Anda di halaman 1dari 17

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Frekuensi alel dan frekuensi genotipe dalam suatu populasi akan tetap
konstan, yakni berada dalam kesetimbangan dari satu generasi ke generasi
lainnya kecuali apabila terdapat pengaruh-pengaruh tertentu yang mengganggu
kesetimbangan tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut meliputi perkawinan tak
acak, mutasi, seleksi, ukuran populasi terbatas, hanyutan genetik, dan aliran gen.
Oleh karena itu, kesetimbangan Hardy-Weinberg sangatlah tidak mungkin
terjadi di alam. Kesetimbangan genetik adalah suatu keadaan ideal yang dapat
dijadikan sebagai garis dasar untuk mengukur perubahan genetik.
Gen-gen tidak hanya terdapat pada kromosom somatis tetapi gen-gen juga
dipengaruhi oleh jenis kelamin. Sifat akan tampak dikedua jenis kelamin, tetapi
salah satu jenis kelamin menampakkan ekspresi yang lebih besar dibandingkan
dengan jenis kelamin lainnya. Ekspresi yang paling mudah dilihat adalah
panjang jari telunjuk, ekspresi gen ini pada laki-laki dan perempuan berbeda.
Apabila kita meletakkan tangan kanan

kita sebuah garis mendatar yang

sedemikian rupa sehingga ujung jari manis menyentuh garis tersebut, maka dapat
kita ketahui apakah jari telunjuk kita akan lebih panjang atau lebih pendek dari
jari manis. Pada kebanyakan orang, ujung jari telunjuk tidak akan mencapai garis
itu, berarti bahwa jari telunjuk lebih pendek dari jari manis. Jari telunjuk pendek
disebabkan oleh gen yang dominan pada orang laki laki dan resesif pada orang
perempuan.

Golongan darah pada menusia bersifat herediter yang ditentukan oleh alel
ganda. Golongan darah seseorang dapat mempunyai arti yang penting dalam
kehidupan. Sistem penggolongan yang umumnya dikenal dalam sistem ABO.
Golongan darah sistem ABO dikendalikan oleh tiga alel dalam gen tunggal,
yakni IA, IB , dan Io . Darah yang merupakan subspensi tersebut terdapat gen,
dimana gen merupakan ciri-ciri yang dapat diamati secara kolektif atau
fenotipnya dari suatu organisme. Berdasarkan uraian di atas maka perlu diadakan
praktikum gen yang dipengaruhi seks.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang terdapat pada praktikum gen yang dipengaruhi seks
adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana frekuensi genotipe populasi berdasarkan ukuran panjang jari
telunjuk ?
2. Bagaimana frekuensi golongan darah sistem ABO pada populasi ?
C. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin diperoleh pada praktikum gen yang dipengaruhi seks
adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui frekuensi genotipe populasi berdasarkan ukuran panjang
jari telunjuk.
2. Untuk mengetahui frekuensi golongan darah sistem ABO pada populasi.

D. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh setelah mengikuti praktikum gen yang dipengaruhi
seks adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui frekuensi genotipe populasi berdasarkan ukuran panjang
jari telunjuk.
2. Dapat mengetahui frekuensi golongan darah sistem ABO pada populasi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Secara biologis, seorang anak selalu mewarisi gen dari ayahnya. Gen
tersebutlah yang membawa sifat-sifat tertentu, baik yang tampak secara fisik,
maupun yang tidak tampak secara fisik. Prinsip tentang gen dan pewarisan sifat
modern pertama kali dikemukakan oleh Gregor Mendel. Gen didefinisikan sebagai
interval sepanjang molekul-molekul DNA. Sebagian besar gen membawa informasi
yang dibutuhkan dalam membuat protein (Tosida, 2010).
Ekspresi hubungan dominansi dan resesif pada beberapa gen bisa amat
berubah akibat terpapar kondisi-kondisi lingkungan yang berbeda, terutama
hormone-hormon seks. Pada sifat-sifat terpengaruh seks, genotipe heterozigot
biasanya menghasilkan fenotipe yang berbeda pada kedua jenis kelamin.
Akibatnya, hubungan dominansi dan resesif alel-alel seolah-olah tampak terbalik.
Kita hanya akan menilik sifat-sifat terpengaruh seks yang gen-gen pengontrolnya
terletak di autosom (Stansfield, 2007).
Keragaman genetik antara individu atau populasi dapat diduga dengan
menggunakan penanda morfologi. Penanda morfologi yang digunakan merupakan
penanda yang didasarkan pada hereditas Mendel yang sederhana. Karakter fenotipe
bisa digunakan sebagai indikator yang signifikan untuk gen yang spesifik dan
penanda gen dalam kromosom karena sifat-sifat yang mempengaruhi morfologi
dapat diturunkan (Sudarsono, 2012).
Gen-gen yang terdapat dala autosom dinamakan gen-gen autosomal,
sedangkan yang terdapat dalam kromosom kelamin dinamakan gen-gen terpaut
seks. Peristiwa terdapatnya gen-gen dalam kromosom kelamin dinamakan terpaut

