Anda di halaman 1dari 6

Definisi Kepemimpinan, Pemimpin, dan Gaya Kepemimpinan.

Kepemimpinan adalah proses mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi pikiran,


perasaan, tindakan dan tingkah laku orang lain untuk digerakkan ke arah tujuan tertentu
(Achmad Suyuti, 2001). Sedangkan pengertian Pemimpin (Leader) menurut ensklopedia
Administrasi adalah orang yang melakukan kegiatan atau proses mempengaruhi orang lain dalam
suatu situasi tertentu, melalui proses komunikasi, yang diarahkan guna mencapai tujuan/tujuantujuan tertentu. Setiap pemimpin dapat menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda.
Gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku (kata-kata dan tindakan-tindakan) dari seorang
pemimpin yang dirasakan oleh orang lain (Hersey, 2004:29). Terdapat beberapa jenis gaya
kepemimpinan seperti, gaya kepemimpinan otoriter, demokratis, permisif, situasional,
transformasional, dan lain-lain. Diantara beberapa gaya kepemimpinan tersebut, gaya
kepemimpinan yang akan di analisis lebih jauh dalam karya ilmiah ini adalah gaya
kepemimpinan transformasional. Hal ini disebebakan, gaya kepemimpinan transformasional
dinilai paling cocok untuk menggambarkan kepemimpinan Raden Dewi Sartika.

Gaya kepemimpinan transformasional


Burns (1978) dalam Aan Komariah dan Cepi Triatna (2006;77) menjelaskan bahwa
kepemimpinan transformasional sebagai suatu proses yang pada dasarnya para pemimpin dan
pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Para
pemimpin adalah yang sadar akan prinsip perkembangan organisasi dan kinerja manusia
sehingga ia berupaya mengembangkan segi kepemimpinannya secara utuh melalui pemotivasian
terhadap staf dan meyerukan cita-citanya yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti
kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan, bukan didasarkan atas emosi, seperti misalnya
keserakahan, kecemburuan, atau kebencian.
Karakteristik pemimpin trasformasional, menurut Aan Komariah dan Cepi Triatna
(2006;78) adalah sebagai berikut :
A. Pemimpin yang memiliki wawasan jauh ke depan dan berupaya memperbaiki dan
mengembangkan organisasi bukan untuk saat ini tetapi di masa datang. Dan oleh karena
itu pemimpin ini dapat dikatakan pemimpin visioner.
B. Pemimpin sebagai agen perubahan dan bertindak sebagai katalisator, yaitu yang memberi
peran mengubah sistem ke arah yang lebih baik. Katalisator adalah sebutan lain untuk

pemimpin transformasional karena ia berperan meningkatkan segala sumber daya


manusia yang ada. Berusaha memberikan reaksi yang menimbulkan semangat dan daya
kerja cepat semaksimal mungkin, selalu tampil sebagai pelopor dan pembawa perubahan.

Menurut Bass dan Aviola (1994) dalam Aan Komariah dan Cepi Triatna (2006;79)
terdapat empat dimensi dalam penerapan kadar kepemimpinan transformasional dengan konsep
4I, yaitu :
A. Idialized influence, yang dijelaskan sebagai perilaku yang menghasilkan rasa hormat
(respect) dan rasa percaya diri (trust) dari orang yang dipimpinnya.
B. Inspirational motivation, Pemimpin transformasional berperilaku dengan tujuan untuk
member motivasi dengan inspirasi terhadap orangorang disekitarnya.
C. Intellectual stimulation, yaitu pemimpin yang mempraktikkan inovasi-inovasi. Sikap dan
perilaku kepemimpinannya didasarkan pada ilmu pengetahuan yang berkembang dan
secara intelektual ia mampu menterjemahkannya dalam bentuk kinerja yang produktif.
D. Individualized consideration, yaitu pemimpin merefleksikan dirinya sebagai seorang
yang penuh perhatian dalam mendengarkan dan menindaklanjuti keluhan, ide, harapanharapan, dan segala masukan yang diberikan staf.

Mengacu pada pendapat tersebut, kepemimpinan transformasional dapat dipandang


secara makro dan mikro. Jika dipandang secara mikro, kepemimpinan transformasional
merupakan proses mempengaruhi antar individu dalam organisasi, sementara secara makro
kepemimpinan transformasional merupakan proses memobilisasi kekuatan untuk mengubah
sistem sosial dan mereformasi kelembagaan (Aan Komariah dan Cepi Triatna, 2006;80).

