Anda di halaman 1dari 11

Critical review

Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penerapan otonomi daerah yang telah dimulai sejak masa reformasi membuat
Indonesia memiliki berbagai wilayah otonom. Dimana masing-masing wilayah otonom
memiliki wewenang untuk mengatur urusannya sendiri termasuk urusan ekonomi secara
mandiri. Selain itu, masing-masing wilayah sudah lebih bebas menentukan sektor/komoditi
yang diprioritaskan untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Hal
ini menyebabkan masing-masing wilayah memiliki pertumbuhan ekonomi yang berbedabeda. Pertumbuhan ekonomi yang berbeda-beda ini menyebabkan wilayah otonom rentan
mengalami disparitas pertumbuhan ekonomi. Terjadinya disparitas ini merupakan salah satu
akibat karena penerapan otonomi daerah yang kurang maksimal. Kurangnya optimalnya
penerapan otonomi daerah salah satunya dapat

disesabkan karena pelaksanaan

pembangunan daerah yang kurang sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing
daerah. Hal ini menyebabkan pemanfaatan sumber daya menjadi kurang optimal. Akibat
dari kurang optimalnya pemanfaatan sumberdaya ini mengakibatkan lambatnya proses
pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan.
Pertumbuhan ekonomi wilayah merupakan salah satu unsur utama dalam
pembangunan ekonomi regional (Sjafrizal, 2008). Sehingga pertumbuhan ekonomi erat
kaitannya dengan pertumbuhan suatu wilayah. Salah satu indikator yang digunakan untuk
melihat kinerja perekonomian suatu wilayah adalah pendapatan Domestik Regional Bruto
(PDRB). Pada tahun 2006 PDRB di Provinsi Jambi mengalami kenaikan 1,05%
dibandingakan dengan tahun 2005, yaitu 5,51% pada tahun 2005 dan 6,56% pada tahun
2006. Namun pertumbuhan ekonomi wilayah di Provinsi Jambi belum merata ke seluruh
Kabupaten/Kota. Untuk itu, dilakukan analisis terhadap perekonomian wilayah di Provinsi
jambi. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui posisi perekonomian wilayah Provinsi Jambi,
untuk mengetahui sektor basis serta untuk mengetahui ada tidaknya spesialisasi anatar
wilayah di Provinsi Jambi.

REVIEW JURNAL
Pada tahun 2005 pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jambi sebesar 5,51% dan 6,56%
pada tahun 2006. Namun, pertumbuhan ekonomi ini belum merata atau terjadi disparitas
atau kesenjangan pertumbuhan ekonomi untuk beberapa wilayah. Dimana pada tahun 2005
pertumbuhan ekonomi tertinggi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (7,81%) dan terendah
di kabupaten Tanjung Jabung Timur (3,67%). Untuk tahun 2006 pertumbuhan ekonomi
tertinggi terjadi di Kabupaten tebo (9,69%) dan terendah di Kabupaten Muara Jambi

Ekonomi Wilayah

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi
(4,84%).
Dari hasil perhitungan menggunakan metode LQ, Provinsi Jambi memiliki 4 sektor
Basis yang terdapat di Wilayah Kabupaten/Kotanya. Yaitu sektor pertanian (1,21), sektor
bangunan (1,1), sektor perdagangan/hotel/restoran (1,03) dan sektor jasa (1,01). Sektor
pertanian menjadi sektor basis di 8 Kabupaten/Kota, sektor bangunan menjadi sektor basis
di

Kabupaten/Kota, sektor perdagangan/hotel/restoran

menjadi

sektor basis

Kabupaten/Kota dan sektor jasa menjadi sektor basis di 6 Kabupaten/Kota. Berdasarkan


hasil analisa dapat diketahui bahwa sektor pertanian menjadi sektor paling dominan di
Provinsi Jambi. Akan tetapi, sektor pertanian merupakan sektor tradisional yang
keberadaannya semakin menurun seiring dengan terus berjalannya proses pembangunan.
Sektor industri pengolahan adalah sektor yang diharapkan berkembang, namun sektor ini
belum menjadi sektor basis di Provinsi Jambi.

untuk lebih jelasnya mengenai hasil

perhitungan menggunakan metode LQ dapat dilihat pada tabel dibawah ini.


