Anda di halaman 1dari 22

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sampai saat ini, kanker ovarium dikenal sebagai silent killer karena biasanya
tidak ditemukan gejala apapun sampai diketahui telah menyebar ke bagian tubuh lain.
Namun sebenarnya bukti baru menunjukkan bahwa kebanyakan wanita mungkin
memiliki gejala bahkan sejak tahap awal kanker ini. Jika dideteksi sedini mungkin,
kanker ini bisa diatasi. Deteksi dini penting; masih, hanya sekitar 20 persen kanker
ovarium ditemukan sebelum pertumbuhan tumor telah menyebar di luar ovarium. Jika
dideteksi sedini mungkin harapan hidup jauh lebih tinggi ketimbang ketika kanker
terlanjur menyebar ke luar ovarium. Angka kejadian kanker ovarium ini kira-kira 20%
dari semua keganaan alat reproduksi wanita. Insiden rata-rata dari semua jenis
diperkirakan 15 kasus baru per 100.000 populasi wanita setahunnya. Menurut data
statistik American Cancer Society insiden kanker ovarium sekitar 4 % dari seluruh
keganasan pada wanita dan menempati peringkat kelima penyebab kematian akibat
kanker, diperkirakan pada tahun 2003 akan ditemukan 25.400 kasus baru dan
menyebabkan kematian sebesar 14.300, dimana angka kematian ini tidak banyak berubah
sejak 50 tahun yang lalu. Kanker epitel ovarium atau dikenal dengan kanker indung telur
yang berasal dari sel epitel merupakan 90% kasus dari seluruh kanker indung telur.
Kanker indung telur merupakan penyebab kematian ke-5 terbanyak di Amerika Serikat
dan merupakan salah satu dari 7 keganasan tersering di seluruh dunia. Kanker indung
telur memiliki angka kematian yang tinggi, dari 23.100 kasus baru kanker indung telur,
sekitar

14.000

atau

separuh

lebih

wanita

meninggal

karena

penyakit

ini.

Hampir 70 % kanker ovarium epitelial tidak terdiagnosis sampai keadaan stadium lanjut,
1

menyebar dalam rongga abdomen atas (stadium III) atau lebih luas (stadium IV) dengan
harapan hidup selama 5 tahun hanya sekitar 1520%, sedangkan harapan hidup stadium I
dan II diperkirakan dapat mencapai 90% dan 70%. Penyebab pasti karsinoma ovarium
belum diketahui namun multifaktorial. Resiko berkembangnya karsinoma ovarium
berkaitan dengan lingkungan, endokrin, dan factor genetic. Faktor-faktor lingkungan
yang berkaitan dengan kanker ovarium epithelial terus menjadi subjek perdebatan dan
penelitian. Insidens tertinggi terdapat di negeri barat. Kebiasaan makan, kopi, dan
merokok, adanya asbestos dalam lingkungan, dan penggunaan bedak talek pada daerah
vagina, semua itu dianggap mungkin menyebabkan kanker. Tidak ditemukan hubungan
antara factor-faktor itu dengan perkembangan ovarium. Factor resiko endokrin untuk
kanker ovarium adalah perempuan yang nullipara, menarke dini, menopause yang
lambat, kehamilan pertama yang lambat dan tidak pernah menyusui. Perempuan dengan
kanker payudara memiliki resiko dua kali lebih besar untuk berkembangnya kanker
ovarium. Penggunaan kontrasepsi oral tidak meningkatkanh resiko dan mungkin dapat
mencegah. Terapi penggantian estrogen (ERT) pasca menopause untuk 10 tahun atau
lebih berkaitan dengan peningkatan kematian akibat kanker ovarium (Rodriguest et al,
2001). Gen-gen supresor tumor seperti BRCA-1 dan BRCA-2 telah memperlihatkan
peranan penting pada beberapa keluarga. Kanker ovarium herediter yang dominan
autosomal dengan variasi penetrasi telah ditunjukkan dengan keluarga yang terdapat
kanker ovarium. Bila terdapat dua atau lebih hubungan tingkat pertama yang menderita
kanker ovarium, seorang perempuan memiliki 50% kesempatan untuk menderita kanker
ovarium. Beberapa dokter menyarankan untuk melakukan ooforektomi profilaksis pada
perempuan usia 35 tahun dalam kelompok resiko tinggi ini. Karena angka kejadian

kanker ovarium cukup tinggi di Indonesia, maka diperlukan asuhan keperawatan yang
intensif. Oleh karena itu , penulis tertarik untuk mengangkat Asuhan keperawatan Klien
dengan Karsinoma Ovarium sebagai judul dalam penulisan makalah.

