Anda di halaman 1dari 61

Modul Diklat Fungsional Statistisi

Tingkat Ahli

Metodologi
Penelitian

Metodologi Penelitian | i

DAFTAR ISI
Daftar Isi ...

Daftar Tabel .

iii

Tujuan Pembelajaran ..

1.1 Deskripsi Singkat ..


1.2 Pengertian Penelitian
1.3 Ciri Khas Penelitia ....
1.4 Klasifikasi Penelitian
1.5 Metode dan Metodologi Penelitian ......
1.6 Manfaat Metode Penelitian ...
1.7 Tahap-Tahap Penelitian ...
1.8 Syarat Berhasilnya Penelitian
...

1
1
2
2
4
4
5
6

2.1 Tugas Pokok Penelitian Ilmiah .

2.1.1 Tugas Eksplanatif (Explanation) .


2.1.2 Tugas Prediktif (Prediction) .
2.1.3 Tugas Kontrol (Control) ..

8
9
10

2.2 Ciri-ciri Masalah yang Baik .

11

2.3 Kriteria Merumuskan dan Membatasi Masalah ...

11

2.4 Sumber Untuk Memperoleh Masalah ...

15

2.5 Perumusan Hipotesis Penelitian

17

Data dalam Penelitian Sosial

21

3.1 Pengertian dan Kriteria Data .

21

3.2 Klasifikasi Data


3.3 Teknik Mengumpulkan Data ..

22
23

Daftar Pertanyaan .

25

4.1 Pendahuluan .
4.2 Daftar Pertanyaan ..
4.3 Variabel dan Skala Pengukuran Variabel .
4.4 Beberapa Kesulitan dalam Membuat Daftar Pertanyan .
4.5 Coaching
4.6 Pre-Test Daftar Pertanyaan ...........
4.7 Menanyakan Daftar Pertanyaan .....

25
25
26
28
29
29
29

Bab I

Bab II

Bab III

Bab IV

Pendahuluan

Masalah dan Hipotesis

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

ii | Metodologi

Penelitian

Teknik Analisis Data .

31

5.1 Statistik Deskriptif dan Inferensia .


5.2 Metode Parametrik dan Non Parametrik ...
5.3 Judul Penelitian dan Metode yang digunakan untuk
Analisis .

31
32

Penyusunan Laporan ...

37

6.1 Pendahuluan .
6.2 Golongan Pembaca Hasil Penelitian
6.3 Isi dan Bentuk Laporan
6.4 Urutan Penulisan Laporan
6.5 Pedoman Cara Penulisan Laporan yang Baik ..

37
37
38
39
41

Contoh Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ..

43

Daftar Pustaka ..

53

Bab V

Bab VI

Lampiran

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

33

Metodologi Penelitian | iii

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Judul, Tujuan dan Hipotesis Penelitian
di Bidang Ekonomi 20
Tabel 2. Pedoman Umum Memilih Metode Parametrik dan
Non Parametrik Untuk Pengujian Hipotesis .

32

Tabel 3. Rumusan Masalah, Hipotesis dan Statistik Untuk


Uji Hipotesis pada Contoh Majalah ABC .

34

Tabel 4. Rumusan Masalah, Hipotesis dan Statistik Untuk


Uji Hipotesis pada Contoh Produktivitas Kerja
Karyawan di PT. Mitra Raja .. 35
Tabel 5. Jumlah Sampel Pramuniaga dan Toko di Yogyakarta ..

43

Tabel 6. Instrumen Pertanyaan Untuk Kualitas Pelayanan


Pramuniaga di Toko ... 45
Tabel 7. Data Rata-Rata Kualitas Pelayanan Pramuniaga,
Jumlah Pengunjung dan Pembeli di 40 Toko
di Yogyakarta . 47
Tabel 8. Tabel Penolong Untuk Pengujian Normalitas Data
Kualitas Pelayanan Pramuniaga . 49
Tabel 9. Tabel Penolong Untuk Pengujian Normalitas Data
Pengunjung Toko 50
Tabel 10. Tabel Penolong Untuk Pengujian Normalitas Data Pembeli .. 50

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

iv | Metodologi

Penelitian

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | v

TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) dari Mata Ajar ini adalah agar
peserta pelatihan diharapkan mampu memahami maksud dan tujuan
penelitian, melakukan penelitian, serta dapat menyusun laporan hasil
penelitian.

Tujuan Pembelajaran Khusus


Adapun Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) dari Mata Ajar ini adalah
agar peserta pelatihan mampu :
a.
b.
c.
d.

Menyusun perencanaan penelitian


Menginventarisir permasalahan dan hipotesis yang digunakan
Menyusun daftar pertanyaan (Questioner)
Menganalisa dan menyusun laporan

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

vi | Metodologi

Penelitian

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 1

Bab I Pendahuluan
1.1 Deskripsi Singkat
Mata ajaran ini membahas tentang Pengertian dan Tujuan Penelitian,
Tahap-tahap Penelitian, Masalah dan Hipotesis, Data dalam Penelitian
Sosial, Daftar Pertanyaan, Teknik Analisis Data serta Contoh Analisa
Data dan Pengujian Hipotesis kemudian Penyusunan Laporan.

1.2 Pengertian Penelitian


Penelitian berasal dari kata asli, bahasa Inggris, research, yang berasal
dari dua suku kata re dan search. Secara leksikal, diartikan re:
kembali dan search: mencari. Sehingga secara etimologis diartikan
pencarian kembali. Pengertian lainnya menurut kamus Websters New
International, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis
dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang
amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Menurut ilmuwan Hillway
(1956), penelitian tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan
seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap
suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap
masalah tersebut. Whitney (1960) menyatakan bahwa disamping
untuk memperoleh kebenaran, kerja menyelidik harus pula dilakukan
secara sungguh-sungguh dalam waktu yang lama. Dengan demikian,
penelitian merupakan metode berpikir secara kritis.
Penelitian adalah pekerjaan ilmiah yang bermaksud mengungkapkan
rahasia ilmu secara obyektif, dengan dibentengi bukti-bukti yang
lengkap dan kokoh. Banyak faktor yang memengaruhi kegiatan
penelitian untuk mewujudkan maksud tersebut, terutama yang
obyeknya manusia atau yang dipengaruhi oleh manusia. Ilmu yang
obyeknya dipengaruhi oleh manusia atau beberapa diantaranya yang
obyeknya manusia itu sendiri disebut Ilmu Sosial. Oleh karena itu,
penelitian yang obyeknya seperti itu, disebut juga penelitian di bidang
sosial atau disingkat penelitian sosial.
Ciri utama dari sesuatu yang dipengaruhi oleh manusia atau manusia
itu sendiri adalah sifat heterogen dan mudah berubah-ubah. Sifat itu
berwujud pada kondisi ilmu sosial, yang hukum-hukum dan kaidahkaidah yang dirumuskan di dalamnya cenderung dapat berubah-ubah
atau bersifat tidak pasti. Kondisi itu mengisyaratkan bahwa hukum
atau kaidah di dalam ilmu sosial, termasuk juga yang dihasilkan dari
suatu hasil penelitian, selalu dapat diuji kembali untuk membuktikan
kebenarannya. Dengan kata lain hukum atau kaidah itu pada dasarnya
merupakan hipotesis-hipotesis ilmiah yang selalu dapat diuji kembali
kebenarannya. Untuk itu penelitian di bidang sosial selalu terbuka
Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

2 | Metodologi

Penelitian

luas, karena disamping untuk mengungkapkan sesuatu rahasia ilmu


yang baru, dapat pula guna menelaah hukum atau kaidah yang sudah
ada, apabila ditemukan sesuatu yang baru sehingga hukum atau kaidah
itu disangsikan lagi kebenarannya. Kesangsian itu harus memiliki
dasar yang kuat, agar jika dilakukan penelitian ulang, hasilnya harus
mampu membuktikan ketidakbenaran hukum atau kaidah yang
dimaksud, atau sekurang-kurangnya mampu menunjukkan kelemahan
atau kekurangannya untuk diperbaiki dan disempurnakan. Penelitian
menjadi sia-sia jika hasilnya hanya menyimpulkan bahwa hukum atau
kaidah yang disangsikan itu ternyata benar.

1.3 Ciri Khas Penelitian


Penelitian mempunyai beberapa ciri khas. Oleh Crawford (1928)
telah diberikan 9 buah kriteria penting dari penelitian. Sebenarnya
ciri-ciri penelitian dari Crawford ini tidak lain dari suatu kesimpulan
tentang ilmu dan pemikiran reflektif.
Kesembilan kriteria penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
Penelitian harus berkisar di sekeliling masalah yang ingin
dipecahkan
Penelitian sedikit-sedikitnya harus mengandung unsur-unsur
orisinalitas
Penelitian harus didasarkan pada pandangan ingin tahu
Penelitian harus berdasarkan pada asumsi bahwa suatu fenomena
mempunyai hukum dan pengaturan (order)
Penelitian berkehendak untuk menemukan generalisasi atau dalil
Penelitian merupakan studi tentang sebab-akibat
Penelitian harus menggunakan pengukuran yang akurat
Penelitian harus menggunakan teknik yang secara sadar diketahui

1.4 Klasifikasi Penelitian


Klasifikasi penelitian pada umumnya dapat dibedakan berdasarkan (1)
tujuan penelitian dan (2) metode penelitian.
1.4.1 Penelitian Berdasarkan Tujuan Penelitian
Berdasarkan tujuannya, penelitian dibedakan menjadi penelitian
dasar (basic reseach) dan penelitian terapan (applied research).
a. Penelitian dasar (basic research) disebut juga penelitian
murni adalah penelitian yang digunakan secara tidak
langsung untuk memecahkan suatu masalah. Sebab,
penelitian dasar biasanya dilakukan untuk menguji
kebenaran teori tertentu atau mengetahui konsep tertentu
secara mendalam.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 3

b. Penelitian terapan (applied research) adalah penelitian


yang menyangkut aplikasi teori untuk memecahkan
masalah tertentu. Dalam hal ini dibedakan menjadi tiga
bentuk:
1) Penelitian evaluasi adalah penelitian yang
diharapkan dapat memberikan masukan atau
mendukung pengambilan keputusan tentang nilai
relative dari dua atau lebih alternative tindakan.
Contoh persoalan; Apakah penggunaan ATM
bank lebih menarik nasabah atau tidak?
2) Penelitian pengembangan adalah penelitian yang
bertujuan untuk mengembangkan produk
sehingga produk tersebut mempunyai kualitas
yang lebih tinggi. Contoh persoalan: Bank
Sukamaju selalu memperbaiki layanannya front
office bank dalam rangka memberikan kepuasan
total kepada nasabah.
3) Penelitian tindakan adalah penelitian yang
dilakukan untuk segera dipergunakan sebagai
dasar pemecahan masalah yang ada. Contoh
persoalan: Apa yang harus dilakukan oleh Bank
ketika adanya kebijakan penurunan tingkat suku
bunga oleh Bank Indonesia?
1.4.2 Penelitian Berdasarkan Metode Penelitian
Berdasarkan metode penelitian yang digunakan, penelitian dapat
dibedakan menjadi penelitian:
a. Penelitian historis adalah penelitian yang dilakukan
untuk menyelidiki, memahami dan menjelaskan suatu
keadaan yang telah lalu. Contoh persoalan:
Perkembangan ekonomi di Indonesia selama sepuluh
tahun terakhir.
b. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan
untuk pengumpulan data untuk menguji atau menjawab
pertanyaan mengenai status terakhir suatu objek yang
diteliti. Contoh persoalan: Bagaimana tingkat
kepuasaan naabah bank Sukamaju?
c. Penelitian korelasional adalah penelitian yang
bertujuan untuk menentukan hubungan antara dua
variabel atau lebih dalam suatu penelitian. Contoh
persoalan: Bagaimana hubungan antara tingkat suku
bunga bank terhadap minat menabung masyarakat di
Bank ?

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

4 | Metodologi

Penelitian

d. Penelitian kausal kontributif adalah penelitian yang


digunakan untuk menunjukkan arah hubungan antara
variabel bebas dengan variabel terikat. Contoh
persoalanL Pengaruh pendapata, pandangan tentang
bunga bank, pemahaman produk-produk perbankan
terhadap kemauan menabung di bank.
e. Penelitian eksperimental adalah penelitian yang
digunakan untuk menguji suatu variabel atas dampak
munculnya variabel yang lain. Contoh persoalan:
Penerapan incentive compatible constraints terhadap
masalah agency pada produk asuransi.

1.5 Metode dan Metodologi Penelitian


Berbicara masalah metodologi penelitian pada intinya adalah
membicarakan
tentang
cara-cara
ilmiah
dalam
mendapatkan/menemukan ilmu baru secara benar. Metode merupakan
suatu prosedur tata cara mengetahui sesuatu yang mempunyai
langkah-langkah sistematis. Ilmu yang mempelajari tentang metode
ilmiah disebut juga dengan metodologi. Metodologi merupakan suatu
pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode
tersebut Secara filsafati, metodologi termasuk dalam apa yang
dinamakan epistemology. Epistomologi merupakan pembahasan
mengenai:
Bagaimana kita mendapatkan pengetahuan?
Apakah sumber pengetahuan?
Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan?
Apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan
pengetahuan?
Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin ditangkap
manusia?

