Anda di halaman 1dari 15

SLE

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam Kongres Internasional Lupus Sedunia di New York, awal Mei lalu, lebih dari 1200 peserta
dari seluruh penjuru dunia hadir, baik dari kalangan medik, perawat, peneliti, maupun mereka yang
terkena lupus. Dokter spesialis yang hadir pun beragam, seperti spesialis penyakit dalam, konsultan
hematologi, rematologi, ginjal, spesialis kulit dan kebidanan.
Organisasi ataupun perhimpunan orang dengan lupus juga hadir dari berbagai negara, dari
Indonesia hadir Ketua Yayasan Lupus Indonesia (YLI) yang merupakan wakil satu-satunya dari
perhimpunan serupa di Asia. Untuk diketahui saat ini, ada lebih dari 5 juta pasien lupus di seluruh
dunia dan setiap tahun ditemukan lebih dari 100.000 pasien baru, baik usia anak, dewasa, laki-laki,
dan perempuan. Sebagian besar pasien lupus ditemukan pada perempuan usia produktif. Jumlah
pasien di Indonesia yang secara tepat tidak diketahui diperkirakan paling tidak sama dengan jumlah
pasien lupus di Amerika, yaitu 1.500.000 orang. Beberapa data menunjukkan insiden penyakit lupus
ras Asia lebih tinggi dibandingkan dengan ras Kaukasia.
Saat ini pasien lupus yang terdaftar sebagai anggota YLI ada 757 orang, sebagian besar
berdomisili di Jakarta. Salah satu tujuan proklamasi hari lupus sedunia adalah meningkatkan kualitas
layanan dan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi pengidap lupus. Masalah pertama adalah
seringnya penyakit pasien terlambat diketahui dan diobati dengan benar karena cukup banyak
dokter yang tidak mengetahui atau kurang waspada tentang gejala penyakit lupus dan dampak
lupus terhadap kesehatan.
Di Indonesia, rendahnya kompetensi dokter untuk mendiagnosis penyakit secara dini dan
mengobati penyakit lupus dengan tepat tercermin dari pendeknya survival 10 tahun yang masih
sekitar 50 persen, dibandingkan dengan negara maju, yang 80 persen. Masalah berikutnya adalah
belum terpenuhinya kebutuhan pasien lupus dan keluarganya tentang informasi, pendidikan, dan
dukungan yang terkait dengan lupus. Dirasakan penting sekali meningkatkan kewaspadaan
masyarakat tentang dampak buruk penyakit lupus terhadap kesehatan. Masalah lupus tidak hanya
berdampak buruk pada kesehatan pasien, namun juga mempunyai dampak psikologi dan sosial yang
cukup berat untuk pasien maupun keluarganya.
Genetik, lingkungan, hormonal dianggap sebagai etiologi SLE, yang mana ke tiga faktor ini saling
terkait erat. Faktor lingkungan dan hormonalberperan sebagai pencetus pada individu peka genetik
(Askandar, 2007).

Saat ini mortalitas lupus pada dekade 5 tahun terakhir menunjukkan perbaikan. Five year
survival rate-nya saat ini hampir 90 %, sedangkan 15 year survival rate-nya berkisar 63-79 %.
Kemajuan ini disebabkan pendekatan terapi yang lebih agresif dan kemajuan penggunaan
immunosupresan untuk menekan aktivitas penyakit. Prinsip engobatan adalah untuk menekan
aktivitas penyakit, untuk mencegah progresivitas dan memantau efek mpaing obat. Sampai saat ini
steriod masih digunakan sebagai pilihan utama untuk mengendalikan aktivitas penyakit.

1.2 Rumusan masalah


Dari latar belakang diatas dapat dirumusan masalah sebagai berikut :
Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit Sistemik Lupus Eritematosus
(SLE)?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum :
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien denagan Sistemik Lupus Eritematosus
(SLE).
1.3.2 Tujuan Khusus :
1.

