Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karies Gigi Molar Pertama Permanen


2.1.1 Definisi Karies
Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi, yaitu email,
dentin dan sementum (pit, fisur dan daerah interproksimal) meluas ke arah pulpa
disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme pada karbohidrat yang diragikan. Karies
gigi dapat dialami oleh setiap orang dan dapat timbul pada satu permukaan gigi
atau lebih, serta dapat meluas ke bagian yang lebih dalam dari gigi misalnya email
ke dentin selanjutnya ke pulpa.
Karies gigi ditandai oleh adanya demineralisasi mineral email dan dentin,
diikuti oleh kerusakan bahan-bahan organiknya. Ketika makin mendekati pulpa,
karies menimbulkan perubahan-perubahan dalam bentuk reaksioner dan pulpitis
dan bisa berakibat terjadinya invasi bakteri dan kematian pulpa.

2.1.2 Prevalensi dan insidensi


Prevalensi karies gigi biasanya dihitung dengan menggunakan indeks
DMFT (Decayed, Missing dan Filled Teeth) untuk gigi permanen dan deft untuk
gigi desidui. Studi yang dilakukan pada 614 anak berusia 1-3tahun pada sejumlah
Posyandu di Depok (1990) menunjukkan indeks karies yang meningkat sesuai
dengan usia. Kelompok 1 tahun 0,30: 2 tahun 2,43 dan 3 tahun 5,63. Telah
dilaporkan oleh Noronha dkk (1999) bahwa pada 81 anak sekolah berusia 7-8

tahun di Brazil sebanyak 87,3% mengalami karies gigi molar pertama permanen.
Pengamatan yang dilakukan oleh Milhahn-Turkeheim pada gigi molar pertama
permanen menunjukkan bahwa persentase karies gigi pada wanita lebih tinggi
daripada pria, yaitu pada wanita 81,5% (gigi molar pertama kanan) dan 82,3%
(molar pertama kiri), sedangkan pada pria 74,5% (gigi molar pertama kanan) dan
77,6% (gigi molar pertama kiri). Pada penelitian ini terlihat persentase karies gigi
molar kiri lebih tinggi dari gigi molar kanan, hal ini dihubungkan dengan faktor
pengunyahan dan pembersihan dari masing-masing gigi. Karies pada gigi molar
pertama permanen ini dikarenakan pit dan fissur dalam yang menjadi tempat
penumpukkan sisa-sisa makanan dan mikroorgnisme sehingga produksi asam oleh
bakteri akan berlangsung dengan cepat dan menimbulkan karies. Hal ini juga
dipengaruhi waktu erupsi gigi tersebut dimana gigi molar pertama permanen
merupakan gigi permanen yang pertama sekali erupsi di dalam rongga mulut
yakni pada anak belum sempurna dalam menjaga oral higiene, keadaan ini
seringkali dihubungkan dengan meningkatnya konsumsi makan olahan dan
perubahan pada kebiasaan makannya.

2.1.3 Etiologi
Pada umumnya tidak ada perbedaan prinsip mengenai penyebab dari suatu
karies, akan tetapi terdapat faktor-faktor yang merupakan predisposisi terjadinya
karies pada gigi molar pertama permanen. Karies gigi merupakan penyakit yang
multifaktorial

yang

ditimbulkan

oleh

beberapa

faktor

mikroorganisme, substrat, host (gigi dan saliva) dan waktu.

utama

yaitu:

2.1.3.1 Mikroorganisme
Bakteri yang mula-mula menghuni pelikel adalah berbentuk kokus, terutama
yang paling banyak adalah jenis streptokokus yang dapat tumbuh dan berkembang
biak terutama dalam kondisi oral hygiene yang buruk. Dalam setiap mililiter
saliva dijumpai 10-200 juta berbagai bentuk bakteri, dimana yang paling berperan
menimbulkan karies adalah bakteri kariogenik, yaitu streptokokus mutans dan
laktobasilus. Bakteri ini mampu dengan segera membuat asam dari karbohidrat
yang diragikan dan dapat tumbuh subur dalam suasana asam serta dapat melekat
pada permukaan gigi karena kemampuannya membuat polisakarida ekstra sel
yang sangat lengket dari karbohidrat makanan dan akan menjerat berbagai bentuk
bakteri yang lain. Pada gigi molar pertama permanen bakteri ini juga dapat
tumbuh subur didukung oleh bentuk morfologi pit dan fisur gigi tersebut yang
dalam. Bakteri mudah melakukan kolonisasi dalam daerah tersebut sehingga gigi
tersebut rentan akan karies.
Pada penderita karies yang aktif juga ditemui jumlah laktobasilus pada plak
gigi dengan konsentrasi sekitar 104-105 sel/mg plak. Plak gigi terbentuk dari
campuran antara bahan-bahan saliva seperti mucin, sisa-sisa sel jaringan mulut,
leukosit, limfosit dan sisa-sisa makanan yang kemudian berinteraksi dengan
bakteri yang banyak terdapat dalam mulut. Dalam beberapa hari plak ini akan
bertambah tebal dan terdiri dari berbagai bakteri.
2.1.3.2 Substrat
Pada umumnya anak sangat menyenangi makanan yang manis dan lengket
antara lain gula-gula, permen, coklat, es krim, biskuit dan sebagainya. Makanan

tersebut mengandung sukrosa tinggi yang merupakan jenis karbohidrat yang


paling kariogenik diantara gula atau karbohidrat yang lain. Makanan dan
minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH plak dengan cepat sampai
pada level tertentu yang dapat menyebabkan demineralisasi email. Kondisi asam
ini tetap bertahan selama beberapa waktu dan dibutuhkan waktu 30-60 menit
untuk kembali ke pH normal sekitar 7. Oleh karena itu konsumsi gula yang
berulang-ulang diantara jam makan akan menahan pH plak dibawah normal dan
menyebabkan kecenderungan gigi anak menjadi karies.
2.1.3.3 Host (gigi dan saliva)
Morfologi gigi molar dan insisivus permanen mempunyai daerah-daerah
yang memudahkan retensi plak. Permukaan oklusal molar permanen, pit dan alur
pertumbuhan pada permukaan lingual molar permanen atas dan permukaan bukal
molar permanen bawah, serta pit lingual insisivus permanen atas terutama
insisivus lateralis merupakan daerah yang rentan terhadap karies karena plak yang
mengandung bakteri akan melekat pada daerah tersebut (Gambar 1).
Dalam keadaaan normal pH saliva bervariasi pada masing-masing individu
dari sedikit asam sampai sedikit basa dengan dengan pH saliva berkisar 6,2 7,6.
Saliva memegang peranan utama dalam metabolisme asam basa bakteri mulut,
dimana metabolisme ini sebagian besar menentukan pH. Telah diketahui bahwa
pH saliva akan menurun menjadi 4-5 dalam waktu tiga menit setelah
mengkonsumsi karbohidrat, dan setelah satu jam akan kembali ke keadaan
semula.

Saliva sangat mempengaruhi proses terjadinya karies karena saliva selalu


membasahi gigi-geligi sehingga dapat mempengaruhi lingkungan, oleh karena itu
bila saliva normal di dalam lingkungan gigi maka karies tidak menghancurkan
gigi dalam hitungan hari atau minggu melainkan dalam bulan atau tahun.

Gambar 1. Karies pada fit dan fissure


2.1.3.4 waktu
Secara umum karies dianggap sebagai penyakit kronis pada manusia yang
berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun. Lamanya waktu yang
dibutuhkan suatu karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas bervariasi dan
diperkirakan antara 6-48 bulan. Penelitian epidemiologi pada segolongan besar
anak memperlihatkan serangan karies mencapai puncaknya pada waktu 2-4 tahun
sesudah erupsi gigi yang kemudian menurun. Di samping itu, aktivitas karies juga
bergantung pada frekuensi konsumsi sukrosa sehingga didapatkan adanya
hubungan yang pasti antara frekuensi makanan tambahan di antara jam-jam
makan dengan frekuensi karies gigi.

