Anda di halaman 1dari 38

Good Corporate Government BUMN

STUDI KASUS :

PT. GARUDA INDONESIA


(Persero) Tbk

tugas mata kuliah audit internal pemerintah


disusun oleh :
KELOMPOK IV 10B

ahmad mudzakkir (2)


arina husna amalia (5)
dani nur zainudin (9)
krismawan satya aji laksana (18)
septian fachrizal (26)
DIPLOMA IV KURIKULUM KHUSUS SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

Pendahuluan

Badan usaha milik negara (disingkat BUMN) atau perusahaan milik negara
merujuk kepada perusahaan atau badan usaha yang dimiliki pemerintah sebuah
negara. Di Indonesia, definisi BUMN sebagaimana disebutkan dalam UndangUndang Nomor 19 Tahun 2003 adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian
besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang
berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. BUMN dapat pula berupa
perusahaan nirlaba yang bertujuan untuk menyediakan barang atau jasa bagi
masyarakat.
Saat ini Indonesia memiliki 138 BUMN yang pengelolaannya berada dalam
naungan kementerian BUMN.Salah satu BUMN yang akhir-akhir ini sering dibicarakan
karena keberhasilannya adalah PT. Garuda Indonesia.Tbk. Sejarah garuda
Indonesia sebagai sebuah maskapai komersial dimulai jauh pada saat perjuangan
kemerdekaan Indonesia. Penerbangan komersial Garuda Indonesia yang pertama
adalah penerbangan dari Kalkuta ke Rangoon pada tanggal 26 Januari 1949
dengan menggunakan nama Indonesian Airways.
Saat ini PT. Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan Indonesia
yang berkonsep sebagai full service airline (maskapai dengan pelayanan penuh)
dengan mengoperasikan 82 armada untuk melayani 33 rute domestik dan 18 rute
internasional termasuk Asia (Regional Asia Tenggara, Timur Tengah, China, Jepang
dan Korea Selatan), Australia serta Eropa. Karena keunggulannya, perusahaan ini
pun berhasil menerima berbagai macam penghargaan.Diantaranya adalah The
Worlds Most Best Improved Airline pada 2010 dan juga penobatan sebagai four
star airlines oleh majalah skytrax.Selanjutnya pada Juli 2012, Garuda Indonesia
mendapatkan penghargaan sebagai Worlds Best Regional Airline dan Maskapai
Regional Terbaik di Dunia.Pada tanggal 11 Februari 2011, Garuda memulai IPO
sebagai langkah awal menuju bursa saham.Perusahaan ini memiliki visi Menjadi
perusahaan penerbangan yang handal dengan menawarkan layanan yang

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

berkualitas kepada masyarakat dunia menggunakan keramahan Indonesia.


Adapun misi perusahaan adalah Sebagai perusahan penerbangan pembawa
bendera bangsa Indonesia yang mempromosikan Indonesia kepada dunia guna
menunjang pembangunan ekonomi nasional dengan memberikan pelayanan
yang profesional.
Seperti perusahaan lainnya, perusahaan ini juga pernah mengalami pasang
surut usaha .Perusahaan ini mengalami pukulan berat pada krisis moneter 1997 dan
bahkan hampir bangkrut karenanya. Namun perusahaan ini berhasil bertahan dan
justru mengalami perkembangan yang sangat pesat. Krisis 1997 yang hampir
membuat Garuda Indonesia bangkrut menjadi pelajaran yang berharga. Salah
satunya berkaitan dengan Good Corporate Governance atau GCG.
Good Corporate Governance (GCG) muncul sekitar tahun 1990-an. Pada
saat itu terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin. Krisis ini terjadi
karena adanya kegagalan GCG yang diterapkan oleh perusahaan. Kemudian
muncullah tuntutan agar GCG diterapkan secara konsisten dan komprehensif.
Tuntutan ini antara lain dating dari World Bank, IMF, OECD dan APEC. Lembaga ini
berkesimpulan bahwa prinsip-prinsip dasar GCG dapat menolong perusahaan dan
membantu perekonomian negara yang sedang terkena krisis. GCG diyakini sebagai
kunci sukses bagi suatu perusahaan untuk tumbuh dan berkembang serta
menguntungkan dalam jangka panjang.
Di Indonesia, konsep GCG mulai dikenal sejak krisis ekonomi tahun 1997. Krisis
yang

berkepanjangan

yang

dinilai

karena

tidak

dikelolanya

perusahaan

perusahaan secara bertanggungjawab, serta mengabaikan regulasi dan sarat


dengan praktek KKN (korupsi, kolusi, nepotisme)(Budiati, 2012). Bermula dari usulan
penyempurnaan peraturan pencatatan pada Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa
EfekIndonesia/BEI) yang mengatur mengenai peraturan bagi emiten yang tercatat
di BEIyang mewajibkan untuk mengangkat Komisaris Independen dan membentuk
KomiteAudit pada tahun 1998, GCG mulai di kenalkan pada seluruh perusahaan
publik

diIndonesia.Setelah itu

pemerintah Indonesia menandatangani

Nota

Kesepakatan (Letterof Intent) dengan International Monetary Fund (IMF) yang


mendorong terciptanya iklimyang lebih kondusif bagi penerapan GCG. Pemerintah
Indonesia mendirikan lembaga khusus, yaitu Komite Nasional Kebijakan Corporate
Governance (KNKCG) yangmemiliki

tugas pokok

dalam

merumuskan

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

dan

menyusun rekomendasi kebijakannasional mengenai GCG, serta memprakarsai dan


memantau perbaikan di bidangcorporate governance di Indonesia.
GCG merupakan topik yang akan terus menjadi pembahasan bagi pelaku
bisnis, akademis, pembuatan kebijakan dan lainsebagainya. Perhatian terhadap
GCG kian meningkat seiring banyak bermunculanmasalah skandal keuangan di
lingkungan bisnis. Konsep GCG telah banyakdikemukakan oleh para ahli dan
badan sebagai alat control dan pengawasan terhadap kinerja manajemen.
Ada banyak lembaga yang telah mengeluarkan definisi tentang Good
Corporate Governance ini. Secara umum GCG adalah sistem atau seperangkat
peraturan yang mengatur, mengelola dan mengawasi hubungan antara para
pengelola perusahaan dengan stakeholders disuatu perusahaan. Sedangkan
menurut Peraturan Menteri BUMN nomor PER-01 /MBU/2011, GCG adalah prinsipprinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan
berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha. GCG tidak
hanya sebagai alat pengatur dan pengendali saja namun juga sebagai nilai
tambah bagi suatu perusahaan.tidak menjadi penghambat dalam mempelajari
GCG.Hal ini dikarenakan dalam setiap definisi tersebut dapat ditarik beberapa
prinsip yang utama yaitu transparency, responsibility, accountability, dan fairness.
Hal yang serupa lainnya adalah adanya perlindungan terhadap stakeholders
perusahaan. Stakeholders ini mempunyai kepentingan dalam perusahaan sehingga
sudah selayaknya kepentingan stakeholders ini dilindungi juga.
Adapun esensi dari CG adalah adanya peningkatan kinerja perusahaan
melalui supervisi atau pemantauan kinerja manajemen dan adanya akuntabilitas
manajemen terhadap pemangku kepentingan lainnya, berdasarkan kerangka
aturan yang berlaku. GCG memberikan manfaat berupa kerangka acuan yang
memungkinkan pengawasan berjalan efektif sehingga tercipta mekanisme check
and balances di perusahaan. Manfaat lainnya yaitu:
1. Mengurangi Agency Cost

yang timbul sebagai akibat penyalahgunaan

wewenang atau biaya pengawasan untuk mencegah terjadinya hal


tersebut.
2. Mengurangi biaya modal karena seiring dengan menurunnya tingkat risiko
perusahaan, maka tingkat bunga atas dana atau sumber daya yang
dipinjam juga semakin kecil

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

3. Meningkatkan nilai saham dan citra perusahaan di mata public dalam


jangka panjang
4. Menciptakan dukungan para pemangku kepentingan (stakeholder) karena
umumnya mereka mendapat jaminan manfaat maksimal dari segala
tindakan dan operasi perusahaan.

