Anda di halaman 1dari 20

Teori Bilangan

10

This page is intentionally left blank

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

Bab 2

Keterbagian dan Persamaan


Diophantine

2.1

Algoritma Pembagian

Jika kita membagi bilangan bulat a oleh bilangan bulat b, maka diperoleh hasil bagi (yang
tunggal), sebut q dan sisa (yang tunggal), sebut r dengan 0 r < b. Bilangan a disebut
sebagai yang dibagi (dividend) dan b sebagai pembagi.Secara formal hal ini dinyatakan
dalam teorema berikut.
Teorema 2.1.1 (Algoritma Pembagian). Jika a dan b bilangan bulat dan b > 0, maka terdapat
dengan tunggal bilangan bulat q dan r sedemikian sehingga
a=bq+r

dengan

0 r < b.

(2.1.1)

Bukti.
Definisikan himpunan S sebagai berikut
S = {a bn|a bn 0, n Z}.
Akan ditunjukkan bahwa S adalah himpunan tak kosong. Jika n = |a| dan mengingat b 1,

11

12

Teori Bilangan

maka
a bn = a + |a| b a + |a| 0.
Ini berarti a bn S sehingga S adalah himpunan tak kosong. Berdasarkan prinsip terurut
rapi, S memuat elemen terkecil, sebut r. Karena r S, terdapat bilangan bulat q sedemikian
sehingga r = a bq dengan r 0.
Klaim r < b. Jika klaim ini tidak benar, maka r b dan a (q + 1)b = (a bq) b = r b 0.
Ini berarti a b(q + 1) di dalam S. Tetapi a (q + 1)b = r b < r. Ini berarti terdapat
elemen yang lebih kecil dari r di dalam S padahal r adalah elemen terkecil dalam S. Ini
menunjukkan terjadinya kontradiksi. Jadi, r < b. Dengan demikian, terdapat bilangan bulat q
dan r sedemikian sehingga a = bq + r dengan 0 r < b.
Selanjutnya membuktikan bahwa q dan r tunggal. Untuk itu asumsikan bahwa
a = bq1 + r1

dan

0 r1 < b,

a = bq2 + r2

dan

0 r2 < b.

dan

Harus ditunjukkan bahwa r1 = r2 dan q1 = q2 . Jika r1 6= r2 , tanpa kehilangan keumuman dapat


diasumsikan bahwa r2 > r1 . Kurangkan kedua persamaan didapat
r2 r1 = b(q1 q2 )

(2.1.2)

sehingga
|r2 r1 | = b|q1 q2 |.
Dengan menjumlahkan kedua persamaan b < r1 0 dan 0 r2 < b, didapat b < r2 r1 < b
atau |r2 r1 | < b. Dengan demikian, b|q1 q2 | < b yang memberikan
|q1 q2 | < 1.
Karena |q1 q2 | bilangan bulat nonnegatif, berarti |q1 q2 | = 0 yang memberikan q1 = q2 .
Dengan demikian, r1 = r2 . Bukti selesai.

Perhatikan bahwa Kata algoritma dalam teorema ini tidak sesuai peruntukkannya sebab
teorema ini tidak menyediakan algoritma sama sekali. Teorema ini hanya menjamin eksistensi

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

13

Teori Bilangan

(existence) dan ketunggalan (uniqueness) bilangan bulat q dan r yang memenuhi (2.1.1). Teorema ini tidak menginformasikan bagaimana mendapatkan hasil bagi dan sisa ini.
Contoh 2.1.1.
a). Jika a = 592 dan b = 7, maka q = 84 dan r = 4 karena 592 = 7 84 + 4

dan

0 4 < 7.

b). Jika a = 115 dan b = 54, maka q = 23 dan r = 0 karena 115 = 5 23 + 0

dan

c). Jika a = 4 dan b = 9, maka q = 0 dan r = 4 karena 4 = 9 0 + 4

0 4 < 9.

dan

d). Jika a = 23 dan b = 5, maka q = 5 dan r = 2 karena 23 = 5(5)+2

dan

0 0 < 54.

0 2 < 5.

Contoh (d) tidak mungkin dinyatakan sebagai 23 = 5 (4) + (3) (mengapa?).


