Anda di halaman 1dari 30

IDENTIFIKASI JAMUR PADA PRODUK UJI

LVL (LAMINATED VENEER LUMBER) BAMBU


LAPORAN KERJA PRAKTEK PT SUMBER GRAHA SEJAHTERA

Oleh :
ANGGA ADYTIA SUTARWAN
10611075

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

LEMBAR PENGESAHAN
IDENTIFIKASI JAMUR PADA PRODUK LVL (LAMINATED VENEER
LUMBER) BAMBU

Laporan Kerja Praktek sebagai syarat untuk memenuhi ketentuan yang berlaku dalam
menempuh studi tingkat sarjana di Program Studi Institut Teknologi Bandung

Diperiksa dan disetujui:

Pembimbing Kerja Praktek

Koordinator Kerja Praktek

Eko Sudoyo M.B

Eka Mulya, Ph.D

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur saya penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas izin-Nya
penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan Kerja Praktek, Penulisan laporan ini tak akan
selesai jika tidak dibantu oleh berbagai pihak. Karena itu penulis menghaturkan terima kasih
terutama kepada :
1. Ayah, ibu, dan keluarga saya yang selalu memberikan dorongan semangat dan doa
2. Bapak Eka Mulya sebagai dosen kordinator Kerja Praktek yang telah memberi penulis
arahan dan rekomendasi untuk bisa melakukan kerja praktek di PT SGS
3. Ibu Maelita Anggraeni sebagai dosen Wali Penulis
4. Bapak Fredson Kotemena sebagai Kepala Tata Usaha Samco Timber yang telah
memberi izin kepada kami untuk bisa melakukan kerja praktek di PT Sumber Graha
Sejahtera
5. Bapak Eko Sudoyo sebagai pembimbing penulis selama melakukan Kerja Praktek di
PT SGS
6. Bapak Jamhari , Kang Endang, Kang Rafi, dan semua staff R & D yang telah kami
repotkan selama kami melakukan Kerja Praktek
Penulis menyadari bahwa laporan ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Semoga
laporan ini dapat memberi manfaat bagi pembacanya

Agustus 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................................................................. i


KATA PENGANTAR........................................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................................................. 1
1.1

Latar Belakang ............................................................................................................................... 1

1.2

Rumusan Masalah ........................................................................................................................ 2

1.3

Tujuan Kerja Praktek .................................................................................................................. 2

1.4

Waktu dan Tempat Kerja Praktek .......................................................................................... 2

BAB II PROFIL INSTANSI KERJA PRAKTEK ......................................................................................... 3


2.1

Profil dan sejarah perusahaan ................................................................................................. 3

2.2

Visi dan Misi Perusahaan........................................................................................................... 3

BAB III TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................................................... 5


3.1

Laminated Veneer Lumber (LVL) ............................................................................................ 5

3.2

Jamur (Fungi) ................................................................................................................................. 7

BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK........................................................................................... 12


4.1

Deskripsi Aktivitas ..................................................................................................................... 12

4.1.1

Alat dan bahan .................................................................................................................... 12

4.1.2

Metode Penelitian .............................................................................................................. 12

4.1.3

Timeline Pelaksanaan Kerja Praktek ......................................................................... 13

4.2

Pengamatan dan Analisis Data .............................................................................................. 14

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................................................... 18


5.1

Kesimpulan ................................................................................................................................... 18

5.2

Saran ................................................................................................................................................ 18

Daftar Pustaka ............................................................................................................................................... 19


Lampiran A ..................................................................................................................................................... 22

iii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Struktur grup samko timber ltd. ........................................................................

Gambar 3.1 Foto LVL yang sudah jadi

...................................................................................

Gambar 3.2 Skema sederhana proses pembuatan LVL .....................................................

Gambar 3.3 Siklus hidup jamur secara umum ......................................................................

Gambar 3.4 Struktur jamur multiselular ...............................................................................

Gambar 3.5 Staining pada kayu akibat aktivitas jamur pewarna .................................. 10
Gambar 4.1 Jadwal kerja pelaksanaan kerja praktek ......................................................... 13
Gambar 4.2 Perbandingan kualitatif sampel kontrol dengan sampel perlakuan .... 17

iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kayu merupakan material yang sangat penting dalam konstruksi. Sejak zaman
dahulu, orang-orang lebih menyukai menggunakan kayu dibandingkan material konstruksi
lain karena kayu melimpah dan harganya yang murah (Duncan, 1963 dalam Hernandez,
2005). Namun makin pesatnya pembangunan dewasa ini menyebabkan kebutuhan pada kayu
terus meningkat. Kondisi ini mengakibatkan harga bahan baku kayu semakin mahal karena
suplainya yang terus berkurang. Ketergantungan industri kayu timber yang terlalu bertumpu
pada kayu alam menyebabkan persaingan pasar yang ketat. Hal ini disebabkan karena
ketersedian kayu alam di hutan semakin terbatas.

Kondisi tersebut mendorong banyak

produsen timber untuk mencari alternatif spesies kayu lain dengan karakteristik mudah
ditanam, cepat tumbuh, namun memiliki sifat fisik dan mekanik yang relatif sama dengan
spesies kayu yang umum digunakan. Salah satu spesies kayu yang mulai dilirik potensinya
oleh produsen timber yaitu bambu. Bambu merupakan material dasar yang cukup potensial
karena ketersediaannya yang cukup melimpah, masa tumbuhnya yang cepat, memiliki tekstur
yang unik, warna yang elegan, serta memiliki sifat fisik dan mekanik yang hampir setara
dengan banyak spesies kayu komersial lain (Jain et al., 1992 dalam Li et al., 2012).
Namun pemanfaatan bambu secara luas terkendala beberapa hal.

