Anda di halaman 1dari 24

TK 3001 LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA

SEMESTER I 2014/2015
MODUL KUC
KESETIMBANGAN UAP CAIR

Laporan Lengkap

Oleh:
Kelompok A.1415.3.36
Nanda Tri Wibowo (13012047)
Juli Wahyu Prayogi (13012109)

Dosen Pembimbing:
Dr. Antonius Indarto

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

ABSTRAK

Kesetimbangan uap cair merupakan kondisi ketika tidak terjadi perubahan secara
makroskopik antara fasa uap dan cair. Data kesetimbangan uap cair merupakan data
termodinamika yang diperlukan dalam perancangan dan pengoperasian kolom distilasi.
Dalam percobaan ini akan dilakukan pengukuran data kesetimbangan uap cair dari
sistem biner etanol-air, kemudian data yang diperoleh dibandingkan dengan model
termodinamika (dalam percobaan ini digunakan model Wilson).
Hal yang pertama kali dilakukan adalah melakukan kalibrasi refraktometer.
Percobaan ini dilakukan untuk sebelas variasi fraksi mol etanol dalam air, kemudian
diukur nilai indeks bias masing-masig variasi sampel. Selanjutnya, dibuat kurva
kalibrasi refraktometer yang menghubungkan indeks bias terhadap fraksi mol etanol.
Percobaan utamanya adalah pengukuran data kesetimbangan uap cair etanol-air
menggunakan alat ebuliometer. Umpan etanol-air divariasikan empat kali dengan fraksi
volume etanol masing-masing adalah 0,5; 0,45; 0,4; dan 0,35. Sampel yang keluar dari
top dan bottom product kemudian diukur indeks biasnya untuk mendapatkan fraksi
etanol dalam kesetimbangan melalui aluran kurva kalibrasi refraktometer. Selain itu
juga dilakukan pencatatan terhadap TT02 (temperatur kesetimbangan) untuk kemudian
didapatkan fraksi etanol literatur dari hasil aluran kurva T-xy model Wilson.
Dari percobaan kalibrasi refraktometer, untuk fraksi mol etanol 0,88; 0,67; 0,51;
0,39; 0,30; 0,22; 0,16; 0,11; 0,07; 0,03; dan 0,00 berturut-turut didapatkan nilai indeks
bias sebesar 1,36; 1,361; 1,362; 1,364; 1,363; 1,36; 1,358; 1,354; 1,349; 1,343; dan 1,341.
Kemudian untuk percobaan pengukuran data kesetimbangan uap cair, untuk variasi
umpan 0,5; 0,45; 0,4; dan 0,35 fraksi volume etanol berturut-turut didapatkan nilai
indeks bias sebesar 1,357; 1,359; 1,358; dan 1,356 untuk fasa cair dan 1,345; 1,361;
1,362; dan 1,361 untuk fasa uap. Sementara TT02 yang terukur adalah 78,1; 78,3; 78,3;
dan 79 C. Dari aluran kurva model Wilson untuk masing-masing nilai TT02 didapatkan
fraksi mol etanol dalam fasa cair adalah 0,37; 0,35; 0,35 dan 0,29 dan dalam fasa uap
adalah 0,615; 0,61; 0,61 dan 0,59.
Kata kunci: kesetimbangan uap cair, sistem biner, model Wilson, indeks bias