Meskipun sederhana, algoritma pembagian sangat bermanfaat dalam pembuktian beberapa
hasil yang digunakan dalam perhitungan. Misalnya, kita ingin mengetahui bilangan yang merupakan kuadrat bilangan prima. Untuk itu, kita harus tahu fakta bahwa kuadrat bilangan prima
yang lebih dari 2, lebih tegasnya lagi kuadrat setiap bilangan ganjil, adalah satu lebihnya dari
kelipatan 8. Untuk membuktikan fakta ini dapat digunakan algoritma pembagian. Menurut
algoritma ini, setiap bilangan dapat dinyatakan sebagai salah satu dari bentuk berikut: 4q,
4q + 1, 4q + 2, atau 4q + 3. Jadi, setiap bilangan ganjil mempunyai salah satu bentuk: 4q + 1
atau 4q + 3. Jika kedua bentuk ini dikuadratkan, maka didapat hasil yang satu lebihnya dari
kelipatan 8.
Untuk b = 2, algoritma pembagian memberikan sisa r = 0 atau r = 1. Jika r = 0, maka
bilangan bulat a mempunyai bentuk a = 2q dan disebut bilangan bulat genap. Jika r = 1, maka
bilangan bulat a mempunyai bentuk a = 2q + 1 dan disebut bilangan ganjil. Ini memotivasi
definisi berikut.
Definisi 2.1.1. Jika n dibagi 2 bersisa 0, maka n = 2k untuk suatu bilangan bulat k, dan
dikatakan bahwa n genap. Jika n dibagi 2 bersisa 1, maka n = 2k + 1 untuk suatu bilangan bulat
k, dan dikatakan bahwa n ganjil.
Jika dalam algoritma pembagian diambil r = 0, maka a = bq + 0 = bq. Dikatakan bahwa a
adalah kelipatan b. Juga dikatakan b membagi a atau a terbagi oleh b dan dinotasikan dengan
b|a. Bilangan b disebut pembagi dari a atau b adalah faktor dari a. Jika b tidak membagi a,
maka dinotasikan dengan b - a. Secara formal keterbagian didefinisikan sebagai berikut.

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

14

Teori Bilangan

Definisi 2.1.2. Jika a dan b bilangan bulat dengan b 6= 0, maka b membagi a jika terdapat
bilangan bulat k sedemikian sehingga a = bk.
Faktor positif b dari bilangan bulat positif a adalah faktor sejati (proper factor) dari a jika
b 6= a. Misalnya faktor sejati dari 6 adalah 1, 2, dan 3.
Teorema 2.1.2 (Sifat-sifat Keterbagian). Jika a, b, dan c bilangan bulat, maka pernyataan
berikut berlaku.
1. a | a, 1 | a, a | 0
2. a | b dan b | c = a | c (transitif )
3. a | b dan a | c = a | mb + nc untuk semua m dan n bilangan bulat(sifat kelinieran)
4. a | b = ca | cb (sifat perkalian)
5. ac | bc dan c 6= 0 = a | b (sifat kanselasi )
6. a | 1 = a = 1 (1 dan 1 adalah satu-satunya pembagi dari 1.)
7. Jika a dan b bilangan positif dan a | b, maka a b (sifat perbandingan)
8. Jika a | b dan b 6= 0, maka |a| |b| (sifat perbandingan)
Bukti.
(1). Karena a = a 1 dan 0 = 0 a, pernyataan terbukti.
(2). Harus ditunjukkan bahwa a | c, yaitu ada bilangan bulat q sedemikian sehingga c = aq.
Jika a | b dan b | c, maka b = aq1 dan c = bq2 untuk suatu bilangan bulat q1 dan q2 . Maka
c = bq2 = (aq1 )q2 = a(q1 q2 ). Ambil q sama dengan bilangan bulat q1 q2 , didapat c = aq
dan ini melengkapi bukti.
(3). Harus ditunjukkan bahwa a | (mb + nc), yakni terdapat bilangan bulat q sedemikian
sehingga mb + nc = aq. Karena a | b dan a | c, terdapat bilangan bulat q1 , q2 sedemikian
sehingga b = aq1 dan c = aq2 . Maka mb + nc = m(aq1 ) + n(aq2 ) = a(mq1 + nq2 ). Karena
mq1 + nq2 merupakan bilangan bulat, ambil q = mq1 + nq2 sehingga didapat mb + nc = aq.
Definisi 2.1.3. Kombinasi linier dari bilangan bulat a dan b didefinisikan sebagai ma + nb
untuk suatu bilangan bulat m dan n.
Pernyataan 3 dalam Teorema 2.1.2 menyatakan bahwa jika a membagi b dan c, maka a juga
membagi semua kombinasi linier dari b dan c. Khususnya, a membagi b + c dan b c. Ini
merupakan fakta yang sangat berguna pada pembahasan selanjutnya.