Salah satu

kendalanya yaitu ketahanan dan kualitas bambu yang relatif rendah. Kadar karbohidrat dan
proteinnya yang tinggi, serta sifat bambu yang mudah menyerap kelembaban menyebabkan
bambu mudah terserang oleh jamur.

Serangan jamur tersebut menyebabkan penurunan

kualitas pada produk bambu yang dihasilkan.

Jamur bisa menyerang kayu dan zat

lignoselulostik sehingga menyebabkan pembentukan bercak warna (staining) dan


pembusukan (decaying) (Yadi, 2012; Kumar et al., 1994).

Karena tingkat kerusakan

tersebut bervariasi tergantung pada jenis spesies jamur yang menyerang, maka identifikasi
jamur pada bambu tersebut perlu dilakukan. Data dari hasil identifikasi bisa digunakan untuk
mengetahui spesies jamur apa saja yang berpotensi menyerang produk kayu tersebut. Selain
itu kita juga bisa menggunakan hasil identifikasi untuk membantu

menentukan metode

yang tepat untuk melindungi kayu dari serangan spesies jamur tersebut.
1

1.2 Rumusan Masalah

Spesies jamur apa saja yang berpotensi menyebabkan kerusakan dan penurunan
kualitas pada produk LVL bambu?

1.3 Tujuan Kerja Praktek


Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

Mengidentifikasi

keragaman spesies jamur

yang tumbuh pada produk uji LVL

bambu

Mengidentifikasi spesies jamur yang berpotensi menyebabkan kerusakan dan


penurunan kualitas pada produk LVL bambu

1.4 Waktu dan Tempat Kerja Praktek


Pelaksanaan kerja praktek dilakukan selama kurang lebih 40 hari dimulai dari tanggal
26 juni 7 Agustus. Lokasi kerja praktek bertempat di pabrik operasional II PT Sumber
Graha Sejahtera yang terletak di Jln. Raya Serang Km 25 Desa Tobat, Balaraja - Tangerang,
Banten.

Selama melakukan kerja praktek, penulis ditempatkan di unit Research and

Development (R&D) PT Sumber Graha Sejahtera.

BAB II PROFIL INSTANSI KERJA PRAKTEK

2.1 Profil dan sejarah perusahaan


PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) merupakan salah satu perusahaan cabang dari
Samko Timber Group yang bergerak di bidang perkayuan. Produk yang dihasilkan oleh
PT Sumber Graha Sejahtera meliputi kayu plywood atau LVL (Laminaned Venner
Lumber), Floor Base, bahan baku piano, dan produk kayu yang berkualitas tinggi lainnya
PT. SGS didirikan oleh Ari Sunakro dan Michael Sampoerna pada tanggal 11 november
1999. PT. SGS berlokasi di Jln. Lingkar Mega kuningan Kav E-1.2/1-2 Mutiara Plaza,
Kuningan Timur, Setia Budi Jakarta 12950.

PT.SGS terdaftar dengan nomor TDP

30.03.1.20.03913 dan NPWP 02.015.626.1.411.000. PT. SGS bermula pada pengolahan


kayu sengon (Albasia) dan Afrikana menjadi lembaran-lembaran tipis venner, mulai
ukuran 2.2 mm, 3.0 mm dan 3.2 mm. Bahan ini dihasilkan sebagai bahan baku untuk
membuat plywood atau LVL (Laminaned Venner Lumber), Floor Base dan bahan baku
piano, dan kualitas produk kayu yang berkualitas tinggi lainnya.

2.2 Visi dan Misi Perusahaan


Adapun Visi dari PT. Sumber Graha Sejahtera untuk menjadikan PT. SGS
sebagai perusahaan plywood terbesar di dunia, adalah sebagai berikut:

Menjadikan Perusahaan sebagai sumber sarana untuk mencari


kesejahteraan.

Menjadikan perusahaan sebagai tempat belajar dan berkreasi untuk


selalu menciptakan hal-hal baru.

Menciptakan karyawan yang kreatif, innovatif dan produktif.

Menciptakan karyawan yang komunikatif dan memiliki loyalitas yang


tinggi.

Menciptakan karyawan yang berakhlak mulia (bermoral, beretika dan


memiliki sikap/attitude yang baik).
3

Silaturrahim dan kekeluargaan sebagai semboyan hidupnya.


Sedangkan misi dari PT. Sumber Graha Sejahtera adalah Menjadikan PT. SGS

sebagai sebuah perusahaan Plywood terbesar di dunia khususnya di Asia. Dengan


PALM sebagai salah satu BRAND PRODUCT andalannya.

Gambar 2.1 Struktur grup samko timber ltd.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Laminated Veneer Lumber (LVL)


Laminated Veneer Lumber (LVL) merupakan salah satu jenis produk olahan kayu
(Engineered Lumber Products, ELP) yang terdiridari lapisan tipis atau veneers kayu
yang direkatkan menjadi satu. LVL pertama kali dibuat untuk digunakan sebagai balingbaling pesawat pada perang dunia pertama dan diproduksi secara komersial serta
dipatenkan oleh MICRO-LAM pada tahun 1970. Pada masa sekarang, LVL sudah
digunakan secara luas sebagai kerangka/frame kayu dalam konstruksi bangunan. Sebagai
produk olahan kayu, LVL mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kayu utuh. Pada
kayu utuh pengaruh cacat-cacat alami kayu sangat mempengaruhi kekuatan kayu,.
Namun pada produk LVL, cacat-cacat alami kayu tersebut dapat disebar secara merata
diantara lapisan vinir sehingga dapat meminimumkan pengaruh cacat-cacat tersebut
terhadap kekuatan LVL.

