Anda di halaman 1dari 11

Newsletter

Yayasan Merangat

strengthens the self-help capacities of local community to fight against poverty and injustice and promote the integrity of creation

against poverty and injustice and promote the integrity of creation Menimbulkan Batang Tenggelam E DISI 2,

Menimbulkan Batang Tenggelam

against poverty and injustice and promote the integrity of creation Menimbulkan Batang Tenggelam E DISI 2,

EDISI 2, AGUSTUS 2014

Dari Redaksi

Pembaca yang budiman,

Salam sejahtera. Sungguh gembira hati kami bisa menghadirkan kembali Newsletter Yayasan Merangat ke hadapan Anda. Tema “Menimbulkan Batang Tenggelam” memaparkan pergulatan komunitas lokal dalam menumbuhkan kembali semangat komunitas yang melemah akibat berbagai persoa-

lan. Kali ini kita disuguhkan perjuangan komunitas petani Dusun Laung menghidupkan kembali system per- tanian sawah, mengatasi persoalan air bersih dan kearifan lokal dalam seni tenun tradisional komunitas Ensait Panjai, Suku Desak, Kab. Sintang, serta cerita-cerita menarik seputar kegiatan Yayasan Merangat. Selamat Membaca. Team Redaksi

Newsletter Yayasan Merangat

Sarana informasi dan komunikasi enam-bulanan antar jejaring warga dan komunitas kelompok serta organ- isasi masyarakat lokal dan penentu kebijakan. Pelindung—Penasehat: Dewan Pembina Yayasan Merangat. Penanggung Jawab : Pengurus Yayasan Merangat. Team Redaksi: Team Dokumentasi dan Publikasi Yayasan Merangat

SEKRETARIAT

Jl. Pipit Tengil 38, Desa Tajau Mada, Sejiram, Kec. Seberuang, 78772, Kapuas Hulu, Kalbar

Phone: +62-81280503764 E-mail: newsletter@merangat.or.id www.merangat.or.id

Sambutan Ketua Yayasan Merangat

Stephanus Mulyadi, M.Sc Ketua Yayasan Merangat Pembaca yang budiman, para sahabat, mitra kerja Yayasan Merangat

Stephanus Mulyadi, M.Sc

Ketua Yayasan Merangat

Pembaca yang budiman, para sahabat, mitra kerja Yayasan Merangat dan relawan di mana- pun Anda berada, salam ke-

hidupan! Newsletter kami kali ini menayangkan kegigihan masyara- kat petani di dusun Laung, jauh di pedalaman Kalimantan Barat, dalam bergulat untuk keluar dari situasi mereka yang miskin dan

tidak berdaya. Mereka berjuang secara gotong-royong memper- baiki jalan kecil, satu-satunya infrastruktur penopang akses ke fasilitas ekonomi dan sosial lainnya. Mereka berjuang

secara mandiri memperbaiki pipa air bersih, satu-satunya infrastruktur air bersih kampung. Mereka kompak berjuang secara kembali lahan sawah yang telah lama ditinggalkan, karena akhirnya sadar bahwa sawahlah satu-satunya harapan terbesar dalam menopang kedaulatan pangan. Mereka juga berjuang dengan gigih mempertahankan jengkal-demi jengkal hutan dan tanah wilayah dusun Laung warisan lelu- hur yang kini mulai diincar oleh investor perkebunan kelapa sawit. Mengharukan! Sementara sebagian dusun menunggu uluran tan- gan pemerintah untuk memperikan “proyek” pembangunan, kini komunitas petani di dusun Laung pelan-pelan mulai menunjukkan inisiatif mereka sebagai motor pengggerak pembangunan desa. Mereka mulai kreatif membangun ker- jasama sinergis antara pemerintah, masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. Membanggakan! Sementara anak-anak muda penuh semangat mengasah keterampilan dan menumbuhkan semangat kepemimpin ekologis di dalam diri mereka. Begitulah pergulatan komunitas petani Laung ber- juang menimbulkan kembali batang yang tenggelam. Kisah perjuangan itu terrekam dalam newsletter Yayasan Meran- gat yang kini di tangan Anda. Selamat membaca ! Salam.

Stephanus Mulyadi

Isi edisi ini

membangun kedaulatan pangan
membangun kedaulatan pangan
pesona permainan anak pedalaman
pesona permainan anak pedalaman
merawat Tradisi Gotongroyong
merawat Tradisi Gotongroyong
belajar kearifan lokal dalam tradisi tenun
belajar kearifan lokal dalam tradisi tenun
kaderisasi: kepemimpinan ekologi
kaderisasi: kepemimpinan ekologi
konflik Batas Desa mulai marak
konflik Batas Desa mulai marak
Perjuangan Komuitas Petani Laung Memangun Kedaulatan Pangan (I) Sejumlah Tantangan

Perjuangan Komuitas Petani Laung Memangun Kedaulatan Pangan (I)

