Anda di halaman 1dari 57

DASAR KESEIMBANGAN

CAIRAN DAN ELEKTROLIT


( HES PLASMA EXPANDER )

Dr. Hj. Endang Melati Maas, SpAn KIC. KAP

DEPARTEMEN ANESTESI & TERAPI INTENSIF


FK UNSRI / RSMH
PALEMBANG

INDIKASI

Resusitasi cairan.
Untuk memenuhi kebutuhan basal air, elektrolit
dan kalori.
Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang.
Mengatasi gangguan keseimbangan asam basa
dan elektrolit.

PERLU DI INGAT PADA WAKTU


MEMBERIKAN CAIRAN INTRAVENA

Harus diketahui dengan benar kandungan


zat-zat yang terdapat dalam cairan
tersebut.
Tujuan apa yang akan dicapai dengan
pemberian cairan tersebut.

PRINSIP TERAPI CAIRAN INFUS

Pemberian cairan intravena untuk mengembalikan


volume darah adalah salah satu bentuk terapi medis
yang paling efektif dan yang paling baik.

Pada syok, tujuan resusitasi cairan adalah untuk


mengembalikan perfusi jaringan dan pengiriman O
ke sel, sehingga dapat mengurangi iskemia jaringan
dan kegagalan organ.

DASAR-DASAR UMUM FISIOLOGI CAIRAN TUBUH


1. Jumlah cairan tubuh
Pada orang dewasa rata-rata 45 70 % dari Berat Badan (BB) :
60% PRIA
55% WANITA
Variasi tergantung gemuk-kurusnya.

Pada Kanak : 70 80 % dari BB, rata-rata 75%

Cairan tubuh tersebut dibagi dalam :


a)

b)
c)

Cairan Ekstra Seluler (CES) : - PLASMA (5% dari BB)


- CAIRAN INTERSTISIAL
Cairan Intra Seluler (CIS)
: 40% dari BB
Cairan Trans Seluler (CTS)
: 1 3 % dari BB

Yang penting untuk pemakaian /perhitungan praktis CES dan CIS.

(15% dari BB)

Perbandingan CES dan CIS :


Pada orang DEWASA

CES

CIS = 1 : 2

Pada

CES

CIS = 2 : 3

KANAK

( Bayi/Neonatus 1 : 1 )

EKSTRA
SELULER
INTRA SELULER
Plasma
Interstitiel
TRANS SELULER

CAIRAN TRANSELULER

Cairan Otak
Cairan Pencernaan
Cairan Pleura
Cairan Perikardium
Cairan Peritonium
Cairan Persendian

GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN & ELEKTROLIT

Mempengaruhi sistem kardiovaskuler


Neurologis
Neuromuskuler
Ginjal yang paling mempengaruhi atas keseimbangan
cairan dan elektrolit

Fisiologi Keseimbangan Cairan

Jumlah cairan yang terdapat dalam tubuh manusia sekitar 60% dari
berat badan, dimana cairan ini terdapat pada berbagai jaringan
didalam tubuh secara tidak merata.
Pada laki-laki, dimana komposisi lemaknya lebih sedikit
dibandingkan dengan wanita, maka kandungan cairan didalam
tubuhnya lebih banyak.
Pada wanita cairan yang terdapat didalam tubuh sekitar 50% berat
badan.
Dengan bertambahnya usia presentasi total cairan akan menurun,
hal ini disebabkan oleh karena dengan bertambahnya usia, akan
terjadi penurunan massa otot yang progresif, sehingga tulang
jaringan ikat mempunyai presentasi yang terbesar.

40%

BB 70 Kg

Cairan 60%

20%
Total air tubuh 42 L

Intra sel vol

ECV

( ICV ) 28 L

14 L
20%

40%

Plasma vol.