Untuk mengetahui definisi dari Sistemik Lupus Eritematosus.

2.

Untuk mengetahui etiologi dari Sistemik Lupus Eritematosus.

3.

Untuk mengetahui patofisiologi dan pathway Sistemik Lupus Eritematosus.

4.

Untuk mengetahui manifestasi klinis Sistemik Lupus Eritematosus.

5.

Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang Sistemik Lupus Eritematosus.

6.

Untuk mengetahui penatalaksanaan medis Sistemik Lupus Eritematosus.

7.
Untuk mengetahui komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit Sistemik Lupus
Eritematosus.
8.

Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Sistemik Lupus Eritematosus.

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi mahasiswa
Mahasiswa mampu mempelajari dan memahami tentang penyakit Sistemik
Lupus Eritematosus.
1.4.2 Bagi masyarakat
Masyarakat mampu memahami tentang penyebaran penyakit Sistemik Lupus
Eritematosus, sehingga bisa mencegah penyakit ini sebelum menyerang mereka.
1.4.3 Bagi institusi
Mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada publik tentang pengobatan
penyakit Sistemik Lupus Eritematosus, dan memberikan penyuluhan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi SLE ( Sistemic Lupus Erythematosus )


SLE (Sistemisc Lupus Erythematosus) adalah penyakti radang multisistem yang sebabnya belum
diketahui, dengan perjalanan penyakit yang mungkin akut dan fulminan atau kronik remisi dan
eksaserbasi disertai oleh terdapatnya berbagai macam autoantibodi dalam tubuh.

2.2 Etiologi SLE ( Sistemic Lupus Erythematosus )


Kini faktor yang merangsangkan sistem pertahanan diri untuk menjadi tidak normal belum
diketahui. Ada kemungkinan faktor genetik, kuman virus, sinaran ultraviolet, dan obat obatan
tertentu memainkan peranan. Penyakit Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) ini lebih kerap ditemui
di kalangan kaum wanita. Ini menunjukkan bahwa hormon yang terdapat pada wanita mempunyai
peranan besar, walau bagaimanapun perkaitan antara Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) dan
hormon wanita saat ini masih dalam kajian. Penyakit Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) bukanlah
suatu penyakit keturunan. Walau bagaimanapun, mewarisi gabungan gen tertentu meningkatkan
lagi risiko seseorang itu mengidap penyakit Sistemik Lupus Erythematosus (SLE).

2.3 Klasifikasi SLE ( Sistemic Lupus Erythematosus )

Ada 3 jenis penyakit Lupus yang dikenal yaitu:


1. Discoid Lupus, yang juga dikenal sebagai Cutaneus Lupus, yaitu penyakit Lupus yang
menyerang kulit.
2. Systemics Lupus, penyakit Lupus yang menyerang kebanyakan system di dalam tubuh,
seperti kulit, sendi, darah, paru-paru, ginjal, hati, otak, dan system saraf. Selanjutnya kita singkat
dengan SLE (Systemics Lupus Erythematosus).
3. Drug-Induced, penyakit Lupus yang timbul setelah penggunaan obat tertentu. Gejalagejalanya biasanya menghilang setelah pemakaian obat dihentikan. Pengaruh kehamilan terhadap
SLE Eksaserbasi terjadi karena hormone estrogen meningkat selama kehamilan. Jika terjadi SLE,
maka eksaserbasi meningkat 50-60%. Pada T.III eksaserbasi 50%, T.I & T.II eksaserbasi 15%,
postpartum 20%. Pengaruh SLE terhadap kehamilan Prognosis bdasarkan remisi sebelum hamil, jika
> 6 bulan eksaserbasi 25% dengan prognosis baik, jika < 6 bulan eksaserbasi 50% dengan prognosis
buruk. Abortus meningkat 2-3kali, PE/E, kelahiran prematur, lupus neonatal.
4.

