Anda di halaman 1dari 2

Faktor Risiko Hipertensi

Nadya R.V Barus, 0606103786


Secara garis besar, faktor risiko hipertensi dibagi menjadi dua kategori: 1) FR yang tidak dapat dimodifikasi; dan 2) FR yang
dapat dimodifikasi. FR yang dapat dimodifikasi digolongkan dalam kategori umur, ras, riwayat keluarga, dan gender. FR yang
tidak dapat dimodifikasi digolongkan dalam kategori berat badan, diet makanan, aktivitas, dan gaya hidup.
FR yang Tidak Dapat Dimodifikasi
1) Umur. Orang tua lebih berisiko memiliki tekanan darah yang tinggi. Seiring bertambahnya umur, terjadi hipertropi
medial, yaitu perkembangan matriks ekstraselular tunika media dan adventisia pembuluh darah. Peristiwa tersebut lebih
sering terjadi di PB sentral, dan jarang terjadi pada PB perifer. Perubahan endothelium akan terjadi setelahnya,
mempengaruhi interaksi vasokonstriksi sel otot polos vaskular, sehingga dinding vaskular lebih cenderung kaku.
Keelastisitasan yang menurun membuat tekanan sistolik meningkat.
2) Ras. Ras kulit hitam memiliki kecenderungan tekanan darah tinggi, dibandingkan ras kulit putih. Ada beberapa teori
tentang hal ini:
a. ras kulit hitam memiliki level nitrit oksida lebih rendah dan level peptide endothelin-1 (ET-1) lebih tinggi
daripada ras kulit putih. NO berperan mengatur fleksibilitas pembuluh darah, sedangkan ET-1 mempersempit
pembuluh darah.
b. ras kulit hitam memiliki kesensitivitasan yang lebih tinggi terhadap regulasi garam dan air.
c. Kondisi sosial dan ekonomi mungkin berpengaruh, dilihat dari data bahwa ras kuliat hitam yang tinggal di
daerah pedesaan rural Afrika memiliki angka tekanan darah tinggi sebesar 3%. Sedangkan ras kulit hitam yang
tinggal di perkotaan di daerah kota yang kumuh, memiliki angka tekanan darah yang tinggi.
3) Riwayat Keluarga. Anak-anak yang memiliki orang tua bertekanan darah tinggi pada umumnya memiliki
normotensive yang lebih tinggi daripada anak-anak dengan orang tua bertekanan darah normal. Ada kemungkinan
pengaruh faktor diet dan lingkungan dalam hal ini, namun ada pula kontribusi genetik. Orang yang memiliki anggota
keluarga dengan riwayat hipertensi memiliki risiko 30-60% menderita hipertensi pula.
Pada kasus bayi dengan berat badan lahir rendah, risiko hipertensi ketika usianya meningkat cukup tinggi. Perlu
diperhatikan hal ini bukanlah berasal dari genetik, namun cenderung pada terganggunya asupan gizi seimbang yang
kemungkinan disebabkan oleh kondisi sosio-ekonomi dalam masa gestasi, sehingga bayi lahir dengan berat badan
rendah.
4) Gender. Pria cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi daripada wanita. Hal itu, umumnya, adalah untuk
wanita di bawah usia 45 tahun. Perbedaan ini mungkin berhubungan dengan faktor hormon/endokrin. Walau begitu,
wanita hamil, terutama yang mengalami pre-eklampsia biasanya akan mengalami kenaikan tekanan darah di masa
selanjutnya. Begitu juga dengan wanita usia menopause (50 tahun ke atas), yang cenderung mengalami peningkatan
tekanan darah hingga menyamai status tekanan darah pria. Dicurigai bahwa rendahnya angka hipertensi dan penyakit
kardiovaskular pada wanita pramenopause berhubungan dengan hormon estrogen, yang bersifat protektif terhadap
tekanan darah.
FR yang Dapat Dimodifikasi
1. Berat Badan. Orang yang gemuk memiliki tekanan darah lebih tinggi daripada orang yang kurus. Harus diperhatikan
pula bahwa terkadang ada faktor bias berupa kesalahan dalam pengukuran tekanan darah, terutama karena kecilnya cuff,
sehingga angka yang didapatkan lebih tinggi daripada seharusnya (overestimate).
Selain itu, ada pula hubungan antara body mass index (BMI) dengan kedua tekanan sistolik dan diastolik. BMI
memberikan efeknya pada tekanan diastolik, dan sedikit efek pada sistolik. Umur lebih memberi efek pada sistolik.
Mekanisme hubungan antara obesitas dan tingginya tekanan darah masih belum begitu jelas. Ada kemungkinan
bahwa para obese mengkonsumsi lebih banyak sodium dan sedikit potasium, sehingga terjadi peningkatan tekanan darah
lebih karena faktor diet.
Obese pada umumnya juga resistan terhadap insulin, ketika dilakukan tes toleranse glukosa intravena.
Dipostulatkan bahwa resistensi insulin menyebabkan peningkatan konsentrasi sodium intraseluler, dan retensi renal
terhadap air dan garam. Oleh karena itu, insulin dapat dikatakan memegang peranan pada etiologi hipertensi esensial,
terutama pada individu obese.
Karena obesitas sendiri berhubungan dengan tingginya level lipid dalam darah, intoleransi glukosa, dan
tingginya tekanan darah, orang gemuk rentan terhadap penyakit jantung koroner. Ketika orang menurunkan berat
badannya, tekanan darah mereka umumnya menurun pula.
2. Diet Makanan.
Garam/sodium. Konsumsi sodim yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Ini disebabkan karena
meningkatnya jumlah sodium dalam aliran darah menyebabkan sel melepaskan air (karena tekanan osmotik) untuk
menyamakan konsentrasi gradien garam antara sel dan aliran darah. Kegiatan tersebut meningkatkan tekanan di
dinding pembuluh darah.
Efek akibat jumlah garam yang berlebih dalam tubuh juga tergantung pada berapa banyak kelebihan garam yang
dikonsumsi pada waktu tertentu diolah oleh fungsi ginjal. Ketika jumlah garam dalam darah meningkat, air dari
sekitar sel ditarik ke dalam darah untuk menjaga salinitas darah. Garam sodium terdapat di semua bagian luar setiap
sel dalam tubuh. Ketika kandungan garam dalam cairan sekitar sel meningkat, pengikatan air meningkat, dan
pembengkakan terjadi.
Ginjal juga bertanggungjawab dalam meregulasi level garam dan air dalam tubuh. Level garam dan air yang
berlebih dalam darah difilter oleh ginjal, kemudian ginjal mengeluarkan kelebihan tersebut sebagai ekskresi berupa