PENERAPAN GCG DI BUMN


GCG telah menjadi KPI utama bagi BUMN dalam dekade belakangan dan
telah membantu menjaga kinerja yang mantap (steady performance)
1. Indonesia memiliki 138 BUMN, 26 diantaranya memiliki kontribusi keuangan
lebih dari 90% dari keseluruhan BUMN. BUMN yang lain memiliki peranan
penting bagi negara karena melaksanakan fungsi yang tidak dapat
dilakukan sektor swasta
2. BUMN memiliki peranan yang besar dalam pembangunan di Indonesia
berupa kontribusi langsung dalam APBN maupun dukungan lainnya dalam
perekonomian secara umum
3. Implementasi

GCG

telah

dimulai

sejak

awal

200an

dan

dikawal

keberlangsungannya oleh menteri-menteri BUMN yang silih berganti.


4. Penilaian yang independen dan evaluasi atas implementasi GCG telah
dilakukan

oleh

Auditor

Negara.

Lebih

dari

separuh

BUMN

telah

mengimplementasikan GCG, 40% diantaranya telah mengimplementasikan


GCG dengan benar dalam kegiatan operasinya
5. Implementasi GCG uang dibarengi dengan kebijakan rightsizing (membuat
jumlah dan skala bumn dalam komposisi yang tepat), akan terus penjadi
kebijakan kunci dalam menjaga dan meningkatkan kinerja BUMN yang telah
menunjukkan perkembangan yang konsisten.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

PEDOMAN GCG PADA BUMN


Kementerian BUMN telah mengatur tentang GCG dengan dikeluarkannya
peraturan menteri BUMN nomor PER-01/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola
Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) Pada Badan Usaha Milik
Negara. Pelaksanaan penilaian dan evaluasi dilakukan dengan menggunakan
indikator/parameter yang ditetapkan oleh Sekretaris Kementerian BUMN. Kemudian
hasil pelaksanaan penilaian dan evaluasi dilaporkan kepada RUPS/Menteri
bersamaan dengan penyampaian Laporan Tahunan. Peraturan ini antara lain
mengatur hal-hal sebagai berikut :
1. Pengertian
a. Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance), yang
selanjutnya disebutGCG adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu
proses dan mekanisme pengelolaanperusahaan berlandaskan peraturan
perundang-undangan dan etika berusaha.
b. Badan Usaha Milik Negara yang selanjutnya disebut BUMN adalah
badan usaha yang seluruhatau sebagian besar modalnya dimiliki oleh
Negara melalui penyertaan secara langsung yangberasal dari kekayaan
negara yang dipisahkan.
c. Perusahaan Perseroan, yang selanjutnya disebut Persero, adalah BUMN
yang berbentukperseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam
saham yang seluruh atau paling sedikit 51 %(lima puluh satu persen)
sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia yang tujuanutamanya
mengejar keuntungan.
d. Organ Persero adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan
Komisaris, dan Direksi.
e. Pemangku

Kepentingan

(stakeholders)

adalah

pihak-pihak

yang

berkepentingan dengan BUMNkarena mempuyai hubungan hukum


dengan BUMN.
2.

Kewajiban BUMN Menerapkan GCG (pasal 2)


BUMN wajib menerapkan GCG secara konsisten dan berkelanjutan
dengan

berpedomanpada

Peraturan

Menteri

ini

dengan

tetap

memperhatikan ketentuan, dan norma yang berlakuserta anggaran dasar


BUMN. Dalam rangka penerapan GCG sebagaimana dimaksud di atas,
Direksi menyusunGCG manual yang diantaranya dapat memuat board

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

manual, manajemen risiko manual,sistem pengendalian intern, sistem


pengawasan intern, mekanisme pelaporan atas dugaanpenyimpangan
pada

BUMN

yang

bersangkutan,

tata

kelola

teknologi

informasi,

danpedoman perilaku etika (code of conduct).


3.

Prinsip dan Tujuan


Prinsip-prinsip GCG meliputi:
a. Transparansi (transparency), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan
proses

pengambilankeputusan

dan

keterbukaan

dalam

mengungkapkan informasi material dan relevan mengenaiperusahaan;


b. Akuntabilitas (accountability), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggungjawabanOrgan

sehingga

pengelolaan

perusahaan

terlaksana secara efektif;


c. Pertanggungjawaban

(responsibility),

pengelolaan perusahaanterhadap

yaitu

kesesuaian

di

dalam

peraturan perundang-undangan

dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat;


d. Kemandirian (independency), yaitu keadaan di mana perusahaan
dikelola

secara

professional

pengaruh/tekanan

dari

tanpa

pihak

benturan

manapun

kepentingan

yang

tidak

dan
sesuai

denganperaturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi


yang sehat;
e. Kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi
hak-hak PemangkuKepentingan (stakeholders) yang timbul berdasarkan
perjanjian dan peraturan perundangundangan.
Penerapan prinsip-prinsip GCG pada BUMN, bertujuan untuk:
a. mengoptimalkan nilai BUMN agar perusahaan memiliki daya saing yang
kuat, baik secaranasional maupun internasional, sehingga mampu
mempertahankan

keberadaannya

dan

hidupberkelanjutan

untuk

mencapai maksud dan tujuan BUMN;


b. mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, efisien, dan efektif,
serta memberdayakanfungsi dan meningkatkan kemandirian Organ
Persero/Organ Perum;
c. mendorong

agar

Organ

Persero/Organ

Perum

dalam

membuat

keputusan dan menjalankantindakan dilandasi nilai moral yang tinggi


dan

kepatuhan

terhadap

peraturan

perundangundangan,serta

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial BUMN terhadap


PemangkuKepentingan maupun kelestarian lingkungan di sekitar BUMN;
d. meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional;
e. meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional.
4. Organ Persero terkait dengan GCG :
Dalam PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang
Baik-GCG, organ didalam perushaan yang terkait dengan penerapan CGC
adalah :
a. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),
b. Dewan Komisaris/Dewan Pengawas
c. Direksi.
d. Sekretariat Dewan Komisaris/Dewan Pengawas (bila diperlukan)
e. Komite Audit
f.

Komite Lainnya

5. Pengukuran Terhadap Penerapan GCG(Pasal 44)


BUMN wajib melakukan pengukuran terhadap penerapan GCG dalam
bentuk:
a.

penilaian

(assessment)

yaitu

program

untuk

mengidentifikasi

pelaksanaan GCG di BUMNmelalui pengukuran pelaksanaan dan


penerapan GCG di BUMN yang dilaksanakan secaraberkala setiap 2
(dua) tahun;
b.

evaluasi(review), yaitu program untuk mendeskripsikan tindak lanjut


pelaksanaan danpenerapan GCG di BUMN yang dilakukan pada tahun
berikutnya setelah penilaiansebagaimana dimaksud pada huruf a, yang
meliputi

evaluasi

terhadap

hasil

penilaian

dantindak

lanjut

atas

rekomendasi perbaikan.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

Implementasi Good Corporate


Governance PT. Garuda
Indonesia

TAHAPAN GCG
Garuda Indonesia berkomitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip Good
Corporate Governance dalam tata kelola usahanya dan senantiasa berusaha
meningkatkan implementasinya untuk membangun kepercayaan, kesempurnaan
dan kelanjutan perusahaan. Implementasi GCG oleh Garuda Indonesia didasarkan
pada Peraturan Menteri BUMN nomor PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata
Kelola Perusahaan Yang Baik-GCG, sebagaimana arahan atas GCG yang
dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada tahun 2006.
Sebagai implementasi awal dari GCG Garuda Indonesia telah mengeluarkan
peraturan mengenai Kebijakan Tata Kelola Perusahaan (KTKP), Board Manual,
Panduan Kebijakan bagi Direksi dan Komisaris, Panduan etika bisnis, dan Panduan
etika kerja. Dengan menerapkan nilai Efficient & Effective, Loyalty, Customer
Centricity, Honesty & Openness, dan Integrity. Garuda Indonesia telah dan akan
terus mengembangkan standard operasi dan panduan teknis untuk seluruh jajaran
organisasi, dengan berlandaskan kepatuhan kepada peraturan dan kebijakan
yang berlaku.
Garuda Indonesia telah memulai penerapan GCG sejak tahun 2005 hingga
saat ini. Penerapan GCG tidaklah mudah, ditambah Garuda Indonesia adalah
perusahaan yang besar dengan lini usaha yang kompleks dan jenis usaha yang
sangat dinamis. Namun demikian Garuda Indonesia telah berusaha menerapkan
GCG dengan langkah-langkah yang pasti. Dan telah berhasil melewati tahapantahapan penerapan GCG dalam perusahaan, menciptakan budaya kerja baru,
menerapkan nilai-nilai perusahan, dan mengembangkan kepemimpinan, sistem
dan kepegawaian untuk mencapai GCG sesuai dengan harapan para pemangku
kepentingan. Tahapan-tahapan yang sudah dilewati yaitu:

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

1. Tahapan Good Garuda Governance Tahun 2005-2008


Tahapan pertama adalah tahun 2005 hingga 2008 Pada tahap ini garuda
indonesia fokus pada usaha pemenuhan peraturan perundang
2. Tahapan Garuda Group Governance - Tahun 2014-2015
Pada tahun 2009 hingga 2010 garuda Indonesia melaksanakan proses
internalisasi budaya organisasi yang baru, yaitu Fly-Hi yaitu Efficient &
Effective, Loyalty, Customer Centricity, Honesty & Openness, dan Integrity
3. Tahapan Good Garuda Citizen Tahun 2011-2013
Pada tahun 2011 Garuda Indonesia mengeluarkan Panduan etika bisnis, dan
Panduan etika kerja untuk menjaga hubungan perusahaan dengan seluruh
pemangku kepentingan termasuk pelanggan, pegawai internal, vendor, agen,
pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Panduan ini termasuk
adanya sistem Whistleblowing, untuk membentuk pola pikir dan integritas dari
seluruh pegawai Garuda Indonesia dalam jangka panjang. Garuda Indonesia
mempertahankan praktik bisnis yang bersih, beretika, dan terhormat pada
semua level manajemen dan pegawai didalam perusahaan. Sistem lain yang
telah selesai diimplementasikan dan dikembangkan secara konsisten adalah
sistem

manajemen

kinerja

serta

manajemen

risiko

(Enterprise

Risk

Management).
Tujuan dari tahapan Good Garuda Citizen adalah untuk meraih tiga aspek
penting yaitu Leadership, Systems, and Members
a.

Leadership

Dalam aspek kepemimpinan, perusahaan telah melakukan berbagai workshop


yang berhubungan dengan fungsi dan tugas dari pemimpin sebagai role
model dalam pengembangan budaya GCG. Komitmen dari dewan komisaris
dan dewan direksi ditunjukkan dengan konsitensi implementasi dari penilaian
GCG dan tindak lanjut dari setiap rekomendasi yang muncul atas penilaian
yang dilakukan.
b.

Systems

Dari sisi system Garuda Indonesia telah memastikan bahwa seluruh pegawai
memahami tugas pokok, fungsi, target kinerja dan pengukuran kinerja yang
harus dicapai. Untuk mencapai hal tersebut perusahaan telah membuat
penilaian kinerja yang terstruktur dan sistematis. Sistem ini menyangkut kontrak
kerja antara dewan direksi dengan dewan komisaris yang mencakup tujuan

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

dan target yang diterjemahkan kedalam Key Performance Indicators (KPI).


c.

Members

Anggota yang dimaksudkan disini adalah seluruh pegawai Garuda Indonesia.


Pada aspek kepegawiaan, garuda indonesia telah membangun suatu
program pelatihan yang terintegrasi dengan konsep dan prinsip GCG.
Tahun 2013 Garuda Indonesia mulai menggunakan penilaian atas hasil
pelaksanaan GCG sebagai salah satu bagian dari Key Performance Indicators
(KPI).
4. Tahapan Garuda Group Governance - Tahun 2014-2015
Tahapan ini disebut dengan Garuda Group Governance dimana Garuda
Indonesia akan mengimplementasikan dan mengembangkan struktur GCG
yang baik pada seluruh anak perusahaannya. Pada akhirnya diharapkan
bahwa Garuda Indonesia dan seluruh anak perusahaannya, sebagai sebuah
group, berkomitmen untuk seara konsisten menjalankan prinsip-prinsip GCG.
Untuk meningkatkan pelaksanaan GCG pada tahun 2014, Perusahaan telah
menyiapkan rencana kerja yang terkait dengan penerapan tata kelola
perusahaan yang baik sebagai berikut:
a.

Penyesuaian dan perubahan Anggaran Dasar, Panduan Kebijakan


Direksi dan Board Manual.

b.

Mempersiapkan Kebijakan Direksi.

c.

Partisipasi dalam Corporate Governance Perception Index (CGPI) 2013


yang diselenggarakan oleh The Indonesian Institute for Corporate
Governance (IICG) dengan tema Corporate Governance in the
Perspective of Learning Organization.

d.

Perbaikan Etika Bisnis dan Etika Kerja dalam sistem kerja, Program
Pengendalian Gratifikasi, serta Sistem Whistleblowing ke internal Garuda
Indonesia dan pemangku kepentingan

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

10

KESESUAIAN INFRASTRUKTUR GCG GARUDA INDONESIA DENGAN


PERATURAN PEMERINTAH
Sesuai

dengan

komitmen

Garuda

Indonesia

yaitu

mengembangkan

dan

melaksanakan GCG sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, maka kami
akan membandingkan, struktur tata kelola yang dilakukan oleh Garuda Indonesia
dengan tata kelola yang disyaratkan dalam

peraturan berdasarkan PER-

01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik-GCG.


1. GCG Manual
Garuda Indonesia telah membuat GCG Manual dengan menerbitkan
Kebijakan Tata Kelola Perusahaan (KTKP) yang telah direvisi sebanyak dua
kali, dan terakhir direvisi pada bulan juli 2014.
2. Prinsip GCG
Garuda Indonesia menerapkan kelima prinsip tersebut dalam Kebijakan Tata
Kelola Perusahaan (KTKP) yang dijabarkan sebagai berikut :
a. Transparansi (Transparency)
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, Perusahaan
menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara mudah
diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan.Perusahaan harus
mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang
disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang
penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur
dan pemangku pentingan lainnya.
b. Akuntabilitas (Accountability)
Perusahaan berupaya untuk mempertanggungjawabkan kinerjanya
secara transparan dan wajar melalui pengelolaan yang benar, terukur
dan

sesual

dengan

kepentingan

Perusahaan

dengan

tetap

memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku


kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan
untuk menilai kinerja yang berkesinambungan.
c. Tanggung Jawab (Responsibility)
Organ Perusahaan (RUPS Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan
Direksi) mematuhi peraturan, perundang-undangan, Anggaran Dasar
dan

peraturan

Perusahaa

serta

melaksanakan

tanggung

jawab

terhadap masyarakat dan lingkungan, sehingga dapat terpelihara


KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

11

kesinambungan

usaha

dalam

jangka

panjng

dan

mendapat

pengakuan sebagai good corporate citizen.


d. Independency
Untuk meIancarkan pelaksanaan prinsip-prinsip GCG, Perusahaan harus
dikelola secara independen dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
e. Kewajaran dan kesetaraan (Fairness)
Dalam

melaksanakan

memperhatikan

kegiatannya,

kepentingan

Perusahaan

pemegang

saham

harus

senantiasa

dan

pemangku

kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.


3. Tujuan GCG
Garuda Indonesia mengimplementasikan tujuan yang ditetapkan dalam
peraturan tersebut menjadi tujuan penerapan tata kelola yang baik dalam
organisasi yaitu :
a. Mengoptimalkan nilai Perusahaan agar Perusahaan memiliki daya saing
yang kuat, baik secara nasional maupun internasional, sehingga mampu
mempertahankan keberadaannya dan

hidup berkelanjutan untuk

mencapai maksud dan tujuan Perusahaan;


b. Mendorong pengelolaan Perusahaan secara profesional, efisien dan
efektif serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian
organ Perusahaan:
c. Mendorong agar organ Perusahaan dalam membuat keputusan dan
menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan
terhadap

peraturan

perundang-undangan, serta

kesadaran

akan

adanya tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap pemangku


kepentingan (stakeholders) maupun kelestarian Iingkungan di sekitar
BUMN;
d. Meningkatkan kontribusi Perusahaan dalam perekonomian nasional; dan
e. Meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional.
4. Organ terkait CGC
Garuda Indonesia memiliki organ perusahaan yaitu:
a. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
b. Dewan Komisaris
c. Direksi
d. Komite-komite dibawah Dewan Komisaris

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

12

Komite Audit (wajib)


Komite

lainnya

untuk

memfasilitasi

pelaksanaan

tugas

pengawasan penerapan CGC


e. Sekretaris perusahaan
f.