seks. Gen-gennya sendiri disebut gen-gen terpaut seks. Oleh karena kromosom-X
lebih panjang dari kromosom-Y, maka tentunya jumlah terpaut-X lebih banyak dari
pada gen-gen terpaut-Y (Suryo, 1996).
Golongan darah menurut sistem ABO dapat diwariskan dari orang tua
kepada anaknya.

Penggolongan darah disebabkan oleh macam antigen yang

dikandung oleh eritrosit. Adanya antigen di dalam eritrosit ditentukan oleh suatu
seri alel ganda yaitu IA, IB, dan IO. Populasi penduduk hampir seluruh dunia
memiliki ketiga buah alel tersebut meskipun penyebaran alelnya berbeda-beda
(Darmawati, 2005).

III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Praktikum gen yang dipengaruhi seks dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal
1 November 2014, pada pukul 08.00-11.00 WITA dan bertempat di
Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum gen yang dipengaruhi seks
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat dan kegunaan pada praktikum gen yang dipengaruhi seks
No.
Alat
Kegunaan
Kamera
Untuk
mendokumentasikan
hasil
1
pengamatan
2 Kalkulator
Untuk menghitung analisis data
3 Alat tulis
Untuk menuliskan hasil pengamatan

2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum gen yang dipengaruhi seks
adalah data fenotipe panjang jari telunjuk dan dan 1500 data golongan darah
yang digunakan sebagai objek yang akan diamati.
C. Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum gen yang
dipengaruhi seks adalah sebagai berikut :

1. Penentuan genotipe panjang jari telunjuk :


a. Membuat garis horizontal pada lembaran kertas.
b. Masing-masing praktikan meletakkan jari kanan pada lembaran kertas
yang telah diberi garis horizontal sehingga jari manis menyinggung
garis horizontal.
c. Mengamati panjang jari telunjuk dibandingkan jari manis,
d. Mendokumentasikan panjang jari telunjuk.
e. Mengumpulkan data fenotipe panjang jari telunjuk semua praktikan.
f. Menetukan genotipe panjang jari telunjuk laki-laki dan perempuan.
g. Menghitung distribusi genotipe berdasarkan panjang jari telunjuk.
h. Menuliskan hasil pengamatan
2. Penentuan frekuensi golongan darah
a. Mengumpulkan 1500 data golongan darah.
b. Menghitung frekuensi golongan darah.
c. Menuliskan hasil pengamatan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
A. Penentuan Genotip Jari Telunjuk
1. Gambar Jari Tangan

2. Genotip yang diperoleh : TT


3. Tabel Distribusi Jari Telunjuk

No. Kelompok

Total
TT
Tt, tt
TT, Tt
tt
(Pendek) (Panjang) (Pendek) (Panjang)
1
3
4

1.

2.

II

3.

III

4.

IV

5.

6.

VI

7.

