Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH

TAOISME : LAO TZU


Oleh:
JUADIR IHSAN

JALAN ALAMIAH KEBEBASAN1

RUSLI LATIF

PENDAHULUAN
Menurut tradisi, Lao Tzu (sebuah nama yang secara harfiah berarti Tuan Tua)
adalah seorang penduduk asli Negara Chu yang sekarang berada di sebelah selatan
provinsi Honan, Dia berasala dari keluarga kasta LI, dan nama pribadinya adalah Tan.
Lao Tzu mungkin sesaman dengan Confusius, yang menurut pendapat umum bahwa Lao
Tzu pernah belajar tata cara upacara. Buku pertama yang mempergunakan namanya
sebagai judul, Lao Tzu, yang kemudian hari dikenal dengan judul Tao Te Ching (The
Treatise on the Way and Its Power).
Karya dianggap sebagai buku filsafat pertama dalam sejarah Cina. Tetapi, para
sarjana banyak berbeda pendapat mengenai antara Lao Tzu sebagai buku atau Lao Tzu
sebagai tokoh. Fung Yu Lan penulis buku A Short History Of Chinese Philosophy
mengatakan bahwa tidak perlu ada kaitan antara dua hal tersebut, karena sangat mungkin
bahwa benar-benar ada seorang tokoh yang hidup yang dikenal sebagai Lao Tan, yang
hidup sesaman dengan confusius, tetapi bahwa buku yang berjudul Lao Tzumerupakan
hasil karya yang muncul dikemudian hari. Artinya, bahwa sama sekali tidak terdapat
hubungan antara Lao Tzu sebagai tokoh dan Lao Tzu sebagai buku.
LAO TZU
Seperti Confusius, Lao Tzu pada mulanya merupakan suatu jawaban terhadap
kondisi kemerosotan sosial zaman itu. Lao Tzu sama halnya dengan confusius yang
menilai bahwa kemiskinan dan kelaparan disebabkan oleh para pemimpin yang buruk,
karena ketamakan dan kelobaan menyebabkan berbagai peperangan dan pembunuhan dan
karena gila harta, kekuasaan dan kemuliaan membawa kehancuran pada masyarakat. Bisa
1

Lao-Tzu dalam The Treatise on the Way and Its Power (TAO TE CHING)

kita lihat bahwa Lao Tzu dan Confuisius masing-masing peduli dengan kemerosotan
masyarakat dan kualitas hidup manusia, namun filsafat mereka berkembang dengan cara
yang berbeda, malah bertentangan satu sama lain. Sementara confusius menekankan
kebaikan moral manusia sebagai kunci untuk memperoleh kebahagiaan, Lao Tzu justru
menekankan harmoni dan kesempurnaan kodrat alam.
Dalam Confusius, hidup yang sulit tapi dikembangkan secara baik dipandang
sebagai yang ideal. Namun Lao Tzu memandang hidup yang ideal sebagai hidup
sederhana sebagai sebuah hidup yang biasa, yang dalamnya orang-orang tidak mencari
untung, dan mengurangi hawa nafsu. Melihat ciri yang terakhir tentu Lao Tzu dan
Confusius sangat bertentangan, Confusius mengutamakan ritus dan musik sehingga hawa
nafsu dan emosi bisa dikembangkan dan diatur, karena disanalah letak perkembangan
Jen, atau kemanusiaan. Bagi Lao Tzu, usaha untuk mengembangkan dan mengatur hawa
nafsu dan emosi tampaknya bersifat artifisial dan cenderung mencampuri harmoni alam,
Lao Tzu menarkan jalan membiarkan hal-hal itubekerja secara alamiah menuju
kesempurnaan. Dengan jalan ini, tidak dibutuhkan tindakan, tidak dituntut peraturan, dan
dengan demikian setiap hal terlaksana dan segala sesuatu teratur.
TAO, yang Tak Bisa Diberi Nama
Segala sesuatu yang terletak dalam ruang dan bangun mempunyai nama, atau
setidaknya, memiliki kemungkinan mempunyai nama. Semuanya bisa diberi nama.
Namun bertolak belakang dengan apa yang bisa diberi nama, Lao Tzu justru berbicara
tentang sesuatu yang tidak bisa diberi nama. Tidak seluruh yang terletak di luar ruang dan
bangun itu tidak bisa diberi nama.
Dalam bab pertama buku Lao Tzu kita temukan penyataan: Tao yang dapat
dimuat dalam kata-kata bukanlah Tao yang abadi; nama yang dapat disebut dengan nama
bukanlah nama yang kekal. Yang tidak dapat diberi nama adalah permualaan langit dan
bumi; yang dapat diberi nama adalah induk segala sesuatu. Dalam bab tigah puluh dua
dinyatakan: Tao itu kekal, tiada bernama laksana balok yang belum diukir sekali
balok itu diukir , maka terdapat nama-nama. Atau dalam bab empat puluh satu: Tao
yang tersembunyi itu tiada bernama. Karena Tao tidak dapat diberi nama, maka ia tidak

