Anda di halaman 1dari 13

1

MANAGEMENT ACCOUNTING IN LESS DEVELOPED COUNTRIES : WHAT IS


KNOWN AND NEEDS KNOWING?
(Trovor Hopper, Mathew Tsamenyi, Shahzad Uddin, Danture Wickramasinghe)

A. Motivasi Penelitian
Penelitian mengenai akuntansi di negera kurang berkembang (Less developed countries)
telah banyak dilakukan selama 20 tahun terakhir. Peningkatan jumlah penelitian di negara
kurang berkembang (LCD) memungkinkan untuk memberikan kontribusi terhadap
peningkatan globalisasi dari pasar modal dan meningkatkan persaingan global. Terdapat
berbagai program yang ditawarkan oleh berbagai institusi dan organisasi bagi pengembangan
kapasitas sumberdaya manusia seperti program beasiswa bagi kandidat doktor pada negara
kurang berkembang, sehingga penelitian yang bersumber dari negara kurang berkembang
semakin meningkat. Pada umumnya mereka melakukan penelitian dalam bidang akuntansi
keuangan dan sangat jarang yang melakukan penelitian mengenai sistem akuntansi
manajemen. Padahal penelitian dalam bidang tersebut sangat dibutuhkan dalam
mengembangkan negaranya. Sebagai contoh perencanaan bagi pemerintah pusat, kebijakan
pasar modal dan lainnya. Sistem akuntansi manajemen berhubungan dengan topik seperti
tatakelola, perencanaan dan kualitas hidup akan tetapi proses perundang-undangan di negara
LCD memiliki berbagai macam persoalan : politik lokal dan budaya mereka dapat
menyebabkan mereka menggunakan kekerasan dibandingkan bersikap demokratis dan
akuntabel. Motivasi penelitian ini adalah berusaha untuk menjelaskan mengenai ketertarikan
LCD pada area sistem akuntansi manajemen dan memberikan kontribusi atas berbagai
perdebatan mengenai akuntansi manjemen yang dapat memberikan manfaat dalam
pengembangan kehidupan manusia.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dijabarkan kedalam 3 (tiga) tujuan yaitu :
1. Untuk mengkategorikan penelitian yang dilakukan di negara yang termasuk LCD
mengenai : fase pengembangan penelitian, topik, metodologi dan teori yang digunakan
2. Untuk mengetahui kerangka pengembangan akuntansi manjemen dari masa colonial
hingga saat ini
3. Untuk menganalisis penemuan saat ini dan kebutuhan akan penelitian dimasa yang akan
datang

C. Metode Penelitian.
Penelitian ini menggunakan studi literature (meta analysis) berdasarkan hasil penelitianpenelitian sebelumnya yang telah dipublikasikan di Abacu ; Accounting, Auditing, and
Accountability Journal; Accounting and Business Research; Accounting, Organizations, and
Society; Accounting Review; Advances in International Accounting; British Accounting
Review; Critical Perspectives on Accounting; Journal of Accounting Research; Journal of
Business Finance and Accounting; International Journal of Accounting; Journal of
International Financial Management; Journal of Accounting and Organisational Change;
Journal of Management Accounting Research; Management Accounting Research;
Qualitative Research in Accounting and Management; and Research in Third World
Accounting (now Research in Accounting in Emerging Economies). Dengan menggunakan
75 artikel penelitian yang bersumber dari 29 negara
D. Hasil Penelitian
Sistem Akuntansi Manajemen Berdasarkan Negara, Perekebangan Penelitian, Topik,
Teori dan Metode Penelitian
Sistem akuntansi manajemen mencakup didalamnya mengenai proses, struktur dan
informasi untuk keputusan organisasi, tatakelola, pengendalian dan akuntabilitas. Sementara
gambaran mengenai LCD mencakup didalamnya perubahan dan permasalahan yang terjadi
dan kemisikinan merupakan hal yang biasa bagi negara LCD.Mesikupun demikian LCD
memiliki karakteristik yaitu rendahnya pendapatan perkapita, capital formation dan nilai
tambah. Hal tersebut tidak hanya berdasarkan kondisi perekonomian semata, akan tetapi
mencakup didalamnya adalah perbedaan lingkungan, kesejahteraan anak, kualitas hidup,
pemberdayaan penduduk dan tata kelola.
Dari total 75 artikel penelitian yang diperoleh dari 29 negara dikelompokan sebagai
berikut :

