Anda di halaman 1dari 23

Penyakit Radang Panggul

DEFINISI
Penyakit Radang Panggul (Salpingitis, PID, Pelvic Inflammatory Disease) adalah suatu peradangan
pada tuba falopii (saluran menghubungkan indung telur dengan rahim).

Peradangan tuba falopii terutama terjadi pada wanita yang secara seksual aktif.
Resiko terutama ditemukan pada wanita yang memakai IUD.

Bisasanya peradangan menyerang kedua tuba.


Infeksi bisa menyebar ke rongga perut dan menyebabkan peritonitis.

PENYEBAB
Peradangan biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, dimana bakteri masuk melalui vagina dan
bergerak ke rahim lalu ke tuba falopii.
90-95% kasus PID disebabkan oleh bakteri yang juga menyebabkan terjadinya penyakit menular
seksual (misalnya klamidia, gonore, mikoplasma, stafilokokus, streptokokus).

Infeksi ini jarang terjadi sebelum siklus menstruasi pertama, setelah menopause maupun selama
kehamilan.
Penularan yang utama terjadi melalui hubungan seksual, tetapi bakteri juga bisa masuk ke dalam
tubuh setelah prosedur kebidanan/kandungan (misalnya pemasangan IUD, persalinan, keguguran,
aborsi dan biopsi endometrium).

Penyebab lainnya yang lebih jarang terjadi adalah:


 Aktinomikosis (infeksi bakteri)
 Skistosomiasis (infeksi parasit)
 Tuberkulosis.
 Penyuntikan zat warna pada pemeriksaan rontgen khusus.

Faktor resiko terjadinya PID:


 Aktivitas seksual pada masa remaja
 Berganti-ganti pasangan seksual
 Pernah menderita PID
 Pernah menderita penyakit menular seksual
 Pemakaian alat kontrasepsi yang bukan penghalang.

GEJALA
Gejala biasanya muncul segera setelah siklus menstruasi.
Penderita merasakan nyeri pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai oleh
mual atau muntah.

Biasanya infeksi akan menyumbat tuba falopii. Tuba yang tersumbat bisa membengkak dan terisi
cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri menahun, perdarahan menstruasi yang tidak teratur
dan kemandulan.
Infeksi bisa menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan
perlengketan fibrosa yang abnormal diantara organ-organ perut serta menyebabkan nyeri
menahun.

Di dalam tuba, ovarium maupun panggul bisa terbentuk abses (penimbunan nanah).
Jika abses pecah dan nanah masuk ke rongga panggul, gejalanya segera memburuk dan penderita
bisa mengalami syok.
Lebih jauh lagi bisa terjadi penyebaran infeksi ke dalam darah sehingga terjadi sepsis.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada PID:


 Keluar cairan dari vagina dengan warna, konsistensi dan bau yang abnormal
 Demam
 Perdarahan menstruasi yang tidak teratur atau spotting (bercak-bercak kemerahan di celana
dalam
 Kram karena menstruasi
 Nyeri ketika melakukan hubungan seksual
 Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual
 Nyeri punggung bagian bawah
 Kelelahan
 Nafsu makan berkurang
 Sering berkemih
 Nyeri ketika berkemih.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Dilakukan pemeriksaan panggul dan perabaan perut.

Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:


 Pemeriksaan darah lengkap
 Pemeriksan cairan dari serviks
 Kuldosentesis
 Laparoskopi
 USG panggul.

PENGOBATAN
PID tanpa komplikasi bisa diobati dengan antibiotik dan penderita tidak perlu dirawat.

Jika terjadi komplikasi atau penyebaran infeksi, maka penderita harus dirawat di rumah sakit.
Antibiotik diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah) lalu diberikan per-oral (melalui
mulut).
Jika tidak ada respon terhadap pemberian antibiotik, mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Pasangan seksual penderita sebaiknya juga menjalani pengobatan secara bersamaan dan selama
menjalani pengobatan jika melakukan hubungan seksual, pasangan penderita sebaiknya
menggunakan kondom.

www.medicastore.comKembali

Penyakit Radang Panggul

Definisi
Penyakit radang panggul adalah infeksi saluran reproduksi bagian atas. Penyakit
tersebut dapat mempengaruhi endometrium (selaput dalam rahim), saluran tuba, indung telur,
miometrium (otot rahim), parametrium dan rongga panggul. Penyakit radang panggul
merupakan komplikasi umum dari Penyakit Menular Seksual (PMS).
Saat ini hampir 1 juta wanita mengalami penyakit radang panggul yang merupakan
infeksi serius pada wanita berusia antara 16-25 tahun. Lebih buruk lagi, dari 4 wanita yang
menderita penyakit ini, 1 wanita akan mengalami komplikasi seperti nyeri perut kronik,
infertilitas (gangguan kesuburan), atau kehamilan abnormal.
Terdapat peningkatan jumlah penyakit ini dalam 2-3 dekade terakhir berkaitan dengan
beberapa faktor, termasuk diantaranya adalah peningkatan jumlah PMS dan penggunaan
kontrasepsi seperti spiral. 15% kasus penyakit ini terjadi setelah tindakan operasi seperti
biopsi endometrium, kuret, histeroskopi, dan pemasangan IUD (spiral). 85% kasus terjadi
secara spontan pada wanita usia reproduktif yang seksual aktif.
Gambar 1. Saluran Reproduksi Wanita