Hasilnya adalah

produk serupa kayu gergajian dengan

kekuatan yang lebih tinggi dan lebih seragam bila dibandingkan dengan kayu utuh
dengan kandungan cacat yang sama. Selain itu kelebihan LVL diantaranya yaitu dapat
dilengkungkan , kekuatan

lebih tinggi,

persyaratan kualitas bahan baku rendah,

pengawetan rendah dan efisiensi bahan baku tinggi. (Vogt, 2014).

Gambar 3.1 Pada pembuatan LVL, lapisan veneer disusun pada arah serat yang sama (kanan).
Contoh LVL yang sudah jadi (kiri) (Sumber : Vogt, 2014)

LVL dibuat dari lembaran veneer yang dikupas dari kayu gelondongan (log). Proses
ini sama seperti dengan pembuatan plywood. Veener yang dikupas dengan lebar dan
ketebalan tertentu ( umumnya lebar berkisar 27 - 54 inci dengan ketebalan 1/10 - 3/16
inci) kemudian dikeringkan, dipotong menjadi lembaran-lembaran, dan disortir
berdasarkan kekuatannya.

Lembaran veener kemudian diletakkan dengan pola

bergantian bagian ujungnya akan tumpang tindih satu sama lain. Lembaran-lembaran
tersebut kemudian dilekatkan satu sama lain dengan menggunakan lem dan ditekan secara
terus menerus pada waktu yang bersamaan. Proses tersebut dikondisikan pada suhu dan
tekanan yang terkontrol. Hasil penekanan dan perekatan tersebut menghasilkan veneer
LVL yang lebih padat. 15 sampai 20 lapis veneer biasanya akan menjadi papan dengan
ketebalan 1 inci. Bagian tepi kemudian dipotong dan dibentuk menjadi papan dengan
lebar dan panjang tertentu (Gambar 3.2).

Gambar 3.2 skema sederhana proses pembuatan LVL


(Sumber : Vogt, 2014)

3.2 Jamur (Fungi)


Jamur merupakan organisme kemoorganotrof dan umumnya bersifat aerob.
Jamur makan dengan cara mensekresikan enzim ekstraselular yang berfungsi untuk
mencerna materi organik kompleks seperti polisakarida atau protein menjadi gula, peptida
dan asam amino yang kemudian diasimilasi sebagai sumber karbon dan energi. Jamur
ada yang berperan sebagai dekomposer atau parasit. Jamur dekomposer mencerna materi
organik dari hewan dan tumbuhan yang telah mati sedangkan jamur parasit memeroleh
nutrisi dari sel hidup yang berasal dari tumbuhan atau hewan yang mereka invasi (Black,
2008).

Kebanyakan jamur namun tidak semua- bereproduksi baik secara seksual

maupun aseksual. Beberapa jamur hanya bereproduksi secara seksual dan beberapa yang
lain hanya bereproduksi secara aseksual (gambar 3.3)

Gambar 3.3 Siklus hidup jamur secara umum (Sumber : Reece et al., 2008)

Spora berukuran sangat kecil, biasanya haploid, dan umumnya bisa melayang di
udara.

Jamur memproduksi spora dalam jumlah yang sangat banyak dengan untuk

meningkatkan kemungkinan spora bisa jatuh di tempat yang memiliki banyak sumber
makanan.

Ketika spora jatuh di tempat yang cocok, maka spora akan mengalami

germinasi (perkecambahan), mulai menyerap makanan, dan membentuk struktur filamen


multiseluler mirip benang yang dinamakan hifa. Hifa merupakan cara adaptasi jamur
untuk bisa menembus, menyerap, dan mencerna berbagai macam material organik. Selsel tersebut akan mengeluarkan enzim yang bisa mencerna substrat kemudian sel tersebut
akan menyerap molekul-molekul nutrien (Madigan et al., 2012; Black, 2008).
biasanya letaknya tersembunyi di dalam substrat.

Hifa

Hifa akan tetap tidak teredeteksi


7

sampai membentuk satu atau lebih badan buah (fungal body) yang mengandung spora
reproduktif.

Hifa akan terus tumbuh dan

saling bertautan membentuk miselium.

Miselium sangat cocok untuk menyerap makanan karena miselium memiliki rasio luas
permukaan : volume yang sangat tinggi (University of Nevada, 2010).

Gambar 3.4 Struktur jamur multiselular. Foto (atas) menunjukkan struktur seksual
jamur Boletus edulis. Foto (bawah) menunjukkan miselium tumbuh pada daun-daun konifer
yang jatuh. foto inset menunjukkan hifa jamur (Sumber : Reece et al., 2008)

Banyak jenis jamur bisa hidup berkoloni pada pohon ataupun pada kayu yang
sudah diolah. Beberapa jamur menggunakan senyawa sederhana yang diakumulasi dalam
lumen sel, saluran resin (resin canals), dan sel parenkim pohon. Beberapa jamur lain
bisa menyerang secara langsung polimer struktural kayu sehingga menyebabkan
pelapukan pada kayu tersebut. Jenis dan tingkat kerusakan tergantung pada jenis/spesies
jamur yang mengkolonisasi kayu tersebut (Zabel & Morrel, 1992 dalam Hernandez,
2012). Berdasarkan kemampuannya dalam merusak kayu, jamur juga bisa dikelompokan
menjadi jamur pelapuk (decaying fungi) dan jamur pewarna (staining fungi). Jamur
pelapuk dibagi menjadi tiga kategori sesuai dengan caranya mendegradasi jaringan
berkayu : (1) brown-rot; (2)white-rot; dan (3) soft-rot (Zabel & Morrel, 1992 dalam
Hernandez, 2012).