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

15

Teori Bilangan

2.2

Pembagi Bersama Terbesar

Definisi 2.2.1. Bilangan bulat d adalah Pembagi Bersama Terbesar (Greatest Common Divisor
(GCD)) dari dua bilangan bulat a dan b, tidak keduanya nol, jika d merupakan bilangan bulat
terbesar yang membagi a dan b.
atau
Definisi 2.2.2. Misalkan a dan b bilangan bulat dengan a 6= 0 atau b 6= 0. Pembagi Bersama
Terbesar dari a dan b didefinisikan sebagai bilangan bulat terbesar d sedemikian sehingga d | a
dan d | b serta jika c|a dan c|b, maka c d.
atau
Definisi 2.2.3. Bilangan bulat positif d adalah Pembagi Bersama Terbesar dari bilangan bulat
a dan b, tidak keduanya nol, jika
(1) d|a dan d|b.
(2) jika d0 |a dan d0 |b, maka d0 |d dengan d0 bilangan bulat positif.
Pembagi Bersama Terbesar dari a dan b dinotasikan (a, b) atau gcd(a, b). Perhatikan bahwa
didefinisikan gcd(0, 0) = 0 dan gcd(a, b) positif. Bahkan, gcd(a, b) 1 sebab 1|a dan 1|b untuk
semua a dan b.
Contoh 2.2.1. Misal a = 4 dan b = 6.
Pembagi dari 4 : 1, 1, 2, 2, 4, 4
Pembagi dari 6 : 1, 1, 2, 2, 3, 3, 6, 6
Pembagi bersama dari 4 and 6 : 1, 1, 2, 2
Jadi, pembagi bersama terbesar dari 4 dan 6 adalah 2 = gcd(4, 6). Begitu juga (karena pembaginya sama), gcd(4, 6) = gcd(4, 6) = gcd(4, 6) = 2.
Karena gcd(a, b) = gcd(a, b) = gcd(a, b) = gcd(a, b), pembahasan pembagi bersama
terbesar cukup untuk bilangan bulat positif.

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

16

Teori Bilangan

Apakah GCD dari a dan b selalu ada? Karena 1|a dan 1|b, berarti 1 adalah pembagi bersama
dari a dan b, jadi mereka mempunyai pembagi bersama terkecil, yakni 1. Jika d adalah pembagi
bersama, maka d a dan d b, sehingga d min{a, b}. Jadi, himpunan pembagi bersama
adalah hingga sehingga (a, b) ada. Pertanyaan lain yang juga penting terkait ketunggalan:
Apakah GCD dari a dan b tunggal? Ya.
Lema 2.2.1. Jika a | b, maka a | b.
Bukti. Jika a | b, maka b = ak untuk suatu bilangan bulat k. Maka b = (a)(k). Karena a
dan k juga bilangan bulat, berarti a | b.
Lema 2.2.2. Jika a 6= 0, bilangan bulat positif terbesar yang membagi a adalah |a|.
Bukti. Ingat kembali bahwa

a if a 0
|a| =
a if a < 0.
Jika a > 0, karena a | a, kita mempunyai |a| | a. Jika a < 0, |a| = a. Dalam hal ini,
a = (a)(1) = |a|(1) sehingga |a| adalah faktor dari a. Jadi, dalam kedua kasus |a| membagi
a dan |a| > 0, sebab a 6= 0.
Sekarang misalkan d | a dan d positif. Maka a = dk untuk suatu k, sehingga a = d(k)
untuk suatu k. Jadi, d | |a|. Berdasarkan Teorema 2.1.2 (9), kita mempunyai d |a|. Bukti
selesai.

Karena pembagi dari a sama dengan pembagi dari a, berarti (a, b) = (|a|, |b|). Jadi,
pembahasan tentang GCD dapat dilakukan hanya untuk pasangan bilangan bulat positif seperti
dinyatakan oleh lema berikut.
Lema 2.2.3. gcd(a, b) = gcd(|a|, |b|).
Bukti. Jika a = 0 dan b = 0, maka |a| = a dan |b| = b. Jadi, gcd(a, b) = gcd(|a|, |b|). Misalkan
salah satu dari a atau b tidak 0. Selanjutnya, x | a jika dan hanya jika x | a; ini artinya a
dan a mempunyai faktor yang sama. Tetapi |a| sama dengan a atau a, sehingga a dan |a|
mempunyai faktor yang sama. Demikian pula, b dan |b| mempunyai faktor yang sama. Jadi, x
adalah faktor bersama dari a dan b jika dan hanya jika x faktor bersama dari |a| dan |b|. Dengan
demikian, gcd(a, b) = gcd(|a|, |b|).

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

17

Teori Bilangan

Lema 2.2.4. gcd(a, b) = gcd(b, a).


