Anda di halaman 1dari 24

PEMISAHAN MINYAK ATSIRI

BUNGA CENGKEH SEBAGAI ANASTESI GIGI


Syzygium aromaticum

Disusun oleh:
1.

Ade Muchlas

(12.001)

2.

Faiqotul Himmah

(12.009)

3.

Ilma Anggun Lutfi

(12.015)

4.

Yohana Rafiqah

(12.049)

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


PUTRA INDONESIA MALANG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Upaya untuk menjaga kesehatan baik itu sehat jasmani, rohani,
maupun sosial mutlak diperlukan baik secara pribadi maupun dalam
kelompok masyarakat untuk mewujudkan Indonesia sehat 2013. Berbagai
cara dapat dilakukan untuk memperoleh tingkat kesehatan yang optimal,
salah satunya dengan memanfaatkan tanaman obat yang kini mulai dikemas
dalam berbagai sediaan obat, baik dalam bentuk jamu atau obat tradisional
maupun dalam bentuk obat sintetik.
Banyak klinik obat maupun terapi pengobatan yang beredar
diberbagai daerah yang menawarkan pengobatan dengan menggunakan
tanaman tradisional. Beberapa terapis pengobatan mulai menggencargencarkan pemakaian tanaman tradisional karena lebih efektif memberikan
solusi penyembuhan dibandingkan dengan menggunakan bahan kimia.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa sebagian orang mengalami alergi
pengobatan medis. Hal itu terjadi karena adanya penolakan terhadap obatobat sintetis tertentu. Keunggulan pengobatan tradisional terletak pada bahan
dasarnya yang bersifat alamiah, sehingga efek sampingnya dapat ditekan
seminimal mungkin, meskipun pada beberapa kasus dijumpai pula orangorang yang alergi terhadap herba.
Berkaitan dengan pengobatan tradisional, Cengkeh merupakan salah
satu tanaman asli Indonesia yang berkhasiat sebagai obat. Tanaman ini
dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Simplisia bunga cengkeh
biasanya dimanfaatkan sebagai anastetika pada gigi, karminatifa, zat
tambahan dan aromatikum.
Bunga cengkeh juga dapat dimanfaatkan untuk pengobatan radang
membran mukosa mulut dan tenggorokan. Dari khasiat klinik yang diperoleh,
minyak cengkeh bersifat antiseptik, antispasmodik, antihhistamin dan
antelmintik yang muncul karena adanya kandungan eugenol. Eugenol yang

terdapat pada cengkeh mampu menghambat sintesis prostaglandin dan


metabolisme asam arakidonat oleh leukosit polimorfonuklear manusia,
menghambat aktivitas otot polos secara in vitro dan bersifat radang.
Cengkeh dan minyak cengkeh juga digunakan pada beberapa jenis
rokok yang terdapat di Asia, seperti beedis India dan kretek Indonesia.
Hal ini dimanfaatkan atas dasar kerja stimulan yang dikandungnya. Selain itu,
ekstrak cengkeh juga dimanfaatkan pada produk kosmetik dan parfum.
Kandungan senyawa obat yang umumnya diambil pada tanaman
cengkeh adalah kandungan minyak astiri. Minyak atsiri adalah zat berbau
yang terkandung dalam tanaman. Secara kimia, minyak atsiri bukan senyawa
tunggal, tetapi tersusun dari berbagai macam komponen yang secara garis
besar terdiri dari kelompok terpenoid dan fenil propana.
Umumnya bagian tanaman yang akan diambil kandungan minyak
atsirinya ialah bagian daun dan bunga. Masing-masing bagian itu memiliki
komposisi kandungan minyak atsiri yang berbeda-beda. Pada umumya bagian
yang paling banyak digunakan adalah bagian bunga. Karena, pada bagian ini
tanaman
Terkait pengadaan ektrak minyak cengkeh, dalam praktikum
Pemisahan ini akan dilakukan proses pemisahan dan pemurnian yang
dilakukan terhadap tanaman cengkeh. Pemilihan bunga cengkeh sebagai
obyek pengamatan praktikum ini karena, pada bagian dapat ditemukan
kandungan minyak atsiri.
Bunga cengkeh mengandung minyak atsiri sebanyak 15-16%. Ekstrak
cengkeh diambil dengan menggunakan metode soxhletasi dan destilasi vakum
sebagai metode pemurnian.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana cara mengekstraksi minyak atsiri bunga Cengkeh dengan metode
soxhletasi dan metode destilasi vakum?

