Anda di halaman 1dari 23

Aldian Saputra

Ami Solihat
Annisa Lestari
Ardelia
Asep Saepul
Asep Yusup
Cep Imron
Citra Devi
Citra Septinia
Dede Sri

Secara garis besar, virus dibagi


menjadi dua bagian, yaitu
virus DNA dan virus RNA.

Definisi
Virus DNA adalah virus yang materi genetiknya
berupa asam nukleat yang berbentuk rantai
ganda berpilin. Di dalam sel inangnya, DNA pada
virus akan mengalami replikasi menjadi beberapa
DNA dan juga akan mengalami transkripsi
menjadi mRNA. mRNA akan mengalami translasi
untuk menghasilkan protein selubung virus.
Masih di dalam sel inang, DNA dan protein virus
mengkonstruksikan diri menjadi virus virus
baru. mRNA juga akan membentuk enzim
penghancur (Lisozim) sehingga sel inang lisis
(hancur) dan virus virus keluar untuk
menginfeksi sel inang lainnya.

Definisi
Virus RNA adalah virus yang materi genetiknya
berupa asam nukleat yang berbentuk rantai
tunggal atau ganda tidak berpilin. Di dalam sel
inangnya, RNA pada virus akan mengalami
transkripsi balik menjadi Hibrid RNA-DNA dan
akhirnya membentuk DNA. Selanjutnya DNA virus
akan masuk ke inti sel inangnya, menyisip ke
dalam DNA inangnya. DNA virus akan merusak
DNA inangnya dan membentuk mRNA. mRNA
akan mengalami translasi untuk menghasilkan
protein selubung virus untuk membentuk virus
virus baru.

Obat antivirus
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Amantadin*
Asiklovir
Gansiklovir
Ribavirin
Zidovudin
Idoksuridin
Inosipleks
(Metisoprinol)

Interferon

Pemilihan obat pd infeksi virus


tertentu
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Infeksi HIV atau AIDS


Infeksi virus Herpes
Infeksi virus Varicella Zoster (VZV)
Infeksi Cytomegalovirus (CMV)
Infeksi Epstein-Barr Virus (EBV)
Hepatitis

Pengembangan obat anti-virus untuk profllaksis atau


terapi belum memuaskan.
Antiviral yang dapat menghambat atau membunuh
virus juga akan dapat merusak sel hospes.
Hal ini karena replikasi virus RNA maupun DNA
berlangsung di dlm sel hospes dan membutuhkan
enzim dan bahan lain dari hospes.
Tantangan bagi peneliti: Bagaimana menemukan
obat yang dapat menghambat secara spesifik salah
satu proses replikasi virus seperti: Pelekatan,
uncoating dan replikasi.
Analisis biokimiawi dari proses sintesis virus telah
membuka tabir bagi terapi yg efektif utk beberapa
infeksi seperti : virus herpes, beberapa virus saluran
napas dan human imunodeficiency virus (HIV).

Obat antivirus yang dikembangkan tahun 1950-1960


memiliki manfaat terbatas, seperti: idoksuridin, vidarabin
dan sitarabin, tidak selektif dalam menqhambat replikasi
virus sehingga banyak fungsi sel hospes juga dihambat.
Hanya idoksuridin dan vidarabin yang masih dapat
digunakan secara topikal sebagai obat pilihan kedua dan
ketiga pada herpes simplex kerato conjunctivitis.
Obat antivirus generasi baru pada umumnya bekerja
lebih selektif terutama asiklovir dan toksisitasnva lebih
rendah.
Th 1957, telah diketahui bahwa interferon dapat
menghambat replikasi virus. Secara alamiah interferon
dihasilkan oleh sel manusia dan mamalia yg terinfeksi
virus atau distimulasi oleh zat alamiah atau sintetik
lainnya. Berkat kemajuan teknologi rekayasa rekombinan
DNA, interferon mulai dimanfaatkan di dalam klinik.