Sejumlah Tantangan

Komunitas Petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani “Merangat -Biru” Laung harus berjuang keras mewujudkan pro- gram swasembada pangan (lihat Newsletter Yayasan Merangat edisi I, hal 3) yang ditargetkan tercapai pada tahun 2020. Pasalnya ada beberapa tantangan besar yang harus mereka hadapi. Meskipun daerah persawahan utama di lembah sungai Katur Lemah dan Katur Besar sangat subur, ketidaan air untuk mengairi sawah merupakan persoalan yang tak dapat diatasi oleh petani Laung secara mandiri. “Air merupakan persoalan uta- ma di sini,” ungkap Antonis Suryadi. Dulu menurutnya air cukup untuk mengairi sawah-sawah di lembah Katur. Meskipun waktu itu system iri- gasinya masih sangat sederhana. Sekarang air itu seakan hilang menguap. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan itu. Pertama, sekarang semakin jarang turun hujan. Musim kemarau semakin panjang dan tidak teratur. Kedua, hutan di daerah bukit Ngang, Ntali dan bukit Biru yang dulu dilindungi sekarang sudah hilang karena dirambah untuk berladang. Kekeringan yang melanda daerah persawahan tidak hanya mem- buat padi sulit tumbuh, tetapi juga berdampak pada munculnya ulat yang memakan batang padi. Ulat itu hanya makan padi yang tidak terrendam air. Akibatnya banyak padi yang mati. Tantangan yang juga belum mampu dijawab oleh petani di Laung adalah rumput “Sementak”. Rumpu sementak adalah gulma yang sangat merepotkan dan sungguh membuat petani putus asa. “ Rumput ini tidak mati jika dipotong. Jika dicabut akarnya akan terputus. Akarnya yang tertinggal dalam tanah itu akan tumbuh lagi dengan cepat. Bahkan jika disemprot dengan racun rumput juga tidak mati,” keluh Semandi. Sekarang petani Laung masih mengelola sawah mereka secara tradisional, menggunakan tenaga manusia sepenuhnya. Dengan cara sep- erti itu mereka sadar bahwa sangat sulit mencapai target program kedau- latan pangan. Oleh karena itu petani Laung sangat berharap pihak pemerintah memberikan bantuan yang diperlukan, seperti pengairan, pendampingan / penyuluhan dari dinas pertanian, peralatan pertanian serta serta bantuan bibit padi dan ternak. “Semoga apa yang disampaikan Bapak Wakil Bupati Kapuas Hulu, bahwa pemerintah Kabupaten akan mendukung program kelompok Tani Laung secara penuh dapat segera diwujudkan,” ungkap Aphae, Ket- ua Gabungan Kelompok Tani Merangat -Biru Laung penuh harap. Dalam dua dekade terakhir memang jumlah petani yang meng- garap sawah di Laung menurun pesat. Selain karena waktu itu harga karet mahal (pernah mencapai di atas dua puluh ribu per kilogram), petani juga merasa kewalahan untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas. Namun kabar baiknya, sejak mendapat dukungan pendampingan dari Yayasan Merangat, semangat petani Laung untuk bersawah tumbuh lagi. Jika tahun lalu (2013/2014) hanya 5 keluarga yang menggarap sawah, tahun ini (2014/2015) lebih dari 20 keluarga kembali menggarap

sawah. “Setelah melihat apa yang dilakukan oleh Yayasan Merangat petani Laung mulai semangat lagi bersawah. Karena ada harapan,” tutur Selini. Hal terpenting dilakukan oleh Yayasan Merangat menurut ibu satu anak ini adalah mendorong petani Laung membentuk kelompok- kelompok tani dan menyatukan mereka dalam gabungan kelompok tani. Yayasan Merangat membantu petani mengorganisir diri, juga mem- berikan pengetahuan dan keterampilan, sehingga kelompok tani menjadi kuat. Strategi kedua yang terpenting dilakukan oleh Yayasan Merangat adalah mengajari petani mengadakan pendekatan dengan pemerintah un- tuk mencari dukungan. “ Kami diajari membuat program dan kemudian membuat pro- posal yang baik. Selain itu kami juga diajari membuat kegiatan-kegiatan sinergis dengan program pemerintah, sehingga pemerintah tertarik dan „jatuh cinta‟ pada kelompok tani Laung,“ ungkap Suryadi, sekretaris GAPOKTAN Merangat-Biru Laung. Hal itu terbukti dari semakin seringnya kunjungan pemerintah ke dusun Laung. Setelah beberapa kali dikunjungi Camat dan Wakil Bupati, sekarang komunitas petani Laung sedang menunggu kunjungan dari Dinas Pertanian Provinsi terkait pro- posal cetak 100 hektar sawah yang mereka ajukan. Luar biasa, dalam enam

bulan kelompok Tani Laung telah mampu “menggoda” pemerintah sampai di tingkat provinsi dengan program pertanian mereka. Hal itu juga menunjukkan bahwa perjuangan petani—petani di Laung menuju kedaulatan pangan mulai membuahkan hasil. (ym).

Antonius Suryadi, Sekretaris GAPOKTAN Merangat-Biru Laung
Antonius Suryadi, Sekretaris GAPOKTAN
Merangat-Biru Laung
Semandi, anggota kelompok tani Laung
Semandi, anggota kelompok tani Laung
Selini, anggota kelompok Tani Laung
Selini, anggota kelompok Tani Laung
Kelompok Tani Padung Gunung sedang gotong-royong membuka lahan sawah
Kelompok Tani Padung Gunung
sedang gotong-royong membuka lahan sawah
Perjuangan Komuitas Petani Laung Memangun Kedaulatan Pangan (II) Upaya-upaya strategis Belajar dari jatuhnya harga karet
Perjuangan Komuitas Petani Laung Memangun Kedaulatan Pangan (II)
Upaya-upaya strategis
Belajar dari jatuhnya harga karet
“Ya,
karena
ini
(bertani) satu-
satunya sumber
penghidupan
Ada rasa haru melihat semangat komunitas petani di dusun
Laung. Meskipun dalam situasi yang serba terbatas, mereka
tidak mau menyerah. Mereka terus berjuang membangun
upaya-upaya strategis menghadapi berbagai tantangan yang
menghadang mereka untuk bertani.
yang dapat
kami
Kelompok tani semakin kuat

andalkan saat ini,” kata Damai, salah satu anggota kelompok Tani Laung. Pak Damai mengatakan bebera- pa tahun lalu mereka meninggalkan per- tanian padi karena

harga karet mahal. “Dulu satu kilo(gram) karet bisa untuk membeli 2 kilo beras. Sekarang harga karet jatuh. Satu kilo beras harus dibeli dengan tiga kilo karet. Kalau begini terus kami tidak bisa hidup. Apa lagi jika keluarga itu masih harus ngongkosi anak-anak sekolah,” keluh Bapak dua anak ini. Sama seperti Pak Damai, belajar dari jatuhnya harga karet, petani lain di dusun Laung menyadari bahwa mereka tidak bisa meninggalkan pertanian padi. Apa lagi dusun ini dianugerahi lahan yang sangat luas untuk sawah.