1.3 Tujuan Masalah


Untuk mengetahui dan memahami prosedur pemisahan minyak atsiri dengan
jalan mengekstraksi bunga cengkeh menggunakan metode Soxhletasi dan
Evaporasi/Destilasi Vakum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Cengkeh


Kerajaan

: Plantae (tumbuhan)

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae


Kelas

: Dicottyledoneae

Sub Kelas : Monochlamydae


Bangsa

: Caryophylalles

Suku

: Caryophillaceae

Famili

: Myrtaceae

Genus

: Syzygium

Spesies

: Syzygium.aromaticum

2.2 Deskripsi Tanaman


Cengkeh (Syzygium aromaticum) termasuk jenis tumbuhan perdu
yang dapat memiliki batang pohon besar dan berkayu keras, cengkeh mampu
bertahan hidup puluhan bahkan sampai ratusan tahun, tingginya dapat
mencapai 20-30 meter dan cabang-cabangnya cukup lebat. Cabang-cabang
dari tumbuhan cengkeh tersebut pada umumnya panjang dan dipenuhi oleh
ranting-ranting kecil yang mudah patah. Mahkota atau yang lazim disebut
tajuk pohon cengkeh berbentuk kerucut. Daun cengkeh berwarna hijau
berbentuk bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan panggkalnya

menyudut, rata-rata mempunyai ukuran lebar berkisar 2-3 cm dan panjang


daun tanpa tangkai berkisar 7,5-12,5 cm. Bunga dan buah cengkeh akan
muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek serta bertandan.
Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan,
kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi
merah muda apabila sudah tua. Sedangkan bunga cengkeh yang sudah kering
berwarna coklat kehitaman dan berasa pedas karena mengandung minyak
atsiri. Umumnya cengkeh pertama kali berbuah pada umur 4-7 tahun.
Tumbuhan cengkeh akan tumbuh dengan baik apabila cukup air dan
mendapat sinar matahari langsung. Di Indonesia, Cengkeh cocok ditanam
baik di daerah daratan rendah dekat pantai maupun di pegunungan pada
ketinggian 900 meter di atas permukaan laut.

2.3 Morfologi Bunga Cengkeh


Bunga panjangnya 10 mm sampai 17,5 mm; dasar bunga (hipatium)
berisi 4, agak pipih, bagian atas meliputi bakal buah yang tenggelam,
berongga 2 berisi banyak bakal buah melekat pada sumbu plasenta daun
kelopak 4 helai tebal bentuk bundar telur atau segitiga, runcing, lepas. Daun
mahkota 4 helai warna lebih muda dari warna kelopak, tidak mekar tipis
seperti selaput, saling menutup seperti susunan genting. Benang sar banyak
berbentuk melengkung kedalam; tangki agak silinder atau segiempat
panjangnya 2,5 mm sampai 4 mm.

2.4 Bunga Cengkeh


Bunga cengkeh mengandung minyak atsiri sebanyak 15-16 %. Pada
bagian ini mengandung beberapa senyawa kimia yang berkhasiat sebagai obat
antara lain Sterol/terpen, flavonoid, asam gallotanin, kariofilen, vanilin,
eugenin, gum, resin, dan minyak atsiri yang mengandung senyawa fenol yang

sebagian besar terdiri dari eugenol bebas dan sedikit eugenol asetat,
seskuiterpena, sejumlah kecil ester, keton dan alkohol.

