki banyak biloks dalam persenyawaan ini. Tetapi harus diingat,
klorin tidak memiliki biloks -1 dalam persenyawaan ini.
Contoh soal bilangan oksidasi
1. Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam Cr2+?
Untuk ion sederhana seperti ini, biloks adalah jumlah muatan ion, yaitu +2
(jangan lupa tanda +)
2. Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam CrCl3?
CrCl3 adalah senyawa netral, jadi jumlah biloksnya adalah nol. Klorin memiliki
biloks -1. Misalkan biloks kromium adalah n:
n + 3 (-1) = 0
n = +3
3. Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam Cr(H2O)63+?
Senyawa ini merupakan senyawa ion, jumlah biloksnya sama dengan muatan
ion. Ada keterbatasan dalam mengerjakan biloks dalam ion kompleks seperti ini
dimana ion logam dikelilingi oleh molekul-molekul netral seperti air atau amonia.
Jumlah biloks dari molekul netral yang terikat pada logam harus nol. Berarti
molekul-molekul tersebut dapat diabaikan dalam mengerjakan soal ini. Jadi
bentuknya sama seperti ion kromium yang tak terikat molekul, Cr3+. Biloksnya
adalah +3.

4. Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam ion dikromat, Cr2O72-?


Biloks oksigen adalah -2, dan jumlah biloks sama dengan jumlah muatan ion.
Jangan lupa bahwa ada 2 atom kromium.
2n + 7(-2) = -2
n = +6
5. Apakah bilangan oksidasi dari tembaga dalam CuSO4?
Dalam mengerjakan soal oksidasi tidak selalu dapat memakai cara sederhana
seperti diatas. Permasalahan dalam soal ini adalah dalam senyawa terdapat dua
unsur (tembaga dan sulfur) yang biloks keduanyadapat berubah.
Ada dua cara dalam memecahkan soal ini:
E Senyawa ini merupakan senyawa ionik, terbentuk dari ion tembaga dan ion
sulfat, SO42-, untuk membentuk senyawa netral, ion tembaga harus dalam
bentuk ion 2+. Jadi biloks tembaga adalah +2.
E Senyawa ini juga dapat ditulis tembaga(II)sulfat. Tanda (II) menunjukkan
biloksnya adalah 2. Kita dapat mengetahui bahwa biloksnya adalah +2 dari logam
tembaga membentuk ion positif, dan biloks adalah muatan ion
Peralatan dan Bahan
Peralatan
1. Tabung reaksi dengan rak
2. Pipet tetes
3. Cawan penguap
Bahan Kimia
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Mangan, Mn logam
Kalium Permangganat, KMnO4 0,010 M
Natrium Sulfit, Na2SO3 0,5 M
Asam klorida encer, HCL 6 M
Krom, Cr logam
Kalium Dikromat, K2CrO4 kristal dan 0,1 M
Asam sulfat pekat, H2SO4
Belerang, S bubuk
Natrium sulfide, Na2S padat
Asam sulfide encer, H2SO4 6 M
Larutan iod,
Natrium tiosulfat
Asam nitrat encer, HNO3 6 M
Logam tembaga, Cu

15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.

Asam nitrat pekat, HNO4 16 M


Ammonium klorida, NH3CL padat
Natrium hidroksida encer, NaOH 6 M
Logam rtimbal, Pb
Logam Magnesium, Mg
Logam seng, Zn
Seng sulfat, ZnSO4 0,1 M
Perak nitrat, AgNO3 0,1 M
Beberapa logam sebagai sampel

Prosedur
A Bilangan oksidasi manggan
1. Perhatikan sepotong logam manggan. Catat hasilnya dan sebutkan bilangan
oksidasinya
2. Masukkan 2 mL larutan kalium permangganat ke dalam tabung reaksi. Perhatikan
warnanya dan hitung bilangan oksidasi manggan, tambahkan beberapa tetes
larutan natrium hidroksida dan 1 tetes natrium sulfit. Perhatikan perubahan
warna menjadi ion mangganat MnO4-2 . Hitung bilangan oksidasi manggan dalam
ion ini.
3. Masukkan 2 mL kalium permangganat ke dalam tabung reaksi bersih.
Tambahkan natrium sulfit tetes demi tetes sampai warna merah memudar.
Setelah beberapa menit amati endapan manggan dioksida MnO2 terbentuk dalam
larutan. Hitung bilangan oksidasi manggan disini.
4. Masukkan 2 mL kalium permangganat dalam tabung reaksi bersih. Tambahkan 1
tetes asam klorida encer dan beberapa tetes natrium sulfat. Catat pengamatan dan
temukan bilangan oksidasi manggan disini
B Bilangan oksidasi krom
1. Perhatikan sepotong logam krom, nyatakan bilangan oksidasinya.
2. Masukkan beberapa butir Kristal kalium dikromat, K2CrO4 dalam tabung reaksi
kering. Tambahkan 1 tetes asam sulfat pekat. Amati pembentukan Kristal merah
krom trioksida, CrO3 . Tentukan bilangan oksidasi krom dalam kedua senyawa
tersebut.
3. Masukkan 2 mL larutan kalium dikromat dalam tabung reaksi. Tambahkan 1
tetes natrium hidroksida encer dan amati perubahan warna. Tentukan bilangan
oksidasi krom dalam ion kromat CrO yang terbentuk.
4. Masukkan 2 mL kalium dikromat kedalam tabung reaksi. Tambahkan 1 tetes
asam klorida encer dan 2 mL natrium sulfit. Catat perubahan warna dan tentukan
bilangan oksidasi krom dalam ion krom yang terbentuk.

C Bilangan oksidasi belerang


1. Amati bubuk belerang dan tentukan bilangan oksidasinya
2. Masukkan sesendok kecil bubuk belerang dalam cawan penguap. Bakar dengan
bunsen. Perhatikan warna nyala dan warna putih dari belerang dioksida.
Tentukan bilangan oksidasi belerang dalam gas SO2
3. Masukkan sepotong kecil Kristal natrium sulfide, NaS kedalam tabung reaksi
kering. Tambahkan beberapa tetes asam sulfide encer. Amati bau gas hydrogen
sulfide terbentuk. Hitung bilangan oksidasi belerang dalam NaS, H2SO4 dan H2S
4. Masukkan 2 mL larutan iod dalam tabung reaksi. Tambahkan larutan natrium
tiosulfat sampai warna iod hilang. Amati perubahan yang terjadi dan hitung
bilangan oksidasi belerang dalam kedua senyawa belerang tersebut.