Pengawasan Internal (Audit Internal)

5. Rencana Jangka Panjang dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan


PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang BaikGCG mensyaratkan bahwa direksi wajib membuat Rencana Jangka Panjang
dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan. Garuda Indonesia telah
membuat Rencana Jangka Panjang sejak tahun 2005.
6. Larangan mengambil keuntungan pribadi
Dalam PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang
Baik-GCG

disebutkan

bahwa

anggota

direksi

dilarang

mengambil

keuntungan pribadi. Direksi Garuda Indonesia telah memberikan pernyataan


tertulis bahwa tidak ada benturan kepentingan. Tidak hanya direksi namun
komisaris perusahaan juga melakukan hal yang sama. Hal ini membuktikan
bahwa Organ Garuda Indonesia memiliki komitmen yang kuat dalam
penerapan profesionalisme dengan meniadakan benturan kepentingan
pribadi dari dewan direksi maupun dewan komisaris.
7. Manajemen resiko
Dalam PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang
Baik-GCG setiap BUMN diharuskan untuk membangun dan melaksanakan
program

Manajemen

Risiko

yang

terpadu.

Garuda

Indonesia

mengimplementasikan manajemen resiko dengan membuat satu bagian


untuk membangun dan melaksanakan Manajemen Risiko yaitu divisi Strategy
Bussinoess, Development and Risk Management.
8. Sistem Pengendalian Internal dan Pengawasan Intern.
Garuda Indonesia mengimplementasikan Sistem Pengendalian Internal
dengan ketat, yaitu dengan membentuk satu bagian khusus internal control,
dibawah Direksi langsung.
b. Sekretaris Perusahaan
Pemerintah mensyaratkan bahwa direksi harus menyelenggarakan fungsi
sekretaris perusahaan, Garuda Indonesia dalam Organ Perusahaan telah
memenuhi aturan ini dengan membuat Bagian Sekretaris Perusahaan.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

13

9. Kerahasiaan Informasi dan Keterbukaan Informasi


Peraturan pemerintah mengatur bahwa BUMN harus menjaga informasi yang
rahasia bagi perusahaan. Dan harus membuka informasi penting sesuai
dengan

peraturan

perundang-undangan.

Garuda

Indonesia

telah

melakukan keterbukaan informasi dengan mem-publish data-data penting


yang harus diinformasikan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Key Performance Indicator Garuda Indonesia


Garuda Indonesia telah menggunakan Key Performance Indikator untuk menilai
performa perusahaan sejak tahun 2011. Key Performance Indikator adalah kontrak
kerja yang disepakati antara dewan direksi dengan dewan komisaris berupa target
capaian. Oleh sebab itu setiap tahun item-item penilaian dalam KPI bisa berubah
tergantung dari kebijakan perusahaan dan hasil pembahasan dewan komisaris dan
dewan direksi yang telah ditetapkan pada tahun tersebut.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

14

KPI Tahun 2012

Untuk tahun 2013 Garuda Indonesia memiliki KPI sebagai berikut:


(target 2013)
Sustainable Profitable Growth
Net Profit
EBITDAR
Margin per ASK
Subsidiaries Operating Profit in RKAP
International Route Performance
Cost per ASK (CASK)
Market Share
Consistent of High Quality of Products & Services
Internal Audit IQSA
SKYTRAX rating
Revenue Enhancement
SLF and CLF
# of FFP Membership

USD 90.6 Million


USD 694.1 Million
USc 0.52
USD 4.5 Million
RR*
USc 8.14
28.6% Domestic / 26.5% International
100%
4 Star (with 60% of the attribute getting
5 star SKYTRAX rank)
76.7% and 48.10%
790,000

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

15

% of GFF Traffic Contribution


% of GFF Membership Contribution
Premium Cabin
Global Alliances
New Routes Performance Level
minimum age of route & months)
Product Quality Enhancement
Customer Satisfaction Index
Number of New Aircraft
Average Age of Fleet
Operation Excellence
Aircraft Utilization
Reliability Index
Number of Pilot
Number of Cabin Crew
B777-300ER (1st delivery)
Employee of Choice
Percentage of Employee Engagement
Employee Satisfaction Index
% of Employee Development Plan
The Most Admired Companies Rating
High Performance Organization
ASK/Employee
Strategic Planning Deviation
KPKU Score
GCG Index
Score of PKBL Program Effectivity
SBU Spin Off
Information Capital Readiness Index

36%
in
51%
90%
meet
requirement

the

membership

(with
CM3*
Avg. 80/min index per attribute 75
2 A332, 1 A333, 4 B773ER, 10 B738, 7
CRJ1000
5.20 years
10:59 hours/Day
99.27
1,221
3,177
100% in May 2013
62%
70% with unfavorable criteria <20%
80%
Big 5
5.28 Million
80%
510
85
70%
GA Cargo & GSM
75%

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

16

Penilaian dan Analisis GCG


PT.Garuda Indonesia

ASSESMENT PENERAPAN GCG PT.GARUDA INDONESIA


1. Dasar Penilaian GCG
Sesuai ketentuan Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER01/MBU/2011 tentang
Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance)
Pada Badan Usaha Milik Negara, yang mencabut Keputusan Menteri Negara
BUMN RI No.KEP-117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Praktik GCG, mengatur
bahwa setiap BUMN wajib untuk melakukan pengukuran terhadap penerapan
GCG, melalui penilaian (assessment) yang dilaksanakan setiap 2 tahun oleh
penilai independen dan melalui evaluasi (review) yang dilakukan sendiri oleh
BUMN (self assessment) yang meliputi evaluasi terhadap hasil penilaian yang
dilakukan oleh pihak independen dan tindak lanjut atas rekomendasi perbaikan
yang disampaikan dari hasil akhir penilaian.
SuratSekretaris

Aspek Penilaian diatur dalam

MenteriNegaraBUMNNomor:S-168/MBU/2008yang

kemudian

diperbarui tahun 2012 denganSK-16/S.MBU/2012.


2. Aspek Penilaian
Rincian Indikator yang Mempengaruhi Penilaian Menurut Surat Sekretaris Menteri
Negara BUMN Nomor:S-168/MBU/2008.
N
1.o

Indikat
or
Hak dan
Tanggung
Jawab
Pemegang
Saham atau
RUPS

Rincian
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Hal-hal yang perlu mendapat persetujuan RUPS


Transparansi dalam proses pemilihan Komisaris danDireksi
Konsultansi dengan instansi terkait
Peran Pemegang Saham dalam meresponpasar
Melaksanakan RUPS berdasarkan atas ketentuan yang ada
Pengangkatan Anggota Dewan Komisaris
Penilaian terhadap Komisaris
Pengangkatan Anggota Dewan Direksi
Penilaian terhadap Direksi
Sistem insentif untuk Direksi dan Komisaris

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

17

No

Indikator

2.

KebijakanGCG

3.

Penerapan GCG:

Dewan Komisaris
Komite
Dewan
Komisaris
Direksi
Satuan
Pengawasan
Intern
Sekretaris
Perusahaan

Rincian
1. Pelaksanaan aturan atau KebijakanGoodCorporate
Governance
2. Kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang berlaku
Dewan Komisaris dan Komite Dewan Komisaris:
1) Kesempatan pembelajaran bagi Komisaris
2) Kejelasan fungsi,pembagian tugas, tanggung
jawab dan otoritas
3) Persetujuan Komisaris atas asumsi rencana pencapaian
Rencana Jangka Panjang Perusahaan(RJPP)dan
Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan(RKAP)
4) Arahan Komisaris terhadap Direksi dan Implementasi
rencana dan kebijakan perusahaan
5) Kontrol Komisaris terhadap Direksi atas implementasI
rencana dan kebijakan perusahaan

6) Akses bagi Komisaris atas informasi atas perusahaan


7) Peran Komisaris dalam pemilihan calon anggotaDireksi
8) Tindakan Komisaris terhadap potensi benturan
kepentingan yang menyangkut dirinya
9) Keterbukaan informasi
10) Pemantauan
efektivitas
praktik
Good
Corporate
Governance
11) Pertemuan rutin dan dokumentasi pelaksanaan
kegiatan Komisaris
12) Peran Sekretaris Komisaris
13) Peran Komite Dewan Komisaris

Direksi,Satuan Pengawasan Intern dan Sekretaris Perusahaan:


1) Kesempatan pembelajaran bagi Direksi
2) Kejelasan fungsi, pembagian tugas, tanggungjawab dan
otoritas
3) PeranDireksi dalam perencanaan perusahaan
4) PeranDireksi dalam pemenuhan target kinerja
perusahaan

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

18

5) Kontrol terhadap implementasi rencana kebijakan


perusahaan
6) Tindakan direksi terhadap potensi benturan kepentingan
7) Keterbukaan informasi
8) Pelaksanaan pertemuan rutin
9) Peran Satuan Pengawasan Intern
10) Peran Sekretaris Perusahaan.
4.

