Anda di halaman 1dari 18

Praktikum Ekologi Tumbuhan

ASOSIASI INTERSPESIFIK

Prodi

: Pendidikan Biologi Reguler 2012

Kelompok : 7
Anggota

1. Ayu Indraswary

(3415122171)

2. Bagus Tito Wibisono

(3415120260)

3. Dea Hermadianti

(3415120257)

4. Izmania Shaharani

(3415122174)

5. Yulinda N. Demajosita

(3415122199)

Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jakarta
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Makhluk hidup selalu berinteraksi dengan lingkungannya, demikian juga
interaksi yang terjadi antar setiap organisme dengan lingkungannya merupakan proses
yang tidak sederhana melainkan suatu proses yang kompleks. Karena didalam
lingkungan hidup terdapat banyak komponen yang disebut komponen lingkungan
(Soemarwoto, 1983). Berdasarkan konsep dasar pengetahuan ekologi, komponen
lingkungan yang dimaksud tersebut juga dinamakan komponen ekologi karena setiap
komponen lingkungan tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dan saling
memengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung (Odum, 1993).
Makhluk hidup dalam mempertahankan hidupnya memerlukan komponen lain
yang terdapat dilingkungannya. Misalnya udara dan air yang sangat mereka perlukan
untuk bernafas dan minum dan kebutuhan lainnya. Seperti oksigen yang dihirup oleh
hewan dari udara untuk pernafasan, sebagian beasr berasal dari tumbuhan yang
melakukan proses fotosintesis. Sebaliknya, karbondioksida yang dihasilkan dari
pernapasan oleh hewan digunakan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Proses
fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan selain memanfaatkan karbondioksida, juga
memerlukan bahan-bahan lainnya yang diperlukan oleh tumbuhan untuk proses tumbuh
dan berkembang. Seperti energi dari radiasi matahari, air dan zat-zat hara.
Suatu komunitas yang terbentuk atas banyak spesies, sebagian diantaranya akan
dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota spesies lain dari komunitas
tersebut. Suatu komunitas yang terbentuk atas banyak spesies, sebagian diantaranya
akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota spesies lain dari
komunitas tersebut. Seringkali dua atau lebih spesies berinteraksi. Interaksi yang terjadi
antara organisme-organisme tersebut dapat bersifat positif-positif, positif-netral, positifnegatif, netral-netral, dan negatif- negatif. Kompetisi yang terjadi antara individu sejenis
disebut sebagai kompetisi intraspesifik sedangakan interaksi antara individu yang tidak
sejenis disebut interaksi interspesifik.

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kedekatan (asosiasi)
antar Spesies 1 dan Spesies 2 dengan metode pengukuran. Dengan metode pengukuran
ini akan diketahui batas hubungan interspesifik antara Spesies 1 dengan Spesies 2.

B. TUJUAN PENGAMATAN
1. Mengamati asosiasi interspesifik di habitatnya.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi asosiasi interspesifik.
3. Mengetahui besar asosiasi diantara kedua tumbuhan tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Komunitas terbentuk atas beberapa populasi, sebagian diantaranya akan saling


berinteraksi. Interaksi antar spesies tersebut bisa positif atau negative yang dapat
menimbulkan suatu kompetisi. Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk
interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia
terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap
pertumbuhan dan hasil salah satu spesies tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam
tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005).
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila : (1)
suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan
organisme atau

(2)

kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang

berkualitas tinggi lebih banyak. Organisme mungkin bersaing jika masing-masing


berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau
apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber
yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya
makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton, 1990).
Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam
kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi , spesies yang berdekatan
atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif
(competitive exclusion principles) (Ewusie,1990).
Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi menjadi dua, yaitu Kompetisi sumber
daya (resources competition atau scramble atau exploitative competition), yaitu
kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama sumber daya yang terbatas
Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu usaha pencarian
sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun sumber daya
tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan pengeluaran
senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individu lain (Naughton.
1998).

Macam-macam Kompetisi
Kompetisi dibedakan menjadi empat macam, yaitu:

(1)

Kompetisi intraspesifik

yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang sama.

(2)

Kompetisi

interspesifik yakni persaingan antara organisme yang beda spesies dalam lahan yang
(3)

sama.

