Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
dan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, menegaskan
bahwa seorang anak berhak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara
optimal, terhindar dari kekerasan dan diskriminasi. Selain itu, Undang Undang
Perlindungan Anak juga mengamanahkan bahwa pemerintah, masyarakat,
keluarga dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan perlindungan anak;
Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya
kesehatan yang komprehensif bagi anak agar setiap anak memperoleh derajat
kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan. Untuk menjamin kelangsungan
hidup, tumbuh kembang, maka pemenuhan Hak bayi mendapat kebutuhan dasar
harus diberikan , seperti Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI Eksklusif, dan
imunisasi.
Program kesehatan anak merupakan salah satu kegiatan dari
penyelenggaraan perlindungan anak di bidang kesehatan, yang dimulai sejak
bayi berada di dalam kandungan, masa bayi, balita, usia sekolah 9 dan remaja.
Program tersebut bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup bayi baru
lahir, memelihara dan meningkatkan kesehatan anak

sesuai tumbuh

kembangnya, dalam rangka meningkatkan kualitas hidup anak yang akan


menjadi sumber daya pembangunan bangsa di masa mendatang.
Ibu dan anak terutama bayi baru lahir merupakan kelompok
masyarakat yang rentan dan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah
dan masyarakat, karena masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia dimana Angka Kematian Bayi Baru Lahir
mencapai 2/3 dari total Angka Kematian Bayi. Selain itu masalah kesehatan
anak di Indonesia masih didominasi oleh tingginya angka kematian bayi dan

balita serta prevalensi balita gizi kurang. Oleh karena itu, telah ditetapkan
indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) tahun 2010
2014 sekaligus disesuaikan dengan target pencapaian MDGs, yaitu menurunkan
Angka Kematian Bayi (AKB) dari 34/1000 menjadi 23/1000 Kelahiran Hidup
dan menurunkan prevalensi gizi kurang balita menjadi 15 % pada tahun 2015

1.2

Tujuan
1. Mampu menjelaskan adaptasi bayi baru lahir dan asuhannya
2. Mampu menjelaskan rawat gabung
3. Mampu menjelaskan bounding attachment

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Adaptasi Bayi Baru Lahir

2.1.1 Perubahan sistem Pernapasan


Menurut Barbara (2005;210) pernapasan awal oleh bayi baru lahir dipicu oleh:
1. Faktor-faktor fisik, sensorik dan kimia
2. Frekuensi pernapasan bayi baru lahir berkisar antara 30 sampai 60 kali per
menit
3. Sekresi lender mulut dapat menyebabkan bayi batuk dan muntah, terutama
selama 12 sampai 18 jam pertama
4. Bayi baru lahir lazimnya bernapas melalui hidung. respons reflex terhadap
obstruksi nasal, membuka mulut untuk mempertahankan jalan napas, tidak
ada pada sebagian bayi sampai 3 minggu setelah kelahiran.

Perubahan sistem pernapasan diawali dri perkembangan organ paru itu


sendiri dengan perkembangan struktur bronkus, bronkiolus, serta alveolus
yang terbentuk dalam proses kehamilan sehingga dapat menentukan proses
kematangan dalam sistem pernapasan. Proses perubahan bayi baru lahir
adalah dalam hal bernapas yang dapat dipengaruhi oleh keadaan hipoksia
pada akhir persalinan dan rangsangan fisik (lingkungan) yang merangsang
pusat pernapasan medulla oblongata di otak. Selain itu juga terjadi tekanan
rongga dada karena kompresi paru selama persalinan, sehingga merangsang
masuknya udara ke dalam paru. kemudian timbulnya pernapasan dapat
terjadi akibat interaksi sistem pernapasan itu sendiri dengan sistem
kardiovaskuler dan susunan saraf pusat (Hidayat;2008)
Diperlukan tekanan intratoraks yang sangat negative agar udara dapat
masuk ke dalam alveolus yang dipenuhi oleh cairan. Normalnya, sejak
tarikan napas pertama setelah lahir, secara progresif terjadi akumulasi udara

residual di paru, dan dengan setiap pernapasan berikutnya, diperlukan


tekanan pembuka paru yang semakin kecil. Pada bayi matur normal, di
sekitar pernapasan kelima, perubahan tekanan volume yang dicapai oleh
setiap pernapasan hampir sama dengan yang dijumpai pada orang dewasa.
Bahan-bahan aktif permukaan (surfaktan) menurunkan tegangan permukaan
di alveolus sehingga kolaps paru setiap kali ekspirasi dapat dicegah.
(Levono;2009)

2.1.2 Perubahan Sistem Kardiovaskuler


Menurut Hidayat (2008; 64) menyatakan bahwa setelah bayi itu lahir,
akan terjadi proses pengantaran oksigen ke seluruh tubuh, maka terdapat
perubahan yaitu penutupan foramen ovale pada atrium jantung dan penutupan
duktus arteriosus antara arteri paru dan aorta. Perubahan ini terjadi akibat
adanya tekanan pada seluruh sistem pembuluh darah, dimana oksigen dapat
menyebabkan sistem pembuluh darah mengubah tenaga dengan cara
meningkatkan atau mengurangi resistensi. Perubahan tekanan sistem pembuluh
darah dapat terjadi saat tali pusat dipotong, resistensinya akan meningkat dan
tekanan atrium kanan akan menurun. Proses tersebut membantu darah
mengalami proses oksigenasi ulang, serta saat terjadi pernapasan pertama dapat
menurunkan resistensi dan meningkatkan tekanan atrium kanan. Kemudian
oksigen pada pernapasan pertama dapat menimbulkan relaksasi dan terbukanya
sistem pembuluh darah paru yang dapat menurunkan resistensi pembuluh darah
paru.
Terjadinya peningkatan sirkulasi paru mengakibatkan peningkatan
volume darah dan tekanan pada atrium kanan, dengan meningkatkan tekanan
pada atrium kanan akan terjadi penurunan atrium kanan, dengan meningkatkan
tekanan pada atrium kanan akan terjadi penurunan atrium kiri, foramen ovale
akan menutup, atau dengan pernapasan kadar oksigen dalam darah akan
meningkat yang dapat menyebabkan duktus arteriosus mengalami konstriksi
dan menutup. Perubahan lain adalah menutupnya vena umbilicus, duktus

venosus, dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara fungsional dalam
beberapa menit setelah tali pusat diklem dan penutupan jaringan fibrosa
membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan.
Dalam Barbara (2005; 210) menyatakan bahwa sistem kardiovaskuler
beradaptasi sebagai berikut:
1. Berbagai perubahan anatomi berlangsung setelah lahir, beberapa perubahan
terjadi dengan cepat, dan sebegian lagi terjadi seiring dengan waktu
Struktur

