Anda di halaman 1dari 10

Identifikasi Hidrokarbon

27 Oktober 2014
Wiji Dwi Utami
1113016200014

Abstrak
Hidrokarbon merupakan salah satu golongan besar senyawa organik. Senyawa
hidrokarbon hanya terdiri dari atom karbon dan atom hydrogen, tidak ada unsur
tambahan yang lain. Golongan hidrokarbon ini dapat dibagi lagi berdasarkan ikatan
antar atom karbon. Berbedanya ikatan antar atom karbon inilah yang membuat
perbedaan sifat-sifat kimianya. Hidrokarbon dapat digolongkan menjadi
hidrokarbon jenuh dan tidak jenuh. Hidrokarbon jenuh antara lain alkane dan
sikloalkana, sedangkan hidrokarbon tak jenuh antara lain alkena, alkuna, senyawa
aromatic, dan sikloalkena. Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa
hidrokarbon melalui uji bromin, uji Baeyer, dan uji asam sulfat. Berdasarkan hasil
percobaan diperoleh sampel 1 merupakan hidrokarbon jenuh dan sampel 2 adalah
hidrokarbon tak jenuh.
Kata kunci: Hidrokarbon jenuh, Hidrokarbon tak jenuh, Uji Bromin, Uji Baeyer,
Uji Asam Sulfat.

Pendahuluan
Senyawa organik merupakan turunan dari golongan senyawa yang dikenal
sebagai hidrokarbon sebab senyawa tersebut terbuat hanya dari hydrogen dan
karbon. Berdasarkan strukturnya, hidrokarbon dibagi menjadi dua golongan utama,
yaitu alifatik dan aromatic. Hidrokarbon alifatik (aliphatic hydrocarbon) tidak
mengandung gugus benzene, atau cincin benzene, sedangkan hidrokarbon aromatic
(aromatic hydrocarbon) mengandung satu atau lebih cincin benzene. (Chang, 2005:
332)

Hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari unsur karbon (C) dan
hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atomatom hidrogen
yang berikatan dengan rantai tersebut. Istilah tersebut digunakan juga sebagai
pengertian dari hidrokarbon alifatik. (http://repository.usu.ac.id)
Senyawa organik yang hanya mengandung atom karbon dan atom hydrogen
dikenal dengan nama hidrolarbon. Hidrokarbon dapat dibagi dalam tiga kelas.
1. Hidrokarbon alifatik. Dalam hidrokarbon ini, atom-atom karbon berikatan satu
dengan yang lain membentuk rantai dan merupakan seri homolog dari molekul
CH2. Senyawa jenis ini dapat berupa senyawa alkane, alkena, dan alkuna.
2. Hidrokarbon alisiklik. Dalam hidrokarbon ini, atom-atom karbon akan
berikatan dengan membentuk cincin.
3. Hidrokarbon aromatic. Senawa lingkar dalam senyawa ini mempunyai struktur
benzene, atau senyawa yang berhubungan dengan benzene. (Riswiyanto, 2009:
14)
Semua senyawa organik adalah hidrokarbon atau senyawaan yang
diturunkan daripadanya. Hidrokarbon alifatik adalah struktur rantai yang
dikelompokkan dalam tiga deret homolog senyawaan; dalam tiap deret tiap
senyawaan adalah homolog senyawaan yang lain. Alkane adalah hidrokarbon
jenuh: mereka hanya mempunyai ikatan-ikatan tunggal. Alkena (deret etilena) dan
alkuna (deret asetilena) adalah hidrokarbon tak jenuh. Mereka mempunyai masingmasing satu ikatan rangkap dan satu ikatan ganda tiga. Hidrokarbon aromatic
adalah struktur cincin yang mempunyai system electron-pi-terdelokalisasi.
Terdapat juga hidrokarbon siklik yang jenuh: sikloalkana ini merupakan suatu
deret homolog yang berisomer dengan alkena. (Keenan, 1984: 399)
Hidrokarbon alkane, alkena, alkuna dan benzene mempunyai sifat fisika
yang sangat mirip. Semua berupa senyawaan tak berwarna, tak larut atau hanya
sedikit sekali larut dalam air, tetapi sangat larut dalam pelarut nonpolar.
Hidrokarbon dengan bobot molekul rendah, C1 sampai kira-kira C5, adalah gas,
yang bobot molekulnya sedang bersifat cair, dan yang bobot molekulnya tinggi

erupa zat padat. Titik leleh dan titik didih yang sebenarnya untuk molekul yang
sama banyak atom karbonnya, beraneka bergantung pada ada tidaknya ikatan
rangkap dan gandatiga dan banyak serta macamnya percabangan. (keenan, 1984:
375)
Kebanyakan hidrokarbon diperoleh dari gas alam, minyakbumi dan
batubara; suatu sumber penting yang potensial adalah serpihan minyak. Reaksi
kimia yang paling dikenal dari hidrokarbon adalah pembakaran menjadi karbon
dioksida dan air. Kebanyakan reaksi lainnya tidak sedrastis pembakaran. Reaksi
yang karakteristik alkane adalah reaksi substitusi; yang karakteristik alkena dan
alkuna adalah reaksi adisi. Hidrokarbon aromatic dapat mengalami kedua tipe
reaksi itu, tetapi reaksi substitusi jauh lebih lazim. (keenan, 1984: 399)

