Anda di halaman 1dari 25

TEKNIK PERSILANGAN PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.

LAPORAN

OLEH:
ARI FRADANA NST
130301108
AGROEKOTEKNOLOGI II A

LABORATORIUM DASAR PEMULIAAN TANAMAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014

TEKNIK PERSILANGAN PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)

LAPORAN

OLEH:
ARI FRADANA NST
130301108
AGROEKOTEKNOLOGI II A

Laporan Merupakan Salah Satu Syarat Untuk Melengkapi Komponen Penilaian


di Laboratorium Dasar Pemuliaan Tanaman Program Studi Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan

LABORATORIUM DASAR PEMULIAAN TANAMAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014

Judul

: Teknik Persilangan Pada Tanaman Jagung (Zea mays L.)

Nama

: Ari Fradana Nst

NIM

: 130301108

Prodi

: Agroekoteknologi

Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab Laboratorium

(Dr. Diana Sofia Hanafiah, SP. MP.)


NIP. 19740803 199903 2 002

Disetujui Oleh :
Asisten Koordinator

( Heri Hidayat )
NIM. 090301148

Diperiksa Oleh :
Asisten Korektor

DAFTAR ISI
ABSTRAK ...................................................................................................
ABSTACT ....................................................................................................
RIWAYAT HIDUP .....................................................................................
KATA PENGANTAR .................................................................................
DAFTAR ISI ................................................................................................
DAFTAR TABEL .......................................................................................
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................
PENDAHULUAN
Latar Belakang ..................................................................................
Tujuan Percobaan ..............................................................................
Hipotesis Percobaan ..........................................................................
Kegunaan Percobaan .........................................................................
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Jagung (Zea mays L.) .............................................
Syarat Tumbuh ..................................................................................
Iklim .......................................................................................
Tanah .....................................................................................
Teknik Persilangan ............................................................................
Syarat Tetua ..........................................................................
Masa Reseptif ........................................................................
Silang Dalam dan Silang Bebas ........................................................
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Percobaan ...........................................................
Bahan dan Alat ..................................................................................
Prosedur Percobaan ..........................................................................
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan ...............................................................................
Penanaman Benih ..............................................................................
Pemupukan .......................................................................................
Pemeliharaan ....................................................................................
Penyiraman .............................................................................

Penyulaman ...........................................................................
Penjarangan ............................................................................
Penyiangan ............................................................................
Pengendalian Hama dan Penyakit ..........................................
Pemanenan ........................................................................................
Pengamatan Parameter .......................................................................
Persentase Perkecambahan....................................................
Tinggi Tanaman ....................................................................
Jumlah Daun..........................................................................
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil ..................................................................................................
Pembahasan. ..........................................................................
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ........................................................................................
Saran ..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

ABSTRAK
ARI FRADANA NST : Teknik Persilangan pada Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian
dari keluarga rumput-rumputan. Jagung dibutuhkan masyarakat Indonesia dalam
jumlah besar dan terus meningkat, namun tidak diikuti oleh peningkatan produksi.
Oleh karena itu perlu dilakukan suatu upaya peningkatan produksi jagung melalui
persilangan. Diharapkan akan diperoleh hasil yang lebih unggul dari kedua tetua
yang unggul juga.
Percobaan ini menggunakan benih jagung dengan varietas bisma, diamati
dua parameter yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun. Percobaan ini dilakukan di
Lahan Dasar Pemuliaan Tanaman Program Studi Agroekoteknologi Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat 25 m
dpl. Pelaksanaan percobaan ini dilakukan atau dimulai pada bulan Maret sampai
dengan bulan Mei 2014.
Kata kunci : Jagung (Zea mays L.), Persilangan

ABSTACT
ARI FRADANA NST : Technical Crosses in Maize (Zea mays L.)
Corn crop is one type of crop seeds from grass family. Corn takes
Indonesian people in large numbers and continues to increase, however, was not
followed by an increase in production. Therefore, it is necessary for an effort to
increase maize production through crossbreeding. Expected to obtain superior
results

from

the

two

parents

are

superior

as

well.