Damai, anggota Kelompok Tani Laung

Potensi besar namun perlu dukungan

Kelompok Tani Laung Potensi besar namun perlu dukungan Junaidi, tokoh pendidikan “Dusun Laung memiliki sekitar

Junaidi, tokoh pendidikan

“Dusun Laung memiliki sekitar seratus hektar lahan yang bisa diolah menjadi sawah. Ini potensi yang sangat besar,” kata Benediktus Junaidi, tokoh pen- didikan di dusun Laung yang juga Pembina Yayasan Merangat. Hanya, menurutnya, untuk mengolah potensi

tersebut, petani Laung membutuhkan bantuan pemerintah, seperti bantuan jalan tani ke area persawahan, bantuan perbaikan infrastruktur irigasi dan cetak sawah dengan alat berat. “Untuk mewujudkan itu dibutuhkan tenaga, waktu dan biaya besar. Petani tidak akan mampu melakukannya sendiri,” tuturnya. Untuk mengatasi persoalan itu Yayasan Merangat

berjuang memperkuat komunitas petani Laung dengan memfa- silitasi berdirinya Gabungan Kelompok Tani Laung, men- dampingi mereka menyusun program strategis dan melakukan pendekatan pada pihak pemerintah untuk mencari dukungan, baik di tingkat Kabupaten maupun Provinsi. Junaidi gembira melihat perkembangan hasil kerja Yayasan Merangat. Perkembangan hasil kerja itu, menurutnya terlihat dari semangat kebersamaan anggota kelompok tani semakin tinggi dan perhatian pemerintah semakin besar. “Dulu sangat sulit mengumpulkan orang untuk rapat. Sekarang setiap rapat hampir seluruh anggota, minimal per- wakilan kelompok tani, hadir. Demikian juga saat gotong- royong. Pihak pemerintah juga mulai memperhatikan Laung. Wakil Bupati tahun ini sudah dua kali berkunjung ke Laung. Demikian juga Ibu Camat dan PPL,” tuturnya gembira.

Laung. Demikian juga Ibu Camat dan PPL,” tuturnya gembira. A.Suryadi, sekretaris GAPOKTAN Laung Antonius Suryadi,

A.Suryadi, sekretaris GAPOKTAN Laung

Antonius Suryadi, sekretaris GAPOKTAN Meran- gat-Biru Laung, menilai bahwa mes- kipun usianya masih sangat muda, GAPOKTAN Meran- gat- Biru sekarang sudah semakin kuat. Suryadi bercerita bah- wa setelah ke delapan belas kelompok tani Laung dalam rapat umum warga Laung (14/2/2014), mendapat

peneguhan dari Bp. Agus Mulyana, Wakil Bupati Kapuas Hu- lu, pada tanggal 5 April 2014 kelompok-kelompok tani Laung kembali mengadakan rapat. Rapat tersebut membahas langkah- langkah strategis konkrit untuk mencapai program Swasemba- da Pangan yang ditargetkan terwujud pada tahun 2020. Salah satu hasil terpenting dari rapat itu adalah munculnya kesadaran untuk penguatan komunitas petani. Kesadaran itu Nampak dalam langkah strategis untuk memperkuat komunitas petani

Laung, yaitu menggabungkan kelompok-kelompok tani dalam satu wadah, sehingga berdirilah gabungan kelompok tani Laung yang diberi nama GAPOKTAN “Merangat-Biru” Laung beserta pengurusnya. Dengan berdirinya GAPOKTAN diharapkan semua anggota dapat terkoordinir dan terakomodir dengan baik. Setelah pengurus GAPOKTAN terbentuk, mereka langsung bekerja, antara lain mengadakan pembaharuan pen- dataan anggota, penyusunan ketentuan keanggotaan dan kepengurusan, penyusunan program kerja GAPOKTAN dan penyusunan proposal GAPOKTAN yang akan diajukan kepada pemerintah. “Proposal permohonan bantuan pengadaan jalan tani, perbaikan irigasi dan cetak sawah sudah diserahkan ke Kabu- paten maupun Provinsi. Sedangkan proposal untuk pem- bangunan bendungan yang besar sedang dikerjakan. Sebentar lagi akan kita kirim ke pemerintah pusat,” tutur Antonius Suryadi.

Mendapat dukungan dari pemerintah Upaya penguatan komunitas petani Laung mendapat dukungan dari pihak pemerintah. Senada dengan Agus Mulya- na, Ibu Iyul, Camat Seberuang menyatakan dukungan penuh dan akan selalu memfasilitasi perjuangan kelompok tani Laung dalam upaya membangun kedaulatan pangan. Sinyalemen dukungan juga diperoleh dari Dinas Pertanian Provinsi Kalbar yang dalam waktu dekat berencana mengirim Kepala Bagian Pertanian untuk bertemu dengan petani Laung dan meninjau lokasi yang disiapkan oleh warga Laung untuk pengadaan ce- tak sawah baru. Warga Laung memang telah menyiapkan sera- tus hektar lahan untuk dibuka menjadi lahan sawah baru. Se- buah dukungan yang sangat berarti bagi kedaulatan pangan negeri ini. (ym)

Perjuangan Komuitas Petani Laung Memangun Kedaulatan Pangan (III)

Perjuangan Komuitas Petani Laung Memangun Kedaulatan Pangan (III)

Saling belajar dari pengalaman lapangan

Field School untuk memperkuat kapasitas petani Hari itu, Jumat 17 Oktober 2014, sejak pagi-pagi sekali hampir seluruh anggota Kelompok Tani dusun Laung berkumpul di sawah tengah, te- patnya di tembawang keluarga Bp. Senudin (alm). Beberapa anak kecil juga ikut. Bahkan rombongan Camat Seberuang beserta Muspika juga hadir di sa- na. Di antara mereka juga Nampak Sekretaris Desa

Upaya penguatan kapasitas petani Laung antara lain dilakukan melalui program belajar di lapangan (field school). Program yang diinisasi oleh Yayasan Meran- gat dan didukung oleh Misereor Jerman ini memfasilitasi petani-petani untuk saling belajar dari pengalaman mereka dalam bertani. Dalam kegiatan belajar bersama itu mereka didampingi oleh PPL. Kegiatan pertama field school GAPOKTAN Merangat Biru Laung sudah dilakukan hari Jumat (17/10/2014) lalu. Selengkapnya simak dalam laporan team dokumentasi Yayasan Merangat beri- kut ini.

