Anda di halaman 1dari 299

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

EDISI REVISI KETIGA

BAHAN AJAR
Ikhtisar/Butir-butir Bahan Diskusi
Untuk Mahasiswa Strata Satu di Lingkungan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Suryakancana Cianjur

Disusun Oleh :
Drs. DJUNAEDI SAJIDIMAN, MM, M.Pd.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJUR
-2014-

KATA PENGANTAR

Sesuai dengan tugas untuk memfasilitasi/mengampu mata kuliah Pendidikan


Kewarganegaraan (dh. Kewiraan) di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(FKIP) Universitas Suryakancana Cianjur, penulis mencoba membuat diktat berupa
ikhtisar atau butir-butir bahan diskusi untuk memudahkan para mahasiswa strata satu
dalam proses pembelajaran.
Bahan diktat diambil dari berbagai buku sumber dan bahan pendukung lainnya,
mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok
Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.
Diktat ini adalah hasil revisi ke tiga kali dari yang penulis susun tahun 2007, atau
revisi pasca Pemilu 2009, yang isinya telah dikoreksi dan ditambah dengan perkembangan baru pasca Pemilu 2014 (Legislatif dan Presiden/Wakil Presiden), serta dengan
keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi No. 14/PUU-IX/2013 tanggal 26 Maret 2013
yang dibacakan pada tanggal 23 Januari 2014 tentang Uji Materil Undang-Undang No.
42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden terhadap UUD 1945,
serta disesuaikan pula dengan buku-buku tentang pendidikan kewarganegaraan yang
terbit mutakhir, di samping mengubah sistematika penyajiannya, serta koreksi
terhadap kesalahan-kesalahan ketik.
Untuk pengayaan dan pendalaman materi, para mahasiswa dianjurkan untuk
mempelajari lebih lanjut buku-buku yang penulis pergunakan, yang dicantumkan juga
dalam daftar kepustakaan, selain tentu saja dari media cetak maupun elektronik
termasuk internet berkenaan dengan materi yang relevan.
Semoga kiranya bermanfaat.

Cianjur, Ultimo September 2014.


Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...........................................................................................

DAFTAR ISI ........................................................................................................

ii

BAB

1
1
2
3
5

I. PENDAHULUAN ...............................................................................
A.
B.
C.
D.

BAB

DASAR SUBSTANSI KAJIAN (POKOK BAHASAN) ..................................


DESKRIPSI SINGKAT ......................................................................... .....
VISI, MISI, TUJUAN, DAN KOMPETENSI .............................................
METODOLOGI PEMBELAJARAN ....................................................... .....

II. KEWARGANEGARAAN DAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN ...


A. KEWARGANEGARAAN ....
B. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN ....

BAB III. PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT DAN IDEOLOGI NASIONAL


A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

PENGERTIAN FILSAFAT ...


ALIRAN, OBYEK, CABANG, TUJUAN, DAN KEGUNAAN FILSAFAT ..
PEMBAHASAN PANCASILA SECARA ILMIAH .
PANCASILA DITINJAU DARI TINGKATAN PENGETAHUAN ILMIAH
NILAI-NILAI PANCASILA BERWUJUD DAN BERSIFAT FILSAFAT
PENGERTIAN PANCASILA SECARA FILSAFAT .
PANCASILA SEBAGAI DASAR DAN ARAH KESEIMBANGAN ANTARA HAK
DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA ..
H. ALASAN PRINSIP PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP DAN IDEOLOGI
I. PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL

BAB IV. NEGARA DAN KONSTITUSI ..................................................


A. NEGARA
B. KONSTITUSI ...
C. SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA RI MENURUT UUD 1945 ...................

BAB

V. IDENTITAS NASIONAL DAN NASIONALISME INDONESIA


A. IDENTITAS NASIONAL INDONESIA
B. NASIONALISME

BAB VI. HAK ASASI MANUSIA ..........................................................................


A. PENGERTIAN HAK ASASI MANUSIA ......................................................
B. LANDASAN PENGAKUAN, SERTA CIRI POKOK DAN HAKIKAT HAK ASASI
MANUSIA ...........................................................................................
C. SEJARAH PERKEMBANGAN HAK ASASI MANUSIA .................................
D. HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA ...................................................

ii

7
7
14
25
25
29
30
32
33
34
35
36
37
55
55
66
72
99
99
103
124
124
125
125
133

E. RESUME HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA ..................................

BAB VII. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA ...


A. WUJUD HUBUNGAN WARGA NEGARA DENGAN NEGARA ....
B. HAK DAN KEWAJIBAN .........................................................................
C. RAKTERISTIK WARGA NEGARA YANG BERTANGGUNG JAWAB ................

BAB VIII. BELA NEGARA ..................................................................................... .......


A. MAKNA BELA NEGARA ......
B. IDENTIFIKASI ANCAMAN TERHADAP BANGSA DAN NEGARA ......

BAB

IX. DEMOKRASI .........................................................................................


A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

PENGERTIAN DEMOKRASI ....


KONSEP DEMOKRASI ......
MACAM-MACAM ATAU JENIS DEMOKRASI ......
CIRI-CIRI DEMOKRASI .....
DEMOKRATISASI ....
DEMOKRASI DI INDONESIA ...
PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA ....................................
MEKANISME SISTEM POLITIK DEMOKRASI DI INDONESIA ...................
WUJUD DEMOKRASI DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA ................
SYARAT-SYARAT BAGI TERSELENGGARANYA PEMERINTAHAN DEMOKRATIS .............................................................................................. ......
K. PENDIDIKAN DEMOKRASI ..................................................................

BAB

X. WAWASAN NUSANTARA (GEOPOLITIK INDONESIA) ........................


A.
B.
C.
D.
E.

BAB

PENGERTIAN WAWASAN NUSANTARA ..


LATAR BELAKANG KONSEP WAWASAN NUSANTARA
HAKIKAT, KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN TUJUAN WAWASAN NUSANTARA
UNSUR DASAR KONSEPSI WAWASAN NUSANTARA
ASAS DAN ARAH PANDANG WAWASAN NUSANTARA .

XI. KETAHANAN NASIONAL (GEOSTRATEGI INDONESIA) ........................


A.
B.
C.
D.

PENGERTIAN DAN HAKIKAT KETAHANAN NASIONAL .


PERKEMBANGAN KONSEP KETAHANAN NASIONAL INDONESIA .
UNSUR-UNSUR KETAHANAN NASIONAL ..
HUBUNGAN HIERARKIS FALSAFAH, PANDANGAN HIDUP, IDEOLOGI, DASAR NEGARA, UUD 1945, WASANTARA DAN TANNAS ...........................

BAB XII. POLITIK STRATEGI NASIONAL ..............................................................


A.
B.
C.
D.
E.
F.

PENGERTIAN .
DASAR PEMIKIRAN POLITIK STRATEGI NASIONAL
IMPLEMENTASI POLITIK STRATEGI NASIONAL ..
RUANG LINGKUP PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL .
TAHAPAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL ..
VISI INDONESIA 2025 .

iii

145
147
147
148
150
152
152
160
164
164
166
174
177
178
181
193
194
196
216
217
219
219
220
227
230
231
233
233
236
239
241
243
243
245
245
247
249
249

G. MISI INDONESIA 2025 .

BAB XIII. OTONOMI DAERAH DALAM KERANGKA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA ......................................................................................
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.

PENGERTIAN OTONOMI DAERAH ........................................................


LATAR BELAKANG OTONOMI DAERAH ................................................
TUJUAN OTONOMI DAERAH ................................................................
PRINSIP-PRINSIP PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH .............................
PERKEMBANGAN UNDANG-UNDANG OTONOMI DAERAH .....................
MODEL DESENTRALISASI ......................................................................
PEMBAGIAN NURUSAN PEMERINTAHAN ..............................................
KESALAHPAHAMAN TERHADAP OTONOMI DAERAH .............................

BAB XIV. TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK DAN BERSIH (GOOD AND
CLEAN GOVERNANCE) .
A. PENGERTIAN ................................................................................... .....
B. PRINSIP-PRINSIP GOOD AND CLEAN GOVERNANCE ................................
C. MANFAAT GOOD GOVERNANCE ..........................................................
D. PENERAPAN ASAS-ASAS KEPEMERINTAHAN YANG BAIK ........................
E. HUBUNGAN ANTARA DESENTRALISASI DENGAN GOOD GOVERNANCE...
F. GOOD CORPORATE GOVERNANCE ........................................................

BAB XV. MASYARAKAT MADANI ........................................................................


A.
B.
C.
D.
E.

PENGERTIAN ...
LATAR BELAKANG .
KARAKTERISTIK MASYARAKAT MADANI
KELEMBAGAAN PENEGAK MASYARAKAT MADANI
MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI INDONESIA .

BAB XVI. GLOBALISASI ..........................................................................................


A. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN ....................................................
B. TANTANGAN DAN ANCAMAN GLOBALISASI BAGI INDONESIA ................
C. MEMPERKUAT DAYA TAHAN DAN DAYA SAING BANGSA .......................

DAFTAR KEPUSTAKAAN .........................................................................................

-djuns-

iv

249

250
250
251
253
253
254
255
256
258

261
261
263
265
267
268
268
271
271
272
273
274
275
278
278
279
284
290

BAB I
PENDAHULUAN

A. DASAR SUBSTANSI KAJIAN (POKOK BAHASAN)


Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Perguruan Tinggi (PT) berpedoman kepada
Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan
Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Adapun
kurikulumnya terdiri dari Kurikulum Inti dan Kurikulum Instansional.
Kurikulum inti adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang harus dicakup
dalam suatu program studi yang dirumuskan dalam kurikulum yang berlaku secara
nasional, meliputi :
1. Kelompok MPK (Matakuliah Pengembangan Kepribadian).
2. Kelompok MKK (Matakuliah Keilmuan dan Keterampilan).
3. Kelompok MKB (Matakuliah Keahlian Berkarya).
4. Kelompok MPB (Matakuliah Perilaku Berkarya).
5. Kelompok MBB (Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat).
Sedangkan Kurikulum Instansional, adalah sejumlah bahan kajian dan pelajaran
yang merupakan bagian dari kurikulum di PT, terdiri atas tambahan dari kelompok
ilmu dalam kurikulum inti yang disusun dengan memperhatikan kebutuhan lingkungan serta ciri khas PT yang bersangkutan.
Berkenaan dengan matakuliah kurikulum inti MPK dapat dijelaskan :
1. Kelompok bahan kajian dan mata pelajaran untuk mengembangkan manusia
Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti
luhur, berkepribadian mantap dan mandiri, serta mempunyai rasa tanggung
jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
2. Bertujuan pengayaan wawasan, pendalaman intensitas, pemahaman dan penghayatan.
3. Wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi/kelompok program studi
yang terdiri atas :
a. Pendidikan Pancasila;
1

b. Pendidikan Agama;
c. Pendidikan Kewarganegaraan;
d. Pendidikan Bahasa Indonesia.
Adapun MPK Kurikulum Instansional, antara lain :
a. Pendidikan Bahasa Inggris;
b. Ilmu Budaya Dasar;
c. Ilmu Sosial Dasar;
d. Ilmu Alamiah Dasar;
e. Ilmu Filsafat;
f. Olah raga, dll.

B. DESKRIPSI SINGKAT
Berdasarkan Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas No. 43/DIKTI/2006, Pendidikan
Kewarganegaraan di dalamnya meliputi materi (bahan kajian) Filsafat Pancasila,
yang rinciannya : Pancasila sebagai sistem filsafat dan Pancasila sebagai ideologi
bangsa dan negara. Materi berikutnya adalah identitas nasional yang meliputi
kerakteristik identitas nasional dan proses berbangsa dan bernegara. Selanjutnya
adalah politik dan strategi nasional yang meliputi sistem konstitusi serta sistem
politik dan ketatanegaraan Indonesia. Juga materi tentang demokrasi Indonesia
yang terdiri dari konsep dan prinsip demokrasi, serta demokrasi dalam kaitannya
dengan pendidikan demokrasi. Kemudian hak asasi manusia dan the rule of law
(supremasi hukum), hak dan kewajiban warga negara, geo politik Indonesia yang
terdiri dari wilayah sebagai ruang lingkup dan otonomi daerah, juga materi geostrategi Indonesia yang meliputi konsep asta gatra dan posisi Indonesia dalam
upaya terciptanya perdamaian dunia.
Deskripsi materi muatan Pendidikan Kewarganegaraan sebagaimana tersebut
di atas, tidak harus disajikan secara kaku, yang penting dikelompokkan berdasarkan materi yang bersifat orientatif, dan secara garis besar penulis merumuskannya
lebih lanjut dalam substansi dasar kajian atau pokok bahasan sebagai berikut :
2

1. Pendahuluan.
2. Kewarganegaraan dan Pendidikan Kewarganegaraan.
3. Pancasila sebagai Filsafat dan Ideologi Nasional.
4. Negara dan Konstitusi.
5. Identitas Nasional dan Nasionalisme Indonesia.
6. Hak Asasi Manusia.
7. Hak dan Kewajiban Warga Negara.
8. Bela Negara.
9. Demokrasi.
10. Wawasan Nusantara (Geopolitik Indonesia).
11. Ketahanan Nasional (Geostrategi Indonesia).
12. Politik Strategi Nasional.
13. Otonomi Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
14. Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih.
15. Masyarakat Madani.

C. VISI, MISI, TUJUAN, DAN KOMPETENSI


Visi, misi, tujuan, dan kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) mengacu
pada visi, misi, tujuan, dan kompetensi MPK, yaitu :
1. Visi :
Menjadi sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggaraan program studi dalam
mengantarkan mahasiswa memantapkan dan mengembangkan kepribadiannya
sebagai manusia Indonesia seutuhnya.
2. Misi :
Membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten
mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan, rasa
kebangsaan (nasionalisme) dan cinta tanah air (patriotisme) sepanjang hayat
dalam menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, tekno3

logi dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggung jawab.


3. Tujuan :
Mempersiapkan mahasiswa agar dalam memasuki kehidupan bermasyarakat dapat mengembangkan kehidupan pribadi yang memuaskan, menjadi anggota
keluarga yang bahagia, serta menjadi anggota masyarakat dan warga negara
yang berkesadaran kebangsaan yang tinggi dan bertanggung jawab kepada NKRI
yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
4. Kompetensi :
a. Standar Kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa :
1) Pengetahuan tentang nilai-nilai agama, budaya, dan kewarganegaraan,
serta mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari;
2) Memiliki kepribadian yang mantap;
3) Berpikir kritis;
4) Bersikap rasional, etis, estetis, dan dinamis;
5) Berpandangan luas;
6) Bersikap demokratis yang berkeadaban.
b. Kompetensi Dasar yang diharapkan :
1) Mampu menjadi ilmuwan yang profesional serta memiliki rasa kebangsaan
dan cinta tanah air;
2) Demokratis yang berkeadaban;
3) Menjadi warga negara yang memiliki daya saing;
4) Berdisiplin;
5) Berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan yang damai berdasarkan
sistem nilai Pancasila.
Adapun rumusan kompetensi riil yang hendak dituju oleh Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn) menurut Hamdan Mansoer (2005) adalah, agar manusia
Indonesia :
a. Menjadi warga negara yang memiliki wawasan kebangsaan (nasionalisme)
dan kenegaraan.
b. Menjadi warga negara yang komit (committed) terhadap nilai-nilai hak asasi
4

manusia dan demokrasi, serta berpikir kritis terhadap permasalahannya.


c. Berpartisipasi dalam hal :
1) Upaya menghentikan budaya kekerasan dengan damai dan menghormati
supremasi hukum;
2) Menyelesaikan konflik dalam masyarakat dilandasi sistem nilai Pancasila
yang universal.
d. Berkontribusi terhadap berbagai persoalan dalam kebijakan publik.
e. Memiliki pengertian internasional tentang masyarakat madani (civil society),
dan menjadi warga negara yang kosmopolit.

D. METODOLOGI PEMBELAJARAN
1. Pendekatan :
Menempatkan mahasiswa sebagai subyek pendidikan, mitra dalam proses
pembelajaran, dan sebagai individu (pribadi), anggota keluarga, anggota masyarakat, serta sebagai warga negara.
2. Metode Proses Pembelajaran :
a. Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, serta memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian, dengan menempatkan mahasiswa sebagai subyek pendidikan,
mitra dalam proses pembelajaran, sebagai umat (individu), anggota keluarga,
masyarakat, dan warga negara;
b. Pembelajaran merupakan proses yang mendidik, yang di dalamnya terjadi
pembahasan kritis, analitis, induktif, deduktif, dan reflektif melalui dialog
kreatif partisipatori, untuk mencapai pemahaman tentang kebenaran substansi dasar kajian, berkarya nyata, serta menumbuhkan motivasi belajar
sepanjang hayat;

3. Bentuk Atiktivitas Proses Pembelajaran :


Kuliah tatap muka, ceramah, dialog/diskusi interaktif, studi kasus, penugasan
mandiri, tugas baca, seminar kecil, dan kegiatan ko-kurikuler, serta evaluasi
proses belajar.
4. Motivasi :
Menumbuhkan kesadaran bahwa proses pembelajaran mengembangkan kepribadian itu merupakan kebutuhan hidup untuk dapat eksis dalam masyarakat
global.

BAB II
KEWARGANEGARAAN DAN
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

A. KEWARGANEGARAAN
1. Pengertian Warga Negara dan Kewarganegaraan.
Warga = anggota, peserta;
Negara = organisasi bangsa, atau organisasi kekuasaan suatu bangsa.
Jadi, warga negara = anggota, peserta, atau warga dari suatu organisasi bangsa.
Istilah warga negara dalam bahasa Inggris adalah citizen yang mempunyai arti :
a. Warga negara;
b. Petunjuk dari sebuah kota;
c. Sesama warga negara, sesama penduduk, orang se-tanah air;
d. Bawahan atau kawula;
e. Anggota dari suatu komunitas yang membentuk negara itu sendiri.
Dengan demikian, kewarganegaraan (citizenship) berarti keanggotaan yang
menunjukkan hubungan atau ikatan antara negara dengan warga negara.
Adapun istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Kewarganegaraan dalam arti Yuridis dan Sosiologis :
1) Arti Yuridis : Ditandai dengan adanya ikatan hukum antara warga negara
dengan negara yang menimbulkan akibat hukum tertentu. Tanda adanya
ikatan hukum dimaksud misalnya, ada akte kelahiran, surat pernyataan
bukti kewarganegaraan, kartu keluarga, kartu tanda penduduk, akte
perkawinan (akta nikah), akte kamatian, dsb.
2) Arti Sosiologis : Tidak ditandai dengan ikatan hukum, tetapi ikatan emosional (perasaan), ikatan keturunan (darah), ikatan nasib, ikatan sejarah,
dan ikatan daerah atau tanah air.
b. Kewarganegaraan dalam arti Formal dan Material :
1) Arti Formal : Menunjuk pada tempat kewarganegaraan dalam sistem
hukum negara (hukum publik). Dalam hal ini masalah kewarganegaraan
7

diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
2) Arti Material : Menunjuk pada akibat hukum dari status kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban.
Dengan memiliki status sebagai warga negara, orang mempunyai hubungan dengan negara yang tercermin dalam hak dan kewajiban. Pada zaman
penjajahan Belanda dipakai istilah kawula, yang menunjukkan hubungan warga
yang tidak sederajat dengan negara, artinya warga (terutama pribumi atau
bumi putera) lebih banyak melaksanakan kewajiban untuk mengabdi kepada
negara, daripada memperoleh hak-haknya. Karena itu pemerintah kolonial
Belanda lebih senang menyebut bangsa pribumi sebagai inlander, atau bangsa
pribumi yang rendah derajatnya.
Dalam kaitan dengan kewarganegaraan, terdapat istilah rakyat, penduduk, dan warga negara. Perbedaan istilah itu adalah :
a. Rakyat :
Merupakan konsep politis, menunjuk pada orang-orang yang berada di
bawah satu pemerintahan negara, dan tunduk pada pemerintahan itu. Istilah
rakyat umumnya dilawankan (vis-a-vis) dengan istilah penguasa/pemerintah;
b. Penduduk :
Orang-orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah negara. Penduduk
Indonesia terdiri dari Warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau
Warga Negara Asing (WNA). Terdapat juga nonpenduduk, yaitu orang-orang
yang tinggal di Indonesia untuk sementara, misalnya turis asing.
c. Warga Negara :
Penduduk yang secara resmi menjadi anggota/warga suatu negara. Atau
warga suatu negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku di negara bersangkutan.
Sementara itu pengertian kewarganegaraan, menurut Undang-Undang
(UU) No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, adalah
segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara. Adapun pewarganageraan, adalah proses atau tata cara bagi orang asing untuk memperoleh ke8

warganegaraan RI melalui permohonan.


Dalam pada itu berkenaan dengan manusia atau orang-orang yang
berada dalam suatu wilayah negara dikenal dengan istilah rakyat, penduduk,
dan warga negara. Untuk lebih menjelaskan perbedaan istilah tentang
rakyat, penduduk, dan warga negara dimaksud, berikut digambarkan dalam
bagan.

WARGA NEGARA (WNI)

PENDUDUK

ORANG YANG BERADA


DI WILAYAH NEGARA

ORANG ASING (WNA)


BUKAN
PENDUDUK

2. Penentuan Warga Negara.


Setiap negara berdaulat berwenang menentukan siapa-siapa yang menjadi
warga negara. Dalam menentukan kewarganegaraan dimaksud dikenal dua
aspek, yaitu aspek kelahiran dan aspek perkawinan.
a. Aspek Kelahiran :
1) Asas Ius Soli (Law of The Soil) :
Asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara
tempat kelahiran. Di Indonesia diberlakukan terbatas bagi anak-anak,
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan (UU No. 62
Tahun 1958 dan sekarang telah diganti dengan UU No. 12 Tahun 2006).
2) Asas Ius Sanguinis (Law of The Blood) :
Asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan darah/
keturunan.
b. Aspek Perkawinan :
9

1) Asas Persamaan Hukum :


Suami istri adalah satu ikatan yang tidak terpecah sebagai keluarga dan
inti dari masyarakat. Dengan demikian status kewarganegaraannya sama.
2) Asas Persamaan Derajat :
Suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan status kewarganegaraan suami istri. Masing-masing memiliki hak yang sama dalam menentukan
kewarganegaraannya. Jadi, suami istri bisa berbeda kewarganegaraan
seperti sebelum mereka melakukan perkawinan.
Berkaitan dengan asas kewarganegaraan, dalam UU No. 12 Tahun
2006 dikenal pula asas :
1) Asas Kewarganegaraan Tunggal, yaitu asas yang menentukan satu
kewarganegaraan bagi setiap orang;
2) Asas Kewarganegaraan Ganda, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam UU (merupakan suatu pengecualian, karena pada dasarnya tidak
boleh ada apatride, bipatride, lebih-lebih multipatride).
Beberapa asas khusus juga menjadi dasar dalam penyusunan UU
kewarganegaraan di Indonesia, yaitu :
1) Asas Kepentingan Nasional, adalah asas yang menentukan bahwa peraturan kewarganegaraan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia,
yang bertekad mempertahankan kedaulatannya sebagai negara kesatuan
yang memiliki cita-cita dan tujuan sendiri;
2) Asas Perlindungan Maksimum, adalah asas yang menentukan bahwa
pemerintah wajib memberikan perlindungan penuh kepada setiap warga
negara Indonesia dalam keadaan apa pun, baik di dalam maupun di luar
negeri;
3) Asas Persamaan di Dalam Hukum dan Pemerintahan, adalah asas yang
menentukan bahwa setiap warga negara Indonesia mendapatkan perlakuan yang sama di dalam hukum dan pemerintahan;
4) Asas Kebenaran Substantif, adalah prosedur pewarganegaraan seseorang
tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga disertai substansi dan
10

syarat-syarat permohonan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya;


5) Asas Nondiskriminatif, adalah asas yang tidak membedakan perlakuan
dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara atas
dasar suku, ras, agama, golongan, jenis kelamin, dan gender;
6) Asas Pengakuan dan Penghormatan Terhadap Hak Asasi Manusia (HAM),
adalah asas yang dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan
warga negara harus menjamin, melindungi, dan memuliakan HAM pada
umumnya, dan hak warga negara pada khususnya;
7) Asas Keterbukaan, adalah asas yang menentukan bahwa dalam segala
hal-ikhwal yang berhubungan dengan warga negara harus dilakukan
secara terbuka;
8) Asas Publisitas, adalah asas yang menentukan bahwa seseorang yang
memperoleh atau kehilangan kewarganegaraan RI diumumkan dalam
Berita Negara RI agar masyarakat mengetahuinya.
Adapun pokok materi yang diatur dalam UU No. 12 Tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan RI meliputi :
a. Siapa yang menjadi WNI;
b. Syarat dan tata cara memperoleh kewarganegaraan RI;
c. Kehilangan kewarganegaraan RI;
d. Syarat dan tata cara memperoleh kembali kewarganegaraan RI;
e. Ketentuan pidana.
Perbedaan dalam penentuan kewarganegaraan oleh setiap negara dapat
menyebabkan masalah, yaitu munculnya :
a. Apatride, adalah istilah bagi orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan di negara mana pun;
b. Bipatride, adalah istilah bagi orang-orang yang memiliki dua kewarganegaraan, atau sebagai warga negara di dua negara;
c. Multipatride, adalah istilah bagi orang-orang yang memiliki banyak kewarganegaraan (sebagai warga negara di tiga atau lebih lebih negara).

11

3. Warga Negara Indonesia.


Ketentuan pokok mengenai kewarganegaraan Indonesia diatur dalam UUD 1945
BAB X Pasal 26, yaitu :
a. Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan UU sebagai warga negara;
b. Penduduk ialah warga Negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
tinggal di Indonesia (Perubahan II/2000);
c. Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan UU (Perubahan II/2000). Pada saat ini UU tersebut adalah UU No. 12 Tahun 2006.
Demikianlah, maka yang dapat menjadi warga negara Indonesia adalah :
a. Orang-orang bangsa Indonesia asli;
b. Orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan UU menjadi warga negara.
Berdasarkan Pasal 26 Ayat (2) UUD 1945, penduduk negara Indonesia
terdiri dari dua, yaitu WNI dan WNA. Sebelumnya, pada zaman kolonial
Belanda, berdasarkan Indische Staatsregeling 1927 Pasal 163, penduduk Indonesia (Hindia Belanda) adalah :
a. Golongan Eropa, terdiri dari :
1) Bangsa Belanda;
2) Bukan bangsa Belanda, tetapi dari Eropa;
3) Orang bangsa lain yang hukum keluarganya sama dengan golongan Eropa.
b. Golongan Timur Asing, terdiri dari :
1) Cina (Tionghoa);
2) Timur asing bukan Cina.
c. Golongan Bumi Putra, terdiri dari :
1) Orang Indonesia asli dan keturunannya;
2) Orang lain yang menyesuaikan diri dengan orang Indonesia asli.
Sementara itu menurut UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan
RI, tercantum dalam :
Pasal 4
Warga Negara Indonesia adalah :
a. Setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau
12

berdasarkan perjanjian pemerintah RI dengan negara lain sebelum UU No.


12 Tahun 2006 berlaku, sudah menjadi WNI;
b. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu WNI;
c. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibu
WNA;
d. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNA dan ibu
WNI;
e. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI, tetapi
ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan, atau hukum negara asal
ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut;
f. Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 (tiga ratus) hari setelah ayahnya
meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya WNI;
g. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI;
h. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu WNA yang
diakui oleh seorang ayah WNI sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan
sebelum anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin;
i. Anak yang lahir di wilayah negara RI yang pada waktu lahir tidak jelas status
kewarganegaraan ayah ibunya;
j. Anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah negara RI selama ayah dan
ibunya tidak diketahui;
k. Anak yang lahir di wilayah negara RI apabila ayah dan ibunya tidak
mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya;
l. Anak yang dilahirkan di luar wilayah negara RI dari seorang ayah dan ibu
WNI yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan
memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan;
m. Anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan
kewarganegaraannya, kemudian ayah dan ibunya meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.
Pasal 5
(1) Anak WNI yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18
(delapan belas) tahun atau belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya
13

yang berkewarganegaraan asing, tetap diakui sebagai WNI;


(2) Anak WNI yang belum berusia 5 (lima) tahun diangkat secara sah sebagai
anak oleh WNA berdasarkan penetapan pengadilan, tetap diakui sebagai
WNI;
Pasal 6
(1) Dalam hal status kewarganegaraan RI terhadap anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c, huruf d, huruf h, huruf i, dan Pasal 5 berakibat
anak berkewarganegaraan ganda, setelah berusia 18 (delapan belas) tahun
atau sudah kawin anak tersebut harus menyatakan memilih salah satu
kewarganegaraannya;
(2) Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dibuat secara tertulis dan disampaikan kepada Pejabat dengan
melampirkan dokumen sebagaimana ditentukan di dalam peraturan
perundang-undangan.
(3) Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) disampaikan dalam waktu paling lama 3 (tiga) tahun setelah anak
berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.
Pasal 7
Setiap orang yang bukan WNI diperlakukan sebagai orang asing.

B. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
1. Pengertian.
Istilah pendidikan kewarganegaraan asalnya dari bahasa Latin civis dan dalam
bahasa Inggris Civic atau Civics.
Civic

= mengenai warga negara atau kewarganegaraan;

Civics

= ilmu kewarganegaraan;

Civic Education = pendidikan kewarganegaraan;


Untuk selanjutnya dengan istilah civics saja, sudah berarti pendidikan
kewarganegaraan. Jadi civics = civic education.
14

Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian civics, berikut ini dikemukakan


beberapa definisi :
a. The Advanced Leaners Dictionary of Current English, 1954 :
Civics : The study of city government and the duties of citizens.
b. Websters New Collegiate Dictionary, 1954 :
Civics : The department of political science dealing with right of citizen of
duties of citizens.
c. Websters New Cincise Dictionary :
Civics : Science of government.
d. Dictionary of Educations, 1956 :
Civics : The element of political science or that science dealing with right and
duties of citizens.
e. A Dictionary of American, 1956 :
Civics : The science of right and duties of citizenship, esp, as the subject of
school course.
f. Creshore Education, VII. 264:1886-1887 :
Civics : The science of citizenship the relations of man, the individual to man
in organized collections the individual to the state.
g. Edmonson, 1968:3-5 :
Civics : The study of government and citizenship that is, the duties right and
privilege of citizens.
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa civics menyangkut :
a. Warga negara dengan hak dan kewajibannya;
b. Pemerintah;
c. Negara;
d. Merupakan cabang dari ilmu politik.
Menurut Ahmad Sanusi dalam Kansil dan Christine (2005:4), sejauh civics
dapat dipandang sebagai disiplin ilmu politik, maka fokus studinya mengenai
kedudukan dan peranan warga negara dalam menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dan sepanjang batas-batas ketentuan konstitusi negara yang
bersangkutan. Sementara itu menurut Numan Soemantri (Kansil dan Christine,
15

ibid:5-7) isi dan manfaat dari civics yang merupakan bagian dari ilmu politik,
diambil demokrasi politiknya, dengan materi :
a. Konteks Ide Demokrasi : Teori demokrasi politik, teori demokrasi dalam pemerintahan, teori mayority rule, minority right, konsep demokrasi dalam
masyarakat, dll.
b. Konstitusi Negara : Sejarah legal status, masalah pokok dalam konstitusi,
Rangkaian krisis dalam nation building, identitas, integritas, penetrasi,
partisipasi, distribusi, dll.
c. Input dari Sistem Politik : Arti pendapat umum terhadap kehidupan politik,
studi tentang political behavior (kebutuhan pokok manusia, tradisi rumah,
status sosial, etnic group, komunikasi, pengaruh rumah, sahabat, teman
sepekerjaan, dsb.).
d. Partai Politik dan Pressure Group : Sistem kepartaian, fungsi partai politik,
peranan kelompok penekan, public ralations, dsb.
e. Pemilihan Umum : Maksud pemilu dalam distribusi kekuasaan, sistem pemilu,
dsb.
f. Lembaga-lembaga Pengambil Keputusan (Decision Maker) : Legislator dan
kepentingan masyarakat, bagaimana konstitusi memberi peranan policy
maker kepada Presiden, bagaimana Presiden berperan sebagai legislator,
proses kegiatan lembaga legislatif, dsb.
g. Presiden sebagai Kepala Negara : Kedudukan Presiden menurut konstitusi,
kontrol lembaga legislatif terhadap Presiden dan birokrasi, organisasi dan
manajemen pemerintahan, pemerintah daerah, dsb.
h. Lembaga Yudikatif : Sistem dan administrasi peradilan, hak dan kedudukan
seseorang dalam pengadilan, proses pengadilan, hubungan lembaga legislatif,
eksekutif, dan yudikatif.
i. Output dari Sistem Demokrasi Politik : Hak dan kemerdekaan individu dalam
konstitusi, kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat, pers dan
massmedia, kebebasan akademik, perlindungan yang sama, cara penduduk
memperoleh dan kehilangan kewarganegaraan, dsb.
j. Kemakmuran Umum dan Pertahanan Negara : Tugas Negara dan warga ne16

gara dalam mencapai kemerdekaan umum, hak-hak memiliki barang/


kekayaan, pajak untuk kepentingan umum, politik luar negeri dan keselamatan nasional, hubungan internasional, dsb.
k. Perubahan Sosial dan Demokrasi Politik : Demokrasi politik, pembangunan
masa sekarang, bagaimana mengisi dan mengefektifkan demokrasi politik,
tantangan bagi warga negara dalam menghadapi perkembangan sain dan
teknologi, dsb.
Selanjutrnya menurut Numan Soemantri, obyek studi civics adalah warga
negara dalam hubungannya dengan organisasi kemasyarakatan, sosial, ekonomi,
agama, kebudayaan, dan negara. Termasuk dalam obyek ini adalah :
a. Tingkah laku;
b. Tipe pertumbuhan berpikir;
c. Potensi yang ada dalam setiap warga negara;
d. Hak dan kewajiban;
e. Cita-cita dan aspirasi;
f. Kesadaran (patriotisme, nasionalisme, pengertian internasional, moral Pancasila, dsb.);
g. Usaha, kegiatan, partisipasi, tanggung jawab, dsb.
Jadi, civics tidak semata-mata mengajarkan Pasal-pasal UUD, Tap MPR,
UU/PERPPU, PP, Perpres/Keppres, Perda, dll., tetapi hendaknya mencerminkan
juga hubungan tingkah laku warga negara dalam kehidupan sehari-hari dengan
manusia lain dan alam sekitarnya. Dengan demikian, materi civics memasukkan
unsur-unsur :
a. Lingkungan fisik;
b. Sosial, pendidikan, kesehatan;
c. Ekonomi, keuangan;
d. Politik, hukum, pemerintahan;
e. Etika, agama;
f. Sain dan teknologi.
2. Sejarah Pendidikan Kewarganegaraan.
a. Mulai diperkenalkan di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1790 dengan nama
17

Civics dalam rangka mengamerikakan bangsa Amerika atau terkenal


dengan nama Theory of Amaricanization. Hal ini dianggap penting mengingat bangsa AS berasal dari berbagai bangsa yang datang di samping bangsa
(suku) asli yang ada. Dalam taraf ini materinya adalah government serta hak
dan kewajiban warga negara.
b. Di Indonesia, pelajaran civics telah ada sejak zaman pemerintahan Hindia Be
landa dengan nama Burgerkunde. Dua buku penting yang dipakai adalah :
1) Indische Burgerkunde karangan P. Tromp terbitan J.B. Wolters Maatschappij NV. Groningen, Den Haag, Batavia, tahun 1934. Materinya mengenai :
a) Masyarakat pribumi, pengaruh Barat, bidang sosial, ekonomi, hukum,
ketatanegaraan, dan kebudayaan;
b) Hindia Belanda dan rumah tangga dunia;
c) Pertanian, perburuhan, kaum menengah dalam industri dan perdagangan, kewanitaan, ketatanegaraan Hindia Belanda dengan terbentuknya
Dewan Rakyat (Volksraad);
d) Hukum dan pelaksanaannya;
e) Pendidikan, kesehatan masyarakat, pajak, tentara, dan angkatan laut.
2) Recht en Plicht (Indische Burgerschapkunde voor Iedereen) karangan J.B.
Vortman yang diberi pengantar oleh B.J.O. Schrieke, Direktur Onderwijs en
Eredienst (O&E), terbitan G.C.T. van Dorp & Co. NV. (Derde, Herziene en
Vermeerderdruk) Semarang-Surabaya-Bandung, tahun 1940. Materinya
mengenai :
a) Badan pribadi : Masyarakat di mana kita hidup (dari lahir sampai
dewasa), pernikahan dan keluarga;
b) Bezit dari obyek hukum : Eigendom Eropa dan hak-hak atas tanah, hakhak agraris atas tanah, kedaulatan raja terhadap kewajiban-kewajiban
warga negara;
c) Sejarah pemerintahan Hindia Belanda, perundang-undangan, alat
pembayaran, dan kesejahteraan.
c. Dalam suasana merdeka, tahun 1950 di Indonesia diajarkan civics di sekolah
18

menengah. Walaupun kedua buku pada zaman Hindia Belanda tersebut di


atas dijadikan pegangan guru, tetapi ada perubahan kurikulum dengan materi
kewarganegaraan di samping tata negara, yaitu tentang tugas dan kewajiban
warga negara terhadap pemerintah, masyarakat, keluarga, dan diri sendiri,
misalnya :
1) Akhlak, pendidikan, pengajaran, dan ilmu pengetahuan;
2) Kehidupan;
3) Rakyat, kesehatan, imigrasi, perusahaan, perburuhan, agraria, kemakmuran rakyat, kewanitaan, dsb.
4) Keadaan dalam dan luar negeri, pertahanan rakyat, perwakilan, pemerintahan, dan soal-soal internasional.
d. Tahun 1955 terbit buku Civics karangan J.C.T. Simorangkir, Gusti Mayur, dan
Sumintardjo berjudul Inti Pengetahuan Warga Negara dengan maksud
untuk membangkitkan dan keinsyafan serta kesadaran bahwa warga negara
Indonesia mempunyai tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, dan
negara (good citizenship). Materinya mengenai :
1) Indonesia Tanah Airku;
2) Indonesia Raya;
3) Bendera dan Lambang Negara;
4) Warga Negara dengan Hak dan Kewajibannya;
5) Ketatanegaraan;
6) Keuangan Negara;
7) Pajak;
8) Perekonomian termasuk Koperasi.
e. Pada tahun 1961 istilah kewarganegaraan diganti dengan kewargaan negara
karena menitikberatkan warga sesuai dengan Pasal 26 Ayat (2) UUD 1945
yang mengandung pengertian akan hak dan kewajiban warga negara terhadap
negara, yang tentu berbeda dengan orang asing. Namun istilah tersebut baru
secara resmi dipakai pada tahun 1967 dengan Instruksi Direktur Jenderal
Pendidikan Dasar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) No.
31 Tahun 1967. Buku pegangan resminya adalah Manusia dan Masyarakat
19

Baru Indonesia karangan Supardo, dkk. Materinya adalah pidato Presiden


Sukarno ditambah dengan :
1) Pancasila;
2) Sejarah Pergerakan Bangsa;
3) Hak dan Kewajiban Warga Negara.
f. Pada tahun 1966 setelah peristiwa Gerakan Tiga Puluh September/Partai Komunis Indonesia (G-30-S/PKI), buku karangan Supardo tersebut di atas
dinyatakan dilarang dipakai. Untuk mengisi kekosongan materi civics, Depdikbud mengeluarkan instruksi bahwa materi civics (kewargaan negara) adalah :
1) Pancasila;
2) UUD 1945;
3) Tap-tap MPRS;
4) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB);
5) Orde Baru (Orba);
6) Sejarah Indonesia;
7) Ilmu Bumi Indonesia.
Pelajaran civics diberikan di tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Sedangkan di PT
terdapat mata kuliah Kewiraan Nasional yang intinya berisi pendidikan
pendahuluan bela negara.
g. Sejak zaman Hindia Belanda sampai dengan RI tahun 1971, belum ada
kejelasan pengertian tentang apakah kewargaan negara atau pendidikan
kewargaan negara. Baru pada tahun 1972 setelah Seminar Nasional Pengajaran dan Pendidikan Civics (Civic Education) di Tawangmangu Surakarta,
mendapat ketegasan dan memberi batasan, bahwa :
1) Civics diganti dengan Ilmu Kewargaan Negara, yaitu suatu disiplin ilmu
dengan obyek studi tentang peranan warga negara dalam bidang spiritual,
sosial, ekonomi, politik, hukum, dan kebudayaan, sesuai dan sejauh diatur
dalam UUD 1945;
2) Civic Education diganti dengan Pendidikan Kewargaan Negara, yaitu
suatu program pendidikan yang tujuan utamanya membina warga negara
yang lebih baik menurut syarat-syarat, kriteria, dan ukuran ketentuan20

ketentuan UUD 1945. Bahannya diambil dari ilmu kewargaan negara


termasuk kewiraan nasional, filsafat Pancasila, mental Pancasila, dan
filsafat pendidikan nasional.
h. Mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi :
1) Tahun 1970an s/d 1983 terdapat mata kuliah Kewiraan Nasional dengan
inti Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. Dalam implementasinya, ada
teori dan praktek. Teori yang diberikan berupa perkuliahan di kelas
sedangkan praktek berupa latihan dasar kemiliteran.

Latihan dasar

kemiliteran ini atas kerjasama dengan instansi militer, yaitu Kodam di


tingkat provinsi, dan Kodim di tingkat kabupaten/kota. Sementara itu atas
kerjasama dengan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam)
dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), di PT diselenggarakan
juga program Pacad (Perwira Cadangan) bagi para mahasiswanya. Bagi
mereka yang berminat, setelah lulus sarjana, dan memenuhi segala
persyaratannya dapat masuk kerja di instansi militer menjadi perwira
dengan pangkat Letnan Satu. Di samping itu sebagai wujud bela negara
lainnya di PT dibentuk juga kesatuan-kesatuan (regu, peleton, kompi)
pertahanan sipil mahasiswa yang di tingkat keresidenan bergabung dalam
batalion, dan di tingkat provinsi resimen. Di Jawa Barat resimen mahasiswa dimaksud namanya Resimen Mahawarman.
2) Tahun 1983 - 2000, dengan Keputusan Dirjen Dikti Depdikbud No. 32/DJ/
Kep/1983 yang disempurnakan dengan Keputusan Dirjen Dikti Depdikbud
No. 25/Dikti/Kep/1983 dan disempurnakan lagi dengan Keputusan Dirjen
Dikti Depdikbud No. 151/Dikti/Kep/2000, ditetapkan Garis-garis Besar
Program Pengajaran (GBPP) Pendidikan Kewiraan.
3) Berdasarkan UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas Pasal 39 Ayat (2) yang
menyebutkan isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib
memuat pendidikan Pancasila, pendidikan agama, dan pendidikan
kewarganegaraan yang di dalamnya termasuk pendidikan pendahuluan
bela negara yang tercakup dalam MPK, maka dengan Keputusan Dirjen
Dikti Depdikbud No. 150/Dikti/Kep/2000, mengharuskan untuk selalu
21

mengevaluasi kesahihan isi silabus dan GBPP pendidikan kewarganegaraan


beserta proses pembelajarannya. Dan berdasarkan hasil evaluasi dimaksud,
maka dengan Keputusan Dirjen Dikti Depdikbud No. 267/Dikti/Kep/2000,
ditetapkan penyempurnaan pendidikan kewarganegaraan pada PT di
Indonesia yang memuat silabus dan GBPPnya;
4) Tahun 2002, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, maka ditindaklanjuti
dengan Keputusan Dirjen Dikti No. 38/DIKTI/Kep/2002 tentang Ramburambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian
(MPK), ditetapkan Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan, yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap
program studi/kelompok studi di PT.

Terakhir, berdasarkan UU baru

pengganti UU No. 2 Tahun 1989, yaitu UU No. 20 Tahun 2003 tentang


Sisdiknas, keluar Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas No. 43/DIKTI/Kep/2006
tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan
Kepribadian di Perguruan Tinggi yang menyempurnakan Keputusan No.
38/DIKTI/Kep/2002. Dalam keputusan ini Pendidikan Pancasila digabung
ke dalam Pendidikan Kewarganegaraan.
Sementara itu di FKIP-UNSUR Cianjur, terdapat mata kuliah Pendidikan Kewiraan, tetapi isinya tetap mengacu pada kurikulum yang ditetapkan
oleh Depdiknas (sekarang kembali menjadi Depdikbud). Pendidikan
kewiraan yang dahulu namanya Pendidikan Pendahuluan Bela Negara,
materinya sudah tercakup dalam Pendidikan Kewarganegaraan.
5) Mulai tahun akademik 2012-2013, dengan telah keluarnya UU No. 12
Tahun 12 tentang Pendidikan Tinggi, nama mata kuliah Pendidikan Kewiraan di FKIP UNSUR itu disesuaikan dan diganti menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Adapun mata kuliah yang termasuk MPK yang wajib
diberikan di PT adalah :
a) Pendidikan Agama;
b) Pendidikan Pancasila;
22

c) Pendidikan Kewarganegaraan;
d) Pendidikan Bahasa Indonesia.
3. Hubungan Kewarganegaraan dengan Pendidikan Kewarganegaraan.
Secara langsung dan dalam konteks profesional, tidak ada hubungan antara kewarganegaraan dengan pendidikan kewarganegaraan. Namun jika dihubunghubungkan dalam bahasa yang dirasionalkan, memang tetap ada.
Kewarganegaraan berhubungan dengan status seseorang dalam negara,
sedangkan pendidikan kewarganegaraan (civic education atau Civics) berhubungan dengan bagaimana mempertahankan karakter bangsa (nation and
character building) yang dimulai dari pemahaman terhadap dasar-dasar negara
beserta implikasinya. (Samsul Wahidin, 2010:30).
Jadi, secara normatif dan akademik ikhwal kewarganegaraan yang menyoal
tentang status seseorang ini berada di luar pendidikan kewarganegaraan. Namun
bisa dikorelasikan, yaitu bahwa dengan status kewarganegaraan membawa
kewajiban seseorang untuk mempelajari pendidikan kewarganegaraan, sehingga
tahu dan menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, atau agar
menjadi warga negara yang baik. Pemahaman akan hak dan kewajiban ini akan
lengkap jika mempelajari isi muatan atau dasar kajian tentang pendidikan
kewarganegaraan.
Dalam kehidupan berbangsa, peran negara dalam melakukan internalisasi
nasionalisme dan ideologi negara, yaitu Pancasila, dapat dilakukan melalui
proses pendidikan, khususnya pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Hal
ini sesuai dan relevan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan yang termuat
dalam penjelasan Pasal 37 Ayat (1) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas,
bahwa Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta
didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
Rasa kebangsaan dan cinta tanah air (patriotisme) itulah yang kemudian dikenal
sebagai nasionalisme.
Rasa dan sikap nasionalisme itu kini gencar dikampanyekan oleh MPR,
berupa Empat Pilar Kebangsaan atau Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan
23

Bernegara, yang harus menjadi pedoman dan

pijakan dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yaitu :


a. Pancasila;
b. Undang-Undang Dasar Tahun 1945;
c. Bhinneka Tunggal Ika;
d. Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berkaitan dengan istilah atau frasa Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan
Bernegara itu, ternyata sekarang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK)
dengan alasan, Pancasila sebagai landasan fundamental dan sebagai dasar
filsafat serta ideologi negara, sekaligus sumber dari segala sumber hukum,
derajatnya lebih tinggi daripada tiga pilar lainnya (UUD 1945, NKRI, Bhinneka
Tunggal Ika), sehingga tidak dapat disejajarkan.

24

BAB III
PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT
DAN IDEOLOGI NASIONAL

A. PENGERTIAN FILSAFAT
1. Filsafat berasal dari bahasa Latin, philos + sophia. Philos berarti gemar, senang,
menekuni, menghayati, mengamalkan. Sedangkan sophia berarti bijak (wise),
peduli (care), berbagi (share), adil, jujur, berbudi luhur (fair). Dengan demikian
filsafat berarti gemar, senang menekuni, menghayati, dan mengamalkan perilaku
bijak. Atau berusaha mengetahui terhadap sesuatu secara mendalam (hakikat,
fungsi, ciri-ciri, kegunaan, masalah, dan memecahkan masalah-masalah itu). Dari
filsafat kemudian muncul pengetahuan, ilmu, dan ilmu pengetahuan. Hal ini
sesuai dengan pendapat Kaelan (2004:56), bahwa keseluruhan arti filsafat meliputi berbagai masalah yang dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu :
a. Sebagai produk, yang mencakup pengertian :
1) Jenis pengetahuan, ilmu, konsep, dan pemikiran-pemikiran dari para filsuf
(ahli filsafat) zaman dahulu yang lazimnya merupakan aliran atau sistem
filsafat tertentu, misalnya rasionalisme, materialisme, pragmatisme, dll.
2) Jenis problem yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas
berfilsafat, yaitu dalam mencari kebenaran yang timbul dari persoalan yang
bersumber pada akal.
b. Sebagai suatu proses, yaitu suatu bentuk aktivitas pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan cara atau metode tertentu sesuai dengan obyeknya. Dalam pengertian ini filsafat adalah suatu sistem pengetahuan yang
dinamis.
2. Ilmu pengetahuan diperoleh bermula dari rasa ingin tahu yang merupakan suatu
ciri manusia yang membedakannya dengan mahluk hidup lain. Rasa ingin tahu
manusia ini asalnya mengenai benda-benda di sekelilingnya, alam sekitarnya,
seperti matahari, bulan, bintang-bintang, dll., yang dilihatnya, bahkan kemudian
ingin tahu tentang dirinya sendiri. Proses ingin tahu ini dilakukan melalui nalar
(pikirannya) dengan kontemplasi (merenung) untuk mencari jawaban terhadap
25

apa yang dilihatnya itu. Inilah yang disebut berfilsafat. Namun ada kalanya
jawaban yang diharapkannya tidak juga didapat sehingga timbul mitos, yaitu berbaurnya nalar dengan kepercayaan karena ingin segera mendapat jawaban atas
sesuatu tetapi tidak sampai. Contoh, mengapa gunung meletus? Karena nalar
belum jalan, tetapi harus segera dijawab, akhirnya jawabannya, katanya, karena
sang penunggunya (Sunda : nu ngageugeuh) sedang marah. Demikian juga
tentang pelangi, katanya pelangi itu adalah selendang bidadari, dsb.
Sementara itu menurut Noor Ms Bakry (2009: 25), secara terminologis, atau
berdasarkan apa yang terkandung dalam istilahnya, filsafat didefinisikan sebagai
pemikiran secara kritik dan sistematik untuk mencari hakikat atau kebenaran
sesuatu. Definisi ini, tinjauan secara ontologis adalah untuk mencari hakikat
sesuatu, dan secara epistemologis adalah untuk mencari kebenaran sesuatu.
3. Pendekatan dalam menemukan kebenaran itu didapat melalui antara lain :
a. Akal sehat (common sense);
b. Prasangka (praejudice);
c. Naluri (instinct);
d. Secara coba-coba (trial and error);
e. Secara kebetulan (by chance, coincidentally);
f. Wahyu/ilham (revelation/inspiration).
Dari pendekatan-pendekatan itu kemudian menjadi pengetahuan, yaitu
hasil pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau menjalin sebuah pikiran
dengan pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa
pemahaman kausalitas. Apabila disertai pemahaman kausalitas (sebab-akibat)
dari suatu obyek tertentu menurut metode dan sistematis, maka jadilah ilmu.
Dikatakan ilmu apabila mempunyai ciri-ciri :
a. Bersifat empirik

dapat dibuktikan dengan panca indera;

b. Rasional

hubungan kausalitasnya (sebab-akibat) jelas;

c. Bersifat umum

universal, tidak terhalang ruang, waktu, keadaan;

d. Akumulatif

tumbuh dan berkembang dari masa ke masa dan saling


mengoreksi.
26

Pengertian Ilmu Pengetahuan adalah :


a. Sekelompok pengetahuan yang terorganisasi dan sistematis yang mempelajari
gejala-gejala alam dan sosial melalui eksperimen dan pengamatan;
b. Suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, dan rumus yang
melalui percobaan-percobaan yang sistematis dilakukan berulangkali dan
teruji kebenarannya, dapat diajarkan dan dipelajari. (S.P. Siagian, 1996:20).
Adapun pembagian ilmu dapat digambarkan di bawah ini.
BAGAN PEMBAGIAN ILMU

llmu-ilmu Eksakta

FILSAFAT

Ilmu-lmu Sosial

Humaniora

Matematika
Fisika
Kimia
Statistika
Teknik Kalkulus, dsb.
Sejarah
Hukum
Psikologi
Ekonomi
Politik
Sosiologi
Antropologi
Administrasi, dsb.
Seni Sastra
Seni Tari
Seni Suara
Seni Musik
Seni Lukis
Seni Patung, dsb.
Sumber : S.P. Siagian, 1996:22.

Hubungan ilmu, seni, dan teori :


a. Ilmu mengajarkan tentang sesuatu;
b. Seni mengajarkan bagaimana sesuatu itu dilakukan, atau penerapan pengetahuan dalam pelaksanaan pekerjaan;

27

c. Teori :
1) Prinsip umum yang dirumuskan untuk menerangkan sekelompok gejala
yang saling berkaitan;
2) Penjelasan tentang bagaimana peristiwa tertentu terjadi sehingga membentuk batang tubuh pengetahuan.
4. Beberapa pengertian filsafat menurut para ahli :
a. Para filsuf Yunani dan Romawi :
1) Plato (427-348 sM) :
Filsafat ialah ilmu pengetahuan untuk mencapai kebenaran yang asli.
2) Aristoteles (382-322 sM) :
Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi,
politik, sostetika.
3) Cicero (106-043 sM) :
Filsafat ialah ibu dari semua ilmu pengetahuan lainnya. Filsafat ialah ilmu
pengetahuan terluhur dan keinginan untuk mendapatkannya.
b. Para Filsuf Abad Pertengahan :
1) Descrates (1596-1650) :
Filsafat ialah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan
manusia menjadi pokok penyelidikannya.
2) Immanuel Kant (1724-1804) :
Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal segala
pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan, yaitu :
a) Apakah yang dapat kita ketahui? Jawabannya termasuk bidang metafisika.
b) Apakah yang seharusnya kita kerjakan? Jawabannya termasuk bidang
etika.
c) Sampai di manakah harapan kita? Jawabannya termasuk bidang agama.
d) Apakah yang dinamakan manusia itu? Jawabannya termasuk bidang antropologi.
28

c. Para Pakar Indonesia :


1) I.R. Pudjawijatna :
Filsafat ialah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya
bagi segala sesuatu berdasarkan atas pikiran belaka.
3) Dardji Darmodihardjo :
Filsafat ialah pemikiran manusia dalam usahanya mencari kebijak-sanaan
dan kebenaran yang sedalam-dalamnya sampai ke akar-akarnya (radikal;
radik = akar), teratur (sistematik), dan menyeluruh (universal).

B. ALIRAN, OBYEK, CABANG, TUJUAN, DAN KEGUNAAN FILSAFAT


1. Aliran-aliran Filsafat.
a. Materialisme :
Mengajarkan bahwa hakikat realitas adalah kesemestaan, termasuk mahluk
hidup, manusia, ialah materi (kebendaan). Semua realitas ditentukan oleh
materi serta terikat pada hukum alam dan hukum sebab-akibat (kausalitas)
yang bersifat obyektif;
b. Idealisme/Spiritualisme :
Mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan
pengertian manusia. Kesadaran atas realitas dirinya dan kesemestaan karena
ada akal budi dan kesadaran rohani. Manusia yang tidak sadar atau mati,
sama sekali tidak menyadari dirinya. Jadi hakikat diri dan kenyataan ialah akal
budi (ide dan spirit);
b. Realisme :
Merupakan sintesis dari ke dua aliran di atas. Jadi, realisme adalah perpaduan antara jasmaniah-rohaniah, materi dan non materi.

2. Obyek Filsafat.
a. Forma

untuk mengerti segala sesuatu yang ada sedalam-dalamnya,

hakikatnya metafisis;
b. Materia

mengenai segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.


29

3. Cabang-cabang Filsafat.
a. Metafisika

yang membahas tentang hal-hal bereksistensi di balik fisis,

yang meliputi bidang ontologi, kosmologi, dan antropologi;


b. Epistemologi

yang berkaitan dengan persoalan hakikat pengetahuan;

c. Ontologi

yang menyelidiki hakikat dari realita yang ada, atau hakikat apa

yang dikaji;
d. Aksiologi

bidang yang menyelidiki nilai. Atau nilai kegunaan ilmu.

e. Metodologi

yang berkaitan dengan persoalan hakikat metode dalam ilmu

pengetahuan;
f. Logika

yang berkaitan dengan filsafat berpikir, yaitu rumus-rumus dan

dalil-dalil berpikir yang benar;


g. Etika

yang berkaitan dengan mora;litas dan tingkah laku manusia;

h. Estetika

yang berkaitan dengan hakikat keindahan.

4. Tujuan Filsafat.
a. Teoritis

berusaha mencapai kenyataan/mencapai hal yang nyata;

b. Praktis

untuk memperoleh pedoman hidup.

5. Kegunaan Filsafat.
Untuk memberikan dinamika dan ketekunan dalam mencari kebenaran, arti, dan
makna hidup.

C. PEMBAHASAN PANCASILA SECARA ILMIAH


Menurut Pujawiyatna, syarat-syarat ilmiah harus berobyek, bermetode, bersistem,
dan bersifat universal. Berkenaan dengan Pancasila, maka :
1. Obyek.
a. Obyek Formal :
Pancasila sebagai suatu sudut pandang tertentu :
1) Moral
2) Ekonomi

moral Pancasila;
ekonomi Pancasila.
30

b. Obyek Material :
Pancasila merupakan sarana pembahasan dan pengkajian baik yang
bersifat empiris maupun non empiris.
1) Empiris

hasil budaya bangsa;

2) Non Empiris

nilai-nilai budaya, moral, yang tercermin dalam kepribadi-

an, sifat, karakter, dan pola-pola budaya dalam bermasyarakat, berbangsa,


dan bernegara.
2. Metode.
Menggunakan hukum-hukum logika dalam menarik kesimpulan :
a. Hermeneutika

untuk menemukan makna di balik obyek;

b. Analitico Synthetic

perpaduan analisis dan sintesis;

c. Koherensi Historis

keterkaitan obyek yang runtut dalam sejarah;

d. Pemahaman, penafsiran, dan interpretasi.


Kesemuanya dipakai karena Pancasila dapat ditinjau dari berbagai aspek, misalnya berkaitan dengan nilai-nilai hasil budaya dan obyek sejarah.
3. Sistem.
Sistem adalah keseluruhan (totalitas) daripada komponen yang terdiri dari sub
komponen-sub komponen yang masing-masing mempunyai fungsi sendirisendiri, tetapi satu sama lain saling berkaitan (interrelasi) dan bergantungan
(interdependensi) sehingga membentuk keterpaduan. Pengetahuan ilmiah harus
merupakan sesuatu yang bulat dan utuh. Bagian-bagiannya harus saling berhubungan (interrelasi dan interdependensi) menjadi satu kesatuan.

Berkaitan

dengan Pancasila, maka sila-silanya merupakan kesatuan yang terpadu, saling


kait-mengkait, bergantungan (interdepedensi), tidak terpisahkan, sehingga disebut majemuk tunggal dan hierarkis piramidal.
4. Universal.
Umum, tidak terbatas oleh, ruang, waktu, keadaan/situasi, kondisi, maupun jumlah tertentu. Dalam hal ini intisari, esensi, dan makna dari sila-sila Pancasila
adalah universal, dalam arti, dapat diterapkan kapan saja, di mana saja, dan da31

lam situasi apa saja.

D. PANCASILA DITINJAU DARI TINGKATAN PENGETAHUAN ILMIAH


Tingkatan pengetahuan ilmiah adalah : Deskriptif, kausal, normatif, dan esensial.
1. Deskriptif

menjawab pertanyaan bagaimana?

Pancasila dikaji secara obyektif dengan menerangkan, menjelaskan, dan menguraikan sesuai dengan kenyataan sebagai hasil budaya bangsa. Hal ini akan
berkaitan dengan sejarah perumusan, nilai-nilai, kedudukan dan fungsi Pancasila.
Dalam hal ini Pancasila adalah sebagai dasar filsafat dan ideologi negara,
pandangan hidup bangsa, moral pembangunan, dsb.
2. Kausal

menjawab pertanyaan mengapa?

Memberikan jawaban sebab-akibat. Proses kausalitas terjadinya Pancasila meliputi empat kausa, yaitu materialis, formalis, efisien, dan finalis.

Pancasila

sebagai sumber nilai dalam segala realisasi dan penjabarannya berkaitan dengan
hukum kausal.
3. Normatif

menjawab pertanyaan ke mana?

Berkaitan dengan suatu ukuran, parameter, dan norma-norma. Karena Pancasila


untuk diamalkan, direalisasikan, dan dikonkritisasikan, maka harus memiliki
norma yang jelas, yaitu norma hukum, moral, etika, dan norma kenegaraan.
4. Esensial

menjawab pertanyaan apa?

Memberikan jawaban mendalam tentang hakikat sesuatu. Kajian Pancasila


secara esensial adalah untuk mendapatkan pengetahuan tentang intisari atau
makna yang dalam dari sila-sila Pancasila. Menurut Lili Rajidi dalam Filsafat
Hukum Pancasila (1967:10), hakekat sesuatu adalah tempat sesuatu di dalam
semesta dan hubungan sesuatu tadi dengan isi alam semesta yang lain. Jadi yang
berfilsafat itu adalah manusia, dan dirinyalah pertama-tama yang memperoleh
perhatiannya.
32

E. NILAI-NILAI PANCASILA BERWUJUD DAN BERSIFAT FILSAFAT


Filsafat (falsafah) Pancasila = Pengetahuan yang mendalam tentang Pancasila.
Pengertian yang mendalam didapat dari sila-sila Pancasila. Hakikat dan pokokpokok dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dimaksud adalah :
1. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

dijadikan dasar dan pedoman

dalam mengatur sikap dan tingkah laku manusia Indonesia dalam hubungannya
dengan Tuhan, masyarakat, dan alam semesta.
2. Pancasila sebagai dasar negara

dijadikan dasar dan pedoman dalam meng-

atur kehidupan bernegara. Dalam kegiatan praktis operasional dijabarkan dalam


peraturan perundang-undangan.
3. Pancasila yang dirumuskan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945
merupakan kebulatan yang utuh.
4. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan uraian rinci dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dijiwai oleh Pancasila.
5. Pokok-pokok Pikiran yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 dan dijabarkan dalam Batang Tubuh (Bab dan Pasal-pasalnya) adalah
perwujudan dari jiwa Pancasila.
6. Kesatuan tafsir sila-sila Pancasila harus bersumber dan berdasarkan Pem-bukaan
dan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945.
7. Nilai-nilai yang hidup berkembang dalam masyarakat yang belum tertam-pung
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 perlu diselidiki untuk
memperkuat dan memperkaya nilai-nilai Pancasila :
a. Nilai-nilai yang memperkuat dan menunjang kehidupan bermasya-rakat,
berbangsa, dan bernegara diterima, asal tidak bertentangan dengan
kepribadian bangsa dan nilai-nilai Pancasila;
b. Nilai-nilai yang bertentangan dan melemahkan, jangan dimasukkan sebagai
nilai-nilai Pancasila, bahkan jangan sampai hidup apalagi berkembang;
c. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
dan Batang Tubuhnya dipergunakan sebagai batu ujian dari nilai-nilai yang
lain agar dapat diterima sebagai nilai-nilai Pancasila.

33

F. PENGERTIAN PANCASILA SECARA FILSAFAT


Terdapat dua hal tentang filsafat, yaitu sebagai metode dan sebagai suatu pandangan. Berkaitan dengan Pancasila, maka :
1. Yang dapat menjadi substansi pembentukan ideologi Pancasila sebagai metode,
menunjukkan cara berpikir dan analisis untuk menjalankan ideologi Pancasila.
2. Sebagai suatu pandangan, berupa nilai dan hasil pemikiran.
Jadi, filsafat Pancasila adalah refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila
sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa. Dengan mengikuti definisi
filsafat menurut Noor Ms Bakry (2009:25), maka filsafat Pancasila adalah pemikiran
secara kritik dan sistematik untuk mencari hakikat atau kebenaran lima prinsip
kehidupan manusia. Pemikiran secara kritik yang dimaksudkan di sini selalu menanyakan tentang hakikat atau kebenaran, misalnya :
1. Apa Pancasila itu sehingga dinyatakan sebagai jiwa bangsa Indonesia?
2. Apa benar kepribadian bangsa Indonesia adalah Pancasila?
Dua pertanyaan tersebut di atas membutuhkan pembuktian dan penelitian
yang mendalam untuk menjawabnya. Dan jawabannya berhubungan satu sama lain
sebagai satu kesatuan dan tidak ada kontradiski di dalamnya, sehingga merupakan
suatu uraian yang sistematik.
Lebih lanjut Noor Ms Bakry (2009:46-53), mengemukakan penetapan Pancasila menjadi dasar filsafat negara, memiliki tiga keseimbangan, yaitu :
1. Kesimbangan Konsensus Nasional.
Hal ini terjadi karena pada saat perumusan dasar negara dan hukum dasar negara di BPUPKI terdapat perbedaan pendapat dan cita-cita mendirikan negara
merdeka, khususnya antara golongan agama Islam yang memperjuangkan
pembentukan negara Islam, yaitu negara yang berdasarkan syariat Islam, dengan
golongan kebangsaan atau nesionalis yang menginginkan negara sekuler, yaitu
negara yang tidak berurusan dengan agama. Maka Pancasila adalah jalan tengah
yang mempertemukan dua gagasan dari perbedaan dimaksud, di antaranya
pencantuman tambahan kalimat Yang Maha Esa mengikuti sila pertama
Ketuhanan, yang mencerminkan ketauhidan, atau masuknya ajaran agama dalam
dasar falsafah Pancasila, sehingga dapat diterima oleh golongan agama (Islam).
34

Sementara itu keinginan golongan nasionalis pun diterima karena memuat


unsur-unsur yang dijunjung tinggi oleh semua golongan dan lapisan masyarakat
Indonesia yang merupakan kesatuan nilai-nmilai luhur yang menjadi kepribadian
bangsa. Karenanya negara Indonesia disebut juga Negara Theis Demokrasi.
2. Keseimbangan Sistem Kemasyarakatan.
Hal ini adalah bentuk keseimbangan antara sifat individu dan sifat sosial, yang
keduanya merupakan kodrat manusia. Masyarakat tidak mungkin ada jika tidak
ada individu-individu manusia, sebaliknya individu tidak berati apa-apa tanpa
kehidupan bermasyarakat. Jadi, Pancasila menyeimbangkan sifat individu dan
sifat sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga
merupakan titik perimbangan yang mempertemukan aliran individualisme dan
kolektivisme, sehingga disebut Negara Monodualisme.
3. Keseimbangan Sistem Kenegaraan.
Dalam hal ini Pancasila merupakan sintesis antara dasar-dasar kenegaraan
modern tentang sistem demokrasi dengan tradisi lama kehidupan bangsa
Indonesia, yaitu sistem musyawarah mufakat untuk menegakkan negara modern.
Dengan perkataan lain, sintesis antara ide-ide besar dunia dengan ide-ide asli
Indonesia, menjadi paham dialektik kenegaraan, yang bertitik tolak dari paham
bangsa yang hidup bersama dalam kekeluargaan bangsa-bangsa, sehingga
terbuka untuk pemikiran baru dan dinamis, dan negaranya disebut Negara
Dialektik.