Lema 2.2.5. Jika a 6= 0 dan b 6= 0, maka gcd(a, b) memenuhi
0 < gcd(a, b) min{|a|, |b|}.
Bukti. Misalkan C(a, b) adalah himpunan pembagi-pembagi bersama dari a dan b. Perhatikan
bahwa gcd(a, b) adalah bilangan bulat terbesar dalam himpunan C(a, b). Karena 1 | a dan
1 | b, berarti 1 C(a, b). Jadi, pembagi bersama terbesar haruslah paling kecil 1 dan karenanya
positif. Di lain pihak, d C(a, b) d | |a| dan d | |b| sehingga d tidak lebih besar dari |a|
dan tidak lebih dari |b|. Jadi, d paling besar sama dengan yang lebih kecil di antara |a| dan |b|.
Dengan demikian, gcd(a, b) min{|a|, |b|}.
Teorema 2.2.1. Misalkan a, b, dan c bilangan bulat positif. Maka (ac, bc) = c(a, b).
Teorema 2.2.2. Misalkan a dan b bilangan bulat dengan (a, b) = d. Maka (a/d, b/d) = 1.
Bukti. Misalkan a dan b bilangan bulat dengan (a, b) = d. Akan ditunjukkan bahwa a/d dan b/d
tidak mempunyai pembagi positif bersama selain 1. Asumsikan bahwa e bilangan bulat positif
sedemikian sehingga e | (a/d) dan e | (b/d). Maka, terdapat bilangan bulat m dan n dengan
a/d = me dan b/d = ne sehingga a = dek dan b = del. Dengan demikian, de adalah pembagi
bersama dari a dan b. Karena d adalah pembagi bersama terbesar dari a dan b, de d, sehingga
e haruslah 1. Akibatnya, (a/d, b/d) = 1.
Teorema 2.2.3. Misal a, b, dan c bilangan bulat. Maka (a + cb, b) = (a, b).
Bukti. Misal a, b, dan c bilangan bulat. Akan ditunjukkan bahwa pembagi bersama dari a dan b
tepat sama dengan pembagi bersama dari a+cb dan b. Misalkan e adalah pembagi bersama dari
a dan b, maka e | a dan e | b. Jadi, e | cb, dan karenanya e | a + cb. Dengan demikian, e adalah
pembagi bersama dari a + cb dan b. Sebaliknya, jika f adalah pembagi bersama dari a + cb dan
b, maka f | a + cb dan f | b. Oleh karena itu, f | cb, sehingga f membagi (a + cb) cb = a. Ini
berarti f adalah pembagi bersama dari a dan b. Jadi, (a + cb, b) = (a, b).
Teorema 2.2.4. Jika gcd(a, b) = 1 = gcd(a, c), maka gcd(a, bc) = 1.
Teorema 2.2.5. Teorema Bezout Pembagi bersama terbesar dari bilangan bulat positif a dan
b merupakan kombinasi linier dari a dan b.

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

18

Teori Bilangan

Teorema Bezout menjamin bahwa gcd(a, b) selalu dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier
ma + nb. Faktanya, ini adalah kombinasi linier positif terkecil seperti dinyatakan oleh teorema
berikut.
Teorema 2.2.6. Pembagi bersama terbesar dari bilangan bulat a dan b, tidak keduanya 0, adalah
bilangan bulat positif terkecil yang merupakan kombinasi linier dari a dan b.
Misalkan a|c dan b|c. Apakah ini berarti ab|c? Tidak. Misalnya, 3|12 dan 6|12, tetapi 36 - 12.
Teorema berikut memberikan kriteria agar ab|c.
Teorema 2.2.7. Jika a|c dan b|c, serta (a, b) = 1, maka ab|c.
Bukti. Karena a|c, c = ma untuk suatu bilangan bulat m dan karena b | c, c = nb untuk suatu
bilangan bulat n. Karena (a, b) = 1, menurut Teorema 2.2.5, sa + tb = 1 untuk suatu bilangan
bulat s dan t. Kalikan kedua ruas dengan c, didapat sac + tbc = c. Sekarang substitusi nb untuk
c yang pertama dan ma untuk c yang kedua, didapat
sa(nb) + tb(ma) = c.
Ini menunjukkan bahwa ab(ns + mt) = c, sehingga ab|c.
Kita telah menunjukkan bahwa GCD dari a dan b, tidak keduanya 0, adalah kombinasi linier
dari a dan b. Namun, belum diuraikan bagaimana menentukan kombinasi linier dari a dan b yang
sama dengan (a, b) (meskipun telah ditunjukkan salah satu cara menentukan kombinasi linier
dengan coba-coba). Dalam bagian berikutnya, akan disajikan algoritma untuk mendapatkan
kombinasi linier dari a dan b yang sama dengan (a, b).
Kita mulai dengan definisi GCD untuk tiga bilangan bulat atau lebih.
Definisi 2.2.4. Misal a1 , a2 , . . . , an bilangan bulat, tidak semuanya 0. Pembagi bersama terbesar
dari bilangan bulat ini adalah bilangan bulat terbesar yang merupakan pembagi dari setiap ai ,
dinotasikan (a1 , a2 , . . . , an ).
Contoh 2.2.2. Dengan mudah dapat dihitung bahwa (12, 18, 30) = 6 dan (10, 15, 25) = 5.
Lema berikut menunjukkan bagaimana proses rekursif digunakan untuk menentukan GCD
dari himpunan dengan lebih dari dua bilangan bulat.

