Anda di halaman 1dari 41

BAB II

KERUSAKAN OTAK PADA ANAK DENGAN DYSLEXIA DITIJAU DARI


KEDOKTERAN
2.1. Anatomi Hemispharum Cerebri
2.1.1 Struktur Cerebri

Gambar 1. Hemispher cerebri


(Sumber : Sobotta, 2007)

Hemispharum cerebri dibagi menjadi dua lobus yaitu Hemispharum


cerebri dextra dan sinistra yang membentuk bagian terbesar otak.
1. Korteks serebral
Terdiri dari enam lapis sel dan serabut saraf. Ketebalam mereka masingmasing berbeda diberbagai area serebrum.
2. Ventrikel I dan II (Ventrikel Lateral)
Terletak pada Hemisfer Serebral.

3. Korpus Kalosum
Setiam hemisfer dibagi oleh fisura (ceruk dalam) dan sulkus (ceruk
dangkal) menjadi empat lobus (Frontal, Parietal, Occipitale dan
Temporal).
4. Fisura longitudinal, membagi cerebellum menjadi hemisfer kiri dan
kanan.
a. Fisura transversal, memisahkan hemisfer sereblal dari serebelu.
b. Sulkus pusat, memisahkan lobus frontal dari lobus parietal.
c. Sulkus lateral, memisahkan lobus frontal dan temporal.
d. Sulkus parieto occipital, memisahkan lobus parietal dan occipital.
5. Girus
Permukaan hemisfer serebral memiliki semacam konfulsi yang disebut
girus. Fungsi girus meliputi;
a. Girus pracentral, pada setiap hemisfer terletak dalam lobus
frontal. Tepat didepan fisura sentral. Girus ini mengandung
neuron yang bertanggung jawab untuk aktivitas motorik
volunteer.
b. Girus postsentral, terletak tepat dibelakang fisura sentral,
mengandung neuron yang terlibat dalam aktifitas sensorik.

2.1.2. Area Fungsional Korteks Serebral


Area fungsional korteks serebral meliputi area motorik primer, area
sensorik primer, dan area asosiasi atau sekunder :
1. Area motorik primer pada korteks
2

a. Area motorik primer terdapat pada girus presentral. Disini


neuron

(piramidal)

mengendalikan

kontraksi

volunteer

ototrangka. Aksonnya menjalar pada trakus pyramidal.


b. Area pramotorik korteks terletak tepat di sisi anterior girus
presentral. Neuron (ekstrapiramidal) mengendalikan aktivitas
motorik yang terlatih yang berulang seperti mengetik.
c. Area broca terletak di sisi anterior area premotorikpada tepi
bawahnya. Area ini mungkin hanya ada pada satu hemisfer
saja(biasanya sebelah kiri) dan dihubungkan pada kemampuan
bicara.
2. Area sensorik korteks
a. Area sensorik primer terdapat pada girus postsentral. Disini
neuron meberima informasi sensorik umum yang berkaitan
dengan nyeri, tekan, suhu, sentuhan dan propiosepsi dari
tubuh.
b. Area visual primer terletak dalam lobus oksipital dan
menerima informasi dari retina mata.
c. Area auditori primer terletak pada tepi atas lobus temporal,
menerima impuls saraf yang berkaitan dengan pendengaran.
d. Area olfaktori primer terletak pada permukaan medial lobus
temporal, berkaitan dengan indra penciuman.
e. Area pengecap primer (gustatori) terletak pata lobus parietal
dekat dengan bagian inferior girus postsentral, terlibat dalam
persepsi rasa.

3. Area asosiasi
a. Area asosiasi frontal, yang terletak pada lobus frontal, adalah
sisi fungsi intelektual dan fisik yang lebih tinggi.
b. Area asosiasi somatic (somestetik), yang terletak pada lobus
parietal, berkaitan dengan interpretasi bentuk dan tekstur suatu
objek dan keterkaitan bagian-bagian tubuh secara posisional.
c. Area asosiasi visual, terletak pada lobus oksipital, area
asosiasi auditorik , yang terletak pada lobus temporal berperan
untuk menginterpretasikan pengalaman visual dan auditori.
d. Area wicara wernicke terletak pada bagian superior lobus
temporal, berkaitan dengan pengertian bahasa dan formulasi
wicara. Bagian ini berhubungan dengan bagian wicara broca.
4. Lateralisasi otak dan dominasi serebral
Kedua hemisfer serebral strukturnya simetris tetapi beberapa
fungsinya tidak simetris.
a. hemisfer dominan berkaitan dengan bahasa, wicara, analisis
dan kalkulasi.
b. Hemisfer non-dominan bertanggung jawab untuk persepsi
spasial dan pemikiran non-verbal atau ide.
5. Traktus serebral
Substansi putih serebrum tersusun dari tiga jenis serabut.
a. traktus asosiasi panjang dan pendek, menghubungkan neuronneuron pada hemisfer yang sama.

b. Serabut komisura, menghubungkan satu hemisfer ke area


koresponden pada hemisfer lain, misalnya; korpus kalosum.
c. Serabut proyeksi, adalah bagisan dari jalur asenden dan
desenden yang keluar masuk beuron, terletak dibagian lain
otak.
6. Ganglia basal
Adalah kepulauan substansi abu-abu (neuron) yang terletak jauh
dari subtansia putih serebrum. Pulau-pulau ini merupakan nucleus
berpasangan yang berasosiasi dengan pergerakan kasar tubuh dan
berhubungan dengan neuron dalam girus presentral. Struktur yang
tercakup dalam ganglia basal meliputi:
a. Nukleus kauda, dinamakan sesuai dengan bentuknya yang
seperti ekor, dihubungkan dengan pergerakan otot rangka tak
sadar.
b. Nucleus amigdeloid, adalah bagian ekor nucleus kauda.
c. Nucleus lentiform, terdiri dari dua bagian, putamen dan globus
palidus. Yang bila disatukan menjadi korpus striatum karena
adanya persilangan pada tampilan serabut termielinisasi dan
tidak termielinisasi. Globus palidus mengatur tonus otot dan
ketepatan gerak otot.
d. Klaustrum, adalah lapisan tipis substansi abu-abu yang
ditemukan diantara putamen dan lobus insular serebrum, yang
terleta jauh di dalam sukus lateral.