A. Pengertian
Kanker ovarium merupakan tumor dengan histiogenesis yang beranekaragam,
dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan sifatsifat histiologis maupun biologis yang beraneka ragam.
Terdapat pada usia peri menopause kira-kira 60%, dalam masa reproduksi 30%
dan 10% terpadat pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak (benigna), tidak
jelas jinak tapi juga tidak jelas / pasti ganas (borderline malignancy atau carcinoma of
low maligna potensial) dan jelas ganas (true malignant).
Kanker ovarium sebagian besar berbentuk kista berisi cairan maupun padat.
Kanker ovarium disebut sebagai silent killer. Karena ovarium terletak di bagian dalam
sehingga tidak mudah terdeteksi 70-80% kanker ovarium baru ditemukan pada stadium
lanjut dan telah menyebar (metastasis) kemana-mana.
B. Anatomi fisiologi ovary
Organ reproduksi wanita terdiri atas organ eksterna dan organ interna. Organ
interna berfungsi dalam kopulasi, sedangkan organ interna berfungsi dalam ovulasi,
sebagai tempat fertilisasi sel telur dan perpindahan blastosis, ovarium merupakan salah
satu organ reproduksi wanita, serta sebagai tempat implantasi; dapat dikatakan organ
interna berfungsi untuk pertumbuhan dan kelahiran janin.
Ovarium merupakan kelenjar berbentuk buah kenari terletak di kiri dan kanan
uterus, di bawah tuba uterine dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum
uterus. Setiap bulan folikel berkembang dan sebuah ovum dilepaskan pada saat kira-kira
pertengahan (hari ke-14) siklus menstruasi. Ovulasi yaitu pematangan folikel graaf dan

mengeluarkan ovum. Bila folikel graaf sobek, maka terjadi penggumpalan darah pada
ruang folikel.

Ovarium disebut juga indung telur, di dalam ovarium ini terdapat jaringan bulbus
dan tubulus yang menghasilkan telur (ovum) dan ovarium ini hanya terdapat pada wanita,
letaknya di dalam pelvis di kiri kanan uterus, membentuk, mengembang serta melepaskan
ovum dan menimbulkan sifat-sifat kewanitaan, misalnya : pelvis yang membesar,
timbulnya siklus menstruasi.
Bentuk ovarium bulat telur beratnya 5-6 kg, bagian dalam ovarium disebut
medulla ovary di buat di jaringan ikat, jaringan yang banyak mengandung kapiler darah
dan serabut kapiler saraf, bagian luar bernama korteks ovary, terdiri dari folikel-folikel
yaitu kantong-kantong kecil yang berdinding epithelium dan berisi ovum.
Kelenjar ovarika terdapat pada ovarium di samping kiri dan kanan uterus,
menghasilkan hormon estrogen dan progesterone. Hormon ini dapat mempengaruhi kerja
dan mempengaruhi sifat-sifat kewanitaan, misalnya panggul yang besar, panggul sempit
5

dan lain-lain. Apabila folikel de graaf sobek, maka terjadi penggumpalan darah di dalam
rongga folikel dan sel yang berwarna kuning yang berasal dari dinding folikel masuk
dalam gumpalan itu dan membentuk korpus luteum tumbuh terus sampai beberapa bulan
menjadi besar. Bila ovum tidak di buahi maka korpus luteum bertahan hanya sampai 1214 hari tepat sebelum masa menstruasi berikutnya, korpus luteum menjadi atropi.
Siklus menstruasi, perubahan yang terjadi di dalam ovarium dan uterus dimana
masa menstruasi berlangsung kira-kira 5 hari, selama masa ini epithelium permukaan
dinding uterus terlepas dan terjadi sedikit perdarahan.
Masa setelah menstruasi adalah masa perbaikan dan pertumbuhan yang
berlangsung 9 hari ketika selaput terlepas untuk diperbaharui, tahap ini dikendalikan olen
estrogen, sedangkan pengendalian estrogen dikendallikan oleh FSH (Folikel Stimulating
Hormon) terjadi pada hari ke-14, kemudian disusul 14 hari tahap sekretorik yang di
kendalikan oleh progesterone.