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesetimbangan adalah suatu kondisi statik dimana tidak terjadi perubahan sistem
secara makroskopik untuk suatu waktu tertentu. Pada keadaan kesetimbangan, molekulmolekul dalam sistem akan berpindah antarfasa dengan laju perpindahan molekul yang
sama. Kesetimbangan uap cair tercapai ketika temperatur, tekanan, dan fraksi masingmasing fasa telah konstan. Dalam hal ini, penting untuk dilakukan pengukuran data
kesetimbangan uap cair secara eksperimen. Data kesetimbangan uap cair yang lengkap
diperoleh dari serangkaian percobaan yang sangat lama, sehingga cara yang umum
dilakukan adalah mengukur data pada beberapa kondisi tertentu kemudian dibuat model
matematikanya.
Kesetimbangan uap cair memiliki aplikasi yang luas di industri, salahsatunya dalam
perancangan kolom distilasi untuk menentukan jumlah tray kolom. Pada dasarnya,
terdapat banyak model termodinamika dari data kesetimbangan uap cair seperti model
Wilson, Van Laar, Margules, NRTL, dan lain-lain yang spesifik untuk jenis sistem biner
tertentu. Oleh karena itu, melalui percobaan ini praktikan diharapkan dapat membuat
kurva kesetimbangan uap cair berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan,
kemudian membandingkannya dengan model literatur.
1.2 Pernyataan Masalah
Data kesetimbangan uap cair adalah spesifik untuk tiap sistem biner, sehingga tidak
semua kurva kesetimbangan uap cair sistem biner dapat diperoleh dari literatur. Oleh
karena itu perlu dilakukan eksperimen skala laboratorium untuk mendapatkan data-data
untuk beberapa variasi komposisi tertentu. Dalam percobaan ini diharapkan dapat
diperoleh suatu kurva kesetimbangan uap cair etanol-air yang mendekati keadaan
idealnya.

1.3 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memperoleh data kesetimbangan uap-cair
sistem etanol-air dalam berbagai fraksi, kemudian membandingkannya dengan model
Wilson.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesetimbangan Uap Cair


Kesetimbangan adalah kondisi dimana sudah tidak ada perubahan lagi secara
makroskopik. Perubahan yang dimaksud untuk percobaan ini adalah perpindahan massa
pada kedua fasa, cair dan uap. Pada suatu sistem biner, kesetimbangan dicapai ketika
dua fasa (uap dan cair) memiliki temperatur, tekanan, dan potensial kimia (yang
kemudian didekati dengan konsep fugasitas Lewis) yang sama.
Penentuan kesetimbangan uap cair pada percobaan ini menggunakan ebuiliometer
SOLTEQ. Umpan dimasukkan dan dipanaskan pada evaporator hingga mencapai
kesetimbangan. Setelah kesetimbangan tercapai, fasa uap dari campuran biner etanol-air
akan menuju kondensor yang berada diatas sedangkan fasa cairnya akan berada pada
kolom bagian bawah. Tercapainya kesetimbangan ditandai dengan konstannya
temperatur pada TT02.
2.2 Hukum Raoult
Hukum Raoult diaplikasikan pada tekanan yang rendah sampai medium sehingga
fasa uap dan fasa cair diasumsikan berada pada kondisi ideal. Hukum Raoult hanya
dapat berlaku valid apabila zat-zat yang menyusun sistem bersifat sama. Hukum Raoult
bersifat terbatas sehingga hanya dapat digunakan untuk zat yang diketahui tekanan
uapnya dan memerlukan zat pada keadaan subkritikal, pada temperatur dibawah
temperatur kritik. Persamaan matematis untuk menggambarkan Hukum Raoult adalah:
(

(1)

Dengan xi adalah fraksi mol cair dan yi adalah fraksi mol uap. Pisat adalah tekanan uap
zat murni i pada temperatur sistem.
Untuk temperatur rendah hingga sedang, persamaan yang lebih realistis untuk
kesetimbangan uap cair berlaku ketika fasa cair tidak diasumsikan dalam kondisi ideal
sehingga berlaku Hukum Raoult termodifikasi (Modified Raoults Law). Persamaan
matematis Modified Raoults Law dinyatakan sebagai:

(
Dengan

(2)

adalah koefisien aktivitas.

2.3 Fugasitas di Fasa Uap


Fugasitas di fasa uap dinyatakan dalam bentuk koefisien fugasitas yang
didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa uap dan tekanan parsial
komponen. Berdasarkan definisi ini, hubungan antara fugasitas dan koefisien fugasitas
dan koefisien fugasitas di fasa uap dinyatakan sebagai:
(3)
Dengan

adalah koefisien fugasitas, y adalah fraksi mol di fasa uap, dan P adalah

tekanan total.
Koefisien fugasitas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan keadaan,
persamaan yang menghubungan tekanan, temperatur, volum, dan/atau komposisi.
2.4 Fugasitas di Fasa Cair
Fugasitas di fasa cair umumnya dinyatakan dalam bentuk koefisien aktifitas yang
didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa cair dan hasil kali antara
fraksi mol komponen di fasa cair dan fugasitas komponen pada tekanan standar dalam
perhitungan-perhitungan koefisien aktifitas dalam kondisi cairan murni. Jika keadaan
cairan murni dipakai sebagai keadaan standar, koefisien aktifitas dinyatakan sebagai:
(4)
Dengan

adalah koefisien aktifitas, x adalah fraksi mol komponen di fasa cair, dan

adalah fugasitas cairan murni.