These experiments using maize seed varieties bisma, observed two


parameters: plant height and number of leaves. The experiment was conducted in
the Basic Land Plant Breeding Program Agroecotechnology Faculty of
Agriculture, University of North Sumatra, Medan altitude 25 m asl.
Implementation of this experiment is done or started in March and ending in May
2014.
Keywords: Maize (Zea mays L.), Crosses

RIWAYAT HIDUP
Ari Fradana Nst dilahirkan di Medan pada tanggal 22 September 1994
putra dari Ayah Edi Edward Nst dan Ibu Sri Wardani. Penulis merupakan anak
ketiga dari tiga bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 060849 Medan
pada tahun 2007, melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 16 Medan selesai pada
tahun 2010, dan melanjutkan pendidikan di SMA Dharmawangsa Medan selesai
pada tahun 2013. Kemudian diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara, Medan pada tahun 2013 dengan memilih jurusan Agroekoteknologi hingga
sekarang.
Selama

mengikuti

perkuliahan,

penulis

mengikuti

praktikum

di

Laboratorium Dasar Agronomi dan juga peraktikum di lahan percobaan Fakultas


Pertanian, Universitas Sumatera Utara,Medan.

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkat
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul laporan ini adalah Teknik Persilangan Pada Tanaman
Jagung ( Zea mays L. ) yang merupakan salah
penilaian di

Laboratorium

Dasar

satu

komponen

Pemuliaan Tanaman Program Studi

Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.


Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
Prof. Dr. Ir. Rosmayati, M.Sc., Luthfi Aziz Mahmud Siregar, S.P. M.Sc. Ph.d,,
Dr. Ir. Lollie Agustina P.Putri, M.Si., Dr. Diana Sofia Hanafiah, S.P. M.P.,
, Ir. Revandry I.M. Damanik, M.Sc., P.hD. Ir. Emmy Harso Kardhinata, M.Sc dan
Ir. Eva Sartini Bayu, M.P. selaku dosen Dasar Pemuliaan Tanaman dan abang
serta kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis

menyadari

bahwa

laporan

ini

masih

banyak

terdapat

kekurangannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca yang sifatnya membangun demi perbaikan laporan. Semoga laporan ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, Juni 2014

Penulis

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian
dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan
Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad
ke-16 orang Portugal

menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang

Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn


(Deputi Menegeristek, 2006).
Jagung (Zea mays L.) adalah salah satu tanaman serealia penting yang
tumbuh hampir di seluruh dunia dan digunakan sebagai bahan makanan baik
untuk manusia maupun hewan. Jagung dibutuhkan masyarakat Indonesia dalam
jumlah besar dan terus meningkat, namun tidak diikuti oleh peningkatan produksi,
sehingga terjadi kekurangan sekitar 1,3 juta ton setiap tahun dan harus dipenuhi
melalui import. Untuk menutupi ketersediaan jagung perlu diupayakan melalui
peningkatan produksi. Perakitan varietas unggul baru, berdaya hasil dan
berkualitas tinggi merupakan salah satu upaya untuk mendorong peningkatan
produksi (Rofia dan Budi, 2009).
Tanaman jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan penting
dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kebutuhan jagung nasional terus
meningkat, terutama untuk pakan dan industri. Untuk pakan permintaan jagung
sudah mencapai lebih dari 50 % kebutuhan nasional. Hal ini menuntut perlunya
upaya peningkatan produksi secara berkelanjutan (Jumakir dan Endrizal, 2002).
Hibridisasi atau persilangan menurut A Dictionary of Science 6th edition
(2010) ialah proses produksi satu atau lebih organisme hibrid melalui perkawinan

