Anda di halaman 1dari 18

ROBEKAN LIGAMEN CRUSIATUM ANTERIOR

DEFINISI
Ligamen crusiatum anterior merupakan struktur penting intra-articular
yang berperan pada fungsi normal lutut. Bagian ini paling sering mengalami
cedera selama aktivitas, terutama pada pergerakan yang kompleks seperti gerakan
mendarat dan berputar. Diperkirakan terdapat satu dari 3000 individu mengalami
cedera pada ACL setiap tahunnya di Amerika Serikat, dengan total cedera
100.000 per tahunnya. Cedera biasanya diakibatkan oleh gerakan tiba-tiba
berhenti dari kecepatan tinggi yang mengakibatkan kontraksi kuat dari otot
quadrisep. Mekanisme lain dari cedera ini dapat diakibatkan oleh stress valgus,
hiperekstensi dan eksternal rotasi seperti pada mendarat saat melompat, dan rotasi
internal yang berlebihan pada lutut varus atau hiperekstensi. Dilaporkan terdapat
70% cedera akut ACL berhubungan dengan olahraga dan lebih banyak terjadi
pada perempuan daripada laki-laki khususnya pada olahraga basket dan sepak
bola. Pada dua dekade terakhir ini terjadi peningkatan angka kejadian cedera ACL
pada anak-anak yang berhubungan dengan kontak secara langsung maupun tidak
langsung dengan olahraga dan sekarang diikuti dengan peningkatan kesadaran
akan cedera dan teknik imaging yang baik. Faktor resiko yang berhubungan
dengan cedera ACL meliputi kelemahan sendi secara umum, perbedaan anatomi
pada laki-laki dan perempuan, dan variasi biomekanikal pada saat melompat atau
mendarat.
Robekan pada ACL dapat terjadi parsial ataupun total. Cedera ACL ini
juga dapat terjadi kombinasi dengan struktur lain, yang paling sering terjadi
melibatkan robekan pada ligament kolateral medial dan meniscus medial.
ACL terdiri dari struktur kolagen dengan panjang sekitar 38 mm dan lebar
10 mm. ligamentum crusiatum ini keluar dari dasar tulang tibia anterolateral ke
bagian anterior tibia kemudian melintasi lutut pada arah posterolateral,
Ligamentum

crusiatum

anterior,

yang

berjalan

dari

depan

eminentia

intercondyloidar tibia, ke permukaan medial condylus lateralis femur memiliki

fungsi menahan hiperekstensi dan menahan bergesernya tibia ke depan. Menurut


Fu dan rekannya, ini berhubungan dengan dua serabut yang mengalami insersi
pada tibia. Serabut anteromedial yang mengencang saat fleksi yang mengontrol
pergerakan pada bagian anterior tibia pada femur. Serabut posterolateral yang
mengencang saat ekstensi dan internal rotasi mengontrol pergerakan saat rotasi
Studi biomekanikal dengan menggunakan spesimen kadaver telah berhasil
mengevaluasi kekuatan yang mempengaruhi ligamentum crusiatum anterior.
Kekuatan meningkat dalam 30 derajat terakhir ekstensi, hiperekstensi, internal
rotasi dan varus. ACL merupakan stabilizer statis dari lutut dengan fungsi utama
menahan hiperekstensi dan pergerakan anterior tibia pada fleksi dan juga sebagai
krontol saat rotasi. ACL juga dapat sebagai pengendali kekuatan kondisi valgus
dan varus pada seluruh derajat fleksi.

GEJALA
Pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri, bengkak dan pergerakan
yang terbatas. Pada cedera yang akut pasien akan mengeluh sangat nyeri dan
mengalami kesulitan saat berjalan. Pada kondisi kronik biasanya pasien memiliki
riwayat ketidakstabilan lutut yang berulang dan juga terdapat bengkak serta
keterbatasan pergerakan. Hal ini biasanya digambarkan pada locking fenomena.
Pasien juga memiliki riwayat cedera ringan pada lutut yang tidak direhabilitasi.

