Anda di halaman 1dari 4

Kebudayaan minum kopi

1. Kebudayaan minum kopi menengah ke atas


-StarBucks adalah sebuah Franchise yan berstandart internasional,siapapun
yang mau bergabung dari negara manapun boleh,asalkan sanggup merogok
kocek yang cukup banyak.Indonesia adalah negara yang konsumtif baik
berupa barang atau makanan dan minuman.seperti contoh starbucks inilah
yang di gemari oleh orang menengah ke atas
-Istilah Kafe berasal dari Bahasa Perancis caf yang secara harafiah berarti
kopi. Istilah ini kemudian berkembang sebagai istilah untuk menyebut
tempat santai untuk minum-minum, bukan hanya kopi, tetapi juga
minuman lainnya. Di Indonesia, istilah kafe berarti semacam tempat
sederhana tetapi cukup menarik untuk dikunjungi dan memiliki menu
makanan ringan sebagai teman minum kopi atau minuman lainnya, yang
tentu saja berbeda dengan warung.
Di kota-kota besar Indonesia, kafe bukanlah tempat yang baru, namun dalam
perkembangannya kafe yang dulu dianggap sebagai tempat nongkrong yang
mewah kini telah menjamur dan memiliki pangsa pasar untuk kelas
menengah ke bawah. Sekarang banyak orang yang mendirikan kafe, bukan
saja di kota-kota besar, tapi juga di kota-kota kecil. Apalagi jika kafe tersebut
terletak di tempat yang strategis seperti mall, besar kemungkinan kafe
tersebut akan ramai pengunjung. Diferensiasi setiap kafe juga memiliki
keunggulan tersendiri, ada kafe untuk baca buku, nonton film, klub motor,
pecinta seni, mahasiswa, dan lain-lain.
Jika dulu kafe hanya dikunjungi oleh eksekutif muda dan masyarakat
menengah ke atas yang membutuhkan tempat untuk melepas penat
sepulang dari kantor, kini fenomena tersebut lambat-laun bergeser menjadi
suatu kebiasaan bagi kaum muda di kota-kota besar, misalnya Semarang,
Surabaya, Solo, Magelang, Purwokerto, dan Yogyakarta. Tak heran jika banyak
kafe-kafe baru ini bernuansa anak muda, nyaman, santai, dan sesuai dengan
gaya hidup remaja saat ini.
Banyaknya orang yang melirik bisnis ini menjadikan persaingan menjadi tak
terelakkan lagi. Seperti halnya bisnis lainnya, jika konsep dan citra kafe yang
dibangun kuat, maka kafe tersebut akan dapat bertahan dan sukses,
demikian juga sebaliknya. Karena itu tak sedikit pula kafe yang tumbang dan
harus gulung tikar tak berapa lama setelah didirikan. Mendirikan kafe bisa
dilakukan oleh siapa pun yang memiliki modal, tetapi menjadikan kafe
tersebut sukses bukanlah hal yang gampang. Manajemen yang bagus tak
menjamin suatu kafe bisa terus bertahan.

Meski demikian, bukan berarti tak ada jalan keluar. Jika Anda senang
meluangkan waktu berbincang dengan sahabat sambil ditemani secangkir
kopi, satu-satunya hal terbaik selain pergi ke kafe kesayangan adalah
memiliki sendiri kafe Anda. Lalu apa rahasia di balik kesuksesan sebuah kafe?
Seperti meracik kopi, jika takarannya tidak pas, rasanya pun tak karuan.
Mengapa Kafe?
Dalam budaya minum kopi, kopi diterima sebagai simbol sosial, kemakmuran,
dan kehidupan modern. Budaya kopi adalah sebuah istilah yang digunakan
untuk menggambarkan suasana sosial yang sangat bergantung pada kopi,
espresso khususnya, untuk bertindak sebagai pelumas sosial. Istilah ini juga
merujuk pada difusi dan adopsi kopi sebagai stimulan yang dikonsumsi
secara luas oleh suatu budaya.
Kedai kopi secara tradisional berfungsi sebagai pusat sosial serta pusat-pusat
seni dan intelektual. Sebagai contoh, Les Deux Magots di Paris yang sekarang
menjadi ajang wisata yang populer, diasosiasikan dengan intelektualitas JeanPaul Sartre dan Simone de Beauvoir. Pada abad ke-18, kafe-kafe di London
menjadi tempat pertemuan populer bagi para seniman dan kalangan
sosialita.
Budaya kopi sering muncul di komik, televisi, dan film dalam berbagai cara.
Acara tv seperti sinetron atau film sering menampilkan adegan seseorang
dengan espresso di tangannya atau seorang pelayan kafe yang sedang
mendistribusikan cangkir kepada pengunjungnya. Acara ESPRESSO di sebuah
stasiun tv swasta yang merupakan acara gossip selebriti juga membawa
kesan kafe dengan kopinya. Film-film asing yang diputar di bioskop juga
banyak menampilkan adegan di sebuah kafe, sehingga memperkuat budaya
kopi beserta kafenya.
Sehubungan dengan hal tersebut, budaya nongkrong di kafe menjadi suatu
gaya hidup. Kebutuhan akan hadirnya kafe yang terjangkau bagi masyarakat
umum pun meningkat. Jika sebelumnya kafe hadir bagi kalangan menengah
ke atas, sekarang kafe-kafe yang menawarkan menu terjangkau
bermunculan. Pecinta kopi dimanjakan dengan hadirnya kafe yang santai,
bahkan mereka yang tidak menyukai kopi pun datang ke kafe untuk sekedar
menghabiskan waktu dan menikmati suasana. Apalagi kafe tersebut tak
hanya menyajikan kopi tetapi juga minuman lainnya.
Tentu saja bisnis kafe menjanjikan, banyak orang menyukai kopi, jika mereka
tak suka kopi, kafe juga menyajikan minuman lainnya. Kini banyak orang