2.4 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinik secara umum yang sering timbul pada pasien SLE adalah rasa lelah, malaise,
demam, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan (Hahn, 2005). Gejala muskuloskeletal
berupa artritis, atralgia, dan mialgia umumnya timbul mendahului gejala yang lain. Yang paling
sering terkena adalah sendi interfalangeal proksimal diikuti oleh lutut, pergelangan tangan,
metakarpofalangeal, siku, dan pergelangan kaki (Delafuente, 2002).
Gejala di kulit dapat berupa timbulnya ruam kulit yang khas dan banyak menolong dalam
mengarahkan diagnosa SLE yaitu ruam kulit berbentuk kupu-kupu (butterfly rash) berupa eritema
yang agak edematus pada hidung dan kedua pipi. Dengan pengobatan yang tepat, kelainan ini dapat
sembuh tanpa bekas. Pada bagian tubuh yang terkena sinar matahari dapat timbul ruam kulit yang
terjadi karena hipersensitivitas (photohypersensitivity). Lesi cakram terjadi pada 10% 20% pasien
SLE. Gejala lain yang timbul adalah vaskulitis eritema periungual, livido retikularis, alopesia, ulserasi,
dan fenomena Raynaud (Delafuente, 2002).
Gejala SLE pada jantung sering ditandai adanya perikarditis, miokarditis, gangguan katup
jantung (biasanya aorta atau mitral) termasuk gejala endokarditisLibman-Sachs. Penyakit jantung
pada pasien umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor seperti hipertensi, kegemukan, dan
hiperlipidemia. Terapi dengan kortikosteroid dan adanya penyakit ginjal juga dapat meningkatkan
resiko penyakit jantung pada pasien SLE (Delafuente, 2002).
Gejala lain yang juga sering timbul adalah gejala pada paru yang meliputi pleuritis dan efusi
pleura. Pneumonitis lupus menyebabkan demam, sesak napas, dan batuk. Gejala pada paru ini
jarang terjadi namun mempunyai angka mortalitas yang tinggi. Nyeri abdomen terjadi pada 25%
kasus SLE. Gejala saluran pencernaan (gastrointestinal) lain yang sering timbul adalah mual, diare,
dan dispepsia. Selain itu dapat pula terjadi vaskulitis, perforasi usus, pankreatitis, dan
hepatosplenomegali (Delafuente, 2002).
Gejala SLE pada susunan saraf yaitu terjadinya neuropati perifer berupa gangguan sensorik dan
motorik yang umumnya bersifat sementara (Albar,2003). Gejala lain yang juga timbul adalah
disfungsi kognitif, psikosis, depresi, kejang, dan stroke (Delafuente, 2002).
Gejala hematologik umumnya adalah anemia yang terjadi akibat inflamasi kronik pada sebagian
besar pasien saat lupusnya aktif. Pada pasien dengan uji Coombs-nya positif dapat mengalami
anemia hemolitik. Leukopenia (biasanya limfopenia) sering ditemukan tetapi tidak memerlukan
terapi dan jarang kambuh. Trombositopenia ringan sering terjadi, sedangkan trombositopenia berat
disertai perdarahan dan purpura terjadi pada 5% pasien dan harus diterapi dengan glukokortikoid
dosis tinggi. Perbaikan jangka pendek dapat dicapai dengan pemberian gamaglobulin intravena. Bila
hitung trombosit tidak dapat mencapai kadar yang memuaskan dalam 2 minggu, harus
dipertimbangkan tindakan splenektomi (Delafuente, 2002).
Antikoagulan lupus (AL) termasuk dalam golongan antibodi antifosfolipid. Antikoagulan ini
diketahui berdasarkan perpanjangan waktu tromboplastin parsial (PTT) dan kegagalan penambahan

