Anda di halaman 1dari 11

BAB II

SISTEM FERMENTASI

Dalam metabolisme, fermentasi mengacu pada proses penghasilan energi oleh senyawa
organik (gula) bertindak sebagai donor dan akseptor elektron. Donor dari NAD+ dan FAD, sedangkan
akseptor dari piruvat atau turunannya. Dalam mikrobiologi industri, fermentasi mengacu pada proses
pengembangbiakan (penanaman) sejumlah sel di bawah kondisi terkontrol pada aerobik/anaerobik
dalam fermentor guna menghasilkan sebuah produk bioteknologi (Waites, dkk., 2001).
Sistem fermentasi dapat bervariasi, ada sebagian proses yang membutuhkan aerasi, agitasi,
oksigen, aseptik, dan ada sebagian yang tidak membutuhkannya. Ada atau tidaknya teknik tersebut
bergantung pada produk dan mikroba yang digunakan. Contohnya teknik aseptik dan nonaseptik
bergantung pada produk dan mikroba yang terlibat, sebagai berikut:
Tabel 2.1. Contoh fermentasi aseptik dan nonaseptik

(Sumber: Waites, dkk., 2001)


Fermentasi juga diklasifikan berdasarkan fase biologis dari mikrobanya, yaitu suspended mode
dan supported growth. Suspended mode merupakan fermentasi dimana mikroba langsung tersebar
dalam substrat, dan kelakuan mikrobanya dapat membentuk flok (agregat) dan dapat juga individual.
Contohnya saja pada penerapan mikroba pada activated sludge atau pada endapan yang terbentuk pada
selokan. Sedangkan supported growth merupakan fermentasi dimana mikroba terpilih diletakkan pada
bahan support (inert), mikroba dan support dalam terpacked secara diam dan hanya substrat yang
mengalir (fixed film) atau dapat juga mikroba dan support ikut bergerak bersama substrat di dalam
reaktor (fluidized support). Dalam keseharian, contoh fixed film adalah lumut yang tumbuh di
bebatuan yang diam (batu supportnya) medianya adalah air sungai, sedangkan fluidized support saat
lumut tumbuh pada bebatuan yang bergerak dalam air sungai. Dalam industri, contoh penerapan
suspended mode dan supported growth adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2 Contoh penerapan dalam fermentasi industri

(Sumber: Waites, dkk., 2001)

Desain fermentor
Fungsi utama fermentor adalah memberikan lingkungan yang sesuai untuk mikroba agar dapat
efisien dalam menghasilkan produk target (biomassa sel, metabolit atau produk biokonversi). Desain
fermentor tergantung pada produk, mikroba yang digunakan, dan kapasitas produksinya namun
juga harus meminimalkan investasi modal dan biaya operasional. Harus ada pengontrolan terhadap
kecepatan pengadukan, transfer oksigen, pH, suhu dan produksi busa.
Pada fermentasi tradisional misalnya tape, digunakan fermentor sederhana dan mungkin tidak
beroperasi di bawah aseptik kondisi, dimana dihasilkan produk dengan volume besar namun
kualitasnya rendah dan berubah-ubah. Sebaliknya, fermentasi yang menghasilkan nilai tinggi namun
volum relatif rendah yaitu pada produksi obat-obatan, selalu menuntut sistem yang lebih rumit dan
beroperasi di bawah kondisi aseptik yang sangat ketat. Kondisi aseptik terkadang tidak begitu
berbahaya pada fermentasi pH ekstrim atau suhu tinggi, dan pada substrat yang terproteksi, yaitu
substrat yang hanya beberapa mikroorganisme dapat memanfaatkannya.
Fermentor industri kebanyakan dirancang tertutup untuk menghindari kontaminasi mikroba.
Fermentor harus tahan sterilisasi dan pembersihan ulang, dibuat dari bahan-bahan yang tidak
beracun, tahan korosi. Fermentasi skala kecil dengan kapasitas beberapa liter dibuat dari kaca atau
stainless steel. Pada skala pilo/industrit biasanya terbuat dari stainless steel dengan permukaan dalam
dipoles, sedangkan fermentor yang sangat besar sering dibangun dari baja ringan yang dilapisi dengan
kaca atau plastik, untuk mengurangi biaya.
Pada kondisi aseptik, semua yang berhubungan dengan pipa pengangkut udara, inokulum dan
nutrisi untuk kebutuhan fermentasi harus disterilisasi, biasanya dengan uap. Alternatif lainnya, untuk
meminimalisasi kontaminasi biasanya transfer bahannya menggunakan sistem pneumatic (segala
bentuk transfer dengan udara )dimana dengan sistem ini dapat mengurangi kebutuhan akan pendingin