tetua-tetua yang berbeda secara genetik. Teknik ini banyak dimanfaatkan dalam
kegiatan pemuliaan tanaman untuk merakit varietas unggul baru. Prinsip dasar
dalam pemuliaan adalah adanya keragaman, terutama keragaman genetik. Apabila
keragaman dalam suatu populasi tinggi, maka seleksi yang dilakukan akan lebih
efektif. Keragaman tersebut bisa didapatkan dalam dari koleksi plasma nutfah,
atau melalui introduksi, apabila keragaman dalam suatu populasi koleksi terbatas,
maka dilakukan berbagai upaya untuk memperluas keragaman (Handayani, 2014).
Persilangan tanaman bisa dibedakan menjasi persilangan sendiri(crossing).
Selfing adalah persilangan yang dilakukan terhadap tanaman itu sendiri (tidak ada
perbedaan antara genotipe kedua tanaman yang disilangkan). Sedangkan crossing
adalah persilangan antara 2 individu yang berbeda genotipenya. Pada praktikum
ini dilakukan persilangan pada tanaman jagung (Zea mays L.). Tanaman jagung
dipilih karena penyerbukan buatan yang dapat dilakukan reative mudah. Selain
itu, periode tumbuh atau masa tanam jagung juga tidak terlalu lama, sekitar lebih
kurang 2 bulan lamanya (Wibowo, 2008).
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari teknik
persilangan pada tanaman menyerbuk sendiri dan menyerbuk silang.
Kegunaan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan aporan ini adalah sebagai salah satu
komponen penilaian di Laboratorium Dasar Pemuliaan Tanaman, Program Studi
Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan
sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Rukmana (1997), klasifikasi tanaman jagung (Zea mays L.)
adalah seebagai berikut : Kingdom : Plantae; Divisio : Spermatophyta ;
Subdivisio: Angiospermae; Class: Monocotyledoneae; Ordo:Poales; Familia:
Poaceae; Genus: Zea; Spesies: Zea mays L.
Akar yang tumbuh relative dangkal merupakan akar adventif dengan
percabangan yang amat lebat, yang menyerap hara pada tanaman. Akar laying
penyokong memberikan tambahantopangan untuk tumbuh tegak dan membantu
penyerapan unsur hara. Akar laying ini tumbuh di atas permukaan tanah, tumbuh
rapat pada buku-buku dasar dan tidak bercabang sebelum masuk ke tanah
(Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Batang tidak bercabang, berbentuk silinder, dan terdiri dari beberapa ruas
dan buku ruas. Pada buku ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi
tongkol. Tinggi batang jagung tergantung varietas dan tempat penanaman,
umumnya berkisar 60-300 cm.
Daun tanaman jagung berbentuk pita atau garis, mempunyai ibi tukang
daun yang terletak tepat di tengahtengah daun. Tangkai daun merupakan peleph
yang biasanya berfungsi untuk membungkus batang tanaman jagung. Daun pad
atanaman jagng mempunyaiperanan penting dalam pertumbuhan tanaan utamanya
dalam penentuan produksi (Warisno, 2009).
Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoceus) karena bunga
jantan dan bunga betina (tongkol) muncul dari axillary apical tajuk. Bunga jantan
(tassel) berkembang dari titik tumbuh apical di ujung tanamn. Rambut jagung

(silk) adalah pemanjangan dari saluran stylar ovary yang matang pad atongkol.
Hampir 95% dari persariannya berasal dari serbuk sari tanaman lain, dan hanya
5% yang berasal dari serbuk sari tanamn sendiri. Karena itu disebut juga tanaman
bersari bebas (cross pollinated crop) (Sunarti dkk, 2009).
Buah jagung terdiri dari tongkol, biji, dan daun pembungkus. Biji jagung
mempunyai bentuk, warna dan kandungan endosperm yang bervariasi, tergantung
pada jenisnya. Pada umumnya, biji jagung tersusun dalam barisan yang melekat
secara lurus atau berkelok-kelok dan berjumlah antara 8-20 baris biji
(Rukmana,2009).
Biji jagung berkeping satu (monokotil), tumbuh berderet rapi pada suatu
poros yang disebut janggel. Di setiap janggel terdapat10-16 deret biji (selalu
genap) dan masing-masing deret terdiri atas 200-400 butir biji. Adanya kelobot
memberikan mekanisme perlindungan alami bagi biji-biji jagung terhadap
serangan berbagai hama di lapangan. Bentuk biji jagung ada yang membulat atau
berbentuk gigi tergantung pada varietasnya dan naman biji bervariasi dari putih,
kuning, orange, merah sampai merah kehitaman (Zulkarnain, 2013).
Syarat Tumbuh
Iklim
Di Indonesia tanaman jagung tumbuh dan berproduksi optimum didaratan
rendah sampai ketinggian 750 m dpl. Suhu udara ideal untuk perkecambahan
benih adalalah 30oC32oC dengan kapsitas air tanah 25%-60% Selama
pertumbuhan tanaman jagung membututhkan suhu optimum 23oC-27oC
(Zakariah, 2012).

