Anda di halaman 1dari 6

Hasil

Didapatkan 16.507 partisipan yang diteliti (95,3% angka respon) dalam 221 cluster
pada 94 dari 106 distrik Pakistan. Data pada keseluruhan prevalensi dan penyebab
dari kebutaan sudah dipublikasikan di mana-mana.(18,21)
Untuk menentukan status kemiskinan, kami menyingkirkan 2659 partisipan yang
dikategorikan sebagai

orang

yang tinggal

sebagai

status

pensiunan/siswa/

pengangguran. Didapatkan kehilangan data pada tiga partisipan. Hanya 19,2% dari
partisipan yang dimasukkan dalam cluster yang hidup di kehidupan rumah tangga
yang miskin, dibandingkan 39,7% partisipan tinggal di cluster yang miskin; 31,5%
dari partisipan tinggal pada kehidupan rumah tangga yang makmur, dan 32,5%
tinggal di kehidupan dengan rumah tangga yang miskin. Partisipan yang tinggal di
cluster urban pada provinsi Sindh adalah yang paling makmur, di mana cluster pada
rural area di Balochistan adalah yang termiskin. Semua cluster miskin berlokasi di
rural area.
Kemiskinan dan Prevalensi dari Kebutaan
Survey mengidentifikasi 561 partisipan yang buta; prevalensi paling tinggi dari
kebutaan adalah di rural Balochistan (5,2%, 95% interval terpercaya 3,5% sampai
7,1%). Tabel 1 menunjukkan prevalensi kebutaan yang lebih tinggi pada cluster dan
tingkatan rumah tangga, berdasarkan tingkatan kemiskinan.
Prevalensi dari kebutaan yang paling tinggi pada cluster kemiskinan daripada
cluster makmur di antara partisipan di bawah umur 50 tahun-1,1% (0,7% sampai
1,6%) pada cluster miskin, 0,8% (0,5% sampai 1,1%) pada cluster menengah, 0,4%
(0,2% sampai 0,8%) pada cluster makmur; nilai P untuk 0,037 pada mereka yang
berumur antara 50 tahun atau lebih-7,9% (6,7% sampai 9,3%), 7,3% (6,5% sampai
8,2%), 5,3% (4,2% sampai 6,6%); nilai P = 0,009. Prevalensi dari total kebutaan
(bilateral tanpa persepsi cahaya) lebih dari tiga kali lebih tinggi dibandingkan cluster
miskin dibandingkan cluster makmur (0,24% lawan 0,07%; P<0,001). Kami
menemukan hasil yang sama pada tingkat rumah tangga.

Kemiskinan dan Penyebab dari Kebutaan


Katarak merupakan penyebab utama dari kebutaan (n=289, 51,5%). Figur di atas
menunjukkan penyebab prevalensi spesifik dari kebutaan untuk tingkatan kemiskinan
yang berbeda pada rumah tangga. Pada orang dewasa dengan penglihatan <6/18

sampai 6/60 (mata normal), katarak adalah penyebab utama dari cluster yang miskin
(n= 235, 47%) dan cluster menengah (n= 259, 46,5%), dari yang menderita katarak
(n= 170, 36,0%).

Kemiskinan dan Akses untuk Layanan Kesehatan Mata


Tabel 1 menunjukkan perbedaan anatara operasi katarak, angka implantasi lensa
intraocular, dan pemakaian kacamata. Kami mengidentifikasi perbedaan jenis kelamin
pada operasi katarak di tingakatan rumah tangga; dinyatakan lebih tinggi pria
dibandingkan pada wanita dengan semua tingkatan kemiskinan. Pada cluster yang
makmur,

10,2%

orang

dewasa

mempresentasikan

penggunaan

kacamata,

dibandingkan dengan 6,7% pada cluster menengah dan 4,4% pada cluster miskin
(p<0,001 untuk makmur v miskin). Enam ratus empat puluh lima orang (850 mata)
yang sudah dioperasi selama tiga tahun yang disurvey dan dimasukkan pada angka
implantasi yang dianalisis. Tiga ratus lima puluh delapan (53,9%) orang dewasa
sudah menjalani implantasi lensa intraocular pada saat operasi katarak; angka
meningkat pada partisipan yang makmur. Pemakaian kacamata pada cluster makmur
lebih dua kali dibandingkan pada cluster menengah dan miskin (P<0,001 untuk
makmur v miskin), dan wanita yang tinggal pada rumah tangga yang miskin memiliki
angka terendah (6,2%).