VII

Total

14

11

4. Frekuensi Genotip Jari Telunjuk


Rumus Hardy-Weinberg :

p2 + 2pq + q2 = 1

1. Laki-Laki
a. Genotip masing-masing jari telunjuk
p2

: Jari telunjuk pendek homozigot (TT)

2pq : Jari telunjuk pendek heterozigot (Tt)


q2

: Jari telunjuk panjang (tt)

13

40

b. Mencari frekuensi alel masing-masing genotip


o

2 =

= 15 = 0,13

= 0,13
q = 0,36
o

Subtitusi nilai q pada rumus p + q = 1 untuk mencari nilai p


p+q=1
p + 0,36 = 1
p = 1-0,36
p = 0,64

Jadi, persentase genotipnya adalah:


o

p2 = (0,64)2 = 0,4096 100% = 40,96%


Jumlah orang = 0,4096 15 = 6

2pq = 2 (0,63) (0,36) = 0,4608 100% = 46,08%


Jumlah orang = 0,4608 15 = 7

q2 = (0,36)2 = 0,1296 100% = 12,96%


Jumlah orang = 0,1296 15 = 2

2. Perempuan
a. Genotip masing-masing jari telunjuk
p2

: Jari telunjuk pendek homozigot (TT)

2pq : Jari telunjuk panjang heterozigot (Tt)


q2

: Jari telunjuk panjang homozigot (tt)

c. Mencari frekuensi alel masing-masing genotip


o

2 =

14

= 25 = 0,56

= 0,56
p = 0,75
o

Subtitusi nilai p pada rumus p + q = 1 untuk mencari nilai q


p+q=1
0,75 + q = 1

q = 1-0,75
q = 0,25
Jadi, persentase genotipnya adalah:
o

p2 = (0,75)2 = 0,5625 100% = 56,25%


Jumlah orang = 0,5625 25 = 14

2pq = 2 (0,75) (0,25) = 0,375 100% = 37,5%


Jumlah orang = 0,375 25 = 9

q2 = (0,25)2 = 0,0625 100% = 6,25%


Jumlah orang = 0,0625 25 = 2

B. Penentuan Genotip Golongan Darah


1. Tabel Distribusi Golongan Darah
Golongan Darah
A
B
AB
O
Total

Jumlah
2.534
2.442
1.317
4.231
10.524

2. Analisis Data
Rumus Hardy Weinber
p+q+r=1
p2 + 2pq + 2pr + 2qr + q2 + r2 = 1
3. Frekuensi Genotipe Masing-Masing Golongan Darah
1. Menentukan alel masing-masing golongan darah
o p2

: Golongan darah A homozigot

o 2pq : Golongan darah AB


o 2pr : Golongan darah A heterozigot
o 2qr : Golongan darah B heterozigot
o q2

: Golongan darah B homozigot

o r2

: Golongan darah O

2. Mencari frekuensi alel masing-masing golongan darah


o 2 =

4.231
10.524

= 0,40

= 0,40 = 0,63
o ( + )2 =

2.534 + 4.231
10.524

= 0,64

( + ) = 0,64 = 0,8
p = 0,8 0,63
p = 0,17
o Subtitusi nilai p dan r ke dalam rumus: p + q + r = 1
0,17 + q + 0,63 = 1
q = 1 0,8
q = 0,2
3. Menghitung persentase genotip masing-masing golongan darah
o Golongan darah A homozigot (p2)
p2 = (0,17)2 = 0,0289 100% = 2,89%
o Golongan darah A heterozigot (2pr)
2pr = 2 (0,17) (0,63) = 0,2142 100% = 21,42%
o Golongan darah B homozigot (q2)
q2 = (0,2)2 = 0,04 100% = 4%
o Golongan darah B heterozigot (2qr)
2qr = 2 (0,2) (0,63) = 0,252 100% = 25,2%
o Golongan darah AB (2pq)
2pq = 2 (0,17) (0,2) = 0,068 100% = 6,8%
o Golongan darah O (r2)
r2 = (0,63)2 = 0,3969 100% = 39,69%
4. Menghitung banyak orang pada masing-masing golongan darah