coil, harus adanya seal (segel) untuk mengamankan aliran masuk dan keluar, dan ada safety valve
untuk mengamankan sistem jika terjadi overpressure.
Untuk pengontrolan panas, biasanya fermentor berkapasitas 1000 L memiliki jaket eksternal,
dan untuk yang lebih besar berupa coil. Pada aseptik, tidak ada kontak langsung antara bagian steril
dan non-steril untuk menghilangkan kontaminasi mikroba. Mekanisme pembersihan dapat clening in
place (CIP). Pipa sambungan harus meminimalisasi risiko kontaminasi mikroba. Tidak ada pipa
horizontal atau belokan yang tidak perlu dan ruang kosong di mana bahan dapat terakumulasi, jika
tidak ini dapat menyebabkan sterilisasi tidak efektif. Pompa juga harus diminimalkan karena
sambungan yang ada pada pipa menjadi tempat terjadinya kontaminasi. Untuk menggantikannya
biasanya digunakan peristaltic pump yang kerjanya lebih aman terhadap kontaminasi. Canggih atau
tidaknya fermentor tergantung pada target, skala, dan volume produk.

Pengendalian terhadap Kondisi Fisik dan Kimia


Fermentor intinya untuk memisahkan dan member batasan antara sistem dan lingkungan.
Apa pun yang masuk atau meninggalkan fermentor dapat diawasi dan ini memunculkan konsep
neraca massa dan energi. Tersapat sifat intensif (suhu, konsentrasi, tekanan dan panas spesifik)
yang sifatnya tidak bergantung pada ukuran sistem, dan sifat extrinsive (massa, volume, entropi dan
energi) bisa seimbang. Jika massa dan energi di sistem awal dan akhir sama, maka sistem benar.

Agitasi
Agitasi dilakukan untuk mencampur tiga fase dalam fermentor. Fasa cair mengandung nutrisi
terlarut dan metabolit, fase gas didominasi oksigen dan karbon dioksida, dan fase padat terdiri dari sel
dan partikel padat. Pengadukan harus menghasilkan kondisi homogen, meratakan persebaran
nutrisi, perpindahan panas, dan oksigen (karena mikroba mudah mengambil oksigen dan nutrisi
dalam bentuk liquid), dan mengurangi adanya dead space.
Kegunaan agitasi terkait sistem aerobik adalah memperpanjang penyimpanan gelembung
udara dalam suspensi, mengurangi ukuran gelembung untuk meningkatkan luas permukaan transfer
oksigen, mencegah gelembung mengumpul, dan mengurangi ketebalan film pada antarmuka gas-cair.
Namun, jika agitasi terlalu cepat dapat merusak sel mikroba. Sebaliknya, jika terlalu lambat
menyebabkan flokulasi sel atau pertumbuhan yang tidak diinginkan pada permukaan, dinding
pembuluh, pengaduk dan elektroda. Cepat atau lambatnya pengadukan juga bergantung pada
kemampuan shear sensitive stress pada mikroba yang digunakan. Sehingga ada tiga mekanisme utama
yang dapat digunakan dalam fermentor:

1. Reaktor tangki Aduk (STR), mempunyai agitator atau


impeller. Biasanya digunakan untuk mikroba yang sedikit
tahan terhadap gesekan/pengadukan. Baffle adalah pelat
vertikal yang dipasang pada dinding dalam fermentor untuk
membantu pencampuran dan perpindahan massa dengan
meningkatkan turbulensi, mencegah pembentukan pusaran
dan menghilangkan 'ruang mati'.
STR sangat baik digunakan pada fermentasi cair
bahkan pada substrat yang kental sekalipun. Sistem
agitator dan impeller yang dimiliki sangat efektif untuk

