Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI HEWAN
KEMAMPUAN KERJA HEWAN

Oleh :
KELOMPOK IX
Anggota :
1. Azizah Nurmalinda

(0810421005)

2. Boby Hariadi

(0810422025)

3. Dwi Nofa Rina

(0810422031)

4. Lili Dian Pertiwi

(0810423073)

5. Mida Yulia Murni

(0810421010)

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2010

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semua organisme memerlukan suatu suplai yang relatif baik akan bahan dan energi dari
lingkungannya agar tetap hidup. Bagi kebanyakan, suplai utama akan energi berasal dari
moleku-molekul organik yang agak kompleks, kaya energi, yang secara langsung atau tak
langsung dijamin oleh lingkungan. Nutrisi yang mencakup kebergantungan pada molekulmolekul organik yang tersedia sebelumnya dinamakan nutrisi heterotrofik, dan organisme
yang menggunakan macam nutrisi ini disebut heterotrof (Kimball, 1992)
Hewan adalah organisme heterotrof yang memerlukan makanan untuk bahan bakar,
kerangka karbon, dan nutrient esensial. Makanan yang secara nutrisi memadai harus
memenuhi tiga kebuthan yaitu, bahan bakar (energy kimia) untuk semua kerja seluler
tubuh, bahan mentah organik yang dipakai hewan dalam biosintesis (kerangka karbon
untuk membuat banyak molekulnya sendiri), dan nutrient esensial, bahan-bahan yang tidak
dapat dibuat oleh hewan itu sendiri dari bahan mentah apapun dan dengan demikian harus
didapatkan dari makanan dalam bentuk siap pakai (Campbell, 2004)
Hewan mendapatkan bahan bakar (energy kimia) yang memberi energi bagi kerja
sel-sel tubuhnya dari oksidasi molekul organik karbohidrat, protein, dan lemak. Monomer
setiap bahan-bahan ini dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan ATP
melalui respirasi seluler, meskipun umumnya karbohidrat dan lemak merupakan penghasil
bahan bakar utama. Lemak sangat kaya akan energi, oksidasi lemak membebaskan energi
sekitar dua kali jumlah energi yang dibebaskan dari karbohidrat atau protein dalam jumlah
yang sama (Campbell, 2004)
Dalam kehidupan, ada beberapa bagian yang dapat membantu antara organ satu
dengan organ lainnya, contohnya otot. Otot dapat melekat di tulang yang berfungsi untuk
bergerak aktif. Selain itu otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan
mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf. Unit

dasar dari seluruh jenis otot adalah miofibril yaitu struktur filamen yang berukuran sangat
kecil tersusun dari protein kompleks, yaitu filamen aktin dan miosin (Mahbubillah, 2010).
Otot terdiri atas bundel-bundel sel otot. Setiap bundel berada di dalam lembaran
jaringan ikat yang membawa pembuluh darah dan saraf yang mensuplai kebutuhan otot
tersebut. Di setiap ujung otot, lapisan luar dan dalam dari jaringan ikat bersatu menjadi
tendon yang biasanya menempel pada tulang (Tobin, 2005).
Otot rangka memiliki empat karakteristik fungsional sebagai berikut:
1.kontraktilitas; kemampuan untuk memendek karena adanya gaya
2.eksitabilitas; kapasitas otot untuk merespons sebuah rangsang
3.ekstensibilitas; kemampuan otot untuk memanjang
4.elastisitas; kemampuan otot untuk kembali ke panjang normal setelah mengalami
pemanjangan. (Seeley, 2002)

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
-

Untuk mengetahui kemampuan maksimal suatu hewan dalam bentuk kerja angkat
beban dan gerak otot.