2.5 Minyak Atsiri


Minyak atsiri atau dikenal juga sebagai minyak eterik (aetheric oil),
minyak esensial (essential oil), minyak teerbang (volatile oil), serta minyak
aromatik (aromatic oil) merupakan salah satu jenis minyak nabati yang
multimanfaat atau memiliki banyak manfaat. Minyak atsiri merupakan
senyawa organik yang berasal dari tumbuhan dan bersifat mudah menguap.
Karakteristik fisik dari minyak atsiri berupa cairan kental yang dapat
disimpan pada suhu ruang.
Bahan baku dari minyak atsiri dapat diperoleh dari bagian tanaman
seperti daun, bunga, buah, biji, kulit biji, batang, akar atau rimpang. Minyak
atsiri memiliki ciri khas berbau aromatik atau beraroma khas. Karena itulah
minyak atsiri banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan parfum
atau wewangian dan kosmetik, serta juga dimanfaatkan pada pembuatan
sediaan farmasi.
Menurut sejarah, minyak atsiri sebenarnya sudah dikenal sejak zaman
Romawi dan Mesir kuno. Namun, kepopulerannya diawali pada abad ke-16.
Pada saat itu, beberapa industri penyulingan di Prancis mulai memproduksi
minyak atsiri yang berasal dari bunga lavender (Lavandula angustifolia),
kemudian dikemas dalam wadah (botol) kecil dengan harga jual yang tinggi.
Di Eropa, aroma melati dan lavender biasa digunakan untuk wewangian saat
mandi dan pemijatan aromaterapi. Sementara itu, di Indonesia keberadaan
tanaman berbau harum ini sudah dilakukan oleh wanita sejak zaman kerajaan
dahulu.
Minyak terbang atau minyak atsiri telah diteliti sejak lima abad yang
lalu.

Para

ahli biologi menganggap

minyak

atsiri

sebagai metabolit

sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak
dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agensia untuk bersaing
dengan tumbuhan lain (lihat alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup.

Walaupun hewan kadang-kadang

juga

mengeluarkan

bau-bauan

(seperti kesturi dari beberapa musangatau cairan yang berbau menyengat dari
beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai minyak atsiri.
Seperti dijelaskan diatas bahwa minyak atsiri bersifat mudah
menguap, hal ini karena titik didihnya yang rendah. Selain itu, susunan
senyawa

komponennya

kuat

mempengaruhi saraf manusia

(terutama

di hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu. Setiap


senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat
menghasilkan rasa yang berbeda. Karena pengaruh psikologis ini, minyak
atsiri merupakan komponen penting dalam aromaterapi atau kegiatankegiatan liturgi dan olah pikiran/jiwa, seperti yoga atau ayurveda.
Sebagaimana minyak lainnya, sebagian besar minyak atsiri tidak larut
dalam air dan pelarut polar lainnya. Dalam parfum, pelarut yang digunakan
biasanya adalah alkohol. Sedangkan dalam tradisi timur, pelarut yang
digunakan biasanya minyak yang mudah diperoleh, seperti minyak kelapa.
Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit dari
berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya berperan atas
suatu aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan
senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak
(lipofil). Beberapa sifat minyak atsiri antara lain, sebagai berikut:
1.

Tersusun oleh bermacam-macam komponen senyawa

2.

Memiliki aroma yang khas. Umumnya, aroma tersebut mewakili aroma


tanaman asalnya. Bau minyak atsiri satu dengan yang berbeda-beda,
sangat bergantung dari macam dan intensitas bau dari masing-masing
komponen penyusunnya

3.

Memiliki rasa getir, kadang-kadang berasa tajam, menggigit, memberi


kesan hangat sampai panas, atau justru dingin ketika terasa dikulit,
bergantung dari jenis komponen penyusunnya.

4.

Dalam keadaan murni (belum tercemar oleh senyawa lain) mudah


menguap pada suhu kamar, sehingga bila diteteskan pada selembar kertas
maka, ketika dibiarkan menguap tidak meninggalkan bekas noda pada
benda yang ditempel.

5.

Bersifat tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah
menjadi tengik (rancid).

6.

Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik pengaruh


oksigen (udara), sinar matahari (terutama golongan ultraviolet), dan
panas karena terdiri dari berbagai macam komponen penyusun.

7.

Indeks bias umumnya tinggi

8.

Pada umumnya bersifat optis, aktif dan memutar bidang polarisasi


dengan rotasi yang spesifik karena banyak komponen penyusun yang
memiliki atom C asimetrik.

