Anda di halaman 1dari 7

DIKTAT PRAKTIKUM GEOLOGI

DASAR

Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya

MATERI V
BATUAN METAMORF
A. Nomor Praktikum : B. Tujuan Praktikum :
1. Praktikan dapat membedakan antara batuan metamorf dengan batuan lainnya, seperti
batuan sedimen , batuan piroklastik dan batuan beku.
2. Praktikan dapat menentukan jenis batuan metamorf, hingga penamaan batuannya
C. Pembahasan

Metamorf (metamorphic rocks) berasal dari kata meta yang bermakna perubahan,
sedangkan kata morpho bermakna bentuk. Dengan demikian, metamorphosis adalah proses
yang mengubah bentuk mineral asal baik itu dari batuan beku, sedimen ataupun piroklastik
menjadi mineral yang stabil pada kondisi baru.
Jadi, defenisi dari batuan metamorf adalah batuan ubahan yang terbentuk dari batuan
asalnya, berlangsung dalam keadaan padat, akibat pengaruh peningkatan suhu (T) dan tekanan
(P), atau pengaruh kedua-duanya yang disebut proses metamorfisme dan berlangsung di
bawah permukaan.

5.1 Metamorfisme
Proses metamorfisme membentuk batuan yang sama sekali berbeda dengan batuan
asalnya, baik tekstur maupun komposisi mineral. Mengingat bahwa kenaikan tekanan atau
temperatur akan mengubah mineral bila batas kestabilannya terlampaui, dan juga hubungan
antar butiran/kristalnya. Proses metamorfisme tidak mengubah komposisi kimia batuan. Oleh
karena itu disamping faktor tekanan dan temperatur, pembentukan batuan metamorf ini jika
tergantung pada jenis batuan asalnya.
Agen atau media menyebabkan terjadinya proses metamorfisme adalah panas,
tekanan dan cairan kimia aktif. Sedangkan perubahan yang terjadi pada batuan meliputi
tekstur dan komposisi mineral.
Metamorfisme menyebabkan perubahan secara tekstural, mineralogy atau keduanya
yang terjadi diantara dua kondisi. Pertama adalah kondisi diagenesis-weathering (pada batas

L A B OR ATOR I UM G E O L O GI D A SA R

DIKTAT PRAKTIKUM GEOLOGI


DASAR

Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya

bagian bawah), dan kedua pada kondisi melting (pada batas bagian atas). Pada perubahan
tekstur dapat terjadi tanpa disertai dengan perubahan komposisi mineral, yaitu tejadi
kataklastis dan rekristalisasi.
Kataklastis adalah proses penghancuran butiran batuan, biasanya pada zona sesar.
Sedangkan rekristalisasi adalah proses pengorganisasian kembali pola Kristal (chrystal lattice)
dan hubungan antar butiran melalui perpindahan ion dan deformasi pola tanpa disertai
penghancuran.
Proses metamorfisme terjadi apabila kondisi lingkungan batuan mengalami perubahan
yang tidak sama dengan kondisi pada waktu batuan terbentuk, sehingga batuan menjadi tidak
stabil. Untuk mendapatkan kestabilannya kembali pada kondisi yang baru maka batuan
mengalami perubahan. Perubahan tersebut terjadi pada kondisi tekanan dan temperatur
tekanan dan temperatur yang beberapa kilometer di bawah permukaan bumi
5.2 Jenis Metamorfisme
a. Metamorfisme thermal (kontak), terjadi karena aktiftas intrusi magma, proses yang
berperan adalah panas larutan aktif.
b. Metamorfisme dinamis, terjadi di daerah pergeseran/pergerakan yang dangkal (misalnya
zona patahan), dimana tekanan lebih berperan dari pada panas yang timbul. Seringkali hanya
terbentuk bahan yang sifatnya hancuran, kadang-kadang juga terjadi rekristalisasi.
c. Metamorfisme regional, proses yang berperan adalah kenaikan tekanan dan temperatur.
Proses ini terjadi secara regional, berhubungan dengan lingkungan tektonis, misalnya pada
jalur pembentukan pegunungan dan zona tunjaman dsb.
5.3 Tekstur batuan metamorf
Tekstur batuan metamorf ditentukan dari bentuk kristal dan hubungan antar butiran
mineral
1. Tekstur batuan metamorf foliated
a. Gneiss
Lapisan permukaannya kasar dan tidak mempunyai batas yang jelas. Terlihat berlapislapis karena susunan mineralnya searah atau karena barisantar mineral gelap dan
mineral terang berurutan, terdapat pada batuan orthometamorf.
b. Schist

