Anda di halaman 1dari 69

BAB.

II
TINJAUAN TEORI

I. Konsep Teori
A. Fraktur
1. Pengertian
a. Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan
jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi
itu lengkap atau tidak lengkap.
Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak
lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang (Sylvia, A. Price, 1995).
b. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak
lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang (Sylvia, A. Price, 1995).
c. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer,
2000).
d. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang
dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya
meremuk, gerakan puntir mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem
(Burner & Suddarth, 2002).

e. Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Lima utama klasifikasi fraktur
: incomplete, complete, tetutup, terbuka, fraktur patologis (Marilyn, 2002).
f. Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan
yang disebabkan oleh kekerasan (Oerswari, 1989).

2. Etiologi
a. Infeksi.
b. Akibat dari suatu keadaan patologis tumor, Ca.
c. Pukulan langsung.
d. Gerakan puntir mendadak.
e. Konstraksi otot ekstrem.
f. Gaya meremuk.

3. Patofisiologi

Tulang Normal

Trauma, Penyakit patologi, Malnutrisi

Fraktur

Rusak, terputusnya kotinuitas tulang

Kerusakan jaringan lunak sekitar

Kerusakan integritas kulit

Periosteum
terpisah dari
tulang

Gangguan rasa nyaman nyeri

Resti infeksi

Resti trauma

Kerusakan mobilitas fisik

Perdarahan

4. Manifestasi Klinik

Resti disfungsi
neurovaskuler
perifer

a. Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang dimobilisasi.
b. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas
ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas
normal.
c. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya dinamakan
konstraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur.

d. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang


dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan
yang lainnya.
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
f. Deformitas: penonjolan yang abnormal (misalnya pada fraktur kondilus
lateralisi angulasi, rotasi, dan pemendekan.
g. Krepitasi terasa bila fraktur digerakkan.

5. Komplikasi
a. Malunion
Adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi
yang tidak seharusnya membentuk sudut atau miring.

b. Delayed Union dan Nonunion


Deleyed Union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. Neunion dari tulang yang
patah dapat menjadi komplikasi yang membahayakan bagi penderita. (tulang
yang patah tetap tidak menyatu).
c. Syok
Syok hipovolemik atau traumatik, akibat dari perdarahan (baik kehilangan
darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan ekstrasel
ke jaringan yang rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstremitas, torak, pelvis
dan vertebra.

d. Terjadi emboli lemak


e. Sindrom kompartemen
f. Infeksi
g. Tromboemboli
h. Koagulopati intravaskuler diserminate (KID).
i. Nekrosis vaskuler tulang.

6. Penatalaksanaan Medis
Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan
pemeriksaan ABC, Anamnese, pemeriksaan fisis SEC cepat, lakukan
fotoradiologi, pemasangan bidai.
Untuk fraktur tertutup bisa konservatif dan operatif
a. Terapi Konservatif.
1) Protesi saja, misal mitela untuk fraktur colium chirurgiccum humeri
dengan kedudukan baik.
2) Imobilisasi saja tanpa reposisi, ex : pemasangan gips pada fraktur
inkomplit dan fraktur dengan kedudukan baik.
3) Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips. Ex : pada fraktur suprakondilus,
colles, fraktur smith. Reposisi dapat dalam anastesi umum atau lokal.
4) Traksi untuk reposisi secara perlahan.
b. Terapi Operatif.
1) Reposisi terbuka, fiksasi interna.
2) Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti eksterna.
Untuk fraktur terbuka :

1. a. Lakukan penanganan secepat mungkin, waktu optimal 6 7 jam.


b. Berikan analgetik.
c. Berikan antibiotik.
d. Lakukan pemeriksaan kultur dan resistensi kuman.
e. Teknik debridmen :
1). Lakukan narkosis namun oleh anestesi lokal bila luka ringan dan kecil
2). Bila luka cukup luas, pasang dulu torniket.
3). Cuci ekstremitas selama 5 10 menit lalu lakukan pencukuran. Luka
diirigasi dengan cairan Nacl stril atau air matang 5 10 menit sampai
bersih.
4). Lakukan tindakan desinfeksi x pasang duk.
5). Eksisi luka lapis demi lapis, mulai dari kulit, subkutis, fasia, hingga otot.
Buang buang tulang kecil yang tidak melekat pada periosteum
pertahankan fragmen tulang besar yang perlu untuk stabilitas.
6). Luka fraktur terbuka selalu dibiarkan terbuka dan bila perlu ditutup satu
minggu kemudian setelah edema menghilang untuk dapat juga hanya
dijahit situasi bila luka tidak terlalu lebar. (jahit luka batang).

7. Tes Diagnostik
a. X- RAY
b. MRI
c. CT SCAN
d. Darah Lengkap

8. Karakteristik Fraktur
A. Berdasarkan hubungan dengan dunia luar
1. Tertutup.
2. Terbuka, terdiri dari 3 Derajat
a. Derajat I
1) Luka < 1 cm
2) Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk.
3) Fraktur sederhana, transversal, oblik untuk kumunitif ringan.
4) Kontaminasi minimal.
b. Derajat II
1) Laserasi > 1 cm
2) Kerusakan jaringan lunak tidak luas
3) Fraktur komunitif sedang.
4) Kontaminasi sedang
c. Derajat III
1) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, ada laserasi
fraktur segmental / sangat komunitif yang disebabkan oleh energi
tinggi.
2) Kehilangan jaringan lunak, fraktur terpapar atau terkontaminasi.
3) Luka pada pembuluh darah arteri atau saraf perifer yang harus
diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

9. Asuhan Keperawatan Fraktur


A. Pengkajian

Pengkajian fisik : infeksi umum tubuh akan memperlihatkan ukuran, setiap tanda
deformitas, asimetri kontur, pembengkakan, edema, memar atau luka dikulit.
Dengan mengosebvarsi postur, gerakan dan cara berjalan pasien akan diperoleh data
mengenai perubahan mobilitas pasien dan adanya rasa nyeri atau ketidak nyamanan
atau gerakan involunter.
a. Pengkajian aktivitas/istirahat.
Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera,
fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan,
nyeri).
b. Kaji nyeri/Kenyamanan
Nyeri berat tiba tiba pada saat cedera mungkin terlokalisasi pada area jaringan
atau kerusakan tulang : dapat berkurang pada imobilisasi) tidak ada nyeri akibat
kerusakan saraf. Spasme / kram otot (setelah imobilisasi).
c. Neurosensori.
Hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot. Agitasi (mungkin berhubungan dengan
nyeri/ansietas atau trauma lain).
d. Sirkulasi
Pembengkakan jaringan atau masa hematoma pada sisi cedera.
e. Keamanan
Avisi jaringan, perdarahan, perubahan warna. Pembengkakan lokal ( dapat
meningkatkan secara bertahap atau tiba tiba).
f. Penyuluhan/Pembelajaran.

Lingkungan cedera, aktivitas perawatan diri, dan tugas pemeliharaan/perawatan


tubuh.
B. Diagnosa Keperawatan.
1. Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak, spasme otot dan pembedahan.
2. Resti terhadap trauma b.d kehilangan integritas tulang.
3. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer b.d penurunan aliran
darah.
4. Kerusakan integritas kulit aktual b.d insisi bedah
5. Kerusakan mobilitas fisik b.d nyeri.
6. Resti tinggi terhadap infeksi b.d kerusakan jaringan, trauma jaringan.
7. Kurang pengetahuan tentang program pengobatan b.d kurang informasi.

C. Rencana Keperawatan.
1. Diagnosa I
a. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring , gips,
pembatas, traksi.
Rasional : Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang /
tegangan jaringan yang cedera.
b. Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
Rasional : Meningkatkan aliran baik vena, menurunkan edema dan
menurunkan nyeri.
c. Evaluasi skala nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik,
termasuk intensitas (skala 0 = tidak nyeri, <6 = nyeri ringan, >6 = nyeri
berat).

Rasional : Mempengaruhi pilihan / pengawasan keefektifan intervensi,


tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap
nyeri.
d. Bantu perubahan posisi sesering mungkin, setiap 15 menit sekali.
Rasional : Penggantian posisi mengurangi tekanan dan ketidaknyamanan
yang diakibatkannya.

2. Diagnosa II
a. Pertahankan tirah baring/eksremitas sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan
posisi/penyembuhan
b. Letakkan papan dibawah tempat tidur atau tempatkan pasien pada tempat
tidur ortopedi.
Rasional : Tempat tidur lembut atau lentur dapat membuat informasi gips
yang masih basah, mematahkan gips yang sudah kering, atau
mempengaruhi dengan penarikan fraksi.
c. Evaluasi pembebat eksremitas terhadap resolusi edema.
Rasional : Pembebat koaptasi mungkin digunaka untuk memberikan
imobilisasi fraktur dimana pembengkakan jaringan berlebihan.

3. Diagnosa III
a. Evaluasi adanya /kualitas nadi perifer distal terhadap cedera melalui palpasi

Rasional : Penurunan / tak adanya nadi dapat menggambarkan cedera


vaskuler dan perlunya evaluasi medik segera terhadap status
sirkulasi.
b. Dorong pasien untuk secara rutin latihan jari/sendi distal cedera ambulasi
segera mungkin
Rasional : Meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan darah
khususnya pada ekstermitas bawah.
c. Selidiki nyeri tekan,pembengkakan pada dorsofleksi kaki.
Rasional : Terdapat peningkatan potensi untuk emboflebitis dan emboli paru
pada pasien imobilisasi selama 5 hari / lebih.
d. Awasi TTV,perhatikan tanda-tanda umum sianosis,kulit dingin,perubahan
mental.
Rasional : Ketidak adekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem
perfusi jaringan.