9.

Pada umumnya tidak dapat bercampur dengan air, tetapi cukup dapat
larut

hingga

dapat

memberikan

baunya

kepada

air

walaupun

kelarutannya sangat kecil.


10. Sangat mudah larut dalam pelarut organik
Minyak yang diperoleh dari daun cengkeh disebut minyak cengkeh
(CLove Leaf Oil) dengan cara destilasi uap dari daun cengkeh yang sudah tua
atau yang telah gugur. Kadar minyak cengkeh tergantung kepada jenis, umur
dan tempat tumbuh tanaman cengkeh yaitu sekitar 5-6 %. Komponen utama
minyak cengkeh adalah eugenol yaitu sekitar 70-90 % dan merupakan cairan
tak berwarna atau kuning pucat, bila kena cahaya matahari berubah menjadi
coklat hitam yang berbau spesifik.

2.6 Soxhletasi
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat atau beberapa dari suatu padatan
atau cairan dengan bantuan pelarut, pemisahan terjadi atas dasar kemampuan
larutan yang berbeda-beda dari komponen campuran tersebut (Geancoplis,
1998).
Ekstraktor soxhlet adalah salah satu instrumen yang digunakan untuk
mengekstrak suatu senyawa. Pada umumnya metode yang digunakan dalam
instrumen ini adalah untuk mengekstrak senyawa yang memiliki kelarutan
terbatas dalam suatu pelarut namun, jika suatu senyawa mempunyai kelarutan
yang tinggi dalam suatu pelarut tertentu, maka biasanya menggunakan

metode filtrasi (penyaringan/pemisahan) biasa dapat digunakan untuk


memisahkan senyawa tersebut dari suatu sampel.
Prinsip kerja dari ekstraktor soxhlet adalah salah satu model ekstraksi
(pemisahan/pengambilan) yang menggunakan pelarut selalu baru dalam
mengekstraknya sehingga terjadi ektraksi yang kontinyu dengan adanya
jumlah pelarut konstan yang juga dibantu dengan pendingin balik
(kondensor). Sedangkan cara kerjanya (mekanisme kerja), antara lain:
1. Menghaluskan sampel (untuk mempercepat proses ekstraksi, karena luas
permukaannya lebih besar, jadi laju reaksi lebih cepat berjalan)
2. Membungkus sampel dengan kertas saring (agar sampelnya tidak ikut
kedalam labu alas bulat ketika diekstraksi)
3. Memasukkan batu didih (untuk meratakan pemanasan agar tidak terjadi
peledakan) ke dalam labu alas bulat
4. Memasukkan kertas saring dan sampel kedalam timbal, dan timbalnya
dimasukkan kedalam lubang ekstraktor.
5. Setelah itu pelarut dituangkan kedalam timbal dan disana akan langsung
menuju ke labu alas bulat.
6. Kemudian dilakukan pemanasan pada pelarut dengan acuan pada titik
didihnya (agar pelarut bisa menguap), uapnya akan menguap melalui pipa
F dan akan menabrak dinding-dinding kondensor hingga akan terjadi
proses kondensasi (pengembunan), dengan kata lain terjadi perubahan fasa
dari fasa gas ke fasa cair.
7. Kemudian pelarut akan bercampur dengan sampel dan mengekstrak
(memisahkan/mengambil) senyawa yang kita inginkan dari suatu sampel.
Setelah itu maka pelarutnya akan memenuhi sifon, dan ketika pada sifon
penuh kemudian akan disalurkan kembali kepada labu alas bulat. Proses
ini dinamakan 1 siklus, semakin banyak jumlah siklus maka bisa
diasumsikan bahwa senyawa yang larut dalam pelarut juga akan semakin
maksimal.