G. PANCASILA SEBAGAI DASAR DAN ARAH KESEIMBANGAN ANTARA HAK DAN


KEWAJIBAN ASASI MANUSIA
Nilai-nilai Pancasila mengandung beberapa hubungan manusia yang melahirkan keseimbangan antara hak dengan kewajiban.
1. Hubungan Vertikal

antara manusia dengan sang Khalik sebagai penjelmaan

nilai-nilai Ketuhanan YME :


a. Manusia memanfaatkan alam ciptaan Tuhan YME;
b. Manusia harus bertaqwa kepada Tuhan YME;
c. Akan ada pembalasan atas amal manusia
35

Surga dan Neraka.

2. Hubungan Horizontal

antara manusia dengan sesamanya, baik dalam fungsi-

nya sebagai warga masyarakat, warga bangsa, dan warga negara. Dari sini
melahirkan hak dan kewajiban yang harus seimbang.
3. Hubungan Alamiah

antara manusia dengan alam sekitarnya, yaitu dengan

hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam beserta kekayaan yang terkandung di


dalamnya. Alam dimanfaatkan oleh manusia, tetapi manusia wajib melestarikan
alam.

H. ALASAN PRINSIP PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP DAN IDEOLOGI


1. Mengakui adanya kekuatan gaib yang ada di luar diri manusia

Tuhan YME.

2. Keseimbangan dalam hubungan, keserasian, dan keselarasan

perlu pengen-

dalian diri.
3. Dalam mengatur hubungan, peranan dan kedudukan manusia sebagai anggota
masyarakat dan bangsa sangat penting

persatuan dan kesatuan bangsa

merupakan nilai sentral.


4. Kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan, dan musyawarah untuk mufakat
sendi kehidupan bersama.
5. Kesejahteraan

tujuan hidup bersama.

Sebagai suatu pemikiran filsafat tentang negara, Pancasila memberikan


jawaban mendasar dan menyeluruh terhadap lima masalah :
1. Apa negara itu?
Jawabannya dengan prinsip kebangsaan (Persatuan Indonesia).
2. Bagaimana hubungan antarbangsa/antarnegara?
Jawabannya dengan prinsip

perikemanusiaan

(Kemanusiaan yang adil dan

beradab).
3. Siapakah sumber dan pemegang kekuasaan negara?
Jawabannya dengan prinsip demokrasi (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan).
4. Apa tujuan negara?
Jawabannya dengan prinsip kesejahteraan (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
36

Indonesia).
5. Bagaimana hubungan antara agama dengan negara? Jawabannya dengan
prinsip Ketuhanan (Ketuhanan Yang Maha Esa).

I. PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL


1. Pengertian Ideologi.
Ideologi berasal dari bahasa Yunani, idea (eidos) + logos = gagasan berdasarkan
pemikiran yang dalam dan merupakan pemikiran filsafat.

Dalam arti luas

(terbuka), ideologi berarti segala kelompok cita-cita, nilai-nilai dasar, dan


keyakinan-keyakinan yang hendak dijunjung tinggi sebagai pedoman normatif.
Sedangkan dalam arti sempit (tertutup), ideologi berarti gagasan atau teori yang
menyeluruh tentang makna hidup dan nilai-nilai yang hendak menentukan
dengan mutlak bagaimana manusia harus hidup dan bertindak.
Beberapa definisi ideologi dikemukakan juga oleh para ahli :
a. Menurut Gunawan Setiardja (1993), ideologi dapat dirumuskan sebagai seperangkat ide asasi tentang manusia dan seluruh realitas yang dijadikan
pedoman dan cita-cita hidup.
b. Menurut Padmo Wahyono, ideologi adalah kesatuan yang bulat dan utuh dari
ide-ide dasar yang merupakan kelanjutan atau konsekuensi daripada
pandang-an atau falsafah hidup bangsa, berupa seperangkat tata nilai yang
diutamakan akan terealisasi dalam kehidupan berkelompok.
c. Menurut Alfian, ideologi adalah suatu pandangan hidup atau sistem nilai yang
menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang oleh suatu masyarakat
tentang bagaimana cara sebaiknya yaitu yang secara moral dianggap benar
dan adil, mengatur tingkah laku bersama dalam kehi-dupan duniawi.
d. Menurut Noor Ms Bakry (2009:64), definisi ideologi secara umum adalah
kesatuan gagasan-gagasan dasar yang sistematik dan menyeluruh tentang
manusia dan kehidupannya baik individual maupun sosial dalam kehidupan
kenegaraan.
37

e. Menurut BP-7 Pusat (1993), ideologi juga diartikan sebagai ajaran, doktrin,
teori, atau ilmu yang diyakini kebenarannya, yang disusun secara sistematis
dan diberi petunjuk pelaksanaanya dalam menanggapi dan menyelesaikan
masalah yang dihadapi (dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara).
Ideologi berada setingkat di bawah filsafat. Bedanya, filsafat digerakkan
oleh kecintaan kepada kebenaran dan tanpa pamrih, sementara ideologi
digerakkan oleh tekad untuk mengubah keadaan yang tidak diinginkan menuju
ke arah keadaan yang diinginkan. Dengan demikian, dalam ideologi sudah ada
komitmen dan wawasan masa depan yang dikehendaki atau untuk diwujudkan
dalam kenyataan. Bagi suatu bangsa dan negara, ideologi itu adalah wawasan,
pandangan hidup atau falsafah kebangsaan dan kenegaraan. Oleh karenanya
dengan ideologi, akan menjawab secara meyakinkan pertanyaan mengapa dan
untuk apa menjadi satu bangsa dan mendirikan negara. Jadi, ideologi adalah
landasan sekaligus tujuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
Ideologi berintikan serangkaian nilai, norma, atau sistem nilai dasar yang
bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang oleh suatu
masyarakat atau bangsa sebagai wawasan atau pandangan hidup mereka.
Melalui rangkaian atau sistem dasar itu mereka mengetahui bagaimana cara
yang paling baik, yang secara moral dan normatif dianggap benar dan adil dalam
bersikap dan bertingkah laku untuk memelihara, mempertahankan, dan
membangun kehidupan duniawi bersama dengan berbagai dimensinya. (Oetojo
Oesman, ibid:6).
Dalam perkembangannya kemudian, ideologi mempunyai pengertian yang
berbeda :
a. Sebagai Weltanschuung (Jrmn), yaitu pengetahuan yang mengandung
pemikiran-pemikiran dan cita-cita besar mengenai sejarah, manusia, masyarakat, dan negara (science of ideas).
b. Sebagai pemikiran yang tidak memperhatikan kebenaran internal dan kenyataan empiris, tumbuh berdasarkan pertimbangan kepentingan tertentu. Ke38

cenderungannya bersifat tertutup.


c. Sebagai suatu belief system, dan karenanya berbeda dengan ilmu, filsafat,
ataupun teologi yang secara formal merupakan suatu knowledge system
(bersifat reflektif, sistematis, dan kritis).
Terdapat empat tipe ideologi :
a. Ideologi Konservatif, yang memelihara keadaan yang ada (statusquo).
b. Kontra Ideologi, yang melegitimasi penyimpangan yang ada dalam masyarakat
sebagai yang sesuai, dan malah dianggap baik.
c. Ideologi Reformis, yang berkehendak mengubah keadaan.
d. Ideologi Revolusioner, yang bertujuan mengubah seluruh sistem nilai masyarakat yang ada.
Dikenal juga ideologi negara, ideologi bangsa, dan ideologi nasional.
Ideologi negara dikaitkan dengan pengaturan penyelenggaraan pemerintahan
negara. Ideologi bangsa dikaitkan dengan pandangan hidup bangsa. Sedangkan
ideologi nasional mencakup kedua-duanya, yaitu ideologi negara dan bangsa.
Ideologi nasional bangsa Indonesia yang tercermin dan terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945 adalah ideologi perjuangan yang sarat dengan jiwa dan
semangat perjuangan bangsa Indonesia untuk mewujudkan negara merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Dalam alinea pertama Pembukaan UUD 1945 terkandung motivasi, dasar,
dan pembenaran perjuangan (kemerdekaan adalah hak segala bangsa;
penjajahan bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan). Dalam
alinea kedua terkandung cita-cita bangsa (negara yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur). Dalam alinea ketiga termuat petunjuk atau tekad
pelaksanaannya (menyatakan kemerdekaan atas berkat Rahmat Alloh Yang
Maha Kuasa). Dan dalam alinea keempat termuat tujuan nasional/tugas negara,
penyusunan undang-undang dasar, bentuk susunan negara yang berkedaulatan
rakyat dan dasar negara Pancasila.
Pembukaan UUD 1945 yang mengandung pokok-pokok pikiran yang dijiwai
Pancasila, dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal-pasal Batang Tubuh UUD 1945.
Karenanya Pembukaan UUD 1945 memenuhi persyaratan sebagai ideologi yang
39

memuat ajaran, doktrin, teori, dan/atau ilmu tentang cita-cita/ide bangsa Indonesia yang diyakini kebenarannya dan disusun secara sistematis serta diberi
petunjuk pelaksanaannya.
Pancasila sebagai ideologi nasional dapat diartikan sebagai suatu pemikiran
yang memuat pandangan dasar dan cita-cita mengenai sejarah, manusia, masyarakat, hukum, dan negara Indonesia yang bersumber dari kebudayaan Indonesia.
2. Unsur-unsur Ideologi.
Ideologi selalu berkaitan dengan pandangan hidup suatu bangsa sebagai dasar
filsafatnya yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur yang diyakini kebenarannya. Menurut Kunto Wibisono dalam Noor Ms Bakry (2009:64-65), setiap
ideologi selalu bertolak dari suatu keyakinan filsafati tertentu, yaitu pandangan
tentang apa, siapa, dan bagaimana manusia itu sebagai pendukungnya, terutama
dalam kaitannya dengan kebebasan pribadi dalam konteks hak dan kewajibannya
terhadap masyarakat dan negara, baik dalam dimensi material maupun dimensi
spiritualnya. Penjabarannya tercermin dalam kehidupan praktis, baik di bidang
politik, ekonomi, sosial-budaya, maupun pertahanan keamanan.
Kunto Wibisono mengemukakan bahwa dalam setiap ideologi selalu
tersimpul adanya tiga unsur pokok, yaitu keyakinan, mitos, dan loyalitas.
a. Unsur Keyakinan.
Setiap ideologi selalu memuat konsep-konsep dasar yang menggambarkan
seperangkat keyakinan yang diorientasikan kepada tingkah laku para pendukungnya untuk mencapai suatu tujuan yang dicita-citakan.

Contohnya,

liberalisme meyakini kebebasan mengejar hidup di tengah-tengah kekayaan


material yang melimpah dan didapat dengan bebas, akan tercapai kesejahteraan hidup. Komunisme meyakini bahwa kesetaraan sosial (tanpa kelas),
kerjasama sosial, dan solidaritas sosial akan mendatangkan kebahagiaan
bersama. Demikianlah Pancasila bagi bangsa Indonesia merupakan seperangkat nilai luhur yang diyakini kebenarannya, akan mewujudkan masyarakat
Indonesia yang aman sejahtera, selaras, serasi, dan seimbang antara
kehidupan individu dengan kehidupan masyarakat, fisik-material dan mental40

spiritual, bahkan dunia dan akhirat karena didasari juga ajaran agama, sebagai
bentuk konkrit dari Ketuhanan Yang Maha Esa.
b. Unsur Mitos.
Setiap ideologi selalu memitoskan suatu ajaran dari seseorang atau beberapa
orang sebagai kesatuan, yang secara fundamental mengajarkan cara bagaimana sesuatu hal ideal itu pasti akan dapat dicapai. Contohnya, liberalisme
memitoskan Herbert Spencer, Harold J. Laski, Thomas Hobbes, Jean Jacques
Rousseau, dll., yang mengajarkan kebebasan. Komunisme memitoskan ajaran
Karl Marx tentang sosial, ekonomi, politik, yang kemudian disistematisasikan
oleh Frederick Engel, dan diikuti oleh Lenin, Stalin, Mao Zedong. Demikianlah
Pancasila yang diagungkan dari PPKI bukanlah konsep orang-perorang, tetapi
konsensus nasional, karena kemudian disepakati bersama dan diyakini akan
membawa kemaslahatan hidup bagi bangsa Indonesia.
c. Unsur Loyalitas.
Setiap ideologi selalu menuntut adanya kesetiaan serta keterlibatan optimal
para pendukungnya. Untuk mendapatkan derajat penerimaan optimal ini
terkandung juga tiga sub unsur, yaitu rasional, penghayatan, dan kesusilaan.
Contohnya, pendukung liberalisme setia, karena membela hak asasi manusia,
dapat dinalar, dan dapat diwujudkan dalam kehidupan. Komunisme setia,
karena dapat memberikan suasana hidup aman tanpa pertentangan kelas,
dapat dinalar, dan dapat dilaksanakan dalam kehidupan. Demikianlah pendukung Pancasila setia, karena dapat menyatukan bangsa yang majemuk, dapat
dipikirkan, diwujudkan dalam kehidupan, serta sesuai dengan keadaban.
3. Makna Ideologi Bagi Negara.
Pancasila sebagai ideologi nasional mengandung nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, yaitu cara berpikir dan cara kerja perjuangan. Karena itu perlu dipahami
dengan latar belakang sejarah perjuangan bangsa. Pancasila sebagai dasar negara perlu difahami dengan latar belakang konstitusi proklamasi atau hukum dasar
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yaitu dari komponen
UUD 1945 yang terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh, dan Penjelasannya.
41

Menurut Suryanto Puspowardoyo dalam Oetojo Oesman (1991:48), ideologi mempunyai beberapa fungsi, yaitu memberikan :
a. Struktur kognitif, ialah keseluruhan pengetahuan yang dapat merupakan
landasan untuk memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian-kejadian
dalam alam sekitarnya.
b. Orientasi dasar, dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta
menunjukkan tujuan dalam kehidupan manusia.
c. Norma-norma, yang menjadi pedoman dan pegangan bagi seseorang untuk
melangkah dan bertindak.
d. Bekal dan jalan, bagi seseorang untuk menemukan identitasnya.
e. Kekuatan, yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang untuk
menjalankan kegiatan dan mencapai tujuan.
f. Pendidikan, bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati,
serta memolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma
yang terkandung di dalamnya.
Pancasila bersifat integralistik, yaitu faham tentang hakikat negara yang
dilandasi konsep kehidupan bernegara, ialah persatuan dan kebersamaan.
Pancasila bersifat integralistik karena :
a. Mengandung semangat kekeluargaan dalam kebersamaan;
b. Adanya semangat kerjasama;
c. Memelihara persatuan dan kesatuan;
d. Mengutamakan musyawarah untuk mufakat.
Untuk memahami konsep integralistik Pancasila, ada baiknya jika dikemukakan beberapa teori (paham) mengenai dasar negara sebagai perbandingan.
a. Teori Perseorangan (Individualistik).
Tokohnya Herbert Spencer (1820-1903) dan Harold J. Laski (1893-1950).
Menurut teori ini negara adalah masyarakat hukum legal (legal society) yang
disusun atas kontrak antar seluruh orang yang ada dalam masyarakat itu
(social contract). Negara dipandang sebagai organisasi kesatuan pergaulan
hidup yang tertinggi.

Hak orang-orang (HAM) lebih tinggi kedudukannya

daripada negara yang merupakan hasil bentukan individu-individu. Lebih-lebih


42

dengan semangat renaissance seolah menemukan kembali kepribadiannya


sebagai orang bebas, dalam kedudukan dan taraf yang sama.
b. Teori Golongan (Class Theory).
Tokohnya Marl Marx (1818-1883).

Menurut teori ini negara merupakan

penjelmaan dari pertentangan-pertentangan kekuatan ekonomi.

Negara

dipergunakan sebagai alat oleh mereka yang kuat untuk menindas golongan
lemah. Yang kuat adalah yang memiliki alat-alat produksi, sedangkan yang
tidak punya apa-apa (umumnya kaum buruh) disebut proletar. Jika dalam
masyarakat sudah tidak ada lagi perbedaan kelas dan pertentangan ekonomi,
negara akan lenyap dengan sendirinya. Negara terjadi dalam sejarah perkembangan masyarakat melalui tiga fase : Fase Borjuis, fase Kapitalis, dan fase
Sosialis-Komunis.
c. Teori Kebersamaan (Integralistik).
Tokohnya Spinoza dan Adam Muhler. Menurut teori ini negara adalah susunan masyarakat yang integral di antara semua golongan dan semua bagian.
Persatuan masyarakat sifatnya organis. Negara menyatu dengan rakyat dan
tidak memihak ke salah satu golongan. Kepentingan pribadi perlu, tetapi tidak
lebih diutamakan. Kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai
satu kesatuan tidak dapat dipisah-pisahkan.
Mr. R. Supomo menganggap teori ini yang paling pas untuk bangsa
Indonesia, lebih-lebih jika diingat masyarakatnya yang beraneka ragam.
Menurut beliau, negara dalam cara pandang integralistik, pemerintah tidak
akan memiliki kepentingan sendiri yang terlepas atau bertentangan dengan
kepentingan rakyat. Semua pihak mempunyai fungsi masing-masing dalam
suatu kesatuan yang utuh sebagai suatu totalitas.
Paham integralistik menurut Syahrial Syarbaini (2011:44) adalah paham
negara persatuan, yang tercermin dalam nilai-nilai dasar kekeluargaan, antara lain :
1) Persatuan dan kesatuan serta saling ketergantungan satu sama lain dalam
masyarakat;
2) Bertekad dan berkehendak sama untuk kehidupan kebangsaan yang bebas,
43

merdeka, dan bersatu;


3) Cinta tanah air dan bangsa serta kebersamaan;
4) Kedaulatan rakyat dengan sikap demokratis dan toleran;
5) Kesetiakawanan sosial dan nondiskriminatif;
6) Berkeadilan sosial dan kemakmuran rakyat;
7) Menyadari bahwa bangsa Indonesia berada dalam tata pergaulan dunia
dan universal;
8) Menghargai harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan
Yang Maha Esa.
Dalam kaitan itu Notonagoro (1971:25), mengemukakan bahwa negara
kita sifatnya mutlak monodualis kemanusiaan, bukan negara liberal, bukan
negara kekuasaan belaka atau diktator, bukan negara materialis. Negara kita
adalah negara terdiri atas perseorangan yang bersama-sama hidup baik dalam
kelahiran maupun dalam kebatinan, yang mempunyai kedua-duanya kebutuhan
dan kepentingan perseorangan serta kebutuhan dan kepentingan bersama.
4. Perbandingan Ideologi Pancasila dengan Ideologi Lain.
a. Ideologi Liberalisme.
Ideologi ini mulai tumbuh di Inggris sebagai akibat alam pemikiran yang
disebut zaman pencerahan (aufklaruung) yang menyatakan bahwa manusia
memberikan penghargaan dan kepercayaan yang besar pada rasio. Rasio
dianggap sebagai kekuatan yang menerangi segala sesuatu di dunia.
Ajaran liberalisme bertitik tolak dari hak asasi yang melekat pada manusia sejak lahir yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun termasuk
penguasa, kecuali dengan persetujuan yang bersangkutan. Hak asasi memiliki
nilai-nilai dasar (intrinsic) berupa kebebasan dan kepentingan pribadi yang
menuntut kebebasan individu secara mutlak untuk mengejar kebahagiaan
hidup di tengah-tengah kekayaan material yang melimpah dan diperoleh
dengan bebas. Faham liberalisme selalu mengaitkan pikirannya dengan hak
asasi manusia.
Ideologi liberalisme jelas tidak sesuai dengan Pancasila yang memandang
44

manusia sebagai mahluk Tuhan, yang mengemban tugas sebagai pribadi


(individu) sekaligus masyarakat (sosial), sehingga dalam kehidupannya wajib
menyelaraskan kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat, dan
haknya selalu dikaitkan dengan kewajibannya terhadap masyarakat.
b. Ideologi Komunisme.
Ideologi ini disebut juga sosialisme, didasarkan atas kebendaan, dan tidak
percaya kepada Tuhan (atheisme). Agama dikatakannya sebagai racun masyarakat. Ajaran ini dikemukakan oleh Karl Marx dalam Das Capital-nya,
kemudian diikuti dan ditambah oleh Hegel, F. Engels, dan Lenin, sehingga
kemudian sering disebut Marxisme-Leninisme. Sementara di China dikembangkan oleh Mao Tse Tung (Mao Zedong).

Di Indonesia oleh H.J.F.M.

Sneevliet, seorang anggota Social Democratische Arbeiderspartij (SDAP) atau


partai buruh sosial demokrat Belanda yang diikuti Semaun, Darsono, Alimin,
Muso, dll., sampai D.N. Aidit. Masyarakat komunis tidak bercorak nasional.
Masyarakat yang hendak dibangun adalah masyarakat komunis dunia
(Komintern = Komunis Internasional). Seruannya adalah, Kaum buruh di
seluruh dunia bersatulah!
Masyarakat komunis masa depan adalah masyarakat tanpa kelas yang
dianggap akan memberikan suasana hidup aman tenteram, dengan tidak
adanya hak milik pribadi atas alat produksi dan hapusnya pembagian kerja.
Perombakan masyarakat hanya mungkin dapat dilakukan oleh kaum
proletar dengan jalan revolusi. Setelah revolusi sukses maka kaum proletar
saja yang akan memegang pimpinan pemerintahan, tetapi kenyataannya
pemerintahan di negara-negara komunis dijalankan secara mutlak (diktator
proletariat).
Jelas ajaran atau ideologi komunis ini tidak sesuai dengan Pancasila yang
mengajarkan Ketuhanan YME, dan nasionalisme yang dijiwai oleh kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, musyawaah, dan keadilan sosial.
Ternyata ada juga sosialisme yang bukan komunis, seperti di negaranegara Barat, termasuk juga di Australia. Di sini demokrasi adalah untuk

45

kolektifitas, masyarakat sama dengan negara, dan peran negara untuk pemerataan, yang diutamakan adalah keadilan distributif.
Untuk lebih jelasnya perbandingan ideologi-ideologi dimaksud dapat
dilihat dalam matrik di bawah ini.

IDEOLOGI

ASPEK
1
POLITIKHUKUM-

EKONOMI
AGAMA

PANDANGAN
TERHADAP
INDIVIDU
DAN
MASYARAKAT

LIBERALISME

KOMUNISME

2
- Demokrasi liberal.
- Hukum untuk meraklindungi individu.
- Politik memen-mut
tingkan individu.
- Peran negara kecil.
dom
- Swasta menominasi.
- Monopolisme. - Persaingan bebas.
- Urusan pribadi.- Bebas memilih agama, atau tidak
beragama.
-

3
- Demokrasirakyat. - Yang berkuasa
mutlak satu
parpol. - Hukum untuk
melanggengkan
Komunis.
- Peran negara
dominan. - Kolektivitas
untuk negara.
- Monopoli negara.
- Racun masyaRakat.
- Harus dijauhkan dari masyarakat.

- Individu lebih pen


ting daripada masyarakat.
- Masyarakat diabdikan bagi individu.
-

- Individu tidak
penting. - Masyarakat
- tidak penting.
- Kolektivitas yg
dibentuk negara lebih pen
ting.

46

SOSIALISME
4
- Demokrasi
- -ko- lektivitas. casila
- Diutamakan
Kebersamaan.
- Masyarakat
sama dengan
negara. - Peran negara
untuk pemera
taan.
- Yang diutama
kan keadilan
distributif.
- Harus mendorong berkembangnya keber
samaan. - Masyarakat- le
bih penting- da
ripada individu.
-

PANCASILA
5
- Demokrasi Pan
casila.
- Hukum untuk
menjunjung
tinggi keadilan
dan keberadaan individu &
masyarakat.
- Peran negara
agar tidak terja
di monopoli,
dll. Yang merugikan rakyat.
- Bebas memilih
satu agama.
- Harus menjiwai kehidupan bermasyarakat, berbang
sa, dan bernegara.
- Individu diakui
keberadaannya.
- Masyarakat diakui keberadanya.
- Masyarakat ada karena ada
Individu, dan
Individu hanya
punya arti jika
hidup di tengah-tengah
masyarakat.
- Hubungan indi
vidu dan masyarakat selaRas, serasi, se-

CIRI KHAS
-

- Penghargaan berlebih atas HAM.- Demokrasi. - Negara hukum - Menolak dogmatisme.


- Reaktif terhadap
absoluitisme. -

- Atheisme. - Dogmatisme.
- Otoriter. - Ingkari HAM.
- Reaktif terhadap liberalisme dan kapita
lisme.

- Kebersamaan.
- Akomodatif.
- Jalan tengah.
da-

Imbang.
- Keselarasan,
keserasian, keseimbangan
dalam setiap
aspek kehidup
an.

Setelah mengetahui dan meyakini mengenai keunggulan ideologi Pancasila


dibanding dengan ideologi-ideologi lain di dunia, maka hendaknya Pancasila
dapat diinternalisasikan pada jiwa dan semangat dalam kehidupan setiap warga
negara Indonesia, dan menjadi landasan nasionalisme atau faham kebangsaan
atau karakter bangsa. Karakter dapat diartikan sebagai sistem daya juang (daya
dorong, daya gerak, dan daya hidup) yang berisikan tata nilai kebajikan akhlak
dan moral yang terpatri dalam diri manusia. (Syahrial Syarbaini, 2011:211).
Berkaitan dengan karakter kebangsaan, kiranya perlu dimulai dengan
tertanamnya rasa kebangsaan atau nasionalisme berlandaskan Pancasila. Nilainilai pembentukan karakter bangsa dapat disebutkan antara lain :
a. Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. Kejujuran;
c. Kedisiplinan;
d. Keikhlasan;
e. Tanggung jawab;
f. Persatuan dan kesatuan;
g. Saling hormat-menghormati;
h. Toleransi;
i. Kerjasama;
j. Gotong royong;
k. Musyawarah;
l. Ramah tamah;
m. Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan;
n. Patriotisme;
o. Kesederhanaan;
47

p. Martabat dan harga diri;


q. Kerja keras dan cerdas;
r. Pantang menyerah.
Pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan dengan membentuk kebiasaan (habits forming) yang baik. Hal ini harus dimulai dari diri sendiri, keluarga,
sekolah, masyarakat, yang kemudian meluas dalam kebidupan berbangsa dan
bernegara.

Pembangunan karakter bangsa harus mendapat prioritas utama

dalam pembangunan nasional, agar bangsa Indonesia terhindar dari berbagai


krisis. Pembangunan karakter dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat
dilakukan dalam berbagai aktivitas, di antaranya :
a. Kepedulian sosial (social sensitivity);
b. Melindungi dan menjaga hubungan baik (naturance and care);
c. Mengembangkan sifat berbagi, kerjasama, dan adil (share, cooperation, and
fairness);
d. Mengedepankan sifat jujur (honesty);
e. Mengedapankan moral dan etika (moral and ethics);
f. Mampu mengontrol dan introspeksi diri (self control and self monitoring);
g. Pribadi yang suka menolong/membantu orang lain (helping others);
h. Mampu menyelesaikan masalah dan konflik sosial (problem solving and social
conflict solution).
5. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka.
a. Arti dan Ciri Ideologi Terbuka.
Ideologi terbuka adalah ideologi yang dapat berinteraksi dengan perkembang
an zaman dan adanya dinamika secara internal. Sumber semangat ideologi
terbuka dapat dilihat dalam Penjelasan UUD 1945 yang menyatakan :
Terutama bagi negara baru dan negara muda, lebih baik hukum dasar yang
tertulis itu hanya memuat aturan-aturan pokok, sedangkan aturan-aturan
yang menyelenggara-kan aturan pokok itu diserahkan kepada undang-undang
yang lebih mudah cara membuatnya, mengubahnya, dan mencabutnya.
Selanjut-nya : ... Yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam
48

hidupnya bernegara ialah semangat, semangat para penyelenggara negara,


semangat para pemimpin pemerintahan. Meskipun dibuat Undang-Undang
Dasar yang menurut kata-katanya bersifat kekeluargaan, apabila semangat
para penyelenggara negara, para pemimpin pemerintahan itu bersifat
perseorangan, Undang-Undang Dasar itu tentu tidak ada artinya dalam
praktek. Sebaliknya, meskipun Undang-Undang Dasar itu tidak sempurna,
akan tetapi jikalau semangat para penyelenggara pemerintahan baik,
Undang-Undang Dasar itu tentu tidak akan merintangi jalannya negara. Jadi
yang paling penting ialah semangat. Maka semangat itu hidup, atau dengan
lain perkataan dinamis. Berhubung dengan itu, hanya aturan-aturan pokok
saja yang harus ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar, sedangkan hal-hal
yang perlu untuk menyelenggarakan aturan-aturan pokok itu harus
diserahkan kepada undang-undang.
Noor Ms Bakry (2009:67) mengemukakan bahwa yang dimaksud ideologi
terbuka adalah kesatuan prinsip pengarahan yang berkembang dialektis serta
terbuka penafsiran baru untuk melihat perspektif ke masa depan dan aktual
antisipatif dalam menghadapi perkembangan dengan memberikan arah dan
tujuan yang ingin dicapai dalam melangsungkan hidup dan kehidupan
nasional.
UUD 1945 memberi kepercayaan yang amat besar pada semangat
kekeluargaan.

Hal ini mencerminkan hakikat nilai kultural yang terdapat

dalam seluruh kebudayaan rakyat Indonesia di daerah-daerah, dan merupakan salah satu rahasia kekuatan UUD 1945, serta Pancasila yang menjiwainya. Sejarah politik di mana pun membuktikan bahwa setiap struktur dan
budaya politik yang mempunyai akar kultural yang kuat, akan mempunyai
daya tahan yang amat kokoh.

Dan dengan konsep itulah bangsa Indonesia

membangun negara kekeluargaan.


Ciri khas ideologi terbuka adalah bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak
dipaksakan dari luar, melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral,
dan budaya masyarakatnya sendiri. Dasarnya adalah konsensus masyarakat sendiri, tidak diciptakan oleh negara.
49

Dengan demikian ideologi terbuka adalah milik seluruh rakyat. Masyarakat dapat menemukan dirinya di dalamnya. Itulah sebabnya ideologi terbuka
bukan hanya dapat dibenarkan tetapi juga dibutuhkan. Keterbukaan ideologi
Pancasila tidak berarti memusnahkan atau meniadakan ideologinya itu sendiri.
Nilai-nilai dasarnya tetap harus dipertahankan.
Suatu ideologi terbuka mengandung semacam dinamika internal yang
memungkinkannya untuk memperbaharui diri atau maknanya dari waktu ke
waktu, sehingga isinya tetap relevan dan komunikatif sepanjang zaman, tanpa
menyimpang dari, apalagi mengingkari hakikat atau jatidirinya. Pembaharuan
diri (self renewal) atau pengembangan maknanya itu bukan berarti merevisi
apalagi mengganti nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya. Jika nilai-nilai
dasar itu direvisi apalagi sama sekali diganti, maka ideologi tersebut sudah
kehilangan hakikat atau jatidirinya, dan oleh karena itu meskipun secara formal
mungkin ia masih ada, tetapi secara substansi tidak lagi hadir karena sudah
berubah sama sekali. (Oetojo Oesman, 1991:5).
Dinamika internal yang terkandung dalam ideologi terbuka biasanya
mempermantap, mempermapan, dan memperkuat relevansi ideologi itu dalam
masyarakatnya.

Hal ini bergantung pula pada kehadiran beberapa faktor.

Faktor-faktor dimaksud, antara lain :


1) Kualitas nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideologi itu;
2) Persepsi, sikap, dan tingkah laku masyarakat terhadapnya;
3) Kemampuan masyarakat mengembangkan pemikiran-pemikiran baru yang
relevan tentang ideologinya itu;
4) Seberapa jauh nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi itu membudaya,
dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan berbagai dimensinya.
b. Faktor-faktor Pendorong Ideologi Terbuka.
Faktor-faktor yang mendorong pemikiran tentang keterbukaan ideologi
Pancasila adalah :
1) Kenyataan dalam proses pembangunan nasional dan dinamika masyarakat,
berkembang secara cepat;
50

2) Kenyataan juga menunjukkan bahwa bangkrutnya ideologi tertutup dan


beku cenderung meredupkan perkembangan dirinya;
3) Pengalaman sejarah politik Indonesia di masa lalu;
4) Tekad untuk memperkokoh kesadaran akan nilai-nilai Pancasila yang
bersifat abadi dan hasrat mengembangkan secara kreatif dan dinamis
dalam rangka mencapai tujuan nasional.
Terdapat tiga tingkat nilai tentang Pancasila :
1) Nilai Dasar, yaitu asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang banyak
sedikitnya bersifat mutlak. Kita menerima nilai dasar sebagai suatu hal
yang tidak dipertanyakan lagi. Nilai dasar bersifat abstrak tidak dapat
diamati melalui panca indera manusia, tetapi berhubungan dengan tingkah
laku atau berbagai aspek kehidupan manusia. Setiap nilai memiliki nilai
dasar, berupa hakikat, esensi, intisari, atau makna yang dalam dari nilainilai tersebut. Nilai dasar juga bersifat universal karena menyangkut
kenyataan obyektif dari segala sesuatu. Misalnya hakikat Tuhan, manusia,
atau makhluk lainnya. Demikian juga semangat kekeluargaan bisa disebut
sebagai nilai dasar, sifatnya mutlak, dan tidak akan diubah lagi;
2) Nilai Instrumental, yaitu pelaksanaan umum dari nilai dasar, atau sifatnya
operasional, biasanya dalam wujud norma sosial ataupun norma hukum,
yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam lembaga-lembaga. Nilai
instrumental adalah nilai yang menjadi pedoman pelaksanaan dari nilai
dasar. Nilai instrumental merupakan formula serta parameter yang jelas
dan konkrit yang menjabarkan nilai dasar. Nilai instrumental kendati lebih
rendah dari nilai dasar, namun tidak kalah penting karena menguraikan
nilai dasar yang umum dalam wujud yang nyata, serta sesuai dengan
keadaan dan perkembangan zaman. Sifatnya dinamis dan kontekstual,
yaitu sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu. Nilai instrumental
adalah semacam tafsir positif terhadap nilai dasar yang umum.
3) Nilai Praksis, yaitu nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam realitas,
atau merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam ke-

51

hidupan yang lebih nyata. ini seyogianya sama semangatnya dengan nilai
dasar dan nilai instrumental di atasnya. Lebih dari itu, nilai praksis inilah
yang sesungguhnya akan merupakan batu ujian apakah nilai dasar dan nilai
instrumental itu sungguh-sungguh hidup dalam masyarakat atau tidak.
Nilai praksis dalam kehidupan ketatanegaraan misalnya, dapat ditemukan
dalam undang-undang organik, yaitu semua peraturan perundangundangan di bawah UUD 1945 sampai kepada yang sifatnya teknis yang
dibuat oleh pemerintah yang paling bawah, sesuai dengan tata urut
peraturan perundang-undangan itu.
Jadi, yang tidak boleh berubah itu adalah nilai atau norma dasar yang
terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, karena merupakan pilihan dan hasil
konsensus bangsa yang disebut kaidah pokok dasar negara yang fundamental
(staatsfundamentalnorm). Artinya, perwujudan atau pelaksanaan nilai-nilai
instrumental dan praksis harus tetap mengandung jiwa dan semangat yang
sama dengan nilai dasarnya.
Adapun ciri atau sifat ideologi terbuka memiliki tiga dimensi penting,
yaitu sebagai berikut :
1) Dimensi Realitas, yaitu nilai-nilai yang terkandung di dalam dirinya
bersumber dari nilai-nilai riil (nyata) yang hidup dalam masyarakat dan
tertanam sejak ideologi itu lahir, sehingga masyarakat betul-betul merasakan dan menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu milik bersama;
2) Dimensi Idealisme, yang mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam
berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Cita-cita dimaksud berisi harapan yang masuk akal, rasional, dan sangat
mungkin dapat dicapai;
3) Dimensi Fleksibilitas, yaitu yang dapat memperbesar dirinya, memelihara,
dan memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu. Dapat juga disebut
dimensi pengembangan, yaitu dengan pemikiran-pemikiran baru tanpa
khawatir akan kehilangan hakikat dirinya.
c. Batas-batas Keterbukaan Ideologi Pancasila.
Keterbukaan ideologi Pancasila ada batas-batasnya yang tidak boleh dilang52

gar, yaitu :
1) Harus dapat menjaga stabilitas nasional yang dinamis;
2) Larangan terhadap ideologi Marxisme, Leninisme, dan komunisme;
3) Mencegah berkembangnya faham liberalisme, dan kapitalisme;
4) Larangan terhadap pandangan ekstrim yang menggelisahkan kehidupan
masyarakat (baik ekstrim kanan maupun kiri);
5) Penciptaan norma yang baru harus melalui konsensus.
d. Penerapan Ideologi Pancasila.
Sebagai ideologi, Pancasila dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, misalnya :
1) Pancasila sebagai ideologi ditinjau dari aspek pandangan hidup bersama.
2) Pancasila sebagai cita hukum dalam kehidupan hukum bangsa Indonesia.
3) Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan ketatanegaraan/pemerintahan.
4) Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan budaya.
5) Pancasila sebagai ideologi dalam kaitannya dengan kehidupan beragama
dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahas Esa.
6) Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan sosial.
7) Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan politik.
8) Pancasila sebagai ideologi dalam pergaulan Indonesia dengan dunia
internasional.
9) Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan ekonomi.
10) Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan demokrasi.
11) Pancasila sebagai ideologi birokrasi/aparatur pemerintah.
12) Pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan pertahanan keamanan.
13) Pancasila sebagai ideologi dan moral pembangunan, dll.
Demikianlah, maka Pancasila sebagai dasar filsafat negara dan pandangan hidup bangsa yang telah diarahkan menjadi ideologi nasional, semestinya dipegang teguh dan dijadikan pedoman oleh setiap pribadi, keluarga,
masyarakat, dan bangsa Indonesia, dalam perikehidupan bermasyarakat, ber-

53

bangsa, dan bernegara secara konsekuen (istiqomah), di mana pun, kapan


pun, dalam situasi bagaimana pun.

54

BAB IV
NEGARA DAN KONSTITUSI

A. NEGARA
Sesuai dengan kodratnya, manusia itu adalah makhluk individu yang berpribadi
mandiri, tetapi juga sebagai makhluk sosial. Untuk perkembangannya yang harmonis, manusia harus hidup bersama dengan manusia-manusia lain dalam suatu
masyarakat yang mewujudkan persatuan dan kesatuan hidup bersama sebagai
persekutuan.
Persekutuan hidup bersama yang terkecil dan fundamental adalah keluarga.
Keluarga-keluarga membentuk masyarakat yang lebih besar berdasarkan kehendak
untuk hidup dan memenuhi kebutuhan bersama, misalnya rukun tetangga, rukun
warga, kedusunan, suku, desa, kota, kecamatan, kabupaten, dst. Pada perkembangan berikutnya, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih besar,
manusia dan masyarakat itu membutuhkan organisasi besar yang mampu mengatur
segala hal bersama untuk mencapai kesejahteraan umum. Organisasi tersebut
adalah negara.
1. Pengertian Negara.
a. Pengertian Umum Negara :
1) Organisasi kekuasaan suatu bangsa;
2) Suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi
yang sah dan ditaati oleh rakyatnya;
3) Suatu organisasi kekuasaan dari manusia (masyarakat) dan merupakan alat
yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan bersama;
4) Merupakan kesatuan sosial (masyarakat) yang diatur secara konstitusional
untuk mewujudkan kepentingan bersama.
b. Pendapat para Ahli :
1) J.H.A. Logemann : Keberadaan Negara bertujuan untuk mengatur dan
menyelenggarakan masyarakat yang dilengkapi dengan kekuasaan tertinggi.
55

2) George Jellinek : Negara ialah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di wilayah tertentu.
3) G.W.F. Hegel : Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul
sebagai sintesis dari kemerdekaan universal.
4) Krannenburg : Negara adalah suatu organisasi yang timbul karena
kehendak dari suatu golongan atau bangsanya sendiri.
5) Roger F. Soltau : Negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority)
yang mengatur atau mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat.
6) R. Djokosoetono : Negara ialah suatu organisasi atau kumpulan manusia
yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.
7) R. Soenarko : Negara ialah suatu organisasi masyarakat yang mempunyai
daerah tertentu, di mana kekuasaan negara berlaku souvereign
(kedaulatan).
8) Noor Ms Bakry (2009:127) : Negara adalah suatu organisasi kekuasaan
dari sekelompok manusia yang bersama-sama mendiami satu wilayah
tertentu dan mengakui adanya satu pemerintahan yang mengurus tata
tertib serta keselamatan sekelompok manusia tersebut.
Secara etimologis, istilah negara berasal dari bahasa Sanskerta yang
awalnya dari bahasa Latin status atau statum yang berarti menempatkan
dalam keadaan berdiri, atau membuat berdiri. Dalam bahasa Belanda dan
Jerman berubah menjadi staats dan dalam bahasa Inggris state.
Teori Terjadinya Negara :
1) Teori Kenyataan;
2) Teori Ketuhanan;
3) Teori Perjanjian;
4) Teori Penaklukan.
Unsur-unsur negara :
1) Unsur Konstitutif :
a) Ada wilayahnya;
b) Ada rakyatnya;
56

c) Ada pemerintahan yang berdaulat.


2) Unsur Deklaratif : Adanya pengakuan dari negara lain.
Bentuk Negara :
1) Negara Kesatuan :
a) Sentralisasi, hanya ada satu pemerintahan di Pusat;
b) Desentralisasi (Otonomi Daerah).
Di Indonesia otonomi daerah berarti hak, wewenang, dan kewajiban
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
perundang-undangan, dan diselenggarakan dengan :
(1) Asas Dekonsentrasi, yaitu pelimpahan wewenang pemerintahan
oleh pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah
dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu;
(2) Asas Desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintahan
oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI);
(3) Asas Tugas Pembantuan (Medebewind), yaitu penugasan dari
pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah provinsi
kepada kabupaten/kota dan/atau desa, serta dari pemerintah
kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.
Sifat-sifat dari negara kesatuan sistem desentralisasi :
(1) Kedaulatan negara (ke dalam dan ke luar) di tangan Pemerintah
Pusat;
(2) Negara hanya mempunyai 1 UUD, 1 Kepala Negara, 1 Dewan
Menteri, dan 1 DPR;
(3) Hanya ada 1 kebijakan yang menyangkut persoalan politik,
ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan.
2) Negara Serikat (Federasi) :
a) Merupakan gabungan beberapa negara yang menjadi Negara-negara
Bagian dari Negara Serikat;
57

b) Negara-negara Bagian tersebut semula merupakan negara yang merdeka dan berdaulat serta berdiri sendiri;
c) Negara-negara Bagian tersebut melepaskan sebagian dari kekuasaannya dan menyerahkannya kepada Negara Serikat (Pusat).

Yang

diserahkan itu antara lain yang berkaitan dengan urusan hubungan luar
negeri, pertahanan negara, keuangan (moneter), serta pos dan telekomunikasi.
Bentuk kenegaraan lain :
1) Dominion;
2) Protektorat :
a) Kolonial;
b) Internasional.
3) Uni :
a) Riil;
b) Personil;
c) Uni Sui Generis.
Berkaitan dengan pengertian negara, di bawah ini sekaligus dijelaskan
tentang pemerintahan.
1) Bentuk pemerintahan menurut Plato (429-347 sM) :
a) Monarki, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh seseorang (=Raja) dan
dijalankan untuk kepentingan rakyat.
b) Tirani, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh seseorang dan dijalankan untuk kepentingan pribadi sang pemimpin (tiran).
c) Aristokrasi, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang
(ningrat) dan dijalankan untuk kepentingan rakyat.
d) Oligarki, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang dan
dijalankan untuk kepentingan kelompoknya.
e) Mobokrasi (Okhlokrasi), yaitu pemerintahan yang dipegang oleh rakyat
tetapi tidak tahu apa-apa (bodoh, tidak berpendidikan, tidak paham,
tidak berpengalaman) sehingga tidak berhasil untuk kepentingan rakyat.
58

f) Demokrasi, yaitu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.


2) Menurut Nicollo Machiavelli, bentuk pemerintahan ada dua :
a) Monarki, yaitu bentuk pemerintahan kerajaan. Pemimpin negara
umumnya raja, ratu, sultan, atau kaisar. Pengangkatan atau penunjukannya berdasarkan warisan/keturunan.
b) Republik, yaitu bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang
Presiden yang pengangkatannya berdasarkan hasil pemilihan rakyat.
3) Macam-macam pemerintahan menurut Aristoteles (384-322 sM) :
a) Monarki (Kerajaan)

bentuk merosotnya, tirani;

b) Aristokrasi

bentuk merosotnya, oligarki;

c) Republik

bentuk merosotnya, demokrasi.

Pendapat lain : Demokrasi bentuk merosotnya,

okhlokrasi.

4) Sistem pemerintahan.
a) Monarki :
(1) Absolut;
(2) Konstitusional;
(3) Parlementer.
b) Republik :
(1) Absolut;
(2) Konstitusional;
(3) Parlementer.
5) Sistem Pemerintahan Dewan Menteri :
a) Kabinet Presidensial;
b) Kabinet Parlementer;
c) Kabinet Campuran;
d) Kabinet Komunis.
2. Bangsa.
a. Pengertian Umum :
Bangsa adalah kumpulan masyarakat yang membentuk negara.
b. Arti sosiologis :
59

Bangsa termasuk kelompok paguyuban (gemeinschaft) yang secara kodrati


ditakdirkan hidup bersama, dan senasib sepenanggungan di dalam suatu
negara.
c. Pendapat para Ahli :
1) Ernest Renan : Bangsa terbentuk karena adanya keinginan untuk hidup
bersama (hasrat bersatu) dengan perasaan setiakawan.
2) Otto von Bauer : Bangsa adalah kelompok manusia yang mempunyai
persamaan dan karakteristik, tumbuh karena adanya persamaan nasib.
3) B.F. Ratzel : Bangsa terbentuk karena adanya hasrat bersatu. Hasrat itu
timbul karena adanya rasa kesatuan di antara manusia dan tempat
tinggalnya (faham geopolitik).
4) Hans Kohn : Bangsa adalah buah hasil tenaga hidup manusia dalam
sejarah. Suatu bangsa merupakan golongan yang dirumuskan secara
eksak. Kebanyakan bangsa memiliki faktor-faktor obyektif tertentu yang
membedakannya dengan bangsa lain. Faktor-faktor itu berupa :
a) Persamaan keturunan;
b) Wilayah;
c) Bahasa;
d) Adat-istiadat;
e) Kesamaan politik;
f) Perasaan dan agama.
5) Moerdiono : Negara kebangsaan

bukanlah suatu komunitas sosio-

antropologis yang tumbuh secara alamiah. Negara kebangsaan adalah


suatu komunitas politik yang dirancang, dibangun, dan dioperasikan berdasarkan wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan itu sendiri timbul,
berkembang, dan beroperasi berdasarkan persetujuan terus-menerus dari
unsur-unsur komunitas politik itu.
Jadi, kesimpulannya : Bangsa adalah rakyat yang telah mempunyai
kesatuan tekad untuk membangun masa depan bersama.

Caranya ialah

dengan mendirikan negara yang akan mengurus terwujudnya aspirasi dan


kepentingan bersama secara adil.
60

Setiap bangsa mempunyai empat unsur aspirasi, yaitu :


1) Keinginan untuk mencapai kesatuan nasional sosial, ekonomi, politik, agama, kebudayaan, komunikasi, dan solidaritas.
2) Keinginan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebasan nasional sepenuhnya, yaitu bebas dari dominasi dan campur tangan bangsa asing
terhadap urusan dalam negerinya.
3) Keinginan dalam kemandirian dan keunggulan, misalnya menjunjung tinggi bahasa nasional yang mandiri.
4) Keinginan untuk menonjol (unggul) di antara bangsa-bangsa dalam mengejar kehormatan, pengaruh, dan prestise.
3. Kekuasaan.
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain untuk mengikuti keinginannya.
Hal ini berlaku juga dalam hal kekuasaan negara atau pemerintahan, yaitu
keinginan dari pelaku yang menyangkut kenegaraan. Padanan kata kekuasaan
adalah kedaulatan, namun biasanya diterapkan dalam kekuasaan tertinggi
negara (ke dalam dan keluar).
Berdaulat asal katanya daulat, dari bahasa Arab, yang artinya kekuasaan.
Jadi berdaulat berarti mempunyai kekuasaan. Daulat juga berasal dari bahasa
Latin supremus, yang artinya supremasi atau yang tertinggi. Jadi, kedaulatan
adalah kekuasaan yang tertinggi dalam suatu negara. Berkaitan dengan kedaulatan, di bawah ini beberapa teori :
a. Bentuk Kedaulatan :
Menurut Jean Bodin (1530-1596), kedaulatan suatu negara meliputi :
1) Kedaulatan Ke Dalam (Interne Souvereinteit), yaitu kekuasaan atau kewenangan tertinggi dalam mengatur dan menjalankan organisasi negara
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ini
pemerintah memiliki kekuasaan untuk mengatur kehidupan negara melalui
lembaga-lembaga negara atau alat perlengkapan negara yang dibentuk
untuk itu. Contoh kedaulatan negara Indonesia ke dalam menurut Pembu61

kaan UUD 1945, tampak dari tugas negara, yaitu :


a) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia.
b) Memajukan kesejahteraan umum.
c) Mencerdaskan kehidupan bangsa.
2) Kedaulatan Ke Luar (Externe Souvereinteit), yaitu suatu pemerintahan
suatu negara yang bebas tidak terikat dan tidak tunduk kepada kekuatan
atau kekuasaan negara lain, selain ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
oleh negara bersangkutan. Di antara negara-negara di dunia harus saling
menghormati kedaulatan negara masing-masing, lebih-lebih yang bertetangga dekat.

Demikianlah, maka di antara negara-negara tersebut

mengadakan kerjasama di berbagai bidang, selain mengadakan hubungan


diplomatik. Contoh kedaulatan ke luar negara Indonesia :
a) Menurut Pembukaan UUD 1945 : Ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
b) Menurut Pasal 11 UUD 1945 : Presiden dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.
c) Pasal 13 Ayat (1) : Presiden mengangkat duta dan konsul. Ayat (2) :
Presiden menerima duta dan konsul.
b. Sifat Kedaulatan :
1) Asli, artinya, kedaulatan itu tidak berasal dari kekuasaan lain yang lebih
tinggi dan tidak berasal dari kedaulatan lain;
2) Bulat, artinya, merupakan satu-satunya kekuasaan tertinggi dalam negara
dan tidak dapat diserahkan atu dibagi-bagikan kepada badan-badan lain;
3) Permanen, artinya, kedaulatan negara akan tetap ada walaupun pemerintahannya berganti-ganti, dan baru akan lenyap jika negara itu juga
bubar/musnah;
4) Tidak terbatas, artinya, kedaulatan itu tidak dibatasi oleh siapa pun atau
kekuatan/kekuasaan apa pun. Jika ada kekuasaan lain yang membatasinya, maka berarti negara bersangkutan tidak berdaulat lagi atau kekuasaan
62

tertingginya lenyap.
c. Teori Kedaulatan :
1) Teori Kedaulatan Tuhan (Theokrasi), yang mengajarkan bahwa negara atau
pemerintah memperoleh kekuasaan tertinggi dari Tuhan. Prinsip-nya, apa
pun yang ada di dunia ini adalah berasal atau ciptaan Tuhan, sehingga
pemerintahan negara atau raja-raka juga berasal dari Tuhan dan harus
mempergunakan

kekuasaannya

sesuai

dengan

kehendak

Tuhan.

Contohnya, bangsa Jepang sebelum perang dunia 2 mengang-gap Tenno


Heika adalah keturunan dewa matahari, demikian juga raja-raja Mesir
dahulu. Tokoh teori ini a.l. Agustinus, Thomas Aquino, John F. Hegel, dll.
2) Teori Kedaulatan Raja, yang mengajarkan bahwa kedaulatan negara berada
di tangan raja sebagai penjelmaan kehendak Tuhan. Raja dianggap
keturunan dewa atau wakil Tuhan di bumi yang mendapatkan kekuasaan
langsung dari Tuhan. Agar negara kuat, maka raja harus berkuasa mutlak
dan tidak terbatas (absolut). Raja harus ada di atas undang-undang, dan
rakyat harus rela menyerahkan hak-hak asasi dan kekuasaannya secara
mutlak kepada raja. Contohnya, Perancis pada masa Raja Louis XIV (16381715) dengan semboyannya Letat cest moi, negara adalah saya. Tokoh
teori ini a.l. Nicollo Machiavelli, Jean Bodin, Thomas Hobbes, dll.
3) Teori Kedaulatan Negara, yang mengajarkan bahwa negara adalah kodrat
alam, termasuk kekuasaan tertinggi yang ada pada pemimpin negara.
Kedaulatan sudah ada sejak lahirnya negara, jadi negara adalah sumber
daripada kedaulatan. Hukum itu mengikat kerena dikehendaki negara yang
menurut kodratnya mempunyai kekuasaan mutlak. Contohnta, di Rusia
pada masa Tsar yang sangat totaliter menjelang revolusi Bolshevik (1917),
di Jerman pada Adolf Hitler dan di Italia pada masa Benito Mussolini.
Mereka menganggap dirinya sebagai pusat kekuasaan negara dan
pemerintah. Tokoh teori ini a.l. Paul Laband dan George Jellinek.
4) Teori Kedaulatan Hukum, yang mengajarkan kekuasaan hukum merupakan
kekuasaan tertinggi dalam negara. Pemerintah dan rakyat memperoleh
kakuasaan itu dari hukum. Hukum dimaksud meliputi hukum tertulis dan
63

tidak tertulis.

Pemerintah melaksanakan kekuasaannya dibatasi oleh

norma, aturan, atau undang-undang, sehingga tidak bersifat absolut.


Contohnya di negara-negara Eropa dan Amerika, termasuk Indonesia.
Terdapat tiga asas atau prinsip umum negara hukum, yaitu :
a) Supremasi hukum (kekuasaan tertinggi pada hukum);
b) Equality before the law (kesamaan/kesetaraan dalam hukum);
c) Legalitas hukum (hukum tertulis yang ditetapkan secara kelembaga-an
yang berwenang).
Tokoh teori ini adalah Hugo De Groot, Krabe, Immanuel Kant, dan Leon
Duguit.
5) Teori Kedaulatan Rakyat, yang mengajarkan bahwa rakyatlah yang memegang kuasaan tertinggi negara. Rakyat memberikan sebagian haknya
kepada penguasa untuk kepentingan bersama. Artinya, rakyatlah yang
memilih dan menentukan penguasa melalui lembaga perwakilan. Teori ini
muncul sebagai reaksi terhadap kekuasaan raja yang absolut. Kekuasaan
negara ini perlu dibatasi dengan pembagian kekua-saan seperti dalam
ajaran Trias Politika Montesquieu, yaitu legislatif, eksekutif, dan
yudikatif.
Teori kedaulatan rakyat dipakai hampir di seluruh negara merdeka.
Akan tetapi Indonesia tidak sepenuhnya melaksanakan teori Trias Politika,
karena antar lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif masih ada kaitan
tugas kewajiban sehubungan dengan hak prerogatif Presiden selaku Kepala
Negara. Contohnya, Presiden yang turut ambil bagian dalam kekuasaan
legislatif (UU dibuat oleh DPR bersama Presiden), dan dalam kekuasaan
yudikatif (Presiden memberi grasi, amnesti, abolisi, rehabilitasi). Dengan
demikian di Indonesia bukan pemihan kekuasaan, tetapi distribusi
(pembagian) kekuasaan.
Ciri-ciri umum negara yang menganut kedaulatan rakyat adalah :
a) Adanya jaminan atas hak-hak warga negara;
b) Adanya partisipasi rakyat terhadap pemerintahan;
c) Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, dan adil;
64

d) Adanya lembaga perwakilan rakyat;


e) Adanya pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, baik oleh lembalembaga legislatif, maupun pengawasan langsung rakyat. Tokoh teori
ini a.l. John Lock, Montesquieu, Jean Jacques Rousseau, dll.
Konsep kedaulatan rakyat tak terlepas dari sejarah teori perjanjian
masyarakat dalam memahami pembentukan negara. Kedaulatan rakyat
hanya mungkin dilaksanakan jika negara dibangun atas dasar teori
perjanjian masyarakat atau teori kontrak sosial (du contract sociale).
Tokoh teori ini adalah Thomas Hobbes, John Lock, dan J.J. Rousseau.
Menurut Thomas Hobbes, terdapat perjanjian yang disebut pactum
subjections, yaitu perjanjian pemerintahan dengan jalan segenap individu
yang berjanji menyerahkan semua hak-hak kodrat yang mereka miliki
ketika hidup dalam keadaan alamiah kepada seseorang atau kelompok
orang yang ditunjuk untuk mengatur kehidupan mereka.

Orang atau

kelompok orang yang ditunjuk itu harus diberi kekuasaan mutlak, sehingga
kekuasaan negara tidak dapat disaingi oleh kekuatan apa pun.
Menurut John Lock, kekuasaan penguasa (pemerintah) tidak pernah
mutlak, selalu ada batasnya.

Dalam perjanjian yang dilakukan, tidak

seluruh orang atau kelompok menyerahkan keseluruhan dari hak-hak


alamiah mereka. Ada hak-hak individu yang dalam ikatan kenegaraan tidak
dapat dilepaskan dan harus dihormati, yaitu life, liberty, dan estate. Hakhak itu merupakan hak kodrat yang dimiliki individu sebagai manusia yang
melekat sejak dia dilahirkan dalam keadaan alami. Hak-hak ini mendahului
adanya perjanjian masyara-kat, sehingga tidak bergantung pada kontrak
sosial dimaksud. Justru fungsi utama kontrak sosial itu untuk menjamin
dan melindungi hak-hak kodrat tersebut.

Ajaran John Lock kemudian

menghasilkan negara konstitusional, bukan negara absolut. Dengan teorinya ini John Lock disebut Bapak Hak Asasi Manusia.
Menurut J.J. Rousseau, setiap manusia dilahirkan merdeka (tuot
homme ne libre). Untuk menjamin kepentingannya, tiap individu dengan
sukarela menyerahkan hak dan kekuasaannya kepada suatu organisasi
65

yang didirikan bersama yang diberi nama negara. Dalam negara itu tiap
individu menyerahkan kemerdekaan alamiahnya, tetapi dari negara itu
individu mendapatkan kemerdekaan sipil, yaitu kebebasan berbuat segala
sesuatu asal dalam batas undang-undang (status civils).

Pemerintah

merupakan wakil dari rakyat, sebab yang memiliki kekuasaan adalah


rakyat. Karena itu pemerintah bisa diganti jika dalam menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan kehendak umum (rakyat) atau volonte generale.
Dengan perjanjian masyarakat ini, J.J. Rousseau menghasilkan bentuk
negara demokrasi.
Berkaitan dengan Indonesia, maka prinsip-prinsip sebagai negara
yang menganut kedaulatan rakyat, sesuai dengan UUD 1945 dapat dikemukakan :
a) Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk republik. {Pasal
1 Ayat (1)};
b) Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undangundang dasar. {Pasal 1 Ayat (2)};
c) Negara Indonesia adalah negara hukum. {Pasal 1 Ayat (3)};
d) Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan
Perwakilan Rakyat. (Pasal 7C);
e) Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden {Pasal 17
Ayat (2)};
f) Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut UndangUndang Dasar. {Pasal 3 Ayat (3)}.

B. KONSTITUSI
1. Pengertian Hukum Dasar.
Hukum dasar adalah aturan-aturan pokok (dasar) yang timbul dan terpelihara
dalam praktek penyelenggaraan negara. Hukum dasar ada yang tertulis, disebut
66

Konstitusi atau Undang-Undang Dasar (UUD), dan yang tidak tertulis, disebut
Konvensi.
Konvensi mempunyai sifat-sifat :
a. Kebiasaan yang berulangkali dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan
negara;
b. Tidak bertentangan dengan UUD;
c. Diterima oleh seluruh rakyat;
d. Bersifat sebagai pelengkap jika tidak terdapat dalam UUD.
Contoh konvensi di negara kita :
a. Upacara Bendera pada Peringatan HUT Kemerdekaan RI tiap tanggal 17
Agustus;
b. Pidato kenegaraan Presiden RI setiap tanggal 16 Agustus di dalam sidang DPR
dalam rangka memperingati Kemerdekaan RI yang berisi laporan kemajuan
(progress rapport) dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pembinaan kemasyarakatan dalam tahun anggaran berjalan;
c. Pidato Presiden RI yang diucapkan sebagai keterangan pemerintah tentang
nota keuangan atau Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(RAPBN) pada minggu pertama pada bulan Januari setiap tahun;
d. Pemberian grasi, amnesti, abolisi, dan rehabilitasi pada hari kemerdekaan RI
atau pada hari raya keagamaan;
e. Setiap terbentuk DPR baru hasil Pemilu legislatif, sebelum ada pimpinan resmi
hasil pemilihan, maka dipilih pimpinan sementara dengan memperhatikan
usia (yang tertua sebagai Ketua, dan yang termuda sebagai Wakil Ketua);
f. Tata cara pemilihan anggota Kabinet oleh Presiden;
g. Menyambut tamu negara dengan :
1) Pagelaran kesenian;
2) Tukar-menukar cendera mata.
h. Setiap periode kepemimpinan nasional, sebelum mengakhiri masa tugasnya,
ada jeda waktu yang disebut demisioner. Pada masa ini tidak boleh melakukan kegiatan-kegiatan kenegaraan yang bersifat prinsipil, kecuali seremonial.
i. Dsb.
67

2. Pengertian Konstitusi dan Undang-Undang Dasar.


a. Dalam bahasa Latin istilah konstitusi merupakan gabungan dari dua kata, yaitu
cume yang berarti bersama dengan dan statuere yang berarti membuat sesuatu agar berdiri sehingga semuanya berarti bersama mendirikan,
menetapkan sesuatu. Dalam bahasa Perancis istilah konstitusi berasal dari
kata constituer yang berarti membentuk, maksudnya adalah pembentukan, penyusunan, atau pernyataan suatu negara. Dalam bahasa Inggris disebut
constitution dan Belanda constitutie yang memiliki makna yang sama dengan
grondwet dalam bahasa Jerman (grond = tanah, dasar; wet = undang-undang)
yang menunjukkan naskah tertulis. Dalam praktek ketatanegaraan, umumnya
konstitusi dapat memiliki makna yang lebih luas daripada UUD atau sama
dengan pengertian UUD. (Kaelan, 2004:180). Sementara itu menurut A.
Ubaedillah (2010:60), konstitusi adalah keseluruhan peraturan yang mengatur
secara mengikat cara-cara bagaimana suatu pemerintahan diselenggarakan
dalam suatu masyarakat. Jadi, pengertian konstitusi dapat disimpulkan sebagai berikut :
1) Kumpulan kaidah yang memberikan pembatasan kekuasaan kepada
penguasa;
2) Dokumen tentang pembagian tugas dan wewenang dari sistem politik yang
diterapkan;
3) Deskripsi yang menyangkut masalah hak asasi manusia.
Secara garis besar tujuan dan fungsi konstitusi adalah membatasi tindakan sewenang-wenang pemerintah, menjamin hak-hak rakyat yang diperintah,
dan menetapkan pelaksanaan kekuasaan berdaulat. Sedangkan menurut Sri
Soemantri, yang mengutip pendapat Steenbeck, terdapat tiga muatan pokok
dalam konstitusi, yaitu :
1) Jaminan hak-hak asasi manusia;
2) Susunan ketatanegaraan yang bersifat mendasar;
3) Pembagian dan pembatasan kekuasaan.
Adapun istilah konstitusi atau UUD di Indonesia adalah terjemahan dari
bahasa Jerman grondwet, atau bahasa Belanda constitutie, sehingga pada
68

saat NKRI berubah menjadi Republik Indonesia Serikat atau negara federal pada
tahun 1949-1950, kita mengenal atau menggunakan istilah konstitusi untuk UUD,
yaitu Konstitusi RIS.

3. Pengertian UUD 1945.


UUD 1945 adalah adalah hukum dasar tertulis negara Republik Indonesia yang
memuat dasar dan garis besar hukum dalam penyelenggaraan negara.

4. Kedudukan UUD 1945.


Kedudukan UUD 1945 adalah sebagai landasan struktural dalam penyelenggaraan pemerintahan negara RI.