4. Diagnosa IV
a. Pantau tanda-tanda vital
Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu,
pernapasan) sebagai respons terhadap infeksi.
b. Lakukan penggantar balutan secara asepsis
Rasional : Menghindari masukan organisme infeksius.
c. Kaji keluhan nyeri
Rasional: Nyeri dapat juga disebabkan oleh hematoma luka, kemungkinan
tempat infeksi, yang perlu di evakuasi secara bedah.

d. Kaji penampilan luka dan sifat cairan yang keluar


Rasional : Insisi yang bengkak, merah dan mengeluarkan cairan merupakan
indikasi adanya infeksi.

5. Diagnosa V
a. Kaji derajat imobilisasi yang di hasilkan oleh cedera / pengobatan dan
perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi.
Rasional : Pasien mungkin di batasi oleh pandangan diri / persepsi diri
tentang keterbatasan fisik aktual.
b. Intruksikan pasien untuk bantu dalam rentang gerak pasien/ aktif pada
ektremitas yang sakit dan yang tak sakit.
Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang meningkatkan
tonus otot, mempertahankan gerak sendi.
c. Bantu / dorong perawatan diri / kebersihan.
Rasional : Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol
pasien dalam sirkulasi, dan meningkatkan kesadaran diri
langsung.

6. Diagnosa VI
a. Infeksi kulit untuk adanya iritasi akan robekan kontinuitas.
Rasional : Pen atau kawat tidak harus di masukkan melalui kulit yang
terinfeksi, kemerahan, atau abrasi.
b. Berikan perawatan pen/kawat steril sesuai protokol dan latihan mencuci
tangan.

Rasional : Dapat mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan infeksi.


c. Kaji tonus otot, refleks tendon dalam kemampuan untuk berbicara.
Rasional : Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang, dan disfagia
menunjukkan terjadinya tetanus.
d. Berikan obat sesuai indikasi cex. Antibiotik.
Rasional : Antibiotik spektrum luas dapat di gunakan secara profilaktik atau
dapat di tujukan pada mikro organisme khusus.

7. Diagnosa VII
a. Kaji ulang patologis, prognosis dan harapan yang akan datang.
Rasional : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat
pilihan informasi.
b. Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai intruksi dengan trapis
fisik bila di indikasikan.
Rasioanal : Banyak fraktur memerlukan gips, bebat tau penjepit selama
proses penyembuhan.
c. Kaji ulang perawatan pen / luka yang tepat.
Rasional : Menurunkan resiko trauma tulang / jaringan dan infeksi yang
dapat berlanjut menjadi osteomielitis.

D. Evaluasi
1. Mengalami hilangnya nyeri
2. Mengontrol ketidaknyamanan dengan obat oral yang biasa
3. Dapat bergerak dengan ketidaknyamanan minimal.

4. Mengubah posisi untuk meningkatkan kenyamanan.


5. Mengontrol pembengkakan.
6. Memperlihatkan pengisian kapiler normal.
7. Berpindah sel mandiri atau dengan bantuan minimal.
8. Berpatisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari hari.
9.

Menggunakan alat bantu dengan aman.

10. Tampak relaks dan penuh rasa percaya diri.


11. Menggunakan strategi koping yang efektif.
12. Berpatisipasi dalam rencana tindakan.
13. Menerangkan program pengobatan terencana.
14. Menyebutkan tanda dan gejala yang perlu dilaporkan kepada dokter.
15. Mengadakan perjanjian untuk perawatan tindak lanjut.

C. Nyeri
1. Definisi
a. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan
ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
b. Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori
subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan
kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi
terjadinya kerusakan
c. Nyeri merupakan Perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun berat.yang hanya
dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain,

mencakup pola fikir, aktifitas seseorang secara langsung, dan perubahan hidup
seseorang. Nyeri merupakan tanda dan gejala penting yang dapat menunjukkan
telah

terjadinya

gangguan

fisiologikal

(http://irmanthea.blogspot.com/2007/10/konsep-nyeri.html).
d. Nyeri adalah pengalaman subjektif multifaktorial yang dapat dimodifikasi dengan
menggunakan teknik kognitif dan fisik untuk menurunkan intensitas atau persepsi
nyeri. (Mourad, 1991).
e. Nyeri adalah suatu perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan stimulus
sfesifik, seperti: mekanik, termal, kimia, elektrik, pada ujung-ujung saraf serta
tidak bisa diserah terimakan pada orang lain (Summer, 1985).

3. Etiologi nyeri
Struktur terdalam dari otak, termasuk kedalamnya ganglia basalis, menerima darah
dari pembuluh darah kecil yaitu arteriol. Penyumbatan atau penghambatan satu atau
lebih arteriol ini dapat menyebabkan beberapa hal, menyebabkan terjadinya stroke
seperti stroke lacune, lacune berarti danau atau lubang. Stroke sering mengenai
thalamus dan menyebabkan sindroma nyeri yang khas. Tidak semua stroke
melibatkan thalamus yang menyebabkan sindroma ini, dimana gejalanya timbul
seminggu atau berbulan-bulan setelah stroke terjadi. Penyebab yang pasti mengapa
stroke thalamus menyebabkan nyeri ini masih belum begitu diketahui.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan nyeri central (thalamus) ;
a. Stroke (yang melibatkan talamus)
b. Multiple sclerosis
c. Cancer (ketika merusak serabut sensorik pada sistem saraf pusat atau thalamus)

d. Cedera tulang belakang


e. Trauma fisik (seperti pembedahan, tembakan senjata, jatuh, kecelakaan lalu lintas.

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan nyeri central, beberapa hal dibawah ini
sering menyebabkan nyeri sentral jika dia menyernag bagian dari system saraf sentral.
Berurutan sesuai alphabet, bukan berdasarkan yang sering menyebabkan nyeri sentral
a. Aids, terutama pada stadium akhir
b. Aneurisma
c. Arachnoiditis
d. Malformation arteriovenous
e. Cauda equina syndrome
f. Cervical myelopathy
g. Keracunan bahan kimia
h. Sakit kepala cluster (kadang disebut juga sebagai bentuk dari neri sentral)
i. Luka tembak
j. Infeksi (bacterial atau virus)
k. Lead neuropathy
l. Meralgia paresthetica
m. Mercury toxicity
n. Myelomalacia
o. Neurofibromatosis
p. Posterior myelitis
q. Post-polio syndrome
r. Radiation exposure

s. Reflex sympathetic dystrophy syndrome


t. Spinal cord infarction
u. Stroke
v. Pembedahan
w. Syringomyelia
x. Tethered cord syndrome
y. Transverse myelitis
z. Vascular malformation

Beberapa hal yang dapat menyebabkan nyeri, yaitu:


1. Trauma
a. Mekanik
Rasa nyeri timbul akibat ujung-ujung saraf bebas mengalami kerusakan,
misalnya akibat benturan, gesekan, luka dan lain-lain.
b. Thermis
Nyeri timbul karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan akibat panas,
dingin, misal karena api dan air.
c. Khemis
Timbul karena kontak dengan zat kimia yang bersifat asam atau basa kuat
d. Elektrik
Timbul karena pengaruh aliran listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri
yang menimbulkan kekejangan otot dan luka bakar.
2. Neoplasma
a. Jinak

b. Ganas
3. Peradangan
Nyeri terjadi karena kerusakan ujung-ujung saraf reseptor akibat adanya
peradangan atau terjepit oleh pembengkakan. Misalnya : abses
4. Gangguan sirkulasi darah dan kelainan pembuluh darah
5. Trauma psikologi

4. Fisiologi nyeri
Diantara terjadinya stimulus yang menimbulkan kerusakan jaringan hingga timbulnya
pengalaman subyektif mengenai nyeri, terdapat rangkaian peristiwa elektrik dan
kimiawi yang kompleks, yaitu transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi.
Transduksi adalah proses dimana stimulus noksius diubah menjadi aktivitas elektrik
pada ujung saraf sensorik (reseptor) terkait. Proses berikutnya, yaitu transmisi, dalam
proses ini terlibat tiga komponen saraf yaitu saraf sensorik perifer yang meneruskan
impuls ke medulla spinalis, kemudian jaringan saraf yang meneruskan impuls yang
menuju ke atas (ascendens), dari medulla spinalis ke batang otak dan thalamus.
Kemudian yang terakhir hubungan timbal balik antara thalamus dan cortex. Proses
ketiga adalah modulasi yaitu aktivitas saraf yang bertujuan mengontrol transmisi
nyeri. Suatu jaras tertentu telah diternukan di sistem saran pusat yang secara selektif
menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis. Jaras ini diaktifkan oleh stress atau
obat analgetika seperti morfin.