Metodologi
Percobaan Identifikasi Hidrokarbon ini dilakukan di Laboratorium
Pendidikan Kimia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta, pada hari Senin, 27 Oktober 2014 pukul 07.30-11.00
WIB.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain tabung reaksi, rak
tabung reaksi, pipet tetes. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan sampel
1, larutan sampel 2, air brom, larutan KMnO4 0,5%, larutan Na2CO3 10%, dan
larutan H2SO4 pekat.
Pada praktikum ini ada 5 tahap uji yang kami lakukan antara lain:
1. Uji Bromin
Pertama, meyiapkan dua buah tabung reaksi, isi dengan 3-4 ml air brom.
Kemudian masukkan sampel masing-masing 1 ml. Kocok dan amati setelah 2
atau 3 menit. Jika bromin tidak berwarna, siapkan tabung yang sama dan
tempatkan tabung di dalam loker dan tabung lainnya di tempat yang terkena
cahaya. Biarkan tabung selama 10-15 menit, lalu bandingkan. Amati warna

dari masing-masing tabung, apakah terbentuk hirdogen bromide atau tidak dan
catat hasilnya.
2. Uji Baeyer
Pertama, menyiapkan 2 buah tabung reaksi. Lalu masukkan masing-masing 3
ml larutan kalium permanganate encer ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 3
ml larutan natrium karbonat encer ke dalam masig-masing tabung. Kemudian
masukkan masing-masing 1 ml sampel. Kocok tabung selama 1-2 menit, dan
catat hasilnya.
3. Uji Asam Sulfat
Pertama menyiapkan 2 buah tabung reaksi yang berisi 3 ml larutan asam sulfat
pekat. Lalu ke dalam masing-masing tabung ditambahkan 1 ml sampel. Kocok
tabung dan catat hasilnya. Amati apakah menhasilkan panas dan apakah
hidrokarbon larut.

Hasil dan Pembahasan


Uji

Uji Bromin

Perlakuan

Hasil Pengamatan

Bromin

Kuning kecokelatan

+ sampel 1 (di

Kuning terdapat layer,

tempat gelap)

tidak larut

Bromin

Kuning Kecokelatan

+ sampel 2 (di

Kuning, larut

tempat gelap)

Uji Baeyer

KMnO4

Ungu

+ Na2CO3

Ungu, larut

+Sampel 1

Terdapat dua lapisan, atas


tak berwarna, bawah ungu.

KMnO4

Ungu

+Na2CO3

Ungu, larut.

+Sampel 2

Ungu, larut

H2SO4 pekat

Tak berwarna

+sampel 1

Tidak larut, terdapat


cincin, dingin

Uji Asam Sulfat


H2SO4 pekat

Tak berwarna

+sampel 2

Larut, panas.

Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa hidrokarbon


melalui 3 macam uji, yaitu Uji Bromin, Uji Baeyer, dan Uji Asam Sulfat. Dari uji
ini dapat diketahui apakah senyawa tersebut merupakan hidrokarbon jenuh atau
hidrokarbon tak jenuh. Selain itu, juga akan dibahas mengenai 3 macam reaksi.
Tiga macam reaksi yang dilakukan dalam praktikum adalah reaksi halogenasi
senyawa hidrokarbon melalui uji bromine, reaksi oksidasi melalui uii Baeyer, dan
reaksi sulfonasi melalui uji Asam Sulfat. Uji yang pertama dilakukan adalah uji
bromine. Uji bromine bertujuan selain untuk mengamati reaksi halogenasi
hidrokarbon, juga untuk mengetahui pengaruh cahaya dalam mempercepat
terjadinya reaksi senyawa hidrokarbon. Reaksi pada uji bromine, terjadi ketika 1 ml
sampel ditambahkan ke dalam 3-4 ml air brom. Kemudian ditaruh ditempat yang
gelap. Dari hasil pengamatan diperoleh, sampel 1 menjadi berwarna kuning dan
terdapat layer yang menandakan senyawa tersebut tidak larut ketika dicampurkan
dengan air brom. Sedangkan sampel 2 menjadi berwarna kuning dan larut.
Selanjutnya, pada uji yang kedua dilakukan Uji Baeyer. Uji Baeyer
merupakan suatu uji untuk menunujukkan kereaktifan senyawa hidrokarbon
terhadap oksidator KMnO4 yang merupakan katalis. Uji Bayer dilakukan dengan
mencampurkan larutan Na2CO3 dan KMnO4 terhadap suatu cairan sampel.
Penambahan larutan Na2CO3 jelas dilakukan untuk mengoksidasi senyawa
hidrokarbon. Dan penambahan KMnO4 bertujuan untuk mengetahui terjadinya
reaksi oksidasi. Rekasi oksidasi terjadi bila warna ungu dari KMnO4 hilang dari
campuran tersebut. Berdasarkan pengamatan setelah sampel dicampurkan ke dalam
KMnO4 dan Na2CO3 diperoleh pada sampel 1 terdapat 2 lapisan, lapisan atas tidak
berwarna dan lapisan bawah berwarna ungu. Sedangkan sampel 2 berwarna ungu
dan larut.