Pengungkapan
Informasi

5.

Komitmen

1. Ketersediaan informasi perusahaan kepada stakeholder.


2. Kemudahan akses stakeholder terhadap kebijakan dan
praktik GCG.
3. Kelengkapan penyajian Laporan Tahunan.
1. Ketersediaan Pedoman atau Kebijakan Good
Corporate Governance
2. Muatan Pedoman atau Kebijakan Good
Corporate Governance
3. Penandatanganan Pedoman atau Kebijakan Good
Corporate Governance

RincianIndikatoryangMempengaruhiPenilaianMenurutSuratKeputusanMenteriN
egaraBUMNNomor:SK-16/S.MBU/2012
No.
1.

Indikator
Komitemen
terhadap
penerapan
Good
Corporate
Governance

Rincian
1. Perusahaan memiliki Pedoman Good Corporate Governance dan
Pedoman Perilaku
2. Pelaksanaan Pedoman Good Corporate Governance dan
Pedoman Perilaku
3. PelaksanaanpengukuranGood CorporateGovernance
4. Pengelolaan dan Administrasi Laporan Harta Kekayaan
Penyelenggara Negara(LHKPN)
5. Pelaksanaan program pengendalian gratifikasi
6. Pelaksanaan kebijakan whistleblowersystem

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

19

2.

Pemegang Saham
dan
RUPS
atau pemilik
modal

1. Pengangkatan dan Pemberhentian Direksi


2. Pengangkatan dan Pemberhentian Dewan Komisaris
3. Memberikan keputusan yang diperlukan untuk menjaga
kepentinganusahaperusahaandalam jangka panjang dan
jangka pendek sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku
4. Persetujuan Laporan Tahunan termasuk pengesahan
Laporan Keuangan serta tugas pengawasan Dewan
Komisaris sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku
5. Pengambilan keputusan melalui proses yang terbuka dan
adil serta dapat dipertanggung jawabkan
6. Pelaksanaan Good Corporate Governance sesuai dengan
wewenang dan tanggungjawabnya

Dewan Komisaris

1.
2.

3.

4.
5.
6.
7.

Pelaksanaan programpelatihan atau pembelajaran secara


berkelanjutan
Pembagian tugas dan menetapkan faktor-faktor yang
dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan tugas Dewan
Komisaris
Persetujuan Dewan Komisaris atas Rencana Jangka
Panjang(RJP)dan
Rencana
Kerja
dan
Anggaran
Perusahaan(RKAP)
Pengarahan terhadap Direksi atas implementasi rencana dan
kebijakan
Pengawasan terhadap Direksi atas implementasi dan rencana
kebijakan perusahaan
Pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan pengelolaan
anak perusahaan atau perusahaan patungan
Peran dalam pencalonan dalamanggotaDireksi, penilaian
kinerja Direksi,usulan tantiem atau insentif kinerja sesuai
ketentuan yang berlaku dan mempertimbangkan kinerja Direksi

8.

Tindakan terhadap potensi benturan kepentingan yang


menyangkut dirinya
9. Pemantauan dan memastikan bahwa prinsip- prinsip Good
Corporate Governance telah diterapkan secara efektif
dan berkelanjutan
10. Penyelenggaraan Rapat Dewan Komisaris
11. Peran Sekretaris Dewan Komisaris
12. Peran Komite Komisaris
4.

Direksi

1. Program pelatihan atau pembelajaran bagi Direksi secara


berkelanjutan
2. Kejelasan pembagian tugas atau fungsi, wewenang dan
tanggung jawab secara jelas
3. Peran dalam penyusunan perencanaan perusahaan

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

20

4. Peranpemenuhan target kinerja perusahaan


5. Pengendalian
operasional
dan
keuangan
terhadap
implementasi rencana dan kebijakan perusahaan
6. Pengurusan perusahaan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dan anggaran dasar
7. Hubungan yang bernilai tambah bagi perusahaan dan
stakeholders
8. Monitoring dan pengelolaan potensi benturan kepentingan
anggota Direksi dan manajemen dibawah Direksi
9. Keterbukaan informasi
10. Penyelenggaraan Rapat Direksi dan Rapat Dewan Komisaris
Direksi atau Rapat Gabungan
11. Peran Pengawasan Intern
12. Peran Sekretaris Perusahaan
Penyelenggaraan RUPS dan RUPS lainnya
5.

Pengungkapan
Informasi

6.

Aspek lainnya

1. Ketersediaan informasi perusahaan kepada stakeholders


2. Kemudahan akses bagi stakeholder atas informasi perusahaan
yang relevan,memadai dan dapat diandalkan secara tepat
waktu dan berkala
3. Kelengkapan penyajian LaporanT ahunan
4. Penghargaan dalam bidang Good Corporate Governance dan
bidang-bidang lainnya

1. Praktik Good Corporate Governance perusahaan menjadi


benchmark bagi perusahaan lain
2. Praktik penyimpangan terhadap prinsip-prinsip Good Corporate
Governance

3. Hasil Penilaian
a. Penilaian 2009
Berikut Hasil Penilaian GCG Berdasarkan Company Corporate Governance
Scorecard tahun 2009 yang dilakukan oleh BPKP.

Aspek Pengujian
I. Hak dan
Saham/RUPS

2009
(% Capaian)
Tanggung

Jawab

Pemegang 6,99

II. Kebijakan Good Corporate Governance

6,84

III. Penerapan Good Corporate Governance

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

21

A. Komisaris

19,42

B. Komite Komisaris

5,29

C. Direksi

22,21

D. Satuan Pengawasan Intern SPI

2,66

E. Sekretaris Perusahaan

2,70

IV. Pengungkapan Informasi (Disclosure)

6,64

V. Komitmen

8,05

Skor Keseluruhan

80,79

Peringkat Kualitas Penerapan GCG

BAIK

b. Penilaian 2011
Berikut Hasil Penilaian GCG Berdasarkan Company Corporate Governance
Scorecardtahun 2011 yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik RSM AAJ.
2011
(% Capaian)

Aspek Pengujian
I. Hak dan
Saham/RUPS

Tanggung

Jawab

Pemegang

II. Kebijakan Good Corporate Governance

7,96
7,59

III. Penerapan Good Corporate Governance


A. Komisaris

25,42

B. Komite Komisaris

5,03

C. Direksi

25,27

D. Satuan Pengawasan Intern SPI


E. Sekretaris Perusahaan

2,85
2,73

IV. Pengungkapan Informasi (Disclosure)

5,92

V. Komitmen

9,11

Skor Keseluruhan

91,87

Peringkat Kualitas Penerapan GCG

SANGAT BAIK

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

22

Selain menggunakan Garuda Indonesia juga menggunakan Pedoman


Umum GCG Indonesia yang ditetapkan oleh Komite Nasional Kebijakan
Governance sebagai acuan dalam menilai penerapan GCG di Perusahaan.
Hasil Penilaian Penerapan GCG Tahun 2011 Berdasarkan Pedoman Umum
GCG I Indonesia.

c. Penilaian 2012
Self Assessment Good Corporate Governance (GCG) Garuda Indonesia Tahun
2012
Sesuai ketentuan Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER01/MBU/2011 tentang
Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance),
BUMN juga diharuskan melakukan evaluasi atau review dengan dilakukan sendiri
oleh BUMN (self assessment). Aspek pengujian berdasarkan SK-16/S.MBU/2012.
Hasil Self Assesment Penerapan GCG PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk Tahun
2012
ASPEK PENGUJIAN