Sebagian besar jamur white-rot dan brown-rot tergolong jamur

Basidiomycetes. Jamur white-rot bisa mendegradasi baik lignin, selulosa, maupun


hemiselulosa (Madigan et al., 2012). Jamur ini bisa menguraikan lignin secara sempurna
menjadi air (H2O) dan karbondioksida (CO2) (Prasetya , 2005 dalam Bernando et al.,
8

2012 ). Lignin merupakan senyawa fenolik kompleks yang menjadi penyusun penting di
tumbuhan berkayu. Senyawa lignin inilah yang memengaruhi rigiditas dan kekuatan
kayu. Di alam, lignin diuraikan oleh aktivitas kelompok jamur pelapuk kayu . Walaupun
seringkali dianggap merugikan karena merusak, jamur pelapuk memiliki peran yang
penting secara ekologis karena memainkan peranan kunci dalam proses dekomposisi
material kayu di hutan (Madigan et al., 2012).
Jamur brown-rot menguraikan selulosa dan hemiselulosa, namun tak bisa
menguraikan lignin. Brown-rot mendegradasi selulosa dan dinding sel pada lapisan S2
dengan cepat, namun pada lapisan yang mengandung kadar lignin yang tinggi jamur tidak
bisa mendegradasi lapisan tersebut. (Green & Highley, 1997 dalam Hernandez, 2012).
Jamur soft-rot sebagian besar berasal dari kelompok jamur ascomycetes. Jamur ini aktif
tumbuh terutama pada kondisi yang menghambat pertumbuhan jamur white rot dan
brown rot. Misalnya jamur soft-rot memerlukan lebih sedikit kelembaban untuk tumbuh
dibandingkan jamur Basidiomycetes sehingga kelompok jamur tersebut bisa tumbuh di
tempat yang lebih kering dibandingkan jamur white rot maupun brown rot (Duncan,
1963 dalam Hernandez, 2012). Jika dilihat dari aktivitas enzimatik dan kimiawinya,
jamur soft-rot lebih mirip jamur brown-rot dibandingkan white-rot. Kelompok jamur ini
bisa menguraikan sellulosa dan hemiselulosa , namun lignin yang terdapat pada jaringan
kayu hanya sedikit terpengaruh oleh akirivitas jamur tersebut (Schwarze, 2007 dalam
Hernandez, 2012). Jamur dari kelompok soft rot bisa dibedakan dari kelompok jamur
pelapuk lain dari pola pelapukan yang mereka bentuk pada kayu. Beberapa jamur soft-rot
membentuk rongga-rongga pada dinding sel sekunder kayu mengikuti arah mikrofibril
selulosa pada lapisan dinding sel (serangan tipe I).

Beberapa jamur

ada yang

mendegradasi dinding sel sekunder secara keseluruhan (serangan tipe II) dan hanya
menyisakan lamella bagian tengah yang relatif utuh (Eriksson et al., 1990 dalam Hamed,
2012).
Jamur pewarna didominasi oleh jamur dari sub-filum askomikotina. Jamur dari
kelompok ini tumbuh dengan cara mencerna senyawa-senyawa yang terkumpul dalam sel
parenkim pohon maupun kayu log. Jamur pewarna digolongkan menjadi dua kelompok
yaitu 1) sap-staining fungi dan; (2) surface staining fungi. Sap-staining fungi bisa
menyebar dan mengubah warna kayu melalui getah pohon (sapwood) sementara surface
staining fungi hidup berkoloni di permukaan kayu membentuk warna hitam atau gelap
yang menyebar hanya beberapa milimeter di bawah permukaan kayu (Zabel & Morrel,

1992; Duncan, 1963 dalam Hernandez, 2012). Contoh pengaruh jamur pewarna terhadap
kayu bisa ditunjukkan oleh gambar 3.5

Gambar 3.5 Staining yang disebabkan oleh pigmen merah yang dihasilkan oleh spesies
Fusarium (kiri) dan pigmen merah muda oleh spesies Cephaloascus (kanan). Pigmen tersebut
berdifusi ke dalam kayu dan menyebabkan perubahan warna pada kayu (Uzunovic et al., 2008).

Jamur-jamur yang termasuk ke dalam kelompok jamur pelapuk dan jamur


pewarna dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut :
Tabel 3.1 Contoh spesies jamur yang tergolong jamur pelapuk (white-rot, brown-rot, dan soft-rot)
dan jamur pewarna (Richardson, 1995 dalam University of Concordia, 2014; USDA, 2014)

Kelompok jamur

Genus/Spesies

White-rot

Phellinus pini, Armillariella mellea, Fomitopsis


annosa, Ganoderma applanatum, Oxyporus
populinus, Phellinus igniarius, Innotus glomeratus, I.
obliquus, Echinodontium tinctorium, Hypoxylon
Xylaria, Daldinia, Flammulina velutipes,
Phanerocheate chrysosporium, Shizophyllum
commune, and Trametes versicolor

Soft-rot

Chaetomium globosum, Paccilomyces variolli,


Phialocephala dimorphospora, Trichoderma,
Phialophola mutabilis, Scytalidium liqnicola;
Phialophora, Penicillium, Chaetomium

Brown-rot

Coniophora puteana, Fibriopoia vaillantii (Poria),


Meruliporia incrassata, Fomitopsis palustris,
Fomitopsis palustris, Antrodia carbonica,

10

Gloeophyllum trabeum, Neolentinus lepideus, Postia


placenta, Tapinella panuoides
Staining fungi

Ceratocystis, Fusarium, Trichocladium, Hypoxylon,


Graphium, Phialophora, Leptographium, Alternaria,
Pullularia, Torula, Rhinocladiella, Fomes, Polyporus