Penyebab
Penyakit radang panggul terjadi apabila terdapat infeksi pada saluran genital bagian
bawah, yang menyebar ke atas melalui leher rahim. Butuh waktu dalam hitungan hari atau
minggu untuk seorang wanita menderita penyakit radang panggul. Bakteri penyebab tersering
adalah N. Gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis yang menyebabkan peradangan dan
kerusakan jaringan sehingga menyebabkan berbagai bakteri dari leher rahim maupun vagina
menginfeksi daerah tersebut. Kedua bakteri ini adalah kuman penyebab PMS. Proses
menstruasi dapat memudahkan terjadinya infeksi karena hilangnya lapisan endometrium yang
menyebabkan berkurangnya pertahanan dari rahim, serta menyediakan medium yang baik
untuk pertumbuhan bakteri (darah menstruasi).
Faktor Risiko
Wanita yang aktif secara seksual di bawah usia 25 tahun berisiko tinggi untuk
mendapat penyakit radang panggul. Hal ini disebabkan wanita muda berkecenderungan untuk
berganti-ganti pasangan seksual dan melakukan hubungan seksual tidak aman dibandingkan
wanita berumur. Faktor lainnya yang berkaitan dengan usia adalah lendir servikal (leher
rahim). Lendir servikal yang tebal dapat melindungi masuknya bakteri melalui serviks
(seperti gonorea), namun wanita muda dan remaja cenderung memiliki lendir yang tipis
sehingga tidak dapat memproteksi masuknya bakteri.
Faktor risiko lainnya adalah:
1. Riwayat penyakit radang panggul sebelumnya
2. Pasangan seksual berganti-ganti, atau lebih dari 2 pasangan dalam waktu 30 hari
3. Wanita dengan infeksi oleh kuman penyebab PMS
4. Menggunakan douche (cairan pembersih vagina) beberapa kali dalam sebulan
5. Penggunaan IUD (spiral) meningkatkan risiko penyakit radang panggul. Risiko tertinggi
adalah saat pemasangan spiral dan 3 minggu setelah pemasangan terutama apabila sudah
terdapat infeksi dalam saluran reproduksi sebelumnya
Tanda dan Gejala
Gejala paling sering dialami adalah nyeri pada perut dan panggul. Nyeri ini umumnya
nyeri tumpul dan terus-menerus, terjadi beberapa hari setelah menstruasi terakhir, dan
diperparah dengan gerakan, aktivitas, atau sanggama. Nyeri karena radang panggul biasanya
kurang dari 7 hari. Beberapa wanita dengan penyakit ini terkadang tidak mengalami gejala
sama sekali. Keluhan lain adalah mual, nyeri berkemih, perdarahan atau bercak pada vagina,
demam, nyeri saat sanggama, dan menggigil.

Gambar 2. Perlekatan pada Saluran Tuba


Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat kenaikan dari sel darah putih yang
menandakan terjadinya infeksi. Kultur untuk GO dan chlamydia digunakan untuk
mengkonfirmasi diagnosis. Ultrasonografi atau USG dapat digunakan baik USG abdomen
(perut) atau USG vagina, untuk mengevaluasi saluran tuba dan alat reproduksi lainnya.
Biopsi endometrium dapat dipakai untuk melihat adanya infeksi. Laparaskopi adalah
prosedur pemasukan alat dengan lampu dan kamera melalui insisi (potongan) kecil di perut
untuk melihat secara langsung organ di dalam panggul apabila terdapat kelainan.
Terapi
Tujuan utama terapi penyakit ini adalah mencegah kerusakan saluran tuba yang dapat
mengakibatkan infertilitas (tidak subur) dan kehamilan ektopik, serta pencegahan dari infeksi
kronik. Pengobatan dengan antibiotik, baik disuntik maupun diminum, sesuai dengan bakteri
penyebab adalah pilihan utama. Kontrol setelah pengobatan sebanyak 2-3 kali diperlukan
untuk melihat hasil dan perkembangan dari pengobatan.
Pasangan seksual juga harus diobati. Wanita dengan penyakit radang panggul
mungkin memiliki pasangan yang menderita gonorea atau infeksi chlamydia yang dapat
menyebabkan penyakit ini. Seseorang dapat menderita penyakit menular seksual meskipun
tidak memiliki gejala. Untuk mengurangi risiko terkena penyakit radang panggul kembali,
maka pasangan seksual sebaiknya diperiksa dan diobati apabila memiliki PMS.
Komplikasi
Penyakit radang panggul dapat menyebabkan berbagai kelainan di dalam kandungan
seperti nyeri berkepanjangan, infertilitas dan kehamilan abnormal. Penyakit ini dapat
menyebabkan parut pada rahim dan saluran tuba. Parut ini mengakibatkan kerusakan dan
menghalangi saluran tuba sehingga menyebabkan infertilitas. Parut juga dapat menyebabkan
sel telur tidak dapat melalui jalan normalnya ke rahim sehingga dapat terjadi kehamilan
ektopik.
Pencegahan
Cara terbaik untuk menghindari penyakit radang panggul adalah melindungi diri dari
penyakit menular seksual. Penggunaan kontrasepsi seperti kondom dapat mengurangi
kejadian penyakit radang panggul. Apabila mengalami infeksi saluran genital bagian bawah
maka sebaiknya segera diobati karena dapat menyebar hingga ke saluran reproduksi bagian
atas. Terapi untuk pasangan seksual sangat dianjurkan untuk mencegah berulangnya infeksi.

Leukorrea
○ View

○ clicks

Posted February 20th, 2009 by dr.aghe

○ Kedokteran

Pendahuluan

Salah satu keluhan yang agak sering dijumpai dalam klinik dan KIA adalah keputihan/leukorea, 16% penderita

keputihan adalah akseptur KB dan ibu hamil. Dalam penelitian ini dilakuakan pengambilan usapan vagina

akseptor KB dan ibu hamil yang menderita keputihan. Penelitian positif dilakukan secara langsung dengan

menggunakan media SDA (untuk contoh). Sedangkan untuk bakteri dilakukan penelitian dengan cara

pewarnaan gram.

Dari 162 penderita leukorea didapatkan infeksi candididasis 53,7%, infeksi tri chomoniasis 3,1%, infeksi

gabungan candidiasis dan trichomoniasis 3,1% dan infeksi bakteri 40,1 %. Infeksi candidiasis pada kelompok

ibu hamil, kelompok KB maupun kelompok non KB tinggi (61,1%, 53,4%, 50%) dan secara statistic tidak

berbeda bermakna. Infeksi candidiasis merupakan infeksi yang umum ditemukan pada penderita leukorea dan

tidak menunjukan adanya pengaruh KB maupun kehamilan

Keseimbangan dinamic dipengaruhi oleh:

?.Epithelium.

? Mikroorganisme usus yang normal ex: Lactobasillus Spp


? Faktor immune dan sekretori sel

? PH Vagina yang seimbang : - asam ( 3,8-4,2 )

- Basa ( > 4,2 )

- menimbulkan untuk perkembangan kuman patogen

Mekanisme Ph yang normal

? Estrogen meningkat

?Lactobacilus memetabolisme Glykogen menjadi asam laktat

?Asam laktat mengatur keasaman Ph.

Flora normal pada vagina :

1. Lactobacilus

- gram (+)

- Hampir 100 % terdapat pada flora normal pada wanita

- Mempengaruhi pertumbuhan epitel cell

- Melindungi terhadap infeksi bakteri

2. Organisme Faculative

- Sterptokokus

- E. Coli

- Mycoplasma Hominis

- Ureoplasma Urcalyticum

3. Organisme Anaerob

- Peptostreptococus

- Bacteriodes

- Fusobacterium

- Gardnella ( 40-60 %) normal disekresi

Definisi

Keputihan dalam bahasa medis dikenal sebagai leukorea, fluor albus. Leukorea adalah cairan yang keluar dari

alat genital wanita yang tidak berupa darah melainkan berupa keputihan yang banyak dialami wanita usia

produktif tapi tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pada anak-anak dan usia tua. Hal ini terjadi karena

pengaruh hormonal dan tubuh. Keluarnya cairan selain darah ini dapat bersifat normal ataupun tidak normal

(patologis). Leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada penderita ginekologik.