Koefisien fugasitas dapat dihitung berdasarkan data energi bebas Gibbs berlebih
(excess Gibbs energy). Persamaan-persamaan untuk menghitung koefisien aktifitas
antara lain persamaan Van Laar, persamaan Margules, persamaan Wilson, persamaan
NRTL, dan sebagainya. Koefisien aktifitas juga dapat dihitung dengan menggunakan
metode kelompok (group method) seperti metoda UNIFAC dan metoda ASOG.

2.5 Model-Model Kesetimbangan Uap Cair


Ada berbagai jenis parameter yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah
kesetimbangan uap cair. Model termodinamika ini disesuaikan dengan kondisi dan
sistem

campuran.

Parameter-parameter

yang

sesuai

adalah

parameter

yang

menghasilkan perkiraan model yang hampir sama dengan hasil percobaan. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara meminimumkan suatu fungsi objektif tertentu. Fungsi objektif
yang diminimumkan bergantung pada data percobaan yang tersedia seperti data T-x-y,
T-x, P-x-y, atau lainnya. (Silverman dan Tassios, 1977).
Persamaan Wilson seperti persamaan Margules dan Van Laar, hanya memiliki dua
buah parameter untuk sistem biner yaitu

dan

(kedua parameter ini harus selalu

bernilai positif). Koefisien aktivitas dapat dihitung dengan persamaan berikut:


(

(5)

(6)

(7)

Vi dan Vj adalah volume molar pada temperatur T untuk komponen murni i dan j. Aij
adalah konstan dan tidak bergantung pada komposisi dan temperatur.
Persamaan NRTL (Non Random Two Liquids) memiliki tiga parameter untuk
sistem biner, yaitu

. Ketiga parameter tersebut bersifat spesifik untuk

setiap jenis komponen dan tidak bergantung pada komposisi dan temperatur. Model
matematik untuk persamaan NRTL adalah:
( )

( )

(10)

(11)
(12)
(13)

] (8)
] (9)

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Skema Alat


Berikut adalah skema alat yang digunakan dalam pengukuran data kesetimbangan uap
cair.

Gambar 3.1 Skema alat ebuliometer

3.2 Prosedur Kalibrasi Refraktometer


Kalibrasi refraktometer bertujuan untuk mendapatkan kurva yang menghubungkan
data indeks bias terhadap fraksi mol etanol dalam air. Dalam percobaan ini, sampel
etanol-air divariasikan fraksinya sebanyak sebelas kali, kemudian diukur nilai indeks
biasnya menggunakan alat refraktometer. Pengukuran indeks bias dilakukan dengan
meneteskan sedikit sampel ke atas prisma refrakometer, kemudian skala yang terbaca
dicatat. Sebelum meneteskan sampel, terlebih dahulu prisma dibilas dengan aseton.
Aluran kurva menghasilkan suatu persamaan polinomial berorde tinggi, sehingga untuk
mendapatkan nilai x (fraksi etanol) digunakan metode Goal Seek dari Excel.
3.3 Prosedur Pengoperasian Ebuliometer
Pertama-tama pastikan valve di penampung top dan bottom product tertutup.
Kemudian, keran air menuju kondensor dibuka dan tunggu hingga laju alirnya konstan.
Umpan dengan fraksi mol tertentu dimasukkan ke ebuliometer dan dilakukan
pengecekan ketinggian level umpan dengan membuka valve 13 dan 14. Temperatur
pemanasan awal (TT01) diatur pada 100 oC, kemudian heater dinyalakan. Tunggu TT02
konstan dan catat temperaturnya. Top dan bottom product dikeluarkan untuk diukur
nilai indeks biasnya. Dari data indeks bias dapat ditentukan fraksi etanol dalam air
menggunakan kurva kalibrasi refraktometer. Langkah terakhir adalah shut-down alat.
Lakukan langkah-langkah diatas untuk variasi umpan yang berbeda. Dalam percobaan
ini digunakan variasi fraksi etanol sebesar 4 kali. Data TT02 yang terukur dialurkan ke
dalam kurva T-xy model Wilson untuk mendapatkan fraksi etanol menurut literatur, lalu
fraksi yang diperoleh dari kurva kalibrasi dibandingkan dengan fraksi yang diperoleh
dari model Wilson.
3.4 Variabel Percobaan
3.4.1 Variabel bebas
Variabel bebas dalam percobaan ini yaitu fraksi etanol dalam air. Variasi yang
dilakukan untuk umpan ebuliometer adalah 0,5; 0,45; 0,4; dan 0,35 fraksi volume etanol
dalam air.