Analisis gaya kepemimpinan transformasional Raden Dewi Sartika


Raden Dewi Sartikan adalah seorang pemimpin semasa hidupnya. Kepemimpinannya
tidak hanya sebatas sebagai kepala Sekolah Kautamaan Istri, namun juga sebagai pemimpin para
perempuan Indonesia dalam gerakan emansipasi wanita, yaitu gerakan perubahan yang bertujuan
agar perempuan bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan pria dalam menempuh
pendidikan dan agar perempuan mendapatkan tempat yang sejajar dengan laki-laki di
masyarakat. Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Raden Dewi Sartika adalah gaya

kepemimpinan

transformasional.

Hal

ini

dibuktikan

dengan

karakteristik

pemimpin

transformasional yang dimiliki oleh Raden Dewi Sartika dan penerapan 4 dimensi
kepemimpinan transformasional dalam ruang lingkup kepemimpinannya.
Karakteristik kepemimpinan transformasional yang dimiliki oleh Raden Dewi Sartika
adalah Visioner, dan katalisator. Raden Dewi Sartika adalah seorang visioner, cita-citanya untuk
memajukan pendidikan kaum wanita dan memperjuangkan keseteraaan yang sama antara wanita
dan pria telah ada sejak Ia masih kecil, seiring waktu visi itu terus diperjuangkannya, hingga
akhirnya Visi itu menjadi tujuan yang ingin diraih bersama oleh para guru dan murid di Sekola
Kautamaan Istri. Selanjutnya sebagai agen perubahan yang bertindak sebagai katalisator, Raden
Dewi Sartika selalu memberikan teladan guru-guru dan murid-murid di Sekola Kautaman Istri.
Perilaku yang bisa diteladani darinya diantaranya yaitu, disiplin, pemberani, pantang menyerah,
tegas, lincah, sigap, gesit, perhatian, bijaksana, menjaga perasaan orang lain, rajin, dan tidak
mudah terpengaruh. Selain itu Ia juga selalu berusaha memotivasi guru-guru dan murid-murid di
Sekola Kautaman Istri dengan cara memberikan perhatian dan ceramah-ceramah mengenai
pentingnya pendidikan bagi kaum wanita agar medapat tempat yang sejajar dengan kaum pria di
masyarakat.
Penerapan 4 dimensi kepemimpinan transformasional yang dilakukan oleh Raden Dewi
Sartika dapat terlihat dalam :
A. Idialized influence, Raden Dewi Sartika bertindak sebagai model atau teladan bagi para
guru dan murid di Sekola Kautaman Istri. Ia sangat menekankan nilai-nilai kedisiplinan,
kesopanan dan tata karma. Dalam menerapkan nilai-nilai tersebut Ia tidak hanya
menceramahi guru-guru dan murid-murid melainkan Ia juga mencontohkannya. Setiap
hari ia berangkat ke sekolah dan tiba sebelum pelajaran dimulai. Semua pekerjaan di
sekolah dilakukan dengan gesit, lincah dan cepat. Ia juga sangat sopan dalam berbicara
dan berpakaian, sehari-hari Ia memakai pakaian berupa kain panjang dan kemben, kebaya
Sunda, selendang dan sandal selop,
B. Inspirational motivation, Perjalanan hidup dan cita-cita Raden Dewi Sartika telah
menjadi kisah-kisah yang menginspirasi dan memotivasi kaum wanita pada jaman itu. Ia
menyampaikan kisahnya melalui wejangan-wejangan yang bijaksana. Wejangan tersebut
kemudian menginspirasi dan memotivasi para wanita untuk memperjuangkan pendidikan
dan kedudukan yang sejajar dengan para pria di masyarakat.

