Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

Disfungsi

ereksi

adalah

ketidakmampuan

untuk

mencapai

dan

mempertahankan ereksi yang cukup untuk senggama yang memuaskan1.


Disfungsi ereksi dapat disebabkan oleh faktor psikogenik, organik, maupun
iatrogenik1,6. Pada masa lalu, faktor psikogenik dipercaya sebagai penyebab
utama terjadinya disfungsi ereksi, saat ini ternyata faktor organik lebih sering
sebagai penyebab disfungsi ereksi terutama pada laki-laki usia pertengahan dan
usia lanjut. Sedangkan disfungsi ereksi psikogenik lebih sering dijumpai pada
usia dibawah 40 tahun. Penyebab organik terletak pada kelainan neurogenik,
vaskulogenik, dan endokrinologik6. Umumnya laki-laki berumur lebih dari 40
tahun mengalami penur unan kadar testosteron secara bertahap. Saat mencapai
usia 40 tahun, laki-laki akan mengalami penurunan kadar testosteron dalam darah
sekitar 1,2 % per tahun. Bahkan di usia 70, penurunan kadar testosteron dapat
mencapai 70% 1,2,3.
Diperkirakan lebih dari 18 juta laki-laki diamerika serikat, dan sekitar 2-3
juta laki-laki diinggris mengalami disfungsi ereksi. Prevalensi disfungsi ereksi
meningkat sesuai dengan bertambahnya usia2. Massachussetts Male Aging Study
(MMAS) melakukan penelitian terhadap laki-laki yang berumur 40-70 tahun
ternyata 52% mengalami disfungsi ereksi dalam berbagai peningkatan, Insidensi
terjadinya gangguan bervariasi dan meningkat seiring dengan usia. Pada usia 40
tahun, terdapat kurang lebih 5% laki-laki mengalami keadaan disfungsi ereksi,
pada usia 70 tahun, terdapat kurang lebih 15%2.
Faktor demografi, kondisi kesehatan, fisiologi dan psikologi berpengaruh
terhadap terjadinya disfungsi ereksi2. Dari semua faktor tersebut sangat
mempengaruhi terapi yang akan kita berikan pada pasien3.

BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI EREKSI

Ereksi merupakan hasil dari interaksi kompleks dari faktor psikologi,


neuroendokrin dan mekanisme vaskuler yang bekerja pada jaringan ereksi penis.
Dahulu kala, banyak ilmuwan berpendapat tentang disfungsi ereksi. Keadaan ini
dibuktikan dengan ditemukannya papyrus dari Mesir yang menyebutkan bahwa
disfungsi ereksi disebabkan oleh dua hal, yaitu secara natural atau alamiah dan
secara supranatural. Hippokrates seorang ilmuwan menemukan banyaknya
kejadian impotensi pada pria dari golongan menengah keatas yang disebabkan
oleh gaya hidup mereka yang senang berkuda. Banyak teori tentang disfungsi
ereksi yang berkembang diantara ilmuwan lainnya1.
Pada tahun 1980, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan terjawablah
mekanisme ereksi dan disfungsi ereksi. Otot polos memiliki peranan penting
dalam meregulasi darah yang mengalir melalui arteri dan vena, serta adanya
struktur tiga dimensi dari tunika albuginea yang berperan penting dalam oklusi
vena sehingga penis dapat ereksi. Keterlibatan dari saraf juga dibuktikan dengan
ditemukannya nitrit oxide (NO) sebagai neurotransmitter utama yang berperan
penting dalam ereksi dan phospodiesterase (PDEs) yang berperan saat relaksasi
penis. Pada saat ereksi endothelium mempertahankan kontraksi dari otot polos,
sedangkan jalur Rho kinase beserta kanal ion (potassium dan kalsium) berperan
dalam kontraksi dan relaksasi dari otot polos. Disfungsi ereksi sendiri dapat
terjadi dikarenakan adanya gangguan pada otot polos, saraf, endothelium, dan
jaringan fibroelastik.