Leukorea dapat dibedakan antara leukorea yang fisiologik dan yang patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas

cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang.
Leukorea fisiologik ditemukan pada:

a. bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari;disini sebabnya ialah pengaruh estrogen dari plasenta

terhadap uterus dan vagina janin;

b. waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen; leukorea di sini hilang seniri, akan

tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang tuanya;

c. wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran

transudasi dari dinding vagina;

d. waktu disekitar ovulasi; dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer

e. pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan penyakit

menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion persionis uteri.

Penyebab paling penting dari leukorea patologik adalah infeksi. Disini ditemukan:

- banyak leukosit

- warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau, radang vulva, vagina,

serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik; pada adneksitis gejala tersebut dapat pula

timbul.

Selanjutnya leukorea diemukan pada neoplasma jinak atau ganas.

Untuk membedakan keputihan yang normal dengan yang tidak normal bisa dengan melihat bentuk fisik dan

material dari cairan itu sendiri.

Untuk keputihan yang normal, terdiri atas cairan berupa mukus yang mengandung selaput lendir vagina

(epitel) tanpa atau hanya sedikit disetai sel darah putih (leukosit). Sedangkan bentuk fisiknya sendiri lebih

cenderung berwarna agak jernih, bening, licin dan tidak berbau. Dari segi jumlahnya juga tidak terlalu banyak.

Kalau warnanya ada yang agak menguning itu karena terkontaminasi udara yang kemudian mengering.

Sedangkan untuk keputihan yang tidak normal, materialnya kurang lebih hampir sama dengan yang normal

namun lebih banyak mengandung sel darah putih. Jika dilihat dari bentuk fisik, cairannya lebih berupa getah

yang berwana kuning pekat, kehijauan atau kecoklatan jumlahnya sangat banyak dan berbau, tidak jarang

disertai rasa nyeri atau panas dan gatal pada vagina.

Keluarnya cairan dikatakan normal jika terjadi sebelum haid, sesudah haid, pada pertengahan siklus atau pada

saat ovulasi, serta saat mendapat rangsangan sex. Hal ini normal terjadi pada semua wanita dimasa produksi.

Cairan yang keluar dimasa-masa itu akan berupa cairan berbentuk jernih, agak kental, tidak berbau, tidak

mengalir dan ph keasamannya antara 3,5 hingga 4,5. Cairan ini biasanya akan hilang dalam beberapa hari

tanpa keluhan apapun.

Etiologi

Ada empat hal yang menyebabkan timbulnya keputihan:


1. kondisi tubuh

akibat penyakit kronis yang menahun yang dapat melemahkan daya tahan tubuh orang tersebut sehingga

menyebabkan keluarnya cairan keputihan secara berlebihan dan juga bisa terjadi pada wanita yang senantiasa

tegang atau stress.

2. kelainan endokrin atau hormon

Disini sebagai contoh pada saat hamil atau terjadi perubahan hormonal, terjadi suasana asam menjadi basa

sehingga mengakibatkan banyak ibu hamil mendapat jamur. Apabila ini tidak segera diobati maka akan

menyebabkan ketuban pecah dini.

3. Infeksi

Infeksi dapat berasal dari bermacam-macam organ reproduksi, misalkan infeksi vulva, vagina, mulut rahim,

selaput lendir rahim dan saluran telur. Semua infeksi ini dapat memberikan gambaran berupa keputihan.

Infeksi vulva umumnya disebabkan oleh kuman GO (gonorrhea (gonore)), chlamydia, dan herpes simplex.

Infeksi lain disebabkan jamur candida (candidiasis), bakteri (vaginosis) dan parasit tricomonas vaginatis

4. Benda asing

Benda asing ini bermacam-macam seperti kondom, benang IUD yang tertinggal didalam vagina, kelainan

fistula akibat persalinan atau tindakan operasi, hubungan antara rektum dengan vagina atau antara kandung

kncing dengan vagina, serta tissue pembasuh.

Vulva

Vulva terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut: mons veneris, labia mayora, labia minoro, klitoris,

vestibulum dengan orifisium urethra ekternum, glandula Bartholini dan glandula paraurethralis.

Umumnya vulvitis dapat di bagi dalam tiga golongan:

a. yang bersifat lokal

b. yang timbul bersama-sama atau sebagai akibat vaginitis

c. yang merupakan permulaan atau manifestasi dari penyakit umum

Yang termasuk kedalam golongan vulvitis lokal adalah:

1. infeksi pada kulit, termasuk rambut, kelenjar-kelenjar sebasea dan kelenjar-kelenjar keringat. Infeksi ini

timbul karena trauma luka atau sebab lain, dan sebagainya dapat menimbulkan folikulitis, furunkulosis,

hidradenitis, dan sebagainya

2. infeksi pada orifisium urethra eksternum, glandula paraurethralis . infeksi ini biasanya disebabkan oleh

gonorea dan akan dibahas pada bab ini.

3. infeksi pada glandula Batholini

Dalam golongan vulvitis sebagai permulaan atau manifestasi penyakit umum, terdapat antara lain:

1. penyakit-penyakit kelamin, yang dianggap penyakit kelamin klasik ialah gonorrea, sifilis, ulkus molle,
limfogranuloma venereum, dan granuloma inguinale. Semuanya akan di bicarakan dalam bab ini (infeksi-

infeksi khusus)

2. tuberkulosis, juga dibicarakan dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus)

3. vulvitis disebabkan oleh infeksi karena virus. Termasuk di sini limfogranuloma venereum, herpes genitalis

dan kondiloma akuminatum. limfogranuloma venereum dibahas dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus)

4. vulvitis pada diabetes mellitus

Herpes genitalis

Herpes genitalis disebabkan oleh tipe 2 herpes virus hominis, yang dekat denagn tipe 1 herpes virus simpleks,

penyebab herpes labialis. Herpes genitalis umumnya dianggap sebagai akibat hubungan seksual dan terjadi

dalam 3 sampai 7 hari sesudah koitus. Jika penyakit timbul, ditengah-tengah daerah dengan radang dan

edema tampak sejumlah vesikel yang biasanya berlokasi pada labia minora, bagian dalam labia mayora dan

prepusium klitoridis.

