Anda di halaman 1dari 11

Tugas Sistem Penyaluran Air Limbah

Perencanaan Sistem Penyaluran Sistem Air Buangan dan Debit


Air Limbah di Perumahan Alam Sutera Serpong,
Tangerang

oleh :
Anggi Pratiwi Sella

3311100049

Ariella Inca

3311100059

Jurusan Teknik Lingkungan


Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP)

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER


Surabaya
2013

BAB I
Pendahuluan

1.1.Latar Belakang
Manusia selalu menggunakan air untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Aktivitas
tersebut meliputi kegiatan rumah tangga, industri, perkebunan, pengairan sawah, kegiatan
perkantoran, sekolah, dll. Air yang dipergunakan tersebut, tidak secara keseluruhan habis
digunakan, namun 70-80% menjadi air limbah. Oleh karena itu, diperlukan sistem
penanganan air limbah yang tepat agar air limbah yang dihasilkan tersebut dapat terkumpul,
disalurkan, dan dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan
dan lingkungan sekitar.
Prinsip penyaluran air limbah adalah membuat suatu sistem penyaluran yang
mengalirkan air buangan dari sumber ke Bangunan Pengolahan Air Limbah (BPAL) melalui
jarak yang paling pendek agar waktu penyaluran yang dibutuhkan lebih singkat. Untuk
menentukan teknologi yang akan digunakan, terlebih dahulu harus dilakukan analisis
terhadap kondisi umum, batasan-batasan yang ada, dan potensi yang dimiliki oleh daerah
pelayanan. Hal-hal tersebut perlu diperhatikan dan diperhitungkan dengan baik agar sistem
pengolahan air limbah suatu daerah dapat dikelola dengan baik dan tepat.
Berkaitan dengan sistem penyaluran air limbah di suatu daerah, saat ini Perumahan
Alam Sutera Serpong, Kota Tangerang masih menggunakan sistem on-site, dimana sistem ini
rawan menimbulkan masalah-masalah yang merugikan baik bagi makhluk hidup maupun
lingkungan. Oleh sebab itu, perlu direncanakan suatu sistem yang dapat menanggulangi
permasalahan sistem penyaluran air limbah di wilayah tersebut.
1.2.Rumusan Masalah
1.Bagaimana kondisi eksisting sistem penyaluran air limbah di perumahan Alam Sutera
Serpong, Kota Tangerang?
2.Apa permasalahan yang ada pada sistem penyaluran air limbah di perumahan Alam Sutera
Serpong?
3.Apa solusi yang dapat diberikan terhadap permasalahan tersebut?
4.Berapa debit air limbah yang dihasilkan dari perumahan Alam Sutera?
1.3.Tujuan
1. Mengetahui kondisi sistem penyaluran air limbah di perumahan Alam Sutera Serpong,
Kota Tangerang
2. Mengetahui permasalahan yang ada pada perumahan Alam Sutera Serpong
3. Memberi solusi yang tepat terhadap permasalahan yang ada di perumahan Alam Sutera
Serpong

BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1. Pengertian Sistem Penyaluran Air Limbah