Capaian

Bobot
Skor

% Capaian

Komitmen terhadap
Penerapan Tata Kelola
Secara Berkelanjutan

70,000

6,55

93,57%

II

Pemegang Saham dan


RUPS/Pemilik Modal

90,000

7,72

85,74%

III

Dewan Komisaris/Dewan
Pengawas

350,000

31,72

90,63%

IV

Direksi

350,000

31,55

90,15%

Pengungkapan Informasi dan

90,000

8,37

92,97%

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

23

Transparansi
VI

Aspek Lainnya

TOTAL

50,000

5,00

100,00%

1,000,000

90,91

90,91%

d. Perbandingan Penilaian GCG 2011


Berikut perbandingan skor total penerapan GCG pada perusahaan BUMN tahun
2011.
BUMN

Skor GCG

Garuda

91,87

BPJS Ketenagakerjaan

94,81

Pertamina

91,85

Semen indonesia

91,71

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

24

ANALISIS COSO DAN BALANCED SC0RECARD


1. Analisis Internal Control COSO
Pengendalian Internal (Internal Control) merupakan bagian dari Good
Corporate Governance. Sistem pengendalian internal yang diterapkan di
Garuda Indonesia dibentuk dengan mengacu pada kerangka kerja terpadu
untuk pengendalian internal yang dikembangkan oleh COSO. Penerapan
5(lima) komponen COSO framework pada Garuda Indonesia adalah sebagai
berikut:
a. Lingkungan pengendalian
Menegakkan integritas (fakta integritas) menerapkan nilai-nilai
budaya perusahaan dan melaksanakan Etika Bisnis & Kode Etik.
Menetapkan struktur organisasi Perusahaan disesuaikan dengan
kebutuhan Perusahaan.
Membagi tugas dan tanggung jawab di tingkat Dewan Direksi,
Eksekutif, pendukung divisi, dan Strategi Bisnis Unit, termasuk
pelaksanaan prosedur operasi standar di semua perilaku bisnis.
b. Risk Management
Perusahaan telah membentuk Unit ERM yang bertanggung jawab
dalam mengidentifikasi, mengukur, dan menerapkan prioritas pada
risiko yang terkait dengan kegiatan Perusahaan dan unit operasi serta
mengawasi penerapan aturan. Kegiatan yang dilakukan oleh Garuda
dalam rangka meningkatkan efektivitas Risk Management antara lain:
Integration with Corporate Risk Management Strategy
Integrasi dan otomatisasi pengendalian risiko dan ERM dengan
proses optimasi kinerja telah menjadi program Perusahaan dalam
meningkatkan level maturity ERM perusahaan. Integrasi dapat
dicapai dengan memiliki manajemen risiko tertanam dalam
strategi perusahaan, sehingga setiap keputusan yang dibuat telah
mempertimbangkan ketidakpastian dalam dunia bisnis.
Integration of Risk Management with Subsidiaries
Untuk

mendukung

penerapan

manajemen

risiko

di

anak

perusahaan, Perseroan telah mengambil beberapa inisiatif, seperti


integrasi kerangka kerja manajemen risiko dan profil risiko entitas
induk serta untuk anak. dalam usaha untuk mengakomodasi

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

25

integrasi, Perusahaan telah membentuk forum manajemen risiko


dengan anak perusahaan di 2013.
c. Kegiatan pengendalian
Mengadopsi Sistem Manajemen Kinerja untuk mengatur KPI
Korporat, Unit KPI dan KPI individu.
Memanfaatkan Sistem Teknologi Informasi untuk mendukung
kegiatan operasinal Perusahaan dan keandalan informasi.
Membangun dan mengimplementasikan Kebijakan IT dan Tata
Kelola IT.
Menerapkan pengungkapan sistem informasi untuk pelanggan
dan karyawan, antara lain melalui Whistleblowing System (WBS)
dan Laporan Gratifikasi.
Pelaksanaan Perjanjian Kerja Buruh (PKB)
Melakukan rekrutmen karyawan secara online dan melibatkan
konsultan independen
d. Informasi dan Komunikasi
Kebijakan Perusahaan dikomunikasikan melalui website intranet,
secara tertulis, langsung melalui supervisor dan melalui manual.
Komunikasi eksternal pihak, seperti keluhan, dilakukan melalui website
disediakan oleh Perusahaan.
e. Monitoring dan Evaluasi
Efektivitas pengendalian secara keseluruhan pada semua tingkatan,
termasuk Dewan Komisaris, Direksi, kepala divisi dan unit, yang
dilakukan setiap tahun, kuartalan, bulanan, mingguan dan harian,
sekurang-kurangnya meliputi:
Memastikan optimasi dan efisiensi dalam penganggaran dan
realisasinya, diterapkan ke semua fungsi.
Pencapaian perusahaan dan satuan KPI, meliputi aspek keuangan
dan non keuangan.
Melaporkan tingkat kepatuhan dalam setiap item, termasuk item
wajib, seperti yang dipersyaratkan oleh Corporates standards serta
standar internasional; antara lain standar teknis dan keselamatan
penerbangan pesawat.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

26

2. Analisis Balanced Score Card Garuda


a. Visi, misi dan nilai perusahaan
Dalam menjalankan usahanya Garuda Indonesia memiliki tujuan dan
pedoman yang tercantum dalam visi, misi dan nilai perusahaan, yaitu :
Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan penerbangan yang handal dengan menawarkan
layanan

yang

berkualitas

kepada

masyarakat

dunia

menggunakan

keramahan Indonesia.
Misi Perusahaan
Sebagai perusahaan penerbangan pembawa bendera bangsa (flag carrier)
Indonesia yang mempromosikan Indonesia kepada dunia guna menunjang
pembangunan ekonomi nasional dengan memberikan pelayanan yang
professional.
Nilai Perusahaan
Tata nilai perusahaan Garuda Indonesia adalah FLY-HI, terdiri dari :

Efficient & Effective

Loyalty.

Customer centricity

Honesty & openness

Integrity

b. Analisa SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Thread)


Dalam menentukan strategi yang akan diambil, analisa SWOT digunakan
untuk mengetahui keadaan perusahaan agar didapatkan langkah-langkah
yang tepat untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu menghasilkan kinerja
operasional dan keuangan yang optimal demi memenuhi harapan
stakeholder. Berikut ini analisa SWOT PT. Garuda Indonesia :
Strength / Kekuatan
Pelayanan yang memuaskan;
Dibandingkan perusahaan penerbangan
keamanan lebih terjamin;
Memiliki SDM yang kompeten;
Memiliki brand image yang baik.

domestik

lain,

tingkat

Weakness / Kelemahan
Jaringan rute penerbangan yang terbatas (domestik dan internasional);
Tarif tiket masih mahal;
Terbatasnya jumlah pesawat yang berbadan lebar.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

27

Opportunity / Peluang
Kondisi ekonomi domestik yang membaik;
Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu pelayanan haji ISSO 9001-2008;
Meningkatnya kebutuhan masyarakat atas alat transportasi yang lebih
cepat;
Pertumbuhan industri pariwisata internasional.
Thread / Ancaman

Keadaan cuaca yang tidak menentu;

Harga bahan bakar cenderung meningkat;

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar tidak stabil;

Persaingan industri penerbangan.


c. Sasaran Strategi
Merupakan Pengembangan dari keseluruhan bisnis strategi. Ada beberapa
strategi dalam tahap kedua ini, antara lain :
Meningkatkan kualitas kerja yang lebih baik;
Meningkatkan pendapatan;
Meningkatkan kualitas produk;
Operasional yang unggul / prima;
Produk dan layanan prima yang konsisten;
Pertumbuhan keuntungan berkelanjutan.
Dari sasaran strategi tersebut akan dikembangkan indikator-indikatornya
beserta target pencapaiannnya. Dimana indikator tersebut nantinya akan
diturunkan menjadi indikator-indikator dan target masing-masing unit
kerja.Langkah ini merupakan penguraian strategi bisnis ke dalam komponen
yang lebih spesifik / kecil. Dimana uraian strategi yang ditetapkan
diharapkan dapat membangun sasaran strategi pada langkah kedua.