PEMERIKSAAN FISIK
Sekarang telah terdapat pemeriksaan fisik yang sensitive dan spesifik
untuk mendiagnosis robekan pada ACL dan hubungannya dengan pendataan
arthroscopically cedera lutut. pemeriksa harus memeriksa lutut yang asimetris,
mempalpasi dan juga memeriksa gerakan aktif dan pasif dari lutut dan menilai
adakah atrofi otot. Dilakukan beberapa tes untuk menyingkirkan instabilitas dari
patella. Valgus dan varus tes dengan posisi lutut ekstensi penuh dan 30 derajat
fleksi untuk menilai ligament kolateral dan melakukan palpasi pada garis
persendian, disebut dengan McMurray test, untuk menilai meniscus sebelum
menilai ACL.

Tes yang dilakukan untuk menilai cedera akut pada pasien ACL adalah
Lachmant tes, dengan meletakkan lutut pada posisi fleksi kira-kira dalam sudut 30
derajad, dengan tungkai diputar secara eksternal. Satu tangan dari pemeriksaan
menstabilkan tungkai bawah dengan memegang bagian akhir atau ujung distal
dari tungkai atas, dan tangan lain memegang bagian proksimal dari tulang tibia,
kemudian usahakan untuk digerakkan kearah anterior. Pada pasien yang mampu
memfleksikan lutut hingga 90 derajat, kemungkinan dalam kondisi kronik atau
cedera yang berulang. Tes anterior drawer pada tibia harus dilakukan. Hal ini
penting untuk melengkapi pemeriksaan posterior drawer test yang dilakukan
untuk mengevaluasi ligantum crusiatum posterior. Robekan pada ligamentum
crusiatum posterior dengan subluksasi tibia dapat memberikan hasil positif palsu
pada pemeriksaan drawer anterior. Pada keadaan umum, pemeriksaan neurologi
dalam batas normal termasuk kekuatan otot, sensai dan reflex. Meskipun
terkadang terasa lemah yang berkaitan dengan nyeri.

Posisi pada pemeriksaan Lachman.

Posisi tes lateral pivot shift

Posisi tes anterior drawer

KETERBATASAN FUNGSI
Keterbatasan yang termasuk adalah berkurangnya pergerakan lutut,
kelemahan otot dan nyeri yang dirasakan saat aktivitas terutama saat berputar dan
melompat. Episode berulang dari ketidak stabilan ini dapat membatasi partisipasi
pasien dalam olahraga berat seperti basket, sepakbola, tenis dan volli. Hal ini akan
mengakibatkan kelemahan pada ligament, yang akan berdampak pada
keterbatasan untuk aktivitas sehari-hari seperti naik-turun tangga dan merubah
arah saat berjalan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiografi untuk mengetahui
fraktur intra-artikular, kehilangan bagian tubuh, dan perubahan artritik. Ini
termasuk posisi berdiri anteroposterior, posisi lateral, posisi tunnel, posisi berdiri
posteroanterior fleksi 45 derajat, dan posisi Merchant dari patella. Magnetic
resonance imaging (MRI) dapat diindikasikan pada keadaan akut untuk
mengevaluasi perubahan patologik yang berhubungan, seperti penipisan tulang,
robekan meniscal, dan cedera ligament lainnya. Pada anak-anak dan atlet dewasa,
MRI juga dapat memberikan informasi mengenai cedera fisik yang mungkin
belum tercatat/diketahui.