5. Sifat UUD 1945.


Sifat UUD 1945 singkat dan supel, karena hanya memuat aturan-aturan pokok
yang setiap saat dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman.
Lebih lanjut dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan di bawahnya
(yang lebih rendah derajat/tingkatannya). Contohnya :
a. Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 : Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Maka saat ini dijabarkan lebih lanjut
dalam Undang-Undang :
1) No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik;
2) No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden;
3) No. 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Undang-Undang No. 2 Tahun 2008
tentang Partai Politik;
4) No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum;
5) No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD;
b. Pasal 30 Ayat (5) UUD 1945 : Susunan dan kedudukan Tentara Nasional
Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, hubungan kewenang Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia di dalam menjalankan tugasnya, syarat-syarat keikutsertaan warga negara dalam usaha perta69

hanan dan keamanan negara, serta hal-hal yang terkait dengan pertahanan
dan keamanan diatur dengan undang-undang. Maka saat ini dijabarkan
dalam Undang-Undang :
1) No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
2) No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara;
3) No. 34 Tahun 2003 tentang Tentara Nasional Indonesia.
c. Pasal 31 Ayat (3) UUD 1945 : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Maka saat ini dijabarkan lebih
lanjut dalam Undang-Undang :
1) No. 20 Tahun 2003 tentan Sistem Pendidikan Nasional;
2) No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;
3) No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.
Demikian juga Pasal-pasal UUD 1945 yang lainnya. Selanjutnya UU dalam
pelaksanaannya dapat dijabarkan lebih lanjut dalam PP, Perpres, Inpres,
Permen, Perda, dan seterusnya sesuai dengan pembidangannya masingmasing.
6. Fungsi UUD 1945.
Fungsi UUD 1945 adalah sebagai alat kontrol norma-norma hukum positif yang
lebih rendah dalam tata urutan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Tata urutan (hierarki) peraturan perundang-undangan RI pernah empat kali
berubah, yaitu :
a. Menurut Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 :
1) Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945 (UUD 1945);
2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR);
3) Undang-Undang (UU);
4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU);
5) Peraturan Pemerintah (PP);
6) Keputusan Presiden (Keppres);
70

7) Instruksi Presiden (Inpres);


8) Keputusan Menteri (Kepmen);
9) Instruksi Menteri (Inmen);
10) Peraturan Daerah (Perda):
11) Keputusan Gubernur (Kepgub);
12) Keputusan Bupati/Walikota Madya);
13) Dst.
b. Menurut Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2000 :
1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD 1945);
2) Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR);
3) Undang-undang (UU);
4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU);
5) Peraturan Pemerintah (PP);
6) Keputusan Presiden (Keppres);
7) Peraturan Daerah (Perda).
c. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan adalah :
1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD 1945);
2) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (UU/
PERPPU);
3) Peraturan Pemerintah (PP);
4) Peraturan Presiden (Perpres);
5) Peraturan Daerah (Perda).
d. Terakhir, menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan sebagai pengganti Undang-Undang No. 10
Tahun 2004 yang sekarang berlaku, adalah :
1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD 1945);
2) Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR);
3) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (UU/
PERPPU);
4) Peraturan Pemerintah (PP);
71

5) Peraturan Presiden (Perpres);


6) Peraturan Daerah Provinsi (Perda Provinsi);
7) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (Perda Kabupaten/Kota).
Terhadap konstitusi atau UUD menurut Karl Loewentein dalam Koesnardi
(1983:72-75), terdapat tiga jenis penilaian :
a. Nilai Normatif

berlaku efektif sebagai sumber hukum yang dilaksana-

kan secara murni dan konsekuen;


b. Nilai Nominal

berlaku tidak sempurna karena ada pasal-pasal tertentu

yang oleh penguasa tidak diberlakukan. Contoh pasal 28 UUD 1945 mengenai
kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan
dan tulisan, pada masa Orba yang dalam praktek pelaksanaannya banyak
bergantung pada kemauan penguasa;
c. Nilai Semantik

berlaku hanya simbolik yang dalam pelaksanaannya digan-

tikan dengan kepentingan penguasa.

Artinya, kebijakan dan keputusan

negara/pemerintah tidak konsekuen berdasarkan UUD. Contoh pelaksanaan


UUD 1945 pada masa Orla dan Orba.

C. SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA RI MENURUT UUD 1945.


Sistem Pemerintahan Negara Republik Indonesia dijelaskan dalam Penjelasan UUD
1945 yang dikenal dengan Tujuh Kunci Pokok Sistem Pemerintahan Negara, yang
dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sistem dasar dan sistem pelaksanaan.
1. Sistem Dasar :
a. Sistem Negara Hukum.
Indonesia ialah negara yang berdasar atas hukum (rechtsstats), tidak
berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaats).

Ini mengandung arti

bahwa negara, termasuk di dalamnya lembaga-lembaga negara yang lain,


dalam melaksanakan tindakan-tindakan apa pun harus dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Penekanan pada hukum (rechts) di sini sebagai
lawan dari kekuasaan (machts). Prinsip ini sejalan dan merupakan pokok
72

pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 yang diwujud-kan oleh
cita-cita hukum (rechtsidee) yang menjiwai UUD 1945 dan konvensi, dan selanjutnya dijabarkan dalam rumusan pasal-pasalnya.
Negara hukum menurut UUD 1945 bukanlah sekedar dalam arti formal,
hanya sebagai polisi lalu lintas atau penjaga malam, yang hanya menjaga
jangan sampai terjadi pelanggaran dan menindak para pelanggarnya. Akan
tetapi dalam arti luas, termasuk dalam arti material.

Jadi, bukan saja

melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tanah tumpah darah


Indonesia, tetapi juga harus memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dengan landasan dan semangat negara hukum dalam arti material,
maka setiap tindakan negara/pemerintah harus mempertimbangkan dua
kepentingan, yaitu kedayagunaan hukum (doelmatigheid), dan kepastian
hukumnya (rechtmatigheid). Jadi, setiap tindakan negara/pemerintah harus
selalu memenuhi dua kepentingan dimaksud, dengan suatu seni tersendiri jika
terdapat pertentangan.
b. Sistem Konstitusional.
Pemerintahan berdasarkan hukum dasar (konstitusi), tidak bersifat
absolutisme (kekuasaan mutlak atau tidak terbatas). Sistem ini memberikan
ketegasan bahwa cara pengendalian pemerintahan dibatasi oleh ketentuanketentuan konstitusi, atau produk-produk hukum lain sesuai dengan
konstitusi (seperti Tap MPR, UU/Perppu, PP, Perpres, Perda, dsb).
Dengan landasan sistem negara hukum dan sistem konstitusional
tersebut di atas, kemudian diciptakan sistem atau mekanisme hubungan tugas
dan hukum antarlembaga-lembaga negara, sehingga dapat menjamin terlaksananya sistem serta memperlancar pelaksanaan pencapaian cita-cita nasional.

2. Sistem Pelaksanaan :
Merupakan perwujudan dari sistem dasar, yaitu negara hukum dan sistem konstitusional. Adapun lembaga Negara yang tercantum dalam sistem pelaksana
73

pemerintahan ada tiga lembaga negara, yaitu MPR, Presiden, dan DPR.
a. Kekuasaan Negara yang Tertinggi di Tangan Rakyat.
Sebelum diamandemen, Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 berbunyi : Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan rakyat. MPR ini merupakan lembaga tertinggi negara sebagai
penjelmaan kedaulatan rakyat, yang mempunyai tugas menetapkan UUD,
menetapkan GBHN, dan mengangkat Presiden/Wakil Presiden. Dalam hal ini
Presiden adalah mandataris MPR dan wajib menjalankan putusan-putusan
MPR. Ia tidak neben akan tetapi untergeordnet kepada MPR.
Namun setelah UUD 1945 diubah yang ketiga kali (10 November 2001),
bunyi Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 berubah menjadi : Kedaulatan berada di
tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Di sini
MPR tidak lagi sebagai lembaga negara tertinggi, tetapi lembaga negara yang
setingkat/sejajar dengan lembaga-lembaga negara lainnya, yaitu BPK,
Presiden, DPR, DPD, MA, MK, dan KY.

Tugas MPR hanya tiga, yaitu :

Mengubah dan menetapkan UUD, melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden,


dan memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya (pemakzulan atau impeachment).
b. Presiden ialah Penyelenggara Pemerintahan Negara yang Tertinggi di
samping MPR.
Sebelum diamandemen dirumuskan : Presiden ialah penyelenggara
pemerintahan negara yang tertinggi di bawah Majelis. Sistem ini dinyatakan
oleh Penjelasan UUD 1945 : Di bawah Majelis Permusyawaratan Rakyat,
Presiden ialah penyelenggara pemerintahan Negara yang tertinggi. Dalam
menjalankan pemerintahan Negara, kekuasaan dan tanggung jawab adalah
di tangan Presiden (concentration of power and responsibility upon the
President).
Berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen dinyatakan bahwa Presiden
dan Wakil Presiden dipilih oleh rakyat {Ps. 6A (1) (III)}, yang sejalan dengan
{Ps. 2 (1) (IV)} bahwa MPR terdiri atas anggota DPR dan DPD yang dipilih
melalui Pemilu, dan diatur lebih lanjut dengan UU. Jadi, dalam menye74

lenggarakan pemerintahan adalah Presiden di samping MPR dan DPR.


Presiden dalam hal ini bukan lagi sebagai Mandataris MPR.
c. Presiden tidak Bertanggung Jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
Sistem ini dijelaskan dalam Penjelasan UUD 1945 : Di samping Presiden
adalah Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden harus mendapatkan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat untuk membentuk (Gesetzgebung) dan untuk
menetapkan anggaran pendapatan dan belanja Negara (staasbegrooting).
Oleh karena itu, Presiden harus bekerja bersama-sama dengan Dewan, akan
tetapi Presiden tidak tergantung daripada Dewan.
Menurut sistem pemerintahan ini, Presiden tidak bertanggung jawab
kepada DPR, akan tetapi bekerjasama. Dalam hal pembuatan UU, hasil
amandemen UUD 1945, Presiden berhak mengajukan RUU kepada DPR {Ps. 5
(1) (I)}, dan RUU-APBN diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama DPR
dengan memperhatikan pertimbangan DPD {Ps. 23 (2) (III)}. Presiden harus
mendapatkan persetujuan DPR. Presiden tidak dapat membubarkan DPR
seperti pada sistem parlementer, namun DPR juga tidak dapat menjatuhkan
Presiden.
d. Menteri Negara ialah Pembantu Presiden, Menteri Negara tidak Bertanggung Jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
Sistem ini diterangkan dalam Penjelasan UUD 1945 : Presiden mengangkat dan memperhentikan menteri-menteri negara. Menteri-menteri itu tidak
bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Kedudukannya tidak
tergantung daripada Dewan, akan tetapi tergantung daripada Presiden.
Mereka ialah pembantu Presiden.
Pengangkatan dan pemberhentian Menteri-menteri negara sepenuhnya
wewenang dan hak prerogatif Presiden. Menteri-menteri negara tidak dapat
dikatakan sebagai pegawai tinggi biasa, oleh karena dengan petunjuk dan
persetujuan Presiden Menteri-menteri inilah yang pada kenyataannya
menjalankan kekuasaan pemerintahan di bidangnya masing-masing. Inilah
yang disebut Kabinet Presidensial.
Di bidangnya masing-masing Menteri dianggap mengetahui seluk-beluk
75

masalah yang dihadapinya, sehingga Menteri mempunyai pengaruh besar


terhadap Presiden dalam menentukan politik negara mengenai kementerian/
departemennya. Namun demikian, tidak berarti mengurangi wewenang dan
tanggung jawab Presiden, demikian juga tidak berarti Presiden didikte oleh
Menteri-menterinya.

Dengan sistem ini yang hendak ditonjolkan adalah

bahwa Menteri-menteri itu juga Pemimpin-pemimpin Negara yang membantu Presiden dalam rangka penyelenggaraan kekuasaan negara sesuai
dengan konstitusi.
e. Kekuasaan Kepala Negara tidak tak Terbatas.
Sistem ini diterangkan dalam Penjelasan UUD 1945 bahwa : Meskipun
Kepala Negara tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat, ia
bukan diktator, artinya kekuasaan tidak terbatas. Di atas telah ditegaskan
bahwa ia bertanggung jawab kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Kecuali itu ia harus memperhatikan sungguh-sungguh suara Dewan Perwakilan Rakyat.
Dengan sistem ini ditekankan bahwa :
1) Sistem pemerintahan adalah konstitusional, bukan absolut;
2) Fungsi dan peranan DPR

serta

fungsi dan peranan Menteri-menteri

sebagai pembantu Presiden dapat mencegah kemungkinan kemerosotan


kekuasaan pemerintahan di tangan Presiden ke arah kekuasaan mutlak.
3) Kedudukan DPR sangat kuat karena bukan saja tidak dapat dibubarkan oleh
Presiden, tetapi adalah pemegang kekuasaan pembentuk Undang-Undang
(legislasi), juga mengawasi jalannya pemerintahan, dan kekuasaan anggaran (budget).
Jadi, menurut sistem ini kebijakan atau tindakan Presiden dibatasi pula
oleh adanya pengawasan yang efektif dari DPR. Mekanisme ini merupakan
sarana preventif untuk mencegah pemerosotan sistem konstitusional menjadi
absolutisme. Inilah kerangka hubungan kelembagaan antara MPR - Presiden DPR.
3. Kelembagaan Negara menurut UUD 1945.
76

Kelembagaan negara menurut UUD 1945 yang telah diamandemen keempat kali
dapat dilihat dari bagan struktur ketetanageraan RI di bawah ini.
BAGAN STRUKTUR KETATANEGARAAN RI
SESUDAH PERUBAHAN UUD 1945
UUD 1945

MPR

PRESIDEN

DPR DPD

WAPRES

LEGISLATIF

EKSEKUTIF

KEKUASAAN KEHAKIMAN

BPK

INSPEKTIF

MK

MA

KY

YUDIKATIF

BAGAN STRUKTUR KETATANEGARAAN LENGKAP


DENGAN BADAN-BADAN LAINNYA
UUD 1945
PUSAT

BPK

PRESIDEN

KPU

DPR MPR

DPD

MA MK

KY

Kementerian
Negara
Bank
Sentral

Wantimpres
TNI/POLRI

DAERAH
KPUD Perw.
BPK

Pemda Provinsi
Gub.

KPUD

Lingkungan
Peradilan Umum
Lingkungan
Peradilan Agama
Lingkungan
Peradilan Militer
Lingkungan
Peradilan TUN
Peradilan Tipikor

DPRD

Pemda Kab/Kota
Bpt/WK
DPRD
77

Penjelasan tentang Kelembagaan Negara dimaksud adalah :

MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT (MPR)


Berdasarkan UUD 1945 yang telah empat kali diamandemen, MPR sekarang
bukan lagi lembaga tertinggi negara, tetapi sejajar dengan lembaga-lembaga
kenegaraan lainnya atas dasar pembagian (distribusi) kekuasaan. Tugas MPR
sekarang hanya tiga macam :
a. Mengubah UUD;
b. Melantik Presiden dan Wakil Presiden;
c. Impeachment (pemakzulan atau pelengseran Presiden dan Wakil Presiden).
MPR menjalankan sistem majelis perundang-undangan kembar (bikameral)
yang keanggotaannya terdiri dari seluruh anggota DPR dan DPD hasil Pemilu.
Adapun alasan menjadi lembaga bikameral adalah :
a. Utusan daerah dan golongan pada masa MPR sebelumnya tidak jelas orientasi
keterwakilannya;
b. Kebutuhan mengakomodasi kepentingan masyarakat daerah secara struktural
melalui lembaga formal di tingkat nasional;
c. Kebutuhan menerapkan sistem check and balances untuk mendorong
demokratisasi ketatanegaraan Indonesia.
Anggota MPR sekarang berjumlah 692 orang, terdiri dari 560 anggota DPR
dan 132 anggota DPD. Komposisi MPR sebagai lembaga bikameral dapat
digambarkan sebagai berikut :
MPR
DPR

DPD

Perbedaan MPR sebelum dan sesudah perubahan (amandemen) UUD 1945


dapat dilihat dalam matrik di bawah ini.
PERBEDAAN
Komposisi

SEBELUM PERUBAHAN
SETELAH PERUBAHAN
Anggota DPR, Utusan Dae- Anggota DPR dan DPD.
rah, dan Utusan Golongan
78

Rekrutmen

Legalisasi

Kewenangan

Anggota DPR (lewat Pemilu Seluruh anggota DPR dan


dan diangkat). Utusan Dae- DPD dipilih lewat Pemilu.
rah dan Golongan diangkat.
Oleh DPR
Kekuasaan legislatif ada di
DPR, tetapi DPD juga dapat mengajukan dan
membahas RUU yang berkaitan dengan otda.
Tidak terbatas.
Terbatas hanya tiga, yaitu
mengubah UUD, melantik
Presiden dan Wakil Presiden, serta pemakzulan
(impeachment) Presiden
dan Wakil Presiden.

Perbedaan mekanisme pemilihan pimpinan MPR tahun 2009-2014 dan 2014-

2019 (berdasarkan UU No. 27 Tahun 2009 dan UU No. 17 Tahun 2104 tentang
MD3) adalah sebagai berikut :
PERIODE 2009-2014
Pimpinan MPR terdiri atas satu orang
Ketua dari DPR dan empat Wakil Ketua
masing-masing dua orang dari DPR dan
dua orang dari DPD.
Pimpinan MPR yang berasal dari DPR
dipilih secara musyawarah untuk mufakat dan ditetapkan dalam rapat paripurna DPR.
Pimpinan MPR ditetapkan dalam sidang
paripurna MPR.

PERIODE 2014-2019
Pimpinan MPR terdiri atas satu orang
Ketua dan empat Wakil Ketua yang
dipilih dari dan oleh anggota MPR.
Pimpinan MPR dipilih dalam satu paket
yang bersifat tetap.
Bakal calon pimpinan MPR berasal dari
Fraksi dan/atau kelompok anggota
disampaikan di dalam sidang paripurna
MPR.
Tiap Fraksi dan kelompok anggota
dapat mengajukan satu orang bakal
calon pimpinan MPR.
Pimpinan
MPR
dipilih
secara
musyawarah untuk mufakat dan
ditetapkan dalam sidang paripurna
MPR.

PRESIDEN
Presiden mempunyai dua kedudukan, yaitu sebagai Kepala Negara dan sebagai
Kepala Pemerintahan.
a. Kekuasaan sebagai Kepala Negara :
1) Dengan persetujuan DPR mengangkat dan memberhentikan pimpinan
79

(Panglima) TNI, pimpinan (Kepala) POLRI, dan Gubernur Bank Indonesia;


2) Dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian
dan perjanjian dengan negara lain;
3) Menyatakan negara dalam keadaan bahaya;
4) Dengan persetujuan DPR mengangkat duta dan menerima duta negara
lain;
5) Dengan persetujuan DPR membuat perjanjian internasional;
6) Dengan memperhatikan pertimbangan MA memberi grasi dan rehabilitasi
dan dengan memperhatikan pertimbangan DPR memberi amnesti dan
abolisi;
7) Memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan.
b. Kekuasaan sebagai Kepala Pemerintahan :
1) Dalam menjalankan kewajibannya Presiden dibantu oleh seorang Wakil
Presiden. Hubungan kerja antara Presiden dengan Wakil Presiden ditentukan oleh Presiden setelah mereka mengadakan pembicaraan;
2) Presiden berhak mengajukan RUU kepada DPR dan dalam keadaan kegentingan yang memaksa (noodverordeningsrecht) berhak menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU);
3) Untuk menjalankan pemerintahan, berhak menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) untuk menjalankan Undang-Undang (pouvoir reglementair);
4) Presiden dan Wakil Presiden (merupakan satu pasangan) dipilih langsung
oleh rakyat melalui Pemilihan Umum Presiden (Pemilupres).
Pada saat ini untuk pemilu Presiden/Wakil Presiden diatur dalam
Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden.
Karena tugas Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
demikian padat dan kompleks, di luar struktur lembaga pemerintahan,
dipandang perlu ada dewan penasihat/pertimbangan, selain staf ahli dan juru
bicara keperesidenan. Sementara itu DPA sudah tidak ada lagi.

Maka

berdasarkan UU No. 19 Tahun 2006 jo. Perpres No. 10 Tahun 2006, Presiden
dapat membentuk Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang anggota80

anggotanya independen (steril dari kepentingan Parpol).


c. Prosedur Pemilihan Presiden secara Langsung :
1) Pasangan Capres/Cawapres diusulkan oleh Parpol atau gabungan Parpol
peserta Pemilu;
2) Pasangan yang mendapat suara 50% dan sedikitnya 20% di setiap provinsi
yang tersebar di lebih setengah provinsi seluruh Indonesia;
3) Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, dua pasang calon suara terbanyak dipilih kembali secara langsung oleh rakyat (dua putaran), dan yang
mendapat suara terbanyak dilantik oleh MPR menjadi pasangan Presiden/
Wakil Presiden.
Catatan : Berdasarkan aturan pada butir 2 dan 3 tersebut, menjadi masalah
tatkala calon Presiden dan Wakil Presiden hanya ada dua pasang, seperti
terjadi pada pemilupres tahun 2014 yang lalu. Masalah itu adalah jumlah
penduduk hak pilih di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa tidak sama,
sehingga tidak bisa disamaratakan. Akan tetapi kemudian oleh peraturan
KPU disamaratakan saja, dan ternyara tidak disalahkan oleh MK.
d. Jika Terjadi Kekosongan Presiden/Wakil Presiden :
1) Jika Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan
kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden;
2) Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden, selambat-lambatnya 60 hari,
MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua orang
calon yang diusulkan Presiden;
3) Jika Presiden dan Wakil Presiden kosong, maka pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, dan Menteri
Pertahanan secara bersama. Selambat-lambatnya 30 hari setelah itu, MPR
menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan wakil Presiden dari
dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan Parpol/
gabungan Parpol yang pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya
meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam Pemilupres sebelumnya.

81

e. Pemakzulan (Impeachment) Presiden/Wakil Presiden :


1) Apabila Presiden/Wakil melanggar hukum (berhianat kepada Pancasila, UUD
1945, bangsa dan negara, berbuat kriminal, KKN, dll.);
2) Pemakzulan atau pelengseran terlebih dulu diusulkan oleh DPR melalui
penggunaan Hak Mengeluarkan Pendapat. Syarat HMP di DPR berdasarkan
UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, pasal 184 Ayat
(4), harus diusulkan oleh dari seluruh anggota DPR.

Tetapi hal ini

kemudian oleh MK dengan putusan No. 23-26/PUU-VIII/2011 tanggal 12


Januari 2011 (pada proses uji materil UU tersebut di atas), dinyatakan
bertentangan dengan UUD 1945 dan karenanya tidak mempunyai kekuatan
hukum yang mengikat. Oleh sebab itu kembali pada ketentuan semula,
yaitu cukup diusulkan oleh sedikitnya 2/3 dari seluruh anggota DPR.
3) Usulan pemakzulan oleh DPR disampaikan dulu kepada MK untuk proses
pengadilan Presiden. Putusan (vonis) MK disampaikan ke DPR dan oleh DPR
diusulkan kepada MPR;
4) Pemberhentian Presiden/Wakil Presiden diambil dalam sidang paripurna
MPR yang dihadiri minimal dan disetujui 2/3 dari anggota MPR yang hadir.
KEMENTERIAN NEGARA
Sesuai dengan UUD 1945, dalam menyelenggarakan pemerintahan, Presiden
dibantu oleh Menteri-menteri yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
a. Menteri-menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan;
b. Menteri-menteri bertanggung jawab kepada Presiden, tidak bergantung
kepada DPR. Dalam pergantian ini yang dianut adalah sistem Presidensial;
c. Pembentukan, perubahan, dan pembubaran kementerian diatur dalam Undang-Undang. Saat ini UU dimaksud adalah UU No. 39 Taun 2008 tentang
Kementerian Negara.
PEMERINTAH DAERAH
Pemerintah RI adalah negara kesatuan yang menganut sistem desentralisasi.
a. Negara RI dibagi atas daerah-daerah besar dan kecil, yaitu provinsi, dan
82

provinsi dibagi atas kabupaten dan kota;


b. Penyelenggaraan pemerintahan daerah didasarkan atas asas otonomi daerah
dan tugas pembantuan;
c. Kepala daerah provinsi adalah gubernur, kabupaten adalah bupati, dan kota
adalah walikota, yang diproses melalui pemilihan langsung oleh rakyat
(Pemilukada);
d. Terdapat juga Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta,
dan daerah-daerah lain dengan otonomi khusus, seperti Nangro Aceh Darussalam dan Papua (dh. Irian Jaya);
e. Untuk mendukung keberhasilan otonomi daerah, terdapat dana sebagai
sumber penerimaan pelaksanaan desentralisasi berupa perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.
Pengaturan tentang Pemerintah Daerah ini telah beberapa kali dilakukan
semenjak berdirinya NKRI, yaitu :
a. UU No. 1 Tahun 1945 tentang Pemerintahan Daerah;
b. UU No. 22 Tahun 1948 tentang Susunan Pemerintah Daerah yang Demokratis;
c. UU No. 1 Tahun 1957 tentang Pemerintah Daerah;
d. UU No. 18 Tahun 1965 tentang Pemerintah Daerah;
e. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;
f. UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, disertai UU No. 25 Tahun
1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah;
g. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (yang sekarang berlaku).
Untuk mencukupi sumber penerimaan dalam rangka pelaksanaan
otonomi Daerah, terdapat alokasi dana perimbangan sebagai berikut.

No.
1.
2.
3.

BAGIAN DANA

PENERIMAAN DARI
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Biaya Pendaftaran Hak atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB)
Sumber Daya Alam (Kehitanan, Pertambangan Umum, dan Perikanan)
83

PUSAT

DAERAH

10 %

90 %

20 %

80%

20 %

80 %

4.
5.

Minyak Bumi (setelah dikurangi pajak)


Gas Alam (setelah dikurangi pajak)

85 %

15 %

75 %

25 %

Sementara itu daerah sendiri harus mengupayakan Pendapatan Asli Daerah


(pajak daerah, retribusi daerah, dan pendapatan lain-lain).

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT (DPR)


Keanggotaan DPR merangkap keanggotaan MPR sehingga kedudukannya kuat,
karena itu tidak dapat dibubarkan oleh Presiden.
a. DPR mempunyai kekuasaan atau fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan;
b. Tugas dan wewenang DPR meliputi :
1) Bersama-sama Presiden membentuk UU;
2) Bersama-sama Presiden menetapkan UU-APBN;
3) Melakukan

pengawasan

terhadap

jalannya pelaksanaan UU-APBN

dan kebijakan pemerintah;


4) Meratifikasi dan/atau memberikan persetujuan pernyataan

perang,

pembuatan perdamaian dan perjanjian dengan negara lain yang dilakukan oleh Presiden;
5) Membahas hasil pemeriksaan keuangan negara yang disampaikan oleh
BPK;
6) Melakukan hal-hal yang ditugaskan oleh Tap MPR kepada DPR.
Untuk melaksanakan tugas dan wewenang tersebut di atas, DPR dan
anggota-anggotanya mempunyai hak :
a. Meminta keterangan pemerintah (interpelasi);
b. Mengadakan penyelidikan (angket);
c. Mengadakan perubahan (amandemen);
d. Mengajukan pernyataan pendapat;
e. Mengajukan rancangan UU (inisiatif);
f. Mengajukan pertanyaan, protokoler, dan keuangan/administratif;
g. Mengajukanh/menganjurkan seseorang, jika ditentukan oleh suatu oleh
suatu peraturan perundang-undangan.
84

Dengan amandemen UUD 1945, terjadi pengurangan kekuasaan Presiden, sementara kekuasaan DPR bertambah, yaitu :
a. Presiden harus memperhatikan pertimbangan DPR dalam mengangkat dan
menerima duta, serta dalam pemberian amnesti dan abolisi;
b. Presiden harus mendapat persetujuan DPR dalam mengangkat Panglima TNI,
Kapolri, dan Gubernur BI;
c. DPR memilih anggota-anggota lembaga negara (MA berikut Hakim Agung,
dan BPK) untuk diangkat oleh Presiden. Demikian juga untuk anggota KPU,
BPK, dan KY, termasuk KPK. Biasanya dilakukan melalui uji kelayakan dan
kepatutan (fit and profer test).
Adapun Komisi-komisi yang ada di DPR adalah :
Komisi I : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Pertahanan;
b. Intelijen;
c. Luar Negeri;
d. Komunikasi dan Informasi.
Komisi II : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah;
b. Aparatur Negara;
c. Agraria;
d. KPU (Komisi Pemilihan Umum).
Komisi III : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Hukum;
b. Perundang-undangan;
c. HAM (Hak Asasi Manusia);
d. Keamanan.
Komisi IV : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Pertanian;
b. Perkebunan;
c. Kehutanan;
d. Kelautan;
85

e. Perikanan;
f. Pangan.
Komisi V : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Perhubungan;
b. Pekerjaan Umum;
c. Perumahan Rakyat;
d. Pembangunan Perdesaan dan Kawasan Tertinggal;
e. BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika);
f. BASARNAS (Badan SAR Nasional).
Komisi VI : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Perdagangan;
b. Perindustrian;
c. Investasi;
d. Koperasi dan UKM;
e. BUMN (Badan Usaha Milik Negara);
f. Standardisasi Nasional.
Komisi VII : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Energi dan Sumber Daya Mineral;
b. Riset dan Teknologi;
c. Lingkungan Hidup.
Komisi VIII : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Agama;
b. Sosial;
c. Pemberdayaan Perempuan.
Komisi IX : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Kependudukan;
b. Kesehatan;
c. Tenaga Kerja;
d. Transmigrasi.
Komisi X : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Pendidikan;
86

b. Pemuda dan Olahraga;


c. Pariwisata;
d. Kesenian;
e. Perfilman;
f. Kebudayaan;
g. Perpustakaan.
Komisi XI : Ruang lingkup tugasnya meliputi :
a. Keuangan;
b. Perencanaan Pembangunan Nasional;
c. Perbankan;
d. Lembaga Keuangan Bukan Bank.
Berdasarkan UU No. 17 Tahun 2014 tentang MD3, mekanisme pemilihan
pimpinan DPR periode 2014-2019 berbeda dengan periode sebelumnya (UU
No. 27 Tahun 2009), dan dapat dikemukakan sebagai berikut :
PERIODE 2009-2014
Pimpinan DPR terdiri atas satu orang
Ketua dan empat orang Wakil Ketua
yang berasal dari Parpol berdasartkan
urutan perolehan kursi terbanyak di
DPR.
Ketua DPR ialah anggota DPR yang
berasal dari Parpol yang memperoleh
kursi terbanyak pertama di DPR.
Wakil Ketua DPR ialah anggota DPR
yang berasal dari Parpol yang memperoleh kursi terbanyak kedua, ketiga,
keempat, dan kelima.

PERIODE 2014-2019
Pimpinan DPR terdiri atas satu orang
Ketua dan empat orang Wakil Ketua
yang dipilih dari dan oleh anggota
DPR.
Pimpinan DPR dipilih dalam satu paket
yang bersifat tetap.
Bakal calon pimpinan DPR berasal dari
Fraksi dan disampaikan dalam rapat
paripurna DPR.
Setiap Fraksi dapat mengajukan satu
bakal calon pimpinan DPR.
Pimpinan DPR dipilih secara musyawarah untuk mufakat dan ditetapkan
dalam rapat paripurna DPR.
Dalam hal musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, pimpinan DPR
dipilih dengan pemungutan suara dan
yang memperoleh suara terbanyak
ditetapkan sebagai pimpinan DPR
dalam rapat paripurna DPR.

Mekanisme pemilihan pimpinan DPR yang tercantum dalam UU No. 17


Tahun 2014 tentang MD3 tersebut ditolak oleh Fraksi PDIP dengan walk out
87

pada waktu pengambilan keputusan di DPR, bahkan akan mengajukan uji


materil (judicial review) ke MK. Alasannya adalah secara etika dan sudah
merupakan konvensi bahwa pada periode-periode sebelumnya yang menjadi
Ketua DPR itu otomatis dari Parpol pemenang pemilu legislatif. Giliran pemilu
legislatif tahun 2014 dengan pemenangnya PDIP, pengangkatan Ketua DPR
justru harus dilakukan melalui pemilihan dari dan oleh anggota DRP. Akan
tetapi sampai dengan naskah diktat ini dibuat belum ada proses pengajuan
uji materil baik oleh PDIP maupun pihak lain oleh pihak lain ke MK.

DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD)


DPD adalah lembaga negara yang seluruh anggotanya juga anggota MPR. Mereka merupakan wakil-wakil dari provinsi.
a. Keanggotaannya dipilih melalui Pemilu (perseorangan) yang pelaksanaannya
bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan DPRD;
b. Persidangan sedikitnya sekali dalam satu tahun;
c. Kewenangannya mengajukan rencangan UU kepada DPR yang berkaitan
dengan otonomi daerah (ikut membahas), serta memberikan pertimbangan
kepada DPR atas rancangan UU-APBN, rancangan UU yang berkaitan dengan
pajak, pendidikan, dan agama (tidak ikut membahas);
d. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU yang berkaitan dengan
otonomi daerah, yang hasilnya disampaikan kepada DPR.
Yang berkaitan dengan otonomi daerah dimaksud antara lain :
a. Hubungan pusat dan daerah;
b. Pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah;
c. Pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya;
d. Masalah perimbangan keuangan pusat dan daerah.
Untuk lebih jelasnya, kewenangan DPD yang berkaitan dengan pembahasan peraturan perundang-undangan, dll. tersebut di atas dapat dilihat dalam
matrik di bawah ini.

88

1. RUU YANG
BERKAITAN
DENGAN :
1. Otonomi Daerah
2. Hubungan Pusat
dan Daerah
3. Pembangunan, pemekaran,
dan
penggabungan daerah
4. Pengelolaan SDA
dan SD Ekonomi
lainnya
5. Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah
6. RAPBN
7. Pajak
8. Pendidikan
9. Agama
2. PEMILIHAN
ANGGOTA BPK

Dapat
Mengajukan

Ikut
Membahas

Memberi
Pertimbangan

Dapat
Melakukan
Pengawasan

Melihat kewenangan tersebut di atas jelas terbatas, sehingga DPD gencar


memperjuangkan menambah fungsi dan peranannya dalam pembahasan
peraturan perundangan-undangan mengingat kedudukannya sama dengan DPR
sebagai anggota MPR (bikameral), dengan mengusulkan perubahan (amandemen) UUD 1945 yang kelima kalinya.
Keanggotaan DPD mirip Senat di Amerika Serikat (wakil Negara Bagian),
karena mewakili daerah provinsi dengan jumlah tiap provinsi empat orang, dan
jumlah seluruhnya tidak dari 1/3 anggota DPR, atau sekarang 132 orang.
Adapun alat-alat kelengkapan DPD dapat dikemukakan :
Komite I : Membidangi :
a. Otonomi Daerah;
b. Hubungan Pusat dan Daerah serta Antardaerah;
c. Pembentukan, Pemekaran, dan Penggabungan Daerah;
d. Permukiman dan Kependudukan;
e. Perumahan dan Tata Ruang;
f. Politik, Hukum, dan HAM.
89

Komite II : Membidangi :
a. Pertanian dan Perkebunan;
b. Kehutanan dan Lingkungan Hidup;
c. Kerlautan dan Perikanan;
d. Perhubungan;
e. Energi dan Sumber Daya Mineral;
f. Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan dan Daerah Tertinggal;
g. Perindustrian dan Perdagangan;
h. Penanaman Modal;
i. Pekerjaan Umum.
Komite III : Membidangi :
a. Pendidikan;
b. Agama;
c. Kebudayaan;
d. Kesehatan;
e. Pemuda dan Olahraga;
f. Pariwisata;
g. Kesejahteraan Sosial;
h. Pemberdayaan Perempuan;
i. Ketenagakerjaan.
Komite IV : Membidangi :
a. APBN;
b. Pajak;
c. Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah;
d. Lembaga Keuangan dan Koperasi;
e. UKM.
Panitia dalam DPD :
a. Perancang Undang-Undang;
b. Urusan Rumah Tangga;
c. Badan Kehormatan;
d. Hubungan Antarlembaga DPD;
90

e. Kelompok DPD di MPR;


f. Akuntabilitas Publik.
Sementara itu, berdasarkan putusan MK tanggal 27 Maret 2013 (Republika : 3-10-2013, hal. 5), dinyatakan bahwa DPD bersama DPR dan Presiden
berhak turutserta mengajukan, dan menyusun Program Legislasi Nasional
(Prolegnas), hingga membahas RUU tertentu yang berkaitan dengan Daerah.
Dalam hal ini, setiap pembahasan RUU tententu harus melibatkan DPD sejak
pembahasan tingkat 1 oleh Komisi atau Pansus DPR.

Kemudian DPD

menyampaikan pendapat pada pembahasan tingkat 2 dalam rapat paripurna


DPR sebelum tahap persetujuan. Namun tidak ada kewenangan DPD untuk ikut
memberi per-setujuan terhadap RUU menjadi UU {Pasal 22 Ayat (2) UUD 1945}.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK)
BPK adalah lembaga negara yang mempunyai tugas memeriksa tanggung jawab
keuangan negara (inspektif). Badan ini bebas dari pengaruh dan kekuasaan
pemerintah.
a. Hasil pemeriksaan BPK diserahkan kepada DPR, DPRD, dan DPD. Lembaga
perwakilan rakyat ini dan instansi pemerintah harus menindaklanjutinya;
b. BPK terdiri dari seorang Ketua merangkap anggota, seorang Wakil Ketua
merangkap anggota, dan lima orang anggota;
c. Keanggotaan BPK dipilih melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and profer
test) oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD, kemudian
diresmikan oleh Presiden;
d. Ketua BPK dipilih dari dan oleh para anggota;
e. BPK berkedudukan di ibukota negara, dan memiliki perwakilan di tingkat
provinsi.
MAHKAMAH AGUNG (MA)
MA adalah lembaga negara yang mempunyai tugas yudikatif, dan mempunyai
kewenangan mengadili pada tingkat kasasi serta menguji peraturan perundangundangan di bawah UU.
91

a. Ketua dan Wakil Ketua MA dipilih dari dan oleh para Hakim Agung;
b. Calon Hakim Agung diusulkan oleh KY kepada DPR untuk mendapat
persetujuan melalui uji kelayakan dan kepatutan, kemudian ditetapkan oleh
Presiden;
c. Badan-badan peradilan yang berada di bawah MA adalah peradilan umum,
peradilan militer, peradilan agama, dan peradilan tata usaha negara, serta
termasuk juga peradilan tindak pidana korupsi (tipikor).

MAHKAMAH KONSTITUSI (MK)


Kewenangan MK adalah menguji UU terhadap UUD, memutuskan sengketa
kelembagaan negara, memutuskan pembubaran Parpol, dan perselisihan hasil
Pemilu. Kewajibannya memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai
dugaan pelanggaran Presiden menurut UUD 1945.
Berdasarkan putusan MK No. 97/PUU-XI/2013 tanggal 19 Mei 2014 atas
uji materil Pasal 236C UU No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UU
No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Pasal 29 Ayat 1 huruf e UU
No. 48 Tahun 2009 tentang Kakuasaan Kehakiman terhadap UUD 1945 yang
diajukan oleh Forum Kajian Hukum dan Konstitusi (FKHK), BEM FH Universitas
Esa Unggul, Gerakan Mahasiswa Hukum Jakarta, Joko Widiarto, dan Achmad
Saifudin Firdaus (Republika, 20 Mei 20145:3), maka kewenangan MK tentang
kewenangan menyidangkan sengketa pemilihan kepala daerah dicabut, karena
tidak sesuai dengan UUD 1945. Namun untuk menghindari kevacuman serta
ketidakpastian hukum pascaputusan dimaksud, MK tetap akan menyidangkan
sengketa pilkada sampai ada revisi terhadap UU tersebut di atas.
Pertimbangan MK atas putusan itu karena norma Pasal 236C UU No. 12
Tahun 2008 yang menyebutkan pengalihan hak penanganan sengketa pilkada
dari MA ke MK justru mengaburkan fungsi lembaga pengawal konstitusi itu.
UUD 1945 telah menentukan kewenangan dan kewajiban MK secara limitatif
(terbatas), sehingga kewenangan MK tak bisa ditambah atau dikurangi.
Penjelasan lebih lanjut dari Patrialis Akbar, salah sorang Hakim MK, kalau
92

Pilkada masuk dalam sengketa yang ditangani MK, maka berarti pemilu bukan
lima tahun sekali melainkan berkali-kali, yang sama saja memperluas makna
pemilu. Pemilihan Kepala Daerah tidak termasuk dalam pemilihan umum. Hal
ini sesuai dengan putusan MK sebelumnya yang menyatakan pemilu legislatif
dan pemilu Presiden/Wakil Presiden lima tahun sekali harus dilaksanakan
serentak (sekaligus), yang akan mulai dilaksanakan pada tahun 2019.
Dengan demikian, kewenang MK jelasnya adalah :
a. Menguji UU terhadap UUD 1945;
b. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh UUD 19456;
c. Memutus pembubaran partai politik;
d. Memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil
Presiden telah melakukan pelanggaran hukum, atau perbuatan tercela, atau
tidak memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.
Keanggotaan MK sembilan orang. Proses rekrutmennya dilakukan melalui
uji kelayakan dan kepatutan oleh DPR, yang calonnya masing-masing diajukan
tiga orang oleh MA, tiga orang oleh DPR, dan tiga orang oleh Presiden. Setelah
pengangkatan oleh Presiden, selanjutnya pemilihan Ketua dan Wakil Ketua MK
dilakukan oleh dan di antara para anggota MK. Keberadaan MK dibentuk dengan
UU No. 24 Tahun 2003 dan diubah dengan UU No. 8 Tahun 2011.

KOMISI YUDISIAL (KY)


Kewenangan KY adalah mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR,
serta menjaga kehormatan, keluhuran martabat dan perilaku hakim. Keanggotaannya diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas persetujuan DPR. Persetujuan DPR dilakukan melalui uji kelayakan dan kepatutan terlebih dulu. Karena
itu anggota KY harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum
serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. Untuk selanjutnya
keberadaan KY diatur lebih lanjut dengan Undang-Undang.
93

3. Lembaga-lembaga Pemerintahan.
Selain lembaga-lembaga negara tersebut di atas, terdapat juga lembagalembaga penyelenggara pemerintahan, yaitu :
a. Tingkat Pusat :
1) Menteri Koordinator (Menko) : Ada tiga (membidangi Polhukam, Perekonomian, dan Kesra);
2) Menteri Negara (Meneg) : Ada yang memimpin kementerian/departemen, ada yang tidak;
3) Lembaga Pemerintah Non Kementerian/Depertemen (LPNK/D) :
a) LAN (Lembaga Administrasi Negara);
b) ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia);
c) BKN (Badan Kepegawaian Negara);
d) PERPUSNAS (Perpustakaan Nasional);BAPPENAS (Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional);
e) BSN ();
f) BAPETEN ();
g) BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional);
h) BIN (Badan Intelijen Negara);
i) LEMSANEG (Lembaga Sandi Negara);
j) PERUM BULOG (Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik);
k) BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional);
l) LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional);
m) BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan);
n) BAKORSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional);
o) LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia);
p) BPPT (Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi);
q) BPN (Badan Pertanahan Nasional);
r) BPOM (Badan Pemeriksa Obat dan Makanan);
s) LIN ();
t) BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika);
u) LEMHANAS (Lembaga Pertahanan Nasional).
94

4) Kesekretariatan yang membantu Presiden :


a) Sekretariat Negara;
b) Sekretariat Kabinet.
c) Kejaksaan Agung (Kejagung);
d) TNI;
e) POLRI;
5) Badan Ekstra Struktural :
a) WANTIMPRES (Dewan Pertimbangan Presiden);
b) DEN (Dewan Ekonomi Nasional);
c) DPUN (Dewan Pemulihan Usaha Nasional);
d) DPOD (Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah);
e) BAPEK (Badan Pertimbangan Kepegawaian);
f) Badan Pelaksana APEC;
g) BAPERJANAS (Badan Pertimbangan Jabatan Nasional);
h) BSF (Badan Sensor Film);
i) Tim Bakolak Inpres 6 (Badan Koordinasi Pelaksana Inpres 6);
j) TPI (Tim Pengembangan Industri);
k) KONI (Komite Orahraga Nasional);
l) KOMNAS HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia);
m) Ombudsman RI (Lembaga Pengawas Pelayanan Publik);
n) KPU (Komisi Pemilihan Umum);
o) KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)
p) BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia).
6) Perwakilan RI di Luar Negeri :
a) Kedutaan Besar;
b) Konsulat Jenderal;
c) Konsulat RI;
d) Perutusan Tetap RI di PBB;
e) Perwakilan RI tertentu yang bersifat sementara.
7) Aparatur Perekonomian Negara :
95

a) Perusahaan Negara (PN);


b) Badan Usaha Milik Negara (BUMN);
c) PT Persero.
b. Tingkat Daerah :
1) Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota);
2) Pemerintah Daerah didasarkan pada tiga asas : Dekonsentrasi, Desentralisasi, dan Tugas Pembantuan.
3) Pemerintah Daerah terdiri dari unsur-unsur :
a) DPRD sebagai badan legislatif daerah;
b) Kepala Daerah dan Perangkat Daerah sebagai badan eksekutif daerah;
c) Pemerintah Desa.
4) Perangkat Daerah terdiri dari :
a) Sekretariat Daerah (Setda);
b) Dinas Daerah;
c) Lembaga Teknis Daerah (Lemtekda);
d) Kecamatan;
e) Kelurahan.
Catatan :
1) Sekretariat Daerah (Setda) adalah unsur staf Pemerintah Daerah yang
dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda), mempunyai tugas dan kewajiban
membantu Gubernur/Bupati/Walikota dalam menyusun kebijakan dan
mengkoordinasikan Dinas Daerah dan Lembaga Teknis Daerah.

Sekda

Provinsi membawahkan Asisten dan Biro-biro, Sekda Kabupaten/Kota


membawahkan Asisten dan Bagian-bagian.
2) Sekretariat DPRD (Setwan) adalah unsur pelayanan terhadap DPRD, dipimpin
oleh Sekretaris DPRD (Sekwan), mempunyai tugas menyelenggarakan administrasi kesekretariatan, administrasi keuangan, mendukung pelaksanaan
tugas dan fungsi DPRD, dan menyediakan serta mengkoordinasikan tenaga
ahli yang diperlukan oleh DPRD sesuai dengan kemampuan keuangan
daerah.
3) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh
96

Kepala Dinas, mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah


berdasarkan asas desentralisasi dan tugas pembantuan.
4) Lembaga Teknis Daerah (Lemtekda) adalah unsur pendukung tugas Kepala
Daerah, dipimpin oleh Kepala Badan/Kantor/Direktur, mempunyai tugas
melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat
spesifik. Lemtekda dapat berbentuk Badan, Kantor, dan Rumah Sakit.
5) Kecamatan merupakan wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah
kabupaten/kota.

Camat mempunyai tugas melaksanakan kewenangan

pemerintahan yang dilimpahkan oleh Bupati/Walikota untuk menangani


sebagian urusan otonomi daerah.
6) Kelurahan merupakan wilayah kerja Kepala Kelurahan (Lurah) sebagai
perangkat daerah kabupaten/kota dalam wilayah kecamatan. Lurah berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota
melalui Camat.
7) Desa atau disebut dengan nama lain (nagari, dll.) adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat
setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di
daerah kabupaten.
8) Wilayah administrasi adalah wilayah kerja gubernur selaku wakil pemerintah
pusat.

Daerah provinsi karenanya berkedudukan pula sebagai wilayah

administrasi. Jadi, pada satu sisi Gubernur adalah Kepala Daerah Provinsi
(dalam rangka asas desentralisasi), dan pada sisi lain adalah wakil pemerintah pusat (dalam rangka asas dekonsentrasi). Sedangkan Bupati/Walikota
murni sebagai Kepala Daerah, bukan lagi Kepala Wilayah.
9) Instansi vertikal adalah perangkat kementerian/departemen atau LPNK di
daerah.
c. Aparatur Perekonomian Negara/Daerah :
Aparatur pemerintah juga mencakup perusahaan milik negara dan milik daerah
selaku aparatur perekonomian negara/daerah. Fungsinya di satu sisi sebagai
institusi yang mampu menyediakan pelayanan masyarakat, dan pada sisi lain
97

sebagai perusahaan yang memiliki kewajiban memaksimalkan keuntungan


(bisnis). Aparatur perekonomian negara mencakup :
1) Perusahaan Negara (PN) atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN). BUMN
disebut juga Badan Usaha Negara (BUN);
2) Perusahaan Daerah (PD) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

98

BAB V
IDENTITAS NASIONAL DAN
NASIONALISME INDONESIA

A. IDENTITAS NASIONAL INDONESIA


1. Pengertian.
Identitas berasal dari bahasa Inggris identity, yang berarti ciri, tanda, atau
jatidiri yang melekat pada seseorang, kelompok, benda, atau sesuatu, yang
membedakannya dengan yang lain. Sedangkan nasional merujuk pada konsep
kebangsaan. Jadi, identitas nasional adalah ciri, tanda, atau jatidiri suatu bangsa
yang berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya.
Identitas nasional lebih merujuk pada identitas dalam pengertian politik
(political unity). Identitas nasional Indonesia berbeda dengan bangsa-bangsa
lainnya di dunia, yang salah satu di antaranya adanya Pancasila sebagai dasar
filsafat, pandangan hidup, kepribadian, dan dasar negara. Pengertian identitas
nasional yang dikemukakan oleh Koento Wibisono (2005) adalah manifestasi
nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu
bangsa (nation) dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciri-ciri khas tadi suatu bangsa
berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya.
Adapun indikator yang dijadikan sebagai salah satu parameter budaya untuk
mencari identitas nasional, antara lain :
a. Pola perilaku yang terwujud melalui aktivitas masyarakat sehari-hari. Hal ini
menyangkut adat-istiadat, tata kelakuan, dan kebiasaan.
b. Lambang-lambang yang merupakan ciri dari bangsa dan secara simbolis menggambarkan tujuan dan fungsi bangsa. Ini biasanya dinyatakan dalam bentuk
peraturan perundang-undangan, seperti Garuda Pancasila, bendera, bahasa,
lagu kebangsaan, dan semboyan negara.
c. Alat-alat kelengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan seperti
bangunan, teknologi, dan peralatan lain. Contohnya bangunan tempat ibadah,
pakaian adat, teknologi bercocok tanam, dan teknologi lain seperti pesawat
terbang, kapal laut, alat komunikasi, dll.
99

d. Tujuan yang ingin dicapai suatu bangsa yang sifatnya dinamis dan tidak tetap
seperti budaya unggul, prestasi dalam bidang tertentu (misalnya pertanian,
olah raga, kesenian, dll.).
2. Faktor-faktor Pembentuk Identitas.
Menurut Ramlan Surbakti (1999), proses pembentukan bangsa-bangsa memerlukan identitas-identitas untuk menyatukan. Faktot-faktor yang menjadi identitas
bersama suatu bangsa meliputi primordial, sakral, tokoh, sejarah, bhinneka
tunggal ika, perkembangan ekonomi, dan kelembagaan.
a. Primordial.
Faktor ini meliputi ikatan kekerabatan (darah dan keluarga), kesamaan suku
bangsa, daerah asal (homeland), bahasa, dan adat-istiadat. Dengan faktor ini
masyarakat dapat membentuk bangsa negara. Contoh, bangsa Yahudi
membentuk negara Israel.
b. Sakral.
Faktor ini dapat berupa agama atau ideologi yang dianut/diakui oleh
masyarakat bersangkutan. Contoh, agama Katholik mampu membentuk
beberapa negara di Amerika Latin, Uni Soviet dan Cina diikat oleh kesamaan
ideologi komunisme, dll.
c. Tokoh.
Kepemimpinan para tokoh yang disegani dan dihormati masyarakat
(karismatik), dapat menjadi faktor yang menyatukan bangsa negara. Contoh,
Mohandas Karamchan Ghandi (Mahatma Ghandi) di India, Yoseph Broz Tito di
Yugoslavia, Nelson Mandela di Afrika Selatan, dan Ir. Sukarno (Bung Karno) di
Indonesia.
d. Sejarah.
Persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu yang menderita akibat
penjajahan menimbulkan perasaan senasib sepenanggungan dan solidaritas
warga masyarakat, sehingga melahirkan tekad dan tujuan untuk membentuk negara. Contoh, Indonesia.
e. Bhinneka Tunggal Ika.
100

Kesediaan warga masyarakat untuk bersatu dalam perbedaan (unity in


diversity) tanpa menghilangkan keterikatannya pada suku bangsa, adatistiadat, ras, dan agama, dapat membentuk organisasi besar berupa negara.
Contoh, Republik Indonesia.
f. Perkembangan Ekonomi.
Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi pekerjaan dan profesi sesuai dengan aneka kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi
mutu dan variasi kebutuhan masyarakat, semakin saling bergantung di antara
jenis pekerjaan, dan akan semakin besar solidaritas dan persatuan dalam
masyarakat. Concohnya, negara-negara di Amerika utara dan Eropa barat.
g. Kelembagaan.
Kerja dan perilaku lembaga pemerintahan dan politik yang baik, yang mempertemukan dan melayani warga tanpa membeda-bedakan asal-usul, suku,
agama, ras, dll., dapat mempersatukan orang-orang sebagai suatu bangsa.
Berdasarkan parameter sosiologi, faktor-faktor pembentuk identitas
nasional menurut Srijanti (2009:35) adalah :
a. Suku Bangsa.
Adalah golongan sosial yang khusus dan bersifat askriptif (ada sejak lahir)
yang sama coraknya dengan golongan usia dan jenis kelamin. Indonesia
dikenal sebagai bangsa yang terdiri dari banyak suku bangsa (lk. 300) dan
setiap suku bangsa mempunyai adat-istiadat, tata kelakuan, dan norma yang
berbeda-beda, akan tetapi terintegrasi dalam suatu negara Indonesia.
b. Kebudayaan.
Termasuk di dalamnya adalah ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, kesenian,
mata pencaharian, peralatan/perkakas, sistem kepercayaan, adat-istiadat, dll.
Kebudayaan sebagai parameter identitas nasional harus yang merupakan
miliki bersama (bukan individu/pribadi).
c. Bahasa.
Sebagai alat berkomunikasi dengan sesamanya. Bahasa memiliki simbol yang
menjadikan suatu perkataan mampu melambangkan arti apa pun.
d. Kondisi Geografis.
101

Menunjukkan lokasi negara dalam kerangka ruang, tempat, dan waktu,


sehingga menjadi jelas batas-batas wilayahnya di muka bumi.
3. Idetitas Kesukubangsaan.
Identitas kesukubangsaan (cultural unity) merujuk pada bangsa dalam
pengertian kebudayaan atau sosio-antropologis, yang disatukan oleh adanya
kesamaan ras, suku, agama, adat-istiadat, keturunan (darah), dan daerah asal
(homeland). Identitas yang dimiliki oleh sebuah cultural unity bersifat askriptif,
alamiah (bawaan), primer, dan etnik. Setiap anggota memiliki kesetiaan
(loyalitas) pada identitasnya (pada suku, agama, budaya, kerabat, daerah asal,
bahasa). Identitas ini disebut juga identitas primordial yang pada umumnya
sangat kuat karena memiliki ikatan emosional dan solidaritas erat.
4. Identitas Kebangsaan dan Identitas Nasional Indonesia.
Identitas kebangsaan (political unity) merujuk pada bangsa dalam pengertian
politik, yaitu bangsa-negara. Bisa saja dalam negara hanya ada satu bangsa
(homogen), tetapi pada umumnya terdiri dari banyak bangsa (heterogen).
Karena itu negara perlu menciptakan identitas kebangsaan atau identitas
nasional, yang merupakan kesepakatan dari banyak bangsa di dalamnya.
Identitas nasional dapat berasal dari identitas satu bangsa yang kemudian
disepakati oleh bangsa-bangsa lainnya yang ada dalam negara itu, atau juga dari
identitas beberapa bangsa yang ada kemudian disepakati untuk dijadikan
identitas bersama sebagai identitas bangsa-negara.
Kesediaan dan kesetiaan warga bangsa/negara untuk mendukung identitas
nasional perlu ditanamkan, dipupuk, dan dikembangkan terus-menerus.
Mengapa? Karena warga lebih dulu memiliki identitas kelompoknya, sehingga
jangan sampai melunturkan identitas nasional. Di sini perlu ditekankan bahwa
kesetiaan pada identitas nasional akan mempersatukan warga bangsa itu sebagai
satu bangsa dalam negara. Bentuk identitas kebangsaan bisa berupa adatistiadat, bahasa nasional, lambang nasional, bendera nasional, termasuk juga
ideologi nasional.
Proses pembentukan identitas nasional di Indonesia cukup panjang, dimulai
102

dengan kesadaran adanya perasaan senasib dan sepenanggungan bangsa Indonesia sebagai akibat kekejaman pemerintah penjajahan Belanda dan Jepang,
yang kemudian memunculkan komitmen bangsa (tekad yang kemudian menjadi
kesepakatan bersama) untuk berjuang dengan upaya yang lebih teratur melalui
organisasi-organisasi perjuangan (pergerakan) kemerdekaan mengusir penjajah
sampai akhirnya Indonesia berhasil merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dan
membentuk negara.

Beberapa bentuk identitas nasional Indonesia sebagai

wujud konkrit dari hasil perjuangan bangsa dimaksud adalah :


a. Dasar Falsafah atau Filsafat dan Ideologi Negara, yaitu Pancasila.
b. Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan, yaitu Bahasa Indonesia.
c. Lagu Kebangsaan, yaitu Indonesia Raya.
d. Lambang Negara, yaitu Garuda Pancasila.
e. Semboyan Negara, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.
f. Bendera Negara, yaitu Sang Merah Putih.
g. Hukum Dasar Negara (Konstitusi), yaitu UUD 1945.
h. Bentuk Negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan bentuk
pemerintahannya Republik.
i. Konsepsi Wawasan Nusantara, yaitu cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba beragam dan memiliki nilai strategis
dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, kesatuan wilayah
dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, untuk mencapai tujuan nasional.
j. Beragam kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional Indonesia.

B. NASIONALISME
1. Nasionalisme di Barat.
Istilah nasionalisme sudah ada sejak zaman Yunani-Romawi. Istilah ini pada mulanya berasal dari bahasa Latin natio, dari kata nascor yang berarti saya lahir.
Pada saat itu kata nascor belum menjadi konsep politik ideologis dalam kehidupan polis (negara kota). Pada masa kekuasaan Romawi istilah natio malah
103

digunakan secara pejoratif, yaitu untuk mengolok-olok orang asing. Pada abad
pertengahan istilah natio diidentikkan dengan kelompok pelajar/mahasiswa
asing. (Hariyono, 2010:20).
Konsep negara yang mempunyai kedaulatan ke dalam dan ke luar, baru
muncul pada abad ke XVII. Pada tahun 1648 diadakan perjanjian Westphalia
yang menjamin kedaulatan suatu negara, tetapi masyarakat Eropa sendiri yang
feodal masih belum mengenal negara modern, termasuk kedaulatan. Untuk
itulah perjanjian Westphalia sebagai rujukan awal yang menjadi referensi
tentang kedaulatan suatu negara. Namun berhubung masyarakat Eropa masih
banyak dikuasai oleh kekuatan monarki absolut, pelanggaran kedaulatan sering
terjadi.
Inggris menjadi pelopor berdirinya negara modern kendati bentuk pemerintahannya tetap monarki. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari sejarahnya yang
sejak abad XII sudah berhasil membatasi kekuasaan raja yang absolut (Magna
Charta, Habeas Corpus Act, Patition of Right, dll.).

Namun sebagai negara

bangsa, Inggris baru dapat menerapkannya pada abad ke XVII, yang pada saat itu
negara sudah mempunyai batas wilayah yang jelas, sistem administrasi pemerintahan dan pajak sudah baik, dan tentu saja sudah ada ideologi nasionalisme.
Kewajiban bagi setiap warga negara untuk setia pada negara makin menguat,
dan negara juga wajib melindungi warga negaranya. (Gidden, 1985, dalam
Hariyono, 2010:21).
Pada saat revolusi Perancis, istilah nation sudah mempunyai muatan politis
ideologis. Hal ini tercermin dari penamaan parlemen Perancis dengan istilah
Assemblee Nationale. Terjadi perubahan makna dalam lembaga ini yang
sebelumnya sangat eksklusif dan dikuasai kaum bangsawan dan agama, menjadi
relatif egaliter, yaitu dilibatkannya semua lapisan masyarakat. Golongan ketiga
yang menjadi anggota Assemblee Nationale berasal dari rakyat, baik yang borjuis
maupun rakyat biasa.

Kondisi ini membawa dampak bahwa istilah nation

ditafsirkan sebagai bangsa atau penduduk resmi suatu negara. Hal ini tidak
terlepas dari gaung atau gelora negara kebangsaan di Amerika yang berpengaruh
besar terhadap masyarakat Perancis yang dikuasai oleh monarki absolut.
104

Sebagaian besar rakyat Perancis menuntut adanya perubahan kewenangan


dalam hal kekuasaan. Kaum bangsawan dan agama yeng berkuasa dengan hidup
boros dan korup mulai digugat. Mereka mendirikan The Third Estate (estate
ketiga) untuk melawan dominasi estate pertama dan kedua. Estate pertama dan
kedua dilawan karena kaum bangsawan dan pendeta telah menjadi parasit
negara. Kemudia estate ketiga inilah yang menjadi Estate General yang
mewakili bangsa, dan mengubah dirinya menjadi Nationale Assemblee (Dewan
Nasional).
Nationale Assemblee ini kemudian menyetujui prinsip-prinsip dasar dari
Declaration of the Right of Man (Deklarasi Hak Asasi Manusia).

Dalam

deklarasi ini pada klausul ketiga disebutkan bahwa bangsa pada dasarnya
merupakan sumber semua kekuasaan. Tidak ada individu atau kelompok yang
tidak memiliki hak untuk memegang kekuasaan yang tidak berasal atau disetujui
oleh bangsa. (Adams, 2004:122).
Sementara itu nasionalisme di Amerika Serikat, dilatarbelakangi oleh
berbagai bangsa yang datang (Inggris, Perancis, Spanyol, Portugis, Afrika, dll.)
termasuk Suku Indian yang menyatakan bersatu membentuk negara. Untuk
membangkitkan dan mempertahankan persatuan dari keberagaman atau
nasionalisme, salah satu upayanya diadakan pendidikan civics untuk mengamerikakan bangsa Amerika atau Theory of Americanization.
Demikianlah, negara kebangsaan atau nasionalisme di Eropa secara tegas
menunjukkan adanya pergeseran kekuasaan dari raja ke rakyat. Nasionalisme di
Barat telah menggeser kekuasaan yang magis religious yaitu penguasa yang
dipandang sebagai wakil Tuhan (dhi. raja/kaisar) yang dalam prakteknya seolah
memiliki kekuasaan absolut (mutlak), dan akibatnya banyak penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Kekuasaan yang cenderung mutlak dan korup ini
kemudian dibatasi. Artinya, penguasa hanya boleh berkuasa dengan persetujuan
yang dikuasai (rakyat). Kemudian dibuat suatu kontrak sosial antara penguasa
dengan rakyat.
Perkembangan berikutnya nasionalisme di Barat membawa pengaruh
besar terhadap sistem demokrasi. Kekuasaan tidak boleh lagi ada pada satu
105

lembaga. Lembaga yang memerintah (eksekutif) harus dipisahkan dengan


lembaga yang membuat regulasi atau undang-undang (legislatif) dan lembaga
yang menjalankan pengadilan dan penegakkan hukum (yudikatif). Negara
kebangsaan di Barat menjadi pelopor negara hukum yang mengganti negara
kekuasaan. Kesewenang-wenangan penguasa dibatasi, dan hak asasi manusia
dihormati dan dilindungi.
Dalam perkembangan sejarah, nasionalisme yang pada mulanya diwarnai
oleh perbedaan kelas, khususnya kelas bangsawan dan pendeta berhadapan
dengan rakyat, tidak lagi ditonjolkan. Kaum borjuis berhasil menempa kepentingan bersama suatu bangsa. Garis-garis kelas dikaburkan dan dilebur menjadi
suatu kepentingan bangsa. Nasionalisme kemudian lebih menonjolkan suatu
batas-batas geografis. Kesamaan kewarganegaraan tidak ditentukan oleh
sekedar kesamaan bahasa dan budaya. Batas geografis yang menjadi wilayah
suatu negaralah yang membedakan mengapa mereka menjadi bangsa yang
berbeda dengan bangsa lainnya. Perasaan senasib dan sepenanggungan,
penggunaan bahasa yang sama atau ras selalu diwadahi dalam wilayah tertentu.
(Loomba, 2003 dalam Hariyono, 2010:23).
Demikianlah, nasionalisme di Inggris sangat diwarnai oleh etnis dan budaya
yang beragam. Masyarakat Wales, Skotlandia, dan Irlandia merupakan bagian
dari kerajaan Inggris. Mereka diikat sebagai satu bangsa oleh kekuasaan yang
menguasai teritorial geografis Inggris. Tuntutan kebebasan masyarakat sipil
berjalan secara gradual walaupun diwarnai sedikit kekerasan. Sementara itu di
Perancis perkembangan nasionalismenya sempat menciptakan ledakan revolusi
yang cukup fenomenal di dunia. Revolusi Perancis menjadi salah satu tonggak
berkembangnya nasionalisme modern dan demokrasi.

Semangat revolusi

Perancis terkenal dengan semboyan liberty, egality, dan fraternity (kebebasan,


persamaan/kesetaraan, dan persaudaraan). Kendati dalam kehidupan nyata
kelompok borjuis relatif dominan, namun kesadaran sebagai suatu bangsa telah
menyebar kepada masyarakat. Sebagai kelompok yang progresif, kaum borjuis
berhasil mendobrak tatatanan feodalisme yang dikuasai kaum bangsawan dan
agama.
106

2. Nasionalisme di Indonesia.
Seiring dengan berjalannya waktu penjajahan di Indonesia, cara dalam mengeksploitasi kekayaan alam dan manusia, selalu berubah. Awalnya Spanyol dan
Portugis berusaha mengadakan perdagangan, namun kemudian berusaha
menjajah. Perlawanan yang hebat oleh kerajaan-kerajaan di nusantara berhasil
mengalahkan dan mengusir mereka. Sementara itu kongsi dagang belanda, VOC
(Vereenigde Oost Indische Compagnie) memanfaatkan perseteruan kerajaankerajaan yang ada di nusantara dengan Spanyol dan Portugis. Akhirnya Spanyol
menjajah Filipina dan Portugis menjajah Timor Timur. VOC secara cerdik berhasil
melakukan penetrasi (penyusupan) melalui politik adu domba, pecah belah dan
menguasai (devide et impera) yang akhirnya VOC menguasai sebagian wilayah
nusantara, dengan membuat markas di Ambon Maluku, kemudian pada awal
abad XVII berhasil membangun benteng di Jayakarta, Sunda Kepala.
Keberhasilan membangun benteng di Jayakarta inilah yang banyak membawa perubahan di nusantara. VOC sukses mengadu domba penguasa Jayakarta
dengan penguasa Banten. Akhirnya VOC menjadi penguasa tunggal di Jayakarta,
dan terus melakukan perluasan wilayah di Jawa khususnya dan nusantara pada
umumnya. Lawan yang sangat tangguh pada saat itu adalah kerajaan Mataram
yang dipimpin oleh Sultan Agung. Akan tetapi setelah Sultan Agung wafat,
Mataram mengalami kemunduran.

Raja-raja pengganti yang lemah malah

memberi kesempatan kepada VOC untuk menanamkan pengaruhnya di


nusantara, bahkan VOC campur tangan dalam urusan pemerintahan kerajaan
Mataram. Suksesi di kerajaan dimanfaatkan oleh VOC untuk kepentingannya.
Raja yang lemah dan bersedia memberi konsesi lebih besar didukung. Sedikit
demi sedikit wilayah kerajaan Mataram menjadi wilayah jajahan langsung VOC.
Bahkan pengangkatan raja baru, harus mendapat persetujuan lebih dulu dari
VOC. Demikian halnya dengan kerajaan-kerajaan lain di nusantara.
Birokrasi VOC sebagai kongsi dagang memang membawa keuntungan bagi
perusahaan maupun pemerintah kerajaan Belanda. Akan tetapi lama kelamaan
di dalam VOC terjadi masalah, yaitu pembukuan yang curang, pegawai yang tidak
cakap dan korup, hutang besar, dan sistem monopoli serta paksa dalam
107

pengumpulan bahan/hasil tanaman penduduk menimbulkan kemerosotan moral


para penguasa maupun penduduk yang sangat menderita, ditambah perang di
Eropa, untuk memperebutkan hegemoni perdagangan, mengakibatkan kerugian
besar yang akhirnya VOC bangkrut. (Marwati Djoened, V, 1993:1). Akhirnya
pemerintah kerajaan Belanda mengambil alih VOC dan membubarkannya. Sejak
saat itu penguasaan nusantara diambil alih oleh pemerintah kerajaan Belanda
menjadi wilayah jajahan secara politik atau koloni. Gubernur Jenderal VOC yang
ada di nusantara tidak lagi bertanggung jawab kepada majikan dan pemilik
saham VOC, tetapi kepada pemerintah kerajaan Belanda melalui menteri
penjajahan. Gubernur Jenderal ditunjuk menjadi penguasa tertinggi di nusantara.
Sementara itu sejak abad ke XVII proses penjajahan di dunia makin intensif.
Proses eksploitasi koloni-koloni terus dilakukan. Ketika terjadi pergolakan politik
di Eropa setelah revolusi Perancis, sempat memberi pengaruh terhadap penjajahan di nusantara.

