Anda di halaman 1dari 64

PRAKTIKUM : PBL NILAI :

ASISTEN :

LAPORAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

NAMA : MOCHAMAD TASRIF ALEXANDER


NIRM / NIP : 2007420004
GROUP : Kelompok - 2
JURUSAN : TEKNIK ELEKTRO
NO. PERCOBAAN : Modul 1
TANGGAL : 13 Juli 2009
PARTNER : chita indiana
Priyan Gagani
Dadang Herlan
Herry Rafiudin
ASISTEN : Toni Setiawan
MENENTUKAN NILAI RESISTANSI SUATU BEBAN RESISTIF
DAN RESISTANSI DALAM SUATU ALAT UKUR
(MODUL 1)

I. TUJUAN : - Mengetahui dan menentukan nilai resistansi (R) suatu Resistor dan
resistansi dalam (Rd) alat ukur Ampermeter dan Voltmeter dengan
menggunakan metode hokum Ohm dan Jembatan Wheatsone.

II. ALAT – ALAT :


1. DC Power Suplay
2. 1 Trafo Adujster
3. 1 AC Ampermeter Analog
4. 1 DC Ampermeter Analog
5. 1 AC Voltmeter Analog
6. 1 DC Voltmeter Analog
7. 2 AC/DC Volt-Ohm-Amp Digital
8. 1 set Resistor beban
9. Kabel-kabel penghubung

III. LANDASAN TEORI


AMPERMETER & VOLTMETER
Pada dasarnya kedua instrumen ini sama, bedanya terletak pada pengaruh
masing-masing instrumen terhadap rangkaian dimana dilakukan pengukuran. Hal ini
terjadi karena berbeda dalam pemasangan.
Jika ampermeter dipasang pada rangkaian, maka seolah-olah kita
menambahkan tahanan pada rangkaian tersebut. Maka ada kemungkinan arus yang
mengalir pada saat di pasang ampermeter lebih kecil dibanding dengan arus yang
mengalir pada saat rangkaian tanpa ampermeter. Oleh karena itu tahanan ampermeter
harus sekecil mungkin. Alasan lain bahwa ampermeter tahanannya harus kecil agar
daya yang hilang pada ampermeter itu kecil.
Pada voltmeter berbeda hal nya. Karena pada pengukuran voltmeter di pasang
paralel dengan beda potensial yang di ukur, maka tahanan voltmeter harus besar.
Dengan memasang voltmeter paralel dengan rangkaian, ada kemungkinan tahanan
total dapat menjadi kecil di bandingkan dengan keadaan sebelum voltmeter di pasang.
Alasan tahanan voltmeter harus besar agar daya yang hilang pada voltmeter kecil.

= Amperemeter =
Untuk keperluan praktek dengan dasar yang sama dengan galvanometer, dibuat
ampermeter yaitu suatu alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik dengan
skala yang disebut mili ampermeter. Alat ukur ini ditunjukkan seperti gambar 3.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ampermeter adalah alat ukurnya
dirangkai secara seri. Oleh karena itu tahanan ampermeter tersebut perlu diupayakan
sekecil-kecilnya dan kutub positif dan negatifnya serta batas ukur maksimumnya.

= Voltmeter =
Alat ini digunakan untuk mengukur beda potensial dalam suatu rangkaian listrik.
Untuk mengukur beda potensial antara dua titik pada suatu komponen, kedua
terminal voltmeter harus dihubungkan dengan dengan kedua titik yang tegangannya
akan diukur sehingga terhubung secara paralel dengan komponen tersebut. Seberapa
akurat pengukuran tegangan ini tergantung pada hambatan voltmeter. Jika hambatan
dalam voltmeter besar, maka arus yang melewati voltmeter akan sangat kecil
sehingga pengaruh voltmeter pada rangkaian sangat kecil. Oleh karena itu idealnya
hambatan dalam voltmeter harus besar tak terhingga. Pada gambar 4 ditunjukkan
gambar voltmeter dan simbolnya.

TAHANAN, OHMMETER DAN HUKUM OHM


Tahanan adalah suatu alat listrik yang digunakan untuk menghambat/menahan
arus listrik. Tahanan berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi tahanan tetap, tahanan
variabel dan tahanan geser. Simbol dari masing-masing tahanan adalah sebagai
berikut:

Tahanan tetap adalah tahanan yang besarnya tetap, hanya biasanya untuk
besar yang sama masih dibedakan dengan daya maksimum yang sanggup dihasilkan
oleh tahanan tersebut. Hal ini bergantung pada bahan yang digunakan masing-
masing tahanan tersebut. Misalnya pada tahanan tersebut tertulis 1K? /5W, berarti
tahanan tersebut mempunyai nilai sebesar 1 K? dengan daya maksimum 5 watt.
Untuk tahanan-tahanan tertentu biasanya tidak dituliskan namun dinyatakan dengan
kode warna.
Tahanan variabel adalah tahanan yang besarnya dapat diubah-ubah misalnya
10? , 100? , 1000? dan seterusnya. Tahanan jenis ini digunakan dalam suatu kegiatan
laboratorium yang memerlukan beberapa tahanan yang perlu diketahui nilainya. Agar
praktis dan dapat melakukannya dengan cepat digunakan tahanan variabel ini.
Tahanan geser adalah tahanan yang nilainya dapat diubah secara linier untuk
rentang tertentu, misalnya: 0 -22 ? , 0-100 ? , 0-1 K? dan seterusnya. Dalam suatu
kegiatan laboratorium, tahanan geser ini difungsikan sebagai pengatur arus. Namun
demikian dalam menggunakan tahanan geser tersebut perlu memperhatikan batas arus
maksimum yang boleh melewati alat tersebut, karena kalau dipaksakan maka dapat
membakar atau merusak alat tersebut.
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur besarnya tahanan dinamakan
ohmmeter. Prinsip kerja alat ini berdasarkan hukum Ohm. Ketika suatu ampermeter
dihubungkan langsung dengan sumber tegangan maka rangkaian peralatannya adalah
seperti pada gambar 6.

Pada rangkaian tersebut dihubungkan dengan tahanan variabel untuk


mengatur kuat arus agar jarum penunjuk dapat tepat berada pada titik sebelah kanan
(dalam hal ini dipakai sebagai titik nol). Setelah diperoleh keadaan ini selanjutnya
digunakan untuk mengukur tahanan dengan menambahkan tahanan yang akan diukur
nilainya tersebut dalam rangkaian seperti pada gambar 7.
Pada rangkaian seperti pada gambar tersebut dapat diketahui bahwa kuat arus
yang mengalir menjadi kecil (I’ < I). Dari pengurangan penunjukan skala kuat arus
tersebut dikonversikan sebagai penambahan tahanan yang diukur. Oleh karena itu
cara penunjukkan skala dalam Ohmmeter adalah dari kanan ke kiri.
Hukum Ohm merupakan salah satu hukum dasar dalam teori rangkaian listrik.
Hukum Ohm pada prakteknya dapat digunakan untuk mengetahui dan menentukan
besarnya nilai resistansi.
Menurut hukum Ohm nilai Resistansi adalah :
R = V / I ………………(1)
Dengan :
R = Resistansi (Ohm)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus (Ampere)
Pada gambar 1
Jika arus melalui Volmeter (Iv) diperhitungkan, maka hukum Ohm menjadi :
R = V / (Ia – Iv)……….(2)
Dengan :
R = Resistansi
V = Tegangan yang ditunjukan oleh Volmeter
Iv = Arus yang melalui Volmeter
Ia = Arus yang terbaca pada Ampermeter

Arus yang melalui Volmeter (Iv) ini dapat diketahui besarnya apabila tahanan
dalam pada Voltmeter diketahui. Tahanan dalam Voltmeter ini dapat diketahui
besarnya dengan mengukurnya menggunakan jembatan wheatstone arus Iv ini sangat
berpengaruh terhadap harga R,yaitu bila arus Iv mendekati, maka harga R akan
semakin besar.
Pada gambar 2
Untuk mendapatkan nilai resistansi berdasarkan gambar 2,dapat dengan
memodifikasi hukum Ohm menjadi sebagai berikut :
R = (V – Va) / Ia……………………(3)
Dengan :
R = Resistansi
V = Tegangan yang terbaca pada Volmeter
Va = Arus yang terbaca pada Ammeter
Tegangan jatuh pada Ammeter ini dapat ditentukan apabila tahanan dalam
Ammeter diketahui. Untuk mengetahui besar Resistansi dalam Ammeter dapat
menggunakan jembatan Wheatstone.
Tegangan Va ini sangat berpengaruh. Jika harga tegangan Va mendekati harga
V maka harga R akan semakin kecil sekali.
Pada gambar 3
Resistansi dalam alat ukur Ammeter (Rda) dan Voltmeter (Rdv) dapat
ditentukan dengan meggunakan persamaan berikut :
Rda = (Va) / Ia……………………..(4)
Rdv = (Vr) / Iv……………………..(5)
Dengan :
Rda = resistansi dalam Ampermeter
Rdv = resistansi dalam Voltmeter
Ia = arus yang melewati Amperemeter
Iv = arus yang melewati Voltmeter
Va = tegangan jatuh di Ampermeter
Vr = tegangan beban
Pada gambar 4
Resistansi dalam Ampermeter (Rda) dapat ditentukan menggunakan
persamaan 4, dan resistansi dalam Voltmeter (Rdv) dengan menggunakan persamaan
berikut :
Rdv = V / Iv……………………….(6)
Dengan :
V = tegangan yang terbaca pada Volmeter.