2.7 Destilasi Vakum


Destilasi adalah suatu proses pemisahan yang terdiri atas beberapa
tahap

yaitu

mengubah

suatu

senyawa

menjadi

bentuk

uapnya,

mengkondensasikan uap yang terbentuk menjadi cair kembali dan


menampung hasil kondensasi ke dalam suatu penampung. Metode destilasi
digunakan untuk bahan yang mengandung lemak dan komponen yang mudah
menguap. Apabila yang didinginkan adalah bagian campuran yang tidak
teruapkan dan bukan destilatnya, maka proses tersebut biasanya dinamakan
pengentalan dengan evaporasi. Dalam hal ini sering kali bukan pemisahan
yang sempurna yang dikehendaki, melainkan peningkatan konsentrasi bahanbahan yang terlarut dengan cara menguapkan sebagian dari pelarut.
Destilasi vakum merupakan salah satu proses destilasi yang
menggunakan metode menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1
atm, sehingga titik didihnya juga menjadi rendah. Proses ini digunakan pada
senyawa yang memiliki titik didih tinggi dan senyawa yang rusak jika berada
suhu yang tinggi. Pada destilasi vakum, perlu untuk menjaga pendidihan yang
tetap dengan jalan mengalirkan secara perlahan uap air atau gas nitrogen
melalui kapiler yang ujungnya berada di bawah permukaan cairan atau bisa
juga digunakan magnetic stirrer. Perlu juga diperhatikan agar pemanasan
dimulai setelah sistem telah berada pada tekanan yang diinginkan. Alat yang
sering digunakan dengan prinsip destilasi vakum adalah rotary vacum
evaporator. Prinsip utama alat ini ialah penurunan tekanan, sehingga pelarut
dapat menguap pada suhu di bawah suhu didihnya (persamaan PV = nRT)

2.8 Pelarut
Ekstraksi adalah proses penarikan komponen aktif (minyak atsiri)
yang terkandung dalam tanaman menggunakan bahan pelarut yang sesuai
dengan kelarutan komponen aktifnya. Prinsip metode ekstraksi dengan
pelarut menguap adalah untuk melarutkan minyak atsiri didalam bahan
pelarut organik mudah menguap. Pelarut yang banyak digunakan untuk
mengekstraksi minyak atsiri adalah alkohol, heksana, benzena, dan toluena.

Selain itu, juga dapat menggunakan pelarut non-polar seperti aseton, etanol,
metanol, petroleum eter dan etilasetat dengan kadar 96%.
Dalam memilih pelarut yang akan digunakan untuk ekstraksi harus
memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:
1. Harga pelarut harus serendah mungkin dan tidak mudah terbakar
2. Harus dapat melarutkan semua zat aromatik dengan cepat dan sempurna,
dan sedikit mungkin melarutkan bahan seperti, lilin, pigmen, senyawa
albumin dengan kata lain pelarut harus bersifat selektif.
3. Harus memiliki titik didih yang cukup rendah, agar pelarut mudah
diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi. Namun, titik didih pelarut juga
tidak boleh terlalu rendah. Hal ini karena akan mengakibatkan hilangnya
sebagian pelarut akibat penguapan pada musim panas.
4. Pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan komponen
minyak daun
5. Pelarut harus memiliki titik didih yang seragam, dan jika diuapkan tidak
akan tertinggal dalam minyak. Pelarut yang memiliki titik didih tinggi
akan tertinggal dalam minyak setelah proses penguapan, sehingga
mempengaruhi aroma minyak yang akan dihasilkan.
6. Pelarut tidak boleh larut dalam air
Pada pemisahan minyak atsiri bunga Cengkeh ini digunakan pelarut
etanol, karena dalam pemilihannya ada beberapa pertimbangan/keuntungan
antara lain:
1. Absorbsinya baik
2. Etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan
3. Harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan metanol
4. Kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20% keatas
5. Lebih selektif
6. Netral
7. Panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit, dan
8. Tidak beracun

Etanol dapat melarutkan alkaloida basa, minyak menguap glikosida,


kurkumin, kumarin, antrakinon, flavonoid, steroid, damar dan klorofil.
Lemak, malam tanin dan saponin hanya sedikit larut. Dengan demikian zat
pengganggu yang larut hanya terbatas.
Untuk meningkatkan penyarian biasanya digunakan campuran antara
etanol dan air tergantung pada bahan yang akan disari. Dilihat dari sifatnya
yang mudah menguap, minyak atsiri memiliki sifat non polar. Sehingga,
untuk melarutkan kandungan minyak atsiri digunakan pelarut campuran yang
bersifat non polar pula. Dalam proses pemisahan minyak atsiri bunga
cengkeh menggunakan pelarut etanol 95% karena presentase air yang terdapat
dalam alkohol 95% tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan presentase
alkohol murni yang terkandung dalam larutan alkohol tersebut. Sehingga,
alkohol 95% tersebut mendekati sifat non polar.