Tabel 1. Nilai LQ rata-rata persektor Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi
periode tahun 2000-2007

Sumber: Imelia, 2011

Dari hasil analisa menggunakan Tipologi Klassen, Kabupaten/Kota yang tergolong


wilayah maju di Provinsi Jambi adalah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, wilayah yang

Ekonomi Wilayah

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi
tergolong maju tapi tertekan adalah Kota Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat,
wilayah yang tergolong wilayah berkembang adalah Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo dan
Kabupaten Sarolangun dan wilayah yang tergolong kedalam wilayah terbelakang adalah
Kabupaten Muara Jambi, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Merangin, dan Kabupaten
Kerinci.
Dari hasil analisis indeks spesialisasi regional yang digunakan untuk mengetahui
tingkat spesialisasi antar wilayah dapat diketahui bahwa wilayah-wilayah Provinsi Jambi
belum memiliki spesialisasi selama tahun 2000 - 2007. Nilai rata-rata indeks spesialisasi
antar Kabupaten/Kota belum mencapai nilai satu. Dengan nilai indeks tertinggi sebesar
0,0916 untuk Kota Jambi dengan Kabupaten Muaro Jambi dan untuk nilai indeks terendah
sebesar -0,1168 untuk Kabupaten Jabung Barat dengan Kota Jambi. Dari hasil perhitungan
indeks spesialisasi yang rendah tersebut dapat diketahui bahwa keterkaitan antar daerah di
Provinsi Jambi sangat lemah karena nilai indeks mendekati nol.

PEMBAHASAN
A.

Sektor Basis Provinsi Jambi


Salah

satu

indikator

ekonomi

yang

dapat

digunakan

untuk

mengetahui

perkembangan pembangunan ekonomi suatu daerah adalah data Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB). Menurut Tarigan (2004), PDRB dapat dibedakan atas dasar harga berlaku
dan atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai tambah
barang dan jasa yang dihasilkan berdasarkan harga-harga tahun berjalan. PDRB atas harga
konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan berdasarkan harga
tahun dasar. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dapat dihitung dengan 3 (tiga)
pendekatan (approach), yaitu 1) pendekatan produksi, 2) pendekatan pengeluaran, 3)
pendekatan pendapatan. Analisis PDRB dapat digunakan untuk menentukan sektor basis di
suatu wilayah. Dalam teori ekonomi basis membagi perekonomian menjadi dua sektor yaitu
sektor basis dan sektor non basis. Sektor basis adalah sektor yang sektor atau kegiatan
ekonomi yang melayani baik pasar domestik maupun pasar luar daerah itu sendiri. Sektor
basis mampu menghasilkan produk/jasa yang mendatangkan uang dari luar wilayah.
Itu berarti daerah secara tidak langsung mempunyai kemampuan untuk mengekspor barang
dan jasa yang dihasilkan oleh sektor tersebut ke daerahlain. Artinya sektor ini dalam
aktivitasnya mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri maupun daerah lain dan dapat
dijadikan sektor unggulan. Sektor non basis, yaitu sektor atau kegiatan yang hanya mampu
melayani pasar

daerah

itu

sendiri

sehingga

permintaannya

sangat

dipengaruhi

kondisi ekonomi setempat dan tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan ekonomi

Ekonomi Wilayah

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi
wilayah. Sektor seperti ini dikenal sebagai sektor non unggulan.
Menurut Tarigan (2007), metode untuk memilah kegiatan basis dan kegiatan non
basis adalah sebagai berikut :
a. Metode Langsung dilakukan dengan survei langsung kepada pelaku saha kemana mereka
memasarkan barang yang diproduksi dan dari mana mereka membeli bahan-bahan
kebutuhan

untuk

menghasilkanproduk tersebut.