Sebelum Lahir

Setelah Lahir

Vena umbilikalis

Membawa darah arteri Menutup;


ke hati dan jantung

menjadi

ligamentum

teres

hepatis
Arteri umbilikalis

Membawa darah arterio Menutup;menjadi


venosa ke plasenta

ligamentum

vesikale

pada dinding abdominal


anterior
Duktus venosus

Pirau darah arteri ke Menutup;menjadi


dalam

vena

kava ligamentum venosum

inferior
Duktus arteriosus

Pirau darah arteri dan Menutup;

menjadi

sebagian darah vena dari ligamentum arteriosum


arteri

pulmonalis

ke

aorta
Foramen ovale

Menghubungkan atrium Biasanya


kanan dan kiri

menutup;kadang-kadang
terbuka

Paru-paru

Tidak

mengandung Berisi udara dan disuplai

udara dan sangat sedikit darah dengan baik


mengandung
berisi cairan

darah;

Arteri pulmonalis

Membawa sedikit darah Membawa banyak darah


ke paru

Aorta

ke paru

Menerima

darah

kedua ventrikel
Vena kava inferior

dari Menerima darah hanya


dari ventrikel kiri

Membawa darah vena Membawa darah hanya


dari tubuh dan darah ke atrium kanan
arteri dari plasenta

2. Sirkulasi perifer lambat, yang menyebabkan akrosianosis (sianosis pada


tangan dan kaki dan sekitar mulut)
3. Denyut nadi adalah 120 sampai 160 kali permenit saat bangun dan 100 kali
permenit saat tidur
4. Rata-rata tekanan darah adalah 80/46 mmHg dan bervariasi sesuai dengan
ukuran dan tingkat aktivitas bayi

2.1.3 Perubahan Sistem Termoregulasi


Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga
akan mengalami stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pada
saat bayi meninggalkan lingkungan rahim ibu yang hangat, bayi tersebut
kemudian masuk ke dalam lingkungan ruang bersalin yang jauh lebih dingin.
Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, sehingga
mendinginkan darah bayi. Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu
tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi yang
kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya.
Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan
lemak coklat terdapat di seluruh tubuh, dan mereka mampu meningkatkan panas
tubuh sampai 100 %. Untuk membakar lemak coklat, seorang bayi harus
menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak
menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh bayi baru lahir
dan cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya

stress dingin. Semakin lama usia kehamilan, semakin banyak persediaan lemak
coklat bayi. Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami
hipoglikemia, hipoksia dan asidosis. Oleh karena itu, upaya pencegahan
kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk
meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir. Disebut sebagai
hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 360 C. Suhu normal pada neonatus
adalah 36 5 370 C.

2.1.4 Perubahan Sistem Neurologis


Menurut Barbara (2005;211) menyataka bahwa perubahan yang terjadi adalah
sebagai berikut:
1. Sistem neurologis bayi secara anatomi dan fisiologi belum berkembang
sempurna
2. Bayi baru lahir menunjukkan gerakan-gerakan tidak terkoordinasi,
pengturan suhu yang labil, kontrol otot yang buruk, mudah terkejut dan
tremor pada ekstremitas.
3. Perkembangan neonatus terjadi cepat, sewaktu bayi tumbuh, perilaku yang
kompleks (misalnya control kepala, tersenyum dan meraih dengan tujuan)
akan berkembang
4. Reflex bayi baru lahir merupakan indicator penting perkembangan normal
Reflex

Respon Normal

Respon Abormal

Merangkak

Bayi akan berusaha untuk Respons


merangkak ke depan dengan terlihat

asimetris
pada

cedera

kedua tangan dan kaki bila saraf SSP atau perifer


diletakkan telungkup pada atau
permukaan datar
Tonik
fencing

leher

fraktur

panjang

atau Ekstremitas pada satu sisi Respons


dimana

kepala

akan

persisten

ditolehkan setelah bulan ke empat

ekstensi,

tulang

dan dapat

menandakan

ekstremitas yang berlawanan cedera

neurologis.

akan fleksi bila kepala bayi Respons


ditolehkan ke satu sisi selagi tampak
istirahat. Respons ini dapat SSP

menetap
pada

dan

cedera

gangguan

tidak ada atau tidak lengkap neurologis


segera setelah lahir
Terkejut

Bayi melakukan abduksi dan Tidak adanya respon


fleksi

seluruh

ekstremitas dapat

menandakan

dan dapat mulai menangis defisit neurologis atau


bila

mendapat

gerakan cedera. Tidak adanya

mendadak atau suara keras

respons secara lengkap


dan konsisten terhadap
bunyi

keras

dapat

menandakan ketulian.
Respons dapat menjadi
tidak

ada

atau

berkurang selama tidur


malam.
Ekstensi silang

Kaki bayi yang berlawanan Respons yang lemah


akan fleksi dan kemudian atau tidak ada respons
ekstensi

dengan

cepat terlihat

seolah-olah berusaha untuk saraf

pada

cedera

perifer

atau

memindahkan stimulus ke fraktur tulang panjang


kaki yang lain bila diletakkan
terlentang.

Bayi

akan

mengekstensikan satu kaki


sebagai

respons

terhadap

stimulus pada telapak kaki


Glabellar blink

Bayi

akan

berkedip

bila Terus

berkedip

dan

dilkukan 4 atau 5 ketuk gagal untuk berkedip


pertma pada batang hidung menandakan
pada saat mata terbuka

kemungkinan
gangguan neurologis

2.1.5 Perubahan Sistem Gastrointestinal


Menurut Barbara (2005;212) menyatakan bahwaa adaptasi pada sistem
gastrointestinal adalah sebagai berikut:
1. Enzim-enzim digestif aktif pada waktu lahir dan dapat menyokong
kehidupan ekstrauterin pada kehamilan 36 sampai 38 minggu
2. Perkembangan otot dan reflex yang penting untuk menghantarkan makanan
sudah terbentuk waktu lahir
3. Pencernaan protein dan karbohidrat telah tercapai, pencernaan dan absorbsi
lemak kurang baik karena tidak adekuatnya enzim-enzim pancreas dan lipase
4. Kelenjar saliva matur waktu lahir, saliva diolah sampai bayi berusia 3 bulan
5. Pengeluaran meconium yang merupakan tinja berwarna hitam kehijauan,
lengket, dan mengandung darah samar, diekskresikan dalam 24 jam pada
90% bayi baru lahir normal
6. Beberapa bayi baru lahir menyusu segera bila diletakkan pada payudara,
sebagian lain memerlukan 48 jam untuk menyusu secara efektif
7. Gerakan acak tangan ke mulut dan mengisap jari telah diamati di dalam
uterus. Tindakan-tindakan ini berkembang baik pada waktu lahir dan
diperkuat dengan rasa lapar.