dapat dimuat dalam kata-kata. Tetapi karena kita ingin membicarakannya, maka terpaksa
kita memberinya sejenis acuan. Oleh karena itu, kita menyebutnya Tao, yang sebenarnya
buka sebuah nama. Artinya, menyebut Tao sebagai Tao tidak sama dengan menyebut
meja sebagai meja. Bila kita menyebut meja sebagai meja, maka yang kita maksudkan
adalah bahwa ia memiliki sejumlah atribut yang dengan itu ia dapat dinamai. Tetapi jika
kita menyebut Tao sebagai Tao, maka yang kita maksud bukanlah bahwa ia memilki
sejumlah atribut yang dapat diberi nama. Ini hanyalah sekedar acuan, atau dengan
menggunakan ungkapan yang lazim dalam filsafat cina, Tao adalah sebuah Nama yang
buka merupakan Nama. Dalam bab Dua puluh satu buku Lao-Tzu dikatakan: sejak
dahulu hingga sekarang, namanya (nama Tao) tidak pernah musnah, dan menyaksikan
permulaan (segala sesuatu).
Tao adalah sesuatu yang menjadi sebab adanya apa saja dan segala hal. Karena
sesuatu senantiasa ada, maka Tao tidak pernah tenggelam. Ia adalah permulaan dari
segala permulaan, dan oleh karena itu ia menyaksikan permulaan segala sesuatu. Nama
yang tidak pernah tenggelam menjadi nama yang abadi, dan nama semacam ini dalam
kenyataannya sama sekali bukanlah sebuah nama. Oleh karena itu dikatakan: Nama
yang dapat dinamai bukanlah sebuah nama yang abadi. Terdapat banyak yang ada tetapi
hanya satu Yang-Ada. Dalam buku Lao-Tzu dikatakan; dati Tao muncul satu. Dari satu
muncul dua. Dari dua muncul tiga. Dari tiga muncul segala sesuatu (Bab 42). satu
yang dibicarakan disi mengacu kepada Yang-Ada. Mengatalan bahwa dari Tao muncul
satu, sama seperti megatakan dari Bukan yang-ada muncul Yang-Ada. Tentang Dua
atau Tiga ada banyak interpretasi. Tetapi ungkapan ini, bahwa dari satu muncul dua.
Dari dua muncul tiga.Dari tiga muncul segala sesuatu. Mungkin sama dengan saja
mengatakan bahwa dari Yang-Ada muncul segala sesuatu. Yang-Ada adalah satu, dan
dua atau tiga adalah permulaan dari yang-banyak.
HUKUM ALAM yang tidak BERUBAH
Dalam bab terakhir buku Chuang-tzu, berrjudul Dunia dikatakan bahwa
gagasan-gagasan utama Lao Tzu adalah gagasan-gagasan tentang Tai Yi atau Yang
Maha Tunggal dan tentang Yang-Ada, Bukan yang-ada, serta yang-tidak berubah.
Yang Tiada Berubah adalah terjemahan dari kata chang dalam bahasa Cina, bisa juga