1. AMANTADIN
Obat ini larut dalam air dan merupakan amin-trisiklik.
Amantadin bekerja menghambat fase ujung proses perakitan
virus influenza A. Proses pelekatan virus kapada sel hospes,
penetrasi, aktivitas RNA-dependent RNA polimerase,
semuanya tdk dihambat oleh amantadin.
Absorbsi baik, tdk dimetabolisme, diekskresi melalui urin
dalam bentuk tak diubah. T eliminasi 16 jam dan bertambah
lama pada usia lanjut dan pada gangguan fungsi ginjal.
Efek samping amantadin berupa gangguan SSP seperti
bingung, gelisah, halusinasi, kejang dan bahkan koma.
Penggunaan: Influenza A akut: 200 mg/hari selama 5 hr.
Profilaksis thd virus influenza A: vaksinasi virus influenza A.
Rimantadin merupakan derivat baru dari amantadin yang
mengalami biotransformasi ekstensif, sehingga ekskresi
melalui ginjal dalam bentuk tak diubah hanya kurang dr 15 %.
Efek samping thd SSP lebih ringan daris amantadin.

2. ASIKLOVIR
Asiklovir [9-(2-hidroksietoksimetilguanin)] merupakan obat
sintetik jenis analog nukleosida purin. Sifat antivirus asiklovir
terbatas pada kelompok virus herpes.
MEKANISME KERJA.
Asiklovir "diambil" secara selektif oleh sel yg terinfeksi virus
herpes. Untuk mengaktifkan asiklovir, obat ini diubah dulu ke
btk monofosfat oleh timidin kinase milik virus tersebut. Afinitas
asiklovir terhadap timidin kinase asal virus herpes ini 200 x
lebih besar dari pada yang berasal dari sel manusia atau
mamalia.
Setelah terbentuk asiklovir-monofosfat (asiklo-GMP), fosforilasi
berikutnya dilakukan dg enzim dari sel hospes menjadi asikloGDP dan terakhir asiklo-GTP.
Btk akhir ini secara selektif menghambat DNA-polimerase virus
dengan berkompetisi dengan desoksiguanosin-trifosfat.
Selain itu asiklo-GTP juga diinkorporasi ke dalam DNA virus
yang sedang memanjang yang mengakibatkan terminasi
biosintesis rantai DNA-virus.

FARMAKOKINETIK
Asiklovir bersifat konsisten mengikuti model dua-kompartemen;
volume distribusi taraf mantap kira-kira sama dengan volume
cairan tubuh.
Kadar plasma taraf mantap setelah dosis oral ialah 0,5 mg/ml
setelah dosis 200 mg dan 1,3 mg/ml setelah dosis 600 mg.
Pada pasien dengan fungsi ginjal normal, T eliminasi 2 jam
pada orang dewasa dan 4 jam pd neonatus serta 20 jam pada
pasien anuria.
Kadar obat juga dapat diukur di saliva, cairan lesi dan sekret
vagina
Kadar di cairan serebrospinal mencapai setengah kadar plasma.
Di ASI kadarnya lebih tinggi.
Lebih dari 80 % obat dieliminasi melalui filtrasi glomerulus ginjal
dan sebagian kecil melalui sekresi tubuli.
Hanya sekitar 15 % dosis obat yang diberikan dapat ditemukan
kembali di urin sebagai metabolit inaktif.

EFEK SAMPING.
Asiklovir dapat mengendap di tubuli renal bila dosis
yang diberikan sangat berlebihan atau pada pasien
dehidrasi.
Keadaan ini dapat menyebabkan penurunan bersihan
kreatinin. Pada pasien dengan bersihan ginjal yang
kurang, dapat timbul efek samping berikut:
ensefalopati disertai letargi, tremor, halusinasi, kejang
dan koma.
INDIKASI.
Asiklovir efektif terhadap infeksi virus herpes simpleks
(HSV) tipe 1 dan 2, termasuk herpes mukokutaneus
jenis kronis dan rekuren pada pasien yang terganggu
fungsi imunologiknya (immunocompromised), juga
diindikasikan untuk HSV ensefalitis, neonatus dan VZV
(virus varicella-zoster).

