Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk
mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun
organisasi di negara tersebut. Sistem perekonomian juga dapat diartikan sebagai cara
suatu bangsa atau Negara untuk mengatur kehidupan ekonominya agar tercapai
kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya
adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem,
seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem
lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi
di dunia berada di antara dua sistem ekstrim tersebut.
Selain faktor produksi, sistem ekonomi juga dapat dibedakan dari cara sistem
tersebut mengatur produksi dan alokasi. Sebuah perekonomian terencana (planned
economies) memberikan hak kepada pemerintah untuk mengatur faktor-faktor produksi
dan alokasi hasil produksi. Sementara pada perekonomian pasar (market economic),
pasar lah yang mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi barang dan jasa melalui
penawaran dan permintaan. Tidak ada satu negarapun yang bisa menerapkan suatu
sistem perekonomian secara ekstrim. Di Indonesia, pemerintah mempunyai peran
penting sebagai wasit dalam megawasi jalannya perekonomian.
Pemerintah perlu mendukung dan melindungi para pelaku ekonomi atau
masyarakat ekonomi lemah demikian pula terhadap para pengusaha muda, dengan
berbagai kebijakan yang meringankan, sehingga pada akhirnya dapat tumbuh mandiri.

B.

Rumusan Masalah
1. Apa itu Landasan Sistem Ekonomi Indonesia?
2. Deskripsi Pemikiran Mohammad Hatta?
3. Apa tujuan dari Sistem Ekonomi?
4. Bagaimana struktur Perekonomian Indonesia?
5. Bagaimana Evolusi Ekonomi Indonesia?
1

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

C.

Tujuan
Demokrasi ekonomi berdasarkan pancasila bertujuan agar ekonomi di indonesia
berlandaskan pada pancasila. Agar terstruktur dengan baik, dan tidak keluar dari aturan
pancasila. Karena pada dasarnya Indonesia memang berkiblat pada Pancasila dan UUD
1945. Jadi segala sesuatu harus berlandaskan pancasila, termasuk juga dalam
perekonomian.

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

BAB II
PEMBAHASAN

A. Landasan Sistem Ekonomi Indonesia


Secara normatif landasan idiil sistem ekonomi Indonesia adalah Pancasila dan
UUD 1945. Dengan demikian maka sistem ekonomi Indonesia adalah sistem
ekonomi yang berorientasi kepada Ketuhanan Yang Maha Esa (berlakunya etik dan
moral agama, bukan materialisme); Kemanusiaan yang adil dan beradab (tidak
mengenal

pemerasan

atau

eksploitasi);

Persatuan

Indonesia

(berlakunya

kebersamaan, asas kekeluargaan, sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi dalam


ekonomi); Kerakyatan (mengutamakan kehidupan ekonomi rakyuat dan hajat hidup
orang banyak);

serta

Keadilan

Sosial

(persamaan/emansipasi,

kemakmuran

masyarakat yang utama bukan kemakmuran orang-seorang).


Dari butir-butir di atas, keadilan menjadi sangat utama di dalam sistem ekonomi
Indonesia. Keadilan merupakan titik-tolak, proses dan tujuan sekaligus.
Pasal 33 UUD 1945 adalah pasal utama bertumpunya sistem ekonomi Indonesia
yang berdasar Pancasila, dengan kelengkapannya, yaitu Pasal-pasal 18, 23, 27 (ayat
2) dan 34.
Berdasarkan TAP MPRS XXIII/1966, ditetapkanlah butir-butir Demokrasi
Ekonomi (kemudian menjadi ketentuan dalam GBHN 1973, 1978, 1983, 1988), yang
meliputi penegasan berlakunya Pasal-Pasal 33, 34, 27 (ayat 2), 23 dan butir-butir yang
berasal dari Pasal-Pasal

UUDS tentang hak milik yuang berfungsi sosial dan

kebebasan memilih jenis pekerjaan. Dalam GBHN 1993 butir-butir Demokrasi


Ekonomi ditambah dengan unsur Pasal 18 UUD 1945. Dalam GBHN 1998 dan
GBHN 1999, butir-butir Demokrasi Ekonomi tidak disebut lagi dan diperkirakan
dikembalikan ke dalam Pasal-Pasal asli UUD 1945.
Landasan normatif-imperatif ini mengandung tuntunan etik dan moral luhur, yang
menempatkan rakyat pada posisi mulianya, rakyat sebagai pemegang kedaulatan,
rakyat sebagai ummat yang dimuliakan Tuhan, yang hidup dalam persaudaraan satu
sama lain, saling tolong-menolong dan bergotong-royong.
Di dalam usaha-usaha membina sistem eonomi yang khas bagi Indonesia, kiranya,
sebaiknya kita berpegang pada pokok-pokok fikiran sebagaimana tercantum dalam