C. Intellectual stimulation, Raden Dewi Sartika adalah pemimpin yang berwawasan luas dan
selalu menerapkan inovasi-inovasi. Hal ini terlihat dari perbaikan kurikulum Sekolah
Kautaman Istri yang semakin baik dan mengikuti perubahan zaman dari taun ke taun. Ia
juga terbuka untuk hal-hal yang baru, terutama hal-hal yang positif dan dapat diterapkan
seperti pelajaran-pelajaran baru yang hanya ada di Sekolah Kautamaan Istri dan tidak
terdapat di Sekolah lain.
D. Individualized consideration, Raden Dewi Sartika adalah seorang pemimpin yang sangat
perhatian dan memikirkan kepentingan orang lain. Hal ini terlihat sejak Ia kecil, dimana
sewaktu kecil Ia banyak menghabiskan waktu untuk merenungi nasib kaum perempuan di
sekitarnya, seperti teman-temannya yang tidak bisa baca-tulis, uwaknya yang pasrah di
poligami, Ibunya yang tidak bekerja karena tidak punya keahlian, dan perempuanperempuan lain yang harus tunduk pada hukum adat serta perjodohan. Selanjutnya
perhatiannya juga ditunjukan dalam kesehariannya di sekolah, Raden Dewi Sartika
sangat peduli dan perhatian kepada murid-murid di Sakola Kautamaan Istri, hal itu
terlihat dengan seringnya ia datang ke kelas-kelas untuk memeriksa murid yang hadir dan
memberikan wejangan kepada murid-murid. Bahkan, setelah jam istirahat pun beliau
selalu kembali datang ke kelas-kelas, untuk memeriksa jika ada murid yang datang telat
ke kelas setelah jam istirahat.

Kesimpulan
Raden Dewi Sartika adalah seorang pahlawan emansipasi wanita di Indonesia. Ia adalah
seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasional yang berjasa memimpin para
wanita Indonesia dalam gerakan perubahan menuju pendidikan tinggi dan kesetaraan kedudukan
antara kaum pria dan wanita di masyarakat.
Raden Dewi Sartika telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang diwariskan oleh
Ayahnya, yang merupakan seorang patih pada jamannya. Selain itu, sifat kepemimpinannya pun
di perkuat oleh pendidikan dan lingkungan. Hal ini terlihat dari kepribadian Raden Dewi Sartika
yang sangat rajin, suka kepada segala sesuatu yang baru, Gerak-geriknya lincah, sigap, berani.
Bicaranya pun lugas dengan tutur kata yang tegas dan terkadang bernada keras.
Pada masa dewasa, Raden Dewi Sartika menjelma menjadi seorang pemimpin yang
sangat berwibawa sehingga semua guru dan murid-murid segan dan patuh kepada beliau. Setiap

hari ia berangkat ke sekolah dan tiba sebelum pelajaran dimulai. Semua pekerjaan di sekolah
dilakukan dengan gesit, lincah dan cepat. Setelah lonceng berbunyi, dengan memakai pakaian
berupa kain panjang dan kemben, kebaya Sunda, selendang dan sandal selop, beliau segera
beraktifitas. Setelah murid-murid masuk ke kelas, ia berkeliling kelas untuk memonitor seluruh
proses belajar mengajar di Sakola Kautamaan Istri.
Kebijaksanaannya dapat terlihat dari kesehariannya yang tidak pernah menghukum
murid-murid ketika ada yang melakukan kesalahan, paling-paling beliau memberi wejanganwejangan di depan kelas. Jika beliau marah pada seorang murid, beliau tidak memarahi murid
yang bersangkutan, tetapi beliau memarahi semua murid dengan wejangan-wejangan sampai
murid-murid tidak tahu kepada siapa sebenarnya beliau marah. Tetapi apabila beliau betul-betul
marah kepada salah satu murid yang melakukan pekerjaan yang salah, maka beliau memanggil
murid itu ke kantor dan disanalah murid itu diberi banyak wejangan, dan murid itu harus berjanji
untuk tidak mengulang lagi kesalahannya itu. Apabila ia sedang memberi wejangan kepada
murid-muridnya, baik di depan kelas maupun di kantor, tangan kiri beliau selalu ke belakang dan
tangan kanan di depan, serta telunjuk tangan kanannya selalu menunjuk ke atas.
Dalam kesehariannya di sekolah, Raden Dewi Sartika sangat peduli dan perhatian kepada
murid-murid di Sakola Kautamaan Istri, hal itu terlihat dengan seringnya ia datang ke kelas-kelas
untuk memeriksa murid yang hadir dan memberikan wejangan kepada murid-murid. Bahkan,
setelah jam istirahat pun beliau selalu kembali datang ke kelas-kelas, untuk memeriksa jika ada
murid yang datang telat ke kelas setelah jam istirahat.
Gaya kepemimpinan transformasional Raden Dewi Sartika adalah teladan bagi Saya
dalam kegiatan berorganisasi. Saya berharap dengan mengikuti kegiatan organisasi di Organisasi
OSIS SMA Al-Azhar maka Saya dapat memiliki kesempatan untuk menerapkan gaya
kepemimpinan tersebut dalam rangka membantu mensukseskan visi dan misi serta menjalankan
tujuan Organisasi OSIS SMA Al-Azhar. Selain itu Saya berharap Organisasi OSIS SMA AlAzhar dapat menjadi sarana bagi Saya untuk belajar lebih banyak mengenai pengetahuan dan
keahlian dalam memimpin dan bekerja sama dalam suatu organisasi.

