Anda di halaman 1dari 38

Identitas Pasien

Nama
Usia
Pekerjaan
Alamat
Agama
Suku
Tanggal masuk

: Ny. N
: 24 tahun
: Ibu rumah tangga
:.Sukabumi
: Islam
: Sunda
: Sabtu, 20 September 2014

Anamnesis
Keluhan Utama
:
nyeri saat makan dan minum sejak 1 hari SMRS

Keluhan Tambahan
:
leher membengkak, demam, nyeri dan bengkak pada
rahang bawah, sulit berbicara, sesak, sakit gigi

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke UGD RSUD R.Samsudin dengan
keluhan tidak bisa makan dan minum sejak 1 hari yang lalu.
Pasien juga mengeluhkan sulit membuka mulut. 4 hari yang lalu
pasien juga mengeluhkan nyeri saat menelan serta bengkak pada
rahang bawah kiri dan kanan. Semakin hari, bengkak dirasakan
semakin membesar dan terasa hangat. Nyeri ini membuat pasien
sulit menelan makanan maupun minum. Nyeri dirasakan pada
permulaan proses menelan.. Pasien mengeluh sulit untuk
membuka mulut, kedua pipi terasa kaku dan bengkak, lidah
terasa sulit digerakkan sehingga pasien mengalami kesulitan
berbicara. Leher pasien juga mengalami pembengkakan dan
terdapat nyeri bila ditekan. Pasien mengaku mulai merasa sesak,
sulit bernafas bebas terutama saat posisi tiduran. Pasien juga
mengatakan tedapat lubang di gigi kiri belakang sejak 2 tahun lalu
dan tidak pernah diobati. Demam juga dirasakan oleh pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien mengatakan belum pernah merasakan sakit
seperti ini

Riwayat Pengobatan :
Pasien mengatakan sebelumnya belum pernah
berobat selama keluhan dirasakan

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Pernapasan
Suhu

: tampak sakit sedang


: compos mentis
: 90/60 mmHg
: 84 kali/menit
: 20 kali/menit
: 38 0C

Telinga
Aurikula
: normal/normal
Canalis akustikus eksternus : Hiperemis -/-, edema -/-, massa -/-, laserasi --/-,
sekret -/-, serumen +/+
Membran timpani
: Intak/intak, hiperemis -/-, refleks cahaya +/+

Cavum Nasi
Membran mukosa : Hiperemis -/-, edema -/-, sekret -/-, massa -/-, laserasi -/Pasase udara
: normal/normal

Orofaring
Pembukaan mulut : maksimal 1 jari tangan ( 2 cm)
Trismus
: (+)
Lain-lain
: sulit dinilai
Leher:
tampak daerah swelling pada daerah submandibula baik kiri maupun kanan,
daerah submental dan sublingual, hiperemis (+), keras, hangat (+), nyeri tekan (+),
fluktuasi (+)

Maksilofasialis: simetris

Pemeriksaan Penunjang
20 September 2014
Hemoglobin : 13.4 gr/dL
Hematokrit : 39 %
Leukosit
: 19.600 /uL
Trombosit : 380.000 /uL
Eritrosit
: 4,8 juta /uL

Diagnosis Banding
Angina Ludwig
Abses submandibula

Saran Pemeriksaan
Foto X-ray
CT-Scan

Tatalaksana

IVFD RL 20 tpm
Metronidazole 3x500 mg
Ceftriaxone 2 x 1 gr
Ketorolac 2 x 30 mg
Ranitidine 3 x 25 mg
Diet cair

Resume
Pasien wanita, 24 tahun, datang ke RSUD dengan keluhan
odinofagia, disfagia, swelling pada leher pasien, nyeri bila disentuh
dan terasa hangat, trismus, lidah terasa sulit digerakkan sehingga
pasien mengalami kesulitan berbicara, hipersalivasi, demam.
Pasien mengaku mulai merasa sesak terutama saat posisi tiduran.
Disfagia baik makanan padat mapun cair dan pada awal proses
menelan. Pasien juga mengatakan tedapat caries di molar 1
sinistra sejak 2 tahun lalu. Keluhan serupa sebelumnya disangkal.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan Telinga dan hidung
dalam batas normal. Pada pemeriksaan orofaring, didapatkan
adanya trismus (pembukaan maksimal 2.5 cm), hipersalivasi (+),
sisanya sulit dinilai karena pasien tidak mampu menggerakkan
lidah. Pada pemeriksaan leher didapatkan pembesaran di region
submandibula dekstra dan sinistra, submental, dan sublingual,
hiperemis, hangat, nyeri tekan, indurasi, dan fluktuatif.