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

Pancasila, khususnya dokumen "Lahirnya Pancasila" dan UUD 45, khususnya pasalpasal 23, 27, 33 dan 34.
Dari Pancasila adalah sila "Keadilan Sosial" yang paling relevan untuk ekonomi.
Sila ini mengandung dua makna, yakni sebagai prinsip pembagian pendapatan yang
adil dan prinsip demokrasi ekonomi.
Ditempatkan dalam persepketif sejarah maka hasrat ingin mengejar pembagian
pendapatan yang adil mudah difahami. Pembagian pendapatan di masa penjajahan
adalah sangat tidak adil. Kurang daripada 3% dari jumlah penduduk (yang terutama
adalah bangsa asing) menerima lebih dari 25% dari pendapatan nasional Indonesia.
Karenanya, maka pola pembagian pendapatan serupa ini perlu dirombak secara
drastis.
Akan tetapi yang dikejar bukan saja "masyarakat yang adil dalam pembagian
pendapatannya" tapi juga "masyarakat yang makmur". Ini berarti bahwa tingkat
pertumbuhan dari pendapatan nasional harus juga meningkat.
Di masa penjajahan, pertumbuhan eonomi berlangsung berdasarkan free fight
competition liberalism. Dalam pertarungan kompetisi ekonomi serupa ini, bangsa
Indonesia tertinggal oleh karena tidak memiliki alat-alat produksi yang compatible.
Maka sistem ekonomi liberal serupa ini menambahkan ketidakadilan dalam
pembagian pendapatan, karena yang ekonomi kuat, semakin kuat, sedangkan yang
lemah ketinggalan.
Guna menghindari pengalaman pahit serupa inilah, sila "Keadilan Sosial"
menekankan

perlunya:

demokrasi

ekonomi.

Hakekatnya

adalah

suatu

medezeggenschap di dalam unit ekonomi (pabrik, perusahaan, ekonomi negara dan


lain-lain).
Prinsip demokrasi ekonomi ini terjelma dalam UUD 45 pasal 23, 27, 33 dan 34.
Di dalam pasal 23 yang menonjol adalah hak budget DPR-GR. Ini berarti bahwa
pemerintah boleh menginginkan rupa-rupa hal, rencana dan proyek, akan tetapi pada
instansi terakhir adalah rakyat sendiri yang memutuskan apakah rencana atau proyek
bakal dilaksanakan, oleh karena hak-budget, hal menetapkan sumber penerimaan
negara [pajak] dan macam-macam serta harga mata uang berada di tangan DPR-GR.
Inilah prinsip medezeggenschap atau demokrasi ekonomi dalam sistem ekonomi
pancasila kita. Dan untuk mencek kemudian apakah pemerintah tidak menyimpang
dari kehendak DPR-GR, maka DPR-GR dapat menggunakan pemeriksaan melalui
Badan Pemeriksaan Keuangan.
4

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

Tentu semuanya ini di dalam iklim kehidupan kenegaraan di mana


rechtszekerheid terjamin. Oleh karena itu, pasal 27 mewajibkan semua kita [baik
penguasa tertinggi maupun warga negara biasa] menjunjung Hukum.
Di dalam sistem ekonomi yang menjamin demokasi-ekonomi maka tiap-tiap
warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak [pasal 27]. Hak atas
pekerjaan tidaklah melulu privilege suatu kliek atau golongan tertentu. Semua berhak
memperoleh equal opportunity. Akan tetapi manakala ia jatuh terlantar menjadi fakir
miskin, maka naluri kemanusiaan kita, sesuai jiwa Pancasila, menugaskan kepada
negara untuk memelihara mereka yang terlantar itu [pasal 34].
Prinsip demokrasi ekonomi juga menjelma dalam pasal 33 "Perekonomian
disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluaragaan". Di sini [dalam
pengjelasan tentang UUD] menonjol tekanan pada "masyarakat": "Produksi
dikerjakan di bawah pimpinan atau pemilikan anggotanggota masyarakat."
Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang seorang.
"Masyarakat" tidak sama dengan "negara". Sehingga jelaslah bahwa sistem ekonomi
Pancasila tidak saja menolak free fight liberalism akan tetapi juga etatisme [ekonomi
komando], di mana negara beserta aparatur ekonomi negara berdomisili penuh dan
mematikan inisiatif masyarakat.
Tetapi ini tidak berarti bahwa negara lalu berpangku-tangan. Pasal 33 juga
menekankan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara. Sedangkan bumi, air, dan
kekayaan alam yang terkandung dalam bumi dikuasai negara untuk digunakan bagi
kemakmuran rakyat.
Jadi negara menguasai sektor-sektor yang strategis. Maka dapatlah sistem
ekonomi pancasila ini diumpamakan seperti lalu-lintas di Jakarta. Masing-masing
anggota masyarakat bebas berjalan di jalan-jalan. Akan tetapi dalam kebebasan itu
terkandung pertanggungjawaban untuk mengutamakan kepentingan umum.
Kita tak bisa sesuka hati tancap gas dan membahayakan lalu-lintas. Karena itu
maka peraturan lalu-lintas harus dipatuhi. Untuk mengatur kelancaran lalu lintas,
polisi lalu lintas menguasai tempat-tempat strategis, seperti simpang empat, lima dan
sebagainya. Polisi lalu lintas tidak menguasai semua jalan, paling-paling sewaktu ia
mencek dan mengontrol. Jalan yang kita pijak, hawa yang kita hirup, sungguh pun
kita jalani, adalah bukan milik individu, tetapi milik negara.