2.1 Anatomi Penis


Penis terdiri dari tiga struktur silindris, yaitu corpora cavernosa dan corpus
spongiosum (dimana terdapat urethra) dan dilapisi dengan lapisan subcutaneous
serta kulit. Panjang penis saat ereksi ditentukan oleh kontraktilitas dari otot polos
dan keadaan lainnya, seperti emosi dan temperatur luar1,4.

BAB III
PATOFISIOLOGI

Berdasarkan faktor penyebab disfungsi ereksi dibagi kedalam faktor


psikogenik, organik, dan iatrogenik. Disfungsi ereksi akibat psikogenik lebih
sering dijumpai pada usia dibawah 40 tahun. Penyebab organik terletak pada
kelainan neurogenik, vaskulogenik, dan endokrinologik. Diantara penyakitpenyakit yang menyebabkan disfungsi ereksi organik4.

3.1 Psikogenik
Impotensi psikogenik merupakan penyebab disfungsi ereksi terbanyak,
kondisi psikologi mempengaruhi sekitar 90% impotensi pada pria1. Teori ini
meyadarkan kita bahwa disfungsi ereksi adalah gangguan kondisi fungsional atau
fisik.
Perilaku seksual dan ereksi pada penis dikontrol oleh bagian otak yaitu
hipotalamus,

sistem

limbik,

dan

korteks

serebri.

Dengan

stimulasi

neurotransmitter atau inhibitor yang dikirimkan ke pusat ereksi tulang belakang


dapat mengontrol proses ereksi. Dua mekanisme yang dapat menjelaskan
penghambatan ereksi pada disfungsi psikogenik: hambatan neurotransmitter
secara langsung

pada pusat ereksi di tulang belakang suprasakral. Kadar

katekolamin, yang mengakibatkan peningkatan tonus otot polos dan mencegah


relaksasi.

3.2 Organik
3.2.1 Neurogenik
Diperkirakan 10 % sampai 19 % disfungsi ereksi disebabkan oleh gangguan
neurogenik. Prevalensi disfungsi ereksi cenderung lebih tinggi jika disebabkan
oleh gangguan iatrogenik. Ereksi adalah suatu proses neurovaskular, beberapa

BAB IV
DIAGNOSIS

Tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi seksual. Diantara yang


paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat mengutarakan masalahnya semua
kepada dokter, serta perbedaan persepsi antara pasien dan dokter terhadap apa
yang diceritakan pasien. Banyak pasien dengan disfungsi seksual membutuhkan
konseling seksual dan terapi, tetapi hanya sedikit yang peduli. Oleh karena
masalah disfungsi seksual melibatkan kedua belah pihak yaitu pria dan wanita1,3,
dimana masalah disfungsi seksual pada pria dapat menimbulkan disfungsi seksual
ataupun stres pada wanita, begitu juga sebaliknya, maka perlu dilakukan dual sex
theraphy. Baik itu dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang
dokter dengan wawancara keluhan terpisah. Dari uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa terapi atau penanganan disfungsi seksual pada kenyataanya tidak mudah
dilakukan, Sehingga diperlukan diagnosa yang holistik untuk mengetahui secara
tepat etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi, sehingga dapat dilakukan
penatalaksanaan yang tepat pula.

4.1 Anamnesis
Setelah dilakukan anamanesis secara umum, terhadap penderita disampaikan
beberapa pertanyaan sederhana dan bersifat hati-hati mengenai masalah yang
berhubungan dengan fungsi seksual. Anamnesis mengenai cara terjadinya
disfungsi ereksi, libido dan ereksi pagi hari sangat penting ditanyakan untuk
membedakan apakah kelainan organik atau psikogenik1,3,5.
Rosen dkk telah dirancang suatu kusioner tentang indeks fungssi ereksi yang
terdiri dari 15 pertanyaan yang dikenal dengan International Index of Erectile
Function (IIEF)19. IIEF telah digunakan secara luas di seluruh dunia dengan
meneliti terjadinya disfungsi ereksi, dan penelitian membuktikan bahwa IIEF
begitu mudah digunakan dalam klinik. IIEF digunakan untuk menilai fungsi
seksual pada pria yang mencakup fungsi ereksi, orgasmus, hasrat seksual,
kepuasan dalam senggama dan kepuasan secara keseluruhan. IIEF mempunyai