Kualitas Hidup
Kami mendata kualitas hidup dengan kuesioner sampai 72 (dari 94 yang memenuhi
syarat) partisipan yang mengalami kebutaan tinggal pada rumah tangga yang makmur,
sampai 98 (dari 128 yang memenuhi syarat) tinggal pada rumah tangga tingkat
menengah, dan sampai 167 (dari 214 yang memenuhi syarat) tinggal pada rumah
tangga yang miskin. Skor distribusi total didapatkan hasil yang negatif. Kami
menemukan tidak ada hubungan antara status rumah tangga yang miskin dengan skor
kualitas hidup; skor pertengahn adalah 58 (makmur), 65 (menengah), dan 61 (miskin)
(Kruskal Wallis P=0,63).

Analisis Asosiasi
Kami mengidentifikasi perbedaan demografi antara cluster makmur, menengah,
dan miskin. Orang dewasa pada cluster yang miskin lebih cenderung menua
(p<0,001) (kemungkinan refleksi dari migrasi orang muda ke daerah urban), untuk
mencapai indeks massa tubuh yang rendah (P<0,001). Cluster miskin lebih banyak
berada pada area rural (P<0,001). Prevalensi dari kebutaan secara signifikan lebih
tinggi pada orang tua (usia pertengahan di antara partisipan yang mengalami kebutaan
65. 4 tahun lawan 46,7 tahun lainnya; P<0,001), dengan indeks massa tubuh yang
rendah (pertengahan 20,4 pada partisipan yang mengalami kebutaan lawan 22,8
lainnya; P<0,001), mereka yang hidup di area rural (3,8% lawan 2,5%; P<0,001) dan
pada wanita (setelah pengukuran berdasarkan perbedaan umur). Orang yang tidak
merokok juga memiliki kesempatan untuk mengalami kebutaan, namun tidak ada
asosiasi yang terkait berdasarkan perbedaan jenis kelamin pada kebiasaan merokok di
Pakistan. Tabel 2 menunjukkan estimasi poin dan 95% interval kepercayaan untuk
univariat dan model yang ada untuk resiko dari kebutaan. Kami menemukan tidak ada
perbedaan yang signifikan antara cluster makmur dan menengah (P=0,25) dan rumah
tangga (P=0,55).

Diskusi
Prevalensi dari kebutaan secara signifikan lebih tinggi pada cluster miskin dan
pada rumah tangga yang miskin pada studi ini. Prevalensi kebutaan akibat katarak
lebih rendah pada partisipan yang makmur, di mana secara terpisah sudah dijelaskan
dengan penemuan bahwa partisipan yang miskin memiliki angka yang rendah untuk
melakukan operasi katarak dan kebanyakan mengalami kebutaan. Rumah tangga yang
miskin juga lebih sedikit melakukan operasi katarak yang optimal (yang berarti tanpa
implantasi lensa intraocular); hal ini mencerminkan tingginya prevalensi kebutaan
yang menjadi apakia terkoreksi. Pemakaian kacamata secara keseluruhan rendah dan
secara terpisah rendah pada rumah tangga miskin dan cluster pada wanita. Penemuan
yang didapatkan prevalensi tertinggi dari kebutaan mengarah kepada glaukoma di
antara orang miskin tidak mengagetkan, untuk mencegah kebutaan dari glaukoma
membutuhkan diagnosis lebih cepat berdasarkan operasi maupun pemakaian obat
topikal jangka panjang, di mana semua ini menyebabkan pengeluaran secara langsung
maupun tidak langsung. Prevalensi dari kebutaan kornea juga tinggi di kalangan

partisipan miskin di mana hal ini tidak mengejutkan, trakoma masih endemis di
Pakistan dan keratitis setelah trauma superfisial biasa terjadi pekerja perkebunan.(22)
Untuk