melirik bisnis ini, berbagai kafe menarik dan atraktif ramai dikunjungi.
Persaingan kafe yang makin ketat makin menunjukkan kafe mana yang
diinginkan oleh konsumen. Jika kafe tidak dapat membaca kemauan
konsumen, tak perlu hitungan tahun, kafe-kafe tersebut bisa gulung tikar.
Jika Anda sungguh-sungguh ingin mendirikan kafe, Anda perlu persiapan
matang. Pada artikel mendatang akan dibahas mengenai persiapan untuk
mendirikan kafe, yaitu Menciptakan Identitas Kafe.

2. Kebudayaan minum kopi menengah ke bawah


Berdiskusi atau ngobrol sambil minum kopi terasa sangat
mengasyikkan. Apalagi, kopi yang di sajikan adalah kopi
kopyok tradisional rasa super yang sanagat cocok untuk
menyegarkan tubuh setelah bekerja. Seperti kopi yang di jual
di sebuah warung kopi di Gresik jawa timur yang tak pernah
sepi pembeli.
Budaya ngopi atau ngobrol sambil minum kopi di warung
adalah budaya masyarakat Gresik yang sudah berlangsung
ratusan tahun. Orang yang kecanduan minum kopi bisa
ngopi lebih dari lima kali dalam sehari. Masyarakat Gresik, menyebut kebiasa-an ini dengan
istilah cangkruan. Kebiasaan ngopi ini membuka peluang bagi usaha warung kopi. Di sepanjang
jalan-jalan utama kota Gresik, warung-warung kopi tumbuh menjamur.
Dalam upaya mempertahankan gairah pelanggan untuk mendatangi warung kopi, terdapat jenis
kopi yang di pertahankan puluhan tahun lamanya bernama kopi kopyok. Disebut demikian
karena kopi di kopyok dengan lesung tradisional dan biji kasarnya disajikan dalam sebuah
cangkir atau gelas. Uniknya, saat di sajikan, ampas kopi yang kasar bisa naik ke permukaan gelas
dan menutupi air kopinya.
Di kota Gresik, kopi kopyok bisa dijumpai beberapa tempat, salah satunya adalah warung Pak
Jasmin di Sidomoro Kecamatan kota Gresik. Cukup dengan harga 2.500 rupiah per cangkir, para
pelanggan, sudah bisa terbuai dengan kopi khas Gresik ini.
Untuk memberikan kepuasan pada pelanggan, kopi
disajikan bersama sebuah wadah yang berfungi sebagai
tempat membuang ampas kopi kasar. Selanjutnya,
wedang kopi bisa di nikmati.
Menurut para penikmatnya, kopi kopyok terasa lebih
mantap, jika di minum setelah selesai bekerja karena
bisa membuat badan terasa segar kembali. Rasa
kopinya sangat terasa keras dan membuat tubuh saya
kembali segar. Ujar Muhlas, pelanggan kopi kopyok.

Agar menghasil kualitas kopi kopyok terbaik, mula-mula kopi goreng , lalu di tumbuk atau dio
kopyok dengan alat tradisional berupa lesung yang terbuat dari kayu. Bubuk kopi yang kasar dan
halus, selanjutnya di pisah. Pasalnya, rasa kopi kopyok yang enak berasal dari bubuk kopi yang
kasar.
Menurut pemilik warung, usaha penjualan kopi kopyok telah berlangsung 10 tahun lamanya dan
melayani penjualan bubuk kopi serta kopi siap saji. Karena rasa khasnya berupa rasa kopi kental,
kopi kopyok semakin di suka pelanggan.
Hingga saat ini, warung kopi kopyok, masih menjadi warung kopi favorit dan telah di kenal
sebagai salah satu ikon kota Gresik.