Referensi :
Aan Komariah dan Cepi Triatna. 2006. Visionary Leadership; Menuju Sekolah Efektif. Jakarta:

Bumi Aksara.
Baihaqi, Muhammad Fauzan.2010. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja
dan Kinerja dengan Komitmen Organisasi sebagai Variabel Intervening.Semarang :
Universitas Diponegoro.Skripsi. [Online]
Tersedia : http://eprints.undip.ac.id/29440/1/Skripsi010.pdf

Raden Dewi Sartika adalah seorang pahlawan emansipasi wanita di Indonesia. Ia adalah
seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasional yang berjasa memimpin para
wanita Indonesia dalam gerakan perubahan menuju pendidikan tinggi dan kesetaraan kedudukan
antara kaum pria dan wanita di masyarakat. Sejak kecil kegigihan Raden Dewi Sartika untuk
meraih kemajuan telah terlihat. Ia menunjukkan bakat sebagai seorang pendidik. Pada tahun
1902, Raden Dewi Sartika merintis pendidikan kaum perempuan. Awalnya ia mendirikan
sekolah di belakang rumah ibunya di Bandung. Ia mengajar dihadapan anggota keluarga
perempuannya mengenai keterampilan merenda, memasak, menjahit, membaca dan menulis.
Akhirnya sekolah khusus untuk kalangan perempuan pribumi pertama di Hindia Belanda
didirikan pada 16 Januari 1904. Sekolah Khusus Perempuan atau Sakola Istri menempati gedung
pendopo kabupaten Bandung. Kemudian, pada tahun 1906 Raden Dewi Sartika menikah dengan
Raden Kanduruan Agah Suriawinata. Setelah itu, pada September 1929, dalam acara peringatan
25 tahun berdirinya Sekolah Keutamaan Istri,yang sekaligus dirubah namanya menjadi Sakola
Raden Dewi, Raden Dewi Sartika mendapat penghargaan dari Pemerintah Kerajaan HindiaBelanda berupa Bintang Jasa. Namun, kejayaan sekolah perempuan tidak berlangsung lama.
Jepang menghancurkan sekolah ini dengan mengubah nama bahkan kurikulum, sehingga jumlah
murid berkurang drastis. Dan, pada 11 September 1947, Raden Dewi Sartika meninggal dunia di
Tasikmalaya. Setelah itu, atas jasa-jasa beliau pemerintah Republik Indonesia (RI) pada 1
Desember 1966 menganugrahkan kepada Raden Dewi Sartika gelar Pahlawan Nasional.
Oleh karena itu gaya kepemimpinan transformasional Raden Dewi Sartika adalah teladan bagi
Saya dalam kegiatan berorganisasi. Saya berharap dengan mengikuti kegiatan organisasi di Organisasi
OSIS SMA Al-Azhar maka Saya dapat memiliki kesempatan untuk menerapkan gaya kepemimpinan
tersebut dalam rangka membantu mensukseskan visi dan misi serta menjalankan tujuan Organisasi OSIS
SMA Al-Azhar. Selain itu Saya berharap Organisasi OSIS SMA Al-Azhar dapat menjadi sarana Saya untuk
belajar lebih banyak mengenai pengetahuan dan keahlian dalam memimpin dan bekerja sama dalam
suatu organisasi