Seneban dan beberapa sekretaris desa tetangga. Hari

itu

anggota GAPOKTAN Merangat-Biru akan men-

gadakan suatu kegiatan baru, yaitu kegiatan “Sekolah Lapangan” (field school). Sebelum “kelas” dimulai peserta mengadakan santap bersama terlebih dahulu. Menunya “pulut kukus” ditemani kopi hangat. Mmmm nikmat…! Acara dimulai dengan doa pembukaan dan pengantar dari Stephanus Mulyadi, Direktur Yayasan Merangat yang adalah inisiator kegiatan tersebut. Dalam pengantar kegiatan, Stephanus mengatakan bahwa kegiatan “sekolah lapangan” berarti belajar di lapan- gan. Karena sekolah lapangan ini untuk petani, maka para petanilah yang belajar bersama di sawah. Berbeda dengan kegiatan belajar di sekolah, di sini semua peserta menjadi “guru” dan semua juga belajar. Lebih tepat saling bertukar pengalaman dalam bertani. Kegiatan ini dilaksanakan di sawah juga dimaksudkan agar seluruh peserta dapat langsung melihat persoalan dan keberhasilan di sawah. Dengan demikian proses belajar bersama dari saling bertukar pengala- man menjadi hidup dan konkrit, jelas Stephanus.

pengala- man menjadi hidup dan konkrit, jelas Stephanus. Petani saling bertukar pengalaman dan berdiskusi mengenai

Petani saling bertukar pengalaman dan berdiskusi mengenai cara mengatasi rumput Sementak dan serangan ulat pemakan batang padi didampingi Bp. Jelani dari BPP Sejiram dan Bp. Stephanus dari Yayasan Merangat dalam kegiatan field school GAPOKTAN Merangat-Biru Laung, 17/10/2014. Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan dari Misereor, Jerman

Meskipun kegiatan belajar dilakukan di tengah sawah

di bawah teriknya sinar matahari, nampak peserta tetap an-

tusias belajar karena fasilitator mampu membuat acara belajar bersama berlangsung dalam suasana akrab dan penuh humor.

Rupanya cara belajar seperti itu adalah pengalaman pertama bagi mereka. Peserta nampak semangat saling bertukar pen- galaman dalam bersawah. Mereka juga tidak malu-malu ber- tanya mengenai persoalan-persoalan yang mereka temui saat menggarap sawah masing-masing. Bapak Jelani dari BPP

Sejiram nampak agak kewalahan menjawab pertanyaan peser- ta. Tiga persoalan utama yang muncul, yaitu persoalan keti- adaan air, gulma rumput “sementak” dan hama ulat yang me- nyerang padi dilahan yang kering. Setelah belajar di sawah peserta berkumpul kembali

di “kelas”, sebuah tempat sederhana yang sudah disediakan

untuk berkumpul. “Kelas” itu merupakan ruang kelas terbuka dengan bangku dari batang bambu panjang yang disusun ber- baris. Di bagian atas kepala para pematri terpasang sebuah spanduk sederhana bertuliskan “Kegiatan Saling Belajar dari Pengalaman Lapangan”.

Selama acara belajar bersama berlangsung sempat terjadi beberapa kali “kecelakaan” kecil. Rupanya beberapa batang bamboo yang dipakai untuk duduk tidak kuat menahan beban sehingga bebera- pa patah dan peserta terduduk di tanah. Kejadian itu mengundang gelak tawa peserta. Untung tidak ada yang cedera.

mengundang gelak tawa peserta. Untung tidak ada yang cedera. Secara umum kegiatan saling belajar dari pengalaman

Secara umum kegiatan saling belajar dari pengalaman itu berlangsung lancar . Peserta dan seluruh undangan mengaku puas dan merasa mendapat banyak informasi penting. Apalagi yang didiskusikan tidak hanya menyangkut pertanian, melainkan juga menyangkut persoalan hukum, kependudukan, kesehatan dan social- politik lainnya. Di akhir acara dilakukan penarikan undian atau door prise. Sebanyak delapan belas peserta beruntung mendapatkan hadiah dari Yayasan Merangat. “Kegiatan seperti ini sangat bagus. Petani dapat saling bertu- kar pengalaman dan belajar dari pengalaman rekan-rekan mereka yang lain. Kegiatan seperti ini yang perlu kita dukung. Saya sangat se- nang,” tutur Ibu Iyul, Camat Seberuang. “Inisiatif seperti ini belum ada di desa lain di kecamatan ini. Kami dari pertanian berkomitmen untuk selalu siap sedia men- dukungnya. Kapan saja,” tegas Bp. Jelani, Kepala BPP Sejiram. “Senang sekali. Banyak informasi yang saya peroleh dari pertemuan petani ini,” tutur Thomas, anggota kelompok Tani. Karena dusun Laung sudah memiliki kelompok tani yang terorganisir dengan baik, Ibu Iyul juga mempercayakan kelompok- kelompok tani di Laung suatu tugas baru, yaitu menjadi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), yang akan mendapat SK langsung dari dinas Perhubungan. Selamat buat anggota kelompok tani di Laung.

Merawat Tradisi Gotong-Royong

Hari masih pagi sekali. Sinar Matahari masih berselimut embun menembus pepohonan hutan. Tapi warga Laung sudah berdatangan ke jalan Seneban, satu-satunya jalan yang menghubungkan dusun itu dengan jalan Lintas Selatan. Hari itu (Sabtu,4/10/14) mereka akan gotong-royong memperbaiki jalan Seneban yang sudah mulai tertutup semak dan berlo- bang di sana sini. Sekitar 50 orang laki-laki dan perempuan sudah siap bekerja di pagi itu. Tradisi bergotong-royong masih terawat baik di dusun yang terkenal sebagai penghasil durian terbaik di Kapuas Hulu itu. Gotong- royong selalu dilakukan untuk mengerjakan fasilitas umum seperti perawatan jalan, jembatan, perawatan pipa air bersih, pembersihan Kapel dan pembersihan lingkungan dalam dusun. “Pekerjaan besar seperti ini tidak mampu dikerjakan sendiri,” kata pak Aris, salah satu Ketua RT di dusun Laung. Oleh karena itu, menurut bapak lima anak ini, “semengat” (roh) gotong-royong harus terus dirawat di dalam komunitas dusun. Sementara itu pak Disi Darius mengaku bahwa untuk memeliha- ra roh gotong-royong di saat sekarang ini tidaklah mudah. Tantangan terbesar antara lain justru datang dari program pemerintah sendiri, seperti PNPM dan Bansos. Program PNPM yang awalnya diarahkan untuk mem- perkuat semangat kemandirian dan gotong-royong warga, dalam praktek pengelolaannya sering kali sebaliknya. Lebih buruk lagi pengelolaan dana Bansos yang disalurkan melalui anggota DPR/D, yang kemudian disebut dana aspirasi. Dana Bansos itu telah menjadi sarana politik uang.

