Anda di halaman 1dari 27

Filsafat Ilmu - Pertemuan

I. Zaman Yunani Kuno


Sebagaimana pengetahuan, hakikat maupun sejarah perkembangan ilmu itu
sendiri merupakan sebuah problem di dalam filsafat. Pada Zaman Yunani
Kuno, ilmu dipandang sebagai bagian dari filsafat; pada saat lain, terpisah
dari filsafat. Ilmu, dulu dipandang sebagai disiplin tunggal (bersifat monistik),
dan sekarang dipandang sebagai seperangkat disiplin-disiplin yang dinamis
dan terlepas-lepas berdasarkan spesialisasi ilmu atau keahlian. Dahulu, ilmu
dipandang sebagai hal yang berurusan dengan kenyataan (fakta) fisik,
sekarang ilmu dianggap bergumul dengan fenomena-fenomena (gejalagajala fisik dan non fisik). Karenanya, ilmu kemudian dikategorikan ke dalam
tipe-tipe deduktif dan induktif.
Pada zaman Yunani Kuno, filsafat (yang dipahami sebagai ilmu). Filsafat dan
ilmu bersifat saling menjalin dan orang tidak memisahkan keduanya sebagai
hal yang berbeda. Filsafat dan ilmu berusaha meneliti dan mencari unsurunsur dasariah alam semesta. Usaha tersebut, sekarang disebut usaha
keilmuan (usaha ilmiah).
Thales (640-546 s. M) merupakan pemikir pertama, yang dalam sejarah
filsafat disebut the Father of Philosophy (Bapak Filsafat). Banyak sarjana
kemudian mengakui Thales sebagai ilmuwan yang pertama di dunia. Bangsa
Yunani menggolongkan Thales sebagai salah seorang dari Seven Wise Men of
Greece (Tujuh Orang Arif Yunani). Thales memperkembangkan filsafat alam
(kosmologi) yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur
komposisi alam semesta. Thales, dalam penyelidikan keilmuannya,
menyimpulkan bahwa penyebab utama (causa prima) dari semua dari alam
itu adalah air sebagai materi dasar dari kosmis. Sebagai ilmuwan, Thales
mengembangkan fisika, astronomi, dan matematika, dengan antara lain,
mengemukakan beberapa pendapat keilmuannya, antara lain: bahwa bulan
bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya
gerhana matahari, dan membuktikan dalil-dalil geometri. Prestasi Thales
dalam sejarah keilmuan, ditunjukkannya dalam hal pembuktian dalilnya
bahwa kedua sudut alas dari satu segitiga sama kaki adalah sama besarnya.
Thales, melalui itu, menunjukkan bahwa ia adalah ahli matematika dunia
yang pertama dari Yunani. Para ahli dewasa ini, justru itu, menyebut Thales
sebagai the Father of Deductive Reasoning (bapak penelaran deduktif).
Pythagoras (572-497 S.M) adalah ilmuwan Yunani Kuno yang muncul
ilmuwan matematika. Ia mengajarkan bahwa bilangan merupakan intisari
dari semua benda serta dasar pokok dari sifat-sifat benda. Dalil Pythagoras
itu demikian: Number rules the universe (bilangan memerintahkan jagat

raya ini). Ia berpendapat bahwa matematika merupakan salah satu sarana


atau alat bagi pemahaman filsafati.
Plato (428-348 s.M) adalah Filsuf besar Yunani dan ilmuwan spekulatif, yang
menegaskan bahwa filsafat atau ilmu merupakan pencarian yang bersifat
perekaan (spekulatif) tentang seluruh kebenaran. Plato, dalam hal ini,
memandang ilmu sebagai hal yang berhubungan dengan opini atau ajaran
(doxa). Ia mengajarkan bahwa geometri merupakan ilmu rasional
berdasarkan akal murni, yang berusaha membuktikan pernyataanpernyataan (proposisi-proposisi) abstrak mengenai ide-ide yang abstrak
misalnya; segitiga sempurna, lingkaran sempurna, dan sebagainya.
Aristoteles (382-322 s.M) lebih memahami ilmu sebagai pengetahuan
demonstratif, tentang sebab-sebab utama segala hal (causa prima). Ilmu,
dalam hal ini, bersifat; teoretis (ilmu tertinggi), praktis (ilmu terapan), dan
produktif (ilmu yang bermanfaat), semuanya dalam kesatauan utuh (tidak
bersifat ilmu majemuk). Aristoteles mempelajari berbagai ilmu, antara lain;
biologi, psikologi, dan politik. Ia juga mengembangkan ilmu tentang
penalaran (logika), yang dalam hal ini disebutnya dengan nama Analytika,
yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pada premis yang benar, dan
Dialektika, yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pikir pada hal-hal yang
bersifat tidak pasti (hipotesis). Semua tulisan Aristoteles tentang ilmu
tentang penalaran (Logika) itu ditulis dalam 6 (enam) naskah yang masingmasingnya berjudul; Categories, On Interpretation, Prior Analytics, Posterior
Analytics, Topics, Sophistical Refitations.
Jelasnya, perkembangan sejarah ilmu pada abad Yunani Kuno telah
berkembang dalam empat bidang keilmuan, yaitu; Filsafat (kosmologi), ilmu
biologi, matematika, dan logika dengan ciri perkembangannya masingmasing.
II. Zaman Abad Pertengahan.
Selama abad pertengahan, ilmu atau scientia dipahami sebagai jenis
pengetahuan yang dipunyai Allah tentang manusia. Ilmu, karenanya, dilihat
semata-mata dalam perspektif ilmu teologi, artinya, ilmu memiliki
kedudukan dan peranan sebagai pelayan teologi. Trivium, yaitu Gramatika,
Retorika, dan Dialektika, dan Quardrivium, yaitu Aritmatika, Geomerti,
Astronomi, dan Musik, di pihak lain, memuat sejumlah studi yang dianggap
sebagai ilmu-ilmu dalam arti yang kurang ketat. Averroes, menganggap
being (yang ada) sebagai istilah yang seragam- sama persis (univok) untuk
memandang ilmu sebagai pengatahuan abadi gai yang berurusan dengan
ke-apa-an semua hal.
c. Zaman Abad Modern

Ilmu mengalami perkembangan revolusioner pada abad modern. Muncul


tokoh-tokoh pembaharu seperti; Galileo-Galilei, Francis Bacon, Roger Bacon,
Rene Descartes, dan Ishak Newton yang memperkenalkan matematika dan
metode eksperimental untuk mempelajari alam. Ilmu, akhirnya berkembang
dengan sifatnya yang eksperimental, bercabang-cabang, dan partikular
(saling terpisah), serta otonom. Bahkan, sejarah keilmuan abad modern telah
menampilkan spesialisasi sebagai ciri keilmuan modern itu sendiri. Roger
Bacon, sejak awal zaman modern telah mengembangkan dasar-dasar
keilmuannya yang bersifat ilmu eksperimental. Roger Bacon, dalam hal ini
berusaha mengembangkan ilmu dengan melibatkan kegiatan-kegiatan
pengamatan (observasi), prosedur metodik (induktif), maupun matematika,
yang dianggap lebih tinggi dari ilmu-ilmu spekulatif (misalnya teologi), yang
dikembangkan sebelumnya pada abad pertengahan. Paham keilmuan
tersebut, kemudian lebih diperkuat lagi oleh Francis Bacon, yang
menandaskan peranan metode induktif di dalam ilmu. Francis Bacon
menunjukkan bahwa metode induktif merupakan jalan satu-satunya menunju
kebenaran ilmu, serta menunjukkan kegunaan ilmu itu sendiri.
Menurut Francis Bacon, ilmu bersifat majemuk karena mencerminkan aneka
fakultas (kemampuan) manusiawi. Misalnya, ilmu alam berawal dari
kemampuan akal, sementara sejarah berasal dari kemapuan ingatan.
Thomas Hobbes, dikemusian hari, membagi ilmu-ilmu ke dalam dua tipe,
yaitu ilmu yang berasal dari fakta seperti nyata dalam ilmu-ilmu empiris
-eksperimental, dan ilmu yang berasal dari akal seperti nyata dalam ilmuilmu spekulatif. Galileo-Galilei menjalankan sepenuhnya metode yang
digariskan oleh Roger Bacon. Menurut Galileo (ilmuwan besar dunia dari
Itali), ilmu berkembang dari filasafat alam, yang lebih dikenal sebagai ilmu
alam, melalui pengukuran kecepatan cahaya sampai penimbangan obor
udara. Sebagai ilmuwan matematika, ia mengajarkan sebuah ucapannya
yang sangat terkenal, yaitu, Filsafat ditulis dalam sebuah buku besar, tetapi
buku itu tidak dapat dibaca dan dimengerti bila orang tidak lebih dahulu
belajar memahami bahasa dan membaca huruf-huruf yang dipakai untuk
menyususnnya, yaitu matematika.
Perkembangan ilmu mencapai puncak kejayaannya di tangan Ishak Newton.
Menurut Newton, inti keilmuan adalah pada pencarian pola data matematis,
dan karena itu, ia berusaha membongkar rahasia alam dengan
menggunakan matematika. Ilmuwan dunia dari Inggris ini berhasil
merumuskan sebuah teori tantang gaya berat dan kaidah-kaidah
mekanika yang semuanya tertulis melalui karyanya yang berjudul;
Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (azas-azas matematika dari
filsafat alam), diterbitkan tahun 1687. Perkembangan pada kemudian hari,
ternyata Philosophia Naturalis memisahkan diri dari filsafat dan para ahli
menyebutnya dengan nama Fisika.