Gambar 2.1. Stirred tank reactor (STR)

pencampuran, namun membutuhkan sejumlah energi yang besar dan membahayakan sel
yang rentan terhadap gesekan seperti sel mamalia dan kultur sel hewan (Dutta, 2008)

2. Sistem pneumatik (fermentor airlift), tidak memiliki impeller, agitasi


menggunakan gelembung gas. Sistem ini memiliki kebutuhan energi yang
lebih rendah dan menciptakan putaran yang lebih kecil dari pada STR. Cocok
untuk mikroba yang rentan terhadap pengadukan. Sistem ini minim adanya
kontaminasi.
Gambar 2.2. Diagram
3. Mekanisme hidrodinamik, agitasi menggunakan energi kinetik

ilustrasi dari fermentor

cairan, dicapai dengan menggunakan pompa eksternal. Sistem ini

airlift
tidak butuh coil. Pola aliran fluidanya dapat dua jenis, laminar dan turbulen, sebagai fungsi dari
tinggi rendahnya reynolds nomor (Re).
Properti fluida memberi dampak pada pencampuran dan perpindahan massa, terutama
transfer oksigen dalam fermentasi aerobik. Perilaku fluida saat diaduk dapat sebagai berikut:
1. Fluida Newtonian, viskositas tidak berubah dengan meningkatnya agitasi.
2. Fluida Non-Newtonian, viskositas bervariasi dengan meningkatnya agitasi.
3. Fluida Viskoelastik, properti tidak dapat diamati secara pasti, seperti beberapa polimer.

Perpindahan Panas
Panas yang dihasilkan dalam fermentasi terutama disebabkan oleh aktivitas metabolisme
mikroorganisme dan proses agitasi mekanik. Panas hilang dengan adanya pendinginan. Sebaliknya,
bagi fermentasi yang beroperasi di atas suhu lingkungan, misal yang melibatkan organisme termofilik,
perlu adanya panas. Perpindahan panas dicapai dengan menggunakan jaket eksternal atau coil dapat

juga untuk sterilisasi fermentor. Tidak ada kontak langsung antara pendinginan/pemanas dan media.
Dalam beberapa situasi alternatif media pendingin dapat digunakan, misalnya glikol.

Transfer Oksigen (Aerasi)


Transfer oksigen dalam fermentasi aerob lebih kompleks karena membutuhkan sejumlah besar
oksigen molekular (O2) dari udara yang steril. Aerasi juga berguna untuk membersihkan produk
metabolisme volatile yang tidak diinginkan dari media. Udara yang dimasukkan harus disterilisasi
terlebih dahulu untuk meminimalkan adanya kontaminasi. Filter saluran pembuangan udara dari
fermentor juga dipasang untuk menghindari kontaminasi lingkungan. Udara steril atau oksigen masuk
fermentor melalui sistem semprot udara (sparger), dan kecepatan aliran udara untuk fermentor besar
jarang melebihi 0.5-1.0 volume udara per volume medium per menit (vvm).
Untuk aerasi dalam tangki berpengaduk, sparger terletak di bawah agitator. Struktur sparger
mempengaruhi transfer oksigen ke dalam media, karena mempengaruhi ukuran gelembung gas yang
dihasilkan. Gelembung kecil adalah yang baik, karena semakin kecil gelembung, semakin besar luas
permukaan per volume, yang menyediakan transfer oksigen lebih besar. Namun, sparger dengan poripori kecil rentan terhadap penyumbatan dan memerlukan masukan energi yang lebih tinggi.
Oksigen sedikit larut dalam larutan berair dan kelarutan berkurang dengan meningkatnya
suhu. Transfer oksigen menjadi kompleks karena melibatkan perubahan fase dari fase gas ke cair, dan
dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
1. Kondisi fisik: suhu (semakin tinggi kelarutan berkurang), tekanan (semakin tinggi kelarutan
bertambah) dan luas permukaan gelembung udara/oksigen (semakin besar luas permukaan
transfer oksigen lebih baik)
2. Komposisi kimia dalam medium
3. Laju alir oksigen ke dalam fermentor
4. Jenis sistem sparger (ukuran pori-pori sparger) yang mempengaruhi ukuran gelembung udara
5. Kecepatan agitasi.
Selama fermentasi aerobik, oksigen molecular (O2) harus dijaga pada konsentrasi optimal untuk
memaksimalkan produktivitas. Ada dua istilah pada transfer oksigen yaitu kecepatan oksigen dapat
dikirimkan ke sistem biologis (tingkat transfer oksigen tingkat, OTR) dan kecepatan oksigen
digunakan oleh mikroorganisme (kebutuhan oksigen kritis). Jika tingkat pemanfaatan oksigen lebih
besar dari OTR, akan muncul kondisi anaerobik yang dapat membatasi pertumbuhan dan
produktivitas mikroba.
Kecepatan transfer oksigen bergantung pada driving force dan hambatan dalam transfer
oksigen. Dengan persamaan:

Dimana: C*= konsentrasi oksigen terlarut jenuh (mmol/dm3), CL= konsentrasi oksigen pada
waktu t (mmol/dm3), KL= koefisien perpindahan massa (cm/jam), dan a= daerah antarmuka gas-cair
per volume cairan (cm2/cm3). Konsentrasi oksigen jenuh saat konsentrasinya stabil. Berikut
gambar transfer oksigen ke sel mikroba:
Berdasarkan gambar disamping, tahapan
transfer

oksigen

sebagai

berikut:

1)

dari

gelembung ke batas fase, 2) penetrasi ke batas


fasa gas gelembung dan cairan, 3) transfer dari
batas fase ke cairan, 4) gerakan dalam cairan, 5)
transfer ke permukaan sel, 6) masuk ke dalam sel,
7) masuk ke dalam sel. Molekul gas oksigen
bergerak cepat karena adanya energi kinetik.

Pengontrolan dan Pengawasan terhadap Fermentor


Sistem fermentasi harus dikontrol untuk menjaga produktivitas mikroba, mengoptimalkan
produk, memelihara kondisi operasi yang sesuai dengan mikroba, dan menjamin reproduksibilitas
mikroba yang baik. Pengontrolan dan pengawasan dilakukan terhadap beberapa faktor yaitu kimia,
fisika, dan biologis yang bergantung pada jenis operasi dan mikroorganisme. Pengontrolan dan
pengawasan tersebut dilakukan secara otomatis melalui sensor-sensor khusus yang dilengkapi
dengan data logging dan peralatan yang kompatibel.
Sensor yang secara langsung kontak dalam medium fermentasi atau berada dalam fermentor
(sensor pH, teknan, oksigen, busa, redok, anilisis medium) harus steril dan tahan terhadap berbagai
kondisi operasi. Sensor yang tidak langsung berkontak dengan komponen internal bioreaktor (sensor
pemasukan sel, daya agitator, meter, dan sensor luar) tidak perlu disterilkan.
Pengendalian pH penting karena selama proses pasti dihasilkan produk yang dapat mengubah
pH media pertumbuhan. Pengendali pH sering dengan buffer garam, biasanya fosfat, namun jika
kapasitasnya kurang begitu baik maka dapat dilakukan adanya penambahan asam dan basa. pH dijaga
pada nilai yang diinginkan dengan penambahan buffer/asam/basa secara otomatis dalam merespon
perubahan yang dicatat oleh elektroda pH. Sedangkan untuk pengendalian kadar O2 dan CO2 terlarut
dapat dilakukan dengan elektroda O2 dan CO2.
Prinsip pengontrolan melibatkan sistem sensorik yang dihubungkan dengan sistem kontrol
dan umpan balik. Sensor suhu akan mengukur dan merekam peristiwa naik turunnya suhu dalam
fermentor. Sensor akan mempertahankan perbedaan antara yang diukur dengan nilai-nilai yang
diinginkan pada tingkat minimum. Data yang direkam dari sensor dikirim melalui sinyal ke komputer

pengontrol di mana perhitungan yang tepat akan memunculkan model-model matematis tertentu yang
dapat digunakan sebagai perintah dalah pengontrolan dengan respon yang otomatis.