diterjemahkan sebagai yang kekalatau abadi. Walaupun segala sesuatu dapat berubah dan
sedang berubah, tetapi hukum yang mengatur perubahan sesuatu itu tidak bisa berubah.
Di antara hukum-hukum yang mengatur segala sesuatu, yang paling fundamental
adalahketika sesuatu itu mencapai suatu posisi yang ekstrem, maka ia akan berbalik
darinya. Karena, pembalikan adalah gerakan Tao dan bergerak semakin lama semakin
menjauh, berarti segera akan kembali lagi. Gagasan dari ungkapan ini adalah jika apa
pun yang mengembangkan kualitas-kualitas ekstrem tertentu, maka kualitas-kualitas itu
dengan tetap berbalik menjadi penentang-penentangnya. Oleh karena itu: Bencanalah
yang menopang berkah, berkahlah yang melandasi bencana (bab 58). Contoh; terang
siang hari menjadi gelap malam hari, panas menjadi dingin atau sebaliknya, musim selalu
berganti. Dan Lao Tzu menyebutnya sebagai gerak kembalinya segala sesuatu.
Perubahan

adalah

sesuatu

yang

tak

berubah,

dan

Lao

Tzu

menyebutnya

Ketidakberubahan.
PERILAKU MANUSIA
Lao Tzu meningatkan kita: tidak mengetahui yang tak-berubah dan bertindak
secara membuta berarti terjerumus kedalam bencana. Orang-orang seharusnya
mengetahui hukum-hukum alam dan melakukan aktivitasnya sesuai dengan hukumhukum tersebut. Hal ini, oleh Lao Tzu, disebut mengamalkan pencerahan artinya jika
seseorang ingin kuat, maka ia harus mulai dengan dengan suatu perasaan bahwa ia lemah,
dan bila orang ingin melestarikan kapitalisme, maka ia harus memasukkan di dalamnya
unsur-unsur sosialisme. Oleh karena itu, Lao Tzu mengatakan: Orang bijaksana,
menempatkan dirinya dibelakan layar, maka dari itu ia selalu mengedepan.
Didalam buku lao-tzu juga kita temukan: Biarkan terpecah-pecah, maka sesuatu
itu akan utuh. Biarkan bengkok, maka sesuatu itu akan lurus. Biarkan kosong, maka
sesuatu itu akan terisi. Biarkan punya sedikit, maka ia akan berhasil. Tetapi biarkan
punya banyak, maka ia akan kebingungan. Demikianlah jalan yang ditempuh oleh orang
yang bersikap hati-hati agar dapat hidup selamat dalam dunia dan mencapai tujuantujuannya.
Lebih jauh Lao Tzu mengatakan orang yang hidup dengan hati-hati haruslah
memiliki sifat sabar, rendah hati, dan mudah puas. Sabar adalah jalan untuk

melestarikan kekuatan anda dan dengan cara demikian Anda akan menjadi orang yang
kuat. Rendah hati bertentangan secara langsung dengan kesombongan, sehingga apabila
kesombongan muncul merupakan pertanda bahwa kemajuan seseorang telah mencapai
batas ekstremnya, maka rendah hati sebaliknya merupakan tanda bahwa batas yang akan
dicapai itu masih jauh. Dan mudah puas merupakan jaminan agar seseorang tidak
bergerak terlalu jauh, oleh karena itu jaminan agar tidak mencapai titik ekstrem.
Manusia seharusnya memiliki sifat Wu-wei. Wu-wei secara harfiah dapat
diterjemahkan sebagai Tidak memiliki Aktivitas atau Tidak Berbuat. Terjemahan di
atas bersifat metaphor. Artinya, kegiatan itu sama seperti hal-hal yang lain. Bila terlalu
banyak bukannya baik malah akan merugikan. Selain itu, tujuan melaksanakan sesuatu
adalah agar dapat menyelesaikan sesuatu itu. Tetapi bila dilakukan secara berlebihan,
maka hasilnya pun berupa sesuatu yang berlebihan, yang mungkin lebih buruk jika tidak
dikerjakan sama sekali.
Menurut Lao Tzu, Tao adalah yang dengannyalah segala sesuatu menjadi ada.
Dalam proses menjadi ada ini, masing-masing sesuatu memperoleh sesuatu dari Tao
universal. Dan sesuatu itu disebut TE. TE adalah kata yang berarti kekuatan atau
kebajikan, baik dalam arti moral maupun non moral. Dalam hal melaksanakan sesuatu
seseorang