10

Paduan keempat faktor penyebab tersebut saling berkaitan dan dapat


digambarkan secara dragmatis (Gambar 2). Karies baru bisa terjadi kalau keempat
faktor tersebut ada.

Gambar 2. Empat faktor penyebab karies

2.1.4 Faktor predisposisi


Selain dari faktor yang sudah disebutkan diatas terdapat beberapa faktor
yang juga mempengaruhi terjadinya karies pada gigi molar pertama permanen.
Faktor-faktor tersebut antara lain gigi molar pertama permanen tersebut erupsi
pada usia anak yang masih sangat muda sehingga adanya keterbatasan anak dalam
membersihkan giginya. Anak belum mampu melakukan prosedur penyikatan gigi
yang baik dan masih sangat membutuhkan perhatian orang tua terutama ibunya.
Tingkat kepedulian orangtua berkaitan dengan faktor pendidikan dimana
kurangnya pengetahuan mengakibatkan sikap dan perilaku terhadap pemeliharaan
kesehatan gigi yang ditandai dengan kurangnya perhatian orang tua akan
kesehatan gigi anaknya yang akan mempengaruhi terjadinya karies. Berapa
penelitian menunjukkan anak yang tingkat pendidikan orang tuanya rendah
memiliki tingkat karies yang lebih tinggi daripada anak yang tingkat pendidikan

11

orangtuanya yang lebih tinggi. Selain itu terdapat anggapan bahwa gigi anak
tidak perlu dirawat karena nantinya akan diganti dengan gigi dewasa.

2.2 Masalah yang ditimbulkan akibat karies gigi molar pertama permanen
Gigi molar pertama permanen merupakan kunci oklusi karena gigi tersebut
merupakan gigi permanen yang pertama sekali erupsi dan posisinya tidak
menggantikan gigi susu. Selain itu karena memiliki ukuran yang besar dan jarang
terjadi malposisi.
Karies gigi molar permanen pertama pada anak dapat menimbulkan
berbagai masalah. Kebanyakan anak datang dengan keluhan adanya rasa sakit
dimana karies telah menunjukkan gejala yang sudah lanjut, dimulai dengan
diskolorisasi coklat atau hitam, terdapatnya kavitas dan terasa adanya lubang
dalam gigi dengan sentuhan lidahnya atau bahkan terasa ngilu. Sebaliknya pada
beberapa kondisi karies sudah sampai dentin dapat saja tidak menimbulkan
keluhan, karena secara normal email dan dentin nekrotik melindungi dentin yang
sensitif dan pulpa dari stimulus tersebut.
Kavitas yang tidak dirawat dapat berlanjut menimbulkan rasa sakit jika
dimasuki makanan yang manis atau tersangsang oleh panas atau dingin karena
karies sudah dekat pulpa atau bahkan sudah menembusnya. Selain itu keadaan ini
juga dapat menyebabkan abses dirongga mulut sehingga menimbulkan
pembengkakan pada wajah.
Walaupun tidak menimbulkan kematian, sebagai akibat dari kerusakan gigi
dan jaringan pendukungnya kondisi ini dapat mengakibatkan tingkat produktivitas