Proses terakhir adalah persepsi, Proses impuls nyeri yang ditransmisikan hingga
menimbulkan perasaan subyektif dari nyeri sama sekali belum jelas. bahkan struktur

otak yang menimbulkan persepsi tersebut juga tidak jelas. Sangat disayangkan karena
nyeri secara mendasar merupakan pengalaman subyektif sehingga tidak terhindarkan
keterbatasan untuk memahaminya. Nyeri diawali sebagai pesan yang diterima oleh
saraf-saraf perifer. Zat kimia (substansi P, bradikinin, prostaglandin) dilepaskan,
kemudian menstimulasi saraf perifer, membantu mengantarkan pesan nyeri dari
daerah yang terluka ke otak. Sinyal nyeri dari daerah yang terluka berjalan sebagai
impuls elektrokimia di sepanjang nervus ke bagian dorsal spinal cord (daerah pada
spinal yang menerima sinyal dari seluruh tubuh). Pesan kemudian dihantarkan ke
thalamus, pusat sensoris di otak di mana sensasi seperti panas, dingin, nyeri, dan
sentuhan pertama kali dipersepsikan. Pesan lalu dihantarkan ke cortex, di mana
intensitas dan lokasi nyeri dipersepsikan. Penyembuhan nyeri dimulai sebagai tanda
dari otak kemudian turun ke spinal cord. Di bagian dorsal, zat kimia seperti endorphin
dilepaskan untuk mcngurangi nyeri di daerah yang terluka. Di dalam spinal cord, ada
gerbang yang dapat terbuka atau tertutup. Saat gerbang terbuka, impuls nyeri lewat
dan dikirim ke otak. Gerbang juga bisa ditutup. Stimulasi saraf sensoris dengan
menggaruk secara perlahan di dekat daerah nyeri dapat menutup gerbang sehingga
mencegah transmisi impuls nyeri. Impuls dari pusat juga dapat menutup gerbang,
misalnya perasaan sernbuh dapat mengurangi dampak atau beratnya nyeri yang
dirasakan.

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri.
Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam
kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak.
Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri

(nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf
perifer. Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa
bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada
daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga
memiliki sensasi yang berbeda. Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub
kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan
didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu :
a. Reseptor A delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det) yang
memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang apabila penyebab
nyeri dihilangkan

b. Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang
terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit
dilokalisasi. Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang
terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga
lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri
yang tumpul dan sulit dilokalisasi. Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor
viseral, reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal
dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif

terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia


dan inflamasi.

5. Klasifikasi nyeri
a. Menurut Tempat
1). Periferal Pain
a) Superfisial Pain (Nyeri Permukaan)
b) Deep Pain (Nyeri Dalam)
c) Reffered Pain (Nyeri Alihan)
Nyeri yang dirasakan pada area yang bukan merupakan sumber
nyerinya.
2). Central Pain
Terjadi karena perangsangan pada susunan saraf pusat, spinal cord, batang
otak.
3). Psychogenic Pain
Nyeri dirasakan tanpa penyebab organik, tetapi akibat dari trauma
psikologis.
4). Phantom Pain
Phantom Pain merupakan perasaan pada bagian tubuh yang sudah tak ada
lagi, contohnya pada amputasi. Phantom pain timbul akibat dari stimulasi
dendrit yang berat dibandingkan dengan stimulasi reseptor biasanya. Oleh
karena itu, orang tersebut akan merasa nyeri pada area yang telah
diangkat.
5). Radiating Pain

Nyeri yang dirasakan pada sumbernya yang meluas ke jaringan sekitar.


b. Menurut Sifat
1). Insidentil : timbul sewaktu-waktu dan kemudian menghilang
2). Steady : nyeri timbul menetap dan dirasakan dalam waktu yang lama
3). Paroxysmal : nyeri dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali dan
biasanya menetap10 15 menit, lalu menghilang dan kemudian timbul
kembali.
4). Intractable Pain : nyeri yang resisten dengan diobati atau dikurangi.
Contoh

pada

arthritis,

pemberian

analgetik

narkotik

merupakan

kontraindikasi akibat dari lamanya penyakit yang dapat mengakibatkan


kecanduan.
c. Menurut berat ringannya
1). Nyeri ringan : dalam intensitas rendah
2). Nyeri sedang : menimbulkan suatu reaksi fisiologis dan psikologis
3). Nyeri Berat : dalam intensitas tinggi
d. Menurut Waktu Serangan
Terdapat beberapa cara untuk mengklasifikasikan tipe nyeri. Pada tahun 1986,
The National Institutes of Health Concencus Conference of Pain
mengkategorikan nyeri menurut penyebabnya. Partisipan dari konferensi
tersebut mengidentifikasi 3 (tiga) tipe dari nyeri, yaitu :
1) Nyeri akut
2) Kronik Malignan
3) Kronik Nonmalignan.

Nyeri akut timbul akibat dari cedera akut, penyakit atau pembedahan. Nyeri
Kronik Nonmalignan diasosiasikan dengan cedera jaringan yang tidak
progresif atau yang menyembuh. Nyeri yang berhubungan dengan kanker atau
penyakit progresif disebut Chronic Malignant Pain. Meskipun demikian,
perawat biasanya berpegangan terhadap dua tipe nyeri dalam prakteknya yaitu
akut dan kronis :

1. Nyeri Akut
Nyeri akut biasanya berlangsung singkat, misalnya nyeri pada fraktur.
Klien yang mengalami nyeri akut baisanya menunjukkan gejala-gejala
antara lain : perspirasi meningkat, Denyut jantung dan Tekanan darah
meningkat, dan pallor.
2. Nyeri Kronis
Nyeri kronis berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama
dan klien sering sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan.

6. Respon fisiologis terhadap nyeri


a. Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)
1) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate
2) Peningkatan heart rate
3) Vasokonstriksi perifer, peningkatan broncho pulmunal
4) Peningkatan nilai gula darah
5) Diaphoresis

6) Peningkatan kekuatan otot


7) Dilatasi pupil
8) Penurunan motilitas gastroinstestinal

b. Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)


1) Muka pucat
2) Otot mengeras
3) Penurunan heart rate dan bronchp pulmonal
4) Nafas cepat dan irreguler
5) Nausea dan vomitus
6) Kelelahan dan keletihan
7. Respon tingkah laku terhadap nyeri
a) Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:
b) Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)
c) Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
d) Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan
jari & tangan
e) Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan,
Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas
menghilangkan nyeri).

Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat
berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi

kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih
untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat.
Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam
mengalihkan perhatian terhadap nyeri.

Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:


1). Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
Fase ini mungkin bukan merupakan fase yang paling penting, karena fase ini
bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang
belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran
perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi
pada klien.

2). Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)


Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif,
maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi
terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang
yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh
nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya
rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan
tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan,
sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya
mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.

Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang


yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin
berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri
dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar. Klien bisa
mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah,
vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang
digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri.
Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit
mengekspresikan

nyerinya,

karena

belum

tentu

orang

yang

tidak

mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu


tentunya

membutuhkan

bantuan

perawat

untuk

membantu

klien

mengkomunikasikan nyeri secara efektif.

3) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)


Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih
membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga
dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien
mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat
menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu
memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan
nyeri berulang.

8. Respon Psikologis

Respon psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien terhadap nyeri


yang terjadi atau arti nyeri bagi klien.
Arti nyeri bagi setiap individu berbeda-beda antara lain :
a.

Bahaya atau merusak

b.

Komplikasi seperti infeksi

c.

Penyakit yang berulang

d.

Penyakit baru

e.

Penyakit yang fatal

f.

Peningkatan ketidakmampuan

g.

Kehilangan mobilitas

h.

Menjadi tua

i.

Sembuh

j.

Perlu untuk penyembuhan

k.

Hukuman untuk berdosa

l.

Tantangan

m.

Penghargaan terhadap penderitaan orang lain

n.

Sesuatu yang harus ditoleransi

o.

Bebas dari tanggung jawab yang tidak dikehendaki

Pemahaman dan pemberian arti nyeri sangat dipengaruhi tingkat pengetahuan,


persepsi, pengalaman masa lalu dan juga faktor sosial budaya

9. Intensitas Nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh
individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan
kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh
dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan
pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon
fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik
ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri
(Tamsuri, 2007).

Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :


1) Skala intensitas nyeri

deskritif

2) Skala identitas nyeri numerik

3) Skala analog visual

4) Skala nyeri menurut bourbanis

Keterangan :
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,
Menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat
mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
Mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi
nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas
panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau intensitas
nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang

ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan
klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.

Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih
obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan
sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun
dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari tidak
terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan. Perawat menunjukkan klien
skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia
rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan
dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini
memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala
penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti
alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala
0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan
setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka
direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992).

Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah
suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi
verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk
mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan
nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada
rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).

Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak
mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat
membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala
deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi
juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah
terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami
penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

a. Skala Numerik Nyeri


Skala ini sudah biasa dipergunakan dan telah di validasi . Berat ringannya rasa
sakit atau nyeri dibuat menjadi terukur dengan mengobyektifkan pendapat
subyektif nyeri. Skala numerik, dari 0 hingga 10, di bawah ini , dikenal juga
sebagai Visual Analog Scale (VAS), Nol ( 0 ) merupakan keadaan tanpa atau
bebas nyeri, sedangkan sepuluh (10) , suatu nyeri yang sangat hebat.
Skala Numerik Nyeri

b. Visual Analog Scale


Terdapat skala sejenis yang merupakan garis lurus , tanpa angka. Bisa bebas
mengekspresikan nyeri , ke arah kiri menuju tidak sakit, arah kanan sakit tak
tertahankan, dengan tengah kira-kira nyeri yang sedang.

Visual Analog Scale (VAS)


Tidak
Sangat
ada rasa _______________________________________________________
Nyeri
nyeri
Anda diminta menunjukkan posisi nyeri pada garis antara kedua
nilai ekstrem . bila anda menunjuk tengah garis, menunjukkan nyeri
yang moderate / sedang

c. Skala Wajah
Skala nyeri enam wajah dengan ekspresi yang berbeda , menampilkan wajah
bahagia hingga wajah sedih, juga di gunakan untuk "mengekspresikan" rasa nyeri.
Skala ini dapat dipergunakan mulai anak usia 3 (tiga) tahun.
Skala wajah untuk nyeri

10. Teori Pengontrolan nyeri (Gate control theory)

Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosireseptor


dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang
mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali
nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007). Teori gate control dari Melzack dan
Wall (1965) mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh
mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa
impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat
sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar
teori menghilangkan nyeri.

Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari
otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C melepaskan substansi C
melepaskan substansi P untuk mentranmisi impuls melalui mekanisme pertahanan.
Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih
cepat yang melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang
dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup mekanisme pertahanan.
Diyakini mekanisme penutupan ini dapat terlihat saat seorang perawat menggosok
punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan menstimulasi
mekanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta A dan
serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan
sensasi nyeri. Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat korteks
yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan
opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang

berasal dari tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan


menghambat pelepasan substansi P. Tehnik distraksi, konseling dan pemberian
plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter, 2005)

11. Faktor yang mempengaruhi respon nyeri


a. Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji
respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah
patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam
nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah
yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau
meninggal jika nyeri diperiksakan.
b. Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan
dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas
kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).
c. Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap
nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah
akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka
tidak mengeluh jika ada nyeri.
d.

Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan
bagaimana mengatasinya.

e.

Perhatian
Tingkat seorang

klien

memfokuskan

perhatiannya

pada

nyeri

dapat

mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat


dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi
dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided
imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
f. Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan
seseorang cemas.
g. Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini
nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah
tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam
mengatasi nyeri.
h.

Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan
sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang
mengatasi nyeri.

i.

Support keluarga dan sosial


Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga
atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan.

12. Asuhan Keperawatan Nyeri


a. Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
Pengkajian pasien Post op frakture Olecranon (Doenges, 1999) meliputi :
a). Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular
perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
b). Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple,
misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ;
stimulasi simpatis.
c). Makanan / cairan
Gejala

insufisiensi

pancreas/DM,

(predisposisi

untuk

hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane


mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
d). Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
e). Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ;
Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan
penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga
tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek

dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat


transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
f).

Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi,
kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan,
analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang
dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan
kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan
juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata
maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 :
17). Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur
(Wilkinson, 2006) meliputi :
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang,
edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak
edekuatan oksigenasi, ansietas, dan gangguan pola tidur.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status
metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat
luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat
jaringan nekrotik.

4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan


muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
5. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan,
prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
6. Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah
interpretasi informasi.

C. Intervensi dan Implementasi


Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono,
1994). Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan
yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995). Intervensi dan
implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post operasi fraktur
Olecranon (Wilkinson, 2006) meliputi :
1. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan
meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial, digambarkan
dalam istilah seperti kerusakan ; awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari
intensitas ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat
diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.
Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
a). Nyeri berkurang atau hilang
b). Klien tampak tenang.

Intervensi dan Implementasi :


a). Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
Rasional: hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif
b). Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri
Rasional: tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri
c). Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri
Rasional: memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang
nyeri.
d). Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: untuk mengetahui perkembangan klien
e). Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik.
Rasional: merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik
berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.
2. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup
mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi
kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan.
Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
Kriteria hasil :
a). Perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
b). Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa
dibantu.
c). Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
Intervensi dan Implementasi :

a). Rencanakan periode istirahat yang cukup.


Rasional: mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul
dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.
b). Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
Rasional: tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara
perlahan

dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat,

mobilisasi dini.
c). Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
Rasional: mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien sembuh.
d). Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.
Rasional: menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai
akibat dari latihan.
3. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami
perubahan secara tidak diinginkan.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
Kriteria Hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
a). luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
b). Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
a). Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.
Rasional: mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam
melakukan tindakan yang tepat.
b). Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.

Rasional: mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah


intervensi.
c). Pantau peningkatan suhu tubuh.
Rasional: suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya
proses peradangan.
d). Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering
dan steril, gunakan plester kertas.
Rasional: tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan
mencegah terjadinya infeksi.
e). Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.
Rasional: agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas
pada area kulit normal lainnya.
f). Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.
Rasional: balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi
parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
g). Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
Rasional: antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada
daerah yang berisiko terjadi infeksi.

4. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakkan


fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih.
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil :
a). Penampilan yang seimbang..

b). Melakukan pergerakkan dan perpindahan.


c).Mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik : 0
= mandiri penuh,1 = memerlukan alat Bantu, 2 = memerlukan bantuan dari orang
lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran, 3 = membutuhkan bantuan dari
orang lain dan alat Bantu, 4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam
aktivitas.
Intervensi dan Implementasi :
a). Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.
Rasional: mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
b). Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
Rasional: mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena
ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
c). Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
Rasional: menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
d). Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
Rasional: mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
e). Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
Rasional: sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan
mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien

5. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer, perubahan


sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.
Kriteria hasil :

a). Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.


b). Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
c). Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
a). Pantau tanda-tanda vital.
Rasional: mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh
meningkat.
b). Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
Rasional: mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
c). Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka.
Rasional: untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
d). Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan
leukosit.
Rasional: penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi
akibat terjadinya proses infeksi.
e). Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
Rasional: antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah
interpretasi informasi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses
pengobatan.
Kriteria Hasil :

a). Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
b). Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen
perawatan.
Intervensi dan Implementasi:
a).

Kaji

tingkat

pengetahuan

klien

dan

keluarga

tentang

penyakitnya.

Rasional: mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan


keluarga tentang penyakitnya.
b). Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
Rasional: dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan
keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
c). Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.
Rasional: diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.
d). Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.
Rasional: mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai
keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

D. Evaluasi
Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam
pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau
intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah :
1. Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan.
2. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.

3. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai


4. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
5. Infeksi tidak terjadi / terkontrol
6. Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses
pengobatan.

D. Teknik hipnotis
1. Hipnotis
Dalam tindakan keperawatan untuk meningkatkan adaptasi dan mengontrol nyeri
disamping kolaborasi terapi farmakologi juga biasa dengan terapi keperawatan pereda
nyeri non farmakologis dan non invasive, yaitu pembebatan letak insisi, pengaturan
posisi yang tepat, distraksi (musik, perbincangan), latihan nafas dalam, rangsang
kutan (massage, pemberian kompres dingin dan panas), menciptakan lingkungan
yang tenang dan nyaman, teknik relaksasi imajinasi, rangsang saraf listrik transkutan
(RSLT), dan umpan balik biologis.
Medical Interventions lain yang dapat dilakukan untuk menurunkan rasa nyeri, yaitu:
a. Blok Saraf (Nerve Block)
b. Electric Stimulation
c. Acupunture
d. Hypnotis
e. Surgery/Pembedahan
f. Biofeedback

Upaya lainnya untuk penyembuhan rasa nyeri adalah dengan metode non
farmakologi, seperti yang tertera pada enam point diatas. Salah satu cara
penangannya adalah menggunakan teknik hipnotis atau hipnoterapi.

Menurut Rafael (2005), sasaran hipnotis adalah otak kanan manusia. Orang yang
terhipnotis sekali, tidak akan terhipnotis lagi untuk kedua kalinya (Rafael 2005).
Hipnotis adalah proses yang sangat natural dalam membuka pikiran alam bawah
sadar selama periode tertentu dan dalam keadaan relaksasi, selama waktu tersebut ada
dua hal yang dapat dilakukan yaitu mengganti atau membuang nilai-nilai atau
kebiasaan yang tidak sehat dan tidak diinginkan dengan keinginan baru yang sehat
(Gustafon, 2005). Hipnotis adalah upaya membawa klien ke keadaan rileks sehingga
otak bekerja digelombang alfa (Danuatmaja & Meiliasari, 2004). Hipnotis adalah
keadaan yang alami ketika anda memfokuskan pikiran anda pada sesuatu dan tidak
menganalisa,

sehingga

memberikan

pengaruh

pada

kondisi

fisik

anda

(http://www.fadhilza.com/2008/10/tadabbur/mengenal-hypnotis.html).

Lebih lanjut Rommy Rafael (2006) mengatakan bahwa hipnosis adalah keadaan alami
dari relaksasi total tubuh dimana kondisi kesadaran pikiran meningkat lebih tinggi
dari biasanya. Catatan sejarah diberbagai belahan dunia sudah mencatat penggunaan
teknik yang mirip dengan hypnosis pada ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.
Suku-suku primitif pedalaman melakukan proses penyembuhan dengan membuat
ritual-ritual dengan bacaan mantra yang dipercaya bisa meringankan bahkan
menyembuhkan sejumlah penyakit. Kesembuhan dengan cara ini mereka yakini
berasal dari kekuatan dewa ataupun roh leluhur yang membantu mereka. Sampai pada

tahap ini untuk mempermudah penyebutannya kita sebut sebagai hypnosis primitif
(Kahija. Hipnoterapi. 2007. Jakarta: Gramedia).

Awal berkembangnya hypnosis modern adalah saat seorang murid Paracelsus


bernama

Franz

Anton

Mezmer

(1743-1815)

memperkenalkan

metode

penyembuhannya dengan menggunakan gosokan sebatang besi. Metode ini


berkembang dengan nama magnetisme. Mezmer meyakini bahwa ada gelombang
magnit universal (fluidum) dari alam semesta yang bisa disalurkan kedalam tubuh
manusia melalui perantaraan magnet untuk mencapai kesembuhan. Dan hal yang
paling menarik adalah Mezmer tercatat berhasil menyembuhkan ribuan pasiennya
dengan metode ini. Bahkan untuk mengatasi jumlah pasien yang semakin meningkat,
Mezmer membuat sebuah kolam magnit dimana semua klien saling berpegangan
dalam kolam tersebut dan mereka menerima penyaluran fluidum dari Mezmer
secara paralel.