C. Etiologi
Menurut Hidayat (2009) Ovarium terletak di kedalaman rongga pelvis. Bila
timbul kanker, biasanya tanpa gejala pada awalnya sehingga sulit ditemukan, membuat
diagnosis tertunda. Ketika lesi berkembang dan timbul gejala, sering kali sudah bukan
stadium dini. Maka terdapat 60-70% pasien kanker ovarium saat didiagnosis sudah
terdapat metastasis di luar ovarium. Penyebab kanker ovarium hingga kini belum jelas,
tapi faktor lingkungan dan hormonal berperan penting dalam patogenesisnya. Akan tetapi
banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium, diantaranya: Ovarium

mempunyai 3 fungsi, yaitu : Memproduksi ovum, Memproduksi hormone estrogen,


Memproduksi hormone progesterone.
1. Hipotesis incessant ovulation, Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan
pada sel-sel epitel ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi.
Proses penyembuhan sel-sel epitel yang terganggu dapat menimbulkan proses
transformasi

menjadi

sel-sel

tumor.

Hipotesis

androgen,

Androgen

mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. Hal ini


didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor
androgen.

Dalam

percobaan

in-vitro,

androgen

dapat

menstimulasi

pertumbuhan epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium.


2. Hipotesis androgen, Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya
kanker ovarium. Hal ini didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel
ovarium mengandung reseptor androgen. Dalam percobaan in-vitro, androgen
dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan sel-sel kanker
ovarium.
D. Faktor Risiko
Nullipara dan wanita tanpa anak mempunyai dua kali resiko mendapat kanker
ovarium karena berhubungan dengan periode jangka lama ovulasi berulang. Menarche
awal dan menopause lambat meningkatkan resiko kanker ovarium. Sebaliknya,
menyusukan bayi mempunyai efek proteksi, mungkin dikarenakan amenorrhoea yang
lama. Ligasi tuba dan histerektomi mengurangi resiko mendapat kanker ovarium. Secara
keseluruhan insiden kanker ovarium meningkat seiring dengan bertambahnya usia hingga
pertengahan 70-an sebelum berkurang sedikit pada wanita berusia lebih dari 80 tahun.

Riwayat keluarga kanker ovarium pada kerabat derajat pertama yaitu ibu, anak
perempuan atau kakak, mempunyai tiga kali resiko mendapat kanker ovarium.

E. Patofisiologi
Tumor ganas ovarium diperkirakan sekitar 15-25% dari semua tumor ovarium.
Dapat ditemukan pada semua golongan umur, tetapi lebih sering pada usia 50 tahun ke
atas, pada masa reproduksi kira-kira separuh dari itu dan pada usia lebih muda jarang
ditemukan. Faktor predisposisi ialah tumor ovarium jinak. Pertumbuhan tumor diikuti
oleh infiltrasi, jaringan sekitar yang menyebabkan berbagai keluhan samar-samar.
Kecenderungan untuk melakukan implantasi dirongga perut merupakan ciri khas suatu
tumor ganas ovarium yang menghasilkan asites (Brunner dan Suddarth, 2002).
Banyak tumor ovarium tidak menunjukkan tanda dan gejala, terutama tumor
ovarium kecil. Sebagian tanda dan gejala akibat dari pertumbuhan, aktivitas hormonal
dan komplikasi tumor-tumor tersebut.

