Anda di halaman 1dari 8

HEPATITIS B dan HEPATITIS C pada IBU HAMIL

I.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit hepatitis B memiliki persebaran di seluruh negara di dunia. Diperkirakan
lebih dari 2 milyar orang di seluruh dunia telah terinfeksi hepatitis B virus (HBV).
Sebanyak 360 juta diantaranya terinfeksi kronis dan memiliki risiko penyakit yang serius
serta kematian, oleh karena sirosis dan kanker hepatoseluler (WHO,2009). Di daerah
endemis tinggi, penyebaran HBV terutama dari ibu ke anak saat kelahiran, dari satu
orang ke orang yang lain pada awal masa kanak-kanak. Transmisi perinatal maupun pada
masa awal kanak-kanak menyebabkan lebih dari sepertiga infeksi kronis pada daerah
endemis rendah (de la Hoz et al, 2008).
Prevalensi global dari infeksi hepatitis C virus (HCV) adalah 2 3 %, dengan 130170 juta orang positif HCV, kebanyakan dari mereka terinfeksi secara kronis. Rute
transmisi utama yang dapat menyebabkan infeksi HCV para ibu hamil adalah
penggunaan obat intravena, sementara itu transfusi darah juga berperan menjadi faktor
risiko (Floreani A, 2013).

II.

ETIOLOGI
Hepatitis B virus (HBV) merupakan penyebab Hepatitis B, yang dapat menular
melaui cairan tubuh seperti darah, cairan semen serta sekret vagina (Navabakhsh B et al,
2011). Sedangkan Hepatitis C disebabkan oleh Hepatitis C virus (HCV). HCV termasuk
ke dalam family Flaviviridae dan merupakan salah satu penyebab penyakit hepar (Munir
S et al, 2010).

III.

PATOGENESIS
Transmisi dari ibu hamil yang terinfeksi kepada keturunannya disebut sebagai infeksi
perinatal. Secara definisi, periode perinatal berlangsung dari 28 minggu masa kehamilan
hingga 28 hari setelah melahirkan. Oleh karena itu, istilah transmisi perinatal tidak
mencakup infeksi yang terjadi sebelum maupun setelah periode tersebut, sehingga dapat
diganti menjadi istilah mother to child transmission (MTCT) (Navabakhsh B et al,
2011). Secara teoritis, terdapat tiga rute transmisi HBV dari ibu yang terinfeksi kepada
bayinya, yakni : transmisi prenatal yakni melalui plasenta di dalam rahim, transmisi natal
selama kelahiran, transmisi postnatal melalui air susu ibu (ASI) (Navabakhsh B et al,
2011).
1

Transmisi Pre-natal
Mekanisme pasti transmisi HBV perinatal belum dapat dijelaskan namun
beberapa kemungkinan menjadi hipotesis seperti :
o Kebocoran di sawar plasenta
Kebocoran transplasenta dari darah yang mengndung HBeAg positif,
yang disebabkan oleh kontraksi rahim selama kehamilan dan
kerusakan

sawar

plasenta,

merupakan

rute

transmisi

yang

menyebabkan infeksi HBV intrauterine.


o Infeksi transplasental
o Adanya HBV DNA di oosit dari wanita yang terinfeksi dan sperma
dari laki-laki yang terinfeksi, sehingga memungkinkan janin telah
terinfeksi dari sejak konsepsi.
o Kemungkinan lain dari transmisi intrauterine bukan dari darah ibu,
tetapi dari secret vagina yang mengandung virus dan menyebar secara
asenden.

Transmisi Natal
Transmisi HBV ke bayi saat kelahiran dipercaya merupakan hasil dari
terpapar secret serviks serta darah sewaktu persalinan.

Transmisi Post-natal
Walaupun HBV DNA ada di dalam ASI, memberi bayi ASI tidak menambah
risiko transmisi oleh karena pemberian imunoprofilaksis saat kelahiran dan
dilanjutkan sesuai jadwal. Tidak ada penundaan untuk memberikan ASI
hingga anak menerima semua dosis vaksin HBV. Pemberian ASI tidak
memiliki pengaruh negative pada respon imun terhadap vaksin HBV. Ingatkan
ibu untuk mencegah terjadinya luka dan perdarahan pada putting susu saat
menyusui, karena transmisi utama HBV adalah melaui rute darah ke darah
(Navabakhsh B et al, 2011).

HCV juga memiliki transmisi yang sama dengan HBV yakni MTCT melalui beberapa
rute, seperti transmisi melalui plasenta di dalam rahim dengan proses transitosis, infeksi
pada trofoblast atau adanya kerusakan sawar plasenta (Prasad MR et al,2013). Dengan
perkiraan 1013 - 1014 virion yang melalui sirkulasi plasenta, beberapa diantaranya masuk
2

ke dalam sirkulasi janin walaupun mekanisme masih belum dapat dijelaskan. Pada kasus
transmisi intrapartum, dapat diperkirakan bahwa transmisi terjadi oleh karena kebocoran
darah maternal ke dalam sirkulasi janin melalui plasenta saat persalinan atau melalui lesi
kutan (Prasad MR et al,2013).
IV.