Jelasnya, pandangan keilmuan abad modern yang berciri empiriseksperimental dengan pendekatan induktifnya yang ketat, telah
dikembangkan secara lebih progresif oleh Ishak Newton dalam sebuah
perspektif keilmuan yang berciri positivistik.
Rene Descartes, menunjukkan sebuah kecenderungan lain di dalam paham
keilmuannya. Kenyataan tersebut makin menunjukkan ciri perkembangan
keilmuan modern yang bersifat majemuk dan partikular (terpisah-pisah).
Menurut Descartes, ilmu tidak memiliki basis lain kecuali akal budi. Metode
akal budi dapat diterapkan dalam problem apa pun. Ilmu memiliki
keterkaitan bathiniah dengan kepastian dan sungguh-sungguh disejajarkan
dengan paham abad pertengahan tentang premis-premis ketuhanan dalam
ilmu.
Dunia keilmuan modern mengalami perkembangan dengan munculnya
cabang-cabang keilmuan modern. Perkembangan mana terjadi karena berkat
penerapan metode empiris yang makin cermat serta pemakaian alat-alat
keilmuan yang lebih lengkap. Bahkan, perkembangan tersebut disebabkan
pula oleh adanya arus komunikasi antarilmuawan yang senantiasa
meningkat. Hal mana, lebih menonjol pada tahun 1700-an. Setalah
memasuki usia dewasa, cabang-cabang ilmu tersebut memisahkan diri dari
filsafat, sebagaimana yang terjadi dengan Fisika. Pemisahan tersebut
pertama-tama dilakukan oleh biologi, pada awal abad kesembilan belas
(abad XIX), dan kemudian psikologi, yang kemudian di susul lagi oleg
sosiologi, antropologi, ilmu ekonomi, dan politik. Ciri perkembangan dunia
keilmuan modern tersebut ditentukan oleh tokoh-tokoh berikut.
Auguste Comte, di sisi lain, makin memantapkan iklim pertentang (konfik
dan kontroversi) di dalam alam keilmuan modern. Comte mengkonstatasi
adanya kecenderungan keilmuan yang makin mengarah dari spektrum
keabstrakan, misalnya, matematika yang kian berkembang menunju tahap
positif dalam ilmu kemasyarakatan yang utuh dan sempurna (Sosiologi).
Tahapan perkembangan ilmu dimaksud sesuai urutan pemunculannya di
dunia. Positivisme dalam keilmuan, terletak pada pernyataan bahwa
penjelasan ilmiah (eksplanasi) merupakan unsur dominan dalam setiap
bidang pengalaman manusia. Tahapan perkembangan ilmu tersebut disebut
hukum perkembangan.
Hukum tiga tahap tersebut mengingatkan pada pandangan Hegel dan Marx
dengan ajaran dialektikanya yang memandang perkembangan sebagai
sesuatu gerak linear dan "tertutup". Artinya, mereka melihat proses
perkembangan pemikiran atau pengetahuan dan ilmu dalam tahap yang
saling terpisahkan dan tidak secara utuh (holistik) serta menyeluruh
(komprehensif). Perkembangan ilmu pun cenderung dilepaskan secara total
dari keseluruhan realitas kemanusiaan yang merupakan sumber utama
pengetahuan dan ilmu itu sendiri. Perkembangan pengetahuan dan ilmu

hanya berusaha untuk memenggal-menggal dan mengambil sebagian saja


dari realitas itu, yaitu realitas fisik materialnya untuk menjadi obyek atau
dasar ontologis dalam mengembangkan ilmunya. Ontologi materialistik ini
telah melahirkan pandangan keilmuan yang pincang tentang realitas serta
mencetakkan orientasi kehidupan yang sangat materialistik dalam
kehidupan manusia modern.
Tentunya, Comte sendiri akan kecewa bila menyaksikan bahwa apa yang
diramalkannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Tahap tertinggi
sains atau ilmu positif yang diramalkannya sebagai pengetahuan positif
sehingga ilmu positif (sains) akan memberikan jaminan kepastian dan
kejelasan akhir terhadap hakikat ilmu, justru semakin membuka
permasalahan-permasalahan baru yang sifatnya problematis tiada hentinya.
Permasalahan ini disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa ilmu
pengetahuan telah berkembang secara nonkumulatif.
Terlihat jelas bahwa, setelah mencapai puncak vitalitasnya yang disebut
sebagai hakikat ilmu tertinggi yang berciri positivis itu, ternyata peradaban
manusia cenderung kehilangan tenaga budayanya dan kemudian runtuh
karena kehilangan kreativitas dan fleksibilitasnya. Struktur-struktur sosial
menjadi kaku, kehidupan semakin diwarnai oleh disintegrasi antarelemen
kemanusiaan yang serba dinamis dan berubah. Semuanya, seolah-olah
kehilangan keseimbangan serta daya temunya. "Positivisme" secara pasti,
telah mengabaikan realitas sosio-historis manusia yang utuh dan dinamis itu
di dalam alam pengetahuannya.
Comte, sejalan dengan hukum perkembangan dimaksud, menciptakan
penggolongan pengetahuan dan ilmu. Ia menggambarkan bagaimana ilmu
dan pengetahuan itu berkembang atas dasar gejala-gejala yang dihadapi
baik pada tingkat yang sederhana sampai yang paling kompleks. Hal itu
dilakukan atas dasar sejarah perkembangan ilmu yang dipahaminya.
Akhirnya, tersusunlah enam jenis ilmu pengetahuan dasar dengan
menempatkan fisika sosial atau sosiologi dengan statistikanya sebagai ilmu
yang paling tinggi.
Auguste Comte, untuk itu, mengembangkan metode keilmuannya yang khas
dengan memadukan dalamnya unsur observasi, eksperimentasi, dan metode
sejarah. Ia dalam hal ini, telah berhasil membangun suatu paham keilmuan
baru yang memadukan Rasionalisme a l a Descartes dengan Empirisme
Francis Bacon. Hal ini sejalan dengan maksud pokok Auguste Comte, yaitu
bahwa ilmu harus selalu dikaitkan dengan pendiriannya dalam
menyelesaikan masalah-masalah praktis. Akibatnya, makna keilmuan selalu
bersifat "pragmatis dan menjadi suatu pilihan sebagai alat (instrumen).
Comte untuk itu, berusaha mengkategorikan ilmu dalam enam kategori
kegunaan yang sifatnya praktis, yaitu:

Pertama, Comte menempatkan ilmu pasti (matematika) sebagai dasar bagi


ilmu pengetahuan. Comte dengan begitu yakin menyatakan bahwa hanya
ilmu pastilah yang merupakan satu-satunya ilmu yang mempunyai
kedudukan obyektif. Hal ini disebabkan ilmu pasti memiliki sifat yang tetap,
terbatas pada akal, dan pasti melalui apa yang dilakukan dalam penyajian
"kalkulus"-nya. Menurutnya, melalui metode-metode ilmu pasti, orang akan
memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang sebenarnya, yaitu ilmu
pengetahuan dalam tingkatnya yang "tepat dan sederhana" namun obyektif
(terukur secara pasti).
Kedua, ilmu perbintangan (astronomi) yang berfungsi menyusun hukumhukum ilmu pasti tersebut di atas dalam hubungan dengan gejala bendabenda langit. Semua itu berhubungan dengan cara-cara menerangkan
bagaimana bentuk, ukuran, kedudukan, serta gerak benda-benda langit
seperti bintang, bumi, bulan, atau planet-planet lain yang semuanya
berhubungan dengan observasi langsung si subyek.
Ketiga, ilmu alam (fisika). Menurutnya, melalui observasi dan eksperimen,
ilmu-ilmu fisika atau ilmu alam menunjukkan hubungan-hubungan yang
mengatur sifat umum benda yang dikaitkan dengan masa. Hubunganhubungan tersebut berada dalam keadaan yang memungkinkan molekulnya
tidak berobah sebagai suatu himpunan. Selanjutnya, Comte juga berusaha
dengan hukum ilmu fisika ini untuk meramalkan secara tepat semua gejala
yang dapat ditunjukkan oleh suatu benda yang dalam keadaan tertentu.
Kegunaan paktis ilmu alam atau fisika ini, karena sifat keteramalannya atas
realitas obyeknya yang bersifat tetap dan tidak berubah atau bergonta-ganti.
Keempat, ilmu kimia (chemistry) yang berfungsi untuk membuktikan adanya
keterkaitan yang luas di antara ilmu-ilmu seperi dalam ilmu hayat (biologi)
dan bahkan dengan sosiologi. Hubungan ini tentu lebih luas dari ilmu alam.
Metode yang digunakan dalam bidang ini adalah observasi dan
ekperimentasi.
Kelima, ilmu hayat (fisiologi atau biologi). Jelasnya, pada tingkat ini, ilmu
telah berhadapan secara langsung dengan gejala-gejala kehidupan sebagai
unsur yang lebih kompleks. Umumnya, perkembangan ilmu pada tahap ini
disertai dengan adanya perobahan, karenanya, belum mencapai tahap yang
tetap sebagai ilmu positif.
Keenam, ilmu tertinggi dalam ilmu positif yaitu ilmu fisika sosial (sosiologi).
Fisika sosial berfungsi untuk menghadapkan ilmu pada hakikat kehidupan
yang lebih kompleks, lebih konkret, dan lebih khusus dalam ikatan dengan
suatu kelompok manusia. Menurut Comte, fisika sosial atau sosiologi
merupakan suatu bidang yang meliputi segi-segi yang statis maupun
dinamis mengenai masyarakat. Justru itulah, Comte menunjukkan bahwa
metode yang terbaik untuk ini adalah observasi. Alasannya, setiap

pengetahuan selalu meminta kesaksian dan pembuktian yang jelas dan


langsung. Berdasarkan penggolongan di atas, Comte hendak menegaskan
bahwa perkembangan ilmu pengatahuan tidak akan menuju ke alam teori
murni tetapi pragmatis dalam arti positif, yaitu: nyata, bermanfaat, pasti,
tepat, dan teramati. Windelband, di kemudian hari, mengikuti pola
pembagian ilmu dimaksud dengan menunjukkan adanya dua golongan ilmu,
yaitu; ilmu-ilmu alam sebagai nomotetik dan ilmu-ilmu kebudayaan sebagai
idiografik. Windelband, u
ntuk itu, mendukung pandangan bahwa ada dua tipe dasariah ilmu dengan
suatu perbedaan jenis yang nyata di antara keduanya.
Kultur keilmuan positif yang dikembangkan Auguste Comte, mempunyai
peranan yang sangat besar dalam perkembangan keilmuan modern.
Nampaknya, solah-olah terdapat semacam jaminan bahwa "hanya ilmu
positif (sains)-lah yang pasti dan benar satu-satunya". Ilmu positif telah
dibuat menjadi pemegang kedaulatan mutlak atas kepastian dan kebenaran.
Positivisme awal yang menekankan pada segi-segi rasional-ilmiah, baik pada
tataran epistemologi maupun ontologi, akhirnya, direduksikan pada ilmu
positif yang dianggap mampu menerangkan kenyataan secara lengkap dan
sempurna. Reduksi dimaksud tidak hanya dalam ide atau pemikiran, tetapi
menembus sampai ke dalam inti kehidupan manusia dan alam secara total.
Auguste Comte, akhirnya, telah mereduksikan bukan hanya ilmu, tetapi
justru epistemologi itu sendiri ke dalam tuntutan-tuntutan Positivisme-nya
yang memiliki egoime sektoral di dalam ilmu-ilmu. Paham positivisme
keilmuan hanya mau dan mampu melihat manusia sebagai realitas bendawi,
tanpa mampu menjangkau segi-segi subyektivitas manusia dalam seluruh
lingkup pengalaman, kedudukan, atau penyikapannya yang luas, utuh, dan
menyeluruh. Pandangan Positivisme Comte yang begitu kuat terhadap
masalah-masalah sosial, membentuk pandangan epistemologi yang bercorak
pragmatis. Akibatnya, epistemologi positivisme ini hampir tidak mampu lagi
untuk menjangkau segi-segi historisitas manusia. Comte lupa bahwa segisegi sosio-historis manusia inilah yang mengantarkannya untuk melahirkan
pandangan, gagasan, serta cara berpikir, dan aspirasi-aspirasi baru yang
dinamis. Semua itu bersifat terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan baru di
dalam pengetahuan dan kehidupan yang terus bergerak maju dengan
berbagai kemungkinan yang serba baru dan berubah-ubah.
Comte justru telah menyingkirkan realitas sosio-historis, dan bahkan realitas
sosiologis itu sendiri di dalam teorinya. Comte lupa bahwa sebenarnya
sosiologi yang dicita-citakannya tidak memiliki hubungan dengan apa-apa,
baik dengan tradisi ontologi maupun ilmu-ilmu alam. Comte lupa bahwa
Sosiologi adalah bidang ilmu-ilmu historis-hermeneutis yang menyelidiki
bidang intersubyektif yang berubah-ubah. Sosiologi, karenanya, harus
berusaha memahami hal-hal yang terjadi di dalam pergaulan antarmanusia