1. Akibat Pertumbuhan
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan pembesaran
perut, tekanan terhadap alat sekitarnya, disebabkan oleh besarnya tumor atau
posisinya dalam perut. Selain gangguan miksi, tekanan tumor dapat
mengakibatkan konstipasi, edema, tumor yang besar dapat mengakibatkan
tidak nafsu makan dan rasa sakit.
2. Aktivitas hormonal
Pada umumnya tumor ovarium tidak menganggu pola haid kecuali jika tumor
itu sendiri mengeluarkan hormon.
3. Akibat Komplikasi
a. Perdarahan ke dalam kista : Perdarahan biasanya sedikit, kalau tidak
sekonyong-konyong dalam jumlah banyak akan terjadi distensi dan
menimbulkan nyeri perut.
b. Torsi : Torsi atau putaran tangkai menyebabkan tarikan melalui
ligamentum infundibulo pelvikum terhadap peritonium parietal dan
menimbulkan rasa sakit.
c. Infeksi pada tumor
Infeksi pada tumor dapat terjadi bila di dekat tumor ada tumor kuman
patogen seperti appendicitis, divertikalitis, atau salpingitis akut.
d. Robekan dinding kista
Robekan pada kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka
perdarahan dapat sampai ke rongga peritonium dan menimbulkan rasa
nyeri terus menerus.

e. Perubahan keganasan
Dapat terjadi pada beberapa kista jinak, sehingga setelah tumor diangkat
perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis yang seksama terhadap
kemungkinan perubahan keganasan. Tumor ganas merupakan kumpulan
tumor dan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga (3)
dermoblast (ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan sifat histiologis
maupun biologis yang beraneka ragam, kira-kira 60% terdapat pada usia
peri menopause 30% dalam masa reproduksi dan 10% usia jauh lebih
muda. Tumor ovarium yang ganas, menyebar secara limfogen ke kelenjar
para aorta, medistinal dan supraclavikular. Untuk selanjutnya menyebar ke
alat-alat yang jauh terutama paru-paru, hati dan otak, obstruksi usus dan
ureter merupakan masalah yang sering menyertai penderita tumor ganas
ovarium.

F. Manifestasi Klinis
Kanker ovarium tidak menimbulkan gejala pada waktu yang lama. Gejala
umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik.
1. Stadium Awal
a. Gangguan haid
b. Konstipasi (pembesaran tumor ovarium menekan rectum)
c. Sering berkemih (tumor menekan vesika urinaria)
d. Nyeri spontan panggul (pembesaran ovarium)
e. Nyeri saat bersenggama (penekanan / peradangan daerah panggul)

10

f. Melepaskan hormon yang menyebabkan pertumbuhan berlebihan pada


lapisan rahim, pembesaran payudara atau peningkatan pertumbuhan
rambut.
2. Stadium Lanjut
a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut)
c. Perut membuncit
d. Kembung dan mual
e. Gangguan nafsu makan
f. Gangguan BAB dan BAK
g. Sesak nafas
h. Dyspepsia

Tahap-tahap kanker ovarium (Price, 2002) :


Stadium I

: Pertumbuhan terbatas pada ovarium

Stadium II

: Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan


perluas pelvis

Stadium III

: Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan

metastasis diluar pelvis atau nodus inguinal atau retroperitoneal positif


Stadium IV

: Pertumbuhan mencakup satu / kedua ovarium dengan metastasis


jauh.

11

Adapun pembagian stadium pada kanker ovari adalah (menurut FIGO) :

Stage I Pertumbuhan terbatas pada ovarium


o

Stage Ia Terbatas pada 1 ovarium, tidak ada asites, tidak ada tumor
pada permukaan luar ovarium, kapsul utuh (tidak pecah)

Stage Ib Terbatas pada kedua ovarium, tidak ada asites, tidak ada
tumor pada permukaan luar ovarium, kapsul utuh

Stage Ic Tumor pada stage Ia atau Ib dengan tumor pada permukaan


ovarium, kapsul rupture, asites dengan sel maligna di cavum
peritoneum.

Stage II Pertumbuhan melibatkan satu atau dua ovarium dengan perluasan


ke pelvis
o

Stage IIa Perluasan dan atau metastasis ke uterus atau tuba falopi

Stage IIb Perluasan ke jaringan pelvis lainnya.

Stage IIc Stage IIa atau IIb tapi dengan tumor pada perukaan
ovarium, kapsul rupture, asites dengan sel maligna di cavum
peritoneum

Stage III Tumor melibatkan satu atau dua ovarium, dengan implant
peritoneal di luar pelvis dan atau limfonodi retroperitoneal, inguinal,
metastasis hepar superficial dianggap sebagai stage III.
o

Stage IIIa Tumor besar terbatas pada pelvis, limfonodi negative, tapi
ada sel maligna pada permukaan peritoneum secara histologis.