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

Maka begitulah secara sederhana sistem ekonomi Pancasila. Ia tidak ketat seperti
sistem ekonomi etatisme ala Uni Sovyet, tidak pula liberal ala Amerika Serikat. Ia
adalah kebebasan dengan tanggungjawab, keteraturan tanpa mematikan inisiatif
rakyat, mengejar masyarakat yang adil dan makmur atas landasan demokrasi
ekonomi.
Sistem Ekonomi Pancasila (SEP) merupakan sistem ekonomi yang digali dan
dibangun dari nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat Indonesia. Beberapa prinsip
dasar yang ada dalam SEP tersebut antara lain berkaitan dengan prinsip kemanusiaan,
nasionalisme ekonomi, demokrasi ekonomi yang diwujudkan dalam ekonomi
kerakyatan, dan keadilan. Sebagaimana teori ekonomi Neoklasik yang dibangun atas
dasar faham liberal dengan mengedepankan nilai individualisme dan kebebasan pasar
(Mubyarto, 2002: 68), SEP juga dibangun atas dasar nilai-nilai yang hidup dalam
masyarakat Indonesia, yang bisa berasal dari nlai-nilai agama, kebudayaan, adatistiadat, atau norma-norma, yang membentuk perilaku ekonomi masyarakat
Indonesia. Suatu perumusan lain mengatakan bahwa : Dalam Demokrasi Ekonomi
yang berdasarkan Pancasila harus dihindarkan hal-hal sebagai berikut :
1. Sistem free fight liberalism yang menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan
bangsa lain yang dalam sejarahnya di Indonesia telah menimbulkan dan
mempertahankan kelemahan structural ekonomi nasional dan posisi Indonesia
dalam perekonomian dunia.
2. Sistem etatisme dalam arti bahwa negara berserta aparatus ekonomi negara
bersifat dominan, mendesak dan mematikan potensi serta daya kreasi unit-unit
ekonomi diluar sektor negara.
3. Persaingan tidak sehat serta pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok
dalam berbagai bentuk monopoli dan monopsoni yang merugikan masyarakat dan
cita-cita keadilan sosial. (GBHN 1993).
Seorang pakar senior lain mengatakan bahwa terdapat 5 ciri pokok dari sistem
ekonomi Pancasila yaitu : (Mubyarto, 1981).
1. Pengembangan koperasi penggunaan insentif sosial dan moral.
2. Komitmen pada upaya pemerataan.
3. Kebijakan ekonomi nasionalis.
4. Keseimbangan antara perencanaan terpusat.
5. Pelaksanaan secara terdesentralisasi
6

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

Ciri-ciri Ekonomi Pancasila :


1. Yang menguasai hajat hidup orang banyak adalah negara / pemerintah. Contoh hajad
hidup orang banyak yakni seperti air, bahan bakar minyak / BBM, pertambangan /
hasil bumi, dan lain sebagainya.
2. Peran negara adalah penting namun tidak dominan, dan begitu juga dengan peranan
pihak swasta yang posisinya penting namun tidak mendominasi. Sehingga tidak
terjadi kondisi sistem ekonomi liberal maupun sistem ekonomi komando. Kedua
pihak yakni pemerintah dan swasta hidup beriringan, berdampingan secara damai dan
saling mendukung.
3. Masyarakat adalah bagian yang penting di mana kegiatan produksi dilakukan oleh
semua untuk semua serta dipimpin dan diawasi oleh anggota masyarakat.
4. Modal atau pun buruh tidak mendominasi perekonomian karena didasari atas asas
kekeluargaan antar sesama manusia.

Undang-Undang Dasar 1945 dan Pembangunan di Bidang Ekonomi


UUD 1945 menegaskan di dalam pembukaanya bahwa salah satu tujuan negara
Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Penegasab di atas tidak terlepas
dari pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan yaitu bahwa negara hendak
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Karena pembukaan UUD 1945 bserta seluruh pokok-pokok pikiran yang terkandung
di dalamnya menjiwai Batang Tubuh UUD, maka tujuan itupun dijabarkan lebih lanjut
dalam pasal-pasal seperti dalam pasal 23, pasal 27 serta pasal 33 dan 34. namun
demikian, diantara pasal-pasal yang paling pokok dan melandasi usaha-usaha
pembangunan di bidang ekonomi pasal 33.
Pasal 33 tersebut menyatakan sebagai berikut :
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekelurgaan.
2. Cabang-Cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara.
3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terjkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Mengenai pasal ini penjelasan UUD mengatakan : Dalam pasal 33 tercantum dasar
demokrasi ekonomi, produksi di kerjakan oleh semua. Untuk semua di bawah pimpinan
atau pemikiran anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang di
utamakan, bukan kemakmuran orang-seorang, sebab itu perekonomian disusun sebagai
7

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan
itu adalah koperasi. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi
semua orang. Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
mengusai hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Kalau tidak, tuympuk produksi jatuh
ketangan orang-orang yang banyak ditindasinya. Hanya perusaan yang tidak mengusasi
hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orang-orang.
Bumi dan air dan kekayaan alam terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok
kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pasal 33 UUD 1945 merupakan pasal yang amat penting karena pasal ini menjadi
landasan

dan

pangkal

tolak

bagi

pembangunan

ekonomi.