Pengelompokan artikel berdasarkan geografis dapat dilihat pada Appendix 1


No

Wilayah

Africa
Algeria
Egypt
Ghana
Malawi
Mauritus
Nigeria
South Afira
Tanzania
Uganda
Africa General
Asia
1
Bangladesh
2
China
3
India
4
Indonesia
5
Malaysia
6
Pakisthan
7
Srilanka
8
Thailand
Pacific
1
Fiji
2
Kiribati
Latin America
1
Brasil
2
Mexico
3
Unspesific
4
Venezzuela
5
West Indies
Midle East
1
Palestine
2
Syiria
Global
Appendix 1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Jumlah
Artikel
22
2
3
5
2
1
3
1
2
1
1
38
8
17
1
3
2
1
5
1
3
2
1
7
1
2
2
1
1
2
1
1
3

Sedangkan Artikel Akuntansi Manajemen Berdasarkan Topik Penelitian terangkum dalam


Appendix 2.

No

Topik

Management Accounting and Control in SOEs and


Prvatisations
2
Large Private Company and MNOs
3
MNOs-transfer pricing
4
Joint Ventures with foreign companies
5
Indigenous SMEs
6
Plantalions and agriculture
7
Microfinance
8
Household accounting
9
Governmental accounting
10
NGOs
Appendix 2

Jumlah
Artikel
29
10
5
4
6
3
4
2
10
2

Metode penelitian yang digunakan dalam artikel akuntansi manajemen di negara


LCDs diuraikan sebagai berikut :
No

Metode Penelitian

Case Studies-firm observations through interview to


documentary analysis
Field Study and Questionnaries
Questionnaries
Desk Study and Documentary Analysis

2
3
4

Jumlah
Artikel
47
8
10
10

Teori penelitian yang digunakan dalam artikel akuntansi manajemen dinegara LCDs
diuraikan sebagai berikut :
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Teori
Economic
Development Economic
Ethnography/Grounded
Theory/Action/Hermencuties
Governmentality
Labour process/Political Economy/Gramsician
Institutional Theory
Institutional Theory and Contigency Theory
Contigency Theory/RAPM/Statistical
Public Adminitration
GST/Social Psychology
No Explicit Theory

Jumlah
Artikel
3
2
11
5
10
4
6
12
2
1
1

E. Kerangka Kultur Politik Ekonomi


Seperti penelitian yang dilakukan oleh Wallace (1990), maka penelitian ini tidak
menemukan perbedaan teknik akuntansi yang cukup signifikan antara negara kaya
dibandingkan negara miskin. Penelitian MAS pada negara LCD lebih banyak meneliti pada
area tradisional sektor. Permasalahan utama mereka adalah dari budaya, ekonomi dan politik
yang ada. Kemisikinan memberikan tekanan pada berbagai hal. Berbeda dengan negara maju
sistem politik mereka sudah terbentuk semenjak jaman colonial sampai dengan saat ini.
Berikut adalah gambaran mengenai perkembangan akuntansi manajemen dari masa colonial
sampai dengan saat ini :