Intraplant competition yakni persaingan antara organ tanaman, misalnya antar

organ vegetatif atau organ vegetatif lawan organ generatif dalam satu tubuh tanaman. (4)
Interplant competition yakni persaingan antar dua tanaman berbeda atau bersamaan
spesiesnya (dapat pula terjadi pada intra maupun interplant competition) (Kastono ,
2005).

Persaingan Interspesifik
Persaingan yang terjadi antara organisme-organisme tersebut mempengaruhi
pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan (Odum, 1993). Setiap
organisme yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya alam menjadi terbatas
jumlahnya. Yang jadi penyebab terjadinya persaingan antara lain makanan atau zat hara,
sinar matahari, dan lain lain (Kartawinata. 1986).
Adanya lebih dari satu spesies dalam suatu habitat menaikkan ketahanan
lingkungan kapan pun spesies lain bersaing secara serius dengan spesies pertama untuk
beberapa sumber penting, hambatan pertumbuhan terjadi dalam kedua spesies. Hukum
Gause menyatakan bahwa tidak ada spesies dapat secara tak terbatas menghuni ceruk
yang sama secara serentak. Salah satu dari spesies-spesies itu akan hilang atau setiap
spesies menjadi makin bertambah efisien dalam memanfaatkan atau mengolah bagian
dari ceruk tersebut dengan demikian keduanya akan mencapai keseimbangan. Dalam
situasi terakhir, persaingan interspesifik berkurang karena setiap spesies menghuni suatu
ceruk mikro yang terpisah.
Persaingan diantara tumbuhan secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi
lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem akan bersaing untuk air dan bahan makanan,
dan karena mereka tak bergerak, ruang menjadi faktor yang penting. Di atas tanah,
tumbuhan yang lebih tinggi mengurangi jumlah sinar yang mencapai tumbuhan yang
lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembapan serta aliran udara pada permukaan
tanah.

Faktor-fator intraspesifik merupakan mekanisme interaksi dari dalam individu


organisme yang turut mengendalikan kelimpahan populasi. Pada hakikatnya mekanisme
intraspesifik yang di maksud merupakan perubahan biologi yang berlangsung dari
waktu ke waktu (Naughton. 1998)
Wirakusumah (2003) mengatakan bahwa persaingan intraspesifik di gunakan
untuk menggambarkan adanya persaingan antar individu-individu tanaman yang sejenis.
Persaingan intraspesifik terdiri atas :
1. Persaingan aktivitas
2. Persaingan sumber daya alam
Dua jenis populasi tumbuhan dapat bertahan bersama bila individu-individunya secara
bebas di kendalikan oleh hal hal sebagai berikut :
a. Perbedaan unsur hara
b. Perbedaan sebab sebab kematian
c. Kepekaan terhadap berbagai senyawa racun
d. Kepekaan terhadap faktor faktor yang mengendalikan sama dan pada waktu
yang berbeda.
Beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan
interspesifik pada tumbuhan, menurut Wirakusumah (2003) , yaitu :
1. Jenis tanaman
Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, system perakaran, bentuk pertumbuhan
secara fisiologis. Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki sistem
perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam
memperebutkan unsure hara. Bentuk daun yang lebar pada daun talas menyebabkan
laju

transpirasi

yang

tinggi

sehingga

menimbulkan

persaingan

dalam

memperebutkan air.
2. Kepadatan tumbuhan
Jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan
terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi
bagi pertumbuhan tanaman.
3. Penyebaran tanaman
Untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji atau melalui
rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai

kemampuan bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan
rimpang. Namun persaingan yang terjadi karena faktor penyebaran tanaman sangat
dipengaruhi factor-faktor lingkungan lain seperti suhu, cahaya, oksigen, dan air.
4. Waktu
Dalam hal ini waktu adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Periode 2530% pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap
kerugian yang disebabkan oleh persaingan.

Berikut adalah tabel pengaruh interaksi populasi A vs B terhadap kelangsungan


kehidupan pertumbuhan populasi (Soetjipta, 1993).

No Tipe interaksi

Tidak

Apabila

berinteraksi

berinteraksi

Hasil interaksi

Netralisme

Tidak ada yang terpengaruh

Kompetisi

Yang paling terpengaruh punah

Mutualisme

Obligatori bagi kedua populasi

Protokooperasi

Komensalisme

Amensalisme

Parasitisme

Predasi

Menguntungkan keduabelah
pihak namun tidak obligatori
Obligatori bagi A, B tidak
terpengaruh
A tuan rumah, B tak
terpengaruh
Obligatori bagi A, B tuan
rumah
Obligatori bagi A, B tuan
rumah

Keterangan : (+) Populasi tumbuh; (-) Populasi menurun; (0) Pertumbuhan


populasi tidak terpengaruh
Netralisme
Netralisme merupakan tipe interaksi interspesifik yang di kenali sehari-hari
dimana populasi yang bekerja sama seolah-olah tidak saling terpengaruh, walau
sesungguhnya semacam kerja sama tersenglenggara sangat halus.