2.1.3 Fungsi Otak

Gambar 2. Hemispher cerebri


(Sumber : Sobotta, 2007)

Lobus Frontal
Fungsi lobus frontal
1. Presental gyrus merupakan area motor kontralateral dari wajah,
lengan, tungkai,batang.
2. Area Brocca's merupakan pusat bicara motorik pada lobus dominan.
3. Suplementari motor area untuk gerakan kontralateral kepala dan lirikan
mata.
4. Area prefrontal merupakan area untuk kepribadian dan inisiatif.

5. Lobulus parasental merupakan pusat kontrol inhibisi untuk miksi dan


defikasi.
Gangguan lobus frontal
1. Presentral gyrus: monophlegi atau hemiphlegia
2. Area Brocca: disfasia
3. Suplementari motor area : paralysis kepala dan gerakan bola mata
berlawanan arah lesi, sehingga kepala dan mata kearah lesi hemisfer
4. Area prefrontal: kerusakan sering bilateral karean gangguan
aneurisma a. communican anterior, mengakibatkan gangguan tingkab
laku / kehilangan inhibisi.
Ada 3 sindroma prefrontal :
-

Sindroma orbitofrontal : disinhibisi. fungsi menilai jelek, emosi labil.

Sindroma frontal konveksitas : apati. indiferens. pikiran abstrak.

Sindroma frontal medial: akineti, inkontinen, sparse verbal output

5. Lobulus parasentral : inkontinentia urin at alvi.


Lobus parietal
Fungsi lobus parietal
1. Gyrus postcentral : merupakan kortek sensoris yang menerima jaras
afferent dari posisi, raba dan gerakan pasif.
2. Gyrus angularis dan supramarginal : hemisfer dominan merupakan
bagian area bahwa Wernics, dimana masukkan auditori dan visual di
integrasikan. Lobus non dominan penting untuk konsep " body imge",

dan sadar akan lingkungan luar. Kemampuan untuk kontruksi bentuk,


menghasilkan visual atau ketrampilan proprioseptik. Lobus dominan
berperan pada kemampuan menghitung atau kalkulasi. Jaras visual
radiatio optika melalui bagian dalam lobus parietal.

Gambar 3. Hemispher cerebri


(Sumber : Sobotta, 2007)

Gangguan lobus parietal


1. Gangguan korteks sensoris dominan / non - dominan menyebabkan
kelainan sensori kortikal berupa gangguan : sensasi postural, gerakan
pasif, lokalisasi akurat raba halus, " two points discrimination",
astereognosia," sensory inattention"
2. Gyrus angularis dan supramarginal : aphasia Wernicke's
3. Lobus non - dominan : anosognosia (denies), dressing apraksia,
geografikal agnosia, konstruksional apraksia.
4. Lobus dominan : Gerstsman sindroma : left & right disorientasi, finger
agnosia, akalkuli dan agrafia.
5. Gangguan radiasio optika : homonim kuadrananopsi bawah.

Lobus Temporal

Gambar 4. Hemispher cerebri


(Sumber : Sobotta, 2007)

Fungsi lobus temporal


1. Kortek auditori terletak pada permukaan gyrus temporal superior ( =
gyrus Heschl). Hemisfer dominan penting untuk pendengaran bahasa,
sedangkan hemisfer non-dominan untuk mendengar nada, ritme dan
musik.
2. Gyrus temporalis media & inferior berperan dalam fungsi belajar &
memori.
3. Lobus limbic : terletak pada bagian inferior medial lobus temporal,
termasuk hipokampus & gyrus parahipokampus. Sensasi olfaktoris
melalui jaras ini, juga emosi / sifat efektif. Serabut olfaktori berakhir
di uncus.
4. Jaras visual melalui bagian dalarn lobus temporal sekitar cornu
posterior ventrikel lateral.

Gangguan lobus Temporal


1. Kortek auditori : tuli kortikal. Lobus dominan ketulian untuk
mendengar

pembicaraan atau amusia pada lobus non - dominan

2. Gyrus temporal media & infrior : gangguan memori / belajar


3. Kerusakan lobus limbic : halusinasi olfaktori seperti pada bangkitan
parsia komplek. Agresif / kelakuan antisosisal, tidak mampu untuk
menjaga memori baru.
4. Kerusakan radiasio optika : hemianopsi homonim kuadranopia bagian
atas.
Lobus Occipital

Gambar 5. Hemispher cerebri


(Sumber : Sobotta, 2007)

Gangguan fungsi lobus occipital


1. Lesi Kortikal
Lesi kortikal memberikan gejala homonim dengan / tanpa kelainan
macula. Bila hanya kutub occipital terkena maka kelainan macula dengan
penglihatan perifer normal. Buta kortikal : Karena lesi kortikal yang luas,

10

reflek pupil normal & persepsi cahaya (- ). Anton's sindroma : Kerusakan


striata dan para striata menyebabkan kelainan interpretasi visual. Pasien
tidak sadar buta dan menyangkal. Karena kelainan arteri cerebri posterior,
juga dapat mengikuti hipoksia & hipertensi ensefalopati. Balin sindroma :
tidak bisa melirikkan mata volunteer disertai visual agnosia, karena lesi
parieto-occipital bilateral.
2. Halusinasi visual
Halusinasi karena lesi occipital biasanya sederhana, tampak
sebagai pola (zigzag, kilatan) dan mengisi lapangan hemianopsi, sedang
halusinasi karena lobus temporal berupa bentuk komplek clan mengisi
seluruh lapang pandang.
3. Ilusi visual
Distoris bentuk, hilangnya warna, makropsia / mikrosia, sering
pada lesi non - dominan.
4. Prosopagnosia
Pasien mengenal wajah orang tidak bisa menyebutkan namanya.
5. Dysphasia
Kelainan dapatan yang ditandai dengan hilangnya kemampuan
produksi atau pengertian terhadap pembicara dan/tulisan karena kerusakan
otak sekunder.

11

2.2. Dyslexia Pada Anak


2.2.1. Definisi Dyslexia
Dyslexia ialah kesukaran atau ketidakupayaan menguasai kemahiran
membaca oleh seseorang individu walaupun telah menerima pendidikan yang
mencukupi (Mercer 1997 & Smith 1999). Dyslexia merupakan gangguan yang
paling sering terjadi pada masalah belajar. Kurang lebih 80% penderita gangguan
belajar mengalami disleksia. Disleksia ditandai dengan adanya kesulitan membaca
pada anak maupun dewasa yang seharusnya menunjukan kemampuan dan
motivasi untuk membaca secara fasih dan akurat. (IDAI, 2009).
Dyslexia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata dys yang berarti
kesulitan, dan katalexis yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah
berarti kesulitan dalam berbahasa. Anak disleksia tidak hanya mengalami
kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa
aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak
sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk
kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya
mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas
normal. Dyslexia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan
ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam
pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol.