Bahwa

masalah

perekonomiandi cantumkan dalam suatu pasal di bawah Bab mengenai Kesejahteraan


Sosial, mempunyai makna yang dalam dan menunjukan dengan jelas bahwa tujuan
ekonomi nasional adalah untuk kesejahteraan sosial dan kemakmuran bagi rakyat banyak
dan bukan untuk orang perorangan atau suatu golongan. Dalam pasal 33 UUD 1945 ini
pula di tegaskan asas demokrasi ekonomi dalam dalam perekonomian Indonesia.
Berdasarkan pasal 33 UUD 1945 tersebut, GBHN menggariskan bahwa pembangunan
di bidang ekonomi yang di dasarkan kepada Demokrasi Ekonomi menentukan bahwa
masyarakat harus memegang peranan aktif dalam kegiatan pembangunan. Sedangkan
Pemerintah berkewajiban memberikan pengarahan dan bimbingan terhadap pertumbuhan
ekonomi serta menciptakan iklim yang sehat bagi perkembangan dunia usaha. Sebaliknya
dunia usaha perlu memberikan tangggapan terhadap pengarahan dan bimbingan serta
penciptaan iklim tersebut dengan sigiat-giatnya yang nyata.
Dalam mengembangkan kopresi, Presiden mengatakan dalam pidato kenegaraan
tanggal 16 Agustus 1983 : Dalam rangka mendorong prakarsa dan partisipasi rakyat itu,
pengembangan koperasi merupakan usaha yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam
tanggung jawab kita bersama untuk melaksanakan semangat dan kehendak pasal 33
UUD. Dalam Repelita IV koperasi harus semakin l;uas dan berakar alam masyarakat,
sehinga koperasi secara bertahap dapat menjadi salah satu sokoguru perekonomian
nasional kita. Untuk itu peranan dan usaha koperasi perlu ditingkatkan dan diperluas
bebagai sector. Seperti sector pertaniaan, perindustrian, perdagangan, angkutan,
kelistrikan, dan lain-lain. Dalam rangka mempercepat pertumbuhan koperasi dibergaigai
bidang tadi, maka akan di dorong dan dikembangkan kerjasama anatara koperasi dengan
usaha swasta dan usaha Negara. Di samping itu juga kita akanlanjutkan penggunaan
8

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

koperasi fungsional seperti koperasi buruh dan kariawan perusahaan, koperasi pegawai
negeri, koperasi mahasiswa dan sebagainya sehingga koperasi makin memasyarakat dan
makin membudaya.
Dengan demikian terhadapt tiga unsur penting dalam tata perekonomian yang di
susun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dalam Demokrasi Ekonomi
yang sector Negara, sector swasta dan koperasi. Ketiga sector ini harus dikembangkan
secara serasi dan mantap.

B. Deskripsi Pemikiran Mohammad Hatta


Bung Hatta adalah salah satu the founding father dan tokoh proklator republik
indonesia bersama soekarno. Dalam sejarah percaturan politik dan pemikiran politik
diindonesia pada masa kolonialisme dan pendudukan jepang sserta pada era
kemerdekaan mereka menjadi aikon bangsa indonesia dalam merancang indonesia
yang merdeka dan beraulat, berkesejahteraan.
Sekilas menelusuri kehidupan pribadin Hatta (1902-1980), keluarganya, serta
pendidikan dan perjuangan politiknya sangat penting karena sangat berpengaruh
dalam bentuk cara berpikir. Hatta ketika kecil di Minagkabau terjaadi gejolak dan
peperangan akibat prilaku kolonial belanda banyak berbuat tidak adil dan semenamena pada rakyat.sehingga berakhir pada peperangan antara nagari kamang bukittiggi
dengan pmerintah kolonial belanda pada 1908. Hatta disekolahkan oleh oran tuanya
di Sekolah Rakyat, hanya tiga tahun ia pindah kesekolah belanda,yakni Europese
Lagere School (ELS). kemudian dia kuliah di belanda di Handels Hoogere School,
dengan mengambil jurusan ekonomi perdaganga. Perjuangan Hatta pada pergulatan
politik yang mempengaruhi pembentukkan kepribadiannya adalah ikut terlibat dalam
kegiatab Jon Sumatrane Bon (JSB), serta pergaulannya dengan orang terkemuka
dijakarta. Antara lain H Agus Slamim, Abdoel Moeis. Dibelanda Hatta pernah
memimpin Perhimpunan Indonesia (PI), melalui organisasi ini dia menegaskan
perlunya sikap Nonkooperatif untuk mengusir imperialisme Belanda demi tercapainya
indonesia merdeka. Melalui semboyang indonesia merdeka sekarang juga! Hatta
menghadiri forum internasional atau kongres anti inperialisme. Pada kongres anti
imperialisme di Brussel pada 1927 dia berkenalan dengan tokoh dari belahan negara
lain seperti tokoh pergerakn India Pandit Jawarha Nehru.
Atas hasil pergulatannya dengan dunia luar dan dalam negri Bug Hatta menjadi
tokoh yang menakutkan bagi Belannda dengan ketajaman berpikirnya. Memang
9