Kompetisi
Kompetisi merupakan tipe interaksi interspesifik antara dua individu atau
spesies yang berebut sumber daya yang terbatas seperti pakan, air, ruang untuk sarang
dan lain-lain. Pihak yang lebih efisien memanfaatkan sumber dayanya untuk bertahan,
dan yang lainya tersingkir. fenomena ini di sebut prinsip pemikiran kompetitif
(competitive).
Kesimpulanya, kompetisi untuk memperebutkan sumber-sumber daya ekosistem
merupakan faktor utama dalam pengendalian populasi. Tidak ada populasi yang mampu
bertahan dengan kerapatan tinggi, individu yang tidak mampu memanfaatkan sumbersumber daya lingkungan akan tersingkir.

Mutualisme dan Protokooperasi


Mutualisme di sebut juga simbiosa yang merupakan interaksi obligatori (wajib)
yang di perlukan oleh kedua belah pihak yang berinteraksi karena keduanya saling
memerlukan. Sedangkan protokooperasi memiliki pengaruh yang sama terhadap
populasi yaitu saling memerlukan namun kadar interaksi protokooperasi kurang atau
tidak bersifat obligatori bagi kedua pihak.

Komensalisme
Interaksi antara individu yang memberikn keuntungan kepada salah satu
individu jenis populasi, sementara yang lain tidak memperoleh keuntungan apa-apa
namun tidak dirugikan.

Anemsalisme
Anemsalisme merupakan kebalikan dari komensalisme. Ini menunjukan adanya
hubungan antara individu-individu populasi ke satu merasa di rugikan (tetapi sesat) dan
organisme populasi lain tidak di rugikan (netral). amensalisme merupakan persaingan
dalam bentuk yang lemah. Contohnya adalah proses Allelopathy dimana pada jenis
tumbuhan tertentu ada yang dapat mengahsilkan senyawa kimia tertentu dan dapat
berpengaruh/ menghalangi pertumbuhan jenis tumbuhannya.

Parasitisme
Parasitisme merupakan proses interaksi antara dua jenis populasi dimana satu
jenis mendapat ke untungan, dalam hal ini di sebut parasit sedangkan yang kedua
menderita kerugian (sebagai inang).

Pemangsaan atau Predator


Pada tipe interaksi ini salah satu spesies menjadi pakan lawan spesies
interaksinya. Proses ini fundamental terhadap rantai pakan di atas jenjang
autotropik.akibat proses mangsa-memangsa jumlah populasi mangsa berkurang, tetapi
mekanisme putaran umpan balik komunitas dapat mengendalikan jumlah populasi
pemangsa. Untuk mengetahui tingkat kedekatan antar organisme tumbuhan tersebut
diperlukan suatu pengukuran.
Dengan suatu pengukuran dapat ditemukan batas hubungan interspesifik antara
suatu spesies dengan spesies lainnya, sehingga dapat diketahui perubahan dalam tingkat
asosiasi yang digunakan untuk mencirikan suatu perubahan antara spesies yang
dimaksud. Pengukuran yang dimaksud adalah dengan koefisien asosiasi atau derajat
asosiasi.
Teknik koefisien asosiasi atau derajat interspesifik menggunakan table
kontingensi yang memperlihatkan 4 pengamatan yang mungkin ditemukan. Jika
pengamatan tipe a dan d yang banyak berarti asosiasi positif dan jika tipe b dan c yang
banyak berarti asosiasi negative. Bila tidak ada asosiasi seluruh tipe sama banyak.
Kekuatan asosiasi antar 2 spesies dalam table kontingensi dapat diperkirakan dengan
menghitung koefisien asosiasi dengan menggunakan formula rumus berikut :
(

)(

)(

)
(

(tim dosen mata kuliah ekologi tumbuhan, 2010)