PENEGAKAN DIAGNOSIS
A.

GEJALA KLINIS
Infeksi HBV dan HCV memiliki symptom yang sama, yakni dapat ikterik dan

anikterik. Pasien dengan anikterik memiliki kecendrungan untuk menjadi hepatitis yang
kronis. Selain itu dapat disertai dengan gejala prodormal seperti anoreksia, mual, muntah,
low grade-fever, mialgia, fatigue, gangguan indera penciuman dan indera pengecap, dan
nyeri pada kuadran kanan atas dan area epigastrik (Ho V et al, 2012)
B.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Screening HCV serta HBV pada kehamilan dianjurkan untuk seluruh populasi tanpa

memperhatikan faktor risiko. Pemeriksaan penunjang yang dipakai untuk menegakkan


diagnosis diantaranya pemeriksaan serologis, pemeriksaan faal hepar (terkait kadar ALT)
serta pemeriksaan darah lengkap terutama kadar trombosit (Bzowej NH, 2010).
Pemeriksaan serologis terkait penegakan diagnosis infeksi HBV yang dilakukan pada
pemeriksaan trimester pertama kehamilan yakni HBsAg, HBV DNA, HBsAb, HBcAb,
HBeAg, serta HBeAb. Selain itu pada trimester pertama kehamilan juga dilakukan
pemeriksaan penunjang terkait fungsi hepar, kadar trombosit dan INR (Bzowej NH,
2010).
V.

PENATALAKSANAAN
Pemeriksaan rutin antepartum termasuk pemeriksaan terhadap adanya infeksi
hepatitis B pada trimester pertama. Bila hasil negative, anaknya akan diberi vaksin saat
lahir. Ibu tidak perlu divaksinasi selama kehamilan, walaupun tergolong aman, namun
seorang ibu yang memiliki faktor risiko tinggi sebaiknya diberikan vaksinasi (Bzowej
NH, 2010). Akan tetapi bila hasil positif terinfeksi HBV pada awal kehamilan,
pemeriksaan untuk menentukan status HBV sebaiknya dilakukan, seperti pemeriksaan
faal hepar, serologi HBV, dan kadar trombosit. Jika pasien memiliki HBV yang sangat
aktif (kenaikan ALT secara signifikan dengan viral load yang tinggi), atau jika curiga
adanya sirosis hepar (kadar trombosit rendah, atau pemeriksaan pencitraan sugestif),
3

terapi sebaiknya diberikan tanpa memperhatikan trimester. Akan tetapi, terapi tidak
dianjurkan (penyakit inaktif dengan ALT rendah dan viral load rendah) lanjutkan
surveilan, karena kehamilan dapat menyebabkan perkembangan hepatitis B, setelah
kehamilan maupun beberapa bulan setelah melahirkan (Bzowej NH, 2010).
Direkomendasikan untuk semua wanita agar telah melakukan pemeriksaan kuantitas viral
load HBV DNA saat menjelang akhir trimester kedua (26-28 minggu kehamilan)
sehingga keputusan akhir terhadap terapi dapat diambil segera. Pemeriksaan ini akan
memberikan cukup waktu pada trimester ketiga untuk menurunkan viral load secara
signifikan setelah terapi diinisiasi, sehingga menurunkan laju transmisi perinatal. Wanita
dengan viral load yang tinggi (>107/ml) sebaiknya mempertimbangkan terapi pada awal
trimester ketiga (28-30 minggu), setelah mendiskusikan manfaat dan risiko. Sekali
dimulai, terapi dilanjutkan selama masa kehamilan dan dapat dihentikan setelah
melahirkan. Keputusan untuk menghentikan terapi sering dipengaruhi oleh keinginan
wanita tersebut untuk kehamilan berikutnya (Bzowej NH, 2010).

Gambar 1. Algoritma penatalaksanaan hepatitis B pada ibu hamil (Bzowej NH, 2010)

Manajemen wanita yang terinfeksi HCV


Semua wanita sebaiknya melakukan screening antenatal untuk HBsAg dan anti-HCV.
HCV sebaiknya diperiksa terutama pada imigran dari negara berkembang, dan mereka
yang memiliki faktor risiko tinggi (pasangan seksual lebih dari satu, pengguna obat
intravena). Bila ibu hamil mengalami HCV/koinfeksi HIV sebaiknya diberi pilihan untuk
dilakukan tindakan operasi cesar untuk mencegah transmisi HIV dan menghindari
pemberian ASI. Terapi antiviral pada infeksi HCV kronis dikontraindikasikan pada
kehamilan. Interferon pegilated dapat menyebabkan efek samping psikiatris pada ibu
hamil. Ribavirin memiliki risiko teratogenik untuk 7 bulan setelah terapi (Floreani A,
2013)
VI.

EDUKASI dan PENCEGAHAN


Untuk mencegah transmisi dari ibu ke anak (MTCT) maka direkomendasikan
beberapa langkah pencegahan berikut (Navabakhsh B et al, 2011):

Screening HBsAg
Semua ibu hamil (termasuk yang pernah diperiksa atau divaksinasi) sebaiknya
diperiksa secara rutin untuk HBsAg selama kuncungan prenatal awal
(dianjurkan pada trimester pertama) pada setiap kehamilan (Navabakhsh B et
al, 2011).