Sistem penyaluran air limbah adalah suatu rangkaian bangunan air yang berfungsi
untuk mengurangi atau membuang air limbah dari suatu kawasan/lahan baik itu dari rumah
tangga maupun kawasan industri. Sistem penyaluran biasanya menggunakan sistem saluran
tertutup dengan menggunakan pipa yang berfungsi menyalurkan air limbah tersebut ke bak
interceptor yang nantinya di salurkan ke saluran utama atau saluran drainase. Sistem
penyaluran air limbah ini pada prinsipnya terdiri dari dua macam yaitu: sistem penyaluran
terpisah dan sistem penyaluran campuran, dimana sistem penyaluran terpisah adalah sistem
yang memisahkan aliran air buangan dengan limpasan air hujan, sedangkan sistem
penyaluran tercampur menggabungk analiran buangan dan limpasan air hujan.
Sanitasi tepat guna dalam bidang pembuangan air limbah domestik terdiri 2 (dua)
sistem, yaitu.
1. Sistem pembuangan setempat (on-site system)
2. Sistem pembuangan terpusat (off-site system)
Sistem pembuangan setempat adalah fasilitas sanitasi yang berada di dalam daerah
persil (batas tanah yang dimiliki). Sarana sistem pembuangan setempat dapat dibagi 2 (dua)
yaitu:
- Sistem individual: tangki septic, cubluk
- Sistem komunal: MCK
Sedangkan sistem pembuangan terpusat adalah fasilitas sanitasi yang berada di luar
persil. Contoh sistem sanitasi ini adalah sistem penyaluran air limbah yang kemudian dibuang
ke suatu tempat pembuangan (disposal site) yang aman dan sehat, dengan atau tanpa
pengolahan sesuai dengan kriteria baku mutu dan besarnya limpahan.
Pembuangan air kotor dan air bekas secara setempat (on-site) di negara berkembang
biasanya lebih murah daripada sistem terpusat (off-site). Namun ada hal-hal/keadaan
tertentu, dimana kondisi tanah tidak memungkinkan untuk diterapkannya sistem setempat,
sehingga dalam keadaan seperti ini maka penanganan air limbah dengan sistem terpusat
mutlak diperlukan dengan pilihan teknologi yang lebih murah dibandingkan konvensional
sewerage yaitu small bore sewer dan shallow sewer.
Shallow sewer merupakan sewerage kecil yang terpisah dan dipasang secara dangkal
dengan kemiringan yang lebih landai dibandingkan sewerage konvensional dan bergantung
pada pembilasan air limbah untuk mengangkut benda padat. Prinsip shallow sewer adalah
sebagai berikut.
Mengalirkan air saja/campuran antara air dan padatan (tinja)
Menggunakan jaringan pipa berdiameter kecil ( 100-200 mm)
Jaringan saluran terdiri dari :
Pipa persil
Pipa servis
Pipa lateral
IPAL
Ditanam di tanah, dangkal dari permukaan tanah
Bahan Pipa dapat dari bahan tanah liat, PVC dll
2

Cocok digunakan untuk daerah kecil, misalnya tingkat RW, kelurahan, dll. Dengan
kepadatan menengah sampai tinggi, 300-500 orang/Ha
Digunakan untuk penduduk yang sudah sebagian besar mempunyai sambungan air limbah
dan jamban/kakus pribadi dengan sistem pembuangan yang memadai
Pemilihan Lokasi :
Pada daerah yang mempunyai kemiringan > 4 %
Daerah tersebut belum mendapat program, misalnya Program Perbaikan Kampung
Sedangkan ketentuan teknis untuk shallow sewer adalah sebagai berikut.
Aliran maksimum (hanya lokal) = 3 x Aliran rata-rata;
Diameter pipa minimum 100 mm;
Kecepatan minimum 0,50 m/detik;
Faktor gesekan pipa (FRP) = 0,06; Pipa tanah liat (Vitrified Clay Pipe = 0,06)
Kemiringan > 2 %
Small bore sewer (SBS) merupakan suatu sistem penyaluran air limbah dengan
diameter kecil, karena zat padat sudah ditampung pada suatu tangki interceptor . Secara
umum sistem SBS ini adalah sebagai berikut.
Merupakan system saluran air limbah ber kecil ( 100-200 mm)
Untuk menerima limbah cair, limbah dari tangki septic yang bebas dari benda padat
Melayani air limbah yang berasal dari :
Pipa persil;
Pipa servis menuju ke lokasi pembuangan akhir (IPAL).
Sistem ini dilengkapi dengan IPAL
Pemilihan lokasi:
Pada daerah yang mempunyai kemiringan > 1 %;
Cocok untuk daerah dengan kepadatan menengah sampai tinggi, 300-500
orang/Ha;
Daerah tersebut sebagian besar sudah memiliki tangki septik, tapi fasilitas ini
tidak efektif bila permiabilitas tanahnya buruk, tidak ada lahan untuk bidang
resapan dan air tanahnya tinggi
Sedangkan ketentuan teknis pada sistem Small Bore Sewer adalah sebagai berikut.
Aliran maksimum = 1 x Aliran rata-rata;
Pipa minimum;
Sambungan rumah 50 mm;
Sewer 100 mm.
Kecepatan minimum tidak ada batas;
Faktor gesekan pipa, ks : Pipa PVC 0,03, Pipa Beton = 0,15; Fiber Reinforced Pipe (FRP)
= 0,06; Pipa tanah liat (Vitrified Clay Pipe) = 0,06;
Kemiringan > 2%.
2.2. Prinsip-prinsip Sistem Penyaluran Air Limbah
Prinsip-prinsip penyaluran limbah adalah sebagai berikut:
1. Disalurkan kedalam saluran tertutup, dan harus rapat air
2. Jalur salurannya disesuaikan sedemikian rupa, sehingga sedapat mungkin melalui daerah
pelayanan (service area) sebanyak-banyaknya, sehingga jalur seluruhnya sambung menyambung dari mulai saluran awal (lateral), menuju saluran cabang-cabangnya, yang
kemudian menuju kedalam saluran-saluran induknya. Dari saluransaluran induk tersebut,
air limbah dibuang ke pembuangan akhir yang aman dengan atau diolah dalam bangunan
pengolahan air limbah tertentu, dengan tingkat pengolahan, sesuai dengan karakteristik air