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Labu alas bulat, stiler, batu didih, termometer, alat penangas,
kondensor, penyaring vakum, beaker glass, gelas ukur, batang pengaduk,
cutter/pisau/silet, tissue, pipet, pinset, blender, ayakan mesh nomor 20.
3.1.2 Bahan
Serbuk bunga cengkeh, pelarut etanol 96%

3.2 Proses Pemisahan


3.2.1 Persiapan Bunga Cengkeh
Bunga cengkeh kering (simplisia) dihaluskan dengan blender,
kemudian ditimbang sebanyak 20 gram. Serbuk bunga cengkeh yang akan
diekstraksi harus diayak dahulu agar derajat kehalusannya sama. Ayakan
yang digunakan yaitu ayakan mesh nomor 20.

3.2.2 Soxhletasi
1.

Serbuk simplisia bunga cengkeh yang sudah kering ditimbang sebanyak


20 gram.

2.

Membungkus bunga cengkeh tersebut dengan kertas saring, kemudian


diikat dengan tali dan kemudian dimasukkan tabung soxhlet.

3.

Memasang alat ekstraksi

4.

Masukan pelarut etanol 96% 150 ml ke dalam labu dasar bulat lalu
ditambah batu didih yang telah dicuci dengan etanol 96%, lalu

masukkan kedalam labu dasar bulat. Penggunaan batu didih ditujukan


untuk sebagai penghantar panas agar tidak terjadi bumping (letupan dari
pelarut).
5.

Rangkai alat untuk ekstraksi soxhlet sesuai gambar.

6.

Lakukan ekstraksi sampai pelarut jenuh dengan senyawa yang


diekstrak.

7.

Catat waktu yang diperlukan setiap satu kali sirkulasi.

8.

Jika suhu air meningkat, ganti air agar air dalam kondensor selalu
dingin.

9.

Hentikan ekstraksi jika pelarutnya sudah jenuh ditandai dengan


berubahnya warna pelarut menjadi bening atau tidak berwarna. Lalu
pisahkan

pelarut

dengan

cara

diuapkan

dalam

lemari

asam,

menggunakan blower atau distilasi sehingga diperoleh ekstrak kering.


10. Diekstrak dengan metode soxhlet hingga cairan yang menetes tidak lagi
berwarna hitam kecoklatan.

3.2.3 Destilasi Vakum


1.

Hasil ekstraksi bunga cengkeh di masukkan kedalam labu alas bulat.

2.

Kemudian dipanaskan sesuai dengan suhu pelarut (etanol 96% = 78,15


C).

3.

Labu alas bulat yang telah terisi hasil ekstraksi bunga cengkeh dipasang
pada ujung toror yang menghubungkan dengan kodensor.

4.

Aliran air pendingin dan pompa vakum dijalankan, kemudian tombol


rotor diputar dengan kecepatan tertentu.

5.

Proses penguapan dilakukan hingga memperoleh ekstrak yang ditandai


dengan tidak adanya lagi pelarut yang menetes pada alas bulat
penampung.

6.

Setelah proses penguapan selesai, Rotary Evaporator dihentikan dengan


cara menghentikan putaran rotor dan temperatur pada watherbath di nol
kan.

7.

Pompa vakum di nol kan, kemudian pompa labu alas bulat dikeluarkan
setelah kran pengatur tekanan pada ujung kondensor di buka

BAB IV
SKEMA KERJA

20 g bunga cengkeh
+ 100 ml etanol

Di lakukan
soxhletasi

Ekstrak minyak
atsiri + etanol

Di destilasi vakum sampai


pelarut tidak menetes lagi

Dihasilkan minyak
atsiri murni

BAB V
GAMBAR ALAT

Rangkaian Alat Soxhletasi

Rangkaian Alat Rotary Vakum Evaporator

BAB VI
HASIL PENGAMATAN

6.1 Soxhletasi
Dari hasil pengamatan bunga Cengkeh menggunakan metode
Soxhletasi yang dilakukan dengan dua puluh empat siklus menghasilkan
ekstrak minyak atsiri sebanyak 100 ml yang berwarna coklat dan berbau
aromatik khas dari tanaman Cengkeh.