Animal gravitation adalah gravitasi animal yang mana Mezmer mengemukakan


keyakinannya akan cairan misterus yang berasal dari bintang-bintang, yang dalam
tulisan-tulisan selanjutnya diganti dengan istilah magnetisme animal (animal
manegtisme). Konsep animal magnetisme meyakini bahwa kekuatan magnit alam
semesta bisa langsung diterima tubuh manusia dan disalurkan kepada manusia lain
tanpa bantuan batang magnit. Semua ajaran Mezmer sangat popular dan berkembang
dalam masyarakat dengan sebutan Mezmerisme. Bahkan metode Mezmer juga bisa
menciptakan keadaan mirip tidur pada pasiennya yang disebut dengan keadaan
mesmeric coma.

Hypnosis berasal dari kata hypnose dari bahasa Yunani yang berarti tidur. Kata ini
dipopulerkan oleh Dr. James Braid (1795-1860) yang tertarik terhadap fenomena
Mezmerisme. Braid menganalisis fenomena Mezmerisme dan menyimpulkan bahwa
mezmeric coma (trance) semata-mata berasal dari kepuasan subyek oleh rangsangan
pancaindera sehingga seluruh tenaga syarafnya berkumpul pada satu titik di otak dan
jika ini terjadi maka dengan mudah tenaga syaraf tadi bisa disalurkan ke bagian tubuh
yang lain walaupun hanya dengan sugesti sederhana.

Braid yang sekarang dikenal sebagai Bapak Hypnosis Modern sempat menyesali
penggunaan kata hypnosis saat dia menyadari bahwa mezmeric coma adalah keadaan
yang sangat berbeda dengan tidur. Braid mencoba meluruskan kesalahannya dalam
menanamakan hypnosis

dalam masyarakat dengan memperkenalkan

istilah

monoideasme sebagai pengganti kata hypnosis tetapi dia gagal karena hypnosis sudah
terlanjur diterima oleh masyarakat luas. Penemuan Braid diteruskan oleh banyak
sekali tokoh yang mengembangkan penelitian efek sugesti dan penggunaannya dalam
dunia medis. Bahkan banyak diantaranya tersebut yang berhasil melakukan berbagai
tindakan operasi dengan menggunakan hypnosis sebagai penghilang rasa sakit.
Kepopuleran hypnosis mulai redup saat Ether (obat bius) pertama kali diperkenalkan.
Ether lebih diterima karena alasan penggunaannya yang praktis dan waktu yang
dibutuhkan untuk bereaksi terbilang cepat.
Berikut ini adalah table yang merangkum para tokoh hipnotisme.
Tabel. 1.1 Tokoh Hipnotis
Tokoh

Relevansi

Franz Anton Mesmer

Memperkenalkan magnetisme dan beragumen bahwa penyakit


disebabkan oleh ketidakseimbangan energi dalam tubuh.
Mesmer juga menunjukkan beberapa factor penunjang dalam
mencapai trans, seperti kesedian klien, iringan musik dan
penataan ruangan.

Marquis de Puysegur

Menunjukan perlunya eksperimen dalam mengembangkan


hipnotisme. Puysegur memperkenalakan banyak konsep baru
bagi hipnotisme, seperti somnabulisme artfisial, otomatisme
motor, katalepsi, anastesia, amnesia, perbedaan individual dan
sugestibilitas, serta halusinasi positif dan negatif.

Abbe Faria

Memperkenalkan teknik induksi dengan tatapan yang sekarang


ini dikenal dengan nama fiksasi mata (eye fixation). Ia juga
menunjukkan perlunya imajinasi dan konsentrasi dalam
penca[aian trans.

John Elliotson

Kedua tokoh ini menunjukkan manfaat hipnotisme bagi

James Esdaile

anastesia dan analgesia, khususnya dalam pembedahan atau


operasi.

James Braid

Menemukan istilah hipnotisme yang digunakan sampai saat ini


dengan macam-macam variasi kata. Ia juga menunjukkan
pentingnya konsentrasi, fiksasi mata dan sugesti dalam proses
hipnotik.

Ambroise Auguste

Memperkenalkan secara khusus kekuatan sugesti dalam

Liebeault

hipnoterapi. Sugestibilitas dan imajinasi klien dipandang


sebagai kunci keberhasilan hipnoterapi.

Jean Martin Charcot

Menunjukkan korelasi atau keterkaitan antara histeri dan


hipnotisme dan membuat hipnotisme bisa diterima dikalangan
akademis dan dokter.

Pierre Janet

Memperkenalkan konsep disosiasi hipnotik dalam memahami


fenomena hipnotik, seperti halusinasi atau anastesia dalam
hipnotisme.

Emile Coue

Memperkenalkan kekuatan otosugesti dan imajinasi dalam


hinotisme.

Sigmund Freud

Memperkenalkan

secara

sistematis

tentang

dunia

ketidaksadaran, cara kerja kesadaran dan ketidaksadaran, dan


teknik asosiasi bebas dalam mengeksplorasi ketidaksadaran.
Milton Hyland

Mengembangkan secara kreatif tentang hipnotisme tidak

Erickson

langsung lewat penggunaan bahasa yang permisif, metafora


atau analogi dan teknik induksi yang lebih bervariasi.

Dave Elman

Memperkenalkan baik induksi yang lebih sistematis maupun


induksi cepat bagi hipnoterapi dan hipnoanalisa.

Ormond McGill

Mengembangkan induksi cepat (rapid induction) yang saat ini


banyak digunakan untuk hipnotisma hiburan atau panggung.

2. Tahap-tahap hipnotis
Secara sederhana, dengan memiliki dasar ilmu hipnotis seorang Hypnotist dapat
membuat seseorang (Subjek) sangat relaks dan tenang. Bahkan pada orang-orang
tertentu dan dalam situasi tertentu, seorang Hypnotist dapat membuat Subjek sangat
tenang secara ekstrim, sehingga masuk ke suatu tahapan yang dikenal sebagai kondisi
"Hypnotic" atau "Tertidur Hypnosis" atau trans hipnosis. Pada saat Subjek sudah
dalam kondisi sangat rileks, atau dalam kondisi "Hypnos", maka Hypnotist dapat
memberikan sugesti-sugesti yang relatif lebih mudah diterima oleh subjek
dibandingkan dalam kondisi biasa.

Untuk memberikan sugesti seorang penghipnotis harus memiliki kekuatan mental


seperti percaya diri, kemampuanya mensugesti dengan meyakinkan. Keberhasilan
praktik hipnotis adalah ketika subjek sudah berada pada situasi deep trance. Namun,

untuk mencapat tingkat ini, ada faktor yang mempengaruhinya. Yakni, kondisi
psikologis (Kejiwaan) subjek, tingkat keaktifan berpikir subjek, suasana dan kondisi
lingkungan, keterampilan seorang hypnotist, waktu, serta tingkat kepercayaan subjek
terhadap seorang hypnotist.

a. Tahap pre-induction
Pre-Induction (pra-induksi) merupakan suatu proses untuk mempersiapkan suatu
situasi dan kondisi yang bersifat kondusif antara seorang penghipnosis dan
Subjek. Agar proses Pre-Induction berlangsung dengan baik, maka sebelumnya
Hypnotist harus dapat mengenali aspek-aspek psikologis dari Subjek, antara lain :
hal yang diminati, hal yang tidak diminati, apa yang diketahui subjek terhadap
Hypnosis, dan seterusnya. Pre-Induction dapat berupa percakapan ringan, saling
berkenalan, serta hal-hal lain yang bersifat mendekatkan seorang Hypnotist secara
mental terhadap seorang Subjek. Pre-Induction merupakan tahapan yang bersifat
kritis. Seringkali kegagalan proses hipnotis diawali dari proses Pre-Induction yang
tidak tepat. Tahap ini juga untuk menguji apakah klien cocok diterapi dengan
menggunakan hipnotis atau tidak, klien mudah dihipnotis atau tidak sebab
hipnotis membutuhkan keadaan psikis tertentu dimana klien harus mau bekerja
sama dengan suka rela untuk mengikuti instruksi hipnotis yang diberikan.

b.

Tahap induction
Langkah berikutnya adalah Induction (induksi). Merupakan kunci utama dalam
proses hipnotis, karena proses inilah yang akan membawa Subjek dari kondisi
"Beta" ke kondisi "Alpha" bahkan "Theta" dengan kondisi sepenuhnya di bawah

kendali seorang Hypnotist. Bagian utama dari induction adalah "kalimat kunci"
dari seorang Hypnotist, ketika memerintahkan seorang Subjek untuk tidur
"Hypnotic", di mana selanjutnya Hypnotist akan mengambil alih kendali atas
Sub-Conscious Subjek. Secara utuh, proses induction terdiri dari 3 bagian, yaitu:
Relaxation, adalah proses untuk mengurangi keaktifan BrainWave Subjek (High
Beta to Low Beta). Induction, adalah proses untuk membawa subjek ke
Brainwave Alpha, untuk selanjutnya siap di-sugesti dengan "kalimat kunci".
Deepining adalah proses untuk membawa Subjek ke "Trance Level" yang lebih
dalam (Theta).

c.

Pengujian trans hipnotis


Proses Dept Level Test. Seringkali diistilahkan dengan "Trance Level Test" atau
pengujian tingkat kedalaman "Hypnotic" seorang subjek bagi seorang Stage
hypnotist, perlu memperoleh seorang Subjek dengan tingkat kedalaman "Trance"
tertentu. Minimal : Medium Trance. Bagi seorang Hypnotherapist, tingkat
kedalaman "Trance" akan berkaitan dengan efektivitas pengaruh Sugesti Therapi
yang akan diberikan kepada Subjek. Depth Level Test dilakukan dengan cara
memberikan perintah sederhana yang berlawanan dengan logika kesadaran biasa
(Conscious). Jika tingkat kedalaman "Trance" yang dimaksud belum dicapai,
maka Hypnotist harus melakukan "induction" kembali. Seringkali diikuti dengan
segesti yang bersifat "provokatif". Tidak setiap orang dapat mencapai tingkat
"Trance" yang dalam. Hal ini tidak menjadi masalah dalam Hypnotherapy.

d.