sekedar

pengetahuan,

hal

ini

merupakan

studi

pertama

untuk

menginvestigasi hubungan antara kebutaan, layanan pengiriman/kualitas, dan


pengukuran banyaknya kemiskinan pada kedua tingkatan mikro dan makro. Kekuatan
dari studi termasuk besar sample yang besar, di mana bersama-sama dengan strategi
sampel yang kuat dan angak non-respon yang rendah membuktikan sampel yang
merepresentatifkan populasi orang dewasa secara nasional. Sampel yang biasanya
merepresentatifkan angka ekonomi rumah tangga di Pakistan. Batasan dari studi yang
tidak dapat kita kumpulkan informasi pada pendapatan bulanan dan pengeluaran atau
asset rumah tangga dan ukuran rumah tangga, hubungan antara kemiskinan
berdasarkan survey bukan pengeluaran primer. Pada tingkatan rumah tangga, kita
menggunakan kombinasi aktara okupasi dengan literature untuk mengukur
kemiskinan, di mana hal ini membuat wanita dapat dikategorikan sama seperti pria,
namun tidak menunjukkan aspek komplek dari kemiskinan. Pada tingkatan cluster,
kami menggunakan indikator tingkatan distrik di mana adanya pembagian pada lokasi
rural atau urban, yang tidak diaplikasikan pada distrik yang bersebrangan. Bagaimana
pun, studi di UK menggunakan kode pos untuk mengidentifikasi deprivasi dan
gangguan visual.(23,24) Sama seperti semua studi di mana data tidak pada tingkatan
individu, hasil yang didapatkan secara subjektif menuju kekeliruan ekologi di mana
sering terjadi pada tingkatan cluster daripada tingkatan rumah tangga. Proses dinamik
dan asosiasi temporal berdasarkan lingkaran kemiskinan akibat kebutaan lebih baik
dieksplorasi pada studi longitudinal, perlu diperhatikan hasil interpretasi dari studi
potong-silang.
Satu penjelasan untuk penemuan yang didapatkan adalah lebih tinggi secara
signifikan insiden dari penyakit kebutaan yang ada di antara orang miskin.
Bagaimanapun, perbedaan dari pengambilan layanan kesehatan mata menyarankan
akses yang mudah merupakan faktor kontribusi terpenting. Pengambilan layanan yang
rendah, secara terpisah untuk kegagalan refraksi, meyarankan bahwa layanan tidak
tersedia pada area miskin atau tidak adanya akses untuk pelayanan tersebut. Di
Pakistan, penyebab umum dari gangguan visual (namun tidak buta ) adalah kegagalan
refraksi yang tidak terkoreksi,(21) di mana pengeluaran terbanyak dan intervensinya
dapat dengan mudah diaplikasikan. Refraksi dan layanan optikal perlu diperluas pada
semua sektor dari populasi orang dewasa. Pada studi ini seperti pada kebanyakan

studi di negara berkembang, pengeluaran lebih tertuju pada kepentingan operasi


katarak, daripada banyak penyedia layanan kesehatan mata lebih mengarah kepada
layanan gratis.(25) Kebutaan yang ada karena katarak pada partisipan yang makmur
juga mengindikasikan pertahanan lain yang dibutuhkan (seperti ketakutan akibat
tatalaksana).
Penelitian mengeksplorasi hubungan antara kemiskinan dan kebutaan pada
populasi yang terbatas, namun studi di United States dan India menunjukkan asosiasi
antara penurunan pendapatan dan gangguan visual.(26,27) Studi lain menggunakan
status pekerja, literature, atau keduanya menunjukkan bahwa kelas rendah dari
pekerja berasosiasi dengan angka tinggi dari gangguan visual, operasi katarak yang
rendah, pendapatan yang rendah setelah operasi katarak, dan rendahnya pemakain
kacamata.(28,29,30,31,32)
Secara global, katarak bertanggung jawab hampir setengah dari keseluruhan orang
yang mengalami kebutaan, dan operasi katarak salah satu prosedur operasi yang
elektif. WHO mengestimasi jika 95% orang dengan katarak yang dioperasi sudah
menjalani operasi dapat meningkatkan 3,5 juta kemampuan dalam peningkatan angka
hidup tahunan (DALYs) setiap tahunnya secara global.(33) Data dari survey di
Pakistan mengindikasikan bahwa hampir 900000 orang masih memiliki kesempatan
unutuk dioperasi katarak sesuai dengan program layanan kesehatan mata yang
setidaknya dapat diperluas, namun eviden dari studi ini menunjukkan bahwa layanan
katarak dapat diakses dari orang miskin.(21) Kasus ekonomi untuk operasi katarak
adalah salah satu dari hal yang paling efektif dari pengeluaran berdasarkan semua
intervensi yang ada ($100 per DALY),(34) dan evaluasi ekonomi dari program
kesehatan mata di Gambia antara 1986 dan 1997 menunjukkan angka internal untuk
dikembalikan sebesar 10%.(35) Ditambah pula, setelah operasi katarak orang dapat
menjadi lebih produktif dari segi ekonomi.(36) Pada negara yang terbatas, evidens dari
efektifitas biaya dan keuntungan ekonomi dapat digunakan sebagai kebijakan untuk
memprioritaskan dan untuk advokasi sehingga didapatkan penambahan sumber yang
mobile. Tantangan untuk orang miskin, khususnya wanita, memiliki potensi untuk
mendapatkan keuntungan. Secara terpisah hal ini relevan terjadi di Pakistan, di mana
proporsi dari kehidupan populasi di bawah garis kemiskinan meningkat dua kali lipat
antara tahun1987 dan 2003.(37)