1.6 Manfaat dari Metode Penelitian


Manfaat Metode Penelitian bagi fungsional Statistik ataupun Peneliti
dalam proses pembelajaran, adalah :
a. Memudahkan dalam merancang penelitian dibidang sosial
khususnya karena banyak ragam permasalahan.
b. Memudahkan untuk menetapkan sampel yang akan diambil.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 5

1.7 Tahap-Tahap Penelitian


Pada umumnya suatu penelitian dapat diperinci dalam tujuh tahap
yang satu sama lainnya saling bergantungan dan berhubungan.
Dengan kata lain, masing-masing tahap itu memengaruhi dan
dipengaruhi oleh tahap-tahap yang lain. Kesadaran terhadap keadaan
ini membuat seorang peneliti lebih bijaksana dalam mengambil setiap
keputusan pada setiap tahap penelitian. Adapun tujuh tahap itu adalah:
a. Perencanaan. Perencanaan meliputi penentuan tujuan yang ingin
dicapai oleh suatu penelitian dan merencanakan strategi umum
untuk memperoleh dan menganalisis data bagi penelitian itu. Hal
ini harus dimulai dengan memberikan perhatian khusus terhadap
konsep dan hipotesis yang akan mengarahkan peneliti yang
bersangkutan, dan penelaahan kembali terhadap literatur,
termasuk penelitian-penelitian yang pernah diadakan sebelumnya,
yang berhubungan dengan judul dan masalah penelitian yang
bersangkutan. Tahap ini merupakan tahap penyusunan Terms Of
Reference (TOR).
b. Pengkajian secara teliti terhadap rencana penelitian. Tahap ini
merupakan pengembangan dari tahap perencanaan. Di sini
disajikan lagi latar belakang penelitian, permasalahan, tujuan
penelitian, hipotesis, serta metode atau prosedur analisis dan
pengumpulan data. Tahap ini meliputi pula penentuan jenis data
yang diperlukan untuk mencapai tujuan pokok penelitian. Tahap
ini merupakan tahap penyusunan usulan proyek penelitian.
c. Pengambilan contoh (sampling). Tahap ini adalah proses
pemilihan sejumlah unsur/bagian tertentu dari suatu populasi
guna mewakili seluruh populasi itu. Dalam tahap ini peneliti
harus secara teliti membuat definisi atau rumusan mengenai
populasi yang akan dikaji. Rencana pengambilan contoh ini
terdiri dari prosedur pemilihan unsur-unsur populasi dan prosedur
menjadikan atau mengubah data dari hasil sampel untuk
memperkirakan sifat-sifat seluruh populasi. Tantangan yang
dihadapi dalam penyusunan rencana pengambilan contoh ini
adalah bagaimana kita dapat menjalin sedemikian rupa prosedur
yang kita punya dengan keadaan setempat dan dengan sumber
daya yang tersedia sementara tetap mempertahankan kebaikan
atau keuntungan dari Sample Survey.
d. Penyusunan daftar pertanyaan. Ini adalah proses penerjemahan
tujuan-tujuan studi ke dalam bentuk pertanyaan untuk
mendapatkan jawaban yang berupa informasi yang dibutuhkan.
Sebenarnya ini merupakan proses coba-coba (trial and error)
yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal yang perlu
diperhatikan adalah jumlah dan macam pertanyaan serta urutan
dari masing-masing pertanyaan. Tidak ketinggalan pula adalah
Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

6 | Metodologi

Penelitian

usaha bagaimana agar orang-orang yang diwawancarai


(responden) dengan senang hati mau menjawab pertanyaanpertanyaan yang diajukan dan tetap senang dalam memberikan
jawaban-jawaban.
e. Kerja lapang. Tahap ini meliputi pemilihan dan latihan para
pewawancara, bimbingan dalam wawancara serta pelaksanaan
wawancara. Ini dapat meliputi pula berbagai tugas yang
berhubungan dengan pemilihan lokasi sampel dan juga pre-testing
daftar pertanyaan. Kerja lapang ini tidak akan diperlukan bila kita
menggunakan cara wawancara lewat telepon atau surat.
f. Editing dan Coding. Coding adalah proses memindahkan jawaban
yang tertera dalam daftar pertanyaan ke dalam berbagai kelompok
jawaban yang dapat disusun dalam angka dan ditabulasi. Editing
biasanya dikerjakan sebelum coding agar pelaksanaan coding
dapat sesederhana mungkin. Editing adalah meneliti lagi daftar
pertanyaan yang telah diisi apakah apa yang ditulis di situ benar
atau sudah sesuai dengan yang dimaksud.
g. Analisis dan laporan. Ini meliputi berbagai tugas yang saling
berhubungan dan terpenting pula dalam suatu proses penelitian.
Suatu hasil penelitian yang tidak dilaporkan atau dilaporkan tetapi
dengan cara yang kurang baik tidak akan ada gunanya. Tugas
yang dikerjakan pada tahap ini ialah penyajian tabel-tabel dalam
bentuk frekuensi distribusi, tabulasi silang atau dapat pula berupa
daftar yang memerlukan metode statistik yang kompleks, dan
kemudian interpretasi dari penemuan-penemuan itu atas dasar
teori yang kita ketahui.

1.8 Syarat Utama Berhasilnya Penelitian


Somers (1959) memberikan beberapa syarat agar pelaksanaan
penelitian dapat berjalan lancar. Syarat tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya penelitian
untuk suatu negara ataupun daerah.
2. Harus ada sarana dan pembiayaan yang cukup.
3. Hasil penelitian harus dengan segera diterapkan.
4. Harus ada kebebasan dalam melakukan penelitian.
5. Peneliti harus mempunyai kualifikasi yang diperlukan.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 7

Bab II Masalah dan Hipotesis


Setiap penelitian dimulai dari kesadaran peneliti mengenai suatu
masalah, baik yang berasal dari hasil pengamatan atau pengalamannya
di lapangan maupun yang ditemuinya pada waktu membaca literatur,
berdiskusi, menyaksikan seminar, dan lain-lain. Berbagai masalah
mungkin saja timbul, namun tidak semua masalah itu dapat diangkat
untuk diteliti secara ilmiah. Untuk menemukan masalah yang patut
diangkat menjadi masalah penelitian, bagi banyak peneliti yang
berpengalaman tidaklah terlalu sulit. Kesulitan itu sering ditemui oleh
para peneliti muda atau pendatang baru yang belum berpengalaman,
yang memiliki hasrat/minat untuk ikut dalam upaya mengembangkan
dan memajukan ilmu dan teknologi di bidangnya masing-masing.
Perumusan masalah penelitian akan lebih sulit dilakukan jika peneliti
tidak memahami tugas pokok penelitian yang bersifat ilmiah, kriteria
memilih dan merumuskan masalah dan cara menjuruskan pemikiran
tentang masalah yang akan diselidiki di dalam kerangka teori dan
kerangka konsep. Pemahaman itu akan mengantarkan peneliti pada
kemampuan merumuskan masalah yang diorientasikan pada
kemungkinan memperoleh data untuk mengungkapkan masalah
tersebut secara cermat dan obyektif.
Para peneliti mempersoalkan mana yang lebih didahulukan antara
masalah dan judul penelitian. Apakah seorang peneliti harus
merumuskan
masalah
lebih
dahulu
dan
kemudian
memformulasikannya menjadi judul atau sebaliknya merumuskan
judul lebih dahulu, kemudian menjabarkannya menjadi masalah dan
sub masalah-sub masalah. Sedang dalam penulisan, baik berupa
penyusunan rencana penelitian maupun penulisan laporan, judul harus
ditulis terlebih dahulu. Penulisan itu terdapat pada sampul berkas
rencana penelitian atau buku laporan penelitian, sehingga setiap
pembacanya pasti akan menemukan judul lebih dahulu dari masalah,
meskipin dalam proses berpikir sebenarnya yang terjadi adalah
kebalikannya.
Sehubungan dengan itu, uraian-uraian berikut akan didahului dengan
penjelasan tentang tugas pokok penelitian, penyusunan kerangka teori
dan kerangka konsep, untuk sampai pada uraian tentang kriteria
pemilihan dan perumusan masalah dan judul penelitian.

2.1 Tugas Pokok Penelitian Ilmiah


Suatu penelitian merupakan satu kesatuan proses atau rangkaian
kegiatan berpikir ilmiah yang terarah, untuk mengungkapkan
kebenaran tentang sesuatu, yang dilakukan secara rasional dan
empiris. Kebenaran tentang sesuatu secara umum akan diungkapkan

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

8 | Metodologi

Penelitian

berupa usaha untuk membuktikan mengenai adanya sesuatu atau


kemungkinan ada nya sesuatu, dengan menunjukkan data yang
membenarkan adanya itu.
Dalam hubungannya dengan data untuk membuktikan kebenaran
diantaranya ada yang cukup dengan dideskripsikan saja, di samping
itu ada pula yang harus dihitung lebih dahulu dengan rumus-rumus
statistika agar dapat diinterpretasikan keterkaitan satu dengan yang
lainnya, dalam bentuk hubungan sebab akibat, hubungan paralel
(sejajar), tingkat kontribusi yang satu terhadap yang lain dan
sebagainya. Dengan demikian penelitian akan dapat mengungkapkan
rahasia obyeknya secara meluas dan mendalam. Proses penelitian
sebagai usaha membuktikan adanya sesuatu secara empiris, dengan
mengumpulkan dan mengolah datanya secara ilmiah, akan
membebaskan setiap peneliti dari cara berpikir spekulatif dan caracara lainnya yang tidak obyektif.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, jelas bahwa tugas-tugas penelitian
tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan tugas-tugas esensial
ilmu/pengetahuan di bidangnya masing-masing. Tugas-tugas esensial
ilmu/pengetahuan yang dapat diwujudkan melalui kegiatan penelitian
ilmiah adalah :
2.1.1 Tugas Eksplanatif (Explanation)
Dalam kehidupan ini manusia sering menghadapi berbagai keadaan
atau peristiwa yang tidak mudah dimengerti oleh mereka sendiri.
Peristiwa dan keadaan itu diantaranya berhubungan dengan gejalagejala alamiah, sebagai akibat dari perwujudan hubungan manusia
dengan lingkungan alam sekitar yang bersifat fisik/material.
Disamping itu keadaan atau peristiwa itu dapat pula terjadi sebagai
perwujudan hubungan antar manusia yang satu dengan manusia yang
lain sebagai gejala sosial.
Mengenai gejala-gejala sosial dan budaya obyek penelitian telah
banyak dihasilkan teori-teori dan hukum-hukum atau kaidah-kaidah,
yang sifatnya mudah berubah. Oleh karena itu pada masa-masa
mendatang masih sangat banyak masalah-masalah penelitian yang
dapat diungkapkan dalam Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya ini, sebagai
keadaan atau peristiwa yang perlu dijelaskan. Kemungkinan
melakukan penelitian yang sangat luas dalam bidang ilmu sosial dan
budaya tersebut, karena hukum-hulum dan kaidah-kaidahnya tidak
bersifat pasti, disamping masih banyak masalah-masalah baru yang
muncul sebagai wujud dari dinamika kehidupan manusia sebagai
makhluk sosial dan makhluk budaya.
Dari uraian-uraian di atas jelas bahwa tugas ilmu/pengetahuan untuk
memberikan penjelasan (explanation) tentang gejala-gejala alam dan
gejala-gejala sosial budaya, dapat dilakukan melalui kegiatan

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 9

penelitian ilmiah. Tugas itu dilaksanakan dengan cara melukiskan atau


menggambarkan data yang terdapat di dalam setiap gejala dari
peristiwa atau keadaan yang belum diketahui oleh manusia.
Tugas eksplanatif ini diwujudkan melalui penelitian ilmiah tidak saja
dengan mengetengahkan penjelasan tentang adanya sesuatu atau
dengan membuktikan tentang adanya sesuatu yang semula
diperkirakan mungkin ada atau sebelumnya tidak diketahui adanya.
Tugas itu bahkan diwujudkan dengan memberikan adanya penjelasan
sedemikian rupa, agar dapat dipahami secara mendalam dan tuntas.
2.1.2 Tugas Prediktif (Prediction)
Perkataan prediksi yang diartikan meramalkan atau memperkirakan,
secara ilmiah bukanlah pekerjaan spekulatif atau untung-untungan
tanpa dukungan data. Dengan kata lain kegiatan penelitian tidak
pernah dapat lepas dari tugas melakukan peramalan atau prediksi
tentang peristiwa atau keadaan yang akan terjadi di masa depan,
dengan mempergunakan data masa sekarang dan masa lalu.
Berdasarkan uraian di atas, kegiatan penelitian harus mampu membuat
data yang dikumpulkan untuk berbicara dalam memperkirakan
keadaan atau peristiwa yang dapat terjadi/timbul di masa datang
berkenaan dengan masalah yang diselidiki. Prediksi harus dilakukan
berdasarkan data atau gejala yang dihimpun dengan mempergunakan
instrumen yang baik dan benar. Data atau gejala dipelajari atau
dianalisa kecenderungan perkembangan atau perubahan-perubahannya
dalam pergeseran waktu secara kronologis, untuk dijadikan dasar
dalam memperkirakan kondisinya yang dapat memunculkan peristiwa
atau keadaan tertentu di masa datang.
Dari sisi lain tugas prediksi dalam penelitian dapat dilakukan juga
melalui analisis kecenderungan perubahan atau perkembangan suatu
atau beberapa data atau gejala, sehingga bukan akan memunculkan
peristiwa atau keadaan tertentu yang sama, namun dapat diperkirakan
peristiwa atau keadaan lain sesuai dengan perubahan atau
perkembangan data atau gejala yang menjadi penyebabnya. Peramalan
atau prediksi itu terutama berlaku berdasarkan perbedaan waktu, yang
secara kronologis dapat merubah sifat data atau gejala di dalam
peristiwa atau keadaan tertentu itu.
Prediksi melalui penelitian tidak luput dari kemungkinan mengalami
kekeliruan atau kesalahan. Peneliti yang berpengalaman harus
berusaha menghindari atau setidaknya memperkecil kekeliruan atau
kesalahan yang dapat terjadi. Sehingga semakin jelas perlunya usaha
menghimpun data secara lengkap, terinci dan relevan dengan masalah
yang sedang diselidiki, yang berarti juga memerlukan instrumen yang
tepat, baik dan benar. Di samping itu harus tetap diusahakan agar
dapat mengendalikan langkah-langkah penelitian yang dapat

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

10 | Metodologi

Penelitian

mengakibatkan kekeliruan atau kesalahan seperti telah diuraikan


terdahulu.
2.1.3 Tugas Kontrol (Control)
Hasil penelitian yang menggambarkan kecenderungan perubahan dan
perkembangan sesuatu atau beberapa data atau gejala yang akan
memunculkan suatu peristiwa atau keadaan tertentu, perlu diteliti
lebih lanjut apakah akan menguntungkan atau merugikan. Jika
peristiwa atau keadaan itu merugikan berarti perubahan atau
perkembangan data atau gejala yang memengaruhinya harus
dihentikan atau setidaknya diperlambat. Sebaliknya, jika peristiwa
atau keadaan yang ditimbulkan itu menguntungkan, berarti data atau
gejala yang menyebabkannya perlu dipercepat perkembangan atau
perubahannya. Untuk itu penelitian dapat dikembangkan untuk
mengungkapkan
cara
memperlambat,
menghentikan
atau
mempercepat perkembangan atau perubahan data atau gejala yang
berhubungan dengan peristiwa atau keadaan yang diinginkan atau
tidak diinginkan terjadi.
Dari uraian di atas jelas bahwa tugas kontrol dalam melaksanakan
penelitian dapat dilakukan dengan mencari cara mencegah atau
mempercepat terjadinya suatu peristiwa atau keadaan disuatu tempat
atau pada masa yang akan datang. Dengan kata lain tugas kontrol
dalam penelitian harus dilakukan untuk mencari cara yang obyektif
dan bersifat ilmiah dalam mengendalikan peristiwa atau keadaan yang
berpengaruh pada kehidupan masyarakat atau kemanusiaan secara
universal, dengan mencegah terjadinya peristiwa atau keadaan yang
merugikan dan sebaliknya memacu agar peristiwa atau keadaan yang
menguntungkan agar segera terwujud. Untuk dapat mewujudkan tugas
kontrol itu secara baik, sangat diperlukan data yang obyektif, lengkap
dan cermat, yang hanya mungkin diperoleh dengan mempergunakan
instrumen penelitian yang tepat, baik dan benar.
Dari ketiga tugas diatas semakin jelas mengenai peranan dan
pentingnya data dan alat serta cara mengumpulkannya, untuk dapat
sampai pada interpretasi dan kesimpulan sebagai hasil penelitian yang
obyektif. Oleh karena itu dalam perumusan masalah dan sub masalah,
harus diperhitungkan apakah ada sumber datanya, yang dapat
memberikan data secara lengkap dan obyektif. Di samping itu bahkan
perlu diperkirakan dengan instrumen apa data tersebut dapat
diperoleh, dan apakah peneliti mampu membuat dan menggunakan
alat (instrumen) tersebut, bilamana tidak ada instrumen yang siap
dipergunakan. Pada giliran berikutnya perlu diperhitungkan juga cara
mempersiapkan tenaga pelaksana (pencacah), bilamana untuk
mengumpulkan data tidak mungkin dilakukan sendiri oleh si peneliti.
Untuk kelancaran pekerjaan itu si peneliti harus merumuskan masalah
dan sub masalah secara jelas dan tajam, agar mudah
mengembangkannya menjadi hipotesis penelitian jika diperlukan.
Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 11

2.2 Ciri-ciri Masalah yang Baik


Sebelum seorang dapat merumuskan suatu masalah untuk
penelitiannya, maka ia lebih dahulu harus mengidentifikasikan dan
menyeleksi masalah itu. Walaupun masalah yang ada dan tersedia
cukup banyak, tetapi cukup sulit bagi si peneliti untuk memilih
masalah mana yang akan dipilih untuk penelitiannya. Si peneliti harus
mencari masalah yang mempunyai ciri-ciri yang baik, dan peneliti
harus mengetahui sumber serta tempat mencari masalah tersebut.
Ada beberapa ciri-ciri maslah yang harus diperhatikan, baik dilihat
dari segi isi (content), dari rumusan masalah, ataupun dari segi kondisi
penunjang yang diperlukan dalam pemecahan masalah yang telah
dipilih. Ciri-ciri masalah yang baik adalah sebagai berikut.
1.