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

19

Teori Bilangan

Lema 2.2.6. Jika a1 , a2 , . . . , an bilangan bulat, tidak semuanya 0, maka (a1 , a2 , . . . , an1 , an ) =
(a1 , a2 , . . . , an2 , (an1 , an )).
Contoh 2.2.3. Untuk menentukan GCD dari tiga bilangan bulat 105, 140, dan 350, gunakan
Lema 2.2.7 untuk memperoleh (105, 140, 350) = (105, (140, 350)) = (105, 70) = 35.
Korolari 2.2.8. Jika d = (a1 , a2 , . . . , an ), maka d|ai untuk setiap bilangan bulat i, dengan
1 i n.
Korolari 2.2.9. Jika d|a1 a2 an dan (d, ai ) = 1 untuk 1 i n 1, maka d|an .
Teorema 2.2.10. Untuk setiap bilangan bulat positif a, b, dan c dengan gcd(a, b) = 1, berlaku

1). jika a|c dan b|c, maka ab|c.


2). jika a|bc, maka a|c.
3). gcd(a, bc) = gcd(a, c).
4). jika gcd(a, c) = 1, maka gcd(a, bc) = 1.
5). gcd(am , bn ) = 1 untuk semua m, n 1.

2.3

Algoritma Euclid

Algoritma Euclid adalah algoritma yang efisien untuk menghitung GCD dari dua bilangan bulat
tanpa perlu memfaktorkan bilangannya. Algoritma ini merupakan alat fundamental dalam teori
bilangan algoritmik. Tidak seperti algoritma pembagian, algoritma Euclid benar-benar merupakan algoritma. Algoritma ini menyediakan cara untuk menghitung gcd(a, b). Seperti telah
diuraikan sebelumnya bahwa gcd(0, 0) = 0, gcd(a, b) = gcd(|a|, |b|), dan gcd(a, b) = gcd(b, a),
karena itu kita hanya perlu cara menghitung gcd(a, b) untuk a b > 0.
Lema 2.3.1. Jika a > 0, maka gcd(a, 0) = a dan gcd(a, a) = a.

Bukti. Karena setiap bilangan bulat membagi 0, C(a, 0) hanyalah himpunan pembagi-pembagi
dari a. Dengan Lema 2.2.2, pembagi terbesar dari a adalah |a|. Karena a > 0, |a| = a. Ini
menunjukkan bahwa gcd(a, a) = a.

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

20

Teori Bilangan

Teorema 2.3.1. Misal a > b > 0. Jika r adalah sisa bila a dibagi oleh b, maka gcd(a, b) =
gcd(b, r).

Bukti. Misal gcd(a, b) = d1 dan gcd(b, r) = d2 . Akan ditunjukkan bahwa d1 = d2 . Karena


d1 adalah pembagi bersama dari a dan b, maka a = md1 dan b = nd1 untuk suatu bilangan
bulat m dan n. Kita mempunyai dari a = bq + r bahwa md1 = (nd1 )q + r dan karenanya
r = md1 (nd1 )q = d1 (m nq). Jadi, d1 adalah pembagi dari r sebab (m nq) adalah bilangan
bulat dan, karena d1 adalah pembagi dari b, ini berarti d1 adalah pembagi bersama dari b dan
r. Dengan demikian, d1 d2 .
Selanjutnya, d2 adalah pembagi bersama dari b dan r, sehingga b = kd2 dan r = ld2 untuk
suatu bilangan bulat k dan l. Dari a = bq + r kita mempunyai bahwa a = (kd2 )q + ld2 dan
karena itu a = d2 (kq + l). Jadi, d2 adalah pembagi dari a sebab (kq + l) adalah bilangan bulat
dan, karena d2 adalah pembagi dari b, ini berarti bahwa d2 adalah pembagi bersama dari a
dan b. Dengan demikian, d2 d1 . Karena d1 d2 dan d2 d1 , berarti d1 = d2 sehingga
gcd(a, b) = gcd(b, r).
Contoh 2.3.1. Gunakan Teorema 2.3.1, hitung gcd(803, 154).
gcd(803, 154) = gcd(154, 33)

sebab 803 = 154 5 + 33

gcd(154, 33) = gcd(33, 22)

sebab 154 = 33 4 + 22

gcd(33, 22) = gcd(22, 11)

sebab 33 = 22 1 + 11

gcd(22, 11) = gcd(11, 0)

sebab 22 = 11 2 + 0

gcd(11, 0) = 11.
Jadi, gcd(803, 154) = 11.
Teorema 2.3.2. Misal r0 = a dan r1 = b adalah bilangan bulat sedemikian sehingga a b > 0.
Jika algoritma pembagian diterapkan beruntun untuk memperoleh rj = rj+1 qj+1 + rj+2 dengan
0 < rj+2 < rj+1 untuk j = 0, 1, 2, . . . , n 2 dan rn+1 = 0, maka (a, b) = rn , sisa taknol terakhir.

Berikut ini adalah bukti bahwa algoritma Euclid menghasilkan pembagi bersama terbesar
dari dua bilangan bulat.

