Anda di halaman 1dari 23

Anemia Aplastik

Dr. George Widjaja


Fakultas Kedokteran
Universitas Tarumanegara

Suatu kondisi dimana terdapat


pansitopeni dalam darah perifer,
disebabkan berkurang atau tidak ada
pembuatan sel darah dalam sumsum
tulang
Anemia aplastik ditandai oleh:
Pansitopeni perifer
Sumsum tulang hiposelular/aplasi:
granulopitik sistem, eritropoetik,
trombopoetik

Insiden anemia aplastik:


o Jarang pd 1 thn pertama
o Angka kejadian meningkat secara
progresif sampai umur 20 thn
o 5 kasus/ 1 juta penduduk/tahun
o Insiden meningkat pada usia 25
tahun dan >65 tahun
o Meningkat 10 x lipat pada ras
oriental

Derajat Anemia Aplastik


Severe

Very
severe

2 of the
following

Neutrophils<
0,5X109/L
Platelets<
20x109/L
Reticulocytes<
1%
Neutrophils<
0,2x109/L
AND infection
present

Causes (1)
1.
-

Inevitable
Dosis radiasi > 1,5 Gy
> 8 Gy selalu fatal bila tidak diberikan pelindung
Chemotherapy: dosis tinggi busulfan
SLE
Kehamilan
Transfussion Associated GVHD
Eosinophilic Fasciitis- ditandai dengan indurasi yang
sangat nyeri pd jaringan subkutan
Haemolytic PNH
Pasien muda yg terdiagnosis PNH pd akhirnya dapat
mengalami aplasia sumsum tulang dan pansitopenia.
Mutasi pd gen PIGA (pd penderita PNH) berproliferasi
dan membentuk klon dengan membran protein yg
defisiensi glicosylphosphatidilinositol & dpt terdeteksi
dg sitometri flurosent pd sel2 granulosit. Sekitar
kasus anemia aplastik terdeteksi adanya klon2
defisiensi ini.

Causes (2)
2. Hereditary
- Sindroma Fanconi- ditandai dengan
abnormalitas kulit, wajah, musculoskeletal
system dan urogenital system. Kegagalan
sumsum tulang biasanya tertunda sampai
dewasa muda
- Dyskeratosis kongenita
Ditandai dengan mucous membran
leukoplakia, dystrophic nails, reticular
hyperpigmentation & anemia aplastik pd
masa kanak-kanak
- Shwachman- Diamond Syndrome
Kegagalan sumsum tulang yang disertai
insufisiensi pankreas dan malabsorbsi

Sindroma Fanconi

Fanconis anemia, an autosomal


recessive disorder,
manifests as congenital developmental
anomalies, progressive
pancytopenia, and an increased risk of
malignancy. Chromosomes in
Fanconis anemia are peculiarly
susceptible to DNA cross-linking
agents, the basis for a diagnostic
assay. Patients with Fanconis anemia
typically have short stature, cafe au
lait spots, and anomalies involving
the thumb, radius, and genitourinary
tract. At least eight different genetic
defects have been defined by
complementation analysis. The
most common, type A Fanconis
anemia, is due to a mutation in
FANCA. The Fanconis anemia genes
play a role in the cellular response
to DNA damage, a response that
includes BRCA1, ATM, and
NBS1.

Fanconis anemia
- Familial Bone Marrow
Failure terjadi dalam 10
thn pertama
- Terjadi dgn kelainan lain:
Pigmentasi kulit
Hipoplasia dr ginjal atau
lien
Ibu jari & radius hipoplasi
Microcephaly
Mental retarded

Causes (3)
3. Idiosyncratic
- Chronic benzene ( bahan pelarut,
metabolitnya ada pd makanan sehari-hari
dan bensin bebas timbal) exposure
- Carbon tetrachlorid (CCL4)
- Insektisida (DDT)
- Drug induced: emas, chloramphenicol,
phenylbutazone,NSAIDs, carbamazepine,
Phenytoin, mesalazine, sulfonamid,
thyrostatic drugs, penicillamine,
allopurinol
- Genetic predisposition for Chloramphenicol

Causes (4)
4. Post viral
- Parvoviral infections; pada umumnya menyebabkan Red
Cell Aplasia tapi bisa juga melibatkan seluruh komponen
darah
- Akan sangat fatal bila terjadi bersamaan dengan anemia
hemolitik kronik, e.g: aplastic sickle crisis
- Hepatitis virus
Infeksi virus hepatitis yg mjd anemia aplastik 5%;
biasanya terjadi pd penderita laki-laki muda yg sembuh dr
hepatitis 1-2 bulan lebih cepat; pansitopenia menjadi
sangat berat. Tipe virus hepatitis non A, non B, non C,
non G
- Virus Epstein-Barr dan CytoMegaloVirus (CMV)
5. Idiopathic

Patophysiology
A. Kelainan kuantitatif atau
kualitatif dari dari stem cell
B. Supresi imunologic
hematopoesis
C. Defective hematopoetic
microenvironment
D. Deficiency of hematopoetic
stimulatory substances

Gambaran klinik
1. Perdarahan:
- Krn trombositopeni (petechiae,
ekimosis, epistaksis, dll)
- Berat ringannya perdarahan
tergantung trombositopeni; bila <
80.000/mm3 berat perdarahannya.
- Infeksi memperberat
trombositopeninya