Beberapa ahli lain mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi


pemprosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali
ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi area
12

kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan


waktu, aspek koordinasi dan pengendalian gerak. Dapat terjadi kesulitan visual
dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek
perkembangan. (Dyslexiaindonesia, 2012)

Kesulitan membaca dapat muncul dalam berbagai bentuk, ada yang dapat
mengeja tetapi tidak dapat membaca dalam kata. Misalnya putih dibaca putu ,
kaki dibaca kika. Ada juga yang membaca terbalik, topi dibaca ipot, minum
dibaca munim. Sulit membedakan huruf b dan d , q dan p , khususnya pada
penulisan huruf kecil. Akibatnya , mereka menulis dapak untuk kata bapak.
Gangguannya terjadi di otak ketika pesan yang dikirim tercampur, sehingga sulit
dipahami. Anak dengan gangguan ini sering frustrasi dan mengalami kesulitan
dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Diluar aspek bahasa, pada anak dengan
disleksia seringkali terdapat gangguan perkembangan lain. Misalnya, konsentrasi
yang buruk, kontrol diri yang kurang, dan clumsy, misalnya, terkadang anak
mengalami kesulitan dalam permainan melempar tangkap bola atau mengikat tali
sepatu. (Chairani, 2003)
Anak dengan disleksia memiliki intelegensia normal atau di atas rata-rata.
Hal itu yang membedakan anak dengan kesulitan belajar spesifik seperti disleksia
dengan kesulitan belajar umumnya (Purboyo, 2010).

13

2.2.2. Epidemioligi Dyslexia


Dyslexia merupakan salah satu masalah tersering yang terjadi pada anak
dan dewasa. Angka kejadiannya di dunia berkisar 5-17% pada ana usia sekolah.
Angka kejadian dyslexia lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan
perempuan yaitu berkisar 2:1 sampai 5:1. Ada juga yang mengatakan bahwa
ternyata tidak terdapat perbedaan angka kejadian antara laki-laki dan perempuan
(IDAI, 2009).
Problem kesulitan belajar membaca paling banyak ditemui dengan suatu
proporsi yang besar, di mana anak-anak lebih dari 50% beresiko kesulitan belajar
membaca, bahkan di estimasikan siswa yang mengalami kesulitan belajar
membaca paling banyak frekuensinya mengalami problem akademik sebesar 90 %
(Bender, 2004). Siswa yang mengalami kesulitan belajar membaca menduduki
peringkat tinggi di antara kesulitan belajar yang lain, prosentasenya gangguan
membaca meliputi 80% dari jumlah anak yang berkesulitan belajar (Pierson,
2002), bahkan ada yang berpendapat hampir 90% anak yang berkesulitan belajar
mengalami kesulitan membaca (Lyon, 1995)
Di antara negara-negara yang mengalami problem kesulitan belajar
membaca, Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki problem kesulitan
belajar membaca. Secara nasional berdasarkan data Dinas Pendidikan kemampuan
membaca siswa SD di Indonesia masih rendah, indeksnya masih 3,5 jauh berada
di bawah indeks Singapura 7,8.
Sampel studi PISA (2001) di Indonesia meliputi 7.355 siswa usia 15 tahun
dari 290 sekolah menengah, menunjukkan sekitar 75.6% siswa Indonesia usia 15

14

tahun memiliki kemampuan membaca yang termasuk tingkat terendah secara


internasional. Menurut data Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD), negara dengan kemampuan membaca tertinggi, saat diukur
pada 2006-2007, adalah Finlandia. Sedangkan negara yang mendapat skor
terendah adalah Tunisia dengan 374,62, kemudian disusul Indonesia (381,59),
Meksiko (399,72), Brazil (402,80), Serbia (411,74). Berdasarkan studi Progress In
International Reading Literacy Study (PIRLS) Internasional Association for the
Evaluation of Educational Achievement (IEA) yang berkantor di Amsterdam,
Belanda di ikuti 40 negara pada tahun 2007, Indonesia dengan sampel penelitian
4.950 siswa dari 170 SD/MI swasta dan negeri Indonesia termasuk memiliki
tingkat kemampuan membaca rendah (IDAI, 2009).

2.2.3. Klasifikasi Dyslexia


Terdapat dua macam dyslexia, yaitu developmental dyslexia dan acquired
dyslexia.
1. Developmental Dyslexia merupakan bawaan sejak lahir dan karena factor
genetis atau keturunan. Penyandang disleksia akan membawa kelainan ini
seumur hidupnya atau tidak dapat disembuhkan. Tidak hanya mengalami
kesulitan membaca, mereka juga mengalami hambatan mengeja, menulis,
dan beberapa aspek bahasa yang lain. Meski demikian, anak-anak
penyandang disleksia memiliki tingkat kecerdasan normal atau bahkan di
atas rata-rata. Dengan penanganan khusus, hambatan yang mereka alami
bisa diminimalkan.

15

2. Acquired dyslexia itu awalnya individu normal, tetapi menjelang dewasa


mengalami cedera otak sebelah kiri dan bisa menyebabkannya menjadi
dyslexia.

Sebagian ahli lain membagi disleksia berdasarkan apa yang dipersepsi oleh
mereka yang mengalaminya yaitu:
1. Persepsi pembalikan konsep ,suatu kata dipersepsi sebagai lawan katanya.
2. Persepsi disorientasi vertical atau horizontal , huruf atau kata berpindah
tempat dari depan ke belakang atau sebaliknya, dari barisan atas ke barisan
bawah dan sebaliknya.
3. Persepsi teks terlihat terbalik seperti di dalam cermin dan
4. Persepsi dimana huruf atau kata-kata tertentu jadi seperti menghilang.

2.2.4. Etiologi dan Faktor Resiko Dyslexia


Di antara etiologi yang berkaitan dengan disleksia adalah seperti keturunan,
otak, masalah penglihatan serta masalah pendengaran. Di antara etiologi masalah
pembelajaran disleksia adalah seperti berikut :
1. Keturunan

Keturunan adalah merupakan salah satu daripada penyebab


masalah dyslexia. Terdapat kaitan di antara DYX1C1 pada kromosom ke15 dengan dyslexia. dan DCDC2 dan KIAA0319 kromosom yang ke-6
berkait dengan masalah dyslexia ini. (Georgiou, 2006).