MAS under colonialism


Masa colonial merupakan fase krusial dalam memahami akuntansi bagi negara LCDs.
Pada masa sebelum colonial pada umumnya MOPs mengacu pada sistem feodalisme dan
didasarkan kepada persfektif dari komunitas local atau keluarga. Produktivitas dan
pendapatan diatur oleh kebutuhan mereka sendiri. Tidak ada pemisahan antara urusan
pekerjaan dan kehidupan keluarga (Taylor;1979).Sehingga masayarakat tradisional pada
umumnya tidak membutuhkan proses akuntansi. Sampai dengan saat ini dibeberapa negara di
afrika masih menggunakan sistem akuntansi yang bersifat tradisional. Berbeda dengan
masyarakat yang menganut sistem non colonial bersifat dinamis dan akuntansi membantu
mereka dalam membentu identitas budayanya.
Sistem colonial merupakan percampuran antara sistem tradisional dan juga sistem
kapitalis. Pada umumnya sistem colonial tidak memperbolehkan kapitalisasi pada sektor yang
menghasilkan keuntungan yang tinggi seperti pertanian, perumahan dan sektor sumberdaya
alam. Seperti di Srilanka mereka memproduksi hasil pertanian berupa teh, coklat dan karet
dan mereka tidak bersifat kapitalis. Pada masa colonial pada umumnya mereka melakukan
pemisahan aturan hukum perusahaan. Hal ini merupakan sesuatu yang menarik dan unik
karena didasarkan aturan yang mereka punya sangat sedikit. Politik mereka bersifat
imperialshm. Sementara tenaga kerja pada umumnya sangat lemah dan kebanyakan

merupakan penduduk sekitar, dimana area utama mereka adalah dalam bidang pertanian.
Oleh karenanya pada masa ini sistem akuntansi manajemen sangat dipengaruhi oleh rasis dan
budaya.
State capitalism
Pada masa ini mulai berkembang industrialisasi oleh SOEs serta mulai adanya
pertokoan kecil dan pertanian yang bersifat tradisional mulai jarang ditemui. Budaya
masyarakat mulai bersifat modern dan kebanyakan dari mereka mulai memperoleh
peningkatan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan . Pada masa ini mulai
berkembang sifat nasionalisme yang tidak berorientasi kepada kesukuan lagi. Sistem hukum
dan peraturan mulai kuat dan akuntabiliats juga semakin meningkat serta sistem parlement
mulai berkembang. Proses politik dipengaruhi oleh perkebangan ekonomi dan industrialisasi.
Sistem tenaga kerja menjadi lebih baik dan bersifat kolektif tidak secara individualism. Pada
masa ini mulai bermunculan bank negara tetapi masih relative minim mengenai pasar modal.
Oleh karenanya sistem akuntansi manajemen mulai bermunculan perusahaan dan peran
negara sangat penting.
From state capitalism to political factionalism
State capitalism menganggap karyawan terbiasa akan budaya kapitalis dan MOP,
namun seringkali tidak terjadi demikian. Adanya dikotomi budaya antara tradisional dan
modern membahayakan LDC. Namun demikian, etnis dapat menggabungkan isu budaya
tersebut. State capitalism menekankan meritokrasi, yaitu ras dan etnis bisa tidak relevan,
namun lebih kepada dukungan politik dalam sebuah perusahaan.
State capitalism mengasumsikan rakyat dan negara berkomitmen untuk menjaga
nasionalisme, modernisasi, tata kelola hukum, dan sekulerisme tapi dalam beragam etnis,
agama, lingkungan budaya politik. Pada negara-negara LDC, serikat pekerja adalah sebagai
mediator yang mempunyai kekuatan politis. State capitalism berusaha untuk berkoordinasi
dengan serikat pekerja.
Organisasi internasional seperti World Bank dan IMF yang telah mendukung negara
untuk memimpin industrialization. Seringkali pemberian pinjaman dilihat/dipertimbangkan
dari ideologi dan kondisi politik LDC, dibandingkan dari program yang dilakukan. Adanya
blok membuat negara LDC mengikuti salah satu dan hal tersebut berdampak pada strategi.
Blok tersebut juga akhirnya dapat mempengaruhi perilaku ekonomi, yaitu antara sosialis (uni
soviet) dan kapitalis (barat).