PENGUKURAN DENGAN MENGGUNAKAN JEMBATAN WHEATSTONE


2
P S

G
1 3

Q 4 X

Jembatan ini paling sering digunakan untuk pengukuran tahanan yang teliti.
Langkah-langkahnya adalah :
1. Tahanan variable di atur agar beda potensial antara titik 2 dan titik 4 sama
dengan 0. Hal ini dapat ditunjukan oleh Galvanometer G.
2. Atur tahanan variable P dan Q sedemikian rupa sehingga Galvanometer G
tidak menyimpang. Jika sudah tercapai, maka titik 2 dan titik 4 potensialnya
sama.
3. Arus mengalir dari titik 1 – 2 – 3 menuju I1. Arus yang lain mengalir dari titik
1 – 4 – 3 menuju I2.
4. Beda potensial antara titik 1 dan titik 2 sama dengan beda potensial antara
titik 1 dan titik 4. Demikian juga beda potensial antara titik 2 dan titik 3 sama
dengan titik 4 dan titik 3.
5. Beda potensial antara titik 1 dan titik 2 = I1 P
Beda potensial antara titik 1 dan titik 4 = I2 Q
Beda potensial antara titik 2 dan titik 3 = I1 S
Beda potensial antara titik 4 dan titik 3 = I2 X
I1 P = I2 Q  X = SQ
I1 S I2 X P
IV. PROSEDUR PERCOBAAN
Dengan Hukum Ohm
A. Percobaan berdasarkan gambar 1
Untuk DC :
1. Susunlah rangkaian seperti gambar 1
2. Aturlah tegangan DC secara bertahap mulai dari 10 volt hingga 130
volt dengan interval 10 volt.
3. Catat seluruh penunjukan alat ukur yang digunakan pada lembar data.
Untuk AC :
1. Susun rangkaian seperti gambar 1
2. Aturlah tegangan AC secara bertahap mulai dari 50 volt hingga 130
volt dengan interval 10 volt.
3. Catat seluruh penunjukan alat ukur yang digunakan pada lembar data
pengamatan.
B. Percobaan berdasarkan gambar 2
Untuk DC :
1. Susunlah rangkaian seperti gambar 2.
2. Aturlah tegangan DC secara bertahap mulai dari 10 volt hingga 130
volt dengan interval 10 volt.
3. Catat seluruh penunjukan alat ukur yang digunakan pada lembar data
Untuk AC :
1. Susun rangkaian seperti gambar 2
2. Aturlah tegangan AC secara bertahap mulai dari 50 volt hingga130
volt dengan interval 10 volt.
3. Catat seluruh penunjukan alat ukur yang digunakan pada lembar data
pengamatan.
C. Percobaan berdasarkan gambar 3
Untuk DC :
1. Susunlah rangkaian seperti gambar 3.
2. Aturlah tegangan DC secara bertahap mulai dari 10 volt hingga 130
volt dengan interval 10 volt.
3. Catat seluruh penunjukan alat ukur yang digunakan pada lembar data
Untuk AC :
1. Susun rangkaian seperti gambar 3
2. Aturlah tegangan AC secara bertahap mulai dari 50 volt hingga130
volt dengan interval 10 volt.
3. Catat seluruh penunjukan alat ukur yang digunakan pada lembar data
pengamatan.
D. Percobaan berdasarkan gambar 4
Untuk DC :
1. Susunlah rangkaian seperti gambar 4.
2. Aturlah tegangan DC secara bertahap mulai dari 10 volt hingga 130
volt dengan interval 10 volt.
3. Catat seluruh penunjukan alat ukur yang digunakan pada lembar data
Untuk AC :
1. Susun rangkaian seperti gambar 4
2. Aturlah tegangan AC secara bertahap mulai dari 50 volt hingga130
volt dengan interval 10 volt.
3. Catat seluruh penunjukan alat ukur yang digunakan pada lembar data
pengamatan.

Dengan Jembatan Wheatstone


Pengukuran Resistansi dengan meggunakan Jembatan Wheatstone :
1. Pasangkah resistor yang akan diukur pada terminal Rx.
2. Set dial pengukuran pada posisi 1000.
3. Tekan tombol BA dan putar sedikit agar tombol
terkunci.
4. Tekan tombol GA dan amati jarum penunjuk skala, bila
terjadi penyimpangan pada jarum penunjuk maka
lepaskan tombol GA tsb.
5. Bila jarum meyimpangan ke arah positif maka naikkan
dial pengukuran dan ulangi langkah 4. Bila jarum
menyimpang kea rah negatif maka turunkan dial
pengukur dan ulangi langkah 4. lakukan hal ini sampai
jarum tidak menunjukkan penyimpangan lagi.
6. Lakukan hal yang sama (langkah 1 sampai 5) pada alat
ukur Ampermeter dan Voltmeter.
7. Nilai Resistansi yang diukur adalah :
Rx = (factor pengali) x jumlah angka yang ditunjukkan
oleh dial pengukur.
8. Catat nilai-nilai resistansi yang anda dapatkan.
Catatan :
1. Tombol GA ditekan hanya sesaat kemudian lepaskan kembali,hanya
menjaga untuk supaya tidak terjadi kerusakan pada jarum galvanometer
bila terjadi penyimpangan yang keras.
2. Bila penyimpangan jarum sudah pelan, maka tombol GA ditekan dan
diputar sedikit agar terkunci. Kemudian putar dial pengukur berdasarkan
arah penyimpangan jarum, bila jarum menyimpang kea rah positif maka
naiakkan dial pengukur dan bila ke arah negatif maka turunkan dial
pengukur, sampai jarum benar-benar tidak menyimpang lagi.
3. Untuk mengetahui nilai Rx, maka dapat dilakukan cara sebagai berikut :
a. Putar Multiply ke angka “1” dan dial pengukur pada angka “1000”.
b. Jika jarum galvanometer menunjuk arah positif, naikkan Multiply ke
angka “10” dan bila masih tetap positif naikkan lagi ke “100”.
c. Bila pada posisi “100” ternyata jarum ke arah negatif, maka berarti
nilai tahanan itu berkisar diantara 10 Kohm sampai 100Kohm.
V. TUGAS PENDAHULUAN
1. Buktikan rumus II dan III
 Jawab :
V=I. R V – Va – Ia . R = 0
I = Ia – Iv V – Va = Ia . R
V= (Ia – Iv) . R R= V – Va / Ia
R= V / (Ia – Iv)
2. Jelaskan ada berapa macamkah cara pengukuran tahanan (resistansi)
 Jawab: Ada 2 metoda pengukuran resistansi, yaitu :
a. Metoda Perbandingan
- Dengan menggunakan Potentiometer Arus Searah
- Pengukuran dengan menggunakan Jembatan Wheatstone
- Pengukuran dengan menggunakan Jembatan Kelvin (The Kelvin double
Bridge)
b. Metoda Penyimpangan
- Metoda Amper – Voltmeter
- Metoda Ohmmeter
- Metoda Ohmmeter Kumparan Silang (Crossed Coil Ohmmeter)
- Instrumen Ukur Isolasi (Insulation Tester)
3. Jelaskan secara teori cara menentukan besar resistansi dengan metode Wheatstone
Bridge. Uraikan persamaan matematisnya sertai dengan gambar.
 Jawab :
2
P S

G
1 3

Q X
4
a. atur P&Q agar galvanometer G tidak menyimpang (menunjuk angka nol dan
baru dikatakan seimbang).
b. jika sudah tercapai maka titik 2 dan titik 4 mempunyai potensil yang sama
- arus yang mengalir dari titik 1 → titik 2 → titik 3 (I1)
- arus yang mengalir dari titik 1 → titik 4 → titik 3 (I2)
c. beda potensial antara titik 1 dan titik 2 sama dengan beda potensial antara titik
1 dan titik 4 juga beda potensial antara titik 2 dan titik 3 sama dengan beda
potensial titik 4 dan titik 1
I1 . P = I2 . Q
I1 . S = I2 . X, jadi
X/P=S/P
X = SQ / P
4. bagaimanakah cara menaikkan range (batas ukur) suatu alat ukur untuk Voltmeter
dan Ampermeter. Jelaskan disertai dengan gambar dan contoh persoalannya.
 Jawab :

• dengan menggunakan / memberikan tahanan tambahan


• dengan menggunakan trafo arus dan trafo tegangan
5. Jelaskan maksud , tujuan ,dan gunannya percobaan ini dalam aplikasinya
 Jawab : untuk mengetahui dan menentukan nilai resistansi (R) dalam suatu
resistor (tahanan) dan resistansi dalam (Rd) alat ukur Amperemeter dan
Voltmeter dengan memakai metoda perbandingan dan metoda penyimpangan
6. Jelaskan menurut idealnya (secara teori) besar tahan dalam Ampermeter dan
Voltmeter
 Jawab : Ampermeter tahanannya arus kecil / sekecil mungkin karena agar
daya yang hilang pada ampermeter itu kecil, serta tidak mempengaruhi
rangkaian dan rugi-rugi pada ampermeter kecil.
Misal : pada ampermeter I
I = 10 A
V= 1000 V
R= 100 Ω
- jika Rd = 100 Ω, maka Rt = R + Rd = 100 + 100 = 200 Ω
I = V / Rt = 1000/ 200 = 5 A
- jika Rd = 1 Ω, maka Rt = R + Rd = 100 + 1 = 101 Ω
I = V / Rt = 1000 / 101 = 9,09 A
Voltmeter tahanannya dibuat sebesar mungkin agar daya yang hilang pada
voltmeter kecil serta tidak mempengaruhi rangkaian dan rugi-rugi pada
voltmeter kecil.
Misal : I = 1 A
R= 100 Ω
V= 100 volt
- jika Rd = 100 Ω, maka Rt = R . Rd / R + Rd = 100 . 100 / 100 + 100 = 50