BAB V
TATALAKSANA DISFUNGSI EREKSI

Dalam terapi disfungsi ereksi, yang menjadi sasaran terapi (bagian yang akan
diterapi) adalah ereksi penis. Berdasarkan sasaran yang diterapi, maka tujuan
terapi adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas ereksi penis yang nyaman saat
berhubungan seksual. Kualitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk
mendapatkan dan menjaga ereksi. Sedangkan kuantitas yang dimaksud adalah
seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjaga ereksi (waktu untuk tiaptiap orang berbeda untuk mencapai kepuasan orgasme, tidak ada waktu normal
dalam ereksi)1,5.
Sebelum memilih terapi yang tepat, perlu diketahui penyebab atau faktor
resiko pada pasien yang berperan dalam menyebabkan munculnya disfungsi
ereksi. hal ini terkait dengan beberapa penyebab disfungsi ereksi yang terkait.
Dengan demikian, jika diketahui penyebab disfungsi ereksi yang benar maka
dapat diberikan terapi yang tepat pula. Terapi untuk disfungsi ereksi dapat
dibedakan menjadi dua yaitu terapi tanpa obat (nonfarmakologis-pola hidup sehat
danmenggunakan alat ereksi seperti vakum ereksi) dan terapi menggunakan obat
(farmakologis)1,3.
Yang pertama kali harus dilakukan oleh pasien disfungsi ereksi harus
memperbaiki pola hidup menjadi sehat9. Beberapa cara dalam menerapkan pola
hidup sehat antara lain olah raga, menu makanan sehat, kurangi dan hindari rokok
atau alkohol, menjaga kadar kolesterol dalam tubuh, mengurangi berat badan
hingga normal), dan mengurangi stres. Jika dengan menerapkan pola hidup sehat,
pasien sudah mengalami peningkatan kepuasan ereksi maka pasien disfungsi
ereksi tidak perlu menggunakan obat. Disfungsi ereksi sangat berhubungan
dengan kondisi kesehatan kita seperti diabetes, penyakit kardiovaskuler,
sindroma metabolik9,16.

BAB VI
KESIMPULAN

Disfungsi ereksi merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan


mempertahankan ereksi yang cukup untuk senggama yang memuaskan. Disfungsi
ereksi dapat disebabkan oleh faktor psikogenik, organik, maupun iatrogenik.
Diagnosis disfungsi ereksi tidak mudah karena pasien tidak semua pasien
dapat mengutarakan semua permasalahanya kepada dokter, serta perbedaan
persepsi antara pasien dan dokter. Sehingga diperlukan diagnosa yang holistik
untuk mengetahui secara tepat etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi,
sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan yang tepat pula.
Dalam terapi disfungsi ereksi, yang menjadi sasaran terapi adalah ereksi
penis. Tujuan terapi disfungsi ereksi adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas
ereksi penis yang nyaman saat berhubungan seksual. Kualitas yang dimaksud
adalah kemampuan untuk mendapatkan dan menjaga ereksi. Sedangkan kuantitas
yang dimaksud adalah seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjaga
ereksi.
Perlu diketahui penyebab atau faktor resiko pada pasien yang berperan dalam
menyebabkan munculnya disfungsi ereksi. hal ini terkait dengan beberapa
penyebab disfungsi ereksi. Dengan demikian, jika diketahui penyebab disfungsi
ereksi yang benar maka dapat diberikan terapi yang tepat. Terapi untuk disfungsi
ereksi dapat dibedakan menjadi dua yaitu terapi tanpa obat (nonfarmakologispola hidup sehat dan menggunakan alat ereksi seperti vakum ereksi) dan terapi
menggunakan obat (farmakologis).