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

21

Teori Bilangan

Bukti. Misal r0 = a dan r1 = b adalah bilangan bulat positif dengan a b. Dengan menerapkan
algoritma pembagian secara berurutan, kita memperoleh

r0 = r1 q1 + r2 ,

0 r2 < r1 ,

r1 = r2 q2 + r3 ,

0 r3 < r2 ,

..
.
rj2 = rj1 qj1 + rj ,

0 rj < rj1 ,

..
.
rn4 = rn3 qn3 + rn2 ,

0 rn2 < rn3 ,

rn3 = rn2 qn2 + rn1 ,

0 rn1 < rn2 ,

rn2 = rn1 qn1 + rn ,

0 rn < rn1 ,

rn1 = rn qn .
Kita dapat mengasumsikan bahwa pada akhirnya kita memperoleh sisa nol, sebab barisan
sisa, a = r0 r1 > r2 > 0 tidak dapat memuat lebih dari a suku (sebab setiap sisa adalah
bilangan bulat). Berdasarkan Teorema 2.3.2, (a, b) = (r0 , r1 ) = (r1 , r2 ) = (r2 , r3 ) = =
(rn3 , rn2 ) = (rn2 , rn1 ) = (rn1 , rn ) = (rn , 0) = rn . Jadi, (a, b) = rn , sisa taknol terakhir.
Contoh 2.3.2. Dengan menggunakan algoritma Euclid untuk menentukan (252, 198) kita peroleh
252 = 1 198 + 54
198 = 3 54 + 36
54 = 1 36 + 18
36 = 2 18 + 0.
Sisa taknol terakhir adalah GCD dari 252 dan 198. Jadi, (252, 198) = 18.
Menyatakan GCD sebagai Kombinasi Linier
Algoritma Euclid dapat digunakan untuk menyatakan GCD dari dua bilangan bulat sebagai
kombinasi linier dari dua bilangan bulat tersebut. Kita ilustrasikan ini dengan menyatakan

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

22

Teori Bilangan

(252, 198) = 18 sebagai kombinasi linier dari 252 dan 198. Menggunakan algoritma Euclid
untuk menentukan (252, 198), dari langkah sebelum langkah terakhir kita peroleh
18 = 54 1 36.
Dari langkah sebelumnya, didapat
36 = 198 3 54,
yang berakibat bahwa
18 = 54 1 (198 3 54) = 4 54 1 198.
Dari langkah pertama kita mempunyai
54 = 252 1 198,
sehingga
18 = 4 (252 1 198) 1 198 = 4 252 5 198.
Persamaan terakhir ini menunjukkan 18 = (252, 198) sebagai kombinasi linier dari 252 dan 198.
Perhatikan bahwa GCD dari dua bilangan bulat dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier
dari dua bilangan bulat tersebut dengan tak hingga banyaknya cara. Untuk melihat ini, misal
d = (a, b) dan d = sa + tb adalah salah satu cara menuliskan d sebagai kombinasi linier dari a
dan b. Maka
d = (s + k(b/d))a + (t k(a/d))b
untuk semua bilangan bulat k.
Contoh 2.3.3. Dengan a = 252 dan b = 198, kita mempunyai 18 = (252, 198) = (4 + 11k)252 +
(5 14k)198 untuk setiap bilangan bulat k.
Metode Blankinship
W. A. Blankinship mengembangkan metode sederhana untuk mendapatkan bilangan bulat
s dan t dalam Lema Bezout dan pada saat yang sama menghasilkan gcd(a, b).
Diberikan a > b > 0, bentuk matriks berikut

a 1 0

b 0 1

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

23

Teori Bilangan

Kemudian matriks diredusir menjadi salah satu bentuk tereduksi berikut:

0 x1 x2

d y1 y2
atau

d y1 y2

0 x1 x2

Dari matriks ini didapat d = gcd(a, b) = y1 a + y2 b.


Contoh 2.3.4. Tulis gcd(a, b) sebagai kombinasi linier dari a dan b dengan a = 35 dan b = 15.
Bentuk matriks:

35 1 0

15 0 1

Kalikan baris 2 dengan 2 dan tambahkan ke baris 1 untuk mendapatkan

5 1 2

15 0 1
Kalikan baris 1 dengan 3 dan tambahkan ke baris 2 sehingga diperoleh

5 1 2

.
0 3 7
Sekarang kita peroleh
gcd(35, 15) = 5
dan
5 = 1 35 + (2) 15.

2.4

Kelipatan Persekutuan Terkecil

Kelipatan persekutuan terkecil (Least Common Multiple, LCM) dari dua bilangan bulat positif
a dan b adalah bilangan bulat positif terkecil yang dapat dibagi oleh a dan b; dinotasikan [a, b].
Misalnya, kita ingin mengetahui [18, 24].
Kelipatan positif dari 18 : 18, 36, 54, 72, 90, . . .

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

24

Teori Bilangan

Kelipatan positif dari 24 : 24, 48, 72, 96, . . .