12

seseorang terutama pada anak dapat menurun. Karies yang sudah parah dapat
menyebabkan anak menjadi malas untuk makan karena rasa sakit yang timbul
pada saat anak mengunyah. Jika keadaan ini tidak dapat ditanggulangi, anak dapat
mengalami kekurangan gizi dan mengakibatkan aktivitas sehari-hari terganggu.
Pada kondisi tertentu dimana gigi tidak dapat dirawat lagi, harus dilakukan
pencabutan dini sehingga dapat menyebabkan maloklusi gigi antara lain gigi
berjejal dan gangguan oklusi. Gigi yang bersebelahan dapat bergeser atau miring
ketempat bekas pencabutan, mengakibatkan terbentuknya celah antar gigi,
makanan dapat masuk ke celah tadi sehingga dapat membahayakan gusi. Pada
beberapa keadaan, perubahan posisi gigi ini dapat menyebabkan perubahan cara
pengunyahan, sehingga otot rahang menjadi sakit dan menimbulkan sakit kepala,
sendi rahang berbunyi, terbatasnya pembukaan mulut, dan lain-lain. Gigi dari
rahang lawannya dapat turun ke arah bekas pencabutan (elongasi) sehingga
menjadi penghambat gerakan pengunyahan. Apabila telah terjadi malposisi gigi
maka harus dilakukan perawatan ortodonthi yang membutuhkan biaya semakin
mahal.
2.3 Penanggulangan karies gigi molar pertama permanen
Penanggulangan karies gigi molar pertama permanen dapat berupa tindakan
preventif dan kuratif yang bertujuan mempertahankan kesehatan gigi di rongga
mulut. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran
gigi saat ini, penanganan karies lebih ditekankan pada pendekatan preventif
dibandingkan pendekatan restoratif.

13

Karies gigi merupakan penyakit yang dapat dicegah. Adanya kemampuan


saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses
karies, menandakan proses karies tersebut terdiri atas periode pengrusakan dan
perbaikan yang silih berganti. Jika kekuatan penghancurannya melebihi kekuatan
reparatif saliva maka karies akan terus berlanjut, sebaliknya jika kekuatan
reparatifnya melebihi kekuatan perusaknya, karies akan terhenti sesuai dengan
stadium terjadinya.
2.3.1 Preventif (pencegahan)
Ada beberapa cara penting untuk mencegah karies, yaitu mengatur diet
karbohidrat dan membuang plak dari semua gigi. Dokter gigi bertanggung jawab
untuk mendidik pasien dan masyarakat mengenai cara-cara pembersihan gigi.
Banyak yang dapat dilakukan untuk mencegah karies, mengetahui penyebabnya
adalah merupakan hal yang penting agar dapat diketahui bagaiamana dapat
mengetahui pencegahannya. Penegakan diagnosisi dini sangatlah penting artinya,
karena jika pengerusakan dibiarkan berlanjut terlalu jauh, maka tindakan
operatiflah yang dapat menanggulanginya.
Adapun cara-cara pencegahan karies yang dapat dilakukan adalah
1. Pengaturan diet
Pada pengendalian diet ini hal yang perlu ditekankan pada orangtua dan
anaknya agar sedapat mungkin mengurangi makanan yang mengandung
karbohidrat olahan, terutama sukrosa diantara waktu makan, serta menganjurkan
untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung air dan berserat untuk efek self
cleansing.

14

2. Petunjuk menyikat gigi


Penyikatan gigi merupakan faktor yang paling penting dalam menjaga oral
hygiene. Dalam mengajar anak menyikat gigi, tujuannya haruslah memberi
instruksi dan mendorong semangat mereka untuk menyingkirkan debris dan plak
dari semua permukaan gigi yang dapat dijangkau. Beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan pada waktu memberikan penerangan adalah pemilihan sikat gigi,
frekuensi menyikat gigi dan teknik menyikat gigi. Dalam memilih sikat gigi
sebaiknya jangan terlalu keras, lembek atau jarang. Pada anak sikat gigi yang
memiliki bulu lembut cukup efektif karena dapat mencapai celah dan ruang gigi
dimana terdapat plak dan sisa makanan yang berkumpul. Penyikatan gigi telah
efektif apabila telah dilakukan pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum
tidur. Menyikat gigi setelah sarapan sangat penting karena akan mempercepat
proses kenaikan pH 5 menjadi normal (6-7) sehingga dapat mencegah proses
pembentukan karies sedangkan menyikat gigi malam hari sebelum tidur
bermanfaat karena tidak ada efek self cleansing yang menyebabkan berkurangnya
aliran saliva di rongga mulut.
Untuk mendorong anak agar mau menyikat gigi, dapat dilakukan pemilihan
sikat gigi dengan bentuk yang lucu dengan warna-warna yang terang, disamping
pemilihan odol yang rasanya disesuaikan dengan kegemaran anak tersebut.
Penyikatan gigi pada anak harus dilakukan seefisien mungkin sehingga
mempunyai pengaruh dalam mencegah karies gigi. Anak tidak dapat menjaga
kebersihan mulutnya secara benar dan efektif maka peran orangtua untuk
membantu anak melakukan penyikatan gigi, setidaknya sampai anak berumur 6