3. GANSIKLOVIR
Gansiklovir (9-(1,3 dihidroksi-2 propoksi-metil guanin).
analog nukleosida asiklik dari guanin ini disintesis pada
waktu mencari obat antivirus yang efektif terhadap CMV.
Seperti asiklovir, fosforilasi pertama dilakukan dengan
timidin- kinase virus HSV-1 dan HSV-2 di sel hospes yang
terinfeksi virus. Senyawa trifosfat yang terbentuk dengan
enzim sel hospes, akan mengganggu replikasi virus karena
masuk ke DNA virus, menghentikan replikasinya (secara in
vitro replikasi VSV juga terhambat, mungkin dengan
mekanisnie di atas). Juga terlihat efek antivirus terhadap
virus EBV dan CMV walaupun kedua virus ini tidak
mempunyai timidin kinase. Mekanismenya tak jelas, diduga
fosforilasi pertama terjadi melalui enzim deoksiguanosin
kinase milik virus atau sel hospes. Bentuk trifosfat
didapatkan dalam kadar jauh lebih tinggi pada sel yang
terinfeksi CMV atau EBV dari pada sel yang tidak terinfeksi.

4. RIBAVIRIN
Suatu analog dari nukleosida purin yang in vitro
menghambat berbagai macam virus RNA dan DNA.
5. ZIDOVUDIN
Granulositopenia dan anemia dpt terjadi sampai dengan 45
% jumlah penderita yg diobati, timbul setelah 2-6 minggu
pengobatan.
6. IDOKSURIDIN
Merupakan analog timidin. Mengalami fosforilisasi di dalam
sel dan bentuk trifosfat akan masuk ke DNA sel mamalia
maupun DNA virus. Jadi obat ini hanya efektif terhadap
virus DNA, terutama virus herpes dan pox.
7. INOSIPLEKS
Inosipleks (metisoprinol atau inosine pranobex) sekarang
ini cenderung digolongkan sbg suatu zat imunomodulator
dari pada sebagai antivirus. Selama infeksi dengan virus,
fungsi imunologik yg mengalami depresi akan dikembalikan
oleh inosipleks.

INTERFERON
Interferon (IFN) sebenarnya adalah cytokine kelompok
glikoprotein yang dihasilkan oleh sel mamalia bila sel
tersebut terpapar oleh virus, double-stranded RNA's dan
banyak zat lain lagi seperti eksotoksin bakteri dan
polianion. Interferon dapat dibagi dalam 3 tipe yg
dinamakan a, b, dan g.
Alfa-interferon (a-IFN) dihasilkan terutama oleh lekosit, b IFN oleh tibroblast dan sel epitel sedangkan g-IFN oleh
limfosit-T. Sekarang ini interteron berbagai tipe tersebut
dihasilkan melalui proses rekayasa rekombinan DNA.
Interferon alamiah sebenarnya baru ada di lokasi infeksi
pada saat titer virus dapat dideteksi dan sebelum timbulnya
antibodi humoral. Timbulnya interferon yg berkorelasi
dengan penurunan titer virus memberikan kesan bahwa
interferon bersifat sbg mekanisme pertahanan hospes yg
penting. Tetapi ada juga kesan sebaliknya bahwa interferon
berkaitan dg timbulnya gejala umum infeksi virus seperti
demam, malaise dan mialgia

MEKANISME KERJA.
Efek antivirus kemungkinan akibat interferon mengikat
pada reseptor khusus di permukaan sel yang
kemudian reaksinya menghambat atau mengganggu
proses uncoating, RNA transcription, protein synthesis
dan assembly virus
FARMAKOKINETIK.
Interferon tidak dapat diserap secara oral. Setelah
pemberian intra muskular atau subkutan dari a-IPN,
kadar puncak dicapai dalam 4-8 jam. Di cairan tubuh
interferon cepat sekali di inaktivasi, mungkin sekali
karena IFN di katabolisir oleh hati.
EFEK SAMPING.
Pemberian interferon dilaporkan menimbulkan demam,
malaise dan rasa lelah. Pemberian jangka lama dapat
menimbulkan rambut rontok. Leukopenia yang
berkaitan dengan dosis dilaporkan timbul dengan
Interferon jenis rekombinan maupun yang alamiah.