V = 50 x 1 = 50 volt
- jika Rd = 1000 Ω,maka Rt = 100 . 1000 / 100 + 1000 = 99,09 Ω
V = 99,09 x 1 = 99,09 volt
7. Kenapa Ampermeter dalam suatu rangkaian harus dipasang seri terhadap
beban?Apakah boleh dipasang paralel terhadap beban? Jelaskan dan buktikan
jawaban anda
 Jawab : jika amperemeter dipasang pada rangkaian, seolah-olah
menambahkan tahanan pada rangkaian. Maka arus yang mengalir pada saat
dipasang amperemeter lebih kecil dibanding dengan arus yang mengalir pada
saat rangkaian tanpa amperemeter. Amperemeter bila dipasang paralel maka
arus yang mengalir menjadi lebih besar. Alasan lain agar daya yang hilang
pada ampermeter itu kecil.
8. Kenapa Voltmeter dalam suatu rangkaian harus dipasang paralel terhadap
beban?Apakah boleh dipasang seri terhadap beban? Jelaskan dan buktikan
jawaban anda
 Jawab : pengukuran voltmeter dipasang paralel dengan beda potensial yang
diukur, maka tahanan voltmeter harus besar. Kemungkinan tahanan total dapat
menjadi lebih kecil dibandingkan sebelum voltmeter dipasang. Jika dipasang
seri maka nilai tahanan totalnya menjadi sangat besar. Alas an tahanan
voltmeter harus besar agar daya yang hilang pada voltmeter menjadi lebih
kecil.
9. Apakah tahanan dalam pada alat ukur Ampermeter dan Voltmeter harus tetap ada
atau boleh ditiadakan ?, jelaskan dan buktikan jawaban anda..?
 Jawab :
- tahanan pada ampermeter lebih bagus jika ditiadakan (ideal)
- tahanan dalam voltmeter harus besar atau jika ada sebesar mungkin (ideal)
10. Apakah menurut anda bila suatu resistor dialiri arus DC akan memiliki nilai
resistansi yang sama dengan bila dialiri arus AC (resistor yang digunakan
sama)?,jelaskan jawaban anda dan buktikan
 Jawab : R jika dialiri arus AC maka akan mempunyai nilai resistansi yang
sama jika dialiri arus arus DC maka nilai R tidak mempengaruhi terhadap
frekuensi.
VI. TUGAS AKHIR
1. Buatlah grafik V vs I untuk sumber AC dan DC dari gambar 1, 2, 3, & 4.
2. Dari grafik-grafik tersebut tentukan besarnya nilai Resistansi R
3. Hitung harga rata-rata R menurut rumus yang berlaku berdasarkan gambar.1
dan 2, 3, 4. Bandingkan hasilnya dengan yang diperoleh melalui grafik
4. Bandingkan hasil Resistansi R dari point 2, dan 3 diatas dengan hasil R yang
diperoleh dengan menggunakan jembatan Wheastone. Manakah dari ketiga
hasil R tersebut yang paling mendekati nilai ideal (mendekati nilai R yang
diperoleh dari perhitungan secara teori) jelaskan
5. Jelaskan dengan menggunakan persamaan dan grafik pengaruh panas terhadap
nilai suatu resistansi
6. Kesalahan apa saja yang dapat timbul dari kedua metode percobaan yang
dilakukan ini. Manakah yang lebih baik diantara dua metode tersebut, jelaskan
7. Berikan kesimpulan yang anda peroleh dari percobaan yang telah anda
lakukan
JAWABAN TUGAS AKHIR
1. Buatlah grafik V vs I untuk sumber AC dan DC dari gambar 1, 2, 3, & 4.
 Jawab :

AC
• Gambar 1

0.14

0.12

0.1
I (Amp)

0.08

0.06

0.04

0.02

0
50 60 70 80 90 100 110 120 125
V (Volt)

• Gambar 2

0.12

0.1

0.08
I (Amp)

0.06

0.04

0.02

0
50 60 70 80 90 100 110 120 125
V (Volt)
• Gambar 3

0.14

0.12

0.1
I (Amp)

0.08

0.06

0.04

0.02

0
0.6 0.7 0.8 0.94 1.05 1.17 1.29 1.4 1.42
Va (Volt)

140

120

100
V (Volt)

80

60

40

20

0
7.6 9 10.6 12 13.6 15.1 16.7 18.2 18.3
Iv (Amp)
• Gambar 4

0.12

0.1

0.08
I (Amp)

0.06

0.04

0.02

0
0.62 0.74 0.87 1.89 2.06 2.3 2.47 2.51 2.55
Va (Volt)

140

120

100
V (Volt)

80

60

40

20

0
7.3 8.8 10.4 12.1 13.6 15.1 16.6 18.1 18.6
Iv (Amp)
DC
• Gambar 1

100
90
80
70
60
I (Amp)

50
40
30
20
10
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130
V (Volt)

• Gambar 2

100
90
80
70
60
I (Amp)

50
40
30
20
10
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130
V (Volt)
• Gambar 3

100
90
80
70
60
I (Amp)

50
40
30
20
10
0
3.6 9.5 11.6 15 18.3 22 25.9 28.6 31.8 35.7 39.1 42.9 46.6
Va (Volt)

140
120
100
V (Volt)

80
60
40
20
0

Iv (Amp)
• Gambar4

100
90
80
70
60
I (Amp)

50
40
30
20
10
0
3.4 7.6 10.7 14.8 18.6 22.1 26.2 29.5 32.9 37 40.5 43.8 47.2
Va (Volt)

140
120
100
V (Volt)

80
60
40
20
0

Iv (Amp)

2. Dari grafik-grafik tersebut tentukan besarnya nilai Resistansi R


 Jawab : besar resistansi R pada grafik :
R = tg α = V/ I
tahanan R menurut Grafik adalah :
Sumber tegangan DC Sumber tegangan AC
Gambar
R (ohm) R (ohm)
1 1428,57 1018,51
2 1395,34 1157,40
3 1428,57 992,06
4 1369,86 1168,22

3. Hitung harga rata-rata R menurut rumus yang berlaku berdasarkan gambar.1


dan 2, 3, 4. Bandingkan hasilnya dengan yang diperoleh melalui grafik
 Jawab :
RUMUS : R = Σ V/ Σ I
tahanan R menurut Rumus adalah :
Sumber tegangan DC Sumber tegangan AC
Gambar
R (ohm) R (ohm)
1 1370,48 978,12
2 1426,33 1138,61
3 1372,54 961,76
4 1358,20 1137,005

Perbandingan rata-rata tahanan R Rumus -R Grafik adalah :

Sumber Tegangan DC Sumber Tegangan AC


R rumus R grafik R rumus R grafik
Gambar Gambar
(Ohm) (Ohm) (Ohm) (Ohm)
1 1370,48 1428,57 1 978,12 1018,51
2 1426,33 1395,34 2 1138,61 1157,40
3 1372,54 1428,57 3 961,76 992,06
4 1358,20 1369,86 4 1137,005 1168,22
4. Bandingkan hasil Resistansi R dari point 2, dan 3 diatas dengan hasil R yang
diperoleh dengan menggunakan jembatan Wheastone. Manakah dari ketiga
hasil R tersebut yang paling mendekati nilai ideal (mendekati nilai R yang
diperoleh dari perhitungan secara teori) jelaskan
 Jawab :
Sumber Tegangan DC Sumber Tegangan AC
R rumus R grafik R JW R rumus R grafik R JW
Gambar Gambar
(Ohm) (Ohm) (Ohm) (Ohm) (Ohm) (Ohm)
1 1370,48 1428,57 R da = 1 978,12 1018,51 R da =

2 1426,33 1395,34 0,543 2 1138,61 1157,40 4,101


R dv = R dv =
3 1372,54 1428,57 3 961,76 992,06
300.000 6.910
4 1358,20 1369,86 4 1137,005 1168,22

5. Jelaskan dengan menggunakan persamaan dan grafik pengaruh panas terhadap


nilai suatu resistansi
 Jawab : Jika suatu penghantar dipanaskan sehingga suhunya naik, maka
ukurannya berubah dan nilai tahanannya akan naik. Besarnya pertambahan
kenaikan tahanan dapat dihitung dengan rumus :
Rt2 = Rt1 (1 + α [t2 – t1]) dimana t2 - t1 = ∆t
= Rt1 (1 + α . ∆t)
= Rt1 + α . ∆t . Rt1
sedangkan untuk mencari nilai adalah dengan rumus :
Rt2 = Rt1 + α . ∆t . Rt1
α . ∆t . Rt1 = Rt2 – Rt1
α = Rt2 – Rt1 / ∆t . Rt1
ket : Rt1 = tahanan pada suhu rendah dalam satuan ohm
Rt2 = tahanan pada suhu tinggi dalam satuan ohm
∆ = koefisien suhu dalam satuan derajat
t1 = suhu rendah dalam satuan C
t2 = suhu tinggi dalam satuan C
t = perbedaan atau perubahan suhu dalam satuan C

6. Kesalahan apa saja yang dapat timbul dari kedua metode percobaan yang
dilakukan ini. Manakah yang lebih baik diantara dua metode tersebut, jelaskan
 Jawab :
- kesalahan yang disebabkan oleh faktor alat ukur
- kesalahan dalam pembacaan alat ukur
- Kesalahan yang disebabkan faktor manusia ( praktikan )
- Kesalahan yang disebabkan faktor lingkungan (adanya perubahan suhu )

7. Berikan kesimpulan yang anda peroleh dari percobaan yang telah anda
lakukan
 Jawab :
- Amperemeter dalam pemakaian harus dipasang seri terhadap beban.
- Voltmeter dalam pemakaian harus dipasang paralel terhadap beban
- Voltmeter yang digunakan harus memiliki tahanan dalam yang sebesar
mungkin.
- Amperemeter yang digunakan harus memiliki tahanan dalam yang sekecil
mungkin.
- Untuk mengetahui tahanan yang belum diketahui nilainya maka dapat
menggunakan metode jembatan Wheatston
PRAKTIKUM : PBL NILAI :
ASISTEN :

LAPORAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

NAMA : MOCHAMAD TASRIF.ALEXANDER


NIRM / NIP : 2007420004
GROUP : Kelompok - 2
JURUSAN : TEKNIK ELEKTRO
NO. PERCOBAAN : Modul 2
TANGGAL : 13 Juli 2009
PARTNER : chita indiana
Priyan Gagani
Dadang Herlan
Herry Rafiudin
ASISTEN : Faysal
PENERAPAN ALAT UKUR AMPERMETER, VOLTMETER
DAN KWH-METER 1 PHASA
(MODUL 2)

VII. TUJUAN : 1. Mengetahui perbedaan antara Ampermeter / Voltmeter


standar dengan Ampermeter / Voltmeter kelas biasa.
2. Mengetahui perbedaan antara KWh-meter 1 phasa standar dengan
KWh-meter 1 phasa kelas biasa.