15

tahun kemudian mengawasi prosedur ini terus menerus. Orang tua diinformasikan
untuk mulai membersihkan gigi anaknya segera setelah gigi yang pertama erupsi
yakni dengan kassa yang dililitkan ke jari telunjuk ibu sampai akhirnya anak
tersebut dapat menyikat gigi setelah gigi erupsi sempurna.
3. Intruksi flossing
Penggunaan dental floss memungkinkan plak dihilangkan dari permukaan
aproksimal gigi yang tidak dapat dijangkau sikat gigi. Idealnya, flossing dilakukan
disamping menyikat gigi sebagai latihan oral hygene sehari-hari. Akan tetapi,
flossing sulit dilakukan dan memerlukan latihan yang lama sebelum benar-benar
menguasai. Anak kurang dapat diharapkan mampu melakukan prosedur tersebut
dimana untuk menjaga standar menyikat gigi yang baik saja, anak tersebut
memerlukan dorongan yang terus-menerus.
4. Penggunaan flour
Pemberian flour secara sistemik dan lokal dapat dilakukan sebagai tindakan
preventif. Flour selain mempunyai pengaruh pada gigi pra erupsi, juga
mempengaruhi gigi pasca erupsi. Flour telah digunakan secara luas untuk
mencegah karies. Tiga mekanisme flour untuk mencegah karies yaitu
menghambat metabolisme bakteri penyebab karies, menghambat demineralisasi
dan meningkatkan reminalisasi pada email dan dentin yang merangsang perbaikan
dan penghentian lesi karies.
Pemberian flour secara topikal pada gigi akan mengurangi insiden karies
gigi. Bahan-bahan topical aplikasi flour antara lain sodium flourida (NaF2),

16

Stannous Flourida (SnF2), Acidulated Phosphat Flourida (APF) dan varnish yang
mengandung flourida. Salah satu varnish flourida adalah Duraphat (colgate oral
care) merupakan varnish alami yang berisi 50mg NaF/ml. Pemberian varnish
flour dianjurkan untuk anak karena mudah diaplikasikan dan sama dengan system
gel APF. Varnish tersebut sangat mengikat flour dibandingkan dengan topikal
aplikasi lain tetapi proses pengurangan kariesnya sama. Pemberian varnish flour
adalah 3 atau 6 bulan sekali. Penelitian yang lebih jauh lagi menunjukkan bahwa
email yang diberi NaF2 lebih sukar dilarutkan oleh asam dibandingkan dengan
email biasa. Penelitian ini memberikan kesimpulan penting bahwa diperlukan
setidak-tidaknya 1 ppm flour ada didalam air minum untuk mengurangi karies.
5. Fissure sealant
Sealant merupakan suatu lapisan plastik tipis yang diaplikasikan, melekat ke
pit dan fisur gigi. Sealant berfungsi sebagai suatu barrier, melindungi email dari
plak dan asam sehingga akan terhindar dari karies. Prioritas tertinggi dapat
diberikan pada gigi molar pertama permanen diantara usia 6-8 tahun dan
diletakkan pada pit dan fisur dengan diagnosa bebas karies. Dengan melihat
bahwa permukaan oklusal gigi molar pertama permanen sangat mudah terkena
karies, fissure sealant merupakan perawatan preventif yang paling ideal untuk gigi
tersebut. Jika dikombinasikan dengan flour maka permukaan email terlindungi
dan dapat mengurangi karies.
Keistimewaan fissure sealant antara lain dapat melindungi gigi permanen
dari destruksi yang meluas dengan melindungi email gigi dari plak dan asam,

17

prosedurnya mudah dilakukan, menghemat waktu dan biaya serta mengurangi


ketidaknyamanan selama prosedur perawatan gigi. Suatu penelitian (American
Dental Association, 1997) mengenai retensi jangka panjang dari sealant secara
kimia menunjukkan bahwa setelah setahun retensinya adalah 92% - 96%, setelah
5 tahun retensi menjadi 67% - 82%, setelah 10 tahun 41% - 57% dan setelah 15
tahun menunjukkan retensi sealant komplit dari 27,6% dan retensi parsial yaitu
35,4%.