SDM

PV

2L

3L

VOL

( 7%)

DRH
5L

Na 140 meq / L
Interstitial
Na 5 meq / L

Fluid = ECV-PV
11 L

1/3
CES

2/3
CIS

DEWASA (Cairan tubuh 45 75% BB)


Contoh : Pria 50 Kg : CES = 10 Liter : 2,5 L plasma

7,5 L interstitiel

CIS = 20 Liter

2/5
CES
Kanak / Bayi
Contoh : kanak 13 kg

Neonatus 3 Kg

3/5
CIS
: 70 80% BB
: CES = 4 liter (iL Plasma)
:

CIS = 6 liter

CES = 1,2 liter


CIS = 1,2 liter

Kompartemen Cairan Tubuh


Kompartemen Cairan

Volume (ml / kg)

% BB

Volume plasma

45

4,5

Volume darah

75

7,5

Volume interstitial

200

20

Volume cairan ekstraseluler

250

25

Volume cairan intraseluler

350

35

Volume cairan total tubuh

600

60

Kandungan Air ( % BB) :


Usia

Laki-laki (%)

Wanita (%)

10 15

60

57

15 40

60

50

40 60

55

47

> 60

50

45

Elektolit

Na
K
Cl
dll

AIR TUBUH

Non Elektrolit

Protein
Urea
Kreatinin
Glukosa

Isi Cairan Tubuh Terdiri dari :


a)
b)

Zat zat bukan ion


: Dextrose, Ureum, Kreatinin
Zat zat ion (garam-garam) : KATION : Na, K, Ca, Mg, (+ lain)
ANION : HCO3, Cl, PO4, protein, Asam organik

Komponen ini disebut CAIRAN ELEKTROLIT


Konsentrasi cairan elektrolit dihitung dalam :

Milli Equivalent per Liter = mEq / L


Rumus : mEq / L = mg% x 10 x k
(k = valensi )
Berat molekul atom

Contoh :
Larutan NaCl 0,9% = 155 mEq/L
900 x 10 x 1
= 155
58

Berarti :
155 mEq/L Na
155 mEq/Cl

Rumatan rutin harus diberikan selain mengganti cairan yang


hilang karena hal-hal lain. Kebutuhan rutin dapat dilihat.
Kebutuhan rutin
Berat badan
Sampai 10 Kg
10 20 Kg
> 20 Kg

Kebutuhan / Kg / Jam
4 mL
+ 2 mL
+ 1 mL

Contoh : Kebutuhan cairan rutin setiap jam untuk berat 25 kg


ialah :
(10 x 4) + (10 x 2) + (5 x 1) = 65 mL/ Jam.

Maka untuk menghitung jumlah cairan intra vena yang dibutuhkan agar dapat
mengganti volume intravaskuler yang hilang, dapat dipakai rumus sebagai
berikut :
Volume vaskular hilang = volume infus x Pv/Vd
Pv

= volume plasma

Vd

= volume distribusi

Contoh : misalnya terjadi pendarahan akut sebanyak 500 ml harus di ganti dengan RL
(Ringer
Laktat). Berat badan pasien 70 kg, maka RL didistribusikan ke ECF,
intravaskuler dan interstisial.
Vol. ECF + 20% x BB terdiri
Vol interstisial
15% x BB
Vol intravaskular
5% x BB
Pv

Vd

= volume plasma
= 5% x 70

= 3500

= ECF (oleh karena RL didistribusikan dalam ECF) = 14.000


500
= volume infus x 3500/14000
Volume infus (RL) = 2000mL

IVV

IFV

ICV

IVV

IFV

ICV

Kristaloid

IVV IFV

ICV

Koloid

IVV : Volume Intravaskular.

IFC : Volume Intertisial.


ICV : Volume Intraselular.
Kristaloid terutama meningkat IFV relatif terhadap IVV
Koloid terutama terbatas dalam ruang intravaskuler

PV = Vol infus (PV/VD)


PV = Perubahan PV yang diharapkan.
Vd = Vol distribusi cairan infus
Misal :
1.
Berapa banyak D5 yang diperlukan untuk meningkatkan PV sebesar 2L ?
PV = 3 L
Cairan tubuh total 42 L.
PV 2L = 3L/42L.
PV = 84/3 = 28L.
2.
Berapa banyak cairan yang diperlukan bila memakai 0,9% NaCl.
(VV = Vol ekstraseluler 14 L )
PV--- > 2L = 3L/ 14L
PV = 28/3 = 9L.
3.
Berapa banyak 5% albumin yang diperlukan ?
Vd = PV
PV--- > 2L = 3L/3L.
PV = 6L/3L = 2L.