Bahkan Belanda sempat menjadi jajahan Perancis, dan

mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal di nusantara atau Hindia


(1808-1811). Tugas utama Daendels adalah mempertahankan jajahannya di
Hindia khususnya Jawa dari kemungkinan serangan Inggris. Yang fenomenal
dilakukannya adalah pembuatan jalan dari Anyer ke Panarukan yang membawa
banyak korban rakyat. Pada saat inilah terkenal perlawanan Pangeran Kornel
dari Sumedang di Cadas Pangeran.
Ternyata armada Inggris tidak dapat dibendung oleh pasukan Belanda di
bawah Perancis, dan sejak tahun 1812 wilayah Hindia diambil alih oleh Inggris,
dan diangkatlah Thomas Stanford Raffles menjadi Letnan Gubernur Jenderal
Hindia (1811-1816). Sejak saat itu nusantara (Hindia) berubah menjadi jajahan
Inggris. Bahkan Inggris sempat membidani berdirinya kerajaan Pakualaman Yogyakarta. Raffles sempat mengenalkan sistem politik ekonomi yang liberal.
Perkembangan politik di Eropa pasca kekalahan Perancis di bawah Kaisar
Napoleon Bonaparte berpengaruh terhadap nasib negara dan bangsa di nusantara. Inggris berusaha memperkuat negaranya yang berbatasan dengan Perancis,
demikian juga negeri Belanda yang berbatasan langsung dengan Perancis
108

dibantu. Bahkan Belanda dijadikan sebagai negara tameng (buffer state). Agar
Belanda kuat wilayah jajahannya, maka harus dikembalikan kepada Belanda.
Demikianlah, berdasarkan perjanjian London tahun 1816 antara Inggris dengan
Belanda pasca kekalahan Perancis itu, Belanda diberi kewenangan untuk kembali
mengelola tanah jajahan. Maka wilayah nusantara pun sejak tahun 1816 oleh
Inggris dikembalikan kepada Belanda.

Wilayah nusantara kembali dijajah

Belanda dengan sebutan Hindia Belanda (Holland Indische).


Belanda sangat bernafsu untuk memperoleh keuntungan lagi di nusantara
dan berusaha mencari cara eksploitasi yang efektif dan efisien, di antaranya
melalui cultuur stelseel yang oleh rakyat di nusantara lebih dikenal tanam paksa.
Terjadilah beberapa perlawanan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di nusantara
antara lain Iman Bonjol di Sumatera Barat (1821-1837), Pangeran Diponegoro di
Jawa (1825-1830), Pattimura, Paulus Tiahahu dan putrinya Marta Kristina
Tiahahu di Maluku (1817), Sultan Hasanuddin di Makassar (1824), Pangeran
Antasari (1859) di Kalimantan Selatan, Gusti Jelantik di Bali (1849), Teuku Umar,
Teuku Tjik Di Tiro, Cut Nya Din di Aceh (1878-1898), Si Singamangaraja XII di
Sumatera Utara(1878-1907), dll.
Demikianlah, kesadaran akan rasa kebangsaan atau nasionalisme itu di
nusantara telah tumbuh sejak zaman penjajahan Belanda sebagai akibat mengalami pemiskinan bersama, yang memberi prakondisi ke arah persatuan dan
bangkitnya kesadaran kebangsaan Indonesia (Yudi Latif, 2012:272). Kesadaran
nasionalisme berkembang secara perlahan (gradual) mengikuti kesempatan
politik yang dimungkinkan oleh rezim kolonialisme, perkembangan sarana
komunikasi dan jaringan sosial (capacity agency) yang mempertautkan elemenelemen sosial ke dalam suatu kolektivitas.
Mula pertama tumbuhnya kesadaran ini Yudi Latif menyebutnya sebagai
tumbuhnya kesadaran nasionalisme purba. Kemudian pada akhir abad ke-19
diikuti tumbuhnya kesadaran nasionalisme tua yang menandai babak baru
dalam perkembangan kesadaran nasionalisme di nusantara.

Hal ini terjadi

setelah kemenangan sayap liberal yang didukung pengusaha swasta dan kelas
menengah di negeri Belanda sejak 1848, yang membawa perubahan penting bagi
109

kebikajan kolonial di daerah jajahan.


Dalam melindungi modal swasta untuk mendapatkan tanah, buruh, dan
perluasan kesempatan usaha di tanah jajahan diperlukan perbaikan infrastruktur dan layanan birokrasi yang secara perlahan mengantarkan wilayahwilayah kepulauan nusantara menuju kesatuan ekonomi dan administrasi
kolonial.

Ekspansi modal juga membawa perkembangan baru dalam moda

transportasi dan komunikasi yang membawa integrasi vertikal dan horizontal, a.l.
maskapai pelayaran swasta, jaringan kereta api, layanan pos, telepon, dan
telegraf, industri percetakan/penerbitan, klub-klub sosial dan organisasi, dan
terutama terbukanya institusi pendidikan. Hal ini sebagai wujud tuntutan pihak
swasta dan orang-orang pemerintahan yang membutuhkan pekerja terampil
yang pada gilirannya mendorong pemerintah kolonial Belanda memberikan
perhatian pada urusan pendidikan.
Mulai saat itulah mulai berdirinya sekolah-sekolah yang sacara tidak
langsung membuat masyarakat Indonesia mencadi pintar dan melek
sehingga muncul kesadaran akan arti pentingnya persatuan dan kesatuan, yang
salah satunya diikat dalam organisasi-organisasi perjuangan (pergerakan).
Keuntungan selama tanam paksa tidak hanya meningkatkan pendapatan
kerajaan Belanda, rakyat dan para pengusaha Belanda pun banyak yang menjadi
kaya raya. Para pengusaha Belanda itu kemudian ingin menanamkan modalnya
di nusantara, dan mendesak kepada pemerintah kerajaan agar sistem tanam
paksa diganti dengan politik ekonomi yang memberi kebebasan kepada pihak
swasta. Maka sejak akhir tahun 1860-an mulai dirintis usaha eksploitasi yang
melibatkan pihak swasta, dan nusantara memasuki masa liberal. Bahkan pihak
swasta itu bukan hanya orang-orang Belanda, tetapi juga pihak swasta asing dari
negara-negara Eropa lainnya. Masa ini dikenal dengan masa politik pintu terbuka I.
Melihat dampak negatif yaitu kesengsaraan pribumi, banyak tokoh termatermasuk di kalangan Belanda sendiri yang mengusulkan perlunya pemerintah
memberikan balas budi, maka lahirlah politik etis. Salah satunya adalah kesempatan pendidikan bagi pribumi pada tahun 1864. Awalnya memang pendidikan
110

ini untuk mendapatkan orang pandai di kalangan pribumi untuk memenuhi


tenaga kerja Belanda sendiri yang digaji murah. Sekolah-sekolah yang diperuntukkan bagi bumi putra itu antara lain : Vervolg atau HIS (Hollandsch
Inlandsche School) setingkat SD, yang dibagi dua, yaitu untuk lapisan masyarakat
kelas bangsawan/priyayi dinamakan Eerste Klasse School (EKS = sekolah pribumi
kelas satu) dan Tweede Klasse School (TKS = sekolah pribumi kelas dua),
kemudian Mulo (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat SMP, AMS (Algemeine Midellbar School) setingkat SMA, dan tingkat perguruan tingginya adalah
RHS (Rechts Hoge School) yaitu sekolah hukum, dan STOVIA (School Tot
Opleiding Van Indische Artsen) atau sekolah kedokteran Jawa. Sementara untuk
kelompok status tinggi (golongan Eropa dan priyayi) tersedia ELS (Europeesche
Lagere School) tingkat SD, HBS (Hoogere Burger School) tingkat menengah, dan
untuk pribumi kristen dikembangkan Speciale School (sekolah khusus).
Ternyata selain berhasil memperoleh sesuatu yang diharapkan dari
lembaga pendidikan modern, penjajahan juga menghadapi hasil yang tidak
diharapkan (unintended result), yaitu sebagian kecil dari kalangan terdidik bumi
putra bangkit kesadarannya. Mereka mulai mengalami kegelisahan intelektual
dan mempermasalahkan paspor budaya yang berlaku, melihat realitas yang tidak
sehat, menyadari terjadinya proses ketidakadilan, pembodohan dan pemiskinan
yang dilakukan oleh imperialisme dan kolonialisme. (Hariyono, 2010:28-29). Hal
inilah kemudian yang menyadarkan bangsa (suku bangsa) di nusantara (Indonesia) akan pentingnya persatuan dan kesatuan yang dilatarbelakangi perasaan
senasib dan sepenanggungan.
Jika selama ini perjuangan mengusir penjajahan tidak berhasil, malah dapat
dihancurleburkan oleh penjajah Belanda, maka taktik berikutnya adalah
perjuangan melalui organisasi-organisasi yang disebut pergerakan nasional. Dr.
Wahidin Sudirohusodo melakukan terobosan perjuangan. Dia sangat senang
melihat banyak anak-anak cerdas tetapi sayang tidak dapat sekolah karena dari
keluarga miskin. Maka usaha untuk menolong anak-anak dimaksud, dia mendirikan studie fonds guna mengumpulkan dana bagi pemberian beasiswa. Tetapi
usaha ini tidak dapat berjalan maksimal. Kemudian Dr. Wahidin mendekati
111

beberapa pemuda pelajar yang idealis antara lain siswa STOVIA di antaranya
Sutomo, Gunawan, Suwarno, dkk. yang kemudian mendirikan Boedi Oetomo
(BO). Dari sinilah mulai tumbuh embrio nasionalisme dalam dunia perjuangan
bangsa Indonesia (van Miert, 2003 dalam Hariyono, 2010:30). Sementara itu di
tiap wilayah nusantara pun sudah mulai dibentuk organisasi-organisasi
kepemudaan, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumateranen
Bond, Yong Islamieten Bond, dsb.
Memang BO masih diwarnai primordialisme karena Jawa Minded atau
masih mengedepankan etnis Jawa (Nagazumi, 1989). Tetapi harus diakui BO
merupakan pelopor gerakan nasionalisme kultural. Namun sebagai lambang
kebangkitan nasional, bukan unsur primordialnya yang dijadikan pijakan, akan
tetapi karena tujuan emansipatorisnya yang sejak awal berusaha meningkatkan
harkat diri dan meninggalkan keterbelakangan. (Abdullah, 2001:28).
Organisasi kedua yang muncul yang juga memperjuangkan nasib rakyat
nusantara adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh K.H. Samanhudi
di Surakarta. SDI kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI) yang banyak
mengalami perubahan dan berpengaruh menggelorakan semangat perjuangan
rakyat nusantara tatkala pimpinannya dipegang oleh H.O.S. Cokroaminoto.
Sayang sekali kepeloporan SI dalam pergerakan diwarnai konflik internal akibat
disusupi paham/ideologi komunisme yang dibawa oleh Sneevliet, Semaun, dan
Darsono, sehingga muncul dua kelompok. Kelompok Agus Salim dan Abdul Muis
yang kental nuansa Islamnya sering disebut SI Putih, dan kelompok Semaun dan
Darsono sering disebut SI Merah. (Hariyono, 2010:32). Konflik ini tidak terlepas
dari pengaruh gerakan internasional. SI Putih cenderung mengidolakan Pan
Islamisme, sementara SI Merah yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI), mengidolakan Komintern (Komunisme Internasional) di bawah
Komunis Uni Soviet. PKI berhasil menarik anggota dan simpatisan yang cukup
besar, akan tetapi kemudian dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi
terlarang oleh pemerintah kolonial Belanda karena pada tahun 1926 berontak.
Para pemimpinnya ditangkap dan sebagian besar dibuang ke Digul.
Organisasi berikutnya adalah Indische Partij (IP) yang didirikan oleh tiga
112

serangkai, yaitu Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat (yang kemudian terkenal


dengan Ki Hajar Dewantara), dan Cipto Mangunkusumo. IP memilih gerakan
radikal yang berusaha melakukan terobosan, bahwa konsep bangsa tidak
ditafsirkan secara etnik, akan tetapi semua warga yang menetap di kepulauan
nusantara. Artinya, warga bangsa tidak ditentukan secara etnis, ras, atau agama.
Siapa saja yang menetap sebagai penduduk (blijvers) di nusantara adalah bangsa
nusantara (Indonesia). Orang-orang kulit putih yang tidak tinggal menetap
(trekkers) dan bolak-balik ke Eropa, tidak dapat dikategorikan sebagai sebagai
suatu bangsa. Hukum yang membagi penduduk Hindia menjadi tiga kelas
(golongan Eropa, Timur Asing, dan Pribumi) tidak relevan, lebih-lebih penduduk
pribumi dalam hukum kewarganegaraan kolonial ditempatkan sebagai kelompok
terbawah (kawula) dan disebut dengan nada melecehkan sebagai inlander.
Sementara golongan Eropa dan timur asing atau pribumi yang kolaborator (mau
kerjasama dan menjadi antek penjajah) mendapat persamaan hukum (geleidgesteld). Konsep sebangsa menuntut perlakuan hukum yang sama.
Karena tuntutan IP yang radikal, sangat menakutkan penguasa kolonial, dan
dianggap bersifat politis serta mengancam ketertiban umum (Elson, 2009:26),
karenanya tidak diberi izin kelembagaannya. Pemikiran IP yang terlalu jauh di
depan pada zamannya menyebabkan juga kurang berhasil memperoleh dukungan dari grassroot (akar rumput/masyarakat bawah). Posisi dalam mengobarkan
semangat pergerakan kemudian digantikan oleh Partai Nasional Indonesia (PNI)
yang didirikan oleh Ir. Sukarno pada tahun 1927.
Dinamika dunia pergerakan yang pada mulanya lebih bersifat primordialisme, kemudian bergeser menjadi internasionalisme, yang kemudian menghasilkan sintesis pemikiran yang mengarah kepada nasionalisme. Hal ini
tercermin sejak akhir tahun 1920-an pergerakan mulai didominasi oleh organisasi
dan wacana kebangsaan. Pada tahun 1925 di negeri Belanda berdiri Perhimpunan Indonesia (PI) oleh Mohammad Hatta, dkk. yaitu organisasi pelajar/
mahasiswa yang berhasil membuat manifesto politik yang dalam mengembangkan nasionalisme berprinsip unity, liberty, dan equality. PI mampu menganalisis
kolonialisme di nusantara (Indonesia) secara mendasar dan memberikan solusi
113

perjuangan yang terdiri dari tiga prinsip :


a. Rakyat Indonesia sewajarnya diperintah oleh pemerintah yang dipilih oleh
mereka sendiri;
b. Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri itu tidak diperlukan bantuan
dari pihak mana pun;
c. Tanpa persatuan yang kokoh dari pelbagai unsur rakyat tujuan perjuangan
tidak akan tercapai. (Hariyono, 2010:33).
Manifesto politik PI sangat berpengaruh terhadap pergerakan di Indonesia.
Nasionalisme yang diusahakan berkembang adalah nasionalisme yang bercirikan
keterbukaan (inklusif), yaitu nasionalisme yang tidak tersekat oleh latar belakang
etnis, agama, budaya, bahasa, dll., melainkan mendasarkan pada perasaan senasib sepenanggungan dan seperjuangan. Senasib sepenanggungan karena samasama ditindas oleh penjajahan Belanda, dan seperjuangan karena mempunyai
keinginan berkehidupan yang lebih baik dan sederajat dengan bangsa-bangsa
merdeka lainnya. Karena itu perlu diciptakan tali persaudaraan sebagai sebangsa
dan setanah air. (Ingelson, 1983; Kartodirdjo, 2005).
Puncak dari perjuangan pergerakan nasional ini adalah konsepsi perjuangan
yang dihasilkan pada kongres pemuda kedua tanggal 28 Oktober 1928 yang lebih
dikenal dengan Sumpah Pemuda yang berisi tekad untuk :
a. Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia;
b. Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia;
c. Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Tekad itu ternyata berhasil diwujudkan, yang pada hari Jumat tanggal 17
Agustus 1945 pukul 10.00 pagi bertempat di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta,
Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan
Indonesia.
Kebangsaan atau nasionalisme sebagai sebuah konstruksi dari sebuah visi
yang harus diperjuangkan, bukan sebuah kenyataan yang telah ditentukan oleh
nasib dan takdir. Untuk itu, bangsa Indonesia harus berjuang, tidak bertopang
dagu. Demikianlah, maka para pendiri bangsa terus berusaha menyingsingkan
lengan baju demi terwujudnya komunitas baru yang lintas etnis bahkan trans114

etnis. Mereka mengaitkan nasionalisme dengan demokrasi secara mendasar.


Nasionalisme dan demokrasi tidak hanya dilihat sebagai dunia politik, melainkan
juga terkait dengan dunia ekonomi dan budaya. Dalam hal ini Sukarno (Bung
Karno) dalam di Fikiran Rayat tahun 1932 menulis :
demokrasi politik sahadja, belum menjelamatkan rakjat. Bahkan di negerinegeri, sebagai Inggris, Nederland, Perantjis, Amerika, dll., di mana demokrasi
telah didjalankan, kapitalisme meradjalela dan kaum Marhaennja papasengsara! Kaum nasionalis Indonesia tidak boleh mengeramatkan demokrasi
jang demikian itu. Nasionalisme kita haruslah nasionalisme jang tidak mentjari
gebjarnya atau kilaunja negeri keluar sahadja, tetapi ia haruslah mentjari
selamatnja semua manusia.
Sementara itu menurut Mohamad Hatta, demokrasi yang ingin diterapkan
di Indonesia disertai dengan demokrasi ekonomi. Nasionalisme yang dikembangkan adalah nasionalisme kerakyatan, yaitu nasionalisme yang berbasis serta
berorientasi pada rakyat.

Rakyat tidak boleh diremehkan dan dilecehkan.

Mengapa? Karena dalam kenyataannya rakyat dan kaum dhuafa sering dinista
dan diperlakukan tidak adil. Dalam pergaulan mereka sering tidak berdaya dan
ditindas sehingga menjadi kaum yang teraniaya secara kultural, ekonomi, dan
politik.
Demikianlah, nasionalisme di Indonesia mencerminkan counter ideologi dari
kolonialisme dan imperialisme. Nasionalisme menggugat legitimasi sistem politik
yang membiarkan dominasi orang asing terhadap kaum pribumi. Hubungan
kekuasaan yang meletakkan superordinasi penjajah dan subordinasi kaum
pribumi digugat dan ingin dienyahkan. (Kartodirdjo, 1993:24). Sebagai bangsa
yang merasakan pahit getirnya dijajah, The Founding Fathers tidak ingin
nasionalisme bangsa Indonesia kemudian berubah menjadi nasionalisme yang
sempit, jinggoisme atau chauvinisme. Nilai-nilai kemanusiaan yang mampu
menciptakan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariah) menjadi landasan dalam berpolitik. Politik tidak lagi dimaknai sebagai power over melainkan
power with. Untuk mencapai sekaligus merealisasikan nasionalisme dibutuhkan
kemandirian politik, ekonomi, dan budaya. Akan tetapi sesuai zamannya, pada
115

masa pergerakan didahulukan kemerdekaan politik agar bangsa Indonesia bebas


menentukan nasib bangsa sendiri secara merdeka tanpa dieksploitasi bangsa
asing.
Karakteristik nasionalisme Indonesia menurut Sartono Kartodirdjo (1993:
24) mengandung lima unsur, yaitu :
a. Kesatuan/persatuan (Unity);
b. Kebebasan (Liberty);
c. Persamaan (Equality);
d. Kepribadian (Personality-Individuality);
e. Prestasi (Performance).
Sebagai upaya mewujudkan nasionalisme, perlu ditanamkan kesadaran
berbangsa dan bernegara dengan mengembangkan wawasan kebangsaan, yaitu
sebagai sudut pandang atau cara memandang yang mengundang kemampuan
seseorang atau kelompok orang untuk memahami keberadaan jatidirinya sebagai
suatu bangsa dan bertingkah laku sesuai dengan falsafah hidup bangsanya
(Pancasila) baik dalam lingkungan internal maupun eksternal. Wawasan kebangsaan juga berarti wawasan yang mementingkan kesepakatan, kesejahteraan,
keselamatan, dan keamanan bangsanya sebagai titik tolak dalam berfalsafah,
berencana, dan bertindak, yang dalam penerapannya perlu memperhatikan dua
aspek, yaitu :
a. Aspek Moral, yang mensyaratkan adanya perjanjian diri/komitmen seseorang
atau masyarakat untuk turut bekerja bagi kelanjutan eksistensi bangsa dan
bagi peningkatan kualitas kehidupan bangsa;
b. Aspek Intelektual, yang menghendaki pengetahuan yang memadai mengenai
tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa baik pada saat ini maupun di masa
mendatang, serta berbagai potensi yang dimiliki.
Nilai wawasan kebangsaan yang terwujud dalam persatuan dan kesatuan
bangsa memiliki enam dimensi manusia yang bersifat mendasar atau fundamental, yaitu :
a. Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa;
116

b. Tekad bersama untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka;


c. Cinta akan tanah air dan bangsa;
d. Demokrasi atau kedaulatan rakyat;
e. Kesetiakawanan sosial;
f. Masyarakat adil dan makmur.
Makna wawasan kebangsaan mengamanatkan kepada seluruh bangsa
Indonesia agar :
a. Memantapkan persatuan dan kesatuan, serta lebih mengutamakan kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau
golongan;
b. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara;
c. Memupuk penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, cinta kepada
tanah air dan bangsa, demokrasi, serta kesetiakawanan sosial.
Nasionalisme dan wawasan kebangsaan perlu ditunjang oleh upaya
pemantapan integrasi nasional. Integrasi adalah pembaharuan/penyatuan hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat. Sedangkan nasional berarti :
a. Kebangsaan;
b. Bersifat bangsa sendiri, meliputi suatu bangsa, misalnya : Cita-cita nasional,
tarian nasional, perusahaan nasional, dsb.
c. Termasuk bangsa sendiri, misalnya : Suku, adat-istiadat, warna kulit, keturunan, agama, budaya, wilayah/daerah, dsb.
d. Mengembangkan persatuan Indonesia dengan tetap mempertahankan asas/
semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kemajemukan dan keanekaragaman tidak
boleh menjadi pemecah belah, namun menjadi kekuatan yang memperkaya
persatuan;
e. Tidak memberi tempat pada patriotisme yang picik. Cinta tanah air dan
bangsa harus selalu diarahkan pada kepentingan seluruh umat manusia.
Integrasi nasional identik dengan integrasi bangsa, yaitu suatu proses
penyatuan atau pembaharuan berbagai aspek sosial-budaya ke dalam kesatuan
wilayah dan pembentukan identitas nasional/identitas bangsa. Hal ini harus
menjadi ciri dan atribut bangsa yang dapat menjamin terwujudnya keselarasan,
117

keserasian, dan keseimbangan dalam mencapai tujuan bersama sebagai suatu


bangsa.
Integrasi nasional sebagai suatu konsep dalam kaitan dengan wawasan kebangsaan dalam NKRI pada dasarnya berlandaskan aliran pemikiran atau faham
integralistik Mr. R. Supomo. Menurut faham integralistik, negara dibentuk tidak
untuk menjamin kepentingan seseorang/golongan, tetapi menjamin kepentingan
masyarakat seluruhnya sebagai suatu kesatuan.

Di dalam masyarakat yang

integralistik, setiap anggota, warga, dan setiap golongan diakui dan dihormati
kehadiaran dan keberadaannya, diakui hak, kewajiban, serta fungsinya masingmasing dalam mencapai tujuan bersama. Setiap anggota/golongan berkewajiban
dan bertanggung jawab atas terlindunginya kepentingan, keselamatan, dan
kebahagiaan masyarakat seluruhnya.
Ciri-ciri tata nilai integralistik adalah :
a. Bagian/golongan yang terlibat berhubungan erat dan merupakan kesatuan
organis;
b. Eksistensi setiap unsur hanya berarti dalam hubungannya dengan keseluruhan;
c. Tidak terjadi situasi yang memihak pada golongan yang kuat atau yang
dianggap penting;
d. Tidak terjadi dominasi mayoritas dan tirani minoritas;
e. Tidak memberi tempat bagi faham individualisme, liberalisme, kapitalisme,
dan totaliterisme;
f. Mengutamakan keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi keseluruhan bangsa dan negara;
g. Mengutamakan penunaian kewajiban daripada penuntutan pada hak-hak
pribadi/golongan;
h. Mengutamakan upaya memadu pendapat daripada mencari menang sendiri;
i. Disemangati kerukunan, keutuhan, persatuan, kebersamaan, setia kawan, dan
gotong royong;
j. Saling tolong-menolong, bantu-membantu, dan kerjasama;
k. Berdasarkan kasih sayang, dan sikap mau berkorban untuk kepentingan ma118

syarakat dan lingkungan.


Integrasi nasional dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu :
a. Integrasi Nasional secara Vertikal, artinya, bagaimana mempersatukan kepemimpinan nasional dengan rakyatnya yang tersebar dalam wilayah/daerah
yang luas. Berarti pula bagaimana pempersatukan pemerintah pusat dengan
pemerintah atau kepemimpinan di tingkat daerah;
b. Integrasi Nasional secara Horizontal, artinya, bagaimana mempersatukan
rakyat yang majemuk, dan hidup dalam berbagai golongan primordial yang
beraneka ragam nilai, lembaga, serta adat kebiasaan, sehingga merasa
menjadi bagian dari satu bangsa yang sama.
Dewasa ini wawasan kebangsaan atau nasionalisme dikembangkan melalui
pendidikan karakter, yang salah satunya adalah karakter bangsa yang diisi
dengan Empat Pilar Kebangsaan atau Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara,
yang digagas dan disosialisasikan oleh MPR 2009, yaitu :
a. Pancasila;
b. Undang-Undang Dasar Tahun 1945;
c. Bhinneka Tunggal Ika;
d. Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sekarang ini berdasarkan putusan MK tahun 2014, istilah atau frasa Empat
Pilar Berbangsa dan Bernegara tersebut dibatalkan, dengan pertimbangan :
a. Pembukaan UUD 1945 menempatkan Pancasila sebagai dasar negara, juga
sebagai filosofi, norma fundamental, ideologi, dan cita-cita hukum negara,
yang menunjukkan Pancasila berkedudukan lebih tinggi;
b. Mendudukkan Pancasila sebagai salah satu pilar, berarti sederajat dengan tiga
pilar lainnya;
c. Pendidikan politik berbangsa dan bernegara tidak terbatas hanya pada empat
pilar itu saja.
Berbicara mengenai karakter kebangsaan, perlu kiranya dijelaskan terlebih
dahulu pengertian karakter, sementara pengertian kebangsaan sudah dibahas
sebelumnya. Secara etimologis, karakter berasal dari bahasa Yunai karasso yang
berarti cetak biru, atau format dasar. Dalam bahasa Arab katakter itu akhlaq,
119

atau tabiat. Menururt Mounier yang dikutip oleh Doni Koesoema (2007:90-91)
dalam Maksudin (2013:2), istilah karakter ini ambiguitas (bermakna ganda). Ia
mengajukan dua cara interpretasi, yaitu pertama, karakter sebagai sekumpulan
kondisi yang telah diberikan begitu saja, atau telah ada begitu saja, yang lebih
kurang dipaksanakan dalam diri manusia. Karakter yang demikian ini dianggap
sebagai sesuatu yang telah ada dari sononya (given). Kedua, karakter juga bisa
dipahami sebagai tingkat kekuatan melalui mana seorang individu mampu
menguasasi kondisi tersebut. Karakter yang demikian disebut sebagai sebuah
proses yang dikehendaki (willed). Dengan dua macam karakter baik yang telah
bada dari sononya (given) maupun sebagai sebuah proses yang dikehendaki
(willed), maka manusia diajak untuk mengenali keterbatasan diri, potensi yang
dimiliki, serta kemungkinan-kemungkinan bagi perkembangan manusia.
Karakter umumnya diartikan sebagai jatidiri (daya qolbu) yang merupakan
saripati kualitas batiniah/rohaniah manusia yang penampakannya berupa budi
pekerti (sikap dan perbuatan lahiriah), sedangkan menurut Suyanto yang dikutip
Suparlan dalam Maksudin (ibid:3), adalah cara berpikir dan berperilaku yang
menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam
lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendapat pertama,
katakter meliputi unsur-unsur : Jatidiri (daya qolbu), saripati kualitas batiniah/
rohaniah, dan berupa budi pekerti (sikap dan perbuatan lahiriah).

Sedang

pendapat kedua, karakter meliputi unsur-unsur : Cara berpikir, cara berperilaku


(ciri khas setiap individu), dalam hidup, dan bekerjasama (baik dalam lingkup
kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara).
Demikianlah, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
karakter adalah ciri khas setiap individu berkenaan dengan jatidirinya yang
merupakan saripati kualitas batiniah/rohaniah, cara berpikir, cara berperilaku
seseorang dan bekerjasama baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa,
dan negara.
Obyek yang dimiliki setiap manusia senantiasa menjadi daya tarik bagi para
ahli pendidikan, ketika mereka berusaha mencari cara-cara yang efektif untuk
campur tangan pendidikan yang dapat membantu individu berproses menjadi
120

manusia, atau bagaimana memanusiakan manusia. Dimensi edukabilitas manusia dapat dipahami melalui pemahaman tentang tahap-tahap perkembangan
individu seseorang (Piaget), situasi-situasi internal-motivasional dan externalbehavioral yang berpengaruh, cara-cara pembelajaran (didaktika), dsb.
Karakter merupakan fondasi yang kokoh bagi terciptanya empat hubungan
manusia :
1. Hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
2. Hubungan manusia dengan manusia.
3. Hubungan manusia dengan alam.
4. Hubungan manusia dengan kehidupan dirinya di dunia-akhirat.
Menurut Halim Mahmud (1995:30) dalam Maksudin (ibid:30), secara garis
besar terdapat empat karakter yang harus seimbang, yaitu :
1. Hikmah, adalah kondisi jiwa seseorang dapat mengetahui yang benar dan
yang salah terhadap semua perbuatan yang dilakukan.
2. Keberanian, adalah kondisi kekuatan kemarahan yang dapat ditaklukkan oleh
akal, akan melakukan sebaliknya.
3. Kesucian diri (iffah), adalah melatih kakuatan syahwat dengan kendali akal
dan syariat agama.
4. Keadilan, adalah kondisi jiwa dan kekuatannya yang memimpin kemarahan
dan syahwat, dan membimbingnya untuk berjalan sesuai dengan tuntutan
hikmah, berpegang teguh pada kebenaran, kebaikan, dan keadilan.
Jika keempat karakter tersebut di atas terwujud seimbang, maka terwujudlah karakter yang mulia, luhur, (akhlakul-karimah). Karena itu di dunia
pendidikan, obyek karakter itu meliputi :
a. Upaya memanusiakan manusia sesuai dengan perkembangannya;
b. Pemberian kebebasan;
c. Pemberian tanggung jawab;
d. Membekali individualitas dan kelektivitas bagi peserta didik;
e. Keseimbangan olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga;
f. Membiasakan jujur, cerdas, punya cita-cita, serta diperluas dengan budi
pekerti luhur, kerja keras, dan disiplin.
121

Adapun sumber-sumber karakter tersusun dari nilai-nilai dasar kehidupan, yaitu sesuatu yang dianggap berharga bagi kehidupan. Nilai-nilai dasar
dimaksud dikaitkan dengan :
1. Tuhan Yang Maha Esa.
2. Kehidupan (manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan).
3. Bukan kehidupan (tanah, air, udara, batu, dsb.).
Sementara menurut Suyanto dalam Maksudin (Ibid:8), terdapat sembilan
pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal manusia, yaitu :
1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya.
2. Kemandirian dan tanggung jawab.
3. Kejujuran/amanah.
4. Hormat dan santun.
5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama.
6. Percaya diri dan pekerja keras.
7. Kepemimpinan dan keadilan.
8. Baik dan rendah hati.
9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Dengan demikian, berkenaan dengan karakter kebangsaan, maka pengertian dan hal-hal yang dijelaskan mengenai karakter tersebut di atas, hendaknya dipahami, dihayati, dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia dalam melaksanakan, memantapkan, dan menebalkan rasa kebangsaan
atau nasionalisme, yang oleh MPR disosialisasikan melalui empat hal (empat
pilar kebangsaan) yang menyangkut :
1. Meneguhkan komitmen tentang Pancasila sebagai dasar filsafat negara,
dan pandangan hidup bangsa Indonesia.
2. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebagai landasar konstitusional dalam
pelaksanaan Pancasila dasar filsafat negara dan pandangan hidup bangsa
menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur.
3. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan dan ikatan persatuan dan kesatuan yang kokoh mewadahi heterogenitas Indonesia.
4. Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai habitat tempat bernaung
122

bangsa untuk mewujudkan cita-cita nasional dalam rangka mencapai


masyarakjat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Mas Adam Berdasi),
wujud konkritnya adalah kehidupan yang sejahtera, aman sentosa, dan
damai lahir batin, dalam suatu tatanan masyarakat madani (civil society),
atau negara yang baldatun toyyibatun warobbun ghofuur.

123

BAB VI
HAK ASASI MANUSIA

A. PENGERTIAN HAK ASASI MANUSIA


Hak Asasi Manusia (HAM) di dalam bahasa Perancis dikenal dengan droit de
lhomme, dalam bahasa Inggris human right, dan dalam bahasa Belanda mensen
rechten, yang berarti hak-hak manusia. Di bawah ini dikemukakan pengertian
HAM menurut para pakar dan berdasarkan ketentuan resmi.
1. Mustafa Kemal Pasha (2002) :
Hak asasi manusia ialah hak-hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir yang
melekat pada esensinya sebagaia nugrah Allah Swt.
2. Dardji Darmodihardjo :
Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar atau hak-hak pokok yang dibawa
manusia sejak lahir sebagai anugrah Tuhan YME. Hak-hak ini menjadi dasar
daripada hak-hak dan kewajiban-kewajiban lain.
3. Padmo Wahyono :
Hak-hak asasi manusia adalah hak-hak yang memungkinkan orang hidup
berdasarkan suatu harkat dan mertabat tertentu (beradab).
4. Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 :
Hak asasi manusia adalah hak sebagai anugrah Tuhan YME yang melekat
pada diri manusia, bersifat kodrati, universal dan abadi, berkaitan dengan harkat
dan martabat manusia.
5. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 :
Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan YME dan merupakan anugra-Nya yang
wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerin124

tah, dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia.
Adapun tujuan pelaksanaan hak asasi manusia adalah untuk mempertahankan
hak-hak warga negara dari tindakan sewenang-wenang aparat negara, dan mendorong tumbuh serta berkembangnya pribadi manusia yang multi dimensional.

B. LANDASAN PENGAKUAN, SERTA CIRI POKOK DAN HAKIKAT HAM :


1. Landasan Pengakuan HAM :
a. Landasan langsung yang pertama : Kodrat manusia.
Semua manusia sederajat, tanpa membedakan ras, suku, agama, bahasa,
asal-usul, adat-istiadat, dsb.
b. Landasan kedua yang lebih mendalam : Makhluk ciptaan Tuhan YME.
Semua manusia, bahkan seluruh yang ada di jagat raya, adalah ciptaan
Tuhan YME. Karena itu di hadapan Tuhan manusia adalah sama, kecuali nanti
pada amalnya.
2. Ciri Pokok dan Hakikat HAM :
a. Hak asasi manusia tidak perlu diberikan, dibeli, atau diwariskan. Hak asasi
manusia adalah bagian dari manusia secara otomatis;
b. Hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis
kelamin, asal-usul, ras, agama, etnik, pandangan politik, dsb.
c. Hak asasi manusia tidak boleh dilanggar. Tidak seorang pun mempunyai hak
membatasi atau melanggar hak orang lain.

C. SEJARAH PERKEMBANGAN HAK ASASI MANUSIA


1. Pada Masa Sejarah :
a. Perjuangan Nabi Musa, As. dalam membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan (tahun 6000 sM);
125

b. Hukum Hammurabi di Babylonia yang memberi jaminan keadilan bagi warga


negara (tahun 2000 sM);
c. Socrates (469-399 sM), Plato (429-347 sM), dan Aristoteles (384-322 sM) para filosof Yunani peletak dasar hak asasi manusia. Mereka mengajarkan untuk
mengkritik pemerintahan yang tidak berdasarkan keadilan, cita-cita, dan
kebijaksanaan;
d. Perjuangan Nabi Besar Muhammad Saw., untuk membebaskan para bayi
perempuan dan kaum perempuan dari penindasan bangsa Quraisy (tahun
600). Pada saat itu di Arab terkenal dengan sebutan zaman jahiliyyah (kebodohan).
2. HAM di Inggris :
a. Pada tahun 1215, akibat tidak puas atas tindakan Raja John yang sewenangwenang, rakyat yang dibantu para bangsawan berhasil membuat perjanjian
yang disebut Magna Charta (Piagam Agung) yang membatasi kekuasaan
raja;
b. Pada tahun 1628 keluar piagam Petition of Right yang berisi pernyataan
mengenai hak hak-hak rakyat beserta jaminannya :
1) Pajak dan pungutan istimewa harus disertai persetujuan rakyat (no
taxation without refresentation);
2) Warga negara tidak boleh dipaksa menerima tentara di rumahnya;
3) Tentara tidak boleh menggunakan hukum perang dalam keadaan damai.
c. Tahun 1679 muncul Habeas Corpus Act, yaitu undang-undang yang mengatur tentang penahanan seseorang :
1) Seseorang yang ditahan harus segera diperiksa dalam waktu dua hari
setelah penahanan;
2) Alasan penahanan seseorang harus disertai bukti yang sah menurut
hukum.
d. Pada tahun 1689 keluar Bill of Right yang merupakan undang-undang yang
diterima parlemen sebagai bentuk perlawanan terhadap Raja James II
tentang :
126

1) Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen;


2) Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat;
3) Pajak, undang-undang, dan pembentukan tentara harus seizin parlemen;
4) Hak warga negara untuk memeluk agama menurut kepercayaannya
masing-masing;
5) Parlemen berhak mengubah keputusan raja.
3. HAM di Amerika Serikat :
Rakyat AS yang umumnya datang dari Eropa sebagai emigran, merasa tertindas
oleh pemerintahan Inggris sebagai penjajah.

Perjuangan penegakkan HAM

didasari pemikiran John Locke, yaitu hak-hak alam seperti hak hidup (life), hak
kebebasan (liberty), dan hak milik (property).

Dasar ini dijadikan Declaration

Independence of The United States dan pada saat kemerdekaan 4 Juli 1776
dimasukkan dalam konstitusi AS.
4. HAM di Perancis :
Perjuangan HAM dirumuskan dalam suatu naskah pada awal revolusi Perancis
tahun 1789 sebagai pernyataan tidak puas kaum borjuis dan rakyat terhadap
Raja Louis XVI, yang dikenal dengan Declaration des Droits de Lhomme et Du
Citoyen (pernyataan mengenai hak-hak asasi manusia dan warga negara) yang
berisi bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak alamiah yang dimiliki manusia
menurut kodratnya, yang tidak dapat dipisahkan daripada hakikatnya, dan
karena itu bersifat suci. Deklarasi ini pada tahun 1791 dimasukkan dalam
konstitusi Perancis. Dalam revolusi Perancis ini muncul semboyan : Liberty,
Egality, dan Fraternity (Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan).
5. Atlantic Charter Tahun 1941 :
Piagam Atlantik ini muncul pada saat terjadi Perang Dunia II yang dipelopori oleh
Franklin Delano Roosevelt (AS) yang menyebutkan The Four Freedom (Empat
Kebebasan) :
a. Kebebasan beragama (Freedom of Religion);
b. Kebebasan berbicara dan berpendapat (Freedom of Speech and Thought);
127

c. Kebebasan dari rasa takut (Freedom of Fear);


d. Kebebasan dari kemelaratan (Freedom of Want).
Perjuangan HAM pada abad pertengahan sampai dengan selesai Perang
Dunia II dapat disimpulkan dalam matrik sebagai berikut :
No.

NEGARA

1.

Inggris

2.
3.

Amerika
Serikat (AS)
Perancis

4.

PBB (UNO)

REVOLUSI

HASIL

a. Bangsawan vs.
Raja (1215);
b. 1628;
c. 1679;
d. Glasius Revolution.
1776 (Rakyat terjajah
vs. Inggris Penjajah).
1789 (Rakyat dipelopori kaum Borjuis vs.
Monarki Absolut.
Selesai PD II (1948)

a.
b.
c.
d.

Magna Charta;
Petition of Rights;
Habeas Corpus Act;
Bill of Right.

Declaration of Independence.
Declaration des Droit de lhomme et du
Citoyen.
Universal
Rights.

Decalaration

of

Human

6. Pengakuan HAM oleh PBB :


a. Pada tanggal 10 Desember 1948 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa
(MU-PBB) berhasil merumuskan naskah Universal Declaration of Human
Right sehingga tanggal tersebut tiap tahun diperingati sebagai Hari Hak Asasi
Manusia. Isi pokok deklarasi tersebut tertuang dalam Pasal 1 yang menyatakan : Sekalian orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hakhak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan budi, dan hendaknya bergaul
satu sama lain dalam persaudaraan. Semuanya ada 30 pasal.
b. Tahun 1966 dalam Sidang MU-PBB telah diakui Covenants on Human
Right dalam hukum internasional dan diratifikasi oleh negara-negara anggota
PBB termasuk Indonesia. Isi covenants dimaksud antara lain :
1) The International on Civil and Political Right, yaitu tentang hak sipil dan hak
politik;
2) The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Right 1966,
yang berisi syarat-syarat dan nilai-nilai bagi sistem demokrasi ekonomi,
sosial, dan budaya;
128

3) Optional Protokol 1966, yaitu adanya kemungkinan seorang warga negara


yang mengadukan pelanggaran hak asasi manusia kepada The Human
Rights Committee UNO (PBB) setelah upaya pengadilan di negaranya tidak
memuaskannya;
4) Wina Declaration 1993, yaitu deklarasi universal dari negara-negara yang
tergabung dalam PBB.
7. Deklarasi HAM Dunia Ketiga :
a. Declaration on The Right of Peoples to Peace 1984 (Deklarasi Hak Bangsa dan
Perdamaian);
b. Declaration on The Right to Development 1986 (Deklarasi Hak Atas Pembangunan);
c. African Charter on Human and Peoples Right (Banjul Charter 1981) oleh negara-negara Afrika yang tergabung dalam Persatuan Afrika (OAU);
d. Cairo Declaration on Human Rights in Islam 1990, oleh negara-negara yang
tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI);
e. Bangkok Declaration 1993, yang diterima oleh negara-negara di Asia.
8. Teori yang Mendukung HAM
Teori yang mendukung HAM dapat dilihat pada matrik di bawah ini.
No.

NAMA TEORI

TOKOHNYA

INTI AJARAN

1.

Perjanjian
Masyarakat

John Locke

2.

Trias Politika

Montesquieu

3.

Kedaulatan
Rakyat

Jean Jacques
Rousseau

4.

Negara Hukum Immanuel Kant


Murni (Rechtsstaats)

5.

Rule of Law

Dicey
-

129

Pada saat terjadi perjanjian masyarakat,


rakyat menyerahkan semua haknya kecuali
HAM yang harus dilindungi UUD.
Kekuasaan dalam negara harus diusahakan
dalam kekuasaan legislatif, eksekutif, dan
yudikatif, untuk melindungi HAM.
Kedaulatan ada di tangan rakyat. Penguasa
diangkat dan diberhentikan oleh rakyat
untuk melindungi HAM.
Untuk melindungi HAM, negara hanya
berperan sebagai penjaga ketertiban, dan
tidak boleh turut campur dalam urusan
sosial-ekonomi.
Untuk melindungi HAM, harus ditegakkan
rule of law dengan unsur-unsur :
- Supremacy of law;

- Equality before the law;


- Due proccess of law.

9. Teori yang Mengikuti HAM.


Teori yang mengikuti HAM dapat dilihat dalam matrik berikut.
No.

NAMA TEORI

1.

TOKOHNYA

INTI AJARAN

Positivisme

John Austin, Jeremy Bentham

2.

Marxisme

Karl Marx

3.

Relativisme
Budaya

Hak kodrati manusia tidak lahir dari hukum


alam, tetapi dari hukum positif yang dibuat
oleh negara (yang merupakan super
structure).
Pemikiran manusia ditentukan oleh sistem
ekonomi negara (basic). Pemikiran tentang
HAM lahir dalam masyarakat yang sistem
ekonominya dikuasasi oleh kaum Borjuis.
Hampir sama dengan Marxisme, bahwa
tidak ada HAM yang bersifat absolut
karena keragaman budaya yang infinite,
equal, dan sama-sama valid.

10. Pembatasan HAM.


Berbicara masalah HAM, maka terdapat juga pembatasannya, sebagaimana
dapat dilihat :
a. Internasional, termuat dalam :
1) Pasal 29 ayat (2) UDHR;
2) Pasal 4, 11, 15, 18 ayat (3), 19 ayat (3), 25 ICCPR.
b. UUD 1945 :
1) Pasal 28 L (1) : Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk
kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak
diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak
untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah HAM
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun;
2) Pasal 28 J : Setiap orang wajib menghormati HAM orang lain dalam tertib
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;
3) Pasal 28 J (2) : Dalam menjalankan hak dan kewajibannya, setiap orang
wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan UU dengan
130

maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan


atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang
adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan
ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.
11. Hak Konstitusional.
Hak-hak konstitusional dapat digambarkan sebagai berikut :
Hak Sipil & Politik (Civil &
Politic Rights)
Hak Kodrati (Natural Rights)
Berasal dari Tuhan/Alam
Hak Asasi Manusia
(Human Rights)
Hak Ekonomi, Sosial, &
Budaya (Economic, Social &
Cultural Rights)
Berasal dari Negara

Hak Konstitusional
(Constitutional/FunDamental Rights)

Hak-hak Lain

Jika terdapat ketidaksesuaian atau bertentangan dengan peraturan perundangundangan di Indonesia, maka dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

Lembaga
Negara

MK
MA
PTUN
PU
PA
><

=
=
=
=
=
=

UU >< Hak Konstitusional

MK

Legislatif

Legislative Act.

Per-UU-an >< Hak Kons.


di bawah UU

MA

Eksekutif

Executive Act.

Putusan TUN >< Hak Kons.

PTUN

Yudikatif

Yudicative Act.

Putusan Per- >< Hak Kons.


UU-an

PU
PA

Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Agung
Peradilan Tata Usaha Negara
Peradilan Umum
Peradilan Agama
Bertentangan/berlawanan

131

Kesimpulan :
Berdasarkan sejarah perkembangannya, terdapat empat generasi hak asasi
manusia :
Generasi I : Hak Sipil dan Politik, yang bermula di dunia Barat (Eropa). Contohnya : Hak atas hidup, hak atas kebebasan dan keamanan, hak atas kesamaan di
muka pengadilan, hak kebebasan berpikir dan berpendapat, hak beragama, hak
berkumpul dan berserikat.
Generasi II

: Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, yang diperjuangkan

oleh

negara-negara sosialis di Eropa timur. Contohnya : Hak atas pekerjaan, hak atas
penghasilan yang layak, hak membentuk serikat pekerja, hak atas pangan,
kesehatan, perumahan, pendidikan, dan hak atas jaminan sosial.
Generasi III : Hak Perdamaian dan Pembangunan, yang diperjuangkan oleh negaranegara berkembang (Asia-Afrika). Contohnya : Hak bebas dari ancaman musuh,
hak setiap bangsa untuk merdeka, hak sederajat dengan bangsa lain, dan hak
mendapatkan kedamaian.
Generasi IV : Declaration of The Basic Duties of Asian Peoples and Government
1983, yang diperjuangkan oleh negara-negara Asia.

Hak asasi manusia pada

generasi ini lebih maju karena tidak saja mencakup struktural, tetapi juga berpijak
pada terciptanya tatanan sosial yang berkeadilan. Di sini dikritik peranan negara
yang sangat dominan dalam proses pembangunan yang berfokus pada bidang
ekonomi, yang menimbulkan dampak negatif bagi keadilan rakyat, karena hanya
mementingkan sekelompok elit (konglomerat) dan penguasa saja.
Sementara itu generasi HAM menurut Karel Vasak, dapat digambarkan dalam
matrik sebagai berikut.
Generasi I

Generasi II

- Bersifat sangat individualistik;


- Peran negara negatif;
- Tertuang a.l. dalam Magna Charta, Petition of Rights, dan Bill of
Rights di Inggris; Declaration of Independence di AS; Declaration
des Droit de lhomme et du Citoyen di Perancis; Pasal 2 s/d 21
UDHR.
- Bersifat sosialistik dan menekankan pada hak kolektif;
- Peran negara positif;
132

Generasi III

- Tertuang a.l. dalam Pasal 22 s/d 27 UDHR dan ICESCR.


- Mengakui HAM yang bersifat universal, namun diakui pula hakhak partikulir;
- Mengakui hak pembangunan dan hak atas lingkungan;
- Mengakui semua hak universal dan equal;
- Termuat dalam Pasal 28 UDHR dan Piagam Wina.

D. HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA


Pengakuan atas martabat dan hak-hak yang sama sebagai manusia yang hidup di
dunia telah disetujui dan diumumkan oleh Resolusi MU-PBB pada tanggal 10
Desember 1948 dalam Universal Declaration of Human Right (Deklarasi Universal
tentang Hak Asasi Manusia). Isinya memuat 30 Pasal yang meliputi :
1. Hak berpikir dan mengeluarkan pendapat.
2. Hak memiliki sesuatu.
3. Hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran.
4. Hak menganut agama atau aliran kepercayaan.
5. Hak untuk hidup.
6. Hak untuk kemerdekaan hidup.
7. Hak untuk memperoleh nama baik.
8. Hak untuk memperoleh pekerjaan.
9. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.
Di Indonesia pengaturan HAM ini tercantum dalam berbagai peraturan
perundang-undangan termasuk undang-undang yang mengesahkan berbagai
konvensi internasional mengenai HAM. Namun untuk memayungi seluruh peraturan perundang-undangan tadi dipandang perlu dibentuk undang-undang tentang
HAM tersendiri. Maka berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR) No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, terbit Undang-Undang No.
39 Tahun 1999 dengan judul yang sama.
Dalam UUD 1945 sendiri memang sama sekali tidak ada kata-kata atau istilah
HAM. Baru setelah perubahan (amandemen) yang kedua tahun 2000, secara tegas
dan cukup rinci dimuat tentang HAM, yaitu dalam BAB XA Pasal 28A s/d 28J (10
133

Pasal dan 24 Ayat). Kemudian karena materinya sudah termuat dalam UUD 1945
setelah perubahan tersebut, maka Tap MPR tersebut di atas dicabut dengan Tap
MPR No. I/MPR/2003. Dengan demikian walaupun dalam UUD 1945 asli (sebelum
perubahan) tidak ada kata-kata atau istilah HAM, tetapi sebenarnya pengakuan atas
HAM di Indonesia telah ada sejak ditetapkannya UUD pada tanggal 18 Agustus
1945. Jadi lebih dulu daripada deklarasi MU-PBB tanggal 10 Desember 1948. Contohnya :
1. Pada Pembukaan UUD 1945 alinea pertama : Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa ... dst. Jelas, Indonesia mengakui adanya hak
untuk merdeka dan bebas.
2. Pada Pembukaan UUD 1945 alinea keempat : Di dalamnya terdapat tujuan
nasional, tugas yang harus dilaksanakan, dan falsafah negara Pancasila. Sila
kedua Pancasila adalah kemanusiaan yang adil dan beradab, berarti ada
pengakuan atas hak asasi manusia seutuhnya.
3. Batang Tubuh UUD 1945 dari Pasal 27 s/d 34 yang mencakup hak dalam bidang
politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Hal ini berarti adanya HAM, akan tetapi
memang masih terbatas dan rumusannya amat singkat.
Sebelum Tap MPR No. XVII/MPR/1998 dan UU No. 39 Tahun 1999, penerapan
HAM di Indonesia selain atas dasar UUD 1945 yang sangat singkat seperti disebutkan di atas, juga didasarkan beberapa macam konvensi internasional yang kemudian diratifikasi, antara lain :
1. Konvensi Jenewa (Geneva Convention) 12 Agustus 1949 yang diratifikasi dengan
UU No. 59 Tahun 1958.
2. Konvensi tentang Hak Politik Kaum Perempuan (Convention on The Political Right
of Women), yang diratifikasi dengan UU No. 68 Tahun 1958.
3. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan
(Convention on The Elimination of Discrimination Againts Women), yang diratifikasi dengan UU No. 7 Tahun 1984 dan menjiwai keluarnya UU No. 23 Tahun
2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
4. Konvensi Hak Anak (Convention on The Right of The Child), yang diratifikasi de134

ngan Keppres No. 36 Tahun 1990.


5. Konvenasi Pelarangan Pengembangan, Produksi, dan Penyimpanan Senjata
Biologis dan Beracun, serta Pemusnahannya (Convention on The Prohibitation of
The Development, Production, and Stockpiling of Bacteriological/Biological and
Toxic Weapon and on Their Destruction), yang diratifikasi dengan Keppres No. 58
Tahun 1991.
6. Konvensi Internasional terhadap Anti Apartheid dalam Olahraga (International
Convention Againts Apartheid in Sports), yang diratifikasi dengan UU No. 48 Tahun 1993.
7. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang
Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (Torture
Convention), yang diratifikasi dengan UU No. 5 Tahun 1998.
8. Konvensi Organisasi Buruh Internasional No. 87 Tahun 1998 (Convention No. 87
Concerning Freedom of Association and Protection on The Rights to Organize),
yang diratifikasi dengan UU No. 83 Tahun 1998.
9. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Rasial
(Convention on The Elimination of Racial Discrimination), yang diratifikasi dengan
UU No. 29 Tahun 1999.
Untuk memantapkan pelaksanaan hak asasi manusia berdasarkan aturanaturan tersebut di atas, telah dibentuk Pengadilan HAM berdasarkan UU No. 26
Tahun 2000. Dan sebelumnya telah pula dibentuk Komisi Nasional HAM (Komnas
HAM) berdasarkan Keppres No. 5 Tahun 1993 yang kemudian dikukuhkan dalam UU
No. 39 Tahun 1999. UU No. 26/2000 ini juga memberikan alternatif bahwa untuk
penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia yang berat dapat dilakukan di luar
pengadilan HAM, yaitu melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsilisasi yang dibentuk
berdasarkan UU.

Untuk penegakkan dan perlindungan hak asasi manusia,

masyarakat pun dapat membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan


tugas menuntut pihak-pihak yang melanggar hak asasi manusia, melindungi korban
hak asasi manusia, menuntut keadilan, dsb. Contoh LSM yang ada : Yayasan
Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
135

Tindak Kekerasan (KONTRAS), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM),


Human Right Watch (HRW), dll.
Dasar pemikiran pembentukan Undang-Undang tentang HAM (UU No. 39
Tahun 1999) adalah :
1. Tuhan YME adalah pencipta alam semesta dengan segala isinya.
2. Pada dasarnya manusia dianugrahi jiwa, bentuk struktur, kemampuan, kemauan, serta berbagai kemudahan oleh penciptanya untuk menjamin kelangsungan
hidupnya.
3. Untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan martabat manusia,
diperlukan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia, karena tanpa hal
tersebut manusia akan kehilangan sifat dan martabatnya, sehingga dapat
mendorong manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus).
4. Karena manusia merupakan mahluk sosial (zoon politicon), maka hak asasi
manusia yang satu dibatasi oleh hak asasi manusia yang lain, sehingga kebebasan atau hak asasi manusia bukanlah tanpa batas.
5. Hak asasi manusia tidak boleh dilenyapkan oleh siapa pun dan dalam keadaan
apa pun.
6. Setiap hak asasi manusia mengandung kewajiban untuk menghormati hak asasi
manusia lain, sehingga di dalam hak asasi manusia terdapat kewajiban dasar atau
kewajiban asasi manusia.
7. Hak asasi manusia harus benar-benar dihormati, dilindungi, dan ditegakkan, dan
untuk itu pemerintah, aparatur negara, dan pejabat publik lainnya mempunyai
kewajiban dan tanggung jawab menjamin terselenggaranya penghormatan,
perlindungan, dan penegakkan hak asasi manusia.
Beberapa istilah dalam Ketentuan Umum UU No. 39 Tahun 1999 :
1. Hak asasi manusia (lihat di depan).
2. Kewajiban dasar manusia, adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak
dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia.
3. Diskriminasi, adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang
langsung atau tak langsung didasarkan pembedaan manusia atas dasar agama,
136

suku, ras, etnik, kelompok, golongan status sosial, status ekonomi, jenis kelamin,
bahasa, keyakinan, politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau
4. penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggu-naan hak asasi manusia dan
kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang
politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya.
5. Penyiksaan, adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, sehingga
menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani maupun
rohani pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari seseorang atau dari orang ketiga, dengan menghukumnya atas suatu perbuatan
yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh seseorang atau orang
ketiga, atau bentuk diskriminasi, apabila rasa sakit atau penderitaan tersebut
ditimbulkan oleh, atas hasutan dari, dengan persetujuan, atau sepengetahuan
siapa pun dan/atau pejabat publik.
6. Anak, adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan
belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal
tersebut adalah demi kepentingannya.
7. Pelanggaran hak asasi manusia, adalah setiap perbuatan seseorang atau
kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja
atau kelalaian yang secara melawan hukum, mengurangi, menghalangi,
membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok
orang yang dijamin oleh undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau
dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar,
berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
8. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, yang selanjutnya disebut Komnas HAM,
adalah lembaga mandiri yang kedudukannya setingkat dengan lembaga negara
lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan,
pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia.
Macam dan jenis HAM meliputi berbagai bidang, yaitu :
1. Dari segi subyeknya : Hak asasi individu, dan hak asasi kolektif.
2. Dari segi obyek atau kepentingannya :
137

a. Hak Asasi Pribadi (Personal Rights), seperti menyatakan pendapat, kebebasan


b. memeluk agama tertentu, kebebasan bergerak, dsb.
c. Hak Asasi Ekonomi (Property Rights), seperti hak untuk memiliki sesuatu,
membeli, menjual, dan memanfaatkannya.
d. Hak Perlakuan Sama (Legal Quality Rights), dalam hukum dan pemerintahan.
e. Hak Asasi Politik (Political Right), yaitu hak ikut dalam pemerintahan, seperti
hak memilih dan dipilih dalam Pemilu, hak mendirikan Parpol dan Ormas, dsb.
f. Hak Sosial dan Kebudayaan (Social and Cultural Rights), seperti hak untuk memilih pendidikan, mengembangkan seni budaya, dsb.
g. Hak Perlindungan (Procedural Rights), seperti perlakuan tata cara peradilan,
bila terjadi penggeledahan, penangkapan, dsb.
h. Hak Membangun (Developmen Rights), seperti hak bagi negara untuk membangun negara tanpa campur tangan negara asing, dsb.
Beberapa butir HAM yang ada dalam UU No. 39 Tahun 1999 :
1. Hak untuk hidup (Pasal 4).
2. Hak untuk berkeluarga (Pasal 10).
3. Hak untuk mengembangkan diri (Pasal 11 s/d 16).
4. Hak untuk memperoleh keadilan (Pasal 17 s/d 18).
5. Hak atas kebebasan pribadi (Pasal 20 s/d 27).
6. Hak atas rasa aman (Pasal 28 s/d 35).
7. Hak atas kesejahteraan (Pasal 36 s/d 42).
8. Hak turutserta dalam pemerintahan (Pasal 43 s/d 44).
9. Hak wanita (Pasal 45 s/d 51).
10. Hak anak (Pasal 52 s/d 66).
Hak Asasi Manusia dalam BAB XA Pasal 28A s/d 28J UUD 1945 (Perubahan
II/2000) :
Pasal 28A :
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya.
Pasal 28B :
138

(1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui
perkawinan yang sah.
(2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Pasal 28C :
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hihidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya
secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.
Pasal 28D :
(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian
hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
(2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang
adil dan layak dalam hubungan kerja.
(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam
pemerintahan.
(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.
Pasal 28E :
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamnya, memilih
pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan,
memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak
kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran
dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan
pendapat.
Pasal 28F :
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk me139

ngembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari,


memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi
dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Pasal 28G :
(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan,
martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa
aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak
berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang
merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik
dari negara lain.
Pasal 28H :
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.
(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan
dan keadilan.
(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan
dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak
boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.
Pasal 28I :
(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati
nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai
pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang
berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam
keadaan apa pun.
(2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar
apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang
140

bersifat diskriminatif.
(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan
perkembangan zaman dan peradaban.
(4) Perlindungan, pemajuan, penagakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah
tanggung jawab negara, terutama pemerintah.
(5) Untuk menegakkan dan melindung hak asasi manusia sesuai dengan prinsip
negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin,
diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
Pasal 28J :
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegra.
(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud sematamata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan
orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan
pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam
suatu masya-rakat demokratis.
Kewajiban Dasar Manusia menurut UU No. 39 Tahun 1999 :
1. Setiap orang yang ada di wilayah negara RI wajib patuh pada peraturan
perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional mengenai
hak asasi manusia yang telah diterima oleh negara RI.
2. Setiap warga negara wajib ikutserta dalam upaya pembelaan negara sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika,
dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Setiap hak
asasi manusia seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab
untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik serta menjadi tugas
pemerintah untuk menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukannya.
4. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud untuk
141

menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain
dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral,
keamanan, dan ketertiban umumdalam suatu masyarakat demokratis.
Kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah menurut UU No. 39 Tahun 1999 :
1. Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam undang-undang ini,
peraturan perundang-undangan lain, dan hukum inter-nasional tentang hak asasi
manusia yang diterima oleh negara RI.
2. Kewajiban dan tanggung jawab pemerintah sebagaimana dimaksud meliputi
langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial,
budaya, pertahanan keamanan negara, dan bidang lain.
3. Hak dan kebebasan yang diatur dalam undang-undang ini hanya dapat dibatasi
oleh dan berdasarkan undang-undang, semata-mata untuk menjamin pengakuan
dan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kekebasan dasar orang lain,
kesusilaan, ketertiban umum, dan kepentingan bangsa.
4. Tidak satu ketentuan pun dalam undang-undang ini boleh diartikan bahwa
pemerintah, partai, golongan, atau pihak mana pun dibenarkan mengurangi,
merusak, atau menghapuskan hak asasi manusia atau kebebasan dasar yang
diatur dalam undang-undang ini.
Untuk memantapkan pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia telah
dibentuk Komnas HAM dan Pengadilan HAM.
1. Komnas HAM :
Dibentuk dengan Keppres No. 5 Tahun 1993 tanggal 7 Juni 1993 kemudian
dikukuhkan dengan UU No. 39 Tahun 1999. Tujuannya :
a. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia
sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, dan Piagam PBB, serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia;
b. Meningkatkan perlindungan dan penegakkan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.
142

Anggota Komnas HAM berjumlah 35 orang, dipilih oleh DPR berdasarkan


usulan Komnas HAM dan diresmikan oleh Presiden. Susunan Komnas HAM
terdiri dari seorang Ketua, dua orang Wakil Ketua, dan Sekretaris Jenderal. Ketua
dan Wakil Ketua dipilih dari dan oleh anggota. Masa jabatannya lima tahun dan
setelah berakhir dapat diangkat kembali hanya untuk satu kali masa jabatan.
Kelengkapan Komnas HAM terdiri dari :
a. Sidang Paripurna;
b. Sidang Sub Komisi.
Sidang paripurna adalah pemegang kekuasaan tertinggi dan terdiri dari
seluruh anggota. Tugasnya menetapkan peraturan tata tertib, program kerja,
dan mekanisme kerja. Adapun kegiatan-kegiatan Komnas HAM dilakukan oleh
Sub Komisi. Ketentuan mengenai sidang paripurna dan sub komisi diatur dalam
peraturan tata tertib Komnas HAM. Sekretariat Jenderal dibentuk untuk
pelayanan administratif yang dibantu oleh unit kerja dalam bentuk Biro-biro.
Sekretaris Jenderal dijabat oleh pegawai negeri yang bukan anggota, diangkat
oleh presiden atas usul si-dang paripurna. Kedudukan, tugas, tanggung jawab,
dan susunan orga-nisasinya ditetapkan dengan Keppres.

2. Pelanggaran dan Pengadilan HAM :


Unsur penting dalam HAM adalah masalah pelanggaran dan pengadilan HAM.
Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelom-pok orang
termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian
yang secara hukum mengurangi, menghalangi, mambatasi, dan/atau mencabut
hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undangundang, dan tidak didapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh
penyelesaian hukum yang adil dan benar, ber-dasarkan mekanisme hukum yang
berlaku.
Pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik
dilakukan oleh individu, kelompok, maupun oleh institusi negara atau institusi
lainnya terhadap hak asasi individu lain tanpa ada dasar atau alasan yuridis dan
143

alasan rasional yang menjadi pijakannya. Pelanggaran HAM dikelompokkan pada


dua bentuk, yaitu pelanggaran berat dan pelanggaran ringan. Pelanggaran berat
meliputi kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan, sedangkan pelanggaran ringan adalah selain kedua bentuk tersebut.
Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud menghancurkan/memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras,
kelompok etnis, dan kelompok agama. Genoside dilakukan dengan cara :
a. Membunuh anggota kelompok;
b. Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggotaanggota kelompok;
c. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya;
d. Memaksanakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di
dalam kelompok;
e. Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompoik tertentu ke kelompok
lain.
Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan serangan yang meluas dan sistematis.