Diagnosis herpes genitalis dapat dibuat dengan jalan pembiakan pada luka-luka di vulva, vagina, atau serviks

dan dengan tes serologik. Sebagai terapi dapat dilakukan terapi simptomasis dengan obat-obat yang

mengurangi rasa nyeri dan gatal, dan yang mengeringkan daerah yang kena infeksi. Akhir-akhir ini ditemukan

bahwa virus dapat diberantas dengan aplikasi lokal dari 1% larutan netral-red atau 0,1% larutan proflavine,

diikuti dengan penyinaran sinar fluoresensi (20-30 watt) untuk 10-15 menit dengan jarak 15-20 cm

Kondiloma akuminatum

Kondolima akuminatum berbentuk sebagai kembang kubis (cauliflower) dengan ditengahnya jaringan ikat dan

ditutup terutama di bagian atas oleh epitel dengan hiperkeratosis. Penyakit terdapat dalam bentuk kecil dan

besar, sendirian atau dalam suatu kelompok. Lokasinya ialah pada berbagai bagian vulva, pada perineum,

pada daerah parianal, pada vagina dan seviks uteri. Dalam hal-hal yang terakhir ini terdapat leukorea.

Adanya leukorea adalah sebab lain memudahkan tumbuhnya virus dan kondiloma akuminata. Kelainan ini

sering ditemukan pada kehamilan karena lebih banyak vaskularisasai dan cairan pada jaringan. Umumnya

diagnosis kondiloma akuminata tidak sukar dibuat, dan dapat dibedakan dari kondilomata lata, suatu

manifestasi dari sifilis.

Kondiloma akuminatum yang kecil dapat disembuhkan dengan larutan 10% podofilin dalam gliserin atau dalam

alkohol. Pada waktu pengobatan daerah sekitarnya harus dilindungi dengan vaselin, dan setelah beberapa jam

tempat pengobatan harus dicuci dengan air dan sabun.

Vulvitis diabetika

Pada Vulvitis diabetika Vulva merah dan sedikit membengkak. Keluhan terutama rasa gatal, diseratai rasa

nyeri. Jaringan pada penderita diabetes mengandung kadar glukosa yang lebih tinggi, dan air kencing dengan

glukosuria menjadi penyebab peradangan. Oleh karena itu pada penderita dengan vulvitis yang sebabnya tidak
terang, perlu dipikirkan adanya diabetes. Vulvitis diabetika kadang-kadang dapat disertai dengan moniliasis.

Vagina

Umumnya vaginitis nonspesifik dapat disembuhkan dengan antibiotika. Selain itu, terdapat vaginitis karena

trikomonas vaginalis, kandida albikans, dan hemofilis vaginalis. Perlu dikemukakan disini bahwa pada masa

dewasa vagina lebih tahan terhadap infeksi-infeksi, terutama gonorea, pada masa sebelum pubertas dan

setelah menopause vagina lebih peka terhadap infeksi. Vaginitis biasanya disertai oleh vulvitis

Vulvovaginitis

Vulvovaginitis ini disebabkan oleh trikomonas vaginalis. Trikomonas dapat ditemukan dalam jumlah kecil

dalam vagina tanpa gejala apapun, akan tetapi dalam beberapa hal yang ada hubungannya dengan perubahan

kondisi lingkungan, jumlah dapat bertambah banyak dan menimbulkan radang. Peterson melaporkan bahwa

24,6% dari apusa vagina yang diambil secara rutin pada penderita obstetri dan ginekologi menunjukan adanya

trikomonas vaginalis.

Etiologi Vulvovaginitis : 1. Bakteri : Synergistic bacterial infection

(bacterial vaginosis)

2. Jamur : - Candida Vulvovaginitis

- Cyclic Vulvovaginitis

3. Parasit : Trikomoniasis

INSIDEN

Bakteri Vaginosis ? 40 - 50 % pada masa reproduksi

10 – 40 % sisanya

75 % dari wanita pernah mengalami kandidiasis paling tidak minimal satu kali. 24,6 % dari apusan vagina

yang diambil secara rutin pada penderita obstetri dan ginekologi menunjukan adanya trikomonas vaginalis.

Symptom Vulvovaginitis

? Bakterial Vaginosis

Sekitar 50 % dari wanita dengan bakterial vaginosis tidak memiliki gejala-gejala utama bakterial vaginosis :

- Discharge ”Fishly Smelling”, yang lebih terasa setelah melakukan hubungan seksual dan menstruasi.

- Discharge berwarna putih susu atau abu-abu, encer, timbul rasa gatal dan terbakar.

? Candida Vulvovaginitis

Gejala : - Gatal

- Rasa perih

- Saat melakukan hubungan seksual terasa sakit

- Discharge vagina kental, putih, berbutir-butir (”like cottage

cheese”).
? Cyclic Vulvovaginitis

Kadang asimptomatis

Vaginal discharge sedikit

Nyeri setelah berhubungan seksual

? Trikomonas

Seperti sexual transmitted disease lainya yang sering terjadi tanpa gejala, trikomonas juga sering tanpa

gejala, tapi jika ada gejala biasanya akan muncul hari ke 4 – 20 setelah infeksi.

Gejala : - Disuria

- Dispareunia

- Discharge berwarna kuning kehijauan dan berbuih

- Discharge khas berbau tidak sedap

- Pada beberapa kasus ditemukan adanya pendarahan pada vagina

? Atrofik Vaginitis

Gejala : - Dispareunia

- Kering

- Perih dan gatal

- Flek

- Jika terkena selaput lendir uretra menyebabkan disuria dan

hematuria.

- Mukosa vagina pucat41

- Rugae vagina menghilang, kering dan saat pemeriksaan inspekulo

terasa perih.

? Allergic Vaginitis / Irritan

Gejala : - Vulva pruritus

- Erythema

- Oedem

Pada umumnya symptom vulvovaginitis :

- Fluor albus

- Gatal

- Iritasi

- Bau busuk

- Rasa tidak enak / nyaman di abdomen bawah

- Disuria (jika mengenai endotel uretia)


- Suprapubik tidak nyaman

DIAGNOSA

Diagnosa ditegakkan berdasarkan :

1. Anamnesa : - Riwayat hubungan seksual dengan gejala tertentu

- Umur, jika > 45 tahun ? kemungkinan masalah hormonal

yang disebabkan oleh menopause

- Pekerjaan

2. Pemeriksaan :

a. Dari introitus vagina : - mungkin eritema vulva

- oedem labia

- keputihan ? pasti ada infeksi

- kemerahan ? dapat infeksi, tumor, atau

gangguan hormonal dan kehamilan

b. Spekulum : - Mungkin ada warna kemerahan difus, radang

mukosa vagina dengan sekret vagina kental atau

encer dan berbau

- Atau mungkin terdapat sekret kental, putih dan

”chessy” serta rasa yang sangat gatal pada

vulva ? khas candidiasis

c. Preparat langsung : Swab vagina yang langsung dipoleskan pada objek glass.