dalam masyarakat. Perhatian Sosiologi bukan pada fakta mati melainkan


pendapat orang atas interaksi mereka. Hal yang mau dicapai dalam setiap
interaksi adalah pemahaman timbal-balik.
Michael Curtis (1981:147-152) menjelaskan bahwa sekurang-kurangnya
pandangan Auguste Comte ini telah memacu Progresivisme dan
Pragmatisme. Artinya, dengan mengartikan perkembangan sebagai
"kemajuan", Comte telah mempertebal rasa optimisme, malah lebih dari itu,
Comte telah memperkokoh mitos-mitos keilmuan modern. Munculnya
positivisme sebagai penentu kemajuan pengetahuan positif sekaligus telah
menggusur hakikat filsafat, sebagai kekuatan kritis-spekulatif dalam alam
keilmuan. Pengetahuan, akhirnya, menjadi sesuatu yang lebih bersifat
instrumental dan teknologis. Kemajuan pengetahuan atau masyarakat
dipahami semata-mata sebagai kemajuan fisik material. Ciri kemajuan
demikian itulah yang diterapkan sebagai sebuah kebutuhan primer dalam
epistemologi. Akibatnya, tidak ada pertautan dialektis antara filsafat dan
ilmu atau teori dan praksis, tetapi melulu hanya kegunaan praktis.
Ilmu bergerak secara linear mencari kegunaan praktis bagi suatu kemajuan.
Sebaliknya, aspek-aspek fundamental lain ditinggalkan, bahkan diabaikan
sebagai hal yang kosong dan sia-sia karena tidak memiliki kegunaan praktis.
Ciri kegunaan praktis tersebut kemudian dirasionalisasikan pada tataran
abstraksi sehingga mendapat legitimasi yang mutlak secara ideologis, dan
sekaligus menjadi alat represif. Akibatnya, tidak dapat dihindari terjadinya
krisis kemanusiaan dan krisis kosmologis sebagai hasil nyata dari kuatnya
pengaruh pemikiran tersebut. Akibatnya, Positivisme Auguste Comte telah
melahirkan pula sikap monistik dan deterministik atas realitas fisik material.
Praktisnya, "Positivisme" hampir tidak mampu menghayati manusia dalam
hakikatnya yang "monopluralis" (Notonagoro 1987:94-98), yaitu kesatuan
dan keutuhan dari unsur-unsur atau tarafnya yang majemuk tetapi sekaligus
manunggal. Unsur-unsur atau taraf kehidupan tersebut, meskipun
mempunyai aktualitas dan potensialitas sendiri-sendiri, namun tetap
menggambarkan realitas kemanusiaan secara utuh. Unsur-unsur tersebut,
karenanya, tidak mungkin direduksikan pada unsur-unsur atau taraf tertentu.
Penekanannya yang natural-deterministik dalam memahami proses
perkembangan pengatahuan dalam masyarakat tersebut telah
mengakibatkan kecenderungan sektoral yang kuat. Akibatnya, orang
memandang manusia maupun masyarakat alam sebagai hal yang harus
berkembang menurut proses-proses alami yang sifatnya linear dan
mekanistik. Kerangka pemahaman dan sikap ilmiah tersebut, telah
mendegradasikan manusia dari realitas keberadaanya yang monopluralis itu.
Ternyata, apa yang diartikannya dengan kemajuan hanyalah sesuatu yang
teknis sosiologis. Paradigma utamanya bersifat industrialis dan teknologis
yang memaksakan suatu model keseragaman (uniformitas). Akibatnya,

keseragaman ditempatkan sebagai "diktator kemanusiaan" yang tinggi atas


semua situasi kemanusiaan dan kelompok masyarakat. Paradigma tersebut,
terus bergerak maju secara linear dengan semangat penaklukannya tanpa
mempedulikan aspek kemajemukannya yang bersifat spesifik. Watak
Positivisme, yang dicirikan dengan mesin atau industri, ternyata telah
mempersenjatai pengetahuan sebagai sebuah "mesin perang" bagi
kepentingan penguasaan yang bersifat represif total.
Krisis sosio-historis atau krisis dialektika dalam epistemologi yang
memuncak pada zaman Positivisme ini justru muncul begitu tajamnya
pada Von Feuerbach. Feuerbach (1804-1872) sangat anti terhadap teologi.
Analisanya secara langsung menyentuh pada hakikat Tuhan. Ia memandang
bahwa Idealisme Kant maupun Hegel tidak lain adalah puncak Rasionalisme
yang masih dikungkung oleh teologi, karennya, tidak memberi kemajuan dan
kepastian apa pun terhadap manusia. Von Feuerbach sampai pada
kesimpulan yang sungguh drastis bahwa sumber penghambat segala
kemajuan ilmu, pengetahuan, maupun bidang lainnya adalah kepercayaan
kepada Tuhan.
Von Feuerbach menegaskan bahwa sesungguhnya segala konsepsi mengenai
Tuhan tidak lain adalah produk imajinasi manusia sendiri. Menindaklanjuti
pandangannya itu, ia menganjurkan agar kepercayaan kepada Tuhan itu
ditinggalkan saja. Empirisme sudah mengajarkan bahwa yang pasti dan
yang benar itu tidak lain adalah hasil pengamatan inderawi (sensibel).
Akhirnya, Von Feuerbach menandai gejala perubahan mandasar dari alam
lama ke alam modern sekular. Perubahan ini tidak hanya terbatas pada
sektor agama, akan tetapi sampai kepada Tuhan itu sendiri. Kenyataan ini
semakin ditandai oleh kemanunggalan antara Sekularisme dengan
Ateisme.
Positivisme Kontemporer" ternyata lebih tragis dalam mengembangkan
dirinya. Paham Positivisme ini bukan saja menampilkan dirinya sebagai
sebuah ajaran, tetapi lebih daripada itu sebagai sebuah sikap ilmiah dan
bahkan sikap hidup. Intinya adalah, pada keinginannya yang kuat untuk
membersihkan diri dari kepentingan-kepentingan praktis manusia yang
berubah-ubah. Positivisme Logis atau Neo Positivisme yang disebut
Positivisme kontemporer ini berusaha membangun suatu bentuk
pengetahuan ilmiah murni dan sejati dengan suatu sistem bahasa yang
universal. Aliran "Positivisme kontemporer ini dengan demikian
menempatkan dirinya pada puncak pembersihan pengetahuan dari
kepentingan manusiawi dan awal pencapaian cita-cita untuk memperoleh
pengetahuan demi pengetahuan.
"Positivisme Logis" menganggap ilmu atau pengetahuan mengenai fakta
obyektif sebagai ilmua atau pengetahuan yang sah. Melalui ini, aliran
Positivisme" ini berusaha mengakhiri riwayat ontologi atau metafisika.

Meskipun demikian, ternyata Positivisme tidak sanggup melepaskan diri


secara sungguh dari ontologi malah telah membentuk suatu ontologi baru
yaitu teori murni yang bebas dari kepentingan manusiawi.
Sosiologi atau ilmu-ilmu historis-hermeneutis pun, akhirnya, telah mengklaim
diri sebagai ilmu positivis dan memantapkan posisinya sebagai "ilmu ilmiah",
serta berusaha mengambil sikap sebagai teoretis murni. Akibatnya, Sosiologi
atau ilmu-ilmu sosial tersebut tidak lagi berusaha memahami hal-hal yang
terjadi di dalam pergaulan antarmanusia di dalam masyarakat. Sosiologi
tidak lagi memperhatikan pendapat-pendapat orang atas interaksi mereka,
atau pemahaman timbal-balik, tetapi terpaku pada fakta bendawi dan
rumusan teori murni yang mati.
Sikap positivistis yang dianut oleh Ilmu-ilmu sosial mengandung tiga
pengandaian yang saling berkaitan: Pertama, bahwa prosedur-prosedur
metodis ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan pada ilmu sosial. Setiap
gejala subyektivitas manusia, misalnya, kepentingan maupun kehendak
manusiawi, serta tingkah-laku sosial para subyek tidak mengganggu obyek
pengamatannya yang sesungguhnya. Akibatnya, obyek pengamatan ilmuilmu sosial disejajarkan dengan dunia alamiah. Kedua, hasil-hasil
penyelidikan itu dapat dirumuskan dalam bentuk "hukum-hukum" seperti
dalam ilmu-ilmu alam. Ketiga, ilmu-ilmu sosial harus bersifat teknis, yang
menyediakan pengetahuan yang bersifat "instrumental murni". Pengetahuan
demikian, harus digunakan untuk keperluan apa saja sehingga harus
dibersihkan dari unsur etis dan tidak terikat pada dimensi politis manusia.
Teori sosial, seperti ilmu-ilmu alam, bersifat netral dan bebas nilai.
Sejarah filsafat mencatat bahwa, "Positivisme kontemporer" ini lebih
ditonjolkan dalam pemikiran Lingkungan Wina. Kelompok tersebut dikenal
dengan "Positivisme Logis" atau "Empirisme Logis, atau juga "Neo
Positivisme". Sama seperti Comte, aliran tersebut juga bercita-cita untuk
menghasilkan suatu sistem pengetahuan yang terpadu yang disebut
pengetahuan sejati umat manusia. Mereka menolak perbedaan antara ilmuilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial dan berpendirian bahwa, membangun
suatu kesatuan keilmuan merupakan tugas sejarah filsafat.
Menurut Positivisme Logis, tugas filsafat adalah menganalisis kata-kata atau
pernyataan-pernyataan dan untuk membuktikan arti atau maknanya. Mereka
dengan begitu ambisi berusaha mengusahakan suatu sistem tunggal dalam
suatu sistem konseptual, yaitu suatu bahasa bagi semua ilmu. Akibatnya,
pengetahuan hanya dipahami sebagai urusan permainan bahasa belaka.
Menurut mereka, bahasa bagi ilmu pengetahuan terpadu itu adalah bahasa
positivistis, yaitu tuntutan-tuntutan tentang fakta obyektif. Prinsipnya, di luar
ucapan-ucapan positivistis, segala hal lain (misalnya; tuntutan-tuntutan
moral, ucapan-ucapan estetis, dan keyakinan) tidak bernilai karena tidak
dapat diverifikasikan. Pandangan demikian, patut ditanggapi secara kritis