2.

3.

Masalah harus ada nilai penelitian


Masalah haruslah mempunyai keaslian
Masalah harus mempunyai suatu hubungan
Masalah harus merupakan hal yang penting
Masalah harus dapat diuji
Masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
Masalah harus fisibel (dapat dipecahkan)
Data dan metode harus tersedia
Equipment dan kondisi harus mengizinkan
Biaya untuk memecahkan masalah harus seimbang
Masalah harus didukung oleh sponsor yang kuat
Tidak bertentangan dengan hukum dan adat
Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti
Menarik bagi si peneliti
Masalah harus sesuai dengan derajat ilmiah yang dipunyai
peneliti

2.3 Kriteria Merumuskan dan Membatasi Masalah


Masalah yang sederhana itu terdapat dalam setiap pertanyaan yang
diajukan sehari-hari, yang pemecahannya tidak memerlukan kegiatan
mengumpulkan dan mengolah data. Di dalam setiap pertanyaan yang
sederhana itu terdapat potensi untuk diangkat menjadi pertanyaan
yang mengandung masalah berbobot untuk diteliti secara ilmiah.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

12 | Metodologi

Penelitian

Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain sebagai berikut :


1. Benarkah sesuatu itu ada ?
2. Bagaimana adanya sesuatu itu?
3. Apa sebabnya atau mengapa adanya sesuatu itu demikian?
4. Apakah terdapat hubungan antara adanya sesuatu dengan sesuatu
yang lain?
5. Seberapa kuat/besar ketergantungan adanya sesuatu dengan
adanya sesuatu yang lain?
6. Apakah adanya sesuatu itu menunjukkan kecenderungan
perubahan atau perkembangan bersamaan dengan berjalannya
waktu secara kronologis?
7. Apakah terdapat kesamaan dan perbedaan antar adanya dua atau
lebih keadaan atau peristiwa yang tampak sama, berdasarkan
perbedaan tempat dan waktu kejadiaanya?
Dalam aplikasi pertanyaan itu untuk suatu penelitian, tidak berarti
harus dipisah-pisahkan satu dengan yang lain. Di antara pertanyaan
yang satu dengan pertanyaan yang lain mungkin saja terdapat
kesinambungan, sehingga suatu penelitian mampu mengungkapkan
masalahnya secara lebih luas dan mendalam. Dari contoh di bawah ini
dapat dilihat kesinambungannya antara pertanyaan yang satu dengan
pertanyaan yang lain.
Sebuah pabrik atau perusahaan X memproduksi barang A dan
dipasarkan di beberapa kota propinsi untuk jangka waktu yang sudah
cukup lama. Pada beberapa bulan terakhir tampak gejala pemasaran
yang naik turun. Untuk itu dilakukan penelitian dengan permasalahan
pertama dengan pertanyaan, benarkah ada penurunan dalam
memasarkan produk A dari pabrik X? Berikutnya dipertanyakan juga
bagaimanakah kondisi penurunan pemasaran itu untuk jangka waktu
tiga bulan terakhir di setiap kota propinsi dan secara keseluruhan ?
Kemudian akan muncul pula pertanyaan bagaimana perbandingan
penurunan pemasaran produk A itu selama tiga bulan terakhir dengan
bulan-bulan sebelumnya? Setelah itu mungkin berlanjut pula pada
pertanyaan apa sebabnya terjadi penurunan pemasaran produk A itu
pada propinsi tertentu atau secara keseluruhan? Kemudian harus
dikembangkan pula pada pertanyaan apakah penurunan pemasaran
produk A itu, ada hubungannya dengan peristiwa atau keadaan lain di
dalam dan di luar perusahaan (pabrik) yang memproduksinya?
Seterusnya akan muncul pula pertanyaan tentang seberapa kuat
ketergantungan atau pengaruh peristiwa atau keadaan itu terhadap
penurunan dalam pemasaran produk A tersebut? Akhirnya akan
sampai pada pertanyaan bagaimanakah kecenderungan penurunan
pemasaran produk A itu pada bulan-bulan berikutnya dan bagaimana

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 13

cara mencegahnya atau bagaimanakah cara-cara yang dapat ditempuh


untuk mengatasi atau menanggulanginya?
Apabila dirasa masih belum memuaskan, pertanyaan masih dapat
dilanjutkan, antara lain apakah terdapat kesamaan atau perbedaan
dalam pemasaran barang yang sama atau produk A dari
pabrik/perusahaan lain pada waktu dan tempat yang sama?
Kemudian dipertanyakan pula apakah sebabnya terdapat perbedaan
pemasaran produk A itu dan bagaimana cara mengatasinya?
Dari contoh-contoh dan uraian di atas, fokus uraian sudah dapat
diarahkan pada persoalan mengenai masalah penelitian. Uraian-uraian
dan contoh-contoh terdahulu telah menjelaskan pula perlunya
merumuskan beberapa unsur yang terdapat di dalam masalah yang
dapat diangkat untuk diteliti secara ilmiah, yang sekaligus akan
memberikan juga tentang pengertian masalah penelitian, unsur-unsur
dimaksud adalah :
1. Masalah penelitian harus tampak dan dirasakan sebagai suatu
tantangan bagi peneliti untuk dipecahkan dengan menggunakan
keahlian atau kemampuan profesionalnya, yang tidak mungkin
diselesaikan oleh semua orang, khususnya orang-orang di luar
disiplin ilmu yang berkenaan dengan masalah tersebut.
2. Masalah penelitian merupakan kondisi yang menunjukkan
kesenjangan (gap) antara peristiwa atau keadaan yang nyata (das
sain) dengan tolok ukur tertentu (das sollen) sebagai kondisi ideal
atau seharusnya bagi peristiwa atau keadaan tertentu itu.
3. Masalah penelitian adalah keraguan yang timbul terhadap suatu
peristiwa atau keadaan tertentu berupa kesangsian tentang tingkat
kebenarannya termasuk juga berupa ketidaktahuan mengenai
peristiwa atau keadaan yang diragukan.
Untuk membantu para peneliti dalam usaha menyeleksi dan
merumuskan masalah dan sub masalah yang patut dibahas secara
ilmiah, akan diutarakan beberapa kriteria yang patut mendapat
perhatian. Kriteria-kriteria dimaksud adalah :
1. Masalah penelitian
diungkapkan.

harus

dipilih

yang

berguna

untuk

Untuk itu suatu penelitian memerlukan data yang obyektif, lengkap


atau menyeluruh, terinci dan tersusun secara sistematik sebagai
landasan untuk mencapai hasil yang berguna, baik secara teoritis
maupun praktis. Data seperti itu hanya mungkin terkumpul melalui
penggunaan instrumen atau alat pengumpul data yang tepat, baik dan
benar.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

14 | Metodologi

Penelitian

2. Masalah yang dipilih harus relevan dengan kemampuan atau


keahlian peneliti.
Disamping keahlian di bidangnya, seorang peneliti harus memiliki
juga kemampuan dibidang penelitian. Kemampuan ini merupakan
jaminan bagi terselenggaranya penelitian dengan prosedur yang
menggambarkan proses pemecahan masalah secara ilmiah, untuk
sampai pada hasil penelitian yang obyektif dan bermutu. Dengan kata
lain peneliti harus menghindari pemilihan masalah bilamana harus
menggunakan metode, teknik dan alat pengumpul data (instrumen)
yang tidak dikuasainya. Lebih lanjut berdasarkan jenis dan sifat data
yang akan dikumpulkannya, sebaiknya peneliti menghindari
pemilihan masalah yang tidak dikuasainya cara-cara mengolah atau
menganalisanya. Ketidakmampuan itu berakibat dicapainya hasil
penelitian yang keliru atau salah, karena prosedur penelitian dan
pengolahan atau analisis datanya keliru.
3. Masalah penelitian harus menarik perhatian untuk diungkapkan.
Dalam bidang atau disiplin ilmu sosial, banyak sekali masalah yang
dapat diangkat menjadi masalah penelitian. Suatu masalah meskipun
sudah relevan dengan disiplin ilmu yang menjadi keahlian peneliti,
belum tentu sama menariknya untuk diungkapkan. Setiap peneliti
perlu bekerja dengan motivasi yang kuat, apabila menginginkan
proses penelitiannya berlangsung lancar. Motivasi yang kuat itu hanya
akan dimiliki jika si peneliti merasa tertarik pada masalah yang akan
diselidikinya. Dengan kata lain masalah penelitian yang menarik akan
memberikan gairah atau motor penggerak yang positif dalam
menghadapi kesulitan dan tantangan terutama pada saat-saat
menyusun kerangka teori dan mengumpulkan data.
4. Masalah penelitian sedapat mungkin menghasilkan sesuatu yang
baru
Seorang peneliti harus memiliki pengetahuan yang luas, menyeluruh
dan sesuai dengan perkembangan (up to date) di bidangnya masingmasing. Dengan memiliki pengetahuan mutakhir di bidangnya itu,
seorang peneliti dapat memastikan bahwa masalah yang akan
diungkapkannya, akan menghasilkan sesuatu yang baru atau tidak,
baik secara teoritis maupun praktis. Untuk menjadi peneliti yang
selalu mampu memilih masalah untuk menghasilkan sesuatu yang
baru dituntut minat dan kegemaran membaca literatur-literatur di
bidang masing-masing, tertama berupa jurnal yang mempublikasikan
hasil-hasil penelitian.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 15

5. Masalah penelitian harus dipilih yang dapat dihimpun datanya


secara lengkap dan obyektif.
Setiap peneliti harus meyakini bahwa masalah yang akan
diungkapkannya, dapat dihimpun datanya karena di samping jelas
populasi dan sampelnya, juga tidak diragukan bahwa datanya akan
dapat dihimpun secara relatif mudah. Data yang dimaksud adalah data
yang relevan dengan masalah, sehingga berarti setiap peneliti harus
mengetahui secara tepat tentang variabel-variabel dan gejala-gejala
yang terdapat di dalam setiap variabel dari masalah yang akan
diungkapkannya. Data yang relevan, lengkap, terinci dan obyektif
sangat penting artinya dalam usaha mencapai kesimpulan yang baik
dan benar sebagai hasil penelitian.
6. Masalah penelitian tidak boleh terlalu luas, tetapi juga tidak boleh
terlalu sempit.
Masalah yang terlalu luas biasanya mengandung terlalu banyak
variabel dan gejala-gejala di dalam setiap variabel yang hendak
diungkapkan. Masalah itu terlalu banyak aspeknya, sehingga
kemungkinan besar tidak semua aspek dapat diungkapkan secara
tuntas. Kesulitan itu dapat terjadi tidak saja karena keterbatasan
tenaga, biaya dan waktu, tetapi juga karena keterbatasan kemampuan
untuk mengendalikan dan mendalami semua aspek secara serentak.
Masalah yang terlalu luas mengakibatkan terlalu banyak data yang
harus dihimpun, bukan saja memperberat tugas pengumpul data, tetapi
juga membosankan sumber data (responden) karena merasa terganggu
dan dapat berakibat segan memberikan data secara lengkap dan jujur.
Demikian pula sebaliknya masalah yang terlalu sempit yang
mengandung terlalu sedikit variabel dan terlalu sedikit pula gejala di
dalam setiap variabel, akan kehilangan bobotnya untuk diteliti secara
ilmiah. Masalah yang terlalu dangkal itu akan sampai pada
kesimpulan yang dangkal pula. Dengan kata lain masalah seperti itu
akan kehilangan artinya untuk diselidiki dan diungkapkan seperti
ilmiah.
Dengan mempergunakan enam kriteria di atas, setiap peneliti dapat
melatih diri dalam memilih dan merumuskan masalah penelitian yang
berbobot dan patut untuk diungkapkan secara ilmiah. Perumusannya
dapat dirangkai dalam kalimat pertanyaan dan dapat pula berupa
kalimat pernyataan.