)(

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Metodologi Penelitian

Metode Penelitian

: Metode Sampling

Hari / Tanggal

: 28 Oktober 2014

Pukul

: 13.45-14.16 WIB

Tempat

: Lapangan Bola Velodrome

3.2 Alat dan Bahan


Tali Rafia
Meteran atau Penggaris
Pancang
Alat tulis
Taunting
Kuadrat ukuran 50 x 50 cm
Alat hitung

3.3 Cara Kerja


1. Menentukan lokasi yang akan diamati tingkat asosiasi spesies tumbuhan
2. Membuat transek dengan tali rafia
3. Menentukan spesies tumbuhan yang akan ditentukan derajat asosiasinya
4. Menempatkan kuadrat sebanyak 100 kali panjang transek
5. Mencatat kehadiran spesies dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Jika hanya ada dua spesies yang diamati
b) Jika hanya ada spesies poaceae saja.
c) Jika hanya ada spesies cyperaceae saja
d) Jika tidak ada keduanya
6. Menguji data dengan khi kuadrat pada taraf 5 % dengan df= I adalah 3.83

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil pengamatan
Waktu Pengamatan : 13.45 14.16 WIB

Hari/ Tgl

: Selasa, 28 Oktober 2014

Lokasi

: Lapangan Bola Velodrome Luas Lokasi Pengamatan : 10 x 5 m2

Cuaca

: Teduh dan berangin

Pengamat

: 1) Ayu Indraswary

2) Bagus T. Wibisono 3) Dea Hermadianti

4) Izmania Shaharani
No a b c

No A B c

26

27

28

29

No a b c
51

30

5) Yulinda Nurfit Demajosita


d

No

a b c d

76

52

77

53

78

79

54

55

80

31

56

81

32

57

82

33

58

83

34

59

84

10

35

60

85

11

36

61

86

12

37

62

87

13

38

63

88

14

39

64

89

65

90

66

91

67

92

68

93

69

94

15

40

16

41

17

42

18
19

43
44

20

45

70

95

21

46

71

96

22

47

72

97

48

73

98

74

99

23
24

49

25

50

A = 8 (Keduanya ada)

75

100

B = 10 (Eleusin sp.) C = 30 (Mimosa sp.) D = 52 (Kosong)

PERHITUNGAN
1.

Tabel Kontingensi 2x2 untuk Mennetukan Derajat Asosiasi Interspesifik Antara


Eleusine sp. dan Mimosa sp.
Sp. A

Ada

Tidak Ada
Total

Sp. B

Amati

Harapan

Amati

Harapan

Ada

6,84

30

31,16

76

Tidak Ada

10

11,16

52

50,84

124

Total

18

18

82

82

200

Frekuensi Harapan dapat diperoleh dengan cara

F ha = (a+b) (a+c)
(a+b+c+d)

(8+10+30+52)

(8+10+30+52)

= 6,84

100

F hb = (a+b) (b+d)= (8+10) (10+52) = 18 x 62


(a+b+c+d)

= (8+10) (8+30) = 18 x 38

= 11,16

100

F hc =(a+c) (c+d)= (8+30) (30+52) = 38 x 82 = 31,16


(a+b+c+d)

(8+10+30+52)

100

F hd =(c+d) (b+d)= (30+52) (10+52) = 82 x 62 = 50,84


(a+b+c+d)

(8+10+30+52)

100

(
(

X2 hitung
(

(
)(

)(

)(

)( )( )( )

0,387

H0 = Tidak terdapat asosiasi interspesifik antara Eleusine sp. dan Mimosa sp.
H1 = Terdapat asosiasi interspesifik antara Eleusine sp. dan Mimosa sp.

X2 tabel adalah = 3,83


X2 hitung adalah = 0,387
X2 hitung < X2 tabel, non signifikan, maka terima H0 tolak H1
Artinya tidak terdapat asosiasi interspesifik antara Eleusine sp. dan Mimosa sp.

Koefisien Asosiasi
Karena ad > bc maka asosiasinya positif
C=

ad-bc
(a+b) (b+d)

4.2

= 116

= 0,07

1476

Pembahasan
Praktikum ekologi tumbuhan ini bertujuan untuk mengamati asosiasi interspesifik

antara spesies 1(Eleusin sp.) dengan spesies 2 (Mimosa sp.) di habitatnya. Praktikum ini
dilaksanakan di lapangan bola Velodrome pada tanggal 28 Oktober 2014. Metode yang
digunakan dalam pengamatan ini adalah metode sampling. Pengamatan dilakukan pada
pukul 13.45-14.16 dengan kondisi cuaca teduh dan berangin. Lokasi pengamatan berada
di tempat terbuka dan tanpa naungan.