sebagai sebuah usaha saintisme yang tidak memahami hakikat ilmu sebagai
suatu bentuk pengetahuan, tetapi telah menyamakannya dengan
pengetahuan itu sendiri.
Pengaruh Positivisme dalam keilmuan modern secara luas dan mendasar
membentuk berbagai aliran pemikiran dan keilmuan yang sangat
berpengaruh dalam kehidupan kultur modern. Positivisme telah membawa
pula pengaruh teknologi yang terasa penting dalam epistemologi. Teknologi
ternyata sangat mewarnai problem keilmuan modern dan secara khusus
perkembangan sistem pengetahuan modern. Umumnya, perkembangan ilmu
dan teknologi berjalan secara terpisah, namun setelah perkembangan
Positivisme maka terjadi pembauran di antara keduanya. Tuntutan
pembauran ini didasarkan pada kebutuhan akan peningkatan alat ukur untuk
mencapai kepastian yang makin sempurna dalam rangka pengetahuan
ilmiah.
Secara implisit, perkembangan teknologi selalu mempunyai pendasaran
epistemologis yang sifatnya implisit di dalamnya. Selanjutnya, setelah
perkembangan modern maka pertumbuhan teknologi makin mengungkapkan
aspek epistemologis secara lebih eksplisit. Melalui ini, orang dapat berbicara
mengenai teknologi sebagai bagian dari pertumbuhan epistemologi.
Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa teknologi makin terkait
dengan proses industrialisasi tetapi juga makin terpadu dengan
perkembangan ilmu. Eksperimen tidak saja di bidang ilmu-ilmu alam, tetapi
juga di bidang biologi dan bahkan psikologi. Akibatnya, terjadilah perpaduan
antara perkembangan ilmu dengan teknologi. Profesi keilmuwan, akhirnya,
banyak terkait dengan perkembangan teknologi.
Martin Heidegger mengkritik problem teknologi dalam pengetahuan dengan
menunjukkan bahwa: Teknik dapat menamatkan metafisika" dan sekaligus
menunjukkan sebuah ontologinya yang khas, yaitu benda atau obyek.
Jelasnya, bila dalam Abad Pertengahan manusia dipandang dan diakui
derajatnya sebagai "makhluk" maka sebaliknya dalam teknologi, manusia
dipandang sebagai benda atau materi yang siap ditangani, dikuasai, dimiliki,
dan dimanipulasi. Baginya, manusia, masyarakat, moral, dan etik, adalah
obyek materi atau sekedar sebagai bahan mentah bagi suatu penanganan
teknologis.
Problem teknologi dalam epistemologi modern ternyata merupakan proses
radikal terhadap rezim Positivisme. Martin Buber menunjukkan bahwa
dalam situasi demikian, hubungan antarmanusia bersifat hubungan "AkuEngkau", dirubah menjadi "Aku-Itu" yang ditandai dengan nafsu eksploitasi,
manipulasi, dan rekayasa atas diri sesama manusia (Bertens 1983:155-164).
Menurut pendapat umum, teknik biasanya mempunyai fungsi instrumental.
Teknik dalam hal ini dipandang sebagai sarana yang digunakan manusia.
Ternyata, justru dalam teknologi justru ditemui hal yang sunguh berlainan.

Kenyataan ini disebabkan karena apa yang dirancang manusia sebagai


sarana untuk menguasai dunia, menjadi sukar dikuasai sendiri, malah tidak
dapat dikuasai. Anehnya, apa yang diciptakan manusia untuk menguasai
dunia, sekarang telah berbalik menguasai dirinya sendiri. Kini, manusia
ditempatkan dalam keadaan itu, sehingga manusia secara riil dikuasai oleh
teknik. Akibatnya, manusia tidak lagi memiliki kebebasan dan kekhasan diri
sebagai "ego" atau "subyek", ia adalah obyek yang dikuasai.
Prinsipnya, dalam teknologi, manusia terseret ke dalam dunia mekanisme
yang kaku dan ketat. Akibatnya, manusia terasa tidak mampu lagi untuk
memandang hal-hal lain yang merupakan misteri-misteri kehidupan yang
bersifat hakiki. Bahayanya adalah, bahwa manusia akan kehilangan hakikat
kemanusiawiannya yang memiliki keterarahan pada kepenuhan
eksistensinya. Khusus, dalam hal ini, manusia akan kehilangan kepekaan
dalam mendengarkan perubahan-perubahan dan berbagai fonomena misteri
yang kiranya akan datang. Harus diakui, manusia tetap membutuhkan
teknologi sebagai sarana (bukan tujuan) pengembangan hidup, namun,
teknologi itu sendiri harus terbuka pada pembaharuan dan pemurnian secara
terus-menerus atas prinsip kemanusiaan. Melalui itu, teknologi dapat
berperan dalam tugas kemanusian yang sifatnya utuh.
Salah satu ciri perkembangan keilmuan modern yang begitu berkembang
pada abad XX (abad kedua puluh), yaitu, lahirnnya ilmu-ilmu baru yang
tampaknya bebas, seperti; logika formal, Linguistik (ilmu bahasa), teori
tanda, Ilmu perilaku (Behaviour science) yang menggabungkan berbagai
ilmu seperti, sosiologi dan antropologi untuk menelaah perilaku manusia,
serta ilmu anatoni sosial (Social anatomy Science), Antropologi ragawi, dan
Ethology (ilmu tentang pola perilaku organisme). Terlihat, bahwa desakan
pemisahan ilmu-ilmu modern dari filsafat karena perbedaan ciri-cirinya yang
sangat menyolok. Filsafat, pada dirinya bersifat (berciri) spekulatif,
sementara ilmu-ilmu modern berciri empiris, dengan menerapkan metode
empiris, eksperimental, induktif, dan positivistik. Ciri empiris itulah yang
membentuk ciri umum dunia keilmuan modern.
Akibatnya, dunia keilmuan modern cenderung menganggap, bahwa ilmuilmu sosial dan psikologi, untuk diakui keabsahannya secara ilmiah maka
harus pula menggunakan metode-metode empiris eksperiental, yang isinya
terbatas pada data-data yang dapat dibuktikan dengan fakta pengamatan
serta generalisasi dan aplikasi.
IV. Zaman Abad Post Modern (Pembaharuan atas klaim-klaim keilmuan
modern).
Jurgen Habermas, sebagai filsuf dan pemikir abad Post modern (abad
kontemporer) tampil bersama para filsuf kritis dalam komunitas Teori Kritis.

Habermas ingin membaharui pandangan keilmuan modern dalam sebuah


pendekatan kritis. Menurutnya, keilmuan modern telah terjebak dan
kebekuan dan kemandekan klaim-klaim Posistivisme sempit, yang
cenderung membatasi ilmu pada gejala alam, tanpa berusaha melihat
dimensi sosiologi keilmuan itu sendiri.
Menurut Habermas, sejarah besar imu sosial menunjukkan adanya tiga
momen pemikiran yang sekaligus menggambarkan tiga periode kritis di
dalam sejarah ilmu sosial itu sendiri. Ketiga momen kritis dalam sejarah ilmu
sosial itu digambarkan dalam skema pemikiran berikut;
(1). Ilmu Sosial Positif (Habermas 1972:72-90, bdk. Horkheimer dan Adorno
1969: 18-80). Umumnya, para analisis sejarah menyebut penganut aliran ini
dengan Positivist social science (PSS). Momen pemikiran pertama inilah
yang meletakkan dasar-dasar Ideologi Positivisme baik pada tataran
substansial maupun cara kerja atau metodenya pada alam pengembangan
ilmu-ilmu sosial. Kenyataan tersebut telah mempengaruhi periode-periode
pengembangan ilmu sosial di kemudian hari, dan mencetakan pada sebuah
watak positivis yang khas.
Positivist social science (PSS) ini lebih merupakan sebuah perlawanan radikal
terhadap pemikiran ilmu sosial sebelumnya yang bersifat spekulatif dan
metafisik (perenial). Ambisi ilmu sosial positivis ini adalah menyusun sebuah
tatanan masyarakat baru yang disebutnya sebagai masyarakat positif. Tipe
masyarakat positif idaman adalah masyarakat modern-maju yang
mengembangkan diri secara ketat di bawah dominasi ilmu dan industri
sebagai spirit sosialnya.
Menurut penganut aliran ini, orang harus mengabdi pada prestasi
intelektualitas yang luhur tanpa harus dipengaruhi oleh kekuatan atau
keyakinan lain di luarnya yang tidak memiliki jaminan yang pasti. Akibatnya,
hilanglah makna nilai, etika, dan unsur-unsur subyektifitas seperti rasa cinta,
persahabatan sejati, dan pengharapan di dalam diri manusia. Unsur-unsur itu
harus ditinggalkan di dalam masyarakat positif karena tidak memiliki
obyektivitas dan bahkan tidak bermakna, sebab dapat menghambat
progres.
Ilmu Sosial Positif , akhirnya, menyeret manusia atau masyarakat positif
untuk jatuh ke dalam bahaya Materialisme dan Hedonisme, tanpa
bersikap kritis terhadapnya. Humanitas yang ingin diperjuangkan bukanlah
humanitas yang utuh tetapi humanitas yang terpengal-penggal. Manusia
atau masyarakat positif harus memutuskan hubungannya dengan masa
lalunya, dinamika kejiwaannya, dan tuntutan-tuntutan sosialnya yang luas
dan komplementer. Selanjutnya, manusia positif seakan hidup di bawah arus
determinasi dan penguasaan total ilmu dan teknologi atas nama kemajuan.