Untuk mengetahui hubungan antara berat badan dengan kemampuan kerja hewan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Otot merupakan suatu organ atau alat yang dapat bergerak dan berperan penting bagi
organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma merubah bentuk. Pada sel-sel sitoplasma ini
merupakan benang-benang halus yang panjang disebut miofibril. Apabila sel otot yang
mendapatkan rangasangan maka miofibril akan memendek, dengan kata lain sel otot akan
memendekkan dirinya kearah tertentu (Mahbubillah, 2010)
Otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu berkontraksi,
aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf. Unit dasar dari seluruh jenis
otot adalah miofibril yaitu struktur filamen yang berukuran sangat kecil yang tersusun dari
protein kompleks, yaitu filamen aktin dan miosin. Pada saat berkontraksi, filameb-filamen
tersebut saling bertautan yang mendapatkan energi dari mitokondriadi sekitar miofibil
(Mahbubillah, 2010).
Kontraksi otot dibagi menjadi kontraksi isometrik dan kontraksi isotonik. Pada
kontraksi isometrik (jarak sama), besarnya tekanan meningkat saat proses kontraksi, tetapi
panjang otot tidak berubah. Di sisi lain, pada kontraksi isotonik (tekanan sama), besarnya
tekanan yang dihasilkan otot adalah konstan saat kontraksi, tetapi panjang otot berkurang
(otot memendek). Waktu antara datangnya rangsang ke neuron motoris dengan awal
terjadinya kontraksi disebut fase laten; waktu terjadinya kontraksi disebut fase kontraksi,
dan waktu otot berelaksasi disebut fase relaksasi (Seeley, 2002).
Terdapat pula macam macam otot yang berbeda pada vertebrata. Pertama adalah
otot jantung, yaitu otot yang menyusun dinding jantung. Otot polos terdapat pada dinding
semua organ tubuh yang berlubang (kecuali jantung). Kontraksi otot polos yang umumnya
tidak terkendali, memperkecil ukuran struktur-struktur yang berlubang ini. Pembuluh
darah, usus, kandung kemih dan rahim merupakan beberapa contoh dari struktur yang
dindingnya sebagian besar terdiri atas otot poos. Sehingga kontraksi otot polos
melaksanakan bermacam-macam tugas seperti meneruskan makanan kita dari mulut ke
saluran pencernaan, mengeluarkan urin, dan mengirimkan bayi ke dunia.Otot kerangka,
seperti namanya, adalah oto yang melengkat pada kerangka. Otot ini dikendalikan dengan

sengaja. Kontraksinya memungkinkan adanya aksi yang disengaja seperti berlari, berenang,
mengerjakan alat-alat, dan bermain bola. Akan tetapi, apabila otot jantung, otot polos,
ataupun otot kerangka atau lurik memeberikan suatu ciri, maka otot tersebut merupakan
alat yang menggunakan energi kimia dan makanan untuk melakukan kerja mekanisme
(Mahbubillah, 2010).
Berdasarkan Campbell (2004), sebuah potensial aksi tunggal akan menghasilkan
peningkatan tegangan otot yang berlangsung sekitar 100 milidetik atau kurang yang disebut
sebuah kontraksi tunggal. Jika potensial aksi kedua tiba sebelum respons terhadap potensial
aksi pertama selesai, tegangan tersebut akan menjumlahkan dan menghasilkan respons
yang lebih besar. Jika otot menerima suatu rentetan potensial aksi yang saling tumpang
tindih, maka akan terjadi sumasi yang lebih besar lagi dengan tingkat tegangan yang
bergantung pada laju perangsangan.
Filamen-filamen tebal pada vertebrata (makhluk hidup bertulang belakang) hampir
sebagian besar tersusun dari sejenis protein yang disebut Miosin. Molekul miosin terdiri
dari enam rantai polipeptida yang disebut rantai berat dan dua pasang rantai ringan yang
berbeda (disebut rantai ringan esensial dan regulatori, ELC dan RLC). Miosin termasuk
protein yang khusus karena memiliki sifat berserat (fibrous) dan globular (Anonimous,
2010).

Mekanisme kerja otot


Otot bekerja dengan kontraksi dan relaksasi. Pada otot lurik terdapat aktin dan miosin yang
mempunyai daya berkerut membentuk aktomiosin. Bila aktin mendekat ke miosin makan
otot akan berkontraksi, sebaliknya bila aktin menjauhi miosin makan otot akan relaksasi.
Energi untuk kontraksi otot berasal dari penguraian molekul ATP, yaitu sebagai
berikut :
ATP

ADP + P + energi

ADP

AMP + P + energi

Kreatinfosfat adalah sumber energi cadangan yang dapat melepaskan P untuk disintesakan
dengan ATP sehingga membentuk glikogen. Sedangkan glikogen adalah gula otot yang
merupakan zat makanan cadangan (polisakarida) yang tidak larut dalam air (Teddy, 2008)