Kelemahan

metode

ini

yaitu

pertanyaan yang berhubungan dengan pendapatan data akuratnya sulit diperoleh, dalam
kegiatan usaha sering tercampur kegiatan basis dan non basis.
b. Metode Tidak Langsung, metode ini dipakai karena rumitnya melakukan survei
langsung ditinjau dari sudut waktu dan biaya. Metode ini menggunakan asumsi, kegiatan
tertentu diasumsikan sebagai kegiatan basis dan kegiatan lain yang bukan dikategorikan
basis adalah otomatis menjadi kegiatan basis.
c. Metode

Campuran,

metode

ini

dipakai

pada

suatu

wilayah

yang

sudah

berkembang, cukup banyak usaha yang tercampur antara kegiatan basis dan kegiatan
non basis. Apabila dipakai metode asumsi murni maka akan memberikan kesalahan yang
besar, jika dipakai metode langsung yang murni maka akancukup berat. Oleh karena itu
orang melakukan gabungan antara metode langsung dan metode tidak langsung yang
disebut metode campuran.
d. Metode Location Quotient (LQ) membandingkan porsi lapangan kerja/nilai tambah
untuk sector tertentu untuk lingkup wilayah yang lebih kecil dibandingkan dengan
porsi lapangan kerja/nilai tambah untuk sektor yang sama untuk lingkup wilayah yang
lebih besar.
Dalam jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi, metode yang
digunakan untuk mengidentifikasi sektor basis di wilayah Provinsi Jambi adalah Metode

Location Quotient (LQ). Perhitungan untuk metode Locatient Quotient adalah sebagai
berikut:

Dimana :
= Jumlah PDRB suatu sektor Kabupaten/Kota
= Jumlah PDRB total Kabupaten/Kota
= Jumlah PDRB suatu sektor tingkat Provinsi
= Jumlah PDRB total tingkat Provinsi

Ekonomi Wilayah

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi
Dari hasil analisis sektor basis di Provinsi Jambi, terdapat 4 sektor basis dan sektor
yang paling unggul merupakan sektor pertanian. Sektor pertanian menjadi sektor basis di 8
wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi. Akan tetapi, sektor pertanian merupakan sektor
yang

keberadaannya

semakin

berkurang

seiring

dengan

berlangsungnya

proses

pembangunan. Sektor yang diharapkan berkembang di Provinsi Jambi adalah sektor industri
pengolahan. Arahan pengembangan sektor industri pengolahan ini dicanangkan untuk
mewujudkan salah satu sasaran pokok Provinsi Jambi yaitu, mewujudkan Provinsi Jambi
yang

memiliki

keunggulan

kompetitif.

Sasaran

ini

tercantum

dalam

Rencana

Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) provinsi Jambi. Akan tetapi, berdasarkan hasil
perhitungan LQ, sektor industri pengolahan belum menjadi sektor basis di seluruh wilayah
Provinsi Jambi. Namun untuk Kabupaten Tanjung Jabung Barat, sektor Industri pengolahan
menjadi sektor yang paling menonjol. Hal ini dapat dilihat dari nilai LQ yang mencapai 2,76,
nilai ini merupakan nilai tertinggi jika dibandingkan dengan seluruh sektor di Wilayah
Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui adanya
disparitas atau kesenjangan terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah khususnya jika dilihat
dari sektor industri pengolahan. Untuk Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki nilai LQ
sangat tinggi (2,76) sedangkan untuk Kabupaten Tebo memiliki nilai LQ yang sangat rendah
(0,21). Sektor industri pengolahan ini dipilih karena sektor ini akan menjadi sektor penting
dalam perkembangan perekonomian Provinsi Jambi terkait dengan sasaran pada RPJP
Provinsi Jambi tahun 2005-2026.
B.

Tipologi Klassen Ekonomi Wilayah Provinsi Jambi


Tipologi Klassen merupakan salah satu alat analisis ekonomi wilayah yang digunakan

untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi pada
masing-masing daerah. Teori ini membagi wilayah berdasarkan indikator pertumbuhan
ekonomi wilayah dan pendapatan perkapita wilayah. Hasil dari analisis menggunakan
tipologi Klassen ini membagi wilayah menjadi empat klasifikasi yaitu wilayah cepat maju
dan cepat tumbuh (high growth and high income), wilayah maju tapi tertekan (high income

but low growth), wilayah berkembang cepat (high growth but low income) dan wilayah
relatif tertinggal (low growth and low income) (Aswandi dan Kuncoro, 2002).
Dalam jurnal Analisis Ekonomi antar Wilayah Provinsi Jambi menggunakan metode

Klassen untuk mengetahui posisi perekonomian antar wilayah di Provinsi Jambi dengan
membagi wilayah kedalam 4 kelompok. Untuk hasil analisa menggunakan Tipologi Klassen
lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Ekonomi Wilayah