L A B OR ATOR I UM G E O L O GI D A SA R

DIKTAT PRAKTIKUM GEOLOGI


DASAR

Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya

Lapisan permukaannya halus, pararel dan mempunyai bidang batas yang jelas.
Biasanya ditandai dengan adanya mineral mika, kuarsa dan chlorite. Terdapat pada
batuan orthometamorf dan parametamorf.
c. Filitik
Lapisan permukaannya kasar, pararel dan jelas batasnya tetapi tidak begitu kompak.
Terdapat pada batuan metamorf.
d. Slaty
Lapisan permukaanya sangat halus, rapat dan pararel. Kristalnya sangat halu tetapi
batuannya sangat kompak.
2.

Tekstur batuan metamorf Unfoliated


a. Homeoblastik, terdiri dari satu macam bentuk. Homeoblastik dibagi atas tiga, yakni :
Lepidoblastik, mineral-mineral pipih dan sejajar
Nematoblastik, bentuk menjarum dan sejajar
Granoblastik, berbentuk butir

L A B OR ATOR I UM G E O L O GI D A SA R

DIKTAT PRAKTIKUM GEOLOGI


DASAR

Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya

b. Heteroblastik, terdiri dari kombinasi tekstur homeoblastik. Heteroblastik terbagi


atas tiga, yakni : Porfiroblastik, Grano-lepidoblastik dan Grano-nemtaoblastik.

5.4 Struktur batuan metamorf


Struktur pada batuan metamorf yang terpenting adalah foliasi, yaitu hubungan
tekstur yang memperlihatkan orientasi kesejajaran. Kadang-kadang foliasi menunjukkan
orientasi yang hampir sama dengan perlapisan batuan asal (bila berasal dari batuan sedimen),
akan tetapi orientasi mineral tersebut tidak ada sama sekali hubungan dengan sifat perlapisan
batuan sedimen. Foliasi juga mencerminkan derajat metamorfisme.
5.4.1 Batuan Berfoliasi (Foliated Rocks)
Merupakan struktur pada batuan metamorf yang ditunjukkan dengan adanya penjajaran
mineral-mineral penyusun batuan tersebut , struktur ini meliputi :
a. Gneissic

: perlapisan dari mineral-mineral yang membentuk jalur terputusputus,


dan terdiri dari tekstur-tekstur lepidoblastik dan granoblastik.

b. Schistosity : perlapisan mineral-mineral yang menerus dan terdiri dari selangseling


tekstur lepodoblastik dan granoblastik.
c. Phyllitic

: perlapisan mineral-mineral yang menerus dan terdiri dari tekstur


lepidoblastik.

d. Slaty

: merupakan perlapisan, umumnya terdiri dari mineral yang pipih dan


sangat luas.

L A B OR ATOR I UM G E O L O GI D A SA R

DIKTAT PRAKTIKUM GEOLOGI


DASAR

Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya

5.4.2 Batuan Tidak Berfoliasi (Nonfoliated Rocks)


Adalah struktur yang tidak memperlihatkan adanya penjajaran mineral penyususn batuan
metamorf.
a.

Hornfelsik
Dicirikan dengan adanya butiran-butiran yang seragam, terbentuk pada bagian
dalam daerah kontak sekitar tubuh batuan beku. Pada umumnya merupakan
rekristalisasi batuan asal, tidak ada foliasi tetapi batuan halus dan padat.

b.