o Golongan darah A homozigot


Jumlah orang = 0,0289 10.524 = 304
o Golongan darah A heterozigot
Jumlah orang = 0,2142 10.524 = 2.254
o Golongan darah B homozigot
Jumlah orang = 0,04 10.524 = 421
o Golongan darah B heterozigot
Jumlah orang = 0,252 10.524 = 2.652
o Golongan darah AB
Jumlah orang = 0,068 10.524 = 716
o Golongan darah O
Jumlah orang = 0,3969 10.524 = 4.177
B. Pembahasan
Adanya perbedaan genotipe pada setiap orang, dan adanya peranan gen seks
pada praktikum kali ini memberikan gambaran pada kita bahwa tidak hanya gen
yang terdapat pada gonosom. Gen-gen yang mengatur berbagai sifat yang
dipengaruhi seks, dapat terletak pada autosom mana saja atau pada bagian
homolog dari kromosom seks. Ekspresi dominan atau resesif oleh alel, lokus
lokus yang dipengaruhi perbedaan lingkungan internal yang disebabkan oleh
hormon seks.
Beberapa sifat keturunan yang ditentukan oleh gen autosomal ada yang
ekspresinya dipengaruhi oleh seks (jenis kelamin). Contohnya disini yang kami
lakukan pengamatan adalah panjang jari telunjuk. Setelah dilakukan
pengamatan, didapatkan hasil yaitu, pada populasi laki-laki ada 6 orang yang
memiliki jari telunjuk pendek homozigot (TT) yakni dengan persentase 40,96%,
7 orang yang memiliki jari telunjuk pendek (Tt) dengan persentase 46,08% dan

hanya 2 orang yang memiliki jari telunjuk panjang (tt) dengan persentase
12,96%. Sedangkan pada populasi perempuan, ada 14 orang yang memiliki jari
telunjuk pendek homozigot (TT) dengan persentase 56,25%, 9 orang yang jari
telunjuknya panjang heterozigot (Tt) dengan persentase 37,5%, dan 2 orang yang
memiliki jari telunjuk panjang homozigot (tt) dengan persentase 6,25%.
Penentuan panjang pendeknya telunjuk adalah dengan cara dibandingkan
dengan jari manis. Apabila jari telunjuk lebih panjang dari jari manis maka jari
telunjuk itu disebut panjang. Apabila jari telunjuk lebih pendek dari jari manis
maka jari telunjuk itu disebut pendek. Sifat-sifat diatas dapat keluar pada lakilaki maupun perempuan. Seorang laki-laki akan memiliki pasangan gen TT / Tt
akan mempunyai telunjuk pendek. Namun seorang perempuan baru akan
memiliki jari telunjuk pendek bila memiliki pasangan gen TT. Jadi gen jari
telunjuk pendek (T) bersifat dominan pada laki-laki. Sedangkan pada perempuan
bersifat resesif (kalah dominan daripada gen t).
Setiap fenotip pada darah memiliki alel ganda didalamnya. Misalnya saja
pada golongan darah A yang memiliki dua kemungkinan alel yaitu IAIA dan IAi
dan golongan darah B juga memiliki dua kemungkinan alel yaitu yaitu IBIB dan
IBi. Golongan darah O memiliki genotip ii. Sehingga pada saat terjadi
perkawinan acak pada suatu populasi, golongan darah O lah yang paling banyak
karena pada empat golongan darah yang ada yaitu A,B,AB, dan O, mengandung
alel i kecuali pada golongan darah AB yang mengandung alel IAIB dan sangat
jarang ditemui karena pada saat terjadi perkawinan acak, banyak terjadi
kodominansi sehingga pewarisan alel IAIB ini sangat jarang ditemui.