16

Keturunan adalah merupakan salah satu daripada faktor penyebab


disleksia. Hal ini juga dapat dibuktikan menurut HallgrenMelalui kajian
beliau atas 12 pasangan kembar monozygote dan mendapati kesemua 12
keluarga tersebut menghadapi masalah dalam bacaan dan ejaan semasa
masa kanak-kanak. Hallgren mendapati bahawa masalah disleksia banyak
dihadapi oleh anak lelaki berbanding anak perempuan. Menurut pendapat
John Bradford simpton disleksia juga dihadapi oleh keluarga yang
menggunakan tangan kidal. (Kassan dan Abdullah, 2010 ).
Selain itu, simptom dyslexia juga dihadapi oleh keluarga yang
menggunakan tangan kidal. Menurut pendapat John Bradford

yang

menyatakan bahawa orang tua yang disleksia tidak secara automatik


menurunkan gangguan ini kepada anak-anaknya atau anak kidal yang
dikenalpasti dyslexia tetapi menjadi faktor resiko masalah dyslexia.
(Kassan dan Abdullah, 2010)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika, 80 peratus
daripada seluruh subjek yang diteliti mempunyai sejarah atau latar
belakang anggota keluarga yang mengalami masalah pembelajaran dan 60
peratus daripadanya adalah kidal. Hal ini turut diakui oleh seorang ahli
psikologi

Amerika sekitar tahun 1920-an bernama Orton

yang

mengemukakan perkara yang sama di mana kanak-kanak yang mengalami


masalah ini cenderung untuk menggunakan tangan kidal. (Humfrey P. D.
dan Reason R, 1991).

17

2. Otak

Kajian mengenai perkara ini telah dilakukan kepada seseorang


yang mengalami masalah dyslexia setelah mereka meninggal dunia. Ramai
pengkaji yang menyatakan bahawa terdapat kelainan pada otak individu
yang mengalami disleksia. Di dalam otak seseorang yang mengalami
masalah dyslexia, didapati bahawa bagian temporal bahasa di kedua-dua
belah otak adalah sama tanpa kelebihan normal pada sebelah kiri berbeda
dengan orang biasa yang tidak mengalami dyslexia dimana bagian kirinya
adalah lebih besar daripada bagian kanan Kajian turut menemui bahawa
terdapat tahap perbedaan pada proses fonologi pada individu dyslexia
berbanding orang biasa.
Sebuah studi University of Hong Kong berpendapat bahwa
dyslexia mempengaruhi bagian-bagian struktural yang berbeda dari otak
anak-anak. Bagian-bagian yang dapat mengalami kerusakan adalah
inferior-temporal cortex, angular/supramarginal gyri and inferior frontal
gyrus.
Pemeriksaan functional Magnetic Resonance Imaging yang
dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca
ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu dyslexia jauh berbeda
dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf atau
kata yang dibaca lalu diterjemahkan menjadi suatu makna (Galaburda,
1978 ).

18

3. Kesukaran proses penglihatan

Seseorang

yang

mengalami

masalah

dyslexia

mengalami

perkembangan yang tidak sepatutnya pada sistem magnocellular di


bahagian otak mereka. Sistem ini berhubungan dengan kemampuan untuk
melihat benda yang bergerak. Hal ini seterusnya mengakibatkan objek
yang dilihat oleh mereka adalah lebih kecil. Keadaan ini menyebabkan
proses membaca menjadi lebih sulit kerana otak harus mengenali hurufhuruf secara cepat disamping memproses sejumlah perkataan yang
berbeda selaras dengan mata. (Georgiou, 2010)
Anak-anak dyslexia tidak mampu untuk mengenal huruf atau kata
secara visual. Anak-anak yang mengalami disleksia mungkin mengalami
kesukaran dalam mentaksir rangsangan, sehingga mereka tidak dapat
mengikuti apa yang dilihat menyebabkan kesemua yang dilihat itu
bercampur-aduk. (Kassan dan Abdullah, 2010)
4. Kesukaran proses pendengaran

Menurut Le Jan et.al., ( 2010 ) auditori defisit adalah merupakan


asas defisit persepsi kategori dengan penemuan (Tallal, 1980 ).
5. Makanan

Berdasarkan beberapa kajian dan penemuan terdapat beberapa


unsur penyedap makanan yang dapat mempengaruhi atau mengganggu
fungsi otak dan seterusnya menyebabkan masalah pembelajaran kerana
bahan penyedap makanan tersebut terdapat pencemaran atau racun.
Antaranya adalah 1. Salicylates yang dapat ditemui dalam buahan,
sayuran, kacang, teh kopi bir dan anggur serta obat-obatan, 2. Amines

19

yang digunakan untuk memproses pemecahan protein dan ditemui


terkandung dalam keju, coklat, anggur, bir, tempe dan lain-lain, 3.
Bonzoates yang boleh ditemui dalam buahan, sayuran, kacang, kopi dan
lain-lain. 4. Monosodium glutamate(MSG) yang banyak terkandung dalam
makanan seperti kecap, kerupuk serta banyak lagi, 5. Laktose yang sering
terdapat di dalam susu serta 6. Glutamate yang banyak terdapat pada
tomat, keju, dan estrak daging (Kassan dan Abdullah, 2010 ).
6. Gangguan keterampilan pandangan visual-motorik

Setiap apa yang dilihat pasti melibatkan pergerakan motorik, ada


pergerakan motor halus ataupun motor kasar seperti dalam konteks ini
yiaitu pergerakan mata atau pergerakan mata dan jari pada masa yang
sama. Pergerakan ini muncul apabila adanya dorongan atau ransangan atau
stimulus seperti huruf, dan kata, serta keinginan pembaca untuk
memberikan respons terhadapa stimulus yang ada. Bagi individu yang
mempunyai penglihatan yang baik, pergerakan ketika membaca berpusat
pada mata dan bagi individu yang mempunyai penglihatan yang kurang
baik pula, pergerakannya berpusat jari.
7. Pengalaman pahit atau dasyat ketika kecil ( traumatik )

Pengalaman pahit atau pengalaman yang dasyat ketika kecil akan


memberikan dampak kepada siapa saja tanpa melihat jenis kelamin
maupun umur. Pengalaman tersebut selalunya akan meninggalkan dampak
yang negatif contohnya seperti trauma. Gangguan masa lalu atau
pengalaman

pahit

dapat

menyebabkan

gangguan

fikiran

yang

20

memungkinkan berlakunya masalah dyslexia. (Kassan dan Abdullah,


2010)
8. Kelahiran bayi kurang bulan

Kelahiran bayi lahir kurang bulan bisa menjadi salah satu dari pada
faktor dyslexia. Hal ini kerana bayi yang dilahirkan kurang bulan berisiko
menghadapi berbagai masalah gangguan perkembangan seperti gangguan
otak, perkembangan psikomotor, perilaku, dan juga kesukaran belajar
membaca. (Kassan dan Abdullah, 2010).
9. Penyakit semasa anak-anak