limbahnya, dan tempat pembuangan akhirnya, sehingga badan air setelah bercampur dengan
air limbah, memenuhi persyaratan-persyaratan kulitas tertentu.
3. Aliran air limbah harus mampu membawa kotoran-kotorannya (self clensing velocity) dan
tidak boleh merusak salurannya.
4. Kedalaman aliran air limbah harus mampu dipakai berenangnya benda-benda yang ada di
dalamnya dan juga tidak boleh penuh. Kecuali yang pengalirannya memerlukan pemompaan.
5. Sedapat mungkin aliran air limbah dapat terus-menerus membawa benda-benda yang
terhenti atau mengendap di dalam jalur salurannya. Bila terjadi pembusukan di dalam saluran
akan timbul gas yang berbahaya dan beracun.
2.3. Perhitungan Debit Air Limbah
(rumus2 gitu)

BAB III
Pembahasan
3.1. Kondisi Eksisting di Perumahan Alam Sutera Serpong, Kota Tangerang
Perumahan Alam Sutera merupakan kawasan perumahan yang masih akan terus
dikembangkan pada lahan seluas 818,23 Ha yang terletak di daerah Serpong-Tangerang.
Pengelolaan air buangan pada kawasan ini masih menggunakan sistem setempat (on-site),
dan belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik.
Secara administratif lokasi Perumahan Alam Sutera berada pada Kabupaten
Tangerang dan Kotamadya Tangerang. Kawasan yang termasuk Kabupaten Tangerang adalah
wilayah bagian selatan perumahan, terdiri dari beberapa desa yaitu Desa Pakulonan, Desa
Pondok Jagung, Desa Paku Alam, dan Desa Pondok Jagung Timur. Sedangkan yang
termasuk Kota Tangerang adalah wilayah bagian utara perumahan, terdiri dari beberapa desa
yaitu Desa Panunggangan, Desa Panunggangan Timur, dan Desa Kunciran. Adapun batasbatas administratif kawasan Alam Sutera secara keseluruhan adalah sebagai berikut.
1. Utara : Jalan Tol Jakarta-Merak dan Modernland
2. Selatan : Villa Melati Mas
3. Barat : Jalan Raya Serpong
4. Timur : Desa Kunciran
Kawasan perumahan Alam Sutera merupakan daerah pengaliran Sungai Cisadane.
Kedalaman air tanah yang dilihat dari tinggi permukaan air sumur pada musim hujan berkisar
antara 3 10 m dan musim kering antara 8 12 m. Kawasan Perumahan Alam Sutera
membentang dari arah utara-selatan sepanjang 4,8 km dan dari arah barat-timur sepanjang 2
km. Lahannya dapat dikatakan relatif datar dengan kemiringan antara 0 8 % m dari arah
selatan ke utara, dan terletak pada elevasi 16 28 m dari permukaan laut.
Pada perumahan Alam Sutera terdapat 4 (empat) tipe rumah sebagai berikut.
Tipe I dengan luas tanah 96 200 m
Tipe II dengan luas tanah 200 350 m
Tipe III dengan luas tanah 360 480 m
Tipe IV dengan luas tanah > 500 m
Berikut ini merupakan tabel jumlah penduduk dan jumlah rumah di perumahan Alam Sutera
berdasarkan tipe rumah pada tahun 2007.
Tabel 3.1. Data Jumlah Rumah dan Jumlah Penduduk
Perumahan Alam Sutera Tahun 2007