Baik pengelolaan PNPM maupun Bansos (Dana Aspirasi) keduanya telah menjadi semacam “proyek”. Di mana sekelompok orang tiba-tiba saja men- jadi seperti „pemborong” dan warga menjadi pekerja. Tidak trannsparannya penentuan siapa yang menjadi panitia dan berapa besar alokasi dananya dan juga bagaimana pertanggung jawabannya, sering menimbulkan kecurigaan di tengah- tengah warga. “Kecurigaan ini yang melemahkan roh gotong-royong dan masyarakat jadi terpecah-belah,” jelas Disi.

Untuk merawat roh gotong-royong di dalam situasi seperti itu, menurut pak Sihan, tokoh adat dusun Laung, diperlukan sosok pemimpin yang pandai mengelola semangat kebersamaan warga. Sebagai contoh dari pandai mengelola semangat kebersamaan warga itu antara lain pan- dai mengkomunikasikan visi-misi PNPM dan pandai pula mengatur pros- es pelaksanaannya. Ketika mendengar dusun akan mendapat alokasi dana PNPM, sebaiknya Kepala Dusun mengajak warga rapat. Di dalam rapat itu dipaparkan berapa besar dana yang akan didapat dan meminta warga memberikan usulan prioritas penggunaan dana itu dan bagaimana teknis pelaksanaannya. Proses demokratis seperti ini memang butuh waktu, tapi akan memperkuat semangat kebersamaan warga, tegas pak Sihan. Tantangan terbesar dalam merawat tradisi gotong-royong di da- lam “era proyek” seperti sekarang ini menurut Stephanus Mulyadi, Direktur Yayasan Merangat yang menjadi pendamping komunitas dusun Laung, adalah bagaimana para tokoh di dusun menyatukan keinginan dan kepentingan warga yang bermacam-macam ke dalam suatu “tema” bersa- ma. Untuk itu, menurutnya, para pemimpin komunitas dituntut untuk mampu mengajak warga dusun bersama-sama merumuskan “tema” pem- bangunan dusun. Di sini setiap orang diajak dan diberi ruang seluas- luasnya untuk berpartisipasi dalam merumuskan akan menjadi seperti apa dusun kita ini nantinya. Langkah-langkah dalam perumusan tema pem- bangunan dusun itu mencakup pemetaan potensi dusun, apa yang sudah ada, apa yang masih diharapkan, siapa yang bisa diminta bantuannya dan selanjutnya siapa yang akan melaksanakannya dan bagaimana. Hasilnya dikukuhkan dalam keputusan dusun dan dengan demikian mengikat semua warga.

“Kunci utama untuk merawat tradisi gotong-royong adalah transparansi dan sering-sering mengadakan rapat dusun. Semakin sering diadakan rapat dusun, komunitas dusun itu semakin kuat dan kreatif dan mau terlibat,” tegas Stephanus. Menurut Stephanus komunitas dusun sangat paham dengan apa yang disebut tata kelola dusun yang baik (good governance). Jika warga melihat pem- impin dusun menjalankan itu, mereka akan senang terlibat dalam rapat dan gotong-royong. Semakin banyak warga terlibat semakin baik. Bukan hanya kare- na pekerjaan menjadi semakin ringan, tetapi, dan ini yang terpenting, pada saat rapat atau gotong-royong itu orang-orang bertemu. Di dalam pertemuan itu akan muncul banyak ide pembangunan yang bagus, muncul harapan dan bahkan sering kali muncul pemikiran dan kemauan kreatif untuk memecahkan masalah bersama. Dengan demikian komunitas dusun menjadi semakin kuat. (ym).

Warga Dusun Laung bergotong-royong memperbaiki jalan Desa
Warga Dusun Laung bergotong-royong
memperbaiki jalan Desa
Warga Dusun Laung bergotong-royong memperbaiki pipa air bersih Suasana rapat kelompok tani Laung
Warga Dusun Laung bergotong-royong
memperbaiki pipa air bersih
Suasana rapat kelompok tani Laung

Setiap orang aktif berpartisipasi dalam menentukan “tema” pembangunan dusun

Sebagian peserta Kemah Rohani tekun mendengarkan kuliah dari Bp. Wakil Bupati KH
Sebagian peserta Kemah Rohani tekun mendengarkan
kuliah dari Bp. Wakil Bupati KH

Stephanus Mulyadi, rapat dusun memperkuat komunitas

Kaderisasi

Pelatihan Kepemimpinan Ekologi (I) Peserta Pelatihan Kepemimpinan Ekologi di Ampar Kumbung, Laung berfoto bersama pelatih
Pelatihan Kepemimpinan Ekologi (I)
Peserta Pelatihan Kepemimpinan Ekologi di Ampar Kumbung, Laung berfoto bersama pelatih saat penutupan pelatihan

Dua puluh anak muda didampingi Stephanus Mulyadi, seorang nature and cul- ture conservator dari dusun Laung, Kec. Seberuang, Kab. Kapuas Hulu, berjalan mantap memasuki hutan lebat yang sangat luas di dusun tersebut (1-2/7/2014). Sebuah hutan perawan yang jarang dimasuki warga, hutan Therembus. Kali ini tujuan mereka adalah Ampar Kumbung. Sebuah sarai (riam) yang sangat luas dan terkenal karena keindahan dan misterinya. Menurut kepercayaan masyarakat setempat Ampar Kumbung adalah salah satu kerajaan para Gemiluh, yaitu makhluk halus sebangsa peri penguasa hutan. Hampir tiga jam anak-anak muda itu gigih bergulat dengan semak belukar, lum- pur dan pacet, melalui jalan setapak mendaki tebing terjal dan menyusuri sungai berarus deras untuk mencapai titik tujuan mereka, Ampar Kumbung. Di saat haus tanpa ragu mereka meminum air sungai yang mengalir bening. Juga untuk mengisi perut, mereka hanya membawa sedikit beras dan garam. Makanan lainnya mereka cari di dalam hutan

itu. Kedua puluh anak muda dan pendampingnya itu tidak sedang piknik. Mereka sedang mengadakan latihan kepemimpinan ekologi. Latihan kepemimpinan ekologi ini merupakan implementasi dari program Ecology Learning Camp (ELC) Yayasan Merangat untuk mempromosikan keutuhan ciptaan. Dalam latihan kepemimpinan ekologi kali ini anak-anak muda dari dusun Laung mendalami misteri hutan belantara sebagai bagian dari Ibu Bumi. Pendalaman misteri tersebut mereka lakukan dengan mengalami bagaimana hutan belantara (ibu Bumi) mem- berikan hidup bagi seluruh ma- khluk di bumi ini. Materi yang sangat berat itu mereka kemas dalam bentuk yang sangat sederhana, yaitu dengan cara menikmati