- terlihat gambaran hifa tipis ? candida

- terlihat gambaran flagel ? trikomonas

Swab cervix atau uretra ? untuk kultur N. gonorrhoe.

Swab endocervix ? untuk chlamydia.

d. Kertas indikator pH

e. Pemeriksaan bimanual

f. Pemeriksaan urine

? Bakterial vaginosis

Dipakai “Amsel’s criteria” untuk menegakkan diagnosa bakterial vaginosis :

- Discharge tipis, keputihan seperti susu, lengket ke vagina

- Terdapat bau amis

- pH > 4,5

- Terdapat clue cells


? Candida vulvovaginitis

Diagnosa berdasarkan : - pH : 4 – 4,5 (pH vagina normal)

- Terdapat sel-sel jamur

? Trikomonas

Diagnosa berdasarkan : - Labia oedem sehingga menutup, merah, gatal, terdapat iritasi (bekas garukan)

- Discharge dapat kental atau encer dan berbau

- Mikroskopik ? ditemukan parasit berflagel

kadang-kadang candidiasis dan trikomonas dapat ditegakkan pada pemeriksaan papsmear.

PENGOBATAN

? Bakterial vaginosis

Wanita dengan gejala diobati dengan metronidazol atau dengan clyndamycin. Obat tersebut dapat berbentuk

pil per oral atau gel, cream untuk topikal. Wanita hamil dengan gejala harus diobati, karena jika radang tidak

diobati akan menular ke atas ? terjadi amnionitis ? ketuban pecah dini. Jika sudah diobati tapi tidak ada

penyembuhan ? periksa pasangannya.

? Candida vulvovaginitis

Diobati dengan miconazole cream / gel / suppositoria atau dengan clotrimazole 200 mg vaginal suppositoria

selama 3 hari dimasukkan ke dalam vagina.

Oral : - Fluconazole - Miconazole

- Butoconazole - Ticonazole

- Clotrimazole

Kebanyakan dipakai 1 sampai dengan beberapa hari ? sudah efektif

Pada wanita hamil beri ½ dosis oral atau 2 kali dosis topikal dan clotrimazole.

? Recurrent vaginal candidiasis

Wanita yang mengalami ini diobati selama beberapa minggu, dilanjutkan dengan terapi pencegahan. Untuk itu

obat yang diberikan ? anti fungi :

- Butoconazole

- Terconazole ? sebanyak 5 gram dalam bentuk krim pada aplikator, dipakai 4 kali sehari selama 3 – 7 hari.

Untuk mengembalikan ekosistem vagina menjadi normal, maka wanita tersebut diberi edukasi untuk menjaga

hygiene yang baik dan mencegah/menghindari kelembapan.

Kontrol dan hindari stress.

? Trikomonas

Diobati dengan dosis tinggi dan dosis tunggal dari metronidazol 2000 mg (cukup 1 x) atau dengan dosis kecil

500 mg (2x sehari selama 7 hari).


Pada trimester I kehamilan, maka diberikan obat dalam bentuk clotrimazole (lebih aman daripada

metronodazole) 100 mg vaginal suppositoria selama seminggu.

? Cyclic vulvovaginitis

- Tercanozole/clotrimazole cream

Selama 10 hari, 4 x sehari.

Dimasukkan ½ krim ke dalam aplikator untuk 2 – 4 bulan.

- Fluconazole 150 mg

Tiap seminggu selama 2 bulan atau sebulan 2 x selama 2 – 4 bulan.

- Calcium citrat oral 200 mg 2 x sehari.

? Atrofik vaginitis

Lokal : estrogen krim dimasukkan ke vagina setiap 2 hari. Bagi wanita yang tidak bisa menerima estrogen,

maka dilakukan lubrikas pada vagina dalam bentuk jell.

? Allergic vaginitis / Irritan

- Hindari/singkirkan allergen.

- Kortikosteroid.

? Modifikasi diet dan suplemen nutrisi

Diet dengan balance yang baik antara lemak dan gula.

L. Acidophillus dapat diberi secara oral dalam bentuk yogurt atau kapsul.

? Pencegahan

Hindari douching (berendam susu, madu di bath tube)

Keringkan vagina sesudah mandi

Sesudah defekasi bersihkan dari arah depan ke belakang untuk mencegah penyebaran kuman intestinal ke

vagina.

Aplikator spermisid, diafragma, cervical caps harus selalu dibersihkan.

Jika ragu-ragu, maka pasangan dianjurkan memakai kondom untuk mencegah sexual transmitted disease.

? Komplikasi

Bakterial vaginosis :

- Persalinan prematur

- Infeksi naik ke atas ? terjadi amnionis ? ketuban pecah dini ? partus prematur.

Trikomoniasis :

- Dapat menyebabkan prematuritas.

- Meningkatkan resiko transmisi HIV.

? Pragnosis
- Sympton ringan ? pragnosis baik jika segera diobati.

- Jika telat diobati ? keadaan memberat, dapat menyebabkan pelvic inflamatori disease, atau penyebaran

infeksi HIV.

Kandidiasis

Kandidiasis disebabkan oleh infeksi dengan kandida albikans, suatu jenis jamur gram positif yang mempunyai

benang-benang pseudomiselia yang terbagi-bagi dalam kelompok blastopores. Jamur ini tumbuh baik dalam

suasana asam (pH 5.0 – 6.5) yang mengandung glikogen; ia dapat ditemukan dalam mulut, daerah-daerah

perianal dan vagina tanpa menimbulkan gejala. Ia dapat tumbuh dengan cepat dan menyebabkan vaginitis

pada wanita hamil, wanita yang minum pil kontrasepsi hormonal, wanita yang diberi terapi antibiotika

berspektrum luas, wanita dengan diabetes, dan wanita dengan kesehatan yang mundur.vulvovagninitis karena

infeksi dengan kandida albikans menyebabkan leukorea berwarna keputih-putihan dan perasaan sangat gatal.

Faktor lain yang dapat menyebabkan kandidiasis termasuk : diabetes,kehamilan,penggunaan

Antihistamin(obat yang biasa dipakai untuk mencegah alergi dan gatal)dan besi,asam folat ,vitamin B12,atau

kekurangan Zinc.Faktor yang dapat melemahkan sistem imun dari kemoterapi karsinoma sampai stress dan

depresi dapat juga sebabkan kandidiasis.Celana ketat dan reaksi terhadap bahan kimia pembuat sabun dan

detergent dapat juga menyebabkan kandidiasis vagina.