Prognosis
Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: bonam
: bonam
: dubia ad malam

Follow Up
Date
22-9-

S
Nyeri saat makan (+)

O
S: 38 C

Sesak saat posisi tidur (+) N: 96x/menit

2014

Demam (+)

Disfagia

Diet cair TKTP via NGT

Abses submental

Infus RL : Ds = 2 :1 20 tpm

R: 20x/menit

Meropenem 2x1 gr

TD : 120/80mmHg

Ketolorac 3x1 gr

Pemfis THT:

Ranitidine 2x1 amp

- ADS : dbn/dbn

PCT inf 3x500 mg

-CAE : serumen +/+


-MT : dbn/dbn
-CN : dbn/dbn
-OP : sulit dinilai
-Leher : swelling pada
submandibular, submental dan
sublingual, hiperemis (+) , hangat
(+), nyeri tekan (+), fluktuasi (+)
-Maksilofasial : simetris
Pemeriksaan Lab:
SGOT : 28 U/L
SGPT : 43 U/L
GDS : 84 mg/dl
Ureum : 21 mg/dl
Kreatinin : 0,6 mg/dl

23-9-2014

Nyeri saat makan (+) S: 38 C

Disfagia

Diet cair TKTP via NGT

Sesak saat posisi

N: 96x/menit

Abses submental

Infus RL : Ds = 2 :1 20 tpm

tidur (+)

R: 20x/menit

Meropenem 2x1 gr

Demam (+)

TD : 120/80 mmHg

Ketolorac 3x1 gr

Pemfis THT:

Ranitidine 2x1 amp

- ADS : dbn/dbn

PCT inf 3x500 mg

-CAE : serumen +/+


-MT : dbn/dbn
-CN : sulit dinilai (NGT)
-OP : sulit dinilai
-Leher : swelling pada
submandibular, submental
dan sublingual, hiperemis (+)

, hangat (+), nyeri tekan (+),


fluktuasi (+), ukuran 5 cm
-Maksilofasial : simetris

24-9-2014

Sakit di daerah

S: 36 C

Disfagia

Diet cair TKTP via NGT

leher, rahang bawah

N: 80 x/menit

Abses submental

Infus RL 20 tpm

kanan (+)

R: 24 x/menit

Meropenem 2x1 gr

Sesak (+)

TD : 120/80 mmHg

Metronidazole 3x500

Sulit makan dan

Pemfis THT:

Ketolorac 3x1 gr

minum (+)

- ADS : dbn/dbn

Ranitidine 2x1 amp

-CAE : serumen +/+

Dilakukan insisi drainase

-MT : dbn/dbn
-CN : sulit dinilai (NGT)
-OP : sulit dinilai
-Leher : swelling pada
submandibular, submental
dan sublingual, hiperemis (+)

, hangat (+), nyeri tekan (+),


fluktuasi (+), ukuran 5 cm
-Maksilofasial : simetris

25-9-

Nyeri telan (+)

S: 36,2 C

Disfagia

Cek lab

2014

Sesak (-)

N: 68 x/menit

Abses submental

Rencana off NGT

R: 18 x/menit

post insisi drainase

Infus RL 20 tpm

TD : 120/80 mmHg
Pemfis THT:
- ADS : dbn/dbn
-CAE : serumen +/+
-MT : dbn/dbn
-CN : sulit dinilai (NGT)
-OP : sulit dinilai
-Leher : perdarahan (-) ,

nyeri (+), rembesan pus


(+)
-Maksilofasial : simetris

Meropenem 2x1 gr
Metronidazole 3x500
Ketolorac 3x1 gr
Ranitidine 2x1 amp

26-9-2014

- Nyeri menelan (+),

S: 36,3 C

Disfagia

Off NGT

sudah bias makan

N: 72 x/menit

Abses submental post

Metil prednisolone 2x100

bubur dan minum

R: 18 x/menit

insisi drainase

-Sesak (+) saat

TD : 120/70 mmHg

terlentang

Pemfis THT:

-Keluar pus pada

- ADS : dbn/dbn

drain (30-40 cc)

-CAE : serumen +/+


-MT : dbn/dbn
-CN : sulit dinilai (NGT)
-OP : dbn/dbn
-Leher : perdarahan (-) , nyeri
(+), rembesan pus (+)
-Maksilofasial : simetris
Pemeriksaan Lab
HB : 11,1 g/dl
Leukosit : 13.600 /uL
HT : 33 %
Trombosit : 413.000 /uL
Eritrosit : 4,1 juta /uL

Ranitidine 2x1 amp

27-9-

Nyeri menelan

S: 36,4 C

Disfagia

2014

(+), seperti

N: 69 x/menit

Abses submental

tertahan saat

R: 19 x/menit

post insisi drainase

menelan

TD : 110/70 mmHg

-Sesak (-)