keindahan alam, merasakan

sejuknya udara bersih, berdoa, bersyukur, bernyanyi, bercanda dan juga berdiskusi tentang berbagai persoalan ekologi serta cara mengatasinya serta cara memelihara keutuhan ciptaan. “Ibu Bumi tahu bagai mana caranya untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya. Ia tahu bahasa yang dimengerti oleh setiap pribadi anak-anaknya. Kita sebagai pendamp- ing hanya membangun suasana bagi anak-anak muda. Selanjutnya mereka akan belajar sendiri dari pengalamannya. Maka bawa mereka ke alam bebas. Biarkan mereka mengala- minya sendiri. Kita tidak perlu mengajarkan apapun kepada mereka,” tutur Stephanus, pencinta lingkungan lulusan TU Dresden Jerman ini. “Saya sangat senang mengikuti kegiatan ini. Meskipun sehari-hari tinggal di sekitar hutan, saya baru sungguh-sungguh menikmati relasi dengan hutan dengan pema- haman baru seperti ini,” ungkap Bia. “Ternyata saya adalah bagian dari hutan juga dan bahkan bagian dari mak- rokosmos. Itu sangat mengagumkan,” tutur Rama. “Kita akan menjaga hutan ini sampai akhir hayat,” sambung Randa. Amin!

meditasi alam
meditasi alam
Stephanus dalam perjalanan menuju Ampar Kumbung
Stephanus dalam perjalanan menuju Ampar Kumbung
membangun keakraban dengan alam
membangun keakraban dengan alam
menjelajah alam, hidup dari alam
menjelajah alam, hidup dari alam
doa alam
doa alam
Kaderisasi Pelatihan Kepemimpinan Ekologi (II) Peserta Pelatihan Kepemimpinan Ekologis di Sarai Rumbih, Kec. Silat Hulu
Kaderisasi
Pelatihan Kepemimpinan Ekologi (II)
Peserta Pelatihan Kepemimpinan Ekologis di Sarai Rumbih, Kec. Silat Hulu berfoto bersama pelatih saat penutupan pelatihan

Lebih dari 80 anak muda dari Kec. Silat Hulu dan Kec. Silat Hilir berkumpul

di Saka Tujuh, Sarai Rumbih, Kec. Silat Hulu, Kapuas Hulu (4-6 Juli 2014). Saka dalam

bahasa setempat berarti muara sungai. Saka Tujuh berarti muara tujuh sungai. Saka Tujuh

terletak di dekat sebuah sarai (riam) sungai Rumbih, dua jam berjalan kaki dari desa

Rumbih. Ke delapan puluh anak muda tersebut sedang mengikuti kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Ekologi (PKE) yang diselenggarakan oleh Yayasan Merangat dalam kerjasama dengan OMK Paroki Dangkan Silat. Di bawah bimbingan Stephanus Mulyadi, seorang nature and culture conservator, peserta pelatihan diajak mengalami secara pribadi kasih ibu Bumi. Setelah menyadari kasih ibu Bumi peserta diajak keluar hutan (keluar lokasi pelatihan) untuk menyaksikan betapa besar pender- itaan Ibu Bumi. Hal itu dialami peserta ketika peserta merasakan panasnya sengatan matahari, se- mantara sungai-sungai kering kerontang, hanya dipenuhi batu- batu besar berselimut debu dan endapan tanah liat. Peserta men- galami bahwa Ibu Bumi sedang sakit parah karena hutannya dirusak

earth prayer dance—creative individual performance
earth prayer dance—creative individual performance

untuk perkebunan sawit.

Setelah itu peserta diajak dan dilatih untuk ambil bagian sebagai penyembuh luka Ibu Bumi. “Kamu semua adalah anak-anak Ibu Bumi. Sekarang kamu dipanggil oleh ibu- mu, untuk menjadi seorang penyembuh (healer). Kamu diundang untuk ambil bagian dalam tindakan penyembuhan luka Ibu Bumi,” ajak Stephanus Mulyadi kepada para pe- serta pelatihan. Untuk ambil bagian sebagai penyembuh Bumi, anak-anak Ibu Bumi bisa ber- buat secara sendiri-sendiri, sesuai dengan situasi mereka masing-masing, bisa berke- lompok dan berjejaring. Juga ada banyak jalur untuk mewujudkan peran masing-masing sebagai penyembuh. Seperti melalui jalur politik, sosial dan ekonomi, lanjut Stephanus. Pria penerima Peter Hünerman Award di Jerman ini sendiri mencontohkan bahwa dia memilih jalur sosial dengan mendirikan sebuah Yayasan social yang dia pim- pin saat ini. Yayasan yang didirikannya bergerak di bidang penguatan kapasitas ke- mandirian komunitas pedesaan dan promosi keutuhan ciptaan. Proses pelatihan dilakukan dengan sangat kreatif, dinamis dan menyenangkan. Peserta berlatih sambil bernyanyi, bermain, berdiskusi, berdoa dan meditasi serta out- bound. Peserta mengaku sangat senang dan bersyukur bisa mengikuti PKE.

***Pelatihan Kepemimpinan Ekologi (PKE) adalah salah satu bentuk kaderisasi yang bertujuan membangun semangat kepemimpinan yang berlandaskan pada nilai - nilai ekologis. PKE merupakan salah satu bagian dari program promosi keutuhan ciptaan Yayasan Merangat .

hutan dirusak untuk perkebunan sawit diskusi membahas persoalan lingkungan
hutan dirusak untuk perkebunan sawit
diskusi membahas persoalan lingkungan
outbound melatih team work membahas pentingnya jalur politik untuk ambil bagian sebagai penyembuh luka Ibu
outbound melatih team work
membahas pentingnya jalur politik untuk ambil bagian
sebagai penyembuh luka Ibu bumi

Catatan perjalanan (I)

Pesona permainan kreatif anak-anak pedalaman

(I) Pesona permainan kreatif anak-anak pedalaman Sekitar jam 09.30 pagi saya tiba di SD Negeri Nanga