Uji terakhir, yaitu Uji Asam Sulfat. Berdasarkan hasil percobaan setelah 1
ml sampel dimasukkan ke dalam 3 ml H2SO4 diperoleh, sampel 1 tidak
menghasilkan panas dan di dalam larutan terdapat cincin (tidak larut). Sedangkan
sampel 2 menghasilkan panas dan larut.
Dari ke tiga uji yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa sampel 1
merupakan hidrokarbon jenuh. Karena, dari hasil uji bromin terdapat 2 lapisan
dengan warna bagian atas yang agak kuning sedikit cokelat, dan dari uji asam sulfat
reaksinya tidak menghsilkan panas. Seperti yang dituliskan dalam buku panduan
praktikum, bahwa apabila setelah direkasikan dengan asam sulfat tidak
menghasilkan panas (dingin) maka senyawa tersebut adalah alkane (hidrokarbon
jenuh). Sedangkan sampel 2 merupakan hidrokarbon tak jenuh, dilihat dari hasil uji
bromin larutannya menjadi bening. Dan dari hasil uji asam sulfat reaksinya
menghasilkan panas. Ini menandakan bahwa dari reaksi senyawa hidrokarbon tak
jenuh dengan asam sulfat menghasilkan senyawa alkil hydrogen sulfat.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Identifikasi senyawa hidrokarbon (jenuh dan tidak jenuh) dapat dilakukan
berdasarkan sifat kimianya melalui Uji Bromin, Uji Baeyer, dan Uji Asam
Sulfat.
2. Sampel 1 merupakan senyawa hidrokarbon jenuh.
3. Sampel 2 merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh.

Daftar Pustaka
Chang, Raymond. Kimia Dasar Jilid 1. Jakarta: Erlangga: 2005
Keenan, Charles W. Ilmu Kimia Untuk Universitas Jilid 2. Jakarta: Erlangga. 1984
Riswiyanto. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga. 2009
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28437/4/Chapter%20II.pdf
(Diakses pada 02 November 2014 pukul 14.32 WIB)

Lampiran
Foto Langkah Kerja

Pertanyaan
1. Draw

skeletal

(line-bond)

structures

for

compounds:

cyclohexane,

cyclohexene, toluene.
Jawab:

2. Write equations for the reaction of 1-butene with the KMnO4 (hot) reagents.
Jawab:
CH2CH CH2 CH3

KMnO4 (Hot)

CH3 CH2 COOH + H COOH

3. What would you expect the difference between reactivity of the following
pairs? Please explain your answer.
a) Hexane and Cyclohexane
b) Hexane Cyclohexene
Jawab:
a) Antara heksana dengan sikloheksan dengan rantai lurus dan rantai siklik
bisa dikatakan sikloheksana mempunyai kereaktifa yang lebih tinggi, dari
heksana rantai lurus. Heksana atau n-heksana adalah hidrokarbon jenuh
yang mana dalam hal sudut ikatan sehingga sukar direaksikan sedangkan
sikloheksana hanya punya satu konformasiyang stabil dan bisa saja berada
konformasi lain yang tingkat energinya lebih tinggi dan tidak stabil.
b) Hidrokarbon dengan ikatan rangkap lebih mudah direaksikan dari pada
ikatan tunggal, maka sikloheksana tentu lebih reaktif dari n-heksana.

4. What are the possible distinct alkenes structural formulas for a molecular
formula of C4H8? Please name each structural formulas.
Jawab:

Anda mungkin juga menyukai