DIAGNOSIS BANDING
Isolated ACL tear
Lesi kombinasi
Robekan kompleks Posterolateral ligamentum
Medial kolateral ligament dan medial meniscus
Fraktur intra artikular
Dislokasi patella
Meniscal tear

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Awal
Biasanya setelah cedera, management robekan ligament cruciate anterior
meliputi istirahat, kompres es, kompresi, elevasi dan pemberian analgesic atau
obat anti-inflamai. Banyak pasien akan mendapat keuntungan dari penggunaan
imobiliser lutut dan cructhes. Jika lutu tampak sangat bengkak dan nyeri dengan
pergerakan terbatas yang membutuhkan partisipasi

restrik pada pengobatan,

artrosintesis mungkin ddapat dilakukan. Hal ini penting untuk membuat diagnosis
akurat dan jika terdapat cedera yang berhubungan maka operasi mungkin
diperlukan. Ini meliputi fraktur kondral dan osteokondral, robekan meniscal, dan
cedera struktur kapsular lainnya. Pada umumnya, ketidakhadiran cedera yang
berhubungan , pada manajemen akut dapat secara konservatif dengan rehablitasi
proteksi dini. Penatalaksanaan dari cedera ACL bergantung pada beberapa factor,
termasuk usia pasien, tingkat aktivitas, dan seberapa penting kembali pada
aktivitas atletik yang menyangkut percepatan dan ketahanan dan gerakan
memotong. Operasi adalah satu-satunya terapi definitive dari cedera komplit
ACL, tapi hal ini tidak perlu pada individu yang lebih tua yang tidak mengeluh
ketidakseimbangan lutut pada saat aktivitas rekreasional maupun bekerja. Pada
umumnya, pasien yang lebih muda dan pasien dengan tingkat aktivitas tinggi
dapat dipertimbangkan untuk rekonstruksi ACL.Operasi referral tidak diperlukan
pada periode awal post-cedera tetapi harus difasilitasi secepat mungkin setelah
jelas bahwa seorang individu memerlukan operasi sebagai terapi definitive. Ketika
cedera yang berhubungan muncul khususnya jika hal ini menimbulkan gejala
mekanikal atau pada kasus atlet kompetitif elite, penatalksanaan operasi harus
dipertimbangkan sesegera mungkin setelah fase inflamsi awal terlewati.

Rehabilitasi
Rehabilitasi dari robekan ACL dimulai sesegera mungkin setelah cedera
timbul. Manajemen rehabilitasi berfokus pada pengurangan nyeri, pelatihan
pergerakan penuh, perbaikan deficit kekuatan otot, mencapai keseimbangan otot,

dan mengembalikan pasien pada aktivitas penuh dan bebas dari gejala. Program
rehabilitasi terdiri dari fase akut, dase pemulihan, dan fase fungsional.

Cedera ACL
Pasien dengan lutut defisiensi ACL yang belum direkonstruksi mungkin
timbul cedera akut ataupun cedera berulang. Pada cedera lutut akut,perlindungan
dari struktur kedua sangatlah penting dan kemajuan rehabilitasi akan bergantung
paada perluasan kerusakan pada struktur lutut lainnya. Penggunaan dini latihan
rantai kinetic tertutup pada segmen distal dari ekstremitas difleksikan, dan segmen
proximal harus bebas bergerak, secara fungsional telah menimbulkan kemajuan
dalam kekuatan. Latihan ini menimbulkan penguatan otot quadriceps dengan cokontraksi otot hamstring yang akan menurunkan ketegangan pada ACL dan
meminimalisasi reaksi penekanan pada sendi patellofemoralis. Individu dengan
ketidakseimbangan lutut berulang akan mendapat keuntungan dari percobaan
rehabilitasi. Perbaikan dari kelemahan otot, kekurangan proprioseptif, pelatihan
fungsional dikombinasi dengan modifikasi aktivitas dapat menurunkan episode
ketidakstabilan dan harus dipertimbangkan sebelum opereasi pada individu
dengan tingkat aktivitas fisik rendah.

Fase akut
Fase ini berfokus pada penatalaksanaan cedera jaringan lunak, tanda klinis
dan gejala. Tujuan pada fase ini untuk membiarkan penyembuhan jaringan
sekaligus mengurangi nyeri dan peradangan. Pembentukan kembali luas gerak
sendi agar tidak nyeri,

pencegahan atropi otot, dan pemeliharaan kebugaran

secara umum harus ditujukan pada fase ini yang berlangsung selama 1 hingga 2
minggu.