LARUTAN GARAM HIPERTONIK (LGH)


(1,5 7% )

Luka Bakar.
Trauma Kepala.
Syok hipovolemik.

Makin tinggi konsentrasi, makin sedikit jumlah cairan yang diperlukan.


LGH Dapat menarik cairan intra sel ke dalam ekstra sel sebesar 7 mL
air untuk setiap cairan infus NaCl 7,5%

Contoh :
200 mL NaCl 7,5% =
(200 + 1400) mL = 1600 mL

Koreksi hipernatremia :

Normal TBW x 140 = TBW sekarang x Na plasma sekarang


Misal pria 70 kg, Na plasma sekarang 160 mEq, TBW pria 60%.
Berapakah defisit air ?
(60% x 70) x 140 = TBW sekarang x 160. TBW sekarang = 36.75
Defisit air = TBW (normal-sekarang) = (60%x70)-36.75 = 4236.75 = 5.25 liter.
Koreksi hipokalemia biasanya lebih aman per-oral. Sedangkan
hiperkalemia jarang terjadi pada faal ginjal baik. Ginjal normal
sanggup mengeluarkan K 500mEq/hari.
Hipernatremia sering terjadi disebabkan karena defisit air murni,
masukan kurang atau keluaran berlebihan.

Natrium adalah kation terpenting dalam


kompartemen ekstraseluler. Hipo atau
hipernatremia harus dipikirkan apakah perlu
segera dikoreksi. Hiponatremia hampir selalu
disebabkan oleh kelebihan air dari pada defisit
Na , misalnya karena sindroma turp (transurethral resection of prostate), menurunnya
sekresi ADH. Terapi hiponatremia ialah
dengan menghilangkan penyebabnya.

Koreksi hiponatremia :
Defisit Na = TBW x (Na diinginkan) (Na sekarang)
Misalnya : wanita berat badan 80 kg, Na sekarang 118 mEq/L,
Na diinginkan 130 Meq/L TBW wanita 50%. Na yang
diperlukan ialah : (50% x 80) x (130 118) = 480 mEq. Koreksi
dapat dilakukan dengan NaCl 0,96% atau 3%. 1 liter NaCl 0,96%
mengandung 154 mEq Na. Jadi diperlukan (480 : 154) = 3,12
liter NaCl 0,96%. Infus NaCl 0,96% isotonis hanya akan mengisi
ruang ekstrasel. NaCl tak dapat masuk ruang intrasel, karena
untuk masuk diperlukan pompa Na. Infus NaCl 0,45% hipotonis
akan mendorong air dari ekstra ke intrasel. Sebaliknya infus
NaCl 3% hipertonik akan menarik air dari intra ke ekstrasel.

Titik akhir terapi yang dipilih harus


mempertimbangkan bukti adanya perbaikan
dalam aliran jaringan, perfusi jaringan dan
juga bahaya atau kerugian bila terapi tersebut
diteruskan.

Salah satu tantangan terbesar bagi klinikus


adalah memperkirakan cukup tidaknya curah
jantung.

Resusitasi
Resusitasi cairan diperlukan pada keadaan pasien dengan gejal hypovolemia yang dapat
terjadi pada pra, saat dan pasca bedah. Kasus-kasus yang memerlukan resusitasi cairan ditemukan
pada kasus pembedahan , pendarahan, dehidrasi, dan sekuesterisasi.
Reduction in blood volume
Sympatheutic release
Of catecholamine