Jamur menyebar dalam bentuk spora melalui angin, air, atau kontak langsung. Spora
jamur mudah tersebar membuat organisme ini sering menjadi kontaminan yang umum pada
makanan, media kultur mikroba, dan permukaan benda-benda. Untuk bisa bertahan hidup,
jamur memerlukan suplai makanan, kelembaban (lebih dari 96%), oksigen, dan temperatur
yang hangat (umumnya 40C 600C) agar bisa tumbuh. Eliminasi terhadap salah satu faktor
tersebut bisa mencegah serangan jamur pada kayu (UWE, 2013; TADC, 2011). Suplai
makanan bisa dieliminasi dengan cara diberi senyawa yang toksik bagi jamur. Kayu dapat
dijaga tetap kering untuk mencegah jamur memperoleh air yang sangat penting bagi
pertumbuhannya. Pencegahan serangan jamur melalui kontrol temperatur dan oksigen
sangatlah tidak praktis untuk digunakan di lapangan. Sehingga pencegahan serangan tersebut
umumnya mengandalkan penggunaan zat preservatif. Zat preservatif yang efektif akan
memiliki formulasi yang toksik bagi jamur dan memberi sifat menolak air (water-repellent)
pada kayu (TADC, 2011).

11

BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK

4.1 Deskripsi Aktivitas


Aktivitas penelitian yang dilakukan meliputi pengambilan sampel dan identifikasi,
analisis data kemudian presentasi hasil penelitian yang telah dilakukan selama masa kerja
praktek. Berikut rincian kegiatan kerja praktek yang telah dilakukan :
4.1.1

Alat dan bahan

Berikut ini adalah alat dan bahan yang digunakan pada pelaksanaan kerja.
Tabel 4.1 Daftar alat dan bahan

Alat
Batang L
Batang Oose
Spatula
Batang Pengaduk
Bunsen
Botol Spray
Erlenmeyer 250 mL
Erlenmeyer 500 mL
Cawan Petri
Tabung Reaksi
Mikroskop Cahaya
Botol Semprot
Pipet tetes
Kaca Objek
Kaca Penutup

4.1.2

Bahan
Aquades
Kertas tissue
Alkohol 70 %
Malt Yeast Agar
Metil red dan metil blue
Alumunium foil

Metode Penelitian
Tahapan yang dilakukan mencakup pengambilan data primer berupa sampling,

isolasi dan identifikasi jamur yang terdapat pada sampel bambu yang diamati.
Medium yang digunakan untuk menumbuhkan jamur yaitu Malt Extract Agar yang
diproduksi oleh perusahaan Merck.

Serbuk agar ditimbang sebanyak 48 gr

kemudian dilarutkan dalam akuades dengan volume 1 L sambil diaduk-aduk di atas


12

penangas. Kemudian larutan disterilisasi dengan autoklaf selama 10 menit dengan


suhu 1210C. Setelah disterilisasi, larutan medium dituangkan ke dalam cawan petri
secara aseptik.
Proses isolasi jamur dilakukan dengan cara mengambil sampel pada bambu
uji. Bambu diserut dengan menggunakan pisau yang sudah disterilkan kemudian
serbuk bambu ditampung di alumunium foil yang steril.

Setelah itu, serbuk

ditaburkan secara aseptik ke dalam cawan petri yang berisi medium. Cawan petri
diinkubasi pada suhu 250C dengan kelembaban udara 70%. Setelah jamur tumbuh
di medium, maka dilakukan pembuatan sub-kultur medium awal ke medium baru.
Hal ini bertujuan agar bisa diperoleh kultur murni sehingga proses identifikasi lebih
mudah untuk dilakukan.
Identifikasi

jamur

dilakukan

dengan

cara

mengamati

karakteristik

makroskopik dan mikroskopik. Untuk melakukan pengamatan mikroskopik, sampel


diambil dari kultur murni dengan cara dicungkil sedikit kemudian diletakkan pada
kaca preparat. Sampel ditetesi dengan pewarna campuran metil blue dan metil red
kemudian dilakukan metode squash untuk membuat preparat basah jamur. Preparat
diamati dengan

dengan menggunakan bantuan mikroskop.

Karakteristik yang

teramati kemudian dicocokkan dengan buku panduan identifikasi jamur.


4.1.3

Timeline Pelaksanaan Kerja Praktek

Pelaksanaan kerja praktek dilakukan selama kurang lebih 40 hari dimulai dari
tanggal 26 juni 7 Agustus dengan rincian jadwal kerja sebagai berikut :

Gambar 4.1 Jadwal kerja pelaksanaan kerja praktek


13

4.2 Pengamatan dan Analisis Data


Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
sampel kontrol dan sampel perlakuan. Sampel perlakuan yaitu sampel LVL bambu yang
telah mengalami proses preservasi berupa perebusan dan penambahan fungisida dan
insektisida (Fungiflex dan DTM) sedangkan sampel kontrol yaitu sampel LVL bambu
yang tidak mengalami proses preservasi apapun. Berdasarkan hasil pengamatan, spesies
jamur yang berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari kedua kelompok sampel LVL bambu
adalah sebagai berikut :
Tabel 4.2 Spesies-spesies jamur yang berhasil diidentifikasi dari sampel LVL bambu

Spesies Jamur yang teridentifikasi

Keterangan

Penicillium sp.

Soft rot

Trichoderma sp.

Soft rot

Fusarium sp.

Staining fungi

Epicoccum sp.

Botryosphaeria sp.

Schizophyllum commune

White rot

Spesies jamur yang berhasil diidentifikasi berjumlah 6 spesies. Foto pengamatan


kultur jamur tersebut bisa dilihat pada lampiran A.
teridentifikasi diantaranya yaitu Penicillium sp.,

Spesies jamur yang berhasil

Trichoderma sp., Fusarium sp.,

Epicoccum sp., Botryosphaeria sp., dan Schizophyllum commune.