Stage IIIb Adanya implant di luar pelvis, di permukaan peritoneum,


diameternya tidak melebihi 2 cm dan limfonodi negative.

12

Stage IIIc Implan tumor di abdominal lebih dari 2 cm dan atau


limfonodi positif.

Stage IV Metastasis jauh, efusi pleura. Adanya metastasis pada parenkim


hepar dianggap stage IV.

G. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :
1. Asites
Kanker ovarium dapat bermetastasis dengan invasi langsung ke struktur-struktur yang
berdekatan pada abdomen dan panggul dan melalui penyebaran benih tumor melalui
cairan peritoneal ke rongga abdomen dan rongga panggul.
2. Efusi Pleura
Dari abdomen, cairan yang mengandung sel-sel ganas melalui saluran limfe menuju
pleura.
Komplikasi lain yang dapat disebabkan pengobatan adalah :
a. Infertilitas adalah akibat dari pembedahan pada pasien menopause
b. Mual, muntah dan supresi sumsum tulang akibat kemoterapi. Dapat juga muncul
maaslah potensial ototoksik, nefroktoksik, neurotoksis
c. Penyakit berulang yang tidak terkontrol dikaitkan dengan obstruksi usus, asites fistula
dan edema ekstremitas bawah.

13

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Cancer Antigen 125 (CA 125)
Pada tahun 1981, Bast dan kawan - kawan pertama kali mendeskripsikan CA
125, suatu glikoprotein yang dikenal oleh antibodi monoklonal murine OC 125
sebagai penanda untuk keganasan epithelial. CA 125 merupakan penanda tumor yang
paling banyak digunakan untuk kanker ovarium. CA 125 merupakan antigen yang
diekspresi oleh epitel coelomic dan amnion sewaktu perkembangan janin. CA 125
tidak diekspresi oleh epitel ovarium normal pada orang dewasa atau janin. Pada orang
dewasa, CA 125 terdapat pada jaringan yang berasal dari coelomic dan epitel
mullerian. Selain pada kanker epitel ovarium primer, kadar CA 125 yang meningkat
juga terdapat pada keganasan lainnya seperti kanker pankreas, kanker payudara dan
paru paru dan pada kasus kasus jinak seperti endometriosis, kehamilan ektopik,
fibroids, arthritis dan penyakit ginjal.
Menurut Kenemans dan kawan kawan, batas kadar CA 125 ditentukan pada 35
U/ml dimana hanya 1% dari 888 wanita sehat mempunyai kadar yang melebihi angka
ini. Jika batas yang digunakan pada 65 U/ml, hanya 0,2% dari 888 wanita sehat
mempunyai kadar yang meningkat.27 Pada laporan uji klinis lainnya pada tabel 4
menunjukkan 0 5% wanita sehat mempunyai kadar lebih jika memakai 35 U/ml
sebagai batas normal dan 0 1,7% wanita sehat mempunyai kadar lebih jika memakai
65 U/ml. Kadar CA 125 yang tinggi melebihi 65 U/ml bisa terjadi pada kehamilan
trimester pertama dan sewaktu menstruasi. Pada saat mulainya menstruasi kadar CA
125 bisa meninggi secara tiba tiba menjadi kadar lebih dari 300 U/ml, kemungkinan
disebabkan mudah masuknya CA 125 dari epitel endometrial ke dalam sirkulasi

14

sewaktu menstruasi. Penjelasan lain mungkin menunjukkan bahwa mundurnya darah


menstruasi ke rongga abdomen, menyebabkan reaksi inflamasi lokal dan
meningkatnya CA 125. Test serum CA 125 bisa positif pada berbagai jenis kasus
malignan non ovarium. Karsinoma ginekologi yang lain seperti pada endometrium
bisa positif pada beberapa kasus. Hal ini berlaku juga pada kanker non ginekologi
seperti kolon dan pankreas bisa meningkatkan kadar serum CA 125. Tumor berasal
dari organ organ selain ovarium bisa meningkatkan kadar CA 125 jika sudah
metastasis ke ovarium.
I. Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Merupakan pilihan utama, luasnya prosedur pembedahan ditentukan oleh insiden dan
seringnya penyebaran ke sebelah yang lain (bilateral) dan kecenderungan untuk
menginvasi korpus uteri.
2. Biopsi
Dilakukan di beberapa tempat yaitu omentum, kelenjar getah lambung, untuk
mendukung pembedahan.
3. Second look Laparotomi
Untuk memastikan pemasantan secara radioterapi atau kemoterapi lazim dilakukan
laparotomi kedua bahkan sampai ketiga.
4. Kemoterapi
Merupakan salah satu terapi yang sudah diakui untuk penanganan tumor ganas
ovarium. Sejumlah obat sitestatika telah digunakan termasuk agens alkylating seperti