Imunisasi bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif


Semua bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif sebaiknya menerima
vaksin HBV antigen tunggal dan HBIG (0.5 mL/kg) dalam 12 jam setelah
kelahiran. Pemeriksaan untuk anti-HBs dan HBsAg sebaiknya dilakukan
setelah menerima seri vaksin secara lengkap, pada usia 9-18 bulan. Bayi
dengan HBsAg negative dan anti-HBs 10 mIU/mL telah terproteksi dan
tidak memrlukan manajemen medis lebih lanjut. Sedangkan bayi dengan
HBsAg negatif dan anti-HBs < 10 mIU/mL sebaiknya divaksin kembali
dengan dosis seri kedua dan ketiga serta diperiksa kembali 102 bulan setelah
dosis terakhir vaksin. Bayi dengan HBsAg positif sebaiknya di follow up dan
diberikan terapi (Navabakhsh B et al, 2011).

Imunisasi bayi yang lahir dari ibu dengan status HBsAg tidak diketahui
Ketika menunggu hasil test, semua bayi yang lahir dari ibu dengan status
HBsAg tidak diketahui sebaiknya menerima vaksin HBV dosis pertama (tanpa
HBIG) dalam 12 jam atau kurang setelah kelahiran. Bila ibu telah dinyatakan
positif HBsAg, bayinya harus mendapatkan HBIG secepatnya tetapi tidak
lebih dari 7 hari. dan pemberian vaksin harus lengkap sesuai jadwal yang telah
ditentukan. Bila ibu dinyakatan HBsAg negatif maka bayi diberikan vaksin
sesuai jadwal (Navabakhsh B et al, 2011).

VII.

KOMPLIKASI dan PROGNOSIS


Diperkirakan 1 juta orang per tahun secara global mati karena penyakit hepatitis B kronis.
Pasien dengan HBeAg dan dengan HBV DNA yang tidak terdeteksi kembali, memiliki
peningkatan hasil klinis, dengan karakteristik (Han YF et al, 2011) :

Penurunan laju progresi penyakit

Pemanjangan harapan hidup tanpa komplikasi

Penurunan laju hepatocellular carcinoma (HCC) dan sirosis

Peningkatan secara klinis dan biokimiawi setelah dekompensasi

DAFTAR PUSTAKA
Bzowej NH. Hepatitis B Therapy in Pregnancy. Curr Hepatitis Rep 2010;9:197-204. Available
from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2945465/ [accessed : November 6,
2014]
de la Hoz F, Perez L, de Neira M et al. Eight years of hepatitis B vaccination in Colombia with a
recombinant vaccine: factors influencing hepatitis B virus infection and effectiveness.
International

Journal

of

Infectious

Diseases

2008,12:183189.

Available

from:

http://www.researchgate.net/publication/5930561_Eight_years_of_hepatitis_B_vaccination_i
n_Colombia_with_a_recombinant_vaccine_factors_influencing_hepatitis_B_virus_infection
_and_effectiveness [accessed: November 6, 2014]
Floreani A. Hepatitis C and pregnancy. World J Gastroenterol 2013; 19(40): 6714-6720
Available

from:

http://www.wjg-net.com/1007-9327/full/v19/i40/6714.htm

DOI:

http://dx.doi. org/10.3748/wjg.v19.i40.6714 [accessed : November 6, 2014]


Han YF, Zhao J, Ma LY et al. Factors predicting occurrence and prognosis of hepatitis-B-virusrelated hepatocellular carcinoma. World J Gastroenterol 2011 October 14; 17(38): 42584270. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3214700/ [accessed :
November 7, 2014]
Ho V, Ho W. Hepatitis B in Pregnancy: Specific Issues and Considerations. J Antivir
Antiretrovir 2012, 4:3. Available from: http://omicsonline.org/hepatitis-b-in-pregnancyspecific-issues-and-considerations-jaa.1000046.pdf [accessed : November 7, 2014]
Munir S, Saleem S, Idrees M et al. Hepatitis C Treatment: current and future perspectives.
Virology Journal 2010;7:296. Available from: http://www.virologyj.com/content/pdf/1743422X-7-296.pdf [accessed : November 6, 2014]
Navabakhsh B, Mehrabi N, Estakhri A, et al. Hepatitis B Virus Infection during Pregnancy:
Transmission and Prevention. Middle East Journal of Digestive Diseases 2011;3(2).
Available

from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4154922/

[accessed

November 6, 2014]

Prasad MR, Honegger JR. Hepatitis C Virus in Pregnancy. Am J Perinatol 2013;30(2). Available
from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3862252/ [accessed : November 6,
2014]
World Health Organization. Hepatitis B Vaccines. Weekly epidemiological record 2009;84:405420. Available from : http://www.who.int/wer/2009/wer8440.pdf?ua=1 [accessed: November
6,2014]

Anda mungkin juga menyukai