6.2 Destilasi Vakum


Hasil pengamatan dari bunga Cengkeh menghasilkan minyak atsiri
murni yang berwarna coklat pekat dan berbau aromatik khas cengkeh.
Minyak atsiri murni yang dihasilkan kurang lebih sebanyak 5 ml.

BAB VII
PEMBAHASAN

Pada praktikum pemisahan ini tanaman yang digunakan adalah


Cengkeh. Tanaman Cengkeh sering dimanfaatkan sebagai bumbu dapur, baik
dalam bentuk utuh maupun dalam bentuk bubuk. Dalam praktikum
pemisahan ini, bagian yang digunakan sebagai bahan baku adalah bunga
Cengkeh. Sedangkan pelarut yang digunakan adalah etanol 96%.
Metode pemisahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
Soxhletasi. Prinsip dari metode ini adalah salah satu model ekstraksi
(pemisahan/pengambilan) yang menggunakan pelarut selalu baru dalam
mengekstraknya sehingga terjadi ektraksi yang kontinyu dengan adanya
jumlah pelarut konstan yang juga dibantu dengan pendingin balik
(kondensor). Tujuan menggunakan metode Soxhletasi adalah untuk
memperoleh ekstrak cair minyak atsiri dari bunga Cengkeh dengan volume
yang lebih banyak.
Serbuk bunga cengkeh yang digunakan sebanyak 20 gram, kemudian
dilakukan proses Soxhletasi menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 150
ml. Selama proses Soxhletasi dilakukan ada beberapa permasalahan yang
ditemukan. Permasalahan pertama, ketika proses Soxhletasi dilakukan
volume etanol yang menyari minyak atsiri yang terletak pada sifon tidak
dapat jatuh ke labu alas bulat. Hal ini disebabkan adanya gelembung pada
sifon, sehingga cairan pelarut yang berada pada sifon tidak stabil dan tidak
dapat tjatuh ke labu alas bulat. Hal ini diatasi dengan sedikit menggerakkan
bagian tabung Soxhlet yang dilakukan hingga proses Soxhletasi selesai.
Permasalahan kedua ialah suhu yang digunakan ketika Soxhletasi
berlangsung terlalu tinggi. Akibatnya, etanol yang berada di sifon menguap,
sehingga volume ekstrak cair yang dihasilkan berkurang dan tidak sebanding
dengan volume pelarut yang digunakan. Padahal, jika dibandingkan dengan
volume pelarut yang digunakan sebanyak 150 ml, sedangkan ekstrak cair
yang dihasilkan sebanyak 100 ml.