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

menyelami pemikiran politik Hatta tentang politik keindonesia ibarat menyelam


samudra luas. Begitu luas pemmaham yang beliau sumbagkan tentang konsep Negara
yang ideal bagi tegaknya indosesia yang beradab, mandiri, dan sejahterah. Ada
beberapa hal penting pemikiran politik Bung Hatta yang tersohor tentang Demokrasi
Ekonomi yang mendampingi demokrasi politik.
Menurut Hatta kerakyatan dalam sistem ekonomi mengetengahkan pentingnya
pengutamaan kepentingan rakyat, khusunya hajat hidup orang banyak,yang bersumber
pada kedaulatan rakyat atau demokrasi. Oleh karena itu tidak berlaku sisem
ortodoksi ekonomi sebagaimana pula demokrasi politick menolak otokrasi
politik.
Dalam demokrasi ekonomi yang diajukan Bung Hatta berlaku parisipasi
ekonomi, dan emansipasi ekonomi. Denokrasi itulah yang dimaksudnnya yang
bermakna pada paham kerakyatan, bahwa rakyat adalah berdaulat.Bagaimana
menegakkan dan menciptakan suatu masyarakat yang baik dan sejahterah. Untuk
mencapai itu menurut Hatta, Pertama, harus ada jiwa dan semangat tolong menolong
antara anggota dan warga masyarakat. Kedua, negara (politik) harus bersifat aktif dan
tidak hanya menyerahkan sepenuhnya persoalan ekonomi kepada mekanisme pasar
swasta dan koperasi. Bagi Bung Hatta kondisi seperti itu bisa menciptakan efisiensi
yang tinggi sehingga mampu mengantarkan masyarakat pada tingkat kesejahteraan
yang diharapkan. Atas pemikiran itu Hatta di juluki sebaga bapak kedaulatan, bapak
koperasi (ekonomi) bangsa ini.
Atas pemikiran-politik tentang kedaulatan rakyat tersebut Bung Hatta mengalami
tudingan oleh kawan-kawan seperjuangannya dan para analisis tentang pokok ajaran
pikirannya tentang demokrasi politik dan demokrasi ekonomi dikemudian hari.
Misalnya dalam konteks pemikiran islam perannya dalam menghapus tujuh (7) kata
Piagam jakkarta menjelang proklamasi kemerdekaan, telah menyebabkan dirinya
tidak sebagai kelompk islam. Misalnya Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Khar
Muzakkar, M. Natsir, Syafruddin Prawira Negara dan lain-lain. Mengatakan sebagai
kelompok nasionalis seperti Soekarno, dan Sjahrir.Hatta juga dicap sebagai
kelompok Nasionalis Sekuler sebagai antitesis dari nasionalis islam. Demiian yang
dikatakan TH. Sumartana dan MC Ricklefs. Lain dari pada itu, Endang Saifunddi
Anshari mengatakan Hatta adalah nasionalis muslim sekuler.

10

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

C. Tujuan Sistem Ekonomi


Tujuan sistem ekonomi suatu bangsa atau suatu negara pada umumnya meliputi
empat tugas pokok :
1. Menentukan apa, berapa banyak dan bagaimana produk-produk dan jasa-jasa yang
dibutuhkan akan dihasilkan.
2. Mengalokasikan produk nasional bruto (PNB) untuk konsumsi rumah tangga,
konsumsi masyarakat, penggantian stok modal, investasi.
3. Mendistribusikan pendapatan nasional (PN), diantara anggota masyarakat :
sebagai upah/ gaji, keuntungan perusahaan, bunga dan sewa.
4. Memelihara dan meningkatkann hubungan ekonomi dengan luar negeri.
(Grossman, Gregoary, 1967).

Tujuan dan Sasaran Demokrasi Ekonomi Indonesia


Menurut San Afri Awang Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, tujuan
utama penyelenggaraan demokrasi ekonomi pada dasarnya adalah untuk mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melalui peningkatan kemampuan
masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda perekonomian. Bila tujuan utama
ekonomi kerakyatan itu dijabarkan lebih lanjut, maka sasaran pokok ekonomi kerakyatan
dalam garis besarnya meliputi lima hal berikut :
1. Tersedianya peluang kerja dan penghidupan yang layak bagi seluruh anggota
masyarakat.
2. Terselenggaranya sistem jaminan sosial bagi anggota masyarakat yang membutuhkan,
terutama fakir miskin dan anak-anak terlantar.
3. Terdistribusikannya kepemilikan modal material secara relatif merata di antara
anggota masyarakat.
4. Terselenggaranya pendidikan nasional secara cuma-cuma bagi setiap anggota
masyarakat.
5. Terjaminnya kemerdekaan setiap anggota masyarakat untuk mendirikan dan menjadi
anggota serikat-serikat ekonomi.
Agar tetap bisa mengikuti perkembangan zaman, koperasi harus bisa memberikan
sumbangan nyata kepada pemberdayaan ekonomi rakyat. Jika hal ini tidak dilakukan
maka koperasi yang diharapkan akan menjadi sokoguru perekonomian nasional tidak
akan mampu untuk bersaing dengan pelaku ekonomi lain baik pemerintah maupun
swasta.
11