Pemfis THT:

-Keluar pus pada

- ADS : dbn/dbn

drain (10-15 cc)

-CAE : serumen +/+

kemarin malam

-MT : dbn/dbn
-CN : dbn/dbn
-OP : dbn/dbn
-Leher : perdarahan (-) ,
nyeri (+), rembesan pus
(+)
-Maksilofasial : simetris

Tinjauan
Pustaka

DEFINISI
Angina Ludwig/ Angina Ludovici

Infeksi polimikrobial yang progresif pada


ruang submandibula berupa selulitis dengan
tanda khas berupa pembengkakan seluruh
ruang submandibula, tidak berbentuk abses,
sehingga keras pada perabaan dan dapat
menyebabkan kompresi jalan napas

EPIDEMIOLOGI
12-84
Tahun
USIA

20-60
Tahun

3
4
Faktor predisposisi:
- Diabetes melitus
- Neutropenia
- Alkoholisme
- Anemia aplastik
- Gromerulonefritis
- Dermatomiositis
- SLE

:1
:1

JENIS
KELAMIN

ANATOMI

ETIOLOGI
- Streptokokus alfa hemolitikus
- Streptokokus viridians
- Stafilokokus aureus
- Kelompok bakteroides
Sumber Infeksi:
- Odontogenik
- Dasar Mulut

- Peptostreptokokkus
- Peptokokkus
-Mikroorganisme lain yang pernah diisolasi

Fusobacterium nucleatum, Aerobacter


aeruginosa, spirochetes, Candida,
Eubacteria, Neisseria, Escherichia coli,
Pseudomonas, Haemophilus influenza,
dan Klebsiella.

Patogenesis
Sialadenitis
Abses peritonsilar
Fraktur terbuka
mandibula
Kista duktus
tiroglosus yang
terinfeksi
Epiglotitis
Bronkoskopi
traumatik
Laserasi mulut
Tindik lidah
ISPA
Trauma dasar
mulut

Gejala Klinis
pembengkakan
bilateral
yang eritem (bulls neck),
berbatas tegas, keras, dan
nyeri
pada
daerah
submandibular
Perluasan pembengkakan ke
arah dalam:
- Disfagia, odinofagia
- Hot potato voice
- Kompresi jalan napas (stridor
hingga sianosis)
hipersalivasi, sakit gigi,
bau napas

4 TANDA UTAMA ANGINA LUDWIG


1) Keterlibatan bilateral jaringan ikat ruang submandibular.
2) Gangren dengan infiltrasi serosanguinolen dan berbau
busuk namun tanpa atau dengan sedikit pus.
3) Keterlibatan jaringan ikat, fascia, dan otot tanpa
keterlibatan struktur kelenjar.
4) Penyebaran perkontinuitatum lewat ruang fasial lebih

sering terjadi dibanding penyebaran secara limfatik.

Penegakan Diagnosis
Riwayat ekstraksi gigi,
riwayat higienitas mulut yang
Anamnesis
buruk, dan nyeri gigi
Gejala-gejala angina Ludwig
dan komplikasinya pada
pasien
elevasi lidah
indurasi dasar mulut dan leher
anterior yang keras
Pemeriksaan
pembengkakan suprahyoid yang
Fisik
tidak fluktuatif (bulls neck )
edema submandibula dengan nyeri
pada palpasi
kadang disertai dengan emfisema

Pemeriksaan Penunjang
Foto polos
Pembengkakan jaringan lunak,
adanya gas, dan penyempitan
jalan napas
Sonografi
Kumpulan cairan pada jaringan
ikat
CT-Scan
pembengkakan jaringan lunak,
adanya gas, kumpulan cairan,
dan kompresi jalan napas

Penatalaksanaan

proteksi dari jalan nafas (krikotiroidotomi atau trakeostomi


antibiotik
Dexamethason
Insisi
Drainase

Komplikasi
Sumbatan jalan napas
Penjalaran abses ke ruang leher dalam lain dan
mediastinum
Trombosis sinus kavernosus dan abses otak
Tromboflebitis supurativa vena jugularis interna
Efusi pericardia dan/ atau efusi pleura
Osteomielitis mandibula
Abses subfrenikus
Pneumonia aspirasi
Sepsis

Prognosis
sangat tergantung kepada proteksi segera jalan
nafas dan pada pemberian antibiotik untuk
mengatasi infeksi.
Tingkat kematian pada era sebelum adanya
antibiotik sebesar 50%, tetapi dengan adanya
antibiotik tingkat mortalitas berkurang menjadi 5%

Diagnosis Banding
Limfadenitis
Selulitis
Abses peritonsilar