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi
Tabel 2. Posisi Perekonomian Wilayah di Provinsi Jambi berdasarkan Hasil Analisis Tipologi
Klassen

Yi Y

Yi Y

Daerah maju dan bertumbuh


cepat:
1. Kabupaten
Tanjung
Jabung Barat

Daerah sedang bertumbuh:

Daerah maju tetapi tertekan:


1. Kota Jambi
2. Kabupaten
Tanjung
Jabung Timur

Daerah relatif tertinggal:


1. Kabupaten
Muaro
Jambi
2. Kabupaten
Batanghari
3. Kabupaten Merangin
4. Kabupaten Kerinci

PDRB per kapita (Y)

Laju pertumbuhan (r)

ri r

ri r

1. Kabupaten Bungo
2. Kabupaten Tebo
3. Kabupaten
Sarolangun

Keterangan:
Y

= PDRB per kapita Provinsi Jambi.

Yi = PDRB per kapita daerah Kabupaten/Kota.


r

= Pertumbuhan Ekonomi Jambi.

ri

= Pertumbuhan Ekonomi kabupaten/Kota Jambi.

Dari tabel diatas, diketahui bahwa terdapat 4 Kabupaten yang termasuk dalam
wilayah relatif tertinggal dengan total Kapupaten/Kota berjumlah 10. Dapat dikatakan
bahwa hampir 50% wilayah di Provinsi Jambi masuk dalam kelompok wilayah relatif
tertinggal. Salah satu penyebabnya adalah, karena pemanfaatan sumber daya yang
terdapat di wilayah tersebut kurang optimal. Selain itu juga dapat disebakan karena
kurangnya infrastruktur yang memadai pada keempat Kabupaten tersebut sehingga turut
menghambat pertumbuhan ekonomi pada wilayah tersebut.
C. Indeks Spesialisasi Regional Wilayah Provinsi Jambi
Analisis indeks spesialisasi regional digunakan untuk mengetahui tingkat spesialisasi
antar wilayah (Aswandi dan Kuncoro, 2002). Bila indeks spesialisasi regional untuk wilayah
i dan j mendekati nol, maka kedua wilayah tersebut tidak memiliki spesialisasi. Bila indeks

Ekonomi Wilayah

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi
spesialisasi regional wilayah i dan j lebih dari satu, maka wilayah tersebuh memiliki
spesialisasi.
Dari hasil analisis Indeks Spesialisasi Regional di wilayah Provinsi Jambi, diketahui
bahwa belum terdapat wilayah yang memiliki spesialisasi. Nilai indeks yang lebih kecil dari
satu menunjukan bahwa struktur dan pola spesialisasi perekonomian di Kabupaten/Kota di
Provinsi Jambi tidak jauh berbeda. Rendahnya nilai indeks spesialisasi ini juga menunjukkan
bahwa keterkaitan antara satu daerah dengan daerah lainnya sangat lemah. Hal ini dapat
terjadi karena tidak terdiversifikasinya antar sektor usaha di Provinsi Jambi serta sektor
yang memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah yang berasal dari sektor usaha yang
sama di beberapa daerah.
D. Strategi Pembangunan Ekonomi Wilayah Provinsi Jambi
1. Peningkatan Infrastruktur untuk mengurangi Disparitas antar wilayah di
Provinsi Jambi.
Peran infrastruktur dalam pertumbuhan suatu wilayah sangat erat. Jika infrastruktur
suatu wilayah kurang memadai maka akan menghambat pertumbuhan di wilayah
tersebut, termasuk pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur merupakan roda penggerak
pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur dipandang sebagai lokomotif pembangunan
nasional dan daerah. Secara ekonomi makro ketersediaan dari jasa pelayanan
infrastruktur mempengaruhi marginal productivity of private capital, sedangkan dalam
konteks ekonomi mikro, ketersediaan jasa pelayanan infrastruktur berpengaruh
terhadap pengurangan biaya produksi (Kwik Kian Gie, 2002). Infrastruktur juga
berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia. Oleh
sebab itu, peningkatan infrastruktur sangat dibutuhkan untuk menurunkan angka
disparitas pertumbuhan ekonomi antar wilayahdi Provinsi Jambi.
Begitu banyak dan besarnya peran infrastruktur sehingga dalam sebuah studi yang
dilakukan di Amerika Serikat (Aschauer, 1989 dan Munnell, 1990) menunjukkan bahwa
tingkat pengembalian investasi infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi, adalah
sebesar 60% (Suyono Dikun, 2003). Bahkan studi dari World Bank (1994) disebutkan
elastisitas PDB (Produk Domestik Bruto) terhadap infrastruktur di suatu negara adalah
antara 0,07 sampai dengan 0,44. Hal ini berarti dengan kenaikan 1 (satu) persen saja
ketersediaan infrastruktur akan menyebabkan pertumbuhan PDB sebesar 7% sampai
dengan 44%, variasi angka yang cukup signifikan. Secara empiris jelas dapat ditarik
kesimpulan