Fase Pemulihan
Fase ini berfokus pada pengembalian pergerakan pasif dan aktif dari lutut.
Peningkatan fungsi otot lutut, mencapai keseimbangan normal dari otot hamstring
dan quadriceps, bekerja pada propriocepsi. Deficit biomekanikal dan fungsional,

termasuk infleksibelitas dan ketidakmampuan untuk berlari atau melompat harus


mulai dialamatkan. Fase ini berlangsung 2 hingga 8 minggu setelah timbulnya
cedera.

Fase Fungsional
Pada fase ini berfokus pada peningkatan kekuatan dan ketahanan dari
ekstremitas bawah sekaligus meningkatkan kontrol neuromuscular. Rehabilitasi
pada tahap ini bekerja pada seluruh rantai kinetic, bertujuan deficit fungsional
yang spesifik. Program ini harus dilanjutkan dengan tujuan utama yaitu
pencegahan dari cedera berulang dan mengembalikan pada perlombaan secara
aman. Fase ini berlangsung selama 8 minggu hingga 6 bulan setelah timbulnya
cedera.
Jika pasien melengkapi program rehabilitasi dan berkeinginan untuk
memodifikasi tingkat aktivitas, termasuk membatsi aktivitas olahraga yang
melibatkan maneuver memotong dan berputar, prognosisfungsional untuk
aktivitas sehari-hari baik. Pada kelompok pasien ini, penyanggah fungsional
mungkin digunakan pada partispasi olahraga yang melibatkan penyangga ini dapat
mengurangi gejala ketidakstabilan pada individu yang menggunakannya dan
untuk mengurangi beberapa ketegangan di ACL dalam kegiatan yang ringan.

Tabel 5.5 Rehabilitasi Robekan Ligament Cruciate Anterior


Fase akut

Fase Pemulihan

Penatalaksananan

Modalitas

Modalitas

: Fleksibitas

Intervensi

Cryotherapy,

pemanasan

umum,

stimulasi elektrik

superficial,

kekuatan.

aktif pemanasan

Kekuatan

Gerakan

Fase Fungsional

latihan

dan

fleksi dan ekstensi ultrasound,

ketahan

Latihan statis otot stimulasi elketrikal

gerakan diagonal

hamstring

dan Luas gerak sendi, dan

multiplanar

quadriceps

latihan fleksibiltas ekstremitas

Kondisonalisasi

dinamik ektremitas bawah.

pada

umum

dengan bawah

Control

Latihan berenang Latihan


dan sepeda

rantai neuromuscular,

kinetic

tertutup, latihan

Ambulasi dengan latihan


crutches

sendi propriosepsi.

multiplanar

Kembali

ekstremitas bawah

melakukan

Kondisionalisasi

olahraga spesifik

umu

dengan

Secara

bertahap menggunakan

kembali

penyanggah

melakukan

fungsional.

pelatihan olahraga
khusus

dengan

penyanggah
fungsional.

Criteria
advancement

of Pengurangan

Gerakan

bebas Tidak ada gejala

nyeri

nyeri sepenuhnya.

Memulihkan

Kekuatan simetris Gerakan mekanik

gerakan

bebas pada

dari nyeri.
kontrol

hamstring

Toleransi

otot berlari

Koreksi

normal.
dari Integrasi

pada ketidakfleksibitas

laithan kekuatan.

Hilangnya
beberapa
dan

rantai

kinetic normal.
Melengkapi

gejala, program olahraga


mulai khusus.

berpartispasi pada
olahraga.

dan

dan melompat secara

adekuat quadriceps.

dari otot lutut.

klinis.

