Anda di halaman 1dari 1

Kelebihan dan Kekurangan AAS

Analisis mineral dengan menggunakan metode AAS (Atomic absorption


spectroscopy) memiliki kelebihan dan kekurangannya dibandingkan dengan
metode-metode lainnya. Keuntungan penggunaan metode AAS diantaranya
spesifik, kepekaan lebih tinggi, batas (limit) deteksi rendah, dapat mengukur
beberapa unsur berlainan dari satu larutan yang sama, pengukuran dapat langsung
dilakukan terhadap larutan contoh karena preparasi contoh sebelum pengukuran
lebih sederhana dan sistemnya relatif mudah, kecuali bila ada zat pengganggu
(Day 1986). Selain itu, metode AAS juga dapat diaplikasikan pada banyak jenis
unsur dalam banyak jenis contoh walaupun dengan kriteria tertentu, batas kadarkadar yang dapat ditentukan sangat luas yaitu dari mg/L (ppm) hingga persen,
output dapat langsung dibaca, cukup ekonomis, dan dapat memilih temperatur
yang dikehendaki (Hendayana 2004).
Selain memiliki kelebihan, terdapat pula kelemahan dalam melakukan
analisis mineral menggunakan AAS yang dapat disebabkan oleh beberapa sumber
kesalahan diantaranya sumber kesalahan pengukuran yang dapat diprediksikan
akibat kurang sempurnanya preparasi sampel, seperti proses destruksi yang
kurang sempurna dan tingkat keasaman sampel dan blanko yang tidak sama
(Hendayana 2004). Selain itu bisa terjadi pula kesalahan matriks yang disebabkan
adanya perbedaan matriks sampel dan matriks standar, aliran sampel pada burner
tidak sama kecepatannya atau ada penyumbatan pada jalannya aliran sampel, dan
adanya pengaruh kimia sehingga AAS tidak mampu menguraikan zat menjadi
atom misalnya pengaruh fosfat terhadap Ca, adanya pengaruh ionisasi yaitu
apabila atom tereksitasi (tidak hanya disosiasi) sehingga menimbulkan emisi pada
panjang gelombang yang sama. Metode AAS hanya dapat digunakan untuk
larutan dengan konsentrasi rendah, memerlukan jumlah larutan yang cukup relatif
besar (10-15 ml), dan efisiensi nebulizer untuk membentuk aerosol pun rendah
(Ristina 2006).
Daftar Pustaka:
Day RA. Analisa Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. 1986.
Hendayana S, dkk. Kimia Analitik Instrumen. Semarang (ID): IKIP. 2004.
Ristina M. Petunjuk Praktikum Instrumen Kimia. Yogyakarta (ID): STTN. 2006.

Anda mungkin juga menyukai