Anda di halaman 1dari 13

SPONDILITIS

A. Definisi

Spondilitis merupakan inflamasi pada vertebra yang ditandai dengan vertebra yang
kaku akibat oksifikasi ligamen yang terutama menyerang sendi sakroiliaka dan sendi pada
tulang belakang. Bentuk spondilitis yang paling sering terjadi adalah Spondilitis

Ankilosa (SA) yang merupakan penyakit inflamasi kronik, bersifat sistemik, ditandai
dengan kekakuan progresif, dan terutama menyerang sendi tulang belakang
(vertebra), sendi sakroiliaka serta kostovertebral, ditandai oleh vertebra yang
mengalami fibrosis dan ankilosis (fiksasi tulang/kekakuan) akibat osifikasi ligamen
dan sendi,. Penyakit ini dapat melibatkan sendi-sendi perifer, sinovia, dan rawan
sendi. Terserangnya sendi sakroiliaka merupakan tanda khas penyakit ini. Ankilosis
vertebra biasanya terjadi pada stadium lanjut dan jarang terjadi pada penderita yang
gejalanya ringan. Nama lain SA adalah Marie Strumpell disease atau Bechterew's
disease.

B. Etiologi
Etiologi dari SA belum diketahui. Penelitian menunjukkan hubungan kuat
dengan HLAB27 yang berarti ada faktor imun yang berperan, dan diperlukan peran
dari infeksi bakteri gram negative untuk mencetuskan penyakit. Hasil riset yang ada
menggambarkan peran Klebsiela pneumonia dalam patofisiologi SA. Klebsiela
mempunyai 6 asam amino yang homolog dengan HLAB27 yang mengesankan
adanya molecular mimicry. Ekspresi HLAB27 menyebabkan peningkatan respon
imunologik atau mnyebabkan perubahan toleransi imun terhadap bakteri gram negative.

C. Epidemiologi dan Faktor Resiko


Prevalensi SA mencapai 1-2% dari populasi umum dan resiko akan meningkat
menjadi 20 kali lipat pada individu derngan HLA-B27 positif. SA terutama mengenai
1

laki-laki, dewasa muda dengan awitan pada umur kurang dari 40 tahun dan
puncaknya pada 20-30 tahun. Rasio pada laki-laki disbanding wanita mencapai 3:1.
Ekspresi HLA-B27 Lebih banyak ditemukan pada populasi kulit putih dibandingkan
kulit hitam. Populasi SA pada individu dengan HLA-B27 positif mencapai 10-20%
sedangkan jumlah pasien SA yang mengekspresikan HLA-B27 mencapai 80-95%.

D. Fatofisiologi
SA menyerang tulang rawan dan fibrokartilago sendi pada tulang belakang dan
ligamen ligamen para vertebral. Apabila diskusvertebral \is juga terinvasi oleh jaringan
vaskular dan fibrosa maka akan timbul kalsifikasi sendi-sendi dan struktur artikular .
Kalsifikasi yang terjadi pada jaringan lunak akan menjembatani satu tulang vertebra dengan
vertebra lainnya. Jaringan sinovial disekitar sendi yang terserang akan meradang. Penyakit
jantung juga dapat timbul bersamaan dengan penyakit ini.

Mekanisme Spondilitis ankilosis

E. Gejala Klinik
1. Gejala utama SA adalah adanya sakroilitis. Perlangsungannya secara gradual
dengan nyeri hilang timbul pada pinggang bawah dan menyebar ke bawah
pada daerah paha.
2. Gejala klinik SA dapat dibagi dalam manifestasi skeletal dan ekstraskeletal.
a. Manifestasi skeletal
berupa artritis aksis, artritis sendi panggul dan bahu, artritis perifer,
entensopati, osteoporosis, dan fraktur vertebra. Keluhan yang umum dan
karakteristik awal penyakit ialah nyeri pinggang dan sering menjalar ke
paha. Nyeri biasanya menetap lebih dari 3 bulan, disertai dengan kaku
pinggang pada pagi hari, dan membaik dengan aktivitas fisik atau bila
dikompres air panas. Nyeri pinggang biasanya tumpul dan sukar
ditentukan lokasinya, dapat unilateral atau bilateral. Nyeri bilateral
biasanya menetap, beberapa bulan kemudian daerah pinggang bawah
menjadi kaku dan nyeri. Nyeri ini lebih terasa seperti nyeri bokong dan
bertambah hebat bila batuk, bersin, atau pinggang mendadak terpuntir.
Inaktivitas lama akan menambah gejala nyeri dan kaku. Keluhan nyeri dan
kaku pinggang merupakan keluhan dari 75% kasus di klinik. Nyeri tulang
juksta-artikular dapat menjadi keluhan utama, misalnya entesis yang dapat
menyebabkan nyeri di sambungan kostosternal, prosesus spinosus, krista
iliaka, trokanter mayor, tuberositas tibia atau tumit. Keluhan lain dapat
berasal dari sendi kostovertebra dan manubriosternal yang menyebabkan
keluhan nyeri dada, sering disalahdiagnosiskan sebagai angina.