Penicillium sp. merupakan jenis jamur yang umum mengkontaminasi berbagai
substrat dan ditemukan hidup di tanah, makanan, selulosa, tumpukan kompos, dll. Jamur
ini mampu mendegradasi selulosa karena memiliki enzim selulolitik (Hernandez, 2012).
Beberapa spesies penicillium bisa menyebabkan perubahan warna pada kayu menjadi
warna orange (Uzunovic et al., 2008).
Trichoderma sp. merupakan jamur yang sangat umum terdapat di tanah dan
merupakan salah satu jenis jamur yang tersebar secara luas di berbagai lokasi geografis.
Jamur ini hidup berkoloni di dedaunan yang mati, pohon kayu yang roboh, tumpukan
kompos, dan lumpur. Trichoderma sp. mampu mendegradasi selulosa karena memiliki
enzim selulolitik (Ikeda et al. 2007 dalam da Silva et al., 2009) . Trichoderma memiliki
kemampuan

membunuh

jamur-jamur

lain

dengan

toksin

yang

dihasilkannya,
14

trichodermin dan trichotoxin A, dan mengkonsumsi mereka dengan kombinasi enzim


tersebut.

Karena itu, jamur ini sering digunakan sebagai agen biokontrol untuk

mengendalikan jamur patogen pada tanaman (University of Maryland, 2014; BPTP


Sultra, 2011; Envirocheck, 2009).
Fusarium merupakan jamur patogen yang telah diisolasi dari banyak jenis
tanaman. Jamur ini juga bisa menghasilkan mikotoksin yang berpotensi mengganggu
kesehatan manusia dan hewan (Antonissen et al., 2014). Jamur yang hidup di tanah ini
juga bisa ditemukan penguraian material tanaman dan memiliki aktivitas selulolitik
(Rubini et al. 2005 dalam da Silva et al., 2009). Jamur ini bisa menyebabkan perubahan
warna kayu menjadi ungu atau merah muda (Uzunovic et al., 2008).
Epicoccum merupakan jamur yang bisa diisolasi dari udara, tanah, benih bijibijian, tekstil, kertas, dan bahan makanan. Jamur ini bisa menjadi patogen pada tanaman.
Selain itu Epicoccum juga bisa ditemukan di lingkungan dalam ruangan dan bisa tumbuh
di lingkungan dengan kelembaban yang rendah.

Berdasarkan penelitian, salah satu

spesies Epicoccum, yaitu Epicoccum nigrum merupakan salah satu jenis jamur yang
paling banyak mengkolonisasi pinus yang mulai melapuk dan mungkin bertanggung
jawab dalam perubahan warna kayu tersebut selama proses pelapukan (Hernandez, 2005).
Botryosphaeria merupakan genus jamur yang kosmopolitan dan bisa ditemukan
di wilayah tropis, subtropis, temperata di dunia. Jamur ini banyak yang menjadi patogen
bagi tumbuhan, baik tumbuhan monokotil, dikotil, maupun gimnospermae (Philips,
2004).
Schizophyllum commune termasuk ke dalam kelompok jamur white-rot yang bisa
mendegradasi baik selulosa maupun lignin. Jamur ini menghasilkan badan buah berbulu
yang berwarna putih hingga cokelat pucat dan warnanya akan semakin gelap ketika tua.
Schizophyllum commune biasa ditemukan hidup di pohon yang mengalami stress akibat
panas, kekeringan, ataupun luka. Selain itu jamur ini umum dijumpai pada pohon kayu
yang tumbang dan bagian tumbuhan yang sudah mati (Hickman et al., 2014).
Hasil isolasi

jamur pada kedua jenis sampel (sampel kontrol dan sampel

perlakuan) tidak menunjukkan hasil yang berbeda. Jamur yang tumbuh, baik di medium
kontrol maupun medium perlakuan, ternyata berasal dari spesies yang sama.
Kemungkinan hasil tersebut diperoleh karena fungisida yang diaplikasikan pada sampel
perlakuan sudah hilang atau banyak berkurang akibat pengaruh cuaca. Sampel yang diuji
memiliki umur kurang lebih tiga bulan dan selama kurun waktu tersebut sampel dibiarkan
di udara terbuka. Sampel perlakuan juga tidak mengalami proses coating sehingga tidak
15

ada lapisan yang melindungi fungisida tersebut dari cuaca. Hal ini menyebabkan
fungisida yang sudah diaplikasikan bisa rusak akibat cahaya matahari atau larut terbawa
air hujan.
Selain itu sampel perlakuan juga tidak mengalami proses impregnasi yang bisa
meningkatkan ketahanan sampel terhadap serangan jamur maupun serangga. Tujuan dari
impregnasi yaitu untuk mengisi sel tersebut dengan zat pengawet sehingga kayu tersebut
terlindungi dari pembusukan oleh jamur dan serangga. Struktur kayu serupa seperti spon
(sponge) dengan rongga sel dan dinding sel. Zat pengawet akan menembus ke dalam sel
kayu dengan bantuan tekanan dan kondisi vacuum. Kondisi vacuum akan menyebabkan
udara dalam rongga sel keluar dan menyediakan ruang bagi larutan zat pengawet.
Kemudian zat pengawet akan menembus ke dalam sel kayu dengan bantuan tekanan.
Proses impregnasi bisa meningkatkan ketahanan kayu 5 sampai 15 kali dari ketahanan
awal (UNEP IE/PAC, 1994 dalam Ridout, 2000). Karena tidak mengalami impregnasi,
maka ketahanan sampel perlakuan terhadap serangan jamur akan relatif tidak jauh
berbeda dengan ketahanan sampel kontrol ketika fungisida yang diaplikasikan sudah
banyak yang hilang akibat pengaruh cuaca.
Pengamatan secara kualitatif terhadap sampel yang digunakan menunjukkan
adanya perbedaan yang cukup jelas antara kedua sampel tersebut seperti yang
ditunjukkan oleh gambar 4.2 .