Hakikat pluralitas manusia yang kaya digantikan dengan monisme yang


kering serta tekanan yang begitu kuat terhadap the human affairs.
Ambisi ilmu sosial positivis telah mengubah aspirasi dan otonomi, serta cinta
kemanusiaan menjadi sebuah anarkhisme dan perbudakan atau kediktatoran
yang menindas. Muncullah kecenderungan anarkhis yang kuat dalam diri
manusia positivis sehingga orang merasa bebas berbuat atau bertindak
sendiri dan mencari jalan sendiri (laissez faire, laissez aller). Hukum evolusi
yang kemudian diperkuat dengan semboyan struggle for life dan survival of
the fittest telah memaksakan orang untuk berjuang habis-habisan demi
hidup atau demi kekuasaan, tanpa cinta kasih atau pengampunan.
Dewasa ini pun, kita semakin terus menyaksikan adanya keganasan, teror,
peperangan, kejahatan, kekerasan, dan penganiayaan terhadap
humanitas. Pendeknya, di dalam orde masyarakat positivis ini, manusia
membendakan dirinya secara total serta menempatkan diri sebagai
bawahan bagi sebuah sistem kekuasaan ilmu atau teknologi yang anonim.
(2). Ilmu Hermeneutika Sosial (Habermas 1972:140-186). Aliran pemikiran ini
dikenal dengan Interpretative social science (ISS). Ciri pemikiran ini
dipelopori oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan Max Weber (1864-1920).
Dilthey maupun Weber mengembangkan ciri pemikiran ini sehubungan
dengan kecemasannya yang begitu besar terhadap ciri pemikiran
positivisme sosial sebelumnya. Menurut penganut Interpretative social
science (ISS), orde Positivisme telah begitu kuat mendeterminasi dan
membelenggu manusia sebagai benda sosial yang tidak otonom.
Kritik Interpretative social science (ISS) atas ilmu-ilmu sosial positivis
dilakukan dengan menunjukkan sebuah pendekatan baru yang bersifat kritis
atas pemikiran Positivisme sosial dan kehidupan sosial itu sendiri. Caranya
adalah, dengan metode hermeneutik atau penafsiran atas ide dan tindakantindakan sosial. Bagi para penganut ISS, tindakan-tindakan sosial itu
tercermin di dalam sejarah, serta tindakan pelaku invidividu yang aktual.
Tindakan-tindakan sosial atau ide tindakan sosial itulah yang menjadi dasar
untuk mengkonstruksikan teori sosialnya. Cara itu dilakukan dengan
mempelajari perilaku sosial yang bermakna untuk menunjukkan segi-segi
subyektif kegiatan antarpribadi dalam kompleksitas hubungan sosial yang
menyusun sebuah masyarakat. Akhirnya, Interpretative sosial science
mengartikan teori sosialnya sebagai interpretasi tingkah laku sosial. Menurut
penganutnya, melalui cara yang demikian, orang akan memperoleh
pengetahuan yang memadai mengenai ciri dan keanekaragaman
masyarakat.
(3). Sosiologi Kritis. Periode pemikiran ini lebih dikenal dengan
Interpretative social science (ISS) (CSS). Arus pemikiran ini lebih
merupakan sebuah kritik pembaharuan atas isi pemikiran dan suasana

intelektual teori sosial sebelumnya yang dipandangnya sebagai anti


demokratik dan non humanis. Horkheimer (1969:ix) secara tegas menyebut
teori sosial sebelumnya itu sebagai Social discrimination. Alasannya,
karena teori-teori tersebut telah memanipulasi masyarakat dengan
penelitiannya yang sengaja mengambil dan memanipulasi suara terbanyak
untuk membenarkan maksud-maksud politiknya dalam rangka
mendiskriminasikan kelompok masyarakat minoritas. Kenyataan yang sama
dijumpai juga pada Hermeneutika sosial Max Weber yang cenderung
melanggengkan dominasi kapitalisme melalui teori bebas nilai-nya.
Habermas dengan Interpretative social science (ISS), memandang bahwa
kedua momen pemikiran sebelumnya itu telah mencetakkan sebuah tragedi
agung di dalam pemikiranya yang dilegitimasi di dalam sebuah rasio yang
pincang dan cacat. Sebagai tokoh utama dalam garis pemikiran ini,
Habermas berusaha memecahkan persoalan-persoalan sosial dewasa ini
dengan mengaitkan pemikirannya pada persoalan pemikiran dalam dua
periode sejarah sebelumnya.
Habermas tidak bermaksud membuang pemikiran-pemikiran sebelum,
namun berusaha untuk mencari inspirasi padanya serta mengkritik dan
mengembangkannya di dalam sosilogi kritis. Ada tiga tokoh pemikir yang
menginspirasi dan menggerakkan pemikiran Habermas, yaitu Marx, Weber,
dan Freud (Habermas 1972: 43-47, 52-54). Habermas sepaham dengan Karl
Marx mengenai evolusi Kapitalisme dan kontradiksi yang terdapat di dalam
perkembangan tersebut, serta memahami konsekuensinya untuk kehidupan
pribadi dan sosial. Meskipun demikian, Habermas menaruh kritik yang cukup
tajam terhadap pemikiran Marx dan mengusulkan adanya rekonstruksi atas
materialisme historisnya.
Karyanya Theory and Practice (1974) menunjukkan fakta kekeliruan Marx
dan sekaligus menunjukkan kritik pembaharuannya atas empat orde
perkembangan sosial yang dirancang Marx dalam mewujudkan citra
masyarakat Komunis yang diidealkannya. Akhirnya, Habermas mengusulkan
struktur refleksi-komunikasi atau rasio-komunikasi sebagai jalan untuk
mewujudkan masyarakat emansipasi yang dituju. Sasaran utama Habermas,
dalam hal ini, adalah terciptanya komunikasi yang emansipatoris. Justru
itulah, teori sosial hendaknya mempunyai corak pendekatan dan wilayah
yang sama sekali lain dari ilmu-ilmu alam. Pandangan inilah yang
menyebabkan Habermas menolak pendekatan ilmu sosial positivis (PSS)
maupun rasionalitas berdimensi tunggal di dalam ilmu-ilmu sosial
interpretasi (ISS). Konsekuensinya, ia harus membangun sebuah proyek
pemikiran yang khas dalam rangka merealisasikan maksudnya tersebut.
Konsekuensinya, Habermas memadukan di dalam dirinya dua perhatian
pokok yaitu minat pada realitas sosial maupun pada bidang kefilsafatan
untuk membahas pertautan antara pengetahuan dengan fenomena-

fenomena sosial, sebagai sebuah proyek pemikiran yang tetap terbuka. Hal
ini diakibatkan oleh keinginannya untuk mengembangkan sebuah sosiologi
kritis yang disebutnya sebagai kritik ideologis.
Melalui pidato pengukuhannya sebagai guru besar di Universitas Frankfurt
Habermas berusaha mengembalikan ilmu pada posisinya sebagai salah satu
(bukan satu-satunya) bentuk pengetahuan yang mungkin mengenai
kenyataan. Habermas menunjukan bahwa situasi keilmuwan tersebut
membutuhkan suatu pandangan kritis dari ilmu-ilmu sosial. Pandangan kritis
tersebut berfungsi untuk meneropong kepentingan-kepentingan penguasaan
yang tanpa disadari telah menjerumuskan teori-teori positivis itu ke dalam
bahaya. Tegasnya, Ilmu-ilmu sosial kemanusiaan tidak boleh mengacu pada
ilmu-ilmu alam. Harus dikatakan bahwa ilmu-ilmu manusia mempunyai nilai
yang khas dan, karenanya, sama sekali lain dari ilmu-ilmu alam dimaksud.
Model keilmuan itu berdasarkan logika interaksi atau logika hermeneutis
(Bertens 1983:219). Melalui itu, Habermas berusaha merancang suatu
konsep tentang ilmu yang terarah kepada praksis dengan diberikan tempat
penting bagi logika dialektis bertegangan atau logika komunikasi
intersubyektif sebagai latar belakang hermeneutika. Menurutnya, hal
terpokok dalam model interaksi ialah selalu ada kepentingan yang melekat
tetapi bukan kepentingan penguasaan melainkan kepentingan untuk saling
pengertian dan komunikasi. Inti komunikasinya pada dialog yang
berlangsung dalam suasana yang penuh saling pengertian dan saling
pengakuan antarsubyek yang terlibat di dalamnya.
Melalui dialog yang langsung dalam suasana saling pengertaian dan
pengakuan atas kebebasan itu, diusahakan agar ditaklukkan adanya
kemungkinan-kemungkinan teknologis pada humanitas atas nama
kebenaran ilmu atau kemajuan apa pun. Komunikasi dialogis yang bebas
penguasaan ini dianggap oleh Habermas sebagai ruang lingkup sehingga
orang harus mencari persepakatan hipotetis tentang tujuan-tujuan yang
dapat diakui semua orang dalam mewujudkan humanitas itu. Praktisnya,
potensi teknologis harus diatur sedemikian rupa sehingga manusia dapat
dibebaskan dari segala paksaan untuk menaklukkan seluruh kehidupannya
kepada produksi sosial (industri sosial) yang sistematis. Perubahan ke arah
kebebasan dalam teknologi itu, merupakan syarat fundamental untuk
memungkinkan dialog bebas-penguasaan sehingga warga masyarakat dapat
mengambil bagian dengan hak yang sama dengan cara saling mengakui
satu sama lain. Habermas, dalam hal ini, menggantikan kedudukan kaum
proletar dengan ilmuwan yang melibatkan diri di dalam proses ilmiah.
Jelas terlihat bahwa Habermas berusaha membangun sebuah optimisme
yang tinggi atas ilmu dan teknologi, bahkan rasio itu sendiri dengan visi
perbaikannya secara radikal. Baginya, ilmu dan teknologi merupakan daya
kreatif yang sungguh penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Ilmu

dan teknologi lah yang merupakan faktor yang jelas dalam menentukan
keadaan dan perkembangan masyarakat. Tugas tersebut itulah yang harus
dimengerti oleh para ilmuwan itu sendiri. Ilmu dan teknologi merupakan
spesies-spesies pengatahuan yang mesti ditempatkan pada sebuah ajang
pertautan dialektis yang luas dan mendasar. Pertautan tersebut mengarah
pada konteks kemanusiaan yang utuh dan menyejarah serta emansipatif.
Sebagaimana teori, Habermas menunjukkan bahwa ilmu pun harus
dipertautkan dengan praksis. Habermas dalam hal ini menghubungkan
praksis dengan kritis-emansipatoris karena ia mau mengembangkan dan
menyusun secara baru struktur-struktur masyarakat dengan meniadakan di
dalamnya segala unsur yang bersifat represif. Subyek yang menjlankan
praksis itu adalah umat manusia yang sedang menuju ke masa depan yang
baru. Sehubungan dengan itu, emansipasi atau pembebasan manusia di
dasarkan pada suatu kepentingan, karena bila tidak demikian maka praksis
tidak dapat bersifat kritis sebab tidak dapat dijelaskan sesuatu daripadanya.
Habermas dengan ini bermaksud menunjukkan bahwa, sikap teoretis
keilmuan selalu diresapi dan dijuruskan oleh kepentingan-kepentingan
manusiawi.
Habermas memandang pula bahwa rasio instrumental yang menghasilkan
ilmu-ilmu teknis melalui tindakan instrumental merupakan realisasi suatu
kepentingan kemanusiaan. Kenyataan tersebut diakibatkan oleh prosesproses kognitif yang merupakan proses kehidupan. Proses tersebut itulah
yang memotivasikan tindakan instrumental untuk memenuhi suatu
kebutuhan akan sukses yang mengarah pada pemecahan masalah
kehidupan, baik yang bersifat empiris (sosial aktual) maupun kognitif
transendental.
Paham keilmuan Habermas selalu berusaha memahami kepentingan
manusia secara dialektis bertegangan antara aspek empiris (sosial aktual)
dan transendental. Kedua jenis kepentingan tersebut mengarah
padakepentingan kognitif atau kepentingan konstitutif pengetahuan.
Habermas menunjukkan bahwa, karena kepentingan konstitutif bagi
pengetahuan itu bersifat empiris-transendental maka tidak terpisahkan dari
konteks kehidupan manusia. Meskipun demikian, pengetahuan itu sekaligus
melampaui realitas konstitutif tersebut (Habermas 1972:179, 312). Tegasnya,
Habermas dengan ini menolak adanya reduksi ilmu atau pengetahuan pada
satu kutub, entah empiris atau transendental. Baginya, pemutlakkan aspek
empiris dalam pengetahuan akan menyesatkan karena bersifat deterministis.
Habermas, untuk itu, membedakan tiga jenis ilmu dengan pamrihnya
(interest) masing-masing.
Pertama, ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris-analitis dengan
kepentingan penguasaan teknis. Ia menunjukkan bahwa ilmu-ilmu alam
tersebut menyelidiki dan mendeskripsikan gejala-gejala alam secara empiris

