Anda di halaman 1dari 3

JAWABAN 7-11

Resiko inheren berkenaan dengan kemungkinan adanya kekeliruan dalam segmen audit yang
melampaui batas toleransi sebelum memper-hitungkan faktor efektivitas pengendalian internal.
Resiko inheren adalah faktor kerentanan laporan keuangan terhadap kekeliruan yang material
dengan asumsi tidak adanya pengendalian internal. Oleh karena itu bila risiko inheren tinggi, maka
auditor harus mengumpulkan bukti audit yang lebih banyak.

Faktor-faktor utama di bawah ini harus ditelaah dalam menetapkan risiko bawaan:(Arens
dan Loebbecke, 1997;229)

1. Sifat Bidang Usaha Klien

Risiko bawaan dalam beberapa hal dipengaruhi oleh sifat bidang usaha dari perusahaan
klien sendiri. Risiko bawaan tiap jenis usaha akan lebih bervariasi pada akun seperti
persediaan, piutang usaha, piutang pinjaman, tanah dan bangunan. Sifat usaha ini akan
kurang pengaruhnya untuk akun kas, wesel tagih dan utang hipotek.

2. Integritas Manajemen

Jika manajemen didominasi satu atau beberapa orang yang integritasnya kurang, maka
kemungkinan bahwa laporan keuangan disalah sajikan akan lebih besar.

3. Motivasi Klien

Klien mungkin berkeinginan untuk melebih sajikan aktiva lancar dan mengkurang
sajikan utang lancar untuk memenuhi rasio keuangan yang tinggi. Juga, perlu
dipertimbangkan motivasi untuk mengurang sajikan laba sebelum pajak untuk

mengurangi pajak yang harus dibayar. Jadi kalau manajemen tidak memiliki integritas
yang tinggi, motivasi tertentu bisa membuat mereka mensalah sajikan laporan
keuangan.

4. Hasil Audit Sebelumnya

Karena salah saji yang terjadi pada audit sebelumnya memiliki kemungkinan untuk
terjadi lagi dalam audit tahun berjalan. Ini disebabkan beberapa salah saji mempunyai
sifat yang sistemis dan organisasi cenderung lambat untuk melakukan pengubahan
untuk mengatasinya.

5. Penugasan Pertama Atau Penugasan Ulang

Auditor akan memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai kemungkinan


terjadinya salah saji setelah audit sebuah klien untuk beberapa tahun. Tidak adanya
pengalaman sebelumnya biasanya membuat auditor menetapkan tingkat risiko bawaan
yang lebih tinggi daripada penugasan ulang tanpa salah saji yang material.

6. Hubungan Istimewa

Transaksi antara induk perusahaan dengan anak perusahaan satu antara perusahaan
dengan pribadi manajemennya adalah contoh hubungan istimewa seperti yang
didefinisikan PSAK 7. Dalam hal transaksi semacam ini terjadi, auditor harus
meningkatkan risiko bawaan klien yang bersangkutan.

7. Transaksi Tidak Rutin

Transaksi yang tidak biasa akan lebih besar kemungkinannya untuk tidak dicatat
dengan benar karena kurangnya pengalaman klien dalam penanganannya. Sehingga
meningkatkan risiko klien.

8. Pertimbangan yang Diperlukan Untuk Mencatat Saldo Akun dan Transaksi Secara Benar.

Banyaknya akun yang melibatkan unsur estimasi dan pertimbangan manajemen.


Contohnya, adalah pengisian piutang tak tertagih, usangnya persediaan, kewajiban
pembayaran garansi, dan cadangan kredit tak tertagih. Demikian pula transaksi
perbaikan besaran-besaran atau penggantian aktiva merupakan contoh diperlukannya
perkembangan untuk mencatat transaksi dengan benar.

9. Kerentanan Terhadap Kecurangan

Auditor perlu mempertimbangkan risiko akan adanya kecurangan dalam situasi dimana
relatif mudah untuk memindahkan aktiva perusahaan menjadi milik pribadi.
Contohnya, kalau uang tunai, efek-efek, atau persediaan yang mudah dijual tidak
diawasi dengan baik. Kalau ini terjadi, risiko bawaan harus ditingkatkan.

10. Unsur-Unsur Populasi

Unsur-unsur individual yang membentuk populasi seringkali mempengaruhi ekspektasi


salah saji yang material. Misalkan, kebanyakan auditor menetapkan risiko bawaan yang
tinggi untuk akun piutang usaha yang kebanyakan telah jatuh tempo daripada yang
unsur-unsurnya piutang yang masih baru.