Rehabilitasi Pasca Operasi


Pada pasien calon rekonstruksi ACL, rehabilitasi harus dimulai sebelum
operasi. Pengurangan rasa sakit dan bengkak serta pencapaian berbagai gerak
harus dicoba sebelum rekonstruksi. Setelah operasi, rehabilitasi harus dimulai
pada hari pertama pasca operasi. Penggunaan awal cryotherapy, kompresi, dan
elevasi telah terbukti mengurangi pembengkakan pasca operasi. Hal ini penting
untuk mencapai ekstensi penuh dan untuk memulai fleksi aktif di awal beberapa
hari pertama setelah operasi. Berat bantalan dengan tongkat penyangga biasanya
dimulai segera setelah operation.
Perkembangan yang cepat dari program rehabilitasi telah mengurangi
komplikasi yang biasanya berhubungan dengan operasi lutut ACL, yang meliputi
kekakuan, atrofi otot, kelemahan otot, dan nyeri patellofemoral. Pada periode
rehabilitasi awal, tindakan pencegahan khusus harus diambil untuk menghindari
ketegangan yang berlebihan dari ligamen yang direkonstruksi dengan terminal (0
sampai 30 derajat)berupa latihan quadriceps ekstensi-menahan. Penggunaan awal
latihan rantai kinetik tertutup, seperti mini-squats, berjalan, dan leg press, telah
memungkinkan memperkuat quadriceps dengan toleransi gaya geser dari graft
(tabel 55-2). Latihan aquatic memungkinkan peningkatan dari weight bearing
dengan manfaat dari efek apung dapat dimulai segera setelah fraktur di remove.
Setiap individu akan bervariasi dalam tingkat di mana mereka mencapai
gerakan penuh, kekuatan normal, proprioseptif normal, dan keterampilan yang
cukup dalam olahraga tertentu.

Pencapaian tujuan ini harus dicapai sebelum

individu diperbolehkan untuk kembali ke kegiatan olahraga. Dengan program


rehabilitasi yang dipercepat, pasien biasanya kembali ke aktivitas dalam 6 bulan
setelah operasi. Program rehabilitasi yang dipercepat ini tidak meningkatkan
kemungkinan kelemahan lutut anterior dibandingkan dengan rehabilitasi yang
tidak dipercepat, dan keduanya rehabilitasi ini memiliki efek yang sama dalam hal
penilaian klinis, kepuasan pasien, dan kinerja fungsional.

10

Prosedur
Aspirasi sendi lutut dapat dilakukan dalam 24 sampai 48 jam setelah
cedera untuk mendokumentasikan hemarthrosis dan untuk membantu dalam
diagnosis. Jika pada individu yang terluka tidak mengalami kemajuan dalam
pengobatan karena pembengkakan dan keterbatasan yang signifikan dari gerak,
aspirasi dapat dilakukan pada tahap akhir dari pengobatan untuk meredakan
gejala. Dalam kondisi steril, dengan 25-gauge, jarum steril sekali pakai 1-inci,
dilakukan infiltrasi pada kulit dengan bius lokal sekitar 2 cm proksimal dan lateral
(atau medial) ke patela. Ikuti injeksi ini dengan suntikan kedua dengan
menggunakan 18-gauge, jarum 1 inchi ke dalam kapsul sendi. Aspirasi cairan
dan perhatikan warna dan konsistensi. Tanpa penarikan jarum, lepas jarum suntik
dan kosongkan. Ulangi ini sampai semua cairan diaspirasi. Gunakan satu tangan
untuk menekan daerah suprapatellar untuk memastikan semua cairan keluar
sebelum prosedur selesai.
Perawatan pasca Injeksi termasuk icing pada lutut selama 15 menit setelah
injeksi dan kemudian selama 20 menit dua atau tiga kali sehari selama beberapa
hari.
Tabel 55-2 Rehabilitasi Post Pembedahan Pada Anterior Cruciate Ligament
Tear
Fase Akut
Intervens