Hal ini justru mendorong adanya korupsi, mismanagement, masalah perlindungan


politik. Regulasi pemerintah untuk meminimalkan korupsi, dengan merekrut staf/tenaga yang
berkualitas, sering direndahkan. Pekerja juga akhirnya mengandalkan perlindungan politik
melalui partai yang berbasis serikat pekerja.
Makna akuntabilitas hampir tidak pernah diperbincangkan oleh parlemen, baik secara
prosedural maupun tehnikal. State capitalism jarang berfungsi sebagaimana mestinya.
Legislasi meminta perusahaan untuk mempertanggungjawabkan keuangannya kepada
pemerintah. Jika demikian, maka akan ada intervensi politik dari perusahaan. Sosio-ekonomi
adalah faktor menuju ke arah factioanalisme politik.
Politikus akan menemukan ruang manuver politik semakin dibatasi sebagaimana
kerugian SOE dan defisit perusahaan. Meningkatnya ideologi sayap kanan seperti
Thatcherism dan Reaganism memberikan skeptisme terhadap bantuan ekonomi yang tidak
berasal dari organisasi structural. Para pakar keuangan internasional kecewa dengan korupsi,
ketidakefesienan, kondisi gagal menyediakan pelayanan kepada rakyat jelata, sehingga akan
mengarah ke market capitalism dan NGO. Tujuannya adalah menggantikan factionalisme
politik dan perlindungan dengan kepemilikan pribadi dan pasar modal.
Market capitalism
Kapitalisme pasar (market capitalism) sering muncul dari persyaratan pinjaman
Structural Adjustment Programmes (SAP) dari World Bank dan IMF. Pinjaman SAP
menstimulasi perdagangan bebas, kompetisi, private capital, terbatasnya intervensi
pemerintah, dan reformasi sektor publik.
SAP digunakan oleh LDC untuk menutupi defisit fiskal. Penelitian Uddin dan Hopper
(2003) menyatakan bahwa pemerintahan sosialis Bangladesh runtuh karena SOE mengalami
kerugian sebesar 30%. Untuk menutupi defisit tersebut maka pinjaman dari lembaga
keuangan untuk melakukan privatisasi. Di Ghana, pemerintahan Dr Nkrumah (1957 1966)
runtuh dan militer serta Progress Party (PP), yang mengambil alih pemerintahan,
mengimplementasikan kebijakan ekonomi IMF/World bank pada tahun 1970, tetapi Colonel
Achemapong kemudian menunda setelah popular blacklash. Disamping itu, berkurangnya
blok uni soviet juga mengarahkan untuk mengadopsi SAP (Uddin dan Tsamenyi, 2005;
Tsamenyi et al., 2002). Di Sri Lanka tahun 1977, sayap kanan pemerintahan mendorong
untuk melakukan ekonomi terbuka, dan menggunakan kekuatan IMF dan Worl Bank untuk
memulai privatisasi, serta meluncurkan kembali sektor public (Wickramasinghe et al., 2004).

SAP menginginkan akuntansi yang efektif namun para ekonom pembangunan dan
pengambil kebijakan sering tidak menghiraukan hal ini. Akuntansi dianggap sebagai hal yang
teknis, bukan suatu masalah yang serius, dan mengalir saja mengikuti mekanisme pasar.
Ndzinge dan Briston (1999) mengatakan terdapat hubungan yang tidak baik antara akuntan
dan ekonom pembangunan; serta adanya teknologi akuntansi yang tidak dapat diadaptasi
dengan kondisi lokal.
SAP memberikan solusi makro dalam bentuk fiskal yang dapat mengatasi
permasalahan khas di negara-negara LDC. Terdapat transfer beberapa projek dari
pemerintahan di negara-negara LDC ke NGO karena dinilai lebih transparan dan akuntabel
serta lebih memiliki sistem pengendalian internal. Namun, hal ini belum banyak diteliti.
Whence market capitalism?
Menurut Stiglitz (2002) solusi yang ditawarkan IMF adalah permasalahan terburuk.
Perdebatan ini kemudian merembet ke tema-tema akuntansi. Talaga dan Ndubizu (1989)
menemukan tekanan antara orthodox dan paradigm pengembangan ekonomi politik, serta
akuntansi normative dan positif. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah MAS juga turut
menghasilkan sistem market capitalism? Berikut adalah uraian pada masing-masing sektor.
MAS within Private Enterprise
Penelitian praktik MAS di perusahaan private masih jarang, yaitu hanya dua dan
menghasilkan temuan yang kontradiktif. Implementasi MAS di Mesir hanya sebagai alat
penentuan harga (pricing) saja, tidak lebih. Sedangkan di Malaysia sudah menghubungkan
value based dan pengukuran mixed antara keuangan dan non keuangan, serta penggunaan
Beyond Budgeting. Reformasi pasar mendorong perusahaan untuk mengadopsi MAS
konvensional. Beberapa penelitian mengetengahkan hal itu, yaitu penelitian di India,
Amerika Latin, Banco do Brazil, south Africa, dan Palestina.
Beberapa peneliti menduga MAS di barat berbeda dengan budaya LDC. Namun
demikian, penelitian tentang penselarasan antara budaya dan MAS yang muncul pada
perusahaan private yang kapitalis, masih sangat jarang. Contohnya adalah klaim bahwa
manajer asia tidak menghargai partisipasi tidak didukung oleh bukti penelitian. Penelitian
tentang dampak dari budaya terhadap pengembangan MAS pernah dilakukan di Amerika
Latin.