Pada umumnya proses Soxhletasi dilakukan maksimal tiga puluh


enam sirkulasi yang ditandai oleh pelarut yang sudah tidak berwarna lagi,
namun pada praktikum yang dilakukan proses Soxhletasi dihentikan pada
sirkulasi ke dua puluh empat. Hal ini disebabkan pelarut yang terletak pada
sifon sudah tidak berwarna lagi. Sehingga, proses Soxhletasi bunga Cengkeh
ini dihentikan pada sirkulasi yang kedua puluh empat.
Setelah tahap Soxhletasi selesai, dilanjutkan dengan proses evaporasi
atau destilasi vakum. Tujuan dilakukan evaporasi adalah untuk memisahkan
antara etanol dengan minyak atsiri. Sehingga, etanol yang dihasilkan tersebut
dapat digunakan kembali dan tidak terbuang sia-sia. Metode evaporasi dipilih
karena untuk memisahkan etanol dengan minyak atsiri tidak dapat
menggunakan pemanasan pada suhu tinggi. Keunggulan menggunakan
metode Evaporasi ialah tekanan yang digunakan dapat diturunkan dibawah 1
atm dan dengan suhu berada dibawah titik didih dari pelarut yang digunakan
(etanol).
Dalam proses evaporasi ini, digunakan 100 ml ekstrak cair bunga
Cengkeh yang dihasilkan dengan menggunakan metode Soxhletasi. Ekstrak
cair tersebut kemudian dievaporasi dengan tekanan 1,5 atm dan suhu 79C.
Evaporasi dilakukan hingga pelarut tidak menetes lagi dan ekstrak menjadi
kental.
Berdasarkan teori yang diperoleh dari beberapa literatur, proses
evaporasi minyak atsiri seharusnya dilakukan dengan menggunakan tekanan
1 atm dan dengan suhu dibawah titik didih pelarut yang digunakan sehingga,
diperoleh minyak atsiri yang jernih. Dalam praktikum ini digunakan pelarut
etanol 96% yang memiliki titik didih 78C. Jadi, suhu yang digunakan
seharusnya yaitu 68C. Namun, dalam kenyataannya Evaporasi dilakukan
dengan tekanan 1,5 atm dan suhu 79C. Dengan tekanan dan suhu yang
demikian lah yang menyebabkan minyak atsiri yang diperoleh terlalu pekat
dan kental.

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan
Prinsip dari metode Soxhletasi adalah mengekstrak lemak dengan
menggunakan pelarut organik, setelah pelarutnya diuapkan, lemaknya
dapat ditimbang dan dihitung persentasenya.
Pelarut yang digunakan pada praktikum ini adalah etanol 96%. Pemilihan
pelarut ini didasarkan pada sifatnya yang non polar dan netral, volatile,
absorbsinya baik, dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan,
kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20% keatas, lebih selektif,
panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit dan tidak beracun,
serta harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan metanol.
Kelebihan dari metode Soxhletasi adalah pelarut masih utuh, masih dapat
digunakan untuk ekstraksi bahan yang lain, dan dapat melarutkan bahan
yang lebih banyak karena adanya pemanasan.
Dengan menggunakan rotary evaporator dapat dipisahkan antara pelarut
dan minyak yang telah didapat dari proses Soxhletasi sehingga, pelarut
dapat digunakan lagi.

8.2 Saran
Praktikan harus lebih teliti dan berhati-hati dalam melakukan proses
pemisahan, baik ketika menimbang hingga proses Soxhletasi dan
Evaporasi
Praktikan harus memperhatikan suhu dan tekanan yang digunakan baik itu
ketika proses Soxhletasi maupun Evaporasi
Praktikan harus memperhatikan sekeliling alat Soxhletasi agar pelarut
yang digunakan tidak keluar dan menguap yaitu dengan diolesi lem.
Karena hal itu akan mempengaruhi volume ekstrak cair minyak atsiri yang
diperoleh
Praktikan hendaknya memperhatikan pula penggunaan batu didih setiap
proses Soxhletasi berlangsung

Metode Soxhletasi kurang efektif jika digunakan untuk memisahkan


minyak atsiri bunga Cengkeh karena minyak yang diperoleh harus
dipisahkan kembali dari pelarutnya dengan cara diuapkan. Praktikan dapat
menggunakan metode destilasi uap sebagai alternatif lain untuk
memisahkan minyak atsiri bunga Cengkeh

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Materia Medika Jilid VI. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Agoes, Goeswin. 2007. Teknologi Bahan Alam. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.
Anonim. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Novi Kristanti, Afinda (dkk). 2008. Buku Ajar Fitokimia. Surabaya: Universitas
Airlangga.
Guenther, Ernest. 2006. Kimia Minyak Atsiri Jilid I. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Azam,

khoirul.

Rotary

Vakum

Evaporator.

2012.

http://khoirulazam89.blogspot.com/2012/01/rotary-vakum-evaporator.html.
Diakses tanggal 28 Maret 2013. Pukul 10:19.
Anonim.

Rotary

Evaporator.

2012.

http://chemsanboice-

kimiaituasyk.blogspot.com/2006/06/rotary-evaporator.html. Diakses tanggal 25


Maret 2013. Pukul 15:58.

Lampiran