Berdasarkan hasil pengamatan, persentase golongan darah A dari 2.534


individu adalah untuk yang bergolongan darah A homozigot 2,89% dan yang
bergolongan darah A heterozigot 21,42%. Persentase golongan darah B dari
2.442 individu adalah untuk yang bergolongan darah B homozigot 4% dan
bergolongan darah B heterozigot 25,2%. Persentase golongan darah AB dari
1.317 individu adalah 6,84%. Dan persentase golongan darah O dari 4.231
individu adalah 39,69%. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi golongan darah
O lebih banyak dibandingkan golongan darah lainnya, yaitu dengan persentase
39,69 %. Golongan darah A dan B menunjukkan distribusi yang hampir atau
mendekati seimbang, namun lebih banyak distribusi golongan darah O.
Sedangkan golongan darah AB menunjukkan distribusi yang paling sempit atau
sedikit dengan persentase 6,84%.
Setiap negara, golongan darah seseorang yang paling banyak ditemui tidak
selalu sama jumlahnya tergantung etnis yang mendominasi. Namun secara
umum, di seluruh dunia golongan darah O paling banyak ditemukan sementara
golongan darah AB paling jarang ditemui di seluruh dunia dipopulasi manapun.
Tidak diketahui pasti apa sebabnya, namun masing-masing golongan darah
memiliki dominasi sendiri di wilayah tertentu. AB adalah golongan darah yang
paling jarang dimiliki di seluruh dunia, namun paling banyak ditemukan di
Jepang, Korea dan beberapa wilayah di China. Di beberapa tempat tersebut,
perbandingan jumlahnya tak lebih dari 10 persen dari populasi. Mungkin saja
golongan darah O banyak ditemukan karena adanya kodominansi pada golongan
darah.

Lebih lanjut lagi (Boyd, W.C., 1960 dalam Widianti, 2014) menyatakan
bahwa suatu populasi golongan darah terbanyak adalah golongan O, diikuti
golongan darah B, selanjutnya golongan darah A dan paling sedikit adalah
golongan darah AB. Frekuensi golongan darah ini berbeda-beda pada setiap
bangsa. Penelitian yang pernah dilakukan di Jawa pada daerah Ampelgading dari
450 orang 30,4% bergolongan darah O, 24,7% bergolongan darah A, 37,4%
bergolongan darah B dan hanya 7,6% bergolongan darah AB. Hampir sama
dengan Jawa, penelitian pada 1000 orang China dari daerah Peking dijumpai
30,7% golongan O, 24,7% golongan A, 37,3% golongan B dan golongan AB
hanya 10%. Pada orang Filipina populasi Bogobos dari 302 orang 53,6%
golongan O. 16,9% golongan A, 26,5% golongan B dan 3% golongan AB.

V. PENUTUP

A. Simpulan
Simpulan yang diperoleh setelah mengikuti praktikum gen yang
dipengaruhi seks adalah sebagai berikut :
1. Distribusi jari telunjuk panjang lebih dominan pada perempuan dan resesif
terhadap laki-laki, hal ini dapat dilihat dari pesentase masing-masing
genotipe bahwa perempuan yang memiliki jari telunjuk panjang heterozigot
(Tt) memiliki persentase 37,5% dan jari telunjuk panjang homozigot (tt)
yakni 6,25%, sedangkan pada laki-laki yang memiliki jari telunjuk panjang
(tt) memiliki persentase 12,96%.

2. Distribusi golongan darah paling luas adalah golongan darah O (39,69%),


distribusi golongan darah B homozigot (4%), golongan darah B heterozigot
(25,2%), distribusi golongan darah A homozigot (2,89%), golongan darah
A heterozigot (21,42%) dan distribusi golongan darah paling sempit adalah
golongan darah AB (6,84%).

DAFTAR PUSTAKA

Darmawati., Suryawati, E., dan Suhendri, E., 2005, Frekuensi dan Penyebaran
Alel Golongan Darah ABO Siswa SMUN 1 Suku Bangsa Melayu di
Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis Riau, J. Biogenesis, I (2) : 68
Stansfield, W., dan Elrod, S., 2007, Genetika Edisi Keempat, Erlangga, Jakarta
Sudarsono., Das, S. S., Djoefrie, B., dan Wahyu, Y., 2012, Keragaman Spesies
Pala (Myristica spp.) Maluku Utara Berdasarakan Penanda Morfologi dan
Agronomi. J. Littri. XVIII (1) : 2
Suryo., 1996, GENETIKA, Erlangga, Jakarta
Tosida. E. T., dan Utami. D. K., 2010. Pemodelan Sistem Pewarisan Gen
Manusia Berdasarkan Hukum Mendel dengan Algoritma Branch and
Bound. J. Ekologia. XI (11) : 1