Pain

Increase cardial
contractility

Tachycardia

Reduction in
Venous return

Peripheral
Vasoentriction

Increased myocardial
Oxygen demand

Arterial
hypotension

Reduced tissue
perfusion

Anaerobic metabolism
Myocardial
failure

Acidosis

Multi-organ
failure

Hypovolemi yang terutama disebabkan kehilangan volume darah


akan menyebabkan turunnya tekanan systolic yang akan
merangsang respon katekolamin simpatis yang berakibat
vasocontriksi perifer, kenaikan nadi dan pengurangan kualitas
tekanan nadi. Takhikardi dan kenaikkan kontraktilitas jantung
mengakibatkan kenaikan kebutuhan oksigen myocard.
Aliran darah jaringan perifer sangat menurun dan ini merupakan
upaya tubuh untuk mempertahankan perfusi pada organ vital :
otak, jantung, lever, dan ginjal. Bilamana kehilangan darah terus
berlanjut dan perfusi jaringan menjadi tidak adekuat akan
mengakibatkan metabolisme anaerobic, acidosis dan pengurangan
kinerja organ-organ vital.
Selanjutnya depresi myokard akan mempercepat proses kearah
kegagalan multi organ.

Hypovolaemia and Shock

Decreased blood volume


Decreased cardiac output
Decreased oxygen delivery
Impaired macrocirculation

Vasocontriction
Inadequate perfusion
Erythocyte aggregation
Impaired microcirculation

Septic shock

Endotoxin release

bowel
Tissue ischemia

Organ failure
Kidney

Pada syok, tujuan resutasi cairan adalah untuk


mengembalikan perfusi jaringan dan pengiriman
oksigen ke sel, sehingga dengan demikian
mengurangi iskemia jaringan dan kemungkinan
kegagalan organ.

Titik
akhir
terapi
yang
dipilih
harus
mempertimbangkan bukti adanya perbaikan dalam
aliran jaringan, perfusi jaringan dan juga bahaya
atau kerugian bila terapi tersebut diteruskan.
Salah satu tantangan terbesar bagi klinikus adalah
memperkirakan cukup tidaknya curah jantung

Kompartemen- kompartemen cairan yang didalamnya


tersebar air, Na dan koloid. Cairan tubuh total
(60% BB) mencakup cairan intraselular (40% BB)
dan cairan ekstraselular (20% BB). Cairan
ekstraselular terbagi di antara cairan interstisial, kirakira 11 L pada orang dewasa 70 kg, dan cairan air
plasma sekitar 3 L. Volume darah, kira-kira 7% BB,
terdiri dari volume plasma (plasma volume, PV) dan
volume sel merah, kira-kira 2 L. Volume dalam sel
darah merah merupakan bagian volume intraselular
(intracellular volume, ICV).

BERAT BADAN TOTAL (70 KG)


AIR TUBUH TOTAL (42L)

ICV (28 L)

ECV (14 L)

SDM

PV
(3 L)

Vol darah 5 L
IF = ECV-PV

Volume kompartemen cairan sangat bergantung pada


Na dan protein plasma.
Na , penentu utama osmolalitas dan tonisitas, lebih
banyak terdapat dalam ruang cairan ekstraselular,
dengan kadar-kadar yang hampir sama (140 mEq/L)
dalam interstisium dan PV.
Cairan intraselular praktis sedikit mengandung Na,
hanya 5 mEq/L.

Beberapa prinsip fisiologis mengatur pergerakan air di


antara kompartemen-kompartemen cairan.
Osmosis, yaitu pergerakan air antara kompartemenkompartemen
cairan
melewati
membran
semipermeabel, terjadi bila kadar total solut pada kedua
sisi membran tidak sama.

Tekanan osmotik total yang dihasilkan oleh


kadar komponen plasma normal adalah 5620
mmHg
(291,2
mOsm/kg
x
19,3
mmHg/mOsm/kg).
Tekanan osmotik larutan Ringer Laktat (RL,
5268 mmHg) dan 0,9% NaCl (5944 mmHg)
mengarahkan bahwa larutan RL akan
mengekspansikan PV sedikit lebih kurang
daripada 0,9% NaCl karena pengurangan
dilusional tekanan osmotik plasma oleh
larutan RL akan menyebabkan air berpindah
dari ECV ke ICV.

