Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Salah satu jenis kebutuhan primer manusia selain sandang dan pangan
adalah kebutuhan akan sarana papan (rumah tinggal). Papan merupakan sarana utama bagi
manusia, terlebih bagi yang sudah berkeluarga, untuk berlindungDalam rangka menuju
masa depan yang terpelihara dan alam lestari, maka planet bumi ini harus dirawat dengan
lebih seksama, dan rumah yang dibangun seharusnya sudah memenuhi standar sehingga
bisa dikatakan sebagai rumah sehat. Kebutuhan atas perkembangan berkelanjutan belum
pernah sepenting seperti sekarang. Pengaruh peradaban manusia cenderung merusak
lingkungan sebagai dasar kehidupannya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, kami ingin
mewujudkan pelestarian lingkungan dimulai dari hal-hal kecil tetapi langsung berpengaruh
terhadap kehidupan manusia itu sendiri seperti rumah sehat.
. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan
besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni
Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga
memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

B. RUMUSAN MASALAH

Mengapa Rumah Sehat sangat diperlukan oleh masyarakat ?


Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Rumah Sehat ?
Apa saja bahaya atau dampak yang di dapatkan jika Rumah yang kita tempati itu
tidak Sehat ?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui faktor-faktor
apa saja yang mempengaruhi rumah sehat dan apa bahayanya jika rumah yang kita tempati
tidak memenuhi standar sebagai rumah sehat dan bisa kita terapkan sehingga kita bisa
menghindari bahaya dan dampak dari tinggal di rumah yang tidak sehat.

D. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah
1.

Mahasiswa dapat mengenal seperti apa itu rumah sehat

2.

Mahasiswa dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rumah sehat

3.

Mahasiswa diharapkan dapat menerapkannya sehingga dapat mencegah bahaya


atau dampak dari rumah yang tidak sehat

BAB II PEMBAHASAN

A. PERATURAN PEMERINTAH MENGENAI RUMAH SEHAT


Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :
829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:
1. Bahan Bangunan
a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan
kesehatan, antara lain sebagai berikut :
Debu Total tidak lebih dari 150 g m3
Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam
Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg
b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya
mikroorganisme patogen.
2. Komponen dan penataan ruang rumah
Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
b. Dinding
Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan
sirkulasi udara
Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan
c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan

d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan
penangkal petir
e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga,
ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak.
f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.
3. Pencahayaan
Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh
bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.
4. Kualitas Udara
Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :
a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8C sampai 30C
b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%
c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam
d. Pertukaran udara
e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam
f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3
5. Ventilasi
Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.
6. Binatang penular penyakit
Tidak ada tikus bersarang di rumah.
7. Air

a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang


b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.
9. Limbah
a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan
tidak mencemari permukaan tanah.
b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan
pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.
10. Kepadatan hunian ruang tidur
Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur
dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.
Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang
perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi Setiap warga
negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah
yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur
Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati
rumah yang sehat dan layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan
berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi sebagai :
1. Mencegah terjadinya penyakit
2. Mencegah terjadinya kecelakaan
3. Aman dan nyaman bagi penghuninya
4. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial

B. KONSEP TATA RUANG


Pada tiap-tiap ruangan rumah juga harus tertata baik agar dapat memenuhi syarat rumah
sehat seperti :
a. Teras
Teras adalah lantai yangmenghubungkan halaman dengan ruangan bagian dalam
rumah. Hampir semua rumah memiliki teras. Teras bisa juga berfungsi sebagai gerbang
penerima tamu dan keluar masuknya penghuni rumah serta peralatan rumah tangga. Di
bagian teras ini, biasanya kita tempatkan pintu masuk utama dan jendela. Sebaiknya pintu
utama ukurannya lebih besar daripada pintu-pintu lain yang ada di rumah.
b. Ruang Tidur
Syarat ruang tidur yang baik adalah harus mendapat udara dan cahaya yang cukup
dari luar. Alasannya sebagai berikut :

Ruang tidur merupakan tempat yang paling lama kita diami dibandingkan
dengan ruangan yang lain

Ruang tidur merupakan tempat kita beristirahat secara total, sehingga


sedapat mungkin ruangan ini harus menerima cukup udara segar dan cahaya
matahari.

c. Ruang Tamu, Ruang Keluarga, dan Ruang Makan


Ruang penerima kedua setelah teras adalah ruang tamu. Sesuai dengan namanya,
ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu. Dibeberapa rumah, karena keterbatasan lahan
dan biaya, ruang tamu juga berfungsi sebagai ruang duduk, ruang keluarga, atau ruang
makan. Sebagai pemisahnya, antara ruang tamu dan ruang makan bisa kita pasang lemari
dua muka yang dapat dipindah-pindahkan.
d. Dapur