b. Manifestasi ekstraskeletal
berupa iritis akut, fibrosis paru, dan amiloidosis. Manifestasi di luar tulang
terjadi pada mata, jantung, paru, dan sindroma kauda ekuina. Manifestasi
di luar tulang yang paling sering adalah uveitis anterior akut, biasanya
unilateral, dan ditemukan 25--30% pada penderita SA dengan gejala nyeri,
3

lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan kabur. Manifestasi pada jantung


dapat berupa aorta insufisiensi, dilatasi pangkal aorta, jantung membesar,
dan gangguan konduksi. Pada paru dapat terjadi fibrosis, umumnya
setelah 20 tahun menderita SA, dengan lokasi pada bagian atas, biasanya
bilateral, dan tampak bercak-bercak linier pada pemeriksaan radiologis,
menyerupai tuberculosis.

3. Keluhan konstitusional biasanya sangat ringan, seperti anoreksia, kelemahan,


penurunan berat badan, dan panas ringan yang biasanya terjadi pada awal
penyakit.

F. Pemeriksaan Fisik
Pada stadium awal dapat ditemukan tanda sakroilitis yang ditandai dengan
nyeri tekan pada sendi sakroiliaka. Stadium berikutnya, rasa nyeri dapat hilang karena
peradangan diganti dengan fibrosis dan atau dengan ankilosis. Pada stadium lanjut
ditemukan keterbatasan gerak vertebra ke semua arah yang dapat dinilai dengan gerak
laterofleksi, hiperekstensi, anterofleksi, dan rotasi. Uji Schober sangat berguna untuk
menilai keterbatasan sendi. Pemeriksa harus memperhatikan:
1. Spasme otot-otot paravertebra dan hilangnya lordosis vertebra.
2. Menurunnya mobilitas spinal ke arah anterior dan lateral.
3. Pinggang bagian bawah sukar dibengkokkan bila membungkuk.
4. Berkurangnya ekspansi dada.
5. Nyeri di daerah prosesus spinosus torakolumbal, persendian sakroiliaka dan
daerah sternum, klavikula, krista iliaka, atau tumit.
Uji Scober dilakukan dengan posisi berdiri tegak, kemudian dibuat tanda titik
pada kulit di atas prosesus spinosus vertebra lumbal lima, kurang lebih setinggi spina
iliaka posterior superior, dan titik kedua 10 cm di atas titik pertama. Penderita
diminta membungkukkan punggungnya tanpa menekuk lutut. Normalnya, jarak

kedua titik akan bertambah 5 cm atau lebih. Apabila kurang dari 15 cm menunjukkan
adanya keterbatasan gerak. Pemeriksaan ekspansi rongga dada dilakukan dengan cara
mengambil selisih jarak antara inspirasi dan ekspirasi maksimal, diukur pada sela iga
4. Normalnya, selisih ini 610cm.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada uji diagnostik yang patognomonik. Peninggian laju endap darah
ditemukan pada 75% kasus, tetapi hubungannya dengan keaktifan penyakit
kurang kuat. Serum C reactive protein (CRP) lebih baik digunakan sebagai
petanda keaktifan penyakit. Kadang-kadang, ditemukan peninggian IgA. Faktor
rematoid dan ANA selalu negatif. Cairan sendi memberikan gambaran sama pada
inflamasi. Anemia normositik-normositer ringan ditemukan pada 15% kasus.
Pemeriksaan HLA - B27 dapat digunakan sebagai pembantu diagnosis.