Milonitik
Struktur yang berkembang karena adanya penghancuran terhadap batuan asal
yang mengalami metamorfosa dynamo, batuan berbutir halus dan liniasinya
ditunjukkan dengan adanya orientasi mineral yang berbentuk rentikuler yang
terkadang masih meyimpan lensa batuan asalnya.

c.

Kataklastik
Sruktu ini hampir sama dengan milonitik hanya saja butirannya lebih kasar.

d.

Pilonitik
Struktur ini menyerupai milonit tetapi butirannya relative lebih kasar dan
strukturnya mendekati struktur tipe philit.

e.

Flaser
Struktur ini mirip dengan kataklastik dimana struktur batuan asal berbentuk
lensa yang tertanam pada masa dasar milonit.

f.

Augen
Seperti struktur flaser, hanya saja lensa-lensanya terdiri dari butir-butir feldspar
dalam masa dasar yang lebih halus.

g.

Granulose
Struktur ini hampir sama dengan hornfelsik, hanya butirannya mempunyai
ukuran yang tidak sama besar.

h.

Liniasi
Struktur ditandai dengan adanya kumpulan mineral yang berbentuk seperti

jarum.

L A B OR ATOR I UM G E O L O GI D A SA R

DIKTAT PRAKTIKUM GEOLOGI


DASAR

Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya

5.5 Beberapa batuan metamorf yang penting


a. Berfoliasi
Batu sabak (Slate)
Berbutir halus, bidang foliasi tidak memperlihatkan pengelompokan mineral. Jenis mineral
seringkali tidak dapat dikenal secara megakopis, terdiri dari mineral lempung, serisit, kompak
dan keras.
Sekis (Schist)
Batuan paling umum yang dihasilkan oleh metamorfosa regional. Menunjukkan tekstur yang
sangat khas yaitu kepingan-kepingan dari mineral-mineral yang menyeret, dan mengandung
mineral feldspar, augit, hornblende, garnet, epidot. Sekis menunjukkan derajat metamorfosa
yang lebih tinggi dari filit, dicirikan adanya mineral-mineral lain disamping mika.
Filit (Phyllite)
Derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate, dimana lembar mika sudah cukup besar untuk
dapat dilihat secara megaskopis, memberikan belahan phyllitic, berkilap sutera pecahanpecahannya. Juga mulai didapati mineral-mineral lain, seperti turmalin dan garnet.
Gneis (Gneiss)
Merupakan hasil metamorfosa regional derajat tinggi, berbutir kasar, mempunyai sifat
bended (gneissic). Terdiri dari mineral-mineral yang mengingatkan kepada batuan beku
seperti kwarsa, feldspar dan mineral-mineral mafic, dengan jalur-jalur yang tersendiri dari
mineral-mineral yang pipih atau merabut (menyerat) seperti chlorit, mika, granit, hornblende,
kyanit, staurolit, sillimanit.
Amfibolit
Sama dengan sekis, tetapi foliasi tidak berkembang baik, merupakan hasil metamorfisme
regional batuan basalt atau gabro, berwarna kelabu, hijau atau hitam dan mengandung mineral
epidot, (piroksen), biotit dan garnet.
b. Tak berfoliasi
Kwarsit
Batuan ini terdiri dari kwarsa yang terbentuk dari batuan asal batupasir kwarsa, umumnya
terjadi pada metamorfisme regional.
Marmer/pualam (Marble)

L A B OR ATOR I UM G E O L O GI D A SA R

DIKTAT PRAKTIKUM GEOLOGI


DASAR

Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya

Terdiri dari kristal-kristal kalsit yang merupakan proses metamorfisme pada batugamping.
Batuan ini padat, kompak dan masive dapat terjadi karena metamorfosa kontak atau regional.
Grafit
Batuan yang terkena proses metamorfosa (Regional/thermal), berasal dari batuan sedimen
yang kaya akan mineral-mineral organik. Batuan ini biasanya lebih dikenal dengan nama batu
bara.
Serpentinit
Batuan metamorf yang terbentuk akibat larutan aktif (dalam tahap akhir proses hidrotermal)
dengan batuan beku ultrabasa.

L A B OR ATOR I UM G E O L O GI D A SA R