VIII. ALAT – ALAT :


1. AC Ammeter Standard (class 0,5)
2. AC Voltmeter Standard (class 0,5)
3. AC Ammeter Biasa (class 1,5)
4. AC Voltmeter Biasa (class 1,5)
5. AC Power Supplay (adjustable)
6. DC Ammeter Standard (class 0,5)
7. DC Voltmeter Standard (class 0,5)
8. DC Ammeter Biasa (class 1,5)
9. DC Volmeter Biasa (class 1,5)
10. DC Power Supplay (adjustable)
11. Slide Resistor
12. KWh-meter 1-fasa biasa (class 2)
13. KWh-meter 1-fasa Standard (class 0,5)
14. Wattmeter 1-fasa Standard (class 0,5)
15. Cos φ meter 1-fasa
16. Stopwatch
17. 1 set beban
18. Kabel-kabel penghubung
IX. LANDASAN TEORI
PENGUKURAN DAYA
Daya yang dipergunakan oleh beban pada rangkaian besarnya ialah: W = I2 .
R atau W = E . I dengan satuan volt ampere atau watt. Menurut ketentuan rumus di
atas dapat difahami bahwa daya listrik mengandung komponen tegangan dan arus
yang besarnya berbanding lurus dengan hasil perkalian k edua komponen tersebut.
Untuk hambatan listrik yang konstan besar daya listrik sebanding dengan kuadrat
tegangan ataupun kuadrat arus seperti tampak pada kurva berikut:

Dalam sistem SI diperoleh bahwa 1 watt = 1 joule perdetik. Pengukuran besar


daya yang dipakai oleh beban arus searah pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua
macam cara, yaitu:
- Menggunakan dua buah instrumen pengukur yang terdiri dari voltmeter dan
amperemeter. Hasil penunjukan ini belum merupakan hasil terakhir yang
perlu dihitung terlebih dahulu.
- Mempergunakan sebuah instrumen pengukur yang berupa Watt meter. Hasil
penunjukkannya dpat langsung dibaca dan merupakan hasil akhir.
Cara pertama yang menggunakan voltmeter dan ampermeter dapat dilakukan
dengan dua macam cara seperti pada gambar 18 di bawah ini.
Cara pengukuran menurut bagan (a) ternyata bahwa arus yang ditunjukkan
oleh amperemeter yaitu I a besar I a = Iv + Ib. Berarti besar arus yang ditunjukkan
oleh amperemeter menjadi terlampau besar yang seharusnya besarnya Ib. Oleh
karena itu pada penunjukkan daya tersebut terdapat kesalahan.
Apabila pengukuran dilaksanakan seperti gambar ( b), maka tegangan yang
ditunjukkan voltmeter menjadi Ev = Ea + Eb, sehingga dayanya Wb = Ev . Ib atau
Wb = (Ea + Eb )Ib yang seharusnya besar daya W b = Eb . Ib, jadi penunjukan daya
tersebut tetap lebih besar dari yang seharusnya.
Oleh sebab itu baik menggunakan cara pertama ataupun kedua akan tetap
mengalami kesalahan penunjukkan. Kedua cara tersebut dapat digunakan, dalam
pemakaiannya dibedakan: apabila arus beban yang diukur besar menggunakan cara
pertama, sebaliknya jika arus beban kecil digunakan cara kedua. Hal tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
• Cara pertama: Wb = Eb (Iv + Ib) pemakaian arus bagi voltmeter tidaklah
besar sedang arus yang diukur amperemeter besar sehingga pemakaian arus
bagi voltmeternya dapat diabaikan.
• Cara kedua: arus yang mengalir kecil daya yang ditunjukkan Wb = (Ea + Eb) .
Ib, karena arus yang mengalir melalui amperemeter kecil, maka kerugian
tegangan amperemeter juga kecil sehingga dapat diabaikan.
Demikianlah cara pengukuran daya apabila kita gunakan ampermeter dan
voltmeter. Tetapi cara yang terbaik adalah kita gunakan wattmeter secara langsung,
sebab kesalahan yang timbul oleh akibat penggunaan kumparan, pegas dan lainnya
telah diperhitungkan dengan kalibrasi. Kecuali itu hasil pengukurannya dapat
langsung dibaca dan merupakan hasil akhir.
Apabila kita gunakan wattmeter sebagai pengukur daya secara langsung (di
dalam alat ini terdapat dua macam kumparan yaitu kumparan arus dan tegangan),
kopel yang dihasilkan oleh kedua macam kumparan yang dialiri arus listrik akan
menyebabkan simpangan jarum penunjuknya berbanding lurus dengan hasil perkalian
arus-arusnya yang melalui kedua kumparan tersebut di atas.
Wattmeter arus searah yang biasa dipergunakan ialah dengan azas kerja
elektrodinamis. Karena pesawat elektrodinamis sangat peka terhadap medan-medan
luar sebagai peredam udara.
Untuk mencegah pengaruh medan magnit luar dibuat pesawat astatik dengan
cara sebagai berikut:
1. wattmeter diselubungi dengan bahan sejenis besi, kerugian histeresis dan
permanen magnit pada besi kecil.
2. kumparan-kumparannya dililitkan dalam gandar terbuat dari besi nikel yang
berlapis-lapis.
Kedua macam cara di atas menimbulkan bentuk medan yang lain sehingga
penunjukkan skala tidak lagi sama rata.

Wattmeter elektrodinamis memiliki kumparan tetap yang dialiri arus utama


dan kumparan berputar yang dihubungkan pada tegangannya. Kopel yang bekerja
pada sistem yang bergerak ditentukan oleh hasil perkalian kedua arus-arusnya yang
mengalir pada kumparan-kumparannya. Penyimpangan jarum penunjuknya
berbanding lurus dengan kopel penggeraknya sehingga hal ini akan berbanding lurus
juga dengan dayanya, maka wattmeter elektrodinamis mempunyai skala yang hampir
sama rata.
Untuk mengukur daya beban jaringan hubungan wattmeter dapat dilakukan
seperti gambar 20.

Kedua macam hubungan diatas mengandung kerugian sebagaimana yang


telah diuraikan pada pengukuran daya dengan menggunakan ampere dan voltmeter.
Pengertian daya pada arus bolak-balik tidaklah sesederhana seperti pada arus
searah. Demikian pula halnya tentang pengukurannya. Oleh karena itu perlu kita
bicarakan secara sepintas tentang pengertian daya arus bolak-balik terlebih dahulu.
Sesuai dengan daya listrik arus searah, daya arus bolak-balik juga terdiri dari
dua komponen pokok yaitu arus dan tegangan. Tetapi untuk arus bolak-balik
belumlah cukup mengingat sifat daripada arus bolak-balik itu sendiri dan pengaruh
beban pada umumnya. Beban listrik umumnya mengandung tiga macam unsur yaitu
induktansi, kapasitansi dan tahanan yang ketiganya secara bersama disebut
impedensi. Induktansi dan kapasitansi ini secara bersama ataupun sendiri-sendiri
dapat disebut sebagai reaktansi. Adanya reaktansi inilah yang menyebabkan
terjadinya geseran fase antara tegangan dan arusnya (lihat gambar 21), sehingga
dalam perhitungan faktor daya tersebut tidak dapat ditinggalkan begitu saja.
Daya arus bolak-balik dinyatakan sebagai hasil perkalian arus dengan
tegangannya dan diperhitungkan faktor kerjanya (cosinus ? ).
W = E . I . cos α
W dalam satuan watt
E dalam satuan Volt
I dalam satuan Ampere
Daya tersebut merupakan daya yang terpakai dari bebannya. Daya ini disebut
daya efektif atau daya yang digunakan. Vektor arus ini dapat diuraikan menjadi I cos
α dan I sin α . Besar daya tidak langsung bergantung dari I, tetapi dari I cos α ,
sedang I sin α seolah-olah tidak berguna sama sekali. Karena itu cos α disebut
faktor kerja.
I cos α = arus watt atau arus berguna, diberi simbol Iw.
I sin α = arus buta atau arus tak berguna, simbulnya Ib.
EI cos α = daya efektif atau daya, diberi simbol Ww.
EI sin α = daya buta atau daya hampa, diberi simbol Wb
E I = daya semu, dengan simbol Ws dalam satuan volt ampere (VA) atau kilo volt
ampere (k VA).
Hendaklah diperhatikan bahwa uraian arus di atas hanya mempunyai arti
analitis. Dalam kenyataannya hanya ada satu arus, yaitu I. Wattmeter yang dipakai
sebagai pengukur daya arus bolak-balik kebanyakan menggunakan azas kerja
elektrodinamis dan induksi.
Dalam penggunaan sebagai wattmeter, kumparan tetapnya dialiri arus I1 dan
kumparan yang bergerak dilalui I2. Kedua macam kumparan itu merupakan
kumparan yang disambungkan seri dengan tahanan R yang besar.
Wattmeter elektrodinamis untuk keperluan industri jika bekerja pada
frekuensi dan faktor kerja yang besar, tahanan dalam lingkungan tegangannya
menjadi sangat tinggi dibandingkan dengan reaktansinya. Oleh karena itu pengaruh
reaktansi tersebut dapat diabaikan, sehingga I2 dianggap sefase dengan tegangan E.
Karena kumparan ini sebagai kumparan yang bergerak, maka penunjukkannya
menjadi I1I2 = K E I cos α . Ternyata penunjukan wattmeter elektrodinamis
berbanding lurus dengan daya bebannya. Pemilihan cara penyambungan (a) atau (b)
yang ingin digunakan akan sama halnya dengan pengukuran daya dengan
menggunakan voltmeter dan ampermeter.
Wattmeter induksi juga memiliki sepasang kumparan yang dilalui arus utama
dan kumparan yang dihubungkan dengan tegangannya. Kalau kumparan arus dialiri
arus listrik terjadilah induksi pada kumparan tegangan dan menyebabkan suatu kopel.
Kumparan arus dengan kumparan tegangannya dibuat berselisih fase sebesar 90o. Hal
ini dimaksudkan untuk mendapatkan kopel penggerak yang berbanding lurus dengan
konstantanya.
Kopel = K E I cos α
Pesawat induksi sangat terpengaruh oleh perubahan frekuensi dan akan
menyebabkan perubahan-perubahan arus foucolt (pusat). Kecuali itu menyebabkan
perubahan-perubahan reaktansi pada kumparan-kumparannya. Sebagai akibat
lanjutan ialah I 1 dan I 2 mengalami juga perubahan geseran fasenya. Kalau hal ini
sampai terjadi akan menyebabkan kesalahan penunjukkan. Untuk memperoleh
ketelitian pemakaiannya perlulah dilakukan cara penyambungan agar selisish fase
benar-benar 90o.
Hubungan ini dapat dilakukan dengan menambahkan suatu tahanan R yang
diparalel dengan kumparan S yang mempunyai reaktansi X dan tahanan R. Kedua
rangkaian cabang ini disambungkan seri dengan sebuah kumparan peredam (Kp).
Wattmeter pada dasarnya digunakan sebagai pengukur daya listrik tetapi dapat
juga sebagai detektor. Jika pada komponen suatu unit terjadi kebocoran disebabkan
pembebanan, unit tersebut akan menyerap daya lebih banyak daripada dalam keadaan
biasa. Hal semacam ini akan banyak terjadi pada unit elektronika misalnya radio,
televisi, amplifier dan sebagainya baik yang menggunakan arus searah maupun arus
bolak-balik.
Besaran lain yang berkaitan dengan pengukuran daya adalah faktor kerja.
Dimana besaran ini ikut menentukan besar daya pada arus bolak-balik. Faktor kerja
disebut pula cosinus phi dan disingkat cos α . Sudut α ialah geseran fase antara
besaran arus dan tegangannya. Besar kecil sudut geseran fase tersebut dipengaruhi
oleh macam muatan yang ada pada rangkaian listriknya. Besar daya dinyatakan
dalam rumus W = E.I cos α .
Instrumen yang digunakan untuk mengukur faktor kerja namanya cos-phi-
meter. Alat ini bekerja atas dasar pesawat elektrodinamis dengan kumparan silang.
Kerja alat cos ? menghasilkan sudut putaran a yang berbanding lurus dengan sudut
geseran fase ? atau dalam rumus dinyatakan: a = C . ? (C = konstanta). Besar kecil
konstanta ini bergantung dari perbandingan besar arus yang mengalir melalui dua
kumparan yang bersilangan. Jika i1: i2 = 1: 2, berarti a = ½ ? .
Dalam hal ini untuk mengukur sudut α antara 0o– 90o dapat diukur dengan
simpangan sejauh 90o atau ¼ lingkaran. Misalkan sudut geseran fase antara E dan I
sebesar 60o, maka alat akan menunjukkan harga dari cos 60o yaitu 0,5, jadi jarum
akan menunjuk tepat ditengah-tengah skalanya.
Demikian pula jika sudut α = 10o, cos α -nya sama dengan 0,9848,
penunjuknya akan menunjukkan harga itu. Cos α tidak ada satuannya seperti halnya
ampere, volt dan sebagainya.
Umumnya beban jaring bersifat induktif sehingga pembuatan skala juga untuk
keperluan di atas, yaitu dengan harga antara 0o dan +1. Cara menghubungkan cos α -
meter serupa dengan wattmeter, kumparan medan dilalui arus utama I dan kumparan
silang pada tegangan pokok E. geseran fase sebesar 90o antara i1 dan i2, kumparan
silang dipasang pada tahanan R dan induktansi X1 yang dihubungkan paralel cos α -
meter tersebut tidak langsung dipasang untuk arus satu fase.