Serangan dimaksud

ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa :


a. Pembunuhan;
b. Permusuhan;
c. Perbudakan;
d. Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;
e. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara
sewenang-wenang

yang

melanggar asas-asas/ketentuan

pokok hukum

internasional;
f. Penyiksaan;
g. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan
seksual lain yang setara;
144

h. Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang


didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama,
jenis kelamin, atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal
yang dilarang menurut hukum internasional;
i. Penghilangan orang secara paksa;
j. Kejahatan apartheid, penindasan dan dominasi suatu kelompok ras atas kelompok ras lain untuk mempertahankan dominasi dan kekuasaannya.
Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000. Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus yang berada di lingkungan Peradilan Umum,
bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak
asasi manusia yang berat. Sementara itu Pengadilan HAM ad hoc yang dibentuk
atas usul DPR berdasarkan peristiwa tertentu dengan Keppres untuk memeriksa
dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat, terjadi
sebelum diundangkannya UU No. 26 Tahun 2000.
Pengadilan atas pelanggaran HAM kategori berat seperti genosida dan
kejahatan terhadap kemanusiaan diberlakukan asas retroaktif

(pembuktian

terbalik). Selain pengadilan HAM ad hoc, dibentuk juga Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi (KKR).

Komisi ini adalah lembaga ekstrayudisial yang bertugas

menegakkan kebenaran untuk mengungkap penyalahgunaan kekuasaan dan


pelanggaran HAM pada masa lampau, melaksanakan rekonsiliasi dalam
perspektif kepentingan bersama sebagai negara. (Contohnya di Timor Timur
pasca jajak pendapat 1999) yang mengakibatkan Timtim lepas dari NKRI, yang
kemudian membentuk negara merdeka, yaitu Timor Leste.

E. RESUME HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA


Dari uraian tentang HAM di Indonesia, dapat dibuat resumenya sebagai berikut :
1. UUD 1945 (I)

: Hanya dimuat dalam beberapa Pasal, misalnya Pasal


27,28, 29, 31, 32, 33, dan 34.

145

2. Konstitusi RIS

: Mengutif Universal Declaration of Human Right (BAB V


terdiri dari 27 Pasal).

3. UUDS 1950

: Mengutip Universal Declaration of Human Right (BAB V


terdiri dari 27 Pasal).

4. UUD 1945 (II)

: Dimuat dalam beberapa Pasal, misalnya Pasal 27, 28 (A


s/d J), 31, 32, 33, 34.

Adapun upaya-upaya dan hasilnya dalam era reformasi yang berlandaskan


UUD 1945 :
1. Bentuk Dokumen :
a. Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 : Pandangan dan Sikap terhadap HAM;
b. UU No. 39 Tahun 1998 : Penjabaran Tap MPR No. XVII/MPR/1998;
c. Perubahan UUD 1945 ke tiga : BAB XA, XI, XII, XIII, dsan XIV;
d. Ratifikasi beberapa Perjanjian Internasional tentang HAM :
1) UU No. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi tentang Hak-hak
Anak (Convention on The Right of Child);
2) UU No. 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Perlakuan atau Penghukuman
Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia
(Convention Againt Tarture of Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Funishment);
3) UU No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Konvensi tentang Hak Sipil dan
Politik (Convention on Civil and Political Right).
2. Pembentukan Lembaga Perlindungan HAM :
a. Pengadilan HAM (UU No. 26 Tahun 2000);
b. Komnas HAM (UU No. 39 Tahun 1990).

146

BAB VII
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA

A. WUJUD HUBUNGAN WARGA NEGARA DENGAN NEGARA


Wujud hubungan antara warga negara dengan negara adalah berupa peranan
(role). Peranan tidak lain adalah tugas yang dilakukan dalam kedudukan/status
sebagai warga negara. Status dimaksud meliputi status pasif, aktif, negatif, dan
positif. Demikian juga peranan, yaitu :
1. Peranan Pasif, adalah kepatuhan warga negara terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku.
2. Peranan Aktif, adalah aktivitas warga negara untuk terlibat (berpartisipasi)
dalam kehidupan bernegara, antara lain dalam mempengaruhi keputusan
publik.
3. Peranan Negatif, adalah aktivitas warga negara untuk menolak campur tangan
negara dalam masalah pribadi.
4. Peranan Positif, adalah aktivitas warga negara untuk meminta pelayanan
negara dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.

B. HAK DAN KEWAJIBAN


Hak dan kewajiban WNI tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 s/d 34.
1. Hak-hak Warga Negara :
a. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. {Ps.27
Ayat (2)};
b. Hak membela negara. {Ps.27 Ayat (3)};
c. Hak berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. (Ps. 28). Lebih
lanjut dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan, misalnya UU No.
9/1998 tentang Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat di Muka Umum,
UU No. 40/1999 tentang Pers, UU No. 15/2011 tentang Penyelenggaraan Pe147

milihan Umum, UU No. 8/2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD,
dan DPRD, UU No. 2/2008 jo. UU No. 2/2011 tentang Parpol, UU No. 42/
2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, dll.
d. Hak kemerdekaan memeluk agama. {Ps.29 Ayat (1) dan (2)}. Dijabarkan
dalam UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia, dll.
e. Hak dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. {Ps.30 Ayat (1)}. Dijabarkan antara lain dalam UU No. 2/2002 tentang Kepolisian Negara RI, UU
No. 3/2002 tentang Pertahanan Negara, dan UU No. 34/2004 tentang TNI,
dll.
f. Hak untuk mendapatkan pengajaran (pendidikan). {Ps.31 Ayat (1) dan (2)}.
Dijabarkan dalam UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas dan UU No. 14/2005
tentang Guru dan Dosen;
g. Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional. {Ps.32
Ayat (1)};
h. Hak ekonomi atau hak untuk mendapatkan kesejahteraan sosial. {Ps.33 Ayat
(1), (2), (3), (4), dan (5)};
i. Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial. (Ps.34).
2. Kewajiban Warga Negara :
a. Mentaati hukum dan pemerintahan. {Ps.27 Ayat (1)};
b. Membela negara. {Ps.27 Ayat (3)};
c. Dalam upaya pertahanan negara. {Ps.30 Ayat (1)}.
d. Membayar pajak sebagai kontrak utama antara negara dengan warga
negara;
e. Menghormati hak asasi orang lain (Ps. 28);
f. Tunduk pada pembatasan yang ditetapkan UU untuk menjamin pengakuan
serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain;
g. Mengikuti pendidikan dasar.
3. Hak Negara terhadap Warga Negara :
a. Hak negara untuk ditaati (hukum dan pemerintahan);
148

b. Hak negara untuk dibela;


c. Hak negara untuk menguasai bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di
dalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
4. Kewajiban Negara terhadap Warga Negara :
a. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;
b. Memajukan kesejahteraan umum;
c. Mencerdaskan kehidupan bangsa;
d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial;
e. Menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk memeluk agama dan kepercayaannya, serta kebebasan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu;
f. Membiayai pendidikan khususnya pendidikan dasar;
g. Mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional;
h. Memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN
dan APBD;
i. Menjamin sistem hukum yang adil;
j. Menjamin hak asasi warga negara;
k. Memberi dan mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat
serta memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai
dengan martabat kemanusiaan;
l. Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi
nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta
kesejahteraan umat manusia;
m. Memajukan kebudayaan di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dengan memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya;
n. Menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya
nasional;
o. Menguasai cabang-cabang produksi terpenting bagi negara dan menguasai
149

hidup orang banyak;


p. Memelihara fakir miskin dan anak-anak telantar;
q. Bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan palayanan umum lainnya yang layak.
Yang perlu dibedakan adalah antara hak warga negara dengan hak asasi
manusia, yaitu :
1. Hak Warga Negara :
a. Hak yang ditentukan dalam konstitusi suatu negara;
b. Muncul karena ada ketentuan peraturan perundang-undangan dan berlaku
bagi orang yang berstatus sebagai warga negara;
c. Dengan demikian hak warga negara untuk tiap negara akan berbeda.
2. Hak Asasi Manusia :
a. Hak-hak yang sifatnya mendasar yang melekat secara otomatis dengan
keberadaannya sebagai manusia sejak lahir;
b. Tidak diberikan oleh negara, tetapi justru negara harus menjamin keberadaannya;
c. Karenanya berlaku universal di seluruh dunia.

C. KARAKTERISTIK WARGA NEGARA YANG BERTANGGUNG JAWAB


Karakteristik adalah sejumlah sifat atau tabiat yang harus dimiliki oleh WNI, sehingga muncul suatu identitas yang mudah dikenali sebagai warga negara. Karakteristik dimaksud adalah :
1. Memiliki rasa hormat dan tanggung jawab, misalnya perilaku sopan santun,
ramah tamah, serta melaksanakan semua tugas dan fungsi sesuai dengan
aturan/norma yang berlaku.
2. Bersikap kritis, misalnya sikap dan perilaku yang selalu mendasarkan pada fakta
dan data yang valid (sah) serta argumentasi yang kuat.
3. Melakukan dialog/diskusi, untuk mencari kesamaan pemikiran terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi.
4. Bersikap terbuka (transparan), sejauh masalahnya tidak bersifat rahasia.
150

5. Rasional, yaitu pola sikap dan perilaku berdasarkan rasio atau akal pikiran yang
sehat.
6. Adil, yaitu sikap dan perilaku menghormati persamaan derajat dan martabat
kemanusiaan.
7. Jujur, yaitu sikap dan perilaku berdasarkan fakta dan data yang sah dan akurat,
dalam arti, ada kesamaan antara ucapan dan tindakan, antara yang dikemukakan/diucapkan dengan kenyataan.

Lebih-lebih hal ini bagi pejabat negara,

sehingga tidak muncul kritik tentang kebohongan publik.


8. Disiplin, yaitu taat asas, dan secara sadar merasa dirinya harus melaksanakan
atau tidak melaksanakan apa yang sudah menjadi komitmennya, atau sesuai
dengan ketentuan yang sudah digariskan.
Adapun karakteristik WNI yang mandiri, meliputi :
1. Memiliki kemandirian.
2. Memiliki tanggung jawab pribadi, politik, dan ekonomi, sebagai warga negara.
3. Menghargai martabat manusia dan kehormatan pribadi.
4. Berpartisipasi dalam urusan pembangunan dan kemasyarakatan dengan pikiran
dan sikap yang santun.
5. Mendorong berfungsinya demokrasi konstitusional yang sehat.

151

BAB VIII
BELA NEGARA

A. MAKNA BELA NEGARA


Dalam UUD 1945 :
1. Pasal 27 Ayat (3) berbunyi, Setiap warga negara berhak dan wajib ikutserta
dalam upaya pembelaan negara.
2. Pasal 30 Ayat (1) berbunyi, Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikutserta
dalam usaha pertahanan keamanan negara.
Dengan demikian usaha pembelaan dan pertahanan keamanan negara
merupakan hak sekaligus kewajiban setiap warga negara Indonesia. Konsekuensinya setiap warga negara berhak dan wajib turutserta dalam menentukan kebijakan
pembelaan negara melalui lembaga-lembaga perwakilan sesuai dengan UUD 1945
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembelaan negara dimaksud
dalam implementasinya sesuai dengan kemampuan dan profesi masing-masing.
Usaha pembelaan dan pertahanan keamanan negara dilaksanakan melalui
Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), yaitu :
1. Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia
(POLRI) sebagai Kekuatan Utama.
Untuk lebih jelasnya di bawah ini dikemukakan tentang peran, fungsi, tugas,
serta wewenang TNI dan POLRI :
a. Kedudukan, Peran, Fungsi, dan Tugas TNI :
1) Kedudukan :
a) Dalam pengerahan dan penggunaan kekuatan militer, TNI berkedudukan di bawah Presiden;
b) Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi,
TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan;
c) TNI terdiri atas TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI
Angkatan Udara yang melaksanakan tugasnya secara matra atau gabungan di bawah pimpinan Panglima;
152

d) Tiap-tiap angkatan mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat.


2) Peran :
TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam
menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik
negara.
3) Fungsi :
TNI sebagai alat pertahanan negara berfungsi sebagai :
a) Penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman
bersenjata dari luar dan dari dalam negeri terhadap kedaulatan,
keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa;
b) Penindak terhadap setiap bentuk ancaman tersebut di atas;
c) Pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat
kekacauan keamanan.
Dalam melaksanakan fungsi tersebut di atas, TNI merupakan
komponen utama sistem pertahanan negara.
4) Tugas :
Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,
serta melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan
negara. Tugas pokok ini dilakukan dengan :
a) Operasi militer untuk perang;
b) Operasi militer selain perang, yaitu untuk :
(1) mengatasi gerakan separatis bersenjata;
(2) mengatasi pemberontakan bersenjata;
(3) mengatasi aksi terorisme;
(4) mengamankan wilayah perbatasan;
(5) mengamankan obyek vital nasional yang bersifat strategis;
(6) melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan
politik luar negeri;
153

(7) mengamankan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya;


(8) memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya
secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta;
(9) membantu tugas pemerintahan di daerah;
(10) membantu POLRI dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban
masyarakat yang diatur dengan undang-undang;
(11) membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala negara
dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia;
(12) membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian,
dan pemberian bantuan kemanusiaan;
(13) membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search
and rescue);
(14) membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan.
Ketentuan tersebut di atas dilaksanakan berdasarkan kebijakan
dan keputusan politik negara.
b. Kedudukan, Tugas Pokok, Tugas, dan Wewenang POLRI :
1) Kedudukan :
a) POLRI berada di bawah Presiden.
b) POLRI dipimpin oleh KAPOLRI yang dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada Presiden sesuai dengan peraturan per-undangundangan.
2) Tugas Pokok :
a) Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;
b) Menegakkan hukum;
c) Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

154

3) Tugas :
a) Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan;
b) Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan;
c) Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat,
kesadaran hukum masyarakat, serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan;
d) Turutserta dalam pembinaan hukum nasional;
e) Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum;
f) Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap
kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk-bentuk
pengamanan swakarsa;
g) Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak
pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundangundangan lainnya;
h) Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas
kepolisian;
i) Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk
memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak
asasi manusia;
j) Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum
ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang;
k) Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian;
l) Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundangundangan.

155

4) Wewenang :
Dalam rangka penyelenggaran tugas pokok dan tugas tersebut di atas,
secara umum POLRI berwenang :
a) Menerima laporan dan/atau pengaduan;
b) Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat
mengganggu ketertiban umum;
c) Mencegah dan menaggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat;
d) Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau
mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;
e) Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan
administratif kepolisian;
f) Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan
kepolisian dalam rangka pencegahan;
g) Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;
h) Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang;
i) Mencari keterangan dan barang bukti;
j) Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional;
k) Mengeluarkan surat izin dan/atau surat keterangan yang diperlukan
dalam rangka pelayanan masyarakat;
l) Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan
putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat;
m) Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu.
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya, POLRI berwenang :
a) Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan
kegiatan masyarakat lainnya;
b) Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor;
c) Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor;
d) Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik;
e) Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan pe156

ledak, dan senjata tajam;


f) Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap
badan usaha di bidang jasa mengamanan;
g) Memberikan petunjuk, mendidik, dan melatih aparat kepolisian
khusus dan petugas pengamanan swakarsa dalam bidang teknis
kepolisian;
h) Melakukan kerjasama dengan kepolisian negara lain dalam menyidik
dan memberantas kejahatan internasional;
i) Melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing
yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait;
j) Mewakili pemerintah RI dalam organisasi kepolisian internasional;
k) Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas
kepolisian.
Di bidang proses pidana, POLRI berwenang untuk :
a) Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan;
b) Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian
perkara untuk kepentingan penyidikan;
c) Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka
penyidikan;
d) Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta
memeriksa tanda pengenal diri;
e) Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f) Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi;
g) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya
dengan pemeriksaan perkara;
h) Mengadakan penghentian penyidikan;
i) Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;
j) Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi
157

yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan


mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menagkal orang
yang disangka melakukan tindak pidana;
k) Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai
negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri
sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum;
l) Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
Tindakan lain adalah tindakan penyelidikan dan penyidikan yang
dilaksanakan jika memenuhi syarat sebagai berikut :
a) Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;
b) Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan
tersebut dilakukan;
c) Harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan jabatannya;
d) Pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa;
e) Menghormati hak asasi manusia.
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, POLRI senantiasa
bertindak berdasarkan norma hukum dan mengindahkan norma agama,
kesopanan, kesusilaan, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dan
lebih diutamakan adalah tindakan pencegahan.

2. Rakyat sebagai Kekuatan Pendukung.


Komponen pendukung adalah sumber daya nasional yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama dan cadangan.
Adapun sumber daya nasional meliputi sumber daya manusia, sumber daya
alam, dan sumber daya buatan. Keikutsertaan atau peranan rakyat (warga
negara) dalam bela negara diselenggarakan melalui :
a. Pendidikan kewarganegaraan di sekolah-sekolah termasuk perguruan tinggi;
b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib (Wamil);
c. Pengabdian sesuai dengan profesi masing-masing.
Wujud bela negara mencakup pengertian bela negara secara fisik dan non158

fisik.
a. Bela Negara secara Fisik :
1) Menjadi anggota TNI atau POLRI;
2) Ikut pelatihan dasar kemiliteran melalui program Rakyat Terlatih (Ratih)
yang terdiri dari berbagai unsur, misalnya Resimen Mahasiswa (Menwa),
Pertahanan Sipil (Hansip) atau Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang tergabung dalam Wanra dan Kamra, Mitra Babinsa, serta Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP). Adapun Ratih mempunyai empat fungsi, yaitu :
a) Ketertiban umum;
b) Perlindungan masyarakat;
c) Keamanan rakyat;
d) Perlawanan rakyat.
Tiga fungsi pertama dilakukan pada masa damai, misalnya saat terjadi
bencana alam dan darurat sipil, di mana ratih membantu pemerintah
daerah menangai keamanan dan ketertiban masyarakat. Sementara fungsi
yang keempat dilakukan dalam keadaan darurat perang, sehingga ratih
merupakan unsur bantuan tempur bagi pasukan reguler TNI yang terlibat
langsung di medan perang.
Jika keadaan ekonomi dan keuangan negara memungkinkan, dapat
pula dipertimbangkan wajib militer (wamil) bagi warga negara yang
memenuhi syarat. Mereka yang telah mengikuti latihan dasar kemiliteran
akan menjadi cadangan TNI. Para mahasiswa di perguruan tinggi biasanya
menjadi Perwira Cadangan (Pacad), dan setelah lulus menjadi sarjana
dapat ditugaskan/ditempatkan sesuai dengan profesi masing-masing dalam
kehidupan militer, misalnya : Dokter di rumah sakit militer, psikolog di
dinas psikologi militer, pengacara di dinas hukum atau oditur militer di
pengadilan militer, akuntan di biro keuangan instansi militer, dsb. Dalam
keadaan darurat, mereka dapat dimobilisasi dalam waktu singkat untuk
tugas-tugas tempur maupun teritorial.

159

b. Bela Negara secara Nonfisik :


Bela negara tidak selalu berarti harus memanggul senjata menghadapi
musuh atau bersifat militeristik. Keterlibatan warga negara dalam bela negara
secara nonfisik dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, sepanjang masa, dan
dalam segala situasi, misalnya :
1) Meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, termasuk menghayati
arti demokrasi dengan menghargai perbedaan pendapat dan tidak memaksakan kehendak;
2) Menanamkan kecintaan terhadap tanah air (patriotisme) melalui
pengabdian yang tulus kepada masyarakat;
3) Berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara dengan berkarya
nyata (bukan retorika);
4) Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap hukum/undang-undang
dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;
5) Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar dapat menangkal
pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma kehidupan bangsa
dengan lebih bertaqwa terhadap Tuhan YME melalui ibadah sesuai dengan
agama masing-masing.
Peraturan perundang-undangan sebagai pelaksanaan Pasal 30 UUD
1945 yang berkaitan dengan bela negara hingga saat ini adalah :
a. UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
b. UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara;
c. UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.

B. IDENTIFIKASI ANCAMAN TERHADAP BANGSA DAN NEGARA


Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan baik dari dalam maupun luar negeri
yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan
kesela-matan segenap bangsa.

Ancaman mencakup hal yang sangat luas dan

spektrum yang senantiasa berubah/berkembang dari waktu ke waktu.


160

Ancaman

inilah yang perlu diatasi melalui keikutsertaan warga negara dalam bela negara.
Menurut UU No. 20 Tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pertahanan Kemanan
Negara, ancaman mencakup ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan), sedangkan menurut UU No. 3 Tahun 2002 yang menggantikannya, hanya
satu istilah saja, yaitu ancaman. Akan tetapi untuk pengetahuan, di bawah ini
dikemukakan pengertian daripada ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan
menurut UU No. 20 Tahun 1982 dimaksud.
1. Ancaman : Suatu hal atau upaya yang bersifat dan bertujuan mengubah dan
merombak kebijakan negara yang dilaksanakan secara konsepsional.
2. Tantangan : Suatu hal atau upaya yang bersifat atau bertujuan menggugah kemampuan.
3. Hambatan : Suatu hal yang bersifat melemahkan atau menghalangi tetapi tidak
secara konsepsional, dan berasal dari dalam.
4. Gangguan : Suatu hal atau upaya yang mengusik kelangsungan kehidupan
ideologi bangsa dan negara RI.
Sedangkan ancaman menurut UU No. 3 Tahun 2002 adalah setiap usaha
dan kegiatan baik dari dalam maupun luar negeri yang dinilai membahayakan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa.
Dewasa ini ancaman terhadap kedaulatan negara yang semula bersifat
konvensional (fisik) berkembang menjadi multi dimensional (fisik dan nonfisik),
baik berasal dari dalam maupun luar negeri.

Ancaman multi dimensional

dimaksud dapat bersumber dari permasalahan ideologi, politik, ekonomi, sosialbudaya, maupun keamanan yang terkait dengan kejahatan internasional seperti
terorisme, imigran gelap, narkoba, pencurian kekayaan alam, perompak (bajak
laut), perusakan lingkungan, dll.
Terdapat dua bentuk ancaman, yaitu ancaman militer dan ancaman
nonmiliter. Bentuk ancaman militer mencakup :
1. Agresi, dengan penggunaan kekuatan bersenjata oleh negara lain terhadap
kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa, dengan cara :
a. Invasi, berupa serangan oleh kekuatan militer negara lain terhadap wilayah
161

NKRI;
b. Bombardemen (pengeboman) dengan senjata terhadap wilayah NKRI;
c. Blokade terhadap pelabuhan/pantai atau wilayah udara NKRI oleh angkatan
bersenjata negara lain;
d. Serangan unsur angkatan bersenjata negara lain terhadap unsur satuan TNI
AD, AL atau AU negara kita;
e. Unsur angkatan bersenjata negara lain yang berada di wilayah NKRI berdasarkan perjanjian, tetapi tindakannya bertentangan dengan isi perjanjian;
f. Tindakan suatu negara yang mengizinkan penggunaan wilayahnya oleh
negara lain sebagai daerah persiapan untuk melakukan agresi terhadap
NKRI;
g. Pengiriman kelompok bersenjata atau tentara bayaran oleh negara lain
untuk melakukan tindak kekerasan di wilayah NKRI.
2. Pelanggaran wilayah yang dilakukan negara lain, baik dengan menggunakan kapal maupun pesawat nonkomersial.
3. Spionase yang dilakukan negara lain untuk mencari/mendapatkan rahasia
militer;
4. Sabotase untuk merusak instalasi militer atau obyek vital nasional yang
memba-hayakan keselamatan bangsa;
5. Asksi teror bersenjata yang dilakukan oleh jaringan terorisme internasional atau
yang bekerjasama dengan terorisme dalam negeri yang bereskalasi tinggi
sehingga membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan
keselamatan bangsa;
6. Pemberontakan bersenjata di dalam negeri;
7. Perang saudara antar kelompok masyarakat bersenjata di dalam negeri, dsb.
Sebenarnya dalam jangka waktu pendek ancaman dari luar negeri relatif
kecil kemungkinannya mengingat upaya diplomasi negara dan peran PBB, serta
opini dunia internasional yang akan mencegah atau sekurang-kurangnya
membatasi negara lain untuk menggunakan kekuatan bersenjata terhadap NKRI,
namun tetap kita harus selalu waspada. Ancaman yang paling mungkin adalah
162

kejahatan yang terorganisasi yang dilakukan oleh aktor-aktor nonnegara untuk


memperoleh keuntungan dengan memanipulasi kondisi dalam negeri dan keterbatasan dan kelemahan aparatur pemerintah.
Bentuk ancaman nonmiliter adalah upaya menghancuran moral dan budaya
bangsa melalui disinformasi, propaganda negatif, peredaran narkoba, film-film
porno, internet negatif, seni-budaya yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan
nilai-nilai Pancasila, dll., yang mempengaruhi bangsa terutama generasi muda.
Berdasarakan Buku Putih yang disusun oleh Departemen Pertahanan RI tahun
2003, ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia lebih kompleks lagi. Prakiraan
ancaman dimaksud antara lain :
1. Gerakan separatis yang berusaha memisahkan diri dari NKRI;
2. Aksi radikalisme yang berlatar belakang primordial, etnis, ras, dan agama, serta
ideologi di luar Pancasila, baik yang berdiri sendiri maupun yang memiliki
keterkaitan dengan kekuatan-kekuatan di luar negeri.
3. Konflik komunal yang kendati bersumber dari masalah sosial-ekonomi, kemudian dapat berkembang menjadi konflik antar suku, ras/keturunan, dan agama
(SARA = Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) dalam skala yang luas.
4. Kejahatan lintas negara seperti penyelundupan barang, senjata, amunisi, dan
bahan peledak, penyelundupan manusia, narkoba, pencucian uang (money
loundry), serta bentuk-bentuk kejahatan lainnya.
5. Kegiatan imigrasi gelap yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan maupun
bantu lancatan ke negara lain.
6. Gangguan keamanan laut seperti pembajakan/perompakan, penangkapan ikan
secara ilegal, pencemaran, dan perusakan ekosistem.
7. Gangguan keamanan udara seperti pembajakan udara, pelanggaran wilayah
udara RI, dan terorisme melalui transportasi udara.
8. Perusakan lingkungan seperti pembakaran hutan, perambahan/pembalakan
liar hutan (illegal loging), pembuangan limbah beracun dan berbahaya, dll.
9. Bencana alam dan dampaknya terhadap keselamatan bangsa.

163

BAB IX
DEMOKRASI

A. PENGERTIAN DEMOKRASI
Secara bahasa (etimologis), demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos
yang berarti rakyat, dan cratos atau cratein yang berarti kekuasaan, kedaulatan, atau pemerintahan. Jadi, demokrasi adalah kekuasaan/kedaulatan atau pemerintahan rakyat.
Konsep demokrasi awalnya lahir di Yunani kuno dalam kehidupan bernegara
antara abad 4 sM s/d abad ke 6 M. Pada waktu itu yang dipraktekkan adalah
demokrasi langsung (direct democracy), karena berupa negara kota (polis, city
states) yang pendukungnya terbatas pada sebuah kota Athena dan daerah
sekitarnya lk. 300.000 orang. Meskipun ada keterlibatan seluruh warga, tetapi
masih ada pembatasan, misalnya para perempuan, anak, dan budak, tidak berhak
ikutserta dalam pemerintahan.
Dengan perkembangan zaman dan jumlah penduduk yang bertambah banyak,
timbul juga demokrasi tidak langsung (melalui perwakilan) dengan alasan :
1. Tidak ada tempat untuk menampung seluruh warga yang jumlahnya cukup
banyak.
2. Dengan jumlah warga yang banyak, sulit melaksanakan musyawarah dengan
baik.
3. Mufakat bulat sulit tercapai karena sulitnya memungut suara dari warga yang
hadir.
4. Masalah yang dihadapi negara semakin kompleks dan rumit, sehingga dibutuhkan orang-orang yang secara khusus mempunyai keahlian berkecimpung dalam
menyelesaikan masalah tersebut.
Jadi, demokrasi atas dasar penyaluran kehendak rakyat ada dua macam, yaitu
demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung.
1. Demokrasi Langsung (Direct Democracy), artinya, rakyat ikut menentukan
kebijakan-kebjiakan pemerintahan atau keputusan kenegaraan secara langsung.
Contoh di Indonesia, pemilihan Kepala Desa, Pemilukada, Pemilu Legislatif, dan
164

Pemilu Presiden.
2. Demokrasi Tidak Langsung (Indirect Democracy), artinya, rakyat berperan dalam
pemerintahan melalui wakil-wakilnya yang duduk di lembaga-lembaga perwakilan, yaitu BPD di Desa, serta DPR/DPRD, MPR, dan DPD.
Secara terminologis, banyak definisi demokrasi yang dikemukakan oleh para
ahli dengan sudut pandang berbeda. Berikut ini adalah definisi-definisi dimaksud.
1. Harris Soche :
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu kekuasaan pemerintahan melekat pada diri rakyat, diri orang banyak, dan merupakan hak bagi
rakyat atau orang banyak untuk mengatur, mempertahankan, dan melindungi
dirinya dari paksaan dan pemerkosaan orang lain atau badan yang diserahi
untuk memerintah.

2. Henry B. Mayo :
Sistem politik demokratis adalah sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan
umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara
efek-tif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas
prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya
kebebasan politik.
3. C.F. Strong :
Suatu sistem pemerintahan dalam mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikutserta atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintah akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya kepada mayoritas itu.
4. Samuel P. Huntington :
Sistem politik sebagai demokratis sejauh para pembuat keputusan kolektif yang
paling kuat dalam sistem itu dipilih melalui pemilihan umum yang jujur, adil, dan
berkala, dan di dalam sistem itu para calon bebas bersaing untuk memperoleh
suara dan hampir semua penduduk dewasa berhak memberikan suara.
165

5. International Commission for Jurist :


Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat
keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga melalui wakil-wakil
yang dipilih oleh mereka dan bertanggung jawab kepada mereka melalui suatu
proses pemilihan yang bebas.
6. Abraham Lincon (AS, 1863) :
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat
(government of the people, by the people, and for the people).
Sementara itu secara substantif, prinsip utama dalam demokrasi menurut
Maswadi Rauf (1997) ada dua, yaitu :
1. Kebebasan/persamaan (freedom/equality).
2. Kedaulatan rakyat (peoples sovereignity).
Kebebasan dan persamaan adalah pondasi demokrasi, dan sarana penting
untuk mencapai kemajuan dengan memberikan hasil maksimal dari usaha orang
tanpa adanya pembatasan dari penguasa.

Demokrasi karenanya merupakan

pelembagaan dari kebebasan. Sementara itu kedaulatan rakyat pada hakekatnya


merupakan kebijakan yang dibuat atas kehendak rakyat untuk kepentingan rakyat.
Mekanisme semacam ini akan mencapai dua hal, yaitu pertama, kecil kemungkinan
terjadi penyalahgunaan kekuasaan, dan kedua, terjaminnya kepentingan rakyat
dalam tugas-tugas pemerintahan. Perwujudan lain konsep kedaulatan rakyat adalah pengawasan oleh rakyat.

B. KONSEP DEMOKRASI
Konsep demokrasi pada masa sekarang ini tidak saja difahami sebagai bentuk
pemerintahan, tetapi juga sebagai sistem politik, dan sebagai sikap hidup.
1. Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan :
Konsep ini berasal dari para filsuf Yunani. Pembagian bentuk pemerintahan menurut Plato (429-347), dibedakan menjadi :
a. Monarki, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang (Raja) se166

bagai pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan rakyat.


b. Tirani, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang sebagai pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan pribadi sang pemimpin.
c. Aristokrasi,

yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok

orang dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.


d. Oligarki, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang
dan dijalankan untuk kelompok itu sendiri.
e. Mobokrasi/Okhlokrasi, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat, tetapi yang tidak tahu apa-apa, tidak berpendidikan, tidak faham tentang
pemerintahan, sehingga pemerintahan yang dijalankan tidak berhasil untuk
kepentingan rakyat banyak.
f. Demokrasi, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.
Menurut Nicollo Machiavelli, bentuk pemerintahan ada dua, yaitu :
a. Monarki, yaitu bentuk pemerintahan kerajaan. Pemimpin negara umumnya
bergelar Raja, Ratu, Sultan, atau Kaisar. Pengangkatan/penunjukannya berdasarkan keturunan atau pewarisan.
b. Republik, yaitu bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Presiden
atau Perdana Menteri. Pengangkatan/penunjukannya berdasarkan pemilihan.
Sementara itu bentuk pemerintahan menurut Aristoteles :
a. Monarki

bentuk merosotnya, tirani.

b. Aristokrasi

bentuk merosotnya, oligarki.

c. Republik

bentuk merosotnya, demokrasi.

Pendapat lain tentang bentuk merosot dari pemerintahan demokrasi adalah okhlokrasi.
Dalam pada itu terdapat tiga macam sistem pemerintahan demokrasi,
yaitu :
a. Demokrasi dengan Sistem Parlementer, jika tugas dan kekuasaan eksekutif
diserahkan kepada suatu badan yang disebut Kabinet atau Dewan Menteri,
yang dibentuk dan bertanggung jawab kepada parlemen (badan perwakilan
rakyat atau DPR). Kabinet ini disebut Kabinet Parlementer.
167

b. Demokrasi dengan Sistem Pemisahan Kekuasaan, jika kekuasaan badan


eksekutif (pemerintahan) terdiri dari Presiden selaku kepala pemerintahan
dibantu oleh para menteri. Menteri-menteri ini memimpin kementerian/
departemen atau bisa juga berupa menteri negara yang tidak memimpin
departemen, yang diangkat dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kabinet
ini disebut Kabinet Presidensial.
c. Demokrasi dengan Sistem Referendum, jika tugas badan legislatif selalu
berada dalam pengawasan rakyat.

Pengawasan dimaksud dalam bentuk

referendum. Ada dua macam referendum, yaitu :


1) Referendum Obligatoire (Referendum Wajib), adalah referendum yang menentukan berlakunya suatu undang-undang atau peraturan. Artinya, suatu
undang-undang atau peraturan dapat berlaku jika mendapat persetujuan
rakyat melalui referendum.
2) Referendum Fakultatif (Referendum yang Tidak Wajib), adalah referendum
yang menentukan apakah suatu undang-undang yang sedang berlaku
dapat terus dipergunakan atau tidak, atau mungkin perlu perubahanperubahan. Contohnya di negara Swiss.
2. Demokrasi sebagai Sistem Politik :
Sistem politik cakupannya lebih luas dari sekedar bentuk pemerintahan. Hal ini
terlihat dari definisi demokrasi yang diberikan Henry B. Mayo dan S.P. Huntington. Menurut S.P. Huntington (2001), sistem politik dibedakan menjadi dua,
yaitu sistem politik demokrasi, dan sistem politik nondemokrasi. Sistem politik
demokrasi adalah sistem pemerintahan dalam suatu negara yang menjalankan
prinsip-prinsip demokrasi. Sedangkan sistem politik nondemokrasi adalah sistem
pemerintahan yang tidak menjalankan prinsip-prinsip demokrasi, misalnya
otoriter, totaliter, diktator, rezim militer, rezim satu partai, monarki absolut, dan
sistem komunis.
Akan tetapi dalam kenyataannya, bisa saja bentuk pemerintahan monarki
(kerajaan) dan republik pun merupakan negara demokrasi, atau diktator/
otoriter, bergantung pada prinsip-prinsip yang dijalankannya. Dengan demikian,
168

ada negara kerajaan yang demokratis, dan ada yang diktator/otoriter, demikian
juga ada negara republik yang demokratis dan ada yang diktator/otoriter.
Menurut Sukarna (1981), prinsip-prinsip sistem politik demokrasi adalah :
a. Pembagian kekuasaan : Legislatif, eksekutif, dan yudikatif berada pada badan
badan yang berbeda;
b. Pemerintahan konstitusional;
c. Pemerintahan berdasarkan hukum (rule of law);
d. Pemerintahan mayoritas;
e. Pemerintahan dengan diskusi;
f. Pemilihan umum yang bebas;
g. Partai politik lebih dari satu dan mampu melaksanakan fungsinya;
h. Manajemen yang terbuka;
i. Pers yang bebas;
j. Pengakuan terhadap hak-hak minoritas;
k. Perlindungan terhadap hak asasi manusia;
l. Peradilan yang bebas dan tidak memihak;
m. Pengawasan terhadap administrasi negara;
n. Mekanisme politik yang berubah antara kehidupan politik masyarakat dengan
kehidupan politik pemerintah;
o. Kebijakan pemerintah dibuat oleh badan perwakilan politik tanpa paksaan
dari lembaga mana pun;
p. Penempatan pejabat pemerintahan dengan merit sistem bukan spoil sistem;
q. Penyelesaian secara damai bukan kompromi;
r. Jaminan terhadap kebebasan individu dalam batas-batas tertentu;
s. Konstitusi/undang-undang dasar yang demokratis;
t. Prinsip persetujuan.
Dalam pada itu beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh suatu negara
yang benar-benar menggunakan demokrasi sebagai sistem pemerintahannya,
menurut Syahrial Syarbaini (2011:238), adalah :
a. Partisipasi rakyat;
b. Persamaan di depan hukum;
169

c. Distribusi pendapatan secara adil;


d. Kesempatan pendidikan yang sama;
e. Ketersediaan dan keterbukaan informasi;
f. Mengindahkan tata krama politik, dsb.
Adapun prinsip-prinsip sistem politik kediktatoran/otoriter adalah :
a. Ketiga macam kekuasaan (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) dijalankan oleh
satu lembaga saja;
b. Pemerintahan tidak berdasarkan konstitusi, tetapi berdasarkan kekuasaan.
Kalaupun ada konstitusi, konstitusinya memberikan kekuasaan besar kepada
negara/pemerintah;
c. Supremasi kekuasaan dan ketidaksamaan di depan hukum (rule of power);
d. Pembentukan pemerintahan melalui dekrit, tidak berdasarkan hasil musyawarah;
e. Pemilihan umum tidak demokratis, hanya untuk memperkuat keabsahan
penguasa;
f. Terdapat satu partai politik, dan kalaupun banyak, ada parpol yang memonopoli kekuasaan;
g. Manajemen dan kepemimpinan tertutup dan tidak bertanggung jawab;
h. Menekan dan tidak mengakui hak-hak minoritas;
i. Tidak ada kebebasan berbicara, berpendapat, dan pers;
j. Tidak ada perlindungan hak asasi manusia, bahkan pelanggaran;
k. Badan peradilan tidak bebas, dan bisa diintervensi oleh penguasa;
l. Tidak ada pengawasan administrasi dan birokrasi;
m. Mekanisme kehidupan politik dan sosial tidak dapat berubah;
n. Penyelesaian perpecahan atau perbedaan dengan cara kekerasan dan
paksaan;
o. Tidak ada jaminan hak-hak dan kebebasan individu, misalnya kebebasan berbicara, berpendapat, beragama, dan kebebasan dari rasa takut;
p. Prinsip dogmatisme dan banyak doktrin.
Unsur-unsur pendukung tegaknya demokrasi sebagai sebuah tatanan
kehidupan kenegaraan, pemerintahan, ekonomi, sosial, dan politik, menurut A.
170

Ubaedillah dan Abdul Rozak dkk. dari ICCE-UIN Jakarta, sangat bergantung pada
keberadaan dan peran yang dijalankan oleh unsur-unsur penopang tegaknya
demokrasi, yaitu :
a. Negara Hukum (Rechtsstaats atau The Rule of Law) yang memberikan perlindungan hukum bagi warga negara melalui pelembagaan peradilan yang
bebas dan tidak memihak serta penjaminan hak asasi manusia;
b. Masyarakat Madani (Civil Society), yaitu masyarakat yang ciri-cirinya terbuka,
egaliter, bebas dari dominasi dan tekanan negara;
c. Aliansi Kelompok Strategis yang terdiri dari partai politik, kelompok gerakan
dan kelompok penekan (pressure group) atau kelompok-kelompok kepentingan termasuk di dalamnya pers yang bebas dan bertanggung jawab.
Sementara itu Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (Republika, 27/6-2013:3), mengatakan terdapat empat pilar demokrasi, yaitu lembaga
legislatif, eksekutif, yudikatif, dan pers.
Demokrasi tidak sekedar wacana yang mengandung prinsip-prinsip demokrasi, akan tetapi mempunyai ukuran atau parameter sehingga suatu negara
dapat dikatakan demokratis atau tidak. Dalam hal ini ada tiga aspek yang dapat
dijadikan parameter sejauh mana demokrasi itu berjalan, yaitu :
a. Pemilihan umum sebagai proses pembentukan pemerintahan. Hingga saat ini
diyakini banyak kalangan bahwa pemilu sebagai salah satu instrumen penting
dalam proses pergantian pemerintahan;
b. Susunan kekuasaan negara yang dijalankan secara distributif untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu tangan atau satu wilayah;
c. Pengawasan rakyat, yakni suatu relasi kuasa yang berjalan secara simetris,
memiliki sambungan yang jelas, dan adanya mekanisme yang memungkinkan
kontrol dan keseimbangan (check and balance) terhadap kekuasaan yang dijalankan eksekutif dan legislatif.
Untuk mendukung terlaksananya demokrasi, perlu didukung oleh enam
norma/kaidah pokok yang dibutuhkan oleh tatanan masyarakat pluralis, yaitu :
a. Kesadaran akan adanya pluralisme;
b. Musyawarah;
171

c. Sejalan dengan tujuan;


d. Ada norma kejujuran dan mufakat;
e. Kebebasan nurani, persamaan hak dan kewajiban;
f. Percobaan dan salah (trial and error).
3. Demokrasi sebagai Sikap Hidup :
Pemerintahan atau sistem politik tidak datang, tumbuh, dan berkembang dengan
sendirinya. Demokrasi membutuhkan usaha nyata dari setiap warga maupun
penyelenggara negara untuk berperilaku mendukung pemerintahan dan sistem
politik demokrasi. Perilaku demokrasi sebagai sikap atau pola/pandangan hidup
dikemukakan pula oleh :
a. John Dewey, bahwa demokrasi adalah pandangan hidup yang dicerminkan
dari perlunya partisipasi warga negara dalam membentuk nilai-nilai yang
mengatur kehidupan bersama;
b. Padmo Wahyono (BP-7 Pusat), bahwa demokrasi adalah pola kehidupan
berkelompok yang sesuai dengan keinginan dan pandangan hidup orangorang yang berkelompok tersebut;
c. Tim ICCE-UIN Jakarta (2003), bahwa demokrasi sebagai way of life dalam
seluk-beluk sendi kehidupan bernegara, baik oleh rakyat (masyarakat)
maupun pemerintah.
Ciri-ciri perilaku demokrasi ditunjukkan dalam sikap, yang :
a. Mengutamakan musyawarah dalam memutuskan atau memecahkan sesuatu
masalah;
b. Menghormati pendapat orang lain, artinya tidak memaksakan kehendaknya
sendiri;
c. Terbuka terhadap saran dan kritik.
Dalam mengembangkan sikap demokratis, setiap individu (warga negara)
harus membiasakan diri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan pola demokrasi. Pengembangan pola demokratis, akan :
a. Mencegah otoriterisme;
b. Mencegah anarkisme;
172

c. Mengembangkan budaya kewargaan atau masyarakat madani (civil society);


d. Mengembangkan pendidikan kewarganegaraan (civics).
Demokrasi sebagai sikap hidup, adalah penerapan demokrasi dalam
perikehidupan sehari-hari. Contohnya :
a. Sikap Hidup Demokratis di Lingkungan Keluarga :
1) Mendengarkan nasihat orang tua;
2) Menyampaikan keinginan kepada orang tua/anggota keluarga lainnya
dengan cara yang baik;
3) Mau memberi pendapat dan saran kepada anggota keluarga;
4) Mau mengakui keunggulan pendapat dan saran anggota keluarga lainnya;
5) Ikhlas dan penuh tanggung jawab melaksanakan tugas-tugas keluarga yang
telah disepakati bersama.
b. Sikap Hidup Demokratis di Lingkungan Sekolah/Kuliah :
1) Bersikap terbuka dan jujur kepada semua teman dan guru/dosen;
2) Mengedepankan musyawarah yang menyangkut kepentingan orang
banyak;
3) Berani menyampaikan pendapat dan saran dengan cara-cara yang baik dan
benar;
4) Berani bertanya jika ada hal-hal yang belum dipahami;
5) Berani mengakui keunggulan teman-teman secara jujur;
6) Berani memberi kritikan sekaligus jalan keluarnya jika ada kebijakan yang
tidak mengakomodasi kepentingan siswa/mahasiswa, dll.
c. Sikap Hidup Demokratis di Lingkungan Masyarakat :
1) Turut ambil bagian atau berkontribusi terhadap kegiatan-kegiatan yang ada
di masyarakat (jumsih, kerja bakti, gerakan sosial, peringatan/perayaan
hari-hari besar agama/kenegaraan, dsb.);
2) Mengedapankan musyawarah dalam mengambil keputusan menyangkut
kepentingan bersama masyarakat;
3) Memberikan pendapat, saran, atau pun kritikan demi kemajuan lingkungan
dengan cara-cara yang baik dan benar.
d. Sikap Hidup Demokratis di Lingkungan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara :
173

1) Ambil bagian dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan, misalnya


dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) baik di
tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten;
2) Melaksanakan kegiatan pemilihan umum (legislatif, kepada daerah,
Presiden);
3) Memberikan saran, masukan, kritik, dll. yang bersifat membangun kepada
pemerintah;
4) Melaksanakan peraturan perundang-undangan.

C. MACAM-MACAM ATAU JENIS DEMOKRASI


Menurut C.S.T. Kansil (2005), macam-macam demokrasi adalah :
1. Demokrasi Sederhana, berdasarkan gotong-royong dan musyawarah untuk
mencapai kesepakatan/mufakat, yang ada di desa-desa.
2. Demokrasi Barat atau Demokrasi Kapitalis/Liberal, yang umumnya dianut oleh
negara-negara barat dan Amerika Serikat, yang berdasarkan atas kemerdekaan
perseorangan/individualisme.
3. Demokrasi Timur atau Demokrasi Komunis, yang dijalankan oleh satu partai
saja yang mengatasnamakan seluruh rakyat.

Kaum komunis menganggap

bahwa mereka adalah regu pelopor bagi kaum buruh seluruh dunia (proletar)
yang berdasarkan kerakyatan dan menentang kapitalisme.
4. Demokrasi Tengah, yaitu fascisme di Italia pada zaman Mussolini, dan naziisme
di Jerman pada zaman Adolf Hitler. Pada kenyataanya mereka adalah diktator,
karena hanya diktator saja yang dapat bertindak sebagai wakil rakyat yang
sewenang-wenang. Rakyat harus mengatakan ya apabila sudah diputuskan
oleh sang pemimpin.
5. Demokrasi Terpimpin (Geleide Democratie) menurut istilah Bung Karno (Ir.
Sukarno) dan Demokrasi Terdidik menurut istilah Bung Hatta (Drs. Mohamad
Hatta). Maksudnya berhubung ada jarak antara para pemimpin (kaum intelek)
dengan rakyat, maka untuk melaksanakan demokrasi para pemimpin harus memimpin atau mendidik rakyat berdemokrasi.
174

Sementara itu terdapat jenis-jenis demokrasi dilihat dari berbagai sudut


pandang (Syahrial Syarbaini, 2012:234-235), yaitu :
1. Berdasarkan Cara Menyampaikan Pendapat.
a. Demokrasi Langsung, yang dalam hal ini rakyat diikutsertakan dalam proses
pengambilan keputusan untuk menjalankan kebijakan pemerintahan;
b. Demokrasi Tidak Langsung (demokrasi perwakilan), yang dalam hal ini rakyat
memilih wakilnya untuk membuat keputusan politik di lembaga perwakilan
rakyat;
c. Demokrasi Perwakilan dengan Pengawasan Langsung dari Rakyat, yaitu
demokrasi campuran demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung (a
dan b). Dalam hal ini rakyat memilih wakilnya yang duduk di lembaga
perwakilan rakyat, tetapi wakil rakyat itu dalam menjalankan tugasnya
diawasi oleh rakyat melalui referendum dan inisiatif rakyat, seperti halnya di
negara Swiss. Referendum adalah pemungutan suara untuk mengetahui
kehendak rakyat secara langsung. Terdapat tiga mecam referendum, yaitu :
1) Referendum Wajib, dilakukan ketika ada perubahan atau pembentukan
norma penting dan mendasar dalam UUD/konstitusi atau UU yang sangat
politis. UUD atau UU itu telah dibuat oleh lembaga perwakilan rakyat,
akan tetapi

baru dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan

rakyat melalui pemungutan suara terbanyak.


2) Referendum Tidak Wajib, dilakukan jika dalam waktu tertentu setelah
rancangan UU diumumkan, sejumlah rakyat mengusulkan diadakan referendum. Jika dalam waktu tertentu itu tidak ada usulan rakyat, maka
RUU itu dapat diundangkan dan dilaksanakan;
3) Referendum Konsultatif, yang sabatas meminta persetujuan saja, karena
bisa jadi rakyat tidak memahami permasalahannya, sehingga pemerintah
meminta pertimbangan kepada para ahli bidang tertentu yang berkaitan
dengan permasalahan dimaksud.
2. Berdasarkan Titik Perhatian atau Prioritasnya.
a. Demokrasi Formal, yang secara hukum menempatkan semua orang dalam
175

kedudukan yang sama dalam bidang politik, tanpa mengurangi kesenjangan


ekonomi. Tiap individu diberi kebebasan yang luas, sehingga demokrasi ini
disebut juga demokrasi liberal;
b. Demokrasi Material, yang memandang manusia mempunyai kesamaan
dalam bidang sosial-ekonomi, sehingga persamaan di bidang politik tidak
menjadi prioritas. Demokrasi semacam ini dikembangkan di negara-negara
sosialis-komunis;
c. Demokrasi Campuran, yang merupakan campuran demokrasi formal dan
demokrasi material (a dan b). Demokrasi ini berupaya menciptakan kesejahteraan seluruh rakyat dengan menempatkan persamaan derajat dan hak
tiap-tiap individu.
3. Berdasarkan Prinsip Ideologi.
a. Demokrasi Liberal, yang memberikan kebebasan yang luas kepada individu
yang berangkat dari pengagungan HAM.

Campur tangan pemerintah

diminimalkan atau bahkan ditolak. Tindakan sewenang-wenang pemerintah


terhadap warganya dihindari, dan bertindak atas dasar konstitusi. Di bidang
ekonomi diberlakukan mekanisme pasar;
b. Demokrasi Rakyat (Demokrasi Proletar), yang bertujuan menyejahterakan
rakyat. Negara yang dibentuk tidak mengenal perbedaan kelas. Semua
warga sama, tetapi pada akhirnya yang dipentingkan adalah komunal,
komunitas warga yang bersatu dalam negara, sehingga akhirnya menjadi
komunis. Demokrasi ini memang diberlakukan di negara-negara komunis.
4. Berdasarkan Wewenang dan Hubungan Antaralat Kelengkapan Negara.
Demokrasi ini dibagi menjadi :
a. Demokrasi Sistem Parlementer, yang ciri-cirinya :
1) Parlemen (legislatif) lebih kuat daripada pemerintah (eksekutif);
2) Menteri-menteri (kabinet) bertanggung jawab kepada parlemen;
3) Program kebijakan kabinet disesuaikan dengan tujuan politik anggota
parlemen;

176

4) Kedudukan Kepala Negara sebagai simbol, dan tidak dapat diganggu


gugat.
b. Demokrasi Sistem Pemisahan/Pembagian Kekuasaan (Presidensial), yang
ciri-cirinya :
1) Kepala negara adalah Presiden;
2) Kekuasaan eksekutif Presiden dijalankan berdasarkan kedaulatan yang
dipilih dari dan oleh rakyat melalui lembaga perwakilan;
3) Presiden mempunyai kekuasaan mengangkat dan memberhentikan
menteri-menteri;
4) Menteri-menteri tidak bertanggung jawab kepada parlemen, melainkan
kepada Presiden;
5) Presiden dan parlemen mempunyai kedudukan yang sama sebagai lembaga negara, dan tidak dapat saling menjatuhkan/membubarkan.
Demokrasi-demokrasi tersebut di atas lebih banyak didasarkan pada faham
atau ideologi yang dianut. Bagi Indonesia, demokrasi yang dikembangkan adalah
demokrasi Pancasila yang bersumber pada dasar falsafah negara Pancasila, yaitu
demokrasi yang diliputi dan dijiwai oleh Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan
yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Prinsip utama demokrasi Pancasila adalah menjaga keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara
hak-hak individu dengan kepentingan umum.

D. CIRI-CIRI DEMOKRASI
Ciri demokrasi adalah setiap keputusan selalu diambil berdasarkan kelebihan suara
atau suara terbanyak. Biasanya 50 + 1, artinya setengah dari seluruh yang memberikan suara sesuai dengan quorum ditambah satu, menjadi pemenang. Antara
pemenang dan yang kalah harus saling menerima dan menghormati. Perjuangan
merebut kemenangan bukanlah sesuatu hal antara hidup dan mati. Golongan yang
kecil (kalah) tetap berhak duduk dalam pemerintahan. Namun kenyataan dewasa
177

ini di Indonesia, dari pengalaman pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah,
yang terjadi adalah kekacauan, bahkan sampai berdarah-darah karena umumnya
orang-orang yang bersangkutan dan tim sukses serta para pendukungnya siap
menang tetapi tidak siap kalah.
Sebagai salah satu fenomena demokrasi di lembaga perwakilan rakyat adalah
adanya Hak Menyatakan Pendapat. Hak ini dalam prosenya ternyata tidak mudah
karena adanya ketentuan dalam Undang-Undang No. 27 Tahun 2009 tentang MPR,
DPR, DPD dan DPRD, yaitu dalam Pasal 184 Ayat (4) yang menyatakan bahwa HPM
harus disetujui oleh dari jumlah anggota DPR.

Atas hasil uji materil pada

pasal/ayat ini oleh Mahkamah Konstitusi dengan Putusan No. 23-26/PUU-VIII/2011


tanggal 12 Januari 2011, pasal/ayat tersebut dinyatakan bertentangan dengan UUD
1945 dan karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Dengan
demikian kembali pada demokrasi sederhana melalui rumus + 1 tersebut di atas.
Khusus untuk proses HPM di DPR kembali pada aturan yaitu diusulkan oleh 2/3 dari
jumlah anggota. Sementara untuk proses pemakzulan (impeachment) Presiden di
MPR harus disetujui oleh 2/3 dari paling sedikit anggota MPR yang hadir.

E. DEMOKRATISASI
Demokratisasi adalah penerapan kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip demokrasi pada
setiap kegiatan politik kenegaraan. Demokratisasi merujuk pada proses perubahan
menuju pada sistem pemerintahan yang lebih demokratis, tujuannya adalah terbentuknya kehidupan politik yang bercirikan demokrasi.
Demokratisasi berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu :
1. Pergantian dari penguasa nondemokrasi ke penguasa demokrasi.
2. Pembentukan lembaga-lembaga dan tertib politik demokrasi.
3. Konsolidasi demokrasi.
4. Prektek demokrasi sebagai budaya politik bernegara.
Sementara itu menurut S.P. Huntington, proses demokratisasi melalui tiga
tahapan, yaitu :
1. Pengakhiran rezim nondemokrasi.
178

2. Pengukuhan rezin demokratis.


3. Pengkonsolidasian sistem yang demokratis.
Demokratisasi juga berarti proses penegakkan nilai-nilai (kultur) demokrasi,
sehingga sistem politik demokratis dapat terbentuk secara bertahap. Lain daripada
itu harus ada lembaga (struktur) demokrasi, dan ciri demokrasi.
1. Nilai-nilai (Kultur) Demokrasi :
Henry B. Mayo dalam Miriam Budiardjo (1990) menyebutkan delapan nilai demokrasi, yaitu :
a. Menyelesaikan pertikaian-pertikaian secara damai dan sukarela;
b. Menjamin terjadinya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang
selalu berubah;
c. Pergantian penguasa dengan teratur;
d. Penggunaan paksaan sesedikit mungkin;
e. Pengakuan dan penghormatan terhadap keanekaragaman;
f. Menegakkan keadilan;
g. Memajukan ilmu pengetahuan;
h. Pengakuan dan penghormatan terhadap kebebasan.
Sementara itu nilai-nilai atau kultur demokrasi menurut Zamroni (2001)
adalah :
a. Toleransi;
b. Kebebasan mengemukakan pendapat;
c. Menghormati perbedaan pendapat;
d. Memahami keanekaragaman dalam masyarakat;
e. Terbuka dan komunikasi;
f. Menjunjung nilai dan martabat kemanusiaan;
g. Percaya diri;
h. Tidak bergantung pada orang lain;
i. Saling menghargai;
j. Mampu mengekang diri;
k. Kebersamaan;
179

l. Keseimbangan.
Hal yang paling utama dalam menentukan berlakunya sistem demokrasi di
suatu negara, ialah ada atau tidaknya asas-asas demokrasi pada sistem dimaksud, yaitu :
c. Pengakuan hak-hak asasi manusia sebagai penghargaan terhadap martabat
manusia dengan tidak melupakan kepentinganumum;
d. Adanya partisipasi dan dukungan rakyat kepada pemerintah. Jika dukungan ini
tidak ada, sulit dikatakan bahwa pemerintah itu adalah suatu pemerintahan
demokrasi. (Syahrial Syarbaini, 2012:236).
Nilai-nilai yang terkandung dalam demokrasi tersebut di atas, menjadi
sikap dan budaya demokrasi yang perlu dimiliki warga negara dalam rangka
mengembangkan pemerintahan yang demokratis. Karenanya demokrasi perlu
ditanamkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Lembaga (Struktur) Demokrasi.
Lembaga-lembaga demokrasi diperlukan untuk melaksanakan nilai-nilai demokrasi dan menopang sistem politik demokrasi.

Menurut Miriam Budiardjo

(1997), lembaga-lembaga demokrasi dimaksud adalah :


a. Pemerintahan yang bertanggung jawab;
b. Suatu dewan perwakilan rakyat yang mewakili golongan dan kepentingan
dalam masyarakat yang dipilih melalui Pemilu yang bebas dan rahasia. De
wan ini melakukan pengawasan terhadap pemerintah;
c. Suatu organisasi politik yang mencakup lebih dari satu partai politik (sistem
dwi atau multi partai). Partai menyelenggarakan hubungan yang kontinyu
dengan masyarakat;
d. Pers dan media massa yang bebas untuk menyatakan pendapat;
e. Sistem peradilan yang bebas untuk menjamin hak asasi manusia dan mempertahankan keadilan;
Dengan demikian, untuk keberhasilan demokrasi dalam suatu negara
terdapat dua hal penting :

180

a. Tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai demokrasi yang menjadi sikap dan


pola hidup masyarakat dan penyelenggara dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara (kultur);
b. Terbentuk dan berjalannya lembaga-lembaga demokrasi dalam sistem politik
dan pemerintahan (struktur).
3. Ciri Demokrasi :
Menurut Maswadi Rauf (1997), ciri-ciri demokrasi adalah :
a. Berlangsung secara evolusioner, artinya perlahan, bertahap, bagian demi
bagian;
b. Proses perubahan secara persuasif dan bukan koersif, artinya dilakukan bukan
dengan paksaan, tekanan atau kekerasan, tetapi dengan musyawarah yang
melibatkan seluruh warga negara;
c. Proses yang tidak pernah selesai, artinya akan berlangsung terus-menerus.
Hal ini karena yang benar-benar demokrasi tidak akan pernah ada, tetapi
sedapat mungkin harus mendekatkan pada kriteria demokrasi.

F. DEMOKRASI DI INDONESIA
1. Demokrasi Desa.
Sejak dulu desa-desa di Indonesia sudah menjalankan demokrasi, misalnya
dengan pemilihan kepala desa dan adanya rembug desa. Inilah yang disebut
demokrasi asli. Demokrasi desa mempunyai lima unsur, yaitu :
a. Rapat;
b. Mufakat;
c. Gotong-royong;
d. Hak mengadakan protes bersama;
e. Hak menyingkir dari kekuasaan raja absolut.
Demokrasi desa tidak dapat dijadikan pola demokrasi untuk Indonesia
modern, akan tetapi dapat dikembangkan menjadi konsep demokrasi Indonesia
yang modern. Menurut Hohamad Hatta, demokrasi Indonesia modern harus
181

meliputi tiga hal, yaitu :


a. Demokrasi di bidang politik;
b. Demokrasi di bidang ekonomi,
c. Demokrasi di bidang sosial.
2. Demokrasi Liberal.
Sistem demokrasi liberal di Indonesia dimulai tatkala Indonesia berubah dari
NKRI menjadi negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan Konstitusi RIS
tanggal 27 Desember 1949, kemudian dilanjutkan setelah kembali menjadi NKRI
dengan berlakunya UUDS tanggal 17 Agustus 1950. Dalam demokrasi liberal ini
pemerintahannya menganut sistem parlementer, di mana kepala pemerintahan
adalah Perdana Menteri (PM) yang diangkat oleh parlemen (DPR).
Sistem pemerintahan parlementer yang diikuti oleh sistem multi partai ini
dalam kenyataanya menimbulkan instabilitas pemerintahan, sehingga rata-rata
umur kabinet hanya lima belas bulan. Hal ini terjadi karena jika parlemen
menyampaikan mosi tidak percaya kepada pemerintah, maka PM dan kabinetnya jatuh. Pada saat itu sampai tujuh kali pergantian kabinet :
a. Kabinet Natsir (6-9-1950 s/d 27-4-1951);
b. Kabinet Sukirman (27-4-1951 s/d 3-4-1952);
c. Kabinet Wilopo (3-4-1952 s/d 31-7-1953);
d. Kabinet Ali Sastroamijoyo (1-8-1953 s/d 12-8-1955);
e. Kabinet Burhanuddin Harahap (12-8- 1955 s/d 24-3-1956);
f. Kabinet Ali Sastroamijoyo II (24-3-1956 s/d 9-4-1957);
g. Kabinet Juanda (9-4-1957 s/d 10-7-1959).
Tentu saja hal tersebut di atas adalah keadaan yang tidak menguntungkan
bagi perkembangan negara dan bangsa.

Hal ini digambarkan oleh Herbert

Feith dalam Machfud MD (2003:50) : Ternyata mobilisasi tenaga-tenaga


rakyat ini kemudian menimbulkan sejumlah masalah bagi pemerintah di masa
post-revolusi. Pada awal dan pertengahan tahun 1950-an kabinet-kabinet
berjatuhan. Seringkali sebelum mereka sempat berbuat banyak dalam
implementasi program-programnya, karena tiap kabinet merupakan koalisi
banyak partai dan karena tindakan-tindakan khusus yang mereka jalankan ti182

tidak populer bagi salah satu seksi dari publik politik.


Dalam pada itu, pertentangan antara kelompok pendukung Pancasila
dengan pendukung Islam dalam persoalan dasar negara di dalam Konstituante
(lembaga pembentuk UUD hasil Pemilu 1955) terus meruncing bahkan konfrontasi sampai ke luar gedung Konstituante dengan dibentuknya Front
Pancasila oleh PNI dan Front/Blok Islam di kalangan para politisi Islam. Front
Pancasila bertujuan membasmi usaha-usaha yang akan melenyapkan Pancasila
dan politik bebas aktif dalam rangka menyelamatkan Indonesia dengan menghimpun golongan-golongan dan perorangan, buruh, tani, wanita, pemuda,
pelajar, politisi, cendekiawan, seniman, dan agamawan.

Front Pancasila

kemudian didukung oleh PKI. Sementara NU (Nahdlatul Ulama) salah satu


unsur Islam mengusulkan agar Islam dikawinkan dengan Pancasila, karena Front
Pancasila saja untuk menyelamatkan negara tidak akan sempurna karena
kurang mencakup atau menghimpun seluruh keinginan golongan di Indonesia.
Benar pada saat pelaksanaan demokrasi parlementer ini sejarah Indonesia menunjukkan sistem politik yang sangat demokratis, tetapi ternyata
menyebabkan kehancuran politik dan perekonomian nasional. Konflik yang
berkepanjangan tidak memberi kesempatan bagi pemerintah memikirkan
masalah-masalah sosial ekonomi, serta menyusun dan melaksanakan programprogram pembangunan.
3. Demokrasi Terpimpin :
Dalam suasana yang mengancam keutuhan negara dan bangsa akibat terjadinya
pertentangan-pertentangan pada masa demokrasi liberal, muncul gagasan
demokrasi terpimpin yang dilontarkan oleh Ir. Sukarno pada Pebruari 1957.
Menurut Adam Malik dalam Mochtar Lubis (1986:39) yang dikutip Mahfud MD
(2003:52), sebenarnya gagasan itu semula dicetuskan oleh Partai Murba serta
Chairul Saleh dan Ahmadi. Konsepsi demokrasi terpimpin hendak membawa
PKI masuk ke dalam kebinet dan menyebut-nyebut pembentukan lembaga
negara baru ekstra konstitusional, yaitu Dewan Nasional dengan tugas memberi nasihat kepada kabinet.
183

Gagasan tentang demokrasi terpimpin ini memancing pendapat pro-kontra.


Partai Masyumi, Partai Katholik dan daerah-daerah bergolak menolaknya
dengan tegas, sementara PSI, NU, PSII, IPKI, dan Parkindo menolaknya dengan
hati-hati, namun PKI memberikan dukungan penuh. Dari celah-celah pro-kontra
itu akhirnya Presiden Sukarno berhasil membentuk Kabinet Juanda setelah
kabinet Ali Satroamijoyo jatuh. Pada masa Kabinet Juanda inilah dibentuk Dewan Nasional berdasarkan kekuasaan SOB (keadaan darurat dan bahaya perang) yang telah diumumkan sebelumnya oleh Presiden Sukarno.