2.4 Sumber Untuk Memperoleh Masalah


1. Pengamatan terhadap Kegiatan Manusia
Pengamatan sepintas terhadap kegiatan-kegiatan manusia dapat
merupakan sumber dari masalah yang akan diteliti. Seorang ilmu

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

16 | Metodologi

Penelitian

jiwa dapat menemukan masalah ketika ia melihat tingkah laku


pekerja pabrik melakukan kegiatan mereka. Seorang ahli ekonomi
pertanian dapat menemukan masalah ketika ia melihat cara petani
bersahaja mengerjakan serta menyimpan hasil usaha
pertaniannya.
2. Pengamatan terhadap Alam Sekeliling
Peneliti-peneliti ilmu natura seringkali memperoleh masalah dari
alam sekelilingnya. Seorang ahli ilmu bintang banyak
memperoleh masalah ketika ia mengamati cakrawala. Seorang
peneliti ilmu tanah akan menemukan masalah ketika ia secara
sepintas mengamati tanah di sekelilingnya ataupun dalam suatu
perjalanan jauh.
3. Bacaan
Bacaan-bacaan dapat merupakan sumber dari masalah yang
dipilih untuk diteliti. Lebih-lebih jika bacaan tersebut merupakan
karya ilmiah ataupun makalah, maka banyak sekali rekomendasi
di dalamnya yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Bukan saja
dari bacaan tersebut ditemukan masalah yang ingin
mengungkapkan hubungan, tetapi bacaan dapat juga memberikan
teknik dan metode yang ingin dikembangkan lebih lanjut.
4. Ulangan serta Perluasan Penelitian
Masalah juga diperoleh dengan mengulang percobaan-percobaan
yang pernah dilakukan, dimana percobaan yang telah dikerjakan
tersebut belum memuaskan. Perluasan analisis maupun metode
dan teknik dengan equipment yang lebih modern akan membuat
masalah dapat dipecahkan secara lebih memuaskan.
5. Cabang Studi yang Sedang Dikembangkan
Kadangkala masalah ditemukan, bukan dari bidang studi itu
sendiri, tetapi dari cabang yang timbul kemudian, yang mulamula dipikirkan tidak seberapa penting sifatnya. Misalnya, ketika
Pasteur meneliti penyakit kolera dengan menyuntik ayam-ayam
percobaannya dengan mikroba kolera. Pada suatu hari ia
kehabisan ayam-ayam sehat, kemudian terpaksa menggunakan
ayam-ayam yang pernah kena kolera. Dilihatnya ayam-ayam
tersebut tidak mati akibat suntikan mikroba kolera. Dari
percobaan ini ia tertarik akan ketahanan ayam-ayam tersebut, dan
ia menemukan masalah yang mendorongnya meneliti tentang
prinsip-prinsip kekebalan atau imunisasi.
6. Catatan dan Pengalaman Pribadi
Dalam penelitian ilmu sosial, pengalaman serta catatan pribadi
tentang sejarah sendiri, baik kegiatan pribadi ataupun kegiatan
profesional dapat merupakan sumber masalah untuk penelitian.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 17

7. Praktik serta Keinginan Manusia


Praktik-praktik yang timbul dan keinginan-keinginan yang
menonjol dalam masyarakat dapat merupakan sumber dari
masalah, seperti tunjuk perasaan, pernyataan-pernyataan
pemimpin, otorita ilmu pengetahuan, baik bersifat lokal, daerah
maupun nasional. Contohnya seperti adanya gejolak rasial dan
adanya ketimpangan antara input dan produktivitas sekolah.
8. Bidang Spesialisasi
Seorang spesialis dalam bidangnya, telah menguasai ilmu yang
dalam sesuai dengan spesifikasinya. Akan banyak sekali masalah
yang memerlukan pemecahan dalam bidang spesialisasi tersebut.
9. Pelajaran yang Sedang Diikuti
Pelajaran yang sedang diikuti dapat menjadi sumber masalah
penelitian. Diskusi kelas, hubungan antara dosen dengan
mahasiswa banyak memengaruhi mahasiswa dalam memilih
masalah untuk penelitian.
10. Diskusi-diskusi Ilmiah
Masalah penelitian dapat juga bersumber dari diskusi-diskusi
ilmiah, seminar, serta pertemuan-pertemuan ilmiah. Dalam
diskusi tersebut, seseorang dapat menangkap banyak analisisanalisis ilmiah, serta argumentasi-argumentasi profesional yang
dapat menjurus pada suatu permasalahan baru.
11. Perasaan Intuisi
Kadangkala suatu perasaan intuisi dapat timbul tanpa disangka,
dan kesulitan tersebut dapat merupakan masalah penelitian.

2.5 Perumusan Hipotesis Penelitian


Perumusan masalah, sub masalah, judul dan hipotesis yang tepat dan
baik, hanya mungkin dilakukan apabila peneliti memiliki bahan
appersepsi yang cukup dalam bidang yang akan ditelitinya. Untuk itu
tidak cukup sekadar merujuk pada jumlah bahan bacaan, tetapi juga
mengenai mutu bacaan yang dipergunakan. Mutu bahan bacaan pada
tahap pertama dilihat dari tersedia tidaknya bahan bacaan terbitan
mutakhir, kemudian pada tahap berikutnya tampak pada keserasiannya
dengan bidang yang diselidiki.
Bahan appersepsi melalui studi literatur yang cukup mendalam itu,
dapat dipergunakan untuk menyusun Landasan Teori dalam bentuk
Kerangka Teori, Kerangka Konsep dan Hipotesis.
a. Kerangka Teori : berisi pokok-pokok pikiran yang menjadi titik
tolak atau landasan dalam menyoroti masalah, juga berfungsi
sebagai tolok ukur untuk menguji kondisi variabel dan gejala di
dalamnya berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data.
Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

18 | Metodologi

Penelitian

b. Kerangka Konsep : merupakan hipotesis terurai, karena hipotesis


yang sebenarnya adalah rumusan definitif (singkat, padat dan
kompak) tentang dugaan rasional sebagai jawaban sementara dari
masalah yang akan diuji kebenaran atau ketidakbenarannya. Juga
dapat berupa teori-teori baru yang akan diuji atau pengembangan
teori-teori lama agar menjadi lebih sempurna, dan bahkan berupa
kemungkinan-kemungkinan implementasi suatu teori dalam
kehidupan nyata.
c. Hipotesis : merupakan dugaan pemecahan masalah yang bersifat
sementara, yang setelah diuji mungkin benar dan mungkin pula
salah. Hipotesis yang baik harus dapat diuji kebanarannya,
melalui pengumpulan dan pengolahan data yang relevan.
Sebaliknya hipotesis yang tidak baik, adalah yang tidak dapat
diuji karena tidak tersedia atau tidak dapat dikumpulkan datanya
yang relevan.
Hipotesis, yang isi dan rumusannya bermacam-macam, dapat
dibedakan menjadi beberapa jenis, dan tergantung dari pendekatan
kita dalam membaginya. Hipotesis dapat kita bagi sebagai berikut.
1. Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan
2. Hipotesis kerja vs hipotesis nul
3. Hipotesis common sense dan ideal
Secara garis besar, kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut:
a. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan
kerja penelitian;
b. Menyiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan
antarfakta yang sering hilang begitu saja dari perhatian peneliti;
c. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang
bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting
dan menyeluruh;
d. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta
dan antarfakta.
Menemukan suatu hipotesis memerlukan kemampuan si peneliti
dalam mengaitkan masalah-masalah dengan variabel-variabel yang
dapat diukur dengan menggunakan suatu kerangka analisis yang
dibentuknya. Menggali dan merumuskan hipotesis mempunyai seni
tersendiri. Si peneliti harus sanggup memfokuskan permasalahan
sehingga hubungan-hubungan yang terjadi dapat diterka. Dalam
menggali hipotesis, si peneliti harus:
a. mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin
dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang
ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan;

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 19

b. mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang


tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu
sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki;
c. mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan
dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu
dan bidang yang bersangkutan.
Merumuskan hipotesis bukanlah hal yang mudah. Seperti yang sudah
disinggung, sekurang-kurangnya ada tiga penyebab kesukaran dalam
memformulasikan hipotesis, seperti:
a. tidak adanya kerangka teori atau pengetahuan tentang kerangka
teori yang terang;
b. kurangnya kemampuan untuk menggunakan kerangka teori yang
sudah ada dan;
c. gagal berkenalan dengan teknik-teknik penelitian yang ada untuk
dapat merangkaikan kata-kata dalam membuat hipotesis secara
benar.
Hipotesis tidak pernah dibuktikan kebenarannya, tetapi diuji
validitasnya. Kecocokan hipotesis dengan fakta bukanlah
membuktikan hipotesis, karena bukti tersebut memberikan alasan
kepada kita untuk menerima hipotesis, dan hipotesis adalah
konsekuensi logis dari bukti yang diperoleh.
Berikut merupakan contoh rumusan hipotesis di bidang ekonomi serta
hubungannya dengan judul penelitian dan tujuan penelitian.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

20 | Metodologi

Penelitian

Tabel 1. Judul, Tujuan dan Hipotesis Penelitian di Bidang Ekonomi


JUDUL PENELITIAN
Peningkatan Usaha
Kerajinan Genteng Dalam
Rangka Penyerapan
Tenaga Kerja dan
Penambahan Pendapatan
Keluarga Tani di Desa
Berjo, Kecamatan Bodean,
Kabupaten Sleman, Daerah
Istimewa Yogyakarta

Analisis Pengeluaran
Pembangunan Selama
2010-2015

TUJUAN PENELITIAN
1. Memperoleh gambaran
sampai seberapa jauh
pengangguran musiman
dapat diserap oleh kerajinan
genteng.
2. Mengetahui besarnya
sumbangan usaha kerajinan
genteng terhadap pendapatan
total usaha tani.
3. Mengetahui apakah usaha
kerajinan genteng
mempunyai hubungan yang
bersifat komplementer
ataukah substitusi terhadap
usaha tani padi dalam hal
alokasi pencurahan jam
tenaga kerja.
1. Mengetahui pengaruh
variabel penjelas yang
digunakan penerimaan
pembangunan, ekspor
minyak dan non-minyak
serta jumlah uang beredar
terhadap pengeluaran
pembangunan.
2. Menyelidiki pengaruh
data semester sebagai
variabel boneka dan
perubahan atau pengukur
dari dolar ke rupiah terhadap
persamaan regresi.
3. Menyelidiki pengaruh
pembangunan dan variabel
penjelas sebelum suatu
periode terhadap variabel
yang dijelaskan periode yang
berlaku.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

HIPOTESIS
1. Usaha kerajinan genteng
dapat menyerap tenaga kerja
dan meningkatkan pendapatan
total keluarga petani, lebih
besar daripada sifatnya yang
sekarang.
2. Alokasi pencurahan jam
tenaga kerja di sektor usaha
tani padi tanpa genteng masih
dapat diperkecil untuk
dialihkan ke usaha kerajinan
genteng.

1. Elastisitas antara
pengeluaran pembangunan
adalah positif dan kecil.

2. Elastisitas antara
pengeluaran pembangunan
terhadap ekspor minyak dan
non-minyak, impor minyak dan
non-minyak serta jumlah uang
beredar adalah positif dan lebih
kecil dari satu.

Metodologi Penelitian | 21

Bab III Data Dalam Penelitian Sosial


Setiap penelitian ilmiah memerlukan data dalam memecahkan
masalah yang dihadapinya. Data itu harus diperoleh dari sumber data
yang tepat. Sumber data yang tidak tepat mengakibatkan data yang
terkumpul tidak relevan dengan masalah yang diselidiki, dapat
menimbulkan kekeliruan/bias dalam menyusun interpretasi dan
kesimpulan. Penelitian yang menggunakan data yang keliru, baik
karena kekeliruan sumber datanya maupun kekeliruan sifat dan jenis
datanya, tidak banyak artinya bagi pemecahan masalah penelitian.
Untuk itulah si peneliti harus memahami dengan baik sifat dan jenis
data dalam penelitiannya, sebagaimana diuraikan di bawah ini.

3.1 Pengertian dan Kriteria Data


Kebenaran ilmu menuntut adanya bukti-bukti ilmiah, baik yang
bersumber dari empiris maupun hasil pemikiran yang rasional dan
obyektif. Tanda-tanda kebenaran sebagai bukti ilmiah itu, mempunyai
dua sifat utama, yang di dalamnya dapat pula dibedakan jenisnya
masing-masing. Sehubungan dengan itu perlu ditekankan lagi bahwa
data bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Data yang akan dikumpulkan
harus relevan dengan hipotesis, masalah dan judul penelitian, yang
untuk menetapkannya harus dijabarkan dari variabel penelitian, yang
terdiri dari satu atau beberapa gejala dengan berbagai unsur atau
faktor di dalamnya. Data diartikan sebagai segala informasi yang
dijadikan dan diolah untuk suatu kegiatan penelitian sehingga dapat
dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Karena itu
data adalah suatu hal yang sangat penting maka dalam setiap
penelitian penelitian harus menggunakan data yang baik yang
memenuhi kriteria, objektif, representatif, memiliki standar error yang
kecil, tepat waktu (up to date), serta relevan dengan masalah yang
sedang diteliti.
1. Data harus objektif artinya data harus sesuai dengan keadaan
yang sesungguhnya. Contohnya adalah harga barang yang
seharusnya 25.000 harus tetap dicatat 25.000, tidak dilebihkan
ataupun dikurangi.
2. Data harus representatif atau mewakili, yaitu data harus bisa
mencerminkan kondisi populasi yang sebenarnya, contohnya
adalah data tentang tingkat kecerdasan mahasiswa di Perguruan
tinggi X, tidak hanya melibatkan mahasiswa yang memiliki
indeks prestasi yang tinggi saja.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

22 | Metodologi

Penelitian

3. 2. Data harus memiliki standar error yang kecil, karena suatu


estimasi dikatakan baik atau tingkat ketelitian dan akurasinya
tinggi jika standar errornya kecil.
4. Data harus up to date, karena data diperlukan untuk tindak
lanjut secara cepat atas segala kemungkinan kesalahan atau
penyimpangan yang terjadi dalam implementasi suatu rencana.
5. Data harus relevan, maksudnya data yang dikumpulkan harus
harus berhubungan atau berkaitan dengan masalah yang sedang
diteliti.

3.2 Klasifikasi Data


Semua data yang ada pada hakikatnya merupakan cerminan suatu
variabel yang diukur menurut klasifikasinya. Dengan demikian data
dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai kriteria, misalnya
berdasarkan jenisnya, sifatnya, sumbernya, cara memperolehnya dan
waktu pengumpulannya.
1. Menurut jenisnya.
a. Data kualitatif, yaitu data yang tidak dinyatakan dalam
bentuk angka. Misalnya, sikap konsumen terhadap bank
Sukamaju sangat negatif, layanan pelanggan sangat
memuaskan.
b. Data kuantitatif, yaitu data dalam bentuk angka.
Contohnya, rata-rata jumlah pembiayaan kredit bank
Sukamaju sebesar 15%.
2. Menurut sifatnya.
a. Data diskrit, yakni data yang memiliki nilai bilangan asli
dan tidak mungkin dalam bentuk pecahan atau decimal.
Contohnya adalah jumlah anak responden dan jumlah
anggota rumah tangga.
b. Data kontinyu, yaitu data yang dapat mempunyai nilai
yang terletak dalam suatu interval. Misalnya berat badan
seseorang sebesar 60,5 kg.
3. Menurut sumbernya.
a. Data internal, yaitu data yang menggambarkan
keadaan/kegiatan didalam suatu organisasi. Misalnya, data
personalia, data keuangan, data produksi, dan sebagainya.
b. Data eksternal, yaitu data yang menggambarkan
keadaan/kegiatan di luar suatu organisasi. Misalnya,
tingkat daya beli masyarakat, perkembangan harga, data
konsumsi, dan sebagainya.
4.

Menurut sumber perolehannya.


a. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan dan diolah
sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan langsung dari

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 23

objeknya. Misalnya, jika produsen air minum dalam


kemasan ingin mengetahui rata-rata konsumsi air mineral
bagi penduduk suatu daerah, mereka dapat langsung
melakukan wawancara dengan penduduk di daerah yang
bersangkutan.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk
yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak
lain, biasanya sudah dalam bentuk publikasi. Sebagai
contoh, perusahaan memperoleh data perkembangan harga
saham dari www.djone.co.id.
5. Menurut waktu pengumpulannya.
a. Data cross-section, yaitu data yang dikumpulkan pada
suatu waktu tertentu (at a point of time) yang dapat
menggambarkan keadaan/kegiatan pada waktu tersebut.
Misalnya, perusahaan mengumpulkan data penjualan pada
tahun tertentu sehingga dapat diperoleh gambaran
mengenai kondisi penjualan pada tahun tersebut.
b. Data berkala (time-series), yaitu data yang dikumpulkan
dari waktu ke waktu untuk memberikan gambaran tentang
perkembangan suatu kegiatan selama periode spesifik yang
diamati. Contohnya, data perkembangan jumlah nasabah
bank Sukamaju selama 3 bulan terakhir.