Pemeriksaan Radiologi
Kelainan radiologis yang khas pada SA dapat dilihat pada sendi aksial,
terutama pada sendi sakroiliaka, diskovertebral, apofisial, kostovertebral, dan
kostotransversal. Perubahan pada sendi S2 bersifat bilateral dan simetrik, dimulai
dengan kaburnya gambaran tulang subkonral, diikuti erosi yang memberi
gambaran mirip pinggir perangko pos. Kemudian, terjadi penyempitan celah sendi
akibat adanya jembatan interoseus dan osilikasi. Setelah beberapa tahun, terjadi
ankilosis yang komplit. Beratnya proses sakroilitis terdiri dari 5 tingkatan
berdasarkan radiologis, yaitu tingkat 0 (normal), tingkat 1 (tepi sendi menjadi
kabur), tingkat 2 (tingkat 1 ditambah adanya sclerosis periartikuler, jembatan
sebagian tulang atau pseudo widening, tingkat 3 (tingkat 2 ditambah adanya erosi
dan jembatan tulang), serta tingkat 4 (ankilosa yang lengkap). Akan terlihat
gambaran squaring (segi empat sama sisi) pada kolumna vertebra dan osifikasi
bertahap lapisan superfisial anulus fibrosus yang akan mengakibatkan timbulnya

jembatan di antara badan vertebra yang disebut sindesmofit. Apabila jembatan ini
sampai pada vertebra servikal, akan membentuk bamboo spine. Keterlibatan sendi
panggul memperlihatkan adanya penyempitan celah sendi yang konsentris,
ketidakteraturan subkhondral, serta formasi osteofit pada tepi luar permukaan
sendi, baik pada asetabulum maupun femoral. Akhirnya, terjadi ankilosis tulang
dan pada sendi bahu memperlihatkan penyempitan celah sendi dengan erosi.

H. Diganosis
Agak sulit menegakkan diagnosis dini SA sebelum timbulnya deformitas yang
ireversibel. Diagnosis SA dapat ditegakkan berdasarkan Kriteria New York 1984
yang dimodifikasi
Kriteria klinis:
1. Keterbatasan gerak vertebra lumbal terhadap bidang frontal dan sagital.
2. Nyeri pinggang bawah lebih dari 3 bulan, menjadi baik dengan latihan dan
tidak hilang dengan istirahat.
3. Penurunan ekspansi dada.
Kriteria radiologis:
1. Sakroilitis bilateral tingkat
2. Sakroilitisunilateraltingkat.

Diagnosis pasti ditegakkan bila ditemukan minimal 1 kriteria radiologis


ditambah 1 kriteria klinis.

Diagnosis probable hanya ada criteria klinis saja atau hanya criteria
radiologis tanpa gejala klinis.

I. Diagnosis Banding
Beberapa penyakit yang harus dipikirkan sebagai diagnosis banding adalah
spondylosis lumbalis, strain lumbal, penyakit lain dalam kelompok spondiloartropati
seronegatif, difusse idiopathic skeletal hyperostosis (DISH/penyakit Forestier) dan
osteitis condensan iliaka.

J. Penatalaksanaan
1. Medikamentosa
Terapi farmakologis biasanya membutuhkan obat anti-inflamasi nonsteroid
(AINS) untuk mengatasi nyeri dan kekakuan. Indometasin (Areumakin, Benocid,
Dialorir, Confortid) memegang rekor terbaik. Dosis untuk dewasa Indometacin yaitu
100-150 mg/hari dalam dua atau tiga dosis. Sedangkan untuk anak-anak 1,5-3 mg/kg
BB/hari dalam dua atau tiga dosis. Apabila penderita tidak mampu mentolerir efek
samping seperti gangguan lambung atau gangguan SSP berupa sakit kepala dan
pusing, maka AINS yang lain dapat dicoba.
Penderita yang tidak responsif dengan indometasin atau AINS yang baru
lainnya dapat dicoba dengan fenilbutazon 100-300 mg perhari. Tingginya insidens
agranulositosis atau anemia aplastik akibat efek samping obat ini dibandingkan
dengan AINS yang lain perlu disampaikan pada penderita. Jumlah eritrosit dan
lekosit harus selalu dimonitor.
Preparat emas dan penisilamin telah digunakan pada penderita dengan
poliatritis perifer. Publikasi studi klinik terakhir dari sulfasalazin 2-3 gr perhari
(Sulcolon tab. 500 mg) menunjukkan adanya perbaikan, baik nyeri maupun kelainan
spinal.
Bila keluhan sangat mengganggu dalam kegiatan sehari-hari dapat
dipertimbangkan untuk dilakukan artroplasti atau koreksi deformitas spinal. Tindakan
ini sangat berguna untuk mengurangi keluhan akibat deformitas tersebut.

2. Non-medikamentosa
Fisioterapi
Tujuan utama fisioterapi pada SA adalah untuk memperbaiki mobiltas
dan kekuatan serta mencegah atau menurunkan terjadinya abnormalitas kurva
tulang belakang. Fisioterapi mempunyai peranan terhadap manajemen SA
namun tidak dapat menggantikan pengobatan medikamentosa. Pengobatan
dan fisioterapi adalah bersifat koplementer satu sama lain.