Penyakit yang dialami oleh anak-anak dalam masa yang lau akan
mendatangkan dampak yang negatif kepada anakkanak dari segi kesehatan
dan perkembangan mereka. Di antara contohnya adalah panas tinggi. Jika
penyakit yang dialami oleh mereka bertambah kronik, perkembangan
anak-anak pada masa akan datang akan terjejas bahkan dapat
menyebabkan gangguan dalam pembelajaran. (Kassan dan Abdullah,
2010).
10. Jangkitan kuman ketika ibu hamil

Ibu hamil yang dijangkiti kuman berbahaya adalah sangat berisiko


tinggi terhadap kelahiran tidak normal Contohnya adalah seperti terjangkit
rubella, sifilis dan tuberkulosis yang dapat mengakibatkan janin
mengalami kecederaan atau kecacatan otak. Sekiranya hal ini berlaku, bayi
yang dilahirkan mungkin akan mengalami simptom kesukaran belajar
termasuk kesukaran membaca. (Kassan dan Abdullah, 2010 )

21

2.2.5.1 Masalah Pada Penderita Dyslexia


Penyandang disleksia biasanya mengalami masalah-masalah, seperti :
1. Masalah fonologi
Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik
antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan
membedakan paku dengan palu; atau mereka keliru memahami katakata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya lima puluh dengan
lima belas. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran, tetapi
berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.
2. Masalah mengingat perkataan
Kebanyakan anak disleksia mempunyai level kecerdasan normal
atau di atas normal. Namun, mereka mempunyai kesulitan mengingat
perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman-temannya dan
memilih untuk memanggilnya dengan istilah temanku di sekolah atau
temanku yang laki-laki itu. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu
cerita, tetapi tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang
sederhana (Kassan dan Abdullah, 2010 ).
3. Masalah penyusunan yang sistematis atau berurut
Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara
berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu,
atau susunan huruf dan angka. Mereka sering lupa susunan aktivitas
yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah
pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat
latihan sepak bola. Padahal, orangtua sudah mengingatkannya bahkan

22

mungkin hal itu sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga
mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu.
Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini:
Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang pukul
08.00. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk
meja satu kali. Kadang kala mereka pun bingung dengan perhitungan
uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup
untuk membeli sepotong kue atau tidak.
4. Masalah ingatan jangka pendek
Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang
panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak
untuk Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan
tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi
jangan lupa bawa serta buku PR Matematikanya, ya, maka kemungkinan
besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan
sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya
(Kassan dan Abdullah, 2010 ).
5. Masalah pemahaman sintaks
Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami
tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka
menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang
berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya
apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama.
Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal

susunan diterangkan

23

menerangkan (contoh: tas merah). Namun, dalam bahasa Inggris dikenal


susunan menerangkan-diterangkan (contoh: red bag).

2.2.6

Ciri-ciri Perkembangan Anak dengan Dyslexia

1. Perkembangan fisik
Anak-anak dyslexia selalunya mempunyai fisikal yang sempurna
seperti anak-anak biasa namun hanya berbeda pada pembelajaran mereka.
Anak-anak

yang mempunyai

masalah

pembelajaran

dyslexia

ini

mempunyai masalah untuk membaca seperti kefasihan membaca. Selain


dari pada itu, anak-anak ini juga turut mempunyai masalah dalam mengeja
kerana merka sukar untuk mengingati, berlakunya kesalahan fonologi,
perkataan atau huruf yang tidak mengikut urutan serta keliru mengenai
huruf vokal. Dari segi, penulisan anak-anak ini turut bermasalah, di mana
mereka sukar untuk mengenal serta memperkembangkan kunci penting
yang secara lebih tepat bermaksud tulisan mereka berselerak serta kurang
kemas (Kassan dan Abdullah, 2010).
Anak-anak ini tidak mempunyai cara penulisan yang konsisten.
Huruf besar dan kecil kadangkala bercampur-aduk yang tidak mengikut
peraturan penulisan yang sebenar. Anak-anak ini juga mempunyai masalah
untuk mengorganisasi sesuatu hal. Contohnya adalah seperti lemah untuk
membuat jadual atau barangan yang diperlukan untuk belajar. Dalam
Farrell (2006), turut menyebut bahawa kanak-kanak disleksia ini keliru
mengenal huruf yang mempunyai bentuk atau maksud yang sama.
Contohnya bentuk huruf u dan huruf n serta perkataan bas dan bus,

24

masing-masing dalam Bahasa Melayu dan Bahasa Inggeris yang


mempunyai maksud yang sama. (Reid, 2005 )
2. Perkembangan Kognitif
Lemah pengamatan, kesukaran dalam mengaitkan pengetahuan
dengan pengetahuan baru adalah merupakan di antara masalah yang
berkaitan dengan perkembangan kognitif seseorang anak-anak yang
menghadapi masalah dyslexia. Anak-anak ini lemah terutamanya untuk
memberikan perhatian, ingatan dan pemikiran atau pengolahan semasa
belajar. Terdapat dua jenis masalah pengamatan yang utama iaitu
kelemahan

pengamatan

penglihatan

serta

kelemahan

pengamatan

pendengaran (Kassan dan Abdullah, 2010 )


3. Perkembangan Sosial dan Emosi
Anak-anak yang menghadapi masalah pembelajaran ini biasanya
tidak mempunyai kepercayaan diri apabila berhadapan dengan anak-anak
biasa. walaupun pada peringkat pelajaran yang sama mereka sering
acuhkan oleh murid-murid yang lain. Hal ini berlaku disebabkan mereka
tidak berupaya untuk mengetahui kenapa dan bagaimana untuk menjalin
sesuatu hubungan. Disebabkan oleh masalah itu, anak-anak ini biasanya
bersifat terlalu rendah diri yang seterusnya bisa menyebabkan mereka
bertingkah laku negatif serta menyakiti orang lain. (Kassan dan Abdullah,
2010 ).

25

2.2.7

Manifestasi Dyslexia

Berikut ini adalah tanda tanda dyslexia yang mungkin dapat dikenali oleh
orang tua atau guru:

1. Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya.


2. Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya
essay.
3. Huruf tertukar tukar, misal b tertukar d, p tertukar q, m
tertukar w, s tertukar z.
4. Daya ingat jangka pendek yang buruk.
5. Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar.
6. Tulisan tangan yang buruk.
7. Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung.
8. Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek.
9. Kesulitan dalam mengingat kata-kata.
10. Kesulitan dalam diskriminasi visual.
11. Kesulitan dalam persepsi spatial.
12. Kesulitan mengingat nama-nama.
13. Kesulitan / lambat mengerjakan PR.
14. Kesulitan memahami konsep waktu.
15. Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan.
16. Kebingungan atas konsep alfabet dan symbol.
17. Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari hari
18. Kesulitan membedakan kanan kiri

26

19. Membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya
20. Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (di, ke, pada).
21. Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (menulis dibaca
sebagai tulis).
22. Tidak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak
pernah dijumpai.
23. Tertukar tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batubuta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama). (Dyslexiaindonesia,
2012)

Dalam proses mengenalpasti anak-anak bersimpton dyslexia, terdapat dua


kaedah yang boleh dicadangkan (KPM 2000) iaitu secara ujian dan secara senarai
semak; kaedah senarai semak bertujuan untuk mendapatkan butiran kelemahan
murid jika tahap pencapaian murid ketinggalan sebanyak dua tahun di belakang
pencapaian rakan sebaya. Bagi kaedah ujian seperti Ujian Kecerdasan (IQ), Ujian
Bacaan, Ujian Saringan yang mengandungi soalan-soalan pendek berkaitan
masalah pembelajaran yang dihadapi oleh murid dan Ujian Komprehensif yang
mengandungi aktiviti bacaan, ejaan, lukisan, matematik dan kecerdasan,
penglibatan, literaliti, urutan dan yang berkaitan (Hammond & Hughes 1999).
Selain itu, Rosana (1998) menyatakan bahawa kanak-kanak disleksia dapat
dikesan melalui 8 ciri yaitu:- kosa kata tulisan tidak seimbang dengan kosa kata
lisan, lambat dalam tindakan berlisan, lemah dalam menyusun isi barangan, tahu
pada sesuatu ketika dan lupa pada hari berikutnya, kurang kemahiran mengeja

27

pada tahap yang sepatutnya, faham bahan pengajaean dalam kelas tetapi merosot
dalam ujina, tidak tepat dalam bacaan dan tidak terancang.

2.2.8 Diagnosis Dyslexia


1. Phonological Awareness
Phonological awareness adalah keterampilan yang luas yang
mencakup identifikasi dan memanipulasi unit bahasa lisan, bagian seperti
kata-kata, suku kata, dan onsets dan Rimes. Anak-anak yang memiliki
kesadaran fonologi mampu mengidentifikasi dan membuat sajak lisan,
bisa bertepuk keluar jumlah suku kata dalam sebuah kata, dan dapat
mengenali kata-kata dengan suara awal yang sama seperti 'money' dan
'mother'.
Phonologicar awareness terdiri dari keterampilan yang biasanya
berkembang secara bertahap dan berurutan melalui masa prasekolah akhir.
Mereka dikembangkan dengan pelatihan langsung dan eksposur.
Tes yang dapat digunakan untuk menilai fonologi anak adalah
Comprehensive Test of Phonological (CTOPP). Tes ini mencakup
kepekaan fonologik, analisa fonologik dan menghapal. Tes ini telah
distandarisasi di Amerika Serikat untuk anak usia 5 tahun sampai dewasa.
(IDAI, 2009)

1. Phonological awareness meliputi :

1.

Word Awareness adalah pengetahuan bahwa kata-kata memiliki


makna. Sebagai contoh, mahasiswa perlu tahu bahwa anjing kata

28

yang diucapkan merupakan makhluk yang memiliki empat kaki


dan kulit sebelum ia dapat memahami apa yang dimaksud dengan
kata anjing dicetak.
2.

Rhyme Awareness adalah pemahaman bahwa akhiran tertentu


terdengar sama, dan karena itu mengandung suara yang sama,
seperti pendek / a / dan / p / suara dalam cap dan map atau
panjang / i / dan / t / kombinasi dalam fight dan kite .

3.

Onset and Rime Onset adalah konsonan awal dalam kata satu
suku kata. Rime termasuk suara yang tersisa, termasuk vokal dan
setiap suara yang mengikuti. Misalnya, dalam kite, yang / k /
suara awal, dan / ite / suara rime tersebut.

4.

Syllable Awareness adalah pengakuan bahwa kata-kata yang


dibagi menjadi beberapa bagian, setiap bagian berisi suara vokal
yang terpisah. Seorang mahasiswa dengan kesadaran suku kata
dapat mengidentifikasi bat sebagai satu suku kata dan batter
sebagai dua suku kata.

5.

Phonemic Awareness adalah kesadaran siswa dari unit terkecil


suara dalam kata. Seorang mahasiswa dengan kesadaran fonemik
mendengar tiga suara dalam kelelawar kata: / b /, / a /, dan / t /.

2. Lexical acces adalah proses dimana suara yang berarti koneksi dasar
bahasa
3. Grapheme-phoneme conversion terkait dengan teks dan dasar untuk
digunakan dalam memprediksi pengucapan kata tertentu.

29

4. Visual reading skill untuk mengevaluasi kemampuan membaca pasien


dengan degenerasi makula yang mampu membaca untuk kepuasan mereka
sebelum kehilangan penglihatan mereka (Stelmack j et. al, 1987)

Tabel 1. Phonem
(Sumber : Stelmack j et. al, 1987)

2. MRI busa mendeteksi dini dyslexia dengan memperlihatkan lesi yang ada
di otak.

2.2.9

Penatalaksanaan Dyslexia

Tatalaksana dyslexia diarahkan pada kehidupan penderita. Pada anak yang


masih kecil tatalaksana diarahkan pada perbaikan. Setelah anak semakin besar
maka tatalaksana diarahkan pada proses adaptasi. Program intervensi yang
diberikan merupakan faktor-faktor penting dalam membaca yaitu mengajarkan
anak untuk memanipulasi fonem dengan huruf, memfokuskan instruksi pada satu
atau dua jenis manipulasi fonem, pola pengajaran dalam kelompok kecil, dan
instruksi yang sistematis dan eksplisit. Intervensi yang efektif akan mengajarkan