Sedangkan untuk kebutuhan air bersih perumahan Alam Sutera, berdasarkan hasil
analisis data pada tahun 2007 jumlah pemakaian air domestik pada perumahan Tipe I yaitu
204,76 L/org/hari, sedangkan Tipe II , Tipe III dan Tipe IV adalah sama yaitu 249,13
L/org/hari. (Sutera, 2028)

Untuk persentase pemakaian air buangan terhadap air bersih diperoleh 77,16%
(dapat dilihat pada tabel 2.2.). Persentase tersebut kemudian akan digunakan untuk
menghitung debit total air buangan di perumahan Sutera Alam.
Tabel 3.2. Rekapitulasi % Air Buangan terhadap
Pemakaian Air Bersih dari 7 IPAL

3.2. Sistem Penyaluran Air Limbah Domestik Perumahan Alam Sutera


Berdasarkan kondisi eksisting perumahan Alam Sutera yang telah dipaparkan pada
bab 2, maka sistem pengolahan air limbah yang memungkinkan untuk diterapkan pada
wilayah ini adalah sistem off-site dengan Shallow Sewer. Hal tersebut ditentukan berdasarkan
kondisi eksisting perumahan Alam Sutera saat ini, dimana sistem pengolahan air limbah
masih menggunakan sistem setempat (on-site), dan belum memiliki Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL) Domestik.
Shallow Sewer dirancang untuk menerima air limbah domestik yang dialirkan ke
tempat pengolahan atau pembuangan. Sistem ini terdiri atas pipa-pipa berdiameter kecil
(100 s/d 200 mm) yang diletakkan pada lokasi/daerah yang datar dan bebas dari kesibukankesibukan lalu lintas yang padat, seperti gang-gang di belakang rumah. Sistem ini merupakan
sistem saluran air limbah dengan diameter kecil (100 200 mm), dimana sistem ini hanya
menerima limbah cair dan limbah dari tangki septic yang bebas dari limbah padat. Pada
sistem ini dilengkapi dengan IPAL, dimana hal ini dapat mengatasi permasalahan yang ada
pada perumahan Alam Sutera yang saat ini masih belum memiliki IPAL domestik.
Dari segi pemilihan lokasi, Shallow Sewer biasa digunakan pada daerah yang
memiliki kemiringan >4%. Hal ini sesuai dengan kondisi yang ada pada perumahan Alam
Sutera yang memiliki kemiringan hingga 8%. Dari segi kondisi sekitar, Shallow Sewer cocok
digunakan untuk daerah kecil, misalnya tingkat RW, kelurahan, dl, dan digunakan untuk
penduduk yang sudah sebagian besar mempunyai sambungan air limbah dan jamban/kakus
pribadi dengan sistem pembuangan yang memadai.
Adapun ketentuan teknis dari sistem Shallow Sewer ini antara lain sebagai berikut.
Aliran maksimum (hanya lokal) = 3 x Aliran rata-rata;
Diameter pipa minimum 100 mm;
Kecepatan minimum 0,50 m/detik;
Faktor gesekan pipa (FRP) = 0,06; Pipa tanah liat (Vitrified Clay Pipe = 0,06)
Kemiringan > 2 %
3.3. Perhitungan Debit Air Limbah Domestik Perumahan Alam Sutera
Sebelum melakukan perhitungan diameter pipa, maka dilakukan perhitungan
proyeksi penduduk perumahan Alam Sutera selama 20 tahun. Hasil perhitungan dapat dilihat
dalam tabel berikut ini.
6

Tabel 3.3. Proyeksi Penduduk Alam Sutera pada Tahun 2027


Tipe
Rumah

Tipe I
Tipe II
Tipe III
Tipe IV

Jumlah
Penduduk
tahun 2007
8.199
1.665
738
263
10.865

Proyeksi
Akhir
Perencanaan
tahun 2027
11.721
2.380
1.055
376
15.532

Kemudian setelah diketahui jumlah penduduk pada tahun 2027, dapat dihitung debit
air limbah total perumahan Alam Sutera.
Tabel 3.4. Debit Air Limbah Total Perumahan Sutera Alam
pada Tahun 2027
Tipe
Rumah

