Anda di halaman 1dari 5

3.

0 Aplikasi Teori Pembelajaran Konstruktivisme


Tekanan utama teori konstruktivisme adalah lebih memberikan tempat kepada subjek
didik dalam proses pembelajaran kepada guru atau instruktur. Teori ini berpandangan
bahawa siswa yang berinteraksi dengan pelbagai objek dan peristiwa sehingga mereka
memperolehi serta memahami pola-pola penanganan terhadap objek dan peristiwa
tersebut. Dengan ini siswa sesungguhnya mampun membangun konseptualisasi dan
pemecahan masalah mereka sendiri. Oleh itu, kemampuan berinisiatif dalam proses
pembelajaran sangat didorong untuk diperkembangkan.
Pada ahli konstruktivisme, memandangkan bahawa belajar sebagai satu hasil
daripada konstruksi mental. Para siswa belajar dengan mencocokkan informasi baru di
mana mereka telah peroleh bersama-sama dengan apa yang mereka telah fahami.
Siswa akan dapat belajar dengan baik jika mereka mampu mengaktifkan konstruk
pemahaman mereka sendiri.
Menurut para ahli konstruktivisme lagi, belajar juga dipengaruhi oleh konteks,
keyakinan , dan sikap seseorang siswa. Dalam proses pembelajaran, para siswa
didorong untuk menggali dan menemukan pemecahan masalah mereka sendiri serta
mencuba untuk merumuskan gagasan-gagasan dan hipotesis. Mereka diberikan
peluang dan kesempatan yang luas untuk membangun pengetahauan awal mereka.
Dalam perkembangannya terdapat pemikiran dalam teori konstruktivisme ini, namun
semua

berdasarkan

pada

asumsi dasar

yang

sama

tentang

belajar.

Teori

konstruktivisme yang utama dikenal dengan istilah konstruktivisme sosial (Social


Constructivism)

dan

konstruktivisme

kognitif

(Cognitive

Constructivism).

Akhir-akhir ini proses pembelajaran konstruktivisme didasarkan pada temuan-temuan


penelitian mutahir tentang otak/ fikiran manusia dan apa yang dikenal dengan
bagaimana proses belajar terjadi.
Dalam teori ini, ia sebenarnya menekankan proses belajar, bukannya proses
mengajar

dalam

penyampaian

dan

penerimaan

ilmu

pengetahuan.

Proses

pengajaranan ini berpusatkan pelajar. Mereka akan menguasai ilmu pengetahuan


dengan lebih kukuh atas kaedah penemuan jalan penyelesaiannya dengan sendiri.
Guru hanyalah sebagai seorang fasilitator yang akan memantau pergerakan pelajar
sepenuhnya dengan bantuan yang sesuai dan tepat pada masa. Pada masa yang
sama, fasilitator perlu cuba untuk mengatur dan menyediakan sumber-sumber belajar
yang sesuai, luas dan mudah dimanfaatkan oleh para siswa untuk membantu mereka
dalam pencapaian keputusan yang semaksimum.
Selain itu, ia mendorong kepada terjadinya kemandian dan inisiatif belajar pada
seseorang siswa itu. Melalui teori ini, untuk memperolehi ilmu pengetahuan, ia
menuntut inisiatif siswa sendiri. Secara tidak langsung, para siswa akan perlu mencari
maklumat dengan sendiri. Lama-kelamanan, mereka akan terus berusaha sendiri untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan sama ada melalui pencarian

maklumat di

perpustakaan, dari rangkaian internet atau sumber yang lain. Dengan menghargai
gagasan dan pemikiran siswa serta mendorong siswa berfikir mandiri, bererti guru
membantu siswa untuk menemukan identisasi intelektual mereka. Para siswa yang
merumuskan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian menganalisis serta menjawabnya.
Ini bererti telah mengembangkan tanggungjawab terhadap proses pembelajaran
mereka sendiri serta menjadi pemecah masalah. Strategi ini juga boleh diaplikasikan di