A. CARA PENGOPERASIAN
Fermentasi skala industri dapat dilakukan secara batch, fed-batch, kontinyu Namun, yang
paling banyak digunakan adalah fermentasi secara batch, yaitu fermentasi yang dilakukan dalam
closed system dimana tidak ada penambahan apapun selama inokulasi, nutrien terbatasi, kecuali
penambahan asam atau basa untuk mengontrol pH atau penambahan oksigen untuk fermentasi
aerob. Dalam fermentasi batch, fermenter diisi dengan inokulum dan substrat, disterilisasi,
diinokulasi, dan organisme tumbuh dengan profil pertumbuhan batch seperti gambar di bawah ini:

Gambar 1. Pertumbuhan mikroorganisme dalam kultur batch


(Sumber: Waites, dkk., 2001)
Fase-fasenya sebagai berikut:
1) Fase lag (fase adaptasi), dimana mikroba masih menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
masih berusaha untuk mencari cara untuk mengambil nutrisi disekitarnya, dan sedikit
pertambahan jumlah sel pada mikroba, namun ada pertambahan ukuran sel (penggemukan
sel). Jika mikroba diinokulasi dari medium rendah nutrien ke medium yang tinggi nutrien,
maka fase lag akan berjalan lama, sebaliknya jika mikroba diinokulasi dari medium tinggi
nutrien ke medium yang rendah nutrien maka tidak ada fase lag. Selain itu, jika sejumlah
kecil sel diinokulasi pada volume yang besar maka fase lag akan berjalan lama. Padahal
untuk fermentasi skala besar, penting untuk dapat meminimilkan fase lag sekecil mungkin.
2) Fase pertumbuhan akselerasi, merupakan fase dimana mulai ada pertambahan jumlah sel
dan kecepatan pembelahan mulai meningkat.
3) Fase pertumbuhan eksponensial, merupakan fase dimana jumlah sel bertambah secara
eksponensial dan terjadi pembelahan sel.
4) Fase pertumbuhan decelerated, merupakan fase dimana terjadi pengurangan kecepatan
tumbuh dan pembelahan sel.

5) Fase stasioner, merupakan fase dimana populasi mencapai nilai maksimum, dan tidak
akan meningkat lagi, sel yang mati sama dengan sel yang tumbuh.
6) Fase kematian, merupakan fase dimana nutrien sudah tidak tersedia lagi bagi mikroba
atau mungkin karena adanya produk beracun yang terakumulasi, sel mulai mati, dan
jumlah sel yang hidup berkurang.
(Dutta, 2008)
Setelah proses fermentasi pada selang waktu tertentu, produk kemudian dipanen dan fermenter
dibersihkan sebelum digunakan kembali untuk siklus fermentasi baru, disebut sebagai down
time (Waites, dkk., 2001).
Untuk fermentasi fed-batch, ada penambahan extra nutrien untuk memicu pertumbuhan
sel namun akan menambah volum fermentasi. Penambahan dilakukan secara kontinyu/bertahap
saat fase batch telah hampir mencapai akhir atau mendekati fase mati (saat nutrisi hampir habis).
Fermentasi fed-batch dapat memperlama fase stasioner (untuk pembentukan metabolit sekunder)
(Waites, dkk., 20013).
Sistem batch memiliki keuntungan, diantaranya biaya awal yang rendah dan jika terjadi
kontaminasi mudah diatasi dan memulai siklus fermentasi baru. Kerugian dari sistem batch
kurang efektif untuk memproduksi biomassa atau metabolit primer, hanya sebagian siklus batch
yang produktif yaitu pada fase eksponensial dimana kuantitas produknya banyak, tidak seperti saat
pada fase lag (fase adaptasi), terjadi perubahan produk dari batch ke batch, adanya fase down time
yang tidak produktif, dan memakan waktu lebih dengan adanya tahap pembersihan, sterilisasi,
pengisian kembali, dan pendinginan (Waites dkk., 2001).
Sistem kontinyu adalah open system, dimana fresh medium ditambahkan secara bertahap
dan diikuti dengan pengeluaran kultur pada mass flow rate yang sama, sehingga volume pun akan
tetap. Pada sistem kontinyu, pertumbuhannya eksponen untuk waktu yang lama dan tidak ada
konsentrasi nutrient yang terbatas serta jumlah selnya tidak berubah tiap waktu. Akibatnya sistem
ini sesuai untuk produksi biomassa dan metabolit primer. Selain itu tidak ada down time dan
biaya operasi rendah. Akan tetapi, dalam 20-50 hari atau selama proses yang lebih lama, sterilisasi
harus ada dan komposisi media yang ditambahkan harus konstan (Waites, et al., 2001).