Curah hujan yang dikehendaki adalah antara 1000-2500 mm/tahun, atau


idealnya sekitar 85-200 mm/bulan, dengan penyinaran matahari penuh. Suhu
udara yang dikehendaki
optimum

tanaman

antara 21-34 oC, tetapi


jagung

menghendaki

untuk
suhu

pertumbuhan

antara 23-27 oC

(Redaksi Ciptawidiya Swara, 2008).


Tanaman jagung membutuhkan air sekitar 100-140 mm/bulan oleh
karena

itu

waktu

penanaman

harus

memperhatikan

curah

hujan

dan

penyebarannya. Penanaman dimulai bila curah hujan sudah mencapai 100


mm/bulan. Untuk mengetahui itu perlu dilakukan pengamatan curah hujan dan
pola distribusinya selama 10 tahun ke belakang agar waktu tanam dapat
ditentukan dengan baik dan tepat (Murni dan Arif, 2008).
Tanah
Tanaman jagung dapat tumbu padaa ketinggian 50-1800 m dpl. Tetapi
ketinggian optimal adalah 50-600 m dpl. Untuk berproduksi secara optimal
memerlukan tanah yang gembur, subur, dan kaya akan unsur hara, aereesi dan
drainase baik, kaya akan bahan organic dengan keasaman tanah (pH) antara 5,67,5 (Redaksi Ciptawidiya Swara, 2008).
Jagung menghendaki tanah yang subur untuk dapat berproduksi dengan
baik. Hal ini dikarenakan tanaman jagung membutuhkan unsure hara terutama
nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) dalam jumlah yang banyak. Oleh karena
pada umumnya tanah di Indonesia miskin hara dan rendah bahan organiknya,
maka penambahan pupuk N, P, dan K serta pupuk organic (kompos maupun
pupuk kandang) sangat diperlukan (Murni dan Arif, 2008).

Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain Andosol, Latosol dan
Grumosol. Tanah bertekstur lempung atau liat berdebu (Latosol) merupakan jenis
tanah yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman jagung. Tanaman jagung akan
tumbuh baik pada tanah yang subur, gembur, kaya humus (Zakariah, 2012).
Teknik Persilangan Jagung (Zea mays L.)
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman yang dapat
melakukan penyerbukan silang tetapi juga dapat melakukan penyerbukan sendiri.
Penyerbukan sendiri pada jagung akan menghasilkan produksi yang rendah dan
tanaman tidak dapat tumbuh tinggi, padahal penyerbukan sendiri memiliki vigor
yang normal (Sinnot, 1998).
Persilangn adalah suatu teknik mengawinkan bunga dengan meletakkan
pollen atau serbuk sari pada stigma (lubang atau rongga yang dangkal berisi
cairan kental agak lengket sebagai tempat meletakkan pollen dan masuknya
tabung pollen ke dalam ovari (bakal buah) pada waktu polinasi/penyerbukan
(Sandra, 2008)
Tujuan utama melakukan persilangan adalah : 1. Menggabungkan semua
sifat baik ke dalam satu genotipe baru, 2. Memperluas keragaman genetik, 3.
Memanfaatkan vigor hibrida, dan 4. Menguji potensi tetua (uji turunan)
(Ashari, 1998)
Faktor utama yang berpengaruh terhadap keberhasilan persilngan adalah
waktu dan proses penyerbukan yang dilakukan. Waktu yang optimal untuk
melakukan proses penyerbukan pada tanaman jagung (Zea mays L.) adalah pada
pagi hari yaitu antara pukul 07.00-09.00 WIB. Salah satu upaya untuk