1. MWD ( Micro Wave Diathermy)


yaitu gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang untuk
terapi 12,25 cm dengan frekwensi 2450 MHz atau 69 cm dengan
frekwensi 433,92 MHz. Produksi dari MWD menggunakan tabung
magnetron. Aplikasi dari MWD yaitu dengan menggunakan emmiter.
Emmiter ada beberapa bentuk yaitu berbentuk bulat dan segi empat.
Efek fisiologis: gelombang MWD banyak menyerap air sehingga
jaringan yang banyak cairannya akan banyak mendapatkan panas.
Jaringan yang diberikan gelombang MWD akan timbul panas,
meningkatkan metabolisme dan membantu melancarkan aliran darah.
Sedangkan efek terapeutiknya adalah antara lain mengurangi nyeri dan
meningkatkan supply darah, meningkatkan proses perbaikan jaringan,
meningkatkan elastilitas jaringan, normalisasi tonus otot.

2. Terapi Latihan (Exercise Therapy)


Terapi latihan adalah petunjuk gerakan tubuh untuk memperbaiki
penurunan fungsi, meningkatkan fungsi musculoskeletal dalam keadaan
yang baik. Terapi latihan merupakan tindakan fisioterapi dan dalam
pelaksanaanya menggunakan latihan gerak tubuh yang baik secara aktif
maupun pasif untuk mengatasi permasalahan kapasitas-kapasitas fisik dan

kemampuan fungsional yang ada. Jenis dan terapi latihan disini ada
beberapa macam antara lain:
a. Passive movement
adalah suatu latihan yang digunakan dengan gerakan. Yang
dihasilkan oleh tenaga/kekuatan dari luar tanpa adanya kontraksi
otot atau aktifitas otot. Semua gerakan dilakukan sampai batas
nyeri atau toleransi pasien. Efek pada latihan ini adalah
memperlancar sirkulasi darah, relaksasi otot, memelihara dan
meningkatkan LGS, mencegah pemendekan otot dan mencegah
perlengketan jaringan.
Tiap gerakan dilakukan sampai batas nyeri pasien. Gerakan
passive movement ini dibagi menjadi 2 yaitu:

Relaxed passive movement

Gerakan yang terjadi oleh kekuatan dari luar tanpa diikuti kerja
otot dari bagian tubuh itu sendiri.

Forced passive movement

Gerakan yang terjadi oleh karena kekuatan dari luar tanpa


diikuti kerja otot tubuh itu sendiri tetapi pada akhirnya gerakan
diberikan penekanan. Gerakan ini bertujuan: mencegah
pembentukan perlengketan jaringan lunak, menjaga elastisitas
jaringan, mencegah kontraktur dan mengurangi nyeri.

b. Active Movement Exercise


merupakan gerak yang dilakukan oleh otot-otot anggota tubuh
itu sendiri. Gerak yang dalam mekanisme pengurangan nyeri dapat
terjadi secara reflek dan disadari. Gerak yang dilakukan secara
sadar dengan perlahan dan berusaha hingga mencapai lingkup
gerak penuh dan diikuti relaksasi otot akan menghasilkan

penurunan nyeri. Disamping itu gerak dapat menimbulkan


pumping action pada kondisi oedem sering menimbulkan
keluhan nyeri, sehingga akan mendorong cairan oedem mengikuti
aliran ke proksimal.

c. Assisted Active Movement Exercise


Gerakan ini terjadi oleh karena adanya kerja otot melawan
gravitasi dan dibantu gerakan dan luar kecuali gaya gravitasi.
Tiap gerakan dilakukan sampai batas nyeri pasien. Efek dari
gerakan ini dapat mengurangi nyeri karena merangsang rileksasi
propioseptif, mengembangkan koordinasi dan ketrampilan untuk
aktifitas fungsional.
Latihan ini dilakukan bisa berupa bantuan alat atau dari terapis
dengan posisi tidur terlentang, angan terapis memfiksasi pada
pergelangan bahu dan tangan satunya memegang siku.

d. Free active movement Exercise


Gerakan ini terjadi akibat adanya kontraksi otot melawan
pengaruh gravitasi tanpa adanya bantuan dan luar. Gerakan ini
dilakukan oleh pasien sendiri tanpa bantuan terapis. Efek dari
gerakan ini untuk memelihara, meningkatkan LGS, meningkatkan
kekuatan otot dan koordinasi gerakan.