Suggestion

Suggestion atau Sugesti. Merupakan tahapan inti dari maksud dan tujuan proses
hipnotis. Pada tahapan ini seorang Hypnotist mulai dapat memasukkan kalimatkalimat sugesti ke Sub-Conscious Subjek.
e.

Post Hypnotic suggestion


Setelah itu, kita menuju tahapan Post Hypnotic Suggestion. Yakni, suatu Sugesti
yang tetap "bekerja" walaupun seorang telah berada dalam kondisi pasca-hipnotis
(normal). Post Hypnotic Suggestion merupakan hal penting yang mendasari
proses Clinical Hypnotherapy. Apabila hypnotist ingin mengendalikan Subjek, ia
bisa menggunakan simbol bunyi atau tindakan. Inilah yang disebut Anchor. Yakni
sugesti berupa simbol-simbol yang akan menghasilkan reaksi pemikiran,
emosional, atau perilaku tertentu disebut juga dengan "Anchor".

f. Termination
Termination, yakni suatu tahapan untuk mengakhiri proses hipnotis. Konsep
termination adalah agar seorang subjek tidak mengalami kejutan psikologis ketika
terbangun dari "tidur hipnotis". Standar dari proses termination adalah
membangun sugesti positif yang akan membuat tubuh seorang subjek lebih segar
dan relaks, kemudian diikuti dengan regresi beberapa detik untuk membawa
subjek ke kondisi normal kembali.

3. Hipnoterapi
Terapi hipnotis adalah terapi yang menggunakan hipnosis untuk memfasilitasi
perubahan, sugesti yang telah disetujui sebelumnya ditanamkan ke dalam alam bawah
sadar, sementara individu berada dalam keadaan rileks terhipnotis selama proses

hipnosis tersebut berlangsung individu tidak dapat dan tidak akan melakukan sesuatu
yang tidak dikehendaki (Rafael, 2006).

Hypnotherapy adalah suatu metode dimana pasien dibimbing untuk melakukan


relaksasi, dimana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai maka secara alamiah
gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar, sehingga yang
bersangkutan cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti penyembuhan yang
diberikan. Hipnoterapi merupakan sebuah usaha untuk memulihkan kesehatan dengan
menggunakan metode hipnosis (Rafael, 2006). Pada proses hipnoterapi, anda akan
diberikan sugesti yang telah anda setujui sebelumnya untuk kemudian ditanamkan
pada pikiran bawah sadar anda. Sugesti yang diberikan berupa kata-kata positif yang
akan memfasilitasi anda menuju perubahan.

Hipnotis medis kini terbagi atas hipnopromosi (meningkatkan kesehatan dengan


hipnotis bagi orang sehat), hipnoprevensi (mencegah gangguan kesehatan dengan
hipnotis bagi orang sehat), hipnoterapi (penyehatan dengan hipnotis bagi orang sakit),
serta masih ada hipnotis untuk rehabilitasi bagi orang cacat. Hipnotis juga digunakan
di bidang kebidanan (hypnobirthing) dan kedokteran gigi (hypnodontics). Hipnotis
merupakan salah satu bentuk psikoterapi dalam dunia psikiatri. Namun demikian,
hipnotis juga bisa digunakan pada pasien nonpsikiatrik. Pengobatan model ini bisa
digabungkan dengan jenis pengobatan lainnya. Banyak dokter terutama ahli bedah
dan anestesi yang terlatih dalam melakukan hipnoterapi, demikian pula dokter gigi.

4. Dasar-dasar hipnoterapy

Pikiran bawah sadar manusia menyimpan misteri yang luar biasa. Banyak hal yang
menyangkut manusia bersumber dari berbagai data dan nilai yang tersimpan di
pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar tidak saja terkait dengan perilaku dan
mental, tetapi lebih jauh lagi pikiran bawah sadar dapat merubah metabolisme,
mempercepat penyembuhan, atau bahkan memperburuk suatu kondisi penyakit.
Secara konvensional, Hypnotherapy dapat diterapkan kepada mereka yang memenuhi
persyaratan dasar, yaitu :
a). Bersedia dengan sukarela
b). Memiliki kemampuan untuk fokus
c). Memahami komunikasi verbal.

Untuk memahami Hypnosis atau Hypnotherapy secara mudah dan benar, sebelumnya
kita harus memahami bahwa aktivitas pikiran manusia secara sederhana
dikelompokkan dalam 4 wilayah yang dikenal dengan istilah Brainwave, yaitu :
a. Beta adalah kondisi pikiran pada saat sesorang sangat aktif dan waspada. Kondisi
ini adalah kondisi umum ketika seseorang tengah beraktivitas normal. Frekwensi
pikiran pada kondisi ini sekitar 14 24 Cps (diukur dengan perangkat EEG)
b.

Alpha adalah kondisi ketika seseorang tengah fokus pada suatu hal (belajar,
mengerjakan suatu kegiatan teknis, menonton televisi), atau pada saat seseorang
dalam kondisi relaksasi. Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 7 14 Cps.

c. Theta adalah kondisi relaksasi yang sangat ekstrim, sehingga seakan-akan yang
bersangkutan merasa tertidur, kondisi ini seperti halnya pada saat seseorang
melakukan meditasi yang sangat dalam. Theta juga gelombang pikiran ketika

seseorang tertidur dengan bermimpi, atau kondisi REM (Rapid Eye Movement).
Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 3.5 7 Cps
d. Delta adalah kondisi tidur normal (tanpa mimpi). Frekwensi pikiran pada kondisi
ini sekitar 0.5 3.5 Cps

Kondisi Hypnosis sangat mirip dengan kondisi gelombang pikiran Alpha dan Theta.
Yang sangat menarik, bahwa kondisi Beta, Alpha, dan Theta, merupakan kondisi
umum yang berlangsung secara bergantian dalam diri kita. Suatu saat kita di kondisi
Beta, kemudian sekian detik kita berpindah ke Alpha, sekian detik berpindah ke
Theta, dan kembali lagi ke Beta, dan seterusnya.

Pada saat setiap orang menuju proses tidur alami, maka yang terjadi adalah
gelombang pikiran ini secara perlahan-lahan akan menurun mulai dari Beta, Alpha,
Theta, kemudian Delta dimana kita benar-benar mulai tertidur. Perpindahan wilayah
ini tidak berlangsung dengan cepat, sehingga sebetulnya walaupun seakan-akan
seseorang sudah tampak tertidur, mungkin saja ia masih berada di wilayah Theta.
Pada wilayah Theta seseorang akan merasa tertidur, suara-suara luar tidak dapat
didengarkan dengan baik, tetapi justru suara-suara ini didengar dengan sngat baik
oleh pikiran bawah sadarnya, dan cenderung menjadi nilai yang permanen, karena
tidak disadari oleh pikiran sadar yang bersangkutan.

5. Mekanisme Fisiologi Hipnotis


Adanya penurunan aktivitas di daerah jaringan nyeri (pusat persepsi nyeri) dan
peningkatan aktivitas pada area otak lainnya saat hypnosis. Peningkatan tersebut bisa

spesifik bisa juga tidak tetapi jelas melakukan sesuatu hal yang menurunkan atau
menghambat signal nyeri masuk ke struktur kortikal. Jaringan nyeri berfungsi seperti
system relay. Input signal nyeri berasal dari saraf perifer di daerah dimana rangsang
nyeri diberikan, kemudian masuk ke dalam spinal cord dimana informasi diproses dan
disalurkan ke dalam batang otak. Dari sini signal menuju area otak tengah dan
akhirnya masuk ke dalam korteks otak yang berkaitan dengan persepsi sadar terhadap
stimulus eksternal seperti nyeri. Proses yang terjadi pada jaringan nyeri bagian bawah
gambarannya terlihat sama antara saat kondisi hypnosis ataupun tidak, namun pada
kondisi hypnosis aktivitasnya menurun pada daerah atas (korteks) yang berperan
terhadap persepsi nyeri.
Saat kondisi hypnosi, aktivitas otak menurun pada area persepsi nyeri yang meliputi
daerah korteks ( primary sensory cortex). Pada dua struktur otak yang lain : korteks
cingulated anterior kiri dan basal ganglia terlihat gambaran yang berbeda dengan
adanya peningkatan aktivitas otak. Peningkatan aktivitas pada dua area otak tersebut
merupakan bagian dari jalur penghambat yang memutus signal agar tidak ditangkap
oleh struktur kortikal yang lebih tinggi yang bertugas mempersepsikan nyeri.

6. Cara sugesti hipnotis


Sugesti untuk relaksasi ini dimaksudkan untuk menbuat klien berada dalam keadaan
reseptif dan mampu mengarahkan konsentrasinya pada bagian-bagian tubuh tertentu,
dengan cara ini klien masuk kedalam proses mentalnya sendiri sembari mengabaikan
situasi luar. Sugesti ini sangat perlu dipahami oleh terapis karena menjadi dasar bagi
sugesti-sugesti lain.

Misalnya:
Santaikan badan Anda. Buat seluruh badan menjadi santai dan semakin santai.
Setiap kali Anda menarik napas, rasa santai akan mengalir semakin kuat dalam
tubuh dan pikiran Anda. Otot-otot pada leher dan bahu Anda menjadi santai.
Rasa santai itu masuk lebih dalam ke pikiran Anda dan terus menyebar ke
seluruh tubuh Anda. Resapi dan terus resapi sambil melupakan apa yang terjadi
di sekitar Anda.