Sekitar jam 09.30 pagi saya tiba di SD Negeri Nanga Lot, Kec. Seberuang. SDN ini terletak di lereng bukit Uyan, di pedalaman Kapuas Hulu. Kedatangan saya ke SD itu hanya untuk menemani adik saya, Benediktus Junaidi, S.Pd.SD yang menjadi pengawas SD di Kecamatan Seberuang. Hari itu dia mengadakan supervisi ke SD tersebut. Kebetulan saat kami datang di SD itu, bel tanda istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar dari kelas mereka mas- ing-masing. Sebuah pemandangan yang sangat mengesankan langsung dihadirkan di depan saya. Sejumlah anak laki-laki ber- gerombol membuat lingkaran. Beberapa maju membawa gasing dan segera memain- kannya. Mereka membentuk dua kelompok yang saling berlawanan. Mula-mula adu lama gasing berputar. Kemudian “bepangkak” yaitu adu ketepatan membidik gasing lawan. Di bagian lain anak-anak perempu- an juga membentuk kelompok. Setiap ke- lompok terdiri dari tiga anak. Setiap dua kelompok saling adu ketangkasan bermain “sipis” yaitu bermain tali yang terbuat dari karet gelang. Yang bagi saya sangat mempesona adalah ternyata anak-anak itu sengaja mem- ilih permainan tersebut. Pilihan itu bukan karena mereka tidak bisa bermain bola atau

membeli makanan di kantin, melainkan karena mereka per- mainan-permainan tersebut membuat mereka sehat, tangkas dan melatih konsentrasi tinggi. Dari permainan-permainan tersebut mereka juga berlatih mengembangkan nilai-nilai sportifitas, saling menolong dan team work, di saat mereka berjuang untuk menjadi yang terbaik (pemenang). Per- mainan-permainan tersebut juga sangat ramah lingkungan dan murah. Sungguh berbeda dengan permainan anak-anak di kota yang cenderung semakin individualis seperti bermain game elektronik lewat computer, play station atau hand- phone. (stephanus mulyadi)

Permainan gasing. Anak-anak membuat sendiri gasing mereka
Permainan gasing. Anak-anak membuat sendiri gasing mereka
Permainan gasing. Anak-anak membuat sendiri gasing mereka Permainan “sipis” alias lompat tali bikin sehat dan

Permainan “sipis” alias lompat tali bikin sehat dan ramah lingkungan

Adu kekuatan, ketangkasan dan konsentrasi
Adu kekuatan, ketangkasan dan konsentrasi

Catatan perjalanan (II)

Kearifan lokal dalam tenun tradisional Suku Desak

Hari telah mulai gelap saat saya sampai di sebuah rumah panjang, rumah tradisional suku Dayak
Hari telah mulai gelap saat saya sampai di sebuah rumah
panjang, rumah tradisional suku Dayak di daerah Baning, dekat
bukit Kelam Kab. Sintang. Nama rumah panjang itu “Ensaid Pan-
jai”, milik suku Desak, terletak di dusun Rentap Selatan. Rumah
betang itu memiliki 28 pintu, dibangun pada tahun 1983 dan baru
dihuni pada tahun 1986.
Mirip pemandangan di rumah panjang milik suku Dayak
Iban, hal yang sangat mengesankan di Ensaid Panjai adalah ke-
rajinan tenun tradisional. Di depan masing-masing bilik Nampak
ibu-ibu dan anak gadis menenun dengan alat tenun tradisional.
Begitulah mereka menghabiskan hari setelah menyelesaikan
pekerjaan rumah tangga dan kegiatan di ladang.
Rumah Betang “Ensaid Panjang” di Kec. Sintang, Kalbar
Mega (13 th) ingin mengangkat tradisi tenun Suku Desak
ke dunia internasional

Mewarisi kearifan lokal dalam tenun tradisional Bagi masyarakat suku Desak, menenun tidak hanya un- tuk memproduksi kain, melainkan menghayati nilai-nilai kearifan lokal yang tersembunyi di dalamnya, seperti nilai ketekunan, ketelitian, keheningan hati, kesabaran, keindahan dan penyatuan dengan alam. “Proses menenun sangat rumit dan lama. Mulai dari pewarnaan benang sampai menghasilkan selembar kain dibutuh- kan waktu yang sangat lama. Oleh karena itu hanya orang-orang yang terlatih dan sabar saja yang mampu menghasilkan kain tenun yang indah,” ungkap Ibu Margareta. “Maka,” lanjutnya, “ orang yang sudah terlatih menenun biasanya juga memiliki ketekunan, ketelitian, keheningan hati, kesabaran, keindahan dan penyatuan dengan alam.” Itu sebabnya para orang tua berupaya mewariskan tradisi tenun kepada anak-anak mereka, tertama kepada anak perempu- an. Jika seorang wanita pandai menenun, ia juga akan pandai mengadi ibu rumah tangga. Itu keyakinan mereka.

terlatih menenun biasanya juga memiliki ketekunan, ketelitian, keheningan hati, kesabaran, keindahan dan penyatuan dengan
terlatih menenun biasanya juga memiliki ketekunan, ketelitian, keheningan
hati, kesabaran, keindahan dan penyatuan dengan alam

Ingin mengangkat tenun tradisional ke dunia internasional Mega (13th), siswi kelas II SMP adalah salah satu pewaris seni tenun tradisional berbakat dari Ensaid Panjai. Mega bercita-cita mengangkat tenun tradisional Ensaid Panjai ke dunia internasional. Gadis cantik yang bercita-cita menjadi desainer ini memiliki modal untuk menggapai cita-citanya itu. Di usianya yang masih sangat muda, di sela-sela kesibukan sekolahnya Mega mampu menyelesaikan selembar kain tenun hanya dalam waktu dua minggu. Tidak banyak gadis yang memiliki mimpi sedemikian tinggi di desanya. Namun Mega berani bermimpi. Tentu saja Mega butuh dukungan kita, terutama dukungan untuk menerus- kan sekolahnya. Karena ia berasal dari keluarga yang secara ekonomi tergolong kurang mampu (stephanus mulyadi)

Konflik batas wilayah mulai marak Sengketa batas wilayah juga sering ada kaitannya dengan ekspansi perkebunan

Konflik batas wilayah mulai marak

Sengketa batas wilayah juga sering ada kaitannya dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit. Cukup banyak kasus ditemukan di wilayah desa yang Kepala Desanya bisa disogok oleh perusahaan dengan modus diajak studi banding seperti ke Jawa atau Sumatera.

modus diajak studi banding seperti ke Jawa atau Sumatera. Yang paling berbahaya ketika warga desa mudah