Dewan

Nasional yang ekstra konstitusional ini menurut Sukarno berkedudukan lebih


tinggi dari kabinet karena mencerminkan seluruh bangsa, sedangkan kabinet
hanya mencerminkan parlemen.
Latar belakang konsep demokrasi terpimpin ditemukan dalam pidato
kenegaraan Presiden Sukarno dalam HUT Kemerdakaan RI tahun 1957 dan 1958
(Machfud MD, 2003:55) yang intinya :
a. Ada rasa ketidakpuasan terhadap hasil-hasil yang dicapai sejak tahun 1945
karena belum mendekati cita-cita dan tujuan proklamasi 17 Agustus 1945
seperti masalah kemakmuran dan pemerataan keadilan yang tidak terbina,
belum utuhnya wilayah RI karena masih ada yang dijajah Belanda (Irian
Barat), instabilitas nasional yang ditandai jatuh-bangunnya kabinet, serta
pemberontakan di daerah-daerah;
b. Kegagalan itu disebabkan menipisnya rasa nasionalisme, pemilihan demokrasi liberal yang tanpa pemimpin dan tanpa disiplin yang tidak cocok
dengan kepribadian Indonesia, serta sistem multi partai yang ternyata
digunakan sebagai alat perebutan kekuasaan dan bukan sebagai pengabdi
rakyat;
c. Koreksi untuk segera kembali pada cita-cita dan tujuan semula harus
dilakukan dengan cara meninjau kembali sistem politik. Harus diciptakan
suatu sistem demokrasi yang menuntun untuk mengabdi kepada negara
dan bangsa yang beranggotakan orang-orang jujur;
d. Cara yang harus ditempuh untuk melaksanakan koresi itu adalah :
1) Mengganti sistem free fight liberalism dengan demokrasi terpimpin yang
184

lebih sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia;


2) Dewan Perancang Nasional akan membuat blue print masyarakat adil dan
makmur;
3) Hendaknya Konstituante tidak menjadi tempat berdebat yang berlarutlarut dan segera menyelesaikan pekerjaannya agar blue print yang dibuat
Depernas dapat didasarkan konstitusi baru yang dibuat Konstituante;
4) Hendaknya Konstituante meninjau dan memutuskan masalah demokrasi
terpimpin dan masalah kepartaian;
5) Perlu penyederhanaan sistem kepartaian dengan mencabut Maklumat
Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 dengan multi partai, dan menggantinya dengan undang-undang kepartaian dan undang-undang pemilu.
Dalam pidato kenegaraan Presiden Sukarno tanggal 17 Agustus 1959
yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita demokrasi terpimpin itu
ditegaskan lagi :
1) Tiap orang diwajibkan untuk berbakti kepada kepentingan umum, masyarakat, dan negara;
2) Tiap orang mendapat penghidupan layak dalam masyarakat, bangsa, dan
negara.
Banyak penolakan terhadap demokrasi terpimpin itu, karena selain
sebagai siasat Presiden Sukarno yang tidak dikatakan, juga pengertian terpimpin itu sendiri bertentangan dengan istilah demokrasi. Syarat mutlak
dari demokrasi adalah kebebasan, sedangkan terpimpin setidak-tidaknya
mengurangi kebebasan, sama dengan diktator, atau setidak-tidaknya
menuju ke arah diktator. Akhirnya memang terbukti karena dalam prakteknya Presiden Sukarno melaksanakannya jauh dari teorinya.

Demokrasi

hilang dan tinggal terpimpinnya. Presiden Sukarno leluasa melaksanakan


keinginannya lebih-lebih setelah Drs. Mohamad Hatta mengundurkan diri
sebagai Wakil Presiden. Di puncak kekuasaannya ia memperlihatkan tingkah
laku yang sewenang-wenang.
Anjuran dan konsepsi Presiden Sukarno tersebut di atas ternyata
kurang mendapat perhatian dari kekuatan-kekuatan politik termasuk yang
185

ada di Konstituante, sehingga konflik semakin meruncing, yang mengakibatkan Konstituante gagal melaksanakan tugasnya membentuk UUD baru.
Itulah sebabnya Presiden Sukarno menyatakan ketatalaksanaan Indonesia
dalam keadaan membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa serta keselamatan negara. Maka dengan landasan Hukum Tata Negara Darurat atau
Negara dalam Keadaan Bahaya (noodstaats-recht), pada tanggal 5 Juli
1959 Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya :
a. Pembubaran Konstituante;
b. Penetapan berlakunya kembali UUD tahun 1945;
c. Dalam waktu sesingkat-singkatnya akan dibentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara
(DPAS).
Pengertian dekrit itu sendiri adalah suatu putusan dari kepala negara
(hak prerogatif) yang merupakan penjelmaan kehendak sepihak. Landasan
hukum darurat dibedaakan atas dua macam, yaitu :
a. Hukum Tata Negara Darurat Subyektif, yaitu suatu putusan yang memberi wewenang kepada kepala negara untuk apabila dipandang perlu
mengambil tindakan-tindakan hukum demi penyelamatan negara yang
dalam keadaan bahaya walaupun melanggar UUD dan HAM. Contohnya
Dekrit Presiden 5 Juli 1959;
b. Hukum Tata Negara Darurat Obyektif, yaitu suatu putusan yang memberi
wewenang kepada kepala negara untuk mengambil tindakan-tindakan
hukum demi penyelamatan negara namun tetap berlandaskan pada UUD
atau konstitusi yang berlaku. Contohnya Supersemar (Surat Perintah 11
Maret) dari Presiden Sukarno kepada Jenderal Suharto pasca peristiwa G30-S/PKI;
Namun untuk dimaklumi, saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur)
pada tahun 2001 mengeluarkan dekrit pembekuan/pembubaran DPR dan
MPR tidaklah tepat, karena negara tidak dalam keadaan bahaya/darurat
(hanya perseteruan antara presiden dengan DPR/MPR). Atas tindakan itu
justru presiden dianggap melanggar haluan negara dan mengakibatkan
186

presiden (setelah dikeluarkan memorandum I dan II), dilengserkan alias


dimakzulkan (impeachment) oleh MPR di bawah pimpinan Dr. Amin Rais
pada sidang istimewa, dan kedudukannya digantikan oleh Wakil Presiden
Megawati Sukarnoputri.
Setelah Indonesia kembali ke UUD tahun 1945, berdasarkan dekrit
presiden 5 Juli 1959, maka konsep demokrasi terpimpin itu dilaksanakan.
Maksudnya ingin menuju masyarakat adil dan makmur yang penuh dengan
kebahagiaan material dan spiritual sesuai dengan cita-cita proklamasi
kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sisi positifnya, pada saat itu dapat meredakan ketegangan atas konflik yang terjadi, persatuan dan kesatuan terbina
kembali, dan negara Indonesia terselamatkan dari kehancuran. Namun
dalam perkembangannya kemudian ternyata banyak menyimpang dan
menyeleweng dari Pancasila dan UUD 1945. Bentuk penyimpangan dan
penyelewengan dimaksud dapat dikemukakan antara lain :
c. Dengan Penpres No. 4 Tahun 1960, DPR hasil Pemilu 1955 dibubarkan,
kemudian dibentuk DPR-GR (Gotong Royong) yang anggota-anggotanya
diangkat dan diberhentikan oleh Presiden;
d. Pembentukan MPRS dan DPAS yang anggota-anggotanya juga diangkat
dan diberhentikan oleh Presiden. Lembaga-lembaga ini dipimpin oleh
Presiden sendiri;
e. Kendati menurut UUD 1945 sistem pemerintahan negara adalah presidensial, namun sebagai kepala pemerintahan presiden malah mengaku
sebagai Perdana Menteri (parlementer) dan mengangkat Wakil Perdana
Menteri (Waperdam), yaitu Waperdam I Dr. Subandrio, Waperdam II
Chairul Saleh, dan Waperdam III Dr. J. Leimena;
f. Pengangkatan Presiden seumur hidup dengan Tap MPRS No. II dan
III/MPRS/1963;
g. Melalui Tap MPRS No. I/MPRS/1963, Manifesto Politik Presiden dijadikan
GBHN;
h. Hak budget tidak berjalan karena Presiden tidak mengajukan RUU-APBN
untuk mendapatkan persetujuan DPR. Saat RUU-APBN diajukan pun ka187

rena DPR tidak menyetujui, maka DPR dibubarkan oleh Presiden;


i. Menteri-menteri anggota kabinet diperbolehkan menjabat sebagai Ketua
MPRS, DPR-GR, DPA, dan MA;
j. Atas rancangan PKI, ideologi Pancasila diganti dengan Manipol-USDEK
(Manifesto Politik - Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme ala Indonesia,
Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia).

4. Demokrasi Pancasila :
Berdasarkan Pancasila dan UUD tahun 1945, semestinya demokrasi di Indonesia
adalah demokrasi sebagaimana sila keempat Pancasila, yaitu kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Akan
tetapi ternyata semenjak negara Republik Indonesia berdiri tahun 1945, telah
dianut dan dilaksanakan demokrasi liberal (pada waktu pelaksanaan Konstitusi
RIS dan UUDS), demokrasi terpimpin (setelah kembali ke UUD 1945 tanggal 5
Juli 1959 s/d jatuhnya Orde Lama tahun 1967), dan demokrasi Pancasila pada
waktu pemerintahan Orde Baru (tahun 1967-1998).
Menurut Pj. Presiden Suharto pada pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus
1967, bahwa demokrasi Pancasila berarti demokrasi, kedaulatan rakyat, yang
dijiwai dan diintegrasikan dengan sila-sila Pancasila. Hal ini berarti bahwa dalam
menggunakan hak-hak demokrasi haruslah selalu disertai dengan rasa tanggung
jawab kepada Tuhan YME menurut keyakinan agama masing-masing, haruslah
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan martabat dan harkat
manusia, haruslah menjamin dan mempersatukan bangsa, dan harus dimanfaatkan untuk mewujudkan keadilan sosial. (Moh. Mahfud MD, 2003:43).
Sebelumnya, pada bulan Agustus 1966 seminar II Angkatan Darat mengeluarkan Garis-Garis Besar Kebijaksanaan dan Rencana Pelaksanaan Stabilitas
Politik yang dalam bidang politik dan konstitusional merumuskan demokrasi
Pancasila sebagai berikut :
Demokrasi Pancasila seperti yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
1945, yang berarti menegakkan kembali asas-asas negara hukum di mana
kepastian hukum dirasakan oleh segenap warga negara, di mana hak-hak asasi
188

manusia baik dalam aspek kolektif maupun dalam aspek perseorangan dijamin,
dan di mana penyalahgunaan kekuasaan dapat dihindarkan secara institusional.
Dalam rangka ini perlu diusahakan supaya lembaga-lembaga dan tata kerja Orde
Baru dilepaskan dari ikatan-ikatan pribadi dan lebih diperlembagakan. (Moh.
Mahfud MD, 2003. ibid).
Sesuai dengan UUD 1945, memang seharusnya yang dianut dan dilaksanakan adalah demokrasi Pancasila. Nilai-nilai yang terjabar dari nilai-nilai Pancasila
sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 sekaligus sebagai landasan
hukum demokrasi Pancasila, adalah :
a. Kedaulatan rakyat. Perhatikan bunyi kalimat pada elinea keempat, ...yang
terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat ...
b. Republik. Perhatikan kalimat tersebut di atas pada kata Republik Indonesia;
c. Negara berdasar atas hukum. Perhatikan kalimat pada alinea keempat selanjutnya, ... Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Perhatikan pula Penjelasan UUD 1945 dalam sistem pemerintahan negara, I.
Indonesia ialah negara yang berdasar atas Hukum (Rechtsstaat); 1. Negara
Indonesia berdasar atas Hukum (rechtsstaat) tidak berdasar atas kekuasaan
belaka (machtsstaat).
d. Pemerintahan yang konstitusional. Perhatikan kalimat, ... maka disusunlah
Kemerdekaan Kebangsaan itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia ... UUD 1945 adalah konstitusi negara!
e. Sistem perwakilan. Perhatikan kalimat, ... dan kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan ... yang adalah
juga sila keempat Pancasila.
f. Prinsip musyawarah. Perhatikan kalimat yang sama tersebut di atas. Juga sila
keempat Pancasila;
g. Prinsip Ketuhanan. Perhatikan kalimat, ...... dalam suatu susunan Negara Re189

publik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, ... yang tidak lain adalah sila pertama Pancasila.
h. Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan
Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui Pemilihan Umum.
Demokrasi Pancasila dapat juga diartikan secara luas maupun sempit :
a. Dalam arti luas, berarti kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilai-nilai
Pancasila dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara
(epoleksosbudhankamag);
b. Dalam arti sempit, berarti kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (sila keempat Pan
Pancasila).
Dalam demokrasi Pancasila dikenal dua cara dalam pengambilan keputusan, yaitu dengan musyawarah untuk mufakat, dan pemungutan suara
(voting). Mufakat artinya semua peserta sepakat/setuju atau disebut juga
aklamasi (Sunda : Saur manuk), dan ini yang diutamakan. Akan tetapi jika
kesepakatan tidak tercapai, oleh karena misalnya, adanya perbedaan pendapat
yang sangat sulit dipertemukan, keterbatasan waktu dalam proses musyawarah,
dan sesuai dengan tata tertib musyawarah, maka pengambilan keputusan
dilakukan melalui voting. Ada tiga macam voting, yaitu :
a. Suara terbanyak relatif (single mayority), artinya, keputusan didasarkan pada
pendapat yang memperoleh dukungan terbanyak;
b. Suara terbanyak mutlak (absolut mayority), artinya, keputusan yang diambil
adalah yang memperoleh dukungan lima puluh persen lebih atau separuh ditambah satu (50+1) dari jumlah suara;
c. Suara terbanyak bersyarat, artinya, keputusan yang diambil berdasarkan perolehan suara yang dipersyaratkan dalam ketentuan/peraturan.
Sisi positif pada saat pelaksanaan demokrasi Pancasila era pemerintahan
Orba, keadaan memang lebih baik jika dibandingkan dengan demokrasi terpimpinnya Orla, antara lain :
a. Stabilitas dan kondisi ekonomi dan politik lebih baik;
b. Sumber daya manusia lebih baik;
190

c. Sistem ekonomi dan politik terbuka, namun western oriented.


d. Keamanan dan ketertiban terkendali;
e. Kemauan politik pemerintah (political will) untuk membangun kuat.
Dalam perjalanannya ternyata Orba yang bertekad melaksanakan Pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, juga menyimpang dari perjuangannya semua, antara lain :
a. Butir-butir P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) atau Ekaprasetia Pancakarsa, secara halus mendidik ketaatan individu kepada kekuasaan, sementara itu tidak ada satu butir pun yang mencantumkan kewajiban
negara kepada rakyatnya;
b. Pengamalan Pancasila dengan membentuk citra pembangunan sebagai ideologi, sehingga ada rekayasa mendukung Presiden Suharto sebagai Bapak
Pembangunan melalui kebulatan-kebulatan tekad;
c. Pimpinan MPR dan DPR dirangkap, padahal kedudukannya berbeda, yang satu
adalah lembaga tertinggi negara dan yang lainnya lembaga tinggi negara;
d. Fungsi check and balances tidak jalan, dan parlemen (DPR) hanya sebagai
stempel karet (yes man) bagi penguasa;
e. Pemerintahan mengacu kepada karakter individu sang pemimpin, sehingga
terjadi kultus individu;
f. Institusi pengawasan/kontrol DPR lemah;
g. Lembaga kepresidenan adalah the ruler yang mengatur dan mengendalikan
segalanya;
h. Korporatisme diartikan sebagai sistem kenegaraan, sehingga pemerintah dan
swasta (dunia usaha) saling berhubungan secara tertutup, yang ciri-cirinya :
1) Kekuasaan menjadi lahan subur bagi redistributive combine di antara
segelintir orang;
2) Kepentingan ekonomi dan politik menyatu dalam format ekonomi;
3) Sumber-sumber ekonomi hanya dinikmati segelitir pelaku ekonomi yang
dekat dengan kekuasaan;
4) Perburuan rente sangat subur dalam situasi ekonomi politik tertutup;
5) Nilai-nilai agama dan budaya tidak dijadikan etika kehidupan berbangsa
191

dan bernegara;
6) Pancasila sebagai ideologi negara ditafsirkan sepihak oleh penguasa yang
ingin mempertahankan kekuasaannya;
7) Terjadi konflik sosial budaya dan diperburuk oleh penguasa yang menghidupkan kembali feodalisme dan faternalisme;
8) Hukum menjadi alat kekuasaan yang dalam pelaksanaannya diselewengkan;
9) Perilaku ekonomi berlangsung dengan praktek KKN dan berpihak kepada
kelompok pengusaha besar (lihat kasus BLBI = Bantuan Likuiditas Bank
Indonesia);
10) Sistem politik otoriter;
11) Pemerintah mengabaikan proses demokrasi, misalnya terdapat anggota
DPR/MPR termasuk DPRD yang diangkat, tidak melalui proses pemilu;
12) Pemerintahan sentralistik yang menimbulkan kesenjangan antara Pusat
dengan Daerah sehingga menimbulkan sparatisme;
13) Penggunaan tangan besi, contohnya pemberlakuan DOM (Daerah Operasi
Militer) untuk menyelesaikan konflik di daerah-daerah sehingga banyak
melanggar HAM;
14) Penyalahgunaan kekuasaan karena lemahnya pengawasan;
15) Peran Dwi Fungsi ABRI sehingga ABRI dijadikan alat kekuasaan yang
mengakibatkan tidak berkembangnya demokrasi;
16) Tidak dibenarkan adanya oposisi di parlemen, dan pemberlakuan asas
tunggal Pancasila untuk seluruh partai politik dan organisasi kemasyarakatan;
17) Pemberangusan (pembreidelan) media (tulis, elektronik, dll.) jika memberitakan atau menyuarakan opini yang berbeda dengan kebijakan
pemerintah;
18) Peralihan kekuasaan akhirnya berdarah-darah.
Pada masa Orde Reformasi sekarang ini kendati pemerintah tidak menyatakan secara tegas pemberlakuan demokrasi Pancasila, akan tetapi karena secara
yuridis formal terikat oleh dasar falsafah negara dan pandangan hidup bangsa
192

yaitu Pancasila sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, maka


demokrasi yang dilaksanakan haruslah demokrasi berdasarkan Pancasila. Namun
tentu saja yang pelaksanaanya benar, tidak lagi ada politisasi.

G. PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA


Perkembangan demokrasi di Indonesia mengalami pasang surut. Lahirnya konsep
demokrasi dapat ditelusuri mulai pada sidang BPUPKI (1945) yang pada umumnya
para founding father menghendaki bahwa negara Indonesia merdeka haruslah
negara demokrasi. Perbedaan yang terjadi adalah mengenai hak-hak demokrasi
warga negara. Pandangan pertama yang diwakili Mr. R. Supomo dan Ir. Sukarno,
menentang dimasukkannya hak-hak tersebut dalam konstitusi, sementara pandangan kedua yang diwakili Drs. Mohamad Hatta dan Mr. Muhammad Yamin,
memandang perlu pencantuman hak-hak warga negara dalam undang-undang
dasar.
Periodisasi pelaksanaan demokrasi Indonesia menurut Miriam Budiardjo
(1997) adalah :
1. Masa Republik I, disebut Demokrasi Parlementer;
2. Masa Republik II, disebut Demokrasi Terpimpin;
3. Masa Republik III, disebut Demokrasi Pancasila, yang menonjolkan sistem
presidensial.
Sementara itu menurut Afan Gaffar (1999), periodisasi dimaksud adalah :
1. Periode masa Revolusi Kemerdekaan;
2. Periode masa Demokrasi Perlementer (Representative Democracy);
3. Periode masa Demokrasi Terpimpin (Guided Democracy);
4. Periode masa Pemerintahan Orde Baru (Pancasila Democracy).
Perkembangan sampai saat sekarang dapat juga dibagi ke dalam periodisasi
sebagai berikut (Dwi Winarno, 2006) :
1. Pelaksanaan demokrasi masa Revolusi (1945-1950);
2. Pelaksanaan demokrasi masa Orde Lama :
a. Demokrasi Liberal (1950-1959);
193

b. Demokrasi Terpimpin (1959-1965).


3. Pelaksanaan demokrasi masa Orde Baru (1966-1998);
4. Pelaksaan demokrasi masa Transisi (1998-1999);
5. Pelaksaan demokrasi masa Reformasi (1999-sekarang).
Catatan :
Pada masa transisi dan reformasi banyak terjadi perbedaan pendapat dan pertentangan yang kerap menimbulkan konflik dan kerusuhan, antara lain di Aceh,
Papua, Timor Timur, Ambon (Maluku), Poso (Sulawesi), Kalimantan Tengah, dll.
(Tim-tim malah setelah dilakukan referendum pada masa pemerintahan Presiden
B.J. Habibie akhirnya lepas dari NKRI). Sekarang ini rakyat memiliki kesempatan
yang luas dan bebas untuk melaksanakan demokrasi di berbagai bidang. Harapan
banyak orang akan pelaksanaan demokrasi di Indonesia di era reformasi ini sangat
menggembirakan namun kadang berlebihan, sehingga sering disebut euforia
demokrasi. Pada masa ini pun banyak terjadi pertentangan terutama menyangkut
reaksi masyarakat atas kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan atau tidak
berpihak kepada rakyat yang notabene wong cilik.

H. MEKANISME SISTEM POLITIK DEMOKRASI DI INDONESIA


Pokok-pokok dalam sistem demokrasi politik Indonesia dapat dikemukakan sebagai
berikut :
2. Merupakan bentuk negara kesatuan dengan prinsip otonomi luas kepada daerah;
3. Bentuk pemerintahan republik dengan sistem presidensial;
4. Presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Presiden dan
wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat untuk masa jabatan lima
tahun. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR maupun DPR;
5. Kabinet (dewan menteri) sebagai pembantu presiden diangkat dan diberhentikan oleh presiden dan bertanggung jawab kepada presiden;
6. Parlemen terdiri dari dua kamar, yaitu DPR dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah)
yang tergabung dalam MPR. DPR terdiri atas para wakil rakyat yang dipilih dalam
Pemilu melalui jalur Parpol, yang berpedoman pada asas :
194

a. Mandiri;
b. Jujur;
c. Adil;
d. Kepastian hukum;
e. Tertib penyelenggara Pemilu;
f. Kepentingan umum;
g. Keterbukaan;
h. Proporsionalitas;
i. Profesionalitas;
j. Akuntabilitas;
k. Efisiensi;
l. Efektivitas.
DPR mempunyai kekuasaan legislasi, anggaran, dan pengawasan jalannya
pemerintahan. Terdapat juga DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota. Sedangkan
DPD dipilih secara perseorangan melalui Pemilu bersamaan dengan pemilihan
anggota DPR/DPRD (tidak melalui Parpol, tetapi independen) dan merupakan
wakil dari provinsi (tiap provinsi empat orang);
7. Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota DPR, DPD, serta DPRD Provinsi
dan DPRD Kabupaten/Kota, serta Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres);
8. Sistem multi partai. (Pada masa Orla banyak partai, masa Orba dari 10 diciutkan
menjadi 3, masa reformasi tahun 1999 ada 48 partai, tahun 2004 ada 24 partai,
tahun 2009 ada 38 partai ditambah partai lokal di Aceh 6 partai, jadi 44 partai,
dan tahun 2014 dari banyak partai yang berhasil lolos sebagai peserta pemilu ada
12 partai nasional, dan 3 partai lokal di Aceh).
9. Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Mahkamah Agung (MA) dan badan-badan
peradilan yang ada di bawahnya (PN, PT, PTUN, PA, PM, termasuk Pengadilan
HAM dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi), serta ada Mahkamah Konstitusi
(MK), dan Komisi Yudisial (KY);
10. Lembaga negara lainnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

195

I. WUJUD DEMOKRASI DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA


Wujud demokrasi dalam penyelenggaraan negara adalah proses lima tahunan,
yaitu saat pergantian kepemimpinan nasional yang dimulai dengan kegiatan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih calon anggota DPR, DPD, DRRD Provinsi dan
DPRD Kabupaten/Kota, serta pemilihan presiden dan wakil presiden.
Pemilu dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan asas langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber dan Jurdil). Pengertian luber dan jurdil
adalah :
1. Luber (Langsung, umum, bebas, rahasia) :
a. Langsung
b. Umum

oleh yang bersangkutan, tidak diwakili oleh orang lain;


diikuti oleh seluruh WNI yang telah memenuhi syarat untuk me-

milih dan dipilih berdasarkan peraturan perundang-undangan;


c. Bebas

bebas memilih dan menentukan pilihan tanpa ada paksanaan dari

pihak mana pun;


d. Rahasia

Pemilih dijamin pilihannya tidak akan diketahui oleh pihak mana

pun dan dengan cara apa pun.


2. Jurdil (Jujur dan adil) :
a. Jujur

semua pihak tidak boleh melakukan kecurangan atau penyele-

wengan;
b. Adil

pemilih dan peserta pemilu harus mendapat perlakuan yang sama.


Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/

Kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka, sedangkan untuk


memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak.
Penyelenggara Pemilu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pengawasan
penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Pemilu di Daerah diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah
(KPUD) yaitu di provinsi dan kabupaten/kota dan pengawasannya oleh Badan
Pengawas Pemilu/Pantia Pengawas Pemilu (Bawaslu/Panwaslu). Di tingkat
kecamatan diselenggarakan oleh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), di Desa/
Kelurahan oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang teknis operasionalnya
dilaksanakan oleh Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di
196

masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS), dan keseluruhannya diawasi


oleh Panwaslu.
Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota adalah Parpol. Persyaratan Parpol untuk menjadi peserta Pemilu
adalah :
a. Berstatus badan hukum sesuai dengan UU tentang Parpol (Untuk Pemilu 2009
adalah UU No. 2 Tahun 2008, karena ternyata tiap lima tahun UU Parpol, UU
Susduk DPR, DPD, DPRD, dan UU Pemilu selalu diganti, padahal dalam UU
sebelumnya ada ketentuan Electoral dan Parliamentary Treshold);
b. Memiliki kepengurusan di 2/3 (dua pertiga) jumlah provinsi;
c. Memiliki kepengurusan di 2/3 jumlah kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan;
d. Menyertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan
perempuan pada kepengurusan Parpol tingkat pusat;
e. Memiliki anggota sekurang-kurangnya 1.000 (seribu) orang atau 1/1.000 (satu
perseribu) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan Parpol sebagaimana dimaksud pada huruf b dan c yang dibuktikan dengan kepemilikan kartu
tanda anggota;
f. Mempunyai kantor tetap untuk kepengurusan sebagaimana pada huruf b
dan c;
g. Mengajukan nama dan tanda gambar Parpol kepada KPU.
Sesuai dengan Pasal 22E Ayat (2) UUD 1945, pemilu itu diselenggarakan
untuk memilih anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden, serta DPRD
(Provinsi dan Kabupaten/Kota). Jika mencermati ketentuan ini, maka pemilu itu
seharusnya dilakukan serentak (sekaligus).

Akan tetapi dalam prakteknya

dilakukan terpisah menjadi dua bagian, yaitu pemilu legislatif (untuk memilih
anggota DPR, DPD, dan DPRD (Provinsi dan Kabupaten/Kota), dan tiga bulan
kemudian pemilu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Dalam pemilu
legislatif ada ketentuan ambang batas perolehan suara (parliamentary threshold)
untuk menetapkan jatah kursi yang diperoleh parpol dari keseluruhan jumlah
anggota DPR. Misalnya dalam pemilu tahun 2009 pt-nya 2,5 % dan dalam pemilu
197

2014 pt-nya 3,5 %. Artinya, parpol peserta pemilu harus memperoleh suara
minimal 2,5 % (2009) atau 3,5 % (2014), untuk dapat mendudukkan calon
legislatif (caleg) nya menjadi anggota DPR, dan jika kurang dari itu, tidak bisa.
Lain daripada itu parpol yang dapat mengajukan calon Presiden (Capres) dan
calon Wakil Presiden (Cawapres) dalam pemilu Presiden dan Wakil Presiden
(Pilpres) harus parpol peserta pemilu yang telah mendapat jatah keanggotaan
DPR.

Syaratnya, yang dapat mengusung sendiri pasangan Capres/Cawapres

dalam Pilpres adalah parpol yang memperoleh minimal 20 % jumlah kursi dari
keseluruhan jumlah kursi DPR yang 560 orang (= 112 orang) atau 25 % dari
jumlah suara sah secara nasional.

Jika kurang dari itu, maka pengusungan

Capres/Cawapres harus oleh gabungan parpol yang duduk di DPR melalui


kerjasama atau koalisi sehingga mencapai 20 % atau lebih.
Hal inilah yang menjadi permasalahan, sehingga kemudian ada pihak yang
mengajukan uji materil UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan
Wakil Presiden terhadap UUD 1945. Maka berdasarkan putusan MK No. 14/
PUU-IX/2013 tanggal 26 Maret 2013 yang dibacakan pada tanggal 23 Januari
2014 atas uji materil UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan
Wakil Presiden terhadap UUD 1945 yang diajukan atas nama masyarakat sipil
(Effendi Ghazali, Ph.D. dkk.), hasilnya :
a. MK mengabulkan permohonan Pemohon untuk sebagian :
1) Pasal 3 ayat (5), Pasal 12 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 14 ayat (2), dan Pasal
112 UU No. 42 Tahun 2008 (LN 2008 No. 176; TLN No. 4924) bertentangan
dengan UUD 1945;
2) Pasal 3 ayat (5), Pasal 12 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 14 ayat (2), dan Pasal
112 UU No. 42 Tahun 2008 (LN 2008 No. 176; TLN No. 4924) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
b. Amar putusan dalam huruf a di atas berlaku untuk penyelenggaraan pemilu
tahun 2019 dan pemilihan umum seterusnya.
c. Menolak permohonan Pemohon untuk selain dan selebihnya.
d. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara RI.
Kesimpulan dari putusan MK tersebut di atas adalah bahwa Pemilu 2019 di198

diselenggarakan serentak (untuk Pileg dan Pilpres atau lima kotak), yaitu untuk :
a. DPR;
b. DPD;
c. Presiden dan Wakil Presiden;
d. DPRD Provinsi;
d. DPRD Kabupaten/Kota).
Dengan demikian pada Pemilu tahun 2019 tetap ada PT (Parliamentary
Threshold) tetapi mungkin tidak akan ada Presidential Threshold. Adapun untuk
Pemilu 2014, dengan alasan waktu yang sudah sangat dekat dan terjadwal, tetap
diselenggarakan terpisah berdasarkan UU No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum, UU No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum
Anggota DPR, DPD, dan DPRD, serta UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan
Presiden dan Wakil Presiden, kendati dalam putusan MK tersebut di atas ada
Pasal-pasal yang dibatalkan karena dianggap tidak sesuai atau bertentangan
dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Hal
inilah yang kemudian menjadi perdebatan sengit di kalangan pakar hukum tata
negara, yaitu apakah pemilu dan pilpres 2014 sah atau tidak, mengingat :
a. Berdasarkan putusan MK tersebut di atas, terdapat Pasal-pasal dalam UU No.
42 Tahun 2008 yang bertentangan dengan UUD 1945 dan karenanya tidak
mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Artinya, pemilu legislatif dan
pilpres harus diselenggaran serentak, tidak terpisah;
b. Akan tetapi putusan MK tersebut baru bisa dilaksanakan pada pemilu dan
pilpres tahun 2019. Artinya, pemilu dan pilpres tahun 2014 masih menggunakan peraturan perundang-undangan yang di antara pasal-pasalnya ada
yang telah dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai
kekuatan hukum mengikat.
Oleh banyak pakar hukum tata negara di antaranya Prof. Dr. Yusril Ihza
Mahendra, SH dan Dr. Reffli Harun, SH, pakar hukum pidana Prof. Dr. J. Sahetapy,
dan mantan Hakim Agung Bunyamin Mangkudilaga, SH, (Diskusi Indonesia
Lawyer Club TVOne, 29 Januari 2014) menganggap putusan MK itu kontroversial,
mengingat :
199

a. Biasanya putusan itu berlaku seketika setelah putusan dibacakan dan diundangkan dalam Berita Negara, tetapi terhadap putusan No. 14/PUU-IX/2013
ini berlakunya untuk pemilu dan pilpres tahun 2019 dan seterusnya;
b. Putusan MK itu ternyata sudah ditetapkan pada tanggal 26 Maret 2013, tetapi
baru dibacakan pada tanggal 23 Januari 2014 (memakan waktu lk. 10 bulan).
Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, ternyata kemudian penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilu presiden/wakil presiden tahun 2014 tetap
berjalan dan hasilnya dianggap sah, sehingga anggota DPR, DPD, MPR, dilantik
pada tanggal 1 Oktober 2014 dan pasangan calon presiden dan wakil presiden
pemenangnya (Jokowi-JK) dilantik oleh MPR pada tanggal 20 Oktober 2014.
Pemilu di Indonesia untuk memilih anggota DPR dan DPRD (provinsi dan
kabupaten/kota) dicalonkan oleh Parpol dan dilaksanakan dengan sistem
proporsional dengan daftar calon terbuka (proporsional terbuka), agar rakyat
mengetahui benar kredibilitas, kapabilitas, serta integritas moral calon yang akan
dipilih. Mulai Pemilu tahun 2009 calon terpilih tidak didasarkan pada nomor urut
(proporsional tertutup), tetapi perolehan suara terbanyak.
Penentuan jumlah kursi dan daerah pemilihan berdasarkan Bab V Pasal 21
s/d 31 UU No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
adalah sebagai berikut.
a. Jumlah Kursi dan Daerah Pemilihan Anggota DPR (Pusat) :
1) Jumlah kursi anggota DPR ditetapkan 560 orang;
2) Daerah pemilihan anggota DPR adalah provinsi, kabupaten/kota, atau
gabungan kabupaten/kota;
3) Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPR paling sedikit 3 kursi
dan paling banyak 10 kursi;
4) Dalam hal penentuan daerah pemilihan pada butir 2) tidak dapat diberlakukan, penentuan daerah pemilihan menggunakan bagian kabupaten/kota;
5) Penentuan daerah pemilihan anggota DPR dilakukan dengan mengubah
ketentuasn daerah pemilihan pada pemilu terakhir berdasarkan ketentuan
pada butir 3);
200

6) Daerah pemilihan tersebut pada butir b tercantum dalam lampiran yang


tidak terpisahkan dari UU No. 8/2012.
b. Jumlah Kursi dan Daerah Pemilihan Anggota DPRD Provinsi :
1) Jumlah kursi DPRD Provinsi ditetapkan paling sedikit 35 dan paling banyak
100 orang;
2) Jumlah kursi dimaksud didasarkan pada jumlah penduduk provinsi
bersangkutan yang ketentuannya :
a) Jumlah penduduk s/d 1 juta orang memperoleh alokasi 35 kursi;
b) Jumlah penduduk

lebih dari 1 juta s/d 3 juta memperoleh alokasi 45

kursi;
c) Jumlah penduduk lebih dari 3 juta s/d 5 juta memperoleh 55 kursi;
d) Jumlah penduduk lebih dari 5 juta s/d 7 juta memperoleh alokasi 65
kursi;
e) Jumlah penduduk lebih dari 7 juta s/d 9 juta memperoleh alokasi 75
kursi;
f) Jumlah penduduk lebih dari 9 juta s/d 11 juta memperoleh alokasi 85
kursi;
g) Jumlah penduduk lebih dari 11 juta memperoleh alokasi 100 kursi.
3) Daerah pemilihan anggota DPRD Provinsi adalah kabupaten/kota atau
gabungan kabupaten/kota;
4) Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPRD Provinsi paling sedikit 3 dan paling banyak 12 kursi;
5) Dalam hal penentuan daerah pemilihan pada butir 3) tidak dapat
diberlakukan,

penentuan

daerah

pemilihan

menggunakan

bagian

kabupaten/kota;
6) Ketentuan lebih lanjut tentang daerah pemilihan dan alokasi kursi
ditetapkan oleh Peraturan KPU.
c. Jumlah Kursi dan Daerah Pemilihan Anggota DPRD Kabupaten/Kota :
1) Jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota ditetapkan paling sedikit 20 dan paling
banyak 50 orang;
2) Jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota pada butir 1) tersebut didasarkan pada
201

jumlah penduduk kabupaten/kota bersangkutan, yang ketentuannya :


a) Jumlah penduduk s/d 100 ribu orang memperoleh alokasi 20 kursi;
b) Jumlah penduduk lebih dari 100 ribu s/d 200 ribu memperoleh alokasi
25 kursi;
c) Jumlah penduduk lebih dari 200 ribu s/d 300 ribu memperoleh alokasi
30 kursi;
d) Jumlah penduduk lebih dari 300 s/d 400 ribu memperoleh alokasi 35
kursi;
e) Jumlah penduduk lebih dari 400 ribu s/d 500 ribu memperoleh alokasi
40 kursi;
f) Jumlah penduduk lebih dari 500 s/d 1 juta memperoleh alokasi 45 kursi;
g) Jumlah penduduk lebih dari 1 juta memperoleh alokasi 50 kursi.
3) Daerah pemilihan anggota DPRD Kabupaten/Kota adalah kecamatan, atau
gabungan kecamatan;
4) Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPRD Kabupaten/Kota paling
sedikit 3 dan paling banyak 12 kursi;
5) Dalam hal penentuan dalam butir 3) tidak dapat diberlakukan, penen-tuan
daerah pemilihan menggunakan bagian kecamatan atau nama lain;
6) Ketentuan lebih lanjut tentang daerah pemilihan dan alokasi kursi ang-gota
DPRD Kabupaten/Kota ditetapkan dalam Peraturan KPU;
7) Dalam hal terjadi bencana yang mengakibatkan hilangnya daerah pemilihan, daerah pemilihan tersebut dihapuskan;
8) Alokasi kursi akibat hilangnya daerah pemilihan tersebut pada butir 7)
dihitung kembali sesuai dengan jumlah penduduk;
9) Jumlah kursi anggota DPRD Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah pemilu
ditetapkan berdasarkan ketentuan dalam UU No. 8/2012;
10) Alokasi kursi pada daerah peilihan anggota DPRD Kabupaten/Kota
dimaksud pada butir 9) ditentukan paling sedikit 3 dan paling banyak 12
kursi;
d. Jumlah Kursi DPD untuk Tiap Provinsi :
1) Ditetapkan 4 (empat) orang yang dipilih dari calon-calon perseorangan;
202

2) Daerah pemilihannya adalah provinsi.


Persyaratan bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, adalah sebagai berikut :
1) Telah berusia 21 tahun atau lebih;
2) Bertakwa kepada Tuhan YME;
3) Bertempat tinggal di wilayah NKRI;
4) Cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia;
5) Berpendidikan paling rendah tamat SMA/MA/SMK/MAK atau pendidikan
lain yang sederajat;
6) Setia kepada Pancasila, UUD 1945, dan cita-cita proklamasi 17 Agustus
1945;
7) Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang
telah mempunyai kekuatan hokum tetap karena melakukan tindak pidana
yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih;
8) Sehat jasmani dan rohani;
9) Terdaftar sebagai pemilih;
10) Bersedia bekerja penuh waktu;
11) Mengundurkan diri sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, PNS, anggota TNI, anggota POLRI, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada BUMN dan/atau BUMD atau badan lain yang anggarannya
bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali;
12) Bersedia untuk tidak berpraktek sebagai akuntan publik, advokat/
pengacara, notaris, PPAT, atau tidak melakukan pekerjaan penyedia barang
dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan lain
yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas, wewenang,
dan hak sebagai anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
13) Bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya,
direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada BUMN dan/atau
BUMD serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan
203

negara;
14) Menjadi anggota Parpol peserta Pemilu;
15) Dicalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan;
16) Dicalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan.
Kesemuanya itu harus disertai bukti kelengkapan administratif seperti KTP,
Ijazah/STTB, surat pernyataan di atas kertas bermeterai mengenai tidak pernah
dipidana dengan ancaman hukuman lima tahun atau lebih, atau surat keterangan
dari LP (Lembaga Pemasyarakatan) bagi yang pernah dijatuhi pidana, surat
keterangan sehat jasmani rohani, surat tanda bukti telah terdaftar sebagai
pemilih, surat pernyataan tentang kesediaan untuk bekerja penuh waktu, surat
pernyataan kesediaan untuk tidak berpraktik sebagai akuntan publik,
advokat/pengacara, notaris, PPAT, dan/atau melakukan pekerjaan penyedia
barang dan jasa yang berhubungan dengan keungan negara, dll., yang ditanda
tangani di atas kertas bermeterai cukup. Kemudian surat pengunduran diri yang
tidak dapat ditarik kembali sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, PNS,
anggota TNI, anggota POLRI, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan
pada BUMN dan/atau BUMD serta pengurus badan lain yang anggarannya
bersumber dari keuangan negara, kartu tanda anggota Parpol peserta pemilu,
surat keterangan kesediaan hanya dicalonkan oleh 1 (satu) parpol untuk 1 (satu)
lembaga perwakilan yang ditanda tangani di atas kerja bermeterai cukup, serta
surat keterangan pernyataan tentang kesediaan hanya dicalon-kan pada 1 (satu)
daerah pemilihan, yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai cukup.
Jika peserta pemilu untuk anggota DPR dan DPRD pencalonannya diajukan
oleh Partai Politik, maka untuk anggota DPD adalah perseorangan. Persyaratan
dukungan minimal dari penduduk provinsi adalah sebagai berikut :
a. Provinsi yang berpenduduk s/d 1 juta orang, harus mendapat dukungan dari
paling sedikit 1 ribu pemilih;
b. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 1 juta s/d 5 juta orang, harus
mendapat dukungan dari paling sedikit 2 ribu pemilih;
c. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 5 juta s/d 10 juta orang, harus mendapat dukungan dari paling sedikit 3 ribu pemilih;
204

d. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 10 juta s/d 15 juta orang, harus mendapat dukungan dari paling sedikit 4 ribu pemilih;
e. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 15 juta orang, harus mendapat
dukungan dari paling sedikit 5 ribu pemilih;
f. Dukungan tersebut di atas tersebar di paling sedikit 50% dari jumlah
kabupaten/kota provinsi bersangkutan;
g. Dukungan dimaksud dibuktikan dengan daftar dukungan yang dibubuhi tanda
tangan atau cap jempol jari tangan dan dilengkapi fotokopi KTP tiap
pendukung;
h. Seorang pendukung tidak boleh memberi dukungan kepada lebih dari seorang
calon anggota DPD serta melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan
seseorang, dengan memaksa dengan menjanjikan atau dengan memberian
uang atau materi lainnya untuk memperoleh dukungan bagi pencalonan
anggota DPD dalam pemilu.

Jika terjadi hal tersebut di atas, maka

pencalonnya batal/tidak sah;


i. Jadwal waktu pendaftaran peserta pemilu anggota DPD ditetapkan oleh
KPU.
Yang berhak memilih dalam Pemilu adalah WNI yang pada hari H (hari
pemungutan suara) telah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih, atau
belum 17 tetapi sudah/pernah kawin. WNI dimaksud harus terdaftar sebagai
pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Suara minimal DPD (2009 2014) adalah sebagai berikut :
a. Jumlah anggota 132 orang (4 orang tiap provinsi);
b. Suara per calon :
1) 5.000 suara di Sumut, Jabar, Jateng, Jatim;
2) 3.000 suara di Aceh, Sumbar, Riau, Sumsel, Lampung, DKI, Banten, NTB,
NTT, Kalbar, Sulsel;
3) 2.000 suara di Jambi, Bengkulu, Babel, Kep. Riau, DIY, Bali, Kalteng, Kalsel,
Kaltim, Sultenggara, Sulteng, Sulut, Gorontalo, Sulbar, Maluku, Malut,
Papua, Papua Barat.
Sementara itu, prosedur pemilihan presiden secara langsung adalah seba205

gai berikut :
a. Pasangan Presiden/Wakil Presiden

diusulkan oleh Parpol atau gabungan

Parpol peserta Pemilu. Ketentuannya apabila Parpol dimaksud mendapatkan


20% kursi di DPR atau sebesar 25% suara sah secara nasional. Kalau tidak,
berarti harus gabung berapa Parpol (berkoalisi);
b. Pasangan yang mendapat suara 50% dan sedikitnya 20% di setiap provinsi
yang tersebar di lebih setengah provinsi seluruh Indonesia. Hal ini sempat
menjadi masalah karena awalnya tidak diprediksi pada Pemilupres tahun
21014 Capres/Cawapres hanya dua pasangan, sehingga untuk Jawa dan luar
Jawa harus berbeda perhitungannya.
c. Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka dua pasang calon suara terbanyak dipilih kembali secara langsung oleh rakyat (berarti putaran kedua),
dan yang mendapat suara terbanyak dilantik oleh MPR menjadi pasangan
Presiden/Wakil Presiden.
Jika terjadi kekosongan Presiden, misalnya karena mangkat, berhenti,
diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden. Dalam hal terjadi kekosongan Wakil
Presiden, maka selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh
Presiden. Jika Presiden dan Wakil Presiden kosong kedua-duanya, maka pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Luar
Negeri, (Menlu) dan Penteri Pertahanan (Menhan) secara bersama. Kemudian
selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah itu MPR menyelenggarakan
sidang untuk memilih Presiden dan Wakil residen dari dua pasangan Capres/
Cawapres yang diusulkan Parpol/Gabungan Parpol yang pasangan Capres/
Cawapresnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam Pilpres
sebelumnya.
Impeachment atau pemakzulan (pemberhentian di tengah jalan/dalam
masa jabatan) Presiden bisa terjadi, jika :
a. Ia melanggar hukum (berkhianat kepada bangsa dan negara, melanggar UUD,
KKN, berbuat kriminal, dll.);
206

b. Diusulkan oleh DPR melalui hak menyatakan pendapat dan terlebih dulu
diajukan kepada MK untuk proses pengadilan Presiden;
c. Putusan (vonis) MK disampaikan kepada DPR dan oleh DPR diusulkan kepa-da
MPR;
d. Pemberhentian diambil dalam sidang paripurna istimewa MPR yang

dihadiri

dan disetujui 2/3 dari anggota yang hadir.


Catatan :
a. Ketentuan tersebut di atas tercantum dalam Undang-Undang No. 27 Tahun
2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Sekarang diperbarui dengan UU No.
8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD.
b. Diusulkan oleh paling sedikit dari jumlah anggota DPR. Akan tetapi karena
Pasal 184 Ayat (4) UU tersebut di atas oleh MK dalam uji materil dengan
putusan No. 23-26/PUU-VIII/2011 tanggal 12 Januari 2011 dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, maka hak menyatakan pendapat (termasuk usul pemakzulan Presiden cukup atas usul 2/3 dari jumlah anggota DPR.
c. Putusan pemberhentian Presiden di MPR tetap, jika disetujui oleh 2/3 dari
paling sedikit jumlah anggota yang hadir.
Di bawah ini dikemukakan pengalaman penyelenggaraan pemilu di
Indonesia sebagai berikut :
a. Tahun 1955 : Tahap ke-1 tanggal 25 September, dan tahap ke-2 tanggal 15
Desember 1955.
Merupakan pemilu pertama sejak Indonesia merdeka, dilaksanakan pada
masa pemerintahan sistem parlementer untuk memilih anggota DPR dan
Badan Konstituante (pembentuk UUD). Terdapat 28 Parpol peserta pemilu,
yaitu :
1) Partai Nasional Indonesia (PNI);
2) Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi);
3) Nahdlatul Ulama (NU);
4) Partai Komunis Indonesia (PKI);
5) Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII);
207

6) Partai Kristen Indonesia (Parkindo);


7) Partai Katholik;
8) AKUI;
9) PPTI;
10) Partai Sosialis Indonesia (PSI);
11) Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI);
12) Partai Islam Perti;
13) PRN;
14) Partai Buruh;
15) PRI;
16) PPPRI;
17) PRD;
18) PRIM;
19) Partai Murba;
20) Baperki;
21) PIR Wongsonegoro;
22) Permai;
23) Garindra;
24) Persatuan Daya;
25) Partai Hazairin;
26) Acoma;
27) Partai R. Soedjono Prawiro Soedarmo;
28) GPPS.
b. Tahun 1971 : Tanggal 9 Juli 1971.
Merupakan pemilu pertama pada masa Orde Baru (Orba) dengan sistem
Presidensial untuk memilih anggota DPR, MPR, dan DPRD. Terdapat anggota
yang diangkat termasuk dari ABRI (tidak melalui proses pemilu). Terdapat 10
Partai peserta pemilu, yaitu :
1) Golongan Karya (Golkar), yang tidak mau disebut sebagai parpol, karena
dalam UU-nya pun disebut UU Parpol dan Golkar;
2) Partai Nasional Indonesia (PNI);
208

3) Nahdlatul Ulama (NU);


4) Partai Katholik;
5) Partai Murba;
6) Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII);
7) Ikatan Pendukung Kemertdekaan Indonesia (IPKI);
8) Partai Kristen Indonesia (Parkindo);
9) Partai Muslimin Indonesia (Parmusi);
10) Partai Islam Perti.
c. Tahun 1977 : Tanggal 2 Mei 1977 :
Pemilu kedua kali pada masa Orba yang berhasil menyederhanakan
jumlah partai dari 10 menjadi 3 karena harus berasas tunggal Pancasila kecuali
perbedaan ciri, misalnya Islam, dan nasionalis/kebangsaan.

Masih ada

anggota DPR, MPR, dan DPRD yang diangkat, misalnya dari ABRI diberi jatah
10 anggota untuk DPRD Kabupaten/Kota, 25 anggota untuk DPRD Provinsi,
dan 100 anggota untuk DPR. Partai peserta pemilu yang tiga itu adalah :
1) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan penyatuan atau
fusi partai-partai Islam, yaitu Parmusi, Perti, PSII, dan PNU, yang ber-cirikan
Islam;
2) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan penyatuan partai-partai
nasional dan agama non Islam, bercirikan kebangsaan;
3) Golongan Karya (Golkar) bercirikan kekaryaan, dan tetap tidak mau disebut
partai.
d. Tahun 1982 : Tanggal 2 Mei 1982 :
Pemilu ketiga kali pada masa Orba diikuti oleh tiga partai seperti pada
Pemilu tahun 1977.
e. Tahun 1987 : Tanggal 23 April 1987 :
Pemilu keempat kali pada masa Orba sama dengan Pemilu tahun 1977.
f. Tahun 1992 : Tanggal 9 Jun i 1992 :
Pemilu kelima kali pada masa Orba sama dengan Pemilu tahun 1987 dan
1977.
g. Tahun 1997 : Tanggal 9 Juni 1997 :
209

Pemilu keenam kali pada masa Orba sama dengan Pemilu tahun 1992,
1987, dan 1977.
Sementara itu pemilu pada masa Orde Reformasi dapat dikemukakan
sebagai berikut :
a. Tahun 1999 : Tanggal 7 Juni 1999.
Adalah pemilu pertama setelah kejatuhan Orba tahun 1998, dengan multi
partai karena keran demokrasi dibuka lebar oleh Presiden B.J. Habibi. Semua
anggota DPR dan MPR tidak ada lagi yang diangkat, semuanya melalui proses
pemilu. Dalam UU-nya pun disebut UU tentang Parpol. Partai peserta pemilu
ada 48, tetapi yang berhasil meraih kursi yang diperebutkan ada 21,
sedangkan 27 partai lainnya tidak berhasil meraih kursi dan suaranya hangus.
Adapun datanya sebagai berikut :
Pemilih terdaftar ....................................................................... : 117.815.053
Yang menggunakan hak pilih .................................................... : 109.495.047
Tidak menggunakan hak pilih ................................................... :

8.320.010

Suara sah ................................................................................... : 105.786.661


Suara tidak sah .......................................................................... :

3.708.386

Suara 21 partai yang meraih kursi ............................................ : 101.590.402


Suara 27 partai yang tidak meraih kursi .................................. :
No.

PARTAI POLITIK

4.196.259

SUARA (%)

KURSI

1.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

35.689.073 (33,74)

153

2.

Partai Golongan Karya

23.741.749 (22,44)

120

3.

Partai Kebangkitan Bangsa

13.336.982 (12,61)

51

4.

Partai Persatuan Pembangunan

11.329.905 (10,71)

58

5.

Partai Amanat Nasional

7.528.956 (7,12)

34

6.

Partai Bulan Bintang

2.049.708 (1,94)

13

7.

Partai Keadilan

1.436.565 (1,36)

8.

Partai Keadilan dan Persatuan

1.065.686 (1,01)

9.

Partai Persatuan

679.179 (0,64)

10.

Partai Nahdlatul Ummah

655.052 (0,62)

11.

Partai Demokrasi Kasih Bangsa

550.846 (0,52)

12.

Partai Politik Islam Indonesia Masyumi

456.718 (0,43)

13.

Partai Daulat Rakyat

427.854 (0,40)

210

14.

Partai Syarikat Islam Indonesia

375.920 (0,36)

15.

Partai Nasional Indonesia-Front Marhaenisme

365.176 (0,35)

16.

Partai Bhinneka Tunggal Ika

364.291 (0,34)

17.

Partai Demokrasi Indonesia

345.720 (0,33)

18.

Partai Nasional Indonesia-Massa Marhaen

345.629 (0,33)

19.

Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia

328.654 (0,31)

20.

Partai Kebangkitan Ummat

300.064 (0,28)

21.

Partai Katolik Demokrat

216.675 (0,20)

b. Tahun 2004 : Tanggal 5 April 2004.


Pemilu kedua pada masa Reformasi. Diikuti 24 parpol, tetapi hanya 16
yang berhasil meraih 550 kursi DPR yang diperebutkan, dan 8 lainnya tidak
mendapatkan kursi dan suaranya hangus. Adapun datanya sebagai berikut :
Pemilih terdaftar ....................................................................... : 148.000.369
Yang menggunakan hak pilih .................................................... : 124.420.339
Yang tidak menggunakan hak pilih ........................................... : 23.580.030
Suara sah ................................................................................... : 113.462.414
Suara tidak sah ........................................................................... : 10.957.925
Suara 16 parpol yang meraih kursi ........................................... : 106.774.108
Suara 8 parpol yang tidak meraih kursi .................................... :
No.

PARTAI POLITIK

6.688.306

SUARA (%)

KURSI

1.

Partai Golongan Karya

24.480.757 (21,58)

128

2.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

21.026.629 (18.53)

109

3.

Partai Kebangkitan Bangsa

11.989.564 (10,57)

52

4.

Partai Persatuan Pembangunan

9.248.764 (8,15)

58

5.

Partai Demokrat

8.455.225 (7,45)

55

6.

Partai Keadilan Sejahtera

8.325.020 (7,34)

45

7.

Partai Amanat Nasional

7.303.324 (6,44)

53

8.

Partai Bulan Bintang

2.970.487 (2,62)

11

9.

Partai Bintang Reformasi

2.764.998 (2,44)

14

10.

Partai Damai Sejahtera

2.414.254 (2,13)

13

11.

Partai Karya Peduli Bangsa

2.339.290 (2,11)

12.

Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia

1.424.240 (1,26)

13.

Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan

1.313.654 (1,16)

211

14.

Partai Nasional Indonesia Marhaenisme

923.159 (0,81)

15.

Partai Pelopor

878.932 (0,77)

16.

Partai Penegak Demokrasi Indonesia

855.811 (0,75)

c. Tahun 2009 : Tanggal 9 April 2009.


Pemilu ketiga pada masa reformasi diikuti oleh 44 parpol (38 parpol
nasional dan 6 parpol lokal di Aceh).

Dari 38 parpol nasional dengan

Parliamentary Threshold 2,5 % (ambang batas perolehan suara untuk kursi


parlemen), hanya 9 parpol yang berhasil meraih 560 kursi DPR yang
diperebutkan. Sebanyak 29 lainnya tidak mendapatkan kursi dan suaranya
hangus. Adapun datanya sebagai berikut :
Pemilih terdaftar ........................................................................ : 171.265.442
Yang menggunakan hak pilih ..................................................... : 121.588.366
Yang tidak menggunakan hak pilih ............................................ : 49.677.076
Suara sah .................................................................................... : 104.048.118
Suara tidak sah ............................................................................ : 17.540.248
Suara 9 parpol yang meraih kursi ............................................... : 85.000.631
Suara 29 parpol yang tidak meraih kursi .................................... : 19.047.487
No.

PARTAI POLITIK

SUARA (%)

KURSI

1.

Partai Demokrat

21.655.295 (20,81)

148

2.

Partai Golongan Karya

15.031.497 (14,45)

106

3.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

14.576.388 (14,01)

94

4.

Partai Keadilan Sejahtera

8.204.940 (7,89)

57

5.

Partai Amanat Nasional

6.273.462 (6,03)

46

6.

Partai Persatuan Pembangunan

5.544.332 (5,33)

38

7.

Partai Kebangkitan Bangsa

5.146.302 (4,95)

28

8.

Partai Gerakan Indonesia Raya

4.642.795 (4,46)

26

9.

Partai Hati Nurani Rakyat

3.925.620 (3,77)

17

d. Tahun 2014 : Tanggal 9 April 2014.


Pemilu legislatif tahun 2014, yaitu Pemilu keempat pada era reformasi,
berdasarkan hasil seleksi dan verifikasi KPU dari puluhan pendaftar, terdapat
12 Parpol nasional yang berhak maju sebagai peserta pemilu, yaitu :
212

1) Partai Nasional Demokrat (NASDEM);


2) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB);
3) Partai Keadilan Sejahtera (PKS);
4) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP);
5) Partai Golongan Karya (GOLKAR);
6) Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA);
7) Partai Demokrat (PD);
8) Partai Amanat Nasional (PAN);
9) Partai Persatuan Pembangunanh (PPP);
10) Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA);
11) Partai Bulan Bintang (PBB);
12) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).
Sementara khusus untuk Nangro Aceh Darussalam yang diberi otonomi
khusus terdapat tiga partai lokal yang juga bersama-sama partai nasional maju
dalam Pemilu legislatif 2014, yaitu :
1) Partai Aceh.
2) Partai Nasional Aceh.
3) Partai Damai Aceh.
Dari 12 parpol nasional, hanya 10 yang berhasil meraih 560 kursi DPR
yang diperebutkan, sedangkan 2 tidak mendapatkan kursi dan suaranya hangus. PT pada pemilu kali ini 3,5 %, adapun datanya sebagai berikut :
Pemilih terdaftar ....................................................................... : 185.826.024
Yang menggunakan hak pilih ..................................................... : 139.573.927
Yang tidak menggunakan hak pilih ............................................ : 46.252.097
Suara sah ................................................................................... : 124.972.491
Suara tidak sah ........................................................................... : 14.601.436
Suara 10 parpol yang meraih kursi ............................................. : 122.005.205
Suara 2 parpol yang tidak meraih kursi ...................................... :
No.

PARTAI POLITIK

2.967.286

SUARA (%)

KURSI

1.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

23.681.471 (18,95)

109

2.

Partai Golongan Karya

18.432.312 (14,75)

91

213

3.

Partai Gerakan Indonesia Raya

14.760.371 (11,81)

73

4.

Partai Demokrat

12.728.913 (10,19)

61

5.

Partai Kebangkitan Bangsa

11.298.957 (9,04)

47

6.

Partai Amanat Nasional

9.481.621 (7,59)

49

7.

Partai Keadilan Sejahtera

8.480.204 (6,79)

40

8.

Partai Nasional Demokrat

8.402.812 (6,72)

35

9.

Partai Persatuan Pembangunan

8.157.488 (6,53)

39

10.

Partai Hati Nurani Rakyat

6.579.498 (5,26)

16

11.

Partai Bulan Bintang

1.825.750 (1,46)

12.

Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia

1.143.094 (0,91)

Sumber : KPU, diolah Harun Husein (Republika, 19-05-2014, h. 27).

Walaupun PBB dan PKPI tidak memperoleh kursi di DPR, akan tetapi
untuk di DPRD (Provinsi dan Kabupaten/Kota), bisa jadi ada atau banyak.
Sementara itu tiga parpol lokal di Provinsi Aceh Darussalam, yaitu Partai Aceh,
Partai Nasional Aceh, dan Partai Damai Aceh datanya di sini tidak
dicantumkan. Para anggota DPR ini dilantik pada 1 Oktober 2014.
Dalam pada itu untuk pemilu Presiden dan Wakil Presiden secara
langsung dimulai pada tahun 2004. Sebelumnya, pemilihan dan pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden oleh MPR sebagai Lembaga Tertinggi
Negara yang merupakan penjelmaan kedaulatan rakyat. Adapun pengalaman
pemilupres tahun 2009 dan tahun 2014 dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Pemilupres Tahun 2009 : Tanggal 9 Juli 2009.
Diikuti oleh tiga pasangan Capres/Cawapres, yaitu :
1) Megawati Soekarnoputri/Prabowo Subianto;
2) Susilo Bambang Yudhoyono/Budiono;
3) Muhammad Jusuf Kalla/Wiranto.
Adapun datanya :
- Jumlah pemilih ...................................................................... : 176.411.434
- Tidak hadir memilih ............................................................... : 48.427.779
- Suara tidak sah ...................................................................... :

6.479.174

- Suara sah ............................................................................... : 121.504.484


Perolehan suaranya sebagai berikut :
214

- Megawati Soekarnoputri/Prabowo Subianto ............ 32.548.105 (26,79%);


- Susilo Bambang Yudhoyono/Budiono ....................... 73.874.562 (60,80%);
- Muhammad Jusuf Kalla/Wiranto ............................... 15.081.814 (12,41%).
Dengan demikian untuk masa jabatan 2009-2014 terpilih pasangan
Dr. Susilo Bambang Yudhoyono/Prof. Dr. Budiono sebagai Presiden/Wakil
Presiden Republik Indonesia, dan dilantik oleh MPR pada tanggal 20
Oktober 2009. Bagi SBY, ini adalah untuk kedua kali menjadi Presiden RI.
b. Pemilupres Tahun 2014 : Tanggal 9 Juli 2014.
Diikuti oleh hanya dua Pasangan Capres/Cawapres yang diusung oleh
koalisi Parpol (Catatan : Sesuai dengan hasil Pemilu Legislatif 2014,
berdasarkan PT 3,5 % tidak ada satu pun Parpol yang dapat mengusung
sendiri Capres/Cawapres karena tidak ada yang memperoleh 20 % kursi di
DPR atau 25 % raihan suara sah nasional). Pasangan Capres/Cawapres
dimaksud adalah :
- No. 1 : Prabowo Subianto/Ir. H. Muhammad Hatta Rajasa (PrabowoHatta) oleh GERINDRA, PPP, PAN, PKS, dan GOKAR (termasuk PBB).
Sementara PARTAI DEMOKRAT menyatakan netral namun tidak akan
GOLPUT, akan tetapi pada saat-saat terakhir kampanye mendukung
pasangan ini.
- No. 2 : Ir. Joko Widodo/Drs. Muhammad Jusuf Kalla (Jokowi-JK) oleh
PDIP, NASDEM, PKB, dan HANURA (termasuk PKPI);
Adapun datanya :
- Jumlah pemilih ...................................................................... : 190.307.134
- Suara sah ............................................................................... : 133.574.277
Berdasarkan hasil perhitungan suara resmi yang dilakukan dan
ditetapkan oleh KPU pada tanggal 22 Juli 2014, dari jumlah suara sah
nasional sebanyak 133.574.277 :
- Pasangan No. 1 Prabowo-Hatta mendapat 62.576.444 suara .... (46,85 %);
- Pasangan No. 2 Jokowi-JK mendapat 70.997.833 suara ............ (53,15 %).
Atas penetapan hasil perhitungan perolehan suara oleh KPU itu,
tidak diakui oleh pihak pasangan No. 1 dan mengajukan gugatan ke MK
215

dengan alasan terjadi kecurangan yang sistematis, terstruktur, dan masif


dalam penyelenggaraan pemilupres oleh KPU. Akan tetapi setelah melalui
persidangan maraton dan melelahkan dari tanggal 6 s/d 21 Agustus 2104,
akhirnya pada tanggal 21 Agustus 2104 MK memutuskan menolak seluruh
gugatan pihak pasangan No. 1, sehingga penetapan KPU mengenai hasil
perhitungan perolehan suara oleh KPU, sah. Putusan MK ini final dan
mengikat, dengan demikian resmilah pasangan No. 2, yaitu Ir. Joko
Widodo - Drs. Muhammad Jusuf Kalla calon Presiden/Wakil Presiden
terpilih untuk periode masa jabatan 2014 - 2109 dan dilantik menjadi
Presiden dan Wakil Presiden oleh MPR pada tanggal 20 Oktober 2104.

J. SYARAT-SYARAT BAGI TERSELENGGARANYA PEMERINTAHAN DEMOKRATIS


Menurut The International Commission of Jurist (organisasi ahli hukum internasional) tahun 1965,

syarat-syarat

dasar

untuk terselenggaranya pemerintahan

yang demokratis di bawah rule of law adalah :


1. Perlindungan konstitusional, artinya, selain menjamin hak-hak individu, juga
harus ada cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang
dijamin.
2. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak (independent and impartial
tribunals).
3. Pemilihan umum yang bebas.
4. Kebebasan untuk menyatakan pendapat.
5. Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi.
6. Pendidikan kewarganegaraan (civic education atau civics).
Untuk mengarah ke syarat-syarat tersebut di atas, menurut David Beetham
dan Kevin Boyle (2000) dalam Dwi Winarno (2006), diperlukan enam

kondisi

sebagai berikut :
1. Penguatan struktur ekonomi yang berbasis keadilan sehingga memungkinkan
terwujudnya prinsip kesederajatan.
2. Tersedianya kebutuhan-kebutuhan dasar bagi kepentingan ketahanan hidup
216

(survive) warga negara (sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan).


3. Kemapanan kesatuan dan identitas nasional, sehingga tahan terhadap pembelahan dan perbedaan sosial politik warga negara.
4. Pengetahuan yang luas, pendidikan, kedewasaan, sikap toleransi, dan rasa tanggung jawab kolektif warga negara khususnya masyarakat pemilih.
5. Rezim yang terbuka dan bertanggung jawab dalam menggunakan sumbersumber publik secara efisien.
6. Pengakuan yang berkelanjutan dari negara-negara demokratis terhadap praktek
demokrasi.
Sementara itu menurut Soerensen (2003), terdapat lima kondisi yang
dianggap dapat mendukung pembangunan demokrasi yang stabil, yaitu :
1. Para pemimpin tidak menggunakan instrumen kekerasan (polisi dan tentara)
untuk mempertahankan kekuasaan.
2. Terdapat organisasi masyarakat pluralis yang modern dan dinamis.
3. Potensi konflik dalam pluralisme subkultural dipertahankan pada level yang
masih dapat ditoleransi.
4. Di antara penduduk negeri khususnya lapisan politik aktif, terdapat budaya
politik dan sistem keyakinan yang mendukung ide dan lembaga demokrasi.
5. Dampak dari pengaruh dan kontrol oleh negara asing dapat mendukung
secara positif atau malah menghambat.

K. PENDIDIKAN DEMOKRASI
Dalam rangka terciptanya sistem politik demokrasi dalam pemerintahan dan sikap
hidup demokratis, maka diperlukan pendidikan demokrasi. Pendidikan demokrasi
dibagi atas tiga bagian (Syahrial Syarbaini, 2011:238), yaitu :
1. Pendidikan Demokrasi secara Formal, adalah pendidikan yang melewati tatap
muka, diskusi timbal balik, presentasi, studi kasus untuk memberikan gambaran
kepada peserta didik/siswa/mahasiswa agar mempunyai kemam-puan untuk
cinta negara dan bangsa. Pendidikan ini biasanya dilakukan di sekolah-sekolah,
PT, atau lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat)
lingkungan instansi pemerintah.
217

khususnya di

2. Pendidikan Demokrasi secara Informal, adalah pendidikan yang melewati tahap


pergaulan di lingkungan rumah atau masyarakat, sebagai bentuk aplikasi nilai
berdemokrasi dari hasil interaksi terhadap lingkungan sekitarnya, yang langsung
dapat dirasakan hasilnya.
3. Pendidikan Demokrasi secara Nonformal, adalah pendidikan yang melewati
tahap di lingkungan masyarakat yang lebih luas (makro) dalam berinteraksi,
sebab pendidikan di luar sekolah mempunyai variabel maupun parameter yang
signifikan terhadap pembentukan jiwa seseorang.
Adapun visi dan misi pendidikan demokrasi adalah :
1. Visi Pendidikan Demokrasi : Sebagai wahana substantif, paedagogik, dan sosiokultural untuk membangun cita-cita, nilai, konsep, prinsip, sikap dan
keterampilan demokrasi dalam diri warga negara melalui pengalaman hidup dan
kehidupan demokrasi dalam berbagai bidang.
2. Misi Pendidikan Demokrasi :
a. Memfasilitasi warga negara untuk mendapatkan berbagai akses kepada dan
menggunakan secara cerdas berbagai sumber informassi tentang demokrasi
dalam teori dan praktik untuk berbagai bidang kehidupan, sehingga memiliki
wawasan yang luas dan memadai;
b. Memfasilitasi warga negara untuk dapat melakukan kajian konseptual dan
operasional secara cermat dan bertanggung jawab terhadap cita-cita, instrumentasi praksis demokrasi, guna mendapatkan keyakinan dalam melakukan pengambilan keputusan individual dan/atau kelompok dalam kehidupan
sehari-hari serta berargumentasi atas keputusannya itu;
c. Memfasilitasi warga negara untuk memperoleh dan memanfaatkan kesempatan berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam praktik
kehidupan demokrasi di lingkungannya, seperti mengeluarkan saran pendapat, berkumpul, berserikat, memilih, dipilih, serta memonitor dan mempengaruhi kebijakan publik.