Selanjutnya, klien diajak masuk lebih dalam lagi ke bawah sadarnya. Perhatian klien
dibuat semakin terfokus pada dunia batinnya dan perlahan-lahan digiring kedalam
tidur hipnotik.
Misalnya:
Anda selalu merasa nyaman dalam keadaan santai ini. Anda menjadi semakin
santai sekarang. Sesaat lagi saya akan menghitung mundur dari 10 sampai 1.
setiap hitungan mundur akan membuat Anda santai semakin dalam.
Sepuluh...santai dan semakin santai...
sembilan...delapan...tujuh...enam...lima...empat...tiga...dua..satu.

mata

Anda

tertutup rapat sekali. Dalam hati, hitung mundur dari tiga sampai satu. Setiap
hitungan mundur akan membuat kelopak mata Anda tertutup semakin rapat.

Kemudian, klien cukup diminta merespons kata-kata yang diucapkan terapis. Tidak
dibutuhkan gambaran mental yang hidup dalam sugesti ini.
Misalnya:

Sekarang, lepaskan sejenak beban Anda. Biarkan seluruh badan Anda menjadi
santai...Anda mulai merasa ngantuk. Biarkan rasa kantuk itu membuat Anda
menjadi santai dan semakin santai.
Selanjutnya, buatlah gambaran mental klien menjadi lebih hidup. Ini bisa dicapai bila
klien sudah berada dalam keadaan santai karena gambaran mental sangat baik untuk
membawa klien ke tempat yang aman dan nyaman. Tempat seperti ini sangat
dibutuhkan klien ketika terapis ingin membawanya menemui isi-isi ketidaksadaran.
Dengan demikian, terapis bisa bekerja lebih tenang mengangkat segala pengalaman
dan pikiran negatif ke kesadarn klien.

Misalnya:
Anda sekarang ada di taman yang paling andai sukai. Anda duduk santai di
bangku taman. Anda merasa sangat nyaman disitu dan anda bisa menikmati
sentuhan angin dan sedikit sinar matahari yang menembus daun-daun pohon.
Anda juga merasakan udara yang sejuk dan suasana yang sangat tenang bagi
hati dan pikiran anda. Sekarang, beban yang Anda rasakan perlahan-lahan
hilang bersama dengan angin yang membelai wajah Anda. Semakin lama,
semakin enteng dan ringan.

Dan bila proses ini berjalan baik, klien akan menunjukkan perubahan dalam sesi-sesi
berikutnya.
Misalnya:

Mulai saat in, setiap Anda belajar, Anda selalu merasakan motivasi yang semakin
kuat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Anda akan membaca buku dengan
perasaan santai karena mulai sekarang Anda menjadi yakin dan mau
berusaha memahami apa pun yang anda baca. Setiap kesulitan membuat anda
ingin mengetahui lebih banyak.

Sesudah memberikan sugesti, terapis membangunkan klien dari trans. Kinilah saatnya
bagi terapis untuk mengaktifkan kembali kesadaran klien.
Misalnya:
Saya membiarkan Anda sendiri. Nikmati rasa segar dan rasa santai yang Anda
rasakan saat ini...Sebentar lagi, saya menghitung dari satu samapi lima dan pada
hitungan lima, Anda bangun dan merasa segar sekali. Tetap nikmati rasa tenang
dan damai di hati dan pikiran anda... (biarkan sesaat). Sekarang saya hitung satu
sampai lima, pada hitungan lima bangun dan rasakan kenyamanannya,
ketenangannya

dan

kesegarannya.

Satu...segar...dua...semakin

segar...tiga...empat...lima. selamat datang.

7. Level hipnotis dan manfaatnya


Sebenarnya ada banyak level relaksasi yang bisa kita capai. Relaksasi ada 2 macam
yaitu relaksasi fisik dan relaksasi mental. Pada umumnya kita berpikir bahwa saat kita
mengalami relaksasi fisik maka hal ini sama dengan kondisi trance. Pemahaman ini
sama sekali tidak tepat. Hal ini diperkuat dengan definisi hipnosis yang dikeluarkan
oleh US. Dept. of Education, Human Services Devision yang menyatakan bahwa
hypnosis is the bypass of the critical factor of the conscious mind followed by the

establishment of acceptable selective thinking atau hipnosis adalah penembusan


faktor kritis pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti/ide atau
pemikiran.

Definisi ini secara jelas, lugas, dan gamblang sama sekali tidak menyebutkan
hubungan antara kondisi hipnosis dan relaksasi fisik. Ternyata kondisi hipnosis
adalah relaksasi pikiran atau mental. Pakar ini menyebutkan bahwa semakin dalam
level hipnosis, saat terapi dilakukan, maka akan semakin efektif dan permanen hasil
terapi. Bila terapi dilakukan pada level light trance maka efeknya hanya akan
bertahan antara 2 jam hingga 2 hari. Bila dilakukan pada level medium trance efeknya
bertahan antara 2 hingga 5 minggu. Sedangkan bila dilakukan pada deep trance maka
efeknya permanen.
Batas atas adalah kondisi saat kita sadar, kondisi saat kita berpikir dan fokus. Kita
sadar sesadar-sadarnya apa yang kita rasakan, lakukan, alami, atau pikirkan. Batas ini
dikenal dengan nama normal waking consciousness atau kesadaran bangun normal.
Sedangkan yang menjadi batas bawah adalah kondisi saat kita tidak sadar atau saat
kita tidur. Di antara batas atas dan bawah terdapat begitu banyak level kesadaran
khusus yang dikenal sebagai altered state of consciousness (ASC). ASC terdapat
tidak hanya di antara dua batas ini tapi juga terdapat di bawah batas bawah dan juga
di atas batas atas.

Teknik induksi progressive relaxation, yang seharusnya lebih tepat disebut dengan
fractional relaxation, justru merupakan teknik yang paling tidak efektif untuk
membawa seseorang masuk kondisi deep trance. Dan teknik ini yang paling banyak

digunakan di dalam dunia hipnoterapi. Beberapa skala kedalaman trance yang


umumnya dikenal di dunia hipnoterapi. Salah satu skala kedalaman yang populer
adalah skala Elman. Elman membagi level kedalaman hipnosis/trance menjadi 4 level
yaitu light trance, medium trance, somnambulism, Esdaile, dan hypnosleep. Menurut
Elman, 2 level pertama yaitu light dan medium trance adalah level yang sama sekali
tidak bermanfaat untuk terapi. Terapi hanya bisa dilakukan efektif pada level
somnambulism. Sedangkan level Esdaile dan hypnosleep mempunyai manfaat
terapeutik yang agak berbeda.

Menurut Harry Arons membagi level relaksasi mental menjadi 6 level. Persis di
bawah batas atas, normal waking consciousness terdapat kondisi relaksasi yang
dikenal dengan nama hypnoidal. Ini adalah kondisi relaksasi yang paling mudah
dicapai. Kondisinya mirip dengan orang yang sedang melamun. Salah satu ciri
kondisi hypnoidal adalah eye catalepsy atau mata yang tidak bisa dibuka walaupun
kita ingin membukanya.

Di bawah hypnoidal terdapat level light trance yang bercirikan kondisi sugestibilitas
meningkat karena kelompok otot yang mengalami catalepsy menjadi meluas ke
bagian tubuh yang lain. Di bawah lagi ada level medium trance dengan ciri atau
karakteristik berupa catalepsy pada kelompok otot besar yang mengakibatkan
seseorang tidak bisa bergerak, tidak bisa bangkit dari kursi, atau tidak bisa jalan. Pada
level ini seseorang juga bisa mengalami aphasia atau kesulitan berbicara karena
mendapat sugesti demikian.

Di bawah medium trance terdapat level threshold of somnambulism yang merupakan


level kedalaman minimal untuk melakukan hipnoterapi yang efektif. Kedalaman ini
minimal harus dicapai agar teknik advanced seperti hypno analysis, age regression,
ego state therapy, dan forgiveness therapy dapat dilakukan secara efektif dan mudah.
Ciri utama pada level ini adalah terjadinya amnesia (klien menjadi lupa sesuatu) dan
analgesia (berkurangnya intensitas rasa sakit). Di bawah lagi terdapat level full
somnambulim. Pada level ini klien menjadi sangat sugestif dan bila diberikan suatu
sugesti maka pengaruh sugesti akan bertahan (sangat) lama.

Kedalaman ini mutlak dibutuhkan untuk melakukan anestesi (untuk operasi dan
melahirkan) atau untuk age regression. Level ini tidak cocok untuk teknik direct
suggestion yang bertujuan melakukan perubahan perilaku seperti menghentikan
kebiasaan merokok, atau menggigit jari. Satu ciri utama pada level ini adalah
possitivie hallucination. Level paling dalam pada skala Harry Arons adalah profound
somnambulism. Level ini mencakup semua hal positif dari level full somnambulim
dan ditambah dengan kemampuan negative hallucination.

Level profound somnambulism ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih menarik
dan dahsyat. Namun untuk kebutuhan terapi kita, hipnoterapis, hanya perlu membawa
klien maksimal mencapai level ini. Tepat di bawah profound somnambulism terdapat
level Esdaile atau yang juga dikenal dengan hypnotic coma. Satu hal yang perlu
dipahami yaitu kondisi hypnotic coma ini tidak sama dengan kondisi medical coma.
Kondisi Esdaile ini adalah kondisi di mana seseorang merasa begitu senang dan
bahagia. Ini adalah kondisi euphoria. Orang yang masuk ke dalam kondisi ini

biasanya tidak mau keluar dari kondisi ini karena begitu enak dan nikmatnya
kondisi ini, semua masalahnya hilang, semua sempurna adanya. Jika seorang klien
atau subjek masuk ke kondisi ini maka dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa
membawa klien keluar. Jika tidak, maka klien akan terus berada di level ini.