meningkatkan kadar protein biji jagung adalah dengan memanfaatkan efek xenia.
Persilangan buatan dilakukan dengan cara menyerbuki tongkol tanaman sesuai
dengan perlakuan tertentu yang sudah ditentukan. Kemudian tongkol yang telah di
serbuki ditutup dengan kantong khusus untuk melindungi dari penyerbukan oleh
tepung sari bunga lain (Wijaya, 2007).
Syarat Tetua
Pemilihan tetua menjadi salah satu tahap yang krusial dalam proses
pemuliaan melalui persilangan. Keberhasilan persilangan akan meningkat apabila
tetua yang digunakan dan kombinasi persilangannya tepat, sehingga dengan
jumlah kombinasi persilangan yang sedikit, efisiensi pemuliaan akan meningkat.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan tetua antara lain: 1)
Salah satu tetua memiliki dan membawa karakter unggul atau karakter yang
menjadi target pemuliaan; 2) Salah satu atau kedua tetua memiliki adaptasi dan
penampilan agronomis yang baik, dan 3) Kedua tetua sebaiknya memiliki jarak
kekerabatan yang jauh sehingga dapat menghasilkan keragaman genetik tinggi
pada progeni (keturunannya) (Handayani, 2014).
Masa Reseptif
Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan menempel
pada rambut tongkol. Hampir 95% dari persarian tersebut berasal dari serbuk sari
tanaman lain, dan hanya 5% yang berasal dari serbuk sari tanaman sendiri. Oleh
karena itu, tanaman jagung disebut tanaman bersari silang (cross pollinated crop),
di mana sebagian besar dari serbuk sari berasal dari tanaman lain. Terlepasnya
serbuk sari berlangsung 3-6 hari, bergantung pada varietas, suhu, dan kelembaban.
Rambut tongkol tetap reseptif dalam 3-8 hari. Serbuk sari masih tetap hidup

(viable) dalam 4-16 jam sesudah terlepas (shedding). Penyerbukan selesai dalam
24-36 jam dan biji mulai terbentuk sesudah 10-15 hari. Setelah penyerbukan,
warna

rambut

(Subekti dkk ).

tongkol berubah menjadi coklat

dan

kemudian

kering

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilakukan di Lahan Dasar Pemuliaan Tanaman Program
Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
dengan ketinggian tempat 25 m dpl. Pelaksanaan percobaan ini dilakukan atau
dimulai pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2014.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih jagung
(Zea mays L.) dengan varietas Bisma berfungsi sebagai bahan percobaan, Top soil
berfungsi sebagai bahan organik untuk kesuburan tanah, Pestisida berfungsi untuk
membasmi hama, Pupuk NPK berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan dan
Air berfungsi untuk merendam benih dan menyiram tanaman yang ada pada lahan
percobaan.
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah pinset berfungsi untuk
pengambialn serbuk sari, Gunting berfungsi untuk memotong serbuk sari , Kaca
pembesar berfungsi untuk memperjelas penglihatan serbuk sari, Kertas label
digunakan sebagai pelabelan nama agar dapat mengetahui yang mana yang
disilangkan, Kapas digunakan untuk peletakkan serbuk sari, Tusuk gigi untuk
meletakkan putik bunga.
Prosedur Percobaan
Pelaksanaan Tanam
1. Disiapkan lahan petakan berukuran persegi panjang 1x1,5 m
2. Diberi top soil pada lahan sekitar 5 kg untuk setiap petakan