2.1.6 Perubahan Sistem Urologi


Pada sistem perkemihan pada bayi baru lahir terjadai adaptasi dalam hal
berikut ini:
1. Laju filtrasi glomelurus secara relatif rendah pada waktu lahir disebabkan
oleh tidak adekuatnya area permukaan kapiler glomerulus

2. Meskipun keterbatasan ini tidak mengancam bayi baru lahir yang normal
tetapi menghambat kapasitas bayi untuk berespons terhadap stressor
3. Penurunan kemampuan untuk mengekskresikan obat-obatan dan kehilangan
cairan yang berlebihan mengakibatkan asidosis dan ketidakseimbangan
cairan.
4. Sebagian besar bayi baru lahir berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir
dan dua sampai enam kali sehari pada 1 sampai 2 hari pertama; setelah itu
mereka berkemih 5 sampai 20 kali dalam 24 jam
5. Urine dapat keruh karena lendir dan garam asam urat. Noda kemerahan
(debu dan batu bata) dapat diamati pada popok karena Kristal asam urat.

2.1.7 Perubahan Sistem Hepatik


Adaptasi hati setelah bayi lahir menurut Barbara (2005;216) adalah
sebagai berikut:
1. Selama kehidupan janin dan sampai tingkat tertentu setelah lahir, hati terus
membantu pembentukan darah
2. Selama periode neonatus, hati memproduksi zat yang esensial untuk
pembentukan darah
3. Hati juga mengontrol jumlah bilirubin tak terkonjugasi yang bersirkulasi,
pigmen berasal dari hemoglobin dan dilepaskan bersamaan dengan
pemecaahan sel-sel darah merah
4. Bilirubin tak terkonjugasi dapat meninggalkan sistem vascular dan
menembus jaringan ekstravaskuler lainnya (misalnya kulit, sclera, dan
membrane mukosa oral) mengakibatkan warna kuning yang diistilahkan
jaundice atau icterus
5. Pada stress dingin yang lama, glikolisis anaerobic terjadi, yang
mengakibatkan peningkatan produksi asam. Asidosis metabolic terjadi dan
jika terdapat defek fungsi pernapasan, asidosis respiratorik dapat terjadi.
Asam lemak yang berlebihan menggeser bilirubin dari tempat-tempat
pengikatan albumin. Peningktan kadar bilirubin tidak berikatan yang

10

bersirkulasi mengakibatkan peningkatan risiko kernicterus bahkan pada


kadar bilirubin serum 10 mg/dL atau kurang.

2.1.8 Perubahan Sistem Imun


Perubahan yang terjadi berkaitan dengan sistem imun bayi baru lahir
normal adalah sebagai berikut :
1. Bayi baru lahir tidak dapat membatasi organisme penyerang di pintu masuk
2. Imaturitas sejumlah sistem pelindung secara signifikan meningkatkan risiko
infeksi pada periode bayi baru lahir
a. Respon inflamasi berkurang, baik secara kualitatif maupun kuantitatif
b. Fagositosis lambat.
c. Keasaman lambung dan produksi pepsin dan tripsin belum berkembang
sempurna sampai usia 3 sampai 4 minggu
d. Immunoglobulin A (IgA) hilang dari saluran pernapasan dan
perkemihan; kecuali jika bayi tersebut menyusu ASI, IgA juga tidak
terdapat dalam saluran Gastrointestinal

2.1.9 Asuhan Kesehatan Pada Bayi Baru Lahir Fisiologis


Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada pedoman Asuhan
Persalinan Normal yang tersedia di puskesmas, pemberi layanan asuhan bayi
baru lahir dapat dilaksanakan oleh dokter, bidan atau perawat. Pelaksanaan
asuhan bayi baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yang sama dengan ibunya
atau rawat gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, bayi berada dalam
jangkauan ibu selama 24 jam).
Asuhan bayi baru lahir meliputi:
a. Pencegahan infeksi (PI)
b. Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
Bidan/Tenaga kesehatan harus mampu melakukan penilaian untuk
mengambil keputusan guna menentukan tindakan resusitasi. Penilaian bayi
segera setelah bayi lahir sangat penting dilakukan dengan jalan

11

menghadapkan bayi kearah penolong agar dapat mengamati. Lakukan


penilaian cepat dalam waktu 0 menit, apakah bayi bernapas, bernapas
megap-megap atau tidak bernapas? Hal ini akan menjadi dasar keputusan
apakah bayi perlu resusitasi ?
Nilai ( Skor ) APGAR tidak digunakan sebagai dasar keputusan untuk
tindakan resusitasi. Penilaian harus segera dilakukan sehingga keputusan
resusitasi tidak didasarkan penilaian APGAR , tetapi cara APGAR tetap
dipakai untuk menilai kemajuan kondisi BBL pada saat 1 menit dan 5 menit
setelah kelahiran. Dalam manajemen Asfiksia, proses penilaian sebagai
dasar pengambilan keputusan bukanlah suatu proses sesaat yang dilakukan
satu kali. Setiap tahapan manajemen asfiksia, senantiasa dilakukan penilaian
untuk membuat keputusan, tindakan apa yang tepat dilakukan selanjutnya.
Penilaian meliputi :
Penilaian sebelum bayi lahir, sesudah ketuban pecah : Apakah air
ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan ) pada letak kepala ?
Penilaian segera setelah bayi lahir : Apakah bayi menangis, bernapas
spontan dan teratur, bernapas megap-megap atau tidak bernapas ?
Keputusan bahwa bayi perlu resusitasi, apabila :
Bayi tidak bernapas atau bernapas megap-megap.
Air ketuban bercampur Mekonium.
c. Pemotongan dan perawatan tali pusat
d. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Langkah IMD pada persalinan normal (partus spontan):

Suami atau keluarga dianjurkan mendampingi ibu di kamar bersalin

Bayi lahir segera dikeringkan kecuali tangannya, tanpa menghilangkan


vernix, kemudian tali pusat diikat.

Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan di dada ibu


dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu dan mata bayi setinggi puting
susu ibu. Keduanya diselimuti dan bayi diberi topi.