Sasaran Strategis
Meningkatkan kualitas kerja yang baik
Peningkatan pendapatan

Uraian Strategis
Trasnformasi budaya dan kompetensi
semua insan Garuda
Meningkatkan
efisiensi
perusahaan/efisiensi operasional
Jasa Cargo
Modernisasi armada
Penerapan garuda experience

Peningkatan kualitas produk


Operasional yang unggul /prima
Produk&layanan prima yang konsisten
Pertumbuhan
keuntungan Pembukaan rute baru
Peningkatan brand image
berkelanjutan

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

28

d. Strategy Map
Menciptakan peta strategi bisnis dari keseluruhan strategi dalam organisasi.
Dalam tahapan ini terlihat hubungan antar komponen strategi yang
dihubungkan dengan perspektif. Tahap ini digunakan untuk mengidentifikasi
arah pencapaian dari tiap strategi, sehingga terjalin hubungan saling
bergantung antar perspektif.

Dari strategic mapping yang terlihat di atas, pada perspektif Pembelajaran


dan Pertumbuhan terdapat strategi peningkatan kualitas kerja yang lebih
baik. Peningkatan kualitas kerja ini merupakan dasar dari pelaksanaan
balanced scorecard. Kualitas kerja merupakan fondasi dari keberhasilan
perusahaan. Karena perusahaan yang berhasil tidak terlepas dari kinerja
para pegawai yang baik. Kualitas kerja yang baik ini akan medorong
peningkatan pendapatan, peningkatan kualitas produk dan operasional
yang unggul terdapat pada perspektif proses bisnis internal. Dengan
kompetensi dan budaya kerja yang baik dari semua insan Garuda maka
strategi yang terdapat pada perspektif Proses Bisnis Internal akan lebih
mudah dicapai. Setelah strategi dalam perspektif tersebut tercapai,
perusahaan dapat memfokuskan kegiatan usahanya kepada pelanggan
yaitu dengan menjaga konsistensi produk dan layanan yang prima. Hal ini
akan membuat Garuda Indonesia semakin dipercaya oleh masyarakat
KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

29

sehingga pada akhirnya nanti Garuda Indonesia akan terus dipakai jasanya
oleh masyarakat karena sudah mendapatkan image yang baik. Secara tidak
langsung akan berdampak pada pertumbuhan keuangan perusahaan yang
terus lebih baik di masa yang akan datang.
Uraian Peta Strategi
Perspektif
Keuangan

Strategi
Pertumbuhan
keuntungan
berkelanjutan

Pelanggan

Produk
& Penerapan
layanan prima Garuda
yg konsisten
Experience

Proses bisnis
internal

Pembelajaran
dan
pertumbuhan

Uraian Strategi
Pembukaan
rute baru
Peningkatan
brand image

Peningkatan
pendapatan,

Meningkatkan
efisiensi
operasional,

Peningkatan
kualitas produk

Meningkatkan
jasa kargo

Operasional
yang
unggul/prima
Meningkatkan
kualitas
kerja
yang lebih baik

Modernisasi
armada
Transformasi
budaya
dan
kompetensi
semua
insan
garuda

Inisiatif
Menjalin
kerjasama dgn
maskapai lain sbg mitra, dan
penerapan standar IATA,
penambahan pilot / awak
pesawat kompeten.
Meningkatkan on
time
performance,
Tingkat keselamatan penerbangan,
kenyamanan
penerbangan/penambahan
fasilitas seperti AvoD.
Meningkatkan
efisiensi
bahan bakar, menurunkan
beban
perawatan
pesawat,mengurangi
Rata-rata umur pesawat.
Penambahan
kapasitas
kargo
dan
melakukan
peremajaan gudang serta
drop center di daerah
jakarta dan cikarang.
Penggantian armada tua
dengan yang baru serta
menambah armada baru
Seleksi dan penempatan
pegawai
yg
sesuai,
penilaian kinerja pegawai,
Training,
coaching,
dan
development program.

Perspektif Keuangan uraian strategi yang diambil adalah pembukaan


rute baru dan peningkatan brand image. Pembukaan rute baru ini
dilaksanakan karena adanya pertumbuhan penggunaan jasa penerbangan.
Dimana Trafik penumpang penerbangan internasional Asia Pasifik mencapai
185 juta orang di tahun 2010, mengalami peningkatan sebesar 13,0%
dibandingkan tahun sebelumnya. Ditambah lagi dengan peningkatan

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

30

penerbangan

kargo

udara

internasional

dunia

yang

mengalami

pertumbuhan 20,6 %. Di samping itu, peningkatan brand image juga


diperlukan untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat agar selalu
memanfaatkan jasa penerbangan Garuda Indonesia. Untuk mendapatkan
brand image selain dengan pelayanan yang baik, Garuda Indonesia
mempunyai target untuk masuk dalam 20 besar maskapai penerbangan
Internasional

berdasarkan

penilaian

IATA

(International

Air

Transport

Association).
Perspektif Pelanggan perusahaan memfokuskan pada tingkat produk
dan pelayanan prima yang konsisten yang diterapkan melalui Garuda
experience, yaitu sebuah konsep layanan yang mengandalkan basis
keramahtamahan Indonesia disertai nilai-nilai dasar seperti cepat dan tepat,
bersih dan handal, kompeten dan profesional. Sehingga dengan penerapan
tersebut

diharapkan

Garuda

Indonesia

dapat

menjadi

maskapai

penerbangan bintang lima berdasarkan penilaian Skytrax dan mendapatkan


kepuasan pelanggan yang diambil melalui survey onboard sebesar 80%.
Proses Internal Bisnis ada 3 (tiga) strategi yang ditetapkan yaitu:

Peningkatan Pendapatan yang diuraikan melalui peningkatan


efisiensi operasional. Sesuai data yang terdapat dalam laporan
keuangan tahunan beban operasional meningkat menjadi Rp. 9,9
Milyar pada tahun 2010. Hal ini tidak sesuai dengan pertumbuhan
pendapatan.

Oleh

sebab

itu

efisiensi

operasional

harus

ditingkatkan untuk mengurangi beban operasional.

Peningkatan Kualitas Produk, dalam hal ini lebih difokuskan


terhadap produk jasa kargo mengingat semakin bertambahnya
penggunaan jasa kargo yang dipengaruhi oleh meningkatnya
perdagangan ekspor/impor. Dari data tahun lalu diketahui bahwa
trafik kargo penerbangan inernasional Indonesia yang diangkut
dari dan ke Indonesia tercatat meningkat 26 % dari 303,4 ribu ton
per tahun menjadi 382,3 ribu ton per tahun. Sedangkan trafik kargo
penerbangan domestik meningkat 18,9% dari 230,5 ribu ton
menjadi 274,2 ribu ton per tahun. Untuk selanjutnya bisnis kargo
diharapkan dapat mencapai 460 ribu ton/ tahun.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

31

Operasional Yang Unggul / Prima. Yang salah satu pencapaiannya


dilakukan melalui modernisasi armada, dimana perusahaan akan
mempercepat masuknya pesawat terbang pesawat terbang
baru dan mengeluarkan yang tua. Langkah ini juga diambil untuk
mendorong peningkatan efisiensi konsumsi bahan bakar dan
efisiensi biaya perawatan pesawat.

Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan. Langkah yang diambil


adalah meningkatkan kualitas kerja yang baik yang sesuai dengan prinsip
Good Corporate Governance (CCG), yang diharapkan nantinya dapat
menghasilkan SDM yang kompetitif, inovatif dan memiliki integritas tinggi
yang mampu membawa perusahaan mencapai tujuan yang diinginkan.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

32

Pedoman Penerapan GCG


BUMN (OECD)

Pedoman penerapan GCG BUMN di OECD (OECD Guidelines On Corporate


Governance Of State-Owned Enterprises) dimaksudkan untuk memberikan saran
umum yang akan membantu pemerintah dalam meningkatkan kinerja BUMN, dan
keputusan untuk menerapkan pedoman tata kelola BUMN tertentu harus dilakukan
pada dasar pragmatis. Pedoman berorientasi ke BUMN dimana menggunakan
bentuk hukum yang berbeda (yaitu, terpisah dari masyarakat administrasi) dan
memiliki kegiatan komersial atau mengejar tujuan kebijakan publik. BUMN ini
mungkin dalam sektor ekonomi kompetitif atau non-kompetitif.
I.

Ensuring an Effective Legal and Regulatory Framework for SOE

A.

Harus ada pemisahan yang jelas antara fungsi kepemilikan


negara dan fungsi negara lain yang dapat mempengaruhi kondisi
untuk BUMN khususnya yang berkaitan dengan regulasi pasar.