i Terapi

Fase Pemulihan

Stimulasi

Fase Fungsional

Stimulasi

Latihan

dengan

dengan

fleksibilitas

modalitas

modalities

umum,

cryotherapy

terapi panas

program

electrical

elektrik

latihan

Fleksi aktif yang

superfisial,

penguatan

dibantu, ekstensi

pulsed

pasif

ultrasound

dan

Latihan

ketahanan

Latihan

statis

fleksi

otot quadriceps

11

dan

Kekuatan

dari

(90

to

45

ekstensi aktif

ekstremitas

Penguatan

bawah:

secara

gerakan-

hamstring,

dinamis otot

gerakan

Latihan

quadriceps

diagonal dan

meningkatkan

(90

kelurusan kaki

degrees),

dengan pipa,

Kondisi umum:

otot

light weghts,

ergometer

hamstring

bola,

Latihan

pliometrik

degrees),
dynamis

otot

ekstremitas atas

to

multiplanar

30

Latihan

Ambulasi

tertutup

dengan tongkat

kinetic chain

kontrol

latihan sendi

propioseptif

multiplanar

saraf

ekstremitas

otot

bawah

berpartisipasi

umum:

pada

latihan

olahraga

bersepeda,

spesifik

Tambahan

aquatic.

penggunaan

Latihan

brace

olahraga

fungsional

spesifik
secara
bertahap
dengan
tambahan
penggunaan

12

Kembali

Kondisi

berenang,

dan

brace
fungsional
Kriteria

kemajua
n Terapi

Berkurangnya
nyeri

maksimal,

Perbaikan

hiperekstensi

ada

gejala klinis

Berlari

dan

melompat

Kuat

secara

ekstensi

simetris pada

normal

maksimal

otot

fleksi

pada 90 derajat,

Kontrol
kaki

otot
secara

Latihan toleransi
kekuatan

Normal

quadriceps

integrasi dari

dan

kinetic chain

otot

hamstring

adekuat

Tidk

kaki

gerakan

Fleksi

Komplet dari

Adanya

program

peningkatan

olahraga

dari

spesifik

bebas

dari
gejala/keluha
n

pada

program
olahraga
spesifik

Pembedahan
Pembedahan diindikasikan pada pasien dengan episode berulang dari
ketidakstabilan dalam kegiatan hidup sehari-hari dan pada kebugaran atlet denagn
gejalanya dan tidak ingin mengubah kegiatan mereka. Pembedahan ditunjukkan
pada atlet dengan kompetitif yang tinggi.

Pilihan prosedur pembedahan adalah autograft arthroscopically dengan endoskopi


penuh atau teknik dua sayatan, dengan menggunakan graft cangkok tulangtendon-tulang patella atau empat graft tendon hamstring. Perdebatan terjadi antara
13

sumber graft dan fiksasi, dan meskipun keduanya tampaknya cukup sama dalam
studi jangka panjang, mereka masing-masing memiliki pro dan kontra. Kelompok
hamstring tendon cenderung pulih lebih cepat pada awalnya dan memiliki sedikit
rasa sakit dan pembengkakan. Namun, meskipun kekuatan graft baik. fiksasi graft
serta penggabungan graft tulang tampaknya lebih lemah daripada dengan tendon
patela.
Kelompok tendon patela, di sisi lain, memiliki fiksasi yang lebih baik dan
penggabungan karena penyembuhan tulang dengan tulang yang lebih cepat dan
bersifatbiomechanik seperti satu unit; jumlah ini memberikan hasil yang lebih
berulang, menjadikan graft pilihan untuk atlet dengan kompetitif tinggi.
Kelemahan dari penggunaannya adalah bahwa ia cenderung awalnya untuk
menghasilkan lebih banyak morbiditas, seperti pembengkakan, nyeri, dan
kesulitan dalam bergerak. Ini juga memiliki insiden yang lebih tinggi dari nyeri
patellofemoral pasca operasi. Graft lain yang digunakan adalah tendon quadricep
dan tendon patela kontralateral. Material tendon allograft, seperti patela tendon
tibialis dan tendon anterior, juga telah mendapatkan apresiasi. Keuntungan dari ini
adalah jelas dan sedikitnya donor yang mengalami morbiditas. Kerugiannya
adalah kemungkinan penularan penyakit, penggabungan graft lambat, potensi
peregangan dari graft, dan biaya yang lebih tinggi. Sebuah modalitas baru dari
rekonstruksi,yaitu rekonstruksi anatomi ACL, telah dipopulerkan oleh Fu dkk.
Pada