12

Ibu dianjurkan merangsang bayi dengan sentuhan, dan biarkan bayi


sendiri mencari puting susu ibu.

Ibu didukung dan dibantu tenaga kesehatan mengenali perilaku bayi


sebelum menyusu.

Biarkan kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu minimal selama satu
jam, bila menyusu awal terjadi sebelum 1 jam biarkan bayi tetap di dada
ibu sampai 1 jam

Jika bayi belum mendapatkan putting susu ibu dalam 1 jam posisikan
bayi lebih dekat dengan puting susu ibu, dan biarkan kontak kulit bayi
dengan kulit ibu selama 30 menit atau 1 jam berikutnya

e. Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam, kontak


kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi.
f. Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis tunggal di
paha kiri. Pemberian layanan kesehatan tersebut dilaksanakan pada periode
setelah IMD sampai 2-3 jam setelah lahir, dan dilaksanakan di kamar
bersalin oleh dokter, bidan atau perawat. Semua BBL harus diberi
penyuntikan vitamin K1 (Phytomenadione) 1 mg intramuskuler di paha kiri,
untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin K yang dapat
dialami oleh sebagian BBL.
g. Salep atau tetes mata diberikan untuk pencegahan infeksi mata
(Oxytetrasiklin 1%).
h. Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan
Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan setelah penyuntikan
Vitamin K1 yang bertujuan untuk mencegah penularan Hepatitis B melalui
jalur ibu ke bayi yang dapat menimbulkan kerusakan hati.
i. Pemeriksaan bayi baru lahir
Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin kelainan
pada bayi. Risiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama
kehidupan, sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan
untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama.

13

Pemeriksaan bayi baru lahir dilaksanakan di ruangan yang sama dengan


ibunya, oleh dokter/ bidan/ perawat. Jika pemeriksaan dilakukan di rumah,
ibu atau keluarga dapat mendampingi tenaga kesehatan yang memeriksa.
Waktu pemeriksaan bayi baru lahir:
Bayi lahir di fasilitas kesehatan

Bayi lahir di rumah

Baru lahir sebelum usia 6 jam

Baru lahir sebelum usia 6 jam

Usia 6-48 jam

Usia 6-48 jam

Usia 3-7 hari

Usia 3-7 hari

Minggu ke 2 pasca lahir

Minggu ke 2 pasca lahir

Langkah langkah pemeriksaan:

Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak menangis).

Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai pernapasan dan


tarikan dinding dada bawah, denyut jantung serta perut.

Selalu mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum dan
sesudah memegang bayi.

Pemeriksaan fisis yang dilakukan

Keadaan normal

Lihat postur, tonus dan aktivitas

Posisi tungkai dan lengan fleksi


Bayi sehat akan bergerak aktif
Wajah, bibir dan selaput lendir,

Lihat kulit

dada

harus

berwarna

merah

muda, tanpa adanya kemerahan


atau bisul

Hitung pernapasan dan lihat


tarikan dinding dada bawah

Frekuensi napas normal 40-60


kali per menit.

ketika bayi sedang tidak

Tidak ada tarikan dinding dada

menangis.

bawah yang dalam

Hitung denyut jantung dengan

Frekwensi

meletakkan stetoskop di dada kiri

normal 120-160 kali per menit

14

denyut

jantung

setinggi apeks kordis

Lakukan pengukuran suhu ketiak


dengan thermometer

Suhu normal adalah 36,5


37,5 C

Lihat dan raba bagian kepala

Bentuk

kepala

terkadang

asimetris karena penyesuaian


pada saat proses persalinan,
umumnya hilang dalam 48 jam

Ubun-ubun besar rata atau tidak


membonjol,

dapat

sedikit

membonjol saat bayi menangis.


Lihat mata

Tidak ada kotoran/sekret

Lihat bagian dalam mulut

Bibir, gusi, langit-langit utuh


dan tidak ada bagian yang
terbelah.

Masukkan

satu

jari

yang

Nilai kekuatan isap bayi. Bayi

menggunakan sarung tangan ke

akan

dalam mulut, raba langitlangit.

pemeriksa

Lihat dan raba perut

Lihat tali pusat

Tidak

mengisap

kuat

jari

Perut bayi datar, teraba lemas


ada

perdarahan,

pembengkakan, nanah, bau yang


tidak enak pada tali pusat.atau
kemerahan sekitar tali pusat
Lihat punggung dan raba tulang Kulit terlihat utuh, tidak terdapat
belakang

lubang dan benjolan pada tulang


belakang

Pemeriksaan ekstremitas atas dan Tidak


bawah

terdapat

polidaktili,

sindaktili,

siemenline,

dan

kelainan kaki (pes equino varus

15

dan vagus).
Hindari

Lihat lubang anus

memasukkan

alat

ataujari dalam memeriksa anus


Terlihat lubang anus dan periksa
apakah meconium sudah keluar.
Tanyakan pada ibu apakah bayi
sudah buang air besar
Biasanya

mekonium

keluar

dalam 24 jam setelah lahir.


Lihat dan raba alat kelamin luar, Bayi perempuan kadang terlihat
Tanyakan pada ibu apakah bayi

cairan vagina berwarna putih

sudah buang air kecil

atau kemerahan.
Bayi laki-laki terdapat lubang
uretra pada ujung penis. Teraba
testis di skrotum.
Pastikan bayi sudah buang air
kecil dalam 24 jam setelah lahir.
Yakinkan tidak ada kelainan alat
kelamin, misalnya hipospadia,
rudimenter, kelamin ganda.
Timbang

Timbang bayi

bayi

dengan

menggunakan

selimut,

hasil

penimbangan

dikurangi

berat

selimut
Berat lahir 2,5-4 kg.
Dalam minggu pertama, berat
bayi
(tidak

mungkin
melebihi

turun

dahulu

10%

dalam

waktu 3-7 hari) baru kemudian

16

naik kembali.
Mengukur panjang dan lingkar

Panjang lahir normal 48-52 cm.

kepala bayi

Lingkar kepala normal 33-37 cm.

j. Pemberian ASI eksklusif


(Kemenkes RI;2010)

2.2

Rooming In (Rawat Gabung)

2.2.1. Pengertian
Rawat gabung adalah membiarkan ibu dan bayinya bersama terus
menerus. Pada rawat gabung/rooming-in bayi diletakkan di box bayi yang
berada di dekat ranjang ibu sehingga mudah terjangkau. Ada satu istilah lain,
bedding-in, yaitu bayi dan ibu berada bersama sama di ranjang ibu. (Menurut
IDAI)
Rawat gabung adalah suatu sistem perawatan ibu dan anak bersamasama pada tempat yang berdekatan sehingga memungkinkan sewaktu-waktu,
setiap saat ibu dapat menyusui anaknya.
Rawat gabung adalah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang
baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah
ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh seharinya.