Ekonomi Wilayah

bahwa

pembangunan

infrastruktur

berpengaruh

besar

terhadap

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi
pertumbuhan ekonomi (secara makro dan mikro) serta perkembangan suatu negara
atau wilayah.
Akan tetapi, dalam pembangunan infrastruktur, pemerintah harus menyesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat, yaitu dengan melakukan jaring aspirasi terlebih dahulu.
Jaring aspirasi ini sangat penting agar penyediaan infrastruktur sesuai dengan apa yang
dibutuhkan masyarakat untuk kemajuan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.
2. Mengoptimalkan sektor Industri Pengolahan di Provinsi Jambi
Sektor pertanian merupakan sektor yang paling unggul di Provinsi Jambi, akan tetapi
keberlangsungan sektor pertanian di Provinsi Jambi keberadaannya terancam seiring
dengan pembangunan yang mengakibatkan tingginya konversi lahan pertanian menjadi
lahan terbangun semakin tinggi. Sehingga diharapkan fokus pengembangan ekonomi
wilayah beralih ke pengembangan sektor industri pengolahan sesuai dengan sasaran
yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Jambi. Dengan
peralihan ini diharapkan, sektor pertanian tetap menjadi sektor basis di Provinsi Jambi
untuk menyuplai bahan baku bagi pengolahan pada sektor industri pengolahan
sehingga diharapkan mampu memacu pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jambi.
3. Menetapkan prioritas penanganan pada wilayah tertinggal.
Wilayah tertinggal merupakan wilayah yang paling memerlukan perhatian khusus
agar pertumbuhannya dapat berkembang kearah yang lebih baik. sehingga dapat
menopang pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. Untuk studi kasus di provinsi Jambi
tersebut,

terdapat

4 Kabupaten

yang

perlu

mendapatkan

perhatian

khusus.

Konsentrasi penanganan pada daerah tertinggal ini diharapkan dapat menurunkan


tingkat kemiskinan sehingga meningkatkan tingkat kesejahteraan penduduk Kabupaten
tertinggal di Provinsi Jambi. Dengan meningkatnya kesejahteraan penduduk, juga akan
menaikkan jumlah konsumsi masyarakat terhadap barang dan jasa. Sehingga dapat
meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa dan dapat mengerakkan sektor
perekonomian sehingga memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah terebut.

Ekonomi Wilayah

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi

tingkat
kesejahteraa
n meningkat
Pengentas
an
Kemisinan

permintaan
barang dan
jasa
meningkat
sehingga
produksi
barang dan
jasa
meningkat

pertumbuhan
sektor
ekonomi

Pertumbuhan
ekonomi
wilayah

Gambar 1. Diagram Pertumbuhan ekonomi wilayah akibat pengentasan kemiskinan

Sumber : hasil analisa 2014

4. Menerapkan PEL dalam pembangunan Ekonomi Wilayah Provinsi Jambi


Salah satu penyebab terjadinya ketimpangan pertumbuhan ekonomi wilayah di
Provinsi Jambi adalah karena kurang optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya
yang ada. Konsep PEL (Pembangunan Ekonomi Lokal) dapat dijadikan solusi untuk
permasalahan ini.