3.3 Teknik Pengumpulan Data


Berhasil atau tidaknya sebuah penelitian, salah satunya ditentukan
oleh metode dan instrument pengumpulan data yang digunakan oleh
seorang peneliti. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan peneliti
dalam mengumpulkan data penelitiannya, diantaranya adalah sebagai
berikut:
1. Teknik pertanyaan/kuesioner
Teknik ini sangat efektif dalam pendekatan survey dan lebih
reliable jika pertanyaan-pertanyaannya terarah dengan baik
dan efektif. Kriteria pertanyaan efektif menurut Fox terdiri
atas:
a. Kejelasan bahasa yang digunakan
b. Ketegasan isi dan periode waktu
c. Bertujuan tunggal
d. Bebas dari asumsi
e. Bebas dari saran
f. Kesempurnaan dan kekonsistenan tata bahasa
2. Teknik pengamatan/observasi
Teknik pengamatan menuntut adanya pengamatan dari seorang
peneliti, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap
objek yang diteliti dengan menggunakan instrument yang

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

24 | Metodologi

Penelitian

berupa pedoman penelitian dalam bentuk lembar pengamatan


atau lainnya. Teknik ini memiliki dua cara pengamatan yaitu
pengamatan terstruktur dan tidak terstruktur.
a. Pengamatan terstruktur menggunakan pedoman tujuan
pengamatan. Semakin jelas struktur pedoman
pengamatannya semakin tinggi pula derajat realibilitas
datanya.
b. Pengamatan tidak terstruktur, bukan berarti tidak
direncanakan. Cara ini lebih fleksibel dan terbuka, di
mana peneliti dapat melihat kejadian secara langsung
pada tujuannya.
3. Teknik tes
Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data yang sifatnya
mengevaluasi hasil proses atau untuk mendapatkan kondisi
awal sebelum proses (pre-test dan post-test), teknik tes ini
dapat dipakai. Instrumennya dapat berupa soal-soal ujian atau
soal-soal tes.
4. Teknik dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data
berupa data-data tertulis yang mengandung keterangan dan
penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih
aktual dan sesuai dengan masalah penelitian. Teknik
dokumentasi berproses dan berawal dari menghimpun
dokumen, memilih dokumen, mencari dan menerangkan,
menafsirkan dan menghubung-hubungkan dengan fenomena
lain.
Teknik Wawancara
Pengumpulan data denga teknik ini dilakukan dengan cara Tanya
jawab secara lisan dan bertatap muka langsung antara
pewawancara dan yang diwawancarai. Dalam menerapkan teknik
seorang pewawancara harus mampu membuat suasana yang
kondusif. Contoh, pada awalny pewawancara menceritakan
suasana data, yaitu dengan sebelumnya membicarakan hal-hal
yang tidak menimbulkan saling curiga. Setelah itu, baru masuk
pada inti permasalahan yang perlu diwawancarakan.

5.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 25

Bab IV Daftar Pertanyaan


4.1 Pendahuluan
Hal penting dalam suatu penelitian adalah data. Data penelitian dapat
diperoleh melalui instrumen penelitian. Instrumen penelitian adalah
segala peralatan yang digunakan untuk memperoleh, mengolah, dan
menginterpretasikan informasi dari para responden yang dilakukan
dengan pola pengukuran yang sama. Salah satu instrumen dalam
penelitian adalah daftar pertanyaan. Daftar pertanyaan harus erat
hubungannya dengan masalah-masalah penelitian, hipotesis, tujuan,
teknik analisis dan dana yang tersedia bagi penelitian yang diusulkan.
Seperti halnya dengan usulan atau rencana penelitian harus
mencerminkan masalah yang pokok dan penting, maka daftar
pertanyaan yang dibuat harus pula cocok dengan masalah
penelitiannya. Disamping kecocokan tersebut, daftar pertanyaan harus
meliputi pertanyaan-pertanyaan penting yang perlu mendapatkan
prioritas demi analisis dan pengujian hipotesis.

4.2 Daftar Pertanyaan


Daftar pertanyaan harus mengarah pada pengumpulan data yang
berguna dan efisien, demikian pula daftar pertanyaan harus berguna
bagi pengolahan dan analisis data. Alokasi waktu dan tenaga antara
pengumpulan data dan perbaikan daftar pertanyaan memerlukan
pertimbangan yang teliti pada saat penyusunan daftar pertanyaan.
Pertanyaan yang panjang dan terbuka dan kualitatif sifatnya mungkin
lebih banyak memberikan informasi daripada pertanyaan yang
pendek, tertutup, cepat dan kuantitatif sifatnya. Kita harus memilih
teknik yang paling efisien dalam memberikan keterangan dan
meminimkan kesalahan jawaban dan interpretasi.
Mengelompokkan pertanyaan ke dalam kelompok-kelompok masalah
akan dapat mengurangi rasa bosan dan rasa lelah responden. Ia tidak
harus berfikir keras atau mengingat berulang kali. Dengan
mengelompokkan secara teratur dan pertanyaan yang satu tidak jauh
berbeda dari pertanyaan yang sebelumnya, akan lebih mudah bagi
responden dalam memberikan jawaban-jawabannya.
Juga sebaiknya daftar pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga
memudahkan dalam pemindahan informasi/data dari daftar pertanyaan
yang telah diisi ke daftar kode (code sheets). Code Sheets adalah
daftar informasi atau data yang sudah dinyatakan dalam kode.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

26 | Metodologi

Penelitian

4.3 Variabel dan Skala Pengukuran Variabel


Kegunaan daftar pertanyaan adalah untuk pengukuran variabel.
Pengukuran variabel penting bagi penelitian karena untuk mengetahui
atau menghubungkan antara konsep abstrak dengan realitas. Variabel
penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja (dapat diberi
nilai dan nilainya berubah-ubah) yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian
ditarik kesimpuannya. Di dalam penelitian sekurang-kurangnya dapat
dibedakan adanya lima jenis variabel, meskipun di dalam suatu
penelitian tidak harus dinyatakan semua. Kelima variabel itu adalah :
1. Variabel Bebas (Independence Variable)
Variabel ini adalah sejumlah gejala dengan berbagai unsur atau faktor
yang menentukan atau memengaruhi adanya variabel yang lain. Tanpa
variabel ini, maka variabel yang lain itu tidak akan ada. Variabel yang
ditentukan atau dipengaruhi oleh variabel bebas disebut variabel tak
bebas (terikat). Contoh : Pengaruh pemberian Kredit Investasi Kecil
(KIK) terhadap peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat nelayan.
Disini variabel bebasnya adalah pemberian KIK, sedangkan variabel
tak bebasnya adalah Jumlah nelayan yang menerima KIK, variasi
jumlah KIK yang diterima, cara pemanfaatan KIK dan lain lain.
2.

Variabel Tak Bebas (Dependence Variable)

Variabel ini adalah sejumlah gejala dengan berbagai unsur atau faktor
di dalamnya yang ditentukan/dipengaruhi oleh adanya variabel lain.
Tanpa variabel lain, maka variabel ini tidak akan ada. Perubahan
variabel ini hanya terjadi jika variabel bebasnya mengalami perubahan
yang berarti bukan lagi variabel yang semula atau sebenarnya menjadi
variabel yang lain. Variabel ini disebut variabel terikat karena
tergantung/ditentukan/dipengaruhi oleh variabel lain. Dengan kata
lain variabel ini disebut tidak bebas.
3.

Variabel Kontrol (Control Variable)

Variabel ini adalah sejumlah gejala dengan berbagai unsur atau faktor
di dalamnya, yang harus dikendalikan agar tidak memengaruhi atau
dapat merubah variabel bebas, yang akan berakibat terjadinya
perubahan pada variabel tak bebas. Pengendalian variabel ini
dimaksudkan untuk menghindari adanya sesuatu yang dapat
memengaruhi atau merubah variabel bebas, yang dapat berakibat
munculnya variabel lain (bukan variabel tak bebas) yang akan
diungkapkan dalam suatu penelitian, karena variabel bebasnya telah
berubah akibat atau dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dapat
dikendalikan. Dengan kata lain penelitian harus berusaha
mengungkapkan adanya variabel tak bebas murni karena pengaruh
variabel bebas murni, maka peneliti harus berusaha mengendalikan

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 27

atau mengontrol adanya variabel lain yang dapat memengaruhinya,


yang akan berakibat kedua variabel tersebut menjadi tidak murni.
4.

Variabel Antara (Intervining Variable)

Variabel ini adalah sejumlah gejala dengan berbagai unsur atau faktor
di dalamnya yang tidak perlu dikontrol, karena diperhitungkan
pengaruhnya pada variabel bebas. Dengan demikian dalam penelitian
dapat dibedakan antara pengaruh variabel bebas murni terhadap
variabel tak bebas murni, dengan pengaruh variabel bebas terhadap
variabel tak bebas yang dipengaruhi oleh variabel ketiga yang
dikendalikan. Untuk memungkinkan perhitungan itu dilakukan,
variabel antara dapat berbentuk usaha memisahkan atau blok terhadap
sampel. Misalnya dengan memperhitungkan pengaruh perbedaan jenis
kelamin, pemisahan tingkat penghasilan, pemisahan tingkat
intelegensi dan lain-lain.
5.

Variabel Ekstrane (Extranious Variable)

Variabel ini adalah sejumlah gejala dengan berbagai unsur atau faktor
di dalamnya yang berpengaruh pada variabel bebas, akan tetapi sulit
atau tidak dapat dikontrol dan tidak dapat pula diperhitungkan
pengaruhnya. Dalam bidang/ilmu social, variabel ini sangat banyak
karena obyeknya yang terdiri dari manusia dan segala sesuatu yang
dipengaruhi manusia bersifat heterogen, sehingga gejalanya sangat
bervariasi. Dengan kata lain variabel ini dapat bersumber dari kondisi
sampel dan di luar sampel.
Dalam pengukuran variabel, peneiti membentuk suatu skala dan
kemudian mentransfer pengamatan terhadap ciri-ciri kepada skala
tersebut. Ada berbagai kemungkinan skala; pilihan yang sesuai
tergantun kepada anggapan peneiti mengenai aturan pemetaan. Setiap
skala mempunyai himpunan asumsinya masing-masing yang
melatarbelakangi hubungan angka-angka dengan praktik sehari-hari.
Skala pengukuran adalah penentuan atau penetapan skala atas suatu
variabel berdasarkan jenis data yang melekat dalam variabel
penelitian. Skala pengukuran terdiri dari empat jenis yaitu :
1. Skala Nominal
Dalam ilmu sosial, skala nominal lebih banyak digunakan
daripada skala pengukuran yang lainnya. Skala nominal membuat
partisi dalam suatu himpunan ke dalam kelompok-kelompok yang
mutually exclusive (harus mewakili kejadian yang berbeda) dan
collectively exhaustive (dapat menjelaskan semua kejadian yang
mungkin terjadi dalam kelompok tersebut). Skala nominal
merupakan skala yang paling lemah diantara keempat jenis skala.
Disini, tidak ada hubungan jarak dan tidak ada asal mula hitungan.
Skala ini mengabaikan segala informasi mengenai berbagai

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

28 | Metodologi

Penelitian

tingkatan dari ciri-ciri yang diukurnya. Contohnya : Jenis kelamin


responden, agama yang dianut responden, dan sebagainya.
2. Skala Ordinal
Skala ordinal mencakup ciri-ciri skala nominal ditambah sesuai
urutan. Pemakaian skala ordinal mengungkapkan suatu pernyatan
mengenai lebih daripada dan kurang daripada. Bagaikan alat
pengukur dari karet, skala ini dapat menjangkau berbagai jumlah
pada berbagai tempat sepanjang alat pengukur tersebut. Jadi,
selisih sebenarnya antara urut 1 dan 2 dapat saja lebih atau kurang
daripada selisih urut 2 dan 3. Contohnya : preferensi seseorang
terhadap suatu nama Bank yang ingin dijadikan tempat menabung
oleh orang tersebut. Sehingga orang tersebut mempunyai urutan
nama bank, dari yang paling ingin hingga yang paling tidak
diingini oleh orang tersebut.
3. Skala Interval
Skala interval memiliki ciri skala nominal dan ordinal ditambah
satu lagi yaitu mencakup konsep kesamaan interval (jarak antara 1
dan 2 adalah sama dengan jarak antara 2 dan 3) namun tidak
memiliki angka nol mutlak. Contohnya : Waktu, jarak antara jam 3
pagi dan 6 pagi adalah sama dengan jarak antara jam 4 pagi dan 7
pagi, tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa jam 6 pagi adalah
2 kali lebih siang dibandingkan dengan jam 3 pagi.
4. Skala Rasio
Skala rasio mencakup semua ciri-ciri dari skala-skala lainnya
ditambah dengan adanya titik nol yang absolut. Skala rasio
mencerminkan jumlah-jumlah yang sebenarnya dari suatu
variabel. Contohnya : Gaji karyawan, jarak antara gaji karyawan
sebesar 1 juta rupiah dengan 2 juta rupiah sama dengan jarak
antara 2 juta rupiah dengan 3 juta rupiah dan 2 juta rupiah adalah 2
kali lipat dari 1 juta rupiah.

4.4 Beberapa Kesulitan


Pertanyaan

dalam

Menyusun

Daftar

Perbedaan interpretasi dapat pula terjadi antara peneliti dan


pewawancara maupun antara pewawancara dan responden. Demikian
pula dapat terjadi perbedaan interpretasi pertanyaan oleh responden
yang berbeda. Semakin heterogen sampel yang diteliti, semakin tinggi
derajat perbedaan interpretasi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 29

4.5 Coaching
Coaching merupakan langkah yang harus ditempuh sebelum para
pewawancara turun ke lapangan untuk mengumpulkan data lewat
wawancara dan pengisian daftar pertanyaan. Pada waktu coaching
pewawancara diberi tahu dimana daerah penelitian akan dilakukan,
berapa dan mana kabupaten, kecamatan, desa atau dukuh yang dipilih
sebagai daerah sampel. Juga para pewawancara diberi tahu berapa
jumlah responden yang harus diwawancarai serta variasi atau jenis
responden misalnya buruh tani, petani pemilik, pegawai negeri dan
sebagainya. Demikian pula pewawancara harus dilatih bagaimana cara
menemukan daerah yang akan diteliti, bagaimana cara menemui
pejabat, dan para responden. Di samping itu para pewawancara juga
dilatih bagaimana cara menanyakan daftar pertanyaan dan memahami
maksud dan tujuan pertanyaan yang bersangkutan, dan akhirnya
bagaimana cara mengisi daftar pertanyaan itu.
Pewawancara harus dilatih untuk menuliskan jawaban-jawaban
responden secara jelas dan jujur. Untuk mendapatkan jawaban yang
benar dan jujur, pewawancara perlu dibekali dengan teori dasar yang
berkaitan dengan tujuan analisis penelitian yang bersangkutan.