2.2.2. Jenis Rooming In


Ada dua jenis rawat gabung :
a. RG kontinu : bayi tetap berada disamping ibu selama 24 jam
b. RG parsial : ibu dan bayi bersama - sama hanya dalam beberapa jam
seharinya. Misalnya pagi bersama ibu sementara malam hari dirawat di kamar
bayi.
Rawat gabung parsial saat ini tidak dibenarkan dan tidak dipakai lagi.

17

2.2.3. Manfaat Rooming In


1. Mempercepat mantapnya dan terus terlaksananya proses menyusui
Dengan rawat gabung ibu dapat memberi ASI sedini mungkin, juga lebih
mudah memberikan ASI. Adanya kontak terus menerus antara ibu dan
bayinya memungkinkan ibu segera mengenali tanda-tanda bayinya ingin
minum sehingga ibu/bayi dapat menyusui/menyusu on demand. Ibu yang
melakukan rawat gabung menghasilkan ASI yang lebih banyak, lebih dini,
menyusui lebih lama, dan lebih besar kemungkinannya menyusui eksklusif
dibandingkan ibu yang tidak melakukan rawat gabung.
2. Memungkinkan proses bonding
Rawat gabung akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dan bayinya.
Makin banyak waktu ibu bersama bayinya, makin cepat mereka saling
mengenal. Ibu siap memberikan respon setiap saat. Rawat gabung juga
menurunkan hormon stres pada ibu dan bayi. Menurunkan biaya
Pihak rumah sakit dapat menekan biaya karena tidak perlu membangun dan
memelihara ruang bayi sehat, tidak perlu mengeluarkan gaji untuk petugas
ruang bayi sehat, juga biaya yang harus dikeluarkan bila bayi menjadi sakit
dapat dikurangi. Turn over lebih cepat.
3. Peralatan minimal
Bila dilakukan bedding-in maka akan mengurangi pembelian boks bayi.
Tidak memerlukan botol susu.
4. Tidak ada tambahan tenaga
Tidak perlu menambah tenaga untuk ruang bayi sehat, karena untuk rawat
gabung dapat memanfaatkan tenaga yang sudah ada di ruang nifas.
5. Menurunkan infeksi
Adanya kontak kulit dengan kulit antara bayi dan ibunya memungkinkan
bayi terpapar pada bakteri-bakteri normal pada kulit ibu, yang dapat
melindungi bayi terhadap kuman kuman berbahaya. Kolostrum yang
mengandung banyak antibodi, yang segera didapat bayi, juga melindungi
bayi terhadap penyakit infeksi.

18

6. Keuntungan untuk bayi


Bayi yang dirawat gabung akan lebih jarang menangis, lebih mudah
ditenangkan, lebih banyak tidur. Mereka minum lebih banyak dan berat
badannya lebih cepat naik. Ikterus lebih jarang terjadi. Bayi juga lebih
hangat karena berada dalam kontak terus menerus dengan kulit ibunya.
7. Melatih keterampilan ibu merawat bayinya sendiri
Tindakan perawatan bayi yang dilakukan di dekat ibunya akan membantu
ibu untuk melatih ketrampilan merawat bayinya sendiri, sehingga pada saat
pulang ibu sudah tidak canggung lagi merawat bayinya. Hal ini dapat
meningkatkan rasa percaya diri ibu.

2.2.4. Kontraindikasi
Rawat gabung tidak dianjurkan pada keadaan :
a. Ibu

Penyakit jantung derajat III

Pasca eklamsi

Penyakit infeksi akut, TBC

Hepatitis, terinfeksi HIV, sitimegalovirus, herpes simplek

Karsinoma payudara

b. Bayi

Bayi kejang

Sakit berat pada jantung

Bayi yang memerlukan pengawasan intensif

Catat bawaan sehingga tidak mampu menyusu

2.2.5. Hal-hal yang Perlu Disiapkan


1. Mempersiapkan alat dan sarana
a. Kebutuhan bayi
Bayi dapat tidur di ranjang ibunya atau di dalam boksnya sendiri. Boks
bayi sebaiknya diletakkan di tempat yang mudah dijangkau ibunya, jadi

19

dianjurkan diletakkan di samping tempat tidur ibu, bukan di dekat kaki


ibu. Siapkan juga alat-alat perawatan bayi dan pakaian bayi di dekat
ibu, agar ibu juga dapat merawat bayinya dengan mudah.
b. Kebutuhan ibu
Sediakan tempat tidur yang rendah untuk ibu supaya ibu tidak kesulitan
naik turun tempat tidur bila ingin menyusui atau merawat bayinya. Bila
tempat tidur yang tersedia tinggi, sediakan anak tangga untuk membantu
ibu naik turun tempat tidur. Sediakan juga meja pasien agar ibu dapat
menaruh keperluannya dan keperluan bayinya di tempat yang terjangkau.
c. Sarana lain
Siapkan lemari pakaian untuk keperluan pakaian ibu dan pakaian bayinya.
Untuk di ruangan perlu disiapkan tempat mandi bayi yang portabel serta
perlengkapannya agar kegiatan memandikan bayi dapat dilakukan di dekat
ibu. Sediakan juga tempat cuci tangan ibu, kamar mandi dan wc tersendiri.
Bel untuk memanggil petugas harus disediakan di tempat yang mudah
dijangkau ibu. Bahan bacaan, leaflet mengenai petunjuk perawatan ibu
menyusui dan perawatan nifas dapat disediakan untuk dibaca oleh ibu.
2. Membuat kriteria/syarat rawat gabung
Tidak semua bayi baru lahir dapat menjalani rawat gabung. Perlu dibuat suatu
kriteria/syarat untuk menentukan bayi mana saja yang dapat menjalani rawat
gabung. Kriteria yang dapat dipakai adalah sebagai berikut:
a. Bayi normal, tidak mempunyai cacat bawaan berat
b. Nilai Apgar menit ke 5 lebih dari 7
c. Keadaan stabil
d. Berat badan lahir >2500-4000 gram
e. Umur kehamilan 37-42 minggu
f.