15

itu (cyclophasphamide, chlorambucil) anti metabolic seperti : Mtx / metrotrex xate


dan 5 fluorouracit / antibiotikal (admisin).
5. Penanganan lanjut
a.

Sampai satu tahun setelah penanganan, setiap 2 bulan sekali

b. Sampai 3 bulan setelah penanganan, setiap 4 bulan


c. Sampai 5 tahun penanganan, setiap 6 bulan
d. Seterusnya tiap 1 tahun sekali

J. Konsep Kemoterapi
Merupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat sitostatika yaitu
suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker (Hidayat, 2008) :
1. Prinsip Kerja Obat Kemoterapi (sitostatika) terhadap kanker
Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja terutama
terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi, semakin aktif sel-sel kanker
tersebut berproliferasi maka semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut
Kemoresponsif, sebaliknya semakin lambat prolifersainya maka kepekaannya
semakin rendah, hal ini disebut Kemoresisten.
Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :
a. Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin
obst golongsn ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga
sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi.
b. Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang
berakibat menghambat sintesis DNA.

16

c.

Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja


pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.

d. Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat


sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari selsel kanker tersebut.
2. Pola Pemberian Kemoterapi
a.

Kemoterapi Induksi
Ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa tumor atau jumlah sel
kanker, contoh pada tomur ganas yang berukuran besar (Bulky Mass Tumor) atau
pada keganasan darah seperti leukemia atau limfoma, disebut juga dengan
pengobatan penyelamatan.

b. Kemoterapi Adjuvan
Biasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain seperti pembedahan atau
radiasi, tujuannya adalah untuk memusnahkan sel-sel kanker yang masih tersisa
atau metastase kecil yang ada (micro metastasis).
c. Kemoterapi Primer
Dimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor ganas, diberikan pada
kanker yang bersifat kemosensitif, biasanya diberikan dahulu sebelum pengobatan
yang lain misalnya bedah atau radiasi.
d. Kemoterapi Neo-Adjuvan
Diberikan

mendahului/sebelum

pengobatan

/tindakan

yang

lain

seperti

pembedahan atau penyinaran kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi lagi.

17

Tujuannya adalah untuk mengecilkan massa tumor yang besar sehingga operasi
atau radiasi akan lebih berhasil guna.
3. Cara pemberian obat kemoterapi
a. Intra vena (IV)
Kebanyakan sitostatika diberikan dengan cara ini, dapat berupa bolus IV pelanpelan sekitar 2 menit, dapat pula per drip IV sekitar 30 120 menit, atau dengan
continous drip sekitar 24 jam dengan infusion pump upaya lebih akurat
tetesannya.
b. Intra tekal (IT) Diberikan ke dalam canalis medulla spinalis untuk memusnahkan
tumor dalam cairan otak (liquor cerebrospinalis) antara lain MTX, Ara.C.
c.

Radiosensitizer, yaitu jenis kemoterapi yang diberikan sebelum radiasi, tujuannya


untuk memperkuat efek radiasi, jenis obat untukl kemoterapi ini antara lain
Fluoruoracil, Cisplastin, Taxol, Taxotere, Hydrea.

d. Oral
Pemberian per oral biasanya adalah obat Leukeran, Alkeran, Myleran,
Natulan, Puri-netol, hydrea, Tegafur, Xeloda, Gleevec.
e. Subkutan dan intramuscular
Pemberian sub kutan sudah sangat jarang dilakukan, biasanya adalah LAsparaginase, hal ini sering dihindari karena resiko syok anafilaksis. Pemberian
per IM juga sudah jarang dilakukan, biasanya pemberian Bleomycin.
f. Topikal
g. Intra arterial
Intracavity

18

h. Intraperitoneal/Intrapleural
Intraperitoneal diberikan bila produksi cairan acites hemoragis yang banyak pada
kanker ganas intra-abdomen, antara lain Cisplastin. Pemberian intrapleural yaitu
diberikan kedalam cavum pleuralis untuk memusnahkan sel-sel kanker dalam
cairan pleura atau untuk mengehntikan produksi efusi pleura hemoragis yang
amat banyak , contohnya Bleocin.
4. Tujuan Pemberian Kemoterapi
a.