sekolah rendah, tetapi ia memerlukan dorongan dan sokongan guru yang sepenuhnya
kerana pada usia yang muda, mereka tidak dapat mengenalpasti kebetulan dan
keaslian ilmu pengetahuan itu.
Teori ini memandangkan siswa sebagai pencipta kemahuan dan tujuan yang
ingin dicapai. Siswa sendiri yang akan menentukan apa yang ingin dicapai ataupun apa
tujuan terhadap sesuatu topik pembelajaran tersebut. Jadi, mereka sendiri perlu
mencari jalan untuk mendapatkan maklumat yang berkaitan. Di sini, ia mendorong
siswa untuk melakukan penyelidikan atau kajian terhadap ilmu pengetahuan yang tidak
berapa pasti. Contohnya, soalan yang ditimbulkan Adakah makanan mee magie akan
menjejas pencapaikan akademik pelajar?. Untuk mendapat jawapan pada soalan ini,
siswa boleh mencarikan dua kumpulan pelajar, satu kumpulan yang suka makan mee
magie, satu lagi yang jarang makan mee magie. Seterusnya, merujuk kepada
keputusan akademik mereka, jika kumpulan yang pertama mendapat pencapaian yang
cemerlang dalam peperiksaan, maknanya, pemakanan mee magie tidak akan menjejas
pencapaian akademik pelajar.
Guru boleh mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk memberi respon terhadapnya. Pertanyaan diberikan, tetapi
jawapannya dicari oleh siswa sendiri. Berfikir tentang reflektif ini memerlukan masa
yang cukup dan seringkali atas dasar gagasan-gagasan dan komentar orang lain. Caracara guru mengajukan pertanyaan dan cara siswa merespon atau menjawabnya akan
mendorong siswa mampu membangun keberhasilan dalam melakukan penyelidikan.
Guru harus mendorong siswa untuk berfikir pada aras yang tinggi. Guru yang cuba
menerapkan proses pembelajaran konstruktivisme akan menantang para siswa untuk

mempu menjngkau hal-hal yang berada di sebalik respon-respon factual yang


sederhana. Guru sentiasa mendorong siswa untuk menghubungkaitkaan dan
merangkumkan

konsep-konsep

melalui

analisis,

prediksi,

justifikasi,

dan

mempertahankan gagasan-gagasan atau pemikirannya.


Siswa terlibat secara aktif dalam dialog atau didkusi dengan guru dan siswa yang
lain. Dialog dan diskusi yang merupakan interaksi sosial dalam kelas yang bersifat
intensif sangat membantu siswa dalam kemampuan mengubah atau menguatkan
gagasan-gagasannya. Jika mereka memiliki kesempatan untuk megemukakan apa
yang mereka fikirkan dan mendengarkan gagasan-gagasan orang lain, maka mereka
akan mampu membangun pengetahuannya sendiri yang didasarkan atas pemahaman
mereka sendiri. Jika mereka merasa aman dan nyaman untuk mengemukakan
gagasannya maka dialog yang sangat bermakna akan terjadi di kelas.
Di samping itu, siswa terlibat dalam pengalaman yang menentang dan ini
mendorong kepada terjadinya diskusi. Jika diberi kesempatan untuk membuat berbagai
macam prediksi, seringkali siswa menghasilkan berbagai hipotesis tentang fenomena
alam ini. Guru yang menerapkan konstruktivisme dalam belajar memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menguji hpotesis yang mereka buat,
terutama melalu diskusi kelompok dan pengalaman nyata.
Guru perlu juga memberikan data mentah, sumber-sumber utama dan materimateri interaktif kepada para siswa. Proses pembelajaran yang menerapkan
pendekatan konstruktivisme melibatkan para siswa dalam mengamati dan menganalisis
fenomena alam dalam dunia nyata. Kemudian guru membantu para siswa untuk

menghasilkan abstraksi atau pemikiran-pemikiran tentang fenomena-fenomena alam


tersebut secara bersama-sama.