30

anak untuk mengerti bagaimana huruf berhubungan dengan suara dari huruf
tersebut serta pola mengeja (IDAI, 2009).
Kefasihan ditunjukkan dengan kemampuan membaca secara oral dengan
kecepatan yang cukup, akurat dan ekspresi yang tepat. Kefasihan sangat penting
karena membutuhkan pengenalan kata yang ototmatis. Meskipun kefasihan
merupakan hal yang sangat penting dalam tatalaksana tetapi sering hal ini
dilupakan. Cara yang paling efektif untuk mengasah kefasihan adalah dengan
mengulang membaca secara oral dengan bimbingan, hal ini dapat dilakukan
dengan bimbingan guru, orang dewasa atau teman sebaya dengan pemberian
umpan balik sesudahnya. Umpan balik merupakan hal yang penting dan tidak
boleh dilupakan (IDAI, 2009)..
Tatalaksana disleksia pada anak usia SMP-SMA serta perguruan tinggi lebih
ditujukan pada adaptasi dan penerimaan. Pada anak usia ini biasanya penderita
tidak menunjukkan kelainan dalam pengenalan kata tetapi akan mengalami
kesulitan dalam membaca sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Pada
penderita tambahan dalam membaca dan mengerti hal yang dibaca. Selain itu
dapat dipergunakan alat bantu tambahan seperti laptop yang dilengkapi program
untuk memperbaiki ejaan, penggunaan alat perekam, bantuan tutor serta
penggunaan kelas terpisah yang tidak ramai saat hujan. Sangat penting untuk
ditekankan bahwa dyslexia tidak berhubungan dengan tingkat kepandaian.
Orangtua sangat sering menanyakan mengenai tatalaksana dyslexia, tetapi
perlu ditekankan bahwa sangat sedikit data mengenai tatalaksana dyslexia. Selain
itu tatalaksana bukan merupakan terapi sesaat tetapi lebih kepada terapi yang
berkesinambungan (IDAI, 2009).

31

Medical Care
Penatalaksanaan yang dapat diberikan merupakan settingan edukasi spesial
(SPED), settingan tutorial khusus atau dapat keduanya diberikan sebagai
perkembangan yang penting dan meningkatkan kemampuan membaca. Pada guru
remedial, pidato dan terapis bahasa dan terapis okuposional dapat menjadi pilihan
yang diajukan sebagai penatalaksanaan pada anak yang mendapat kelainan dalam
membaca, dan dapat juga menemukan gejala klinis yang didapatkan pada anak.
Remedial dapat membantu dan menguntungkan pasien dengan dyslexia, meskipun
beberapa penelitian belum sepenuhnya mendukung (Schulte, 2010).
Beberapa penatalaksanaan pada tes mata dan sensitivitas scotopic telah
dilaksanakan kepada anak-anak yang mendapat kesulitan membaca. Penelitian
pada 30 tahun ini telah memberikan terapi alternatif yang malah tidak efektif.
Basis fisik dari dyslexia tidak terlalu berdampak kepada penatalaksaan yang tidak
menggunakan neuroanatomi disfungsi pada proses phenom.
Dokter mata anak dan dokter saraf anak seharusnya menjelaskan kepada
orangtua bahwa disleksia bukanlah kelainan pada sistem visual, namun lebih
kepada ketidakmampuan pada proses pemisahan visual pathway ke korteks
oksipital dan berdasarkan neurofiological maldevelopment pada beberapa bagian
di perkembangan bahasa. Latihan visual, termasuk latihan otot mata, dan latihan
dengan atau tanpa bifocal tidak terlalu menguntungkan anak dengan dyslexia atau
kelainan (Schulte, 2010).

32

Konsultasi
Konsultasi Sekolah
Pada tahun 2004 IDEA membutuhkan sekolah umum untuk menyediakan
evaluasi dan pendidikan kepada anak-anak dengan gangguan belajar. Karena
hanya ada 20% dari semua anak-anak dengan gangguan phonological, tidak
semuanya dapat dievaluasi di sekolah. Bila orangtua atau petugas kesehatan
menduga terdapat gangguan membaca, orangtua tersebut seharusnya membuat
permintaan khusus untuk mengevaluasi ke sekolah atau meminta kepada
individual educational plan (IEP). Pelayanan SPED menyediakan anak dengan
hambatan membaca untuk masuk kepada grup yang keccil dengan terapis
membaca (Schulte, 2010).
Strategi Intervensi
Gangguan membaca dapat berdampak kepada anak-anak, bagaimanapun
intervensi dini pada sekolah dapat membantu mengurangi gangguan membaca
walaupun hanya sedikit. Strategi berikut dapat diapakai untuk intervensi awal dan
membantu pada anak yang lebih tua yang menderita gangguan membaca :
-

Tugas Phonemic awareness pada taman kanak-kanak, termasuk

bersajak, membuat perbedaan tulisan diantara kata-kata yang mirip


namun berbeda, pencampuran suara ke kata-kata, memisahkan suara
menjadi kata-kata, dan kata-kata bertingkat. Tugas ini mempersiapkan
anak untuk membaca dan semuanya memberikan keefektifan pada
penelitian (Lagae, 2010).

33

Secara khusus untuk mengajarkan anak-anak tentang potongan-

potongan dan campuran kata-kata telah terbukti efektif pada belajar


membaca daripada program-program yang lain.
-

Pada tingkat pertama, instruksi khusus pada bagaimana suara-suara

yang dibaca menunjukkan perbedaan kemampuan membaca dan mengeja


(Lagae, 2010.

2.3. Kerusakan Otak pada Anak dengan Dyslexia


Dyslexia terdiri dari kegagalan spesifik dan persisten untuk memperoleh
keterampilan membaca efisien meskipun dengan kecerdasan yang memadai. Tiga
kelompok utama dapat dibedakan antara banyak hipotesis neurokognitif tentang
dyslexia yaitu; the phonological, the visual, and the cerebellar hypotheses.
1. The Phonological hypothese mendalilkan defisit terkait dengan akses
dan / atau manipulasi informasi fonemik sehubungan dengan kelainan
temporal superior kiri dan korteks frontal inferior. defisit ini terkait
dengan gangguan dasar pengolahan dalam pendengaran, mencegah
pembelajaran graphemes-Phonemes yang penting untuk membaca.
Penelitian telah menunjukkan adanya penurunan dalam memori
verbal jangka pendek atau phonemic awareness pada disleksia, deficit
kategorisasi fonem, atau Persepsi transisi akustik cepat.
2. The Visual hypothese berpendapat adanya tingkat gangguan visual
yang berhubungan dengan normal thalamic magno-cell, seperti pada
subjek disleksia menunjukkan peningkatan batasan pada deteksi

34

kontras rendah, rendah spasial atau frekuensi temporal yang tinggi


dan sensitivitas yang buruk untuk gerak visual.
Alur magnocellular terlibat dalam mengarahkan perhatian, gerakan
mata dan pencarian visual, ketiga proses yang berhubungan untuk
membaca. Selain kelain utama dimata, area tambahan yang langsung
terlibat dalam membaca dan menulis seperti inferior temporal cortex,
angular atau supramarginal gyri and inferior frontal gyrus.
3. The cerebellar hypotheses disleksia berhubungan dengan gangguan
belajar umum, termasuk gagal dalam keterampilan membaca dan
menulis. Yang secara otomatisasi menganggu prosedur sensorikmotorik

penting dalam

membaca

yang akan mencerminkan

abnormalnya fungsi di cerebellum bagian lateral.