plasma normal untuk memperbaiki perpanjangan waktu tersebut. Antibodi terhadap kardiolipin
(aCL) dideteksi dengan pemeriksaan ELISA. Manifestasi klinis AL dan aCL adalah trombositopenia,
pembekuan darah pada vena atau arteri yang berulang, keguguran berulang, dan penyakit katup
jantung. Bila AL disertai dengan hipoprotombinemia atau trombositopenia, maka dapat
terjadi perdarahan.
Yang lebih jarang timbul adalah antibodi terhadap faktor pembekuan (VIII, IX); adanya antibodi
tersebut tidak dapat menyebabkan pembekuan darah sehingga perdarahan terjadi terus-menerus
(Hahn, 2005). Pada wanita dengan SLE yang mengalami kehamilan maka dikhawatirkan akan
mempercepat penyebaran penyakit selama kehamilan dan pada periode awal setelah melahirkan.
Selain itu juga dapat terjadi aborsi secara spontan atau kelahiran prematur. Kemungkinan terjadinya
preeklamsia atau hipertensi yang disebabkan kehamilan juga dapat memperparah penyakitnya
(Delafuente, 2002). Gejala klinik pada kerusakan ginjal dapat dilihat dari tingginya serum kreatinin
atau adanya proteinuria. Penyakit ginjal pada pasien SLE sering disebut lupus nefritis. Menurut
WHO, lupus nefritis dapat dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan biopsi ginjalnya yaitu
kelas I (normal/minimal mesangial), kelas II (mesangial), kelas III (focal proliferative), kelas IV (diffuse
proliferative), dan kelas V (membranous glomerulonephritis). Selama perjalanan penyakit pasien
dapat mengalami progesivitas dari satu kelas ke kelas yang lain. Pada pasien dengan lupus nefritis
terutama ras Afrika Amerika dapat terjadi peningkatan serum kreatinin, penurunan respon
terhadap obat-obat imunosupresan, hipertensi, dan sindrom nefrotik yang persisten (Delafuente,
2002).

2.5 Patofisiologi SLE

Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan
autoantibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara
faktor-faktor genetik, hormonal (sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi
selama usia reproduktif) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal). Obat-obat tertentu
seperti hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan di
samping makanan seperti kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE- akibat senyawa kimia
atau obat-obatan. Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel
T-supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan.
Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya serangsang antibodi tambahan dan siklus
tersebut berulang kembali.

2.6 Pemeriksaan Diagnostik

Diagnosis SLE dibuat berdasarkan pada riwayat sakit yang lengkap dan hasil pemeriksaan darah.
Gejala yang klasik mencakup demam, keletihan serta penurunan berat badan dan kemungkinan pula
artritis, peuritis dan perikarditis. Pemeriksaan serum : anemia sedang hingga berat,
trombositopenia, leukositosis atau leukopenia dan antibodi antinukleus yang positif. Tes imunologi
diagnostik lainnya mendukung tapi tidak memastikan diagnosis.

2.7 Penatalaksanaan Medis


1. Preparat NSAID untuk mengatasi manifestasi klinis minor dan dipakai bersama
kortikosteroid, secara topikal untuk kutaneus
2.

Obat antimalaria untuk gejal kutaneus, muskuloskeletal dan sistemik ringan SLE

3.

Preparat imunosupresan (pengkelat dan analog purion) untuk fungsi imun.

BAB III
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
3.1 ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Anamnesis riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan fisik difokuskan pada gejala
sekarang dan gejala yang pernah dialami seperti keluhan mudah lelah, lemah, nyeri, kaku,
demam/panas, anoreksia dan efek gejala tersebut terhadap gaya hidup serta citra diri pasien.
b.

Kulit

Ruam eritematous, plak eritematous pada kulit kepala, muka atau leher.
c.

Kardiovaskuler

Friction
rub
perikardium
yang
menyertai
miokarditis
dan
efusi
pleura.
Lesi eritematous papuler dan purpura yang menjadi nekrosis menunjukkan gangguan vaskuler
terjadi di ujung jari tangan, siku, jari kaki dan permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral
tanga.
d.