Sampel perlakuan ditumbuhi jamur lebih sedikit

dibandingkan dengan sampel kontrol. Hasil ini kemungkinan besar disebabkan karena
sampel perlakuan sudah direbus terlebih dahulu sebelum dibentuk menjadi
Perebusan bertujuan untuk menghilangkan kadar pati (starch) pada bambu.

LVL.
Bambu

memiliki kandungan pati yang tinggi sehingga menyebabkan bambu sangat rentan
terhadap serangan jamur dan serangga (Gnanaharan et al., 1945 dalam Kumar et al.,
1994). Kemungkinan besar kadar pati pada sampel perlakuan lebih rendah
sampel kontrol karena adanya proses perebusan.

dibanding

Selain itu sampel perlakuan juga

mungkin masih mengandung fungisida walaupun kadarnya tidak sama seperti kondisi
awal. Kedua faktor inilah yang bisa jadi membuat sampel perlakuan lebih sulit untuk
ditumbuhi jamur dibandingkan sampel kontrol.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Karena waktu penelitian cukup
singkat , maka data yang diperoleh mungkin belum representatif karena perlu dilakukan
beberapa kali pengulangan isolasi. Selain itu penggunaan jenis pewarna yang kurang
tepat untuk mewarnai preparat jamur menyebabkan pengamatan mikroskopis sangat sulit
untuk dilakukan. Hal ini disebabkan karena pewarna yang penulis gunakan (campuran
16

metil red dan metil blue) tidak mewarna sel jamur secara sempurna sehingga bagianbagian dan karakteristik mikroskopis jamur tidak teramati secara jelas. Akibatnya data
identifikasi mungkin tidak akurat karena hanya mengandalkan pengamatan karakteristik
makroskopis saja (misalnya warna dan bentuk kultur, dll.).

Gambar 4.2 sampel yang digunakan dalam penelitian. Secara kualitatif, sampel perlakuan (kiri)
ditumbuhi jamur lebih sedikit dibandingkan sampel kontrol (kanan).

17

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Spesies jamur yang berhasil diidentifikasi Penicillium sp., Trichoderma sp., Fusarium
sp., Epicoccum sp., Botryosphaeria sp., dan Schizophyllum commune .

Jamur yang tumbuh pada kedua kelompok sampel berasal dari spesies-spesies yang
sama.

5.2 Saran

Karena waktu penelitian cukup singkat , maka data yang diperoleh mungkin belum
representatif. Oleh karena itu perlu dilakukan pengulangan isolasi beberapa kali agar
data mengenai spesies jamur yang tumbuh bisa menggambarkan keadaan yang sama
seperti di lapangan.

Dalam melakukan pengamatan mikroskopik preparat jamur, sebaiknya diusahakan


menggunakan pewarna standar seperti lactophenol cotton blue agar citra yang
diperoleh maksimal. Larutan pewarna campuran metil red dengan metil blue kurang
baik jika digunakan dalam pengamatan mikroskopik. Hal tersebut disebabkan karena
pewarna tersebut tidak mewarnai sel dan spora jamur secara sempurna. Sehingga
citra yang diperoleh tidak terlalu jelas dan cukup sulit untuk mengamati ciri dan
karakteristik mikroskopis preparat jamur tersebut.

Agar bisa memperoleh data yang representatif dan akurat, sebaiknya dilakukan
identifikasi molekuler menggunakan analisis DNA.

18

Daftar Pustaka

Antonissen, G., A. Martel, F. Pasmans, R. Ducatelle, E. Verbrugghe, V. Vandenbroucke, S.


Li, F. Haesebrouck, F.V. Immerseel, S. Croubels. 2014. The Impact of Fusarium
Mycotoxins on Human and Animal Host Susceptibility to Infectious Diseases.
Toxins (Basel). Feb 2014; 6(2): 430452.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tenggara. 2011. Teknologi Perbanyakan
Trichoderma SP, untuk Pengendalian PBPB pada Lada [Online].
http://sultra.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&
id=260: teknologi-perbayakan-trichoderma-sp-untuk-pengendalian-penyakit-busukpangkal-batang-pbpb-tanaman-lada&catid=41:pertanian diakses pada tanggal 8
Agustus 2014
Bernando, M., Edy B.M.S., & Nelly A. 2012. Identifikasi Fungi Pelapuk Jaringan Kayu
Mati yang Berperan pada Proses Biodelignifikasi di Taman Hutan Raya Bukit
Barisan Kabupaten Karo. Peronema Forestry Science Journal Vol 1, No 1 (2012)
Black, J.G., 2008. Microbiology : Principles and Explorations 7th ed. Jefferson City :
JohnWiley & Sons, Inc hal. 319
Clark, J. 2001. Basidiocarps of the wood rotting fungus, Schizophyllum commune [Online]
http://www.ipm.ucdavis.edu/ PMG/S/D-WO-SCOM-FU.003.html diakses pada
tanggal 7 Agustus 2014
da Silva, R.G., A.L. Beraldo, M.B. Ferreira, R.C. Bonugli-Santos, L.D. Sette. 2009.
Occurrence of filamentous fungi on Dendrocalamus giganteus in Brazil.
dipresentasikan di IX World Bamboo Congress, 2009, Bangkok, Thailand
Envirocheck, Inc a. 2009 . Penicillium [Online]. http://www.envirocheckonline.com
/penicilliumsp.html diakses pada tanggal 7 Agustus 2014
Envirocheck, Inc b. 2009 . Trichoderma [Online] . http://www.envirocheckonline.com
/trichodermasp.html diakses pada tanggal 7 Agustus 2014
Envirocheck, Inc c. 2009 . Fusarium [Online]. http://www.envirocheckonline.com/
fusariumsp.html diakses pada tanggal 7 Agustus 2014
Envirocheck, Inc d. 2009 . Epicoccum [Online] . http://www.envirocheckonline.com/
epicoccumsp.html diakses pada tanggal 7 Agustus 2014
Hamed, S. A. M., 2013. In-vitro studies on wood degradation in soil by soft-rot fungi:
Aspergillus niger and Penicillium chrysogenum . International Biodeterioration &
Biodegradation 78 (2013) 98e102
19

