Anda di halaman 1dari 2

a.

Patogenesis
Abses tubo ovarium merupakan salah satu komplikasi dari Pelvic Inflammatory
Disease (PID). PID disebabkan oleh infeksi asending dari traktus genitalia bagian
bawah berasal dari vagina atau serviks menuju traktus bagian atas termasuk uterus,
tuba falopi, dan cavum peritoneum. 75 % kasus terjadi selama fase folikuler dari
siklus menstruasi. Kadar estrogen bersama dengan adanya ektopi serviks pada dewasa
mempermudah masuknya Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae yang
berperan terhadap angka kejadian PID pada wanita (Chappell dan Harold, 2012).
Abses tubo ovarium juga disebabkan oleh infeksi asenden dari tuba falopi yang
menyebabkan kerusakan endotel dan edema infundibulum menyebabkan sumbatan
tuba. Ovarium dapat terinfeksi mikroorganisme melalui tempat ovulasi. Nekrosis di
dalam kompleks masa dapat menyebabkan satu atau lebih rongga abses dan sebuah
tempat pertumbuhan anaerob. Abses tubo ovarium dapat juga terbentuk dari
penyebaran lokal infeksi yang berhubungan dengan inflamasi tidak terkontrol dari
saluran pencernaan, apendiks, atau bedah adneksa (Chappell dan Harold, 2012).
Peradangan tuba hampir selalu disebabkan oleh bakteri. Bakteri utama yang
menjadi

penyebab

Mycoplasma

adalah

homiinis,

organisme

koliform,

nongonokokus,

streptokokus

dan

misalnya

Chlamydia,

stafilokokus.

Infeksi

nongonokokus bersifat lebih invasif karena dapat menembus dinding tuba sehingga
cenderung lebih sering menimbulkan infeksi darah dan menyebar ke meningen,
rongga sendi, dan terkadang ke katup jantung. Semua bentuk radang tuba dapat
menyebabkan demam, nyeri panggul atau abdomen bawah, dan massa pelvis jika tuba
teregang oleh eksudat atau pada tahap selanjutnya sekresi dan debris sisa peradangan.
Kemungkinan penyumbatan lumen tuba dapat terjadi sehingga dapat menyebabkan
kemandulan permanen. Peradangan primer ovarium jarang terjadi akan tetapi
salpingitis tuba sering menyebabkan reaksi reaksi periovarium yang disebut salpingoooforitis (Kumar et al, 2007).
b. Patofisiologi
Proses dasar yang melandasi terjadinya abses tubo ovarium menyebabkan
manifestasi klinis, sebagai berikut : nyeri abdomen atau pelvis, demam, discharge
vagina, mual, dan perdarahan abnormal vagina. Sebesar 23 % kasus tidak
menunjukkan peningkatan jumlah hitung sel darah putih. Namun hal ini bukan berarti
menyingkirkan diagnosis abses tubo ovarium. Pada abses tubo ovarium juga dapat
ditemukan masa inflamasi yang dapat diketahui dari pemeriksaan palpasi adneksa
bimanual (Chappell dan Harold, 2012).

Wanita dengan PID memiliki gejala nyeri perut bawah bilateral, discharge
vagina purulen, danperdarahan vagina (jarang). Gejala dimulai sesaat setelah
dimulainya siklus menstrasi karena pada saat itu barier mukosa serviks terhadap
infeksi asending menurun. Pasien dapat juga menunjukkan gejala demam, mual,
muntah, dan malaise tetapi hal ini dapat timbul bervariasi. Abses tubo ovarium
ditandai dengan kencang dan penuh adneksa unilateral (Wyte, 2010).
DAFTAR PUSTAKA
Chappell CA dan Harold CW. 2012. Pathogenesis, Diagnosis, and Management of
Severe Pelvic Inflammatory Disease and Tuboovarian Abscess. Available at :
http://blog.utp.edu.co/maternoinfantil/files/2012/04/EPI-y-Absceso

TuboOv

%C3%A1rico-2012.pdf (diakses pada 5 November 2014)


Kumar, V, Ramzi SC, Stanley LR. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins. Jakarta : EGC.
Wyte

C.

2010.

PID

and

TOA.

Available

at

http://www.cdemcurriculum.org/ssm/gu/toa/toa.php (diakses pada 5 November 2014)