4.6 Pre-test Daftar Pertanyaan


Sebelum mulai dengan survei yang sebenarnya, harus dilakukan
testing atau uji terhadap daftar pertanyaan yang telah disusun. Daftar
pertanyaan dibawa ke lapangan dan dicoba dengan menanyakannya
kepada responden. Pimpinan proyek penelitian harus ikut dalam masa
pre-testing atau pilot testing ini. Dari sini nantinya diharapkan
untuk diketahui kelemahan atau kekurangan dari daftar pertanyaan
yang telah dibuat.

4.7 Menanyakan Daftar Pertanyaan


Yang dimaksud dengan wawancara adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil
bertatap muka antara si pewawancara dengan responden dengan
menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan
wawancara). Beberapa hal dapat membedakan wawancara dengan
percakapan sehari-hari, antara lain:
o pewawancara dan responden biasanya belum saling mengenal
sebelumnya;
o responden selalu menjawab pertanyaan;
o pewawancara selalu bertanya;
o pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan kepada suatu jawaban,
tetapi harus selalu bersifat netral;
o pertanyaan yang diajukan mengikuti panduan yang telah dibuat
sebelumnya.
Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

30 | Metodologi

Penelitian

Dalam mengisi pertanyaan sebaiknya dilakukan sendiri-sendiri antara


satu pewawancara dengan satu responden. Dalam hal untuk
mengadakan pencocokan silang (cross check) wawancara dapat
diadakan secara kelompok (group interview).
Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan tertentu memerlukan jawaban
dengan perhitungan-perhitungan yang biasanya sangat memakan
waktu, misalnya pertanyaan mengenai biaya produksi. Untuk
pertanyaan yang demikian jangan dilakukan perhitungannya pada saat
wawancara, sehingga tidak akan melelahkan pewawancara maupun
responden. Perhitungan-perhitungan demikian dilakukan pada waktu
coding. Sebelum pengkodean sebaiknya daftar pertanyaan tersebut
harus diedit terlebih dahulu.
Editing sebaiknya dilakukan pada hari yang sama seketika setelah
wawancara selesai dilakukan. Hal ini untuk menghindari
kemungkinan pewawancara lupa terhadap jawaban-jawaban yang
diberikan oleh responden dan lupa responden mana yang memberikan
jawaban yang masih tertinggal dalam ingatan pewawancara.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 31

Bab V Teknik Analisis Data


Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah
terkumpulnya data dari seluruh responden. Kegiatan dalam analisis
data adalah : mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis
responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh
responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan
perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan
perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan
statistik. Terdapat dua macam statistik yang digunakan yaitu: Statistik
Deskriptif, dan Statistik Inferensial (meliputi metode parametrik dan
non parametrik)

5.1 Statistik Deskriptif dan Inferensia


1.

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk


menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau
menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya
tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum
atau generalisasi. Penelitian yang dilakukan pada populasi
analisanya menggunakan statistik deskriptif, sedangkan jika
menggunakan sampel maka analisanya menggunakan statistik
deskriptif dan inferensial.
Termasuk dalam statistik deskriptif antara lain adalah penyajian
data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram,
perhitungan modus, median, mean, desil, persentil, rata-rata,
standar deviasi dan persentase.

2.

Statistik Inferensial (statistik induktif atau statistik


probabilitas) adalah teknik statistik yang digunakan untuk
menganalisa data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk
populasi. Statistik ini akan cocok digunakan bila sampel diambil
dari populasi yang jelas, dan teknik pengambilan sampel dari
populasi itu dilakukan secara random (Baca Modul Teknik
Sampling).
Suatu kesimpulan dari data sampel yang akan diberlakukan untuk
populasi itu mempunyai peluang kesalahan dan kebenaran
(kepercayaan) yang dinyatakan dalam bentuk prosentase. Bila
peluang kesalahan 5 % maka taraf kepercayaan 95 %, bila
peluang kesalahan 1 %, maka taraf kepercayaannya 99 %.
Peluang kesalahan dari kepercayaan ini disebut dengan taraf
signifikansi.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

32 | Metodologi

Penelitian

Misalnya dari hasil analisis korelasi ditemukan koefisien korelasi


0.54 dan untuk signifikansi 5%, artinya bahwa hubungan variabel
sebesar 0.54 itu dapat berlaku pada 95 dari 100 sampel.

5.2 Metode Parametrik dan Nonparametrik


1.

Metode Parametrik digunakan untuk menguji parameter


populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui
data sampel. Parameter populasi itu meliputi : rata-rata dengan
notasi , simpangan baku , dan varians 2. Sedangkan
statistiknya adalah meliputi : rata-rata x , simpangan baku s, dan
varians s2.
Contoh nilai suatu pelajaran 1.000 mahasiswa rata-ratanya 7,5.
Selanjutnya dari 1.000 mahasiswa diambil 50 orang, dari sampel
50 orang ternyata rata-rata nilainya 7,5. Hal ini berarti bahwa
tidak ada perbedaan antara parameter dan statistik.

2.

Metode Nonparametrik digunakan untuk menguji distribusi


untuk menganalisis data nominal dan ordinal, dan tidak menuntut
banyak asumsi yang harus dipenuhi (Baca Modul Metode Non
Parametrik). Tabel berikut ditunjukkan untuk penggunaan
statistik parametrik dan nonparametrik untuk menganalisis data
khususnya untuk pengujian hipotesis.
Tabel 2. Pedoman Umum Memilih Metode Parametrik dan
Non Parametrik Untuk Pengujian Hipotesis
Bentuk Hipotesis

Macam
Data

Deskriptif
(satu
sampel)

Komparatif Dua Sampel


Berpasangan

Binomial
Nominal

Chi Kuadrat
1Sampel

Mc. Nemar

Independen
Fisher Exact
Probability
Chi Kuadrat 2
Sampel

Komparatif Lebih dari Dua


Sampel
Berpasangan

Cochran

Median Test
Sign Test
Ordinal

Run Test
Wilcoxon
Matched Pairs

Mann Whitney U
Test
KolmogorovSmirnov

Friedman TwoWay Anova

Waid Wolfowitz

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Independen

Asosiatif/
hubungan

Chi Kuadrat
k Sampel

Kooefisien
Kontingensi
(C)

Median
Extention

Korelasi
Spearman
Rank

Kruskal
Wallis One
Way
ANOVA

Korelasi
Kendal Tau

Metodologi Penelitian | 33

5.3 Judul Penelitian & Metode yang Digunakan Untuk


Analisis
Berikut ini diberikan beberapa contoh judul penelitian, bentuk
paradigma, rumusan masalah, hipotesis dan teknik statistik yang akan
digunakan untuk pengujian hipotesis.
Contoh 1.
1. Judul penelitian: Pengaruh lama penayangan iklan di TV terhadap
nilai
penjualan Majalah ABC
2.

Bentuk paradigmanya adalah sebagai berikut :


X

X = lama penayangan iklan


Y = nilai penjualan Majalah ABC
Diasumsikan penelitian tersebut akan menggunakan sampel iklan
di TV yang diambil secara random. Selanjutnya akan di bahas
rumusan masalah, hipotesis yang diajukan dan teknik statistik
yang digunakan untuk analisis.
3.

Rumusan masalah, hipotesis, dan teknik statistik untuk analisis


data (ketiganya sangat berkaitan).
Berikut ini diberikan contoh, rumusan masalah penelitian,
hipotesis dan teknik statistik yang digunakan untuk menguji
hipotesis, berdasarkan judul penelitian di atas.
Teknik statistik yang digunakan untuk melakukan prediksi
pengaruh lama penayangan iklan Majalah ABC terhadap nilai
penjualannya adalah dengan teknik regresi sederhana dengan satu
variabel bebas. Untuk judul di atas misal rumusan masalahnya
adalah: kalau lama penayangan iklan Majalah ABC ditingkatkan
sampai optimal, berapakah nilai penjualan barangnya?

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

34 | Metodologi

Penelitian

Tabel 3. Rumusan Masalah, Hipotesis dan Statistik Untuk Uji


Hipotesis pada Contoh Majalah ABC
Rumusan Masalah

Hipotesis

Statistik untuk uji hipotesis

Berapakah
rata-rata Rata-rata
penayangan Data yang terkumpul
waktu penayangan iklan iklan di TV paling tinggi adalah ratio. Bentuk
di TV?
120 menit
Hipotesisnya
adalah
deskriptif maka teknik uji
untuk hipotesis no. 1 dan
2 adalah sama yaitu: t-test
(untuk satu sampel)
Berapakah
nilai Nilai penjualan barang t-test satu sampel
penjualan barang yang setelah diiklankan paling
telah diiklan-kan?
rendah Rp. 700 juta per
hari
Adakah hubungan yang Terdapat hubungan yang Data ke dua variabel
positif dan signifikan positif dan signifikansi adalah data ratio, oleh
antara
lamanya antara
lamanya karena itu teknik statistik
penayangan iklan di TV penayangan iklan di TV yang digunakan untuk
dengan nilai penjualan dengan nilai penjualan menguji hipotesis adalah
barang?
barang
:
Korelasi
Pearson
Product Moment
Bagaimanakah pengaruh Lama penayangan iklan Regresi sederhana
lama penayangan iklan di berpengaruh positif terTV
terhadap
nilai hadap nilai penjualan
penjualan baran?
Contoh 2.
1.

Judul penelitian: Pengaruh kemampuan kerja dan motivasi kerja


karyawan terhadap produktivitas kerja di PT. Mitra Raja.

2.

Bentuk paradigmanya adalah sebagai berikut :

X1=kemampuan karyawan
X2= motivasi kerja
Y= produktivitas kerja

Diasumsikan penelitian menggunakan sampel, yang diambil


secara stratified random sampling. Semua instrumen penelitian

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 35

menggunakan skala interval, sehingga data yang didapat adalah


data interval.
3.

Rumusan masalah, hipotesis dan teknik statistik yang digunakan


untuk menguji hipotesis untuk judul di atas adalah sebagai
berikut:

Tabel 4. Rumusan Masalah, Hipotesis dan Statistik Untuk Uji


Hipotesis pada Contoh Produktivitas Kerja karyawan
di PT. Mitra Raja
Rumusan Masalah

Hipotesis

Statistik untuk
Menguji hipotesis

Hipotesis Deskriptif:
Masalah Deskriptif
1. Seberapa tinggi
kemampuan kerja
karyawan PT. Mitra
Raja?
2.

Seberapa tinggi motivasi


kerja karyawan PT.
Mitra Raja?

3.

Seberapa tinggi
produktivitas kerja
karyawan PT. Mitra
Raja?

1.

Kemampuan kerja
karyawan PT. Mitra Raja
masih rendah, paling tinggi
baru menggapai 60% dari
kriteria yang diharapkan.
2. Motivasi kerja karyawan
PT. Mitra Raja masih
rendah, paling tinggi baru
mencapai 65% dari kriteria
yang diharapkan.
3. Produktifitas kerja
karyawan PT. Mitra Raja
masih rendah, paling tinggi
baru mencapai 70% dari
kriteria yang diharapkan.

1 s/d 3 sama yaitu :


t-test satu sampel

4.

Korelasi Product
Moment bisa
dilanjutkan dengan
regresi tunggal
s.d.a

t-test satu sampel

t-test satu sampel

Masalah Asosiatif
4.

Adakah hubungan antara


X1 dan Y?

5.

Adakah hubungan antara


X2 dan Y?

6.

Adakah hubungan antara


X1 dan X2?

7.

Secara bersama-sama
adakah hubungan antara
X1 dan X2 dengan Y?

5.

Terdapat hubungan yang


positif dan signifikan antara
X1 dan Y.

Terdapat hubungan yang


positif dan signifikan antara
X2 dan Y.
6. Terdapat hubungan yang
positif dan signifikan antara
X1 dan X2.
7. Terdapat hubungan yang
positif dan signifikan antara
X1 dan X2 dengan Y.
Hipotesis no 8, 9 dan 10 adalah
hipotesis nol. Lainnya hipotesis

s.d.a

Korelasi ganda,
parsial dilanjutkan
regresi ganda

Masalah Komparatif

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

36 | Metodologi

Penelitian

Masalah komparatif ini ada


karena sampel dalam
penelitian ini terdiri atas
kelompok wanita dan pria.
Selain itu juga terdiri atas
golongan I, II dan III.
Rumusan masalah adalah:
8. Adakah perbedaan
kemampuan kerja antara
pegawai pria dan wanita
di PT. Mitra Raja?
9. Adakah perbedaan
motivasi kerja antara
karyawan pria dan
wanita di PT. Mitra
Raja?
10. Adakah perbedaan
produktivitas kerja
antara karyawan pria dan
wanita di PT. Mitra
Raja?
11. Adakah perbedaan
kemampuan kerja antara
karyawan golongan I, II
dan III di PT. Mitra
Raja?
12.

Adakah perbedaan
motivasi kerja antara
karyawan golongan I, II
dan III di PT. Mitra
Raja?
13. Adakah perbedaan
produktivitas kerja
antara karyawan
golongan I, II dan III di
PT. Mitra Raja?

kerja.

8.

9.

Tidak terdapat perbedaan


kemampuan kerja antara
karyawan pria dan wanita
di PT. Mitra Raja.
Tidak terdapat perbedaan
motivasi kerja antara
karyawan pria dan wanita
di PT. Mitra Raja.

t-test untuk dua


sampel independen

s.d.a

10. Tidak terdapat perbedaan


produktivitas kerja antara
karyawan pria dan wanita
di PT. Mitra Raja.

s.d.a

11. Terdapat perbedaan


kemampuan kerja antara
karyawan golongan I, II
dan III.

Analisis varians
satu jalan. Bila
terjadi perbedaan
dilanjutkan dengan
t-test untuk dua
sampel
s.d.a

12.

Terdapat perbedaan
motivasi kerja antara
karyawan golongan I, II
dan III di PT. Mitra Raja.

13.

