Anda di halaman 1dari 20

Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan

Gangguan dalam Penegakkan HAM


Disusun oleh:
Kelompok 10

Devi Siska Ardianti


Erita Yunistisia Rosdani
Evelin Aprilianty
Inez Silviana H.
Irni Fuzi Wijayanti
Novi Amelia
Vinda Dwi Oktoviyanda

220110090048
220110090039
220110090040
220110090018
220110090057
220110090059
220110090064

LATAR BELAKANG
Hak Asasi Manusia
HAM merupakan hak-hak dasar yang dimiliki setiap manusia
sejak lahir ke dunia tetapi juga merupakan standar normatif
yang bersifat universal

Ketentuan Hukum tentang HAM di Indonesia


Sanksi yang berlaku di Indonesia bagi para pelaku pelanggar
HAM diatur dalam dalam UU Nomor 26 Tahun 2000

Masalah penegakkan HAM di Indonesia


Banyaknya ketidaktuntasan kasus HAM di Indonesia
dikarenakan masih banyaknya Ancaman Tantangan Hambatan
dan Gangguan (ATHG) baik dari dalam maupun dari luar

Definisi HAM

John
Locke

Jan
Materson

Kaelan

HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang


Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati

HAM adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang


tanpa hak-hak tersebut manusia mustahil dapat hidup sebagai
Teaching human Rights

HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh maunusia, sesuai


dengan kodratnya

Perkembangan HAM
Magna Charta, HAM di kawasan Eropa dimulai ini
memuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki
kekuasaan absolute menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai
dapat diminta pertanggung jawabanannya dimuka hukum

The American Declaration, lahir dari Rousseau dan


montesquuieu. Mulai dipertegas bahwa manusia adalah
merdeka sejak di dalam perut ibunya, sehingga tidaklah
logis bila sesudah lahir ia harus dibelenggu.

The French Declaration, deklarasi perancis ini

dimuat dalam The Rule of Law yang berbunyi tidak


boleh ada penangkapan tanpa alasan yang sah.

The Four Freedom, Ada empat hak kebebasan


berbicara dan menyatakan pendapat, hak kebebasan
memeluk agama beribadah sesuai dengan ajaran agama
yang dipeluknya, hak kebebasan dari kemiskinan, hak
kebebasan dari ketakutan

Perkembangan HAM di Indonesia

Periode Sebelum
Kemerdekaan

Periode Setelah
Kemerdekaan

Adanya Indische Partij yaitu hak untuk


mendapatkan kemerdekaan serta
mendapatkan perlakukan yang sama hak
kemerdekaan

Periode 18 Agustus 1945 sampai 27


Desember 1949, berlaku UUD 1945
Periode 27 Desember 1949 sampai
17 Agustus 1950, berlaku konstitusi
Republik Indonesia Serikat
Periode 17 Agustus sampai 5 Juli
1959, berlaku UUD 1950
Periode 5 Juli sampai sekarang,
berlaku kembali UUD 1945

Langkah-langkah Penegakkan HAM di Indonesia


Mengadakan langkah
kongkret dan sistematik
dalam pengaturan hukum
positif

Membuat peraturan
perundang-undangan
tetntang HAM

Peningkatan penghayatan
dan pembudayaan HAM
pada segenap elemen
masyarakat

Meningkatkan hubungan
dengan lembaga yang
menangani HAM

Memacu keberanian
warga untuk melaporkan
bila ada pelanggaran
HAM

Mengatur mekanisme
perlindungan HAM
secara terpadu

Meningkatkan peran aktif


media massa

Penegakkan Hukum di Indonesia

Dalam penegakan HAM di Indonesia perangkat ideologi pancasila dan UUD 1945
harus dijadikan acuan pokok
Pemerintah Indonesia telah melahirkan beberapa kebijakan menyangkut HAM
yang cukup positif. Pembuatan Undang-Undang (UU) HAM serta UU
Perlindungan Saksi Mata, adalah beberapa kebijakan yang dilihatnya dapat
memberi sentimen positif pada persoalan perlindungan HAM di Indonesia.
Dibentuknya beberapa institusi penegakan HAM di Indonesia, seperti pengadilan
HAM ad-hoc, Komisi Nasional HAM, Komnas Perempuan serta sejumlah
organisasi HAM lainnya, juga merupakan usaha yang telah dilakukan pemerintah
dalam upaya penegakan HAM.
Adapun program penegakkan hukum dan HAM (PP No.7 tahun 2005) meliputi
pemberantasan korupsi, antiterorisme, serta pembasmian penyalagunaan narkotika
dan obat berbahaya.