Komponen penyusun utama filamen tipis ialah Aktin. Aktin merupakan protein
eukariotik yang umum, banyak jumlahnya, dan mudah didapati. Aktin didapati dalam
wujud monomer-monomer bilobal globular yang disebut G-aktin yang secara normal
mengikat satu molekul ATP untuk tiap-tiap monomer. G-aktin itu nantinya akan
berpolimerisasi untuk membentuk fiber-fiber yang disebut F-aktin. Polimerisasi ini
merupakan suatu proses yang menghidrolisis ATP menjadi ADP dengan ADP yang
nantinya terikat pada unit monomer F-aktin. Sebagai hasilnya, F-aktin akan membentuk
sumbu rantai utama dari filamen tipis (Anonimous, 2010)
Tiap-tiap unit monomer F-aktin mampu mengikat sebuah kepala miosin (S1) yang
ada pada filamen tebal. Mikrograf elektron juga menunjukkan bahwa F-aktin merupakan
deretan monomer terkait dengan urutan kepala ekor-kepala. Maka dari itu, F-aktin memiliki
wujud yang polar. Semua unit monomer F-aktin memiliki orientasi yang sama dilihat dari
sumbu fiber. Filamen-filamen tipis itu juga memiliki arah yang menjauhi disk Z. Sehingga
kumpulan-kumpulan filamen tipis yang menjulur pada kedua sisi disk Z itu memiliki
orientasi yang berlawanan. Komposisi miosin dan aktin masing-masing sebesar 60-70%
dan 20- 25% dari protein total pada otot. Sisa protein lainnya berkaitan dengan filamen tipis
yakni Tropomiosin dan Troponin. Troponin terdiri dari tiga subunit yaitu TnC (protein
pengikat ion Ca), TnI (protein yang mengikat aktin), dan TnT (protein yang mengikat
tropomiosin) (Anonimous, 2010)
Kontraksi otot kerangka dikendalikan oleh system syaraf. Jika ada yang
menghadang berlalunya impuls syaraf melalui neuron motor menuju suatu otot, maka otot
itu menjadi lumpuh. Otot kerangka agak berbeda dalam hal ini dengan otot polos dapat
berkontraksi tanpa dirangsang oleh system syaraf. Saraf simpatik dan parasimpatik menuju
otot jantung dan polos, tetapi pengaruhnya adalah memodifikasi laju dan/ atau kekuatan
kontraksi. Otot kerangka sebaliknya sepenuhnya bergantung pada restimulasi syaraf untuk
kontraktilitasnya.Impuls yang menjalar ke neuron motor pada system sensori somatic
menyebabkan serabut-serabut otot keragka itu untuk berkontraksi di tempat berakhirnya.
(Kimball, 1992)
Termoreseptor yang merespon terhadap panas atau dingin, membantu mengatur
suhu tubuh dengan cara mendeteksi suhu permukaan dan bagian dalam tubuh. Masih

terdapat

perdebatan

mengenai

identitas

termoreseptor

pada

kulit

mamalia.

Kemungkinannya adalah dua reseptor yang terdiri atas satu dendrite bercabang dan
berkapsul. Ada suatu kesepakatan bahwa reseptor dingin dan panas pada kulit, dan
interotermoreseptor pada hipotalamus anterior otak, mengirimkan informasi ke thermostat
tubuh, yang berlokasi di hipotalamus posterior.(Campbell, 2004)
Proprioseptor adalah reseptor indera yang didistribusikan di seluruh otot kerangka
dan tendon. Regangan atau kontraksi otot memicu reseptor ini untuk mengawali impuls
saraf. Pada gilirannya hal tersebut memungkinkan otak untuk menentukan keadaan
kontraksi otot tersebut. Jika seseorang mulai kehilangan keseimabangan, otaknya diberitahu
oleh proprioseptor dari kaki dan dengan sentakan dilakukan aksi untuk membetulkannya.
Aksi berbagai otot yang terkoordinasi dan waktunya sesuai memerlukan bahwa otak harus
secara terus menerus diberikan informasi mengenai perbuatan otot masing-masing
(Kimball, 1992)

BAB III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum yang berjudul Kemampuan Kerja Hewan ini dilakukan pada hari Selasa
tanggal 26 Oktober 2010 di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan Biologi,Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengertahuan Alam, Universitas Andalas.

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini yaitu, kandang mencit, bak
berisi air, sarung tangan, logam beban(ring) yang diketahui beratnya, tali pengikat beban,
timbangan, stopwatch, alat ukur, alat tulis dan mencit.

3.3 Prosedur Kerja


Sediakan mencit yang diketahui umurnya, jenis kelamin dan timbang berat badannya.
Selanjutnya pasangkan beban yang bervariasi beratnya (minimal 3 level beban) kepada
mencit di bagian ekor atau dikalungkan dileher. Setelah beban terpasang, tempatkan mencit
didalam bak air disatu sisi dan amati kemampuan renangnya untuk mencapai sisi lainnya
yang berseberangan. Hitung kecepatan mencit tersebut untuk mencapai sisi lainnya tersebut
dalam satuan detik. Lakukan secara berulang sesuai variasi beban yang digunakan. Catat
waktu dan hitung kecepatan mencit dalam berenang dengan beberapa level beban lalu
analisis data dan sajikan dalam bentuk grafik hubungan beban dengan kecepatan gerak
mencit.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari percobaan yang dilakukan maka didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.1.1. Data Fisik dan Fisiologis Mencit serta level beban perlakuan
No.