Tak ada faktor risiko

g. Ibu sehat

20

2.2.1. Masalah yang timbul dan cara mengatasi


Dalam melaksanakan rawat gabung, dapat muncul masalah atau
kekhawatiran baik di pihak petugas maupun di pihak ibu dan keluarganya.
Masalah dan kekhawatiran yang tidak segera diatasi dapat menimbulkan
pertentangan antara ibu atau keluarganya dengan petugas, atau antar petugas
sendiri dan pada akhirnya akan menimbulkan resistensi dari petugas untuk
melanjutkan pelaksanaan rawat gabung. Karenanya hal-hal ini harus segera
dikenali dan diatasi. Masalah atau kekhawatiran yang sering timbul adalah:
1. Masalah:
Sulit memantau kondisi bayi yang menjalani rawat gabung. Cukup satu
petugas untuk memantau semua bayi bila dirawat di ruang bayi sehat.
Cara mengatasi:
Yakinkan
ibunya,

petugas

bahwa

bayi

akan

lebih

baik

dekat

dengan

dengan adanya keuntungan tambahan berupa kenyamanan,

kehangatan dan dapat menyusu on demand. Bedding-in (bayi seranjang


dengan ibu), bila sesuai dengan budaya setempat, memberikan situasi
terbaik untuk memperoleh semua keuntungan tadi dan menghilangkan
kebutuhan untuk membeli ranjang bayi. Bila ada masalah pada bayi yang
menjalani rawat gabung atau seranjang dengan ibu, maka ibu dapat segera
memberitahu petugas. Tekankan bahwa tidak diperlukan pengawasan 24
jam. Yang diperlukan hanya pemeriksaan berkala dan kesiapan petugas
menanggapi kebutuhan ibu pada saat dibutuhkan.
2. Masalah:
Ibu perlu istirahat setelah melahirkan, terutama di malam hari, dan bayi
harus minum. Terutama setelah operasi sesar, ibu perlu waktu untuk
pemulihan. Pada saat tersebut bayi harus diberi pengganti ASI.
Cara mengatasi:
Ajak para petugas untuk meyakinkan ibu bahwa dengan rawat gabung ibu
memberikan yang terbaik untuk bayinya, tidak perlu banyak kerja

21

tambahan, dan bahwa para petugas siap membantu bila dibutuhkan.


Ajak para petugas untuk membahas dengan ibu bahwa semakin lama bayi
bersama ibu semakin baik mereka akan mengenal mana yang normal dan
mana yang abnormal, dan bagaimana memberikan perawatan yang baik.
Lebih baik berlatih mengurus bayinya saat masih di rumah sakit, karena
banyak

petugas

yang

dapat

menolong.

Beri pengertian pada petugas bahwa setelah menyusui dengan baik, ibu
dapat

tidur

lebih

nyenyak

bila

bayinya

bersamanya.

Pastikan bahwa petugas tahu bagaimana menolong ibu yang menjalani


bedah sesar untuk memilih tehnik dan posisi menyusui yang nyaman dan
efektif.
Bila operasi Caesar memakai anestesi regional atau lokal, menyusui dini
kurang menjadi masalah. Walaupun begitu, ibu yang mendapat anestesi
umum pun dapat segera menyusui begitu ibu sadar, bila petugas
mendukung ibu.
3. Masalah:
Tingkat kejadian infeksi lebih rendah bila ibu dan bayi bersamasama,
daripada

bila

bayi

di

ruang

bayi

sehat.

Cara mengatasi:
Tekankan bahwa bahaya infeksi lebih sedikit bila bayi bersama ibu
daripada bila di ruang rawat bayi sehat dan terpapar pada lebih banyak
petugas.
Sediakan data untuk petugas yang memperlihatkan bahwa dengan rawat
gabung dan menyusui tingkat infeksi lebih rendah, misalnya diare, sepsis
neonatus, otitis media dan meningitis.
4. Masalah:
Bila pengunjung diperbolehkan memasuki ruang rawat gabung, bahaya
infeksi dan kontaminasi akan meningkat. Sebagian ibu merasa perlu
menerima tamu, dan dapat mengurusi bayinya nanti setelah pulang dari
rumah sakit.

22

Cara mengatasi:
Tekankan bahwa bayi mendapat kekebalan dari kolostrum terhadap infeksi,
dan penelitian-penelitian memperlihatkan bahwa infeksi lebih sedikit
terjadi di bangsal rawat gabung daripada di ruang bayi sehat.
Untuk membantu ibu merawat bayinya sebaik mungkin, batas jam
berkunjung, jumlah pengunjung, dan larang merokok.
5. Masalah :
Ruang rawat terlalu kecil
Cara mengatasi:
Tidak perlu mengadakan ranjang bayi. Bedding-in tidak memerlukan ruang
tambahan.
6. Masalah :
Bayi bisa jatuh dari tempat tidur ibu
Cara mengatasi:
Tekankan bahwa bayi baru lahir tidak bergerak. Bila ibu masih khawatir,
atur tempat tidur agar berada dekat dinding, atau bila budaya setempat
memungkinkan, rapatkan dua tempat tidur agar dua ibu dapat menaruh
bayi-bayi mereka di tengah.
7. Masalah :
Rawat gabung penuh sulit dilakukan karena ada prosedur prosedur
yang harus dilakukan pada bayi di luar ruang rawat ibu.
Cara mengatasi:
Pelajari betul-betul prosedur-prosedur ini. Beberapa prosedur mungkin
tidak perlu (misalnya menimbang bayi sebelum dan sesudah menyusu).
Prosedur lain dapat dilakukan di kamar ibu.Ulas keuntungan bagi ibu dan
waktu yang dapat dihemat dokter bila dokter memeriksa bayi di hadapan
ibu.

23

8. Masalah :
Pasien-pasien di ruangan privat merasa punya hak untuk menaruh bayinya
di ruang bayi sehat dan memberi bayinya pengganti ASI, dan
mengharapkan

bantuan

dari

petugas

perawat

bayi.