B.

Pemerintah

harus

berusaha

untuk

menyederhanakan

dan

merampingkan praktek dan bentuk hukum di mana BUMN


beroperasi. Bentuk hukumnya harus memungkinkan kreditur untuk
menekan klaim mereka dan untuk mengidentifikasi prosedur
ketika pailit.
C. Kewajiban dan tanggung jawab bahwa BUMN diperlukan untuk
mengambil tindakan dalam hal pelayanan publik di luar norma
yang berlaku umum harus jelas diamanatkan oleh UU atau
peraturan. dan harus diungkapkan kepada masyarakat umum
dan harus mencakup
D.

BUMN seharusnya tidak dibebaskan dari penerapan hukumhukum umum dan peraturan. Pemangku kepentingan, termasuk
pesaing, harus berhak atas ganti rugi efisien bahkan ketika mereka
menganggap bahwa mereka haknya telah dilanggar.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

33

E.

Kerangka hukum dan peraturan harus memungkinkan fleksibilitas


yang cukup untuk penyesuaian struktur permodalan BUMN saat ini
diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan.

F.

BUMN harus menghadapi kondisi persaingan mengenai akses


keuangan. Hubungan

dengan

bank-bank

BUMN,

lembaga

keuangan milik negara dan BUMN lainnya harus didasarkan pada


alasan murni komersial.
II.

The State Acting as an Owner

A. Pemerintah harus mengembangkan dan mengeluarkan kebijakan


kepemilikan yang mendefinisikan tujuan keseluruhan kepemilikan
negara,.
B. Pemerintah tidak boleh terlibat dalam pengelolaan sehari-hari
BUMN dan memungkinkan mereka otonomi penuh operasional
untuk mencapai didefinisikan mereka tujuan.
C. Negara

harus

membiarkan

pimpinan

BUMN

menjalankan

tanggung jawab mereka.


D. Pelaksanaan hak kepemilikan harus diidentifikasi secara jelas
dalam administrasi negara. Hal ini dapat difasilitasi dengan
mendirikan badan koordinasi atau, lebih tepat, berdasarkan
sentralisasi fungsi kepemilikan.
E. Koordinasi atau badan kepemilikan harus bertanggung jawab
untuk badan perwakilan seperti DPR dan telah jelas hubungan
dengan badan-badan publik yang relevan, termasuk BPK.
F. Negara

sebagai

pemilik

aktif

harus

menggunakan

hak

kepemilikannya sesuai dengan struktur hukum masing-masing


perusahaan.
III.

Equitable Treatment of Shareholders

A. Koordinasi atau kepemilikan entitas dan BUMN harus menjamin


bahwa semua pemegang saham diperlakukan secara adil.
B. BUMN harus mengamati tingkat transparansi yang tinggi terhadap
semua pemegang saham.
C. BUMN harus mengembangkan kebijakan yang aktif komunikasi dan
konsultasi dengan seluruh pemegang saham.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

34

D. Partisipasi pemegang saham minoritas dalam rapat pemegang


saham harus memungkinkan mereka untuk mengambil bagian
dalam perusahaan keputusan mendasar seperti pemilihan dewan.
IV.

Relations with Stakeholders

A. Pemerintah yang mengkoordinasikan atau badan kepemilikan dan


BUMN sendiri

harus mengakui dan menghormati hak-hak para

pemangku kepentingan ditetapkan oleh hukum atau melalui


kesepakatan bersama, dan mengacu pada prinsip-prinsip tata
kelola BUMN pada OECD.
B. BUMN besar dan BUMN yang mengejar tujuan penting kebijakan
publik, harus dilaporkan dalam hubungan stakeholder.
C. Dewan BUMN harus diminta untuk mengembangkan, menerapkan
dan mengkomunikasikan program kepatuhan untuk kode etik
internal. Kode etik harus didasarkan pada norma-norma negara,
sesuai

dengan

komitmen

internasional

dan

berlaku

untuk

perusahaan dan anak perusahaan.


V.
A. Koordinasi

Transparency and Disclosure

atau badan kepemilikan harus mengembangkan

pelaporan konsisten dan agregat BUMN dan mempublikasikan


setiap tahun dalam Laporan agregat pada BUMN.
B. BUMN harus mengembangkan prosedur audit internal yang efisien
dan membangun fungsi audit internal yang dipantau oleh dan
bertanggung jawab langsung kepada pimpinan dan komite audit
atau organ perusahaan setara.
C. BUMN

harus

tunduk

independen

audit

eksternal

tahunan

berdasarkan standar internasional. Keberadaan prosedur kontrol


negara tertentu tidak menggantikan independen eksternal audit.
D. BUMN harus tunduk pada akuntansi berkualitas tinggi yang sama
dan audit standar sebagai perusahaan publik. BUMN besar atau
terdaftar harus mengungkapkan

informasi keuangan dan non-

keuangan sesuai dengan kualitas tinggi standar yang diakui secara


internasional.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

35

E. BUMN harus mengungkapkan informasi material terhadap semua


hal yang dijelaskan dalam prinsip tata kelola BUMN pada OECD
dan di samping fokus pada bidang signifikan bagi negara sebagai
pemilik dan masyarakat umum.
VI.

The Responsibilities of Boards of State-Owned Enterprises.

A. Dewan

BUMN

harus

diberi

mandat

yang

jelas

dan

tanggung jawab besar untuk kinerja perusahaan. Dewan harus


sepenuhnya bertanggung jawab kepada pemilik, bertindak demi
kepentingan

terbaik

perusahaan

memperlakukan

semua

pemegang saham secara adil.


B. Dewan BUMN harus melaksanakan fungsi mereka pemantauan
manajemen

dan panduan strategis, tunduk pada tujuan yang

ditetapkan oleh pemerintah dan

entitas kepemilikan. Mereka

harus memiliki kekuatan untuk mengangkat dan memberhentikan


CEO.
C. Dewan BUMN harus berdiri sendiri sehingga mereka dapat
melaksanakan tujuan

dan penilaian independen. Praktik yang

baik untuk Ketua harus terpisah dari CEO.


D. Jika perwakilan karyawan di dewan diamanatkan, mekanisme
harus
dikembangkan

untuk

menjamin

bahwa

representasi

ini

dilaksanakan secara efektif dan kontribusi terhadap peningkatan


keterampilan dewan, informasi dan kebebasan.
E. Bila perlu, Dewan BUMN harus membentuk komite khusus untuk
mendukung pimpinan dalam menjalankan fungsinya, khususnya
dalam hal audit, manajemen risiko dan remunerasi.
F. Dewan BUMN harus melakukan evaluasi tahunan untuk menilai
kinerja.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

36

PENUTUP
Secara keseluruhan implementasi GCG yang disyaratkan dalam PER01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik-GCG
bagi BUMN, telah dilaksanakan dengan sangat baik oleh Garuda Indonesia.
Bahkan start penerapan GCG telah dimulai jauh sebelum peraturan ini
berlaku pada tahun 2011 dan sebelum munculnya panduan GCG dari
Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada tahun 2006. Tahapan
penerapan GCG Garuda terbagi dalam 4 tahapan yaitu :
1.

Tahapan Good Garuda Governance Tahun 2005-2008

2.

Tahapan Garuda Group Governance - Tahun 2014-2015

3.

Tahapan Good Garuda Citizen Tahun 2011-2013

4.

Tahapan Garuda Group Governance - Tahun 2014-2015

Secara umum infrastruktur GCG PT.Garuda Indonesia telah sesuai dengan


struktur tata kelola yang dilakukan oleh Garuda Indonesia dengan tata
kelola yang disyaratkan dalam peraturan berdasarkan PER-01/MBU/2011
tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik-GCG.
Berdasarkan hasil penilaian GCG PT. Garuda Indonesia pada tahun 2009 dan
2011, terlihat terdapat peningkatan skor total tata kelola PT. Garuda
Indonesia dari 80,79 menjadi 91,87 dan dengan Peringkat Kualitas Penerapan
GCG dari Baik menjadi Sangat Baik. Jika dibandingkan perusahaan BUMN
lain, penerapan GCG PT. Garuda Indonesia relatif hampir sama dengan
perusahaan BUMN lain.

KEL.IV| GCG PT GARUDA INDONESIA

37