3.4.2 Variabel tetap


Variabel tetap percobaan ini yaitu tekanan operasi pada ebulliometer
3.4.3 Variabel Terikat
Variabel terikat dalam percobaan ini yaitu temperatur dan fraksi etanol dalam fasa
uap dan fasa cair.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengukuran Densitas Etanol


Densitas etanol diukur menggunakan piknometer. Massa etanol dihitung dari selisih
massa piknometer berisi etanol dengan massa piknometer kosong. Sementara volume
piknometer ditentukan dari hasil pembagian massa aqua dm dalam piknometer dengan
densitas aqua dm pada suhu 26,1 oC yang didapatkan dari literatur. Dari hasil
perhitungan didapatkan densitas etanol sebesar 0,813 gram/ml.
4.2 Kalibrasi Refraktometer
Kalibrasi refraktometer dilakukan untuk mendapatkan kurva hubungan antara indeks
bias campuran terhadap fraksi etanol. Pengukuran indeks bias dilakukan terhadap 11
variasi komposisi campuran biner seperti tertera pada tabel berikut ini.
Tabel 4.2 Variasi sampel untuk kalibrasi refraktometer
Volume etanol (ml)

Volume air (ml)

10

10

Dari pengaluran data indeks bias yang diperoleh dari percobaan terhadap fraksi etanol
didapatkan suatu persamaan polinomial berorde empat, yaitu:
y = -0,0652x4 + 0,2648x3 0,3306x2 + 0,1532x + 1,3399

Keterangan:
y: indeks bias
x: fraksi mol etanol
Berikut adalah kurva hasil kalibrasi refraktometer.

1.37
1.365
1.36
y = -0.0652x4 + 0.2648x3 - 0.3306x2 + 0.1532x + 1.3399

Indeks bias

1.355
1.35
1.345
1.34
1.335
0

0.2

0.4

0.6

0.8

Fraksi mol etanol

Gambar 4.2.1 Kurva kalibrasi refraktometer

Pada kurva di atas terlihat pada rentang nilai indeks bias 1,36 hingga sekitar 1,364,
untuk nilai indeks bias yang sama terdapat dua nilai fraksi mol etanol. Hal ini akan
mempersulit dalam menentukan nilai fraksi etanol pada rentang indeks bias tersebut.
Oleh karena itu, strategi yang kami gunakan untuk menentukan fraksi yang dikehendaki
(dalam hal ini adalah fraksi mol etanol dalam fasa uap) adalah dengan membagi kurva
pada rentang indeks bias tertentu sebagai berikut ini.

1.3645
1.364
1.3635

Indeks bias

1.363
1.3625
1.362
1.3615
1.361
y = -0.0685x3 + 0.1464x2 - 0.1073x + 1.3878

1.3605
1.36
1.3595
0

0.2

0.4

0.6

0.8

Fraksi mol etanol

Gambar 4.2.2 Kurva kalibrasi refraktometer pada rentang indeks bias 1,36 1,364

4.3 Penentuan Temperatur dan Komposisi Kesetimbangan


Pada percobaan ini, umpan etanol-air divariasikan empat kali, masing-masing
dengan fraksi volume etanol sebesar 0,5; 0,45; 0,4; dan 0,35. Untuk keempat variasi ini,
temperatur kesetimbangan (TT02) yang terukur adalah 78,1 oC; 78,3 oC; 78,3 oC; dan 79
o