Kompartemen Intra dan ekstraselular


merupakan ruang distribusi untuk air,
air ekstraselular merupakan ruang
distribusiuntuk Na, dan air plasma
merupakan ruang distribusi utama
untuk protein plasma.

Volume cairan pengganti yang


diperlukan untuk mengembalikan
volume darah sirkulasi ditentukan
oleh ruang distribusi cairan pengganti
yang bergantung pada kadar koloid
dan
Na
cairan
pengganti.

Ekspansi PV setelah infus beberapa macam cairan


Cairan

250ml 5% Albumin
250ml 25% Albumin
1000ml D5W
1000ml RL
1000ml 0,9% NaCl
1000ml 5% NaCl
1000ml Darah lengkap

PV
(ml)
250
1000
85
200
275
990
1000

IFV
(ml)

PV
(ml)

0
-750
255
800
825
2690
0

0
0
660
0
-100
-2950
0

PV = perubahan volume plasma; IFV (interstisial fluid volume) = volume cairan interstisial; ICV
= volume intraselular, D5W = 5% dektrosa dalam air; RL = Riner laktat

Tujuan-tujuan tersebut lebih mudah dicapai


dengan koloid yang mengekspansikan PV
tanpa over ekspansi ruang intertisial
daripada dengan kristaloid.
Kanji hidroksietil menghasilkan efek
volume darah dan hemodinamik yang lebih
besar dan lebih lama dari pada albumin,
deksran atau gelatin.

Penelitian oleh Zikria dkk pada tikus dengan


kerusakan endotelial akibat kombustio
menunjukkan bahwa fraksi kanji hidroksietil
dengan berat molekul (BM) antara 100.000
dan 300.000 dalton, sama seperti HES 130/0.4
bertindak sebagai zat penyumpal (sealing
agent) lebik baik dari 4 group kontrol yang
menerima albumin 5%, RL. HES dengan BM
< 50.000 atau HES dengan BM > 300.000
dalton.

Diantara koloid lain preparat kanji hidroksietil


molekul sedang dan besar memberikan efek PV
dan DO yang bertahan lebih lama dari pada koloid
lain.
Fraksi HES molekul sedang tertentu seperti HES
130/0.4 mempunyai tambahan efek menyumpal
khas HES pada kebocoran kapiler.
Karena itu, HES 130/0.4 mungkin bermanfaat
terutama pada pasien sakit kritis dengan gagal
organ yang sudah terwujud atau yang masih
mengancam, karena potensial khasnya untuk
mencegah kebocoran kapiler, hipovolemia dan
edema jaringan

Kristaloid tidak mengandung partikel onkotik


dan karena itu tidak terbatas dalam ruang
intravaskular.
Penyebarannya ditentukan terutama oleh kadar
Na yang hampir isotonik (misal : 0,9% NaCl,
RL dan larutan Hartmann) akan berdiam di
ruang ekstraselular.
Karena ukuran ruang interstisial 3 kali lipat
ruang intravaskular, kristaloid akan
didistribusikan ke ruang interstisial dan ke
ruang intravaskular.

5% dekstrosa yang tidak mengandung Na,


didistribusikan ke tiga ruang tubuh secara
proporsional
Volume terbesar menuju ke ruang intraselular,
karena merupakan kompartemen terbesar hanya
sebagian kecil ke ruang intravaskular.
Jadi, bila 1 L 5% dekstrosa di infuskan, hanya
120mL yang tetap berada dalam ruang
intravaskular. Karena itu 5% dekstrosa tidak
mempunyai peranan dalam terapi hipovolemia.

Terapi cairan rasional bergantung pada perkiraan defisit air


tiap-tiap kompartemen cairan fisiologis, lalu memberikan
kristaloid atau koloid yang tepat untuk resusitasi
kompartemen yang memerlukan.
Pengosongan ruang intravaskular dapat dinilai secara
klinis.
Laju jantung, tekanan darah, keluaran urin, tekanan vena
sentral dan PAWP semua menunjukkan volume ruang
intravaskular.

Ruang interstisial dan intraselular yang bersamasama membentuk bagian terbesar air tubuh total
sangatlah sulit untuk diukur.

