Anda di halaman 1dari 4

MENINGKATKAN PENDAPATAN NEGARA MELALUI

PERPAJAKAN INTERNASIONAL

A. PENDAHULUAN

Salah satu sumber penerimaan negara saat ini adalah penerimaan dari sektor pajak. Sebagai

negara berkembang yang masih

memiliki pertumbuhan ekonomi positif tentu akan mendatangkan Keuntungan tersendiri

dalam melakukan pemulihan ekonomi nasional. Dari

sektor pajaklah opsi yang bisa dijalankan ketimbang kita harus melakukan pinjaman ke

lembaga-lembaga internasional untuk membiayai belanja negara yang akan dituangkan dalam

APBN.

Sebagaimana telah disahkannya Undang-Undang Pajak Penghasilan yang baru No 36 Tahun

2008 terlihat dengan nyata kalau pemerintah ingin mengedepankan peran yang lebih besar buat

kalangan dunia usaha dalam mengembangkan iklim investasi dan usaha yang mendatangkan hasil

maksimal guna mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu dalam

pelaksanaannya seluruh potensi ekonomi bangsa dapat memanfaatkan kemudahan-

kemudahan yang telah diberikan oleh pemerintah lewat undang-undang pajak penghasilan baru

tersebut.

Sejauh ini memang komposisi penerimaan negara dari sektor pajak masih didominasi oleh

Pajak Penghasilan. Kemudian disusul Pajak Pertambahan

Nilai, Bea Masuk, PBB, dan BPHTB. Oleh karena itu pemerintah terus

melakukan beberapa cara yang bisa menjadi sumber potensi baru bagi penerimaan negara.
Mengedepankan potensi dalam negeri boleh-boleh saja. Tetapi, harus diperhatikan juga

potensi-potensi penerimaan yang belum terjamah karena adanya suatu bentuk perikatan di masing-

masing negara. Inilah yang kita kenal dengan Perpajakan Internasional.

Perpajakan internasional tidak terlepas adanya suatu perjanjian antar negara guna

menghindari pemajakan berganda yang dapat menghambat laju investasi dari perekonomian negara

tersebut. Seperti pada definisinya

perjanjian internasional adalah suatu perbuatan hukum yang mengikat negara pada bidang

tertentu. Termasuk perpajakan oleh karena itu perjanjian internasional harus dibuat dengan dasar-

dasar yang jelas dan kuat.

Dalam hal perjanjian perpajakan internasional memiliki beberapa bentuk yang lazim

dipergunakan antara lain:

1. Persetujuan penghindaran pajak berganda (tax treaty)

2. Cara penerapan (mode of application).

3. Tata cara persetujuan bersama (mutual agreement prosedure).

Persetujuan penghindaran pajak berganda adalah perjanjian penghindaran pajak berganda

antara dua negara bilateral yang mengatur mengenai

pembagian pemajakan atas penghasilan yang diperoleh.

Beberapa pasal dalam P3B memerlukan aturan pelaksana sebagaimana diatur dalam aturan

pelaksana SE-04/PJ.34/2005 tanggal 7 Juli 2005 yang

menerangkan tentang adanya beneficial owner. Sedangkan beneficial owner


adalah pemilik sebenarnya dari penghasilan berupa deviden, bunga, atau royalty baik wajib

pajak perorangan maupun wajib pajak badan, yang

berhak sepenuhnya untuk menikmati secara langsung manfaat

penghasilan-penghasilan tertentu.

Dengan demikian maka special purpose vehicle dalam bentuk conduit company, paper box

company, pass through company, serta yang sejenis lainnya tidak termasuk dalam pengertian

beneficial owner. Sehingga

pihak-pihak yang bukan merupakan beneficial owner yang menerima deviden, bunga, dan

royalty diwajibkan melakukan pemotongan PPh Pasal 26 sesuai

dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Tentu saja pengoptimalan penerimaan negara dari sistem perpajakan internasional

merupakan salah satu upaya dari beberapa potensi penerimaan negara. Dengan memperkuat dasar-

dasar regulasi yang sudah ada

dan mempersempit ruang gerak munculnya celah penghindaran pajak akan membawa

manfaat tersendiri bagi pemulihan ekonomi.

Industri-industri berskala besar dan memiliki tingkat penyerapan sumber daya manusia

adalah salah satu contoh basis penerimaan pajak untuk jenis

pajak penghasilan. Padahal dengan semakin tingginya minat investasi

asing dalam menanamkan modalnya kelak di kemudian hari akan membawa manfaat.

Pemeritah seyogyanya sudah mulai merumuskan formulasi yang

tepat untuk meningkatkan penerimaan negara dengan titik fokus kepada pengetatan nilai-

nilai sistem perpajakan internasional yang rawan kepada


kepentingan antar msing-masing negara.

Apalagi pada masa krisis global seperti ini sulit bagi pemerintah untuk mendatangkan

pinjaman dari luar negeri. Atau mendatangkan pinjaman dari luar negeri atau meningkatkan

kepercayaan investor asing guna menginvestasikan modalnya di Indonesia. Hal ini harus didukung

jika kita tetap menginginkan pertumbuhan ekonomi yang positif atau menaruh ekspektasi

pertumbuhan ekonomi 7% atau dua digit yang membutuhkan belanja negara yang tinggi.