dan menyajikan hasil penyelidikan tersebut untuk kepentingan-kepentingan


manusia. Teori-teori ilmiah disusun agar daripadanya dapat diturunkan jenis
pengetahuan terapan yang bersifat teknis. Pengetahuan teknis tersebut
menghasilkan teknologi sebagai upaya manusia untuk mengelola dunia atau
alamnya. Melalui ilmu-ilmu alam yang demikian, ditunjukkan aspek
pekerjaan (labor) dalam sosialitas manusia, sedang kepentingan manusia
yang terkandung di dalam ilmu adalah ramalan dan pengawasan (prediction
and control) alam. Jelasnya, letak kepentingan teknis ilmu-ilmu empirisanalitis dimaksudkan sebagai pelaksanaan rasio-instrumental untuk
kepentingan-kepentingan hidup alami.
Hubungan dengan alam melalui kerja adalah hubungan penguasaan atau
hubungan subyek-obyek yang bersifat satu arah. Pendeknya, diperlukan
komunikasi atau konsensus antarilmuwan untuk mencapai kebenarankebenaran ilmiah yang tidak hanya dalam bentuk logika penelitian tetapi
melampauinya. Tahap inilah yang akan dicapai dalam ilmu-ilmu historishermeneutis.
Kedua, ilmu-ilmu historis-hermeneutis yang menurut Habermas mempunyai
kepentingan kognitif-hermeneutis. Ilmu-ilmu historis-hermeneutis ini tidak
sekedar menyelidiki sesuatu atau menghasilkan sesuatu, melainkan
memahami manusia sebagai manusia yang memiliki sesama dan hubunganhubungan sosial aktual dan dinamis. Berbeda dengan ilmu-ilmu alam di atas,
golongan ilmu kedua ini berusaha mengobyektivikasi pengalaman secara
utuh tanpa reduksi atau pembatasan. Apa yang menjadi bahan studi ilmuilmu ini adalah pengalaman-pengalaman pra-ilmiah, yang berupa
pengalaman harian. Pengalaman-pengalaman tersebut lebih dialami dari
dalam, sehingga subyek berpartisispasi dengan obyeknya. Jalan yang
ditempuh untuk membangun jenis pengetahuan ini adalah bukan melalui
eksperimen melainkan interpretasi atas konfigurasi pemahaman makna
dalam teks.
Tujuannya, untuk menemukan pengertian dan pemahaman secara luas dan
mendalam akan persoalan yang menjadi bidang hidup atau konteks
hidupnya. Subyek dalam hal ini berusaha memahami ekspresi-ekspresi
kehidupan seperti bahasa tindakan dan bahasa sehari-hari. Konsekuensinya,
pengujian hipotesis harus digantikan dengan penafsiran teks. Akhirnya,
hubungan antara subyek-obyek digantikan dengan subyek-subyek
(intersubyektif).
Penegasan Sosio-epistemologi terhadap sifat historis manusia
memperlihatkan adanya daya misteri atau daya perkembangan obyek
manusia yang diselidiki. Hasil yang diperoleh dari ilmu-ilmu hitorishermeneutis ini adalah kemampuan komunikasi, saling pengertian, dan
saling memahami. Tegasnya, hermeneutika berfungsi untuk menghindari
bahaya kemacetan komunikasi intersubyektif, serta kemacetan komunikasi

di dalam sejarah hidup individu maupun tradisi sosial tempat ia hidup.


Melalui hermeneutik dapat dipertautkan antara tradisi-tradisi yang berbedabeda dari para individu, kelompok, atau kebudayaan.
Jelas terlihat bahwa, pemahaman hermeneutis ini pun dibimbing atau
diarahkan oleh suatu kepentingan manusiawi juga. Kepentingan manusiawi
ini mengarahkan subyek pengetahuan pada kesadaran tentang dimensi
sosial di dalam pengetahuannya itu sendiri. Kepentingan itu adalah
kepentingan konstitutif bagi pengetahuan yang menentukan syarat-syarat
obyektivitas bagi pengetahuan. Akibatnya, kepentingan tersebut hendaknya
selalu mengarahkan tindakan pemahaman ke dalam tingkah-laku praksis
dalam bentuk tindakan-tindakan komunikatif.
Ketiga, ilmu-ilmu kritis yang mempunyai kepentingan emansipatoris. Melalui
bantuan psikoanalisa dan kritik ideologi, ilmu-ilmu kritis berusaha
membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya
sendiri. Pemikiran kedua kelompok ilmu sebelumnya menunjukkan bahwa,
tidak ada keterkaitan langsung antara tindakan mengetahui dan penggunaan
pengetahuan yang dihasilkannya. Tuntutan kedua bentuk pengetahuan
tersebut adalah untuk mencapai taraf teoretis murni yang didasari oleh
usaha rasio sendiri untuk membebaskan diri dari kondisi-kondisi empiris
yang berubah-ubah. Ia mengemukakan bentuk pengetahuan yang ketiga
yang mau tidak mau mengaitkan pengetahuan atau teori dengan
kepentingan praktis secara langsung, yaitu, refleksi diri. Jelasnya, bila
dibandingkan dengan kedua kepentingan yang lain, kepentingan
emansipatoris bersifat derivatif dan mendasari semua jenis ilmu.
Skema pemikiran Sosio-epistemologi Habermas, akhirnya, memperlihatkan
bahwa jika direfleksikan kedua bentuk pengetahuan ilmiah yang dibimbing
oleh kepentingan teknis dan praktis maka akan disadari bahwa keduanya
dihasilkan oleh rasio yang bertujuan membebaskan diri dari kendala-kendala
alami dan kendala-kendala interaksi sosial. Artinya, kepentingan teknis atau
praktis diasalkan dari kepentingan emansipatoris. Ketika pernyataanpernyataan teoretis yang dihasilkan, kedua kepentingan itu membeku
menjadi ideologi, kepentingan emansipatoris membimbing refleksi diri untuk
menghancurkan dogmatisme dan ideologi dalam berbagai perwujudannya.
Baginya, dogmatisme adalah kesadaran yang tidak direfleksikan atau
kesadaran yang tidak disadari. Marx menyebutnya sebagai kesadaran palsu
atau ideologi. Orang yang berada dalam kungkungan dogmatisme tidak akan
mampu menghimpunkan kekuatannya untuk melakukan refleksi-diri,
bahkan ia membuat dirinya sendiri sebagai benda.
Melalui langkah pengintegrasian psikoanalisis ke dalam Teori Kritis-nya,
Habermas bermaksud menjelaskan bahwa refleksi diri menjadi kegiatan
kognitif atau kegiatan ilmu dan teknologi. Refleksi diri membebaskan subyek
dari jerat ketergantungan pada kekuatan-kekuatan yang sudah

dihipotesiskan dan berlaku umum. Bagi Habermas, proses tersebut


dikondisikan oleh suatu kepentingan emansipatoris. Bentuk pengetahuan ini
erat kaitannya dengan proses pembentukan diri manusia sebagai individu
maupun lewat kebersamaannya dalam suatu komunitas. Fichte menjelaskan
bahwa semua bentuk pengetahuan secara hakiki mengandaikan kebutuhan
akan kebebasan. Kebebasan itulah yang seterusnya memungkinkan manusia
mencapai otonomi dan tanggung jawab. Artinya, semua bentuk pengetahuan
didorong oleh kepentingan emansiptoris dan tanggung jawab secara luas
dan mendasar.
Skema Sosio-epistemologi tersebut memperlihatkan adanya tindakan rasio
yang menyebabkan ego membebaskan diri dari dogmatisme atau kesadaran
palsu. Tindakan rasio itulah yang disebut sebagai refleksi-diri. Melalui
refleksi diri, ego menjadi transparan terhadap dirinya sendiri dan terhadap
asal-usul kesadarannya sendiri. Akhirnya, melalui skema pemikiran Sosioepistemologi ini terlihat suatu pertautan dialektis antara refleksi diri dan
tindakan emansipatif atau praksis. Artinya, di dalam kegiatan refleksi
sebagai suatu kegiatan kognitif, orang sebagai ego tidak hanya memiliki
kesadaran baru tentang dirinya sendiri, melainkan kesadaran baru itu juga
terus mengubah hidup eksistensialnya sendiri. Kenyataan tersebut, bagi
Habermas, merupakan tindakan emansipatoris. Alasannya, bahwa di dalam
refleksi diri maka kesadaran dan tindakan emansipatoris benar-benar
menyatu. Rasio itu sendiri secara langsung menjadi praksis di dalam refleksi
diri sebagai kegiatan kognitif manusia.
Habermas, dalam hal ini, menjelaskan bahwa refleksi-diri adalah intuisi
sekaligus emansipasi, pemahaman sekaligus pembebasan dari belenggu
dogmatis (Habermas 1972:208). Refleksi-diri adalah kegiatan kognitif yang
memuat kekuatan emansipatoris. Kegiatan tersebut di dorong oleh
kepentingan yang melekat di dalam rasio manusia itu sendiri, yakni
kepentingan emansipatoris. Akhirnya, tindakan emansipatoris, mendahului
refleksi-diri sebagaimana kepentingan itu merealisasikan dirinya di dalam
kekuatan emansipasi yang dihasilkan melalui refleksi-diri. Habermas (1972:
209,314) secara tegas mengatakan bahwa sebenarnya: Dalam kekuatan
refleksi-diri, pengetahuan atau ilmu dan kepentingan adalah satu.
Penegasannya ini menunjukkan bahwa, kepentingan emansipatoris yang
membimbing rafleksi-diri ini bersifat konstitutif baik bagi ilmu, pengetahuan
maupun bagi praksis. Praksis sosial dalam pandangan Habermas dapat
diwujudkan di dalam dua hal yaitu, kerja dan komunikasi. Inti kedua hal
tersebut adalah pada pembebasan manusia secara total dan kedewasaan
dalam bertanggungjawab. Singkatnya, Habermas bermaksud menjelaskan
bahwa kepentingan teknis dan kepentingan praktis kegiatan-kegiatan
kognitif itu berakar pada kepentingan rasio itu sendiri, yaitu kepentingan
emansipatoris.