AMMETER
Pada penerapan Ammeter, rangkaian disupply dengan sumber tegangan yang
besarnya konstan, sedangkan beban dibuat berubah-ubah sehingga akan didapat
variasi nilai arus dari rangkaian tersebut. Besarnya arus pada rangkaian dan setiap
perubahan dapat langsung dibaca melalui Ammeter yang ditera maupun yang
standard.
Dari setiap perubahan harga (dafa) yang terbaca pada kedua alat ukur
Ammeter tersebut akan dapat dibuat suatu grafik linear dan dari grafik tersebut akan
dapat ditentukan pula% ketelitian alat ukur yang ditera.
%ketelitian = (Itera / Istd) x 100%....................(1)

VOLTMETER
Pada penerapan voltmeter, rangkaian disupply dengan tegangan yang
berubah-ubah dan besar perubahannya dapat dibaca langsung pada voltmeter standard
dan tera. Dari data yang diperoleh pada kedua voltmeter tersebut dapat dibuat suatu
grafik linear yang menunjukan hubungan antara keduanya, dan dari grafik dapat
ditentukan % ketelitian alat yang ditera :
%ketelitian = (Vtera / Vstd0 x 100%................(2)

KWH-METER
Jumlah energi yang diserap oleh suatu sistem selama selang waktu antara t1
dan t2 adalah :
E = e . i . dt…………………………………….(3)
Sedangkan energi rata-ratanya adalah :
Eav = (1 / t2-t1) e . i . dt……………………….(4)
Jika daya yang mengalir besarnya diketahui dan konstan selama selang waktu
tertentu, maka jumlah energi yang terpakai adalah besarnya daya dikalikan lama daya
itu mengalir.
KWh-meter dapat menghitung jumlah energi yang diserap baik pada
pembebanan konstan (daya tetap) maupun pada pembebanan tidak konstan.
Untuk benar atau tidaknya penunjukan KWh-meter, maka dapat dilakukan 2
(dua) cara yaitu :
1. Membandingkan KWh-meter yang akan ditera dengan KWh-meter standard.
Dengan pembebanan yang sama dalam suatu waktu tertentu maka akan dapat
dilihat perbedaan jumlah putaran (N) anatara KWh-meter yang diter dengan
yang standard.
2. Mengoperasikan KWh-meter yang ditera pada pembebanan tertentu dan
kemudian mengukur besarnya daya yang mengalir serta mengamati kerja dari
KWh-meter tersebut. Jika daya yang digunakan dijaga tetap konstan selama
selang waktu tertentu, maka jumlah energi yang diserap akan dapat dihitung.
Kemudian kedua hasil ini dibandingkan satu sama lain, sehingga kesalahan-
kesalahan KWh-meter yang ditera bias diketahui.
A. KWH-METER PADA PEMBEBANAN KONSTAN.
Apa bila daya listrik yang mengalir konstan, maka untuk suatu KWh-meter
dapat dibuat suatu hubungan sperti demikian :
E = P . t = N / C………………………(5)
Dimana :
N = jumlah putaran piringan (Rev)
C = konstanta KWh-meter = jumlah putaran/KWh (Rev/KWh)
P = daya listrik (watt)
t = waktu (detik)
Dari hubungan diatas jelas dapat dilihat bahwa untuk suatu harga daya
tertentu, kecepatan putaran piringan W akan tertentu juga, dan hal ini dapat
dinyatakan sebagai berikut :
W = N / t = C . P…………………….(6)
Atau untuk suatu putaran tertentu dibutuhkan waktu :
t = N / (C . P)……………………….(7)
waktu yang diperlukan untuk sejumlah putaran tertentu dapat diukur dengan
menggunakan stopwatch atau dapat menggunakan perhitungan waktu yang dihasilkan
menurut persamaan (5). Bandingkanlah kedua hasilnya.
B. MENGHITUNG KESALAHAN KWH-METER
Cara 1 : Kesalahan dalam persen dapat dinyatakan dengan persamaan :
F = {(Ns-Nt) / (Nt)} x 100%............(8)
Dimana :
Nt = jumlah putaran yg dilakukan oleh KWh-meter tera dalam selang waktu t.
Ns = jumlah putaran sebenarnya yang dilakukan oleh KWh-meter standard
pada selang waktu yang sama (t).
Cara 2 : Kesalahan dalam persen dapat dinyatakan dengan persamaan :
F = {(A – S) / (S)} x 100%..............(9)
Dimana :
A = jumlah energi yang ditunjukan oleh KWh-meter
S = jumlah enegi yang seharusnya, dinyatakan dengan menurut
F = {(W – Ws) / (Ws)} x 100%.......(10)
Dimana :
W = kecepatan putaran piringan putaran KWh-meter yang ditera
= (N x 3600) / t (putaran waktu)
Ws= kecepatan putaran piringan KWh-meter yang seharusnya
= (C x P) /1000 (putaran waktu)
dan kemudian :
F = {(t – ts) / (t)} x 100%...............(11)
Dimana :
t = waktu yang diperlukan piringan melakukan sejumlah N putaran
ts = waktu seharusnya = (N x 3600 x 1000) / (C .P)……..(12)

X. PROSEDUR PERCOBAAN
A. PENERAPAN AMMETER DC DAN AC
PENERAPAN AMMETER DC
1. Susun rangkaian seperti gambar 1. hubungkan terminal-terminal alat ukur
yang satu dengan yang lainnya seperti gambar dengan polaritas yang tepat dan
kemudian hubungkan ke terminak beban (Rheostat 3300 Ohm).
2. Rheostat beban diatur pada posisi maksimum.
3. Supply tegangan diatur 1 V DC (konstan) untuk Ammeter-1 dan Ammeter-3
dan 25 V DC (konstan) untuk Ammeter-2.
4. Atur Rheostat beban dari posisi maksimum ke minimum agar diperoleh
variasi arus (Ammeter standard) mulai dari 1, 2, 3,……….15 mA untuk
Ammeter-1 dengan interval sebesar 1mA, 2, 4,…………30mA untuk
Ammeter-3 dengan interval 2mA dan 10, 20, 30,………….150mA untuk
Ammeter-2 dengan interval 10mA.
5. Catat setiap perubahan yang terjadi pada alat-alat ukur tersebut pada table data
pengamatan.
PENERAPAN AMMETER AC
1. Susun rangkaian gambar 1. dengan beban (Rheostat) 100 Ohm.
2. Beban Rheostat diatur pada posisi maksimum.
3. Supply tegangan (konstan) dibuat sesuai petnjuk assisten (sekitar 23 voltAC
agar mendapatkan harga arus 0,2 A pada Ammeter yang ditera).
4. Atur Rheostat beban dari posisi maksimum ke minimum agar diperoleh
variasi arus (Ammeter tera) mulai dari 0.2, 0.24,……..0.8 A dengan iinterval
0.04 A.
5. Catat setiap perubahan yang terjadi pada alat-alat ukur pada tabel data
pengamatan.