Pada pemeriksaan ditemukan radang vulva dan vagina, pada dinding sering juga terdapat membran-membran

kecil berwarna putih, yang jika diangkat meninggalkan bekas yang agak berdarah.

Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti trikomonas vaginalis; pada sediaan tampak Namun di

tengah-tengah leukosit. Dapat pula usapan di atas gelas objek dengan cara Gram.

Terapi

NAMA OBAT

DOSIS KETERANGAN

TOPIKAL

Butoconazole 2% cream 5 gr selama 3 hari Dapat diperoleh ditoko obat.Dapat merusak latex kondom &

diafragma

Clotrimazole(Lotrimin) 1% cream 5 gr selama 7-14 hari Dapat diperoleh ditoko obat.Dapat merusak latex

kondom & diafragma

Clotrimazole(Mycelex) 100mg vaginal tablet 1x100mg selama 7hari atau 2x100mg selama 3hari

Clotrimazole(Mycelex) 500mg vaginal tablet Single dose

Miconazole(Monistat) 2% cream 5gr selama 7 hari Dapat diperoleh ditoko obat.Dapat merusak latex kondom &

diafragma

Miconazole(Monistat) 200mg vaginal suppositoria 1x/hr selama 3hari Dapat diperoleh ditoko
Miconazole(Monistat) 100mg vaginal suppositoria 1x/hr selama 7hari Dapat diperoleh ditoko

Miconazole(Monistat) 1200mg vaginal suppositoria Single dose

Tioconazole(Vagistat) 300mg, salep A Single dose Dapat diperoleh ditoko

Terconazole(Terazole 7) 0,4% cream 5gr selama 7 hari Dapat merusak latex kondom & diafragma

Terconazole(Terazole 3) 0,8% cream 5gr selama 3 hari Dapat merusak latex kondom & diafragma

Terconazole(Terazole 3) 80mg vaginal suppositoria 1x/hr selama 3hari

TERAPI ORAL

Fluconazole(Diflucan) 150mg 1x Tidak direkomendasikan untuk wanita hamil;kadang- kadang digunakan

perminggu sebagai pencegahan.

TERAPI LAIN

Nystatin vaginal tablet (Mycostatin)

Dipakai pada daerah yang sakit 2x/hr selama 3 hari Dapat diperoleh ditoko.Dapat digunakan untuk infeksi

yang rekuren (digunakan tiap 7hari selama 1 bulan); Penggunaan yang tidak teratur dapat menyebabkan

radang vagina; Jangan melakukan hubungan seks atau pakai kondom.

Pengobatan dengan gentian violet 5-1% Semarang tidak banyak dilakukan oleh karena mewarnai pakaian.

Obat yang memberi hasil baik ialah Nystatin, suatu antibiotika dihasilkan oleh Streptomises moursei (formula

C46 – H 77 No.19). Yang banyak dipakai ialah tablet vaginal Mycostatin (10.000 unit) dimasukan dalam vagina

1 sampai 2 tablet selama 14 hari. Pemakaian Mycostatin per os untuk kandida yang masih bersarang dalam

traktus sigestivus. Untuk minggu sebelum haid selama beberapa bulan

Hemofilus vaginalis vaginitis

Sembilan puluh persen dari kasus-kasus yang dahulu disebut vaginitis nonspesifik kini ternyata disebabkan

oleh hemofilus vaginalis , suatu basil kecil yang gram negatif. Gejala vaginitis ialah leukorea yang berwarna

putih bersemu kelabu, kadang-kadang kekuning-kuningan dengan bau yang kurang sedap. Vaginitis ini

menimbulkan pula perasaan sangat gatal. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual.

Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti yang digambarkan pada pemeriksaan trikomonas vaginalis.

SERVIKS UTERI

Serviks uteri adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman ke dalam genitalia interna. Dalam

hubungan ini pada seorang nullipara dalam keadaan normal kanalis servikalis bebas kuman, pada seorang

multipara dengan ostium uteri eksternum sudah lebih terbuka, batas ke atas dari daerah bebas kuman ialah

ostium uteri internum.

Radang pada serviks uteri bisa terdapat pada porsio uteri di luar ostium uteri eksternum dan/atau pada

endoserviks uteri.

Pada beberapa penyakit kelamin, seperti gonorea, sifilis, ulkus molle dan granuloma inguinale, dan pada
tuberkulosis, dapat ditemukan radang pada serviks.

Servisitis akuta

Servisitis akuta dalam pengertian yang lazim ialah infeksi yang diawali di endoserviks dan ditemukan pada

gonorea, dan pada infeksi post abortum atau post partum, yang disebabkan oleh streptokokus, stafilokokus

dan lain-lain. Dalam hal ini serviks merah dan membengkak dengan mengeluarkan cairan mukopurulen. Akan

tetapi gejala-gejala pada serviks biasanya tidak seberapa tampak di tengah gejala-gejala lain dari infeksi yang

bersangkutan.

Pengobatan dilakukan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut. Penyakitnya dapat sembuh tanpa bekas atau

menjadi servisitis kronika.

Servisitis kronika

Penyakit ini dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan. Luka-luka kecil atau besar pada

serviks karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman ke dalam endoserviks dan kelenjar-

kelenjarnya, lalu menyebabkan infeksi menahun.

Beberapa gambaran patotogis dapat ditemukan.

1. Serviks kelihatan normal; hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infiltrasi leukosit dalam stroma

endoserviks. Servisitis ini tidak menimbulkan gejala, kecuali pengeluaran sekret yang agak putih-kuning.

2. Di sini pada porsio uteri & sekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-merahan yang tidak

dipisahkan secara jelas dari epitel porsio di sekitarnya, sekret yang dikeluarkan terdiri atas mukus bercampur

nanah.

3. Sobekan pada serviks uteri di sini iebih luas dan mukosa endoserviks lebih kelihatan dari luar (ekstropion).

Mukosa dalam keadaan demikian mudah kena infeksi dari vagina. Karena radang menahun, serviks bisa

menjadi hipertrofis dan mengeras; sekret mukopurulen bertambah banyak.

Terapi

Pengobatan lokal dengan obat-obat tinktura jodii, larutan nitras argenti dan sebagainya tidak dapat

menyembuhkan servitis kronika, oleh karena tidak dapat mencapai kuman-kuman yang bersarang di dalam

kelenjar-kelenjar. Pengobatan yang baik ialah dengan jalan kausteriasasi-radial dengan termokauter, atau

dengan krioterapi.