(4). Komunikasi Rasional (Habermas 1992:314-326). Habermas berusaha


mengatasi kebuntuan pemahaman para pendahulunya mengenai konsep
rasionaliasasi yang bersifat timpang. Misalnya, Max Weber (penganut Teori
Tradisional) yang memahami Rasionalisasi secara empiris sehingga telah
menempatkan rasio sebagai proses tindakan-tindakan bertujuan yang
berlaku normatif (umum). Kecenderungan yang sama terdapat pula dalam
pemikiran Herbert Marcuse (penganut Teori Kritis) yang hanya membatasi
pandangan kritisnya atas rasionalisasi teknologis. Bagi Habermas, pemikiranpemikiran mengenai rasionalisasi di atas bersifat timpang karena cenderung
dilepaskan dari konteksnya yang sesungguhnya, yaitu interaksi atau
komunikasi. Menurutnya, letak watak ideologis dan teknokratis
rasionalisasi justru pada pengabaian aspek interaksi atau aspek praksis-nya.
Pengabaian dimaksud, akhirnya, telah menjerumuskan rasio pada sebuah
kesadaran yang hanya bersifat teknokratis, ideologis dan birokratis.
Habermas menunjukkan bahwa kebekuan dan kebuntuan konsep
rasionalisasi tersebut harus diatasi dengan menunjukkan pada potensi
komunikasi dari rasio itu sendiri.
Menurutnya, sejarah manusia adalah sejarah yang menuju kepada
masyarakat yang semakin rasional. Masyarakat rasional tersebut
menentukan diri melalui komunikasi argumentasi dan pembebasan diri
secara total dan radikal diri dari kekuasaan atau kenikmatan rasio
teknologis.. Ciri rasionalitas itu lah yang semakin mematangkan eksistensi
mereka sebagai masyarakat rasional modern. Masyarakat rasional, bukan
bersifat pesimistik, sebab selalu berusaha mengatasi dan melampaui
realitasnya dengan mengangkatnya pada taraf kehidupan yang lebih
memadai melalui komunikasi rasional intersubyektif yang mengarah pada
praksis. Masyarakat rasional itulah yang merupakan realisasi sejati dari citacita pencerahan.
Struktur rasionalitas masyarakat yang terinstitusionalisasi lewat kebudayaan
yang merupakan proses-proses belajar masyarakat pada tingkat yang lebih
tinggi. Jadi, evolusi sosial dan proses belajar masyarakat memiliki fungsi
perintis dalam pengembangan kehidupan masyarakat rasional. Proses
tersebut akan semakin terbuka untuk meneropong bahaya perbudakan
irrasionalitas yang bersembunyi di balik pluralisme dan toleransi dangkal
yang sama besarnya dan jauh lebih tajam. Kenyataan seperti itulah yang
dinyatakan di dalam orientasi pemikiran yang secara sistematis berusaha
membentuk kesadaran palsu individual yang anarkhis, menghendaki
perbedaan, primordialis, dan anti-sistem, namun akhirnya, mengarah pada
pengingkatan stabilitas sistem kekuasaan dan memperkuat struktur-struktur
kekuasaan yang represif (bdk. Johnsos. 1990:1670).
Habermas menolak postulat Ilmu bebas nilai (Habermas 1972:302-304).
Menurutnya, postulat demikian pada dasarnya berakar dalam pendekatan
positivistik untuk menentukan obyektivitas keilmuannya yang bersifat murni.

Positivisme hanya mau membatasi pengetahuan atau ilmu pada fakta,


yang berarti bahwa ilmu, termasuk ilmu-ilmu sosial harus bersifat netral
dalam arti harus bebas nilai. Tuntutan penolakan yang sama berlaku juga
terhadap Empirisme Logis atau Positivisme Logis yang menyatakan bahwa
pernyataan-pernyataan tentang realitas, termasuk pernyataan-pernyataan
ilmu fisika harus dapat dikontrol atau dibuktikan (diverifikasikan) dengan
pengamatan-pengamatan empiris yang sifatnya atomistis.
Bagi Positivisme Logis, ilmu hanya mungkin dalam bidang pengertian, tetapi
pengertian hanya mungkin tentang fakta sebab fakta adalah obyek
pengertian yang pasti. Akibatnya, ilmu pengetahuan selalu harus mengenai
fakta. Meskipun demikian, fakta bukanlah obyek keputusan melainkan obyek
pengamatan. Pendeknya, ilmu pengetahuan harus membebaskan diri dari
keputusan-keputusan penilaian dan membatasi diri pada pengamatan dan
sistematisasinya.
Habermas menjelaskan bahwa pernyataan-pernyataan teoretis ilmu-ilmu
alam (positivis) tidak dikontrol dengan pengamatan, melainkan melalui
pernyataan-pernyataan tentang pengamatan. Hal tersebut dilakukan dengan
apa yang disebut kalimat protokol atau kalimat basis, yaitu kalimat yang
memuat pernyataan tentang suatu pengamatan empiris sederhana.
Disebut kalimat basis karena menurut anggapan kaum Positivis Logis kalimat
basis merupakan batu bangunan paling dasariah bagi suatu teori ilmiah.
Sementara disebut kalimat protokol karena isinya merupakan laporan
tentang suatu pengamatan sederhana (Magnis Suseno 1992:197). Menurut
Habermas, kedua penyataan tersebut tidak dapat dilepaskan dari suatu
duduk perkara, yaitu apa yang diungkapkan atau dinyatakan dalam suatu
pernyataan. Kenyataan tersebut oleh Habermas disebut sebagai lingkaran.
Akibatnya, tuntutan-tuntutan keilmuan bertolak dari sesuatu yang tampak
kontradiktif. Justru itu, kepastian yang sesungguhnya mengenai hal tersebut
harus diperoleh melalui konsensus. Akhirnya, keabsahan empiris kalimatkalimat basis harus mengacu sepenuhnya pada kriteria yang diterima
bersama antarkelompok pekerja yang berhubungan secara intersubyektif.
Menurut Habermas kriteria konsensus yang sama berlaku pula pada
keabsahan hipotetis-hipotesis maupun hukum-hukum, dan teori ilmu empiris
secara menyeluruh. Kesepakatan itu bukanlah suatu kebetulan yang terjadi
di ruang kosong yang tidak rasional, melainkan dalam suatu prapengertian
normatif yang mengarah pada kriteria sukses dalam bertindak.
Kesepakatan atas kriteria tersebut selalu terintegrasi dalam proses pekerjaan
manusia yang dilembagakan oleh masyarakat dalam mempertahankan
kehidupan mereka yang terancam.
Jelasnya, melalui kesepakatan itu, keabsahan kalimat-kalimat basis dapat
dijelaskan secara rasional melalui pendekatan hermeneutis. Melalui

hermeneutika atau penafsiran kritis atas kelimat-kalimat tersebut maka,


akhirnya, dapat dilihat adanya kesinambungan yang begitu mendalam
dengan kehidupan manusia. Akhirnya, proses penelitian pun dijalankan di
bawah norma-norma kepentingan fundamental akan pemeliharaan
kehidupan melalui kepentingan teknis. Praktisnya, terlihat bahwa ilmu-ilmu
alam yang teoretis murni pun sejak awal titik tolaknya sudah ditentukan
secara normatif oleh nilai-nilai tertentu. Penentuan tersebut berlangung baik
secara metodis maupun secara motivasional.
Habermas menyikapi postulat kebebasan nilai sebagai ilusi yang berbahaya.
Setiap ramalan ilmiah dalam bentuk rekomendasi teknisnya harus
membutuhkan interpretasi agar cocok untuk diterapkan di dalam situasi
konkritnya. Kenyataan tersebut disebabkan oleh adanya realitas
kemasyarakatan yang sama sekali tidak dapat ditangkap dalam kerangka
peristilahan, melainkan harus dimengerti sebagai totalitas unsur-unsur yang
saling bertautan. Analisis sosial, dalam hal ini, tidak bersifat bebas nilai
tetapi justru bertaut nilai. Alasannya, karena analisis tersebut harus
memperhatikan hubungan dengan aneka kepentingan yang mendasarinya.
Jelasnya, postulat bebas nilai harus ditolak. Ilmu yang dikatakan bebas nilai
pun sebenarnya ditentukan secara normatif oleh suatu kepentingan teknis.
Keputusan-keputusan normatif yang secara keliru dianggap irrasional pun
dapat saja dijelaskan secara rasional. Akhirnya, terdapat kesan yang kuat
bahwa tuntutan pengetahuan bebas nilai memiliki tendensi ideologis. Kritik
atas postulat bebas nilai hendak membongkar selubung-selubung ideologis
yang berada di balik tuntutan-tuntutan keilmuan yang kekuasaannya
menghalang-halangi emansipasi.
(5). Kritik ideologi dan kritik ilmu. Habermas melakukan eksplorasi kritis atas
tuntutan-tuntutan ideologi dan ilmu, yang disebutnya sebagai Kritik
ideologi dan Kritik ilmu. Kritik atas kedua tuntutan tersebut dilakukan
melalui kritik pengetahuan (Habermas 1972:308-317).
Menurut Habermas, pengetahuan, ilmu, dan ideologi merupakan tiga hal
yang saling bertautan. Ketiganya terkait pada praksis kehidupan sosial
manusia. Pengetahuan merupakan aktivitas, proses, kemampuan, dan
bentuk kesadaran manusiawi. Ilmu (Wissenschaft) merupakan salah satu
bentuk pengetahuan yang direfleksikan secara metodis. Jelasnya,
pengetahuan dan ilmu dapat menjadi ideologi bila keduanya membeku
menjadi kesadaran palsu atau delusi yang merintangi praksis sosial manusia
untuk merealisasikan kebenaran, kebahagiaan, dan kebebasan.
Kritik Soio-epistemologi atas sifat ideologis ilmu atau pengetahuan
bertujuan untuk mengembalikan refleksi atas ilmu pada refleksi atas
pengetahuan. Melalui refleksi demikian itulah diperlihatkan bahwa ilmu-ilmu
tidak dapat dipersatukan dalam sebuah metodologi karena masing-masing