Terdapat perbedaan
produktivitas kerja antara
karyawan golongan I, II
dan III di PT. Mitra Raja.

s.d.a

Dari dua contoh di atas, terlihat bahwa bila variabel ditambah satu saja
(menjadi dua) maka rumusan masalah yang akan dicarikan
jawabannya melalui penelitian menjadi bertambah banyak, demikian
juga teknik analisis datanya.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 37

Bab VI Penyusunan Laporan


6.1 Pendahuluan
Langkah terakhir dan yang sangat penting dalam suatu penelitian
adalah menulis laporan. Betapapun pentingnya teori dan hipotesis
suatu penelitian, atau betapapun hati-hati serta telitinya rencana
maupun pelaksanaan penelitian, atau bagaimanapun hebatnya
penemuan, semuanya itu tidak akan ada manfaatnya apabila tidak kita
laporkan secara baik dalam bentuk tulisan.
Bentuk, isi dan cara melaporkan akan menentukan bagaimana proses
penyebaran pengalaman penelitian dan hasil-hasilnya itu dapat
berlangsung dengan semestinya di dalam masyarakat. Untuk
berhasilnya proses penyebaran hasil-hasil penelitian itu perlu adanya
cara-cara khusus yang harus diikuti.
Pertama kali harus dipertimbangkan siapa yang akan menjadi
penerima laporan hasil penelitian itu. Begitu pula bentuk, bahasa dan
cara melaporkan harus diarahkan untuk memudahkan dimengertinya
laporan tersebut. Dalam membuat laporan hasil penelitian, tabel dan
diagram sangat berguna untuk menyajikan data yang dikumpulkan.
Selanjutnya penelitian itu akan dianggap penting tergantung pada cara
interpretasi dari penemuan-penemuannya.

6.2 Golongan Pembaca Hasil Penelitian


Ada tiga golongan pembaca atau penerima laporan penelitian.
a. Kalangan Akademisi
Seorang mahasiswa yang menulis paper/skripsi/disertasi yang
didasarkan pada penelitiannya, sudah tentu yang akan menjadi
pembaca utamanya adalah para dosen pembimbingnya. Oleh karena
itu bentuk dan cara penulisan (skripsi dsb) harus sesuai dengan normanorma dan syarat-syarat yang diharuskan oleh lembaga pendidikan
yang bersangkutan.
b. Sponsor dari Penelitian (Klien)
Apabila seseorang bekerja pada suatu lembaga penelitian atau pada
suatu universitas diharapkan untuk membuat laporan bagi pemberi
dana, maka lembaga pemberi dana itulah yang akan bertindak sebagai
konsumen atau pembaca utama dari penelitian yang bersangkutan.
Mereka mungkin pemerintah, lembaga swasta. Yang jelas bahwa
kepentingan mereka berbeda dengan kepentingan kelompok akademis.
Bentuk laporan hasil penelitian itu tentu harus sesuai dengan

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

38 | Metodologi

Penelitian

keinginan atau petunjuk-petunjuk dari lembaga atau badan sponsor


tersebut.
c. Umum
Para peneliti ataupun para sponsor penelitian mungkin ingin menulis
ikhtisar atau makalah yang dapat dibaca oleh siapa saja. Dalam hal ini
maka hal-hal yang bersifat teknis harus dihindarkan. Tulisan harus
bersifat populer dan mudah dimengerti oleh siapa saja yang
membacanya.
Pada umumnya penulisan laporan yang berhasil selalu diarahkan pada
pihak tertentu apakah untuk para akademisi, para praktisi atau para
pemberi dana. Laporan yang dimaksudkan untuk memuaskan semua
pihak umumnya tidak dapat berhasil baik.

6.3 Isi dan Bentuk Laporan


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan laporan yaitu :
a.

Laporan adalah suatu usaha yang untuk menceritakan proses dan


pengalaman penelitian. Hendaknya data yang dianalisis dipilih
dan diorganisasikan sedemikian rupa sehingga merupakan cerita
yang teratur dan berjalan lancar.

b.

Tujuan utama dari suatu laporan adalah komunikasi dengan pihak


pembaca dan bukannya dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu
harus diingat pengetahuan dan kemampuan pembaca. Haruslah
diketahui terlebih dahulu tentang apa yang ingin diketahui oleh
pembaca mengenai penelitian itu. Dengan demikian dapatlah kita
mengorganisasikan bahan-bahan yang ada sehingga cerita yang
kita tulis itu jelas dan berhubungan satu sama lain.

c.

Laporan harus menceritakan apa yang diharapkan akan terjadi.


Sedapat mungkin diceritakan perubahan-perubahan yang terjadi
dalam rencana penelitian demikian pula sebab-sebab adanya
perubahan tersebut.

d.

Penemuan dan pengalaman penelitian yang nampak tidak ada


hubungannya dengan tujuan-tujuan penelitian jangan tergesa-gesa
dibuang. Apa yang mula-mula dianggap informasi tambahan,
suatu ketika dapat merupakan kunci pembicaraan dalam
memahami situasi yang sulit.

e.

Laporan yang dibuat jangan hanya merupakan cerita hal-hal yang


kita anggap sukses. Hendaknya dilaporkan juga tentang
kegagalan-kegagalan ataupun keterbatasan dari penelitian kita.
Bila mungkin, hendaknya dilaporkan juga pendapat kita mengapa
sampai terjadi kegagalan-kegagalan yang dilaporkan itu mungkin

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 39

akan sangat berguna sebagai peringatan bagi para peneliti lain


untuk penelitian-penelitian yang akan dijalankannya.
f.

Adalah sangat mudah untuk mengganti rencana penulisan


daripada mengganti seluruh laporan. Oleh karena itu lebih efisien
untuk pertama-tama membuat garis besar (outline) yang baik,
kemudian mengikutinya dengan membuat konsep tulisan yang
lebih terinci.

g.

Akhirnya kita hendaknya jangan mengharap bahwa para pembaca


akan mempunyai waktu dan minat untuk membaca seluruh
laporan. Oleh karena itu suatu laporan harus diorganisir dan
dibagi-bagi menjadi beberapa bab dan sub-bab dengan masingmasing diberi judul yang tepat. Sehingga dengan demikian para
pembaca akan banyak ditolong dalam mencari bagian-bagian
yang dibutuhkannya.

6.4 Urutan Penulisan Laporan


Berikut ini adalah urutan-urutan isi laporan yang sering dilakukan
dalam suatu laporan hasil penelitian:
a. Halaman Judul
b. Kata Pengantar
Pada umumnya kata pengantar ini meliputi separuh sampai satu
halaman, dan kata pengantar ini merupakan uraian singkat terhadap
permasalahan utama, tujuan, lembaga yang mensponsori dan lain-lain.
c. Daftar Isi
Kegunaan dari daftar isi ini adalah untuk membantu pembaca laporan
mengindentifikasi bagian-bagian laporan dan juga melihat hubungan
antara bagian yang satu dengan bagian yang lain.
d. Pendahuluan
Dalam pendahuluan ini harus diuraikan secara singkat kepada
pembaca mengenai masalah penelitian, ruang lingkup penelitian,
landasan teoritis dan beberapa implikasi kebijaksanaan yang hendak
dicapai dengan penelitian tersebut.
e. Identifikasi, Seleksi dan Formulasi dari Masalah
Dalam bagian ini kita harus menjelaskan kepada pembaca bagaimana
dan mengapa kita mengidentifikasi bidang penelitian yang kita miliki
dalam studi. Masalah-masalah apa yang menjadi perhatian dalam
penelitian itu? Dalam masalah apa kita lebih menekankan perhatian

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

40 | Metodologi

Penelitian

dalam penelitian ini? Dalam penelitian ini apakah kita berusaha untuk
menguji suatu hipotesis tertentu yang pernah dikemukakan oleh pihak
lain? Apakah penelitian ini merupakan pengulangan dari suatu studi
yang pernah diadakan dengan modifikasi tertentu. Pertanyaanpertanyaan semacam itulah yang biasanya diinginkan jawabannya
bagi setiap pembaca yang mengamati laporan tersebut. Akhirnya
menyebutkan secara eksplisit masalah utama penelitian. Apa yang
menjadi tujuan penelitian dan bagaimana bentuk hipotesis kita secara
spesifik.
f. Kerangka Penelitian dan pengumpulan Data
Dalam bagian ini harus diuraikan secara jelas semua hal yang ada
kaitannya dengan kerangka penelitian, seperti cara pengambilan
sampel, jumlah responden, prosedur pengumpulan data, alat-alat yang
digunakan untuk pengumpulan data, definisi variabel, pre-testing,
sumber-sumber data tambahan dan lain sebagainya.
g. Pengolahan dan Analisis Data
Dalam bagian ini, peneliti mulai melakukan pengolahan data yang
didapat dan menganalisis hasil olahan tersebut seperti, bagaimana data
yang telah terkumpul diproses, disaring, diuji dan dianalisis? Prosedur
statistik apa yang digunakan? Berapa jumlah responden yang tidak
bersedia menjawab? Bagaimana mengatasi masalah data yang tidak
dapat terkumpul? Bagaimana cara kita menghitung indeks?
Bagaimana cara yang kita lakukan dalam memperkirakan variabelvariabel yang kita analisis?
h. Beberapa Penemuan
Peneliti menemukan sesuatu penemuan di bidang yang diteliti seperti,
apa yang telah kita pelajari dalam penelitian ini? Bagaimana
penemuan-penemuan yang kita peroleh dihubungkan dengan beberapa
pertanyaan yang diformulasikan pada bagian dimuka?
i. Kesimpulan
Arti pentingnya kesimpulan ditulis adalah untuk membantu para
pembaca yang ingin mendapatkan hasil-hasil penelitian kita secara
cepat. Apabila dari hasil pengamatan yang secara cepat dapat
menimbulkan minat bagi pembaca untuk mengetahui lebih lanjut lagi,
maka ia dapat membacanya sendiri secara lebih lengkap pada bagianbagian penelitian yang sebelumnya.
j. Lampiran
Lampiran pada umumnya berisi angka-angka atau teknik perhitungan
statistik/matematis yang terlihat sangat memakan tempat apabila

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 41

diletakkan pada tubuh laporan. Bagian ini dapat diabaikan bagi


pembaca yang memang tidak tertarik untuk melihatnya lebih lanjut
tanpa harus kehilangan arah pada waktu membaca laporannya itu
sendiri.
k. Daftar Kepustakaan
Semua dokumen baik yang dipublikasikan maupun yang tidak, yang
kita gunakan sebagai landasan teoritis penelitian kita harus muat pada
daftar kepustakaan yang pada umumnya diletakkan pada bagian
terakhir dari suatu laporan. Dalam menyusun daftar kepustakaan ini
haruslah diikuti gaya standar (biasanya harus dibuat secara berurutan
alfabet berdasarkan nama pengarangnya).

6.5 Pedoman Cara Penulisan Laporan yang Baik


Ukuran baik buruknya suatu laporan sebenarnya terutama ditentukan
oleh ketepatan dan ketajaman analisis yang ada dalam laporan itu
sendiri. Sedangkan mengenai penampilan laporan itu sendiri (bentuk,
gaya bahasa, cara penyajian tabel dsb) jatuh nomor dua. Penampilan
suatu laporan yang baik dapat diusahakan dengan memperhatikan
pedoman-pedoman sebagai berikut :
a.

Buatlah kalimat sejelas mungkin. Setiap kalimat haruslah


diusahakan dalam bentuk kalimat tunggal yang sempurna.
Penggabungan dari dua atau tiga kalimat sekaligus, mungkin akan
mengaburkan ide-ide yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh
penulis. Usahakan pula setiap paragraf jangan terlalu panjang.

b.

Berhati-hatilah
dalam
mengemukakan
setiap
istilah
(therminology). Terlebih-lebih dalam suatu penelitian ilmu sosial,
sikap berhati-hati dalam setiap mengemukakan istilah-istilah
tersebut harus tinggi. Kalau tidak berhati-hati, mungkin dapat
menimbulkan sebagai macam kesalahpahaman. Setiap istilah
haruslah didefinisikan secara jelas dan konsisten.

c.

Gunakan tata bahasa, ejaan, dan tanda-tanda kalimat (koma, seru,


titik dua dsb) yang baku. Dengan demikian, adanya kemungkinan
salah pengertian antara penulis dan pembaca dapat dihindari.

d.

Usahakanlah menggunakan kalimat langsung dan positif, serta


hindarkan penggunaan kalimat yang kompleks. Jangan
menggunakan kata-kata yang tidak berguna dan hindarkan
penggunaan istilah yang bersifat lokal.

e.

Berilah nomor urut untuk setiap bab, sub-bab, tabel dan diagram
secara konsisten dan memadai.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

42 | Metodologi

f.

Penelitian

Gunakan catatan kaki (footnotes) secara konsisten, dan beri


nomor secara berurutan dan letakkan setiap catatan kaki pada
bagian bawah di masing-masing halaman yang bersangkutan.
Dapat pula kita mengelompokkan catatan kaki itu dibagian
belakang pada akhir laporan asal saja nomor urutnya tetap
konsisten.

Pedoman tersebut di atas sebenarnya hanyalah merupakan sebagian saja dari apa
yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh setiap
penulis dalam menulis laporannya, tetapi apabila dapat diikuti secara benar, maka
laporan tersebut akan sangat bermanfaat dan menyenangkan bagi para pembaca.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 43

Lampiran: Contoh Analisis Data dan Pengujian Hipotesis


1.

Judul Penelitian: Pengaruh kualitas pelayanan pramuniaga


dan jumlah pengunjung toko terhadap jumlah pembeli
(Penelitian 40 toko di Yogyakarta).

2.

Variabel penelitian:
Pada penelitian ini variabel penelitiannya adalah: pelayanan
pramuniaga (X1), dan jumlah pengunjung toko (X2) sebagai
variabel independen dan jumlah pembeli (Y) sebagai variabel
dependen.

3.

Paradigma Penelitian :

4.

Populasi dan Sampel


Populasi jumlah toko seluruhnya adalah 45. Berdasarkan
tingkat kesalahan 5 %, maka ukuran sampel 40 toko. Sampel
toko diambil dengan stratified random sampling dengan
proporsi sebagai berikut.
Tabel 5. Jumlah Sampel Pramuniaga dan Toko di
Yogyakarta
Jumlah Pramuniaga
(Orang)

Jumlah Sampel
(Toko)

Kelompok

> 25
11 24
< 10

12
15
13

A
B
C

Dari 40 toko yang digunakan sebagai sampel tersebut, 21 toko


di jalan protokol dan 19 toko di luar jalan protokol.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

44 | Metodologi

5.

Penelitian

Rumusan Masalah
Rumusan Masalah Deskriptif :
1) Seberapa baik pelayanan pramuniaga toko di Yogyakarta ?
2) Berapakah jumlah rata-rata pengunjung toko di
Yogyakarta?
3) Berapakah jumlah rata-rata pembelinya ?

6.

Hipotesis
Merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah di
atas.
Hipotesis deskriptif (bisa dirumuskan dan bisa tidak)
1) Kualitas pelayanan pramuniaga toko di Yogyakarta paling
tinggi 70 % dari kriteria yang diharapkan.
2) Rata-rata tiap hari jumlah pengunjung toko di Yogayakarta
paling rendah 500 orang.
3) Rata-rata tiap hari jumlah pembeli toko di Yogyakarta
adalah 300 orang.

7.

Teknik Statistik untuk Pengujian Hipotesis


Hipotesis Deskriptif
Bila hipotesis ini tidak dirumuskan, maka yang dianalisis
adalah rumusan masalahnya. Untuk mendapatkan informasi
tentang tingkat kualitas pelayanan pramuniaga, dapat dihitung
dengan membagi skor hasil penelitian dengan skor ideal (bila
setiap responden pada setiap pertanyaan memberi jawaban
tertinggi). Untuk mengetahui rata-rata jumlah pengunjung dan
pembeli toko, dihitung dengan menjumlahkan seluruh
pengunjung pada 40 toko selama 7 hari, selanjutnya dibagi
dengan 40 x 7. Contoh : Jumlah pengunjung 40 toko selama 7
hari = 40.000. Rata-rata jumlah pengunjung = 40.000 : (40 x 7)
= 105.263 orang.