KORPUS UTERI

Uterus, tuba Falloppii, ovarium, pembuluh-pembuluh darah dan limfe, jaringan ikat di sekitarnya, dan

peritoneum yang menutupi alat-alat tersebut di atas, merupakan kesatuan fungsional. Radang dapat menyebar

dengan cepat dari kavum uteri ke seluruh genitalia interna. Radang endometrium dinamakan endometritis,

radang otot-otot uterus miometritis atau metritis, dan radang peritoneum di sekitar uterus perimetritis.
Radang uterus yang akut biasanya akibat infeksi gonorea, atau akibat infeksi pada abortus atau infeksi

puerpural.

Endometritis akuta

Pada endometritis akuta endometrium mengalami edema dan hiperemi, dan pada pemeriksaan mikroskopik

terdapat hiperemi, edema, dan infiltrasi leukosit berinti polimoni yang banyak, serta perdarahan-perdarahan

interstisial. Sebab yang paling penting ialah infeksi gonorea dan infeksi pada abortus dan partus.

Infeksi gonorea mulai sebagai servisitis akuta, dan radang menjalar ke atas dan menyebabkan endometritis

akuta. Infeksi gonorea akan dibahas secara khusus, dan oleb sebab itu tidak dibicarakan lebib lanjut di sini.

Infeksi post abortum dan post partum sering terdapat oleh karena luka-luka pada serviks uteri, luka pada

dinding uterus bekas tempat plasenta, yang merupakan porte d’entree bagi kuman-kuman patogen. Selain in,

alat-alat yang digunakan pada abortus dan partus dan tidak sucihama dapat membawa kuman-kuman ke

dalam uterus.

Sebab lain endometritis akuta ialah tindakan yang dilakukan dalam uterus di luar partus atau abortus, seperti

kerokan, memasukkan radium ke dalam uterus, memasukkan IUD (intra-uterine device) ke dalam uterus, dan

sebagainya.

Eadometritis kronika

Eadometritis kronika tidak seberapa sering terdapat, oleh karena infeksi yang tidak dalam masuknya pada

miometrium, tidak dapat mempertahankan diri, karena pelepasan lapisan fungsional dan endometrium pada

waktu haid. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit. Penemuan limfosit

saja tidak besar artinya karena sel itu juga ditemukan dalam keadaan normal dalam endometrium.

Gejala-gejala klinis endometritis kronika ialah, leukorea dan menoragia. Pengobatannya tergantung dari

penyebabnya.

Endometritis knonika ditemukan:

a. pada tuberkulosis;

b. jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus;

c. jika terdapat korpus alienum di kavum uteri;

d. pada polip uterus dengan infeksi;

e. pada tumor ganas uterus;

f. pada salpingo-ooforitis dan sellulitis pclvik.

Piometra

Piometra ialah pengumpulan nanah di kavum uteri karena stenosis kanalis servikalis oleh salah satu sebab,

seperti karsinoma servisis uteri, amputasi serviks, akibat radiasi, endometritis tuberkulosa, dan penutupan

ostium uteri internum karena involusi uterus sesudah menopause. Piometra terdapat lebih banyak pada wanita
di sekitar dan sesudah menopause. Karena kekurangan estrogen endoimetrium menipis, dan resistensi yang

berkurang terhadap kuman-kuman dari vagina menyebabkan endometritis senilis menahun.

Diagnosis dapat dibuat jika pada pemasukan sonde uterus keluar banyak cairan bernanah.

Metritis

Metritis atau miometritis adalah radang miometrium. Metritis akuta biasanya terdapat pada abortus septik atau

infeksi postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas.

Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang dapat menimbulkan metritis akut.

Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang.

Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat tromboflebitis, dan kadang-kadang dapat terjadi abses.

Metritis kronika

Metritis kronika adalah diagnosis, yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus lebih

besar dari biasa, sakit pinggang, dan leukorea. Akan tetapi pembesaran uterus pada seorang multipara

umumnya disebabkan oleh penambahan jaringan ikat akibat kehamilan, sedang gejala-gejala yang lain

mungkin mempunyai sebab lain.

Perimetritis

Perimetritis ialah radang serosa yang meliputi uterus. Radang ini merupakan bagian dari radang peritoneum

pelvik, dan oleh karena itu tidak memerlukan pembahasan tersendiri

ADNEKSA DAN JARINGAN DI SEKITARNYA

Salpingo-ooforitis atau adneksitis

Radang tuba Falloppii dan radang ovarium biasanva terjadi bersamaan. Oleh sebab itu tepatlah nama salpingo-

ooforitis atau adneksitis untuk radang tersebut. Radang itu kebanyakan akibat infeksi yang menjalar ke atas

walaupun infeksi ini juga bisa datang dari tempat ekstra-vaginal liwat jalan darah, atau menjalar dari jaringan-

jaringan di sekitarnya.

Di antara sebab-sebab yang paling banyak terdapat ialah infeksi gonorea dan infeksi puerperal dan

postahortum. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberkulosis. Selanjutnya bisa timbul radang adneksa

sebagai akibat tindakan (kerokan, laparotomi, pemasangan IUD, dan sebagainya) dan perluasan radang dari

alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks.

Salpingo-ooforitis akuta

Salpingo-ooforitis akuta yang disebabkan oleh gonorea sampai ke tuba dari uterus melalui mukosa. Pada

endosalping tampak edema serta hiperemi dan infiltrasi leukosit; pada infeksi yang ringan epitel masih utuh,

tetapi pada infeksi yang lebih berat kelihatan degenerasi epitel yang kemudian menghilang pada daerah yang

agak luas, dan ikut juga terlihat lapisan otot dan serosa. Dalam hal yang akhir ini dijumpai eksudat purulen

yang dapat keluar meialui ostium tuba abdominalis dan menyebabkan peradangan di sekitarnya (peritonitis
pelvika).

Salpingitis akuta piogenik banyak ditemukan pada infeksi puerpural atau pada abortus septik, akan tetapi

dapat disebabkan pula sebagai akibat berbagai tindakan, seperti kerokan. Infeksi dapat disebabkan oleh

bermacam-macam kuman, scperti Streptokokus (aerobik dan anaerobik), Stafilokokus, Escheria koli,

Klostridium welchii, dan lain-lain. Infeksi ini menjalar dari serviks uteri atau kavum uteri dengan jalan darah

atau limfe ke parametrium terus ke tuba, dan dapat pula ke peritoneum pelvik.

Gambaran klinik salpingo-ooforitis akuta ialah demam, dan rasa nyeri di sebelah kanan atau kiri uterus;

penyakit tersebut tidak jarang terdapat pada kedua adneksa. Setelah liwat beberapa hari dijumpai pula tumor

dengan batas yang tidak jelas dan yang nyeri tekan.