kenyataanya,

percobaan

ini

untuk

mengatasi

rekonstruksi

kedua

anteromedial dan bundel posterolateral dari ACL. Fu dkk telah menunjukkan


secara in vitro bahwa rekonstruksi anatomi ACL double-bundel lebih baik dalam
mengontrol pentingny aspek ketidakstabilan rotasi dari defisiensi ACL; Namun,
secara in vivo, belum terbukti lebih baik dari rekonstruksi ACL tunggal bundel
standar.

KOMPLIKASI PENYAKIT
Cedera ACL yang tidak diobati dapat menyebabkan perubahan dalam
sendi lutut yang mungkin berkaitan dengan perubahan signifikan dalam gaya
hidup pasien. Para pasien yang terus berpartisipasi dalam olah raga berat memiliki

14

episode berulang sekunder kelemahan anterior dan ketidakstabilan rotasi. Ini


dapat menyebabkan kerusakan struktur yang terkait, seperti meniskus dan
hambatan sekunder lainnya. Pada sejumlah besar pasien ruang sendinya
menyempit dengan bukti dari osteoarthritis. Pada

baru-baru ini diberikan

pencegahan awal atau berulang pada cedera ACL dengan memodifikasi faktor
risiko

neuromuskuler

seperti

kelemahan

otot

dan

ketidakseimbangan,

memperbaiki defisit proprioseptif, dan bekerja pada teknik olahraga-spesifik


seperti menggunting dan melompat. Program-program ini menggabungkan
penguatan, keseimbangan, dan latihan plyometrics dengan peningkatan stabilitas
dinamis dan pengurangan insiden cedera.

KOMPLIKASI PENGOBATAN
Komplikasi Obat termasuk pada lambung, jantung dan toksisitas ginjal
dengan pengobatan anti inflamasi non steroid. Suntikan membawa risiko infeksi
(pada sekitar 1% sampai 2% dari kasus). Pembedahan memiliki risiko trombosis
vena dan komplikasi dari anestesi. Fibrous Ankilosis dan kehilangan gerak yang
signifikan

dapat

perkembangan

dilihat

pada

rehabilitasi

tahap

kecil

dari

terapi

atau

awal

sekunder

kepatuhan

untuk
patient.

Penempatan graft yang buruk dan fiksasi dapat menyebabkan hilangnya gerak dan
kegagalan graft berikutnya dengan ketidakstabilan berulang. Pada pasien dimana
lesi chondral atau meniscal taers diidentifikasi pada saat operasi, gejala sisa
jangka panjang meliputi arthritis bahkan setelah rekonstruksi.

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Hernandez L, Micheo W, Amy E. Rehabilitation update for the anterior