Sarana dan prasarana Penegakkan


HAM di Indonesia
Berbentuk institusi atau
kelembagaan

Berbentuk peraturan atau


Undang-Undang

HAM yang dibentuk oleh


LSM
Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia
(KOMNAS HAM)
Komisi Nasional HAM
Perempuan, dll.

UU RI No. 39 Tahun 1999


keputusan Presiden RI
No. 50 Tahun 1993
Keputusan Presiden RI
No. 129 Tahun 1998
Keputusan Presiden RI
No. 181 tahun 1998
Instruksi Presiden No. 26
Tahun 1998

Hambatan Penegakkan HAM di Indonesia


Faktor Kondisi Sosial
Budaya
Faktor Komunikasi dan
Informasi

Faktor Kebijakkan
Pemerintah
Faktor Perangkat
Perundangan

Kasus HAM di Indonesia


Tahun

Peristiwa

1965 - 1966

Pembunuhan anggota Peristiwa brutal yang


menewaskan lebih
dan simpatisan PKI
dari 500 ribu jiwa.
penyelidikan selama 4
tahun mengungkapkan
terjadi 9 kejahatan
pada peristiwa ini
Petrus
KOMNAS
HAM
menyatakan
petrus
merupakan
pelanggaran ham berat

1982 -1985

Deskripsi

Penyelesaian
KOMNAS HAM telah
menyerahkan berkas
penyelidikan
kasus
kepada kejagung dan
DPR.
KOMNAS HAM telah
menyerahkan berkas
penyelidikan
kasus
kepada kejagung dan
DPR.

12 September Tanjung
1984
Priok

Menurut hasil investigasi tim


pencari
fakta,
SONTAK
(SOlidaritas
Nasional
untuk
peristiwa
Tanjung
prioK),
diperkirakan sekitar 400 orang
tewas, belum terhitung yang lukaluka dan cacat.
Sementara menurut Komnas HAM
dalam laporannya yang dimuat di
Tempo
Interaktif
menyatakan
korban sebanyak 79 orang yang
terdiri dari korban luka sebanyak
55 orang dan meninggal 24 orang.
Sementara
keterangan
resmi
pemerintah korban hanya 28 orang.

Kontras menilai usainya


persidangan tingkat pertama
Pengadilan HAM ad hoc
Tanjung Priok, bukanlah
akhir
dari
upaya
memperoleh kebenaran dan
keadilan
bagi
korban
khususnya. Persidangan ini
malah
menimbulkan
beberapa persoalan krusial
yang harus dikoreksi baik
prosesnya,
keputusan
maupun
dalam
rangka
meletakan
posisi
pertanggungjawaban
sesungguhnya yang tak
tersentuh oleh pengadilan.

1997 - 1998

Penculikan aktivis

Penculikan aktivis 1997/1998 adalah


peristiwa penghilangan orang secara
paksa atau penculikan terhadap
para aktivis pro-demokrasi yang terjadi
menjelang
pelaksanaan
Pemilu
tahun 1997 dan Sidang Umum MPR
tahun 1998.
Selama
periode
1997/1998,
KONTRAS mencatat 23 orang telah
dihilangkan oleh alat-alat negara. Dari
angka itu, 1 orang ditemukan
meninggal (Leonardus Gilang), 9 orang
dilepaskan penculiknya, dan 13 lainnya
masih hilang hingga hari ini.

KOMNAS
HAM
telah
menyerahkan
berkas
penyelidikan kasus kepada
kejagung dan DPR.

Tanggal

Peristiwa

Deskripsi

Penyelesaian

12 Mei 1998

Tragedi Trisakti

adalah
peristiwa
penembakan Kasus
pelanggaran
terhadap mahasiswa pada saat HAM ini belum selesai
demonstrasi menuntut Soeharto sampai sekarang.
turun dari jabatannya. Kejadian ini
menewaskan empat mahasiswa
Universitas Trisakti di Jakarta,
Indonesia serta puluhan lainnya
luka.

Tanggal

Peristiwa

Deskripsi

11 13 November Tragedi Semanggi I Tragedi Semanggi I terjadi pada 111998


Tragedi Semanggi 13
November
1998,
masa
24 September 1999 II
pemerintah transisi Indonesia, yang
menyebabkan tewasnya 17 warga
sipil.
Tragedi Semanggi II terjadi pada 24
September 1999 yang menyebabkan
tewasnya seorang mahasiswa dan
sebelas orang lainnya di seluruh
jakarta serta menyebabkan 217
korban luka - luka.