Hernandez, V. 2012. Role of Non-Decay Fungi on The Weathering of Wood. [PhD Thesis]
Vancouver : University of British Columbia
Hickman W., E. J. Perry, & R. M. Davis. 2014. Wood Decay Fungi in Landscape Trees
[Online]. http://www.ipm.ucdavis.edu/PMG /PESTNOTES/pn74109.html diakses
pada tanggal 6 Agustus 2014
Kumar, S., K.S. Shukla, T. Dev, & P.B. Dobriyal. 1994. Bamboo Preservation Techniques :
A Review. New Delhi : INBAR/ICFRE
Hal. 5, 10
Li, Y., Y. Shen, S. Wang, C. Du, Y. Wu, & G. Hu. 2012. A DryWet Process to Manufacture
Sliced Bamboo Veneer. Forest Products Journal Vol. 62, No. 5
Madigan, M.T., J.M Martinko, D.A. Stahl, D.P. Clarck. 2012. Brock Biology of
Microorganism 13th ed. San Fransisco : Benjamin cummings hal. 601
Philips,

A.,
2004.
Introduction
to
Botryosphaeria
[Online].
http://www.crem.fct.unl.pt/botryosphaeria_site /introduction.htm diakses pada
tanggal 6 Agustus 2014

Reece, J.B., N.A. Campbell, L.A. Urry, M.L. Cain, S.A. Wasserman, P.V. Minorsky, & R.B.
Jackson. 2008. Biology 8th ed. San Fransisco : Benjamin Cummings hal. 637-639
Ridout, B., 2000. Timber Decay in Buildings : The Conservation approach to Treatment.
New York : English Heritage hal. 100
Timber

Advice and Display Centre. 2011. Timber Preservative [Online].


http://www.timber.asn.au/
sitebuilder
/tadc/knowledge/
asset/files/11/
timberpreservatives.pdf diakses pada 8 Juli 2014.

University of Concordia. 2014. Fungus classification Common fungi in buildings [Online].


http://users.encs.concordia.ca/~raojw/crd/essay/essay000077.html diakses pada
tanggal 8 Agustus 2014
University of Copenhagen . 2011. Penicillium [Online]. http://pictures.life.ku.dk/
atlas/microatlas/food/fungus/Penicillium_citrinum/ diakses pada tanggal 7 Agustus
2014
University
of
Maryland.
2014.
Systematics
of
Trichoderma
[Online].
https://www.psla.umd.edu/
research/research-lab-pages/systematics-trichoderma
diakses pada tanggal 8 Agustus 2014
University
of
Maryland.
2014.
Systematics
of
Trichoderma
[Online].
https://www.psla.umd.edu/
research/research-lab-pages/systematics-trichoderma
diakses pada tanggal 8 Agustus 2014
University of Nevada. 2010. Fungi [Online].
diakses pada 9 Agustus 2014

https://faculty.unlv.edu/landau/fungi.htm

University of West England. 2013. Traditional Timber Framing - Conservation & Repair
[Online]. http://www.uwe.port.ac.uk/trad_timberframe/ repairs/section5.htm diakses
pada 8 Juli 2014.

20

USDA Forest Service Northeastern Area State & Private Forestry. 2014. Wood Is Altered by
Microorganisms in Five Basic Ways [Online]. http://www.na.fs.fed.us/
spfo/pubs/misc/treedecay/pg50-57.htm diakses pada tanggal 8 Agustus 2014
Uzunovic, A., T. Byrne, M. Gignac , & D.Q. Yang. 2008. Wood Discolourations & Their
prevention With an Emphasis on Bluestain. [Report] . Vancouver : FPInnovations
Vogt F. 2014. Carpentry 6th ed. New York : Delmar Cengage Learning. Hal 37-38
Wei, D.S., O. Schmidt, & W. Liese. 2012. Susceptibility of Bamboo to Fungi . World
Bamboo Congress. Antwerp, Belgia. April 10-15, 2012
Yadi, L. 2012. Bamboo Timber Mildew and Anti-mold Technology. Advanced Engineering
Forum Vol. 4 (2012) pp 139-144

21

Lampiran A
Tabel 5.1 Foto jamur yang berhasil diidentifikasi berdasarkan hasil pengamatan dan literatur
Foto pengamatan

Foto Literatur

Penicillium sp.

Sumber : (University of Copenhagen, 2011; Envirocheck, Inc. 2009)

Trichoderma sp.

Sumber : (University of Maryland. 2014)

22

Fusarium sp.

Epicoccum sp.

Sumber : Envirocheck Inc c, 2009

Sumber : Envirocheck Inc d., 2009

23

Botryosphaeria sp.

Sumber : Wei et al., 2012

Schizophyllum commune

Sumber :Clark, 2002

24

25