Jika kita tidak mau terganggu dengan bau masakan atau asap dari kompor, dapur
sebaiknya dibuat di luar ruangan. Jika kita masih mempunyai uang yang cukup, kita bisa
membuat kitchen set atau pantry di ruang makan yang berfungsi sebagai tempat memasak
dan menyimpan peralatan dapur, walaupun tidak besar.
e. Kamar Mandi
Seperti halnya ruang tidur, kamar mandi pun sebaiknya mendapat udara dan cahaya
yang cukup dari luar. Jika kondisinya tidak memungkinkan, bisa kita siasati dengan
memasang bola lampu yang cukup terang (untuk pencahayaan) dan memasang exhaust fan
(berfungsi menyedot hawa panas dan bau dari kamar mandi dan dibuang ke ruang atap).
Sebaiknya exhaust fan dipasang bersamaan dengan lampu kamar mandi, sehingga begitu
lampu dimatikan, exhaust fan pun mati. Namun sekali lagi, sebaiknya kamar mandi bisa
mendapat udara dan cahaya dari luar.
f. Halaman Belakang
Walaupun ukurannya tidak terlalu besar, keberadaan halaman belakang sangatlah
dibutuhkan. Fungsi dari halaman belakang ini adalah untuk sirkulasi udara dan cahaya dari
luar, sehingga rumah menjadi tidak panas atau sumpek. Selain itu halaman belakang juga
bisa difungsikan sebagai tempat mencuci dan menjemur pakaian. Sebaiknya, halaman
belakang jangan diberi perkerasan atau lantai keramik, karena selain licin, juga akan
memantulkan panas ke dalam ruangan. Kalau pun mau, kita bisa menggunakan bahan yang
bisa menyerap air, seperti grass block atau paving block, dan perbanyak tanaman agar
rumah kita selalu sejuk.

C. SISTEM SIRKULASI UDARA

D. PENCAHAYAAN
Arah Peredaran Sinar Matahari

Sedapat mungkin anda harus mengupayakan agar bangunan anda tidak menghadap
tepat ke timur atau ke barat untuk menghindari terjadinya penyinaran matahari secara
penuh pada saat yang tidak diinginkan, sehingga ruangan dalam rumah akan terasa panas
dan silau. Akan tetapi, apabila kondisi site nya memang sudah menghadap ke timur atau ke
barat, harus diupayakan agar sinar matahari tidak masuk secara langsung ke dalam rumah.
Hal ini bisa ditempuh dengan memasang aksesoris di atas jendela atau pintu berupa
kanopi, untuk mengurangi jumlah masuknya sinar matahari ke dalam rumah.

E. PEMENUHAN AIR BERSIH

F. PEMBUANGAN LIMBAH

G. PERENCANAAN SISTEM UTILITAS


Faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan bangunan rumah
tinggal adalah utilitas. Agar bisa diperoleh kenyamanan dalam sepanjang pemakaian serta
kemudahan dalam perawatannya, maka utilitas yang perlu direncanakan dengan baik dalam
perencanaan bangunan adalah:

Perencanaan instalasi listrik yang rapi, baik dan sesuai tempatnya

Perencanaan sanitasi (jaringan air bersih dan kotor) untuk memudahkan


dalam perawatan serta rencana pengembangannya

Perencanaan sistem transportasi yang baik, sesuai dan efisien tempat agar
tidak menghabiskan ruang untuk sirkulasi (apabila bangunan atau rumahnya
bertingkat)

Perencanaan ventilasi bangunan yang baik dan sesuai (proporsional) dengan


luas ruang. Terciptanya kenyamanan dan kesejukan alami di dalam bangunan
sangat ditentukan oleh perencanaan tata letak ruang dan penempatan
bukaan ruang (pintu,jendela maupun jenis-jenis pembukaan ruang yang lain).
Perencanaan letak dan luasan bukaan ruang pada sebuah rumah sangat
mempengaruhi jumlah cahaya yang masuk maupun sirkulasi udara di dalam
rumah, di mana akan mempengaruhi tingkat kenyamanan rumah tinggal
tersebut.

Agar terhindar dari jamur yang diakibatkan oleh tingkat kelembapan yang tinggi,
sebaiknya semua ruang diusahakan bisa mendapat penyinaran dan penghawaan
yang cukup. Selain itu pula, dalam menentukan bukaan ruang, diusahakan agar
bisa tercipta cross ventilation (selalu terdapat udara segar sepanjang waktu).

Perencanaan penggunaan struktur bangunan yang kuat dan tahan serta


sesuai bentuk bangunannya

Perencanaan jaringan listrik dan komunikasi (telepon,parabola) harus


rapid an tertutup serta terhindar dari kebocoran atap dan air hujan

Langsung serta sesuai dengan luas lahan, agar terhindar dari luapan air
pada bangunan rumah tinggal

Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa


aspek yang sangat berpengaruh, antara lain:
1. Sirkulasi udara yang baik.
2. Penerangan yang cukup.
3. Air bersih terpenuhi.
4. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran.

5. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak terpengaruh
pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.

H. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN


Rumah sehat merupakan salah satu sarana untuk mencapai derajat kesehatan yang
optimum. Untuk memperoleh rumah yang sehat ditentukan oleh tersedianya sarana sanitasi
perumahan. Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada
pengawasan terhadap struktur fisik dmana orang menggunakannya untuk tempat tinggal
berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia.
Sarana sanitasi tersebut antara lain ventilasi, suhu, kelembapan, kepadatan hunian,
penerangan alami, konstruksi bangunan, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan
kotoran manusia dan penyediaan air bersih (Azwar,1990).
Kualitas udara dipengaruhi oleh adanya bahan polutan di udara. Polutan di dalam
rumah kadarnya berbeda dengan bahan polutan di luar rumah. Peningkatan bahan polutan
di dalam ruangan seperti asap rokok, asap dapur, pemakaian obat nyamuk bakar (Mukono,
1997).
Penyakiti infeksi saluran pernapasan

akut (ISPA) masih merupakan salah satu

masalah kesehatan masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan tingginya angka kejadian
penyakit ISPA terutama pada balita. Proporsi kematian yang ada di Indonesia tahun 1998
disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut mencakup 20% - 30% dari seluruh
kematian balita. (Depkes RI,2000)