B. PENERAPAN VOLTMETER DC DAN AC


PENERAPAN VOLTMETER DC
1. Susunlah rangkaian seperti gambar2. hubungkan voltmeter DC
secara berurutan seperti gambar tersebut. Perhatikan polaritas alat
ukur jangan samapai terbalik.
2. Supply tegangan pada awalnya pada posisi minimum kemudian
aturlah tegangan power supply mulai dari 0, 1.2, 2.4,……..18 V DC
(voltmeter standard) dengan interval setiap kenaikan sebesar 1.2 V
DC.
3. Catat setiap perubahan yang terjadi pada alat-alat ukur pada tabel
data pengamatan.
PENERAPAN VOLTMETER AC
1. Susun rangkaian seperti gambar 2.
2. Supplay tegangan awal 20 V AC, kemudian naikkan tegangan mulai
dari 20, 30, 40,………..,120 V AC (voltmeter standard) dengan
interval sebesar 1 V AC untuk Voltmeter-2.
3. Catat setiap perubahan yang terjadi pada alat-alat ukur pada tabel data
pengamatan.
C. PENERAPAN KWH-METER 1 PHASA
Cara 1 :
1. Susunlah rangkaian seperti gambar 3.
2. lakukan percobaan dengan beban nol (tanpa beban) amati perputaran
piringan dan catat hasilnya.
3. ulangi langkah 2, dengan KWh-meter tera-2.
4. lakukan percobaan dengan beban I.
5. Catat jumlah putaran KWh-meter standard berdasarkan pengamatan
jumlah putaran KWh-meter tera dengan N = 1,2,3,4,5.
6. lakukan percobaan dengan beban II dan III.
7. ulangi langkah 4,5,6, dengan KWh-meter tera-2.
Cara 2 :
1. susun rangkaian seperti gambar 4.
2. lakukan percobaan dengan beban I.
3. Catat tegangan (v), waktu (t), daya (P), arus (Amp) untuk putaran N =
1,2,3,4,5,6.
4. lakukan percobaan dengan beban II dan III.
5. ulangi langklah 2,3,dan 4 dengan KWh-meter tera-2

XI. TUGAS PENDAHULUAN


Peneraan Ampermeter dan Voltmeter
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan : Resistivity, Accuracy, Precission,
Sensitivity, Linearity.
 Jawab : Resistivity = adalah nilai dari sebuah alat ukur.
Accuracy = adalah persesuaian antara pembacaan instrument
dengan nilai sebenarnya (true value) dari besaran yang diukur.
Sensitivity = adalah perbandingan antara besaran respon dengan
besaran yang diukur.
Linearity = adalah perbandingan antara nilai penyimpangan
tahanan maksimum dengan nilai tahanan pada skala penuh.
2. Apa yang dimaksud dengan “Ohm/Volt” suatu alat ukur? Jelaskan juga
kegunaannya
 Jawab: Ohm/Volt adalah effisiensi dari alat ukur dan didefinisikan sebgai
perbandingan antara nilai pembacaan dari instrument dan daya yang
digunakan instrument pada saat bekerja untuk pengukuran.
3. Jelaskan dengan disertai gambar prinsip kerja alat ukur Ammeter dan Voltmeter
(AC dan DC).
 Jawab : Prinsip kerja Ammeter yaitu dipasang seri terhadap beban,
sedangkan voltmeter dipasang paralel terhadap beban.

4. Jelaskan apakah ada perbedaan diantara alat ukur AC dan DC (Ammeter dan
Voltmeter) bila ditinjau dari segi mekanisasi pembuatannya?.
 Jawab : Ada, perbedaaan Ammeter dan Voltmeter dilihat dari segi
mekanisasi pembuatannya yaitu pada Ammeter dan Voltmeter DC dibuat
sedemikianrupa sehingga arus dan tegangannya searah , sedangkan Ammeter
dan Voltmeter AC dibuat dengan arus dan tegangan yang bolak balik.
5. Pada suatu alat ukur terdapat tulisan “Class 1,5” jelaskan maksudnya?
 Jawab : Class 1,5 artinya instrument dijamin oleh pabrik pembuatnya
mempunyai kesalahan max 1,5% dari penunjuknya. Jika instrument dalam
keadaan baik dan digunakan pada daerah skala efektif.
6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan efisiensi instrumen
 Jawab : Effisiensi Instrument adalah perbandingan antara nilai pembacaan
instrument dan daya yang digunakan instrument pada saat bekerja untuk
pengukuran.
Peneraan KWh-Meter
7. Jelaskan arah putaran piringan KWh-Meter pada beban nol secara lengkap dan
terperinci
 Jawab : pada beban nol arah putaran KWh-Meter berlawanan arah dengan
arah putaran sebenarnya atau searah dengan arah jarum jam.
8. Gambarkan dan uraikan bagian-bagian yang membentuk suatu KWh-Meter 1 fasa
tipe induksi
 Jawab :

9. Jelaskan dengan disertai gambar prinsip kerja KWh-Meter tipe induksi 1 fasa
 Jawab : Prinsip kerja KWh-meter tipe induksi 1 fasa, yaitu medan magnet
yang dihasilkan kumparan-kumparan akan
menginduksikan arus putar pada piringan.
Karena ada arus ini maka fluks magnet akan
timbul gaya yang membentuk torsi sehingga piringan akan berputar. Kerja
dari instrument ini bergantung pada interaksi antara arus yang terinduksi pada
piringan logam yang dapat berputar dan arus pada kumparan yang tetap.
10. Jelaskan hubungan factor daya (Cos φ beban) terhadap putaran piringan KWh-
Meter untuk 1 fasa
 Jawab : hubungan antara factor daya dengan putaran piringan yaitu jika cos φ
kecil maka putaran piringan KWh Meter berputar menjadi lambat.
11. Uraikan persamaan torsi yang menyebabkan piringan KWh-meter berputar
 Jawab : persamaan torsi : T = K . φ1m . φ2m . sin θ
Dimana : K = konstanta
φ1m . φ2m = nilai maksimum yang dihasilkan kumparan
θ = selisih fase antara kedua fluks
12. Jelaskan dengan disertai gambar tentang KWh-Meter tipe lainnya selain tipe
induksi ini
 Jawab : Tegangan yang diukur dipasang
antara pelat logam yang tetap dan pelat
logam yang dapat berputar, karena pelat-
pelat logam itu berlainan muatan, maka
akan timbul gaya tarikan yang
menyebabakan putara dari pelat logam
yang dapat bergerak.
13. Jelaskan maksud, tujuan dan guna peneraan alat-alat ukur dalam aplikasinya
 Jawab :
- mengetahui tingkat ketelitian alat-alat ukur kelas biasa dan alat-alat ukur
kelas Standard (yang tingkat ketelitiannya lebih tinggi)
- mengetahui perbedaan antara alat-alat ukur kelas biasa dengan alat-alat
ukur kelas Standard
- Melakukan kegiatan pengukuran besaran listrik yaitu arus, tegangan dan
hambatan sesuai dengan alat ukur yang digunakan.
- Menuliskan hasil pengukuran dengan tepat.
- Menggunakan satuan-satuan yang sesuai dengan besaran-besaran yang
diukur.

XII. TUGAS AKHIR


A. Untuk percobaan peneraan Ampermeter dan Voltmeter
1. Buat grafik : Itera vs Istd dan Vtera vs Vstd untuk sumber tegangan DC
2. Buat grafik : Itera vs Istd dan Vtera vs Vstd untuk sumber tegangan AC
3. Dari jawaban 1 dan 2 diatas, berapa persenkah ketelitian alat ukur yang ditera
tersebut..?
4. Kesalahan apa saja yang timbul dari percobaan peneraan Ampermeter dan
Voltmeter ini ? jelaskanlah
5. Apa kesimpulan yang anda dapatkan dari percobaan ini ? jelaskanlah
6. Apakah ada cara lain untuk peneraan alat ukur selain cara yang telah anda
lakukan ini ? jelaskanlah
B. Untuk percobaan peneraan KWh-Meter 1 phasa
1. Tentukan % kesalahan KWh-Meter 1 phasa yang ditera dengan menggunakan
dua cara pengukuran diatas
2. Diantara dua cara tersebut maka cara manakah yang paling baik menurut
anda, jelaskan alasan anda
3. jelaskan kembali secara terperinci mengenai hasil pengamatan pada beban
nol. Lengkapi dengan analisa matematisnya
4. Jelaskan fungsi magnet permanent pada KWh-Meter
5. Jika posis terminal kumparan arus pada KWh-Meter yang terpasang pada
sumber ditukar dengan terminal yang terpasang pada beban, maka
bagaimanakah arah putaran piringan ? jelaskan
6. Kesimpulan-kesimpulan apa yang dapat saudara ambil dari percobaan KWh-
Meter yang telah anda lakukan ? jelaskan
JAWABAN TUGAS AKHIR
A. Untuk percobaan peneraan Ampermeter dan Voltmeter
1. Buat grafik : Itera vs Istd dan Vtera vs Vstd untuk sumber tegangan DC
Jawab

AC
• Voltmeter 1

140

120

100

80
V tera

60

40

20

0
20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
V std

• Voltmeter 2
14

12

10

8
V tera

0
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
V std

DC
• Ammeter 2, V = 25 V DC

I tera vs I std
160
140
120
100
80
I tera vs I std
60
40
20
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
110
120
130
140
150

• Ammeter 3, V = 1 V DC
I tera vs I std
35

30

25

20

15 I tera vs I std
10

0
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30

• Peneraan Voltmeter DC

20

18

16

14

12
V tera

10 V tera-1
8 V tera-2

6 V tera-3

0
0 1.2 2.4 3.6 4.8 6 7.2 8.4 9.6 10.8 12 13.2 14.4 15.6 18.8 19
V std


2. Buat grafik : Itera vs Istd dan Vtera vs Vstd untuk sumber tegangan AC
 Jawab : (terlampir)

3. Dari jawaban 1 dan 2 diatas, berapa persenkah ketelitian alat ukur yang ditera
tersebut..?
 Jawab :
% kesalahan = ( Itera/Istd) x 100 %
= ( Vtera/Vstd) x 100 %

Sumber tegangan dan arus DC


Tera Amperemeter DC ( % ) Voltmeter DC ( % )

1 - 100,32

2 95,58 97,22
3 99,3 94,83

Sumber tegangan dan arus AC


Tera Amperemeter DC ( % ) Voltmeter DC ( % )

1 - 97,14

2 - 108

4. Kesalahan apa saja yang timbul dari percobaan peneraan Ampermeter dan
Voltmeter ini ? jelaskanlah
 Jawab :
- kesalahan dalam pembacaan skala ukur
- kesalahan dalam pembacaan alat ukur
- kesalahan yang disebabkan faktor suhu
- alat tidak dalam keadaan baik
5. Apa kesimpulan yang anda dapatkan dari percobaan ini ? jelaskanlah
 Jawab :
- untuk mengetahui tingkat ketelitian suatu alat ukur dapat menggunakan
dua metode perbandingan yaitu dengan alat ukur standard dengan alat
ukur class biasa (tera).
- Ketelitian alat ukur standard lebih tinggi dibandingkan alat ukur class
biasa

6. Apakah ada cara lain untuk peneraan alat ukur selain cara yang telah anda
lakukan ini ? jelaskanlah
 Jawab : Belum ada, selain dengan peneran yang telah dilakukan,karena
peneraan cara ini sudah merupakan cara yang paling baik.