2.3.2 Kuratif (perawatan)


Karies mula-mula terjadi pada email yang merupakan jaringan terkeras dari
tubuh. Bila tidak segera dibersihkan dari jaringan karies dan ditambal, karies akan
segera menjalar ke dentin bahkan sampai ke pulpa (ruangan pembuluh syaraf dan
pembuluh darah di dalam gigi) sehingga menimbulkan rasa sakit dan lamakelamaan akan mengakibatkan kematian pada gigi. Jika karies sudah terjadi maka
perawatan yang dilakukan tergantung pada diagnosisnya.
Karies dini dan belum terasa sakit dimana hanya ada pewarnaan hitam atau
coklat pada email maka dapat dilakukan preparasi minimal dengan menggunakan
bahan resin komposit atau semen ionomer kaca. Keuntungan perawatan ini adalah
dapat dilakukan dalam sekali kunjungan.
Pada gigi dengan karies yang sudah meluas ke dentin, gigi biasanya akan
terasa ngilu bila terkena rangsangan dingin, makanan asam dan manis. Bila karies
sudah meluas dan sangat dekat dengan pulpa maka dapat dilakukan tindakan pulp

18

capping untuk melindungi pulpa vital sehingga jaringan pulpa dapat


melaksanakan perbaikannya sendiri dengan membuat dentin sekunder. Pulp
capping terdiri dari direk dan indirek. Pada pulp capping indirect basis pelindung
pulpa misalnya zinc oxide eugenol cement atau kalsium hidroksida diletakkan di
dasar kavitas yang tepi-tepinya terdukung dengan baik. Kavitas diberi tumpatan
sementara atau tumpatan tetap, tergantung pada prosedurnya apakah satu kali
kunjungan atau dua kali kunjungan. Pulp capping direk adalah peletakan bahan
pelindung pulpa di atas pulpa yang terbuka dimana keadaan jaringan disekitar
tempat terbuka tersebut tidak dalam keadaan patologis.
Pada karies yang sudah mengenai pulpa, perawatan gigi dilakukan dengan
cara membersihkan kamar pulpa dan saluran akar dengan alat dan obat-obatan
yang disebut dengan perawatan endodontic yakni pulpotomi dan pulpektomi.
Pulpotomi adalah pembuangan pulpa dari kamar pulpa, kemudian diikuti dengan
penempatan medikamen di atas orifis yang akan menstimulasikan perbaikan atau
memumifikasikan sisa jaringan pulpa vital di akar tersebut. Pulpektomi adalah
pembuangan jaringan pulpa dari kamar pulpa dan saluran akar. Setelah dilakukan
preparasi saluran akar secara mekanis atau khemis, saluran akar kemudian diisi.
Pada gigi tetap muda dengan akar yang belum terbentuk sempurna
diperkirakan pulpa dalam mahkota telah terinfeksi dan meradang maka dapat
dirawat dengan apeksogenesis yakni pulpotomi vital dengan Ca(OH)2 . perawatan
ini mempertahankan pulpa bagian saluran akar tetap dalam keadaan vital. Pada
gigi tetap muda dimana pada gambaran klinis dan radiografi terlihat adanya

19

degenerasi pulpa yang ekstensif atau nekrotik dapat dilakukan perawatan


apeksifikasi.
2.5 Kerangka Teori

Karies gigi
molar permanen
pertama

Gigi permanen pertama yang erupsi

Belum mampu membersihkan gigi secara efektif


Tingginya konsumsi makanan kariogenik

Anak usia 6-12


tahun