Pengamatan ini dilakukan dengan membuat transek dan menempatkan kuadrat


100 kali sepanjang transek. Luas lokasi pengamatan adalah 10 x 5 m. Selanjutnya
kehadiran spesies pada setiap kuadrat diamati. Karena pada praktikum ini tujuannya
adalah mengamati adanya asosiasi interspesifik maka objek yang digunakan sebagai
pengamatan adalah dua spesies, yaitu antara Eleusine sp. dari suku Poaceae dengan
Mimosa sp. dari suku Fabaceae.
Pada setiap kuadrat kehadiran atau tidaknya kedua spesies dicatat, kemudian
disusun dalam tabel kontingensi. Tabel tersebut merupakan data pengamatan, data yang
diharapkan, mengasumsikan bahwa distribusi dua spesies yang diamati adalah secara
acak lengkap, dapat dibandingkan dengan rumus chi-kuadrat (X2). Dari hasil
pengamatan didapatkan hasil bahwa tipe a berjumlah 8 kuadrat, tipe b berjumlah 10,
tipe c berjumlah 30, dan tipe d berjumlah 52. Berdasarkan analisis data yang dilakukan
menunjukkan bahwa dari 100 kuadrat cuplikan diketahui tidak terdapat asosiasi antara
Eleusin sp. dan Mimosa sp.
Dari hasil pengamatan, tipe d merupakan tipe yang paling banyak yaitu berjumlah
52 kuadrat dengan frekuensi harapan 50,84, sedangkan tipe paling sedikit adalah tipe a
yaitu berjumlah 8 dengan frekuensi harapan 6,84. Berdasarkan hasil perhitungan
didapatkan X2 hitung sebesar 0,387 dengan X2 tabel sebesar .8 dengan 5%, dengan
demikian terima Ho karena X2 hitung lebih kecil dari X2 tabel. Artinya tidak terdapat
asosiasi interspesifik antara Eleusin sp. dan Mimosa sp.
Menurut Hardjosuwarno (1990), Tidak adanya asosiasi antara kedua spesies
menunjukkan bahwa kedua spesies ini bebas satu sama lain (independent). Tidak seperti
teori yang menjelaskan bahwa organisme dalam suatu komunitas adalah bersifat saling
bergantungan / interdependent, sehingga mereka tidak terikat sekedar berdasarkan
kesempatan saja, dan gangguan satu organisme akan mempunyai konsekuensi terhadap
keseluruhan organisme.
Apabila dua organisme tumbuh bersama, akhirnya ada yang menang dan ada yang
kalah. Yang menang akan mendominasi, sedangkan yang kalah akan punah. Pada tabel
1 dapat dilihat bahwa tipe b hanya berjumlah 10 dan tipe c berjumlah 30. Dengan
demikian tipe c lebih banyak dibandingkan tipe b. Hal ini menunjukan lebih banyak
Eleusin sp. dibandingkan dengan Mimosa sp.
Dari hasil perhitungan, derajat asosiasi bernilai positif yaitu sebesar 0,07.

Menurut Hardjosuwarno (1990), adanya bentuk asosiasi harus ditentukan dengan


pengamatan ekologis dengan eksperimentasi, dan perlakuan statistik tersebut hanya
sekadar merupakan langkah pertama dan tidak atau belum memberi bukti tentang
adanya interaksi biologi.
Tidak adanya asosiasi antara kedua spesies menunjukkan bahwa kedua spesies ini
bebas satu sama lain (independent). Tidak seperti teori yang menjelaskan bahwa
organisme dalam suatu komunitas adalah bersifat saling bergantungan / interdependent,
sehingga mereka tidak terikat sekedar berdasarkan kesempatan saja, dan gangguan satu
organisme