Resusitasi kristaloid menyebabkan


ekspansi ruang interstisial, sedangkan
koloid intravena yang bersifat
hiperonkotik, karena tekanan onkotik,
cenderung untuk menyebabkan ekspansi
volume intravaskular dengan meminjam
cairan dari ruang interstisial.

Kristaloid versus Koloid.


Kristaloid
Efek volume intavaskuler

Efek volume interstisial


DO sistematik
Sembab paru

Lebih baik
-

Sembab perifer
Koagulopati
Aliran urin
Reaksi-reaksi
Harga

Sering
Lebih besar
Tidak ada
murah

Koloid
Lebih baik (efisien, volume lebih
kecil, menetap lebih lama)
Lebih tinggi

Keduanya sama-sama potensial menyebabkan sembab


paru
Jarang
Dekstran > kanji hidroksietil
GFR menurun
Jarang
Albumin mahal
Non Albumin sedang

Baru-baru ini di buktikan oleh Gan TJ


(disampaikan pada world Congress of
Anaesthesiologists Montreal, Canada June 7, 2000,
bahwa koloid memberikan profil pemulihan pasca
bedah lebih baik.
Pada pasien yang mendapat koloid intraoperatif
kekerapan muntah lebih rendah dan jumlah
pemakaian antiemetik berkurang.
Pada kelompok kristaloid lebih banyak pasien yang
mempunyai keluhan nyeri hebat pasca bedah dan
penglihatan ganda, mungkin berkaitan dengan
kekerapan edema periorbital yang lebih tinggi.

Telah disepakati bahwa efek volume intravaskular


kristaloid jauh lebih singkat dari pada efek koloid.
Karena kristaloid dengan mudah didistribusikan ke
cairan ekstraselular, hanya sekitar 20% elektrolit yang
di berikan tinggal di ruang intravaskular.
Distribusi ini menghasilkan formula yang umum
dipakai untuk pergantian kehilangan darah dengan
elektrolit.

Di lain pihak, kristaloid lebih memungkinkan timbulnya


hipovolemia sesudah resusitasi, karena waktu paruh
kristaloid di intravaskular yang pendek

Efek Volume Intravaskular


CAIRAN

Hartmann
SPS (albumin)
Dekstran 70
Kanji hidroksietil
Poligelin

WAKTU PARUH

DISTRIBUSI

Vol. interstisial
%

Vol. intravaks
%

80
20
10
0
50

20
80
90
100
50

20 menit
> 24 jam
12 jam
>24 jam
4 jam

Kekerapan reaksi-reaksi yang hebat terhadap berbagai koloid


dapat dilihat dalam tabel
Tabel Kekerapan reaksi hebat akibat koloid
KOLOID

KEKERAPAN REAKSI HEBAT

Albumin
Dekstran 70
Gelatin
Kanji hidroksietil

0,003
0,008
0,038
0,006

Reaksi dekstran ternyata lebih hebat dibanding koloid lain,


tetapi pemberian dekstran molekul rendah (BM 1000) sesaat
sebelum pemberian dekstran 70 mengurangi kekerapan reaksireaksi ini. Untungnya reaksi-reaksi tersebut jarang terjadi dan
dapat dimodifikasi, namun dalam area ini kristaloid memberi
keuntungan yang nyata.
Interfensi ini merupakan fenomena yang berhubungan dengan
dosis. Pemberian dekstran 70 melebihi 1,5 g/kg dapat
berakibat gangguan hemostasis. Hal ini membatasi
penggunaan dekstran 70 sampai kira-kira 1,5-2 liter pada
pasien dewasa sehingga membatasi pemakaiannya pada situasi
resusitasi.
Kanji hidroksietil mempunyai masalah potensial lain, yaitu
bahwa zat ini diserap oleh sistem retikuloendotelial, sehingga
tinggal dalam tubuh untuk waktu yang lama dan mungkin
berefek pada fungsi imunitas

Efek penambahan NaCl hipertonik sesudah keseimbangan


ECV dan ICV dapat pula dikalkulasikan.Efek infus 140mL
(2mL/kg) pada orang dewasa 70 kg secara osmotis akan
menarik 800mL ke dalam ruang ekstraselular; peningkatan PV
(1/5 ekspansi ekstraselular) adalah sekitar 160mL.