cruciate ligament injured patient: current concepts. Sol Asoc Med P R
2006;1:62-72.
2. Arendt E, Dick R. Knee injury patterns among men and women in
collegiate basketball and soccer: NCAA data and review of literature.
Am J Sports Med 1995;23:694-701.
3. Utukuri MM, Somayaji HS, Khanduja V, et al. Update on paediatric
ACL injuries. Knee 2006;13:345-352.
4. Huston LJ, Greenfield ML, Wotjys EM. Anterior cruciate ligament
injuries in the female athlete: potential risk factors. Clin Orthop
2002;372:50-63.
5. Thore Z, Petersen W, Fu F. Anatomy of the anterior cruciate ligament: a
review. Oper Tech Orthop 2005;15:20-28.
6. Amis A, Bull A, Denny T, et al. Biomechanics of rotational instability
and anterior cruciate reconstruction. Oper Tech Orthop 2005;15:29-35.
7. Yasuda K, Kondo E, Ichiyama H, et al. Surgical and biomechanical
concepts of anatomic ACL reconstruction. Oper Tech Orthop
2005;15:96-102.
8. Yagi M, Kuroda R, Yoshiya S, et al. Anterior cruciate ligament
reconstruction: the Japanese experience. Oper Tech Orthop 2005;15:116122.
9. Fithian DC, Paxton LW, Goltz DH. Fate of the anterior cruciate ligamentinjured knee. Orthop Clin North Am 2002;33:621-636.
10. O'Shea KJ, Murphy KP, Heekin D, Hernzwurm P1. The diagnostic
accuracy of history, physical examination, and radiographs in the
evaluation of traumatic knee disorders. Am J Sports Sted 1996;24:164167.
11. Boden BP, Griffin LY, Garrett WE. Etiology and prevention of noncontact ACL injury. Phys Sports Med 2000;28:53-62.

16

12. Fu F, Bennett CH, Ma B, et al. Current trends in anterior cruciate


ligament reconstruction. Part 2. Operative procedures and clinical
correlations. Am J Sports Med 2000;28:124-130_
13. Shelbourne KD, Foulk DA. Timing of surgery in acute anterior

aik ciate ligament tears on the return of quadriceps muscle


strength after reconstruction using an autogenous patellar tendon
gait Am J Sports Med 1995;23:686-689.
14. Escamilla RE Fleisig GS, Zheng N, et al. Biomechanics of the knee during
closed kinetic chain and open kinetic chain exercises. tiled Sci Sports
Exert 1998;30356-569
15. Daniel DM, Stone MI, Dobsi-Nn BE ct al. Fate of the AC1 -injured patient
a prospective outcome study Am I Sports Med 1994;22: 632-644.
16. Arnold T. She!bourne KD. A perioperative rehabilitation program for
,interior cniciate ligament surgery. Phys Sports Med 2000,28:31-49.
17. Bevnnon BD, 1,1h BS, Johnson RI, et al. Rehabilitation after ante-nor
cruciate ligament reconstruction: a prospective, randomized. double-blind
comparison of programs administered over 2 different time intervals. Am
1 Sports Med 2005;33:347-359.
18. Cha P, Chhabra A, Hamer C. Single bundle anterior cruciate ligament
reconstruction using the medial portal technique. Oper Tech Orthop
2005;15:89-95.
19. Herrington L, Wrapson C, Matthews M, et al. Anterior cruciate ligament
reconstruction, hamstrings versus BTB patella grafts: a systematic
literature review of outcome from surgery. Knee 2005;12:41-50.
20. Roe I, Pinczewski LA. Ras it V), et al. A 7-year follow-up of pa Cella
tendon and hamstring tendon grafts for arthroscopic anterior (nit rate
ligament reconstruction differences and similarities. Am Sports Med
2005,33 1337.1345
21. Freedman KR, D'Amato MI, Nedeff DD, et al. Arthroscopic anterior
ruciate ligament reconstruction. a metaanalysis comparing patellar tendon
and hamstring tendon autografts. Am 1 Sports Med 2003,31:2-11.

17

22. Foster MC, Foster 1W Patella tendon or roue strand hamstring A


systematic review of autografts for ACL recon.struction. Knee
2005;12:225-230.
23. Aglietti P, Cuomo P, Giron F, Boerger T Double bundle ACL, reconstruction. Oper Tech Orthop 2005;15.111-115.
24. Wilk KE, Reinhold MM, Hooks TR. Recent advances in the rehabilitation
of isolated and combined anterior cruciate ligament injuries. Orthop Clin
North Am 2003;34:107-137.
25. Brown CH, Carson EW Revision anterior cruciate ligament surgery. Clin
Sports Med 1999;18:109-171.

18