Diagnosis diferensial ialah dengan apendisitis akuta, pielitis akuta, torsi adneksa dan kehamilan ektopik yang

terganggu. Biasanya lokasi nyeri tekan pada appendisitis akuta (pada titik Mac Burney) lebih tinggi daripada

adneksitis akuta, akan tetapi apabila proses agak meluas perbedaan menjadi kurang jelas. Jika terdapat

keragu-raguan, perlu diadakan laparotomi percobaan, agar dapat dicegah peritonitis umum karena appendisitis

akuta.

Tetapi pada salpingo-ooforitis akuta terdiri atas istirahat baring, perawatan umum, pernberian antibiotika dan

analgetika.

Salpingo-ooforitis kronika

Dapat diadakan pembagian antara:

a. hidrosalping;.

b. piosalping;

c. salpingitis interstisialis kronika;

d. kista tubo-ovarial, abses tubo-ovarial;

e. abses ovarial;

f. salpingitis tuberkulosa

Pada hidrosalping terdapat penutupan osnum tuba abdominalis. Sebagian dari epitel mukosa tuba masih

berfungsi dan mengeluarkan cairan dengan akibat retensi cairan tersebut dalarn tuba.

Piosalping dalam stadium menahun merupakan kantong dengan dinding tebal yang berisi nanah. Pada

piosalping biasanya terdapat perlekatan dengan jaringan di sekitarnya.

Pada salpingitis interstisialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat pula ditemukan

pengumpulan nanah sedikit di tengah-tengah janingan otot. Terdapat pula perlekatan dengan jaringan-

jaringan di sekitarnya, seperti ovarium, uterus dan usus. Salah satu jenis ialah salpingitis isthmika nodosa.

Pada kista tubo-ovariaI, hidrosalping bersatu dengan kista folikel ovarium, sedang pada abses tuho-ovarial

piosalping bersaru dengan abses ovarium. Abses ovarium yang jarang terdapat sendiri, dari stadium akut

dapat memasuki stadium menahun.


Salpingitis tuberkulosa merupakan bagian penting dari tuberkulosis genital. Gejala-gejala salpingo-ooforitis

kronika tidak selalu jelas; penyakir bisa didahu!ui o!eh gejala-gejala penyakit akut dengan panas, rasa nyenr

cukup kuat di perut bagian bawah, akan tetapi bisa pula dari permulaan sudah subakut atau menahun.

Terapi

Jika penyakitnya masih dalam keadaan subakut, penderita harus diberi terapi dengan antibiotika dengan

spektrum luas.

Terapi operatif mempunyai tempat pada salpingo-ooforitis kronika. Indikasi untuk terapi ini ialah:

1. apabila — setelah berulang kali dilakukan terapi dengan diatermi — keluhan tetap ada, dan mengganggu

kehidupan sehari-hari;

2. apabila tiap kali timbul reaktivisasi dan proses radang;

3. apabila ada tumor di sebelah uterus, dan setelah dilakukan beberapa seri terapi diatermi tumor tidak

mengecil, sehingga timbul dugaan adanya hidrosalping, piosalping, kista tubo-ovarial, dan sebagainya;

4. apabila ada infertilitas yang sebabnya tenletak pada tuba

DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono Prawirohardjo, Prof, dr, DSOG dan Hanifa Wiknjosastro, Prof, dr, DSOG; Ilmu Kandungan, YBP-SP,

Edisi ke dua, estacan ke tiga, FKUI, Yakarta; 1999, Hal 271 -27-

2. Robbins L., M.D; Buku Ajar Patologi II, Edisi ke empat, cetakan pertama. Penerbit Buku Kedokteran EGC,

Jakarta; 1995, Hal. 372-377.

3. Djuanda Adhi, Prof. DR. Hamzah Mochtar, Dr. Aisah Siti,DR ; Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi ke tiga,

cetakan pertama, FKUI, Jakarta ; 1987, Hal. 103-106, 358-364.

4. Winkosastro Hanifa, Prof, dr, DSOG ; Ilmu Kebidanan YBP-SP, Edisi ketiga, cetakan ke enam, FKUI,

Jakarta ; 2002. Hal:406-410.

5. Cuningham, Macdonald Gant : William Obstetri, Edisi 18, EGC, Jakarta; 1995, Hal: 1051-1057.

6. http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0304_keputihan.htm

7. http://www.tabloid-akita.cpm/artikel.php3.dedui=02059&rubrik=kecil

8. http://www.google com/leuko

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Infeksi ini sebagian berkaitan dengan infeksi alat kelamin bagian atas (sekitar saluran indung telur, sekitar

jaringan lunak rahim, infeksi indung telur ). Juga berkaitan dengan infeksi jaringan sekitar panggul minor.

Bentuk infeksi ini dapat mendadak (akut) dengan gejala nyeri di bagian perut bawah dan dapat menimbulkan

demam tinggi. Bahaya utama infeksi ini adalah terjadi perlekatan setelah infeksi yang menyebabkan gangguan
terhadap kemungkinan hamil atau kemandulan ( Infertilitas ). Infeksi radang panggul perlu mendapat

pengobatan, sehingga tercapai kesembuhan total dengan obat yang tepat dan dosis yang tepat. Oeh karena itu

di sarankan agar mematuhi petunjuk dokter dalam minum obat dan melakukan kontrol, sehingga tidak terjadi

infeksi menahun yang menyebabkan perlekatan dan kemandulan.

( Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita ) Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba. SPOG.

B. Tujuan Penulisan.

1. Tujuan Umum.

a. Untuk mendapatkan gambaran tentang Pelvic Inflammantory Disease / Penyakit Radang Panggul.

b. Untuk mengetahui bagaimana menghindari dari penyakit tersebut.

2. Tujuan Khusus.

a. Mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

b. Mampu merencanakan suatu makalah yang ditugaskan.

c. Mampu membuat suatu laporan makalah dalam kesehatan reproduksi.

C. Manfaat Penulisan

Dalam membuat makalah ini kami sebagai penulis berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan

gambaran tentang Pelvic Inflammatory Disease dan juga berusaha memberi jawaban atas pertanyaan yang

diajukan oleh teman sejawat dan juga bisa bermanfaat bagi kita semua.

D. Sistematika Penulisan.

Bab I Pendahuluan membahas tentang :

- Latar belakang

- Tujuan penulisan

- Manfaat penulisan

- Sistematika penulisan

Bab II Pembahasan membahas tentang :

- Definisi

- Penyebab

- Gejala

- Diagnosa

- Pengobatan

Bab III Penutup membahas tentang :

- Kesimpulan

- Saran