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

Tujuan yang diharapkan dari penerapan Sistem Demokrasi Ekonomi Indonesia :


1. Membangun Indonesia yang berdikiari secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan
berkepribadian yang berkebudayaan
2. Mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan
3. Mendorong pemerataan pendapatan rakyat
4. Meningkatkan efisiensi perekonomian secara nasional

Ciri-ciri Positif Demokrasi Ekonomi


1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan
2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara
3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
4. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara
5. Setiap warga negara diberi kebebasan untuk memilih dalam menentukan pekerjaan
dan penghidupan yang layak
6. Hak milik perseorangan diakui, tetapi dalam batas pemanfaatannya tidak bertentangan
dengan kepentingan umum.
7. Penggunaan sumber-sumber keuangan dan kekayaan negara atas permufakatan
lembaga-lembaga perwakilan rakyat, sedangan pengawasan dan kebijakannya ada
pada lembaga-lembaga perwakilan rakyat
8. Potensi inisiatif, serta daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya
dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum

Ciri-ciri negatif yang harus dihindari dalam demokrasi ekonomi


1. Sistem persaiangan bebas (free fight liberalism) yang akan menyebabkan homo
homini lupus
2. Sistem etatisme yang memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk mendominasi
perekonomian sehingga akan mematikan potensi dan daya kreasi masyarakat
3. Sistem monopoli yang memusatkan kekuasaan ekkonomi pada satu kelompok yang
akan merugikan masyarakat

12

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

D. Struktur Perekonomian Indonesia


Berdasarkan tinjauan makro-sektoral perekonomian suatu negara dapat berstruktur
agraris (agricultural), industri (industrial), niaga (commercial) hal ini tergantung pada
sector apa/mana yang dapat menjadi tulang punggung perekonomian negara yang
bersangkuatan.
Pergeseran struktur ekonomi secara makro-sektoral senada dengan pergeserannya
secara keuangan (spasial). Ditinjau dari sudut pandang keuangan (spasial), struktur
perekonomian telah bergeser dari struktur pedesaan menjadi struktur perkotaan
modern.
Struktur perekonomian indoensia sejak awal orde baru hingga pertengahan dasa
warsa 1980-an berstruktur etatis dimana pemerintah atau negara dengan BUMN dan
BUMD sebagai perpanjangan tangannya merupakan pelaku utama perekonomian
Indonesia. Baru mulai pertengahan dasa warsa 1990-an peran pemerintah dalam
perekonomian berangsur-angsur dikurangi, yaitu sesudah secara eksplisit dituangkan
melalui GBHN 1988/1989 mengundang kalangan swasta untuk berperan lebih besar
dalam perekonomian nasional.
Struktur ekonomi dapat pula dilihat berdasarkan tinjauan birokrasi pengambilan
keputusan. Berdasarkan tinjauan birokrasi pengambilan keputusannya dapat dikatakan
bahwa struktur perekonomian selama era pembangunan jangka panjang tahap pertama
adalah sentralistis. Dalam struktur ekonomi yang sentralistik, pembuatan keputusan
(decision-making) lebih banyak ditetapkan pemerintah pusat atau kalangan atas
pemerintah (bottom-up).

Perubahan Struktur Ekonomi


Pembangunan ekonomi dalam jangka panjang, mengikuti pertumbuhan pendapatan
nasional, akan membawa perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi
tradisional dengan pertanian sebagai sector utama ke ekonomi modern yang didominasi
sector non primer, khususnya industri manufaktur dengan increasing return to
scale (relasi positif antara pertumbuhan output dan pertumbuhan produktivitas) yang
dinamis sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi (Weiss, 1988).
Meminjam istilah Kuznets, perubahan struktur ekonomi umum disebut transformasi
structural dan dapat didefinisikan sebagai rangkaian perubahan yang saling terkait satu
dengan lainnya dalam komposisi permintan agregat, perdagangan luar negeri (ekspor dan
impor), dan penawaran agregat (produksi dan penggunaan factor-faktor produksi seperti
13