B. STERILISASI
Sterilisasi Udara
Sterilisasi udara dilakukan untuk menghindari adanya kontaminasi dari atau ke udara.
Input dan keluaran udara harus difilter dan harus biasa dijangkau untuk disterilisasi dengan steam.

Sterilisasi Media dan Vessel

Frmentasi aseptik skala pilot/industri dapat disterilisisasi dalam keadaan terpisah atau
dalam keadaan kosong. Kemudian vessel diisi dengan medium steril (medium pemasak) yang
dipersiapkan untuk sistem batch atau kontinyu Cara lainnya, fermenter diisi dengan medium
yang sudah diformulasikan dan keduanya disterilisasi dalam satu waktu. Untuk fermentasi nonaseptik, kontaminasi tetap dijaga pada nilai minimum melalui pemanasan atau pasteurisasi.
Fermentasi skala laboratorium berkapasitas 1-5 L biasanya disterilisasi dengan steam
autoklaf. Sterilisasi biasanya menggunakan uap bertekanan untuk mencapai 121 C dalam 15
menit. Kenaikan tekanan juga harus dijaga dengan sistem venting tapi harus tetap menghindari
terjadinya kontaminasi. Untuk fermentasi skala pilot dan industri, sterilisasi dilakukan untuk
memungkinkan adanya kontaminasi hanya 0,1%. Dalam sterilisasi dikenal adanya faktor Del (
= ln

), N0 adalah jumlah mikroba awal dan Nt adalah jumlah mikroba saat waktu t. Faktor del

merupakan nilai ukur kerja sterilisasi yang merupakan standar desain untuk unit sterilisasi.
Faktor del dihitung pada rentang suhu 100-121 C melalui pendekatan Richard dimana pada suhu
tersebut efisien untuk sterilisasi. Berikut rumusnya:

Rumus di atas berdasarkan fase sterlisasi seperti gambar di bawah ini:

Gambar 2. Sterilisasi pada fermenter


(Sumber: Waites, 2001)
Proses heating adalah tahap menaikkan suhu, proses holding adalah tahap sterilisasi, proses
cooling adalah tahap penurunan suhu untuk penyelesaian sterilisasi. Pada saat heating terdapat
luas area segitiga yang diarsir untuk menghitung faktor del pada saat heating. Pada saat holding
terdapat luas area persegi panjang yang diarsir untuk menghitung faktor del pada saat holding.
Pada saat cooling terdapat luas area segitiga yang diarsir untuk menghitung faktor del pada saat
cooling. Dimana faktor del ini dapat digunakan untuk mengitung waktu holding sterilisasi dengan
rumus:

(Dutta, 2008)

C. FERMENTASI SUBSTRAT PADAT

Fermentasi padat merupakan penumbuhan mikroba pada padatan, biasanya berupa bahan
padat organik, dengan tidak adanya kandungan air atau mendekati tidak adanya air bebas. Substrat
yang digunakan biasanya cereal grains, bran, legumes, dan bahan lignocellulosic seperti jerami,
potongan kayu, dll. Contoh produksinya misal: tempe, tahu, keju, dan tempe, serta produksi
kompos dan pakan ternak. Di samping itu, enzim, asam organik dan etanol sekarang diproduksi
oleh fermentasi substrat padat.