3. Dibuat jarak tanam jagung 60x20 cm sehingga setiap petakan terdapat 2


baris, setiap baris 4 tanaman dengan varietas yang sama
4. Ditugal tanah yang telah disiapkan dengan jarak tanam tersebut
5. Dimasukkan benih 1-2 biji per lubang tanam lalu ditutup kembali dengan
tanah
6. Dilakukan pengendalian jika ada gejala serangan hama dan penyakit
7. Dilakukan penyiraman setiap hari, jikatidak turun hujan
Pelaksanaan Persilangan Jagung (Zea mays L.)
1. Dipilih bunga betina (tongkol) yang akan diserbuki sebelum rambut pada
ujung tongkol keluar, dibungkus dengan alat pembungkus yang sudah di
siapkan.
2. Dipilih tanaman yang akan dipakai sebagai pejantan (sumber serbuk sari)
dengan tanda-tanda bunga jantan sudah mekar, kemudian bunga jantan
dibungkus sampai rapat dengan alat pembungkus. Jangan sampai serbuk
sari jatuh berterbangan.
3. Disilangkan bunga jantan tersebut setelah satu atau dua hari. Untuk
memastikan di perolehnya tepung sari yang cukup, maka ditepuk bunga
jantan yang terbungkus tersebut.
4. Dilakukan persilangan apabila bunga betina yang dipilih telah siap
diserbuki, yaitu pada tongkolnya telah keluar rambut diujungnya.
5. Dilakukan persilangan dengan cara memindahkan bunga jantan (serbuk
sari) ke bunga betina (putik) dengan meletakkan serbuk sari pada rambut
tongkol.
6. Ditutup kembali tongkol yang telah diserbuki.
7. Ditulis dan digantungkan label persilangan pada tongkol tersebut.

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakukan pada hari Senin tanggal 3 Maret 2014 yang
meliputi beberapa kegiatan diantaranya pancangkulan, pembersiahan gulma,
perataan permukaan tanah, pembuatan parit (drainase) dan pembuatan lubang
tanam. Lahan diolah sedalam 30 cm sampai gembur, dibuat lubang tanam dengan
jarak 20-30 cm, lahan dibentuk perplot berbentuk persegi panjang 1,5 x 1 m.
Penanaman Benih
Lubang tanam dibuat dengan alat tugal. Kadalaman lubang perlu
diperhatikan agar benih tidak terhambat pertumbuhannya. Kedalaman lubang
tanam antara 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Pada saat
penanaman benih sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan idak tergenang.
Jadi, penanaman yang baik dilakukan pada waktu musum penghujan hamper
berakhir.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan system tugal, pupuk yang
diberikan adalah pupuk urea dengan dosis 300 kg/Ha, pupuk TSP dengan dosis
200kg/Ha, dan KCl dengan dosis 100 kg/Ha.
Pemeliharaan
Penyiraman
Penyiraman tanaman jagung dilakukan setiap hari, tepatnya pada sore hari
dengan banyak air yang diberikan sesuai dengan jumlah kebutuhan air perplot.
Penyiraman dilakukan dangan menggunakan gembor dan dilakukan secara
merata.

Penyulaman
Penyulaman benih yang tudak tumbuh dilakukan pada umur satu minggu
setelah tanam. Lubang tanam diperika, benih yang tidak tumbuh dibuang, dan
diganti dengan benih yang baru.
Penjarangan
Penjarangan dilakukan pada saat tanaman berumur 4 MST. Tanaman yang
dibuang adalan tanaman yang paling tidak baik tumbuhnya, dilakukan dengan
cara dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah.
Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan karena akan melukai
akar tanaman lain yang dibiarkan tumbuh.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 hari sekali. Penyiangan atau pembersihan lahan
dari gulma dapat dilakukan denha tangan. Penyianganjangan sanpai mengganggu
perakaran tanaman yang pada umur tersebut belum kuat mencengkeram tanah.
Pemanenan
Umur panen jagung varietas Bisma adalah 96 hari. Jagung pipilan dipanen dengan
cara tongkol dipotong dari batang lalu dijemur dalam keadaan utuh. Jagung yang
telah siap panen ditandai dengan jagung/kelobot telah kering berwarna kekuningkuningan dan ada tanda hitam di bagian paangkal tempat melekatnya jagung pada
tongkol.

Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman jagung diambil satu minggu sekali dan pengukuran tinggi
jagung mulai dilakukan 15 HST atau pada saat tanaman jagung berumur 2 MST
hingga

6 MST.

Jumlah Daun
Jumlah daun dihitung setiap satu minggu sekali dimuali dari 2 MST
hingga

6 MST. Perhitungan jumlah daun dimulai dari daun yang terletak di

dekat akar hingga daun yang sudah melebar (tidak kuncup).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Persentase Perkecambahan
Komoditi

: Jagung (Zea mays L.)