C. Dari aluran kurva model Wilson, besar fraksi etanol berturut-turut untuk keempat

temperatur diatas adalah 0,37; 0,35; 0,35; dan 0,29 di fasa cair dan 0,615; 0,61; 0,61;
dan 0,59 di fasa uap.
4.4 Perbandingan Hasil Percobaan dengan Data Teoritis
Setelah tercapai temperatur kesetimbangan, top dan bottom product dikeluarkan dari
ebuliometer untuk kemudian diukur indeks biasnya. Dari nilai indeks bias bisa
ditentukan nilai fraksi mol etanol dengan metode Goal Seek terhadap persamaan
kalibrasi refraktometer:
y = -0,0652x4 + 0,2648x3 0,3306x2 + 0,1532x + 1,3399

Fraksi mol etanol yang didapat dari kurva kalibrasi refraktometer dibandingkan
dengan fraksi mol etanol yang didapat dari kurva model Wilson. Berikut adalah kurva
yang menunjukkan perbandingan data percobaan terhadap model teoretis.

100.00
95.00

90.00
85.00
80.00
75.00
70.00
0.00

0.10

0.20

0.30

0.40

0.50

0.60

0.70

0.80

0.90

1.00

x-y
T-x Wilson

T-y Wilson

T-x

T-y

Gambar 4.4 Perbandingan kurva model termodinamika Wilson dengan hasil percobaan

Dari perhitungan didapatkan galat komposisi hasil percobaan terhadap literatur


untuk masing-masing umpan adalah 57,84 %, 47,43 %, 51,143 %, dan 53,793 % di fasa
cair dan 94,472 %, 7,049 %, 25,902 %, dan 3,898 % di fasa uap. Galat yang dihasilkan
fasa uap lebih kecil jika dibandingkan dengan galat fasa cair. Hal ini dikarenakan fasa
uap campuran etanol-air mendekati kondisi ideal yaitu dioperasikan pada tekanan yang
rendah. Sebaliknya galat fasa cair memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan
fasa uap karena campuran cair etanol-air merupakan campuran yang tidak ideal sebab
pengoperasian percobaan ini dilakukan pada tekanan dan temperatur yang berbeda
cukup besar tekanan dan temperatur kritik.
Terlihat dari kurva di atas terdapat titik T-y outliers (titik kuning paling ujung kiri).
Pada titik itu, fraksi mol etanol yang didapatkan dari fasa uap sangat sedikit (hanya
0,034). Hal ini disebabkan karena pada temperatur tersebut (78,1 oC), belum banyak
etanol yang menguap.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
a. Temperatur kesetimbangan (TT02) untuk umpan dengan fraksi volume etanol 0,5;
0,45; 0,4; dan 0,35 berturut-turut adalah 78,1 oC ; 78,3 oC ; 78,3 oC; dan 79 oC.
b. Dari kurva kalibrasi refraktometer, untuk keempat temperatur kesetimbangan
didapatkan fraksi mol etanol di fasa cair adalah 0,156; 0,184; 0,171; dan 0,134 dan
di fasa uap adalah 0,034; 0,567; 0,452 dan 0,567.
c. Galat komposisi hasil percobaan terhadap literatur untuk masing-masing umpan
adalah 57,84 %, 47,43 %, 51,143 %, 53,793 % di fasa cair dan 94,472 %, 7,049 %,
25,902 %, 3,898 % di fasa uap.
5.2 Saran
Alat refraktometer terlalu jauh diatas, oleh sebab itu kami menyarankan alat
refraktometer dapat dipindahkan ke laboratorium instruksional ataupun ditambah.

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Smith, J. Van Ness, H C and Abbot, M.M (1996). Introduction to Chemical


Engineering

Thermodynamics, seventh edition, New York. Mc Graw Hill Inc.

Perry, R.H., Chilton, C.H, Chemical Engineers Handbook, 5th Ed. New York: Mc
Graw-Hill Book Company, 1973. With permission.