Cara mengatasi:
Apa pun yang terbaik untuk pasien umum tentu juga baik untuk pasien
privat.
Pertimbangkan untuk melakukan pilot-project untuk menguji rawat gabung
di kamar privat sebagaimana di bangsal umum.
9. Masalah:
Beberapa rumah sakit swasta mendapat pemasukan dari pemakaian ruang
rawat bayi sehat dan karenanya enggan menutup unit ini.
Cara mengatasi:
Perhitungkan biaya yang dapat dihemat dari rawat gabung karena
berkurangnya pemakaian pengganti ASI, berkurangnya jumlah petugas
yang dibutuhkan untuk menyiapkan botol dan mengurus ruang bayi sehat,
berkurangnya bayi yang menjadi sakit, dsb.Pertimbangkan untuk tetap
menarik biaya dari perawatan bayi di ruang rawat gabung.
10. Masalah:
Bayi lebih mudah diculik bila dirawat gabung daripada bila dirawat di
ruang rawat bayi sehat.
Cara mengatasi:
Wajibkan petugas untuk memberitahu ibu agar meminta tolong orang lain
(ibu lain, anggota keluarga, petugas) untuk mengawasi bayinya bila ibu
keluar ruangan.
Ibu perlu tahu bahwa tidak ada alasan untuk memindahkan bayi tanpa
sepengetahuan ibu.
Pada umumnya, rumah sakit yang belum mengadakan rawat gabung
akan merasa khawatir bila akan memulai program rawat gabung di
sarananya. Berbagai penolakan biasanya akan muncul baik dari para

24

petugas rumah sakit, baik medis maupun non medis, maupun dari para ibu
dan anggota keluarganya. Semua masalah yang timbul sebaiknya segera
diidentifikasi dan dicari pemecahannya agar tidak berlarut-larut yang pada
akhirnya akan makin membuat para petugas enggan melanjutkan program
ini. Umumnya masalah dapat diatasi bila ada komitmen yang kuat di pihak
pengelola rumah sakit dan para petugas pelaksana di ruangan. Perlu
diadakan pelatihan tenaga kesehatan, pendampingan dan evaluasi berkala
terhadap program yang berjalan.

2.3

Bounding Attachment

2.3.1 Pengertian
Bounding attachment berasal dari dua suku kata, yaitu bounding dan
attachment. Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment
(membangun ikatan). Jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan
hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi.
Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi
terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai
memberikan

keduanya

pemenuhan

emosional

dan

saling

membutuhkan. Konsep ikatan perlahan-lahan berkembang, mungkin mulai di


awal kehamilan dan berlanjut selama berbulan-bulan, bertahun-tahun dan
mungkin seumur hidup setelah melahirkan. Bonding bukan sebuah proses
magical atau seketika, juga bukan dirangsang menurut permintaan atau
pesanan. Perasaan kehangatan yang dimulai kadang sudah dirasakan, bahkan
sebelum konsepsi dan tentu selama kehamilan dan akan terus berkembang
selama beberapa minggu, bulan dan tahun setelah kelahiran. Ada kemungkinan
bahwa pengalaman kelahiran yang baik (dapat memfasilitasi pertumbuhan
cinta, karena ibu akan mengurangi rasa kekecewaan terhadap diri sendiri dan
kondisi emosional ibu akan lebih terfokus untuk memberikan seluruh perhatian
dirinya

kepada

bayinya.

Kesulitan

dalam

proses

persalinan

yang

mengecewakan dapat menghambat proses terjalinnya ikatan antara ibu dengan

25

bayinya. Oleh karena itu penting juga memperhatikan kondisi psikologis ibu
saat proses persalinan.
Adapun beberapa definisi bounding attachment menurut para ahli:
1. Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik
fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera
bayi setelah lahir.
2. Nelson (1986), bounding: dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara
orang tua dan bayi segera setelah lahir, attachment: ikatan yang terjalin
antara individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi
dan fisik yang akrab.
3. Saxton dan Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk
mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya
segera setelah lahir; attachment: adalah interaksi antara ibu dan bayi secara
spesifik sepanjang waktu.
4. Bennet dan Brown (1999), bounding: terjadinya hubungan antara orang tua
dan bayi sejak awal kehidupan, attachment: pencurahan kasih sayang di
antara individu.
5. Brozeton (dalam Bobak, 1995): permulaan saling mengikat antara orangorang seperti antara orang tua dan anak pada pertemuan pertama.
6. Parmi (2000): suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu
proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi lahir.
7. Perry (2002), bounding: proses pembentukan attachment atau membangun
ikatan; attachment: suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan
kualitas-kualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.
8. Subroto (cit Lestari, 2002): sebuah peningkatan hubungan kasih sayang
dengan keterikatan batin antara orang tua dan bayi.
9. Maternal dan Neonatal Health: adalah kontak dini secara langsung antara
ibu dan bayi setelah proses persalinan, dimulai pada kala III sampai dengan
post partum.
10. Harfiah, bounding: ikatan; attachment: sentuhan.

26

2.3.2 Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

berhasil

tidaknya

bounding

attachment
1. Kesehatan emosional orang tua
Orang tua yang mengharapkan kehadiran si anak dalam kehidupannya
tentu akan memberikan respon emosi yang berbeda dengan orang tua yang
tidak menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon emosi yang positif
dapat membantu tercapainya proses bounding attachment ini.
2. Tingkat kemampuan, komunikasi dan ketrampilan untuk merawat anak
Dalam berkomunikasi dan keterampilan dalam merawat anak, orang
tua satu dengan yang lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuan
yang dimiliki masing-masing. Semakin cakap orang tua dalam merawat
bayinya maka akan semakin mudah pula bounding attachment terwujud.
3. Dukungan sosial seperti keluarga, teman dan pasangan
Dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor
yang juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan dari
orang-orang terdekat akan memberikan suatu semangat / dorongan positif
yang kuat bagi ibu untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada
bayinya.
4. Kedekatan orang tua dan anak
Dengan metode rooming in kedekatan antara orang tua dan anak dapat
terjalin secara langsung dan menjadikan cepatnya ikatan batin terwujud
diantara keduanya.
5. Kesesuaian antara orang tua dan anak (keadaan anak, jenis kelamin).
Anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain
ketika keadaan anak sehat / normal dan jenis kelamin sesuai dengan yang
diharapkan.
Pada awal kehidupan, hubungan ibu dan bayi lebih dekat dibanding
dengan anggota keluarga yang lain karena setelah melewati sembilan bulan
bersama, dan melewati saat-saat kritis dalam proses kelahiran membuat
keduanya memiliki hubungan yang unik.

27

2.3.3 Cara Untuk Melakukan Bounding Attachment


1. Pemberian ASI ekslusif
Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir,
secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang
menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh
semua manusia.
2. Rawat gabung
Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara
ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat
sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi
perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu
merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang
merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya
diri dikemudian hari. Dengan memberikan ASI ekslusif, ibu merasakan
kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat
digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi ASI,
karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga
karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi
berkunjung akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga.
3. Kontak mata (Eye to Eye Contact)
Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka
merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan
lebih banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi
bertatapan. Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat
melihat pada orang tuanya. Kesadaran untuk membuat kontak mata
dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata mempunyai efek yang
erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya
sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada umumnya.