3.

4.

urin. Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, cairan berkumpul di sekitar sel dan di dalam darah, dan jantung harus
bekerja semakin keras, dan tekanan darah meningkat karena lebih banyak tekanan pada dinding pembuluh darah.
Fungsi jantung dapat menurun karena kerja berlebih tersebut.
Potasium/kalium. Kurangnya asupan potasium atau kalium dapat meningkatkan tekanan darah, karena fungsinya
adalah untuk mengimbangi sodium.
Alkohol. Konsumsi alkohol dapat meningkatkan tekanan darah. Mekanisme alkohol dalam meningkatkan tekanan
darah tidak begitu jelas. Kemungkinannya adalah pada pengkonsumsi alkohol, terjadi over-aktivitas simpatetik dan
peningkatan level plasma nonadrenalin.
Walau begitu peningkatan tekanan darah pada orang yang mengkonsumsi alkohol secara akut, sifatnya hanya
transien dan akan kembali normal jika orang tersebut berhenti mengkonsuminya untuk beberapa hari.
Lemak Hewani. Vegetarian pada umumnya memiliki tekanan darah yang lebih rendah daripada non-vegetarian.
Kemungkinan berhubungan dengan tingginya jumlah serat pada diet vegetarian membentuk mekanisme protensi
terhadap hipertensi.
Kalsium. Konsumsi rendah kalsium kemungkinan memberi kontribusi pada meningkatnya tekanan darah. Walau
begitu ini masih merupakan kontroversi.
Aktivitas. Latihan dinamik meningkatkan tekanan darah, sedangkan latihan isometrik sangat meningkatkan tekanan
darah. Walau begitu, statistik menunjukkan bahwa orang yang berolahraga secara teratur lebih sehar dan memiliki
tekanan darah yang lebih rendah daripada yang tidak. Latihan teratur juga menurunkan risiko penyakit jantung koroner
pada normotensi dan hipertensi.
Gaya Hidup.
Merokok. Tekanan darah meningkat setelah konsumsi satu atau dua batang rokok. Terlepas dari efek akut tersebut,
studi epidemiologi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara merokok dan peningkatan
tekanan darah. Walau begitu, terdapat fakta bahwa prevalensi perokok tinggi pada pengidap hipertensi maligna.
Pengidap hipertensi yang juga perokok memiliki risiko kematian lebih tinggi, terutama karena kardiak. Merokok
berhubungan dengan atheromatous renal arteri stenosis.
Stres. Stres akut menstimuli peningkatan tekanan darah. Namun hubungan antara stres dan peningkatan tekanan
darah terbias pula dengan faktor-faktor lain seperti ekonomi, diet lemak, kalori, elektrolit, dan konsumsi alkohol juga
konsumsi rokok.
Limbah logam. Cadmium dan timah, yang merupakan polutan lingkungan, diklaim dapat menyebabkan
meningkatnya tekanan darah. Mekanismenya masih belum jelas.
Temperatur. Orang yang tinggal di daerah yang dingin cenderung memiliki tekanan darah yang tinggi,
kemungkinan karena pressor-effect langsung. Pada daerah panas, sodium lebih banyak keluar melalui keringat, dan
vasodilatasi lebih mudah terjadi.

Daftar Pustaka:
Beevers, D Gareth. Hypertension in Practice, 2nd Ed. London: Martin Dunitz Ltd, 1995.
Benetos, Athanase.. et al. Influence of Age, Risk-factors, and Cardiovascular and Renal Disease on Arterial Stiffness: Clinical
Applications.
American
Journal
of
Hypertension,
15,
1101-1108,
11
July
2002.
http://www.nature.com/ajh/journal/v15/n12/full/ajh2002195a.html [diunduh 29 Januari 2008]
Mayo Clinic Staff. Hypertension Risk Factors. Jun 5, 2007.
http://www.mayoclinic.com/health/high-blood-pressure/DS00100/DSECTION=4 [diunduh 30 Januari 2008]
Simon,
Harvey...
et
al.
Hypertension
Risc
Factors.
4
Desember
2007.
A.D.A.M.
http://health.nytimes.com/health/guides/disease/hypertension/risk-factors.html [diunduh 30 Januari 2008]