e. Resisted active movement Exercise


Latihan ini merupakan latihan aktif dimana otot bekerja
melawan tahanan minimal. Tahanan ini dapat berupa dorongan
yang berlawanan arah dengan tangan terapis.
Efek dari latihan ini dapat meningkatkan kekuatan otot, dimana
latihan ini akan meningkatkan rekrutmen motor unit-motor unit
10

sehingga akan semakin banyak melibatkan komponen otot-otot


yang tahanan yang diberikan dengan penurunan frekuensi
pengulangan

f. Hold Rileks
Hold rileks adalah suatu teknik dimana otot atau grup
antagonis yang memendek dikontraksikan secara isometris dengan
kuat (optimal) yang kemudian disusul dengan relaksasi otot atau
grup otot tersebut. Posisi pasien, terapis, pegangan dan fiksasi
dengan gerakan harus tepat. Gerakannya: pasien disuruh
mendorong tahanan yang diberikan, terapis melawan gerakan
pasien, kemudian rileks, saat rileks terapis menggerakkan sendi ke
arah gerakan yang diinginkan sampai full ROM.
Aba-aba dari terapis yaitu dorong kuat... kuat...rileks.
Diulang sampai batas nyeri pasien.
Efek dari gerakan ini untuk rileksasi otot-otot yang mengalami
spasme sehingga dapat dilakukan penguluran yang maksimal
sehingga dapat menurunkan nyeri dan spasme.

g. Static kontraksi
Statik kontraksi merupakan kontraksi otot tanpa disertai
perubahan panjang pendek otot dan LGS. Statik kontraksi ini dapat
meningkatkan pumping action yaitu suatu rangsangan yang
menyebabkan dinding kapiler yang terletak pada otot melebar
sehingga sirkulasi darah lancar akibat dari sirkulasi darah lancar
maka p substance atau zat yang menyebabkan nyeri akan ikut
terbuang sehingga nyeri akan ikut berkurang dan spasme otot-otot
disekitarnya pun hilang.

11

Pembedahan
Pembedahan mungkin dibutuhkan dalam beberapa kasus SA. Mekanisme
yang menyebabkan terjadinya osifikasi ligamen dan sendi sehingga terjadi fusi pada
columna vertebrae belum dijelaskan secara rinci. Sebagai dampak dari fusi columna
vertebrae ini

terjadi keterbatasan dalam gerakan dan elatisitas. Munurunnya

fleksibilitas dapat berakibat akan terjadinya berbagai kelainan pada tulang belakang
seperti fraktur dan dislokasi, atlanto-axial dan atlanto-occipital subluxiation,
deformitas tulang belakang, stenosis tilang belakang, dan kelainan pinggul. Ketika
komplikasi ini terjadi. Tindakan pembedahan mungkin dapat dibutuhkan.

K. Prognosis
Perjalanan SA sangat bervariasi. Beberapa pasien mengalami progresi yang
berat meski dengan terapi. Sebagian mengalami ankilosis secara gradual dengan
sedikit ketidaknyamanan dan beberapa hanya mengalami sakrolitis tanpa keterlibatan
spinal.
Meski SA tidak bisa disembuhkan, program rehabilitasi mempunyai
pencapaian yang cukup impresif sehingga dianjurkan untuk tetap dilaksanakan.

12

DAFTAR PUSTAKA
Isbagio H, Spondiloartropati Seronegatif dalam Sarwono waspaji, D Muin Rahman,
LA Lesmana, Djoko Widodo, Hari Isbagio, Idrus Alwi, Unggul Budi Husodo
(eds) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi ketiga . Balai Penerbit FKUI.
Jakarta. 1996: 143-6
Ongkowijaya, JA. 2009. Spondilosis Ankilosa. Dalam: Sudoyo, AW., Setiyohadi, B.,
Alwi, I., dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V (halaman 252631). Departemen IPD FKUI, Jakarta, Indonesia.
Penatalaksanaan

Fisioterapi

pada

Kondisi

Ankilosing

Spondilitis.

(http://elmisarifisioterapi.blogspot.com/, Diakses 16 Oktober 2014).


Spondilitis. (http://eirichzone.blogspot.com/2010/12/spondilitis.html, Diakses 16
Oktober 2014).
Spondylolisthesis,

Spondylolysis,

Spondylitis

(http://sriputrihandayani-

putzai.blogspot.com/2009/06/kelainan-tulang-belakang.html,
Oktober 2014)

13

Diakses

16