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

tenaga kerja dan modal) yang diperlukan guna mendukung proses pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Chenery, 1979).
a. Teori
Teori perubahan structural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme
transformasi ekonomi yang dialami oleh negara-negara sedang berkembang, yang
semula bersifat subsisten (pertanian tradisional) dan menitikberatkan sector pertanian
menuju struktur perekonomian yang lebih modern yang didominasi sector non primer,
khususnya industri dan jasa. Ada 2 teori utama yang umum digunakan dalam
menganalisis perubahan struktur ekonomi yakni dari Arthur Lewis (teori migrasi) dan
Hollis Chenery (teori transformasi structural).
Teori Arthur Lewis pada dasarnya membahas proses pembangunan ekonomi yang
terjadi di pedesaan dan perkotaan (urban). Dalam teorinya, Lewis mengasumsikan
bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu
perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sector utama. Di
pedesaan, karena pertumbuhan penduduknya tinggi, maka kelebihan suplai tenaga
kerja dan tingkat hidup masyarakatnya berada pada kondisi subsisten akibat
perekonomian yang sifatnya juga subsisten. Over supply tenaga kerja ini ditandai
dengan nilai produk marjinalnya nol dan tingkat upah riil yang rendah.
Di dalam kelompok negara-negara berkembang, banyak negara yang juga
mengalami transisi ekonomi yang pesat dalam tiga decade terakhir ini, walaupun pola
dan prosesnya berbeda antar negara. Hal ini disebabkan oleh perbedaan antar negara
dalam sejumlah factor-faktor internal berikut :
1. Kondisi dan struktur awal dalam negeri (economic base)
2. Besarnya pasar dalam negeri
3. Pola distribusi pendapatan
4. Karakteristik industrialisasi
5. Keberadaan SDA
6. Kebijakan perdagangan LN

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Subandi, dalam bukunya Sistem Ekonomi Indonesia, menulis bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum, adalah :
1. Faktor produksi
2. Faktor investasi
14

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

3. Faktor perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran


4. Faktor kebijakan moneter dan inflasi
5. Faktor keuangan negara
Sedangkan Tambunan, dalam bukunya Perekonomian Indonesia, menulis bahwa
di dalam teoti-teori konvensional, pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh
ketersediaan dan kualitas dari factor-faktor produksi seperti SDM, kapital, teknologi,
bahan baku, enterpreneurship dan energi. Akan tetapi, factor penentu tersebut untuk
pertumbuhan ekonomi jangka panjang, bukan pertumbuhan jangka pendek.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan lebih baik,
sama atau lebih buruk dari tahun 2000 lebih ditentukan oleh factor-faktor yang
sifatnya lebih jangka pendek, yang dapat dikelompokkan ke dalam factor internal dan
eksternal.
Factor eksternal didominasi oleh factor-faktor ekonomi, seperti perdagangan
internasional dan pertumbuhan ekonomi kawasan atau dunia.
1. Faktor-faktor Internal
a. Faktor ekonomi, antara lain :

Buruknya fundamental ekonomi nasional

Cadangan devisa

Hutang luar negeri dan ketergantungan impor

Sektor perbankan dan riil

Pengeluaran konsumsi

b. Faktor non ekonomi, antara lain :

Kondisi politik, social dan keamanan

PMA dan PMDN

Pelarian modal ke luar negeri

Nilai tukar rupiah

2. Faktor-faktor Eksternal
Kondisi perdagangan dan perekonomian regional atau dunia

E. Evolusi Ekonomi Indonesia


Krisis ekonomi adalah proses penyesuaian suatu struktur perekonomian dalam
proses evolusinya. Krisis ekonomi mendorong adanya koreksi dari beberapa ekonom
sebagai mekanisme adaptasi alamiah untuk memperbaiki kinerja perekonomian saat
15

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

ini. Setiap koreksi merupakan bagian dari proses penyesuaian perekonomian


Indonesia terhadap perubahan lingkungan.
Serupa dengan evolusi alamiah mekanisme koreksi dapat berupa proses
anagenesis dan cladeogenesis. Pendekatan koreksi terhadap bagian-bagian tertentu
dalam suatu sistem perekonomian serupa dengan proses cladeogenesis. Hal ini
tampak jelas dalam perekonomian Indonesia pasca krisis 1998. Sementara,
pendekatan koreksi terhadap sistem sampai dengan landasan epistimologis ilmu
ekonomi merupakan proses koreksi yang serupa dengan proses anagenesis. Kondisi
ini pernah terjadi pada peralihan sistem ekonomi orde lama ke orde baru.
Umumnya para ekonom yang masih mempercayai prinsip-prinsip ekonomi
ortodoks yang menempatkan manusia sebagai makhluk ekonomi yang rasional
menggunakan pendekatan pertama dalam melakukan koreksi terhadap perekonomian.
Koreksi terhadap perekonomian dalam pendekatan ini diprioritaskan untuk
memperbaiki kinerja sistem perekonomian tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar
homoeconomicus dalam implementasinya. Perbaikan institusi perekonomian baik
infrastruktur maupun suprastruktur perekonomian menjadi jalan utama dalam
mengkoreksi perekonomian dari krisis ekonomi.
Pendekatan kedua dilakukan melalui pendekatan yang mengkoreksi prinsipprinsip dalam sistem perekonomian namun juga terhadap metodologi ilmu ekonomi.
Para ekonom dengan yang menggunakan pendekatan ini umumnya menolak asumsi
rasionalitas yang melekat secara inheren pada mazhab ekonomi ortodoks. Contoh
terkini bagaimana implementasi pendekatan kedua ini adalah pembentukkan Grameen
Bank di Bangladesh.
Apa yang terjadi di Grameen Bank serupa dengan yang pernah dirintis oleh para
ekonom seperti Mubyarto, Dawam Rahardjo dan Sri Edi Swasono. Para ekonom
tersebut memiliki perspektif berbeda tentang cara perekonomian Indonesia bekerja
dengan metode yang sangat Indonesia dan berbeda dengan metode rasionalitas
dalam ilmu ekonomi ortodoks. Pendekatan alternatif ini dalam beberapa publikasi
dikenal dengan ekonomi pancasila dan demokrasi ekonomi. Dua pendekatan
heteorodoks ini diperkenalkan oleh dua ekonom senior dari dua Fakultas Ekonomi
terpandang di negeri ini.
Berdasarkan konteks di atas pertanyaan tentang posisi ilmu ekonomi ortodoks
maupun heterodoks dalam proses keparipurnaan evolusi ekonomi Indonesia menjadi
16