Jumlah
Pendudu
k

Proyeksi
Akhir
Perencan
aan tahun
2027

Kebutuhan
air
(L/orang.h
ari)

Q air
Bersih
(m3/hari)

Tipe I

8.199

11.721

204,76

2.399,992

Tipe II

1.665

2.380

249,13

Tipe III

738

1.055

Tipe IV

263
10.865

Q average
(m3/detik)

Faktor
peak

Q peak
(m3/deti
k)

Faktor
infiltras
i
(m3/ha.
hari)

Q
infiltrasi
(m3/deti
k)

Q total
air
buangan
(m3/deti
k)

0,021389

2,8

0,059889

0,047351

0,06874

592,9294

0,005284

0,015853

0,047351

0,052635

249,13

262,8322

0,002342

0,011712

0,047351

0,049694

376

249,13

93,67288

0,000835

0,004174

0,047351

0,048186

15.532

952,15

3.349,426

0,02985

0,189405

0,219255

0,091627

Dalam merencanakan sistem penyaluran air buangan di perumahan Alam Sutera berdasarkan
analisa data yang telah dilakukan, perhitungan mengacu pada asumsi sebagai berikut.
1. Proyeksi penduduk diasumsikan 20 tahun, dengan metode geometrik
2. Luas lahan total adalah 818,23 Ha, yang kemudian akan digunakan untuk mencari nilai
debit infiltrasi
3. Q average diperoleh dari persentase air buangan sebesar 77,16% (dari tabel 2.2) dikali
dengan kebutuhan air bersih dari masing-masing tipe rumah
4. Faktor peak diperoleh dari gambar 3.1. berikut ini, sedangkan faktor infiltrasi diperoleh
dari gambar 3.2. berikut ini.

Gambar 3.1. Kurva Faktor Peak

Gambar 3.2. Kurva Faktor Infiltrasi

Dari tabel 3.4. tersebut dapat diketahui debit air limbah sebesar..... Cenderung besar, kecil,
apa biasa aja untuk tingkat perumahan

Bab IV
Penutup

4.1. Kesimpulan
a. kondisi sistem pengolahan air limbah perumahasan AS saat ini....
b. Permasalahan yang ada di perum AS
c. sehingga memungkinkan bila diterapkan sistem...... karena .....
d. debit air limbah total perumahan AS sebesar ...
4.2. Saran
(sarannya terserah km ap, aku wes bingung bin buntuuu. Sm klo bisa bab 3 yg 3.2. km
tambahin lg, kayaknya kok cuman dikit)
(tambah2in seperlunya, pokoknya itu halaman akhirnya jgn smpe lebih dr 10)
(jgn lupa spasinya 1, bukan 1,5, sm klo km tambah2in jgn lupa paragrafnya dirapiin lg
ya...inget pesan pak Welly :P )

Daftar Pustaka

Aerne, P.Vesilind J,Jeffrey, Peirel, Ruth Weiner. 1998. Environmental Engineering. USA:
Butterworth Publisher.

Kanjali Rusli, Agus Susanto. 2009. Perhitungan Debit pada Sistem Jaringan Pipa dengan
Meroda Hardy-Cross Menggunakan Rumus Hazen-Williams dan Rumus Manning.
Bandung : Unversitas Kristen Maranatha.
Pandebesie, E dkk. 2002. Buku Ajar Program Magister Pengelolaan Sistem Drainase dan
Penyaluran Air Limbah. Teknik Perencanaan Penyehatan Lingkungan Permukiman
Jurusan Teknik Lingkungan, FTSP-ITS.
Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Sutera, Alam. 2008. Divisi Perencanaan Perumahan Alam Sutera, Serpong.
Yanidar, Ramadhani, dkk. 2008. Perencanaan Sistem Penyaluran Air Buangan Perumahan
Alam Sutera Serpong Tangerang. Jurnal Universitas Trisakti volume 4 no. 3, Juni
2008.

10