Kelipatan positif persekutuan dari 18 and 24 : 72, 144, 216, . . .
Jadi, kelipatan persekutuan terkecil dari 18 dan 24, [18,24], adalah 72.
Bagaimana kita tahu bahwa [a, b] selalu ada? Karena ab adalah kelipatan dari a dan b,
himpunan kelipatan persekutuan selalu takkosong; jadi, menurut prinsip terurut rapi, himpunan
memuat elemen terkecil; jadi, [a, b] selalu ada. Apakah LCM tunggal? Jawabannya adalah Ya.
Definisi 2.4.1. Misal a dan b bilangan bulat. Bilangan bulat m adalah kelipatan persekutuan
dari a dan b jika dan hanya jika a|m dan b|m.
Definisi 2.4.2. Kelipatan persekutuan terkecil dari dua bilangan bulat taknol a dan b adalah
bilangan bulat positif m, dinotasikan [a, b] = m, yang memenuhi berikut ini:
(i) a|m dan b|m,
(ii) jika a|c dan b|c, c > 0, maka m c.
Teorema 2.4.1.
1. Jika c adalah LCM dari dua bilangan bulat taknol a dan b, maka LCM membagi c, atau
[a, b]|c.
2. Jika c > 0, maka [ca, cb] = c[a, b].
3. Jika a dan b dua bilangan bulat positif, maka (a, b)[a, b] = ab.
Seperti halnya GCD, rekursi dapat diterapkan untuk menghitung LCM dari tiga bilangan
bulat positif atau lebih, seperti ditunjukkan teorema berikut.
Teorema 2.4.2. Misal a1 , a2 , . . . , an adalah n bilangan bulat positif, n 3. Maka [a1 , a2 , . . . , an ] =
[[a1 , a2 , . . . , an1 ], an ].
Contoh 2.4.1. Hitung [24, 28, 36, 40].
Solusi.
[24, 28, 36, 40] = [[24, 28, 36], 40] = [[[24, 28], 36], 40]
= [[168, 36], 40] = [504, 40]
= 2520

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

25

Teori Bilangan

Teorema 2.4.3. Misalkan m1 , m2 , . . . , mk dan a bilangan bulat positif sedemikian sehingga mi |a


untuk 1 i k. Maka [m1 , m2 , . . . , mk ]|a.

2.5

Persamaan Diophantine Linier

Jika kita menginginkan solusi suatu persamaan berupa bilangan bulat, maka kita berurusan
dengan persamaan diophantine. Nama persamaan ini diturunkan dari matematikawan Yunani
kuno, Diophantus. Sebagai contoh, jika solusi dibatasi pada bilangan bulat, maka persamaan
2x + 3y = 4, x2 + y 2 = 1, dan x2 + y 2 = z 2 adalah persamaan diophantine.
Kelas persamaan diophantine yang paling sederhana adalah kelas persamaan diophantine
linier. Persamaan ax+by = c, dengan a, b, dan c bilangan bulat, disebut persamaan diophantine
linier dalam dua variabel. Menyelesaikan persamaan diophantine linier memerlukan algoritma
Euclid.
Teorema berikut memberikan cara menentukan apakah persamaan mempunyai solusi, dan
jika solusi ada, bagaimana mendapatkannya.
Teorema 2.5.1. Misalkan a dan b bilangan bulat dengan d = gcd(a, b). Persamaan ax + by = c
mempunyai solusi bulat jika d | c. Jika x = x0 dan y = y0 adalah solusi khusus dari persamaan,
maka semua solusi diberikan oleh
x = x0 + (b/d)n,

y = y0 (a/d)n

dengan n adalah bilangan bulat. Jika d - c, maka tidak ada solusi bulat.
Contoh 2.5.1. Menurut Teorema 2.5.1, persamaan diophantine 6x + 9y = 21 mempunyai tak
hingga banyaknya solusi sebab gcd(6, 9) = 3 | 21. Untuk menentukan solusi ini, perhatikan
bahwa dengan algoritma Euclid didapat 6 1 + 9 1 = 3 sehingga 6 7 + 9 7 = 21. Jadi,
x0 = 7, y0 = 7 adalah solusi khusus. Solusi umum diberikan oleh
x = 3n 7,

y = 7 2n,

n bilangan bulat

Contoh 2.5.2. Menurut Teorema 2.5.1, persamaan diophantine 6x + 9y = 5 tidak mempunyai


solusi sebab gcd(6, 9) = 3 - 5.