10

Kepemilikan keluarga sangat lazim terjadi di LDC. Hal ini akan menyebabkan
pendekatan informal, pengendalian manajemen yang sewenang-wenang, pembatasan
informasi, aturan dan regulasi yang ditiadakan karena hubungan persaudaraan atau
pertemanan. Contoh penelitian tersebut terjadi di Bangladesh, di Pakistan yang dikuasi oleh
tiga bersaudara dan di Indonesia yang dimiliki oleh tiga sahabat Cina-Indonesia. Kepemilikan
keluarga tersebut menyebabkan MAS tidak relevan.
Pengembangan kontemporer menekankan pada organisasi mikro dan kecil, rumah
tangga, pertokoan, pemberi pinjaman, agrikultur, perikanan yang masih dihiraukan oleh para
peneliti. Penelitian yang ada mensarankan bahwa MAS organisasi miko dipengaruhi oleh
budaya dan MOP. MAS, meskipun dalam bentuk yang berbeda, kehadiran institusi mikro
berasal dari sektor tradisional masyarakat LDC.
Peningkatan lembaga mikro tidak terlepas dari pinjaman bank yang masih
mengadopsi system konvensional. Sinergi antara lembaga mikro dan lembaga keuangan
mikro membutuhkan MAS yang tentu akan unik. Isu penting tersebut rupanya masih jarang
dan agak dihiraukan oleh para peneliti.
Penelitian di perusahaan privat juga mensarankan bahwa reformasi pasar berdampak
pada MAS, bahwa peningkatan kinerja SOE dapat dicapai dengan peningkatan pengendalian
daripada harus mengubah kepemilikan. Ulasan penelitian terkait hal ini yaitu penelitian di
Bangladesh, Sri Lanka, dan Ghana.
Untuk penelitian MAS di perusahaan Cina terjadi transisi dari Maoism ke Dengism.
Penelitian ini menarik dan paling intensif dalam reformasi pasar. Cina memiliki kontrol
pengembangan yang unik dan transisi ke kebijakan yang berorientasi pasar dan menjadi
rujukan pengalaman bagi LDC lain. Dalam pengembangan regulasi akuntansi dan
pengendalian, tidak terlepas dari budaya Cina, sejarah politik dan ekonomi (Davidson et al.,
1996; Graham and Li, 1997; Xiao et al., 2004).
Terdapat perkembangan MAS kontemporer yang diadopsi oleh perusahaan private di
LDC yang mengikuti perkembangan liberalisasi pasar, yang unik namun terbatas pada
penyesuain budaya, perusahaan keluarga dan politik. Hal ini dapat menghambat tujuan
pengembangan. Pertama, peningkatan MNO membuat perhatian tersendiri seperti dampaknya
di Fiji yaitu adopsi International Accounting Standard (IAS). Namun ditemukan bukti bahwa
MNO masih mempunyai permasalahan seperti kurangnya tenaga ahli, pendidikan akuntansi
masih memprihatinkan, dan fungsi yang tidak tepat sasaran. Hal lain yang menjadi perhatian
pada MNO yaitu praktik transfer pricing dalam perpajakan. Penelitian-penelitian terkait hal
terbut masih sangat jarang, sehingga perlu pengembangan lagi.