2. Lemah, capai karena anemia


3. Infeksi karena leukopeni/
neutropeni. Paling sering: Upper
Respiratory Infection (URI);
infeksi jamur

Laboratorium
A. Darah tepi
1. Anemia:
- Normositer normokrom
- Makrositosis bisa ada
- Retikulosit < 5%
2. Neutropeni: neutrofil absolut
< 500/mm3) bahaya sepsis

3. Trombositopeni
- trombosit < 150.000/mm3
4. Hapusan darah tepi
Eritrosit morfologi normal;
Granulosit & trombosit kurang/ sedikit
5. Serum Iron ( Fe serum)
6. Sumsum tulang
Aspirasi: hiposeluler, banyak limfosit,
plasma sel; granulopesis, eritropesis,
trombopoesis hipoplastis/ aplastis
Biopsi: hiposeluler, dg banyak lemak.
kadang-kadang tempat- tempat yang
hiperseluler
perlu aspirasi dan biopsi ulang.

Terapi
Tujuan:
1. Identifikasi dan menghilangkan
faktor etiologinya
2. Terapi suportif dg komponen darah
dan pengobatan sendiri
3. Terapi spesifik utk mengembalikan
hemopoesis normal

Initial Management of Aplastic Anemia


Discontinue any potential offending drug and use
an alternative class of agents if essential
Anemia: transfusion of leukocyte-depleted red cells
as required for severe anemia
Severe thrombocytopenia or thrombocytopenic
bleeding: use -aminocaproic acid; transfusion of
platelets as required
Infectious precautions if severe neutropenia
Infection: cultures, broad-spectrum antibiotics if
specific organism not identified, G-CSF in dire
cases; if low body weight and profound infection
(e.g., gram-negative bacteria, fungus) are present,
consider granulocyte transfusion from a G-CSF
pretreated donor
Assessment for allogeneic stem cell
transplantation: histocompatibility testing of
patient, parents, and siblings

Ad.2
-

Androgen: untuk moderately severe aplasia, nandrolone


decanoate 400 mg IM per minggu
- Cangkok sumsum tulang (Bone Marrow Transplantation)
Jarang dilakukan karena banyak kegagalan karena:
GVHD (Graft Versus Host Disease) dan infeksi.
GVHD: akut dan kronis.Hanya untuk kasus berat dan
sedang
- Anti thymocyte Globulin (ATG) &Anti Lymphocyte
globulin (ALG) bekerja dengan mengurangi cytotoxic T
cells. Dosis ATG: 15-40 mg/kg, 4-10 hari. ES: fever + chills
pd hari pertama. Pemberian methylprednisolone 1 mg/day
mengurangi reaksi ATG therapy.
Efek samping: panas, menggigil, Rash: eritematosus,
urtikaria, hipertensi, trombositopeni temporer
High Dose glukokortikoid
Efek: marrow recovery. Yg dipakai: methilprednisolone
dosis 500-1000 mg, 3-14 hari.
Efek samping: hiperglikemia, glukosuria,gangguan
elektrolit, iritasi lambung, psikosis, resiko infeksi
meningkat, aseptic necrosis pd pinggul

Ad.2 (continued)
Management neutropenia
kalau rendah sekali masuk RS. Dianggap
neutropenia jika < 0,75X109/liter.
Pemberian antibiotik tidak perlu menunggu
dari hasil kultur. Antibiotik yang diberkan
sebelum hasil kultur keluar adalah
ceftazidime atau kombinasi
aminoglikosida, cephalosporine,
semisyntetis pensilin.
Cyclosporine
oral 10-12 mg/kg/hari, 4-6 bulan.
Harus minum banyak, efek samping lainnya
hipertensi, gangguan neurologic. Respon
terlihat setelah 3 bulan,

Ad.2 (continued)
High dose cyclophosphamide 45 mg/kg/hari
IV, 4 hari
Sitokin (GMCSF)
tidak digunakan untuk terapi utama.
Biasanya untuk episode berat. Dosis
GMCSF: 5 gr/kg SC.
Kombinasi imunoterapi
ATG 40 mg/kg/hari, 4 hari + cyclosporine 1012 mg/kg/hsri selama 6 bulan +
methlprednisolone 1 mg/ kg/hari selama 2
ninggu. Penambahan cyclosporine
meningkatkan survival rates sampai 70 %.

Diagnosa Banding
Pansitopeni:
Sumsum tulang aspirasi/ biopsi
dapat membedakan dengan penyakit
lain
Overall survival rate:
25% survive 4 bulan
25% survive 4-12 bulan
35% survive > 1 tahun
10-20% spontaneously recover partial
atau komplit

Overall mortality: 70%


Median survival: 12 bulan
Faktor prognostik:
- Etiologi:
kongenital: fatal
hepatitis: mortalitas 60% 2 bulan
setelah diagnosis
Obat, toksin: prognosis lebih baik
Umur, jenis kelamin tidak jelas ada
hubungan dengan prognosa

Kriteria anemia aplastik


berat
Darah: neutrofil < 500/mm3
trombosit < 20.000/mm3
retikulosit < 1%
Sumsum tulang:
- Hiposeluler berat
- Hiposeluler sedang dengan 30%
sel hemopoetik