Larutan NaCl hipertonik ternyata cukup aman


Pemberian NaCl hipertonik dapat berakibat peningkatan
kadar Na serum sampai 150-155 mEq/L; namun, pasien
ternyata dapat menoleransikan peningkatan akut tanpa efek
yang merugikan.
Mielinolisis pontin sentral yang terjadi sesudah koreksi cepat
hiponatremia berat, terutama yang kronis, tidak pernah
ditemukan dalam uji klinis resusitasi hipertonik.

Problema terbesar pada penggunaan kristaloid


untuk ekspansi ruang intravaskular adalah
diperlukannya volume yang besar.

Dapat menyebabkan kelebihan cairan tubuh total,


bahkan pada keadaan ruang intravaskular yang
berkontraksi, dengan ekspansi berlebih ruang
interstisial dan edema perifer.

Dapat diperberat oleh hipoproteinemia dilusional


dan penurunan tekanan osmotik koloid plasma yang
menyebabkan cairan berpindah dari ruang
intravaskular ke ruang interstisial.

Edema interstisial menyebabkan penurunan VO


jaringan perifer
Akibat jarak difusi yang lebih panjang antara
kapiler dan sel. dapat pula mengakibatkan
penyembuhan luka terhambat. terjadi gangguan
fungsi limfatik
Tekanan positif dalam ruang interstisial
menimbulkan kolaps pembuluh-pembuluh yang
halus dan gangguan katup
Terjadi akumulasi protein dalam ruang
interstisial dengan akibat edema makin parah.

Dalam pemberian terapi cairan pada


pasien traumatik/perioperatif, kita
harus memperhitungkan kebutuhan
cairan basal, penyakit-penyakit yang
menyertai, medikasi, teknik dan obat
anestetik serta kehilangan cairan
akibat trauma/ pembedahan.

Pada pasien-pasien ini, sel-sel endotel


kapiler sering kali bocor sehingga
molekul-molekul protein besar keluar ke
ruang interstisial menurunkan
gradien-gradien tekanan osmotik antar
dinding kapiler dan air mengikuti
molekul protein keluar ke interstisium
dengan pengurangan IVV Timbullah
edema perifer dan paru dengan akibat
hipoksemia, penurunan DO dan
penurunan VO oleh jaringan perifer.

Kombustio melibatkan kehilangan integritas kapiler


pada jaringan yang rusak, mengakibatkan
kehilangan cairan isotonik dan albumin dari
kompartemen intravaskular ke dalam jaringan sekitar
cedera. menimbulkan tekanan onkotik plasma
yang rendah, edema yang luas dan penurunan PV,
disertai dengan hipotensi, curah jantung dan keluaran
urin yang menurun dan syok.
Pasien kombustio mendapat volume kristaloid yang
besar dalam 24 jam pertama untuk ekspansi cairan
ekstraselular.
Sesudah 24 jam, umumnya dipakai volume koloid
yang besar dan volume kristaloid yang lebih kecil.

Hipoalbuminemia biasa dijumpai pada pasien sakit kritis


karena dua sebab :
Terjadi penurunan sintesis protein oleh hepar
akibat defisit nutrisional dan kekerapan kerusakan
hepar yang tinggi
Terdapat penambahan kehilangan albumin dari
ruang intravaskular.

Pada operasi tanpa banyak trauma bedah,


kecuali kehilangan darah, dapat diberikan
mula-mula koloid, dan kemudian darah jika
terjadi hemodilusi yang bermakna.
Pada pasien yang menderita trauma non
bedah yang terlambat diberi cairan resusitasi,
dapat dipakai kombinasi kristaloid dan koloid.
Akhirnya, pada pasien dengan kebocoran
kapiler, prognosis sangat jelek, tidak pandang
macam cairan apa yang diberikan. untuk
pasien ini lebih baik diberi koloid dengan
molekul lebih besar.