Sistem Muskuloskeletal

Pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika bergerak, rasa kaku pada pagi hari.
e.

Sistem integument

Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam berbentuk kupu-kupu yang melintang pangkal hidung
serta pipi.
Ulkus oral dapat mengenai mukosa pipi atau palatum durum.
f.

Sistem pernafasan

Pleuritis atau efusi pleura.


g.

Sistem vaskuler

Inflamasi pada arteriole terminalis yang menimbulkan lesi papuler, eritematous dan purpura di
ujung jari kaki, tangan, siku serta permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan dan
berlanjut nekrosis.
h.

Sistem Renal

Edema dan hematuria.


i.

Sistem saraf

Sering terjadi depresi dan psikosis, juga serangan kejang-kejang, korea ataupun manifestasi SSP
lainnya.

2. Masalah Keperawatan

a.

Nyeri

b.

Keletihan

c.

Gangguan integritas kulit

d.

Kerusakan mobilitas fisik

e. Gangguan citra tubuh

3. Analisa Data

Diagnosa
Keperawatan

Intervensi

Gangguan rasa
nyaman
(nyeri
kronik)
berhubungan
dengan efusi sendi
dan sesak akibat
efusi pleura .

Mandiri

o.

Tujuan : Setelah

a. Tentukan
karakteristik
nyeri,
missal : tajam, atau
seperti
ditusuk.
Selidiki
perubahan
lokasi/intensitas
nyeri.

Dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3x24

b. Pantau TTV

jam, diharapkan
rasa
teratasi.

nyeri

Kriteria Hasil :
Menyatakan
nyeri
hilang/terkontrol
Menunjukkan

c. Berikan
tindakan
untuk
meningkatkan
kenyamanan, missal:
relaksasi,
latihan
nafas dalam

Rasional

a.
Nyeri
dada
biasanya ada dalam
beberapa derajat pada
pneumonia, juga dapat
timbul
komplikasi
pneumonia
seperti
perikarditis
dan
endokarditis
b. Perubahan
frekuensi
jantung
menunjukkan
klien
merasa nyeri
c.
Tindakan
nonanalgesik diberikan
dengan
sentuhan
lembut
dapat
menghilangkan
ketidaknyamanan dan
memperbesar
efek
analgesic
d. Mencegah
terjadinya
kelelehan
umum dan kekakuan

rileks,
istirahat
tidur, peningkatan
aktivitas
dengan
cepat
Menggabungkan
ketrampilan
relaksasi
dan
aktivitas hiburan ke
dalam
program
control/nyeri

d. Anjurkan
untuk
sering
mengubah
posisi.
Bantu pasien untuk
bergerak
diatas
tempat tidur, hindari
tindakan
yang
menyentak
e. Anjurkan
untuk mandi dengan
air hangat. Sediakan
handuk hangat untuk
mengompres sendisendi
yang
sakit
beberapa kali sehari

f. Berikan
masase yang lembut

sendi,
mengurangi
gerakan/rasa sakit pada
sendi

e.
Panas
meningkatkan relaksasi
otot dan mobilitas,
menurunkan rasa nyeri
dan
melepaskan
kekakuan di pagi hari.
Sensitivitas
terhadap
panas
dapat
dihilangkan dan luka
dermal
dapat
disembuhkan
f.
Meningkatkan
relaksasi/mengurangi
tegangan otot

Memberikan
dukungan
untuk
menghilangkan nyeri

Kolaborasi
Bantu
terapi fisik
2
.