Varietas

: Bisma

Parameter

: Persentase Perkecambahan

Tanggal Tanam

: 22 Maret 2014

% perkecambahan

x 100 %

= x 100%

= 100 %
Tabel 1. Data Tinggi Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Tanggal
11-04-2014
18-04-2014
25-04-2014
02-05-2014

I
27
89,96
134,4

II
23
87,6
150,9

III
16
97,2
120,2

09-05-2014

150

174

138

Sampel
IV
V
14
17
108,2
69
107
77
74,5

173

Total

Rataan

VI
18
67,1
103,5

VII
20
58,2
129,7

VIII
17
71,1
169

182
648,3
976,7

19
81,03
122,08

135

135

186

1236

154,5

Total

Rataan

23
47
48
70

2,875
5,8
6
8,75

Tabel 2. Data Jumlah Daun Tanaman Jagung (Zea mays L.)


Tanggal
11-04-2014
18-04-2014
25-04-2014
02-05-2014
09-05-2014

I
2
6
7
8

II
4
6
5
12

III
1
7
7
8

Sampel
IV
3
6
5
6

V
3
6
4
6

VI
4
5
5
7

VII
3
5
8
10

VIII
3
6
7
13

DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S. 1998. Pengantar Biologi Reproduksi Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta.
Handayani, T. 2014. Persilangan untuk Merakit Varietas Unggul Baru Kentang.
Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung.
Jumakir dan Endrizal, 2009. Produktivitas Pertanaman Jagung Di Lahan Pasang
Surut Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Jambi

Menegeristek, 2006. Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan


Teknologi. IUIG. Group
Murni, A.M dan R.W. Arief. 2008. Teknologi Budidaya Jagung. Balai Besar
Pengkajian dan Pembangunan Pertanian. Bogor
Purwono dan Hartono, 2006. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya.
Jakarta
Redaksi Ciptawidya Swara. 2008. Petunjuk Teknik Budidaya 23 Tanaman
Unggul. Jakarta
Rofia dan Budi, 2009. Pewarisan Gen Opaque 2 (O-2) pada Persilangan Jagung
Lokal Madura (Zea mays L. cv. Guluk-guluk) dengan Jagung Unggul (Z.
mays L. cv. Srikandi kuning). UIN Maulana Malik Ibrahim. Malang
Rubatzky, V.E dan Yamaguchi, M. 1998. Sayuran Dunia. Jilid 1. Penerbit ITB.
Bandung
Rukmana, R. 1997. Jagung : Budidaya dan Pascapanen. Kanisius : Jakarta
Rukmana, R. 2007. Jagung : Budidaya dan Pascapanen. Kanisius : Jakarta
Rukmana, R. 2009. Jagung : Budidaya dan Pascapanen. Kanisius : Jakarta
Sandra, E. 2008. Teknik Persilangan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sinnot, E.W. 1998. Principle of Genetics. McGraw-Hill Book Company Inc . New
York
Sunarti, S., A.S. Nuning, Syarifuddin dan R. Efendi. 2009. Morfologi Tanaman
dan Fase PertumbuhanJagung. Balai Penelitian Tanaman Serelia. Maros
Warisno, T. 2009. Jagung Hibrida. Kanisius. Yogyakarta
Wibowo, P. 2008. Macam-macam Perbanyakan Tanaman. Universitas Brawijaya
Press. Malang.

Wijaya, A.R. 2007. Efek Xenia Pada Persilangan Jagung. Jurnal Akta Agrosia
Edisi Khusus 2 : 199-203.
Zakariah, M.A. 2012. Pengaruh Dosis Pemupukan Urea TerhadapPertumbuhan
dan Produksi Serta Kecernaan Hijauan Jagung. UGM Press. Yogyakarta
Zulkarnain, 2013. Budidaya Sayuran Tropis. Bumi Aksara. Jakarta