Yang paling berbahaya ketika warga desa mudah dibenturkan oleh pihak tertentu dengan warga dari desa lain. Apalagi jika warga di daerah itu terdiri dari beberapa suku. Sentimen sukuisme sangat mudah disulut untuk menciptakan konflik. Jika konflik sudah terjadi maka militer akan mengam- bil alih untuk menjaga keamanan di situ. Ketika sudah dikuasai militer pihak investor akan lebih mudah dan murah menguasai

wilayah. “Maka,” tegas Stephanus, “kita perlu waspada dan kritis. Jangan mudah dibenturkan atau diadu.” Karena jika ter- jadi pertikaian antar desa atau kecamatan, yang akan me- nanggung kerugian adalah warga yang bersengketa itu sendiri. Stephanus juga mengingatkan pemerintah lokal agar berlaku bijak dalam membuat peta desa. Jangan sampai dorongan untuk memperluas wilayah desa justru menuai pertikanan antar warga yang akhirnya menghambat pem- bangunan di desa tersebut. Semua pihak juga perlu waspada terhadap tipu daya dan godaan materi yang justru akirnya harus dibayar mahal. Apalah artinya dapat uang jutaan rupiah dengan tidak halal, tapi setelah itu seumur hidup dan bahkan sampai keturunan kita harus menanggung sanksi sosial berupa keben- cian dari warga.

menanggung sanksi sosial berupa keben- cian dari warga. Rapat tidak membuahkan hasil Seperti yang telah diduga

Rapat tidak membuahkan hasil Seperti yang telah diduga banyak pihak sebelumnya, pertemuan itu berakhir dengan tidak membuahkan hasil. Mas- ing-masing kubu bersikukuh mengenai batas wilayah mereka. Bahkan pihak Jungkung Hulu yang secara fakta historis dan data terkini berupa peta modern tidak memiliki dasar yang kuat atas klaim mereka, akhirnya mengajak penyelesaian masalah melalui sumpah. Hal yang secara akal sehat tidak lagi bisa diterima saat ini. Selain itu pertemuan itu juga tidak melibatkan pihak penengah atau pengadil atau otoritas yang lebih tinggi yang berwenangg untuk mengmbil keputusan. Meskipun unsur Muspika dari kedua Kecamatan hadir, mereka tidak memiliki wewenang memutuskan, karena mereka termasuk dalam kedua kecamatan yang bersengketa. Akhirnya disepakati, bahwa per- soalan tersebut dibawa ke tingkat Kabupaten. Dengan begitu bara konflik masih tetap terpendam di sana. (ym)

Hari itu, Selasa, 17 Juni

2014 ratusan warga dari dua kecama-

tan, yaitu Kec. Seberuang dan Kec.

Nanga Suhaid berbondong-bondong

mendatangi kantor Camat Seberuang

di Sejiram. Mereka ada yang

menggunakan sepeda motor dan ada yang menggunakan truck. Wajah mereka beringas dan tegang. Jelas dari raut wajah mereka, mereka tidak sedang akan mengadakan pesta. Mereka adalah warga dari beberapa desa yang sedang terlibat pertikaian menyangkut batas desa. Hari itu mereka akan mengadakan rapat untuk menyelesaikan pertikaian itu. Dan rapat itu akan diadakan di kantor Camat Seberuang, di Sejiram.

Awal mula pertikaian Pertikaian bermula dari kebijakan Camat Nanga Suhaid, sebuah kecamatan baru hasil pemekaran dari Kecamatan Semitau dan Kecamatan Selimbau, yang mengharuskan setiap desa di wilayahnya membuat peta desa. Hal itu, katanya, ada hubungannya dengan akan diterapkannya UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa. Mengikuti arahan itu, kepala Desa Jongkong Hulu, Kec. Nanga Suhaid segera membuat peta desanya. Namun peta desa yang dibuat oleh Kades Jongkong Hulu membu-

at warga dari desa Kelakau, Bati, Seneban dan Belikai, Kec. Seberuang

meradang. Karena Kades Jongkong Hulu memasukan sebagian besar hutan adat milik desa-desa tersebut ke dalam wilayah Jongkung Hulu. Batas wila- yah yang semula ada di Batang Suaid telah digeser oleh Kepala Desa

Jongkong Hulu ke batang Thembus. Tanda batas bahkan ditulis di atas batu

di sungai Thembus dan bahkan petanya telah dibuat dengan menggunakan

GPS. Pemetaan wilayah desa yang dibuat oleh Kepala Desa Jongkong Hulu telah menyalahi batas wilayah yang telah ditetapkan, baik dalam kese- pakatan antara Suku Mayan dengan Suku Suaid yang meletakkan batas wilayah di Batang Suaid, maupun batas wilayah Administratif sebagai mana yang tercantum dalam Peta Rupa Bumi Kecamatan Seberuang. “Sejak jaman perang suku, Kepala Suku Mayan dan Kepala Suku Suaid telah bersepakat bahwa batas wilayah kedua suku tersebut adalah batang (sungai) Suaid. Wilayah sebelah kiri mudik batang suaid milik suku Mayan dan sebelah kanan mudik milik suku Suaid. Kesepakatan itulah yang mengakhiri perang antara kedua suku tersebut,” tutur Sihan, Sesepuh Adat suku Suaid. “Jika kesepakatan ini dilanggar, ini berbahaya. Ini bisa mengungkit kembali permusuhan antara kedua suku tersebut,” lanjutnya. Menurut Peta Rupa Bumi Kec. Seberuang, meskipun Jongkong Hulu kini telah masuk wilayah Kec. Nanga Suhaid, wilayah mereka tidak sampai ke sungai Thembus. Karena batas wilayah mereka adalah di sungai Suaid.

Peta rupa bumi kec. Seberuang
Peta rupa bumi kec. Seberuang

Warning bagi warga Saat mendapat kesempatan untuk berbicara, Stephanus Mulyadi, Direktur Yayasan Merangat, mengingatkan warga yang bersengketa agar mereka tahu persis apa yang sedang mereka pertengkarkan dan untuk apa. Sengketa batas wilayah mulai marak terjadi terutama di luar jawa seperti di Sumatera, Kalimantan, Papua, di mana lahannya masih sangat luas dan kebanyakan peta wilayah masih sangat minim, belum sampai pada detail batas desa apalagi dusun. Klaim atas batas wilayah kebanyakan masih berupa klaim adat yang diwariskan turun temurun.

Beri Nilai