Parameter Lingkungan yang Dapat Mempengaruhi Fermentasi Substrat Padat


1. Aktivitas air, Aw
Air akan hilang melalui evaporasi dan aktivitas metabolik. Jika kadar kelembapan sangat
rendah, substrat sulit digunakan oleh mikroba, karena substrat tidak berkembang dan
pertumbuhan mikroba berkurang. Akan tetapi, kelembapan yang tinggi akan mengurangi poripori substrat, mengurangi kecepatan difusi oksigen, dan mengurangi pertukaran gas.
2. Suhu
Pembentukan panas sangat mempengaruhi kelembapan relatif dalam fermentasi. Suhu
dikontrol melalui aerasi atau agitasi pada substrat.
3. Aerasi
Aerasi digunakan untuk meratakan panas, CO2 dan senyawa volatil lainnya yang mungkin
menjadi penghambat. Laju transfer oksigen sangat dipengaruhi oleh ukuran partikel substrat,
yang menentukan ruang kosong. Transfer oksigen dalam ruang kosong terkait erat dengan
tingkat kelembaban.

Bioreaktor untuk Fermentasi Substrat Padat


Umumnya fermentasi padat menggunakan sistem batch, sebagian tidak membutuhkan
bioreaktor, mikroba dan substrat langsung disebarkan di lahan datar/lantai yang sesuai. Jika
menggunakan vessel prosesnya dapat bervariasi. Bioreaktor yang digunakan diantaranya:
1. Rotating drum fermenter, bejana silinder dengan kapasitas sekitar 1000
L. Kekurangan utama dari fermenter ini adalah hanya dapat diisi dengan
kapasitas 30%, jika melebihi maka pengandukan akan tidak efisien.
2. Tray fermenter, substrat disebarkan ke dalam setiap tray dengan
kedalaman hanya beberapa sentimeter dan
kemudian disusun dalam ruang yang

Gambar 1. Rotating drum


fermenter

disirkulasi oleh udara lembab. Sistem ini


memerlukan tray yang banyak dan volume ruang inkubasi yang
Gambar 2. Tray fermenter

besar mencapai kapasitas 150 m3.


3. Bed system, digunakan untuk produksi koji, substrat padat
ditempatkan pada bed mencapai kedalaman 1 m, kemudian bed
tersebut dialirkan oleh udara lembab dari bagian bawah.
4. Column bioreactors, substrat padat terpacked secara bebas
dengan adanya jaket diluar untuk mengontrol suhu. Digunakan untuk produksi asam
organik, etanol, dan biomassa.
5. Fluidized bed reactors, untuk substrat berbentuk granul dimana agitasi dilakukan dengan
menginjeksi udara ke dalam fermentor, biasanya untuk produksi

Gambar 3. Bed system

makanan hewan.

D. PENGEMBANGAN PROSES FERMENTASI


Sebelum skala besar, biasanya fermentasi dilakukan dalam skala laboratorium terlebih
duhulu menggunakan fermenter berkapasitas 110L untuk mencari bagaimana komposisi media
yang sesuai, metode operasi yang efektif (batch, fed-batch, atau kontinyu), bagaimana tipe sistem
fermentasi yang cocok (stirred tank, air lift, packed bed, solid state, hollow fibre, dll), dan juga
pemilihan kondisi yang sesuai terkait dengan pH, suhu, oksigen terlarut, dan pembentukan busa.
Optimisasi pada hasil produk skala laboratorium dinamakan proses scale up yaitu dari skala pilot
10100 L kemudian skala industri 1000100 000 L. Selama scale up mungkin terjadi
penurunan produk akibat kondisi operasi skala pilot atau industri yang tidak sama persis dengan
saat skala laboratorium. Pada scale down terjadi proses berkebalikan, dimana kondisi fermenter
skala besar ditiru untuk sistem skala yang lebih kecil (Waites, 2001).