Dengan PEL nantinya diharapkan, sektor-sektor yang terdapat di

wilayah Provinsi Jambi dekembangkan sesuai dengan kekhasan dan keunggulan yang
dimiliki sehingga sektor-sektor tersebut dapat berkembang lebih optimal. Untuk
mengoptimalkan pelaksanaan PEL ini dapat dilakukan dengan menggalakkan kerja
sama (kemitraan) dengan pelaku ekonomi, baik dari dalam daerah maupun dari luar
daerah dalam mengelola dan mengembangkan potensi unggulan, baik di daerah yang
masuk dalam kategori wilayah maju, wilayah maju tetapi tertekan, wilayah sedang
bertumbuh maupun untuk wilayah yang relatif terbelakang.

Ekonomi Wilayah

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi
PENUTUP
Kesimpulan
Terdapat 4 sektor basis di Provinsi Jambi yaitu sektor Pertanian (1,21), sektor
bangunan (1,1), sektor perdagangan/hotel/restoran (1,03) dan sektor jasa (1,01). Sektor
pertanian menjadi sektor basis di 8 Kabupaten/Kota, sektor bangunan menjadi sektor basis
di

Kabupaten/Kota, sektor perdagangan/hotel/restoran

menjadi sektor basis

Kabupaten/Kota dan sektor jasa menjadi sektor basis di 6 Kabupaten/Kota. Sektor pertanian
menjadi sektor paling dominan di Provinsi Jambi. Akan tetapi, sektor pertanian merupakan
sektor tradisional. Selain itu, terdapat 4 wilayah yang tergolong kedalam wilayah relatif
tertinggal yaitu Kabupaten Muara Jambi, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Merangin, dan
Kabupaten Kerinci. Dari hasil analisis indeks spesialisasi regional diketahui bahwa wilayahwilayah Provinsi Jambi belum memiliki spesialisasi selama tahun 2000 - 2007.
Permasalahan ekonomi wilayah yang terdapat di Provinsi Jambi diantaranya adalah
sektor yang menjadi basis unggulan merupakan sektor tradisional sehingga diarahkan
berkembang ke sektor lain (industri Pengolahan) sesuai sasaran yang terdapat dalam
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Provinsi Jambi. Selain itu, di Provinsi Jambi
terdapat 4 Kabupaten yang termasuk kedalam wilayah relatif tertinggal di Provinsi Jambi,
dan belum terdapat wilayah yang memiliki spesialisasi.
Solusi yang digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan,
mengalihkan fokus ke sektor industri pengolahan, peningkatan infrastruktur untuk
mengurangi ketimpangan dan disparitas, menetapkan prioritas penanganan pada wilayah
tertinggal serta menerapkan PEL bagi pembangunan ekonomi wilayah Provinsi Jambi.
Lesson Learned
Dari analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sektor ekonomi wilayah
merupakan sektor yang penting bagi kemajuan atau pertumbuhan suatu wilayah. Oleh
sebab itu, perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah agar tidak terjadi disparitas
pertumbuhan

perekonomian

suatu

wilayah. Karena

disparitas dapat

menghambat

pertumbuhan wilayah tersebut. Ketersediaan sumber daya alam menjadi modal utama
dalam pembangunan sektor perekonomian suatu wilayah. Akan tetapi, ketersediaan sumber
daya alam tersebut harus ditopang dengan infrastruktur yang memadai agar pemanfaatan
sumber daya dapat dilakukan secara optimal. selain itu, spesialisasi antar wilayah juga turut
membantu dalam penerapan PEL sehingga masing-masing wilayah memiliki corak tersendiri
dalam ekonomi regionalnya.

Ekonomi Wilayah

10

Critical review
Jurnal Analisis Ekonomi Antar Wilayah di Provinsi Jambi

DAFTAR PUSTAKA
Aswandi, Hairul dan Mudrajad kuncoro. Jurnal Ekonomi dan bisnis Indonesia Vol.17, No. 1,
2002, 27-45 : Evaluasi Penetapan Kawasan Andalan: Studi Empiris di Kalimantan Selatan

1993-1999.
Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Padang: Baduose Media
Tarigan, Robinson. 2004. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Tarigan, Robinson. 2007. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi edisi Revisi. Jakarta: PT.
Bumi Aksara.
Zainal, Taufik. QE Journal Vol. 02, No. 01, 2008, Analisis Pertumbuhan ekonomi dan

pengembangan sektor potensial di Kabupaten Asahan (Pendekatan Model Basis Ekonomi


dan SWOT).

Ekonomi Wilayah

11