8.

Instrumen Penelitian
a. Instrumen Kualitas Pelayanan Pramuniaga Toko
Instrumen yang digunakan untuk mengukur kualitas
pelayanan pramuniaga toko berbentuk checklist dengan
skala Likert sebagai berikut : 4 berarti pelayanan sangat
baik ; 3 = baik ; 2 = tidak baik, dan 1 = sangat tidak baik.
Penilai adalah pemilik toko, dan yang dinilai adalah seluruh
karyawan atau sampelnya.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 45

Contoh untuk satu orang pramuniaga dengan jumlah butir


instrumen yang dinilai sebanyak 10 butir.
Mohon diberi nilai kualitas pelayanan pramuniaga di Toko
bapak/ibu dengan cara memberi tanda ( ) pada kolom
skor nilai
yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
Tabel 6.

Instrumen Pertanyaan Untuk


Pelayanan Pramuniaga di Toko

Kualitas

Nama Pramuniaga yang dinilai : A N I


Skor Nilai
No.

Aspek pelayanan yang dinilai

1.

Sambutan kepada pengunjung


yg baru datang

2.

Pelayanan terhadap
pengunjung yang menanyakan
barang
Bahasa yang digunakan dalam
pelayanan

3.
4.
5.

6.
7.

Keramahan kepada calon


pembeli
Kemampuan menjelaskan
terhadap barang-barang yg
dijual
Sikap terhadap pengunjung
yang tidak membeli barang

Kemampuan
mendemonstrasikan barang
yang dijual

8.

Kecepatan memberikan
pelayanan

9.

Kualitas mengemas barang


yang telah dibeli pengunjung

10.

Kepuasan pengunjung yang


dilayani

Jumlah nilai untuk Ani adalah : 3+4+1+3+4+3+1+3+3+2 =


27
Dengan demikian nilai kualitas pelayanan pramuniaga
tersebut =27/40 = 0,675 atau 67,5 % dari kriteria yang
diharapkan . Bila penilaian menggunakan skor 100, maka
nilai pramuniaga tersebut 67,5.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

46 | Metodologi

Penelitian

b. Instrumen Penilaian Pengunjung Toko


Instrumen untuk mengetahui jumlah pengunjung toko
menggunakan alat penghitung, yang mampu mencatat
jumlah pengunjung toko setiap hari selama 1 minggu (7
hari). Bila alat penghitung tidak ada, maka dapat digunakan
lembar isian pengunjung.
c. Instrumen Penilaian Pembeli
Jumlah pembeli di toko selama setiap hari dapat diketahui
di bagian kasir. Berdasarkan bukti-bukti pembayaran akan
dapat dicatat berapa jumlah pembeli setiap hari dalam
seminggu tersebut.

9.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kuesioner dan pengamatan. Kuesioner
diberikan kepada pemilik toko supaya digunakan untuk
mengukur kualitas pelayanan pramuniaga toko yang
bersangkutan. Bila jumlah pelayan toko lebih dari satu, maka
nilai kualitas pelayanan adalah rata-rata dari seluruh
pramuniaga yang dinilai. Sedangkan untuk mendapatkan data
tentang jumlah pengunjung dan pembeli toko dilakukan dengan
pengamatan.

10.

Data Hasil Penelitian


a. Data Kualitas Pelayanan Pramuniaga
Data kualitas pelayanan pramuniaga (X1) 40 toko yang
digunakan sebagai sampel ditunjukkan pada Tabel 7.
b.

Data jumlah pengunjung (X1) dan Pembeli (Y)


Data rata-rata jumlah pengunjung toko tiap hari (X1) dan
jumlah pembeli (Y) dari 40 toko yang digunakan sebagai
sampel ditunjukkan pada Tabel 7. Angka dalam tabel
dikalikan 10.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 47

11.

Analisis Data dan pengujian Hipotesis


a. Analisis Data :
Analisis data disini merupakan perhitungan untuk menjawab
rumusan masalah penelitian deskriptif. Rumusan masalah
deskriptif ada tiga yaitu :
1) Seberapa baik pelayanan pramuniaga toko di Yogyakarta?
2) Berapakah jumlah rata-rata pengunjung toko di
Yogyakarta?
3) Berapakah jumlah rata-rata pembelinya?
Untuk menjawab rumusan masalah tersebut diatas data yang
digunakan adalah data yang ada pada Tabel 7 berikut.
Jawaban :
1) Jumlah skor yang diperoleh = 945. Jumlah skor ideal (bila
semua responden menjawab skor tertinggi pada setiap
butir) = 4 x 10 x 40 = 1.600 (4 = skor tertinggi; 10 = jumlah
butir instrumen; 40 = ukuran sampel). Jadi kualitas
pelayanan pramuniaga toko = 945 : 1600 = 0,59. Atau 59 %
dari kriteria yang diharapkan, atau mendapat nilai 59 (untuk
skor tertinggi 100).
2) Rata-rata pengunjung toko tiap hari = (852 x 10) : 40 = 213
orang.
3) Rata-rata pembeli tiap hari = (690 x 10): 40 = 172,5 orang.
Tabel 7. Data Rata-Rata Kualitas Pelayanan Pramuniaga,
Jumlah Pengunjung dan Pembeli di 40 Toko di
Yogyakarta
Skor Untuk Butir No:

No.

Jumlah
Skor

Jumlah
Pengunjung

Jumlah
Pembeli

(X2) x 10
15

(Y) x 10
13

10

(X1)
12

16

19

18

34

31

27

26

19

30

20

18

17

28

29

24

25

23

21

27

21

23

26

28

25

10

25

20

18

11

24

22

17

23

29

15

12

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

48 | Metodologi

Penelitian

13

25

18

17

14

29

29

28

15

20

25

21

22

16

16

24

17

23

22

13

18

19

33

22

19

22

24

20

33

29

20

32

21

23

20

16

22

24

19

17

23

20

20

19

22

21

24

29

25

24

23

17

26

25

15

12

27

21

24

15

22

18

28

19

29

24

17

16

30

25

16

12

31

13

10

14

12

32

23

33

24

17

15

34

27

10

35

22

22

16

12

10

36

26

37

28

19

16

38

25

20

15

39

23

19

12

18

15

40

20

Jumlah

102

100

98

94

99

89

95

86

93

89

945

852

690

23,42

21,3

17,25

4,43

5,734

4,991

b. Pengujian Normalitas Data


Pengujian normalitas data dapat menggunakan Kertas Peluang
Normal atau dengan Chi Kuadrat. Untuk contoh berikut akan
menggunakan Chi Kuadrat. Langkah-langkah pengujian
normalitas data dengan Chi Kuadrat adalah sebagai berikut :
1. Menentukan jumlah kelas interval. Dalam hal ini jumlah
kelas intervalnya = 6, karena luas kurva normal dibagi
menjadi enam, yang masing-masing luasnya adalah : 2,7 %;
13,53 %; 34,13 %; 34,13 %, 13,53% ;2,7 %.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 49

1. Menentukan kelas interval yaitu : (data terbesar data


terkecil) dibagi dengan jumlah kelas interval (6).
2. Menyusun ke dalam distribusi frekuensi, yang sekaligus
merupakan tabel penolong untuk menghitung nilai Chi
Kuadrat (lihat contoh perhitungan berikut).
3. Menghitung frekuensi yang diharapkan (fh), dengan cara
mengalikan persentase luas tiap bidang kurva normal
dengan jumlah anggota sampel.
4. Memasukkan nilai-nilai fh ke dalam tabel kolom fh
sekaligus menghitung nilai-nilai (fo fh) dan
mengkuadratkannya. Jumlah dari (fo fh)2/fh merupakan
nilai Chi Kuadrat (2) hitung.
5. Membandingkan nilai Chi Kuadrat hitung dengan Chi
Kuadrat tabel. Bila harga Chi Kuadrat hitung harga Chi
Kuadrat tabel (2n 21), maka distribusi data dinyatakan
normal, dan bila lebih besar dinyatakan tidak normal.

1) Pengujian Normalitas
Pramuniaga Toko (X1)

Data

Kualitas

Pelayanan

Tabel 8. Tabel Penolong Untuk Pengujian


Normalitas Data Kualitas Pelayanan
Pramuniaga
Interval

fo

fh*

(fo fh)

(fo fh)2

(fo fh)2/fh

12 15
16 19
20 23
24 27
28 31
32 35
Jumlah

2
3
13
15
5
2
40

1
5
14
14
5
1
40

1
-2
-1
1
0
1
0

1
4
1
1
0
1
8

1
0,8
0,0714
0,0714
0
1
2,94285

Nilai fh = 2,7 % x 40; 13,53 %x 40; 34,13 % x 40; 34,13 %


x40; 13,53 %x 40; 2,7 % x 40 * Angka
dibulatkan
Jadi nilai Chi Kuadrat hitung = 2,94285 dan Chi Kuadrat
tabel dengan dk (derajat kebebasan) 6 1= 5 dengan taraf
kesalahan 5% maka Chi Kuadrat Tabel = 11.070 2

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

50 | Metodologi

Penelitian

hitung < 2 tabel (2,94285 < 11,070), maka distribusi data


kualitas pelayanan pramuniaga toko tersebut dinyatakan
normal dengan tingkat kepercayaan 95%.
2) Pengujian Normalitas Data Pengunjung Toko (X2)
Tabel 9. Tabel Penolong Untuk Pengujian
Normalitas Data Pengunjung Toko
Interval

fo

fh*

(fo fh)

(fo fh)2

(fo fh)2/fh

10 13
14 17
18 21
22 25
26 29
30 33
Jumlah

3
6
11
11
6
3
40

1
5
14
14
5
1
40

2
1
-3
-3
1
2
0

4
1
9
9
1
4
28

4
0,2
0,6428
0,6428
0,2
4
9,6857

Nilai fh = 2,7 % x 40; 13,53 % x 40; 34,13 % x 40; 34,13 %


x 40; 13,53 % x 40; 2,7 % x 40 *Angka
dibulatkan
Jadi nilai Chi Kuadrat hitung = 9,6857 sedangkan Chi
Kuadrat tabel = 11,070, karena Chi Kuadrat hitung kurang
dari Chi Kuadrat tabel ( 9,6857 < 11.070) maka distribusi
data pengunjung toko tersebut dinyatakan normal dengan
tingkat kepercayaan 95%.

3) Pengujian Normalitas Data Pembeli (Y)


Tabel 10. Tabel Penolong Untuk Pengujian
Normalitas Data Pembeli
Interval

fo

fh*

(fo fh)

(fo fh)2

(fo fh)2/fh

7 10
11 13
14 17
18 21
22 25
26 29
Jumlah

3
6
15
10
3
3
40

1
5
14
14
5
1
40

2
1
1
-4
-2
2
0

4
1
1
16
4
4
30

4
0,2
0,0714
1,1429
0,8
4
10,2142

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 51

Nilai fh = 2,7 % x 40; 13,53 % x 40; 34,13 % x 40; 34,13 %


x 40; 13,53 % x 40; 2,7 % x 40 * Angka
dibulatkan
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, nilai Chi
Kuadrat hitung = 10,2142, yang kemudian dibandingkan
dengan Chi Kuadrat tabel = 11,070, karena Chi Kuadrat
hitung lebih kecil dari Chi Kuadrat tabel (10,2141 <
11,070) maka data pembeli tersebut dinyatakan normal
dengan timgkat kepercayaan 95%.
c. Pengujian Hipotesis Deskriptif
Terdapat tiga hipotesis deskriptif yang diuji yaitu :
1) Kualitas pelayanan pramuniaga toko di Yogyakarta
paling tinggi 70% dari kriteria yang diharapkan.
2) Rata-rata tiap hari jumlah pengunjung toko di
Yogyakarta paling rendah 500 orang.
3) Rata-rata tiap hari jumlah pengunjung toko di
Yogyakarta = 300 orang.
Untuk menguji ke tiga hipotesis tersebut di gunakan ttest
satu sampel dengan rumus sebagai berikut :
t

23,62 28 4,38

6,527
4,43
0,70
40
X 0

t-test satu sampel

s/ n

Dimana :
t = nilai t yang dihitung
x = rata-rata
o = nilai yang dihipotesiskan
s = simpangan baku sampel
n = jumlah anggota sampel
1) Pengujian Hipotesis Deskriptif Pertama
Rumusan hipotesisnya adalah: Kualitas pelayanan
pramuniaga toko di Yogyakarta paling tinggi 70% dari
yang diharapkan.
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas dapat
diketahui bahwa : x = 23,62 dan s = 4,43 dengan
rumus diatas akan dihitung dengan menggunakan taraf
Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

52 | Metodologi

Penelitian

kesalahan () = 5% dengan nilai yang dihipotesiskan


adalah paling tinggi 70% dari nilai ideal yang berarti :
0,70 x 40 = 28
Ho : 28
kanan

Ha : 28 Uji Hipotesis pihak

t tabel = t dk= 39, = 5 % = 1,683


Berdasarkan hasil perhitungan bahwa t hitung t tabel
sehingga berada di daerah Ho, dengan demikian Ho
diterima.
2) Pengujian Hipotesis Deskriptif Kedua
Rumusan Hipotesisnya adalah : Jumlah pengunjung
Toko di Yogyakarta rata-rata tiap hari paling rendah
250 orang.
Ho : 250
kiri

213 250
5,73

40

Ha : 250 Uji hipotesis pihak

37
4,11
0.90

t hitung t tabel -4,11 1,683 sehingga jatuh


didaerah penerimaan Ha. Dengan demikian Ho ditolak
dan Ha yang diterima, berarti bahwa hipotesis yang
mengatakan rata-rata pengunjung toko di Yogyakarta
paling rendah 250 orang. Jadi terdapat perbedaan antara
yang diduga (250) dengan data yang terkumpul (213).
3) Pengujian Hipotesis Deskriptip Ketiga
Rumusan Hipotesisnya adalah : rata-rata tiap hari
jumlah pembeli pada toko di Yogyakarta = 200 orang
Ho : = 150
pihak
t

172 150
4,99 / 40

Ha : 150 Pengujian dua

22
27,8798631
0,7891

Berdasarkan hasil perhitungan t hitung lebih besar dari t


tabel dengan dua arah yaitu 27,88 2,015 yang berarti
terdapat perbedaan yang signifikan antara yang diduga
(150) dengan data yang terkumpul (172).

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik

Metodologi Penelitian | 53

DAFTAR PUSTAKA

Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.
Muhamad. 2008. Metodologi Penelitian Ekonomi Islam Pendekatan Kuantitatif.
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia.
Silalahi, Ulber. 2010. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT Refika Aditama
Sugiyono. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV Alfabeta.

Modul Diklat Fungsional Statistisi Tingkat Ahli Badan Pusat Statistik