11

Kedua, perubahan MAS yang mengimbangi reformasi pasar mungkin memperlemah


perlindungan dan daya tarik dari pemangku kepentingan (vis a vis pemilik). Perubahan MAS
dengan alasan komersil mungkin dapat mengurangi proteksi karyawan, kontrol koersif, dan
menurunkan praktik korupsi. Reformasi MAS berbasis market tidak dapat mengurangi
korupsi dan proteksi terhadap pemangku kepentingan atas tindakan yang tidak semestinya
dari menejemen. Ketiga, pasar yang menghasilkan MAS mungkin tidak dapat menghapuskan
kepastian dan perlindungan dengan factionalisme politik. Selanjutnya, jika penelitian MAS
mempromosikn pengembangan, maka harus menggabungkan criteria komersil dan
kepentingan pribadi.
MAS within NGO
Kekecewaan terhadap pemerintah karena korupsi, perlindungan politik, dan minimnya
penyampaian program, mengalihkan kegiatan ke NGO. Terdapat dugaan beberapa NGO tidak
fair berkompetisi dengan organisasi private. Dugaan tersebut adalah, gagal mengelola,
terbatas keuangan dan pengelolaan, tergantung pada karisma pemimpin. NGO berbeda
dengan perusahaan private. NGO kurang teliti dalam hal evaluasi proyek, proteksi deposit,
dan kerangka hokum. Penelitian MAS sangat dibutuhakn apakah MAS NGO lebih akuntabel
seperti yang diduga sebelumnya.
MAS within Public Sector Organization
Peranan negara dan politik menurun karena reformasi market sehingga memunculkan
organisasi privat, NGO dan reformasi NPM. Beberapa isu terkait yaitu, pertama, kebutuhan
akan informasi kinerja sektor publik bisa tidak terpenuhi karena kapasitas institional yang
rendah serta adanya korupsi. Kedua, ada beberapa perubahan isu manajemen seperti standard
audit internasional pada lembaga/departemen di pemerintahan.
Reformasi akuntansi NPM mungkin dapat menciptakan hegemoni asing dan tidak
meningkatnya

otonomi

daerah,

demokrasi

dan

akuntabilitas,

serta

menghasilkan

pengembangan yang meragukan. Everret et al., (2007) mengklaim penelitian akuntansi


menghiraukan korupsi. Transparency Internationals 2005 Corruption Perception Index
menyatakan bahwa negara LDC terkorup.
Selanjutnya, akuntansi tidak dapat menyelesaikan isu kemiskinan, ketidakadilan,
korupsi, akan tetapi akuntansi sebuah alat kontrol yang efektif, sebagai regulasi,
akuntabilitas, dan peraturan perundang-undangan. Korupsi muncul sebagai akibat dari
pemerintahan yang tidak transparan, tidak adanya kebebasan mendapatkan informasi,
kurangnya demokrasi dan lain lain. Demokrasi dapat mengurangi korupsi dan perlindungan
politik melalui akuntabilitas negara yang lebih tinggi. Sebagai alat informasi dapat

12

menggunakan teknologi informasi dengan media internet aplikasi. Selajutnya desain dan
operasi MAS dapat memperkuat negara dan pengaruh pemangku kepentingan dalam politik
domestik.
F. Simpulan
Ada beberapa simpulan yang dapat ditarik dari pembahasan tentang penelitian meta
analysis tentang perkembangan penelitian akuntansi manajemen di LDC yang dilakukan oleh
Hopper et al. (2008). Tujuan utama penelitian MAS seharusnya tidak dapat disamakan
dengan system yang sudah berkembang di negara maju karena LDC mempunyai kearifan
local tersendiri yang harus diperhatikan dan dipahami oleh peneliti. Selanjutnya tujuan
penelitian MAS dapat meningkatkan sisi materiil dan kualitas hidup.
Terkait dengna MOP pada LDC, dapat pergeseran dari tradisional ke socialist state
capitalist dan kemudian ke market capitalist. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh tekanan
satu sama lain, kebudayaan local dan didorong oleh perbedaan etnik dalam suatu wilayah.
Ada tiga hal yang perlu diketahui terkait dengan MAS dan kebudayaan, yaitu:
1.