Sejalan dengan hipotesis, Galaburda pertama kali menjelaskan kelainan


mikroskopis dalam pendengaran dan kemudian di frontal dan di perisylvian area
dari subjek disleksia. Karya-karya selanjutnya juga mengungkapkan adanya
pengecilan dari thalamus bagian lateral dan inti dari geniculate medial. ini juga
diikuti dengan identifikasi kelainan pada penglihatan korteks primer dan
cerebellum.
Pada studi morfometrik mengkonfirmasi penemuan ini mengungkapkan
perbedaan antara pasien dengan disleksia dan kontrol subyek terutama berlokasi
di left inferior frontal, superior-temporal, temporo-parietal, medial occipital
regions, and the cerebellum. Bagaimanapun, kesalahan dalam peneltian juga

35

mempengaruhi hasil dari penelitian, 10-20 subjek diperanguhi oleh indiviual yang
bervariasi (Eckert, 2004).

Neuropsychological Data

Tabel 2. Neuropsychological data


(Sumber : Cyril et al, 2009)

Perbandingan variabel perilaku antar kelompok mengungkapkan nilai yang


lebih rendah dan lebih lama RT di disleksia kelompok dibandingkan kelompok
kontrol untuk semua tugas kecuali RT di kategorisasi suara dan nilai dalam
membaca kata (Cyril et al, 2009).

Volumes Analyses

36

Terdapat perbedaan pada jumlah materi abu-abu materi putih atau pada
(area anatomi) volume abu-abu yang diamati antara control dan penderita
dyslexia.

Gambar 6. Volumes analyses


(Sumber : Cyril et al, 2009)

Volume materi abu-abu dan putih untuk otak kiri dan otak kanan dalam
kontrol (biru) dan disleksia (merah). Ukuran kotak mewakili bawah dan atas
kuartil dengan median ditunjukkan di tengah (Cyril et al, 2009).

Lateralization analyses
Post hoc tests mengungkapkan bahwa dalam kontrol terdapat perbedaan
signifikan antara Volume left and right angular gyri, superior parietal lobules (left
> right P 5 0.02 and 0.03), paracentral lobules, posterior cingulated gyri, and
postcentral gyri (right > left P 5 0.00002; P 5 0.03 and P 5 0.00002). Untuk
subyek penderita disleksia, perbedaan yang terdapat pada angular gyri (left > right
P 5 0.01), paracentral lobules and postcentral gyri (right > left P 5 0.00002).

37

Gambar 7. Control and dyslexic subject


(Sumber : Cyril et al, 2009)

Karena kegunaan dalam berbagai komponen membaca (visual, fonologi,


leksikal, dan keterampilan ejaan) hubungan antara volume pada materi abu-abu
dan keterampilan membaca, kami mengamati adanya perbedaan terutama di
sekitar IFG kiri, STG kiri, fusiform gyri dan lateral superior, dan inferior medial
serebelum (Eckert, 2004).

Phonem Deletion
Subjek pada bagian kontrol memperlihatkan korelasi yang lebih besar
terhadap LGMV dan kejadian penghapusan fonem daripada disleksia. Untuk
kontrol subjek, gray matter volume yang lebih kecil terlihat pada infero-temporal
cortex secara bilateral, serebellum (pyramis, declive, culmen, inferior semu-lunar)
dan precuneus kiri (Cyril et al, 2009).

38

Gambar 8. Phoneme deletion


(Sumber : Cyril et al, 2009)

Irregular Word Spelling


Kontrol dan subjek dyslexia menunjukkan efek yang berlawanan satu
dengan yang lainnya. Pada sebelah kiri trasversa dan superior temporalis girus,
kiri/kanan dan orbital/depan girus, depan dan belakang dan visual cortex LGMV
berhubungan dengan pengejaan tertinggi pada pasien dyslexia (Cyril et al, 2009).

Gambar 9. Spelling irregular words


(Sumber : Cyril et al, 2009)

39

Pseudoword Reading Performances


Hanya sedikit korelasi signifikan yang dapat dilihat. LGMV yang lebih
besar pada pseudoword reading performance meningkat dan diamati pada area
perisilvian kiri (superior temporal gyrus, inferior/medial frontal), kanan
medial/superior dan medial frontal gyrus, posterior cingulate gyrus. Kiri/kanan
lobus paracentralis dan visual cortex (Cyril et al, 2009).

Gambar 10. Reading pseudowords


(Sumber : Cyril et al, 2009)

Cerebellar Discoveries
Perbedaan yang paling mencolok yang diamati pada cerebellum, yang
biasanya berhubungan dengan perolehan skill dan automatisasi. Dyslexia dapat
menunjukkan gangguan dalam kefasihan belajar sebagai dari konsekuensi dari
jeleknya automatisasi dari motor sensosorik, termasuk speech-script transcoding
dan defisit ini biasanya diikuti dengan defisit motorik (Chaix et al, 2007).

40

Visual Cortex Correlations


Korelasi signifikan dari grup pseudoword reading dan perbedaan dalam
korelasi antara grup irregular word spelling diamati lebih utama dari visual cortex
(disekeliling sulcus calcarina) dan cortex occipitotemporal. Berdasarkan hipotesa
dari dyslexia menjadi abnormalitas pada sel M system, dapat kita lihat perbedaan
dan gangguan di talamus, visual cortex dan area dorsal. Bukan hanya gangguan
membaca yang terjadi setelah lesi di infero-temporal kiri, tetapi juga gangguan
dalam mengeja. Volume lesi ini dapat mengakibatkan gangguan visual proses
pada dyslexia (Damasio, 1983).

41