B. Untuk percobaan peneraan KWh-Meter 1 phasa


1. Tentukan % kesalahan KWh-Meter 1 phasa yang ditera dengan menggunakan
dua cara pengukuran diatas
 Jawab :
% kesalahan = ( ∑ Ns / ∑ Nt ) x 100%
Cara 1 :
KWh Meter Tera 1 KWh Meter Tera 2

Beban 1 Beban 2 Beban 3 Beban 1 Beban 2 Beban 3

∑ Ns 59,86 18,43 113,47 44,44 18,33 137,07

∑ Nt 15 15 15 15 15 15
%
399 122 756 296 122 9138
kesalahan
Cara 2 :
Rumus : E = P . t
% kesalahan = (( Etera1 – Etera2)/Etera)) x 100 %
Untuk beban 1 : E tera = 221 Volt
TERA 1 TERA 2
% Error
T(dt) P(W) E(V) T(dt) P(W) E(V)
19 220 4180 14 220 3080 497.7375566
37 220 8140 26 220 5720 1095.022624
54 220 11880 39 220 8580 1493.21267
1.12 220 246.4 52 220 11440 5064.977376
1.29 220 283.8 1.04 220 228.8 24.88687783

Untuk beban 2 : E tera = 221,9 Volt


TERA 1 TERA2
% Error
T(dt) P(W) E(V) T(dt) P(W) E(V)
30 150 4500 23 150 3450 473.18612
58 150 8700 43 150 6450 1013.97026
1.24 150 186 1.04 150 156 13.5196034
1.51 150 226.5 1.25 150 187.5 17.5754845
2.19 150 328.5 1.46 150 219 49.3465525

Untuk beban 3 : E tera = 221,2 Volt


TERA 1 TERA2
% Error
T(dt) P(W) E(V) T(dt) P(W) E(V)
16 270 4320 10 270 2700 732.368897
30 270 8100 20 270 5400 1220.61483
45 270 12150 30 270 8100 1830.92224
59 270 15930 40 270 10800 2319.16817
1.14 270 307.8 51 270 13770 6085.98553

2. Diantara dua cara tersebut maka cara manakah yang paling baik menurut
anda, jelaskan alasan anda
 Jawab : Cara yang paling baik adalah yang pertama karena dapat
mengetahui perbandingan ½ putarannya secara langsung dengan yang
standard, selain itu juga lebih simple dalam pemakaian alat.
3. jelaskan kembali secara terperinci mengenai hasil pengamatan pada beban
nol. Lengkapi dengan analisa matematisnya
 Jawab : Putaran pada beban nol, lesimpulan ada dalam tabel pengamatan.
Putaran piringan terjadi karena daya yang ada digunakan untuk
menghasilkan magnet ( induksi magnet ).

4. Jelaskan fungsi magnet permanent pada KWh-Meter


 Jawab : Fungsi magnet permanent pada KWH-meter adalah untuk
melakukan pengereman pada saat beban nol dan untuk menghasilkan
induksi medan magnet.

5. Jika posis terminal kumparan arus pada KWh-Meter yang terpasang pada
sumber ditukar dengan terminal yang terpasang pada beban, maka
bagaimanakah arah putaran piringan ? jelaskan
 Jawab : Jika posisi terminal kumparan arus pada sumber ditukar dengan
terminal yang terpasang pada beban maka putaran piringan akan
berlawanan arah jarum jam atau berlawanan dari arah sebenarnya

6. Kesimpulan-kesimpulan apa yang dapat saudara ambil dari percobaan KWh-


Meter yang telah anda lakukan ? jelaskan
 Jawab : ketelitian KWH-meter standard lebih baik dari KWH-meter tera (
biasa ) dan untuk mengetahui kesalahan KWH-meter tera dapat
dibandingkan dengan KWH-meter standard.
PRAKTIKUM : PBL NILAI :
ASISTEN :

LAPORAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

NAMA : MOCHAMAD TASRIF ALEXANDER


NIRM / NIP : 2007420004
GROUP : Kelompok - 2
JURUSAN : TEKNIK ELEKTRO
NO. PERCOBAAN : Modul 3
TANGGAL : 13 Juli 2009
PARTNER : chita indiana
Priyan Gagani
Dadang Herlan
Herry Rafiudin
ASISTEN : Elfuadi
PENGUKURAN DAYA ARUS BOLAK-BALIK SERTA PENGARUH
PENAMBAHAN KAPASITOR SHUNT PADA BEBAN 1 PHASA DAN 3 PHASA
(MODUL 3)

XIII. TUJUAN : Mengukur daya arus bolak-balik dengan beban 1 phasa


dan 3 phasa seimbang.

XIV. ALAT – ALAT :


1. AC Voltmeter
2. AC Ampermeter
3. Wattmeter 1 phasa
4. Wattmeter 3 phasa
5. Powerfactor meter (cos φ meter) 1 phasa
6. Powerfactor meter 3-phasa (cos φ meter) 3 phasa
7. Frekwensi meter
8. 1 set beban
9. 1 set kapasitor
10. Kabel-kabel penghubung.

XV. LANDASAN TEORI


Dengan semakin berkembangnya teknologi elektronika daya, menyebabkan
banyak peralatan berbasis teknologi tersebut digunakan pada aplikasi industri,
perkantoran dan rumah tangga. Peralatan tersebut meliputi konverter statis pengendali
mesin listrik, tanur tinggi, pengisi batere, catu daya teregulasi, UPS, lampu-lampu
fluorescent, perangkat audio-video, komputer, peralatan telekomunikasi, dan lain-
lain. Beban-beban tersebut umumnya bekerja pada sumber tegangan searah, atau ada
yang dirubah kembali menjadi arus bolak-balik dengan frekuensi dan tegangan
berbeda. Tegangan/arus searah yang dibutuhkan diubah oleh catu daya tegangan
searah yang menggunakan penyearah dioda atau thyristor dilengkapi tapis induktor
dan/atau kapasitor. Adanya tapis pada penyearah ini akan menyebabkan arus yang
ditarik mengandung komponen harmonisa orde rendah yang cukup signifikan,
sehingga arus dan tegangan masukan akan mengalami distorsi. Bahkan untuk
penyearah thyristor akan menyebabkan terjadinya penurunan faktor daya. Dari sisi
sumber listrik, beban seperti ini dinamakan beban tak linier. Selain itu banyaknya
peralatan perkantoran berbasis teknologi informasi yang dicatu oleh sumber tegangan
bolak-balik satu fasa akan menimbulkan ketidakseimbangan pada sistem. Bila tidak
ada pencegahan, bertambahnya pemakaian beban tak linier akan menjadi masalah
yang sangat serius di masa mendatang.
Suatu tapis daya aktif shunt melakukan kompensasi terhadap daya reaktif dan
harmonisa didasarkan atas injeksi arus ke sistem. Arus kompensasi umumnya
ditentukan oleh besaran tegangan sumber dan arus sehingga kondisi tegangan sumber
sangat berpengaruh terhadap karakteristik penapisannya. Metoda pengendalian ini
juga membutuhkan jumlah sensor lebih sedikit bila dibandingkan dengan metoda
sebelumnya serta mampu bekerja pada beban yang tak seimbang dengan tetap
menekan arus netral.

PENGUKURAN FREKUENSI
Untuk pengukuran frekwensi dari tegangan bolak-balik dapat diukur
berdasarkan atas resonansi mekanik, resonansi listrik, perubahan reaktansi dan
pengisian pengosongan kapasitor. Sedangkan pada frekuensi tinggi dipergunakan
frekwensimeter elektronik, karena dengan adanya perkembangan yang sangat pesat
dibidang elektronika pada dewasa ini.
Frekwensimeter yang banyak digunakan untuk pengukuran arus bolak-balik
ialah azas resonansi mekanik. Frekwensimeter azas resonansi listrik dan perubahan
reaktansi jarang dipergunakan sebab konstruksinya sangat sulit sehingga memerlukan
pembiayaan yang mahal maka penggunaannya terbatas di laboratorium. Dua jenis
frekwensimeter yang telah disebutkan itu daerah pengukurannya sangat sempit
berkisar antara 42-58 Hz, maka penggunaan pada daerah pengukuran yang lebih lebar
dipakai frekwensimeter dengan azas pengisian dan pengosongan kapasitor yang
digerakkan dari sebuah relay.
Frekwensi meter yang mempunyai daerah pengukuran yang lebar dari dapat
dihitung dengan pengisian dan pengosongan kapasitor. Perhatikan gambar 25. Relai
itu digerakkan oleh sumber daya dengan frekwensi f yang akan diukur. Apabila relai
tersebut ditutup pada frekwensi tertentu, maka jumlah muatan yang mengalir melalui
ampermeter sebesar CV pada setiap periode. Dengan demikian arus I yang melewati
ampermeter sebesar I = f C V. Karena dari persamaan antara I dan f berbanding lurus
maka penunjukkan amapermeternya dapat dikalibrasikan dengan besaran frekuensi.
Pengukuran frekuensi juga dapat dilakukan dengan dengan menggunakan
voltmeter dan ampermeter seperti gambar 26 berikut:

Dalam percobaan ini arus yang dibutuhkan oleh beban 1 phasa maupun 3
phasa akan berkurang dengan memasang kapasitor shunt pada beban tersebut. Dari
hasil pengukuran daya yang digunakan oleh suatu beban pada Wattmeter dapat
dibandingkan dengan hasil pengukuran pada voltmeter, Ampermeter, dan Cos φ
meter. Berikut ini adalah persamaan untuk mengetahui daya yang digunakan oleh
suatu beban dapat diukur dengan menggunakan Voltmeter, Ampermeter, dan Cos φ
meter atau dapat dengan membaca langsung melalui Wattmeter. Untuk beban 1
phasa, digunakan Wattmeter 1 phasa dan untuk beban 3-phasa digunakan Wattmeter
3-phasa. Berikut ini adalah persamaan untuk daya pada beban 1-phasa dan 3-phasa.
Beban 1-phasa :
P = V . I Cos φ (watt)…………………(1)

Beban 3-phasa seimbang :


P = 3 . Vph . Iph . Cosφ
= √3 . VLL. IL . Cos φ……………(2)
dimana :
VLL = tegangan line to line
IL = arus line
Vph = tegangan line to netral
Iph = arus phasa

Persamaan (2) berlaku untuk beban hubungan delta ( ) dan hubungan bintang (γ)

XVI. PROSEDUR PERCOBAAN


Untuk beban 1 phasa
1. Hubungkan alat-alat seperti gambar rangkaian percobaan beban 1 phasa
(gambar 1).
2. Gunakan beban 1,2,3 secara bergantian (lihat gambar).
3. Catat penunjukan Wattmeter, Voltmeter, Ampermeter, cos φ meter dan
frekwensi meter pada data pengamatan.
4. Ulangi langkah 2), 3) untuk setiap beban.
Untuk beban 3 phasa seimbang hubungan bintang
6. Hubungkan alat-alat seperti gambar rangkaian percobaan beban 3 phasa
hubungan bintang beban seimbang (gambar 2).
7. Gunakan beban 1,2,3,4 secara bergantian (lihat gambar)..
8. Catat penunjukan Wattmeter, Voltmeter, Ampermeter, cos φ meter dan
frekwensi meter pada data pengamatan.
9. Ulangi langkah 2), 3) untuk setiap beban.
Untuk beban 3 phasa seimbang hubungan delta
1. Hubungkan alat-alat seperti gambar rangkaian percobaan beban 3 phasa
hubungan delta (gambar 2).
2. Gunakan beban 1,2 secara bergantian (lihat gambar)..
3. Catat penunjukan Wattmeter, Voltmeter, Ampermeter, cos φ meter dan
frekwensi meter pada data pengamatan.
4. Ulangi langkah 2), 3) untuk setiap beban.