Gangguan
integritas kulit b.d
gangguan mobilitas
fisik
Tujuan : setelah
dilakukan tindakan
keperawatan

dengan

Mandiri
a. Kaji integritas
kulit, catat perubahan
turgor, warna, dan
eritema

a. Kondisi
kulit
dipengaruhi
oleh
sirkulasi dan mobilitas
jaringan dapat menjadi
rapuh dan cenderung
untuk infeksi berat.

selama 3 x 24 jam,
diharafkan
gangguan integritas
kulit berkurang.
Kriteria Hasil :
Mempertahakan
integritas kulit
Mengidentifikasi
faktor
risiko
/perilaku
klien
untuk
mencegah
cidera dermal
Melakukan
aktivitas sehari-hari
Observasi
perbaikan
luka
/penyembuhan lesi
bila ada.

b. Bantu untuk
melakukan
ROM
(Range Of Motion)
c. Inspeksi kulit/
titik tekan secara
teratur
untuk
kemerahan, berikan
pijatan lembut

d. Awasi tungkai
terhadap kemerahan,
perhatikan
dengan
ketat
terhadap
pembentukan ulkus.

Kolaborasi
Gunakan
pelindung, misalnya
lotion sesuai dengan
indikasi.

3
.

Intoleransi
aktivitas
b.d
tidak
seimbangnya suplai
dan kebutuhan O2
(anemia)
Tujuan : Setelah
dilakukan intervensi
keperawatan 3x24
jam,
diharapkan
menunjukkan

b. Untuk
meningkatkan sirkulasi
jaringan dan mencegah
statis
c. Potensial jalan
masuk
organisme
pathogen pada adanya
gangguan sistem imun,
hal ini meningkatkan
resiko
infeksi
dan
pelambatan
proses
penyembuhan
d. Meningkatkan
abalik
vena
menurunkan
statis
vena/pembentukan
edema.

Menghindari
kerusakan kulit dengan
mencegah/menurunkan
tekanan
pada
permukaan kulit.

Mandiri
a. Kaji
kemampuan pasien
untuk
melakukan
aktivitas.
Catat
laporan kelelahan dan
keletihan
b. Awasi
TD,
nadi
pernapasan,
selama dan sesudah
aktivitas

a.
Mempengaru
hi
pilihan
intervensi/bantuan

b. Manifestasi
kardiopulmonal
dari
upaya jantung dan paru

penurunan
tanda
fisiologis intorelansi

untuk
membawa
jumlah oksigen adekuat
ke jaringan

Kriteria Hasil :
Adanya
peningkatan
toleransi aktivitas
(termasuk aktivitas
sehari-hari)
Berpartisipasi
dalam
aktivitas
sehari-hari
sesuai
tingkat kemampuan

c. Rencanakan
latihan
aktivitas
dengan
pasien,
termasuk
aktivitas
yang pasien pandang
perlu

d. Gunakan
teknik penghematan
energi

c.
Meningkatkan
secara bertahap tingkat
aktivitas sampai normal
dan memperbaiki tonus
otot tanpa kelemahan.
d. Mendorong
pasien
melakukan
banyak
dengan
membatasi
penyimpangan energi
dan
mencegah
kelemahan
e.
Stress
berlebihan
menimbulkan
kegagalan

e. Anjurkan
pasien berhenti bila
terjadi nyeri dada,
kelemahan
atau
pusing terjadi
Kolaborasi :
Berikan terapi oks
igen tambahan

4. Intervensi

dapat

Memeksimalkan
sediaan oksigen untuk
kebutuhan seluler.

a.

Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan kerusakan jaringan.

Tujuan : perbaikan dalam tingkat kennyamanan

Intervensi :
1) Laksanakan sejumlah tindakan yang memberikan kenyamanan (kompres panas /dingin;
masase, perubahan posisi, istirahat; kasur busa, bantal penyangga, bidai; teknik relaksasi, aktivitas
yang mengalihkan perhatian)
2)

Berikan preparat antiinflamasi, analgesik seperti yang dianjurkan.