Parameter Pengukuran

Nilai

Jenis kelamin encit

Jantan

Perkiraan usia

Berat badan mencit

20 gram

Bobot beban level 1

10 gram

Bobot beban level 2

20 gram

Bobot beban level 3

30 gram

Panjang lintasan renang

60 Cm

2 atau 3 bulan

Tabel 4.1.2. Hasil Pengamatan Kemampuan Kerja (Berenang)


No.

Perlakuan (Level Beban)

Waktu tempuh (s)

Kecepatan gerak (m/s)

Tanpa Beban

2,39 detik

0,25

Level 1

14,31 detik

0.04

Level 2

28,67 detik

0.02

Level 3

Grafik Hubungan Berat Beban Dengan Kecepatan Gerak Mencit


kecepatan gerak
35
30
25
20
kecepatan gerak

15
10
5
0
0

10

20

30

40

4.2 Pembahasan
Dari data yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa hubungan berat beban dengan
kecepatan gerak mencit berbanding terbalik, hal ini dapat dilihat dari grafik perbandingan
antara berat beban dengan kecepatan gerak mencit. Selain itu asupan nutrisi yang diperoleh
mencit juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kekuatan mencit dalam
mengangkat beban. Apabila nutrisi yang dibutuhkan terpenuhi, maka kecepatan mencit
dalam berenang dan membawa beban juga akan berbeda dengan mencit yang kekurangan
asupan nutrisi. Faktor lain yang juga mempengaruhi kecepatan mencit dalam berenang
yaitu, jenis kelamin, umur, bobot badan, dan kondisi fisik serta fisiologis hewan tersebut.
Diantara waktu-waktu makan atau ketika kalori yang dimakan lebih sedikit
dibandingkan dengan kalori yang dikeluarkan (saat olahraga berat, misalnya) bahan bakar
akan diambil dari tempat penyimpanan dan dioksidasi, dan bias terjadi penurunan bobot
tubuh. Seekor hewan lain yang kurang makan (undernourished) adalah individu yang
makanannya defisien (kekurangan) akan kalori. Ketika jumlah kalori sangat berkurang
dalam jangka waktu yang lama, tubuh mulai merombak proteinnya untuk menjadi bahan
bakar, otot mulai mengecil dan otak dapat menjadi defisien akan protein (Campbell, 2004)

Semakin tinggi laju metabolisme, jaringan tubuh hewan yang lebih kecil
memerlukan laju pengiriman lajun pengiriman oksigen ke jaringan yang lebihg tinggi
secara proporsional. Berkorelasi juga dengan laju metabolismenya yang tinggi itu, mamalia
yang lebih kecil juga memiliki laju respirasi, volume darah (relative terhadap ukuran
tubuhnya) dan laju denyut jantung yang lebih tinggi. Setiap gram mencit misalnya,
mengkonsumsi energy sekitar sepuluh kali lebih besar dari pada satu gram gajah (meskipun
keseluruhan individu gajah itu mengkonsumsi lebih banyak kalori dari pada keseluruhan
individu mencit itu). Hal ini membuktikan bahwa laju metabolism per gram berbanding
terbalik dengan ukuran tubuh diantara hewan-hewan yang serupa. (Campbell, 2004)

BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Mencit tidak akan mampu membawa beban yang melebihi berat badannya
2. Hubungan berat beban dengan kecepatan gerak mencit berbanding terbalik
3. Kemampuan kerja hewan tergantung pada kapasitas energy seluler yaitu, jenis
kelamin, umur, bobot badan, dan kondisi fisik serta fisiologis hewan.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada praktikum ini adalah:
1. Mencit yang digunakan harus dalam keadaan sehat
2. Usia mencit yang digunakan jangan terlalu kecil

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2010. http://www.docstoc.com/docs/7098915/SISTEM-OTOT-utuh/. Diakses


pada tanggal 1 November 2010
Campbell, N.A., J.B. Reece, L.G. Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III. Erlangga,
Jakarta
Campbell, Neil A. 2004. Biologi Jilid III. Erlangga: Jakarta
Kimball, John W. 1992. Biologi Jilid II. Erlangga: Jakarta
Mahbubillah, Ainul.2010. Sistem Otot. http://marinebiologi.blogspot.com/2010/06/sistemotot.html. diakses pada 1 November 2010
Seeley, R.R., T.D. Stephens, P. Tate. 2002. Essentials of Anatomy and Physiology fourth
edition. McGraw-Hill Companies
Tobin, A.J. 2005. Asking About Life. Thomson Brooks/Cole, Canada
Teddy, 2008. Gerak Pada Hewan. http://tedbio.multiply.com/journal/item/. Diakses pada
31 Oktober 2010