XVII. TUGAS PENDAHULUAN


1. Jelaskan mengenai teorema Blondel beserta gambar
 Jawab : “daya pada suatu beban atau suatu rangkaian (NETWORK) yang
mendapat suplai melalui N buah penghantar dapat diukur dengan
menggunakan Wattmeter N buah phasa tunggal yang dipasang sedemikian
rupa, sehingga rangakaian arusnya ada pada penghantar masing-masing tadi
dan rangkaian potensial dipasang antara penghantar-penghantar dan satu titik
bersama. Daya pada beban tersebut sama dengan jumlah pembacaan
Wattmeter.”

2. Buktikan bahwa untuk system 3 phasa :


- VL-L = √3 . Vph
- IL = √3 . Iph (untuk hubungan )
 Jawab:
VLL = 3 . Vph
Beban seimbag : Z1 =Z2 =Z3 = Zp
Vts = Vt – Vs =VLL = Vi -1
OK =Et ( Cos 30 ) = Et . ½ . 3
Vts = 2 x OK = 2 . ½ .Et . 3 =3 .Et

IL =3 . Iph
OK = Ip1 . ½ . 3
IL2 = 2. ½ . Ip .3
Dimana : Ip1 =Ip2 =Ip3 =Ip = Arus phasa
IL1 = Il2 = IL3 = IL = arus saluran

3. Buktikan bahwa persamaan (2) berlaku untuk beban hubungan Y dan


 Jawab :
IL = Iph
VL = 3 . Vph

P 3ph = 3 . Vph . Ip . Cos φ

= 3 . VL / 3 . IL . Cos φ

= 3 . VL . IL .Cos φ

4. Apa yang dapat saudara lakukan untuk mengukur daya 3 phasa hubungan Y dan
seimbang dengan menggunakan sebuah Wattmeter 1 phasa
 Jawab : Sesuai dengan hukum blondel bahwa untuk 1 phasa Wattmeter 1
phasa mengukur 3 phasa tidak dapat dilakukan.

5. Pada percobaan beban 3 phasa hubungan bintang, bagaimana jika kita ingin
menggunakan beban dalam bentuk hubungan segitiga? Apakah dapat langsung
diubah dari hubungan bintang ke hubungan segitiga? Jelaskan dengan gambar dan
analisa perhitungan
 Jawab : Pada beban hubung bintang dapat diubah secara langsung kehubung
Delta

6. Gambarkan dan jelaskan segitiga daya dan segitiga impedansi


 Jawab :
Segitiga Daya :
- Daya Aktif ( P ) = V . I. Cos φ ( Watt )
- Daya Reaktif (Q) = V. I . Cos φ (Var)
- Daya Semu = V. I ( VA )

7. Jelaskan efek dari kapasitor shunt jka dipasang pada beban disertai gambar
diagram phasor.
 Jawab : Jika kapasitor dipasang shunt maka akan menyebabkan kenaikkan
factor daya.

XVIII. TUGAS AKHIR


1. Bandingkan % kesalahan dari daya aktif hasil perhitungan dengan hasil
pengukuran untuk semua percobaan yang telah dilakukan dan Jelaskan!.
2. Hitung daya reaktif beban untuk semua percobaan.
3. Untuk beban yang menggunakan kapasitor ( pada system 1 phasa dan 3phasa
)hitung kapasitansi dari setiap unit kapasitor yang digunakan ( F) , daya
reaktif kapasitor ( Qc) dan gambarkan phasor diagramnyaberdasarkan
pengamatan yang dilakukan.
4. Berapa besar nilai Rs pada beban hubungan Delta menurut perhitungan ?
bandingkan hasilnya menurut hasil yang anda ukur pada percobaan diatas!
5. Kenapa hasil Rs harus dihubungkan seri? Bagaimana bila dihubungkan
parallel? Jelaskan kesimpulan anda!
6. Kesimpulan apa yang anda peroleh dari percobaan ini, dan juga simpulkan
apa yang anda dapatkan berdasarkan beban-beban yang digunakan dari
percobaan ini? Jelaskan jawaban anda dengan lengkap!
7. Apa kegunaan percobaan ini dalam aplikasi nyatanya?
JAWABAN TUGAS AKHIR

1. Bandingkan % kesalahan dari daya aktif hasil perhitungan dengan hasil


pengukuran untuk semua percobaan yang telah dilakukan dan Jelaskan!.
 Jawab :
Rumus yang dipakai untuk menentukan daya aktif (P) :
- 1 Phasa : P = V . I . Cos Ө
- 3 Phasa : P = 3 . V . I . Cos Ө

BEBAN 1 PHASA
Beban E (V) I (A) Cos Ө P hitung (W) P ukur (W) % Error
1 180 0.5 1 90 500 455.555556
2 180 0.4 0.7 50.4 24 52.38095238
3 180 0.4 0.96 69.12 24 65.27777778

BEBAN 3 PHASA (BINTANG)


Beban E (V) I (A) Cos Ө P hitung (w) P ukur (W) % Error
1 200 0.5 1 300 600 100
2 200 0.4 0.7 168 280 66.6666667
3 200 0.3 0.91 163.8 400 -144.200244
4 200 0.3 0.95 171 400 -133.918129

BEBAN 3 PHASA (DELTA)


Beban E (V) I (A) Cos Ө P hitung (w) P ukur (W) % Error
1 300 0.35 0.9 283.5 320 12.8747795
2 300 0.3 0.9 243 280 15.2263374

2. Hitung daya reaktif beban untuk semua percobaan.


 Jawab :
Rumus yang dipakai untuk harga daya reaktif ( Q) :
- 1 Phasa : Q = V . I . Sin Ө
- 3 Phasa : Q = 3 . V . I . Sin Ө

BEBAN 1 PHASA
Beban E (V) I (A) Cos Ө Sin Ө Q (Var)
1 180 0.5 1 0 0
2 180 0.4 0.7 0.71 51.12
3 180 0.4 0.96 0.28 20.16

BEBAN 3 PHASA ( BINTANG )


Beban E (V) I (A) Cos Ө Sin Ө Q (Var)
1 200 0.5 1 0 0
2 200 0.4 0.7 0.71 170.4
3 200 0.3 0.91 0.41 73.8
4 200 0.3 0.95 0.31 55.8

BEBAN 3 PHASA (DELTA )


Beban E (V) I (A) Cos Ө Sin Ө Q (Var)
1 300 0.35 0.9 0.43 135.45
2 300 0.3 0.9 0.43 116.1

3. Untuk beban yang menggunakan kapasitor (pada system 1 phasa dan 3 phasa)
hitung kapasitansi dari setiap unit kapasitor yang digunakan (F), daya reaktif
kapasitor (Qc) dan gambarkan phasor diagramnya berdasarkan pengamatan yang
dilakukan.
 Jawab :
Rumus yang dipakai untuk harga kapasitansi (XC) :
XC = Q / I ; C = 1 / ( 2.f.XC.n)

BEBAN 1 PHASA
Q (Var) I (A) f (Hz) XC (Ohm) C ( µF )

0 0.5 50 0 ∞

51.12 0.4 50 127.8 7.82


20.16 0.4 50 50.4 0.000198

BEBAN 3 PHASA (BINTANG )


Q (Var) I (A) F (Hz) XC (Ohm) C ( µF )

0 0.5 50.2 0 ∞

170.4 0.4 50.2 426 2.34


73.8 0.3 50 246 4.07
55.8 0.3 50 186 5.38

BEBAN 3 PHASA (DELTA )


Q (Var) I (A) F (Hz) XC (Ohm) C ( µF )

135.45 0.35 50 387 2.584


116.1 0.3 50 387 2.584

4. Berapa besar nilai Rs pada beban hubungan Delta menurut perhitungan ?


bandingkan hasilnya menurut hasil yang anda ukur pada percobaan diatas!
 Jawab :
Resistansi pada lampu 100 W / 220 V dengan VL = 212 ohm
R = V12 / P1 = 2202 / 110 = 484 ohm
Dari nilai diatas maka dapat dibandingkan daya yang dipakai pada beban 1 dan
beban 2, yaitu :
a) untuk beban 1 :
P = VL2 / (R1 + R2) = (212) 2 / (484 + 484) = 46,43 W
b) untuk beban 2 :
P = VL2 / (R1 + R2 + R3) = (212) 2 (484 + 484 + 484) = 30,95 W

5. Kenapa hasil Rs harus dihubungkan seri? Bagaimana bila dihubungkan parallel?


Jelaskan kesimpulan anda!
 Jawab : Rs harus dihubung seri karena pada hubungan delta menggunakan
tegangan 380 V, tahanan yaitu Rs dihubung seri, dan jika dihubung parallel
maka tahannya menjadi kecil, karena tahanannya menjadi kecil, maka lampu
akan memungkinkan untuk putus.

6. Kesimpulan apa yang anda peroleh dari percobaan ini, dan juga simpulkan apa
yang anda dapatkan berdasarkan beban-beban yang digunakan dari percobaan ini?
Jelaskan jawaban anda dengan lengkap!
 Jawab : Kesimpulan yang diperoleh di peroleh dari percobaan ini adalah :
- Kapasitor dihubung delta lebih kecil niulainya jika dihubung dengan
bintang
- Perbaikan faktor daya dapat dilakukan dengan menggunakan kapasitor
pada rangkaian dipasang secara parallel dengan R
- Lampu pijar memiliki faktor daya tang baik
- Lampu TL memiliki faktor daya yang kurang baik
7. Apa kegunaan percobaan ini dalam aplikasi nyatanya?
 Jawab : Dari percobaan ini dapat diaplikasikan kelingkungan nyata yaitu
dapat menaikan kapasitas beban (daya aktif) tanpa harus mendapat daya semu.