28

4. Suara (Voice)
Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat
penting. orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang.
Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan
sehat. Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur.
Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan menjadi
tenang dan berpaling kearah mereka. Respon antara ibu dan bayi berupa
suara masing-masing. Orang tua akan menantikan tangisan pertama
bayinya. Dari tangisan itu, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baikbaik saja (hidup). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak
mengherankan jika ia dapat mendengarkan suara-suara dan membedakan
nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara-suara itu terhalang selama
beberapa hari oleh sairan amniotik dari rahim yang melekat dalam telinga.
5. Aroma/Odor (Bau Badan)
Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk
mengenali aroma susu ibunya. Indera penciuman pada bayi baru lahir
sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peran dalam
nalurinya untuk mempertahankan hidup. Indera penciuman bayi akan
sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya Asi pada waktu
tertentu.
6. Gaya bahasa (Entrainment)
Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerakgerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka
menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki.
Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara.

Bayi baru lahir

menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa. Artinya


perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi kultur, jauh sebelum ia
menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat
salah satu yang akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara

29

(gaya bahasa). Selain itu juga mengisyaratkan umpan balik positif bagi
orang tua dan membentuk komunikasi yang efektif.
7. Bioritme (Biorhythmicity)
Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal
(bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih
sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi
mengembangkan perilaku yang responsif. Janin dalam rahim dapat
dikatakan menyesuaikan diri dengan irama alamiah ibunya seperti halnya
denyut jantung. Salah satu tugas bayi setelah lahir adalah menyesuaikan
irama dirinya sendiri. Orang tua dapat membantu proses ini dengan
memberikan perawatan penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan
menggunakan tanda keadaan bahaya bayi untuk mengembangkan respon
bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk belajar.
8. Inisiasi Dini
Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan
merangkak dan mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat
melakukan reflek sucking dengan segera.
Menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang
dapat diperoleh dari kontak dini :
a

Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat.

Reflek menghisap dilakukan dini.

Pembentukkan kekebalan aktif dimulai.

Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth
(kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi
hormonal).

2.3.4 Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment


1. Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).
2. Sentuhan orang tua pertama kali.

30

3. Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke
anak
4. Kesehatan emosional orang tua.
5. Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.
6. Persiapan PNC sebelumnya.
7. Adaptasi.
8. Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.
9. Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi
kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa
nyaman.
10. Fasilitas untuk kontak lebih lama.
11. Penekanan pada hal-hal positif.
12. Perawat maternitas khusus (bidan).
13. Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman
dan pasangan.
14. Informasi bertahap mengenai bounding attachment.

2.3.5 Manfaat Bounding Attachment


Adapun manfaat dari implementasi teori bounding attachment jika
dilakukan secara baik yaitu:
1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap
sosial.
2. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
3. Akan sangat berpengaruh positif pada pola perilaku dan kondisi psikologis
bayi kelak.

31

2.3.6 Hambatan Bounding Attachment


Sesuatu yang prosesnya tidak sealur dengan tujuan dari bounding
attachment dan dapat dikatakan sebagai penghambat dalam bounding
attachment adalah:
1. Kurangnya support sistem.
2. Ibu dengan resiko (ibu sakit).
3. Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).
4. Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.

2.3.7 Peran Bidan dalam Mendukung Terjadinya Bonding Attachment


1.

Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam
pertama pasca kelahiran.

2.

Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon


positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.

3.

Sewaktu pemeriksaan ANC, Bidan selalu mengingatkan ibu untuk


menyentuh dan meraba perutnya yang semakin membesar

4. Bidan mendorong ibu untuk selalu mengajak janin berkomunikasi


5.

Bidan juga mensupport ibu agar dapat meningkatkan kemampuan dan


keterampilannya dalam merawat anak, agar saat sesudah kelahiran nanti
ibu tidak merasa kecil hati karena tidak dapat merawat bayinya sendiri dan
tidak memiliki waktu yang seperti ibu inginkan

6.

Ketika dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan


salah satu cara bonding attachment dalam beberapa saat setelah kelahiran,
hendaknya Bidan tidak benar-benar memisahkan ibu dan bayi melainkan
Bidan mampu untuk mengundang rasa penasaran ibu untuk mengetahui
keadaan bayinya dan ingin segera memeluk bayinya. Pada kasus bayi atau
ibu dengan risiko, ibu dapat tetap melakukan bonding attachment ketika
ibu member ASI bayinya atau ketika mengunjungi bayi di ruang perinatal.

32

ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR FISIOLOGIS


S

: Bayi lahir spontan jam. Tanggal. Jenis kelamin. Lahir

: Bayi baru lahir fisiologis

:
BAB 3
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
1. Adaptasi fisiologis bayi baru lahir terdiri dari adaptasi berbagai sistem
tubuh, yaitu:
a. Sistem pernapasan
b. Sistem kardiovaskuler
c. Sistem gastrointestinal
d. Sistem hepatic
e. Sistem neurologis
f. Sistem urologi
g. Sistem termoregulasi
h. Sistem imun
2. Asuhan bayi baru lahir diberikan mengacu pada perubahan-perubahan
fisiologis yang terjadi serta diberikan berdasarkan kebutuhan bayi.
3. Rawat gabung adalah Rawat gabung adalah membiarkan ibu dan bayinya
bersama terus menerus. Pada rawat gabung/rooming-in bayi diletakkan di
box bayi yang berada di dekat ranjang ibu sehingga mudah terjangkau. Ada
satu istilah lain, bedding-in, yaitu bayi dan ibu berada bersama sama di
ranjang ibu. Rawat gabung ini diberikan apabila tidak terdapat
kontraindikasi bagi bai dan ibu untuk diberikannya rawat gabung.
33

4. Bounding attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang


dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi.

Hal ini merupakan

proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi
dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya
pemenuhan emosional dan saling membutuhkan

3.2

Saran
Diharapkan bagi petugas kesehatan terutama bidan untuk memberikan asuhan
secara menyeluruh dan sesuai dengan standart asuhan kebidanan kepada ibu
dan bayi berdasarkan kebutuhan

34

DAFTAR PUSTAKA

Strigt, Barbara R. 2005. Panduan Belajar Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir. Jakarta:
EGC
Hidayat, Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Kebidanan.
Jakarta: Salemba Medika
Leveno, Kenneth J. dkk. 2009. Obstetric Williams;panduan ringkas. Jakarta: EGC
Direktorat kesehatan anak khusus. 2010. Panduan Pelayanan Keehatan Bayi
Baru Lahir Berbasis Perlindungan Anak. Jakarta: Kemenkes RI

35