Penyelsaian
Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia (Komnas HAM) dalam
pertemuannya
dengan
Presiden Habibie saat itu meminta
pemerintah
untuk
memberi
penjelasan tentang sebab dan akibat
serta pertanggungjawaban mengenai
peristiwa tanggal 13 November itu
secara terbuka pada masyarakat luas
karena berbagai keterangan yang
diberikan ternyata berbeda dengan
kenyataan di lapangan.
Badan
Musyawarah
(Bamus)
DPR pada 6 Maret 2007 kembali
memveto rekomendasi tersebut.
Putusan tersebut membuat usul
pengadilan HAM kandas, karena
tak akan pernah disahkan di rapat
paripurna. Putusan penolakan dari
Bamus itu merupakan yang kedua
kalinya.

Tanggal

Peristiwa

Deskripsi

Penyelesaian

2001
2003

Wasior berdarah
Wamena berdarah

kasus pelanggaran HAM Wasior


2001 dan Wamena 2003, sesuai
rekomendasi dari Komnas HAM RI,
dua peristiwa ini tergolong kasus
pelanggaran HAM berat, namun
sampai saat ini proses hukumnya
masih berputar di Kejaksaan Agung
dengan alasan kurang alat bukti.

proses
hukumnya
masih
berputar di Kejaksaan Agung
dengan alasan kurang alat
bukti.

29 April 2013

Bentrok warga dengan Bentrokan


ini
dipicu
oleh
polisi di Musi, Sumatera demonstrasi warga yang menuntut
Selatan
realisisai pembentukan Kabupaten
Musi Rawas Utara. KOMNAS HAM
menyebutkan
adanya
indikasi
pelanggaran HAM karena pada saat
bentrokan, polisi menembak 13
warga, 4 diantaranya tewas di
tempat.

Kasus ini masih diselidiki oleh


kepolisian maupun KOMNAS
HAM. Sudah ditemukan bukti
tiga selongsong peluru, namun
oknum polisi yang diduga
melepaskan tembakan belum
diumumkan ke publik.

Tanggal
1965-1999

Peristiwa

Deskripsi

Penyelesaian

Diskriminasi,
stigmatisasi, bagi yang
diduga anggota PKI
beserta
anggota
keluarga
atau
kerabatnya

Hampir semua tersangka PKI


langsung dijebloskan ke dalam
penjara tanpa melalui proses
pengadilan.
Keluarnya TAP MPRS dan
peraturan-peraturan
pemerintah pada jamannya
yang menyulitkan anggota
keluarga/kerabat terduga PKI
untuk mendapatkan akses yang
sama
dengan
masyarakat
Indonesia
lainnya.
Baik
pendidikan maupun pekerjaan.

Sampai sekarang tidak ada


pengusutan kasus kejadian
September
1965,
dilanggaranya
HAM
masyarakat yang diduga
anggota
PKI
dan
dipenjarakan tanpa melalui
persidangan
terlebih
dahulu.
Bahkan
rekonsiliasi (permintaan
maaf) dari pemerintah
kepada anggota keluarga
atau kerabat hingga anak
cucu PKI ataupun terduga
PKI
atas
perlakuan
diskriminatif,
belum
terealisasi
hingga
sekarang.

Tanggal
3 Mei 2013

Peristiwa

Deskripsi

Penyelesaian

Penembakan nelayan oleh Diarahkannya


tembakan Kasus ini sedang
TNI AL di Raja Ampat, terhadap 7 orang nelayan di dalam
tahap
Papua
perairan Raja Ampat, Papua oleh penyelidikan
TNI AL yang sedang melakukan
operasi gabungan dengan dinas
perikanan
dan
kelautan,
menyebabkan
satu
orang
nelayan tewas ditempat. Hal ini
tidak bisa dibenarkan karena
para nelayan belum terbukti
bersalah karena belum diadili
dan tidak ada bukti perlawanan
dari pihak nelayan.

Kesimpulan
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan
kiprahnya.
kehidupan bernegara HAM diatur dan dilindungi oleh perundanundangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang
dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan
suatu Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM
Penegakan HAM di Indonesia masih dirasa kurang, karena masih
banyak terjadi kasus-kasus pelanggaran HAM, baik kasus-kasus yang
ringan maupun yang dapat dikategorikan kasus pelanggaran HAM
yang berat. Upaya pemerintah dalam penegakan HAM kini mulai
terasa dengan dibentuknya beberapa lembaga HAM dan diharapkan
dapat mewujudkan keadilan dalam HAM setiap warga negara
Indonesia.

Saran

Sebagai makhluk sosial kita harus mampu


mempertahankan dan memperjuangkan Hak
Asasi Manusia kita sendiri.
Di samping itu kita juga harus bisa menghormati
dan menjaga HAM orang lain jangan sampai
kita melakukan pelanggaran HAM. Jangan
sampai HAM kita dilanggar dan diinjak-injak
oleh Orang lain.
Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu
menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM
kita dengan HAM orang lain

Terima Kasih