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

relevan. Sebelum menjawabnya tidak ada salahnya jika kita melihat kondisi saat ini
perekonomian Indonesia. Kondisi saat ini perekonomian Indonesia yang sering pula
disebut oleh sebagai hadiah-hadiah masa lalu dari seluruh proses evolusi baik secara
anagenesis maupun cladeogenesis. Anagenesis terjadi pada saat perubahan
perekonomian orde lama ke orde baru, sementara koreksi sistem perekonomian pasca
krisis tahun 1998 menggambarkan cladeogenesis pada perekonomian Indonesia.
Selain kondisi saat ini, hal yang tidak kalah pentingnya untuk dipertimbangkan adalah
potensi dan lingkungan ekonomi Indonesia di masa depan.
Pada situasi seperti inilah ada baiknya kita melihat bagaimana perkembangan
aplikasi ilmu ekonomi heteodoks yang digagas oleh Muhammad Yunus di Bangladesh
melalui Grameen Banknya. Dalam berbagai catatan perkembangan Grameen Banknya terdapat salah satu simpulan penting yang dapat diangkat yaitu Muhammad
Yunus meskipun belum mampu mengembangkan ilmu ekonomi heterodoks yang
sesuai dengan negaranya namun beliau mampu mengembangkan aplikasi ilmu
ekonomi heterodoks di Bangladesh. Proses tersebut tidak terlepas dari adaptasi baik
yang dilakukan oleh Muhammad Yunus melalui pengenalan terhadap kondisi internal
masyarakatnya yang memiliki struktur asumsi berbeda dengan struktur masyarakat
dalam ilmu ekonomi heterodoks.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Ada baiknya para ekonom mulai lebih jernih
dalam melihat persoalan perekonomian Indonesia. Setiap ekonom harus mampu
keluar dari kotak mazhab mereka masing-masing dalam melihat karakter pelaku
ekonomi di Indonesia yang masih terdiri dari pelaku sektor modern dan sektor
tradisional yang saling diklaim oleh para ekonom ortodoks maupun heterodoks
terdapat dalam struktur ekonomi yang terpisah satu dengan yang lain. Hal tersebut
dikonfirmasi oleh data statistik yang menunjukkan bahwa lebih dari 50% masyarakat
Indonesia bekerja di sektor pertanian yang menyumbang tidak lebih dari 30% dari
produktivitas nasional saat ini.
Kondisi di atas secara gamblang menunjukkan bahwa anagenesis yang terjadi
dalam perekonomian Indonesia tidak terjadi secara sempurna. Proses anagenesis
perekonomian Indonesia terjadi secara sektoral atau dapat dianalogikan terjadi hanya
pada bagian kepala dan tenggorokan. Kondisi tersebut pasca tahun 1998 ternyata
mengalami proses cladeogenesis yang cepat sehingga membentuk kondisi
perekonomian Indonesia seperti saat ini. Sementara bagian dada, perut dan organ lain

17

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

dalam perekonomian Indonesia tampak hanya mengalami cladeogenesis dari struktur


perekonomian Indonesia di awal kemerdekaan.
Sejauh ini solusi yang ditawarkan oleh para ekonom ortodoks belum optimal
mendorong proses anagenesis perekonomian Indonesia untuk serupa dengan kondisi
lingkungan ekonomi baik regional Asia maupun global. Sementara di sisi lain para
ekonom heterodoks masih berusaha mempertahankan bentuk struktur tubuh
perekonomian Indonesia sama seperti kondisi di awal kemerdekaan yang diklaim
sebagai kondisi ideal ekonomi Indonesia. Pencegahan terhadap proses anagesis
menjadi salah satu jalan dalam mempertahankan kondisi ideal ini.

18

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada situasi Indonesia saat ini, diperlukan kearifan dari setiap unsur untuk
menentukan arah perekonomian Indonesia apakah akan menyesuaikan diri secara total
atau berproses anagenesis atau akan melakukan proses cladeogenesis. Hal ini menjadi
suatu agenda besar yang harus diselesaikan oleh setiap pemimpin dan seluruh ekonom
di negeri ini dalam memparipurnakan proses evolusi ekonomi Indonesia.

19

DEMOKRASI EKONOMI BERDASARKAN PANCASILA