akan

mempunyai

konsekuensi

terhadap

keseluruhan

organisme

(Hardjosuwarno, 1990).
Tidak adanya asosiasi, berdasarkan analisis praktikan disebabkan kedua spesies
tersebut memiliki perbedaan daur hidup dan peranan ekologis yang berbeda walaupun
ditenukan secara bersama-sama dalam suatu tempat. Hal tersebut disebabkan organisme
yang terdapat hubungan kompetisi memiliki peranan ekologis yang tumpang tindih.
Sebab lain tidak adanya asosiasi, disebabkan karena faktor lingkungan seperti pH
tanah, kandungan hara pada tanah dan suhu maksimum-minimum pada lingkungan
tersebut yang akan menyeleleksi spesies-spesies apa saja yang dapat tumbuh dengan
subur ditempat tersebut. Tidak adanya asosiasi juga bisa disebabkan lingkungan yang
mendukung untuk pertumbuhan dan reproduksi kedua spesies sehingga kedua spesies
dapat tumbuh dan berkembang bersama-sama tanpa adanya kompetisi sehingga apabila
satu spesies tidak ada, tidak mempengaruhi spesies yang lainnya.
Setiap tumbuhan memiliki toleransi terhadap lingkungan secara berbeda. Jika
kondisi lingkungan memungkinkan spesies tersebut dapat tumbuh maka kelimpahan
spesies tersebut akan banyak, namun sebaliknya jika kondisi lingkungan tidak
mendukung kelimpahannya akan sedikit. Dalam hal ini kelimpahan Eleusin sp. lebih
banyak jika dibandingkan dengan kelimpahan Mimosa sp. Jadi berdasarkan hasil
analisis perbedaan kelimpahan pada Eleusin sp. dan Mimosa sp. bukan diakibatkan oleh
asosiasi namun oleh peranan ekologis yang berbeda serta faktor lingkungan, bukan
karena adanya asosiasi interspesifik antara kedua spesies tersebut.
Dari hasil perhitungan, derajat asosiasi bernilai rendah yaitu 0,387 dengan
koefisien paling tinggi yaitu 1. Hal ini menjelaskan bahwa asosiasi antara kedua spesies
tidak kuat, atau dengan kata lain tidak ada asosiasi antara kedua spesies. Hal inilah yang

juga memperkuat alasan jarangnya ditemukan adanya kedua spesies dalam satu plot
(hanya 8 dari 100), justru kedua spesies lebih sering ditemukan sendiri-sendiri.

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan perhitungan statistik menggunakan chi-square diperoleh hasil
koefisien asosiasi sebesar 0.07 yang sifatnya positif
2. Tidak ada asosiasi interspesifik antara Eleusine sp. Dari suku Poaceae dengan
Mimosa sp. dari suku Fabaceae.
3. Mimosa sp. ditemukan lebih banyak daripada Eleusine sp.
4. Perbedaan kelimpahan pada Sp.1 dan Sp.2 kemungkinan bukan diakibatkan oleh
asosiasi namun oleh peranan ekologis yang berbeda serta faktor lingkungan.
5. Tidak adanya asosiasi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kedua
spesies tersebut memiliki perbedaan daur hidup dan peranan ekologis yang
berbeda, sebab organisme yang terdapat hubungan kompetisi memiliki peranan
ekologis yang tumpang tindih.
6. Kondisi lingkungan yang mendukung antara kedua spesies membuat tidak
adanya persaingan diantara keduanya, sehingga tidak terdapat asosiasi.

Terserah ma mau tambahin saran apa kaga. Kesimpulan juga noh kalo mau
diotak atik. Monggo~

DAFTAR PUSTAKA

Begon, B.,J.L. Harper and C.R. Townsend. 1986. Ecology: Individual, Population, and
communities. Sunderland, Massachusetts: Sinauer Associates, Inc. Publisher.
Budiastuti. 2009. Foliar Triaconthanol Application and Plant Spacing on Mungbean.
Jakarta: UI Press.
Ewusie. 1990. Pengantar Ekologi Tropika . Bandung: ITB.
Hardjosuwarno, Sunarto. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuuhan. Yogyakarta:
Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada.
Kartawinata. 1986. Pengantar Ekologi. Bandung: Remadja karya CV.
Kastono. 2005. Ilmu Gulma. Yogyakarta: Jurusan Budidaya Pertanian. UGM.
Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium.
Jakarta: UI Press.
Mueller-Dombois, D. and H. Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation
Ecology. New York. London. Sydney. Toronto: John Wiley & Sons.
Naughton. 1998. Ekologi Umum. edisi kedua. Yogyakarta: UGM Press.
Odum. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM Press.
Wirakusumah, S. 1003. Dasar-dasar Ekologi bagi populasi dan Komunitas. UI-Press:
Jakarta
Soetjipta. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Depdikbud Dirjen Dikti. Proyek PTKPT.
Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.