memiliki kemungkinan kondisi atau syarat yang berbeda-beda. Prinsipnya,


syarat-syarat yang memungkinkan bagi pengetahuan dan praksis terletak
pada kepentingan-kepentingan yang mengarahkan pengetahuan tersebut.
Pertama, manusia sebagai spesies memiliki kepentingan teknis untuk
mengontrol lingkungan eksternalnya melalui perantaraan kerja. Kepentingan
tersebut mewujudkan dirinya di dalam pengetahuan informatif yang secara
metodis disistematisasikan menjadi ilmu-ilmu empiris analitis. Kedua,
manusia sebagai spesies memiliki kepentingan praktis untuk menjalin saling
pemahaman timbal-balik melalui perantaraan bahasa. Kepentingan tersebut
mewujudkan dirinya di dalam pengetahuan interpretatif yang
disistematisasikan secara metodis menjadi ilmu-ilmu historis-hermeneutis.
Ketiga, manusia sebagai spesies memiliki kepentingan emansipatoris untuk
membebaskan diri dari hambatan-hambatan ideologis. Jenis kepentingan
dimaksud mewujudkan diri dalam pengetahuan analitis yang
disistematisasikan secara metodis menjadi ilmu-ilmu sosial yang kritis atau
kritik ideologi.
Melalui kritik Sosio-epistemologi yang bersifat transenden-pragmatis itu,
Habermas telah menyegarkan kembali epistemologi transendental Immanuel
Kant dan para penerusnya serta mengintegrasikannya ke dalam logika ilmu
modern. Ketiga kepentingan kognitif tersebut menjadi dasar yang bersifat
kuasi-transendental bagi model ilmu pengetahuan modern. Habermas
menegaskan bahwa ketiga kepentingan itu tidak bersifat saling
mengecualikan, bahkan tidak dapat direduksikan satu sama lain.
Kecenderungan tersebut hanya dapat melahirkan sebuah sistem kesatuan
ilmu yang bersifat ideologis. Ilmu-ilmu empiris-analitis dan historishermeneutis harus dibedakan satu sama lain berdasarkan tiga ciri yang
secara mendasar berbeda.
Pertama, ilmu-ilmu empiris-analitis (ilmu-ilmu alam) memiliki obyek yang
dapat diobyektivikasikan sepenuhnya berdasarkan hubungan subyek-obyek.
Selanjutnya, ilmu-ilmu historis-hermeneutis (ilmu sejarah, bahasa, etika atau
ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan) meskipun pada taraf tertentu
mengobyektifkan, namun tidak dapat sepenuhnya mengobyektivikasi
obyeknya.
Kedua, ilmu-ilmu alam tersebut harus mengandaikan bahwa keteraturan
alam hanyalah merupakan hukum yang mengatur obyek-obyek alamiah atas
dasar keniscayaan sebab-akibat, bukanlah norma moral yang boleh atau
tidak boleh diikuti secara teologis. Akibatnya, ilmu-ilmu alam tersebut harus
menentukan hipotesis-hipotesis dan hukum-hukum atas alam secara
eksternal dan keduanya dapat difalsifikasikan. Sebaliknya, ilmu-ilmu historishermeneutis tidak dapat membatasi diri pada hipotesis-hipotesis yang
ditentukan secara eksternal atau difalsifikasikan lepas dari komunikasi. Bagi

Habermas, penelitian sosial memuat baik keterlibatan maupun distansi atau


pembatasan diri dalam komunikasi. Melalui itu, peneliti harus memahami
permainan bahasa, dan kemudian merumuskannya dalam teori. Prinsipnya,
kedua hal itu berlangsung timbal-balik dalam kerangka komunikatif.
Ketiga, ilmu-ilmu empiris-analitis tidak menghadapi sejarah yang tidak
terulangi, sementara ilmu-ilmu historis-hermeneutis menghadapi sejarah
yang tidak dapat diprediksi secara nomologi (hukum). Menurut Habermas, di
sinilah letak kekeliruan Positivisme yang telah menerapkan metodologi ilmuilmu empiris-analitis pada ilmu-ilmu historis-hermeneutis. Akibatnya,
munculnya kecenderungan yang begitu kuat untuk menjuruskan ilmu-ilmu
historis-hermeneutis dengan kepentingan teknis untuk menguasai. Hal
tersebut begitu kuat di dalam pemikiran Marx.
Positivisme, akhirnya, telah mereduksikan bidang komunikasi pada bidang
kerja, sementara bidang kerja pada bidang tindakan instrumental, dan
tindakan instrumental pada teknologi. Reduksi semacam itu merupakan
sebuah kecenderungan ideologis modern yang harus diatasi.
Positivisme sendiri merasa yakin bahwa ilmu-ilmu empiris-analitis identik
dengan pengetahuan yang benar. Kepercayaannya ini tidak memungkinkan,
bahkan, memungkiri adanya refleksi diri. Refleksi diri yang dihindari dalam
ilmu-ilmu empiris-analitis, justru merupakan metodologi bagi tipe ilmu
ketiga, yaitu ilmu-ilmu kritis atau sosisologi kritis (kritik ideologi). Ilmu-ilmu
kritis tersebut tidak memiliki obyek ketiga, melainkan refleksi epistemologis
atas metode, proses, dan hasil kedua tipe ilmu lainnya sebagai obyeknya,
termasuk dirinya sendiri.
Ilmu-ilmu kritis tidak hanya mendeskripsikan norma atau struktur sosial,
melainkan memberi insight atau pencerahan demi proses pembentukan-diri
masyarakat. Sebagai ilmu emansiparoris, ilmu-ilmu kritis berusaha
memperlihatkan watak ideologis hasil-hasil kedua tipe ilmu lainnya bila
keduanya dalam konteks kehidupan masyarakat telah menghambat praksis.
Ilmu-ilmu kritis, dalam hal ini, merupakan kritik ideologis.
Jelasnya, Habermas telah meletakkan sebuah dasar baru bagi dunia
keilmuan yang disebut sebagai sosiologi kritis atau kritik ideologi. Usaha
tersebut dilakukan dengan cara membangun sintesis dialektis antara
kategori antropologis dan epistemologi atas ilmu-ilmu kritis dimaksud.
Menurutnya, hubungan dialektis kedua kategori tersebut bersifat kritis
karena menghubungkan kehendak manusiawi dengan pengetahuan yang
berada di antara kutub empiris dan transendental. Konsep yang mampu
menampung hubungan itu adalah kepentingan rasio. Kutub empiris
berkaitan dengan kondisi-kondisi sosio-historis manusia yang konkret
sebagai spesies yang bernaluri dan berkehendak. Selanjutnya, kutub
transendent berkaitan dengan pengetahuan yang normatif. Dunia keilmuan

sekaligus bekerja pada dua tataran tersebut secara bertautan dialektis,


manakala pikiran masyarakat membeku pada salah satu kutub. Menurut
Habermas, kebekuan pemikiran dapat terjadi karena subyek tidak menyadari
kepentingan sesungguhnya dari rasio. Kepentingan rasio adalah
membebaskan diri dari alam atau hambatan-hambatan sosial. Kritik ilmu
pada tataran ini berusaha menjernihkan kembali kepentingan emansipatoris
melalui dorongan kepentingan itu sendiri.
Ringkasnya, melalui Habermas, dapat ditunjukkan adanya sintesis dialektis
dalam ilmu, yang tidak hanya diperoleh melalui tindakan instrumental. Hal
ini disebabkan karena di dalam kerjanya, manusia membawa serta tradisi
dan penafsiran-penafsiran simbolisnya atas dunianya. Melalui itu, terlihat
bahwa struktur-struktur interaksi simbolis pun mengarah pada praksis.
Habermas, dalam hal ini menunjukkan bahwa, sifat ideologi tidak berkaitan
dengan kerja melainkan dengan struktur interaksi simbolis yang telah
menjadi kacau susunannya. Ditunjukkan pula bahwa perjuangan kelas dalam
ajaran Marx bukanlah kekuasaan suatu kelas atas kelas lainnya, melainkan
sintesis dalam hal saling pengenalan untuk mengatasi ideologi yang
dilawankan dengan dialog.
Pengenalan antarmanusia tersebut tidak diperoleh melalui paradigma kerja
melainkan melalui komunikasi. Demi kememadaian pandangannnya itu,
Habermas berusaha mengintegrasikan pemikirannya dengan psikoanalisa
yang bertautan dengan upaya penyembuhan alam ketidaksadaran dan
pengenalan diri yang mewarnai seluruh proses komunikasi. Proses itu lah
yang menyingkirkan pertentangan dan distorsi yang bersifat sistematis
melalui komunikasi (dialog-emansipatoris)yang menghasilkan insight dan
pencerahan.
Seterusnya, kritik ilmu ini menjelaskan bahwa karena komunikasi terungkap
lewat bahasa maka komunikasi yang terselubung sekali pun dapat dianalisis
dengan sarana analisa bahasa atau kritik bahasa. Ditunjukkan bahwa, justru
dewasa ini bahasa telah menggantikan masalah tradisonal mengenai
kesadaran, dan bahkan telah menggantikan kritik transendental atas
kesadaran itu sendiri. Melalui bahasa, orang dapat mengembangkan diri
secara utuh di dalam kompetensi-kompetensi komunikasi yang
merekonstruksikan prasyarat-prasyarat umum bagi komunikasi bebas
penguasaan.
Bahasa dalam dunia keilmuan membimbing dan mengarahkan kompetensi
serta perilaku kognitif para subyek dalam ekspresi budaya dan tanggung
jawab secara bertahap menuju kematangan dan kedewasaan hidup. Bahasa,
bahkan, mendorong transformasi dan emansipasi di dalam diri para subyek
yang berkomunikasi. Melalui bahasa, orang mengungkapkan potensi
intelektualnya dan mengkomunikasikannya secara bebas, nyata, dan makin
terstruktur di dalam situasi perbincangan.

Akhirnya, para subyek memiliki kasempatan yang sama untuk melibatkan


diri dalam perbincangan dan mengemukakan transaksi argumentasi demi
persetujuan atau penolakan, penafsiran, dan keterangan tanpa hambatan.
Obyek yang tampaknya bersifat independen selalu dapat dijadikan
petanyaan sebagai obyek pengetahuan yang kemudian diberi arti oleh para
subyek. Melalui itu, terjadi pengungkapan, tanggapan, dan bantahan secara
kritis dalam percakan atau dialog yang makin terstruktur. Proses dialogemansipatoris tersebut itulah yang semakin meningkat dan mengarah pada
suatu kebenaran sebagai konsensus, sehingga subyek makin mengalami
kematangan. Kebenaran ilmu mesti dicapai bukan lewat kekuasaan
melainkan melalui konsensus-konsensus rasional yang dicapai para subyek
yang berkompeten. Subyek otonom dan berkompetensi rasio komunikatif
inilah yang berperan dalam proses institusionalisasi budaya serta memandu
proses-proses pembelajaran masyarakat pada tataran kehidupan harian
yang sederhana menuju taraf perkembangan yang kompleks.
Nyata lah, obyektivitas ilmu-ilmu historis-hermeneutis dan ilmu-ilmu empirisanalitis tidak dapat dilepaskan dari konsensus para ahli yang terlibat di
dalam penelitian. Hal itu terlebih lagi dalam Sosio-epistemologi sebagai
bagian dari teori konsensus tentang kebenaran. Justru karena konsensus
diandaikan sebagai dasar obyektivitas kebenaran maka jenis pengetahuan
ini tidak kebal terhadap evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus.
Semua persyaratan itu adalah dalam rangka praksis sebagai usaha
mempertautkan pengetahuan dengan kepentingan.
E. Sumber:
Suriasumantri, J.S., 1995, Ilmu dalam Perspektif, Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta.
The Liang Gie, 1996, Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.
Keraf Gorys, 1992, Argumentasi dan Narasi, Gramedia, Jakarta,
Watloly, A. , 2001; Tanggung Jawab Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta
--------------Pikiran Sebagai Tenaga Budaya, (belum diterbitkan).