3) Sesuaikan jadwal
penatalaksanaan nyeri.

pengobatan

untuk

memenuhi

kebutuhan

pasien

terhadap

4) Dorong pasien untuk mengutarakan perasaannya tentang rasa nyeri serta sifat kronik
penyakitnya.
5) Jelaskan patofisiologik nyeri dan membantu pasien untuk menyadari bahwa rasa nyeri
sering membawanya kepada metode terapi yang belum terbukti manfaatnya.
6) Bantu dalam mengenali nyeri kehidupan seseorang yang membawa pasien untuk memakai
metode terapi yang belum terbukti manfaatnya.
7)

Lakukan penilaian terhadap perubahan subjektif pada rasa nyeri.

b.

Keletihan berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit, rasa nyeri, depresi.

Tujuan : mengikutsertakan tindakan sebagai bagian dari aktivitas hidup sehari-hari yang
diperlukan untuk mengubah.

Intervensi :
1)

Beri penjelasan tentang keletihan.

2)

hubungan antara aktivitas penyakit dan keletihan

3)

menjelaskan tindakan untuk memberikan kenyamanan sementara melaksanakannya

4)
mengembangkan dan mempertahankan tindakan rutin unutk tidur (mandi air hangat dan
teknik relaksasi yang memudahkan tidur)

5)
menjelaskan pentingnya istirahat untuk mengurangi stres sistemik, artikuler dan
emosional
6)

menjelaskan cara mengggunakan teknik-teknik untuk menghemat tenaga

7)

kenali faktor-faktor fisik dan emosional yang menyebabkan kelelahan.

8)

Fasilitasi pengembangan jadwal aktivitas/istirahat yang tepat.

9)

Dorong kepatuhan pasien terhadap program terapinya

10)

Rujuk dan dorong program kondisioning.

11)

Dorong nutrisi adekuat termasuk sumber zat besi dari makanan dan suplemen.

c.
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kelemahan otot,
rasa nyeri pada saat bergerak, keterbatasan daya tahan fisik.
Tujuan : mendapatkan dan mempertahankan mobilitas fungsional yang optimal.

Intervensi :
1)

Dorong verbalisasi yang berkenaan dengan keterbatasan dalam mobilitas.

2)

Kaji kebutuhan akan konsultasi terapi okupasi/fisioterapi :

Menekankan kisaran gherak pada sendi yang sakit

Meningkatkan pemakaian alat Bantu

Menjelaskan pemakaian alas kaki yang aman.

Menggunakan postur/pengaturan posisi tubuh yang tepat.

3)

Bantu pasien mengenali rintangan dalam lingkungannya.

4)

Dorong kemandirian dalam mobilitas dan membantu jika diperlukan.

Memberikan waktu yang cukup untuk melakukan aktivitas

Memberikan kesempatan istirahat sesudah melakukan aktivitas.

Menguatkan kembali prinsip perlindungan sendi

d. Gangguan citra tubuh berhubungqan dengan perubahan dan ketergantungan fisaik serta
psikologis yang diakibatkan penyakit kronik.
Tujuan : mencapai rekonsiliasi antara konsep diri dan erubahan fisik serta psikologik yang
ditimbulkan penyakit.

Intervensi :
1) Bantu pasien untuk mengenali unsur-unsur pengendalian gejala penyakit dan
penanganannya.
2)

Dorong verbalisasi perasaan, persepsi dan rasa takut

Membantu menilai situasi sekarang dan menganli masahnya.

Membantu menganli mekanisme koping pada masa lalu.

Membantu mengenali mekanisme koping yang efektif.

e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit, penumpukan
kompleks imun.
Tujuan : pemeliharaan integritas kulit.

Intervensi :
1)

Lindungi kulit yang sehat terhadap kemungkinan maserasi

2)

Hilangkan kelembaban dari kulit

3) Jaga dengan cermat terhadap resiko terjadinya sedera termal akibat penggunaan kompres
hangat yang terlalu panas.
4)

Nasehati pasien untuk menggunakan kosmetik dan preparat tabir surya.

5)

Kolaborasi pemberian NSAID dan kortikosteroid