Pengobatan

b. Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.


c. Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.
d. Mengurangi komplikasi akibat metastase.
5. Persiapan dan syarat kemoterapi
a. Persiapan
Sebelum pengotan dimulai maka terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan yang
meliputi:
1) Darah tepi; Hb, Leuko, hitung jenis, Trombosit.
2) Fungsi hepar; bilirubin, SGOT, SGPT, Alkali phosphat.
3) Fungsi ginjal; Ureum, Creatinin dan Creatinin Clearance Test bila serum creatinin
meningkat.
4) Audiogram (terutama pada pemberian Cis-plastinum)
5) EKG (terutama pemberian Adriamycin, Epirubicin).
b. Syarat
1) Keadaan umum cukup baik.

19

2) Penderita mengerti tujuan dan efek samping yang akan terjadi, informed concent.
3) Faal ginjal dan hati baik.
4) Diagnosis patologik
5) Jenis kanker diketahui cukup sensitif terhadap kemoterapi. Riwayat pengobatan
(radioterapi/kemoterapi) sebelumnya.
6) Pemeriksaan laboratorium menunjukan hemoglobin > 10 gram %, leukosit > 5000
/mm, trombosit > 150 000/mm.
6. Efek samping kemoterapi
Umumnya efek samping kemoterapi terbagi atas :
a. Efek amping segera terjadi (Immediate Side Effects) yang timbul dalam 24 jam
pertama pemberian, misalnya mual dan muntah.
b. Efek samping yang awal terjadi (Early Side Effects) yang timbul dalam beberapa
hari sampai beberapa minggu kemudian, misalnya netripenia dan stomatitis.
c. Efek samping yang terjadi belakangan (Delayed Side Effects) yang timbul dalam
beberapa hari sampai beberapa bulan, misalnya neuropati perifer, neuropati.
d. Efek samping yang terjadi kemudian (Late Side Effects) yang timbul
dalam beberapa bulan sampai tahun, misalnya keganasan sekunder.

20

K. FAKTOR PROGNOSIS

Merupakan faktor yang dapat memberikan gambaran apakah perkembangan penyakit itu
akan baik atau jelek. Meliputi :
-

Stadium

Tipe sel. Tipe seperti clear cell atau tipe adeno (kelenjar), tipe sel embrional
mempunyai prognosis yang jelek.

Diferensiasi. Merupakan suatu tingkat pertumbuhan sel yang dapat dinilai


berdasar

faktor

tertentu

(misal

pertandukan

atau

adanya

pola

tertentu).Berdasarkan patologi, dapat dibagi menjadi 3 : baik, sedang, buruk.


Diferensiasi baik akan sensitif terhadap terapi yang diberikan (kemoterapi
untuk Ca ovari).
-

Menejemen. Seorang penderita Ca ovari, misal IC (tumor pecah atau adanya


asites). Seharusnya diberi kemoterapi, tapi karena tidak diberi kemo, maka
prognosisnya menjadi buruk.

21

DAFTAR PUSTAKA

www. Practice guidline in oncology cancer ovarium.com

http://webchache.googleusercontent.com/searrch?q=cache:VYLFp6Yu11YJ:kesehata
nwanita.blog.com/tag/kanker-indung-telur

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/421292731736.pdf

Sukandar, Y.E.,Andrajati, R., Sigit, I.J., Adnyana, I,K., Setiadi, A.A.P., Kusnandar,
2008, Iso Farmakoterapi, PT. ISFI Penerbitan , Jakarta

Cunningham, F. Gary, dkk. 2005. Obstetri Williams edisi 21. Jakarta : EGC.

Saifuddin, Abdul Bari, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta
: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

22