Studi sejarah dan etnografi kebudayaan diperlukan untuk mengidentifikasi bagaimana


atribut-atribut budaya local dikembangkan untuk mengarahkan bentuk akuntansi dan
akuntabilitas.

2.

Penelitian lebih banyak di bidang NGO, khususnya terkait dengan kemiskinan,


agrikultur, industry domestic, dan lembaga mikro yang akan mengembangkan penelitian
MAS sesuai dengan budaya tradisi dan perkembangan MOP.

3.

Penelitan di private companies mensarankan bahwa liberalisasi ekonomi mendorong


perkembangan MAS namun isu-isu budaya, etnik, korupsi, kekerasan, dan perlindungan
politik masih kuat.
Dalam

hal

negara

dan

regulasi,

rentangnya

sangat

jauh

sehingga

sulit

digeneralisasikan, yaitu dari negara yang disebut sebagai failed states yang dictator yang
tidak memperhatikan pengembangan, terkadang terjadi perang atau lemah system
perundangan, sampai dengan negara yang disebut sebagai newly industrialized yang sudah
mapan ekonomi. Hal yang perlu diketahui leibh lanjut adalah tidak adanya perbedaan MAS
pada SOE dengan beberapa lembaga pemerintahan. LDC biasanya mempunyai struktur
regulasi yang lemah, sehingga ada 3 hal yang perlu diperhatikan untuk penelitian selanjutnya:
(1) isu ketenagakerjaan terkait dengan remunerasi dan pengangguran; (2) MAS di bank local
dan regulasinya; (3) masih kurangnya pemahaman bagaimana perubahan pasar modal dan
akuntansi keuangan berhubungan dengan percepatan perubahan MAS.

13

Penelitian terdahulu tentang MAS fokus pada teori sosial dan teori kritis, karena
terbatas data kuantitatif. Sehingga penelitian selanjutnya harus dapat memperbanyak sampel
penelitian yang mungkin akan menemukan bahwa system dari barat tidak sesuai dengan
LDC. Meskipun demikian, triangulation dan eclecticism antara teori dan metode masih
dibutuhkan.
Review dari penelitian sebelumnya bahwa masalah akuntansi di LDC adalah faktor
sosio-ekonomi dan politik bukan hal yang bersifat teknis, sehingga tidak ditemukan hal yang
unik untuk MAS di LDC. Ada dua hal yang menjadi isu untuk penelitian selanjutnya terkait
dengan dengan MAS dan politik di LDC. Pertama, perlu perhatian lebih untuk negara dengan
system yang bersifat pemberdayaan masyarakat. Kedua, perlu mengetahui lebih lanjut
bagaimana kerangka institusional antara kebijakan dan praktik dari MAS. Pada dasarnya
masalah politik tidak hanya menjadi maslah negara-negaa miskin, melainkan juga menjadi
permasalahan tersendiri di negara maju. Sehingga penelitian MAS harus mempunyai dimensi
politik yang dapat mencegah ada rezim market-based.
G. Komentar Artikel
Penelitian ini memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai perkembangan
penelitian akuntansi manajemen pada negara LCD. Akan tetapi kekurangan dalam penelitian
ini diantaranya adalah :
1. Dalam menggambarakan dekripsi demografi dari artikel penelitian, peneliti menyajikan di
appendix tidak menyajikan dalam bentuk tabel yang dapat memudahkan pembaca dalam
memahami ide penelitian.
2. Penelitian ini menguraikan pembahasan dengan membagi kedalam berbagai fase, akan
tetapi belum membandingkan secara utuh perbedaan penelitian akuntansi manajemen dari
berbagai wilayah sehingga dapat terlihat masing-masing wilayah memiliki kecenderungan
penelitian diaera mana.

Referensi:
Hopper, et al., 2008, Management Accounting in Less Developed Countries: What is Known
and Needs Knowing, Accounting, Auditing and Accountability Journal, 22 (3), 469-514.