LAMPIRAN A
DATA LITERATUR

A.1 Densitas Air pada Berbagai Temperatur

LAMPIRAN B
CONTOH PERHITUNGAN

B.1 Penentuan Densitas Etanol


39,8 gram
30,4 gram
0,996 gram/ml
38,065 gram

9,43 ml

0,813 gram/ml
B.2 Penentuan Fraksi Mol Etanol
Volume etanol
Volume air
Kemurnian etanol
Mr air
Mr etanol

= 10 ml
=0
= 96 % volume
= 18,02 gram/mol
= 46,07 gram/mol

B.3 Penentuan Fraksi Etanol dari Kurva Kalibrasi Refraktometer


Misalkan dari kurva kalibrasi diperoleh persamaan berikut ini:
y = -0,0652x4 + 0,2648x3 0,3306x2 + 0,1532x + 1,3399

Dengan y menyatakan indeks bias dan x menyatakan fraksi mol etanol. Kita ambil
contoh pada sampel run 1 di fasa cair. Deketahui bahwa:
y = 1,357
Untuk mendapatkan nilai x bisa digunakan metode Goal Seek Excel, sehingga akan
didapatkan x = 0,156. Jadi fraksi etanolnya adalah 0,156.

LAMPIRAN C
HASIL ANTARA

C.1 Kalibrasi Refraktometer


Tabel C.1 Data kalibrasi refraktometer
No

VA (ml)

VB (ml)

Fraksi mol etanol

Indeks bias

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

0.88
0.66
0.51
0.39
0.29
0.22
0.16
0.11
0.07
0.03
0

1,36
1.361
1.362
1.364
1.363
1.36
1.358
1.354
1.349
1.343
1.341

C.2 Data Kesetimbangan Uap Cair Model Wilson pada P = 0.9 atm
Tabel C.2 Data kesetimbangan uap cair model Wilson pada P = 0.9 atm
Fraksi
etanol

Bubble
point

Dew
point

0.5200

76.8016

81.0355

0.5400

76.6577

80.3535

0.0000

97.1118

97.1129

0.5600

76.5203

79.7006

0.0200

92.2236

96.6026

0.5800

76.3886

79.0702

0.0400

89.0401

96.0858

0.6000

76.2633

78.4884

0.0600

86.8284

95.5611

0.6200

76.1443

77.9571

0.0800

85.2109

95.0275

0.6400

76.0318

77.4804

0.1000

83.9822

94.4854

0.6600

75.9258

77.0609

0.1200

83.0181

93.9360

0.6800

75.8266

76.6968

0.1400

82.2397

93.3800

0.7000

75.7347

76.3899

0.1600

81.5963

92.8129

0.7200

75.6500

76.1264

0.1800

81.0536

92.2366

0.7400

75.5732

75.9070

0.2000

80.5862

91.6505

0.7600

75.5046

75.7281

0.2200

80.1782

91.0554

0.7800

75.4447

75.5868

0.2400

79.8157

90.4498

0.8000

75.3943

75.4740

0.2600

79.4901

89.8344

0.8200

75.3543

75.3936

0.2800

79.1938

89.2090

0.8400

75.3216

75.3426

0.3000

78.9221

88.5730

0.8600

75.3053

75.3089

0.3200

78.6704

87.9267

0.8800

75.2992

75.2993

0.3400

78.4356

87.2702

0.9000

75.3052

75.3077

0.3600

78.2152

86.6037

0.9200

75.3255

75.3340

0.3800

78.0071

85.9274

0.9400

75.3614

75.3734

0.4000

77.8099

85.2418

0.9600

75.4128

75.4270

0.4200

77.6177

84.5482

0.9800

75.4784

75.4928

0.4400

77.4434

83.8481

1.0000

75.5693

75.5711

0.4600

77.2724

83.1433

0.4800

77.1086

82.4362

0.5000

76.9518

81.7317

C.3 Data Kesetimbangan Uap Cair


Tabel C.3 Perhitungan galat hasil percobaan
No.
1
2
3
4

P (atm)
0.9
0.9
0.9
0.9

VA (liter)
2,400
1,865
1,654
1,900

Fraksi mol etanol


Liquid
Vapor
0,156
0,184
0,171
0,134

0,034
0,567
0,452
0,567

VB (liter)
2,400
2,280
2,488
1,600

Fraksi mol teoritis


Liquid
Vapor
0.370
0.350
0.350
0.290

0.615
0.610
0.610
0.590

Temperatur (oC)
Liquid Vapor
78,100
78,300
78,300
79,000

78,100
78,300
78,300
79,000

% Galat
Liquid
Vapor
57,840
47,430
51,143
53,793

94,472
7,049
25,902
3,898

Indeks bias
Liquid
Vapor
1,357
1,359
1,358
1,356

1,345
1,361
1,362
1,361