218

BAB X
WAWASAN NUSANTARA
(GEOPOLITIK INDONESIA)

A. PENGERTIAN WAWASAN NUSANTARA

1. Secara etimologis, wawasan nusantara berasal dari kata wawasan dan


nusantara.
Wawas (bhs. Jawa)

mawas = pandangan, tinjauan, penglihatan indrawi.

Wawasan = cara pandang, cara melihat.


Nusa = pulau atau kesatuan kepulauan.
Antara = letak antara dua unsur (benua dan samudra)

Asia dan Australia,

serta Hindia dan Fasifik).


Nusantara = Indonesia.
2. Secara terminologis, menurut Wan Usman (dalam Sumarsono et.al., 2000) :
Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan
tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan semua aspek kehidupan yang
beragam.
3. Menurut Kelompok Kerja Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional) 1999 :
Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai
diri dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan
mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam
menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk
mencapai tujuan nasional.
4. Menurut GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) 1998 : Wawasan Nusantara
adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan kesatuan
wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
Srijanti (2009:134), menyebut Wawasan Nusantara sama dengan pengertian
Geopolitik Indonesia, yaitu cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai
219

diri dan lingkungannya yang berwujud negara kepulauan berlandaskan Pancasila


dan UUD 1945.
Geopolitik, berasal dari kata geo dan politik. Geo = bumi, politik = esensinya
adalah kekuatan. Jadi, geopolitik berarti kekuatan yang didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan letak bumi sebagai wilayah hidup dalam menentukan
alternatif kebijakan untuk mewujudkan suatu tujuan. (Noor Ms Bakry (2009:273).
Geopolitik adalah politik yang tidak terlepas dari pengaruh letak dan kondisi
geografis bumi yang menjadi wilayah hidup. Adapun geopolitik Indonesia diartikan
sebagai kekuatan yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan letak bumi
nusantara yang terdiri atas berbagai pulau antara silang dunia (benua Asia Australia, dan samudera Pasifik - Hindia) sebagai wilayah hidup dalam menentukan
alternatif kebijakan nasional dalam mewujudkan tujuan nasional Indonesia.

B. LATAR BELAKANG KONSEPSI WAWASAN NUSANTARA


Latar belakang atau faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya konsepsi wawasan nusantara (wasantara) adalah : Aspek historis, aspek geografis dan sosialbudaya, serta aspek geopolitis dan kepentingan nasional.
1. Aspek Historis :
Bangsa Indonesia menginginkan menjadi bangsa yang bersatu dengan wilayah
yang utuh, karena :
a. Pernah mengalami kehidupan sebagai bangsa yang terjajah;
b. Pernah memiliki wilayah yang terpisah-pisah.
Wilayah Indonesia adalah wilayah bekas jajahan Belanda atau Hindia
Belanda yang berbentuk kepulauan yang terpisah oleh laut bebas. Berdasarkan
Ordonansi 1939 (Territoriale Zee en Maritime Kringen), batas teritorial adalah
tiga mil, dan di luar itu adalah perairan bebas. Berdasarkan Deklarasi Perdana
Menteri Djuanda tanggal 13 Desember 1957, yang dinyatakan sebagai peng-ganti
Ordonansi 1939, batas teritorial laut Indonesia berubah menjadi 12 mil, dengan
tujuan :
220

a. Perwujudan bentuk wilayah negara Indonesia yang utuh dan bulat;


b. Penentuan batas wilayah negara Indonesia disesuaikan dengan asas negara
kepulauan;
c. Pengaturan lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keselamatan dan
keamanan negara Indonesia.
Deklarasi Djuanda dikukuhkan dengan Undang-Undang No. 4/Prp Tahun
1960 tentang Perairan Indonesia, yang berisi :
a. Perairan Indonesia adalah laut wilayah Indonesia beserta perairan pedalaman
Indonesia;
b. Laut wilayah Indonesia adalah jalur laut 12 mil;
c. Perairan pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi
dalam garis dasar.
Deklarasi Juanda yang dikukuhkan dengan UU No. 4/Prp Tahun 1960
dimaksud melahirkan konsepsi wasantara, di mana laut tidak lagi sebagai
pemisah, akan tetapi sebagai penghubung wasantara yang dibangun dari
konsepsi kewiyahan. Dari perjuangan panjang pada forum dunia internasional,
akhirnya Konferensi PBB tanggal 30 April 1982 menerima The United Nation
Convention on The Law of The Sea (UNCLOS), sehingga negara Indonesia diakui
sebagai negara kepulauan (archipelago state).

Kemudian UNCLOS tersebut

diratifikasi dengan UU No. 17 Tahun 1985.


Tahun 1969 Indonesia mengeluarkan deklarasi tentang batas landas kontinental, yang intinya :
a. Kekayaan alam di landas kontinental adalah milik negara bersangkutan;
b. Batas landas kontinen yang terletak di antara dua negara adalah garis
tengahnya.
Deklarasi 1969 tersebut dikukuhkan dengan UU No. 1 Tahun 1973 tentang
Landas Kotinen Indonesia.

Kemudian tahun 1980 Indonesia mengeluarkan

pengumuman tentang Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang intinya :


a. Lebar ZEE Indonesia 200 mil diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia;
b. Hak berdaulat untuk menguasasi kekayaan sumber alam di ZEE;
221

c. Lautan di ZEE tetap merupakan lautan bebas untuk pelayaran internasional.


Setelah ZEE diterima oleh Konferensi Hukum Laut Internasional di Jamaika
tahun 1982, kemudian dikukuhkan dengan UU No. 5 Tahun 1983. Mengenai
wilayah negara ini sekarang diatur dalam UU No. 43 Tahun 2008 tentang Wilayah
Negara. Hal-hal yang kiranya perlu diketahui dalam ketentuan umum Bab I Pasal
1 UU No. 43 Tahun 2008 dimaksud adalah :
a. Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut
dengan wilayah negara, adalah salah satu unsur negara yang merupakan satu
kesatuan wilayah daratan, perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut
teritorial beserta dasar laut dan tanah di bawahnya, serta ruang udara di
atasnya, termasuk seluruh sumber kekayaan yang terkandung di dalamnya;
b. Wilayah perairan, adalah perairan pedalaman, perairan kepulauan, dan laut
teritorial;
c. Wilayah yuridiksi, adalah wilayah di luar wilayah negara yang terdiri atas ZEE,
landas kontinen, dan zona tambahan di mana negara memiliki hak-hak
berdaulat dan kewenangan tertentu lainnya sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan dan hukum internasional;
d. Batas wilayah negara, adalah garis batas yang merupakan pemisah kedaulatan suatu negara yang didasarkan atas hukum internasional;
e. Batas wilayah yuridiksi, adalah garis batas yang merupakan pemisah hak
berdaulat dan kewenangan tertentu yang dimiliki oleh negara yang didasarkan
atas ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional;
f. Kawasan perbatasan, adalah bagian dari wilayah negara yang terletak pada
sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain, dalam hal
batas wilayah negara di darat, kawasan perbatasan berada di kecamatan;
g. Zona tambahan Indonesia, adalah zona yang lebarnya tidak melebihi 24 (dua
puluh empat) mil laut yang diukur dari garis pangkal dari mana lebar laut
teritorial diukur;
h. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, adalah suatu area di luar dan berdampingan dengan laut teritorial Indonesia sebagaimana dimaksud dalam undang222

undang yang mengatur mengenai perairan Indonesia dengan batas terluar


200 (dua ratus) mil laut dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial
diukur;
i. Landas kontinen Indonesia, adalah meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya
dari area di bawah permukaan laut yang terletak di luar laut teritorial,
sepanjang kelanjutan alamiah wilayah wilayah daratan hingga pinggiran luar
tepi kontinen, atau hingga suatu jarak 200 (dua Ratus) mil laut dari garis
pangkal dari mana lebar laut teritorial diukur, dalam hal pinggiran luar tepi
kontinen tidak mencapai jarak tersebut, hingga paling jauh 350 (tiga ratus
lema puluh) mil laut sampai dengan jarak 100 (seratus) mil laut dari garis
kedalaman 2.500 (dua ribu lima ratus) meter;
j. Perjanjian Internasional, adalah perjanjian dalam bentuk dan nama tertentu
yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta
menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik;
k. Badan Pengelola, adalah badan yang diberi kewenangan oleh Undang-Undang
ini di bidang pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan.

2. Aspek Geografis dan Sosial-Budaya :


Dari aspek geografis dan sosial budaya, Indonesia adalah negara dengan wilayah
dan posisi yang unik serta bangsa yang heterogen.

Keunikan wilayah dan

heterogenitas bangsa tersebut antara lain :


a. Indonesia bercirikan negara kepulauan dengan jumlah lk. 17.508 pulau;
b. Luas wilayahnya 5.192 juta km2, (daratan 2.027 juta km2 + lautan 3.166 juta
km2). Atau 2/3 nya lautan/perairan;
c. Jarak utara-selatan 1.888 juta km, dan timur-barat 5.110 km;
d. Posisi silang karena terletak di antara dua benua (Asia-Australia) dan dua
samudra (Hindia dan Fasifik);
e. Terletak pada garis khatulistiwa, karenanya beriklim tropis dengan dua
musim;
f. Terletak pada pertemuan dua jalur pegunungan, yaitu mediterania dan sirkum
223

fasifik;
g. Berada pada derajat 6 lintang utara 11 lintang selatan, dan 95 141 bujur
timur;
h. Daerah yang subur dan habitable (dapat dihuni);
i. Kaya akan flora dan fauna serta sumber daya alam;
j. Memiliki etnik yang sangat banyak, sehingga kebudayaannya beragam;
k. Memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, sekarang ini lk. 235 juta jiwa.
Keunikan-keunikan tersebut di atas membuka dua peluang. Secara positif
dapat dijadikan modal memperkuat bangsa menuju cita-cita, tetapi secara
negatif mudah menimbulkan perpecahan serta infiltrasi pihak luar. Peluang ke
arah gerak sentripugal (memecah), perlu ditanggulangi, dan gerak ke arah
sentripetal (menyatu) perlu diupayakan dan dipelihara terus-menerus. Salah
satu konsepsinya, ya wasantara!
3. Aspek Geopolitis dan Kepentingan Nasional :
Istilah geopolitik pertama kali dikemukakan oleh Frederich Ratzel sebagai ilmu
bumi politik, yaitu bahwa politik suatu negara dipengaruhi oleh konstelasi
wilayah geografisnya.

Untuk mewujudkan tujuan nasional, kebijakan yang

ditempuh juga dengan mempertimbangkan aspek geografi.

Ajaran tentang

geopolitik ini dikemukakan juga oleh ahli lain walaupun dengan penekanan yang
berbeda.
Rudolf Kjellen (1864-1922) misalnya berpendapat bahwa negara adalah
suatu organisme yang dianggap sebagai prinsip dasar, yang esensinya bahwa
negara sebagai satuan biologis, suatu organisme hidup yang juga memiliki
intelektual. Untuk mencapai tujuan negara, hanya dimungkinkan dengan jalan
memperoleh ruang yang cukup luas agar memungkinkan pengembangan secara
bebas kemampuan dan kekuatan rakyatnya.
Karl Haushofer (1869-1946) merumuskan bahwa geopolitik adalah doktrin
negara yang menitikberatkan pada soal-soal strategi perbatasan, mengharuskan
pembagian baru dari kekayaan alam di dunia, dan geopolitik adalah landasan
ilmiah bagi tindakan politik dalam perjuangan kelangsungan hidup untuk men224

dapatkan ruang hidupnya.


Sir Halford Mackinder (1861-1947) menganut konsep kekuatan, dan mencetuskan wawasan benua, yaitu konsep kekuatan di darat. Ajarannya menyatakan, barang siapa dapat menguasai daerah jantung akan dapat menguasai pulau
dunia, dan barang siapa dapat menguasai pulau dunia akhirnya dapat
menguasasi dunia. Sementara Sir Walter Raleigh (1554-1618) dan Alfred Thyer
Mahan (1840-1914) mempunyai gagasan wawasan bahari, yaitu kekuatan di
lautan, sehingga ajarannya menyatakan barang siapa menguasai lautan akan
menguasasi perdagangan, dan menguasasi perdagangan berarti menguasasi
kekayaan dunia yang pada akhirnya menguasasi dunia. Dalam pada itu empat
ahli lainnya, W. Mitchel, A. Saversky, Giulio Dauhet (1869-1930) dan John F.C.
Fuller (1878-...) menyatakan yang paling menentukan adalah kekuatan di udara,
sehingga melahirkan wawasan dirgantara. Menurut mereka kekuatan di udara
mempunyai daya tangkis terhadap ancaman yang dapat diandalkan, dan dapat
melumpuhkan kekuatan lawan dengan penghancuran di kandang lawan itu
sendiri agar tidak mampu lagi bergerak menyerang.
pendapat tersebut ada yang bersifat

Kita cermati di antara

ekspansionisme (memperluas wilayah

dengan ekspansi).
Demikianlah, maka konsep geopolitik sebagai suatu wawasan yang berintikan
pada kekuatan, terdapat empat macam, yaitu wawasan benua, wawasan bahari,
wawasan dirgantara, dan wawasan kombinasi.
1. Wawasan Benua.
Mendasarkan pada konsep kekuatan di darat, yang dikemukakan oleh Mackinder
dan Haushofer. Menurut mereka, negara yang menguasai daerah Eropa Timur,
akan menguasai daerah jantung yang berarti menguasai pulau dunia (EurasiaAfrika), dan yang dapat menguasai pulau dunia akan menguasai dunia.
2. Wawasan Bahari.
Mendasarkan pada konsep kekuatan di lautan. Tokohnya adalah Raleigh dan
Mahan, yang menyatakan siapa yang menguasai lautan akan menguasai
225

perdagangan, dan siapa yang menguasai perdagangan berarti menguasai dunia.


Kekuatan di lautan sangat vital bagi pertumbuhan, kemakmuran, dan keamanan
nasional.
3. Wawasan Dirgantara.
Mendasarkan pada konsep kekuatan di udara. Tokohnya Douchet, Fuller,
Meitchell dan Savensky. Kekuatan di udara merupakan daya tangkis yang ampuh
terhadap segala ancaman, dan sekaligus dapat melumpuhkan kekuatan lawan
dengan penghancuran, sehingga tidak mampu lagi menyerang.
4. Wawasan Kombinasi.
Merupakan integrasi dari ketiga wawasan tersebut di atas (benua, bahari, dan
udara), dan mencakup pula daerah batas (rimland) dari Nocholas J. Spykman
(1893-1943).
Dengan demikian, wawasan nusantara sebagai geopolitik, menggambarkan
kesatuan wilayah laut dengan gugusan pulau-pulau di antara dua benua dan
samudra, atau yang terletak pada posisi silang.

Wawasan nusantara

dalam

wujudnya akan merupakan sebagai suatu gejala sosial yang bergerak dalam
menyelenggarakan dan menjamin kelangsungan hidup seluruh bangsa dan negara
Indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, dengan dasar
persatuan nusa Indonesia yang telah terkandung dalam ajaran Pancasila.
Di Indonesia, orang yang pertama kali mengaitkan geopolitik dengan bangsa
adalah Ir. Sukarno pada pidato di depan sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 :
....Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita? Menurut geopolitik,
maka Indonesialah tanah air kita. Indonesia yang bulat, bukan Jawa saja, bukan
Sumatra saja, atau Borneo saja atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku
saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah Swt. menjadi satu kesatuan
antara dua benua dan dua samudra, itulah Tanah Air Kita!
Kesatuan antara bangsa Indonesia dengan wilayah tanah air kita itulah yang
membentuk semangat dan wawasan kebangsaan, yaitu sebagai bangsa yang
bersatu. Rasa kebangsaan Indonesia dibentuk oleh adanya kesatuan nasib, jiwa
226

untuk bersatu, dan kehendak untuk bersatu, serta adanya kesatuan wilayah yang
sebelumnya bernama nusantara.
Jadi, konsepsi wasantara dibangun atas geopolitik bangsa Indonesia. Bangsa
Indonesia memiliki pandangan sendiri mengenai wilayah yang dikaitkan dengan
politik/kekuasaan. Wasantara sebagai wawasan nasional dibentuk dan dijiwai oleh
faham kekuasaan dan geopolitik bangsa Indonesia. Dengan kata lain wasan-tara
adalah penerapan teori geopolitik dari bangsa Indonesia.

Namun tentu saja

Indonesia tidak mempunyai pemikiran untuk ekspansi dengan menyerang wilayah


negara lain. Salah satu misi sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945,
tegas adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, yang pelaksanaannya melalui politik luar
negeri yang bebas aktif.

C. HAKIKAT, KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN TUJUAN WASANTARA


1. Hakikat Wawasan Nusantara :
Hakikat wasantara adalah keutuhan bangsa dan kesatuan wilayah nasional, atau
persatuan bangsa dan kesatuan wilayah.

Dalam pengertian ini wasantara

diwujudkan dengan pernyataan kepulauan nusantara sebagai kesatuan politik,


kesatuan ekonomi, kesatuan sosial-budaya, dan kesatuan pertahanan keamanan.
Lebih jelasnya, hakikat wasantara adalah kesatuan bangsa dan keutuhan
wilayah Indonesia. Hal ini mencakup :
a. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik, meliputi
masalah-masalah :
1) Kewilayahan nasional;
2) Persatuan dan kesatuan bangsa dalam mencapai cita-cita nasional;
3) Kesatuan falsafah dan ideologi negara;
4) Kesatuan hukum yang mengabdi kepada kepentingan nasional.
b. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan ekonomi, meliputi
masalah-masalah :
1) Kepemilikan bersama kekayaan efektif maupun potensial wilayah nusan227

tara;
2) Pemerataan hasil pemanfaatan kekayaan wilayah nusantara;
3) Keserasian dan keseimbangan tingkat pengembangan ekonomi di seluruh
daerah tanpa meninggalkan ciri-ciri khas daerah.
c. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan sosial-budaya, meliputi masalah-masalah :
1) Pemerataan, keseimbangan, dan persamaan dalam kemajuan masyarakat,
serta adanya keselarasan kehidupan sesuai dengan kemajuan bangsa;
2) Mempersatukan corak ragam budaya yang ada sebagai kekayaan nasional
(budaya bangsa).
d. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan pertahanan keamanan, meliputi masalah-masalah :
1) Persamaan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara dalam rangka
membela bangsa dan negara;
2) Ancaman terhadap satu pulau atau daerah, dianggap sebagai ancaman
terhadap seluruh bangsa dan negara.
Konsepsi wasantara tersebut di atas dituangkan dalam peraturan
perundang-undangan, yaitu dalam Ketetapan-ketetapan (Tap) MPR mengenai
GBHN (19-73, 1978, 1983, 1988, 1993, 1998). Karena sekarang tidak ada lagi
GBHN, yaitu setelah amandemen UUD 1945, maka kemudian diakomodasi dalam
Peraturan Presiden (Perpres), yaitu Prepres No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009, kemudian
diganti dengan Perpres No. 5 Tahun 2010 tentang RPJMN tahun 2009-2014.
Untuk tahun 2014-2019 tentu akan ada lagi Perpresnya.
2. Kedudukan Wawasan Nusantara :
Wasantara berkedudukan sebagai visi bangsa, yaitu keadaan masa depan bangsa
dan wilayah Indonesia yang utuh yang diinginkan. Kedudukan wasantara sebagai
konsepsi dan paradigma ketatanegaraan RI dapat dilihat pada bagan di bawah
ini.

228

PANCASILA

Landasan Ideal

UUD 1945

Landasan Konstitusional

WASANTARA

Landasan Visional

TANNAS

Landasan Konsepsional

DOKUMEN RENBANG

Landasan Operasional

Pembangunan Nasional

Sumber : Dwi Winarno, 2006.

3. Fungsi, Tujuan, Manfaat, dan Implikasi Wawasan Nusantara :


a. Fungsi Wasantara :
Sebagai pedoman, motivasi, serta rambu-rambu dalam menentukan segala
kebijakan, keputusan, tindakan, dan perbuatan bagi penyelenggara negara di
tingkat pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
b. Tujuan Wasantara :
Terwujudnya nasionalisme yang tinggi dalam segala aspek kehidupan rakyat
Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan individu, kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah.
c. Manfaat Wasantara :
1) Diterima dan diakuinya konsepsi wasantara di forum internasional, yaitu
asas negara kepulauan berdasarkan Konvensi Hukum Laut Internasional
1982;
2) Pertambahan luas wilayah teritorial Indonesia, yaitu yang asalnya hanya 2
juta km2 berdasarkan Ordonansi 1939, menjadi 5 juta km2 sebagai satu
kesatuan wilayah. Tepatnya dengan wasantara luas wilayah Indonesia
menjadi : Luas daratan 2.027.087 km2; luas laut 3.166.163 km2 (ter-masuk
luas landas kontinental 2.200.000 km20, luas ZEE 1.577.300 mil persegi.
3) Pertambahan luas wilayah sebagai ruang hidup yang memberikan potensi
sumber daya alam yang besar bagi peningkatan kesejahteraan rakyat;
229

4) Menghasilkan cara pandang tentang keutuhan wilayah nusantara yang


perlu dipertahankan oleh bangsa Indonesia;
5) Menjadi salah satu sarana integrasi nasional yang tercermin dalam
Bhinneka Tunggal Ika.
d. Implikasi :
Implikasi atau persoalan yang mungkin timbul :
1) Penarikan garis batas/wilayah Indonesia dengan negara lain, yaitu darat,
laut, dan udara.

Misalnya dengan Malaysia mengenai Pulau Sipadan,

Ligitan, dan kasus Ambalat. Dengan Australia mengenai pulau-pulau kecil


di sekitar Kepulauan Roti NTT;
2) Masuknya pihak luar ke dalam wilayah yuridiksi Indonesia yang tidak terterawasi, misalnya kasus masuknya kapal penangkap ikan asing, perompakan, juga keluarnya nelayan Indonesia ke wilayah negara tetangga;
3) Sentimen kedaerahan yang pada suatu saat dapat berkembang menjadi
konflik yang melemahkan pembangunan berwasantara. Misalnya suatu
daerah tertutup bagi pendatang, penolakan program transmigrasi oleh
penduduk lokal, pejabat publik harus putra daerah, dsb.

D. UNSUR DASAR KONSEPSI WAWASAN NUSANTARA


Terdapat tiga unsur dasar wasantara : Wadah (contour), isi (content), dan tata laku
(conduct).
1. Sebagai Wadah (Contour), tiada lain adalah wadah kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara, meliputi seluruh wilayah Indonesia yang memiliki
kekayaan alam dan penduduk dengan aneka ragam budaya. NKRI memiliki
organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagai kegiatan kenegaraan
dalam wujud supra struktur politik, sementara wadah dalam kehidupan bermasyarakat adalah berbagai lembaga dalam wujud infra struktur politik.
2. Sebagai Isi (Content), adalah aspirasi bangsa yang berkembang dan cita-cita serta
tujuan nasional yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Isi ini menyangkut :
a. Realisasi aspirasi bangsa sebagai kesepakatan bersama serta pencapaian cita230

cita dan tujuan nasional;


b. Persatuan dan kesatuan dalam kebhinnekaan yang meliputi semua aspek
kehidupan nasional.
3. Sebagai Tata Laku (Conduct), merupakan hasil interaksi antara wadah dan isi,
yang terdiri dari tata laku batiniah dan lahiriah. Tata laku batiniah mencerminkan jiwa, semangat, dan mentalitas yang baik dari bangsa Indonesia yang
berlandaskan falsafah Pancasila. Sedangkan tata laku lahiriah tercermin dalam
tindakan, perbuatan, dan perilaku dari bangsa Indonesia, yaitu satunya kata dan
karya, keterpaduan antara pembicaraan dan perbuatan. Hal ini diwujudkan
dalam satu sistem manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengendalian/pengawasan. Kedua macam tata laku dimak-sud
mencerminkan identitas jatidiri atau kepribadian bangsa Indonesia berdasarkan
kekeluargaan dan kebersamaan yang memiliki rasa bangga dan cinta kepada
bangsa dan tanah air, sehingga menimbulkan nasionalisme yang tinggi dalam semua aspek kehidupan nasional.

E. ASAS DAN ARAH PANDANG WAWASAN NUSANTARA


1. Asas Wawasan Nusantara :
Asas wasantara adalah ketentuan atau kaidah dasar yang harus dipatuhi,
ditaati, dipelihara, dan diciptakan demi tetap taat dan setianya komponen
pembentuk bangsa Indonesia (suku bangsa atau golongan) terhadap
kesepakatan bersama. Asas dimaksud adalah : Kepentingan yang sama, tujuan
yang sama, keadilan, kejujuran, solidaritas, kerjasama, dan kesetiaan terhadap
ikrar atau kesepakatan bersama demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan
dalam kebhinnekaan.
a. Kepentingan yang sama : Dulu merebut kemerdekaan dari penjajah, sekarang
menghadapi penjajahan dalam bentuk alain dari negara asing, misalnya di
bidang ekonomi, adu domba dan pecah belah dengan dalih HAM, demokrasi,
lingkungan hidup, dll.
b. Tujuan yang sama : Tercapainya kesejahteraan dan rasa aman yang lebih baik
231

dari keadaan sebelumnya;


c. Keadilan : Kesesuaian pembagian hasil dengan andil, jerih payah usaha, dan
kegiatan baik orang perorangan, golongan, kelompok, maupun daerah;
d. Kejujuran : Keberanian berpikir, berkata, dan bertindak sesuai realita serta
ketentuan yang benar biarpun realita atau ketentuan itu pahit dan kurang
enak didengar;
e. Solidaritas : Rasa setiakawan, mau memberi dan berkorban bagi orang lain
tanpa meninggalkan ciri dan karakter budaya masing-masing;
f. Kerjasama : Adanya koordinasi dan saling pengertian yang didasarkan atas
kesetaraan sehingga kerja kelompok (kecil, besar) dapat tercapai demi
terciptanya sinergi yang baik;
g. Kesetiaan terhadap kesepakatan bersama : Terhadap NKRI yang dirintis mulai
tahun 1908 (Boedi Oetomo), 1928 (Sumpah Pemuda), dan 17 Agustus 1945
(Proklamasi Kemerdekaan RI).
2. Arah Pandang Wawasan Nusantara :
a. Ke dalam : Bertujuan menjamin perwujudan persatuan dan kesatuan segenap aspek kehidupan nasional, baik alamiah maupun sosial. Bangsa Indonesia harus peka dan berupaya mencegah dan mengatasi sedini mungkin
faktor-faktor penyebab disintegrasi bangsa;
b. Ke luar : Bertujuan demi terjaminnya kepentingan nasional dalam dunia yang
serba berubah, maupun kehidupan dalam negeri serta dalam melaksanakan
ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan
sosial, serta kerjasama dan sikap saling hormat-menghormati.

Dalam

kehidupan internasional, bangsa Indonesia harus berusaha mengamankan


kepentingan nasionalnya dalam semua aspek kehidupan (ipoleksosbudhankamag).

232

BAB XI
KETAHANAN NASIONAL
(GEOSTRATEGI INDONESIA)

A. PENGERTIAN DAN HAKIKAT KETAHANAN NASIONAL


1. Pengertian :
Menurut Lemhanas : Ketahanan nasional (Tannas) adalah kondisi dinamik
bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan
mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala
tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari luar
maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan
kehidupan nasional untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup
bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasionalnya.
Srijanti (2009:155) menyamakan pengertian ketahanan nasional dengan
geostrategi, yaitu strategi dalam memanfaatkan konstelasi geografi negara
Indonesia untuk menentukan kebijakan, tujuan, dan sarana-sarana untuk
mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia, serta memberi arahan tentang
bagaimana merancang strategi pembangunan guna mewujudkan masa depan
yang lebih baik, aman, dan sejahtera.
Sementara itu Chaidir Basri (2002), melihat tannas dari perspektif/sudut
pandang terhadap konsepsinya berupa wujud dan wajah, yaitu :
a. Tannas sebagai Kondisi;
b. Tannas sebagai Metode;
c. Tannas sebagai Doktrin.
Sebagai Kondisi, tannas adalah suatu penggambaran atas keadaan yang
seharusnya dipenuhi, yaitu kondisi ideal yang memungkinkan suatu negara
memiliki kemampuan mengembangkan kekuatan nasionalnya sehingga dapat
menghadapi segala macam ancaman dan gangguan bagi kelangsungan hidup
bangsa.
Sebagai Metode, tannas adalah pendekatan dan cara dalam menjalankan
233

suatu kegiatan khususnya pembangunan negara, yaitu dengan menggunakan


pemikiran kesisteman (system thinking).
Sebagai Doktrin, tannas berupa pengaturan dan penyelenggaraan negara,
yaitu dituangkan dalam peraturan perundang-undangan, agar setiap orang,
masyarakat, dan penyelenggara negara menerima dan menjalankannya.
2. Hakikat :
Hakikat Tannas adalah kondisi kemampuan dan kekuatan bangsa untuk dapat
menjamin kelangsungan hidup dan mengembangkan kehidupan nasional
bangsa dan negara dalam mencapai tujuan nasional, sedangkan hakikat
konsepsi Tannas Indonesia adalah pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang, serasi, dan selaras dalam kehidupan
nasional.

B. PERKEMBANGAN KONSEP KETAHANAN NASIONAL INDONESIA


Gagasan tannas bermula pada awal tahun 1960-an dari kalangan militer khususnya
AD di SSKAD atau sekarang SESKOAD (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat).
Pada masa itu pengaruh komunisme dari Uni Soviet dan Cina sedang menjalar,
meluas sampai kawasan Indocina sehingga negara-negara Laos, Vietnam, dan
Kamboja menjadi negara komunis.

Infiltrasi komunis bahkan sudah masuk di

Thailand (Muangthai), Malaysia, Singapura dan bahkan Indonesia. Sejarah pemberontakan G-30-S/PKI adalah bukti yang tidak dapat dibantah.
Setelah berakhirnya G-30-S/PKI, pengembangan pemikiran Tannas semakin
menguat, dan pada tahun 1968 dilanjutkan oleh Lemhanas. Ancaman, tantangan,
hambatan, dan gangguan terhadap bangsa dan negara harus diwujudkan dalam
ketahanan bangsa yang dimanifestasikan dalam bentuk tameng.

Tameng

dimaksud adalah sublimasi dari konsep kekuatan sebagai menifestasi pemikiran


SSKAD/ SESKOAD.
Dalam pemikiran Lemhanas ditemukan unsur-unsur dari tata kehidupan nasional berupa ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan militer. Pada tahun 1969
234

lahirlah istilah ketahanan nasional. Konsepsi tannas waktu itu dirumuskan sebagai
Keuletan dan daya tahan suatu bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional yang ditujukan untuk menghadapi segala ancaman
dan kekuatan yang membahayakan kelangsungan hidup negara dan bangsa
Indonesia. Kata segala menunjukkan kesadaran akan spektrum ancaman yang
lebih dari sekedar ancaman komunis dan/atau pemberontakan. Kesadaran akan
spektrum ini pada tahun 1972 diperluas menjadi Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG). Adapun pengertian ATHG dimaksud adalah :
Ancaman

Suatu hal atau upaya yang bersifat dan bertujuan mengubah dan
merombak kebijakan yang dilaksanakan secara konsepsional.

Tantangan : Suatu hal atau upaya yang bersifat atau bertujuan menggugah
kemampuan.
Hambatan : Suatu hal yang bersifat melemahkan atau menghalangi tetapi tidak
secara konsepsional, dan berasal dari dalam.
Gangguan : Suatu hal atau upaya yang mengusik kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan negara.
Konsep Tannas untuk pertama kali masuk dalam GBHN melalui Tap MPR No.
IV/MPR/1973 yang rumusannya sama dengan konsep dari Lemhanas. Hal ini berlanjut pada GBHN tahun 1978, 1983, dan 1988. Namun dalam GBHN 1993 ada
perubahan rumusan, yaitu : Ketahanan nasional sebagai kondisi dinamis yang
merupakan integrasi dari kondisi setiap aspek kehidupan bangsa dan negara.
Ketahanan nasional pada hakikatnya adalah kemampuan dan ketangguhan suatu
bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan
negara.
Pada tahun 1982, ATHG dimasukkan dalam UU No. 20 Tahun 1982 tentang
Pokok-pokok Pertahanan Keamanan Negara, tetapi dalam penggantinya yaitu UU
No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, hanya dikenal satu istilah saja, yaitu
ancaman, yang pengertiannya adalah setiap usaha dan kegiatan baik dari dalam
maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan
wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa.
Konsepsi katahanan nasional dapat digambarkan dalam skema di bawah ini.
235

Skema Konsepsi Ketahanan Nasional

Ulet
Tangguh

Ancaman
Tantangan
Hambatan
Gangguan

Kemampuan
mengembangkan
kekuatan nasional

Unsur :
Trigatra
Pancagatra

Langsung
Tidak Langsung
Dalam Negeri
Luar Negeri

Sumber : Dwi Winarno, 2006.

Integritas, Identitas,
Kelangsungan, Tujuan
Bangsa dan Negara.

C. KONSEP DASAR KETAHANAN NASIONAL


1. Umum :
Bangsa Indonesia bercita-cita mewujudkan suatu bentuk masyarakat dalam
wadah NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945 (kira-kira sama dengan Masyarakat Madani). Cita-cita
dimaksud merupakan arah dan pedoman bagi pelaksanaan pembangunan
nasional dalam upaya mewujudkan tujuan nasional sebagaimana tercantum
dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, yang mencakup aspek :
a. Keamanan : Pemerintah negara RI harus melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
b. Kesejahteraan : Pemerintah negara RI harus memajukan kesejahteraan umum
dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
c. Ketertiban dunia : Pemerintah negara RI harus ikutserta dalam upaya
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.
2. Pokok-pokok Pikiran :
236

Pokok-pokok pikiran yang melandasi Tannas dikembangkan dari analisis mengenai manusia budaya, falsafah, ideologi, dan pandangan hidup bangsa, wawasan nasional, serta pendekatan yang diyakini kebenarannya.
a. Manusia budaya :
Manusia memiliki naluri, kemampuan berpikir, akal budi, dan berbagai
keterampilan. Manusia selalu berjuang mempertahankan eksistensi, pertumbuhan, dan kelangsungan hidupnya. Untuk itu manusia selalu mengadakan
hubungan-hubungan dan hidup berkelompok, bermasyarakat, bahkan bernegara. Hubungan-hubungan ini dikenal sebagai berikut :
Manusia - Tuhan

Agama

Manusia - Manusia

Sosial (Masyarakat)

Manusia - Kekuatan/Kekuasaan

Politik

Manusia - Pemenuhan Kebutuhan

Ekonomi

Manusia - Rasa Keindahan

Seni Budaya

Manusia - Rasa Aman

Pertahanan Keamanan

Manusia - Penguasaan/Pemanfaatan Alam

Iptek

Manusia - Cita-cita

Ideologi

b. Falsafah, ideologi, dan pandangan hidup bangsa :


Merupakan pedoman bagi tata kehidupan masyarakat yang terbentuk dari
perjalanan sejarah bangsanya. Bagi bangsa Indonesia adalah Pancasila.
c. Wawasan nasional :
Konsepsi pandangan hidup yang tersusun berdasarkan hubungan dinamis
antara cita-cita, ideologi, aspek sosial budaya, kondisi geografis, maupun faktor
kesejarahannya.
d. Pendekatan kesejahteraan dan keamanan :
Merupakan kebutuhan mendasar dan esensial, baik sebagai individu maupun
anggota masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keduanya
dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan, serta merupakan nilai-nilai intrinsik yang mendasari pencapaian kondisi tannas.

237

3. Landasan Ketahanan Nasional :


a. Landasan Ideal : Pancasila;
b. Landasan Konstitusional : UUD 1945;
c. Landasan Visional : Wawasan Nusantara;
d. Landasan Konsepsional : Ketahanan Nasional;
e. Landasan Operasional : Dokumen Rencana Pembangunan (RPJMN/RPJMD).
4. Asas-asas Ketahanan Nasional :
Yang dimaksud asas-asas Tannas adalah tata laku yang relatif telah tersusun dan
yang dilandasi nilai-nilai budaya bangsa yang merupakan pedoman bagi
pengembangan Tannas Indonesia, yang meliputi :
a. Asas Kesejahteraan dan Keamanan :
Kesejahteraan dan keamanan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan, ibarat dua sisi dari satu mata uang;
b. Asas Komprehensif Integral (menyeluruh terpadu) :
Dalam bentuk perwujudan kesatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi,
dan selaras dari seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara berdasarakan matriks astagatra.
c. Asas Mawas ke Dalam dan Mawas ke Luar :
1) Ke dalam, bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat, dan kondisi kehidupan
nasional berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang proporsional untuk
meningkatkan kualitas, harkat, martabat, dan derajat bangsa agar memiliki
kemampuan mengembangkan kehidupan nasionalnya;
2) Ke luar, diperlukan untuk mengantisipasi, menghadapi dan mengatasi
dampak lingkungan strategis, terutama terhadap kenyataan adanya saling
interaksi dan ketergantungan dengan dunia internasional.
d. Asas Kekeluargaan :
Mengandung nilai kearifan, kebersamaan, gotong royong, tenggang rasa, dan
tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
5. Ciri Ketahanan Nasional :
a. Mandiri :
238

Berdasarakan kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri yang


mengandung prinsip tidak mudah menyerah, ulet dan tangguh, memiliki daya
saing tinggi, mampu menentukan sasaran serta kebijakan dan strategi
pencapaiannya, berlandaskan integritas dan kepribadian bangsa;
b. Dinamis :
Dapat meningkat atau menurun bergantung pada situasi dan kondisi bangsa
dan negara serta kondisi lingkungan strategis. Di dunia tidak ada kepastian,
yang pasti adalah adanya perubahan.
c. Berwibawa :
Dengan kewibawaan akan mewujudkan suatu daya tangkal yang efektif;
d. Mengutamakan konsultasi dan kerjasama :
Tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonistis, tetapi lebih pada
konsultasi dan kerjasama serta saling menghargai, dengan mengandalkan
pada kemampuan yang didasarkan pada kekuatan moral dan kepribadian
bangsa, dan tidak mengandalkan kekuasaan atau kekuatan fisik semata.

D. UNSUR-UNSUR KETAHANAN NASIONAL


Unsur, elemen, atau faktor yang mempengaruhi kekuatan/ketahanan nasional
suatu negara terdiri dari beberapa aspek. Para ahli mengemukakan pendapatnya
mengenai unsur-unsur dimaksud.
1. Menurut Hans J. Morgenthou, unsur kekuatan nasional negara terbagi atas dua
faktor, yaitu :
a. Faktor tetap (stable factors) : Geografi dan sumber daya alam;
b. Faktor berubah (dynamic factors) : Industri, militer, demografi, karakter/
moral bangsa, kualitas diplomasi, dsb.
2. Menurut James Lee Ray, unsur kekuatan nasional negara terbagi atas dua faktor, yaitu :
a. Tangible factors : Penduduk, kemampuan industri, militer, dsb.
b. Intangible factors : Karakter/moral nasional, dan kualitas kepemimpinan.
3. Menurut Palmer & Perkins, unsur kekuatan nasional negara terdiri atas tanah,
239

sumber daya alam, penduduk, teknologi, ideologi, moral, dan kepemimpinan.


4. Menurut Parakhas Chandra, unsur kekuatan nasional negara terdiri atas tiga,
yaitu :
a. Alamiah : Geografi, sumber daya, dan penduduk;
b. Sosial : Struktur politik, perkembangan ekonomi, budaya dan moral nasional;
c. Lain-lain : Ide, intelegensi, diplomasi, dan kebijakan kepemimpinan.
5. Menurut Alfred T. Mahan, unsur kekuatan nasional terdiri atas letak geografi,
wujud bumi, luas wilayah, jumlah penduduk, watak nasional, dan sifat pemerintahan.
6. Menurut Cline, unsur kekuatan nasional terdiri atas senergi antara potensi
demografi dengan geografi, kemampuan ekonomi, militer, strategi nasional, dan
keamanan nasional.
7. Model Indonesia, unsur-unsur kekuatan nasional diistilahkan dengan gatra
dalam ketahanan nasional. Pemikiran ini dikembangkan oleh Lemhanas yang
dikenal dengan Astagatra, yang terdiri dari Trigatra dan Pancagatra.
a. Trigatra, adalah aspek alamiah (tangible), terdiri dari : Penduduk, sumber
daya alam, dan wilayah;
b. Pancagatra, adalah aspek sosial (intangible), terdiri dari : Ideologi, politik,
ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan.
Penjelasan :
a. Trigatra :
1) Faktor yang berkaitan dengan penduduk :

Aspek kualitas, mencakup

tingkat pendidikan, keterampilan, etos kerja, dan kepribadian.

Aspek

kuantitas, mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran, perataan, dan perimbangan penduduk di tiap wilayah negara;
2) Faktor yang berkaitan dengan sumber daya alam : Sumber daya hewani,
nabati, dan tambang, kemampuan mengeksplorasi sumber daya alam,
pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan
dan lingkungan hidup, serta kontrol atas sumber daya alam;
3) Faktor yang berkaitan dengan wilayah : Bentuk wilayah negara (daratan,
240

pantai, kepulauan), luas wilayah negara, posisi geografis, astronomis dan


geologis, serta daya dukung wilayah negara (habitable, unhabitable).
b. Pancagatra :
1) Faktor yang berkaitan dengan ideologi : Sebagai tujuan atau cita-cita
bangsa, dan sebagai sarana pemersatu;
2) Faktor yang berkaitan dengan politik :

Sistem politik yang dipakai

(demokrasi, non demokrasi), sistem pemerintahan yang dijalankan (presidensial, parlementer), bentuk pemerintahan yang dipilih (kerajaan, republik), serta susunan negara yang dibentuk (kesatuan, serikat);
3) Faktor yang berkaitan dengan ekonomi : Sistem ekonomi liberal atau
sosialis. Untuk Indonesia dipilih sistem ekonomi Pancasila yang berco-rak
kekeluargaan dan kerakyatan;
4) Faktor yang berkaitan dengan sosial-budaya : Melalui dua strategi, yaitu
kebijakan asimilasi (assimilation policy), dan kebijakan berbeda-beda tetapi
tetap satu (bhinneka tunggal ika);
5) Faktor yang berkaitan dengan pertahanan keamanan : TNI dan POLRI
sebagai kakuatan utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung. Sistem
yang dikembangkan adalah sistem pertahanan keamanan rakyat semesta
(Sishankamrata). Lihat : UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

E. HUBUNGAN HIERARKIS FALSAFAH, PANDANGAN HIDUP, IDEOLOGI, DASAR


NEGARA, UUD 1945, WASANTARA DAN TANNAS
Jika kita kaitkan antara falsafah, pandangan hidup, ideologi, dan dasar negara
Pancasila dengan UUD 1945, wawasan nusantara, dan ketahanan nasional, dapatlah
kiranya digambarkan sebagai hubungan hierarkis dalam diagram/bagan sebagai
berikut :

241

FALSAFAH

Renungan pemikiran.
Sudah sampai pada pandangan dan pendirian tertentu.

Keinginan.
- Hikmat kebenaran, arif kebisanaan dalam kehidupan.

PANDANGAN
HIDUP

IDEOLOGI

Disimpulkan dan disusun


cara sistematis.

- Keyakinan yang berkembang.

- Pandangan nilai yang diyakini


kebenaran yang digunakan
sebagai dasar menata masyarakat.

DASAR
NEGARA

Dimantapkan dan dikorporasikan dalam sistem kehidupan negara.

UUD 1945

WASANTARA

TANNAS

Sumber : Zainul Ittihad Amin (2011:1.25).

242

Konstitusi

Doktrin Dasar.

Doktrin Pelaksanaan

BAB XII
POLITIK STRATEGI NASIONAL
A. PENGERTIAN
1. Politik :
Secara etimologis, kata politik berasal dari bahasa Yunani politeia, dengan
akar kata polis yang berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yaitu
negara, dan teia berarti urusan. Jadi, politik adalah urusan negara.
Politik (politics) dalam bahasa Indonesia berarti kepentingan umum warga
negara suatu bangsa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan,
jalan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki. Politik memberikan cara, jalan, arah, dan medannya. Sementara policy
(kebijakan) memberikan pertimbangan cara pelaksanaan asas, jalan, dan arah
dimaksud sebaik-baiknya.
Secara umum, politik menyangkut proses penentuan tujuan negara dan
cara melaksanakannya. Pelaksanaan tujuan tersebut memerlukan kebijakankebijakan (public policies) yang menyangkut pengaturan (regulation), pembagian,
(distribution) atau alokasi (allocation) sumber-sumber yang ada. Penentuan,
pengaturan, pembagian, maupun alokasi sumber-sumber yang ada dimaksud
memerlukan kekuasaan (power) dan wewenang (authority).

Kekuasaan dan

wewenang ini memainkan peran yang sangat penting dalam pembinaan kerjasama dan penyelesaian konflik yang mungkin timbul dalam proses pencapaian
tujuan.
Politik nasional adalah asas, haluan, usaha, serta kebijakan negara tentang
pembinaan (perencanaan, pengembangan, pemeliharaan, dan pengendalian)
serta penggunaan kekuatan nasional untuk mencapai tujuan nasional. Karena
itulah politik akan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan negara,
kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan, dan distribusi atau alokasi
sumber daya.
Berikut penjelasannya :
a. Negara : Organisasi bangsa yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan ditaati
243

oleh rakyatnya;
a. Kekuasaan : Kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok orang lain sesuai dengan keinginannya. (lihat bab terdahulu);
b. Pengambilan keputusan : Pemilihan satu dari beberapa kemungkinan (alternatif) yang dipandang paling baik. Yang dimaksud paling baik adalah yang
banyak untungnya dan sedikit resiko ruginya. Pengambilan keputusan adalah
aspek utama politik. Yang perlu diperhatikan adalah siapa pengambil keputusan dan untuk siapa dibuat. Keputusan yang diambil adalah menyangkut
sektor publik suatu negara;
c. Kebijakan umum : Suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seseorang
atau kelompok orang dalam memilih tujuan dan cara mencapai tujuan itu.
Dasar pemikirannya adalah bahwa setiap warga masyarakat memiliki beberapa tujuan bersama yang ingin dicapai, sehingga karenanya perlu ada
rencana/perencanaan yang mengikat yang dirumuskan dalam kebijakankebijakan oleh pihak yang berwenang;
d. Distribusi : Pembagian dan pengalokasian nilai-nilai (values) dalam masyarakat. Nilai adalah sesuatu yang diinginkan dan penting, dan harus dibagi
secara adil. Politik membicarakan bagaimana pembagian dan pengalokasian
nilai-nilai tersebut secara mengikat.
2. Strategi :
Strategi berasal dari bahasa Yunani strategia yang berarti the art of the
general. (seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan).
Karl von Clausewitz (1780-1841) berpendapat bahwa strategi adalah pengetahuan tentang penggunaan pertempuran untuk memenangkan perang. Sedangkan perang itu sendiri adalah kelanjutan dari politik.
Strategi nasional adalah cara melaksanakan politik nasional dalam mencapai
sasaran dan tujuan yang ditetapkan oleh politik nasional. Sementara itu C.S.T.
Kansil mendefinisikan strategi nasional sebagai seni dan ilmu mengembangkan/menggunakan kekuatan nasional (ipoleksosbudhankam) baik dalam masa
244

damai maupun masa perang untuk mendukung pencapaian tujuan-tujuan yang


telah ditetapkan.

B. DASAR PEMIKIRAN POLITIK STRATEGI NASIONAL


1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Politik Strategi Nasional :
Faktor-faktor yang mempengaruhi politik strategi nasional (poltranas) adalah :
a. Ideologi dan Politik : Persatuan dan kesatuan nasional yang menggambar-kan
kepribadian bangsa, keyakinann atas kemampuan sendiri, serta kesang-gupan
untuk menolong bangsa-bangsa yang masih terjajah;
b. Ekonomi : Kesuburan, kekayaan alam, dan tenaga kerja yang terdapat di
Indonesia merupakan potensi ekonomi yang besar sekali;
c. Sosial-budaya : Bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku, bahasa, adatistiadat, agama, dll. mempersulit persatuan dan kesatuan, tetapi ada kekuatan
bhinneka tunggal ika dan Pancasila sebagai pemersatu;
d. Hankam : Kekuatan-kekuatan bersenjata yang lahir dari kandungan rakyat
(TNI-POLRI), dan rakyat sendiri sebagai kekuatan pendukungnya.
2. Dasar :
a. Geopolitik Indonesia yang dijiwai Pancasila dan UUD 1945;
b. Wawasan Nusantara;
c. Ketahanan Nasional.

C. IMPLEMENTASI POLITIK STRATEGI NASIONAL


Penyusunan politik strategi nasional (poltranas) didasarkan pada sistem kenegaraan
berdasarkan UUD 1945. Lembaga-lembaga negara/pemerintah termasuk aparatnya
(birokrasi) disebut supra struktur politik sedangkan lembaga-lembaga yang ada
dalam masyarakat yang mencakup pranata politik, yaitu organisasi politik (orpol)
dalam bentuk partai politik (parpol), organisasi kemasyarakatan (ormas), media
massa, kelompok kepentingan (interest group), dan kelompok penekan (pressure
group) disebut infra struktur politik. Supra dan infra struktur politik ini mestinya
245

memiliki kekuataan seimbang dan dapat bekerjasama secara sinergis untuk


membangun. Karena itu pada hakikatnya politik dan strategi nasional adalah kebijakan dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional untuk mencapai tujuan
nasional.
Berbeda halnya pada masa Orba yang menuangkan kebijakan nasional pembangunan melalui Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang ditetapkan oleh
MPR, yaitu lembaga tertinggi negara sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat yang
harus dilaksanakan oleh Presiden Mandataris MPR, sekarang ini, setelah UUD 1945
mengalami empat kali perubahan (amandemen), mekanismenya telah berubah.
Lihatlah bagan struktur ketatanegaraan RI di bawah ini.
Bagan Struktur Ketatanegaraan RI Sebelum Perubahan UUD 1945

UUD 1945

MPR

BPK

DPR

PRESIDEN

DPA

MA

Bagan Struktur Ketatanegaraan RI Sesudah Perubahan UUD 1945

UUD 1945

MPR

PRESIDEN

K. KEHAKIMAN

BPK
DPR

Inspektif

DPD

Legislatif

WAPRES

Eksekutif

MK

MA

KY

Yudikatif

Dengan demikian, MPR sekarang tidak lagi sebagai lembaga tertinggi negara,
tetapi lembaga negara sama halnya dengan Presiden, DPR, DPD, BPK, MA, MK, dan
246

KY. Tugas MPR tidak lagi memilih/mengangkat Presiden/Wakil Presiden, dan


menetapkan GBHN. Presiden/Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat melalui
Pemilihan Presiden (Pilpres). Jadi, Presiden bukan lagi Mandataris MPR.
Sementara itu itu program-program pembangunan tidak lagi ditetapkan
dalam GBHN tetapi oleh Presiden dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres)
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

RPJMN

disusun sebagai pelaksanaan janji pada saat pencalonan dan kampanye


penyampaian visi, misi, dan program-program yang akan dilaksanakan jika terpilih
menjadi Presiden/ Wakil Presiden. Adapun yang menjadi rujukan RPJMN adalah :
1. Pasal 4 Ayat (1) UUD 1945.
2. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
3. UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

D. RUANG LINGKUP PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL


Ruang lingkup perencanaan pembangunan nasional (Renbangnas) adalah :
1. Renbangnas mencakup penyelenggaraan perencanaan makro semua fungi
pemerintahan yang meliputi semua bidang kehidupan secara terpadu dalam
wilayah NKRI.
2. Renbangnas terdiri atas renbang yang disusun secara terpadu oleh
kementerian/lembaga dan renbang yang disusun oleh pemerintah daerah sesuai
dengan kewenangannya.
3. Renbang dimaksud menghasilkan :
a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN, 20 tahun);
b. Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN, 5 tahun);
c. Rencana Pembangunan Tahunan/Rencana Kerja Pemerintah (RKP, 1 tahun,
yaitu APBN).
4. RPJPN merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan negara RI
yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dalam bentuk visi, misi, dan arah
bangnas.
5. RPJMN merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Presiden yang penyu247

sunannya berpedoman pada RPJPN, yang memuat strategi bangnas, kebijakan


umum, program kementerian/lembaga dan lintas kementerian/lembaga,
kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang
mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan
fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
6. RKP merupakan penjabaran dari RPJMN, memuat prioritas pembangunan, rancangan/kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian
secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, serta program kementerian/
lembaga, lintas kementerian/lembaga, kewilayahan dalam bentuk kerangka
regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
7. Renstra KL (Rencana Strategis Kementerian/Lembaga) memuat visi, misi, tuju-an,
strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas
dan fungsi kementerian/lembaga yang disusun dengan berpedoman pada RPJMN
dan bersifat indikatif.
8. Renja KL (Rencana Kerja Kementerian/Lembaga) disusun dengan berpedoman
pada Renstra KL dan mengacu pada prioritas bangnas dan pagu indeikatif, serta
memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah dan pemerintah daerah, maupun yang ditempuh
dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Jadi, setelah tidak ada lagi GBHN dan Rencana Pembangunan Lima Tahun
(REPELITA) versi Orde Baru, maka dasar pelaksanaan pembangunan dalam rangka
mewujudkan tujuan nasional sekarang adalah :
1. Undang-Undang Dasar 1945.
2. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
3. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (Renbangnas).
4. Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
5. Peraturan Presiden tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(Untuk 2004-2009 dengan Perpres No. 7 Tahun 2005, dan 2009-2004 dengan
Perpres No. 5 Tahun 2010).
248

E. TAHAPAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL


Tahapan Renbangnas meliputi :
1. Penyusunan Rencana.
2. Penetapan Rencana.
3. Pengendalian Pelaksanaan Rencana.
4. Evaluasi Pelaksanaan Rencana.

F. VISI INDONESIA 2025


Indonesia yang maju, mandiri, dan adil yaitu :
1. Maju, artinya, secara ekonomi-sosial, tingkat pendidikan, derajat kesehatan,
pertumbuhan penduduk, angka harapan hidup, kualitas pelayanan sosial,
produktivitas yang lebih baik, serta memiliki sistem dan kelembagaan politik,
termasuk hukum yang mantap.
2. Mandiri, artinya, berdiri di atas kaki sendiri, adalah hakekat dari kemerdekaan,
yaitu hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri dan menentukan
apa yang terbaik bagi dirinya.
3. Adil, artinya, semua rakyat mempunyai kesempatan yang sama dalam meningkatkan taraf hidupnya dan memperoleh lapangan pekerjaan, mendapatkan
pelayanan sosial, pendidikan dan kesehatan, mengemukakan pendapat dan
melaksanakan hak politiknya, mengamankan dan mempertahankan negara, serta
perlindungan dan kesamaan di depan hukum.

G. MISI INDONEIA 2025


1. Mewujudkan daya saing bangsa.
2. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum.
3. Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu.
4. Mewujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan.
5. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari.
6. Mewujudkan masyarakat bermoral, beretika, dan berbudaya.
7. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional.
249

BAB XIII
OTONOMI DAERAH DALAM KERANGKA
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

A. PENGERTIAN OTONOMI DAERAH


Istilah otonomi daerah atau desentralisasi pada hakikatnya adalah pembagian
kewenangan kepada organ-organ penyelenggara negara, sedangkan otonomi
menyangkut hak yang mengikuti pembagian kewenangan tersebut.

Menurut

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), desentralisasi terkait dengan masalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat yang berada di ibukota negara baik melalui
cara dekonsentrasi, misalnya pendelegasian kepada pejabat di bawahnya, maupun
melalui pendelegasian kepada pemerintah atau perwakilan di daerah. (A.
Ubaedillah, 2010:138).
Batasan menurut PBB tersebut di atas hanya menjelaskan proses kewenangan
yang diserahkan pusat kepada daerah, tetapi belum menjelaskan isi dan keluasan
kewenangan serta konsekuensi penyerahan kewenangan itu bagi badan-badan
otonomi daerah.
Sementara itu menurut M. Turner dan D. Hulme (dalam Srijanti, 2009:177),
desentralisasi adalah transfer/pemindahan kewenangan untuk menyelenggarakan
beberapa pelayanan kepada masyarakat dari pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah untuk secara mandiri atau berdaya membuat keputusan mengenai
kepentingan daerahnya sendiri.

Dengan demikian desentralisasi atau otonomi

daerah, secara sempit diartikan sebagai mandiri sedangkan dalam arti luas
berdaya.
Jadi, otda dapat diartikan pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dalam hal ini otda adalah suatu
instrumen politik dan administrasi/manajemen yang digunakan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal, sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya
untuk kemajuan masyarakat di daerah, terutama dalam menghadapi tantangan
global, mendorong pemberdayaan masyarakat, menumbuhkan kreativitas, meningkatkan peranserta masyarakat, serta mengembangkan demokrasi.
250

Sementara itu pengertian otonomi daerah menurut Undang-Undang No. 32


Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, adalah hak, wewenang, dan kewajiban
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Adapun desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

B. LATAR BELAKANG OTONOMI DAERAH


1. Alasan :
a. Kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarta
(Jakarta sentris) karena 60% perputaran uang berada di Jakarta dan hanya
40% saja di luar Jakarta, sementara itu pembangunan di beberapa daerah
cenderung dijadikan obyek perahan pemerintah pusat.
b. Pembagian kekayaan tidak merata dan tidak adil.

Daerah-daerah yang

memiliki sumber-sumber kekayaan alam yang melimpah (seperti Aceh, Riau,


Papua, Kalimantan, Sulawesi, dll.) tidak menerima perolehan dana yang patut
dari pemerintah pusat.
c. Kesenjangan sosial antara satu daerah dengan daerah lainnya yang sangat
mencolok.
2. Argumentasi yang Kuat Secara Teoritis dan Empiris :
a. Untuk terciptanya efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan,
karena dengan banyaknya urusan tidak mungkin seluruhnya dilaksanakan oleh
pusat. Dalam hal ini pemerintah pusat berfungsi :
1) Distributif : Mengelola berbagai dimensi kehidupan seperti bidang sosial,
kesejahtteraan masyarakat, ekonomi, keuangan, politik, integrasi sosial,
pertahanan, keamanan dalam negeri, dll.
2) Regulatif : Menyangkut penyediaan barang dan jasa ataupun yang berhubungan dengan kompetensi dalam rangka penyediaan tersebut;
251

3) Ekstraktif : Memobilisasi sumber daya keuangan dalam rangka membiayai


aktivitas penyelenggaraan negara;
4) Universal : Memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat,
menjaga keutuhan negara dan bangsa, mempertahankan kedaulatan, serta
mempertahankan kemungkinan serangan dari negara lain.
b. Sebagai sarana pendidikan politik. Pemerintah daerah merupakan kancah
pelatihan dan pengembangan demokrasi dalam sebuah negara. Di daerahlah
tempat kebebas-an dan tempat orang diajari bagaimana kebebasan
digunakan dan bagaimana menik-mati kebebasan itu. Pemerintah daerah
akan menyediakan kesempatan bagi warga masyarakat untuk berpartisipasi
dalam politik, baik dalam rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih
dalam suatu jabatan politik. Kemungkinan mereka pun akan berkiprah di
tingkat nasional.
c. Pemerintahan daerah sebagai persiapan untuk karier politik lanjutan.
Keberadaan institusi lokal (eksekutuf dan legislatif lokal) merupakan wahana
yang tepat bagi penggodokan calon-calon pemimpin nasional, setelah melalui
karier politik mereka di daerah.
d. Stabilitas politik. Dalam hal ini stabilitas politik nasional berawal dari stabilitas
politik pada tingkat lokal. Dalam konteks Indonesia, pernah terjadi pergolakan
daerah seperti PRRI dan PERMESTA tahun 1957-1958 karena daerah melihat
kekuasaan Jakarta sangat dominan. Sementara di negara-negara ASEAN pun
terja-di pula di Filipina dan Thailand di mana minoritas muslin (Mindanao dan
Pattani) berjuang untuk melepaskan diri dari ketidakadilan ekonomi yang
dilakukan peme-rintahan pusat di Manila atau Bangkok.
e. Kesetaraan politik.

Melalui desentralisasi pemerintahan akan tercipta

kesetaraan politik antara pusat dan daerah.


f. Akuntabilitas publik. Otonomi daerah pada dasarnya adalah transfer prinsipprinsi demokrasi dalam pengelolaan pemerintahan maupun budaya politik.
Melalui prinsip demokrasi penyelenggaraan pemerintahan di dearh akan lebih
akuntabel dan profesional karena dapat melibatkan peranserta masyarakat
luas, baik dalam penentuan pimpinan daerah (Pemilukada) maupun pelaksa252

naan program di daerah.

C. TUJUAN OTONOMI DAERAH


Tujuan otonomi daerah dapat dilihat dari beberapa segi :
1. Dari segi politik : Untuk mencegah penumpukan kekuasaan di pusat, untuk
membangun masyarakat yang demokratis, untuk menarik rakyat ikutserta dalam
pemerintahan, serta melatih diri dalam menggunakan hak-hak demokrasi.
2. Dari segi pemerintahan : Untuk mencapai pemerintahan yang efisien.
3. Dari segi ekonomi : Agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembangunan
ekonomi di daerah masing-masing.
4. Dari segi sosial-budaya : Agar perhatian lebih fokus kepada daerah.

D. PRINSIP-PRINSIP PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH


Menurut A. Ubaedillah (2010:143), prinsip-prinsip pemberian otda yang dijadikan
pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah :
1. Penyelenggaraan otda dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi,
keadilan, pemerrataan, serta potensi dan keanekaragaman daerah.
2. Pelaksanaan otda didasarkan pada otonomi luas, nyata, dan bertanggung jawab.
3. Pelaksanaan otda uang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan
kota, sedangka pada daerah provinsi merupakan otonomi yang terbatas.
4. Pelaksanaan otda harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin
hubungan yang serasi antara pusat dan daereah serta antar daerah.
5. Pelaksanaan otda harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom, dan
karenanya dalam daerah kabupaten dan koyta tidak ada lagi wilayah
administratif.

Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh

pemerintah atau pihak lain seperti badan otorita, kawasan pelabuhan, kawasan
perumahan, kawasan in-dustri, kawasan perkebunan, kawasan pertambangan,
kawasan kehutanan, kawasan perkotaan baru, kawasan pariwisata, dan semasemacamnya berlaku ketentuan peraturan daerah otonom.
253

6. Pelaksanaan otda harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif
daerah, baik fungsi legislasi, fungsi pengawasan, maupun fungsi anggaran atas
penyelenggaraan pemerintahan daerah.
7. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi dalam
kedudukannya sebagai wilayah administratif untuk melaksanakan kewenangan
pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil
pemerintah.
8. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari pemerintah
kepada daerah, tetapi juga dari pemerintah dan daerah kepada desa yang
disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia
dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan pertanggungjawabannya kepada
yang menugaskan.

E. PERKEMBANGAN UNDANG-UNDANG OTONOMI DAERAH


Pengaturan pelaksanaan otda di Indonesia telah mengalami beberapa kali UndangUndang Otda/Desentralisasi, yaitu :
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam
UU ini ditetapkan daerah otonom meliputi Keresidenan, Kabupaten, dan Kota.
Akan tetapi PP pelaksanaannya tidak ada sehingga tidak dilaksanakan dan
usianya hanya tiga tahun.
2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Susunan Pemerintah Daerah
yang Demokratis. Dalam UU ini ada dua jenis daerah otonom, yaitu daerah
otonom biasa dan daerah otonom istimewa. Juga ditetapkan tingkatan daerah
otonom, yaitu provinsi, kabupaten/kota besar, dan desa/kota kecil. Pemerintah
pusat memberikan hak istimewa kepada beberapa daerah di Jawa, Bali,
Minangkabau, dan Palembang untuk

menghormati daerah tersebut guna

melakukan pengaturan sendiri daerahnya mengenai hak dan asal-usul daerah.


3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pemerintahan Daerah yang
berlaku menyeluruh dan bersifat seragam.

254

4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pemerintah Daerah yang


menganut otonomi yang seluas-luasnya.
5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di
Daerah. Dalam UU ini disebutkan ada Daerah Tingkat I Provinsi dan Daerah
Tingkat II Kabupaten/Kotamadya.
6. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, disertai
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat
dan Daerah.
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Dalam UU
ini jelas diatur tentang pembagian urusan pemerintahan, yaitu :
a. Urusan Pusat :

Keuangan (moneter dan fiskal), pertahanan, keamanan,

peradilan (yustisi), luar negeri, dan agama.


b. Daerah : Urusan selain tersebut di atas.
Diterbitkan juga Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kemudian
untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang, maka
Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
(PERPPU) Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang kemudian dikukuhkan dengan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Menjadi
Undang-Undang.

F. MODEL DESENTRALISASI
Menurut Rondinelli (dalam Srijanti, 2010:182), terdapat empat model desentralisasi, yaitu :
1. Dekonsentralisasi, yaitu pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah
kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah, dan atau kepada instansi vertikal di
wilayah tertentu.
255

2. Delegasi, yaitu pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan manajerial


untuk melakukan tugas-tugas khusus kepada suatu organisasi, yang secara tidak
langsung berada di bawah pengawasan pemerintah pusat.
3. Devolusi, yaitu transfer kewenangan untuk pengambilan keputusan, keuangan,
dan manajemen kepada unit otonomi pemerintah daerah.
4. Privatisasi, yaitu tindakan pemberian kewenangan dari pemerintah kepada
badan-badan sukarela, swasta, dan swadaya masyarakat.
Kiranya perlu pula dijelaskan pengertian tentang desentralisasi, dekonsentrasi,
dan tugas pembantuan berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah, yaitu :
1. Desentralisasi, adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah
kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam
sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Dekonsentrasi, adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah
kepa-da Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di
wilayah tertentu. Dengan demikian Gubernur mempunyai dua kedudukan, yaitu
sebagai kepada daerah provinsi, dan sebagai wakil pemerintah di daerah. Yang
pertama berdasarkan asas desentralisasi, dan yang kedua berdasarkan asas
dekonsentrasi.
3. Tugas pembantuan, adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan/atau
desa, dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa, serta dari
pemerin-tah kabupaten/kota kepada desa, untuk melaksanakan tugas-tugas
tertentu.

G. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN


Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004, terdapat pembagian urusan pemerintahan
sebagai berikut.
1. Urusan Pemerintah Pusat :
a. Politik Luar Negeri;
256

b. Pertahanan;
c. Keamanan;
d. Keuangan (moneter dan fiskal nasional);
e. Peradilan (Yustisi);
f. Agama.
2. Urusan Pemerintah Provinsi :
a. Perencanaan dan pengendalian pembangunan;
b. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
c. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
d. Penyediaan sarana dan prasarana umum;
e. Penanganan bidang kesehatan;
f. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial;
g. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota;
h. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;
i. Fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah, termasuk
lintas kabupaten/kota;
j. Pengendalian lingkungan hidup;
k. Pelayanan pertahanan termasuk lintas kabupaten/kota;
l. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil;
m. Pelayanan administrasi umum pemerintahan;
n. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota;
o. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan
oleh kabupaten/kota;
p. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.
3. Urusan Pemerintah Kabupaten/Kota :
a. Perencanaan dan pengendalian pembangunan;
b. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
c. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
d. Penyediaan sarana dan prasarana umum;
e. Penanganan bidang pendidikan;
257

f. Penanggulangan masalah sosial;


g. Pelayanan bidang ketenagakerjaan;
h. Fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah;
i. Pengendalian lingkungan hidup;
j. Pelayanan pertahanan;
k. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil;
l. Pelayanan administrasi umum pemerintahan;
m. Pelayanan administrasi penanaman modal;
n. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya;
o. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

H. KESALAHPAHAMAN TERHADAP OTONOMI DAERAH


Otda diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan kebijakan nasional yang dapat
mencegah disintegrasi bangsa. Otda merupakan sarana yang secara politis ditempuh dalam rangka memelihara keutuhan negara bangsa. Otda pun dilakukan dalam
rangka memperkuat semangat kebangsaan serta persatuan dan kesatuan di antara
segenap warga bangsa Indonesia. Akan tetapi dalam praktek atau implementasinya
banyak menimbulkan kesalahpahaman yang muncul dari berbagai kelompok
masyarakat, di antaranya sebagai berikut :
1. Otonomi dikaitkan semata-mata dengan uang, artinya, untuk berotonomi daerah
harus mencukupi sendiri kebutuhannya terutama di bidang keuangan. Hal ini
muncul karena ada ungkapan bahwa otonomi identik dengan automoney. Tentu
saja hal itu keliru dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, walaupun diakui
bahwa uang memang sesuatu yang sangat penting bahkan mutlak. Akan tetapi
uang bukan satu-satunya alat dalam menggerakkan roda pemerintahan, yang
sangat penting atau kata kuncinya adalah kewenangan. Dengan kewenangan
uang akan dapat dicari, dan pemerintah daerah harus mampu menggunakannya
dengan bijaksana, tepat guna dan berorientasi kapa kepentingan rakyat.
2. Daerah belum siap dan belum mampu. Hal ini tidak tidaklah tepat sebab sebe258

belum UU No. 22/1999 dan UU No. 32/2004 diterapkan, ternyata pemberian


tugas kepada pemerintah daerah belum diikuti dengan pelimpahan kewenangan
dalam mencari uang dan subsidi dari pusat. Dengan demikian sebenarnya tidak
ada alasan belum siap dan belum mampu, karena dalam kenyataan sudah lama
terlibat dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan.
3. Dengan otda pemerintah pusat akan melepaskan tanggung jawab untuk
membantu dan membina daerah.

Hal ini keliru sebab bersamaan dengan

kebijakan otda pusat tetap harus memberi dukungan dan bantuan kepada
daerah, baik berupa bimbingan teknis penyelenggaraan pemerintahan maupun
keuangannya, dan hal ini tidak mengurangi makna otda dalam kerangka NKRI.
Hal ini sesuai dengan falsafah yang umum dikenal di berbagai negara, yaitu tak
ada mandat tanpa dukungan dana (no mandate without funding). Maksudnya,
setiap pemberian kewenangan dari pemerintah pusat kepada daerah harus
disertai dana yang cukup, baik dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun
Dana Alokasi Umum (DAU) serta bantuan dana lainnya, misalnya tatkala terjadi
bencana alam yang sangat menggang-gu roda perekonomian daerah.
4. Dengan otda maka daerah dapat melakukan apa saja, artinya bebas. Hal ini
keliru sebab hakikat otda adalah pemberian kewenangan kepada daerah
sehingga daerah kreatif dan inovatif dalam rangka memperkuat NKRI yang
berlandaskan norma kepatutan dan kewajaran dalam sebuah tata kehidupan
bernegara. Dalam hal ini daerah dapat menempuh kebijakan dalam segala hal
sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan yang
berlaku di NKRI, dan yang utama serta sangat penting diperhatikan adalah
kepentingan masyarakat.
5. Otda akan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan korupsi ke
daerah. Pendapat ini memang ada benarnya jika para penyelenggara
pemerintahan daerah, dunia usaha, dan masyarakat menampatkan diri dalam
kerangka politik masa lalu, yaitu Orde Baru yang sarat KKN dan segala bentuk
penyalahgunaan kekuasaan lainnya. Akan tetapi untuk menghindari praktek
negatif tersebut di atas, pilar-pilar penegakan demokrasi dan masyarakat madani
(civil society) seperti partai politik, media massa, serta lembaga-lembaga negara
259

seperti MPR, DPR, DPD, Presiden, BPK, MA, MK, KY, lembaga-lembaga pemerintahan (yang berada di bawah Presiden) termasuk aparat penegak hukum
seperti Kepolisian dan Kejaksaan, serta lembaga-lembada ekstra struktural
seperti Komisi Ombudsman, KPK, dll. termasuk juga LSM dan masyarakat dapat
memainkan perannya dalam mengawasi jalannya pemerintah daerah secara
optimal.

260

BAB XIV
TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK DAN BERSIH
(GOOD AND CLEAN GOVERNANCE)

A. PENGERTIAN
Menurut United Nations Development Program (UNDP) salah satu badan PBB,
governance (kepemerintahan) mempunyai tiga model, yaitu :
1. Economic Governance, meliputi proses pembuatan keputusan yang memfasilitasi kegiatan ekonomi di dalam negeri dan transaksi di antara penyelenggara
ekonomi, serta mempunyai implikasi terhadap kesetaraan, kemiskinan, dan
kualitas hidup.
2. Political Governance, mencakup proses pembuatan keputusan untuk perumus-an
kebijakan politik negara.
3. Administrative Governance, berupa sistem implementasi kebijakan.
Institusi dari governance meliputi tiga domein, yaitu state (negara atau
pemerintah), private sector (swasta atau dunia usaha), dan society (masyarakat)
yang saling berinteraksi. State berfungsi menciptakan lingkungan politik dan hukum
yang kondusif, privat sector menciptakan pekerjaan dan pendapatan, sedangkan
society berperan posi-tif dalam interaksi sosial, ekonomi, dan politik, termasuk
mengajak kelompok masyara-kat untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi,
sosial dan politik. Hubungan antar sektor dimaksud dapat digambarkan di bawah
ini.

NEGARA

SWASTA

MASYARAKAT

Adapun Istilah good and clean governance merupakan wacana yang mengiringi gerakan reformasi, yang dikaitkan dengan tuntutan akan pengelolaan
pemerintahan yang profesional, akuntabel, dan bebas dari korupsi, kolusi, dan
261

nepotisme. Pemerintahan yang bersih dari KKN merupakan bagian penting dari
pembangunan demokrasi, HAM, dan masyarakat madani di Indonesia.
Pengertian kepemerintahan yang baik (good governance), adalah sikap di
mana kekuasaan dilakukan oleh masyarakat yang diatur dalam berbagai tingkatan
pemerintahan negara yang berkaitan dengan sumber-sumber sosial-budaya,
politik, dan ekonomi. Dalam prakteknya mesti disertai bersih dan berwibawa, yang
merupakan model kepe-merintahan yang efektif, efisien, jujur, transparan, dan
bertanggung jawab, sehingga menyatu dalam istilah good and clean governance.
Sejalan dengan prinsip di atas, maka kepemerintahan yang baik, bersih, dan
berwibawa, berarti baik dan bersih dalam proses maupun hasil-hasilnya. Dalam hal
ini semua unsur dalam pemerintahan dapat bergerak secara sinergis, tidak saling
berbenturan, dan memperoleh dukungan dari rakyat.
Dalam pada itu pengertian kepemerintahan yang baik menurut para ahli
adalah :
1. Dadang Solihin :
Kepemerintahan yang baik adalah konsepsi tentang :
a. Penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, demokratis, dan efektif;
b. Suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah,
dunia usaha/sawasta, dan masyarakat.
2. Kooiman (1994) :
Kepemerintahan yang baik merupakan serangkaian proses interaksi sosial
politik antara pemerintah dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang
berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dan intervensi pemerintah atas
kepentingan-kepentingan tersebut.
3. Pinto (1994) :
Kepemerintahan yang baik adalah praktek penyelenggaraan kekuasaan dan
kewenangan oleh pemerintah dalam mengelola urusan pemerintahan secara
umum dan pembangunan ekonomi pada khususnya.

262

4. Bintoro Tjokroamidjojo :
Good governance lebih dapat berjalan dalam suatu sistem politik yang
demokratis, yang dalam masyarakat yang berkesadaran hukum, tegaknya
hukum untuk semua secara sama, dan dalam ekonomi di mana berjalan
mekanisme pasar secara sehat.
5. J.B. Kristiadi :
Good governance dapat dicapai melalui pengaturan yang tepat antara fungsi
pasar dengan fungsi organisasi, termasuk organisasi publik sehingga dicapai
transaksi-transaksi dengan biaya yang paling rendah.
6. UNDP :
Dalam dokumen kebijakannya yang berjudul Governance for Sustainable
Human Development (1977) mendefinisikan kepemerintahan sebagai :
Governance is the exercise of economic, political, and administrative authority
to a countriys affairs at all levels and means by which states promote social
cohesion, integration, and ensure the well being of their population.
(Kepemerintahan adalah pelaksanaan kewenangan/kekuasaan dalam bi-dang
ekonomi, politik, dan administratif untuk mengelola berbagai urusan negara
pada setiap tingkatannya dan merupakan instrumen kebijakan negara untuk
mendorong ter-ciptanya kondisi kesejahteraan integritas dan kohesitas sosial
dalam masyarakat).

B. PRINSIP-PRINSIP GOOD AND CLEAN GOVERNANCE


Untuk merealisasikan pemerintahan yang profesional dan akuntabel, dengan
mengacu pada UNDP, Lembaga Administrasi Negara RI (LANRI) merumuskan sembilan aspek fundamental (asas/prinsip) yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Partisipasi (partisipation), yaitu keikutsertaan warga masyarakat dalam pengambilan keputusan, baik langsung maupun melalui lembaga perwakilan yang sah
dan mewakili kepentingan mereka. Bentuk partisipasi dimaksud dibangun atas
263

dasar prinsip demokrasi, yakni kebebasan berkumpul dan mengeluarkan


pendapat secara konstruktif. Dalam hal ini perlu perlu deregulasi birokrasi,
sehingga proses sebuah usaha efektif dan efisien.
2. Penegakan hukum (rule of law), yaitu bahwa pengelolaan pemerintahan yang
profesional harus didukung oleh penegakan hukum yang berwibawa, karena
tanpa ditopang oleh aturan hukum dan penegakannya secara konsekuen, maka
partisipasi masyarakat dapat berubah menjadi tindakan yang anarkis. Dalam hal
ini perlu komitmen pemerintah yang mengandung unsur-unsur :
a. Supremasi hukum (supremacy of law);
b. Kepastian hukum (legal certainty);
c. Hukum yang responsif, yang disusun berdasarkan aspirasi masyarakat luas dan
mengakomodasi berbagai kebutuhan secara adil;
d. Konsisten dan nondiskriminatif;
e. Independensi peradilan.
3. Transparansi (transparency). Dalam hal mengelola negara terdapat delapan
unsur yang harus dilakukan secara transparan, yaitu :
a. Penetapan posisi, jabatan, atau kedudukan;
b. Kekayaan pejabat publik;
c. Pemberian penghargaan;
d. Penetapan kebijakan yang terkait dengan pencerahan kehidupan;
e. Kesehatan;
f. Moralitas para pejabat dan aparatur pelayanan publik;
g. Keamanan dan ketertiban;
h. Kebijakan strategis untuk pencerahan kehidupan masyarakat.
4. Responsif, yaitu tanggap terhadap persoalan-persoalan masyarakat. Dalam hal
ini pemerintah harus memahami kebutuhan masyarakat dan proaktif, bukan
menunggu mereka menyampaikan keinginan. Untuk itu setiap unsur pemerintah
harus memi-liki dua etika, yakni etika individual dan etika sosial.
5. Konsensus, yaitu bahwa keputusan apa pun harus dilakukan melalui kesepakatan
dalam suatu permusyawaratan. Melalui cara ini akan memuaskan semua pihak
sehingga semuanya merasa terikat untuk konsekuen melaksanakannya.
264

6. Kesetaraan (equity), yaitu kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan publik.


Hal ini mengharuskan setiap pelaksana pemerintah bersikap dan berperilaku adil
dalam hal pelayanan publik tanpa mengenal perbedaan keyakinan (agama), suku,
jenis kelamin, dan kelas sosial.
7. Efektivitas dan efisiensi (berdayaguna dan berhasilguna). Kriteria efektive diukur
diukur dengan parameter produk yang dapat menjangkau sebesar-besarnya
kepentingan masyarakat dari berbagai kelompok lapisan sosial, sedangkan
efisien diukur dengan rasionalitas biaya untuk memenuhi kebutuhan semua
masyarakat.
8. Akuntabilitas, yaitu pertanggunggugatan pejabat publik terhadap masyarakat
yang memberinya kewenangan untuk mengurus kepentingan mereka. Dalam hal
ini setiap pejabat publik dituntut mempertanggungjawabkan semua kebijakan,
keputusan, perbuatan, moral, maupun netralitas sikapnya terhadap masyarakat.
Pengertian akuntabilitas meliputi :
a. Keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis;
b. Mekanisme evaluasi atas insentif yang diberikan kepada para pejabat publik;
c. Mekanisme pertanggungjawaban kepada publik atas kinerja pemerintahan.
9. Visi strategis (strategic vision), yaitu pandangan-pandangan strategis untuk
menghadapi masa yang akan datang (forecasting). Artinya, kebijakan/keputusan
apa pun yang akan diambil saat ini harus memperhitungkan akibatnya di masa
depan (paling tidak 10- 20 tahun ke depan).

C. MANFAAT GOOD GOVERNANCE


1. Berkurangnya secara nyata praktek KKN di birokrasi yang antara lain ditunjukkan
dengan hal-hal sebagai berikut :
a. Tidak adanya manipulasi pajak;
b. Tidak adanya pungutan liar;
c. Tidak adanya manipulasi tanah;
d. Tidak adanya manipulasi kredit;
e. Tidak adanya penggelapan uang negara;
265

f. Tidak adanya pemalsuan dokumen;


g. Tidak adanya pembayaran fiktif;
h. Tidak adanya penggelembungan nilai kontrak (mark-up);
i. Tidak adanya uang komisi;
j. Tidak adanya penundaan pembayaran kepada rekanan;
k. Tidak adanya kelebihan pembayaran;
l. Tidak adanya ketekoran biaya;
m. Proses pelelangan (tender) berjalan dengan baik.
2. Terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih,
efektif, efisien, transparan, profesional dan akuntabel :
a. Sistem kelembagaan lebih efektif, ramping, fleksibel;
b. Kualitas tata laksana dan hubungan kerja antar lembaga di pusat, dan antara
pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota lebih baik;
c. Sistem administrasi pendukung dan kearsipan lebih efektif dan efisien;
d. Dokumen/arsip negara dapat diselamatkan, dilestarikan, dan terpelihara
dengan baik;
3. Terhapusnya peraturan perundang-undangan dan tindakan yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, kelompok, atau golongan masyarakat :
a. Kualitas pelayanan kepada masyarakat dan dunia usaha (swasta) meningkat;
b. SDM, prasarana, dan fasilitas pelayanan menjadi lebih baik;
c. Berkurangnya hambatan terhadap penyelenggaraan pelayanan publik;
d. Prosedur dan mekanisme serta biaya yang diperlukan dalam pelayanan publik
lebih baku dan jelas;
e. Penerapan sistem merit dalam pelayanan;
f. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pelayanan publik;
g. Penanganan pengaduan masyarakat lebih intensif.
4. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan pelayanan
publik :

Berjalannya mekanisme dialog dan musyawarah terbuka dengan

masyarakat dalam perumusan program dan kebijakan layanan publik.


5. Terjaminnya konsistensi dan kepastian hukum sesuai dengan peraturan
perundang-undangan baik di pusat maupun di daerah :
266

a. Hukum menjadi landasan bertindak bagi aparatur pemerintah dan masyarakat


untuk mewujudkan pelayanan publik yang baik;
b. Kalangan dunia usaha/swasta merasa lebih aman dan terjamin ketika
menanamkan modal dan menjalankan usahanya karena ada aturan main (rule
of the game) yang tegas, jelas, dan mudah dipahami oleh masyarakat;
c. Tidak akan ada kebingungan di kalangan pemerintah daerah dalam melaksanakan tugasnya serta berkurangnya konflik antarpemerintah daerah serta
antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

D. PENERAPAN ASAS-ASAS KEPEMERINTAHAN YANG BAIK


Dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia pasca gerakan
reformasi nasional, tercermin dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN, dan Undang-Undang No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang memuat asas-asas umum pemerintahan yang mencakup :
1. Asas Kepastian Hukum, yang mengutamakan landasan peraturan perundangan,
kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan negara.
2. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara, yang mengutamakan landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan negara.
3. Asas Kepentingan Umum, yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara
aspiratif, akomodatif, dan selektif.
4. Asas Keterbukaan, dengan membuka diri terhadap hak-hak masyarakat untuk
mem-peroleh informasi yang benar, bersikap jujur, dan tidak diskriminatif
tentang penye-lenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan
atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.
5. Asas Proporsionalitas, yang mengutamakan keseimbangan antara hak dengan
kewajiban penyelenggara negara.
6. Asas Profesionalitas, yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. Asas Akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan dan hasil kegiatan penyelenggaraan
267

negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

E. HUBUNGAN ANTARA DESENTRALISASI DENGAN GOOD GOVERNANCE


1. Pemberdayaan pemerintah daerah akan memacu partisipasi publik yang lebih
besar dalam pengambilan keputusan.
2. Desentralisasi memungkinkan pemerintah daerah menghasilkan kebijakan yang
memiliki local preference lebih tinggi.
3. Pemerintah daerah cenderung lebih berhati-hati dan akuntabel ketika mengelola
dana yang dihasilkan secara lokal, tinimbang dana yang didistribusikan dari
pusat.
4. Masyarakat lebih mudah mengakses informasi dan keputusan publik di tingkat
lokal.

F. GOOD CORPORATE GOVERNANCE


Dalam bidang ekonomi, akibat krisis moneter yang berkepanjangan sejak tahun
1997 terutama di sektor pelaku ekonomi baik milik negara maupun swasta,
menunjukkan kinerja yang rendah sehingga tidak mampu memberi kontribusi
secara optimal, baik untuk kepentingan pemilik, stake holders, karyawan,
masyarakat, maupun pihak terkait lainnya.
Para pelaku ekonomi swasta pada umumnya menunjukkan kesalahan manajemen, sehingga tidak memiliki keunggulan atau daya saing yang kuat di pasar
internasional, bahkan kondisi internal perusahaan masuk dalam kondisi tidak sehat.
Demikian juga para pelaku ekonomi milik negara, sudah bukan rahasia umum
bahwa sebagian besar kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) jauh dari apa yang
diharapkan masyarakat, dalam arti, kontribusinya terhadap negara untuk kepentingan rakyat masih belum memadai padahal aset di atas Rp 900 trilyun (pada
waktu itu) yang tersebar di berbagai sektor usaha potensinya cukup besar.
268

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka salah satu upaya dalam mencari
solusinya adalah memberdayakan korporasi, baik terhadap perusahaan milik negara
maupun swasta, yaitu melalui penerapan Good Corporate Governance (GCG) secara
nyata bukan hanya sekedar retorika.
GCG tidak terlepas atau tidak dapat dipisahkan dengan konsep dan sistem
korporasi sendiri. Menurut Tjager yang dikutip Sedarmayanti (2007:52), korporasi
(corporate) adalah mekanisme yang dibangun agar berbagai pihak dapat memberkan kontribusi berupa modal, keahlian, dan tenaga, demi manfaat bersama. Adapun
korporasi pemerintahan (corporate governance) adalah seperangkat peraturan yang
mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus/pengelola perusaha-an,
pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan (stakeholders) internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan
kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan
perusahaan. Sementara menurut Cadbury Committee tahun 1992 yang pertama
kali memperkenalkan istilah good corporate governance, adalah suatu sistem yang
berfungsi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi (perusahaan).
Dalam kaitan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya CG, maka OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) telah mengembangkan prinsip
GCG, yaitu :
1. Kewajaran (Fairness), yaitu perlakuan yang sama terhadap pemegang saham terutama pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan
keterbukaan informasi yang penting serta melarang pembagian untuk pihak
sendiri dan per-dagangan saham oleh orang dalam.
2. Transparansi (Disclosure & Transparency), yaitu hak pemegang saham, yang
harus diberi informasi benar dan tepat waktu mengenai perusahaan, dapat
berperanserta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan mendasar
atas perusahaan dan memperoleh bagian keuntungan perusahaan.
3. Akuntabilitas (Acccountability), yaitu tanggung jawab manajemen melalui pengawasan efektif berdasarkan keseimbangan kekuasaan antara manajer, pemegang
saham, dewan komisaris, dan auditor, merupakan bentuk pertanggungjawaban
manajemen kepada perusahaan dan pemegang saham.
269

4. Responsibilitas (Responsibility), yaitu peran pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum dan kerjasama yang aktif antara perusahaan
serta pemegang kepentingan dalam menciptakan kekayaan, lapangan kerja, dan
perusahaan yang sehat dari aspek keuangan.
Prinsip GCG ini mencakup lima bidang utama, yaitu :
1. Hak pemegang saham dan perlindungannya.
2. Peran karyawan dan pihak yang berkepentingan lainnya.
3. Pengungkapan yang akurat dan tepat waktu serta transparan sehubungan
dengan struktur dan operasi korporasi.
4. Tanggung jawab ke dewan (dewan komisaris maupun direksi) terhadap perusahaan.
5. Pemegang saham dan pihak berkepentingan lainnya.

270

BAB XV
MASYARAKAT MADANI

A. PENGERTIAN
Istilah masyarakat madani (civil society) pertama kali digunakan oleh filsuf
Scotlandia bernama Adam Ferguson. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan
masyarakat kota yang sudah tersendtuh peradaban maju, yaitu suatu masyarakat
beradab yang membedakan dirinya dengan masyarakat pedalaman yang belum
tersentuh kemajuan. (Syahrian Syarbaini, 2011:187).

Kemudian

dimunculkan

kembali oleh Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia. Menurut
beliau masyarakat madani merupakan sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip
moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan
masyarakat. Masyarakat madani mempunyai ciri-ciri yang khas, yaitu kemajemukan budaya (multicultural), hubungan timbal balik (reprocity), serta sikap saling
memahami dan menghargai. Dengan demikian masyarakat madani merupakan
guiding idea dalam melaksanakan ide-ide yang mendasari kehidupan
masyarakat, yaitu prinsip moral, keadilan, kesamaan, musyawarah, dan demokrasi.
Dawam Rahardjo (dalam A. Ubaedillah, 2010:177) mendefisikan masyarakat
madani sebagai proses penciptaan peradaban yang mengacu kepada nilai-nilai
kebijakan bersama.

Dalam masyarakat madani warga negara bekerjasama

membangun ikatan sosial, jaringan produktif, dan solidaritas kemanusiaan yang


bersifat nonnegara. Dasar utamanya adalah persatuan dan integrasi sosial yang
didasarkan pada suatu pedoman hidup, menghindarkan diri dari konflik dan
permusuhan yang menyebabkan perpecahan, dan hidup dalam suatu persaudaraan.
Menurut Azyumardi Azra (ibid), masyarakat madani lebih dari sekedar
gerakan prodemokrasi, karena ia juga mengacu pada pembentukan masyarakat
berkualitas dan ber-tamaddun (civility).

Adapun menurut Nurcholish Madjid,

makna masyarakat madani berasal dari kata civility, yang mengandung makna
toleransi, kesediaan pribadi-pribadi untuk menerima pelbagai macam pandangan
politik dan tingkah laku sosial.

Sementara menurut Hidayat Nurwahid, ciri


271

masyarakat madani adalah masyarakat yang memegang teguh ideologi yang benar,
berakhlak mulia, serta secara politik, ekonomi, budaya bersifat mandiri, dan
memiliki pemerintahan sipil.
Selain istilah masyarakat madani, untuk maksud yang sama dikenal pula
dengan istilah-istilah lain yang oleh Dawam Rahardjo dirumuskan beberapa
macam :
1. Indonesia :
a. Masyarakat Sipil (Mansour Fakih);
b. Masyarakat Warga (Soetandyo Wignjosubroto);
c. Masyarakat Kewargaan (Frans Magnis Suseno dan M. Ryaas Rasyid);
d. Masyarakat Madani (Anwar Ibrahim, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo,
Azyumardi Azra);
e. Civil Society, tidak diterjemahkan (A.S. Hikam).
2. Asing :
a. Koinonia Politike (Aristoteles);
b. Societas Civilis (Cicero);
c. Comonitas Civilis, Comonitas Politica, Societe Civile (Tocquiville);
d. Burgerlishe Gesellschaft (F. Hegerl);
e. Civil Society (Adam Ferguson);
f. Civitas Etat.

B. LATAR BELAKANG

Masyarakat madani timbul karena faktor-faktor :


1. Adanya

penguasa

politik

yang

cenderung

mendominasi

(menguasai)

masyarakat dalam segala bidang sehingga masyarakat harus patuh dan taat
kepada penguasa. Dalam hal ini tidak ada keseimbangan pembagian yang
proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga negara dalam seluruh
aspek kehidupan mereka.
2. Masyarakat diasumsikan sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan yang
baik (= bodoh) dibandingkan dengan penguasa/pemerintah. Dalam hal ini
272

warga negara tidak memiliki kebebasan untuk menjalankan aktivitas kesehariannya.


3. Adanya usaha membatasi ruang gerak masyarakat dalam kehidupan politik.
Keadaan ini menyulitkan masyarakat dalam mengemukakan pendapat, saran,
maupun kritik kepada penguasa.

C. KARAKTERISTIK MASYARAKAT MADANI


1. Diakui adanya pluralisme, artinya, pluralitas (kemajemukan) telah menjadi suatu
keniscayaan yang tidak dapat dielakkan, sehingga mau tidak mau telah menjadi
kaidah yang abadi.

Pluralisme merupakan prasyarat masyarakat madani,

sehingga harus dipahami tidak hanya sebatas mengakui dan menerima


kenyataan sosial yang beragam, tetapi juga harus disertai sikap yang tulus
menerima perbedaan sebagai suatu yang alamiah dan rahmat Tuhan yang
bermnilai positif bagi kehidupan masyarakat.
2. Tingginya sikap toleransi, yaitu sikap saling menghargai atas perbedaan
pendapat dan pendirian orang lain.

Menurut Nurcholis Madjid, toleransi

menyangkut persoalan ajaran dan kewajiban melaksanakan ajaran itu.


Toleransi bukan sekedar tuntutan sosial masyarakat majemuk belaka, tetapi
sudah harus menjadi bagian penting dari pelaksanaan ajaran moral agama.
3. Wilayah publik yang bebas (free public sphere), yaitu ruang publik yang bebas
sebagai sarana untuk mengemukakan pendapat warga masyarakat. Di wilayah
ini semua warga negara memiliki posisi dan hak serta kewajiban yang sama
untuk melakukan transaksi sosial politik tanpa rasa takut dan terancam oleh
kekuatan-kekuatan di luar civil society.
4. Tegaknya prinsip demokrasi.

Demokrasi bukan sekedar kebebasan dan

persaingan, tetapi adalah juga suatu pilihan untuk bersama-sama membangun


dan memperjuangkan perikehidupan warga masyarakat yang sejahtera.
5. Keadilan sosial, yaitu adanya keseimbangan dan pembagian yang proporsional
atas hak dan kewajiban setiap warga negara dalam segala aspek kehidupan :
ekonomi, politik, sosial-budaya, pengetahuan, dan kesempatan. Keadilan sosial
273

adalah hilangnya monopoli dan pemusatan salah satu aspek kehidupan yang
dilakukan oleh kelompok atau golongan tertentu.

D. KELEMBAGAAN PENEGAK MASYARAKAT MADANI


Kelembagaan (institusi) masyarakat madani adalah lembaga-lembaga yang
dibentuk atas dasar motivasi dan kesadaran penuh dari diri individu, kelompok,
dan masyarakat tanpa ada instruksi, baik yang bersifat resmi dari pemerintah
maupun dari individu, kelompok, dan masyarakat tertentu. Landasan pembentukan lembaga ini adalah idealisme perubahan (restorasi) ke arah kehidupan yang
bebas (independen) dan man-diri. Artinya, lembaga-lembaga dimaksud merupakan
manifestasi dari permberdayaan masyarakat yang memiliki pengetahuan,
kesadaran, disiplin, dan kedewasaan berpikir, yang bertujuan memberi perlindungan bagi diri, kelompok, masyarakat, dan bangsa yang tidak berdaya dari
penguasaan negara/pemerintah.
Karakteristik lembaga masyarakat madani hendaknya :
1. Independen, yaitu bebas dari pengaruh dan intervensi lembaga lain, baik
negara/ pemerintah maupun nonpemerintah.
2. Mandiri, yaitu memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas
pokok dan fungsinya tanpa keterlibatan lembaga lain di luar lembaganya.
3. Swaorganisasi, yaitu bahwa pengelolaan dan pengendalian lembaga dilakukan
secara swadaya oleh sumber daya manusia yang ada di lembaga sendiri.
4. Transparan, yaitu bahwa pengelolaan dan pengendalian dilakukan secara
terbuka.
5. Idealis, yaitu bahwa pengelolaan dan pengendalian serta pelaksanaan lembaga
diselenggarakan dengan kejujuran, ikhlas, dan ditujukan bagi kesejahteraan
masyarakat.
6. Demokratis, yaitu bahwa lembaga yang dibentuk, dikelola, dan dikendalikan
dari, oleh, dan untuk masyarakat sendiri.
7. Disiplin, yaitu bahwa lembaga dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya
taat dan setia terhadap perundang-undangan yang berlaku.
274

Bentuk kelembagaan masyarakat madani ini dapat diklasifikasikan dalam


tiga macam :
1. Lembaga Sosial, seperti :
a. Organisasi Sosial;
b. Organisasi Kepemudaan, seperti KNPI, HMI, PII, KAMMI, PMII, dll.
c. Organisasi Pelajar/Kemahasiswaan, seperti OSIS, BEM, dll.
d. Organisasi Profesi, seperti PGRI, IDI, PERSADI, ISEI, LBH, PWI, dll.
e. Organisasi kemasyarakatan, seperti MKGR, Kosgoro, dll.
f. Organisasi/Partai politik (Parpol);
g. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM);
2. Lembaga Keagamaan, seperti :
a. Keagamaan Islam, seperti NU, Muhammadyah, Persatuan Islam (Persis), AlIrsyad Al-Islamiyah, Al-Washliyah, PUI, HTI, termasuk MUI;
b. Keagamaan Kristen, seperti PGI.
c. Kelembagaan Katholik, seperti KWI.
d. Kelembagaan Hindu, seperti Parisadha Hindu Dharma;
e. Kelembagaan Budha, seperti Walubi.
3. Lembaga yang berbentuk Paguyuban :
Dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat untuk melakukan pengelolaan
dan pengendalian program-program bagi peningkatan kekerabatan/kekeluargaan, biasanya berdasarkan kedaerahan atau kesukuan.

Misalnya

Paguyuban Pasundan, Rukun Wargi Cianjur, Rukun Wargi Cikundul, Ikatan


Keluarga Palembang, dll.

E. MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI INDONESIA


Indonesia sebagai masyarakat madani adalah sebuah kenyataan. Jauh sebelum
merdeka dan menjadi sebuah negara, sebenarnya masyarakat sipil telah ada dan
berkembang, diwakili oleh beragam kiprah organisasi sosial keagamaan dan
pergerakan nasional dalam perjuangan merebut kemerdekaan dari kekuasaan
275

penjajahan.

Mereka berjuang menegakkan HAM dan perlawanan terhadap

kekuasaan kolonial (Belanda, Jepang). Lihat misalnya organisasi keagamaan seperti


Syarikat Islam (SI), Muhammadyah,

Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Islam,

demikian juga organisasi-organisasi lainnya seperti Budi Utomo, Indische Partij,


Perhimpunan Indonesa (di Belanda), dll. Sifat kemandirian dan kesukarelaan para
pengurus dan anggotanya merupakan karakter khas dari sejarah masyarakat
madani Indonesia.
Pada masa reformasi ini, Indonesia membutuhkan tumbuh dan berkembangnya masyarakat madani, lebih-lebih dengan kondisi Indonesia yang dilanda
euforia demokrasi, semangat otonomi daerah, dan derasnya arus globalisasi,
membutuhkan masyarakat yang mempunyai kemauan dan kemampuan hidup
bersama dalam sikap saling menghargai, toleransi, kepedulian, kesantunan,
kesetiakawanan sosial.
Pengembangan masyarakat madani Indonesia tidak dapat dipisahkan dari
lingkungan dan pengalaman sejarah bangsa Indonesia seperti tersebut di atas.
Kebudayaan, adat-istiadat, kebiasaan, pandangan hidup, perasaan senasib dan
sepenanggungan, cita-cita dan hasrat bersama sebagai warga bangsa dan negara
tidak mungkin lepas dari lingkungan sejarahnya. Sekarang ini tatkala hidup di
zaman modern di mana interaksi tidak saja berlangsung secara domestik dan
regional, tetapi juga secara global (era globalisasi), maka masyarakat madani perlu
mendapat perhatian khusus.
Untuk membangun masyarakat madani di Indonesia, menurut Srijanti
(2009:207) terdapat enam faktor yang perlu mendapat perhatian, yaitu :
1. Perlu perbaikan di bidang ekonomi dalam rangka meningkatkan pendapatan
masyarakat, dan dapat mendukung kegiatan pemerintahan dan pembangunan.
2. Tumbuhnya intelektualitas dalam rangka membangun sumber daya manusia
yang memiliki komitmen dan independen.
3. Terjadinya pergeseran budaya dari masyarakat yang berbudaya paternalistik ke
budaya modern dan independen.
4. Berkembangnya pluralisme dalam kehidupan yang beragam.
5. Adanya partisipasi aktif dalam menciptakan tata pamong yang baik.
276

6. Adanya keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME yang melandasi moral
kehidupan.
Sementara itu menurut A. Ubaedillah (2010:188), terdapat tiga strategi yang
ditawarkan untuk mewujudkan masyarakat madani di Indonesia, yaitu :
1. Integrasi nasional dan politik.

Pandangan ini menyatakan bahwa sistem

demokrasi tidak mungkin berlangsung dalam kenyataan hidup sehari-hari


dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara
yang kuat.
2. Reformasi sistem politik demokrasi. Untuk membangun demokrasi harus lebih
diutamakan pembangunan lembaga-lembaga politik yang demokratis.
3. Paradigma membangun masyarakat madani dengan menekankan proses
pendidikan dan penyadaran politik warga negara, khususnya di kalangan kelas
menegah. Hal ini mengingat demokrasi membutuhkan topangan kultural selain
dukungan struktural.

277

BAB XVI
GLOBALISASI

A. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN


Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka dunia seakan tidak
mengenal batas wilayah, apakah itu daerah, nasional, regional, dan internasional,
termasuk wilayah yurisdiksi dari negara-negara. Semuanya mengglobal, menyeluruh, menyatu, sehingga disebut globalisasi atau kesejagatan. Globalisasi adalah
masuknya atau meluasnya pengaruh dari suatu wilayah/negara ke wilayah/negara
lain dan/atau proses masuknya suatu negara dalam pergaulan dunia. (Srijanti,
2009:245).
Proses globalisasi mengandung implikasi bahwa suatu aktivitas yang sebelumnya terbatas jangkauannya, misalnya daerah dan nasional, secara bertahap
berkembang menjadi tidak terbatas pada suatu negara (borderless). Dalam kondisi
demikian, maka pengaruh berbagai aspek dari suatu wilayah/negara kepada
wilayah/negara lain dan sebaliknya tidak dapat dihindari.

Pengaruh dimaksud

misalnya dalam hal ekonomi, politik, sosial-budaya, dsb. Yang paling menonjol
pengaruh ini setelah berkembangnya kemajuan di bidang teknologi informasi dan
komunikasi, sehingga tempat-tempat di mana pun di jagat ini seakan tidak ada
jarak.
Globalisasi melalui berbagai media informasi yang semakin canggih (televisi,
satelit, telepon, telepon seluler, dan internet) menyebabkan berbagai pesan, kreasi,
peristiwa, tontonan, dan pemikiran manusia merebak dengan cepat, melalui proses
digitalisasi. Sayangnya, proses globalisasi ini berjalan sepihak, yaitu dari negaranegara maju ke negara-negara sedang berkembang (developing countries) dan
terbelakang (underdeveloped countries). Dengan demikian, besar kemungkinannya
nasionalisme termasuk nasionalisme Indonesia terkikis oleh proses globalisasi.
Karena itu untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks dan
berkembang dengan cepat, diperlukan ide-ide segar yang dikembangkan dalam
konteks kultural Indonesia melalui berbagai hal, termasuk moral, agama, pendidikpendidikan karakter, dsb.
278

Dalam era globalisasi sekarang ini, tidaklah mungkin suatu negara hidup dan
membangun kemajuan dalam posisi mengisolasi diri. Pengaruh antarbangsa/negara
lewat teknologi informasi dan industri, perdagangan uang dan komoditas, adalah
suatu kenyataan. Dan setiap bangsa/negara suka tidak suka, harus hidup dalam
kondisi seperti itu. Itulah sebabnya setiap bangsa/negara termasuk Indonesia harus
memiliki daya saing bangsa.
Dalam rangka memperkuat daya saing bangsa ini, menurut Jusuf Kalla (2005)
dalam Srijanti (ibid:245), globalisasi adalah sebagai kemauan bekerja keras,
kemauan dan kemampuan mengolah sumber daya alam, serta kemampuan dan
kompetensi yang dihasilkan oleh pendidikan dan belajar secara tekun dan ulet. Hal
ini merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia. Rangkaian sikap dan nilai budaya
progresif agar ditambah lagi dengan sikap dan orientasi akan masa depan,
menghargai waktu dan disiplin, serta hidup hemat. Membangun dan memperkuat
kepercayaan sosial juga merupakan modal untuk mau dan sanggup bekerjasama.

B. TANTANGAN DAN ANCAMAN GLOBALISASI BAGI INDONESIA


1. Nasionalisme dan Internasionalisme.
Sejak pertengahan kedua abad ke-20, ideologi yang populer di Asia, Afrika, dan
Amerika Latin, adalah nasionalisme. Dengan nasionalisme ini negara-negara di
wilayah benua tersebut bangkit dan merdeka. Mereka menganggap imperialisme sama dengan kapitalisme, maka sebagai antitesa negara-negara yang baru
merdeka, pada umumnya berusaha menerapkan sistem ekonomi yang sosialistis,
namun disesuaikan dengan kondisi negara masing-masing. Kendati mereka tidak
menerapkan sistem ekonomi kapitalistik, akan tetapi sistem politiknya, yaitu
demokrasi yang diilhami oleh negara-negara Barat (imperialis/kapitalis) diterapkan yang disesuaikan dengan kondisi negara mereka masing-masing.
Pada dekade 1970-an, terjadi fenomena lain, yaitu negara-negara yang baru
merdeka termasuk Indonesia mulai menggunakan sistem ekonomi yang berdasarkan mekanisme pasar, itu artinya mengikuti sistem ekonomi kapitalistis
walaupun secara terkendali.

Dampak positifnya membuahkan hasil berupa


279

kebangkitan ekonomi di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Ditinjau dari sudut

pandang ekonomi, saat ini kekuatan ekonomi Eropa Barat dan Amerika
cenderung menurun dan semakin tertandingi oleh negara-negara di Asia Timur
dan Tenggara tadi. Akan tetapi di bidang militer dan sistem tata nilai tetap
berada di tangan Eropa Barat dan Amerika. Sistem dan tata nilai ini pada dasarnya berakar dari sumber yang sama, yang dikenal sebagai Western Civilization.
Globalisasi telah mengubah wajah ekonomi negara-negara berkembang
termasuk Indonesia yang dulunya sosialis menjadi pasar terbuka. Itu artinya,
adanya interaksi dengan negara-negara Barat, membuat semangat nasionalisme
mereka menurun, oleh sebab setiap orang berusaha memaksimalkan kepuasannya dan dapat hidup di negara mana saja berdasarkan kompetensi dan
komitmennya.
2. Budaya Barat dan Budaya Indonesia.
Nilai-nilai apakah yang dapat disebut sebagai budaya atau khas Indonesia? Dari
berbagai literatur dan pengalaman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara, sekurang-kurangnya terdapat tiga konsep yang mencerminkan
khas Indonesia, yaitu musyawarah, mufakat, dan gotong royong. Inilah yang kita
kenal dengan nilai-nilai Pancasila, oleh karena berangkat dari khazanah nilai-nilai
yang hidup, dan berkembang sejak zaman dahulu di nusantara sebagai pancaran
dari Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah untuk mufakat/demokrasi, dalam rangka mencapai keadilan sosial. Inilah pula yang membedakanya
dengan budaya Barat yang memang demokratis akan tetapi lebih menonjolkan
individualisme/liberalisme, sehingga memunculkan kapitalisme. Yang berlaku
adalah hukum rimba, siapa menang, siapa dapat.
Kewajiban seluruh elemen bangsa untuk bagaimana menyublimasikan
nilai-nilai khas Indonesia itu ke dalam tatanan nilai universal, di seluruh dunia.
Telah terbuki pula bagi kita bahwa ideologi Pancasila memang lebih unggul jika
dibandingkan dengan ideologi-ideologi apa pun di dunia.
3. Industri dan Pertanian.
280

Indonesia adalah negara agraris, yang hampir 48 % penduduknya hidup dari


sektor pertanian. Produk utama Indonesia adalah pangan untuk kebutuhan
dalam negeri, perkebunan dan hasil hutan, serta perikanan untuk ekspor.
Sementara negara-negara maju (Barat) berkembang dalam hal industri dan jasa.
Tatkala negara-negara maju telah merelokasi industrinya ke negara-negara
berkembang termasuk Indonesia karena proses globalisasi, maka wajah Indonesia berubah secara bertahap dari pertanian menjadi industri. Lihatlah hutanhutan yang walaupun perlahan tetapi pasti berubah menjadi area perkebunan,
industri dan pemukiman, demikian halnya sawah ladang yang berubah menjadi
area pabrikan dan permukiman, kampung-kampung berubah menjadi perkotaan.
Maka diperlukan keseimbangan ekologis agar Indonesia tidak menjadi wilayah
gersang.
4. Ekonomi.
Di bidang ekonomi, globalisasi mengandung makna bahwa semua hambatan
transaksi perdagangan barang maupun jasa, pergerakan manusia maupun
investasi antarnegara, secara bertahap akan dikurangi, bahkan dalam jangka
waktu tertentu akan hapus.
ekonomi dalam skala

Globalisasi ekonomi adalah proses liberalisasi

mondial (berkaitan dengan seluruh dunia), sehingga

mengakibatkan barang dan jasa bebas masuk dan keluar antarnegara tanpa
rintangan, baik yang bersifat tarif maupun nontarif. Dengan begitu, maka pasar
di setiap negara mengalami proses internasionalisasi yang ditandai dengan
kompetisi antar-pesaing dari berbagai negara. Mau tidak mau setiap negara
harus berlomba agar produknya tetap laku (marketable), dan untuk itu tidak ada
pilihan lain kecuali bersaing dalam harga, kualitas, dan syarat-syarat jual-beli
lainnya.
Arah perdagangan internasional yang lebih bebas, modal dan investasi
antarnegara bergerak lebih bebas, akan mengalir ke negara-negara yang dalam
jangka panjang lebih aman dan memberikan keuntungan lebih besar. Karenanya,
setiap negara berlomba menciptakan iklim yang semakin kondusif untuk
investasi, baik dalam negeri lebih-lebih dari luar negeri. Persetujuan dan
281

kesepakatan liberalisasi perdagangan dalam barang dan jasa termuat dalam


berbagai persetujuan, misalnya GATT (General Agreement on Trade dan Tariffs),
dan APEC (Asia Pasific Economic Cooperation).
Dalam globalisasi ekonomi ini, bangsa Indonesia harus memperhatikan
berbagai faktor, antara lain (Srijanti, ibid:249) :
a. Menjaga kestabilan politik dalam jangka panjang, sehingga menjamin kepastian hukum bagi investasi;
b. Menjaga kestabilan ekonomi makro (economic fundamentals) dengan kestabilan nilai tukar rupiah dan sukubunga, mengoptimalkan fungsi bank sentral,
dan melakukan koordinasi dengan otoritas fiskal;
c. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yaitu kompetensi dan
komitmen melalui demokratisasi pendidikan;
d. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengaplikasikannya
dalam kehidupan masyarakat;
e. Memperbaiki prasarana ekonomi (jalan, jembatan, transportasi, pasar, dll.);
f. Meningkatkan kemapuan berwirausaha (entrepreneurshif);
g. Menyediakan lembaga-lembaga ekonomi yang modern (perbankan, lembaga
keuangan nonbank, pasar modal, dll.);
h. Membiasakan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya perubahan;
i. Memastikan penegakkan hukum (law enforcement);
j. Mengeksploitasi sumber daya alam secara proporsional.
5. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Peranan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) amatlah dominan.

Iptek

merupakan salah satu kunci kemajuan suatu bangsa, karena secara langsung
merupakan faktor penentu dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Negara-negara yang maju ekonominya, karena ditunjang oleh keunggulan ipteknya. Karena itu pengembangan iptek sudah merupakan suatu sine-quanon (syarat mutlak). Akan tetapi jangan pula melupakan unsur manusia yang mempunyai
hati nurani (kolbu) dan perasaan (emosi), sehingga berbudaya, beragama, berfalsafah, dan bertradisi, sehingga karenanya harus dipelajari, dipahami, dilestari282

kan, dan dikembangkan sebagai landasan bagi pengembangan aspek-aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Guna menghadapi globalisasi iptek, Matrik Nasional Riset dan Teknologi
mengembangkan program yang meliputi lima bidang, yaitu :
a. Kebutuhan Dasar Manusia : Sebagai unsur mempertahankan dan mempertinggi nilai manusia sebagai potensi pembangunan nasional;
b. Sumber Daya Alam dan Energi : Karena manusia membutuhkan sumber daya
ini sebagai bahan dan sarana produksi;
c. Industrialisasi : Karena manusia membutuhkan industri untuk menghasilkan
berbagai barang dan jasa, di samping kebutuhan dasarnya guna meningkatkan
kualitas hidup;
d. Pertahanan Keamanan : Karena manusia perlu mempertahankan dirinya,
sesamanya, dan miliknya terhadap ancaman-ancaman, dan mengingat bahwa
berbagai hasil teknologi hankam dapat digunakan juga untuk segi-segi selain
hankam;
e. Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Falsafah : Sebagai segi-segi kehidupan yang
mendasari dan mendukung keempat bidang sebelumnya, manusia dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya, memanfaatkan sumber daya alam dan
energi, menjalankan industrialisasi, dan hankam, akan selalu diarahkan oleh
pengetahuan ekonomi, analisis sosial, budaya, dan falsafahnya.
6. Etika dan Efisiensi.
Relevansi etika sosial dan efisiensi dapat digambarkan secara sederhana, misalnya jika seorang pemimpin menyalahgunakan kewenangan yang dimilikinya,
pasti menimbulkan korban. Karena kewenangan tersebut bersifat publik, maka
yang dirugikan adalah publik, yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya
ekonomi nasional, artinya tidak efisien. Bagi Indonesia, akhlak menjadi penting
karena masyarakat kita paternalistik, yaitu masyarakat yang banyak berorientasi
ke atas. Pengamalan dan penegakkan akhlak dalam pemerintahan dan dunia
usaha merupakan salah satu prasyarat dalam upaya untuk mengentaskan
kemiskinan serta mengurangi kesenjangan di berbagai bidang. Terkait dengan
283

upaya pengingkatan etika, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :


a. Menyusun kode etik profesi yang sesuai dengan karakter dan budaya bangsa;
b. Meningkatkan iman dan ketaqwaan kepada Tuhan YME sebagai landasan
dalam berpikir dan bertindak;
c. Mengembangkan kepribadian bangsa, yaitu jujur, ramah, sopan, dan terbuka.

C. MEMPERKUAT DAYA TAHAN DAN DAYA SAING BANGSA


Globalisasi sangat mempengaruhi seluruh perikehidupan manusia, termasuk di
Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan
(hankam). Borderless atau dunia tanpa batas merupakan suatu tantangan bahkan
ancaman bagi keberadaan NKRI. Karena itu globalisasi tidak boleh menghilangkan
jiwa, semangat, karakter, dan budaya Indonesia. Globalisasi jangan terlalu ditakutkan, yang penting bagaimana bangsa Indonesia berperan aktif dalam mendapatkan
manfaat dari globalisasi. Untuk itu perlu memiliki daya tahan dan daya saing. Daya
tahan merupakan upaya mempertahankan identitas, karakter, wilayah, kedaulatan,
dan keselamatan bangsa.

Sedangkan daya saing adalah budaya unggul, yaitu

semangat memperbaiki diri, sehingga menjadi bangsa yang kompetitif secara


nasional, dan secara individual memiliki daya saing melalui kompetensi dan
komitmen.
Upaya meningkatkan daya tahan dan daya saing dalam menghadapi globalisasi
dimaksud, dengan jalan :
a. Meningkatkan Daya Saing Individual Manusia Indonesia :
1) Aspek Intelektual :
Kemampuan berpikir (brainpower) merupakan keunggulan kompetitif termasuk di organisasi bisnis. Ilmu pengetahuan (knowledge) digambarkan sebagai
sumber kekayaan, menggantikan tanah (dalam era pertanian tingkat lanjut),
tenaga kerja (dalam era industri awal), dan modal (dalam era industri tingkat
lanjut). Dengan demikian dalam era globalisasi, tidak bisa lagi mengandalkan
tanah yang dulu sangat luas sekarang menjadi sempit, tenaga kerja yang dulu
banyak, sekarang tidak lagi perlu banyak karena mekanisasi, dan modal pun
284

bukan lagi menjadi andalan yang utama. Sekarang ini justru ilmu pengetahuan yang menjadi andalan utama, karena dengan ilmu pengetahuan akan
memungkinkan orang/masyarakat/bangsa memiliki kekayaan. Tak salah jika
seorang filsuf Inggris, Francis Bacon (1561-1626), mengatakan bahwa knowledge is the power.
2) Aspek Kreativitas.
Kreativitas adalah ciri khas yang dimiliki individu yang menandakan adanya
kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang samasekali baru, atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya, menjadi sebuah karya baru
yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungan untuk menghadapi
permasalahan, serta mencari alternatif pemecahannya. Sumber daya yang
kreatif dan inovatif harus senantiasa membuka diri, terus-menerus mengubah, dan dapat mengikuti perubahan yang terjadi sesuai dengan tuntutan
kebutuhan mutakhir, serta memanfaatkan berbagai peluang dan tangguh
dalam menghadapi berbagai tantangan.
3) Aspek Moral dan Sikap.
Menurut Shafer (1979), moral pada dasarnya merupakan rangkaian nilai
tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi. Moral merupakan
kaidah dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya
dengan kelompok sosial dan masyarakat. Moral juga merupakan standar baikburuk yang ditentukan bagi individu oleh nilai0nilai sosial-budaya. Hal ini
sangat diperlukan demi terwujudnya kehidupan yang damai, penuh keteraturan, ketertiban, dan keharmonisan.
Interaksi yang terjadi dalam kehidupan tidak terbatas antarmanusia saja,
tetapi juga dipengaruhi oleh barang atau keadaan yang diciptakannya.
Misalnya, industri diciptakan oleh manusia, dan proses industrialisasi itu
mempengaruhi nilai-nilai dan sikap serta tingkah laku manusia. Di antara
manusia sendiri baik secara individu maupun kelompok, akan saling pengaruhmempengaruhi melalui berbagai media dengan lingkungan lain.
Untuk memenangkan persaingsn global yang semakin ketat, maka perlu
meningkatkan daya saing ekonomi yang optimal. Dalam hal ini transformasi
285

nilai ke arah hard culture mutlak diperlukan. Ketaatan kepada sistem dan
aturan main yang ada, disiplin, serta peningkatan etos kerja, harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian halnya orientasi ke arah kinerja
(performance oriented).
4) Aspek Bahasa.
Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi.

Karena itu dalam pergaulan

internasional yang akan berdampak pada proses kemajuan suatu bangsa, mau
tidak mau harus menguasasi bahasa internasional (khususnya Inggris). Hal ini
berlaku dalam berbagai bidang, termasuk iptek yang akan mengantarkan ke
arah modernisasi.
5) Aspek Motivasi.
Motivasi merupakan suatu proses, yang mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian perbuatan dalam memenuhi kebutuhannya. Motivasi juga
ditunjukkan oleh kematangan pribadi. Jika kematangan pribadi rendah, maka
motivasi pun rendah. Hasil interaksi antara motivasi dengan kemampuan
(abilities) adalah kinerja (performance). Jadi, jika motivasi rendah, kinerja pun
rendah.
Kematangan pribadi sangat berkaitan dengan sikap mental yang kuat dan
positif yang harus dimiliki oleh setiap individu. Menghadapai tuntutan dunia
kerja yang semakin tinggi, seseorang tidak cukup hanya memiliki kemampuan
teknis yang tinggi, tetapi juga harus memiliki mental baja yang akan memberi
dukungan besar dalam meningkatkan kenerjanya. Kemampuan mental ini
perlu ditingkatkan, antara lain :
a) Sikap mental kemampuan untuk bekerja lebih dari yang diminta. Seseorang
yang ingin maju, maka setiap kesempatan perlu dimanfaatkan untuk memperlajari hal-hal baru;
b) Disiplin diri yang perlu dijunjung tinggi oleh setiap individu, a.l. menyangkut
waktu, penentuan skala prioritas, taat/patuh terhadap setiap target yang
sudah ditetapkan, termasuk pada aturan-aturan yang ada;
c) Memiliki target yang jelas yang hendak dicapainya.
b. Meningkatkan Daya Saing Nasional.
286

Peluang dan tantangan dapat dijumpai dalam beberapa bidang di era globalisasi,
yaitu :
1) Daya Saing di Bidang Politik :
a) Demokrasi. Banyak macam demokrasi di dunia ini dengan plus-minusnya,
akan tetapi demokrasi yang perlu dikembangkan adalah demokrasi khas
Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila;
b) Politik luar negeri. Indonesia perlu membuka diri dengan dunia internasional dengan cara kerjasama di segala bidang, seperti militer, ekonomi,
pendidikan, kebudayaan, dll., yang akan meningkatkan daya saing bangsa;
c) Kepemerintahan yang baik (good governance), yaitu dengan mengembangkan prinsip partisipasi, transparansi, rule of law, responsif, equity, efektif
efisien, akuntabiltas, visi strategi;
2) Daya Saing di Bidang Sosial-Budaya :
a) Teknologi informasi dan komunikasi.

Kemajuan iptek akan memberi

peluang bagi kemajuan bangsa negara, akan tetapi bisa juga akan menjadi
obyek dari produk negara-negara maju;
b) Masuknya lembaga pendidikan asing. Hal ini akan menjadi peluang untuk
memperoleh kualitas pendidikan yang baik, akan tetapi juga merupakan
ancaman bagi eksistensi lembaga pendidikan di Indonesia terutama yang
masih baru;
c) Budaya hedonisme. Globalisasi memberi peluang bagi masyarakat Indonesia untuk menikmati dan mengikuti kecenderungan budaya asing yang
menyenangkan berupa hiburan, fashion, dll., akan tetapi hal tersebut bisa
menjadi ancaman tatkala tak mampu mengendalikan diri untuk menyaring
informasi dan gaya hidup glamour yang bertentangan dengan nilai-nilai
budaya bangsa;
d) Peluang dan ancaman di bidang Hankam. Letak strategis Indonesia di
antara dua benua dan dua samudera, memberi keuntungan untuk melakukan kerjasama militer a.l. dalam bentuk latihan gabungan seperti Malindo,
akan tetapi hal ini dapat menjadi ancaman terhadap hankam wilayah

287

yuridiksi nasional berupa pencaplokan wilayah perbatasan, atau pencurian


kekayaan laut di wilayah ZEE oleh pihak asing;
e) Peluang dan ancaman di bidang hukum. Globalisasi membuka peluang
mengikuti kemajuan sistem penegakkan hukum negara-negara Barat
termasuk dalam hal kerjasama tentang ekstradisi bagi pelanggar hukum
(misalnya para koruptor yang lari ke luar negeri), akan tetapi ancamannya
adalah kualitas SDM Indonesia akan jalah bersaing dengan SDM hukum
asing yang masuk Indonesia;
3) Daya Saing di Bidang Ekonomi :
a) Globalisasi ekonomi telah berkembang pesat a.l. dengan berdirinya
organisasi-organisasi perdagangan seperti :
- AFTA (Asean Free Trade Area) yang anggotanya : Indonesia, Singapura,
Malaysia, Thailand, Brunai Darussalam, Filipina, Kamboja, Vietnam, Laos,
dan Myanmar;
- APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) yang anggotanya : Negaranegara Asean dan non Asean seperti Jepang, China, dan Korea Selatan,
sedangkan Pasific adalah AS dan negara-negara Amerika Latin;
- WTO

(World

Trade

Organization).

Organisasi

ini

menetapkan

rencana perdagangan bebas, seperti penurunan dan penghapusan tarif


untuk perdagangan barang dan jasa, peningkatan kualitas barang dan
jasa, serta penyediaan sarana transportasi, komunikasi, dan administrasi
perdagangan barang dan jasa.
b) Nilai neraca perdagangan, yaitu jumlah ekspor dikurang impor mestinya
menunjukkan hal yang positif, artinya ekspor harus lebih besar daripada
impor;
c) Nilai neraca keuangan yang meliputi transaksi ekspor dan impor serta jasa,
arus modal masuk dan biaya utang, ternyata negatif. Hal ini menunjukkan
bahwa Indonesia banyak mengeluarkan uang dari sektor jasa, dan nilai ini
lebih besar dari surplus perdagangan, impor jasa seperti industri pelayaran,
komunikaqsi, hiburan, dan bungan pinjaman atas utang Indonesia.
d) Upaya meningkatkan kinerja ekonomi dengan :
288

(1) Di sektor perdagangan Indonesia harus memperbaiki kinerja dengan


mengekspor barang jadi, tidak hanya barang mentah. Ekspor barang
jadi akan menimbulkan kesempatan kerja baru, masuknya investasi,
dan nilai tambah proses barang. Untuk itu diperlukan teknologi baik
menyangkut piranti keras seperti mesin dan SDM yang menjalankan
mesin. Maka pendidikan merupakan hal yang sangat penyinga mendapat perhatian;
(2) Dalam neraca pembayaran, Indonesia harus menekan defisit dari impor
jasa dan keuangan. Hasil dari ekspor perdagangan ternyata habis untuk
membiayai impor jasa dan keuangan. Termasuk dalam impor jasa ini
adalah impor industri keuangan, asuransi, transportasi, komunikasi,
pendidikan dan hiburan, serta bunga pokok pinjaman. Untuk meningkatkan peran industri jasa, maka pemerintah harus memberikan
peluang industri jasa dalam negeri, serta mendorong dunia pendidikan
untuk menghasilkan tenaga kerja bidang jasa yang kompeten sehingga
mengurangi tenaga asing dalam industri.

289

DAFTAR KEPUSTAKAAN

A. BUKU-BUKU :
Amin, Zainul Ittihad. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan. Cetakan keduabelas.
Jakarta : Universitas Terbuka.
Azra, Azyumardi. 1999. Munuju Masyarakat Madani. Cetakan ke-1. Bandung :
Remaja Rosdakarya.
Bakry, Noor Ms. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Basrie, Chaidir (ed.). 1994. Pemantapan Pembangunan melalui Pendekatan
Ketahanan Nasional. Jakarta : Ditjen Renumgar Dephankam.
Beetham, David dan Boyle, Kevin. 2000. Demokrasi dalam 80 Tanya Jawab.
Yogyakarta : Kanisius.
Budiardjo, Miriam. 1994. Demokrasi di Indonesia : Demokrasi Parlementer dan
Demokrasi Pancasila. Jakrta : PT. Gramedia.
--------------------------. 1997. Dasar-dasar Ilmu Politik. Edisi Revisi. Jakarta : PT.
Gramedia.
Gaffar, Afan. 1999. Politik Indonesia : Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Hariyono. 2010. Nasionalisme Indonesia, Kewarganegaraan dan Pancasila.
Malang : Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang.
Hikam, Muhammad A.S. 1999. Demokrasi dan Civil Society. Cetakan ke-2. Jakarta :
LP3ES.
Huntington, Samuel P. dan Nelson, Joan. 1999. Partisipasi Politik di Negara
Berkembang. (Terjemahan Sahat Simamora). Jakarta : Rineka Cipta.
Kaelan, H. dan Zubaidi, Achmad. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Edisi Pertama. Yogyakarta : Paradigma.
Kansil, C.S.T. dan Christine S.T. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan
Tinggi. Cetakan Kedua. Jakarta : PT. Pradnya Paramita.

290

Kemal Pasha, Mustafa. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta : Citra


Karsa Mandiri.
Latif, Yudi. 2012. Negara Paripurna. Cetakan keempat. Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Lemhanas & Ditjen Dikti Depdikbud. 1991. Kewiraan untuk Mahasiswa. Jakarta :
PT. Gramedia.
Lemhanas. 1995. Ketahanan Nasional. Cetakan Pertama. Jakarta : Balai Pustaka.
-------------. 1995. Pembangunan Nasional. Cetakan Pertama. Jakarta : Balai Pustaka.
-------------. 1995. Wawasan Nusantara. Cetakan Pertama. Jakarta : Balai Pustaka.
Madjid, Nurcholis. 2000. Asas-asas Pluralisme dan Toleransi dalam Masyarakat
Madani. (Makalah dalam Lokakarya Islam dan Pemberdayaan Civil Society di
Indonesia, kerjasama IRIS Bandung-PPIM Jakarta-The Asia Foundation).
Mahfud MD, Moh. 2003. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Cetakan Kedua.
Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Maksudin, H. 2013. Pendidikan Karakter Non-Dikotomik. Cetakan I. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Mansoer, Hamdan. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi
sebagai Dasar Nilai dan Pedoman Berkarya bagi Lulusan. Jakarta : Ditjen Dikti
Depdikbud.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho. 1993. Sejarah
Nasional Indonesia Jilid IV dan V. Cetakan kedelapan. Jakarta : Balai Pustaka.
Rahardjo, M. Dawam. 1999. Masyarakat Madani : Agama, Kelas Menengah, dan
Perubahan Sosial. Cetakan ke-1. Jakarta : LP3ES.
Rauf, Maswadi. 1997. Demokrasi dan Demokratisasi. Jakarta : FISIP-UI.
Sedarmayanti. 2003. Good Governance (Kepemerintahan yang Baik) dalam Rangka Otonomi Daerah. Bagian Pertama. Bandung : CV. Mandar Maju.
-------------------. 2007. Good Governance (Kepemerintahan yang Baik) dan Good
Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan yang Baik). Bagian Ketiga.
Bandung : CV Mandar Maju.
Sobana, H.A.N. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Cetakan Keempat. Tanpa
Nama Penerbit.
291

Soerensen, George. 2003. Demokrasi dan Demokratisasi. (Terjemahan I Made


Krisna). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Srijanti, A. Rahman H.I. dan Purwanto S.K. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan
untuk Mahasiswa. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Sukarna. 1981. Demokrasi versus Kediktatoran. Bandung : Alumni.
Sumarsono, S. et.al., Lemhanas. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Cetakan kedua. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Suradinata, Ermaya dan Alex Dinuth (Penyunting). 2001. Geopolitik dan Konsepsi
Ketahanan Nasional. Jakarta : Paradigma Cipta Tatrigana.
-------------. 2005. Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi dalam Kerangka
Keutuhan NKRI. Jakarta : Suara Bebas.
Surbakti, Ramlan. 1999. Memahami Ilmu Politik. Jakarta : PT. Grasindo.
Suseno, Frans Magnis. 1997. Mencari Sosok Demokrasi : Sebuah Telaah Filosofis.
Cetakan ke-2. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Syarbaini, Syahrial. 2011. Pendidikan Pancasila (Implementasi Nilai-nilai Karakter
Bangsa). Cetakan Kelima. Bogor : Ghalia Indonesia.
Tjokroamidjojo, Bintoro. 2000. Good Governance : Paradigma Baru Manajemen
Pembangunan. Jakarta : UI Press.
Ubaidillah, A dan Rozak, Abdul (Tim ICCE-UIN Jakarta). 2010. Pendidikan Kewargaan (Civic Education). Jakarta : Prenada Media.
Wahidin, H. Samsul. 2010. Pokok-pokok Pendidikan Kewarganegaraan. Cetakan I.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wardani, Kunthi Dyah. 2007. Impeachment dalam Ketatanegaraan Indonesia.
Yogyakarta : UII Press.
Winarno Dwi. 2006. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan : Panduan
Kuliah di Perguruan Tinggi. Cetakan Pertama. Jakarta : PT. Bumi Aksara,
Zamroni. 2001. Pendidikan untuk Demokrasi. Yogyakarta : Bigraf Publishing.

292

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN :
Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Undang-Undang No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.
Undang-Undang No. 23 Tahun 1996 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional.
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.
Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
Undang-Undang No. 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 jo. Undang-Undang No. 15 Tahun 2011 tentang Partai Politik.
Undang-Undang No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara.
Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden.
Undang-Undang No. 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.
293

Undang-Undang No. 12 Tahun 1011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan.


Undang-Undang No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum.
Undang-Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional 2009-2014.

294