INDIKASI.
Interferon- a saat ini telah disetujui digunakan untuk

hairy-cell leukemia, AIDS-related Kaposi's sarcoma


dan condylomata acuminata. lnterferon-a tidak efektif

untuk infeksi CMV. Saat ini interferon- a dilaporkan


dapat mengurangi marker hepatitis B yg kronik,
sedangkan indikasi untuk hepatitis C yang kronik aktif
telah disetujui oleh FDA Amerika Serikat.
Mengingat harga interferon-a masih sangat mahal dan
tidak bebas dari efek samping, penggunaannya tentu
harus ada indikasi tepat dan selektif.
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa interferon
bermanfaat optimal bila dikombinasikan dengan terapi
lain seperti anti-virus.

1. INFEKSI HIV ATAU AIDS


Penderita dengan antibodi seropositif terhadap HIV
dan hitung limfosit CD4 kurang dari 200 sel/mm di
terapi jangka panjang dengan zidovudin 200 mg oral
tiap 4 jam.
Sebenarnya obat zidovudin ini hanya memperpanjang
masa hidup pasien sampai 50 % mortalitas dari kurang
12 bulan menjadi kira-kira 24 bulan.
Keuntungan lain adalah mengurangi kemungkinan
infeksi oportunistik.

2. INFEKSI VIRUS HERPES


Infeksi HSV tipe 1: Asiklovir memberikan hasil yg baik untuk
infeksi oral-labial. Pada HSV ensevalitis, pemberian asiklovir
iv maupun vidarabin iv dapat meningkatkan survival rate..
Dalam hal ini asiklovir lebih unggul daripada vidarabin.
Utk HSV tipe 1 yang menimbulkan kerato-konjungtivitis,
dapat diberikan antivirus topikal pada mata seperti vidarabin
atau obat lama idoksuridin 0,1 %.
Infeksi HSV tipe 2: Tipe 2 ini biasanya menimbulkan herpes
genitalis. Btk primer dari herpes genitalis dapat diobati
dengan asiklovir yang menghasilkari penyembuhan dan
hilangnya rasa nyeri lebih cepat. Obat asiklovir diberikan
topikal 5 % dalam batuk salep, dioleskan 5-6 kali/hari selama
10 hari Sebagai terapi oral, 9 kali/hari 200 mg asiklovir.
Batuk herpes genitalis yang rekuren tidak dapat dihambat
oleh asiklovir. Pemberian topikal asiklovir sama sekali tidak
efektif sedangkan pemberian oral memberikan efek yang
sedang.

3. INFEKSI VIRUS VARICELLA-ZOSTER (VZV)


Bentuk lazim pada anak-anak biasanya ringan dan
tidak membutuhkan obat antivirus.
Ada kalanya penyakitnya memberat, terutama pada
pasien yang disertai defisiensi imunologis.
Untuk ini diberikan asiklovir atau vidarabin secara iv
selama 5-7 hari.
Untuk herpes zoster pada satu dermatom, pemberian
antivirus tidak dianjurkan.
Tidak ada efek terhadap neuralgia pasca-herpes.
Pemberian asiklovir atau vidarabin hanya pada pasien
yang disertai defisiensi imunologis.

4. INFEKSI CYTOMEGALOVIRUS (CMV)


Retinitis karena CMV pada pasien AIDS diberi
gansiklovir tetapi obat ini menimbulkan banyak efek
samping.
5. INFEKSI EPSTEIN-BARR VIRUS (EBV)
Infeksi EBV sebenarnya bersifat "self-limited" sehingga
tidak perlu terapi antivirus.
Secara in vitro, asiklovir, vidarabin dan gansiklovir
memiliki aktivitas menghambat EBV.

6. HEPATITIS

Hanya infeksi kronis aktif hepatitis C telah


disetujui FDA Amerika Serikat untuk diterapi
dengan interferon-a.
Untuk infeksi hepatitis-B, masih dalam
penelitian.