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

26

Teori Bilangan

Teorema 2.5.2. Persamaan diophantine linier a1 x1 + a2 x2 + + an xn = c dapat diselesaikan


jika dan hanya jika (a1 , a2 , . . . , an )|c. Jika dapat diselesaikan, maka mempunyai tak hingga
banyaknya solusi.
Contoh 2.5.3. Tentukan apakah persamaan diophantine linier 6x + 8y + 12z = 10 dan 6x +
12y + 15z = 10 dapat diselesaikan.
Solusi.
Karena (6, 8, 12) = 2 dan 2|10, maka persamaan diophantine linier 6x + 8y + 12z = 10
dapat diselesaikan.
(6, 12, 15) = 3, tetapi 3 - 10, sehingga 6x + 12y + 15z = 10 tidak mempunyai solusi integral.
Contoh 2.5.4. Tentukan solusi umum dari persamaan diophantine linier 6x + 8y + 12z = 10
Solusi.
Dari contoh sebelumnya, persamaan diophantine linier mempunyai tak hingga banyaknya
solusi. Karena 8y + 12z adalah kombinasi linier dari 8 dan 12, haruslah dia merupakan kelipatan
dari (8, 12) = 4. Jadi, kita misalkan
8y + 12z = 4u.

(2.5.3)

Ini menghasilkan persamaan diophantine linier dalam dua variabel: 6x + 4u = 10. Selesaikan
ini, didapat x = 5 + 2t dan u = 5 3t, dengan t bilangan bulat. Sekarang substitusikan untuk
u dalam persamaan (2.5.3):
8y + 12z = 4(5 3t).
Perhatikan bahwa (8, 12) = 4 dan 4 = 2 8 + (1) 12. Karena itu,
4(5 3t) = (10 6t) 8 + (5 3t) 12.
Jadi, berdasarkan Teorema 2.5.1, solusi umum dari persamaan (2.5.3) adalah y = 10 6t + 3s,
z = 5+3t2s. Dengan demikian, solusi umum dari persamaan diophantine linier yang diberikan
adalah
x = 5 + 2t
y = 10 6t + 3s
z = 5 + 3t 2s

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

27

Teori Bilangan

dengan t dan s bilangan bulat.


Umumnya, jika terdapat solusi untuk persamaan diophantine linier
a1 x1 + a2 x2 + + an xn = c,
maka solusi tersebut bergantung pada n 1 parameter.

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

28

Teori Bilangan

D. Problem

1. Misal a bilangan bulat positif. Tentukan pembagi bersama terbesar dari a dan a + 2.
2. Tunjukkan bahwa jika a dan b bilangan bulat dengan (a, b) = 1, maka (a + b, a b) =
1 atau 2.
3. Tunjukkan bahwa jika a bilangan bulat genap dan b bilangan bulat ganjil, maka (a, b) =
(a/2, b).
4. Tunjukkan bahwa jika a, b, dan c bilangan bulat sedemikian sehingga (a, b) = 1 dan
c|(a + b), maka (c, a) = (c, b) = 1.
5. Tunjukkan bahwa jika a, b, c, dan d bilangan bulat sedemikian sehingga b dan d positif,
(a, b) = (c, d) = 1, dan

a
b

c
d

bilangan bulat, maka b = d.

6. Buktikan bahwa LCM dari dua bilangan bulat adalah tunggal.


7. Buktikan bahwa [ka, kb] = k[a, b] dengan a, b, dan k bilangan bulat positif.
8. Untuk setiap persamaan diophantine berikut, dapatkan semua solusi atau tunjukkan bahwa
tidak ada solusi bulat.
a) 2x + 5y = 11
b) 17x + 13y = 100
c) 21x + 14y = 147
d) 60x + 18y = 97
e) 1402x +1969y = 1
9. A Japanese businessman returning home from a trip to North America exchanges his U.S.
and Canadian dollars for yen. If he receives 15, 286 yen, and received 122 yen for each
U.S. and 112 yen for each Canadian dollar, how many of each type of currency did he
exchange?
10. The Indian astronomer and mathematician Mahavira, who lived in the ninth century,
posed this puzzle: A band of 23 weary travelers entered a lush forest where they found 63
piles each containing the same number of plantains and a remaining pile containing seven

2014

Universitas Pendidikan Ganesha

29

Teori Bilangan

plantains. They divided the plantains equally. How many plantains were in each of the 63
piles? Solve this puzzle.
11. At a clambake, the total cost of a lobster dinner is $11 and of a chicken dinner is $8. What
can you conclude if the total bill is each of the following amounts? a) $777

b) $96

c)

$69
12. Tentukan semua solusi bulat dari setiap persamaan diophantine berikut.
a) 2x + 3y + 4z = 5
b) 7x + 21y + 35z = 8
13. Tentukan semua solusi bulat dari sistem persamaan diophantine linier berikut.
a)
x + y + z = 100
x + 8y + 50z = 156
a)
x + y + z = 100
x + 6y + 21z = 121
14. A piggy bank contains 24 coins, all of which are nickels, dimes, or quarters. If the total
value of the coins is two dollars, what combinations of coins are possible? (Note: 1 dollar
= 100 cents, 1 nickel =5 cents, 1 dime = 10 cents, and 1 quarter = 25 cents)

2014

Universitas Pendidikan Ganesha