Level Esdaile tidak cocok untuk terapi karena pada kondisi ini pikiran kita tidak bisa
menerima sugesti apapun. Level ini digunakan untuk total anestesia, untuk painless
childbirthing atau melahirkan tanpa rasa sakit, stress management, dan bisa
digunakan oleh dokter untuk membantu mengembalikan posisi tulang atau otot
pasiennya, dengan cara mengurut bagian yang dislokasi, saat pasien berada di kondisi
Esdaile. Dari level profound somnambulism subjek/klien dapat dibawa turun ke level
Esdaile dengan cepat dan mudah, hanya membutuhkan waktu sekitar 4 menit saja. Di
bawah level Esdaile terdapat level catatonic. Ini adalah kondisi di mana tubuh subjek
atau klien menjadi plastis tapi kaku/terkunci, tanpa pemberian sugesti, dan bisa
diposisikan pada posisi/postur tertentu dalam waktu yang lama dan postur itu sama
sekali tidak akan berubah. Level ini tidak digunakan dalam terapi.

Lebih dalam lagi terdapat level hypnosleep. Level kedalaman ini pertama kali
diungkapkan oleh Hyppolite Bernheim di bukunya yang mashyur Hypnosis And
Suggestion In Psychotherapy yang ditulis pada tahun 1884. Walaupun Bernheim
mengungkapkan level hypnosleep ia tidak menjelaskan teknik untuk mencapai level
ini. Dave Elman adalah hipnoterapis jenius yang menemukan teknik yang efektif
untuk membawa seseorang masuk ke level ini dan melakukan terapinya. Pada level
hypnosleep semua filter mental yang ada di pikiran bawah sadar tidak bekerja.

Sugesti apapun yang diberikan pada level ini akan diterima sepenuhnya oleh pikiran
bawah sadar.

Level relaksasi pikiran paling dalam, hingga saat ini, yang bisa dicapai seseorang
adalah level Sichort atau juga dikenal dengan nama ultra depth. Level ini ditemukan
oleh Walter Sichort dan mempunyai manfaat yang berbeda dengan kondisi relaksasi
mental di atasnya. Saat seseorang berhasil mencapai level Sichort maka ia dapat
membantu orang lain melalukan self healing melalui penggunaan teknik Mind-ToMind Healing. Pada teknik ini terapi terjadi secara otomatis di antara dua pikiran
bawah sadar. Terapis sama sekali tidak bisa mempengaruhi atau mengarahkan proses
terapi. Terapi terjadi, diarahkan,dan dilakukan hanya oleh pikiran bawah sadar.
Sejauh ini, dalam dunia hipnoterapi, dan masih dalam tahap eksperimen, terdapat 3
(tiga) level di atas NWC yaitu
a). Level higher self consciousness,
b). Super consciousness, dan
c). Level ultra height.

8. Cara kerja hipnotis


Hipnosis murni merupakan kekuatan pasien untuk memfokuskan perhatian pada
sesuatu. Sehingga hipnosis, apapun peruntukannya, akan dapat bekerja jika pasien
menghendakinya. Jika pasien tidak menghendaki untuk di-hipnosis, maka sehebat
apapun hipnotis yang meng-hipnosis pasien, tidak akan berhasil. Semua tergantung
kesediaan pasien.

9. Efek negatif dan efek positif hipnoterapi


Kelebihan hipnoterapi adalah murah, karena bisa dilakukan sendiri. Hipnoterapi juga
relatif lebih efektif menghilangkan rasa nyeri dibandingkan pengobatan analgesik,
termasuk morfin sekalipun. Hipnoterapi juga aman tanpa efek negatif seperti efek
ketergantungan. Walaupun relatif aman, hipnoterapi mempunyai efek samping. Pada
beberapa pasien bia menimbulkan abreaksi. Suatu keadaan dimana pasien keluar dari
rekaman bawah sadarnya secara serentak. Akibatnya bisa menimbulkan rasa
kekesalan atau kesedihan secara berlebihan, reaksinya pasien bisa tidak terkendali,
namun kondisi biasanya tidak berlangsung lama dan bisa dikendalikan oleh terapis.

E. Penelitian Terkait
1. Penelitian yang dilakukan oleh Subiyanto,2007. yakni pengaruh terapi hipnotis
untuk menurunkan sensasi nyeri dalam asuhan keperawatan pasien pasca bedah
oerthopedi, yang mengidentifikasi beberapa karakteristik dari 30 responden, 15
kelompok intervensi dan 15 kelompok kontrol. Hasil analisis terhadap 15
responden intervensi menunjukkan bahwa telah didapatkan rata-rata penurunan
tingkat sensasi nyeri setelah diberikan terapi kombinasi antara analgetik dan
hipnosis p= 0,63 dengan standar deviasi 0,719 dengan 12 orang yang mengalami
penurunan tingkat nyeri pada kelompok intervensi adalah 0,80 (80%). Sedangkan
pada kelompok kontrol dari 15 responden, 8 diantaranya mengalami penurunan
frekwensi nyeri 0,53 (53%). Maka pada kelompok intervensi lebih efektif
daripada kelompok kontrol setelah diberikan kombinasi terapi analgetik dan

hipnosis jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya mendapatkan


terapi analgetik sebagai terapi tunggal untuk mengatasi nyeri.

2. Abidin (2001) pada penelitiannya tentang pengaruh teknik relaksasi imajinasi


terhadap pengurangan tingkat nyeri pada klien post operasi fraktur dengan
menggunakan desain Quasi Eksperiment yang dilakukan terhadap klien
dengan post operasi fraktur yang hasilnya : relaksasi otot dan teknik relaksasi
imajinasi dapat menurunkan nyeri dan membuat rasa nyaman p= 0,448 dengan
standar deviasi 0,971 dengan penurunan intensitas nyeri pada kelompok intervensi
adalah 0,50 (50%) pada 10 responden pada kelompok intervensi. Sedangkan pada
kelompok kontrol hanya 1 responden (10%) yang mengalami penurunan
intensitas nyeri dari 10 responden. Maka dari penelitian yang telah dilakukan
terbukti terdapat pengaruh teknik relaksasi imajinasi dan relaksasi otot terhadap
pengurangn tingkat nyeri antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.

3. Waluyo (2004) pada penelitiannya tentang Efektifitas Imajinasi Terbimbing


Terhadap persepsi Nyeri Pasien Post Operasi Mayor Hari Pertama, yang
mengidentifikasi 10 responden yang diberikan imajinasi terbimbing, 9
diantaranya menunjukan ada penurunan persepsi nyeri yang significant (90%)
pada kelompok intervensi. Sedangkan pada kelompok kontrol 6 dari 10 responden
yang mengalami penurunan nyeri dengan relaksasi otot (60%).

4. Solehati (2008) pada penelitiannya tentang Pengaruh Teknik Benzon Relaksasi


terhadap Intensitas nyeri dan kecemasan klien post seksio sesaria. Hasilnya dari

30 responden pada kelompok intervensi, 20 diantaranya mengalami penurunan


nyeri dan kecemasan berkurang (66,7%). Sedangkan pada kelompok kontrol dari
30 responden, hanya 12 responden yang kecemasannya berkurang (40%) dan
hanya 5 orang yang mengalami penurunan nyeri (16,7%).

F. Kerangka teori
Berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang terkait dengan judul penelitian
dan hasil penelitian yang terkait dengan judul penelitian, maka susunan kerangka
teori adalah sebagai berikut:

1. Nyeri
ringan
2. Nyeri
berat

Trauma

Fraktur tulang

Terputusnya kontuinitas
jaringan antar tulang

Persepsi nyeri

Transduksi

Transmisi

Intervensi medik
dan keperawatan

Nyeri

Farmakologi
1. Analgetik
2. Antibiotik
Non farmakologi
1. Accupuntur
2. Block nervus
3. Elektrik
stimulation
4. Pembedahan
5. Biofedback
6. Hipnotis

Modulasi

Respon
pasien
terhadap
nyeri:
1. Respon
Fisiologi
2. Respon
Perilaku
3. Upaya
Kognitif
Untuk meNgelolah
Nyeri.

Trauma akibat dari suatu keadaan seperti infeksi, tumor, cancer, pukulan langsung,
gerakan puntir mendadak, kontraksi otot ekstrem dan gaya meremuk bisa menyebabkan
fraktur dan terjadi terputusnya kontuinitas jaringan antar tulang, sehingga mengakibatkan
timbulnya nyeri. Nyeri dibentuk melalui tiga proses yaitu transduksi (pembentukan
reseptor nyeri), transmisi (pembentukan zat penghasil nyeri yaitu bradikinin dan subtansi
P dari serabut delta-a dan delta-c). Tindakan medis atau keperawatan dalam mengatasi
nyeri adalah teknik farmakologi dan non farmakologi salah satunya teknik hipnotis, yang
mengaktifkan proses modulasi (stimulus pengontrol nyeri) yang akan membentuk
mekanoreseptor untuk merangsang neuron beta-a untuk melepaskan neurotransmiter
penghambat yaitu endorfin dan dinorfin (zat pembunuh nyeri) yang berperan menutup
mekanisme gerbang pertahanan nyeri dengan menghambat pelepasan zat substansi-P,
sehingga nyeri dapat berkurang.