hendaknya

mengambil

kesederhanaan

sebagai

prinsip

hidup

yang

membimbingnya. Kesederhanaan merupakan gagasan yang penting dari Lao Tzu. tidak
terdapat apapun yang lebih sederhana dari Tao,

merupakan sesuatu yang paling

sederhana berikutnya, dan manusia yang mengikuti Te harus bersikap sederhana.


TEORI POLITIK
Penganut Taoisme sepakat dengan penganut Confucianisme bahwa Negara Ideal
adalah Negara yang dipimpin oleh seorang manusia bijaksana. Hanya manusia bijaksana
yang dapat dan harus berkuasa. Tetapi perbedaan diantara kedua mazhab ini adalah
bahwa menurut penganut confusius, ketika seseorang manusia bijaksana menjadi
penguasa, maka ia harus melakukan banyak hal untuk rakyatnya, sementara menurut
penganut Taoisme, kewajiban penguasa bijaksana bukanlah melakukan banyak hal, tetapi
justru membiarkan atau sama sekali tidak melakukan apapun. Alasannya menurut Lao
Tzu adalah, bahwa kekacauan didunia muncul bukan karena banyak hal yang belum

dikerjakan melainkan karena terlalu banyak hal yang dikerjakan. Dalam buku Lao-Tzu
kita membaca: Makin banyak batasan dan dan larangan yang terdapat dalam dunia,
maka makin banyak yang akan menjadi lebih miskin. Makin banyak senjata tajam yang
dimiliki rakyat, maka Negara akan makin kacau. Makin banyak huku yang diteapkan,
makin banyak pencuri dan penjahat yang akan bermunculan. (bab 27).
Maka tindakan seorang penguasa bijaksana yang pertama adalah meniadakan
semua itu. Lao Tzu berkata: Campakkan kearifan, singkirkan pengetahuan, maka rakyat
akan memperoleh manfaat seratus kali lipat. Campakkan rasa kemanusiaan, singkirkan
rasa keadilan, maka rakyat akan jadi penurut dan akan memiliki rasa kebersamaan.
Campakkan keahlian, singkirkan keuntungan, maka pencuri dan perampok akan lenyap.
(bab 19). Juga disebutkan: Jangan mengagun-agungkan orang-orang terhormat, maka
rakyat tidak akan bertengkar lagi. Jangan memandang tinggi benda-benda berharga yang
sulit diperoleh, maka pencuri tidak aka nada lagi. Jika rakyat tidak pernah melihat bendabenda yang membangkitkan keinginan, maka pikiran mereka tidak akan rancu. Itulah
sebabnya manusia bijaksana memerintah rakyat dengan jalan mengosongkan pikiran
mereka, serta mengencangkan syaraf mereka, dan senantiasa membuat rakyat tanpa
pengetahuan dan tanpa keinginan. (Bab 3).

SUMBER UTAMA
Fung Yu Lan, A Short History Of Chinese Philosophy, New York, penerbit The Free
Press, 1966
John M. Koller, Filsafat Asia, terj: Donatus Sermada, Flores, NTT. Penerbit Ledalero,
2010.